Anda di halaman 1dari 10

Makalah Tugas Budaya dasar dan Etika Profesi

Budaya Korupsi Di Indonesia

Oleh: Albert Adhi K.H. (090213199) Jhon Ricardo Hasugian (090213207) Kevin Immanuel Kusuma (090213219)

Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta 2011

DAFTAR ISI

Halaman judul Daftar isi .... i Bab I Pendahuluan 1.1. Latar belakang ... 1 1.2. Tujuan penulisan 1 Bab II Isi 2.1. Pengertian Korupsi......2 2.2. Kasus-kasus Korupsi...4 2.3. Pembahasan.........5 2.4. Kesimpulan..6 2.5. Pertanyaan Saat Presentasi.....6 Bab IV Daftar pustaka ...8

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Korupsi adalah hal sering sekali dibicarakan publik, terutama dalam media massa baik lokal maupun nasional. Banyak para ahli mengemukakan pendapatnya tentang masalah korupsi ini. Korupsi ini merugikan negara dan dapat merusak sendisendi kebersamaan bangsa. Pada hakekatnya, korupsi adalah benalu sosial yang merusak struktur pemerintahan, dan menjadi penghambat utama terhadap jalannya pemerintahan dan pembangunan pada umumnya. Dalam prakteknya, korupsi sangat sukar bahkan hampir tidak mungkin dapat diberantas, oleh karena sangat sulit memberikan pembuktian-pembuktian yang eksak. Disamping itu sangat sulit mendeteksinya dengan dasar-dasar hukum yang pasti. Namun akses perbuatan korupsi merupakan bahaya latent yang harus diwaspadai baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat itu sendiri. Korupsi untuk sekarang ini sudah seperti budaya, semua golongan masyarakat melakukan korupsi secara sadar ataupun tidak sadar. Agar tercapai tujuan pembangunan nasional, maka mau tidak mau budaya korupsi harus diberantas.

1.2 Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan karya tulis ini, yaitu: 1. 2. 3. Untuk mengetahui budaya korupsi yang sudah mengakar di masyarakat. Memberi gambaran bahwa korupsi juga terjadi di seluruh dunia. Menggenapi tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah Budaya dasar dan Etika Profesi

BAB II ISI / PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Korupsi Perilaku menyimpang adalah perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan atau kepatutan, baik dalam sudut pandang kemanusiaan (agama) secara individu maupun pembenarannya sebagai bagian daripada makhluk sosial. Definisi Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku, perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada di dalam masyarakat. Menurut Wilnes dalam bukunya Punishment and Reformation penyebab penyimpangan/kejahatan dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut : Faktor subjektif adalah faktor yang berasal dari seseorang itu sendiri (sifat pembawaan yang dibawa sejak lahir). Faktor objektif adalah faktor yang berasal dari luar (lingkungan).

Korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok). Secara harfiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus|politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar mencakup unsur-unsur sebagai berikut:

perbuatan melawan hukum; penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana; memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi; merugikan keuangan negara atau perekonomian negara;

Selain itu terdapat beberapa jenis tindak pidana korupsi yang lain, di antaranya:

memberi atau menerima hadiah atau janji (penyuapan); penggelapan dalam jabatan; pemerasan dalam jabatan; ikut serta dalam pengadaan (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara); menerima gratifikasi (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara).

Dalam arti yang luas, korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Semua bentuk pemerintah|pemerintahan rentan korupsi dalam prakteknya. Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh dan dukungan untuk memberi dan menerima pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang diresmikan, dan sebagainya. Titik ujung korupsi adalah kleptokrasi, yang arti harafiahnya pemerintahan oleh para pencuri, dimana purapura bertindak jujur pun tidak ada sama sekali. Korupsi yang muncul di bidang politik dan birokrasi bisa berbentuk sepele atau berat, terorganisasi atau tidak. Walau korupsi sering memudahkan kegiatan kriminal seperti penjualan narkotika, pencucian uang, dan prostitusi, korupsi itu sendiri tidak terbatas dalam hal-hal ini saja. Untuk mempelajari masalah ini dan membuat solusinya, sangat penting untuk membedakan antara korupsi dan kriminalitas kejahatan.

Indeks persepsi korupsi di 2009. Semakin hijau tingkat korupsi semakin rendah; sedangkan semakin merah menunjukkan semakin tinggi tingkat korupsi dari sebuah negara. 2.2 Kasus- kasus Korupsi TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sejumlah aktivis yang mengatasnamakan dirinya sebagai Petisi 28 menggelar aksi unjuk rasa di halaman kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jl Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Rabu (21/9/2011). Dalam aksi mereka menyampaikan beberapa masalah terkait kasus korupsi wisma Atlet SEA Games. DIY 2009, ada berbagai laporan mengenai penyimpangan pengadaan barang dan jasa oleh pemerintah daerah. Salah satunya adalah masalah Pengadaan alat praktik dan peraga siswa BPLT Yogya TA 2008. Dalam kasus ini, panitia lelang menetapkan biaya pendaftaran per paket sebesar Rp 150 ribu. Padahal sesuai Keppres 80/2003, rekanan hanya boleh dibebani untuk biaya penggandaan dokumen saja. Namun pada kenyataannya panitia tetap bersikukuh menarik biaya pendaftaran Rp 150 ribu karena sudah menjadi ketetapan dan tak bisa diubah. Akhirnya panitia mendapat teguran, dan pungutan tersebut dikembalikan.

Banyak kasus korupsi yang lain, selain contoh diatas, yang tidak akan muncul ke media karena bersifat kecil. Walaupun kecil tetapi ternyata korupsi tersebut berdampak besar. Contoh: seseorang di minta membeli baut sejumlah 1000 biji. Di toko harga baut tersebut 100 rupiah, tetapi orang ini meminta agar harga di nota menjadi 150 rupiah per biji. Walaupun mungkin terlihat cuma 50 rupiah tapi mari kita lihat perhitungannya. 100 x 1000 = Rp. 100.000,00 ; 150 x 1000 = Rp. 150.000,00. Disini terjadi korupsi sebesar 50% dari harga normal. Memang awalnya hanya terlihat sedikit, tetapi bila jika dilakukan terus menerus akan menyebabkan kerugian yang besar. Ada juga pengakuan seseorang yang saya dengar sendiri, dari korupsi yang kita anggap kecil ini dia sudah bisa membeli rumah, mobil, dll. Mengejutkan bukan? 2.3 Pembahasan KORUPSI telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan sejarah Indonesia. Rakyat Indonesia sudah pasti sangat lelah mendengar dan membicarakannya. Bahkan mungkin melafalkannya pun sudah sangat "sebal" dan "muak". Tiada hari tanpa berita korupsi. Tiada instansi (pemerintah) yang bebas korupsi. Budaya korupsi sudah menyentuh nyaris semua segmen masyarakat. Keadaan ini tanpa kita sadari telah menyebabkan negara Indonesia hampir sempurna menjadi negara yang gagal (failed state). Para pendiri republik ini bercita-cita agar Indonesia kelak menjadi negara yang adil, makmur, dan sejahtera. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya, Indonesia telah gagal sebagai negara yang dicita-citakan para pendirinya. Budaya korupsi mengakibatkan hilangnya gairah untuk berkompetisi secara sehat. Kreativitas dan inovasi tidak lagi menjadi jembatan meraih prestasi dan harga diri. Mencari celah untuk kolusi lebih diminati karena hasilnya dianggap lebih pasti. Namun, negara harus menderita kerugian luar biasa karena penghuninya hanya birokrasi yang doyan korupsi dan rakyat yang tidak lagi menghargai arti sebuah prestasi dan kompetisi. Ujungnya, Indonesia pas untuk ditahbiskan sebagai negara yang gagal.

Korupsi memang sudah sangat membudaya untuk bangsa kita. Korupsi sudah bukan milik para petinggi negara ataupun pemilik jabatan lagi. Tetapi, korupsi sudah menjadi milik semua orang. Dari yang jabatan rendah maupun tinggi. Mungkin banyak dari kita telah melakukan korupsi secara sadar maupun tidak. 2.4 Kesimpulan Korupsi telah menjadi budaya dan mengakar dipikiran bangsa kita. Besar maupun kecilnya korupsi, tetap akan berdampak buruk dan merugikan. Jangan berpikiran jika terus jujur kita takkan cepat kaya, maka kita harus korupsi. Kekayaan yang diperoleh dengan kerja keras dan kejujuran akan lebih bernilai dan memberikan kepuasan batin. Untuk memerangi korupsi, kita harus memerangi diri kita terlebih dahulu dari segala bentuk korupsi sekecil apapun, baru setelah itu kita dapat memerangi korupsi yang ada disekitar kita. Semua harus berawal dari diri kita sendiri. Uang bukanlah segalanya, walaupun segalanya memerlukan uang. Karena itu rajin-rajinlah belajar dan giat-giatlah bekerja agar dapat meraih kesuksesan baik dimasa sekarang maupun di masa depan. 2.5 Pertanyaan Saat Presentasi 1. Gambar peta korupsi di atas menunjukkan korupsi waktu atau korupsi uang? Ini adalah peta korupsi uang. Untuk korupsi waktu sangat jarang sekali untuk di beritakan karena juga lebih jarang terjadi dan kerugian yang tidak besar bila dibandingkan dengan korupsi uang. 2. Bagaimana cara menanggulangi korupsi? Korupsi dapat ditanggulangi dengan cara memperbaiki diri kita sendiri baru kita bisa memberantas korupsi. Karena kalau diri kita belum dibenahi kita dapat saja disuap agar kasus korupsi tidak di urus lagi. Jadi yang terpenting adalah memperbaiki diri kita terlebih dahulu.
6

3. Apakah ada korupsi yang lebih parah dari Indonesia? Dan dari survey yang dilakukan badan independen dari 146 negara, tercatat data 10 besar negara yang dinyatakan sebagai negara terkorup. 1.Azerbaijan 2.Bangladesh 3.Bolivia 4.Kamerun 5.Indonesia 6.Irak 7.Kenya 8.Nigeria 9.Pakistan 10. Rusia. Indonesia berada di posisi ke 5 berarti ada korupsi yang lebih parah dari Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

http://andresuyanto.blogspot.com/2011/04/10-negara-korupsi-terbesar-didunia.html, 8 Oktober 2011, 19.30 http://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi, 23 September 2011, 11.45 http://id.wikipedia.org/wiki/Perilaku_menyimpang, 23 September 2011, 11.40 http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3800/1/fisip-erika1.pdf, 23 September 2011, 11.30 http://www.ombudsman.go.id/index.php/berita/items/pengadaan-barang-danjasa-rawan-penyimpangan.html, 23 September 2011, 11.32 http://www.pikiran-rakyat.com, 23 September 2011, 11.22