Anda di halaman 1dari 37

MANUSIA MENURUT PANDANGAN GEREJA KATOLIK

MAKALAH Disusun untuk memenuhi tugas Conceling in Nursing

Oleh

RONALD BASTEN B P NIM. 113063A09087

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SUAKA INSAN BANJARMASIN 2011

DAFTAR ISI

A. Sebuah Keprihatinan Dasariah B. Hakikat Manusia 1. Manusia diciptakan Menurut Citra Allah 2. Manusia: Kesatuan Jiwa dan Badan 2.1. "Satu dalam Jiwa dan Badan" 2.2. Kesatuan Jiwa dan Badan 3. Manusia Pria dan Wanita: Kesetaraan C. Manusia dalam Dunia: Tanggungjawab untuk Menjaga Firdaus 1. Manusia Jatuh dalam Dosa: Awal Penderitaan 2. Manusia Ditebus Oleh Kristus 2.1 2.2 Penderitaan Manusia: Kenangan akan Penderitaan Kristus Penderitaan Manusia: Dasar Komunikasi Personal Dengan Allah D. Manusia Yang Berpengharapan

KEPUSTAKAAN

A. Sebuah Keprihatinan Dasariah Hati saya selalu gelisah dan sedih setiap kali membaca atau mendengar berita-berita tentang kriminalitas, kekerasan dan kejahatan kemanusiaan. Saya gelisah karena nyawa sesama seperti tidak ada harganya. Nyawa manusia seperti selembar kertas yang dengan mudah disobek dan dibuang begitu saja. Saya juga sedih karena tidak bisa berbuat apa-apa atas berbagai kejadian yang tidak bermartabat dan manusiawi itu. Siapakah saya??? Kegelisahan dan kesedihan itu biasanya saya tuangkan dalam bentuk puisi. Namun bagi saya itu sangat terbatas dan personal. Maka didorong oleh kegelisahan dan kesedihan itu saya mencoba untuk merenung lebih dalam makna pribadi manusia menurut paham Gereja Katolik. Dalam dan dengan terang Kitab Suci, saya mengelaborasi pengembaraan saya tentang hakikat pribadi manusia sebagaimana yang tertera pada daftar isi di atas. Tulisan ini, pertama-tama lebih sebagai sebuah upaya pemaknaan pribadi atas keluhuran martabat manusia. Dan karena saya seorang katolik, saya mencoba memaknainya dalam kaca mata pandangan Gereja Katolik (tentu saja, tidak mewakili Gereja, karena ini permenungan pribadi yang dikemas secara sedikit ilmiah, biblis dan sesuai Ajaran Gereja).

B. Hakikat Manusia 1. Manusia diciptakan Menurut Citra Allah Dalam Kitab Kejadian diungkapkan bahwa manusia laki-laki dan perempuan diciptakan oleh Allah sebagai gambar dan rupa-Nya sendiri (Kej 1:27). Karena laki-laki dan perempuan diciptakan dalam keserupaan dengan Allah, maka mereka memiliki martabat yang sama dalam segala aspeknya. Versi lain dari kisah penciptaan manusia terdapat dalam Kejadian bab 2. Dikisahkan bahwa laki-laki diciptakan oleh Allah lebih dahulu dan diambil dari tanah (adamah) yang diberi kehidupan dari nafas ilahi (Kej 2:7). Sedangkan perempuan diciptakan setelah laki-laki dan diambil dari tulang rusuk laki-laki, agar perempuan

menjadi penolong yang sepadan dengan laki-laki. Menyadari bahwa perempuan yang dibawa oleh Allah ke hadapannya, ternyata setara dengan dirinya, maka laki-laki meninggalkan ayahnya dan ibunya untuk dapat bersatu dengan perempuan (Kej 2:24). Kisah penciptaan manusia sebagai citra Allah ini menempatkan martabat manusia di atas ciptaan yang lain. Hanya manusia yang secitra dengan Allah. Mengapa hanya manusia? Karena dari segala ciptaan yang kelihatan, hanya manusia "mampu mengenal dan mencintai Penciptanya dan oleh Allah manusia ditetapkan sebagai tuan atas semua makhluk di dunia ini, untuk menguasainya dan menggunakannya sambil meluhurkan Allah" (GS 12,3). Lebih tegas lagi para Bapa Konsili menyatakan bahwa Allah sebagai Bapa memelihara semua orang, menghendaki agar mereka merupakan satu keluarga, dan saling menghadapi dengan sikap persaudaraan. Sebab mereka semua diciptakan menurut gambar Allah, yang mengendaki segenap bangsa manusia dari satu asal mendiami muka bumi (Kis 17:26). Mereka semua dipanggil untuk satu tujuan, yakni Allah sendiri (GS 24,1). Pernyataan para Bapa konsili ini memperlihatkan bahwa manusia adalah makhluk yang dikaruniai oleh Allah dengan keistimewaan. Sebab manusia merupakan satu-satunya makhluk, yang Allah kehendaki demi dirinya sendiri (bdk. GS 24,3). Hanya manusialah yang dipanggil, supaya dalam pengertian dan cinta mengambil bagian dalam kehidupan Allah. Demi dan atas kurnia serta tujuan istimewa inilah manusia diciptakan. Dan itulah dasar martabat manusiawinya. Sebagai ciptaan yang istimewa, yang diciptakan menurut citra Allah, manusia tentu mewariskan beberapa sifat dasar citra Allah tersebut. Pertama, manusia bersifat rohani. Artinya, Allah adalah Roh, maka ketika manusia diciptakan menurut citra Allah, manusia adalah makhluk yang bersifat rohaniah. Manusia mempunyai bagian yang tidak kelihatan yang mirip dengan Allah. Manusia adalah makhluk rohani, sehingga manusia dapat berkomunikasi dengan makhluk rohani lainnya, manusia

dapat berkomunikasi dengan dunia yang tidak kelihatan. Hal ini tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk lainnya. Tentang sifat rohani ini, Leonardo Boff menegaskan bahwa setiap manusia bergerak di dalam dimensi transendensi, imanensi dan transparansi. Dengan dimensi transendensinya, manusia bergerak ke sumber asalnya. Dengan dimensi imanensinya, manusia menemukan diri dan dunianya, pribadi dan masyarakatanya. Dalam penemuan itu, manusia merasa senasib dengan sesama secara horisontal maupun mengalami ketergantungan kepada Sang Citra secara vertikal. Sedangkan dengan dimensi transformasinya, manusia berusaha

memadukan transendensi dan imanensi dirinya agar mampu menemukan kesejatian dirinya sebagai gambaran Sang Citra. Kedua, bermoral. Karena Allah suci adanya, maka ketika Ia menciptakan manusia, Ia menciptakannya dengan keutamaan moralitas. Keutamaan inilah yang membuat manusia berbeda dengan ciptaan lain sekaligus mengembangkan tanggungjawab dari Allah. Manusia adalah makhluk bermoral, maka ia akan selalu mengupayakan kesejatian hidup dalam kebenaran dan kebijaksanaan daripada kejahatan. Allah menciptakan manusia dengan suatu mandat untuk menguasai bumi dan segala isinya (bdk GS 16). Ketiga, rasional. Sebagai citra Allah, manusia dikaruniai rasio untuk bisa membedakan mana yang baik dan benar maupun yang tidak baik dan jahat. Dengan rasionalitasnya, manusia menemukan dirinya sebagai makhluk yang istimewa, makhluk yang mampu membedakan (berpikir) untuk mengerti setiap kebenaran (bdk GS 15). Keempat, menguasai namun tidak diskriminatif. Waktu Allah menentukan untuk menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya, manusia diberi potensi untuk mengusai dan mengembangkan

kemampuan demi kesejahteraan bersama. Namun harus diakui bahwa Semua orang mempunyai jiwa yang berbudi dan diciptakan menurut gambar Allah, dengan demikian mempunyai kodrat serta asal mula

yang sama. Mereka semua ditebus oleh Kristus, dan mengemban panggilan serta tujuan ilahi yang sama pula. Maka harus semakin diakuilah kesamaan dasariah antara semua orang....setiap cara diskriminasi dalam hak-hak asasi pribadi, entah bersifat sosial entah budaya, berdasarkan jenis kelamin, suku, warna kulit, kondisi sosial, bahasa atau agama, harus diatasi dan disingkirkan, karena

bertentangan dengan maksud Allah. Sebab sungguh layak disesalkan, bahwa hak-hak pribadi itu belum di mana-mana dipertahankan secara utuh dan aman. Seperti bila seorang wanita tidak diakui wewenangnya untuk dengan bebas memilih suaminya dan menempuh status hidupnya, atau untuk menempuh pendidikan dan meraih kebudayaan yang sama seperti dipandang wajar bagi pria (GS 29). Kekuasaan manusia itu tidak tanpa batas, artinya manusia berkuasa sejauh demi kebaikan bersama. Kelima, relasional dan komunal. Manusia diciptakan untuk berelasi dan bersekutu. Relasi dan persekutuan ini memperlihatkan suatu ketergantungan dasariah antarmanusia sebagai makhluk yang selalu ada bersama. Tentang hal ini, para Bapa Konsili dengan sangat indah menyatakan: Karena saling ketergantungan itu semakin meningkat dan lambat laun meluas ke seluruh dunia, maka kesejahteraan umum sekarang ini juga semakin bersifat universal, dan oleh karena itu mencakup hak-hak dan kewajiban-kewajiban, yang menyangkut seluruh umat manusia....Tetapi serta merta berkembangkalah lesadaran akan unggulnya martabat manusia, karena melampaui segala sesuatu, lagi pula hak-hak dan kewajiban-kewajibannya bersifta universal dan tidak dapat diganggu-gugat. Maka sudah seharusnyalah, bagi manusia disediakanlah segala sesuatu, yang dibutuhkannya untuk hidup secara sungguh manusiawi, misalnya nafkah, pakaian, perumahan, hak untuk dengan bebas memilih status hidupnya dan untuk membentuk keluarga, hak pendidikan, pekerjaan, nama baik, kehormatan, informasi yang semestinya, hak untuk bertindak menurut norma hati nuraninya, hak

atas perlindungan hidup perorangan, dan atas kebebasannya yang wajar, juga perihal agama. Jadi tata masyarakat serta kemajuannya harus tiada hentinya menunjang kesejahteraan pribadi-pribadi; sebab penataan hal-hal harus dibawakan kepada tingkatan pribadi-pribadi, dan jangan sebaliknya, menurut yang disyaratkan oleh Tuhan sendiri ketika bersabda, bahwa hari Sabat itu ditetapkan demi manusia, dan bukan manusia demi hari Sabat (bdk Mrk 2:27). Tata dunia ini harus semakin dikembangkan, didasarkan pada kebenaran, dibangun dalam keadilan, dihidupkan dengan cinta kasih; harus menemukan

keseimbangannya yang semakin manusiawi dalam kebebasan. Supaya semua itu terwujudlan, perlulah diadakan pembaharuan mentalitas dan perubahan-perubahan sosial secara besar-besaran. Roh Allah, yang dengan penyelenggaraan-Nya yang mengagumkan mengarahkan

peredaran zaman dan membaharui muka bumi, hadir di tengah perkembangan itu. Adapun ragi Injil telah dan masih membangitkan dalam hati manusia tuntutan tak terkendali akan martabatanya (GS 26). Jadi, sifat manusia yang relasional dan komunal seturut citra Allah tersebut, semata-mata diarahkan demi kesejahteraan bersama. Di sinilah letak intergitas kecitraan (atau keserupaan) manusia dengan Sang Citra. Hampir senada dengan penegasan para Bapa Konsili di atas, Santa Katarina dari Siena bahkan menyatakan, "Apakah alasannya, maka Engkau meninggikan manusia ke martabat yang begitu mulia? Cinta yang tidak ternilai, yang dengannya Engkau memandang makhluk-Mu dalam diri-Mu sendiri dan jatuh cinta kepadanya, sebab Engkau menciptakannya karena cinta, karena cinta Engkau memberi kepadanya satu kodrat, yang dapat merasakan kegembiraan pada diri-Mu, harta abadi" (KGK, 365). Karena diciptakan menurut citra Allah, manusia memiliki martabat sebagai pribadi: ia bukan hanya sesuatu, melainkan seorang. Ia mampu mengenal diri sendiri, menjadi tuan atas dirinya, mengabdikan diri dalam kebebasan dan hidup dalam kebersamaan dengan orang lain. Dan

karena rahmat ia sudah dipanggil ke dalam perjanjian dengan Penciptanya, untuk memberi kepada-Nya jawaban iman dan cinta, yang tidak dapat diberikan suatu makhluk lain sebagai penggantinya. Keunggulan martabat manusia ini, oleh para Bapa Konsili diletakkan dalam hati nurani. Hati nurani adalah inti manusia yang paling rahasia, sanggar sucinya; di situ ia seorang diri bersama Allah, yang sapaan-Nya menggema dalam batinnya. Berkat hati nurani dikenallah secara ajaib hukum, yang dilaksanakan dalam cinta kasih terhadap Allah dan sesama (GS 16). Tuhan menciptakan segala sesuatu untuk manusia, tetapi manusia itu sendiri diciptakan untuk melayani Allah, untuk mencintai-Nya dan untuk mempersembahkan seluruh ciptaan kepada-Nya. "Makhluk manakah yang diciptakan dengan martabat yang demikian itu? Itulah manusia, sosok yang agung, yang hidup dan patut dikagumi, yang dalam mata Allah lebih bernilai daripada segala makhluk. Itulah manusia; untuk dialah langit dan bumi dan lautan dan seluruh ciptaan. Allah sebegitu prihatin dengan keselamatannya, sehingga la tidak menyayangi Putera-Nya yang tunggal untuk dia. Allah malahan tidak ragu-ragu, melakukan segala sesuatu, supaya menaikkan manusia kepada diri-Nya dan memperkenankan ia duduk di sebelah kanan-Nya," tulis Santo Yohanes Krisostomus. "Sesungguhnya hanya dalam misteri Sabda yang menjelmalah misteri manusia benar-benar menjadi jelas" (GS 22,1). Sementara itu, Rasul Paulus berbicara mengenai dua manusia, yang merupakan asalusul umat manusia: Adam dan Kristus ... Paulus mengatakan: Adam, manusia pertama, menjadi makhluk hidup duniawi. Adam terakhir menjadi Roh yang menghidupkan. Yang pertama diciptakan oleh Yang terakhir, dan juga mendapat jiwa dari Dia, supaya ia menjadi hidup ... Adam terakhir inilah, yang mengukir citra-Nya atas yang pertama waktu pembentukan. Karena itulah, maka ia menerima sosok tubuhnya dan menerimanya, supaya la tidak kehilangan, apa yang Ia jadikan menurut

citra-Nya. Adam pertama, Adam terakhir: Yang pertama mempunyai awal, yang terakhir tidak mempunyai akhir, karena yang terakhir ini sebenarnya yang pertama. Dialah yang mengatakan `Aku adalah Alfa dan Omega." Manusia merupakan satu kesatuan karena asal yang sama, karena Allah "menjadikan dari satu orang saja semua bangsa dan umat manusia" (Kis 17:26). "Pandangan yang menakjubkan, yang

memperlihatkan kepada kita umat manusia dalam kesatuan asal yang sama dalam Allah ... dalam kesatuan kodrat, bagi semua disusun sama dari badan jasmani dan jiwa rohani yang tidak dapat mati; dalam kesatuan tujuan yang langsung dan tugasnya di dunia; dalam kesatuan pemukiman di bumi, dan menurut hukum kodrat semua manusia berhak menggunakan hasil-hasilnya, supaya dengan demikian bertahan dalam kehidupan dan berkembang dalam kesatuan tujuan adikodrati: Allah sendiri, dan semua orang berkewajiban untuk mengusahakannya; dalam kesatuan daya upaya, untuk mencapai tujuan ini; ... dalam kesatuan tebusan, yang telah dilaksanakan Kristus untuk semua orang. "Hukum solidaritas dan cinta ini" menegaskan bagi kita, bahwa kendati keanekaragaman pribadi; kebudayaan dan bangsa, semua manusia adalah benar-benar saudara dan saudari, berasal dari keturunan dan citra Allah yang sama.

2. Manusia: Kesatuan Jiwa dan Badan 2.1. "Satu dalam Jiwa dan Badan" Berbicara tentang manusia, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa manusia terdiri dari jiwa dan badan. Manusia adalah suatu kesatuan, tetapi kesatuan itu menampakkan adanya keduaan (jiwa dan badan). Akan tetapi realitas jiwa dan badan ini sering dipandang sebagai saling bertentangan. Ada beberapa pandangan yang berbicara tentang jiwa dan badan manusia. Pertama, pandangan dualisme. Tokoh utama pandangan ini adalah Sokrates

dan Plato. Menurut Sokrates, jiwa merupakan azas hidup manusia. Jiwa adalah intisari manusia dan oleh karenanya manusia wajib mengutamakan kebahagiaan jiwanya melebihi kebahagiaan

badannya sendiri. Sedangkan Plato berpendapat bahwa jiwa dan badan merupakan dua kenyataan yang sama sekali berbeda dan saling bertentangan. Jiwa berasal dari dunia atas (idea-idea) sedangkan tubuh berasal dari dunia bawah (materi). Seperti dalam pandangan Sokrates, dalam dualisme Plato ini jiwa dipandang lebih tinggi daripada badan, karena bersifat adikodrati dan kekal. Sebaliknya, badan dilihat sebagai penjara bagi jiwa dan bersifat fana. Bila Sokrates dan Plato melihat jiwa dan badan sebagai keduaan yang sama sekali terpisah (dengan pengagungan terhadap jiwa), Aristoteles justru berpendapat lain. Bagi Aristoteles, materi adalah azas yang paling akhir. Materi tidak bisa dipisahkan dari segala bentuk. Materi tanpa bentuk tidak memiliki kenyataan. Namun itu tidak berarti bahwa materi adalah hal yang tidak ada sama sekali, melainkan ia merupakan kenyataan yang masih belum mewujud. Ia bisa mewujud dalam kesatuannya dengan bentuk. Secara singkat dapat dikatakan bahwa menurut Aritoteles, materi dan bentuk tidak dapat dipisahkan. Materi tidak dapat berada tanpa bentuk, sebaliknya bentuk tidak dapat berada tanpa materi. Tiap ada yang dapat diamati tersusun dari materi dan bentuk. Pada kesimpulannya, Aristoteles berpendapat bahwa baik jiwa maupun badan keduanya bersifat fana. Tak ada jiwa yang tidak dapat mati. Kedua, pandangan Kitab Suci. Pandangan Kitab Suci (PL dan PB) tentang jiwa dan badan bersifat sintetis-menyeluruh, yakni keduanya sebagai perpaduan yang serasi. Keduaan itu mempunyai kodrat yang sama dalam kesatuannya. Ini berarti bahwa manusia tidak diuraikan menjadi fungsi-fungsi yang dan kemampuanmanusia

kemampuan

sebagai

bagian

membentuk

10

(terpecah/terpisah-pisah), tetapi dipandang sebagai kesatuan, keutuhan dan keseluruhan. Fungsi kejasmanian tidak dipisahkan dari fungsi kerohanian dalam totalitasnya. Dalam PL diungkapkan bahwa Allah merupakan Pencipta dan dasar serta asal segala yang ada (Kej 1). Alam semesta diciptakan oleh Allah dan karenanya dunia merupakan pancaran keagungan Allah. Gagasan ini mencapai puncaknya pada pandangan tentang manusia (jiwa dan badan) sebagai citra Allah (Kej 1:26; Mzm 8). Dengan itu dapat dipahami bahwa kesatuan jiwa dan tubuh pertama-tama terletak pada asal/sumbernya yang sama, yakni Allah sendiri. Bila dalam PL kesatuan antara jiwa dan badan didasarkan pada sumber dan asal yang sama dalam Pencipta, maka dalam PB kesatuan itu tidak hanya terletak pada asal yang sama tetapi juga dalam tujuan eskatologis penciptaan yakni dalam Kristus. Pribadi manusia yang diciptakan menurut citra Allah adalah wujud jasmani sekaligus rohani. Teks Kitab Suci mengungkapkan itu dalam bahasa kiasan, "Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup" (Kej 2:7). Manusia seutuhnya dikehendaki Allah. Dalam Kitab Suci istilah jiwa sering berarti kehidupan manusia atau seluruh pribadi manusia. Tetapi ia berarti juga unsur terdalam pada manusia, yang paling bernilai padanya, yang paling mirip dengan citra Allah: "Jiwa" adalah prinsip hidup rohani dalam manusia. Badan manusia mengambil bagian pada martabat keberadaan "menurut citra Allah": ia adalah tubuh manusiawi karena ia dijiwai oleh jiwa rohani. Pribadi manusiawi secara menyeluruh sudah ditentukan menjadi kanisah Roh dalam Tubuh Kristus. "Manusia, yang satu jiwa maupun raganya, melalui kondisi badaniahnya

11

sendiri menghimpun unsur-unsur dunia jasmani dalam dirinya, sehingga melalui dia unsur-unsur itu mencapai tarafnya tertinggi, dan melambungkan suaranya untuk dengan bebas memuliakan Sang Pencipta. Oleh karena itu manusia tidak boleh meremehkan hidup jasmaninya; tetapi sebaliknya, ia wajib memandang baik serta layak dihormati badan-nya sendiri, yang diciptakan oleh Allah dan harus dibangkitkan pada hari terakhir" (GS 14,1). Kesatuan jiwa dan badan begitu mendalam, sehingga jiwa harus dipandang sebagai "bentuk" badan, artinya jiwa rohani menyebabkan, badan yang dibentuk dari materi menjadi badan manusiawi yang hidup. Dalam manusia, roh dan materi bukanlah dua kodrat yang bersatu, melainkan kesatuan yang membentuk kodrat yang satu saja. Gereja mengajarkan bahwa setiap jiwa rohani langsung diciptakan Allah - ia tidak dihasilkan oleh orang-tua - dan bahwa ia tidak dapat mati: ia tidak binasa, apabila pada saat kematian ia berpisah dari badan, dan ia akan bersatu lagi dengan badan baru pada hari kebangkitan. Kadangkala jiwa dibedakan dengan roh. Santo Paulus berdoa demikian: "Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya, dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus" (1 Tes 5:23). Gereja mengajarkan bahwa perbedaan ini tidak membagi jiwa menjadi dua. Dengan "roh" dimaksudkan bahwa manusia sejak penciptaannya diarahkan kepada tujuan

adikodratinya dan bahwa jiwanya dapat diangkat ke dalam persekutuan dengan Allah karena rahmat. Tradisi rohani Gereja juga menekankan pentingnya hati dalam arti biblis sebagai "dasar hakikat" atau "batin" (Yer 31:33), tempat manusia memutuskan berpihak kepada Allah atau melawan Allah.

12

2.2. Kesatuan Jiwa dan Badan Sebagaimana telah dikemukakan pada bagian sebelumnya, hidup manusiawi tidak lain sekaligus jasmani dan rohani. Dimensi jasmani dan rohani dalam pribadi manusia bukan dua kodrat yang tergabungkan melainkan persatuan keduanya merupakan satu kodrat. Dengan itu dapat dikatakan bahwa tubuh manusia merupakan manifestasi yang kelihatan dari seluruh kediriannya (rohani dan jasmani). Melalui dan di dalam tubuh, pribadi manusia mencapai kenyataan konkretnya. Oleh sebab itu ketika kita berbicara tentang tubuh, maka dalam benak kita harus selalu ada paham (prinsip) tentang kesatuan antara jiwa dan badan. Bila tidak, kita akan jatuh pada paham dualisme. Pembicaraan tentang badan di sini tidak bermaksud memisahkan tubuh dari jiwa, melainkan bermaksud mendalami dimensi tubuh dalam kesatuan dengan jiwa. Seluruh aspek interior manusia (perasaan, pikiran, kehendak, dsb) tidak hanya terpendam di dalam batin manusia, tetapi terungkap ke luar melalui tubuh. Tubuh mengekspresikan seluruh diri manusia (jasmani dan rohani). Dengan tertawa, seseorang mengekspresikan kebahagiaan; dengan menangis, seseorang mengungkapkan

kesedihan, dsb. Karena itulah ketika seseorang sedang merasakan sakit pada bagian perut, seharusnya tidak dikatakan: Sakit perutku, melainkan Aku sakit perut. Ungkapan pertama bernuansa fragmentaris sedangkan kalimat kedua menunjukkan totalitas yang utuh. Sakit pada bagian perut membuat seluruh diri seseorang menjadi sakit atau terganggu. Bertolak dari gagasan bahwa tubuh manusia merupakan pengungkapan sekaligus penghadiran simbolis dari seluruh

kemanusiaannya, maka muncul pemahaman bahwa tubuh manusia juga merupakan jembatan yang mengkomunikasikan pribadi manusia dengan sesama, alam dan Tuhan. Tidak ada aku an sich. Tak

13

mungkin memikirkan suatu cara berada manusia yang tidak sekaligus suatu cara berada di dunia Nilai tubuh didasarkan pada iman bahwa Allah-lah yang menciptakan tubuh manusia. Allah menciptakan manusia (jiwa dan tubuh) sebagai citranya dan memberikan kepada manusia martabat yang lebih tinggi daripada makhluk ciptaan lainnya.

3. Manusia Pria dan Wanita: Kesetaraan Pria dan wanita diciptakan, artinya, dikehendaki Allah dalam persamaan yang sempurna di satu pihak sebagai pribadi manusia dan di lain pihak dalam kepriaan dan kewanitaannya. "Kepriaan" dan "kewanitaan" adalah sesuatu yang baik dan dikehendaki Allah: keduanya, pria dan wanita, memiliki martabat yang tidak dapat hilang, yang diberi kepada mereka langsung oleh Allah, Penciptanya. Keduanya, pria dan wanita, bermartabat sama "menurut citra Allah". Dalam kepriaan dan kewanitaan mereka mencerminkan kebijaksanaan dan kebaikan Pencipta. Allah sendiri sama sekali tidaklah menurut citra manusia. Ia bukan pria, bukan juga wanita. Allah adalah Roh mumi, pada-Nya tidak bisa ada perbedaan jenis kelamin. Namun dalam "kesempurnaan-

kesempurnaan" pria dan wanita tercermin sesuatu dari kesempurnaan Allah yang tidak terbatas: ciri khas seorang ibu dan ciri khas seorang ayah. Allah menciptakan pria dan wanita secara bersama dan

menghendaki yang satu untuk yang lain. "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia" (Kej 2:18). Dari antara binatang-binatang manusia tidak menemukan satu pun yang sepadan dengan dia (Kej 2:19-20). Wanita yang Allah "bentuk" dari rusuk pria, dibawa kepada manusia. Lalu berkatalah manusia yang begitu bahagia karena persekutuan dengannya, "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku" (Kej 2:23).

14

Pria menemukan wanita itu sebagai aku yang lain, sebagai sesama manusia. Pria dan wanita diciptakan "satu untuk yang lain", bukan seakanakan Allah membuat mereka sebagai manusia setengah-setengah dan tidak lengkap, melainkan la menciptakan mereka untuk satu persekutuan pribadi, sehingga kedua orang itu dapat menjadi "penolong" satu untuk yang lain, karena di satu pihak mereka itu sama sebagai pribadi ("tulang dari tulangku"), sedangkan di lain pihak mereka saling melengkapi dalam kepriaan dan kewanitaannya. Dalam perkawinan Allah

mempersatukan mereka sedemikian erat, sehingga mereka "menjadi satu daging" (Kej 2:24) dan dapat meneruskan kehidupan manusia: "Beranakcuculah dan bertambah banyaklah; penuhilah bumi" (Kej 1:28). Dengan meneruskan kehidupan kepada anak-anaknya, pria dan wanita sebagai suami isteri dan orang-tua bekerja sama dengan karya Pencipta atas cara yang sangat khusus. Kembali pada kisah penciptaan. Bagi Stefania Cantore, kedua kisah penciptaan dapat disimpulkan bahwa selain menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan dengan martabat yang sama, Allah juga membuat mereka mampu untuk berelasi dalam kesetaraan, kesalingan dan ketimbal-balikan, serta dalam suasana yang harmonis (bdk. Kej 2:825). Sedangkan Susan Niditch mengatakan bahwa dengan menciptakan manusia sebagai perempuan dan laki-laki sebagai cermin bagi dirinya sendiri, Allah tidak membuat pembedaan martabat maupun derajat di antara keduanya. Dengan kata lain, kendati perempuan diciptakan sesudah laki-laki, tidak ada maksud untuk menempatkan perempuan sebagai makhluk ciptaan kelas dua atau lebih rendah derajatnya dari pada laki-laki. Menurut rencana Allah, pria dan wanita memiliki panggilan supaya sebagai "wakil" yang ditentukan Allah, "menaklukkan dunia". Keunggulan ini tidak boleh menjadi kelaliman yang merusak.

15

Diciptakan menurut citra Allah, yang "mengasihi segala yang ada" (Keb 11:24), pria dan wanita terpanggil untuk mengambil bagian dalam penyelenggaraan ilahi untuk makhluk-makhluk lain. Karena itu, mereka bertanggungjawab untuk dunia yang dipercayakan Allah kepada mereka. Dalam dokumen Gaudium et Spes para Bapa Konsili Vatikan II mengatakan bahwa semua orang diciptakan dalam citra Allah. Mereka memiliki kodrat dan asal-usul yang sama. Mereka memiliki kesetaraan dasariah. Kesetaraan tersebut harus semakin diakui. Oleh karenanya, segala bentuk diskriminasi yang menyangkut hak-hak asasi manusia, entah yang bersifat sosial atau budaya, berdasarkan jenis kelamin, suku, warna kulit, kondisi sosial, bahasa atau agama, harus diatasi dan disingkirkan, karena bertentangan dengan rencana Allah (GS, 29). Kendati terdapat perbedaan-perbedaan yang wajar antara laki-laki dan perempuan, namun martabat mereka yang sama sebagai pribadi menuntut agar kita berusaha untuk mewujudkan kondisi hidup yang lebih fair dan lebih manusiawi (GS, 29). Konsili Vatikan II juga memandang kesenjangan ekonomi dan sosial yang berlebihan antara individu dan bangsa-bangsa merupakan sumber skandal dan

bertentangan dengan keadilan sosial, keadilan, martabat manusia, serta perdamaian sosial dan internasional (GS, 29). Konsili Vatikan II juga menegaskan bahwa bila kaum perempuan masih belum diakui wewenangnya untuk dengan bebas memilih suaminya, menentukan jalan hidupnya, atau untuk menempuh pendidikan dan meraih kebudayaan seperti yang mereka inginkan (GS, 29), wajarlah kalau Kaum perempuan menuntut kesetaraan dengan kaum laki-laki berdasarkan hukum dan keadilan (equity) maupun dalam kenyataan, bila kesetaraan itu belum mereka peroleh (GS, 9). Sedangkan menurut Paus Yohanes Paulus II perempuan memiliki martabat yang sederajat dengan laki-laki. Kesetaraan martabat antara laki-laki dan perempuan ini dilandaskan pada kenyataan bahwa mereka

16

diciptakan oleh Allah sendiri menurut citra dan keserupaan dengan diriNya (Kej 1:26-27, FC 22). Apa yang ditandaskan oleh almarhum Yohanes Paulus II ini sangat penting, sebab selama berabad-abad Gereja mengikuti pandangan Thomas Aquinas (1225-1274) dalam melihat perempuan. Dengan mengadopsi pandangan Aristoteles (384/3-322 sebelum Masehi), Aquinas meyakini bahwa perempuan adalah seorang pria yang tidak sempurna (misbegotten male) yang keberadaannya hanya dibutuhkan demi membantu laki-laki untuk melahirkan anakanak. Berdasarkan kesetaraan martabat sebagai citra Allah ini, baik perempuan maupun laki-laki memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut hidup berkeluarga, menggereja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Yohanes Paulus II mengingatkan bahwa kesetaraan martabat tidak identik dengan kesamaan dengan laki-laki. Kesetaraan martabat ini akan mencapai kepenuhannya ketika perempuan dan laki-laki mampu untuk hidup dalam komunio dengan satu sama lain, dengan saling menerima dan saling memberikan diri, dengan saling membantu dan bekerjasama untuk mewujudkan kesejahteraan bersama bagi seluruh ciptaan Allah. Dengan penciptaan laki-laki dan perempuan menurut citra dan keserupaan dengan Allah mereka dipanggil untuk secara timbal balik hidup bagi satu sama lain. Yohanes Paulus II menegaskan bahwa dalam diri perempuan, laki-laki memperoleh mitra, dengannya ia dapat berdialog dalam kesetaraan yang lengkap. Kesetaraan ini harus benar-benar diusahakan menjadi sebuah pengalaman nyata dalam segala bidang kehidupan; antara lain, mendapatkan gaji sama untuk pekerjaan yang sama, perlindungan bagi para ibu yang bekerja, fairness dalam hal kenaikan jenjang karier, kesetaraan suami-istri menyangkut hak-hak dalam hidup keluarga, serta pengakuan terhadap segala sesuatu yang menyangkut hak dan kuajiban

17

warga negara dalam negara yang demokratis, mempunyai akses untuk memiliki harta serta mengelola aset-aset yang dimilikinya, dan dapat ikut ambil bagian dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan proses-proses untuk mengarahkan kehidupan masyarakat.

C. Manusia dalam Dunia: Tanggungjawab untuk Menjaga Firdaus 1. Manusia Jatuh dalam Dosa: Awal Penderitaan Manusia pertama jatuh ke dalam dosa karena telah melanggar larangan Allah, yaitu untuk tidak memakan buah dari Pohon Pengetahuan. Apa yang terjadi setelah manusia jatuh ke dalam dosa? Manusia kehilangan kemuliaan dan tidak dapat bertatap muka lagi dengan Allah. Ini disimbolkan dengan pengusiran manusia dari Taman Eden (Kej 3:23). Hubungan Allah dengan manusia tidak dapat lagi dilakukan secara langsung. Sudah ada penjaga dengan pedang menyalanyala menjaga hadirat Allah dari manusia (Kej 3:24). Manusia sama sekali tidak dapat melewati gerbang ini. Manusia memiliki ilmu pengetahuan dan memiliki kemampuan berkembang yang luar biasa karena buah dari Pohon Pengetahuan ini. Berbekal pengetahuan ini manusia ingin menyamai Allah dan bahkan tidak mengakui Allah dan penciptaan-Nya (Kej 3:22). Bandingkan dengan teori Darwin yang menolak proses penciptaan Allah dalam 6 hari, meski Gereja melalui Paus Yohanes Paulus II secara resmi mengakui dan menerima kemajuan ilmu pengetahuan, khususnya menyangkut pernyataan Galileo Galilei tentang tentang matahari sebagai pusat dan teori evolusi yang bertentangan dengan kreationisme dalam Gereja. Iblis akan selalu menyesatkan manusia sehingga iblis dapat mengambil roh manusia (Kej 3:14). Manusia yang berhasil disesatkan akan menjadi pengikut iblis. Penyesatan oleh Iblis menyebabkan manusia tidak bertanggungjawab atas mandat yang dipercayakan Tuhan. Penyesatan itu menyebabkan permusuhan abadi antara iblis dengan

18

keturunan perempuan pertama. Permusuhan ini membuat keturunan perempuan (Yesus Kristus) sangat menderita dan wafat di dunia ini, tetapi sebenarnya iblislah yang dihancurkan kuasanya atas dunia ini (Kej 3:15). Dan iblis dan segala kekuatannya akan dihancurkan oleh Yesus Kristus pada akhir zaman (Kitab Wahyu). Untuk memulihkan tanggungjawab yang telah dilanggar oleh manusia, Allah mengomunikasikan diri-Nya kepada manusia dalam diri Yesus Kristus. Yesus kemudian menjadi mediator antara ciptaan dan Allah; bukan saja dalam arti merestorasi hubungan yang rusak akibat dosa, melainkan sekaligus dalam pengertian bahwa Ia adalah Logos yang menjadi manusia (Yoh 1:14). Melalui Dia, Sang Logos ini, manusia dapat berkata-kata kepada Allah. Komunikasi melalui Logos yang menjadi manusia ini adalah komunikasi personal. Maksudnya dalam diri Yesus setiap orang terbuka untuk datang, berbicara, dan berkeluh-kesah kepada Allah; memuji Dia, memohon pertolongan dan pengampunan, atau berkat, sebab Ia adalah jalan, kebenaran, dan hidup itu sendiri (Yoh 14:6). Yesus adalah Bahasa manusia dalam wujud yang sebenarnya dan universal; bukan bahasa simbolik-puitis yang hidup di tengah-tengah manusia, dan bukan pula bahasa dalam pengertian bahwa ketika sebuah pesan bahasa telah terpenuhi bahasa itu menjadi mubazir, seperti halnya bahasa manusia yang dipakai dalam kebudayaan dan bangsa tertentu. Maka melampaui bahasa simbolik manusiawi, Ia adalah Bahasa penderitaan itu sendiri, sebab oleh Dorothy Soelle, penderitaan yang tidak diangkat kepada tataran linguis untuk diungkapkan adalah penderitaan yang tidak dapat mencapai kesudahan. Sedangkan Yesus sebagai Bahasa penderitaan hanya mau menegaskan bahwa penderitaan manusia berakhir, sakit dan sengsara itu telah mencapai kesudahan dengan wafat dan kebangkitan Logos yang menjadi manusia. Yesus sebagai Bahasa universal manusia dalam hubungannya dengan Allah bukan saja karena dalam Dia segala perbedaan status manusiawi telah direduksi sampai pada titik nol (Yoh 15:15), melainkan

19

terutama karena Peristiwa Yesus adalah peristiwa historis, melampaui masa lalu, kini, dan yang akan datang, suatu antisipasi terhadap apa yang (akan) dialami manusia dalam sejarah. Dengan kata lain, seluruh peristiwa hidup manusia yang dialami dalam sejarah, partisipatif dalam peristiwa historis ini. Pada titik ini, penderitaan manusia bukan lagi sesuatu yang dialami tanpa makna, sebagai kegagalan atau hukuman, tidak juga sebagai nasib, melainkan suatu dasar bagi komunikasi personal manusia kepada Allah, karena Kristus telah terlebih dahulu menderita. Pertanyaan di manakah Kristus ketika Ayub menghadapi penderitaan tidak mungkin dicari dan ditemukan jawabannya di luar penderitaan di Salib. Sebab sebagai suatu peristiwa antisipatif, penderitaan Kristus adalah antisipasi terhadap penderitaan yang telah, sedang, dan akan terjadi. Kristus adalah Allah, dan oleh karena Allah seperti yang dipahami JB. Metz, adalah pemilik waktu, maka yang dinamakan antisipasi tidak berlangsung secara formal futuristik. Penderitaan Kristus mencapai kesempurnaan pada kebangkitan-Nya. Oleh karena itu dimensi antisipatif dari penderitaan Kristus terdapat pada fakta bahwa penderitaan di Salib menyelamatkan seluruh penderitaan manusia dalam segala sejarah penderitaan manusia sejak Ayub yakni dalam kesempurnaan kebangkitan-Nya. Itulah sebabnya komunikasi dalam penderitaan menjadi penting, sebab penderitaan secara esensial interpersonal, dapat membawa pada suatu kesadaran akan aktualitas pengertian penderitaan, serta melalui dialog penderita menemukan solidaritas dengan Dia yang telah memenangkan

penderitaan tadi. Kalau penderitaan secara esensial interpersonal, itu berarti seluruh proses komunikasi manusia modern yang dimediasi oleh alat-alat teknologis adalah komunikasi impersonal. Impersonalitas komunikasi manusia modern bukan pertama-tama karena ciri teknologis sarana penghubung antarorang zaman ini, melainkan karena orang-orang modern menghayati penderitaan sebagai bertentangan dengan

20

modernitas, seperti ungkapan Jrgen Moltmann bestia rerum novarum cupidissima (manusia yang selalu rakus akan hal-hal baru), yang oleh Dorothy Soelle disebut the culture of aphaty (budaya apatis, budaya masa bodoh). Kecenderungan akan hal-hal baru dari teknologi komunikasi bukan saja mereduksi nilai fundamental komunikasi personal manusia dengan Allah tetapi sekaligus menegaskan dimensi etis komunikasi

interpersonal manusia dalam penderitaannya dengan Allah. Berhadapan dengan penderitaan Kristus, krisis komunikasi interpersonal manusia dapat juga memunculkan pertanyaan teologis di sisi lain: Masihkah dalam penderitaannya manusia berdialog dengan Allah yang telah menyelamatkan dia melalui Salib dan kebangkitan-Nya.

2. Manusia Ditebus Oleh Kristus 2.1. Penderitaan Manusia: Kenangan akan Penderitaan Kristus Penderitaan Kristus dalam misteri Paskah dilatarbelakangi oleh cinta yang kudus kepada manusia, yakni tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih yang menyerahkan nyawa-Nya bagi sahabatsahabat-Nya (Yoh 15:13). Memang agak aneh bahwa dalam penderitaan terdapat kasih yang lebih besar justru terletak pada kematian di salib, suatu kematian mengenaskan. Tetapi di sini yang terpenting adalah, jika menghadapkan penderitaan Kristus di depan penderitaan manusia, suatu pertanyaan prasyarat yang diajukan bukan lagi tentang mengapa Yesus mengasihi manusia sampai mati di Salib; melainkan, dengan apakah penderitaan itu dikenang ? Memang, sangatlah tidak cukup untuk mengenang penderitaan Kristus hanya dengan merayakan sebab bukankah merayakan dapat saja berarti bersuka cita atas penderitaan Kristus yang begitu sengsara? Iman Kristiani, seperti ditegaskan JB. Metz, adalah suatu praksis dalam sejarah dan masyarakat yang dipahami sebagai harapan dalam solidaritas dengan the God of Jesus sebagai Allah

21

yang hidup dan yang telah mati yang memanggil semua manusia menjadi subjek di hadapan-Nya. Di sinilah deklarasi iman Kristiani tentang dirinya sendiri sebagai memoria passionis, mortis et resurrectionis Jesu Christi tidak saja memiliki makna merayakan namun pertama-tama adalah mengenang! Mengenang memiliki cakupan dalam dimensi iman yang lebih luas yakni mengenang penderitaan dan kematian tetapi merayakan berarti merayakan kebangkitan-Nya. Beriman kepada Kristus yang telah menderita, wafat, dan bangkit berarti mengenang mengenang penderitaan (salib dan kematian) sekaligus merayakan kemenangan (kebangkitan atas kematian). Demikian juga, de facto peristiwa Salib berbobot mati historis, mencari tahu motivasi Yesus mengasihi manusia menjadi tidak efektif. Historisitas suatu peristiwa sejarah tidak terletak pada alasan di balik peristiwa melainkan terletak pada kenangan akan peristiwa yang telah terjadi itu. Pertanyaan tentang motivasi adalah pertanyaan subjektif dan karena itu manusia tidak pernah mencapai jawaban yang objektif sempurna. Kitab suci dan sumber-sumber teologi umumnya memang telah menyediakan sarana-sarana untuk mencapai pertanyaan itu. Namun fakta bahwa dalam sejarah penderitaan umat manusia yang diwakilkan oleh Ayub secara personal dan bangsa Yahudi secara komunal, dari mana iman Kristiani berakar, penderitaan manusia selayaknya menjadi kenangan akan penderitaan Kristus, suatu memoria passionis Christi (tambahan Christi dari penulis). Penderitaan manusia adalah catatan kaki dari penderitaan Kristus, ia tidak pernah dilihat lepas dari penderitaan Kristus atau bahwa penderitaan Kristus menjadi rujukan terakhir dari apa yang dialami manusia. Mengenang kembali penderitaan Kristus melalui penderitan manusia tidak dimaksudkan agar manusia boleh menderita begitu saja, atau membiarkan kondisi-kondisi yang memungkinkan

22

penderitaan terjadi. Adanya penderitaan memang telah memunculkan persoalan-persoalan teodicea namun konsep dan gagasan yang sangat jenial sekali pun sama-sekali gagal secara sufisiensi (=memuaskan) menjelaskan mengapa penderitaan itu terjadi, dan bahkan lebih tidak mungkin lagi untuk menjelaskan penderitaan Kristus di Salib. Teguran Petrus ketika mendengar Yesus mengumumkan penderitaan yang akan menimpa Dia justru dianggap sebagai batu sandungan (Mat 16:23). Jadi memang, motivasi penyerahan diri secara total pada kematian di Salib tetap bersifat personal, namun apa yang terpenting dari kematian di Salib itu adalah, kebangkitan-Nya sebagai puncak dari peristiwa Salib itu. Penderitaan Kristus sampai wafat di Salib adalah suatu fatalisme kekuasaan politik Imperium Romanum yang secara sengaja menghukum Dia atas desakan para demonstran meskipun setelah melalui penyidikan panjang Ia didapati tidak bersalah (Yoh 19). Dengan kata lain Salib adalah akibat dari kekuasaan politik yang tidak adil, totaliter serta otoritarian. Memang dosa manusia harus ditebus untuk memperbaiki hubungan manusia dengan Allah tetapi ini tidak dengan sendirinya dapat membenarkan kekuasaan politik yang tidak adil dan menindas. Oleh karena itu segala bentuk ketidakadilan penguasa yang menyebabkan penderitaan manusia harus dilawan. Perlawanan terhadap model kekuasaan yang totaliter dan otoritarian, menindas serta tidak adil memang dapat mengakhiri penderitaan manusia. Namun secara teologis tidak dapat dikatakan bahwa penderitaan yang mereka alami adalah dalam rangka mengenang penderitaan Kristus yang memang adalah akibat dari model kekuasaan politik yang menindas dan tidak adil. Peristiwa holocaust di Auschwitz adalah bukti otoritarianis kekuasaan politik Nasional-Sosialis Jerman di bawah Adolf Hitler. Di sanalah penderitaan bangsa Yahudi itu secara teologis dapat merupakan

23

kenangan akan penderitaan di Salib, untuk mengenang kembali penderitaan Kristus oleh manusia. Kenangan akan penderitaan Kristus dalam penderitaan manusia ini bukan terutama menyangkut intensitas dan kedalaman rasa sakit yang dialami, melainkan menyangkut aspek konsekuensi eskatologis dari penderitaan Kristus, bahwa penderitaan manusia yang diwakilkan oleh bangsa Yahudi sebagai yang sulung dari seluruh Gereja partisipatif dalam penderitaan di Salib, dan karena itu telah diselamatkan. Jadi, meskipun bangsa Yahudi menyangkal Yesus Anak Allah, Salib dan kebangkitan Yesus memiliki dimensi etis eskatologis atas

penderitaan mereka. Warta tentang keselamatan Kristiani kepada umat Yahudi yang menderita dalam peristiwa Auschwitz dan bahkan kepada seluruh umat manusia yang menderita akan menemukan jalan buntu jika penderitaan umat manusia bukan merupakan catatan kaki dari penderitaan Kristus, atau jika penderitaan itu tidak memiliki rujukan eskatologisnya. Mengenang kembali penderitaan Kristus melalui penderitaan manusia berarti mengangkat penderitaan manusia kepada tataran ilahi. Penderitaan, lebih dari sekedar suatu persoalan teodicea, memiliki dimensi etis historis bahwa penderitaan itu bukanlah nasib yang diterima manusia secara pasif. Sebab jika demikian, penderitaan Kristus di salib tidak memiliki dimensi eskatologis apa pun. Memang Stanley Hauerwas telah membedakan secara etis teologis antara penderitaan yang terhadapnya manusia sama-sekali tidak mempunyai kontrol dan penderitaan yang memungkinkan manusia menguasainya. Akan tetapi, kontrol manusia atas

penderitaannya bukan secara langsung menuntun manusia kepada jalan eskatologis. Demikian juga dengan penderitaan yang diterima secara pasif, sebab penderitaan manusia tersubordinasi di bawah penderitaan Kristus. Seandainya manusia karena kekuatan sendiri dapat mengangkat penderitaannya kepada tataran ilahi dan memiliki

24

dimensi etis eskatologis dalam dirinya sendiri, itu berarti sia-sialah penderitaan dan kebangkitan Kristus; atau seperti yang diwartakan Paulus, jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah iman manusia dan manusia tetap tinggal dalam dosa (1Kor 15:17). Dengan kata lain, manusia tidak diselamatkan atau tidak ditebus oleh kematian dan kemenangan Kristus. Memang peristiwa Auschwitz karena kooptasi negara Hegelian yang memberikan semua fungsi kepada negara sama-sekali bukan merupakan rencana Allah seperti halnya rencana dan kekuasaan Allah yang hendak ditunjukan dalam diri orang buta misalnya (Yoh 9:3). Akan tetapi entah yang pertama maupun yang kedua, dalam penderitaannya manusia memerlukan Yesus sebab tidak ada keuntungan bagi Allah membiarkan manusia menderita (Ayb 10:3), sebaliknya yang diperoleh-Nya adalah kerugian sebab Dia

kehilangan Putera Tunggal-Nya. Jadi, bahwa Yesus datang untuk menebus manusia, hal itu tidak harus berakhir dengan kematian di salib sebagai tebusan akan dosa tadi. Maka, kenangan yang paling pas akan penderitaan Kristus terdapat dalam penderitaan manusia dan dengan penderitaannya, manusia partisipatif dalam karya keselamatan Allah. Tidak ada cara lain yang paling baik untuk berpartisipasi aktif dalam karya keselamatan Allah selain bahwa dalam penderitaannya manusia mengenang penderitaan Kristus.

2.2. Penderitaan Manusia: Dasar Komunikasi Personal Dengan Allah Sebagaimana penderitaan manusia adalah catatan kaki dari penderitaan Kristus, saat Kristus dalam penderitaan-Nya tidak meninggalkan Allah tetapi malah berteriak: Eli, Eli, lama sabakhtani yang artinya AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Jeritan ini adalah suatu seruan eksistensial yang keluar dari hati ketika Ia mengalami penderitaan. Ini bukan pertama-

25

tama adalah suatu pengalaman ditinggalkan oleh Allah karena Yesus masih berseru pula dengan suara nyaring untuk yang kedua kalinya dan menyerahkan nyawanya (Mat 27:49). Teriakan itu menimbulkan gelombang-gelombang suara yang tidak hanya merambah sampai di kediaman Allah, melainkan sanggup membelah bukit-bukit batu, menggetarkan bumi, membelah tabir Bait Suci, bahkan

membangkitkan orang-orang kudus yang telah meninggal (Mat 27:51-52). Ada kesan bahwa teriakan Yesus dari Salib itu untuk memaparkan kepada sosok manusia penderita agar meyakinkan diri bahwa di balik penderitaan itu masih ada Yesus, masih ada Allah, ada kebangkitan. Jawaban JB. Metz terhadap pertanyaan, apakah masih ada doa bagi orang Kristen setelah persitiwa Auschwitz?, yakni bahwa we can pray after Auschwitz because there was prayer even in Auschwitz agaknya terinsipirasikan dari jeritan Yesus di Salib itu, bahwa dalam penderitaan orang masih dapat berdoa kepada Allah. Itulah sebabnya jeritan Yesus kepada Allah dari Salib itu lebih merupakan suatu doa dalam kesendirian daripada suatu teriakan protes karena pengalaman ditinggalkan. Sebab tidak mungkin Allah akan meninggalkan Yesus sendirian karena apa yang berkenan kepada Bapa adalah segala yang desembunyikan bagi orang bijak dan pandai tetapi justru dinyatakan kepada orang kecil (Mat 11:2526). Preferensi fundamental Yesus dalam option for the poor seperti yang dikotbahkan-Nya di bukit (Mat 5-7) menyebabkan Allah tidak mungkin meninggalkan Dia dalam keadaan seperti di Salib, sebab itulah yang berkenan kepada Allah. Doa Yesus dalam

penderitaanNya di Salib dan kejadian yang mengikutinya sebenarnya ingin mengatakan bahwa dalam penderitaan manusia perlu menjalin komunikasi personal yang intensif dengan Allah dan hanya karena manusia berdoa ia diselamatkan dari penderitaannya. Komunikasi personal yang intensif antara manusia dalam penderitaannya dengan Allah antara lain untuk menunjukan

26

solidaritas manusia dalam penderitaan Yesus. Sebab solidaritas, seperti yang dikatakan JB. Metz, merupakan suatu kategori pembantu, pendukung serta persamaan dengan mana manusia, penderita yang akut dan terancam, dapat diangkat kepada tataran ilahi bahwa penderitaan mereka memiliki dimensi etis eskatologis. Bahasa komunikasi yang keluar dari lubuk hati manusia adalah bahasa doa. Dan bahasa doa, seperti ditegaskan JB. Metz, bukan saja lebih universal, tetapi juga lebih hidup dan dramatis, lebih bersifat memberontak serta radikal, ketimbang bahasa-bahasa teologis akademik. Dengan demikian bahasa doa dalam penderitaan manusia bukanlah model bahasa profetis liberatif. Sebab apa yang dimaksudkan oleh Gustavo Gutierrez dengan model bahasa profetis adalah suatu bahasa protes bukan saja diarahkan kepada situasi yang menindas melainkan juga kepada Allah. Bahasa model ini lebih merupakan bahasa kontemplatif sebab basis dari bahasa kontemplatif adalah pertemuan dengan Allah yang ditandai oleh kebebasan dan kukuasaan cinta-Nya. Maka, menjadi jelaslah bahwa dalam penderitaannya manusia dapat menemukan Allah melalui bahasa doa yang kontemplatif. Dan inilah solidaritas manusia dalam arti yang sebenarnya dengan Yesus Kristus yang telah terlebih dahulu menderita untuk menebus umat manusia dari dosa serta merestorasi hubungan manusia dengan Allah. Memang pengalaman akan Allah oleh manusia modern selalu terbatas antara lain karena dikondisikan oleh keterbatasan

manusiawi, atau dalam cara sajian Walter Kasper ialah ilmu pengetahuan dan teknologi. Akan tetapi pengalaman manusia akan Allah dalam penderitaannya adalah pengalaman manusia akan Allah yang menderita dalam sejarah sebab sejarah bukanlah medium Allah mengijinkan diri-Nya untuk dialami melainkan sejarah adalah milik Allah saja, sejarah berada di dalam Allah. Komunikasi personal manusia dalam penderitaannya dengan Allah sama dengan

27

mengalami Allah sebagai pemilik sejarah, bahkan mengalami sejarah itu sendiri. Benar jika Kasper mengatakan bahwa arti sejarah tidak berhenti dan kering karena Allah sendiri yang mengundang manusia untuk memulai kembali arti sejarah umat manusia, keselamatan orang-orang yang menderita dan tertindas. Komunikasi personal manusia dengan Allah dalam sejarah

penderitaannya memiliki dimensi etis eskatologis dan ini terletak pada bahasa yang terucapkan dalam kesengsaraan dan penderitaan, meskipun memang bahasa yang terucapkan secara teoretis, bukan merupakan bahasa profetis liberatif menurut pengertian Gutierrez itu. Allah yang menyelamatkan manusia dari penderitaannya adalah Allah yang mengomunikasikan diri-Nya dalam bahasa yang hidup, yakni Logos yang menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Ayub dalam penderitaannya telah memperlihatkan contoh yang baik, bahwa dalam keadaan sengsara ia secara kontemplatif merenungkan apa yang dialaminya, direnungkan dalam dan bersama Allah. Itulah sebabnya Allah mendengar kontemplasi Ayub lalu membebaskan dia dari sengsara dan penderitaan. Bahasa kontemplasi manusia dalam penderitaannya adalah bahasa doa, seperti yang dituturkan JB. Metz, adalah bahasa tanpa tabu dan pada saat yang sama dipenuhi dengan painful discretion. Tidak ada komunikasi personal antara manusia dalam

penderitaannya dengan Allah akan memunculkan suatu keadaan memberontak melawan Allah seperti yang tampak dalam persoalan teodicea dan memuncak pada klaim kematian Allah, sekaligus juga menyangkal bahwa iman timbul karena pendengaran. Dengan kata lain, iman timbul karena pendengaran ini mengandaikan ada komunikasi kontemplatif dengan Kristus yang menderita di Salib. Sebab segala sesuatu telah diserahkan oleh Bapa kepada-Nya (Luk 10:22), termasuk juga supaya dari bawah salib-Nya manusia yang menderita dapat berteriak: Tuhan, tambahkanlah iman kami (Luk

28

17:5). Tepat di sinilah, Yesus sebagai Logos yang menjadi manusia adalah Bahasa penderitaan itu sendiri, supaya dalam penderitaanNya manusia penderita dapat secara personal berkomunikasi dengan Allah dan menemukan arti penderitaannya itu. Penderitaan manusia, lebih dari sekedar sebagai persoalan teodicea, adalah dasar bagi hubungan personal manusia dengan Allah. Sebab ia memiliki dimensi etis eskatologis dalam pengertian penderitaan manusia adalah catatan kaki dari penderitaan Kristus. Sebagai catatan kaki berarti penderitaan manusia berpartisipasi secara aktif dalam penderitaan Kristus di Salib dan justru karena itu penderitaannya diangkat kepada tataran ilahi yakni kebangkitan. Pengangkatan penderitaan manusia kepada tataran ilahi ini dimungkinkan karena penderitaan Kristus adalah peristiwa antisipatif terhadap sejarah penderitaan manusia di dunia dalam segala zaman. Penderitaan Kristus adalah peristiwa historis antisipatif, ini sama artinya dengan mengatakan bahwa penderitaan manusia partisipatif dalam penderitaan Kristus. Sebab jika penderitaan manusia dapat dilihat secara terpisah dari penderitaan Kristus atau tidak memiliki rujukan eskatologis, maka bukan saja bahasa profetis liberatif yang akan menemukan jalan buntu mengangkat penderitaan manusia kepada tataran ilahi, tetapi juga bahwa warta tentang keselamatan yakni kebangkitan Kristus, akan merupakan skandal bagi orangorang yang menderita. Skandal ini menjadi semakin tegas kalau pewartaan itu tidak menggunakan bahasa komunikasi kontemplatif, yakni bahasa orang-orang menderita itu sendiri, atau bahwa orangorang menderita sama-sekali mengabaikan komunikasi personal mereka dengan Allah yang telah mengalahkan penderitaan dalam kebangkitan-Nya. Maka, komunikasi personal manusia dalam penderitaannya dengan Allah adalah dalam rangka solidaritas manusia yang menderita dengan, (meminjam JB. Metz), the God of Jesus. Inilah

29

solidaritas yang sebenarnya manusia dalam penderitaannya dengan Kristus, suatu solidaritas dalam rangka memoria passionis, mortis et resurrectionis Jesu Christi. Sebab dari solidaritas itulah terungkap harapan menuju suatu dunia baru, dunia manusia yang tertebus.

D. Manusia Baru Yang Berpengharapan Setelah menelaah manusia baik dalam hakikatnya sebagai ciptaan Allah maupun keterlibatannya dalam dunia yang penuh penderitaan namun mendapatkan penebusan dalam Kristus, maka kita kian berproses menuju manusia baru yang berpengharapan, manusia yang tertebus, manusia yang diselamatkan. Keselamatan yang diraih dalam dan berkat Kristus memiliki nilai. Dan hidup sebagai nilai dasar yang tertinggi mengandung makna bahwa hidup merupakan syarat utama bagi nilai-nilai lainnya. Dengan kata lain, hanya dengan hidup manusia dapat menikmati nilai-nilai lain dalam kehidupannya. Pernyataan sedunia tentang Hak Asasi Manusia dan Kongregasi Ajaran Iman menyatakan bahwa hak pertama dan dasariah bagi manusia adalah hak untuk hidup. Karena itu, hidup manusia harus diperjuangkan dan dilindungi. Hidup manusia berasal dari Allah. Hidup itu karunia-Nya, gambar dan meterai-Nya, keikutsertaan dalam nafas kehidupan-Nya. Oleh karena itu Allah satu-satunya Tuhan hidup itu; manusia tidak dapat memperlakukannya sesuka hatinya. Hidup manusia luhur dan tidak ada sesuatupun yang bisa menggantikan dan memberikan hidup (Mrk 8:37). Agar manusia hidup, Allah memberikan/menjamin segala hal bagi kelangsungan hidup manusia (Mat 6:25-32). Ini mengungkapkan bahwa manusia tergantung secara total kepada penyelenggaraan Allah. Hidup sebagai anugerah dan ketergantungan manusia kepada Allah memuat panggilan sekaligus tugas manusia untuk melindungi kehidupan. Almarhum Paus Yohanes Paulus II, melalui ensikliknya Veritatis Splendor no. 48 mengemukakan jiwa yang bersifat rohani dan tidak dapat mati merupakan prinsip kesatuan makhluk manusia, dengan mana ia ada sebagai

30

suatu keseluruhan. Paham ini menyampaikan bahwa manusia sebagai totalitas yang disatukan, satu dalam jiwa dan tubuh. Manusia adalah makhluk multidimensional tanpa dapat direduksi dalam satu sisi saja seperti jiwa atau badan. Semua menyatu dalam diri manusia secara utuh dan terintegrasi. Karena itu manusia adalah pribadi unik yang didasarkan pada sisi kerohanian dan kejasmaniannya. Maka pribadi dan badan manusia mesti dihargai apa adanya. Dalam Kejadian 1:27 dikemukakan maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya. Penciptaan manusia menurut citra Allah merupakan dasar, harkat dan martabat manusia. Manusia ambil bagian dalam wajah Allah. Karena itu manusia memiliki jiwa yang bersifat rohani dan kekal abadi (GS 14). Pribadi manusia yang utuh baik jasmani maupun rohaninya dikehendaki oleh Allah (KGK, 362). Tubuh manusia ambil bagian dalam martabat keberadaan Allah. Karena itu penghargaan akan tubuh manusia juga merupakan perwujudan dari penghargaan akan Allah. Pribadi manusia secara utuh ditentukan menjadi kenisah Roh dalam tubuh Kristus (KGK. 364). Tujuan penciptaan manusia seturut citra Allah adalah agar manusia itu beranak cucu, bertambah banyak, memenuhi bumi dan ikut serta membangun dunia (Kej 1:28). Tugas perutusan manusia ini berasal dari kuasa Allah sendiri. Manusia ambil bagian dalam kuasa Allah. Karena itu manusia sepenuhnya tergantung dari kuasa Allah. Manusia ditugaskan oleh Allah untuk menghargai, menjunjung dan mencintai hidup (EV 42). Allah mengutus Putra tunggal-Nya, Yesus Kristus ke dunia untuk menyelamatkannya dan menebus manusia dari dosa-dosanya. Yesus menebus manusia lewat sengsara, wafat dan bangkit pada hari yang ketiga. Dengan pengorbanan Yesus ini manusia menjadi ciptaan baru, menjadi milik Allah sendiri dan merupakan tempat tinggal dan kediaman yang layak bagi Roh Kudus (bdk.1 Kor 6:19, KGK. No. 1708). Pemahaman yang baik dan benar akan pengertian ini mendorong manusia untuk menghargai hidup manusia, lewat tubuhnya, manusia bisa mengekspresikan diri, entah bergembira, menangis dan lain sebagainya. Oleh karena itu hidup manusia harus dihargai dan dihormati dalam setiap fasenya (KGK. No. 1708).

31

Hidup adalah suatu pemberian dari Allah sehingga suci adanya. Kesucian hidup ini sudah mengandung kualitasnya. Kualitas hidup dimengerti dalam tiga dimensi, pertama kualitas kebutuhan (kesejahteraan fisik), kedua kualitas keinginan atau aspirasi (subyektif), dan ketiga kualitas nilai-nilai (kebaikan etis, religius, cultural, relasi interpersonal dan cinta). Ketiga dimensi ini bersifat horizontal dan vertikal. Konsep kualitas hidup harus dimengerti secara benar. Pengertian akan kualitas hidup yang salah bisa mendatangkan malapetaka dan bencana karena bisa digunakan sebagai ukuran layak tidaknya seseorang untuk hidup. Kekhawatiran ini dapat dilihat dalam diri orang yang cacat, sakit terminal, idiot dan lain sebagainya. Bagaimanapun semua orang dalam segala dimensi dan fasenya berhak untuk hidup. Jelaslah bahwa hidup terutama manusia (yang menjadi pokok perhatian penulis) harus dilindungi, dipelihara dan diperjuangkan. Hidup manusia merupakan anugerah Allah yang amat luhur. Manusia diciptakan oleh Allah (jiwa dan tubuh) secitra dengan-Nya. Akan tetapi keluhuran hidup manusia tidak berarti bahwa manusia bebas memperlakukan hidupnya dan hidup sesamanya sesuka hati. Hidup adalah milik Allah. Oleh sebab itu, hidup tidak boleh diganggu-gugat oleh manusia. Hidup yang dikaruniakan oleh Allah kepada manusia sangat berbeda dengan hidup makhluk ciptaan lainnya. Melalui dan di dalam hidup yang secitra dengan Allah itu, manusia menampilkan Allah di dunia, menandakan kehadiranNya dan mencerminkan kemuliaan-Nya. Pada saat yang sama, manusia diberi tugas sekaligus dipanggil untuk memelihara, melindungi dan menghormati hidup. Salah satu seruan normatif untuk merealisasikan tugas panggilan itu: Jangan membunuh. Larangan jangan membunuh mencapai puncaknya pada hukum cinta kasih: terhadap Allah dan terhadap sesama manusia. Cinta dan ucapan syukur kepada Allah mesti diejawantahkan dengan cinta terhadap sesama, yang di dalamnya termaktub sikap hormat terhadap harkat dan martabat manusia, perlindungan dan pemeliharaan hidup serta perjuangan terhadap nilai-nilai kehidupan.

32

Manusia pertama diciptakan sebagai makhluk yang baik dan ditempatkan dalam persahabatan dengan Penciptanya dan dalam keselarasan dengan diri sendiri dan dengan ciptaan yang berada di sekitarnya. Hanya oleh kemuliaan penciptaan baru dalam Kristus, persahabatan dan harmoni ini dapat dilampaui. Gereja menjelaskan perlambangan bahasa biblis dalam terang Perjanjian Baru dan tradisi secara otentik dan mengajarkan bahwa nenek moyang kita Adam dan Hawa ditempatkan dalam satu keadaan "kekudusan dan keadilan" yang asli (Konsili Trente: DS 1511). Rahmat kekudusan yang asli itu adalah "berpartisipasi dalam kehidupan ilahi" (LG 2). Oleh sinar rahmat ini kehidupan manusiawi diperkuat menurut segala aspek. Selama manusia tinggal dalam hubungan erat dengan Allah, ia tidak perlu mati atau bersengsara. Keselarasan batin dari pribadi manusiawi, keselarasan antara pria dan wanita, dan keselarasan antara pasangan suami isteri pertama dan seluruh ciptaan merupakan keadaan yang dinamakan "keadilan purba." "Kekuasaan" atas dunia yang diberikan oleh Allah kepada manusia sejak awal, dilaksanakan pada tempat pertama sekali di dalam manusia itu sendiri yaitu kekuasaan atas diri sendiri. Manusia dalam seluruh kodratnya utuh dan teratur, karena ia bebas dari tiga macam hawa nafsu, yang membuat dia menjadi hamba kenikmatan hawa nafsu, ketamakan akan harta duniawi, dan penonjolan diri yang bertentangan dengan petunjuk akal budi. Bukti hubungan baik dengan Allah ialah bahwa Allah menempatkan manusia dalam "kebun". Ia hidup di dalamnya "untuk mengusahakan dan memelihara" taman itu (Kej 2:15). Pekerjaan itu untuk pria dan wanita bukan kerja paksa, melainkan kerja sama dengan Allah demi penyempurnaan ciptaan yang kelihatan. Dan penyempurnaan ciptaan itu membawa kita menuju manusia baru dalam Kristus. Manusia baru adalah manusia yang telah mengalami pencerahan spiritualitas yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Bukan manusia lama yang masih terikat ritual-ritual agamawi sebagai pusat spiritualitasnya, atau manusia lama yang terikat dengan keinginan-keinginan daging (Gal 5:19), tapi manusia baru yang telah dan terus belajar mengenal Kristus (Ef 4:20). Pengenalan akan Kristus berbasis keintiman (intimacy), kontemplatif, dan aplikatif. Pusat

33

spiritualitasnya adalah Kristus sebagai Guru Agung Karakter, Tuhan dan Juruselamat Pribadi. Manusia baru itu ibarat cabang baru yang melekat kepada pohon anggur yang tidak hanya subur tapi juga benar. Selama cabang itu melekat kepada pohon anggur yang subur dan benar itu maka akan menghasilkan buah-buah yang lebat dan sehat. Manusia baru akan menunjukkan sifat-sifat, karakter-karakter seperti Kristus, misalnya buah-buah Roh (Gal 5:22) dan karakteristik dari kasih Agape (1Kor 13). Perubahan sifat dan karakter itu terjadi secara berkesinambungan dalam dimensi roh dan pikiran. Dalam wilayah roh dan pikiran itulah manusia baru itu telah dan terus dibaharui dalam Kristus (Ef 4:23; dan Rom 12:1-2). Menjadi seperti Kristus adalah adalah pergumulan jatuh bangun seumur hidup dari seorang manusia baru. Musuh-musuhnya tidak selalu Iblis, orang lain, melainkan diri sendiri dengan segala keinginannya. Analisa masalah selalu dimulai dari dalam diri baru ke luar. Menjalani hidup untuk Kristus adalah tujuan hidup seorang manusia baru (2Kor 5:15). Hidup adalah Kristus mati adalah untung, kata Rasul Paulus. Bahkan salah satu tujuan hidup seorang manusia baru adalah mengembangkan karakternya menjadi seperti Kristus. Kesulitan, kegagalan dan tantangan dalam kehidupan dianggap sebagai proses pembelajaran sebagai murid Kristus. Ukuran seorang manusia baru bukan ukuran lahiriah tapi batiniah (2Kor 5:12). Begitu juga paradigma manusia baru adalah paradigma batiniah. Kacamata rohaninya lebih tertuju kepada apa yang tidak kelihatan bukan yang kelihatan, yang fana itu. Orientasi manusia baru ke depan adalah kekekalan. Kekekalan yang bukan dimulai setelah matinya tubuh tapi kekekalan yang dimulai saat Kristus lahir di hati, kekekalan yang dirasa sejak kini bukan kelak semata (Yoh 3:15-36).

34

E. Kesimpulan Perjalanan uraian pandangan Gereja Katolik tentang manusia di atas dapat simpulkan dalam beberapa point sebagai berikut: 1. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (citra) Allah. Sebagai citra Allah, manusia mampu mengenal dan mencintai Penciptanya dan oleh Allah manusia ditetapkan sebagai tuan atas semua makhluk di dunia ini, untuk menguasainya dan menggunakannya sambil meluhurkan Allah. Sebagai citra Allah manusia mewarisi enam sifat dasar: rohani, bermoral, rasional, menguasai namun tidak diskriminatif, relasional dan komunal. 2. Manusia merupakan satu kesatuan jiwa dan badan. Dan kesatuan ini menunjukkan totalitas atau keutuhannya sebagai ciptaan Allah yang unik. Kesatuan jiwa dan badan begitu mendalam, sehingga jiwa harus dipandang sebagai "bentuk" badan, artinya jiwa rohani menyebabkan, badan yang dibentuk dari materi menjadi badan manusiawi yang hidup. 3. Manusia (laki-laki dan perempuan) diciptakan dalam kesetaraan martabat, maka baik perempuan maupun laki-laki memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut hidup berkeluarga, menggereja,

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 4. Sebagai ciptaan, manusia jatuh dalam dosa. Akibatnya, manusia kehilangan kemuliaan dan tidak dapat bertatap muka lagi dengan Allah yang disimbolkan dengan pengusiran manusia dari Taman Eden (Kej 3:23). 5. Dosa menyebabkan manusia menderita. Dan penderitaan manusia itu memuncak dalam penderitaan Kristus yang mengandung nilai eskatologis demi penebusan manusia. Penebusan itu sendiri terjadi sebagai buah komunikasi personal manusia yang solider dengan penderitaan Kristus. Penebusan inilah yang menjadikan kita sebagai manusia baru yang berpengharapan, manusia baru yang berhasil melampaui kegelapan dosa menuju terang kabangkitan Kristus.

35

KEPUSTAKAAN

Bagus, L. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996. Bakker, A. Ontologi atau Metafisika Umum. Yogyakarta: Kanisius, 1992. Baumans SVD, Josef, Telaah Sosio-Pastoral tentang Manusia, Jakarta: Celety Hieronika, 1999 Bertens, K. Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993. . Filsafat Barat Abad XX, jilid I. Jakarta: Gramedia, 1983. Boff, Leonardo, Allah Persekutuan, Ajaran Tentang Allah Tritunggal, Maumere: LPBAJ 1999. , Yesus Kristus Pembebas, Maumere:LPBAJ, 1999, cet. 3, 2003 Dhler, Franz dan Eka Budianta, Pijar Peradaban Manusia Denyut Harapan Evolusi, Yogyakarta: Kanisius, 2000. Dister OFM, Nico Syukur, Teologi Sistematika 1, Yogyakarta: Kanisius, 2004 , Teologi Sistematika 2, Yogyakarta: Kanisius, 2004. Dokumentasi dan Penerangan KWI. Dokumen Konsili Vatikan II. (terj. R. Hardawiryana). Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1998. , Piagam bagi Pelayan Kesehatan. Edwards, P. (ed.). The Encyclopedia of Philosophy, vol. 7. New York: Macmillan Publishing Co., Inc. & the Free Press, 1967. Fuller, Andrew R. Insight into Value: An Exploration of the Premises of a Phenomenological Psychological. New York: State University of New York Press, 1990. Gilarso, T. (ed.), Membangun Keluarga Kristiani: Pembinaan Persiapan Berkeluarga. Yogyakarta: Kanisius, 1996. Go, P. Hidup dan kesehatan. Malang: STFT Widya Sasana, 1984. Hadiwijono, H. Sari Sejarah Filsasfat Barat I. Yogyakarta: Kanisius, 1980. Huijbers, T. Mencari Allah: Pengantar ke dalam Filsafat Ketuhanan. Yogyakarta: Kanisius, 1992. Kasper, Walter, How Can We Experience God Today?, dlm., Theology Digest, Vol. xviii, no. 2 (Summer 1970), 122-31.

36

Kasper, Walter, Jesus The Christ, (trans. by V. Green), Burns & Oates Paulist Press, London New York, 1976. Katekismus Gereja Katolik. (terj. Herman Embuiru SVD) Ende: Waligereja Regio Nusa Tenggara, 1998. Latourelle, Ren & Rino Fisichella (Eds.), Dictionary of Fundamental Theology, New York: The Crossroad Publishing Company, 2000. Mangunwijawa, JB, Manusia Pascamodern, Semesta dan Tuhan, Yogyakarta: Kanisius 1999. Metz, JB., A Passion For God: The Mystical Political Dimension of Christianity, trans. by J. Matthew Ashley, Paulist Press, New Jersey, 1998. , Faith In History And Society: Toward a Practical Fundamental Theology, (trans. by David Smith), Burns & Oates, London, 1980. Moltmann, Jrgen, God For A Secular Society: The Public Relevance of Theology, trans. by Margaret Kohl, Fortress Press, Minneapolis, 1999. Richard, Lucien, What Are They Saying About the Theology of Suffering?, Paulist Press, New Jersey, 1992. Scheler, M. Formalism in Ethics and Non-formal Ethics of Values: A New Attempt toward the Foundation of an Ethical Personalism. Evanston: Northwestern University Press, 1993. Snijders, A. Antropologi Filsafat: Manusia, Paradoks dan Seruan. Yogyakarta: Kanisius, 2004. Yohanes Paulus II. Ensiklik Evangelium Vitae. Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1998. -. Veritatis Splendor. Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1998.

37

Anda mungkin juga menyukai