Anda di halaman 1dari 4

Validasi Proses Aseptis dan Sterilisasi A.

Validasi Kata validasi berasal dari bahasa latin validus yang memiliki arti kuat dan powerful. Kamus inggris mendefinisikan kata valid sebagai kondisi yang didukung dengan fakta yang sebenarnya, kuat, dan tidak memiliki kelemahan atau kecacatan. Sedangkan kata validasi didefinisikan sebagai membuat sesuatu menjadi valid, mengesahkan, mengkonfirmasi, dan membenarkan berdasarkan data-data. Kata validasi pertama kali digunakan dalam prosedur laboratorium pada tahun 1960-an untuk menjelaskan proses yang dilakukan untuk menunjukkan bahwa instrumen dan metode yang digunakan sesuai dengan aplikasi yang diterapkan. Prosesvalidasi dilakukan untuk memastikan keakuratan hasil dan meminimalisasi kesalahan. Saat ini validasi merupakan prosedur yang penting dalam analisis. Setiap fasilitas, instrumen, proses, dan metode harus dievaluasi melalui program perubahan kontol. Apabila ada perubahan baik dalam hal sekecil apapun harus dilakukan revalidasi atau rekualifikasi. B. Validasi Proses Aseptis dan Sterilisasi Untuk menjamin sterilitas dari produk yang digunakan, maka proses penyiapan bahan steril, cara sterilisasi, pengisian ke wadah secara aseptis dan pengemasan harus divalidasi. 1. Proses simulasi Proses pengolahan aseptis validasi dengan menggunakan media pertumbuhan mikrobiologi. Sebelum dilakukan proses validasi dilakukan terlebih dahulu proses simulasi yang disebut metode media fill atau media pengisi. Hal ini bertujuan untuk mendeteksi adanya kontaminasi mikroba atau tidak, pada permukaan peralatan, wadah kemasan untuk menyimpan, pengaruh lingkungan, dan proses pengerjaan. Hasilnya lalu dinterpretasikan untuk menilai potensi dari satu unit produk obat yang akan menjadi terkontaminasi selama pabrikasi. Informasi dari proses simulasi ini dapat digunakan untuk mentukan cara evaluasi yang akan digunakan. Media fill Studi tentang media fill simulasinya harus mendekati operasi aseptik dari pabrik. Persyaratan dari FDA mengenai hal-hal yang harus diperhatikan dalam program media fill antara lain : - Human error selama proses pengolahan - Kegiatan rutinitas ataupun tidak rutin (pemeliharaan dan kalibrasi alat) - Liofilisasi atau penghilangan kandungan air melalui sublimasi - Aseptisitas peralatan - Jumlah personil dan aktifitasnya - Pergantian shift, istirahat dan pelepasan jas laboratorium - Penambahan bahan aseptis (pengisian ke dalam wadah dan pengemasan dalam wadah steril) - Spesifikasi kemasan (ukuran, jenis, kompatibilitas dengan alat) - Prosedur tetap berkaitan dengan pengolahan aseptis Setiap kali pengerjaan media fill, harus ada dokumentasi lengkap mengenai kode batch produk, kondisi produksi dan aktivitas simulasi yang dilakukan.

Revalidasi media fill bertujuan untuk memastikan metode tersebut memberikan hasil yang konsisten dan bermakna. Pelaksanaan revalidasi dapat dilakukan secara single run dan multiple runs. Single run lebih baik daripada multiple runs, karena hasil single run memberikan satu kesimpulan, sedangkan multiple runs hasilnya tidak dapat dikontrol. Sebaiknya revalidasi dilaksanakan selama tiga kali berturut-turut secara terpisah. Kualifikasi semi-tahunan secara rutin dilakukan untuk setiap tahapan untuk mengevaluasi kondisi pengontrolan proses aseptik. Setiap aktivitas dari personel maupun pergantian personel juga termasuk dalam rancangan program kualifikasi semi-tahunan. Semua personel yang berwenang untuk masuk ke dalam ruang proses aseptik selama proses, termasuk teknisi dan personel pemeliharaan, harus pernah bekerja dalam media fill setidaknya selama setahun sekali. Dalam bekerja dalam media fill orang-orang tersebut harus konsisten dengan tugas dari setiap operator selama produksi rutin. 2. Durasi frekuensi Duurasi pelaksanaan media fill ditentukan berdasarkan pertimbangan atas durasi operasi pengolahan aseptis yang sebenarnya. Proses pabrikasi yang konvensional bekerja secara otomatis, berkecepatan tinggi, dan tidak dijalankan oleh operator. namun beberapa proses masih membutuhkan tenaga operator. Bila pengolahan aseptik menggunakan pengisian secara manual atau manipulasi secara berkala, durasi proses manipulasi tersebut dilakukan tidak boleh kurang dari durasi yang dibutuhkan untuk proses manufaktur terbaik yang dapat mensimulasikan cemaran yang ditimbulkan oleh operator. Pada lyophilizasi vial tidak boleh dibekukan dan tindakan pencegahan harus diambil untuk memastikan media tetap dalam keadaan aerobik untuk menghindari penghambatan pertumbuhan dari mikroorganisme. 3. Kapasitas Media Fill Simulasi media fill harus menyerupai dengan kondisi produksi komersial dan juga harus akurat dalam menilai potensi kontaminasi setiap batch komersial. Jumlah unit yang diisi selama proses simulasi harus didasarkan pada resiko kontaminasi untuk suatu proses dan cukup akurat mensimulasikan kegiatan yang mewakili proses pabrikasi. Kapasitas media fill untuk setiap kali produksi adalah berkisar 5.000 hingga 10.000 unit. Untuk operasi dengan ukuran produksi di bawah 5.000, jumlah media yang diisi dengan unit harus setidaknya sama dengan ukuran maksium batch yang dilakukan dalam processing line. 4. Line speed Setiap media fill harus dievaluasi dengan single line speed, dan kecepatan yang dipilih harus dikalibrasi. Contohnya, memakai line speed yang tinggi sering menjadi pilihan yang paling tepat dalam evaluasi proses manufaktur. Memakai line speed yang lambat biasanya untuk mengevaluasi proses manufaktur dari produk obat steril, wadah, atau penutupnya di daerah aseptis yang terpapar dalam waktu lama. 5. Kondisi lingkungan Media fill harus cukup menyerupai operasi manufaktur yang sebenarnya. Penilaian tidak akurat dihasilkan oleh media fill yang terpapar udara berlebihan dan juga dari kualitas milroba, atau kontrol produksi dan persiapan pembuatan media fill. Jumlah personel yang berlebihan dapat menyebabkan kondisi lingkungan yang tidak aseptik.

6. Media Media pertumbuhan mikrobiologi yang umumnya digunakan adalah soybean casein digest medium. Pemilihan media pertumbuhan baik anaerobik (misal fluid tioglycollate medium) ataupun aerobik, harus dapat mendorong pertumbuhan bakteri gram positif dan gram negatif, serta kapang-khamir. Laboratorium QC bertugas menentukan apakah indikator mikroorganisme cukup mewakili produksi isolat. Persyaratan pertumbuhan unit dari hasil inokulasi adalah jumlah koloni < 100 koloni. Jika tidak memenuhi, kontaminasi yang ditemukan selama simulasi tetap harus diselidiki dan media fill diulang. Proses produksi disimulasikan menggunakan media dan kondisi yang mengoptimalkan deteksi kontaminasi mikrobiologi. Setiap unit harus diisi dengan kuantitas yang sesuai dan jenis media pertumbuhan mikroba agar kontak dengan permukaan penutup wadah (saat unit terbalik atau berputar-putar) dan memungkinkan deteksi visual pertumbuhan mikroba. 7. Inkubasi dan unit media fill Inkubasi bertujuan untuk mengetahui apakah media tersebut dapat digunakan untuk menumbuhkan kultur bakteri. Ketentuan kondisi inkubasi adalah sebaai berikut: - Suhu inkubasi terletak pada rentang 20-35oC dan dijaga pada 2,5oC dari suhu target. - Inkubasi dilakukan selama tidak kurang 14 hari. Jika temperatur inkubasi yang digunakan pada dua suhu maka inkubasi dilakukan selama 7 hari pada setiap temperatur. .
8. Interpretasi Hasil Proses simulasi harus diamati oleh bagian QC, dan unit terkontaminasi harus dihubungkan dengan waktu dan aktivitas yang telah disimulasikan selama proses pembuatan media fill. Dokumentasi media fill dapat berfungsi sebagai acuan untuk mengidentifikasi kerja dari personel yang menyimpang dan juga dapat mempengaruhi proses aseptik. Mikroorganisme harus diidentifikasi setiap spesiesnya. Penyelidikan seharusnya dilakukan survei terhadap kemungkinan penyebab kontaminasi. Selain itu, setiap kegagalan dalam pemeriksaan harus dinilai dampaknya terhadap produksi obat-obatan komersial pada media fill yang terakhir.

Apabila ada kontaminasi dalam proses media fill dianggap memiliki masalah sterilitas. Jumlah unit terkontaminasi diharapkan tidak meningkatkan secara langsung jumlah proporsi dari jumlah vial yang dipakai pada proses media fill. Hasil tes harus dapat dipercaya dan reproduksibel sehingga menunjukkan bahwa unit yang dihasilkan melalui operasi pengolahan aseptik itu steril. Operasi pengolahan aseptik yang modern dengan fasilitas yang sesuai menunjukkan tingkat kontaminasi mendekati nol. Kriteria untuk menilai keadaan aseptik adalah sebagai berikut: Bila pengisian kurang dari 5000 unit, tidak akan ada unit terkontaminasi yang akan terdeteksi. - Satu unit terkontaminasi menyebabkan validasi ulang. Pengisian 5.000 hingga 10.000 unit: - satu unit terkontaminasi harus dilakukan pengujian kembali, serta pembuatan ulang media fill. - Dua unit terkontaminasi menyebabkan validasi ulang.

pengisian lebih dari 10.000 unit: - Satu (1) unit terkontaminasi harus dilakukan pengujian kembali. - Dua (2) unit terkontaminasi dianggap sebagai penyebab untuk validasi ulang. Setiap adanya unit terkontaminasi perlu diadakan pengolahan aseptik ulang yang harus mencakup identifikasi masalah, koreksi, dan validasi ulang. Setiap menjalankan proses validasi diharapakan keadaan invalidation dari proses media fill jarang terjadi.

B. Filtrasi Efikasi Filtrasi adalah metode umum sterilisasi produk obat dalam bentuk larutan. Sebuah sterilisasi filter bertingkat harus divalidasi untuk secara reproduksi dapat menghapus mikroorganisme dari aliran proses, menghasilkan effluent yang steril. Saat ini, filter seperti biasanya memiliki ukuran pori rata rata 0,2 pM atau lebih kecil. Penggunaan filter sterilisasi berlebihan harus dipertimbangkan dalam banyak kasus. Apapun filter atau kombinasi filter yang digunakan, validasi harus mencakup tantangan mikrobiologi untuk mensimulasikan kondisi terburuk produksi untuk bahan yang akan disaring dan hasil tes integritas filter yang digunakan untuk penelitian. Produk bioburden harus dievaluasi ketika memilih penghilang mikroorganisme yang cocok untuk menilai mana mikroorganisme merupakan tantangan terburuk untuk filter. Mikroorganisme Brevundimonas diminuta (ATCC 19146) ketika ditanam dengan baik, dipanen dan digunakan, adalah mikroorganisme tantangan umum untuk filter 0.2 pM karena ukurannya yang kecil (0,3 pM mean diameter). kontrol proses manufaktur harus dirancang untuk meminimalkan bioburden produk tanpa filter. Bioburden solusi massal yang tidak steril harus ditentukan dengan tren karakteristik yang berpotensi mencemari organisme. Dalam kasus tertentu, bila dianggap setara atau lebih baik dari penggunaan B. diminuta mungkin tepat untuk melakukan studi retensi bakteri dengan bioburden isolat. Jumlah mikroorganisme dalam tantangan penting karena filter dapat berisi sejumlah pori-pori lebih besar dari rating nominal, yang memiliki potensi untuk memungkinkan bagian dari mikroorganisme. Probabilitas dari bagian tersebut dianggap meningkat karena jumlah organisme (bioburden) dalam material yang akan disaring menjadi meningkat. Konsentrasi tantangan minimal 107 organisme per cm2 area filtrasi efektif umumnya harus digunakan, sehingga tidak ada bagian dari mikroorganisme tantangan. Tantangan Konsentrasi yang digunakan untuk validasi dimaksudkan untuk memberikan margin of safety jauh melampaui apa yang diharapkan dalam produksi. inokulasi langsung ke dalam rumusan obat adalah metode yang disukai karena memberikan penilaian terhadap pengaruh produk obat pada filter matriks dan pada organisme tantangan. Namun, langsung inokulasi diminuta B. menjadi produk dengan aktivitas