Anda di halaman 1dari 4

gawat darurat (sistem saraf)

1. Pemeriksaan Neurologik
Pemeriksaan neurologik dibagi menjadi lima komponen : fungsi serebral, saraf-saraf kranial, sistem motorik, sistem sensorik, dan status refleks. a. Fungsi serebral Dalam hal ini, gangguan pada serebral dapat menyebabkan gangguan komunikasi, fungsi intelektual, dan dalam pola tingkah laku emosional. Glasgow Coma Scale (GCS) adalah skala yang memberikan gambaran pada tingkat responsif pasien dan dapat digunakan dalam mengevaluasi status neurologik pasien. GCS (Glasgow Coma Scale) : Respon Membuka Mata (E) Spontan =4 Terhadap bicara =3 Terhadap nyeri =2 Tidak berespon =1 Respon Verbal (V) Terorientasi =5 Membingungkan =4 Kata-kata tidak sesuai =3 Menggumam =2 Tidak berespon =1 Respon Motorik (M) Mengikuti perintah =6 Menunjuk tempat rangsang =5 Menghindar dari stimulasi =4 Dekortikasi (fleksi abnormal) =3 Deserebrasi (ekstensi abnormal) =2 Tidak berespon =1 Total = 15 < 8 = KOMA

1)

2)

3)

b. Pemeriksaan saraf kranial Dua belas pasang saraf kranial muncul dari bagian bawah otak. 1) Saraf olfaktorius ( N1 ) : untuk penghidu penciuman 2) Saraf opticus ( N2 ) : saraf penglihatan 3) Saraf okulomotorius ( N3 ) : saraf motorik penggerak otot bola mata 4) Saraf troklearis ( N4 ) : motorik penggerak bola mata 5) Saraf trigeminus ( N5 ) : merupakan saraf sensorik dan motorik dengan 3 cabang yaitu bagian optical, maksilaris, mandibularis. 6) Saraf abdusens ( N6 ) : motorik penggerak bola mata 7) Saraf fasialis ( N7 ) : sensorik daerah wajah 8) Saraf audiotorius ( N8 ) : sensorik pendengaran dan keseimbangan 9) Saraf glosofaringeus ( N9 ) : sensorik dan motorik sekitar lidah dan faring 10) Saraf vagus ( N10 ) : merupakan saraf otonom terutama pada paru, jantung, lambung, usus halus dan sebagian usus besar. 11) Saraf asesorius ( N11 ) : motorik pengerak otot sekitar leher 1 Indah Fuji Lestari

12) Saraf hipoglosus ( N12 ) : motorik otot lidah c. Pemeriksaan sistem motorik Dalam hal ini mencakup pengujian kekuatan otot, keseimbangan, dan koordinasi. Skala Peringkat Kekuatan Otot : 0 = tidak ada kontraksi 1 = ada sedikit kontraksi 2 = bergerak tapi tidak mampu menahan gravitasi 3 = bergerak tapi tidak mampu melawan tahanan otot pemeriksa 4 = bergerak dengan lemah terhadap tahanan otot pemeriksa 5 = kekuatan dan regangan otot yang normal a. Pemeriksaan sensorik Pemeriksaan ini mencakup tes sensasi raba, nyeri superfisial dan merasakan posisi (propriosepsi). Keseluruhan pengkajian sensori dilakukan dengan mata tertutup. b. Pemeriksaan refleks Umumnya refleks yang dapat dikaji adalah refleks biseps, brakhioradialis, triseps, patella, dan pergelangan kaki (Achilles). Pengukurannya dengan menilai derajat refleks antara 0 sampai +4.

1.

Patofisiologi kegawatdaruratan pada sistem persarafan


Kurang lebih 40% korban dengan multipel trauma mengalami cedera susunan saraf pusat (SSP). Kelompok ini memilik angka kematian 2 kali lebih besar daripada korban tanpa cedera SSP. Hal yang terjadi pertama kali pada cedera otak adalah edema. Cedera ini menyebabkan vasodilatasi dengan peningkatan aliran darah ke daerah yang mengalami cedera, sehingga akumulasi darah di area cedera mendesak jaringan otak di sekitarnya. Akibatnya terjadi penurunan aliran darah ke daerah yang tidak mengalami cedera. Edema biasanya terjadi setelah 24-48 jam setelah mengalami cedera otak. Kadar CO2 dalam darah sangat bepengaruh pada pembuluh darah otak, di mana kadar normal CO2 adalah 40 mmHg. Peningkatan kadar CO2 menyebabkan vasodilatasi serebral, sedangkan penurunan kadar CO2 menyebabkan vasokonstriksi serebral. Jika pasien dengan cedera otak pernapasannya buruk, maka peningkatan CO2 mengakibatkan vasodilatasi dan memperparah edema otak, dan menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial (TIK). Hiperventilasi dapat menurunkan kadar CO2, sehingga pada stadium awal, hiperventilasi lebih penting daripada pemberian preparat diuretik karena diuretik lebih banyak membutuhkan waktu untuk memberikan efek penuh dalam menurunkan edema otak.

2. a.

Prosedur dan Uji Diagnostik Computed Tomography/CT CT menggunakan sinar-x untuk memindai kepala dalam lapisan yang berurutan. Bayangan yang dihasilkan memberi gambaran potongan melintang dari otak, dengan membandingkan perbedaan jaringan padat pada tulang kepala, korteks, struktur subkortikal, dan ventrikel. Pemindaian CT dilakukan non invasif, tidak nyeri dan memiliki derajat sensitivitas untuk mendeteksi lesi atau luka. b. Positron Emission Tomography /PET PET merupakan teknik pencitraan nuklir. Pasien menghirup gas radioaktif atau diinjeksi dengan zat radioaktif yang memberikan partikel bermuatan positif. Bila partikel bermuatan positif ini berkombinasi dengan elektronelektron negatif yang berasal dari sel-sel otak, maka resultan dari sinar gamma memberikan sebuah komposisi bayangan kerja otak yang terintegrasi melalui komputer. Pasien perlu diajarkan untuk melakukan teknik inhalasi dalam melakukan uji PET dan latihan relaksasi untuk menurunkan ansietas. Suntikan intravena zat radioaktif dapat menyebabkan pusing, sakit kepala, berkunangkunang. c. Magnetic Resonance Imagine/MRI 2 Indah Fuji Lestari

MRI menggunakan medan magnetik untuk mendapatkan gambaran daerah yang berbeda. Teknik ini menggunakan pancaran getaran radiofrekuensi, yang kemudian diubah menjadi bayangan. MRI memiliki potensial untuk mengidentifikasi keadaan abnormal serebral dengan mudah dan lebih jelas dari tes diagnostik lainnya. MRI dapat memberikan informasi tentang perubahan kimia dalam sel. MRI tidak menyebabkan radiasi ion. Sebelum pasien melakukan MRI, semua benda logam harus dilepaskan. Demikian juga kartu ATM dan kartu kredit, karena medan magnet yang dipancarkan dapat menghapus data pada kartu tersebut. Perlu juga diketahui riwayat pemakaian benda logam dalam tubuh pasien (penjepit aneurisme, benda ortopedik, pacu jantung, katup jantung buatan, alat intrauterin). Benda-benda ini harus dibuka. Jika dibiarkan terpasang dapat menyebabkan gangguan fungsi, dapat keluar atau terlepas, atau menjadi panas karena menyerap energi. d. Elektroensefalografi/EEG EEG merekam aktivitas umum elektrik di otak dengan meletakkan elektroda-elektroda pada daerah kulit kepala atau dengan menempatkan mikroelektroda dalam jaringan otak. Aktivitas-aktivitas neuron otak yang kuat di antara dua elektroda akan terekam pada lembar kertas yang bergerak terus-menerus, yang disebut ensefalogram. EEG adalah uji yang bermanfaat untuk mendiagnosis gangguan kejang seperti epilepsi.

A. 1.

2. a.

b.

c.

d.

Peningkatan Tekanan Intrakranial (TIK) Patofisiologi Tekanan intrakranial adalah tekanan yang dihasilkan oleh kombinasi volume dari tiga komponen intrakranial yaitu : jaringan otak, cairan serebrospinal (CSS) dan darah. Nilai TIK normal berkisar kurang atau sama dengan 15 mmHg. Peningkatan TIK secara signifikan menurunkan aliran darah dan menyebabkan iskemia serebral. Pada keadaan iskemia ini, pusat vasomotor terstimulasi dan tekanan sistemik meningkat untuk mempertahankan aliran darah. Keadaan ini selalu disertai dengan lambatnya denyutan nadi dan pernapasan yang tidak teratur. Tanda paling dini dari peningkatan TIK adalah letargi. Lambatnya bicara dan respon verbal juga menjadi indikator awal. Penatalaksanaan Peningkatan TIK adalah kedaruratan sejati dan harus diatasi dengan segera. Hiperventilasi Hiperventillasi menghasilkan alkalosis respiratori, yang mempengaruhi terjadinya vasokonstriksi serebral. Hal ini kemudian menurunkan volume darah ke otak dan menurunkan TIK. Ventilasi biasanya dilakukan dengan kecepatan rendah (sekitar 10-12 siklus/menit) dengan tidal volume yang tinggi (15 ml/kgBB) sampai kadar CO2 darah mencapai 30-35 mmHg. Hal ini perlu dipertimbangkan dengan mengontrol dalam jangka pendek. Posisi tubuh Kepala ditinggikan 150 sampai 300 kecuali ada kontraindikasi oleh fraktur anggota badan atau fraktur servikal. Fleksi lutut merupakan kontraindikasi. Pengamatan terakhir dilaporkan bahwa pasien yang berisiko terhadap peningkatan TIK patologis tidak boleh dibaringkan dalam posisi fleksi leher atau kepala berputar ke salah satu sisi tubuh. Rotasi kepala ke kanan menyebabkan peningkatan TIK yang paling besa Hipotermia Hipotermia dapat menyebabkan penurunan aliran darah serebral. Keadaan ini kemudian dapat menurunkan TIK. Pengontrolan tekanan darah

3 Indah Fuji Lestari

Ketika sistem autoregulasi otak berjalan baik, penurunan tekanan darah menyebabkan peningkatan TIK karena vasodilatasi dan akibatnya meningkatkan volume darah serebral. Saat autoregulasi mengalami gangguan, penurunan tekanan darah akan menurunkan aliran darah serebral, yang dapat menyebabkan iskemia serebral. Penurunan tekanan darah arteri merupakan kontraindikasi pada pasien dengan edema otak bila aliran darah serebral (ADS) sudah turun.

3.
a.

Asuhan Keperawatan
Pengkajian Meliputi : GCS/Skala Koma Glasgow, perubahan tanda-tanda vital, perubahan pupil/okular, riwayat sakit kepala dan muntah. Diagnosa Keperawatan dan Rencana Asuhan Keperawatan Fraktur basiler mungkin terbatas pada dasar tengkorak. Fraktur pada dasar tengkorak cukup serius karena dapat menimbulkan kontak antara cairan serebrospinal (CSS) dalam ruang subarakhnoid dan sinus yang mengandung udara dari wajah atau tengkorak. Hal ini dapat menyebabkan bakteri masuk dan mengisi sinus lalu mengkontaminasi CSS. Benda yang tertancap masuk ke dalam tengkorak seharusnya dibiarkan pada tempatnya (tidak dipindahkan) dan pasien segera dipindahkan ke bagian gawat darurat. Cedera Otak Komosio Serebri/Gegar Otak Hal ini merupakan disfungsi neurologis sementara dan bersifat dapat pulih dengan atau tanpa kehilangan kesadaran. Kehilangan kesadaran mungkin dapat terjadi tetapi hanya dalam beberapa detik atau menit. Setelah itu dapat mengalami disorientasi atau kebingungan.in juga terjadi amnesia, umumnya merupakan ingatan jangka pendek sebelum trauma (retrograde short amnesia). Biasanya dapat pulih dengan cepat, namun ada juga yang berlanjut sampai beberapa bulan. Kontusio Serebri Penderita dapat mengalami kehilangan kesadaran dan penurunan kesadaran yang serius. Edema otak dapat terjadi dengan cepat. Tergantung pada lokasi cedera, penderita dapat mengalami perubahan sikap dan perilaku. Hematom Epidural Akut Hal ini disebabkan oleh robeknya arteri meningeal media, dan menyebabkan darah terkumpul di ruang epidural (di antara tengkorak dan dura mater). Biasanya terlihat kehilangan kesadaran sesaat setelah cedera, diikuti dengan pemulihan yang nyata secara perlahan-lahan. Setelah 30 menit hingga 2 jam, timbul tanda-tanda peningkatan TIK. Hematom Subdural Akut Disebabkan oleh perdarahan di antara dura mater dan archnoid yang berhubungan dengan cedera jaringan otak di bawahnya. Perdarahan berasal dari vena. Oleh karenanya TIK meningkat lebih lambat dan baru terdiagnosa setelah beberapa jam/hari. Biasanya pasien dalam keadaan koma dan tanda klinis sama dengan hematoma epidural.

b.

a. 1)

2)

3)

4)

4 Indah Fuji Lestari