Anda di halaman 1dari 20

BAB II ISI MATERI 1.1 Anemia 1.

1 PENGERTIAN Anemia pada kehamilan adalah anemia karena kekurangan zat besi, anemia ini termasuk jenis anemia yang pengobatannya relative mudah. Anemia lebih sering terjadi saat hamil disebabkan karena dalam kehamilan keperluan akan zat zat makanan bertambah dan terjadi pula perubahan perubahan dalam darah (pengenceran darah) dan sum sum tulang. Anemia pada kehamilan merupakan masalah nasional karena mencerminkan nilai kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat, dan pengaruhnya pun sangat besar terhadap sumber daya manusianya. Anemia pada saat kehamilan disebut potential danger to mother and child potensial membahayakan ibu dan anak). Karena itulah anemia memerlukan perhatian serius dari semua pihak yang terkait dalam pelayanan kesehataan. Pada Pengamatan lebih lanjut menunjukan bahwa zat besi yang dapat di atasi melalui pemberian zat besi secara teratur dan peningkatan gizi, khususnya pada daerah pedesaan, karena seringnya dijumpai bumi dengan malnutrisi, persalinan dengan jarak berdekatan, dan bumi yang dengan pendidikan dan tingkat sosial konomi darah. 1.2 Gejala Untuk mengenali adanya anemia kita dapat melihat dengan adanya gejalagejala seperti : keluhan letih, lemah, lesu, dan loyo yang berkepanjangan merupakan gejala khas yang menyertai anemia. Selain gejala-gejala tersebut biasanya juga akan muncul keluhan sering sakit kepala, sulit konsentrasi, mukabibir-kelopak mata tampak pucat, telapak tangan tidak merah, nafas terasa pendek, kehilangan selera makan serta daya kekebalan tubuh yang rendah sehingga mudah terserang penyakit. Jika anemia bertambah berat bisa

menyebabkan stroke atau serangan jantung. Pada hamil muda sering terjadi mual muntah yang lebih hebat. 1.3 Diagonosa Pada Kehamilan Penegakan DX pada kehamilan dapat dilakukan dengan anamnesa, pada anamnesa akan didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusingpusing, mata berkunang kunang, dan muntah lebih sering dan hebat pada kehamilan muda. Sedangkan pemeriksaan HB dan pengawasan HB dapat dilakukan secara sederhana dengan menggunakan alat Hb sahli. Hasil pemeriksaan HB dengan dengan sahli dapat digolongkan sebagai berikut : HB 11 gr % 9 10 gr % 7 8 gr % < 7 gr % Tidak anemia Anemia ringan Anemia sedang Anemia berat

Pemeriksaan darah pada Bumil dilakukan minimal 2 x selama kehamilan, yaitu pada TM I dan TM III. Dengan pertimbangan bahwa sebagian besar Ibu hamil mengalami anemia maka dari itu dilakukan pemberian Preparat Fe sebanyak 90 tablet pada Ibu ibu di Puskesmas maupun pada bidan praktek swasta. 1.4 Bentuk bentuk Anemia Banyak faktor faktor yang mempengaruhi pembentukan darah adalah sebagai berikut : 1. komponen (bahan) yang berasal dari makanan terdiri dari : 1. Protein, glukosa, lemak 2. Vitamin B12, asam falat, Vit C 3. Elemen dasar : Fe, Ion Cu, Zink 2. Sumber sumber tulang a. Kemampuan reabsorpsi usus terhadap bahan yang diperlukan

b.

Umur sel darah merah (eritrosit) terbatas sekitar 120 hari. Sel sel darah

merah yang sudah tua dihancurkan kembali menjadi bahan baku untuk membentuk sel darah yang baru. c. Terjadinya perdarahan yang kronik (menahun) 1 Menstruasi 2 Penyakit yang menyebabkan perdarahan pada wanita seperti mioma uteri, Polip Serviks, penyakit darah. Berdasarkan atas faktor faktor diatas maka anemia dapat digolongkan menjadi : 1. 2. 3. 4. sel darah. Terdapat dua tipe anemia yang dikenal : a. Anemia Gizi Biasanya terjadi akibat adanya defisiensi zat besi yang diperlukan dalam pembentukan dan produksi sel darah merah. Anemia gizi sendiri ada beberapa macam seperti anemia besi, anemia gizi vitamin E, Anemia gizi asam folat, anemia gizi vitamin B12, Anemia gizi vitamin B6. b. Anemia Non Gizi adalah kurang darah yang disebabkan karena adanya perdarahan ( luka, menstruasi, dan lain-lain) atau penyakit darah yang bersifat genetik seperti hemofilia, thalasemia, penyakit ini dapat menimbulkan kondisi anemia. Anemia defisiensi besi, oleh karena tubuh kekurangan zat besi Anemia Megaloblastik, oleh karena kekurangan Vit B12 Anemia Hemolitik, oleh karena pemecahan sel sel darah lebih cepat dari pembentukannya. Anemia Hipoplastik, oleh karena gangguan pembentukan sel

1.5 Penyebab Anemia umumnya disebabkan : a. Kekurangan zat besi, vitamin B6, vitamin B12, vitamin C dan asam folat b. Kerusakan pada sumsum tulang atau ginjal

c. Perdarahan kronik d. Penghancuran sel darah merah e. Kehilangan darah akibat perdarahan dalam atau siklus haid wanita f. Penyakit kronik : TBC, Paru, Cacing Usus g. Penyakit darah yang bersifat genetik : hemofilia. Thalasemia h. Parasit dan penyakit lain yang merusak darah : malaria i. Terlalu sering menjadi donor darah j. Gangguan penyerapan nutrisi (malabsorbsi) k. Infeksi HIV 1.6 Pengaruh Anemia Pada Kehamilan dan Janin Pengaruh anemia terhadap Kehamilan a. Bahaya selama kehamilan Terjadinya Abortus Persalinan Prematur Hambatan terhadap tumbuh kembang janin dalam rahim Mudah terjadinya Infeksi Ancaman Dekompensasi Cordis (jika HB < 6 gr) Mola Hidatidosa Hiperemesis Gravidarum Perdarahan Antepartum KPD ( Ketuban Pecah Dini )

b. Bahaya saat persalinan 1. Gangguan his kekuatan mengejan 2. Pada kala I dapat berlangsung lama dan terjadi partus terlantar 3. Pada kala II berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan dan operasi kebidanan. 4. Pada kala III (Uri) dapat diikuti Retencio Placenta, PPH karena Atonnia Uteri 5. Pada kala IV dapat terjadi pendarahan Post Partum Sekunder

dan Atonia Uteri c. Bahaya pada saat Nifas 1. Terjadi Subinvolusi Uteri yang dapat menimbulkan perdarahan 2. Memudahkan infeksi Puerpurium 3. Berkurangnya pengeluaran ASI 4. Dapat terjadi DC mendadak setelah bersalin 5. Memudahkan terjadi Infeksi mamae 6. Terjadinya Anemia kala nifas 2. Pengaruh Anemia Terhadap Janin

Meskipun janin mampu menyerap berbagai kebutuhan dari Ibunya tetapi jika anemia akan mengurangi kemampuan metabolisme tubuh sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Pengaruh pengaruhnya terhadap janin diantaranya : a. Abortus b. Kematian Interauterin c. Persalinan Prematuritas tinggi d. BBLR e. Kelahiran dengan anemia f. Terjadi cacat kongenital g. Bayi mudah terjadi Infeksi sampai pada kematian h. Intelegensi yang rendah 1.7 Kebutuhan Zat Besi Pada Wanita Hamil Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari pada laki laki karena terjadi menstruasi dengan perdarahan sebanyak kurang lebih 50 cc 80 cc setiap bulan pada wanita dan kehamilan, zat besi yang berkurang sebesar 30 40 mg. Pada saat kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk menambahkan sel darah merah dan membentuk sel darah merah pada janin dan placenta. Semakin sering

wanita hamil dan melahirkan maka akan semakin banyak wanita itu kehilangan zat besi dan menjadi semakin anemis. Gambaran banyaknya kebutuhan zat besi setiap kehamilan : Meningkatkan sel darah Ibu Terdapat dalam placenta Untuk darah janin Jumlah 500 mg Fe 300 mg Fe 100 mg Fe + 900 mg Fe

Jika persediaan Fe minimal, maka disetiap kehamilan akan menguras Fe dan akhirnya menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya. Pada setiap kehamilan relatif mengalami anemia dikarenakan darah Ibu mengalami Hemodilusi (pengenceran) dan meningkatkan volume 38 % - 40 % yang puncaknya pada kehamilan 32 34 mgu. Jumlah pertambahan sel darah 18 % - 30 % dan HB sekitar 19 %. Bila HB sebelum hamil sekitar 11 gr maka dengan terjadinya Hemodilusi akan mengakibatkan anemia fisiologi, dan HB Ibu akan turun menjadi kurang lebih 9,5 10 gr %. Setelah persalinan dengan lahirnya Bayi dan placenta maka akan kehilangan zat besi kurang lebih 900 mg dari perdarahan yang dialami Ibu saat persalinan. Saat laktasi Ibu memerlukan kesehatan jasmani yang optimal sehingga dapat menyiapkan ASI unntuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Dalam keadaan anemia laktasi tidak dapat terlaksana dengan baik maka dari itu sbisa mungkin ibu tidak anemis. 1.8 Pengobatan Anemia dalam Kehamilan Terapi anemia difisiensi besi adalah dengan preparat besi oral atau Perenteral. Contoh terapi oral adalah dengan pemberian preparat besi, diantaranya terosulfat, feroglukonal atau Na Fero bisitrat. Pemberian preparat 60 mg/hari dapat menaikkan kadar HB sebanyak 7 gr % per buah. Efek samping pada traktus gastrointestinal relative kecil pada pemberian preparat Na. fero bisitrat dibandingkan dengan Fero Sulfat.

Kini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50 dengan asam folat untuk poofilaksis anemia . Pemberian preparat parenteral yaitu dengan ferum dextran sebanyak 1000 Mg lebih cepat yaitu 29 %. Pemberian parenteral ini memiliki indikasi : Intoleransi besi pada traktus gastrointestinal, anemia yang berat dan kepatuhan yang buruk, efek samping utama ialah x Alergi, untuk mengetahuinya dapat diberikan dosis 0,5 cc/im dan bila tak ada reaksi dapat diberikan seluruh dosis. 1.9 Penanganan Anemia Dalam Kehamilan Menurut Tingkat Pelayanan Polindes Puskesmas Rumah Sakit Membuat diagnosis: klinik dan rujukan pemeriksaan laboraturium. Memberikan terapi oral: besi 60 mg/hari. Penyuluhan gizi ibu hamil dan menyususi. Membuat diagnosis dan terapi. Menentukan penyakit kronik (TBC, Malaria) dan penanganannya. Membuat diagnosis dan terapi. Diagnosis thalasemia dengan elektroforesis Hb, bila ibu ternyata pembawa sifat, perlu tes pada suami untuk menentukan risiko pada bayi. 2.2 IUFD 2.1 Definisi Kematian janin dalam kandungan adalah kematian janin ketika masingmasing berada dalam rahim yang beratnya 500 gram dan usia kehamilan 20 minggu atau lebih (Achadiat, 2004). Kematian janin dalam kandungan adalah kematian hasil konsepsi sebelum dikeluarkan dengan sempurna dari ibunya tanpa memandang tuanya kehamilan. Kematian dinilai dengan fakta bahwa sesudah dipisahkan dari ibunya janin tidak bernafas atau tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan, seperti denyut jantung, pulsasi tali pusat, atau kontraksi otot (Monintja, 2005)

Sedangkan menurut WHO, kematian janin adalah kematian janin pada waktu lahir dengan berat badan <1000 gram. Menurut Wiknjosastro (2005) dalam buku Ilmu Kebidanan, kematian janin dapat dibagi dalam 4 golongan yaitu : 1. Golongan I : Kematian sebelum masa kehamilan mencapai 20 minggu penuh. 2. Golongan II : Kematian sesudah ibu hamil 20 hingga 28 minggu. foetal death) 4. Golongan IV : Kematian yang tidak dapat digolongkan pada ketiga golongan di atas. 2.2 Etiologi Menurut Mochtar (2004), lebih dari 50% kasus, etiologi kematian janin dalam kandungan tidak ditemukan atau belum diketahui penyebabnya dengan pasti. Beberapa penyebab yang bisa mengakibatkan kematian janin dalam kandungan, antara lain. a. Perdarahan : plasenta previa dan solusio plasenta. b. Preeklampsi dan eklampsia c. Penyakit-penyakit kelainan darah. d. Penyakit infeksi dan penyakit menular e. Penyakit saluran kencing f. Penyakit endokrin: diabetes mellitus g. Malnutrisi Berdasarkan jurnal yang didapatkan tentang stillbirth bahwa penyebab IUFD: 1. Kelainan tabung saraf 2. Pre-eklampsia 3. abruptio plasenta 4. sindrom HELLP 3. Golongan III : Kematian sesudah masa kehamilan lebih 28 minggu (late

5. lahir sungsang 6. infeksi 7. IUGR 2.3 Diagnosis A. Anamnesis a) Ibu tidak merasakan gerakan janin dalam beberapa hari, atau gerakan janin sangat berkurang. b) Ibu merasakan perutnya tidak bertambah besar, bahkan bertambah kecil atau kehamilan tidak seperti biasa. c) Ibu merasakan belakangan ini perutnya sering menjadi keras dan merasa sakitsakit seperti mau melahirkan. B. Inspeksi Tidak kelihatan gerakan-gerakan janin, yang biasanya dapat terlihat terutama pada ibu yang kurus C. Palpasi a. Tinggi fundus lebih rendah dari seharusnya tua kehamilan, tidak teraba gerakan-gerakan janin. b. Dengan palpasi yang teliti, dapat dirasakan adanya krepitasi pada tulang kepala janin. D. Auskultasi Baik memakai stetoskop, monoral maupun dengan doptone tidak terdengar denyut jantung janin (DJJ). E. Reaksi kehamilan Reaksi kehamilan baru negatif setelah beberapa minggu janin mati dalam kandungan. 2.4 Faktor Predisposisi A. Faktor Ibu 1. Umur

Bertambahnya usia ibu, maka terjadi juga perubahan perkembangan dari organ-organ tubuh terutama organ reproduksi dan perubahan emosi atau kejiwaan seorang ibu. Hal ini dapat mempengaruhi kehamilan yang tidak secara langsung dapat mempengaruhi kehidupan janin dalam rahim. Usia reproduksi yang baik untuk seorang ibu hamil adalah usia 20-30 tahun (Wiknjosastro, 2005). Pada umur ibu yang masih muda organ-organ reproduksi dan emosi belum cukup matang, hal ini disebabkan adanya kemunduran organ reproduksi secara umum (Wiknjosastro, 2005). 2. Paritas Paritas yang baik adalah 2-3 anak, merupakan paritas yang aman terhadap ancaman mortalitas dan morbiditas baik pada ibu maupun pada janin. Ibu hamil yang telah melahirkan lebih dari 5 kali atau grandemultipara, mempunyai risiko tinggi dalam kehamilan seperti hipertensi, plasenta previa, dan lain-lain yang akan dapat mengakibatkan kematian janin (Saifuddin, 2002). 3. Pemeriksaan Antenatal Setiap wanita hamil menghadapi risiko komplikasi yang mengancam jiwa, oleh karena itu, setiap wanita hamil memerlukan sedikitnya 4 kali kunjungan selama periode antenatal. a) Satu kali kunjungan selama trimester pertama (umur kehamilan 1-3 bulan) b) Satu kali kunjungan selama trimester kedua (umur kehamilan 4-6 bulan). c) Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (umur kehamilan 7-9 bulan). Pemeriksaan antenatal yang teratur dan sedini mungkin pada seorang wanita hamil penting sekali sehingga kelainan-kelainan yang mungkin terdapat pada ibu hamil dapat diobati dan ditangani dengan segera. Pemeriksaan antenatal yang baik minimal 4 kali selama kehamilan dapat mencegah terjadinya kematian janin dalam kandungan berguna untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan dalam rahim, hal ini dapat dilihat melalui tinggi fungus uteri dan terdengar atau tidaknya denyut jantung janin (Saifuddin, 2002). 4. Penyulit / Penyakit a. Anemia

Hasil konsepsi seperti janin, plasenta dan darah membutuhkan zat besi dalam jumlah besar untuk pembuatan butir-butir darah pertumbuhannya, yaitu sebanyak berat zat besi. Jumlah ini merupakan 1/10 dari seluruh zat besi dalam tubuh. Terjadinya anemia dalam kehamilan bergantung dari jumlah persediaan zat besi dalam hati, limpa dan sumsum tulang. Selama masih mempunyai cukup persediaan zat besi, Hb tidak akan turun dan bila persediaan ini habis, Hb akan turun. Ini terjadi pada bulan kelima sampai bulan keenam kehamilan, pada waktu janin membutuhkan banyak zat besi. Bila terjadi anemia, pengaruhnya terhadap hasil konsepsi salah satunya adalah kematian janin dalam kandungan (Mochtar, 2004). Menurut Manuaba (2003), pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat sahli, dapat digolongkan sebagai berikut : Normal : 11 gr% Anemia ringan : 9-10 gr% Anemia sedang : 7-8 gr% Anemia berat : <7 gr%.

b. Pre-eklampsi dan eklampsi Pada pre-eklampsi terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tekanan darah akan naik, sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifer agar oksigen jaringan dapat dicukupi. Maka aliran darah menurun ke plasenta dan menyebabkan gangguan pertumbuhan janin dan karena kekurangan oksigen terjadi gawat janin (Mochtar, 2004). c. Solusio plasenta Solusio plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya normal terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir. Solusio plasenta dapat terjadi akibat turunnya darah secara tiba-tiba oleh spasme dari arteri yang menuju ke ruang intervirale maka terjadilah anoksemia dari jaringan bagian distalnya. Sebelum ini terjadi nekrotis, spasme hilang darah kembali mengalir ke dalam

intervilli, namun pembuluh darah distal tadi sudah demikian rapuh, mudah pecah terjadinya hematoma yang lambat laun melepaskan plasenta dari rahim. Sehingga aliran darah ke janin melalui plasenta tidak ada dan terjadilah kematian janin (Wiknjosastro, 2005). d. Diabetes Mellitus Penyakit diabetes melitus merupakan penyakit keturunan dengan ciri-ciri kekurangan atau tidak terbentuknya insulin, akibat kadar gula dalam darah yang tinggi dan mempengaruhi metabolisme tubuh secara menyeluruh dan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin. Umumnya wanita penderita diabetes melarikan bayi yang besar (makrosomia). Makrosomia dapat terjadi karena glukosa dalam aliran darahnya, pancreas yang menghasilkan lebih banyak insulin untuk menanggulangi kadar gula yang tinggi. Glukosa berubah menjadi lemak dan bayi menjadi besar. Bayi besar atau makrosomia menimbulkan masalah sewaktu melahirkan dan kadang-kadang mati sebelum lahir (Stridje, 2000). e. Rhesus Iso-Imunisasi Jika orang berdarah rhesus negatif diberi darah rhesus positif, maka antigen rhesus akan membuat penerima darah membentuk antibodi antirhesus. Jika transfusi darah rhesus positif yang kedua diberikan, maka antibodi mencari dan menempel pada sel darah rhesus negatif dan memecahnya sehingga terjadi anemia ini disebut rhesus iso-imunisasi. Hal ini dapat terjadi begitu saja di awal kehamilan, tetapi perlahan-lahan sesuai perkembangan kehamilan. Dalam aliran darah, antibodi antihresus bertemu dengan sel darah merah rhesus positif normal dan menyelimuti sehingga pecah melepaskan zat bernama bilirubin, yang menumpuk dalam darah, dan sebagian dieklaurkan ke kantong ketuban bersama urine bayi. Jika banyak sel darah merah yang hancur maka bayi menjadi anemia sampai akhirnya mati (Llewelyn, 2005). f. Infeksi dalam kehamilan

Kehamilan tidak mengubah daya tahan tubuh seorang ibu terhadap infeksi, namun keparahan setiap infeksi berhubungan dengan efeknya terhadap janin. Infeksi mempunyai efek langsung dan tidak langsung pada janin. Efek tidak langsung timbul karena mengurangi oksigen darah ke plasenta. Efek langsung tergantung pada kemampuan organisme penyebab menembus plasenta dan menginfeksi janin, sehingga dapat mengakibatkan kematian janin in utero (Llewellyn, 2001). g. Ketuban Pecah Dini Ketuban pecah dini merupakan penyebab terbesar persalinan prematur dan kematian janin dalam kandungan. Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan, dan ditunggu satu jam belum dimulainya tanda persalinan. Kejadian ketuban pecah dini mendekati 10% semua persalinan. Pada umur kehamilan kurang dari 34 mninggu, kejadiannya sekitar 4%. Ketuban pecah dini menyebabkan hubungan langsung antara dunia luar dan ruangan dalam rahim, sehingga memudahkan terjadinya infeksi. Salah satu fungsi selaput ketuban adalah melindungi atau menjadi pembatas dunia luar dan ruangan dalam rahim sehingga mengurangi kemungkinan infeksi. Makin lama periode laten, makin besar kemungkinan infeksi dalam rahim, persalinan prematuritas dan selanjutnya meningkatkan kejadian kesakitan dan kematian ibu dan kematian janin dalam rahim (Manuaba, 2003). h. Letak lintang Letak lintang adalah suatu keadaan dimana janin melintang di dalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong berada pada sisi yang lain. Pada letak lintang dengan ukuran panggul normal dan cukup bulan, tidak dapat terjadi persalinan spontan. Bila persalinan dibiarkan tanpa pertolongan, akan menyebabkan kematian janin. Bahu masuk ke dalam panggul sehingga rongga panggul seluruhnya terisi bahu dan bagian-bagian tubuh lainnya. Janin tidak dapat turun lebih lanjut dan terjepit dalam rongga panggul. Dalam usaha untuk mengeluarkan janin, segmen bawah uterus melebar serta menipis, sehingga

batas antara dua bagian ini makin lama makin tinggi dan terjadi lingkaran retraksi patologik sehingga dapat mengakibatkan kematian janin (Wiknjosastro, 2005).

2.4.2. Faktor Janin 1. Kelainan kongenital Kelainan kongenital merupakan kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak kehidupan hasil konsepsi sel telur. Kelainan kongenital dapat merupakan sebab penting terjadinya kematian janin dalam kandungan, atau lahir mati. Bayi dengan kelainan kongenital, umumnya akan dilahirkan sebagai bayi berat lahir rendah bahkan sering pula sebagai bayi kecil untuk masa kehamilannya. Dilihat dari bentuk morfologik, kelainan kongenital dapat berbentuk suatu deformitas atau bentuk malformitas. Suatu kelainan kongenital yang berbentuk deformitas secara anatomik mungkin susunannya masih sama tetapi bentuknya yang akan tidak normal. Kejadian ini umumnya erat hubungannya dengan faktor penyebab mekanik atau pada kejadian oligohidramnion. Sedangkan bentuk kelainan kongenital malformitas, susunan anatomik maupun bentuknya akan berubah. Kelainan kongenital dapat dikenali melalui pemeriksaan ultrasonografi, pemeriksaan air ketuban, dan darah janin (Kadri, 2005). 2. Infeksi intranatal Infeksi melalui cara ini lebih sering terjadi daripada cara yang lain. Kuman dari vagina naik dan masuk ke dalam rongga amnion setelah ketuban pecah. Ketuban pecah dini mempunyai peranan penting dalam timbulnya plasentitis dan amnionitis. Infeksi dapat pula terjadi walaupun ketuban masih utuh, misalnya pada partus lama dan seringkali dilakukan pemeriksaan vaginal. Janin kena infeksi karena menginhalasi likuor yang septik, sehingga terjadi pneumonia kongenital atau karena kuman-kuman yang memasuki peredaran darahnya dan menyebabkan septicemia. Infeksi intranatal dapat juga terjadi dengan jalan kontak

langsung dengan kuman yang terdapat dalam vagina, misalnya blenorea dan oral thrush (Monintja, 2006).

2.4.3. Kelainan Tali Pusat Tali pusat sangat penting artinya sehingga janin bebas bergerak dalam cairan amnion, sehingga pertumbuhan dan perkembangannya berjalan dengan baik. Pada umumnya tali pusat mempunyai panjang sekitar 55 cm. Tali pusat yang terlalu panjang dapat menimbulkan lilitan pada leher, sehingga mengganggu aliran darah ke janin dan menimbulkan asfiksia sampai kematian janin dalam kandungan. 1. Kelainan insersi tali pusat Insersi tali pusat pada umumnya parasentral atau sentral. Dalam keadaan tertentu terjadi insersi tali pusat plasenta battledore dan insersi velamentosa. Bahaya insersi velamentosa bila terjadi vasa previa, yaitu pembuluh darahnya melintasi kanalis servikalis, sehingga saat ketuban pecah pembuluh darah yang berasal dari janin ikut pecah. Kematian janin akibat pecahnya vase previa mencapai 60%-70% terutama bila pembukaan masih kecil karena kesempatan seksio sesaria terbatas dengan waktu (Wiknjosastro, 2005). 2. Simpul tali pusat Pernah ditemui kasus kematian janin dalam rahim akibat terjadi peluntiran pembuluh darah umblikalis, karena selei Whartonnya sangat tipis. Peluntiran pembuluh darah tersebut menghentikan aliran darah ke janin sehingga terjadi kematian janin dalam rahim. Gerakan janin yang begitu aktif dapat menimbulkan simpul sejati sering juga dijumpai (Manuaba, 2002). 3. Lilitan tali pusat

Gerakan janin dalam rahim yang aktif pada tali pusat yang panjang besar kemungkinan dapat terjadi lilitan tali pusat. Lilitan tali pusat pada leher sangat berbahaya, apalagi bila terjadi lilitan beberapa kali. Tali pusat yang panjang berbahaya karena dapat menyebabkan tali pusat menumbung, atau tali pusat terkemuka. Dapat diperkirakan bahwa makin masuk kepala janin ke dasar panggul, makin erat lilitan tali pusat dan makin terganggu aliran darah menuju dan dari janin sehingga dapat menyebabkan kematian janin dalam kandungan (Wiknjosastro, 2005). 2.5. Pemeriksaan Penunjang 2.5.1. Ultrasonografi Tidak ditemukan DJJ (Denyut Jantung Janin) maupun gerakan janin, seringkali tulang-tulang letaknya tidak teratur, khususnya tulang tengkorak sering dijumpai overlapping cairan ketuban berkurang. 2.5.2. Rontgen foto abdomen 1. Tanda Spalding Tanda Spalding menunjukkan adanya tulang tengkorak yang saling tumpang tindih (overlapping) karena otak bayi yang sudah mencair, hal ini terjadi setelah bayi meninggal beberapa hari dalam kandungan. 2. Tanda Nojosk Tanda ini menunjukkan tulang belakang janin yang saling melenting (hiperpleksi). 3. Tampak gambaran gas pada jantung dan pembuluh darah. 4. Tampak udema di sekitar tulang kepala 2.5.3. Pemeriksaan darah lengkap, jika dimungkinkan kadar fibrinogen (Achadiat 2004). 2.6. Penanganan Kematian Janin Dalam Kandungan 2.6.1. Penanganan Pasif

1. Menunggu persalinan spontan dalam waktu 2-4 minggu 2. Pemeriksaan kadar fibrinogen setiap minggu 2.6.2. Penanganan Aktif 1. Untuk rahim yang usianya 12 minggu atau kurang dapat dilakukan dilatasi atau kuretase. 2. Untuk rahim yang usia lebih dari 12 minggu, dilakukan induksi persalinan dengan oksitosin. Untuk oksitosin diperlukan pembukaan serviks dengan pemasangan kateter foley intra uterus selama 24 jam (Achdiat, 2004) 2.7 Asuhan Bidan Ketika kehilangan yang dialami seorang ibu adalah kematian bayinya, bidan dapat membantu orang tua melewati proses duka. Maka juga penting untuk menerima manifestasi perilaku lain, seperti kebutuhan orang tua untuk berulang kali mengenang dan menceritakan kembali pengalaman dan perasaan mereka. Saudara kandung di rumah sebaiknya diberitahu mengenai kenyataan kehilangan sehingga mereka mendapatkan penjelasan yang jujur terhadap perilaku orangtuanya,jika tudak mereka mungkin membayangkan bahwa mereka adalah penyebab masalah mengerikan dan tidak diketahui tersebut. Saudara kandung perlu diyakinkan kembali bahwa apapun yang terjadi bukan kesalahan mereka dan bahwa apapun yang terjadi bukan keslahan mereka dan bahwa mereka tetap penting, dicintai, dan dirawat. Tanggung jawab utama bidan dalam peristiwa kehilangan adalah membagi informasi tersebut dengan orang tua. Keluarga dapat segera merasakan jika sesuatu tidak berjalan baik saat proses melahirkan. Terdapat keheningan dalam ruangan, ketenangan yang tidak alami dan kesedihan orang yang mengunjungi wanita. Pada peristiwa kematian, tidak ada suara bayi. ibu mempunyai hak mendapatkan informasi sebanyak yang kita miliki pada saat itu. Kejujuran dan realitas jauh lebih menghibur daripada keyakinan yang palsu atau kerahasiaan. 3. JURNAL Kasus 2:

Seorang pasien 29 tahun, dalam kesehatan yang baik yang memiliki kehamilan normal. IUFD tanpa adanya gejala terjadi pada minggu 24. Janin adalah laki-laki, beratnya 640 g, 32,5 cm. Autopsi menunjukkan purpura kulit, hidrops menyebar, efusi pleura bilateral dan asites, dan meningkatkan dalam hati dan volume limpa. malformasi atau anomali struktural tidak hadir. Histologi menunjukkan intravaskular erythroblasts dengan inklusi eosinofilik nuklir dari B19 dalam berbagai organ (Gambar 1B, C) fibroelastosis, endocardial jelas memperluas ke jantung berlubang, cukup bercabang menjadi celah miokard, hipoplasia timus dengan penurunan limfositik, dan, di samping itu, hati hemosiderosis dan edema dari vili korionik.

Pembahasan jurnal: Jadi dari jurnal yang didapat bahwa Parvovirus B19 infeksi selama kehamilan dapat ditularkan kepada janin melalui plasenta. Konsekuensi bagi kesehatan janin sangat variabel dan bisa sangat serius. Mereka termasuk janin intrauterin kematian (IUFD) dan keguguran, yang dapat menyebabkan forensik medis-pertanyaan. Untuk sebagian besar, kasus IUFD berlangsung selama trimester kedua kehamilan dan menyajikan gambaran karakteristik anatomopathologic janin infeksi dengan hidrops, edema plasenta, efusi serosa, dan eritroblastosis dengan inklusi nuklir. Endocardial fibroelastosis, medullar dan thymus hipoplasia, dan hati hemosiderosis sering hadir. Dalam ketiga trimester, kasus kurang sering, tidak disertai dengan hidrops, dan dapat lebih bergantung pada kompromi plasenta dari pada infeksi langsung dari janin. Kami menyajikan kasus IUFD 5 yang dihasilkan dari Parvovirus B19 dan kami membahas yang patogenetik dan anatomopathologic aspek dan kewajiban obstetri. dalam 4 kasus, IUFD terjadi tiba-tiba, tanpa adanya gejala, pada wanita yang sebelumnya tidak menunjukkan gejala apapun infeksi virus. dalam satu kasus, pasien dirawat di rumah sakit setelah diagnosis USG janin IUFD hidrops dan terjadi 5 hari setelah masuk. Dari kasus ini 3 yang diverifikasi pada trimester kedua dan 2 di trimester ketiga. Hanya kasus trimester kedua dan salah satu dari 2 kasus trimester

ketiga disajikan aspek karakteristik infeksi janin. Kasus lain dari trimester ketiga ditandai dengan keterlibatan plasenta. Dalam kasus ini, selain menghitung harian gerakan janin (mulai dari akhir trimester kedua), pemantauan USG disarankan, untuk dilanjutkan mingguan untuk jumlah waktu yang bervariasi sesuai dengan usia kehamilan sampai maksimum 12 minggu, waktu di dalam yang bagian utama dari komplikasi janin dimanifestasikan themselves. Tanda-tanda paling umum adalah USG hidrops, efusi terhadap rongga serosa, edema plasenta dan polyhydramnios. USG Doppler juga dapat memungkinkan kita untuk mengenali anemia, di bawah bentuk peningkatan kecepatan puncak aliran sistolik dari otak medialartery. Anemia juga dapat diidentifikasi dengan lebih presisi menggunakan Metode invasif (kordosentesis). Infeksi janin dapat menyebabkan anemia karena virus menentukan sitotoksik dan lisis apoptosis prekursor erythroid dan, dalam hal inicara menghambat erythropoiesis. Kehadiran virus dalam prekursor erythroid ini diungkapkan oleh inclusions. nuklir yang khas Inti dari erythroblasts menyajikan intens margined dankromatin berwarna, pusat inti lebih bercahaya dan muncul homogen dan vitreous. Anemia dapat menyebabkan insufisiensi jantung dan hidrops, yang dapat dari berbagai derajat. Lain anatomopathologic aspects berkorelasi infeksi janin dari B19, seperti hepatosplenomegali, hemosiderosis, dan hati fibrosis dari kelebihan erythrolysis, telah dijelaskan. Plasenta dapat menunjukkan peningkatan berat badan, penampilan pucat dan pembengkakan karena hidrops, dan inflamasi infiltrat dari vili yang dapat menyebabkan nekrosis dan kalsifikasi. Jantung dapat normal atau simetris diperbesar, dengan endocardial fibroelastosis, timus dapat abnormal kecil karena penipisan limfositik. Jadi, ada korelasi antara teori yang didapat dengan jurnal yaitu kematian janin bisa terjadi akibat infeksi dari virus B-19 dan Infeksi janin inilah dapat menyebabkan anemia karena virus menentukan sitotoksik dan lisis apoptosis prekursor erythroid dan, dalam hal inicara menghambat erythropoiesis anemia

sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan janin di dalam rahim. Anemia dapat menyebabkan insufisiensi jantung dan hidrops, yang dapat dari berbagai derajat sehingga bisa menyebabkan IUFD.

Daftar Pustaka

1. 2. 3. 4.

Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, 2005. Ilmu Kebidanan, Jakarta. YPB.SP Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. 2005. Pelayanan Kesehatan dan Neonatal. Jakarta YBP, Sp. Varney H, 2006, Buku Ajar Asuhan Kebidanan, Jakarta : EGC. http://jsp.org.pk/Issues/JSP%2013-4%20October%20-%20December%202008/Riffat %20Jaleel.pdf