Anda di halaman 1dari 25

Pengantar

. . . . *** Segala puji bagi Allah, kami memujinya, meminta kepada-Nya dan memohon ampunan-Nya dan kami berlindung kepada-Nya dari keburukan diri kami dan kejelekan amalan kami. Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan Allah maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Dan aku bersaksi bahwasannya tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya Shalawat, salam semoga engkau curahkan atas nabi Muhammad shollallahu alaihi wa sallam, keluarganya, sahabatnya dan siapa saja yang mengikuti jejaknya hingga datangnya hari kiamat, dan berserah diri dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad shollallahu alaihi wa sallam dengan petunjuk dan agama yang haq, agar menang terhadap seluruh agama yang ada dan Allah menurunkan padanya al-kitab dan al-hikmah. Adapun kitab adalah Al Quran dan hikmah adalah Sunnah agar beliau menjelaskan kepada manusia segala yang diturunkan pada mereka dan agar mereka merenung sehingga mereka mendapat petunjuk dan termasukorang-orang yang beruntung. Kitab dan Sunnah Kedua-duanya adalah landasan untuk tegaknya hujjah atas hamba-Nya sehingga manusia tidak lagi punya alasan dihadapan Allah Taala. Dan dengan keduanya terbentuklah hukumhukum yang berkaitan dengan itiqodiyah (keyakinan) dan amaliyah (perbuatan) yang wajib atau terlarang. Adapun menjadikan Al Quran sebagai sandaran hanya membutuhkan satu pertimbangan, yaitu pertimbangan kandungan nash terhadap hukum dan tidak membutuhkan pertimbangan sandarannya (yaitu apakah itu firman Allah atau bukan, shohih atau bukan). Karena keotentikan Al Quran adalah sebuah keniscayaan dengan penukilan yang mutawatir baik lafadz ataupun makna. Artinya: Kamilah yang menurunkan Ad Dzikr dan Kami pula yang menjaganya. (Qs. AlHijr [15]: 9) Sedangkan berdalil dengan As Sunnah membutuhkan dua pertimbangan : Yang pertama: Meneliti kepastian bahwa hadits tersebut dari Nabi shollallahu alaihi wa sallam. Ingat! bahwa tidak semua yang dinisbahkan pada Nabi adalah riwayat yang shohih. Yang kedua: Meneliti penunjukan nash pada hukum. Untuk pertimbangan yang pertama, kita membutuhkan kaidah untuk membedakan hadits yang diterima atau ditolak berkaitan dengan riwayat-riwayat yang dinisbahkan pada Nabi shollallahu alaihi wa sallam. Hal ini telah dilaksanakan oleh para ulama rohimahullah dan mereka namai kaidah-kaidah tersebut dengan usthol h dits .

Pengertian Musthalah Hadits dan Pembagian Khabar Berdasarkan Jalan Periwayatan


Mustholah hadits () 1. Pengertian 2. Faedah 1. Mustholah hadits adalah ilmu yang menjadi alat untuk mengetahui kondisi seorang periwayat dan hadits yang diriwayatkan dari sisi diterima atau ditolak. 2. Faedahnya adalah untuk mengetahui riwayat-riwayat yang diterima atau ditolak dari seorang periwayat dan hadits yang diriwayatkan. Al Hadits, Al Khobar, Al Atsar, Al Hadits Qudsi Al Hadits (:*) Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi shollallahu alaihi wa sallam baik perbuatan, perkataan, persetujuan atau sifat** . * Ini adalah pengertian hadtis secara istilah. Adapun pengertian secara bahasa bermakna yang baru. ** Ada 2 sifat : sifat jasmani dan sifat akhlak Al Khobar (:) Semakna dengan hadits, maka definisinya sama dengan definisi al hadits. Ada yang berpendapat bahwa khobar adalah segala yang disandarkan kepada Nabi shollallahu alaihi wa sallam atau kepada selainnya, berdasarkan definisi ini maka khobar itu lebih umum dan lebih luas dari pada hadits. Al Atsar (:) Segala yang disandarkan kepada para sahabat atau tabiin, tapi terkadang juga digunakan untuk hadits yang disandarkan kepada Nabi shollallahu alaihi wa sallam, apabila berkait misal dikatakan atsar dari Nabi shollallahu alaihi wa sallam. Hadits Qudsi (:) Hadits yang diriwayatkan Nabi shollallahu alaihi wa sallam dari Allah Taala, juga dinamai juga hadits Rabbani dan hadits Ilahi. Misalnya perkataan Nabi shollallahu alaihi wa sallam yang meriwayatkan dari Rabb Taala, Dia berkata, Aku mengikuti persangkaan hamba-Ku, dan aku bersamanya ketika mengingat-Ku, jika dia meningat-Ku dalam dirinya: maka aku mengingatnya dalam diri-Ku, Jika dia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dari sekumpulan orang tersebut. * * Di sini ada sifat an Nafs untuk Allah Taala. Seperti dalam ayat 116 surat Al Maaidah, Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau.. Hadits Qudsi ini juga menjadi dalil bahwa malaikat lebih baik dari manusia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memperinci, yaitu: jika melihat keadaan sekarang maka malaikat lebih mulia sedang jika melihat di akherat, maka manusia lebih mulia. Dan hadits ini bukan menjadi dalil untuk dzikir berjamaah. Jika dia mengingatku dalam sekumpulan

orang maksudnya orang-orang sekitarnya kemungkinan adalah orang yang lalai atau dia berada di majelis ilmu dan mengingat Allah. Urutan Hadits Qudsi itu terletak antara Al Quran dan Hadits Nabi.

Al Quran Al Karim: Dinisbatkan kepada Allah Taala baik lafadz maupun maknanya. Hadits Nabi: Dinisbatkan kepada Nabi shollallahu alaihi wa sallam : lafadz dan maknanya. Hadits Qudsi: Dinisbatkan kepada Allah Taala maknanya tanpa lafadznya.

Maka, membaca hadits Qudsi tidak dinilai sebagi ibadah, tidak boleh dibaca dalam sholat, tidak terwujud dengannya tantangan* dan tidak dinukil secara mutawattir seperti Al Quran bahkan di dalamnya ada yang shohih, dhoif dan maudhu. * Mujizat adalah sesuatu yang diberikan Allah kepada Nabi dan Rasul untuk menerima tantangan. Jika itu benar mujizat, maka tidak akan ada yang berhasil menantangnya. Dan hal ini tidak berlaku untuk hadits qudsi. Pembagian Khobar Berdasarkan Jalan Periwayatannya Khobar terbagi menjadi dua berdasarkan jumlah jalan penukilannya sampai kita, yaitu mutawatir dan ahad. Muttawatir 1. Pengertian 2. Macam-macamnya dan contohnya 3. Faedahnya 1. Mutawattir (:) Hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang, yang secara adat mereka mustahil bersepakat untuk berdusta dan mereka sandarkan pada sesuatu yang bisa diindra. 2. Mutawattir terbagi menjadi dua: Muttawattir lafadz dan maknanya dan muttawattir maknanya saja. Muttawattir lafadz dan maknanya ( ) adalah hadits yang disepakati oleh para rowi lafadz dan maknanya. Misalnya sabda Nabi shollallahu alaihi wa sallam, Barangsiapa yang berdusta atasku maka bersiap-siaplah bertempat dineraka. Hadits ini diriwayatkan lebih dari 60 orang sahabat diantaranya 10 orang yang dijamin masuk surga dan dari mereka terdapat banyak orang yang meriwayatkan hadits tersebut. Muttawattir makna ( ) adalah hadits yang disepakati maknanya walaupun lafadznya beda-beda. Semuanya bermuara pada satu poin yang sama. Misalnya hadits tentang syafaat dan hadits tentang mengusap kedua khuf. Terdapat syair yang berbunyi:

Diantara hadits mutawatir adalah barangsiapa berdusta dan barangsiapa membangun masjid dengan ikhlas Juga hadits tentang syafaat melihat Allah diakherat, telaga dan mengusap sepatu. c. Faedah dari dua jenis muttawattir ini: 1. Ilmu, yaitu memastikan benarnya penisbatan hadits ini kepada yang dinukil darinya. 2. Berkewajiban mengamalkan kandungan hadits dengan mempercayainya jika berupa khobar dan menerapkannya jika berupa tuntutan.

Hadits Ahad
Hadits Ahad a. Pengertian b. Macam-macamnya berdasarkan jalan periwayatan beserta contoh-contohnya. c. Macam-macamnya berdasarkan derajatnya beserta contoh-contohnya. d. Faedah-faedahnya. a. Ahad (.) Ahad adalah hadits selain yang muttawattir. b. Macam-macam hadits ahad berdasarkan jalan periwayatan itu ada 3 macam, yaitu masyhur, aziz, dan ghorib. 1. Masyhur ( )adalah hadits yang diriwayatkan oleh tiga rowi disetiap tingkatan, tapi belum sampai pada derajat muttawattir.Contohnya perkataan Nabi shollallahu alaihi wa sallam, Muslim sejati adalah muslim yang saudaranya terbebas dari gangguan lisan dan tangannya. 2. Aziz ( )adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua rowi saja dimasing-masing tingkatan. Contohnya perkataaan Nabi shollallahu alaihi wa sallam, Tidak sempurna iman kalian hingga Aku lebih dia cintai dari orang tua, anaknya bahkan manusia seluruhnya. 3. Ghorib ( )adalah hadits yang diriwayatkan oleh satu orang saja. Contohnya perkataan Nabi shollallahu alaihi wa sallam, Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu hanyalah dinilai bila disertai dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang hanya memperoleh sesuai apa yang diniatkannya(hingga akhir hadits) (HR. Bukhori dan Muslim) Hadits ini dari Nabi shollallahu alaihi wa sallam hanya diriwayatkan oleh Umar bin Khotob rodhiallahu anhu dan yang meriwayatkan dari Umar hanya Alqomah ibn Abi Waqosh dan yang meriwayatkan dari Alqomah hanya Muhammad ibn ibrohim

Attaimi, dan yang meriwayatkan dari Muhammad hanya Yahya ibn Said al Anshori. Kesemuanya adalah tabiin, kemudian diriwayatkan dari Yahya oleh banyak orang. c. Macam-macam hadits ahad berdasar derajatnya, yaitu shohih lidzatihi, shohih lighoirihi, hasan lidzatihi, hasan lighoirihi dan dhoif. 1. Shohih lidzatihi (shohih dengan sendirinya) ( .) Shohih lidzatihi adalah hadits yang rowinya: o Adil (,) o Hafalannya kuat (,) o Sanadnya bersambung (,) o Terbebas dari kejanggalan dan kecacatan (.) Contohnya sabda Nabi shollallahu alaihi wa sallam, Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan maka akan difahamkan ilmu agama. (HR. Bukhori dan Muslim) Cara mengetahui keshohihan suatu hadits itu dengan 3 perkara:
o

Jika diketahui penulis buku hadits tersebut hanya mencantumkan hadits-hadits yang shohih saja dengan syarat penulis tersebut bisa dipercaya dalam melakukan penshohihan seperti Shohih Bukhori dan Muslim. Hadits tersebut dinilai shohih oleh imam yang penilaiannya dalam penshohihan itu bisa dipercaya, dan dia bukan termasuk orang yang terkenal mudah dalam memberikan nilai shohih. Meneliti sendiri rowinya dan bagaimana cara periwayatan rowi tersebut terhadap hadits.

Jika semua kriteria shohih lengkap, maka hadits tersebut dinilai sebagai hadits yang shohih. 2. Shohih lighoirihi (shohih dengan bantuan) ( .) Shohih lighoirihi adalah hadits hasan dengan sendirinya (hasan lidzatihi) apabila memiliki beberapa jalur periwayatan yang berbeda-beda. Misalnya, Dari Abdillah Ibn Amr bin Ash rodhiallahu anhu, Nabi shollallahu alaihi wa sallam memerintahkannya untuk menyiapkan pasukan dan ternyata kekurangan unta. Maka Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda, Belikan untuk kita unta perang dengan unta-unta yang masih muda. Maka ia mengambil 2-3 unta muda dan mendapat 1 unta perang. Hadits Ini diriwayatkan Ahmad dari jalan Muhammad bin Ishaq dan diriwayatkan Baihaqi dari jalan Amr bin Syuaib. Setiap jalan ini jika dilihat secara bersendirian tidak bisa sampai derajat shohih, hanya sampai hasan. Tapi jika dilihat secara total, maka jadilah hadits shohih lighoiri. Hadits ini dinamakan shohih lighoiri, walaupun nilai masing-masing jalan secara bersendirian tidak sampai derajat shohih, namun karena bila dinilai secara total bisa saling menguatkan hingga mencapai derajat shohih.

3. Hasan lidzatihi ( hasan dengan sendirinya) ( .) Hasan lidzatihi adalah hadits yang diriwayatkan oleh rowi yang adil tapi hafalannya kurang sempurna dengan sanad bersambung dan selamat dari keganjilan dan kecacatan. Jadi, tidak ada perbedaan antara hadits ini dengan hadits shohih lidzatihi kecuali dalam satu persyaratan, yaitu hadits hasan lidzatihi itu kalah dalam sisi hafalan. Misalnya perkataan Nabi shollallahu alaihi wa sallam,

Sholat itu dibuka dengan bersuci, diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam.< Hadits-hadits yang dimungkinkan hadits hasan adalah hadits yang diriwayatkan Abu Daud secara sendirian, demikian keterangan dari Ibnu Sholah. 4. Hasan lighoirihi (hasan dengan bantuan) ( .) Hasan lighoirihi adalah hadits yang dhoifnya ringan dan memiliki beberapa jalan yang bisa saling menguatkan satu dengan yang lainnya karena menimbang didalamnya tidak ada pendusta atau rowi yang pernah tertuduh membuat hadits palsu. Misalnya,Hadits dari Umar ibn Khatthab rodhiallahuanhu berkata bahwasannya Nabi shollallahu alaihi wa sallam jika mengangkat kedua tangannya dalam doa maka beliau tidak menurunkannya hingga mengusapkan kedua tangan ke wajahnya. (HR. Tirmidzi) Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom berkata, Hadits ini memiliki banyak hadits penguat dari riwayat Abu Daud dan yang selainnya. Gabungan hadits-hadits tersebut menuntut agar hadits tersebut dinilai sebagai hadits hasan. Dan dinamakan hasan lighoirihi karena jika hanya melihat masing-masing sanadnya secara bersendirian maka hadits tersebut tidak mencapai derajat hasan. Namun, bila dilihat keseluruhan jalur periwayatan maka hadits tersebut menjadi kuat hingga mencapai derajat hasan. 5. Hadits dhoif () Hadits dhoif adalah hadits yang tidak memenuhi persyaratan shohih dan hasan. Misalnya,Jagalah diri-diri kalian dari gangguan orang lain dengan buruk sangka. Dan yang kemungkinan besar merupakan hadits dhoif adalah hadits yang diriwayatkan secara bersendirian oleh Uqaili, Ibn Adi, Khatib Al Baghdadi, Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya, Adailami dalam Musnad Firdaus, atau Tirmidzi Al Hakim dalam Nawadirul Ushul dan beliau bukanlah Tirmidzi penulis kitab Sunan atau Hakim dan Ibnu Jarud dalam Tarikh keduanya. d. Hadits-hadits ahad (selain hadits dhoif) memberi dua faedah: 1. Dzon, yaitu sangkaan kuat tentang sahnya penyandaran penukilan hadits dari seseorang. Dan hal ini bertingkat-tingkat sesuai tingkatnya masing-masing yang telah disebutkan. Terkadang hadits ahad memberi faedah ilmu jika ditemukan banyak indikator dan dikuatkan oleh ushul (kaedah pokok dalam syariat)*.

* Misalnya dengan indikator (qorinah), hadits tersebut diterima oleh seluruh umat. Tidak ada yang menolaknya misal hadits innamal amalu biniyat. Ini termasuk hadits ghorib, akan tetapi karena seluruh ulama menerimanya, maka ini adalah qorinah yang menunjukkan bahwa hadits ini adalah benar-benar dari Nabi shollallahu alaihi wa sallam. Atau hadits tersebut didukung oleh ushul, yaitu didukung oleh kaedah pokok dalam syariat. Ada banyak ayat yang menunjukkan. kebenaran maksud dari hadits tersebut. Maka ini merupakan indikasi kuat bahwa Nabi shollallahu alaihi wa sallam mengucapkannya. Atau itu adalah hadits yang muttafaqun alaih. Meskipun itu adalah hadits ahad atau ghorib. Namun itu menjadi qorinah yang kuat. Ini pendapat yang dirojihkan Syaikh Ibnu Utsaimin dalam masalah ini yaitu hadits ahad itu memberi faidah dzon kecuali ada qorinah. Jadi, hadits ahad itu memberi faidah ilmu (yakin) jika ada indikator-indikator pendukungnya. Dalam masalah ini ada 3 pendapat ulama, yaitu :Jika itu adalah hadits yang shohih meskipun ahad maka memberi faidah ilmu. Memberi makna yakin bahwa Nabi shollallahu alaihi wa sallam mengucapkannya. Ini adalah madzhabnya Imam Ibn Hazm.Memberi faidah dzon. Memberi makna keyakinan (ilmu) bahwa Nabi shollallahu alaihi wa sallam mengucapkannya jika ada indikator penguat (maka jika tidak ada penguat maka memberi faedah dzon). Dan ini adalah pendapat yang dipilih Syaikh Islam Ibnu Taimiyah 2. Mengamalkan kandungannya. Dengan mempercayainya jika berupa berita dan mempraktekkannya jika berupa tuntutan*. * Baik tuntutan untuk mengerjakannya atau tuntutan untuk meninggalkannya. Jadi hadits ahad memberi faedah amal. Jika hadits itu berupa masalah aqidah berupa masalah khobar maka tetap wajib menjadikannya sebagai aqidah dan mempercayainya. Jadi ucapan ulama bahwa hadits ahad yang shahih itu memberi makna sangkaan kuat, itu sama sekali tidak ada hubungannya bahwa dalam masalah aqidah tidak diamalkan. Meskipun ada tiga pendapat untuk masalah ini, meskipun ulama yang memilih dzon secara mutlak sekalipun, namun mereka tetap beramal dengan hadits ahad dalam masalah aqidah dalam masalah khobar dengan mempercayai dan mengimaninya sebagai bagian dari aqidah. Inilah curangnya Hizbut Tahrir. Ketika mereka mengatakannya bahwasannya mereka tidak mau menerima hadits ahad dalam masalah aqidah. Lalu mereka mengatakan yang mendukung kami adalah ulama ini, disebutkan satu dua tiga dst disebutkan. Padahal apa yang disebutkan oleh ulama tersebut bahwa hadits ahad memberi makna (dzon) sangkaan. Dan sangkaan yang dimaksudkan adalah sangkaan yang kuat bukan sekedar sangkaan. Sama sekali mereka tidak bermaksud dikarenakan itu memberi makna dzon kemudian tidak dipakai dalam masalah aqidah. Namun Hizbut Tahrir curang. Mereka katakan yang mendukung kami adalah ulama ini dan itu. Padahal ulama tersebut membicarakan dari segi itu memberi makna dzon atau tidak dan beliau merojihkan memberi makna dzon. Lalu apakah beliau mengatakan itu tidak diterima sebagai dalil dalam masalah aqidah? Tidak. Beliau tetap menerimanya sebagai dalil dalam masalah aqidah. Hanya saja ulama tersebut memilih memberi makna dzon. Karena mengamalkan hadits ahad dalam masalah aqidah adalah ijma ulama salaf. Sebagaimana dinukil oleh banyak ulama. Meskipun itu adalah hadits ahad, maka itu adalah memberi faidah amal dengan dijadikannya sebagai aqidah jika berisi masalah-masalah aqidah.

Adapun hadits yang dhoif, tidak memberi faedah dzon dan amal. Dan tidak boleh menganggapnya sebagai dalil. Tidak boleh pula menyebutkan hadits dhoif tanpa diiringi dengan penjelasan tentang dhoifnya. Kecuali untuk masalah motivasi dan menakuti-nakuti (targhib wa tarhib). Maka diperbolehkan menyebutkan hadits dhoif dengan beberapa persyaratan menurut sebagian ulama. Sejumlah ulama memberi kemudahan untuk menyebutkan hadits dhoif dengan tiga syarat* . *** Tiga syarat ini berasal dari Ibnu Hajar Al Asqolani. Kalau dalam masalah hukum, Imam Nawawi mengatakan bahwa ulama ijma tidak boleh berdalil dengan hadits dhoif dalam masalah hukum. Dan ada perselisihan dalam masalah fadhoil amal/masalah targhib dan tarhib. Ada ulama yang menolak hadits yang dhoif untuk targhib dan tarhib sebagai dalil secara mutlak. Ini adalah pendapat Imam Ibnu Hazm dan Imam Muslim. Inilah pendapat yang dirojihkan Syaikh Al Imam Al bani di Muqodimmah Shohih Jami Shogir. Namun ada ulama yang membolehkan dengan persyaratan. Semacam Ibnu Hajar Al Asqolani. membolehkan dengan tiga persyaratan ini. 1. Dhoifnya bukan dhoif yang sangat*. * Dhoifnya tidak sangat, mungkin karena mursal atau ada rowi yang majhul. 2. Hendaknya pokok amal yang disebutkan di dalamnya motivasi dan menakuti-nakuti ada berdasarkan hadits yang shohih*. * Misalnya, sholat dhuha adalah sholat yang disyariatkan berdasar hadits yang shohih. Kemudian ada hadits dhoif yang dhoifnya ringan berkenaan keutamaan sholat dhuha. Artinya sholat dhuhanya sudah masru (disyariatkan) berdasar hadits yang shohih. Tsabit berdasar hadits yang shohih. Misalnya juga tentang sholat malam. Tentang sholat malam haditsnya shohih kemudian ada hadits yang dhoifnya ringan menceritakan tentang keutamaan orang yang melaksanakan sholat malam. Namun amalnya sudah masru berdasar hadits yang shohih. Jika amalnya belum jelas dalilnya, maka tidak boleh. Karena syaratnya ashlul amal (landasan beramal) terdapat dalil yang shohih. Misalnya ada satu hadis menyatakan keutamaan suatu amal dan tidak ada hadits shohih yang menyatakan disyariatkannya amalan ini maka tidak boleh menyebutkan hadits dhoif ini. Karena asal muasal amal yaitu ibadah yang hendak dimotivasi itu tidak disyariatkan sebab dasarnya adalah hadits yang shohih.

3. Tidak diyakini bahwa Nabi shollallahu alaihi wa sallam mengucapkannya*. * Syekh Albani rohimahullah mengatakan, Jika tiga persyaratan ini diperhatikan oleh orang yang membolehkan hadits dhoif dalam fadhoilul amal maka selesai masalah. Karena ketika menyampaikan dia tahu, misalnya ini adalah hadits mursal. Maka dia bisa memenuhi persyaratan ketiga karena tahu.Namun jika orangnya tidak mengetahui, ini lemahnya seberapa atau bahkan palsu bagaimana melakukan poin yang ketiga. Yang menjadi masalah ketika berdalil dengan hadits dhoif tentang suatu amal kemudian diingatkan mereka menyatakan, Ini kan fadhoil amal/targhib dan tarhib. Kan boleh menurut sebagian ulama.

Namun ketika ditanya, bagaimana dengan persyaratannyat. Pertama dhoifnya tidak sangat dan syarat ketiga tidak boleh yakin bahwa Nabi shollallahu alaihi wa sallam mengucapkannya, mereka bahkan tidak tahu Oleh karena itu jika tiga syarat ini diperhatikan, maka selesai masalah. Namun tiga persyaratan tersebut tidak bisa dipenuhi kecuali oleh pakar hadits. Sehingga dia tidak meyakini bahwa itu adalah bukan hadits dari Nabi shollallahu alaihi wa sallam. Berdasarkan keterangan di atas, maka faedah menyebutkan hadits dhoif ketika memotivasi suatu amal (targhib) adalah mendorong jiwa untuk melakukan amal yang dimotivasi untuk mengharapkan pahala itu. Kemudian jika mendapatkan pahala maka alhamdulillah dan jika tidak maka tidak menjadi masalah baginya kesungguhannya dalam beribadah. Karena ibadahnya disyariatkan dan ada pahala di dalamnya. Karena orang tersebut masih mendapatkan pahala yang pokok, yaitu pahala asal amal yang berdasar hadits yang shohih yang merupakan konsekuensi melakukan suatu perkara yang diperintahkan. Sedangkan suatu perkara yang diperintahkan pasti ada pahalanya. Maka dia tidak kehilangan pahala yang asli. Dan faidah menyebut hadits dhoif dalam tarhib adalah menakuti-nakuti jiwa untuk melakukan perkara yang ditakut-takutkan. Karena khawatir terjerumus dalam hukuman tersebut. Dan tidak masalah baginya jika dia menjauhinya dan tidak terjadi hukuman yang disebutkan.

Penjelasan Untuk Shohih Lidzatihi


Telah lewat (pada penjelasan yang lalu) bahwasannya definisi hadits shohih lidzatihi adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang rowi yang adil*, hafalannya sempurna, sanadnya bersambung dan terbebas dari syadz dan terbebas daru illat (penyakit yang membuat cacat). * Yang dimaksud dengan adil yaitu memiliki adalah. Ad l h ( )adalah istiqomah pada din dan istiqomah pada muru-ah. Istiqomah din adalah melaksanakan kewajiban dan menjauhi segala yang haram yang menyebabkan kefasikan. Istiqomah muru-ah adalah melakukan segala sesuatu yang dipuji masyarakat berupa etika dan akhlak dan meninggalkan segala adab dan akhlak yang dicela masyarakat*. * Pandangan masyarakat adalah yang tidak bertentangan dengan aturan syariat. Boleh jadi itu merusak muru-ah di masa silam, tapi tidak di masa sekarang. Misalnya, dahulu, jika seorang ulama makan di warung maka ini menurunkan muru-ah. Kalau sekarang mungkin jika makan di restoran besar malah naik muru-ahnya. Maka muru-ah ini berbeda-beda dan berubah sesuai zaman dan tempat. Maka, ini berarti seorang muslim memperhatikan adat masyarakat. Keadilan rowi diketahui dengan dua cara, yaitu dengan kemasyhuran yaitu sudah terkenal sebagai seorang rowi yang adil, semacam para imam yang terkenal. Misalnya Imam Malik, Imam Ahmad dan Bukhori dan yang selain mereka. Kemudian dengan tazkiyah, yaitu dengan penegasan dari orang yang teranggap ucapannya dalam masalah ini*.

* Yaitu ulama jarh dan tadil Sempurna hafalannya ( ) adalah ia bisa menyampaikan riwayat yang dia miliki, baik didapatkan melalui mendengar atau melihat dalam bentuk sebagaimana dia dapatkan tanpa ditambah atau dikurangi. Akan tetapi kesalahan yang sedikit dinilai tidak mengapa, karena manusia tidak dapat terbebas dari kesalahan menambah atau mengurangi*. * Dia bisa menceritakan apa yang ada dalam dirinya baik dia dapatkan dari pendengaran atau penglihatan dan dia menceritakan kepada orang lain tanpa kesalahan atau dengan sedikit kesalahan. Diketahui dobt (kesempurnaan hafalan) seorang rowi dengan dua hal; keselarasannya, yaitu selaras dengan rowi-rowi yang terkenal tsiqoh dan orang yang kuat hafalannya meskipun hanya sesuai dengan mereka secara umum. Kemudian mendapat tazkiyah/penegasan, yaitu dengan penegasan dari orang yang teranggap ucapannya dalam masalah ini. Bersambung sanadnya ( ) yaitu setiap rowi berjumpa dengan gurunya atau dari orang yang dia mengambil riwayat darinya baik secara langsung atau statusnya berjumpa. Adapun berjumpa secara langsung maksudnya adalah berjumpa dengan gurunya dan mendengar dari gurunya atau melihat gurunya dan dia mengatakan, Telah menceritakan padaku. ( ,)Aku mendengar ( ,)Aku melihat fulan ( ,) dan kalimat semacamnya. Sedangkan statusnya berjumpa maksudnya adalah seorang rowi meriwayatkan dari orang yang sezaman dengannya dengan menggunakan kata-kata yang mengandung kemungkinan dia melihat atau mendengar gurunya. Misalnya dengan kata-kata, Fulan berkata (,) Dari fulan ( ,) Fulan melakukan ( ) dan yang semacam itu. Terdapat dua pendapat: 1. Harus ada bukti, ini adalah pendapat Imam Bukhori. 2. Cukup dengan mungkin dia bertemu, ini adalah pendapat Imam Muslim*. * Oleh karena itulah kualitas Shohih Bukhori dinilai lebih tinggi dari Shohih Muslim. Imam Nawawi <em>rohimahullah </em>berkata tentang pendapat Imam Muslim di Syaroh Shohih Muslim, Pendapat Imam Muslim diingkari banyak pakar, meskipun kami tidak menilai Imam Muslim melakukan perbuatan tersebut dalam Shohih-nya sejalan dengan pendapat beliau ini, karena Imam Muslim mengumpulkan banyak jalur yang tidak mungkin terwujud hukum yang dia bolehkan. Wallahu alam. Perbedaaan ini berlaku untuk rowi yang bukan mudallis (akan datang penjelasannya, insya Allah-ed). Adapun mudallis tidaklah divonis haditsnya bersambung kecuali jika dia menegaskan bahwa dia mendengar atau melihat secara langsung. Tidak bersambungnya suatu sanad diketahui dengan dua cara:

1. Tarikh (sejarah), yaitu mengetahui bahwasannya guru atau orang yang diambil riwayat darinya sudah meninggal ketika dia belum mencapai usia tamyiz yaitu usia 7 tahun*. * Misalnya gurunya sudah meninggal ketika ia masih berumur 3 tahun, maka ini jelas tidak bersambung. 2. Dengan penegasan seorang rowi atau salah satu dari ulama pakar hadits menegaskan bahwasannya rowinya tidak bersambung atau fulan ini tidak mendengar ataumelihat dari gurunya apa yang dia ceritakan. Keganjilan ( )yaitu seorang rowi yang tsiqoh menyelisihi rowi yang lebih kuat darinya, bisa dengan lebih sempurna keadilannya atau hafalannya, atau lebih jumlahnya atau lebih bermulazamah dengan gurunya atau yang semacam itu*. * Misalnya seorang guru memiliki dua murid. Murid yang pertama sudah mulazamah dalam waktu berpuluh-puluh tahun. Murid yang kedua hanya lima tahun. Kemudian murid yang kedua memberikan khobar dari gurunya yang menyelisihi murid yang pertama. Maka yang lebih tahu maksud gurunya adalah murid yang pertama. Maka boleh jadi murid yang kedua mendengar dari gurunya akan tetapi ia tidak paham. Maka yang lebih tsiqoh adalah murid yang pertama. Misalnya, hadits Abdullah ibn Zaid tentang tata cara wudhu Nabi shollallahu alaihi wa sallam bahwasannnya Nabi mengusap kepalanya dengan air yang bukan sisa dari tangannya*. * Artinya mengambil air baru untuk mengusap kepala, bukan air yang sebelumnya digunakani untuk membasuh tangan. Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim dengan lafadz ini dari jalur Ibn Wahab. Dan Imam Baihaqi meriwayatkan dari jalan Ibn Wahab juga dengan lafadz yang berbeda, yaitu bahwasannya Nabi shollallahu alaihi wa sallam mengambil untuk kedua telinganya air yang bukan air yang beliau ambil untuk kepalanya*. * Artinya mengambil air baru untuk mengusap telinga. Maka hadits Baihaqi adalah riwayat yang ganjil (syadz) karena rowi dari Ibn Wahab memang tsiqoh*, tapi rowi ini menyelisihi para rowi yang lebih banyak jumlahnya dari dia. Karena hadits ini diriwayatkan sejumlah orang dari Ibnu Wahab namun dengan menggunakan lafadz Muslim. Maka berdasar hal tersebut, riwayat Baihaqi tidak shohih meskipun perowinya tsiqoh, yaitu karena tidak terbebas dari syadz. * Rowi yang dipakai oleh Baihaqi yang merupakan muridnya Ibnu Wahab memang tsiqoh. Akan tetapi rowi ini menyelisihi para rowi yang lebih banyak jumlahnya daripada dia. Ill t (peny kit y ng membu t c c t) ( ,) yaitu setelah diteliti ternyata jelas diketahui ada sebab yang membuat cacat untuk diterima suatu hadits karena diketahui ternyata hadits tersebut munqothi (terputus), mauquf (perkataan sahabat), atau rowinya adalah orang fasiq, jelek hafalannya, atau ahli bidah* dan haditsnya mendukung kebidahannya dan semacam itu. * Ada beberapa pendapat berkaitan dengan riwayat dari ahlu bidah:

1. Ditolak secara mutlak 2. Diterima secara mutlak. 3. Diperinci (tafshil). Merinci dengan melihat dia mendakwahkan bidahnya atau tidak. Jika jawabannya ya, maka riwayatnya tidak bisa diterima. 4. Diperinci. Melihat hadits yang diriwayatkanya. Menguatkan kebidahannya atau tidak, baik dia dai atau bukan. Ringkasnya penjelasan di Taisir Mustholah Mahmud Thohan, persyaratan riwayat dari ahlu bidah adalah : 1. Bukan dai 2. Bukan hadits yang mendukung bidah yang dia miliki. Maka, hadits tersebut tidak dihukumi sebagai shohih karena tidak selamat dari penyakit yang membuat cacat1*. Contohnya hadits Ibnu Umar rodhiallahuanhu dari Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda, Perempuan yang haidh dan orang yang junub tidak boleh membaca sedikitpun ayat Al Quran. * Ini adalah termasuk ilmu hadits yang berat, yaitu tentang masalah ilmu al illal. Terutama jika illalnya adalah masalah yang samar. Hadits ini diriwayatkan Tirmidzi, dan Imam Tirmidizi mengatakan kami tidak mengenal hadits ini kecuali dari hadits Ismail ibn Iyas dari Musa ibn Uqbah*. * Artinya hadits ini termasuk hadits ghorib (yaitu punya satu jalur saja). Maka dari sanad yang tampak adalah shohih, akan tetapi hadits ini memiliki cacat, riwayat Ismail ibn Iyas dari orang-orang Hijaz adalah dhoif. Jika gurunya adalah orang Hijaz maka haditsnya adalah dhoif dan hadits ini adalah yang termasuk dia dapatkan dari Hijaz**. Maka hadits ini tidak shohih karena tidak terbebas dari penyakit yang membuat cacat. ** Artinya Musa ibn Uqbah adalah dari Hijaz. Jika penyakitnya tidak membuat cacat, maka tidak menghalangi hadits tersebut untuk dinilai shohih atau hasan. Contohnya hadits dari sahabat Abu Ayyub Al Anshori rodhiallahuanhu dari Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa berpuasa Romadhon, kemudian diikuti dengan 6 hari di bulan Syawal, maka ia seakan-akan puasa dahr (puasa setiap hari, seandainya puasa dahr itu dibolehkan).* * Ini adalah termasuk pengandaian. Karena ulama berselisih pendapat tentang puasa dahr. Sebagian ulama melarangnya. Dan itulah pendapat yang lebih rojih karena ada hadits tentang hal ini,Siapa yang puasa setiap hari tidak akan dinilai orang yang berpuasa dan

juga tidak dinilai sebagai orang yang tidak puasa. Jadi, dari hadits tersebut tidak menunjukkan bolehnya puasa dahr, namun hanya sebagai pengandaian. Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim dari jalan Saad ibn Said, dan pada hadits ini terdapat illat dengan sebab rowi ini, yaitu Saad ibn Said karena Imam Ahmad mendhoifkannya. Illat ini tidak membuat cacat, karena sebagian ulama menshohihkannya, dan dia memiliki hadits penguat (muttabi)*. Imam Muslim menyampaikan hadits ini dalam Shohih-nya menunjukkan keshohihan menurut Muslim, dan illatnya tidak membuat cacat. * Hadits muttabi (penguat) adalah jika rowi hadits tersebut dari sahabat yang sama. Sedangkan hadits syawahid, jika sumbernya beda. Dikumpulkannya Dua Hukum, yaitu Penilaian Shohih dan Hasan dalam Satu Hadits Di depan telah kita bahas bahwa hadits shohih adalah satu bagian dari hadits yang berbeda dengan hadits hasan. Maka keduanya adalah dua hal yang berbeda. Akan tetapi sering kita dapatkan, terkadang suatu hadits diberi nilai hadits hasan shohih. Maka bagaimana menyesuaikan dua penilaian ini padahal ada perbedaan di antara keduanya? Kami katakan (penulis kitab ed), Jika hadits tersebut memiliki dua jalur, maka maksud hadits tersebut bahwa salah satu jalannya shohih dan jalur yang kedua adalah hasan. Maka dikumpulkan antara dua sifat ini dengan melihat jalurnya*. Adapun jika hadits tersebut hanya memiliki satu jalan, maka maknanya adalah ulama tersebut ragu-ragu, apakah sudah mencapai derajat shohih atau derajat hasan**. * Dimaknai hadits shohih wa hasan (shohih dan hasan). Artinya, hasan untuk jalur ini dan shohih untuk hadits yang satunya lagi. ** Dimaknai hadits shohih aw hasan (shohih atau hasan). Misalnya dalam hadits ghorib. Jadi ragu-ragu antara hadits ini hasan atau shohih. Adapun kalimat ( ) Hadits ini adalah hadits yang paling shohih dalam bab ini, maka ini bukanlah menilai bahwa hadits tersebut shohih tapi maksudnya hadits tersebut yang paling sedikit cacatnya. Bisa jadi haditsnya dhoif. Namun hadits dhoif lainnya banyak dan yang paling ringan cacatnya adalah hadits tersebut.

Taisir Musthalah Hadits (5): Penjelasan untuk Sanad yang Terputus, Tadlis & Mudhthorib

49Share Sanad yang Terputus1 1. Penjelasannya 2. Pembagiannya 3. Hukumnya 1. Sanad yang terputus ( ) adalah yang tidak bersambung sanadnya, dan telah disebutkan bahwa di antara syarat hadits shohih yang berjumlah lima, salah satunya adalah bersambung sanadnya. 2. Sanad yang terputus terbagi menjadi empat: mursal, mualaq, mudhol dan munqothi. Mursal () Mursal adalah hadits yang dinisbatkan kepada Nabi shollallahu alaihi wa sallam oleh sahabat atau tabiin yang tidak mendengar langsung dari Nabi shollallahu alaihi wa sallam2. u l q () Muallaq adalah hadits yang dihilangkan awal atau terkadang yang dimaksudkan adalah yang dibuang semua sanadnya, seperti perkataan Imam Bukhori, Nabi shollallahu alaihi wa sallam mengingat Allah di setiap keadaannya3. Adapun hadits yang dinukil penulis kitab, misal Umdatul Ahkam yang dinisbatkan pada aslinya, maka tidak dinilai sebagai hadits muallaq karena orang yang menukil tidak menyandarkan hadits tersebut pada dirinya.Akan tetapi dinisbatkan, misal Diriwayatkan oleh Abu Daud. udhol () Mudhol adalah hadits yang dibuang di tengah-tengah sanadnya, dua rowi secara berturutturut. unqothi4 () Munqothi adalah hadits yang dibuang dari tengah sanadnya satu, dua atau lebih dan tidak berturut-turut. Terkadang maksudnya adalah hadits yang tidak bersambung sanadnya, maka termasuk di dalamnya hadits yang empat tadi, mursal, muallaq, mudhol dan munqothi itu sendiri5.

Misalnya hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori, ia berkata, Menceritakan pada kami Abdullah ibn Azzubair Al Humaidi6,ia berkata, telah menceritakan pada kami Sufyan, ia berkata, telah menceritakan pada kami Yahya ibn Said Al Anshori, ia berkata,telah mengkhobarkanku Muhammad ibn Ibrohim At Taimi, bahwasannya ia mendengar dari Alqomah ibn Abi Waqosh Al Laitsi mengatakan, aku mendengar Umar ibn Khottob rodhiallahu anhu di atas mimbar berkata, Aku mendengar Rosulullah shollallahu alaihi wa sallam bersabda, Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya hingga akhir hadits. Maka jika dibuang dari sanad tersebut, Umar ibn Khottob rodhiallahu anhu, dinamakan hadits mursal. Jikayang dibuang Al Humaidi dinamakan hadits muallaq. Jika yang dibuang Sufyan dan Yahya dinamakan hadits mudhol. Jika yang dibuang Sufyan saja atau bersama at-Taimi dinamakan hadits munqothi. 3. Seluruh hadits munqothi ditolak dikarenakan ketidaktahuan keadaan rowi yang dibuang. Namun berikut ini adalah munqothi yang dikecualikan dari penolakan tersebut: 1. Mursal sahabat7 2. Mursal kibar tabiin8. Menurut sebagian besar ahlu ilmi adalah shohih jika dikuatkan oleh mursal yang lain atau diamalkan para sahabat atau dengan qiyas. 3. Mualaq.Jika dengan bentuk kata yang tegas dalam kitab yang komitmen dengan hadits-hadits shohih, seperti Shohih Bukhori9. 4. Hadits yang diriwayatkan dengan sanad yang bersambung dari jalan yang lain yang memenuhi semua persyaratan untuk diterimanya hadits10. Tadlis 1. 2. 3. 4. Penjelasannya Pembagiannya Tingkatan mudallis Hukum perowi yang mudallis

1. Tadlis ( )adalah membawakan hadits dengan satu sanad sehingga dipahami bahwa sanad tersebut lebih tinggi dari pada kualitas senyatanya. 2. Tadlis terbagi menjadi dua: tadlis isnad dan tadlis guru. Tadlis isnad () Tadlis isnad adalah seorang rowi meriwayatkan dari orang yang dijumpainya, hadits yang tidak dia dengar atau tidak dia lihat perbuatannya dengan kata-kata yang bisa dipahami bahwa orang tersebut mendengar atau melihatnya secara langsung. Contohnya: Ia berkata ( ,)ia melakukan ( ,)dari fulan ( ,) fulan berkata ((, fulan melakukan () dan yang semisal itu. Tadlis guru ( ) Tadlis guru adalah seorang rowi menamakan gurunya, atau mensifatinya dengan nama atau sifat yang tidak terkenal sehingga gurunya tidak dikenal. Hal ini disebabkan mungkin karena gurunya lebih muda darinya, dan ia tidak suka jika diketahui meriwayatkan dari yang lebih muda, atau agar orang mengira gurunya banyak, atau maksud-maksud lainnya.

3. Rowi mudallis ada banyak; ada yang dhoif dan ada yang tsiqoh seperti Hasan Al Bashri, Humaid At Tuwaili, Sulaiman ibn Mahron Al Amasy, Muhammad ibn Ishaq dan Walid ibn Muslim. Al Hafidz Ibnu Hajar mengklasifikasikan rowi mudallis menjadi lima tingkatan: 1. Rowi yang tidak divonis melakukan tadlis kecuali langka. Seperti Yahya ibn Said. 2. Rowi yang para imam masih berlapang dada terhadap tadlisnya (masih dimaafkan). Oleh karena itulah para ulama masih memakai riwayatnya dalam kitab shohih karena dia adalah seorang Imam dan sedikitnya tadlis yang dia lakukan jika dibandingkan dengan riwayat yang dia sampaikan, semacam tadlisnya Imam Sufyan Atsauri. Atau karena rowi tersebut tidak melakukan tadlis kecuali dari seorang rowi yang tsiqoh, semacam Imam Sufyan ibn Uyainah. 3. Rowi yang sering melakukan tadlis tanpa membatasi diri dengan rowi-rowi yang tsiqoh. Sehingga yang tidak disebutkan boleh jadi rowi tsiqoh ataupun rowi yang dhoif. Semacam Abu Zubair Al Makiy. 4. Rowi yang mayoritas tadlisnya adalah rowi yang dhoif dan tidak dikenal. Seperti Baqiyah ibn Al Walid. 5. Orang yang disamping melakukan tadlis, memiliki kelemahan karena faktor lain. Misal, Abdulah ibn Luhaiah11. 4. Hadits mudallis tidak diterima kecuali mudallisnya adalah orang yang tsiqoh (terpercaya), dan dia menegaskan bahwa ia mengambilnya secara langsung dari gurunya dengan perkataan aku mendengar fulan berkata ( ,) aku melihat ia melakukan ( ,) telah menceritakan padaku ( )dan yang semacam itu. Akan tetapi riwayat yang terdapat dalam Shohih Bukhori dan Shohih Muslim dengan bentuk tadlis dari rowi tsiqoh yang mudallis, maka haditsnya diterima karena umat Islam menerima semua riwayat dari kedua Imam tersebut dengan tanpa perincian Mudhthorib 1. Penjelasannya 2. Hukumnya 1. Mudhthorib ( )adalah hadits yang para rowinya berselisih dalam sanad atau matannya yang tidak mungkin dikompromikan. Contohnya, hadits yang diriwayatkan dari Abu Bakar rodhiallahuanhu bahwasannya ia berkata pada Nabi shollallahu alaihi wa sallam, Aku melihat engkau beruban. Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda, Aku beruban karena memikirkan yang Allah turunkan dalam surat Hud dan surat-surat sejenisnya. Hadits ini diperselisihkan dalam 10 masalah. Hadits ini ada yang diriwayatkan secara maushul dan mursal. Ada yang mengatakan dari Abu Bakar, ada yang dari Aisyah atau Saad dengan perselisihan yang tidak mungkin dikompromikan atau dirojihkan (dipilih yang lebih kuat).

Jika mungkin dikompromikan; Maka wajib dikompromikan dan hilanglah status idhthirob12. Contohnya: Perbedaan riwayat tentang jenis ihrom Nabi shollallahu alaihi wa sallam pada haji wada. Sebagian mengatakan Nabi haji ifrod saja, ada yang mengatakan haji tammatu ada juga yang mengatakan bahwa Nabi melakukan haji qiron13.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, Tidak ada kontradiksi dalam hal tersebut. Nabi melakukan tamatu tamatu qiron. Qiron bisa juga disebut tamatu. Tamatu ada dua macam, yaitu tamatu dengan makna tamatu dan tamatu dengan makna qiron. Tamatu Nabi shollallahu alaihi wa sallam adalah tamatu qiron. Dan nabi menyendirikan perbuatan manasik haji dan menggandengkan antara dua ibadah yaitu umroh dan haji. Maka haji itu adalah haji qiron dengan menyatukan manasik. Jadi, disebut haji ifrod dengan pertimbangan bahwa Nabi mencukupkan degan satu tawaf dan sai, dan disebut mutamatu dengan pertimbangan kesenangan yang beliau dapatkan dengan meninggalkan salah satu dari dua safar.

Jika mungkin dirojihkan; Wajib mengamalkan yang dan hilanglah status idhthirob. Contohnya: Perselisihan pada riwayat hadits Barirah rodhiallahu anha ketika dia dimerdekakan dari status budak. Nabi shollallahu alaihi wa sallam memberinya pilihan antara tetap bersama suaminya atau berpisah dari suaminya14. Perselisihannya: Apakah suaminya adalah orang yang merdeka atau budak? Diriwayatkan dari Al Aswad dari Aisyah15 rodhiallahuanha bahwasannya suaminya adalah orang yang merdeka. Tapi riwayat dari Urwah ibn Zubair16 dan Qosim ibn Muhammad ibn Abu Bakar bahwasannya suaminya adalah seorang budak. Yang dinilai rojih dari kedua riwayat tersebut riwayat Urwah ibn Zubair dan Qosim ibn Muhammad ibn Abu Bakar dikarenakan kedekatan keduanya dengan Aisyah. Aisyah adaah bibi dari Urwah dan bibi dari Qosim. Sedangkan Al Aswad tidak punya hubungan dengan Aisyah ditambah ada keterputusan di dalam riwayatnya.

2. ukum h dits mudhtorib d l h dhoif d n tid k d p t dij dik n hujj h. Karena idhthirobnya menunjukkan adanya rowi yang tidak kuat hafalannya. Akan tetapi jika idhthirob tersebut tidak berkaitan dengan pokok hadits, maka tidak mengapa. Contohnya: Perselisihan perowi dalam hadits dari Fadholah ibn Ubaid rodhiallahuanhu,bahwasannnya ia membeli kalung pada perang Haibar sebanyak 12 dinar.Pada kalung tersebut terdapat emas dan manik-manik. Ia berkata, Maka aku memisahkannya dan aku mendapatkannya nilainya lebih dari 12 dinar. Lalu aku menceritakan kepada Nabi shollallahu alaihi wa sallam, beliau pun bersabda, Kalung tersebut tidak boleh dijual sampai dipisah. Maka pada riwayat yang lain, Fadholahlah yang membeli kalung tersebut. Riwayat lainnya, ada orang lain selain Fadholah yang bertanya tentang hukum membeli kalung tersebut. Dalam riwayat lain: Bahwasannya itu emas dan manik-manik. Pada riwayat yang lain: Emas dan permata. Riwayat yang lain: Manik-manik yang digantungi emas. Riwayat yang lain: dengan nilai 11 dinar. Riwayat yang lain: dengan nilai 9 dinar. Riwayat yang lain: dengan nilai 7 dinar. Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, Perselisihan ini tidaklah menyebabkan kelemahan hadits, karena maksud pokok dari berdalil dengan hadits tersebut tetap terjaga dan tidak ada perselisihan di dalamnya, yaitu pelarangan jual beli sesuatu yang belum terpisah. Adapun

jenisnya atau kadar, ukuran harganya maka dalam hal ini tidak memiliki hubungan dengan menjadi idththirob atau tidak. Demikian pula bukan penyebab idhthirob, perbedaan tentang nama perowi, kunyahnya atau yang semacam itu, padahal yang dimaksudkan adalah sama sebagaimana didapatkan pada banyak hadits-hadits yang shohih. 1 Keterputusan sanad ada yang jelas dan tidak jelas. Yang tidak jelas akan dibahas di tadlis. 2 Maka nanti mursal ada dua. 3 Atau hadits yang dibuang di awal sanad. Awal sanad adalah orang yang berada di atas pencatat hadits. Orang setelah Nabi shollallahu alaihi wa sallam adalah akhir sanad. Terkadang dibuang semua sanadnya oleh Imam Bukhori. Muallaq dalam Imam Bukhori disebutkan sanadnya oleh Ibnu Hajar dalam salah satu kitabnya. 4 Munqothi ini memiliki dua pengertian. 5 Sebagaimana Islam itu punya tingkatan, yaitu Islam, Iman, Ihsan. Jadi, Islam itu ada di Islam itu sendiri. 6 Guru Imam Bukhori yang Imam Bukhori paling banyak meriwayatkan hadits darinya. 7 Semacam ucapan Ibnu Abbas tentang turunnya wahyu pertama kali. Ibnu Abbas lahir 3 tahun sebelum hijrah. Maka tentu dia tidak mengetahui dan tidak menyaksikan langsung kejadian di awal wahyu, sehingga tentu dia mendapatkan dari sahabat yang lain. Mursal shohabi tidak mempengaruhi keabsahan hadits. Karena meski kita tidak mengetahui sahabat yang dibuang, akan tetapi itu tidaklah masalah karena semua sahabat Nabi shollallahu alaihi wa sallam adalah adil. 8 Kibar tabiin : mereka yang mayoritas riwayatnya berasal dari para sahabat, seperti Said ibn Musayyib, Urwah ibn Zubair. Jadi, mereka sedikit meriwayatkan dari sesama tabiin. 9 Akan tetapi, hadits mualaq dalam Shohih Bukhori bukanlah sebagai bagian dari Shohih Bukhori meskipun ia tercantum dalam kitab Shohih Bukhori. Oleh karena itu ketika orang menyampaikan hadits mualaq Imam Bukhori dalam Shohih Bukhori harus disebutkan, Diriwayatkan oleh Imam Bukhori secara mualaq karena mualaq tersebut bukan bagian dari Shohih Bukhori. Karena judul asli kitab shohih Bukhori adalah Al Jami As Shohih Al Musnad. Al J mi yaitu kitab hadits yang mengumpulkan hadits dalam banyak bab, baik fiqh dan selainnya. Kalau hanya dalam bab fiqh saja disebut Sunan. Mualaq dalam Shohih Bukhoriada kata-kata yang tegas ada yang tidak tegas. Jika yang tidak tegas maka Imam Bukhori tidak menjamin keshohihan hadits ini. Sedangkan Al Musnad adalah yang bersanad. 10 Ada pertanyaan, Apakah semua hadits yang shohih diamalkan? Belum tentu. Dilihat dulu, apakah hadits tersebut mansukh. Jadi masih harus melihat hal yang lainnya. Misalnya Nabi shollallahu alaihi wa sallam berdiri ketika ada jenazah lewat. Hadits ini shohih. Tapi kemudian mansukh. Karena setelah itu nabi shollallahu alaihi wa sallam melarang untuk berdiri ketika jenazah lewat. Dan juga tidak setiap hadits dhoif ditinggalkan. Jika bisa naik menjadi hadits hasan lighoiri, maka hadits dhoif tersebut bisa diamalkan.

11 Ia mulai kacau hafalannya setelah kitab-kitabnya terbakar. Namun, ia memiliki empat murid yang bernama Abdulah yang belajar padanya sebelum kitab-kitabnya terbakar. Sehingga riwayatnya dapat diterima melalui empat murid tersebut. 12Dan tidak lagi isebut hadits mudhtorib. 13 Berihrom untuk menjalankan haji dan umroh sekaligus dan tidak tahallulkecuali tanggal 10 dzulhijjaah. 14 Suami Barirah bernama Mughits. 15 Dan Aisyah inilah yang membeli Bariroh kemudian memerdekakannya. 16 Anak dari Asma binti Abu Bakar.

Taisir Musthalah Hadits (6): Ziyadah, Meringkas Hadits Meriwayatkan Dengan Makna

Idroj, dan

30Share Idroj dalam matan 1. Definisinya 2. Kedudukannya dan contoh 3. Kapan dinilai itu sebagai hadits sisipan 1. Idroj (sisipan) dalam matan ( : ) Salah seorang rowi memasukkan kata-kata yang berasal dari dirinya sendiri tanpa dia jelaskan bahwa itu adalah kata-katanya sendiri. Dia melakukan itu bisa jadi untuk menjelaskan kata-kata yang asing dalam hadits tersebut, istinbath hukum (mengambil kesimpulan hukum) atau untuk menjelaskan hikmah. 2. Idroj di awal hadits, tengah hadits atau akhir hadits. Contoh idroj di awal matan: Hadits dari Abu Huroiroh rodhiallahu anhu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim. Sempurnakanlah wudhu, celakalah tumit-tumit yang tidak terkena air, celakalah karena berada di neraka. [1]

Kata-kata sempurnakanlah wudhu adalah sisipan yaitu ucapan Abu Hurioroh rodhiallahu anhu. Hal ini diketahui berdasarkan satu riwayat dalam Shohih Bukhori. Dalam riwayat tersebut, Abu Huroiroh rodhiallahu anhu mengatakan, Sempurnakanlah wudhu, karena Abul Qosim shollallahu mengatakan,Celakalah tumit-tumit yang tidak terkena air. Contoh sisipan di tengah matan: Hadits dari Aisyah rodhiallahu anha tentang awal mula datangnya wahyu pada Rosulullah shollallahu alaihi wa sallam. Dan hadits tersebut, Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersepi-sepi di Gua Hiro, lalu ber-tahanus (pada asalnya artinya adalah menjauhi dosa), namun di sini dijelaskan oleh rowi maksud dari tahanus yaitu beribadah selama beberapa malam yang bisa di hitung. Kata-kata tahanus adalah beribadah adalah sisipan, tepatnya merupakan perkataan az-Zuhri. Hal ini dijelaskan satu riwayat dalam riwayat Bukhori dari jalurnya Zuhri, dengan lafadz bahwasannya Nabi shollallahu alaihi wa sallam pergi ke Gua Hiro dan tahanus di dalamnya, Zuhri mengatakan, makna tahanus adalah beribadah. Kemudian Zuhri melanjutkan pada beberapa malam yang bisa dihitung. Contoh idroj di akhir matan: Hadits Abu Hurorioh rodhiallahu anhu sesungguhnya Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda, Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan putih terang wajah, tangan dan kaki, karena bekas wudhu. Oleh karena itu siapa diantara kalian yang mampu memanjangkan cahaya putih terangnya maka hendaknya ia lakukan. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim. Kata-kata Siapa diantara kalian yang mampu memanjangkan cahayanya maka lakukanlah, adalah perkataaan Abu Huroiroh rodhiallahu anhu yang menyebabkan perkataan Abu Huroiroh ini masuk ke hadits Nabi shollallahu alaihi wa sallam adalah seorang rowi yang bernama Nuaim ibn Mujmir[2]. Disebutkan dalam Musnad Imam Ahmad, dari Nuaim ibn Mujmir, beliau mengatakan, Saya tidak tahu apakah itu sabda Nabi shollallahu alaihi wa sallam atau kata-kata Abu Huroiroh [3]. Lebih dari satu pakar hadits yang menegaskan bahwa kata-kata tersebut adalah sisipan. Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan itu tidak mungkin merupakan sabda Nabi shollallahu alaihi wa sallam [4]. 3. Tidak bisa dinilai sebagai sisipan sampai ada bukti. Sehingga hukum asalnya adalah bagian dari hadits dan bisa diketahui:

alaihi

wa

sallam

Dengan ucapan rowi itu sendiri. Ucapan Imam yang teranggap ucapannya. Dari kata-kata yang disisipkan karena mustahil Nabi mengatakannya

Ziyadah Dalam Hadits

1. Pengertiannya 2. Pembagiannya, penjelasan hukum pada masing-masing pembagian beserta contohnya. 1. Ziyadah (tambahan) dalam hadits (:) Salah seorang rowi (periwayat hadits) menambahi redaksi (matan) hadits dengan sesuatu yang bukan merupakan bagian dari hadis tersebut. 2. Ziyadah terbagi menjadi dua macam: 1. Ziyadah yang sejenis dengan idroj. Merupakan tambahan yang diberikan seorang rowi dari dirinya sendiri, tanpa bermaksud bahwa tambahan tersebut merupakan bagian dari hadits. Penjelasan hukumnya telah disampaikan di muka. 2. Ziyadah yang diberikan oleh sebagian rowi dengan maksud bahwa tambahan tersebut merupakan bagian dari hadits. Jenis ini terbagi menjadi dua:

Jika datang dari rowi yang tidak tsiqoh. Maka tidak diterima dikarenakan riwayat rowi tersebut jika sendirian itu tidak diterima, maka tambahan yang dia berikan pada riwayat orang lain lebih layak untuk ditolak. Jika datang dari rowi yang tsiqoh: Jika bertentangan dengan riwayat lain yang jalannya lebih banyak atau periwayatannya lebih tsiqoh, maka tidak diterima dikarenakan riwayat ini termasuk hadits yang syadz. Misal:Hadis yang diriwayatkan oleh Malik dalam Al Muwattho bahwasannya Ibnu Umar radhiallahu anhuma jika memulai sholat, beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya, dan jika mengangkat kepalanya dari ruku, beliau mengangkat keduanya lebih rendah dari itu. Abu Daud berkata, Tidak disebutkan beliau mengangkat keduanya lebih rendah dari itu oleh seorang pun selain Malik menurut sepengetahuanku. Dan riwayat yang shohih dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma, marfu kepada Nabi shollallahu alaihi wa sallam, bahwasannya beliau mengangkat kedua tangannya sampai sejajar dengan pundaknya jika memulai sholat, dan ketika ruku, ketika bangkit dari ruku tanpa dibeda-bedakan. Jika tidak bertentangan dengan rowi selainnya maka diterima, dikarenakan didalamnya terdapat tambahan ilmu. Misal:Hadis Umar radhiallahu anhu bahwasannya beliau mendengar Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda, Tidaklah salah seorang dari kalian berwudhu sampai selesai dan sempurna kemudian mengucapkan: Asyhadu allaa ilaaha illallah , wa anna muhammadan abdullahi wa rasuuluh melainkan dibukakan baginya pintu syurga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk dari pintu mana yang dia inginkan. Hadits ini telah diriwayatkan oleh Muslim dari dua jalan periwayatan. Pada salah satu dari keduanya terdapat tambahan ( ) setelah (.)

Meringkas Hadits 1. Pengertiannya 2. Hukumnya

1. Meringkas hadits (:) Seorang rowi atau penukil hadits membuang sebagian dari hadits. 2. Tidak diperbolehkan meringkas hadits kecuali dengan lima syarat: 1. Tidak merusak makna hadits. Seperti pengecualian, tujuan, keadaan/keterangan, syarat, dan selainnya. Misal, sabda Nabi shollallahu alaihi wa sallam, Jangan kalian menukar emas dengan emas kecuali semisal dengan semisal. Janganlah kalian menjual buah-buahan sampai tambak baiknya.

Janganlah memutuskan hukum antara dua perkara sedangkan dia dalam keadaan emosi.

Iya, jika kalian melihat air. Perkataan nabi shollallahu alaihi wa sallam sebagai jawaban kepada Ummu Sulaim tentang pertanyaannya, Apakah wanita wajib mandi jika bermimpi? : Jangan berkata salah seorang dari kalian: ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki. Haji mabrur, tidak ada balasan baginya kecuali surga. Maka tidak boleh kecuali semisal dengan semisal () sampai tampak baiknya () sedangkan dia dalam keadaan emosi () jika kalian melihat air () jika Engkau menghendaki () mabrur () Dikarenakan membuang kata-kata diatas merusak makna hadits 2. Tidak membuang redaksi hadits/matan yang hadits itu datang karenanya, Misal: : : . : (( )) Hadits Abu Huroiroh radhiallahu anhu: seseorang bertanya pada Nabi shollallahu alaihi wa sallam Sesungguhnya kami menaiki perahu di laut dan kami membawa sedikit air. Jika kami berwudhu dengannya, kami akan kehausan. Apakah kami boleh berwudhu dengan air laut? Maka Nabi bersabda: Laut itu suci airnya dan halah bangkainya. membuang perkataan

Maka tidak boleh menghapus sabda beliau shollallahu alaihi wa sallam, Laut itu suci airnya dan halal bangkainya ( ) karena hadits ini datang karenanya, maka dia adalah maksud pokok dari hadits tersebut. 3. Yang dibuang bukan merupakan penjelasan tentang tata cara ibadah, baik berupa perkataan atau perbuatan. Misal: : (( )) Hadits Ibnu Masud radhiyallahuanhu, Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda, Jika salah seorang dari kalian duduk dalam sholat, maka hendaknya dia membaca: Attahiyyaatu lillahi washolawaatu wathoyyibaat, Assalaamu alaika ayyuhannabiyu wa rahmatullahi wa barakaatuh, Assalamu alainaa wa ala ibaadillahishoolihiin, Asyhadu allaa ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuuluh Maka tidak boleh menghapus satu bagian pun dari hadits ini karena akan merusak tata cara ibadah yang disyariatkan, kecuali dengan menjelaskan bahwa ada bagian hadits yang dipotong atau dibuang. 4. Hendaknya yang membuang, mempunyai ilmu tentang kandungan lafadz. Lafadz mana yang merusak makna jika dibuang dan mana yang tidak merusak, supaya tidak membuang lafadz yang merusak makna secara tidak sadar. 5. Rowi yang melakukan pengurangan hadits tidak akan menjadi sasaran tuduhan; karena dikira jelek hafalannya jika dia meringkasnya, atau dikira memberi tambahan jika dia menyempurnakannya, karena memeringkas pada keadaan ini menyebabkan orang akan raguragu untuk menerima rowi tersebut sehingga hadits menjadi lemah karenanya. Persyaratan kelima ini untuk hadits yang tidak tercatat, karena jika hadits tersebut sudah tertulis maka dapat merujuk pada kitab yang mencatatnya dan hilanglah keraguan. Jika semua syarat-syarat tersebut sudah dipenuhi, maka diperbolehkan meringkas hadits. Lebih-lebih memotong hadits untuk berdalil pada setiap potongan hadits pada tempat yang tepat. Banyak ulama dari kalangan ahlul hadits dan ahlul fikih yang melakukan hal ini. Lebih baik lagi pada saat meringkas hadits ditambahi penjelasan adanya peringkasan, dengan perkataan hingga akhir hadits, atau sebagaimana yang disebutkan oleh suatu hadits , dan selainnya. Meriwayatkan Hadits dengan makna 1. Pengertiannya 2. Hukumnya 1. Meriwayatkan hadits dengan makna, yaitu menukilkan hadits dengan lafadz yang bukan lafadz asli yang diriwayatkan. 2. Tidak boleh meriwayatkan hadits dengan makna kecuali dengan tiga syarat: 1. Dilakukan oleh orang yang mengetahui maknanya dari sisi bahasa, dan dari sisi maksud teks yang diriwayatkan.

2. Terpaksa melakukannya, semisal karena rowi lupa dengan teks asli hadits tersebut tapi ingat maknanya. Jika teks hadits masih ingat, maka tidak boleh merubah kecuali jika dituntut kebutuhan untuk memahamkan orang yang diajak bicara dengan bahasa yang lebih mudah dipahami. 3. Lafadz hadits tersebut bukan merupakan lafadz yang digunakan untuk beribadah., seperti lafadz dzikir, dan selainnya. Jika meriwayatkan hadits dengan makna, maka hendaknya disampaikan sesuatu yang menunjukkan hal itu, dengan mengatakan sesudah menyampaikan hadits:, Atau semisal yang dikatakan oleh Nabi ( ,) atau semisal itu (.) Seperti yang ada dalam hadits dari Anas rodhiallahu anhu tentang kisah orang Arab badui yang kencing di dalam masjid, kemudian Rosulullah shollallahu alaihi wa sallam memanggilnya dan berkata padanya: - Sesungguhnya masjid ini tidak sepantasnya terkena air kencing, tidak pula kotoran, sesungguhnya ia adalah untuk mengingat Allah Azza wa Jalla , sholat, dan membaca Al Quran, atau semisal yang dikatakan Nabi shollallahu alaihi wa sallam. Juga seperti yang ada dalam hadits dari Muawiyah bin Hakam. Beliau berkata-kata ketika sholat karena tidak tahu kalau hal tersebut terlarang. Setelah selesai sholat, Nabi shollallahu alaihi wa sallam berkata kepadanya: : Sesungguhnya sholat itu tidak sepantasnya di dalamnya terdapat perkataan orang. Sesungguhnya isi sholat adalah tasbih, takbir, dan membaca al quran, atau semisal yang dikatakan Nabi shollallahu alaihi wa sallam. 1. Artinya siksaan hanya mengenai sebagian badan. Siksa neraka ada dua macam, ada yang meliputi sebagian badan dan ada yang meliputi seluruh badan. Dan ini adalah contoh yang mengenai sebagian badan. Demikian juga orang yang isbal. Bagian badan yang terjeluri kainlah yang dapat siksa di neraka. Namun, jangan remehkan siksaan neraka walaupun sebagian badan saja. Sungguh, orang yang mendapat siksaan dengan terompah neraka di telapak kakinya, yang mendidih adalah otaknya. Jadi, jangan diremehkan. 2 . Jadi, aslinya adalah terpisah. Akan tetapi karena Nuaim ibn Mujmir maka perkataan Abu Huroiroh tadi tergabung dengan hadits Nabi dari Abu Hurorioh. 3. Jadi dia lupa, dan hanya dia yang membawa riwayat dengan menggabungkan antara perkataan Abu Huroiroh dengan hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. 4. Karena Nabi adalah orang yang paling paham dan fasih bahasanya. Dan dalam bahasa Arab yang namanya ghurron adalah putih cemerlang di wajah. Dan wajah itu sudah ada batasannya mungkinkah dipanjangkan? Oleh karena ini jelas bahwa kata-kata tersebut adalah hadits mudroj, maka pendapat yang paling benar, tidak ada anjuran untuk melebihkan wudhu dari batasan yang telah ditetapkan oleh syariat.