Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I PENDAHULUAN

Pendidikan Islam sesungguhnya telah tumbuh dan berkembang sejalan dengan adanya dakwah Islam yang telah dilakukan Nabi Muhammad saw. Berkaitan dengan itu pula pendidikan Islam memiliki corak dan karakteristik yang berbeda sejalan dengan upaya pembaharuan yang dilakukan secara terus-menerus pasca generasi nabi, sehingga dalam perjalanan selanjutnya pendidikan Islam terus mengalami perubahan baik dari segi kurikulum (mata pelajaran) maupun metode. Secara eksplisit, pendidikan mempunyai nilai yang strategisdan urgen dalam pembentukan suatu bangsa. Sebagaimana halnya dengan faktor-faktor pendidikan lainnya, maka kurikulum pun memainkan peranan penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan. Kurikulum mengalami perkembangan mengikuti

perkembangan kebudayaan dan peradaban masyarakat. Dalam perkembangannya, tentu saja kurikulum mengalami pembaruan dalam isinya, sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya.1 Munculnya pendidikan Islam bersamaan dengan lahirnya Islam itu sendiri. Pendidikan pada awalnya dilakukan dari rumah ke rumah, di masjid-masjid dan sebagainya. Ini dilakukan dengan peralatan yang sederhana sekali. Pendidikan Islam sebagai suatu sistem merupakan sistem tersendiri di antara sistem pendidikan di dunia ini, kendatipun memiliki banyak persamaan. Dikatakan sistem tersendiri karena cakupannya dan kesadarannya terhadap detak jantung, karsa dan karya manusia. Kurikulum pendidikan Islam klasik merupakan suatu sistem pendidikan klasik yang berbeda dengan sistem pendidikan Islam yang ada pada saat ini. Kalau ditinjau dari aspek tujuan, guru, murid, kurikulum, metode, fasilitas, dan sarana prasarana, jelas terlihat perbedaannya. Sudah banyak terjadi

perkembangan-perkembangan dalam dunia pendidikan Islam.


Abd. Mukti, Konstruksi Pendidikan Islam; Belajar dari Kejayaan Madrasah Nizhamiyah Dinasti Saljuq, (Bandung: Citapustaka Media, 2007), h. 215
1

Sebelum membahas lebih jauh, ada beberapa terminologi yang tampaknya perlu dijelaskan terlebih dahulu, sebelum menguraikan makalah ini lebih lanjut. Menguraikan term-term itu dianggap perlu karena diasumsikan akan memberikan kesamaan pandangan dalam menginterpretasi dan mengeksplanasi makalah ini. Pertama, kurikulum. Kurikulum pendidikan Islam klasik agaknya tidak dapat dipahami sebagaimana kurikulum pendidikan modern. Pada kurikulum pendidikan modern, seperti kurikulum pendidikan nasional di Indonesia, ditentukan oleh pemerintah dengan standar tertentu yang terdiri dari beberapa komponen: tujuan, isi, organisasi dan strategi. Dalam sistem pendidikan modern, eksistensi kurikulum sangat niscaya. Bahkan, lembaga pendidikan formal modern akan dianggap janggal jika tidak mempunyai kurikulum yang jelas. Kurikulum ini terdiri dari komponen-komponen tujuan, isi, organisasi, dan strategi. Sungguhpun demikian pada lembaga pendidikan informal, seperti pesantren, keberadaan kurikulum biasanya kurang mendapat perhatian secara serius.2 Pengertian dan komponen demikian agaknya sangat sulit ditemukan dalam literatur-literatur kependidikan Islam klasik. Untuk itu, kurikulum pendidikan Islam klasik dalam makalah ini dipahami dengan subyek-subyek ilmu pengetahuan yang diajarkan dalam proses pendidikan. Kedua, sistem pendidikan. Istilah sistem pendidikan biasanya dipahami sebagai suatu pola menyeluruh dari proses pendidikan dalam lembaga-lembaga formal, agen-agen, dan organisasi yang memindahkan (transfer) pengetahuan dan warisan kebudayaan serta sejarah kemanusiaan yang mempengaruhi pertumbuhan sosial, spiritual, dan intelektual. Menurut Hasan Langgulung, sistem pendidikan seperti demikian dalam literatur pendidikan Islam klasik tidak pernah dijumpai. Sebab, sistem pendidikan itu tidak terpisah dari sistem-sistem yang lain, seperti sistem politik (al-nizham al-siyasi), sistem tatalaksana (al-nizham al-idari), sistem keuangan (al-nizham al-mali), sistem kehakiman (al-nizham al-qadhi), dan lainlain. Sistem politik mempunyai program pendidikannya sendiri untuk membentuk kader-kader politik, begitu juga sistem-sistem tatalaksana, keuangan, sosial, dan
Burhan Nurgiantoro, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah: Sebuah Pengantar Teoritis dan Pelaksanaan, (Yogyakarta: BPFE, 1988), cet. Ke-1, h. 9-11
2

sebagainya. Jadi, sistem pendidikan Islam sebagai sistem yang berdiri sendiri merupakan satu fenomena baru dalam sejarah Islam.3 Oleh karena sistem pendidikan itu tidak berdiri sendiri maka untuk melihatnya dibutuhkan informasi yang menyajikan konstruk sosial, politik, dan keagamaan yang terjadi pada masa-masa tertentu sehingga menunjukkan adanya hubungan fungsional dan substansial antara dunia pendidikan dengan keadaan yang terjadi ketika itu. Sungguhpun demikian, dalam makalah ini hanya akan dipaparkan konstruksi masyarakat sejauh ia memiliki korelasi yang signifikan dengan pembahasan. Ketiga, metode pendidikan Islam. Metode pendidikan sesungguhnya dapat dikelompokkan menjadi dua bentuk: metode perolehan (acquisition) dan metode pemindahan atau penyampaian (transmission). Metode perolehan lebih ditekankan sebagai cara yang ditempuh oleh peserta didik (student) ketika mengikuti proses pendidikan, sedangkan metode pemindahan diasosiasikan sebagai cara pengajaran yang dilakukan oleh guru (teacher). Dengan demikian, metode-metode perolehan ditekankan kepada peserta didik sedangkan metode pemindahan dititikberatkan kepada guru. Pada makalah ini dibatasi pada bentuk yang terakhir, yakni metode pemindahan. Sebab, dalam banyak hal, kecenderungan pemikiran pendidikan Islam klasik lebih memprioritaskan kepada guru sebagai subyek pendidikan, bukan kepada murid. Guru dijadikan faktor penentu untuk menilai tingkat keberhasilan pendidikan Islam. Sebagai konsekwensinya, konsep pendidikan Islam klasik lebih banyak memperhatikan kepada guru. Keempat, masa klasik. Terminologi masa klasik ini memberi membuka peluang untuk diperdebatkan: sejak dan hingga kapan (?). Apakah dalam kacamata dunia muslim atau penulis barat. Sebab, para penulis Barat mengidentikkan abad ke-7 hingga abad ke-12/13 M sebagai zaman kegelapan (dark age); sementara para penulis muslim mengidentikkannya dengan masa keemasan (al-ashr al-dzahabi). Untuk memperoleh kejelasan batasan waktu,
Hasan Langgulung, Pendidikan Islam Menghadapi Abad ke-21, (Jakarta: Pustaka alHusna, 1998), cet. Ke-1, h. 4-5
3

penulis membatasi masa klasik dalam kacamata penulis muslim, seperti batasan yang dilakukan Harun Nasution. Ia mengklasifikasi sejarah Islam pada tiga masa: a. Periode klasik dimulai tahun 650 hingga 1250 M., sejak Islam lahir hingga kehancuran Baghdad b. Periode pertengahan sejak tahun 1250 hingga 1800 M., sejak Baghdad hancur hingga munculnya ide-ide pembaharuan di Mesir dan c. Periode modern, mulai tahun 1800 M. hingga sekarang.4 Dengan demikian, masa klasik dalam pembahasan makalah ini dibatasi sejak masa Rasulullah hingga Baghdad dihancurkan oleh Hulagu Khan, tepatnya tanggal 10 Pebruari 1258 M.5 Untuk memudahkan dalam uraian, makalah ini akan dibagi menjadi beberapa periode, yaitu periode Rasulullah, Khulafa al-Rasyidin, Dinasti Umayyah, dan Dinasti Abbasiyah.

Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid I, (Jakarta: UI-Press, 1985, cet. Ke-5, h. 56-91 5 Ibid., h. 80

BAB II PEMBAHASAN

A. Pendidikan Islam Masa Rasulullah [611-632 M./12 SH.-11 H.] Pendidikan pada masa Rasulullah dapat dibedakan menjadi dua periode: periode Makkah dan periode Madinah. Pada periode pertama, yakni sejak Nabi diutus sebagai rasul hingga hijrah ke Madinah -kurang lebih sejak tahun 611-622 M. atau selama 12 tahun 5 bulan 21 hari-, sistem pendidikan Islam lebih bertumpu kepada Nabi. Bahkan, tidak ada yang mempunyai kewenangan untuk memberikan atau menentukan materi-materi pendidikan, selain Nabi. Secara umum, materi pendidikan pada periode Makkah dibagi menjadi dua bagian, yaitu: Pertama, materi pendidikan tauhid, fokusnya untuk memurnikan ajaran agama tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim yang telah diselewengkan oleh masyarakat jahiliyah.6 Kedua, materi pengajaran alQuran, yang meliputi baca tulis al-Quran (imla dan iqra), menghafal ayatayat al-Quran, pemahaman al-Quran (Fahmil Quran atau tafsir al-Quran).7 Institusi pendidikan pada periode Makkah ada dua macam:8 1. Rumah Arqam ibn Arqam, yang merupakan tempat pertama berkumpulnya kaum muslimin dan Rasulullah untuk belajar hukum-hukum Islam dan dasar-dasar ajaran Islam. Rumah arqam ini disebut-sebut sebagai lembaga pendidikan pertama atau madrasah yang pertama kali dalam Islam, dan pengajarnya adalah Rasulullah sendiri. 2. Kuttab. Pendidikan di Kuttab pada awalnya terfokus pada baca tulis sastra, syair arab dan berhitung, setelah Islam datang materi ditambah dengan baca tulis al-Quran. Adapun pengajar di Kuttab pada masa aawal Islam adalah orang-orang non-muslim.

Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Islam Era Rasulullah Sampai Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007) h. 34 7 Ibid, h. 35 8 Ibid, h. 36

Sebelum kelahiran Islam, masa jahiliyah, institusi pendidikan kuttab telah berdiri. Teori asal usul kuttab memang masih diperdebatkan. Menurut Asma Hasan Fahmi, lembaga pendidikan kuttab ini didirikan oleh orang Arab pada masa kekhalifahan Abu Bakar.9 Sementara menurut Ahmad Syalabi, kuttab telah hadir sebelum Islam datang, tetapi ketika itu masih belum terkenal.10 Masyarakat Hijaz telah belajar membaca dan menulis kepada masyarakat Hirah, dan masyarakat Hirah belajar kepada masyarakat Himyariyin.11 Adapun orang yang pertama kali belajar membaca dan menulis diantara penduduk Makkah adalah Sufyan Ibn Umayah dan Abu Qais ibn Abd al-Manaf, yang keduanya belajar kepada Bisyr ibn Abd al-Malik. Kepada keduanyalah, penduduk Makkah belajar membaca dan menulis.12 Oleh karena itu, agaknya dapat dipahami ketika Nabi menyiarkan ajaran Islam (kurang lebih tahun 610-an M.), di masyarakat Quraisy, baru ada 17 laki-laki yang pandai baca-tulis dan 5 wanita.13 Pada periode di Madinah, tahun 622-632 M. atau tahun 1-11 H., usaha pendidikan Nabi yang pertama adalah membangun institusi masjid. Melalui pendidikan masjid ini, Nabi memberikan pengajaran dan pendidikan Islam. Ia memperkuat persatuan di antara kaum muslim dan mengikis habis sisa-sisa permusuhan, terutama antar penduduk Anshar dan penduduk Muhajirin. Pada periode ini, ayat-ayat al-Quran yang diterima sebanyak 22 surat, sepertiga dari isi al-Quran. Secara umum, materi pendidikan berkisar pada empat bidang: pendidikan keagamaan, pendidikan akhlak, pendidikan kesehatan jasmani, dan pengetahuan yang berkaitan dengan kemasyarakatan. Pada bidang keagamaan terdiri dari keimanan dan ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan
9

Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1997), cet. ke-1, h.30 10 Ahmad Syalabi, Sedjarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), cet. ke-1, h ke 33 11 Johannes Pederson, The Arabic Book, terj., Alwiyah Abdurrahman, Fajar Intelektulisme Islam: Buku dan Sejarah Penyebaran Informasi di Dunia Arab, (Bandung Mizan, 1996), cet. ke-1 12 Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1992), cet. ke-2, h. 19-20 13 Ibid

zakat. Pendidikan akhlak lebih menekankan pada penguatan basis mental yang telah dilakukan pada periode Makkah. Pendidikan kesehatan jasmani lebih ditekankan pada penerapan dari nilai-nilai yang dipahami dari amaliah ibadah, seperti makna wudlu, shalat, puasa, dan haji. Sedangkan pendidikan yang berkaitan dengan kemasyarakatan meliputi pada bidang sosial, politik, ekonomi, dan hukum. Masyarakat diberi pendidikan oleh rasul tentang kehidupan berumah tangga, warisan, hukum
14

perdata

dan

pidana,

perdagangan, dan kenegaraan serta lain-lainnya.

Dalam hal kurikulum pada periode Nabi baik di Makkah maupun di Madinah adalah Al-Quran yang diwahyukan oleh Allah sesuai dengan situasi dan kondisi yang dialam umat Islam pada masa itu, dan dijelaskan oleh Hadits Nabi. Hanya saja Kurikulum Madinah lebih komplit seiring bertambahnya wahyu yang diterima oleh Rasulullah.15 Metode yang dikembangkan oleh Nabi antara lain: 16 1. Ceramah, dalam menyampaikan dan menjelaskan wahyu yang baru diterimanya. 2. Dialog. Seperti yang dilakukan Rasulullah dengan Muadz ibn Jabal untuk mengatur strategi perang ketika akan diutus ke Yaman. 3. Diskusi atau tanya jawab Rasulullah dengan para sahabat tentang suatu hukum. 4. Perumpamaan, misalnya orang mukmin laksana satu tubuh yang apabila satu bagian sakit maka akan sakit seluruh badan. 5. Kisah. Seperti Rasulullah saat mengisahkan peristiwa isra dan miraj. 6. Pembiasaan, berjamaah. 7. Hafalan, ini diberlakukan dalam hal menjaga al-Quran. 8. Peneladanan, hal ini dalam bidang akhlak dimana Nabi tampil sebagai suri tauladan dalam kehidupan sebagai orang yang memiliki kemuliaan dan keagungan, baik dalam ucapan, perbuatan, maupun tindakannya.17
14 15

dengan

membiasakan

kaum

muslimin

untuk

shalat

Ibid., h. 16-19 Samsul Nizar, Op. Cit., h. 40 16 Ibid, h. 35

B. Pendidikan Islam Masa Khulafa al-Rasyidin [632-661 M./12-41 H.] Pada masa Nabi, negara Islam meliputi seluruh jazirah Arab dan pendidikan Islam berpusat di Madinah. Pasca wafatnya Rasulullah kekuasaan pemerintahan Islam diteruskan oleh khulafaur rasyidin dan wilayah Islam telah meluas di luar jazirah Arab. Para khalifah ini memusatkan perhatiannya kepada pendidikan, syiarnya agama, dan kokohnya negara Islam. Sistem pendidikan Islam pada masa khulafa al-Rasyidin dilakukan secara mandiri, tidak dikelola oleh pemerintah, kecuali pada masa khalifah Umar ibn Khattab yang turut campur dalam menambahkan kurikulum di lembaga kuttab. Para sahabat yang memiliki pengetahuan keagamaan membuka majlis pendidikan masing-masing, sehingga, pada masa Abu Bakar misalnya, lembaga pendidikan kuttab mencapai tingkat kemajuan yang berarti. Kemajuan lembaga kuttab ini terjadi ketika masyarakat muslim telah menaklukkan beberapa daerah dan menjalin kontak dengan bangsa-bangsa yang telah maju. Lembaga pendidikan ini menjadi sangat penting sehingga para ulama berpendapat bahwa mengajarkan al-Quran merupakan fardlu kifayah.18 Menurut Mahmud Yunus, ketika peserta didik selesai mengikuti pendidikan di kuttab mereka melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yakni di masjid. Di masjid ini, ada dua tingkat, yakni tingkat menengah dan tingkat tinggi. Yang membedakan di antara pendidikan itu adalah kualitas gurunya. Pada tingkat menengah, gurunya belum mencapai status ulama besar, sedangkan pada tingkat tinggi, para pengajarnya adalah ulama yang memiliki pengetahuan yang mendalam dan integritas kesalehan dan kealiman yang diakui oleh masyarakat.19 Pada lembaga pendidikan kuttab dan masjid tingkat menengah, metode pengajaran dilakukan secara seorang demi seorangmungkin dalam tradisi

17 18

Mahmud Yunus, Op. Cit., h. 25-30 Asma Hasan Fahmi, Op.Cit., h. 30 19 Mahmud Yunus, Op.Cit, h. 39

pesantren, metode itu biasa disebut sorogan,20 sedangkan pendidikan di masjid tingkat tinggi dilakukan dalam salah satu halaqah yang dihadiri oleh para pelajar secara bersama-sama.21 Pusat-pusat pendidikan pada masa Khulafa al-Rasyidin tidak hanya di Madinah, tetapi juga menyebar di berbagai kota, seperti kota Makkah dan Madinah (Hijaz), kota Bashrah dan Kufah (Irak), kota Damsyik dan Palestina (Syam), dan kota Fustat (Mesir). Di pusat-pusat daerah inilah, pendidikan Islam berkembang secara cepat.22 Materi pendidikan yang diajarkan pada masa Khalifah al-Rasyidin sebelum masa Umar ibn Khattab (w. 32 H. /644 M.), untuk kuttab, adalah belajar membaca dan menulis, membaca al-Quran dan menghafalnya, belajar pokokpokok agama Islam, seperti cara wudhu, shalat, puasa, dan sebagainya. Ketika Umar ibn Khattab diangkat menjadi khalifah, ia menginstruksikan kepada penduduk kota agar anak-anak diajarkan berenang, mengendarai onta, memanah, membaca dan menghafal syair-syair yang mudah dan peribahasa.23 Sedangkan materi pendidikan pada tingkat menengah dan tinggi terdiri dari al-Quran dan tafsirnya, hadits dan mengumpulkannya, dan fiqh (tasyri).24 Ilmu-ilmu yang dianggap duniawi dan ilmu filsafat belum dikenal sehingga pada masa itu tidak ada. Hal ini di mungkinkan mengingat konstruk sosial-masyarakat ketika itu masih dalam pengembangan wawasan keislaman yang lebih di fokuskan pada pemahaman al-Quran dan Hadits secara literal.

C. Pendidikan Islam Masa Dinasti Umayyah [41-132 H. / 661-750 M.] Secara esensial, sistem pendidikan Islam pada masa Dinasti Umayyah ini hampir sama dengan pendidikan pada masa Nabi dan masa Khulafa al-

Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, (Jakarta: LP3ES, 1994), cet. ke-4, h. 28 21 Mahmud Yunus, Op.Cit, h. 39-40 22 Ibid., h. 33 23 Muhammad Athiyah al-Abrasyi, Op. Cit., h. 2 24 Mahmud Yunus, Loc. Cit.

20

10

Rasyidin.25 Hanya saja memang ada sisi perbedaan dan perkembangannya sendiri. Perhatian para raja di bidang pendidikan agaknya kurang memperlihatkan pada perkembangannya yang maksimal, sehingga pendidikan berjalan tidak diatur oleh pemerintah, tetapi oleh para ulama yang memiliki pengetahuan yang mendalam. Kebijakan-kebijakan pendidikan yang

dikeluarkan oleh pemerintah hampir-hampir tak ditemukan. Jadi, sistem pendidikan Islam ketika itu masih berjalan secara alamiah. Periode dinasti Umayyah merupakan masa inkubasi. Pada masa ini peletakan dasar-dasar dari kemajuan pendidikan di munculkan. Intelektual muslim berkembang pada masa ini.26 Ada dinamika tersendiri yang menjadi karakteristik pendidikan Islam masa ini, yakni dibukanya wacana kalam (baca: disiplin teologi) yang berkembang ditengah-tengah masyarakat. Sebagaimana dipahami dari konstruksi sejarah bani Umayyahyang bersamaan dengan kelahirannya hadir pula tentang polemik tentang orang yang berbuat dosa besar,27 wacana kalam tidak dapat dihindari dari perbincangan kesehariannya, meskipun wacana ini dilatarbelakangi oleh faktor-faktor politis. Perbincangan ini kemudian telah melahirkan sejumlah kelompok yang memiliki paradigma berfikir secara mandiri. Oleh karena kondisi ketika itu diwarnai oleh kepentingan-kepentingan politis dan golongan maka didunia pendidikan, terutama didunia sastra, sangat rentan dengan identitasnya masing-masing. Sastra Arab, baik dalam bidang syair, pidato (khitabah), dan seni prosa, mulai menunjukkan kebangkitannya. Para raja mempersiapkan tempat balai-balai pertemuan penuh hiasan yang indah dan hanya dapat dimasuki oleh kalangan sastrawan dan ulama-ulama terkemuka.28

Samsul Nizar, Op. Cit., h. 63 Philip K. Hitti, History of The Arabs, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2010), h. 60 27 Harun Nasution , Teologi Islam: Aliran-aliran, Sejarah Analisa Perbandingan, (Jakarta: UI-Press, 1986), cet. ke-5, h. 1-11 28 Muhammad Athiyah al-Abrasyi, al-Tarbiyah al-Islamiyah, terj. Bustami A. Ghanidan Djohar Bahry, Dasar-dasar pokok pemikiran Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1993), cet. ke-7, h. 72-73
26

25

11

Pada zaman ini, juga dapat disaksikan adanya gerakan penerjemahan ilmu-ilmu dari bahasa lain ke dalam bahasa Arab, tetapi penerjemahan itu terbatas pada ilmu-ilmu yang mempunyai kepentingan praktis, seperti ilmu kimia, kedokteran, falak, ilmu tatalaksana, dan seni bangunan. Pada umumnya, gerakan penerjemahan ini terbatas kepada orang-orang tertentu dan atas usaha sendiri, bukan atas dorongan negara dan tidak dilembagakan. Menurut Franz Rosenthal, orang yang pertama kali melakukan penerjemahan ini adalah Khalid ibn Yazid, cucu dari Muawiyah.29 Selain beberapa materi di atas, pada masa ini juga tampaknya masih melanggengkan ilmu-ilmu yang diletakkan pada masa sebelumnya, seperti ilmu tafsir. Ilmu ini semakin menjadi niscaya dan memiliki makna yang strategis. Di samping karena faktor luasnya kawasan Islam ke beberapa daerah luar Arab yang membawa konsekwensi lemahnya rasa seni sastra Arab, juga karena banyak orang yang masuk Islam. Hal ini mengakibatkan pencemaran bahasa al-Quran dan pemaknaan al-Quran yang digunakan untuk kepentingan golongan tertentu. Pencemaran al-Quran juga disebabkan oleh karena faktor interpretasi yang didasarkan pada kisah-kisah Israiliyat dan Nasraniyat. Bersamaan dengan itu, kemajuan yang diraih dalam dunia pendidikan pada saat itu adalah dikembangkannya ilmu nahwu yang digunakan untuk memberikan tanda baca, pencatatan kaidah-kaidah bahasa, dan periwayatan bahasa. Sungguhpun terjadi perbedaan mengenai penyusun ilmu nahwu, tetapi disiplin ilmu ini menjadi ciri kemajuan tersendiri pada masa ini. Selain disiplin ilmu tafsir, hadits dan ilmu hadits pada masa ini juga mendapat perhatian secara serius. Periwayatan hadits sehingga dapat dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah maupun secara moral mendapat perhatian luas. Namun, keberhasilan yang diraihnya adalah semangat untuk mencari hadits, belum mencapai pada tahap kodifikasi. Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz yang memerintah hanya dua tahun, yakni tahun 99-101 H./717Franz Rosenthal, The Classical Heritage in Islam, (London: Routledge and Kegan Paul, 1975), h. 3
29

12

720 M., pernah mengirim surat pada Abu Bakr ibn Muhammad ibn Amir ibn Ham dan kepada ulama-ulama yang lain untuk menuliskan dan

mengumpulkan hadits-hadits. Akan tetapi, hingga dengan masa akhir kepemerintahannya, hal itu tidak terlaksana. Sungguhpun demikian, perintah Umar ibn al-Aziz telah melahirkan metode pendidikan alternatif, yakni para ulama mencari hadits ke berbagai tempat dan orang yang dianggap mengetahuinya yang kemudian dikenal dengan metode rihlah. Di bidang hukum fiqh, secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu aliran ahli al-rayi dan aliran ahl al-hadits. Kelompok aliran pertama mengembangkan hukum Islam dengan menggunakan analogi (baca: qiyas) bila terdapat masalah yang belum ditentukan hukumnya. Aliran kedua, ahl al-hadits, lebih berpegang pada dalil-dalil secara literal, bahkan aliran ini tidak akan memberikan fatwa jika tidak ada ayat al-Quran atau hadits yang menerangkannya. Pada masa ini dinamika disiplin fiqh menunjukkan perkembangan yang sangat berarti. Periode ini telah melahirkan sejumlah mujtahid-mujtahid fiqh. Ketika akhir masa Umayyah, telah lahir tokoh madzhab fiqh yakni Imam Abu Hanifah di Irak (lahir 80 H./699 M.) dan Imam Malik ibn Anas di Madinah (lahir 96 H./714 M.), sedangkan Imam al-Syafii dan Imam Ahmad ibn Hanbal lahir pada masa Abbasiyah.30 Di antara jasa dinasti Umayah dalam bidang pendidikan, menurut Hasan Langgulung, adalah menekankan ciri ilmiah pada masjid sehingga menjadi pusat perkembangan ilmu dalam tahap perguruan tinggi dalam masyarakat Islam. Dengan penekanan ini, di masjid diajarkan beberapa macam ilmu, di antaranya syair, sastra, kisah-kisah bangsa dulu, dan teologi dengan menggunakan metode debat. Dengan demikian, periode antara permulaan abad kedua hijriah sampai akhir abad ketiga hijriah merupakan zaman pendidikan masjid yang paling cemerlang.31

30 31

Munawwar Chalil, Empat Biografi Imam Madzhab, (Jakarta: Bulan Bintang, 1989), h. 56 Hasan Langgulung, Op.Cit., h. 9

13

D. Pendidikan Islam Masa Dinasti Abbasiyah [132-656 H./750-1258 M.] Charles Michael Stanton berkesimpulan bahwa sepanjang masa klasik Islam, penentuan sistem dan kurikulum pendidikan berada di tangan ulama, kelompok orang-orang yang berpengetahuan dan diterima sebagai otoritatif dalam soal-soal agama dan hukum,32 bukan ditentukan oleh struktur kekuasaan yang berkuasa. Agaknya, kesimpulan ini tidak dapat dipertahankan seutuhnya, terutama, ketika dihadapkan dengan kenyataan kasus lembaga pendidikan madrasah al-mustansiriyah. Sebagaimana hasil penelitian Hisam Nashabe, negara melakukan kontrol terhadap pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan oleh madrasah itu, bahkan juga melakukan investigasi metode pengajarannya. Dengan intervensi semacam ini dimungkinkan negara (state) menetapkan struktur kurikulum yang dijalankan oleh lembaga-lembaga pendidikan di kalangan masyarakat luas. Sekedar untuk menetralisasi perdebatan di atas, agaknya kesimpulan Stanton itu lebih ditujukan pada lembaga pendidikan yang tidak berbentuk madrasah, seperti kuttab. Sebab, sistem pendidikan yang dioperasikan oleh madrasah ternyata memiliki kepentingan-kepentingan tertentu, baik

kepentingan madzhab fiqh, teologi, atau kepentingan politis. Bahkan, dalam tradisi pendidikan klasik, madrasah itu dibangun atas dasar wakaf seseorang yang dalam kebiasaannya memang menargetkan tujuannya masing-masing.33 Institusi pendidikan masa Abbasiyah, secara umum, dapat

diklasifikasikan menjadi tiga tingkat. Pertama, tingkat rendah yang terdiri dari kuttab, rumah, toko, dan pasar, serta istana. Kedua, tingkat sekolah menengah yang mencakup masjid, dan sanggar seni, dan ilmu pengetahuan, sebagai lanjutan pelajaran di kuttab. Ketiga, tingkat perguruan tinggi yang meliputi masjid, madrasah, dan perpustakaan, seperti Bait al-Hikmah di Baghdad dan Dar al-ulum di Kairo. Pada tingkat pertama, yakni tingkat pendidikan rendah, kurikulum yang diajarkannya meliputi membaca al-quran dan menghafalnya, pokok-pokok
Charles Michael Stanton, Op.Cit., h. 41-45 Affandi dan Hasan Asari, Pendidikan Tinggi dalam Islam: Sejarah dan Peranannya dalam Kemajuan dan Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Logos, 1994), cet. ke-1, hal. 52
33 32

14

agama Islam, seperti wudlu, shalat, dan puasa, menulis, kisah orang-orang yang besar, membaca dan menghafal syair-syair, berhitung, dan pokok-pokok nahwu dan shorof alakadarnya. Sungguhpun demikian, kurikulum seperti ini tidak dapat dijumpai di seluruh penjuru, tetapi masing-masing daerah terkadang berbeda. seperti pendapat Ibn Khaldun yang dikutip oleh Hasan Abd al-Al, di Maroko (Maghribi) hanya diajarkan al-Quran dan rasm (tulisan) nya. Di Andalusia, diajarkan al-Quran dan menulis serta syair, pokok-pokok nahw dan sharf serta tulisan indah (khath). Di Tunisia (Afriqiah) diajarkan al-Quran, hadits dan pokok-pokok ilmu agama, tetapi lebih mementingkan hafalan al-Quran. Waktu belajar di kuttab dilakukan pada pagi hari hingga waktu shalat Ashar mulai hari Sabtu sampai dengan hari Kamis. Sedangkan hari Jumat merupakan hari libur. Selain hari Jumat, hari libur juga pada setiap tanggal 1 Syawal dan tiga hari pada hari raya Idhul Adha. Jam pelajaran biasanya dibagi tiga. Pertama, pelajaran al-Quran dimulai dari pagi hari hingga waktu Dhuha. Kedua, pelajaran menulis dimulai pada waktu Dhuha hingga waktu Zhuhur. Setelah itu anak-anak diperbolehkan pulang untuk makan siang. Ketiga, pelajaran ilmu lain, seperti nahwu, bahasa Arab, syair, berhitung, dan lainnya, dimulai setelah Zhuhur hingga akhir siang (Ashar).34 Pada tingkat rendah ini, tidak menggunakan sistem klasikal, tanpa bangku, meja, dan papan tulis. Guru mengajar murid-muridnya dengan berganti-ganti satu persatu. Begitu juga tidak ada standar buku yang dipakai. Pada jenjang pendidikan dasar, metode yang dipakai adalah metode pengulangan dan hafalan. Artinya, guru mengulang-gulang bacaan al-Quran didepan murid dan murid mengikutinya yang kemudian diharuskan hafal bacaan-bacaan itu. Bahkan, hafalan ini tidak terbatas pada materi-materi alQuran atau hadits, tetapi juga pada ilmu-ilmu lain. Tak terkecuali untuk pelajaran syair, guru mengungkapkan syair dengan lagu (wazn) yang paling mudah sehingga murid mampu menghafalkannya dengan cepat.

34

Mahmud Yunus, Op.Cit, h. 50-51

15

Pada jenjang pendidikan menengah disediakan pelajaran-pelajaran sebagai berikut. al-Quran, bahasa Arab dan kesusasteraan, fiqh, tafsir, hadits, nahwu/sharf/balaghah, ilmu-ilmu eksakta, mantiq, falak, tarikh, ilmu-ilmu kealaman, kedokteran, musik.35 Seperti halnya pendidikan rendah, kurikulum jenjang pendidikan menengah dibeberapa daerah juga berbeda. Jenjang pendidikan tingkat tinggi tampaknya memiliki perbedaan di masing-masing lembaga pendidikan. Namun, secara umum lembaga pendidikan tingkat tinggi mempunyai dua fakultas. Pertama, fakultas ilmuilmu agama serta bahasa dan sastra Arab. Fakultas ini mengkaji ilmu-ilmu berikut: Tafsir al-Quran, Hadits, Fiqh dan Ushul al-Fiqh, Nahw/Sharf, Balaghah, bahasa dan satra Arab. Kedua, fakultas ilmu-ilmu hikmah (filsafat). Fakultas ini mempelajari ilmu-ilmu berikut: manthiq, ilmu-ilmu alam dan kimia, musik, ilmu-ilmu eksakta, ilmu ukur, falak, ilmu-ilmu teologi, ilmu hewan, ilmu-ilmu nabati, dan ilmu kedokteran.36 Semua mata pelajaran ini diajarkan di perguruan tinggi dan belum diadakan spesialisasi mata pelajaran tertentu. Spesialisasi itu ditentukan setelah tamat dari perguruan tinggi, berdasarkan bakat dan kecenderungan masing-masing sesudah praktek mengajar beberapa tahun. Hal ini dibuktikan oleh Ibn Sina, sebagaimana diterangkan dalam karya Thabaqat athibba, bahwa setelah Ibn Sina menamatkan pendidikan tingkat menengah dalam usia 17 tahun, ia belajar lagi selama 1,5 tahun. Ia mengulang membaca mantiq dan filsafat kemudian ilmu-ilmu eksakta dan ilmu-ilmu kealaman. Kemudian ia mengkaji ilmu ketuhanan dengan membaca kitab Ma Wara al-Thabiah (metafisika) karya Aristoteles, juga karya-karya al-Farabi. Ibn Sina mendapat kesempatan membaca literatur-literatur di perpustakaan al- Amir, seperti buku-buku kedokteran, bahasa Arab, syair, fiqh, dan sebagainya. Literaturliteratur itu dibacanya sehingga ia mendapat hasil yang memuaskan. Ia selesai

35 36

Ibid, h. 55-56 Mahmud Yunus, Op. Cit., h. 57-58

16

studi disana dalam usia 18 tahun. Hal ini seperti berlaku juga kepada orang lain.37 Metode yang dipakai dalam lembaga pendidikan tingkat tinggi adalah halaqah. Guru duduk diatas tikar yang dikelilingi oleh para mahasiswanya. Guru memberikan materi kepada semua mahasiswa yang hadir. Jumlah mahasiswa yang mengikuti tergantung kepada guru yang mengajar. Jika guru itu ulama besar dan mempunyai kredibilitas intelektual maka para mahasiswanya banyak. Akan tetapi, jika sebaliknya niscaya sepi dari para mahasiswa, bahkan mungkin jadi halaqah-nya ditutup. Menurut Charles Michael Stanton, sebelum guru menyampaikan materi, ia terlebih dahulu menyususn taliqah. Taliqah ini memuat silabus dan uraiannya yang disusun oleh masing-masing tenaga pengajar berdasarkan catatan perkuliahannya ketika menjadi mahasiswa, hasil bacaan, dan pendapatnya tentang materi yang bersangkutan. Taliqah mengandung rincian-rincian materi pelajaran dan dapat disampaikan untuk jangka waktu empat tahun. Mahasiswa menyalin taliqah itu dalam proses dikte, bahkan kebanyakan mereka betul-betul menyalin. Akan tetapi, sebagian yang lain, menambahkan pada salinan taliqah ini dengan pendapatnya sendiri-sendiri sehingga taliqah nya merupakan refleksi pribadi tentang materi kuliah yang disampaikan gurunya.38 Mahasiswa yang telah menamatkan pendidikannya diberikan ijazah. Mahasiswa itu telah lulus ujian dan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ketika munaqasyah. Ijazah terkadang dalam bentuk lisan dan dalam bentuk tulisan. Ijazah ini tidak diberikan oleh sekolah, tetapi oleh guru yang mengajarinya. Dengan diberikannya ijazah berarti yang bersangkutan diperbolehkan meriwayatkan atau menyampaikan pelajaran kepada

mahasiswa yang lain.

37 38

Ibid, h. 58-59 Charles Michael Stanton, Op.Cit.,h. 54

17

BAB III PENUTUP

Uraian diatas sesungguhnya telah memperlihatkan bahwa pendidikan Islam pada masa klasik memiliki karakteristik masing-masing. Karakteristik itu agaknya dipengaruhi oleh tujuan pendidikan pada masanya. Pada masa Nabi hingga Bani Umayyah, misalnya, terlihat adanya tujuan pendidikan untuk kepentingan keagamaan, sehingga materi pendidikannya pun adalah berkisar pada masalahmasalah keagamaan an sich. Sedangkan pada masa Abbasiyah yang wilayah kekuasaan Islam semakin jauh dan problematika serta perkembangan

peradabannya yang cukup tinggi, tujuan pendidikannya tidak hanya sekedar untuk kepentingan keagamaan semata, tetapi juga tampaknya memiliki kepentingan lain, seperti kepentingan ekonomi dan kepentingan kelompoknya. Pergeseran dibidang metode disebabkan oleh karena bermacam-macamnya disiplin ilmu pengetahuan yang menuntut metodologi pengajaran yang lebih efektif. Tentu saja, materi-materi keagamaan akan menggunakan metode yang berbeda dengan materi-materi eksakta. Pada masa awal, karena materi yang dikenal relatif sedikit maka metodenya pun lebih terbatas jika dibandingkan dengan pendidikan pada masa Abbasiyah. Secara umum, sistem pengelolaan pendidikan pada masa klasik tampaknya lebih ditentukan oleh kekuatan ulama [orang yang memiliki komitmen intelektual] daripada kekuatan negara [orang yang memiliki kekuasaan]. Baik pada masa Nabi maupun hingga pada masa Abbasiyah, para tokoh agama memiliki otoritas untuk menentukan sistem pendidikannya. Hal ini berlainan ketika sistem pendidikan yang digunakan adalah sistem madrasah. Pada madrasah, biasanya yang mempunyai otoritas kekuasaan dalam pengelolaan pendidikan adalah penguasa atau orang yang memberikan harta wakafnya. Wa Allah Alam bi al-Shawab.

18

KURIKULUM, SISTEM DAN METODE PENDIDIKAN ISLAM KLASIK

MAKALAH Disajikan Dalam Diskusi Mata Kuliah Sejarah Sosial Pemikiran dan Kelembagaan Pendidikan Islam Dosen: Dr. Zainal Abidin, M.Ag

Oleh: Nur Azizah Ulfiyana NPM: 1101351

PROGRAM PASCASARJANA SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI JURAI SIWO METRO 2011

19

DAFTAR PUSTAKA Abd. Mukti, Konstruksi Pendidikan Islam; Belajar dari Kejayaan Madrasah Nizhamiyah Dinasti Saljuq, (Bandung: Citapustaka Media, 2007) Affandi dan Hasan Asari, Pendidikan Tinggi dalam Islam: Sejarah dan Peranannya dalam Kemajuan dan Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Logos, 1994), cet. ke-1 Ahmad Syalabi, Sedjarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), cet. ke-1 Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1997), cet. ke-1 Burhan Nurgiantoro, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah: Sebuah Pengantar Teoritis dan Pelaksanaan, (Yogyakarta: BPFE, 1988), cet. Ke1 Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid I, (Jakarta: UI-Press, 1985, cet. Ke-5 Hasan Langgulung, Pendidikan Islam Menghadapi Abad ke-21, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1998), cet. Ke-1 Johannes Pederson, The Arabic Book, terj., Alwiyah Abdurrahman, Fajar Intelektulisme Islam: Buku dan Sejarah Penyebaran Informasi di Dunia Arab, (Bandung Mizan, 1996), cet. ke-1 Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1992), cet. ke-2 Muhammad Athiyah al-Abrasyi, al-Tarbiyah al-Islamiyah, terj. Bustami A. Ghanidan Djohar Bahry, Dasar-dasar pokok pemikiran Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1993), cet. ke-7 Munawwar Chalil, Empat Biografi Imam Madzhab, (Jakarta: Bulan Bintang, 1989) Philip K. Hitti, History of The Arabs, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2010) Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, (Jakarta: LP3ES, 1994), cet. ke-4

20

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah swt, karena atas berkat petunjuk-Nyalah makalah tentang Kurikulum, Sistem, dan Metode Pendidikan Islam Klasik ini dapat terselesaikan. Tak ada gading yang tak retak, demikian pula saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karenanya kritik dan saran konstruktif dari berbagai pihak sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalh ini bermanfaat, bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Penulis

Nur Azizah Ulfiyana

21

DAFTAR ISI

Halaman Judul ................................................................................................. i Kata Pengantar ................................................................................................ ii Daftar Isi .......................................................................................................... iii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1 BAB II PEMBAHASAN ................................................................................ 5 A. Pendidikan Islam Masa Rasulullah ..................................................... 5 B. Pendidikan Islam Masa Khulafa al-Rasyidin ...................................... 8 C. Pendidikan Islam Masa Dinasti Umayyah .......................................... 9 D. Pendidikan Islam Masa Dinasti Abbasiyah ......................................... 13 BAB III PENUTUP ........................................................................................ 17