Anda di halaman 1dari 28

DAFTAR ISI

Daftar isi ....... 1 BAB I : Pendahuluan ........ 2

BAB II : Pembahasan Kasus............................................................................ 3 BAB III : Tinjauan pustaka ........ 10 BAB III : Penutup .......... 26 Daftar Pustaka ... 27

BAB I PENDAHULUAN
Selaput ketuban yang membatasi rongga amnion terdiri atas amnion dan korion yang sangat erat kaitannya. Lapisan ini terdiri atas beberapa sel seperti sel epitel, sel mesenkim, dan sel trofoblas yang terikat erat dalam matriks kolagen. Selaput ketuban berfungsi menghasilkan air ketuban dan melindungi janin terhadap infeksi. Dalam keadaan normal, selaput ketuban pecah dalam proses persalinan. Ketuban Pecah Dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan. Bila Ketuban Pecah Dini terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu disebut Ketuban Pecah Dini pada kehamilan prematur. Ketuban Pecah Dini prematur sering terjadi pada polihidroamnion, inkompeten serviks, solusio plasenta. Ketuban Pecah Dini pada kehamilan prematur disebabkan oleh adanya faktor-faktor eksternal, misalnya infeksi yang menjalar dari vagina. 1 Kami memiliki salah satu contoh kasus seorang wanita hamil yang mengalami ketuban pecah dini yang akan kami bahas pada bab selanjutnya

BAB II LAPORAN KASUS


Seorang wanita hamil, 26 tahun, saat ini kehamilan pertama, datang atas rujukan bidan ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Bersalin Trisakti untuk memeriksakan kehamilan. Pasien datang dengan keluhan keluar air-air sejak 4 jam sebelum masuk rumah sakit. Gerakan janin dirasakan masih aktif dan pasien merasa mules sekali. Pasien punya riwayat haid teratur dengan HPHT (hari pertama haid terakhir) 14 Januari 2011. Demam disangkal. Riwayat keputihan sejak awal kehamilan yang makin berat beberapa minggu terakhir. Status generalis dalam batas normal Status obstetric : fundus uteri 27 cm, kontraksi ireguler, denyut jantung janin 150 dpm, inspeksi vulva uretra tenang, inspekulo tampak flour albus, dibersihkan, ostium tertutup dan tampak cairan merembes dari ostium, dilakukan tes lakmus dengan hasil positif USG : tampak air ketuban berkurang dengan indek cairan amnion 7,2 cm. Laboratorium masih dalam batas normal Selama 4 hari perawatan, ibu menderita demam dan gerakan janin dirasa berkurang. Keluhan keluar air-air masih dirasakan. Status generalis : nadi 97x/menit, suhu 38,9 C, lain-lain dalam batas normal Status obstetrik : palpasi uterus nyeri, kontraksi ireguler, denyut jantung janin 162 dpm.

Inspekulo masih tampak cairan ketuban mengalir dari ostium, belum ada pembukaan portio. Anamnesis sebelum perawatan Dilakukan dengan autoanamnesis Identitas Nama Jenis Kelamin Usia Pekerjaan Alamat Agama Suku Bangsa Keluhan utama :: Wanita : 26 tahun ::::: 1. Keluar air-air sejak 4 jam sebelum masuk rumah sakit 2. Pasien merasa mules sekali Anamnesis Lanjutan : Riwayat Penyakit Sekarang Sejak kapan keluhan mulai timbul? Apakah disertai dengan penyakit lain?

Riwayat Penyakit Dahulu

Apakah pernah mengalami trauma?

Riwayat Pengobatan Apakah pernah dikonsultasi ke dokter lain sebelumnya?

Riwayat Kehamilan Apakah pasien suka merokok atau mengkonsumsi alkohol? Apakah ada riwayat infeksi? Berapa umur ibu saat mengandung? Bagaimana gizi saat mengandung?

Dari hasil anamnesis, diketahui bahwa : Riwayat penyakit Riwayat kehamilan Riwayat haid teratur dengan HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir) 14 Januari 2011

Pemeriksaan fisik Status generalis o Kesadaran : compos mentis o Tanda Vital : Suhu tubuh Tekanan Nadi Tekanan Darah Pernapasan o Status Gizi : Berat Badan Tinggi Badan : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal

o Mata o Mulut o Leher o Thoraks :

: Kontak mata baik : dalam batas normal : dalam batas normal

Jantung Paru Abdomen o Extremitas : dalam batas normal Status obstetrik o Fundus uteri 27 cm o Kontraksi ireguler o Denyut jantung janin 150 dpm o Inspeksi vulva uretra tenang

: dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal

o Inspekulo tampak fluor albus, dibersihkan o Ostium tertutup dan tampak cairan merembes dari ostium o Dilakukan tes lakmus dengan hasil positif (Nitrazin test, lakmus merah menjadi biru) Pemeriksaan laboratorium Masih dalam batas normal

Pemeriksaan penunjang USG o Air ketuban tampak berkurang o Indek cairan amnion 7,2 cm

Diagnosis Kerja Ketuban pecah dini dengan infeksi intrauterin karena pasien datang dengan keluhan keluar air-air sejak 4 jam sebelum masuk rumah sakit. Dari pemeriksaan obstetrik, tampak cairan yang merembes dari ostium dan diperkuat dengan hasil positif dari tes lakmus serta dengan USG (Ultrasonografi) air ketuban tampak berkurang dengan indek cairan amnion 7,2 cm. Infeksi intrauterin karena saat dilakukan inspekulo, tampak adanya flour albus.

Anamnesis setelah perawatan Riwayat penyakit Keluhan Ibu menderita demam Gerakan janin dirasa berkurang Keluhan keluar air-air masih dirasakan

Pemeriksaan fisik Status generalis o Nadi 97x/menit o Suhu 38,9 C o Lain-lain dalam batas normal Status obstetrik o Palpasi uterus nyeri o Kontraksi ireguler

o Denyut jantung janin 162 dpm o Inspekulo masih tampak cairan ketuban mengalir dari ostium o Belum ada pembukaan portio. Pemeriksaan laboratorium tambahan Kultur darah Cairan amnion

Pemeriksaan penunjang tambahan Ultrasound Kardiotokografi

Diagnosis kerja Ketuban Pecah Dini dengan infeksi intra uterin dan menyebabkan korioamnionitis, karena setelah pasien dirawat selama 4 hari, ibu menderita demam dan gerakan janin yang dirasakan berkurang serta masih terdapat keluhan keluar air-air. Denyut jantung janin 162 dpm (normal : 120-160 dpm). Penatalaksanaan Untuk ibu : Pada usia kehamilan 32-37 minggu berikan steroid untuk memacu kematangan paru janin, dan bila memungkinkan periksa kadar lesitin dan spingomielin setiap minggu. Segera janin dilahirkan dengan memberikan induksi kepada ibu bila janin presentasi kepala. Pemberian antibiotika sesegera mungkin.

Berikan uterotonika supaya kontraksi uterus baik pascapersalinan. Hal ini mencegah/menghambat invasi mikroorganisme melalui sinus-sinus pembuluh darah pada uterus.

Untuk bayi (setelah dilahirkan) : Untuk bayi premature, resusitasi dapat diberikan karena paru-parunya yang belum dapat berkembang dengan sempurna karena kurangnya surfaktan. Beri pengawasan pada pernafasan, frekuensi jantung, dan warna kulit karena penting untuk mengetahui apakah bayi terkena sianosis atau tidak. Hindari keadaan dingin untuk mencegah hipotermia dengan memberikan suasana hangat. Dapat menggunakan cara KANGURU. Membuat perencanaan mengenai pengobatan dan asupan cairan. Cairan dapat dipenuhi dengan pemberian ASI yang lebih sering melalui sonde atau dipasang infus. Prognosis Adapun prognosis yang diharapkan adalah dubia ad bonam, baik untuk ibu maupun janin karena dengan menerapkan management yang segera dan tepat, resiko infeksi bisa diminimalisir. Pada kasus KPD preterm, prognosisnya baik pada usia kehamilan >32 minggu sepanjang tidak ada komplikasi yang menyertai seperti malformasi kongenital.

BAB III TINJAUAN PUSTAKA


Dari kasus diatas, permasalahan pada pasien ini adalah pasien yang datang dengan keluhan keluar air-air sejak 4 jam sebelum masuk rumah sakit disertai mules sekali. Pasien memiliki riwayat keputihan sejak awal kehamilan yang makin berat beberapa minggu terakhir, tinggi fundus uteri 27 cm, tampak flour albus saat inspekulo, saat dilakukan tes lakmus didapatkan hasil positif, tampak cairan merembes dari ostium serta tampak air ketuban berkurang dengan indek cairan amnion 7,2 cm. Diagnosis untuk pasien ini adalah korioamnionitis yang disebabkan ketuban pecah dini dan infeksi intrauterin.

Pada ketuban pecah dini, terdapat berbagai penyebab yang mempunyai dimensi multifaktorial seperti adanya serviks inkompeten, adanya ketegangan rahim berlebihan; kehamilan ganda, hidramnion, terdapat kelainan letak janin dalam rahim, letak sunsang, letang lintang, ibu memiliki kemungkinan kesempitan panggul : perut gantung, bagian terendah belum masuk PAP, sepalopelvik disproforsi, terdapat kelainan bawaan dari selaput ketuban dan adanya infeksi yang menyebabkan terjadi proses biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga menyebabkan ketuban pecah.2

Ketuban pecah dini berhubungan dengan kelemahan menyeluruh membrane fetal akibat kontraksi uteri dan peregangan berulang. Membran yang mengalami rupture premature ini tampak memiliki defek fokal dibanding kelemahan menyeluruh. Daerah dekat tempat pecahnya membrane ini disebut restricted zone of extreme altered morphology yang ditandai dengan adanya pembengkakan dan kerusakan jaringan kolagen fibrilar pada lapisan kompakta, fibroblast maupun spongiosa. Daerah ini akan muncul sebelum ketuban pecah dini dan merupakan daerah breakpoint awal. Patogenesis terjadinya

10

ketuban pecah dini secara singkat ialah akibat adanya penurunan kandungan kolagen 8 dalam membrane sehingga memicu terjadinya ketuban pecah dini dan ketuban pecah dini pada preterm terutama pada pasien risiko tinggi. 3,4 Patofisiologi dalam kasus ketuban pecah dini ini disebabkan oleh karena berkurangnya membran atau meningkatnya tekanan intra uterin. Kemungkinan tekanan intra uteri yang kuat adalah penyebab independen dari Ketuban Pecah Dini. Selaput ketuban yang tidak kuat akibat kurangnya jaringan ikat dan vaskularisasi akan mudah pecah dengan mengeluarkan air ketuban. Mekanisme terjadinya Ketuban Pecah Dini yaitu selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan vaskularisasi pada ketegangan rahim. Ketuban pecah dini juga dapat terjadi bila terjadi pembukaan servik maka selaput ketuban sangat lemah dan mudah pecah mengeluarkan air ketuban Pengaruh ketuban pecah dini pada ibu dan janin : 1. Pengaruh terhadap Janin Pecahnya selaput ketuban sebelum aterm merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas perinatal. Mortalitas pada bayi preterm adalah 30%. Pecahnya selaput ketuban menyebabkan terbukanya hubungan intra uterin dengan ekstra uterin, dengan demikian mikroorganisme dengan mudah masuk dan menimbulkan infeksi intra partum apabila ibu sering diperiksa dalam, infeksi puerpualis, peritonitis dan sepsis. Ketuban pecah dini menyebabkan hubungan langsung antara dunia luar dan ruangan dalam rahim, sehingga memudahkan terjadinya infeksi asenden. Makin lama periode laten makin makin besar kemungkinan infeksi dalam rahim, persalinan prematuritas dan selanjutnya meningkatkan kejadian kasakitan dan kematian janin dalam rahim. Ketuban pecah pada kondisi kepala janin belum masuk panggul mengikuti aliran air ketuban, akan terjepit antara kepala dan dinding panggul, keadaan sangat berbahaya

11

bagi janin. Dalam waktu singkat janin akan mengalami hipoksia hingga kematian janin dalam kandungan (IUFD). Pada kondisi ini biasanya kehamilan segera diterminasi. Bayi yang dilahirkan jauh sebelum aterm merupakan calon untuk terjadinya repiratory distress sindroma (RDS). Hipoksia dan asidosis berat yang terjadi sebagai akibat pertukaran oksigen dan karbondioksida alveoli-kapiler tidak adekuat, terbukti berdampak sangat fatal pada bayi. Selain itu, beberapa bayi yang mampu hidup setelah distress nafas yang berat dapat menderita gangguan pertumbuhan dan perkembangan. 2. Pengaruh terhadap Ibu Korioamnionitis terjadi lebih sering pada wanita dengan KPD preterm dibandingkan KPD aterm (26% preterm berbanding 6,7% term). Pecahnya selaput ketuban menyebabkan terbukanya hubungan intra uterin dengan ekstra uterin, dengan demikian mikroorganisme dengan mudah masuk dan menimbulkan infeksi intra partum apabila ibu sering diperiksa dalam, infeksi puerpualis, peritonitis dan sepsis. KPD yang diakhiri dengan persalinan spontan sering terjadi partus lama, atonia uteri dan perdarahn post partum. Pada ibu yang menjalani terapi konservatif, sering merasa lelah dan bosan berbaring di tempat tidur, gangguan emosi berupa kecemasan dan kesedihan. Informasi dan dukungan dari petugas kesehatan, keluarga terutama suami akan sangat membantu ibu menjaga kestabilan emosinya.5

Kehamilan Preterm Kehamilan preterm adalah suatu kehamilan yang terjadi pada seorang wanita dengan usia kehamilan antara 20 minggu sampai 37 minggu, sedangkan persalinana pretem atau kurang bualan didefinisikan sebagai masa kehamilan yang terjadi sesudah 20 minggu dan sebelum genap 37 minggu. Karakteristik untuk bayi prematur adalah

12

berat lahir sama dengan atau kurang dari 2500 gram, panjang badan kurang atau sama dengan 45 cm, lingkaran dada kurang dari 30 cm, lingkaran kepala kurang dari 33 cm, dan umur kehamilan kurang dari 37 minggu.

Penatalaksanaan Ketuban Pecah pada Kehamilan Preterm

Segera periksakan diri ke dokter jika ibu mendapati ada tetesan atau cairan yang mengalir keluar dari vagina sebab pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter akan menentukan apakah janin masih bisa tetap tinggal di dalam rahim atau sebaliknya. Umumnya setelah ketuban pecah, dokter akan memantau kondisi ibu dan janin. Bila ditemukan air ketuban yang banyak dan jernih, berarti keadaan janin masih baik sehingga ibu hamil bisa terus melanjutkan kehamilannya.

Berikut ini beberapa kondisi kehamilan dengan pengobatan yang berbeda:

1. Jika kehamilan kurang dari 38 minggu akan dilakukan metode konservatif. Ibu hamil diwajibkan istirahat, dibantu dengan pemberian obat-obatan yang tidak menimbulkan kontraksi, biasanya melalui infus. 2. Bila si bayi belum cukup besar, dokter akan memberikan obat-obatan untuk mematangkan paru-parunya agar jika terpaksa dilahirkan, janin sudah siap hidup di luar rahim ibunya. Kecuali itu, ibu pun akan diberi antibiotika untuk mencegah infeksi. 3. Ibu hamil harus bed rest untuk mencegah air ketuban keluar dalam jumlah lebih banyak. Sementara itu, lapisan kantung yang sebelumnya terbuka pun akan menutup kembali. Cairan ketuban akan dibentuk kembali oleh amnion, sehingga janin bisa tumbuh lebih matang lagi.

13

4. Untuk sementara waktu, berhentilah melakukan hubungan seksual bila ada indikasi yang menyebabkan ketuban pecah dini, seperti mulut rahim yang lemah. 5. Begitu mengetahui ada rembesan cairan dari vagina segera gunakan pembalut yang dapat menyerap air ketuban. Penggunaan pembalut ini pun berguna untuk memudahkan Anda membedakan cairan ketuban dengan cairan lain dari bau serta warnanya.6

Mekanisme kortikosteroid dalam mensintesis surfaktan Surfaktan sangat penting dalam mengurangi tegangan permukaan alveoli sehingga memungkinkan manusia bernafas dengan normal tanpa terjadinya kolaps pada alveoli. Pada bayi yang terlahir secara premature, paru-paru bayi belum terbentuk secara sempurna dikarenakan paru-paru bayi yang premature belum memiliki surfaktan sehingga bayi tersebut akan mengalami kesulitan bernapas. Untuk mengatasi hal tersebut, dapat diberikan kortikosteroid (zat yang memicu pematangan paru janin) sebelum dilakukan persalinan. Ternyata mekanisme terbentuknya surfaktan yang dipicu oleh kortikosteroid bukanlah proses yang sederhana. Mekanisme pembentukkan surfaktan dari kortikosteroid secara sederhana melibatkan sintesis protein yang terjadi di dalam sel alveolar tipe 2. Kemudian protein-protein tersebut membentuk sebuah fosfolipid dan substrat surfaktan tersebut di simpan dalam badan lamellar sebelum pada akhirnya di transport keluar secara eksositosis ke alveolus untuk melapisinya. 7

14

Gambar : Mekanisme kortikosteroid dalam mensintesis surfaktan Infeksi Intrauterine Infeksi intrauterin (IIU) adalah infeksi yang terjadi di dalam rahim pada kehamilan.Infeksi bakteri dalam rahim dapat terjadi di antara jaringan maternal dan jaringan janin (didalam ruang koriodesidual), di dalam membrane janin

(korioamnionitis), di plasenta, didalam cairan amnion (amnionitis), di tali pusat (funisitis), atau di janin itu sendiri. Infeksi intrauterine di dalam literature terutama dikaitkan dengan infeksi intraamnion (IIA).Berdasarkan ada atau tidaknya tanda dan gejala klinis dan hasil dari uji diagnostik, IIU dapat dibagi menjadi sub grup infeksi klinis atau subklinis, dan/atau korioamnionitis histologik (yang dapat bersifat

noninfeksi).8

15

Gambar : Lokasi potensial infeksi bakteri di dalam uterus8

Epidemiologi Insiden IIU yang dilaporkan umumnya bervariasi namun semuanya menunjukkan adanya penurunan kejadian seiring tuanya usia kehamilan. Variasi dari insiden diakibatkan oleh beberapa faktor, diantaranya diakibatkan oleh beberapa faktor, yaitu perbedaan beberapa faktor risiko populasi dan perbedaan kriteria diagnostik yang dipakai (klinik versushistologik). Prevalensi IIU paling tinggi pada kelahiran prematur. Salah satu studi

menunjukkaninsiden IIU pada wanita dengan ketuban pecah dini (KPD) pada usia kehamilan di bawah 27minggu, 28 sampai 36 minggu, dan kehamilan aterm adalah berturut-turut 41%, 15%, dan2%. IIU dijumpai pada sepertiga kasus kelahiran

prematur dengan selaput ketuban utuh dan40% kasus ketuban pecah dini prematur yang datang dengan kontraksi.

16

Etiologi Pada wanita yang menjalani persalinan prematur spontan dengan ketuban yang utuh, bakteri yang paling sering menyebabkan infeksi intrauterin adalah Ureaplasma urealyticum, Mycoplasma hominis, Gardnerella vaginalis, peptostreptokokus, dan spesies bakterioides. Itusemua adalah organism vagina yang virulensinya relatif rendah. Bakteri yang paling sering diasosiasikan dengan korioamnionitis dan infeksi janin setelah ketuban pecah adalah Neisseria gonorrhea dan Chlamydia trachomatis sedangkan streptokokus grup B dan Escherechia coli hanya ditemukan kadang-kadang.

Faktor Risiko Semua faktor yang meningkatkan risiko pajanan berkepanjangan ketuban janin dan/atau rongga uterus terhadap mikroba dari vagina akan meningkatkan risiko IAI. Faktor-faktor ini meliputi nuliparitas (karena nuliparitas akan meningkatkan lama waktu persalinan), persalinan prematur, ketuban pecah dini, pemeriksaan vagina dengan jari, kateter intrauterin, dan infeksi urogenital (terutama infeksi vagina atau serviks, termasuk infeksi menular seksual(IMS). Terdapat bukti bahwa mekonium di dalam cairan amnion juga meningkatkan risiko infeksi ibu dan/atau korioamnionitis, mungkin dengan cara menekan respon imun ibu atau dengan mengganggu komposisi cairan ketuban dengan cara menurunkan pertahanannya terhadap mikroba. Terdapat faktor risiko tambahan seperti penyakit kronis ibu, status nutrisi ibu, danstres emosional, semua hal tersebut bisa meningkatkan kerentanan wanita terhadap infeksidengan cara mempengaruhi fungsi sistem imun. Hubungan pasti antara faktorfaktor risikotersebut, imunitas ibu, dan IAI, merupakan hal yang kompleks dan masih diteliti. Ketika membicarakan faktor risiko, penting untuk diingat bahwa persalinan

17

prematur dan ketuban pecah dini prematur tidak hanya dapat menjadi faktor risiko, namun juga dapat menjadi penyebab infeksi intrauterin.

Patofisiologi dan Patogenesis Rute paling sering yang menyebabkan infeksi intrauterin adalah bakteri dari traktus genitalia bawah. Rute ini terjadi paling sering jika ada ketuban pecah, namun juga bisa terjadi pada ketuban yang intak. Infeksi intra amnion biasanya disebabkan oleh banyak bakteri (polimikroba) dan mayoritas kasus disebabkan oleh kombinasi organisme aerob dan anaerob. Patogen yang paling sering diisolasi dari cairan ketuban pasien dengan IIA adalah bakteri yang merupakan flora vagina, termasuk Ureaplasma urealyticum, Gardnerella vaginalis, Bacterioides bividus, streptokokus grup A, B, dan D, termasuk infeksi hematohen atau transplasenta, infeksi retrograde dari pelvis, dan infeksi transuterin yang disebabkan oleh prosedur medis, seperti amniosentesis, pengambilan sampel dari vili korion, namun rute-rute tersebut jarang menjadi rute IIU.

Ketika bakteri-bakteri tersebut berkolonisasi di dalam rongga uterus, bakteri tidak hanya dapat menginfeksi namun juga dapat melepaskan endotoksin, yang, dalam jumlah yang cukup, dipercaya menginisiasi respon inflamasi ibu dan janin yang bisa menghasilkan ketuban pecah dini (KPD), persalinan prematur, dan kerusakan

neurologik pada janin. Secara singkat, respon inflamasi ini dipercaya berlanjut sebagai berikut: endotoksin bakteri memicu pelepasan sitokin-sitokin pada jaringan ibu dan janin yang menyebabkan pelepasan sitokin-sitokin lain, migrasi leukosit, dan pelepasan prostaglandin dari miometrium dan ketuban. Pelepasan prostaglandin ini, yang dapat menyebabkan ketuban pecah dan/atau inisiasi kontraksi uterus, dipercaya

18

merupakan mekanisme (atau salah satu mekanisme) IIA yang merupakan penyebab langsung persalinan premature. Pada wanita dengan kultur ketuban positif, ditemukan interleukin-6 dalam konsentrasi yang besar. Penemuan ini bisa menjelaskan mengapa wanita dengan kultur cairan ketuban yang negative namun memiliki konsentrasi sitokin yang tinggi di dalam cairan ketuban resisten terhadap obat-obat antokolisis. Rupanya, wanita-wanita ini sering memiliki infeksi pada korioamnion, lokasi dimana kultur tidak mungkin untuk dilakukan sebelum persalinan. 9

Tanda dan Gejala Klinis Diagnosis IAI umumnya dibuat berdasarkan gejala klinis, khususnya pada ibu yangdemam tanpa ada sebab yang jelas. Gejala lainnya termasuk takikardia ibu dan janin, nyeri pada uterus, cairan amnion yang purulen atau berbau tidak sedap.

Menurut WHO, bayi prematur adalah bayi yang dilahirkan sebelum 37 minggu dri HPHT. Adapun pembagian bayi prematur berdasarkan usia kelahiran dan berat badan bayi, yaitu 1. Sangat Prematur 2. Prematur sedang 3. Prematur borderline : 22 - 30 minggu dengan berat badan 1000 1500 gr : 31 36 minggu dengan berat badan 1500 2000 gr : 38 38 minggu dengan berat badab 2000 2499 gr

Selain itu ada beberapa tanda-tanda dari bayi prematur seperti panjang badan kurang dari 45 cm, lingkar dada kurang dari 30 cm dan lingkar kepala kurang dari 33 cm sehingga kepala relatif lebih besar dari badan, kulit tipis dan transparan, terlihat gerakan peristaltik usus, refleks tonik leher lemah, tangisan lemah dan jarang,

19

hipotermia, hiperbilirubinemia, apnoe, sistem Imun belum terbentuk sempurna, sistem saraf otonom belum sempurna sehingga menyebabkan bradikardi dan kejang, terdapat lanugo di eksremitas dan bahu, tulang tengkorak lunak. Pada perempuan terlihat klitoris lebih besar sedangkan pada laki laki testis belum turun serta scrotum yang kecil. Tatalaksana untuk Bayi preterm Dalam ruang bersalin: 1. Ruang bersalin harus berada di rumah sakit dengan peralatan dan staf yang memadai. Resusitasi dan stabilisasi memerlukan tersedianya staf yang memiliki kualifikasi dan peralatan dengan segera 2. Oksigenasi yang memadai dan dipertahankannya suhu merupakan hal yang sangat penting

Di unit asuhan neonatus : 1. Pengaturan suhu untuk pencapaian lingkungan suhu netral sesuai dengan prosedur 2. Terapi oksigen dan bantuan ventilasi 3. Terapi cairan dan elektrolit untuk menggantikan insensible water loss dalam jumlah besar yang dan mempertahankan hidrasi yang baik serta konsentrasi glukosa dan elektrolit plasma normal

Nutrisi pada bayi preterm mungkin memerlukan cara pemberian makan gavage atau nutrisi parenteral

20

Hiperbilirubinemia biasanya dapat diatasi secara efektif dengan memonitor kadar bilirubin secara hatihati dan menggunakan fototerapi, transfusi tukar hati mungkin diperlukan dalam kasus berat

Antibiotik

spektrum

luas

harus

dimulai

ketika

dicurigai

adanya

infeksi,

pertimbangkan pemberian antibiotic antistafilokokus pd BBLSR yang telah mengalami berbagai prosedur / telah lama dirawat di Rumah Sakit.

Tata laksana bayi Pertumbuhan Janin Terhambat Di ruang bersalin 1. Siapkan resusitasi untuk mencegah HIE (Hipoxic-Ischemic Encephalopathy) Hipoksia Otak dan iskemia akibat hipoksemia sistemik, mengurangi aliran darah serebral (CBF), atau keduanya adalah proses fisiologis utama yang menyebabkan hipoksia iskemik ensefalopati 2. Memberikan lingkungan dengan suhu yang sesuai 3. Penilaian awal usia kehamilan 4. Menilai fitur dismorfik dan anomali congenital 5. Periksa glukosa

Di ruang Bayi 1. Memberikan lingkungan dengan suhu yang sesuai dan memeriksa suhu setiap 4 jam (lebih sering untuk bayi prematur) Hipotermia terjadi karena menurunnya lemak subkutan dan meningkatnya luas permukaan tubuh. Lebih jauh lagi, hipoglikemia dan hipoksia mempengaruhi produksi panas tubuh

21

2. Periksa Hb dan rawat polisitemia Polisitemia - Akibat dari meningkatnya kadar eritropoietin sekunder yang mengarah pada hipoksia janin. Polisitemia bisa mengakibatkan hipoglikemia dan mengarah pada cedera otak 3. Periksa glukosa setiap 4 jam pada hari pertama dan setiap 8-12 jam jika stabil. Hipoglikemia terjadi karena menurunnya cadangan glikogen dan menurunnya kapasitas glukoneogenesis. Hipotermia berpotensi menjadi masalah hipoglikemia. Terjadi selama 3 hari pertama 4. Pemberian minum dini jika memungkinkan, tapi jika tidak,segera mulai cairan intravena 5. Periksa toleransi bayi terhadap pemberian minum (risiko NEC(Necrotizing Enterocolitis) Necrotizing enterocolitis (NEC) yang ditandai dengan terjadinya nekrosis pada lapisan mukosa intestinal atau bahkan pada lapisan yang lebih dalam umumnya di ileum terminalis, utamanya merupakan suatu penyakit yang terjadi pada bayi-bayi prematur. Tetapi pada bayi yang lahir aterm, penyakit jantung kongenital merupakan faktor predisposisi terhadap kondisi ini. 10

Perbedaan bayi premature dan bayi IUGR Bayi premature memiliki pengertian bayi yang terlahir dalam usia kurang dari 37 minggu. Sedangkan bayi IUGR (Intra Uterine Growth Restriction) memiliki pengertian bayi yang terlahir dengan berat badan yang kurang dari nilai normal berat badan bayi seusianya (baik itu terlahir preterm, term, maupun postterm). Kedua jenis keadaan di atas tentu dapat menyebabkan BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah) karena pada bayi yang premature, berat badannya lebih rendah daripada anak yang cukup bulan, sebaliknya pada bayi IUGR bayi memiliki berat badan yang lebih rendah

22

daripada bayi seusianya. Untuk lebih memahami perbedaan antara bayi premature dan IUGR, dapat dilihat tabel berikut:11 Bayi premature Bayi IUGR

Sesuai dengan nilai normal Di bawah nilai normal berat Berat badan berat badan bayi seusianya badan bayi seusianya Dapat preterm, term, dan Waktu kelahiran Preterm postterm Dapat matang ataupun tidak, Kematangan organ Belum matang tergantung usia kelahirannya Tabel : Perbedaan antara bayi prematur dengan bayi IUGR Penyebab Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT) Pada umumnya 75% janin dengan PJT memiliki proporsi tubuh yang kecil, 15-25% terjadi karena insufisiensi uteroplasenta, 5-10% terjadi karena infeksi selama kehamilan atau kecacatan bawaan. 1. Penyebab ibu a. Fisik ibu yang kecil dan kenaikan berat badan yang tidak adekuat Faktor keturunan dari ibu dapat mempengaruhi berat badan janin. Kenaikan berat tidak adekuat selama kehamilan dapat menyebabkan PJT. Kenaikan berat badan ibu selama kehamilan sebaiknya 9-16 kg. Apabila wanita dengan berat badan kurang harus ditingkatkan sampai berat badan ideal ditambah dengan 10-12 kg b. Penyakit ibu kronik Kondisi ibu yang memiliki hipertensi kronik, penyakit jantung sianotik, diabetes melitus dapat menyebabkan PJT. Semua penyakit ini dapat menyebabkan pre-eklampsia yang dapat membawa ke PJT

23

Gangguan Penyakit jantung sianotik

Pengaruh

Mekanisme janin dengan

Retardasi pertumbuhan Persalinan intrauteri

oksigen yang rendah

Diabetes melitus Ringan Besar menurut umur Hiperglikemia kehamilan, hipoglikemia menghasilkan hiperinsulinemia; insulin janin-

mendorong pertumbuhan Berat Retardasi pertumbuhan Penyakit insufisiensi plasenta Hipertensi kronik Retardasi pertumbuhan Insufisiensi plasenta, hipoksia intrauteri, janin intrauteri Tabel : Penyakit ibu yang mengenai janin atau neonatus 12 c. Kebiasaan seperti merokok, minum alkohol, dan narkotik kematian janin vaskular,

2. Penyebab janin a. Infeksi selama kehamilan Infeksi bakteri, virus, protozoa dapat menyebabkan PJT. Rubela dan cytomegalovirus (CMV) adalah infeksi yang sering menyebabkan PJT b. Kelainan bawaan dan kelainan kromosom. Kelainan kromosom seperti trisomi atau triploidi dan kelainan jantung bawaan yang berat sering berkaitan dengan PJT. Trisomi 18 berkaitan dengan PJT simetris serta polihidramnion (cairan ketuban berlebih). Trisomi 13 dan sindroma Turner juga berkaitan dengan PJT

24

c. Pajanan teratogen (zat yang berbahaya bagi pertumbuhan janin) Berbagai macam zat yang bersifat teratogen seperti obat anti kejang, rokok, narkotik, dan alkohol dapat menyebabkan PJT 3. Penyebab plasenta (ari-ari) a. Kelainan plasenta sehingga menyebabkan plasenta tidak dapat

menyediakan nutrisi yang baik bagi janin seperti, abruptio plasenta, infark plasenta (kematian sel pada plasenta), korioangioma, dan plasenta previa b. Kehamilan kembar c. Twin-to-twin transfusion syndrome

25

BAB III PENUTUP Sebagaimana yang telah dibahas di atas, 1. Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung dan satu jam setelahnya tidak diikuti oleh tanda-tanda inpartu 2. KPD merupakan masalah penting dalam obstetri berkaitan dengan penyulit kelahiran premature karena akan merangsang persalinan lebih awal dan terjadinya infeksi khorioamnitis sampai sepsis, yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal dan menyebabkan infeksi pada ibu 3. KPD merupakan proses yang multifaktorial dan disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran atau meningkatnya tekanan intrauterin atau akibat trauma. 4. Penanganan pada KPD terutama bertujuan untuk mengurangi risiko infeksi intrauterine dan mempertahankan janin hingga aterm. Penatalaksanaannya

memerlukan pertimbangan usia gestasi, adanya infeksi pada komplikasi ibu dan janin dan adanya tanda-tanda persalinan

Ibu yang sedang hamil juga sebaiknya rajin mengontrol kehamilan pada dokter karena dengan kerja sama antara orang tua dan dokter, dapat tercipta kehamilan yang baik dan juga mencegah terjadinya kehamilan yang premature. Kedepannya dengan kerja sama yang baik antara orang tua dan pihak terkait, akan dapat menciptakan masyarakat

Indonesia yang sehat dan cerdas yang juga merupakan salah satu dari tujuan pembangunan dari bangsa Indonesia.

26

DAFTAR PUSTAKA
1. Prawirohardjo S. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2010. 2. American Pregnancy. Sign of Labor. United State of America : American Pregnancy. Available from: http://www.americanpregnancy.org/labornbirth/signsoflabor.html , Accessed on 17 September 2011. 3. Jazayeri Allahyar. Premature Rupture of Membran.. [Cited 2008 on September 9]: [8 sreens]. Available from: URL:http//www.emedicine.medscape.com. Accessed on 18 September 2011. 4. Parry Samuel and F. strauss Jerome. Premature Rupture of the Fetal Membranes. [Cited 1998 on march 5]: [8 sreens]. Available from: http//www.journal of medicine.com. Accessed on 18 September 2011. 5. Gilbert Steep Elizabeth. Premature Rupture of Membranes. Manual of High Risk Pregnancy Delivery. Ed.4. Elsevier.2003.p: 524-526. 6. Bayisehat.com. Ketuban Pecah Dini (KPD). [Updated June 30, 2008]. Available at: http://www.bayisehat.com/pregnancy-mainmenu-39/182-ketuban-pecah-dinikpd.html. Accessed on 18 September 2011. 7. Ballard PL. Hormonal Regulation of the Surfactant System. In: Monset-Couchard M, Minkowski A, ed. Physiological and Biochemical Basis for Perinatal Medicine. Switzerland: Karger, 1981:42. 8. Goldenberg RL, Hauth JC, Andrews WW. Intrauterine infections and

pretermdelivery. N Engl J Med. 2000; 342:1500-1507. 9. Fahey JO. Clinical management of intra-amniotic infection and chorioamnionitis: areview of literature. J Midwifery Womens Health. 2008;53(3):227-235.

27

10. Departemen Ilmu Kesehatan Anak-Divisi Perinatologi- FK USU. Available at: ocw.usu.ac.id/.../ka_.172_slide_neonatus_kurang_bulan_pertumbuhan_janin_terha mbat.pdf. Accessed on 18 September 2011. 11. Manuaba IBG, Manuaba IAC, Manuaba IBGFF. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC; 2007: 421. 12. Behrman, R, Kliegman, Ervin. A. Nelson WE-editor.200. Nelson Ilmu Kesehatan anak. EGC : Jakarta.

28