Anda di halaman 1dari 14

EFEK OBAT TERHADAP SALURAN CERNA

Tujuan Menentukan pengaruh pemberian garam MgSO4 dan NaCl terhadap retensi air di saluran pencernaan dan implikasi dari pemberian garam-garam katartik. Menentukan pengaruh pemberian loperamid terhadap motilitas usus melalui perbandingan panjang usus yang dilalui tinta dengan atau tanpa pemberian obat.

Prinsip Percobaan Laksansia atau obat pencahar adalah zat-zat yang dapat menstimulasi gerakan peristaltik usus sebagai refleks dari rangsangan langsung terhadap dinding usus sehingga dapat menyebabkan, mengatur, atau mempermudah defekasi dan meredakan sembelit. Dari daya untuk melancarkan defekasi dan melunakkan feses, dikenal beberapa istilah yaitu laksan, katartika, purgatif, dan drastika. Beberapa senyawa yang dapat bekerja pada saluran pencernaan di antaranya larutan hipertonik dari garam yang sukar diabsorpsi (mekanisme : meningkatkan retensi cairan dalam jumlah besar di usus); opium, morfin dan derivatnya (mekanisme : memperlambat peristaltik usus dan meningkatkan tonus otot polos saluran pencernaan); serta oleum ricini dan parafin cair (mekanisme : mengiritasi saluran cerna sehingga mempercepat gerak peristaltik usus). Larutan hipertonik dari garam-garam yang sukar diabsorpsi bila berada dalam usus akan mengakibatkan retensi cairan/air dalam jumlah besar di dalam usus tersebut melalui efek osmotik sehingga terjadi peningkatan volume usus yang berperan sebagai stimulus mekanik yang meningkatkan aktivitas motorik dari usus yang mendorong dengan cepat isinya ke dalam usus besar. Absorpsi air di usus besar pun terhambat dan dalam waktu singkat terjadi pengeluaran isi usus dalam bentuk feses yang cair. Morfin sebagaimana golongan opioid lainnya merupakan analgesik yang memiliki mekanisme kerja sebagai penekan syaraf pusat. Karena mekanisme kerja morfin yang menekan sistem syaraf pusat, salah satu efek yang ditimbulkan morfin terhadap saluran gastrointestinal adalah penekanan gaya peristaltik usus. Di samping itu, tonus otot polos di saluran pencernaan pun ditinggikan oleh kerja morfin, terutama pada pleksus saraf di dinding usus. Pada saluran empedu pun terjadi peningkatan tonus

terutama pada sfingter Oddi. Spasmus dalam usus tersebut dapat dihambat dengan penggunaan atropin, akan tetapi tidak dapat mempengaruhi transport isi usus yang diperlambat karena kerja morfin. Prinsip penghambatan kerja usus untuk morfin ini dapat digunakan untuk mengatasi diare.

Prosedur Efek Garam terhadap Retensi Air di Saluran Pencernaan Mencit - dipuasakan 24 jam - dibius dengan pentobarbital natrium 40 mg/kg (i.p.) Mencit terbius - dibedah dengan torehan ventral sagital dengan tidak melukai usus Usus terlihat - dibasahi dengan NaCl 0,9% selama percobaan Usus - jarak + 2,5 cm dari pilorus, diikat dengan benang steril pada jarak + 8 cm Tiga segmen usus yang terpisah - segmen 1 : disuntik 1 mL MgSO4 25% - segmen 2 : disuntik 1 mL NaCl 0,9% - segmen 3 : disuntik 1 mL MgSO4 0,2% Segmen usus berisi cairan ditempatkan kembali ke rongga abdomen dijahit kembali otot dan kulit perut mencit (tidak dilakukan) dibasahi terus dengan NaCl 0,9%

Usus berada di rongga abdomen setelah 2 jam, usus dipamerkan lagi isi usus tiap segmen dikeluarkan dengan alat suntik dibaca volume yang terambil

Volume cairan tiap segmen terukur

Efek Morfin terhadap Saluran Cerna Mencit - dipuasakan 18 jam, hanya diberi air - dibagi menjadi 2 kelompok Kelompok mencit - I : diberi larutan morfin HCl dosis 0,0052/20g BB mencit (i.p.) - II : diberi larutan NaCl 0.9% (volume sama dengan morfin) - ditunggu hingga 40 menit - diberikan tinta per oral 0,01 mL/g BB mencit - dislokasi leher untuk mengorbankan mencit - dibedah dengan torehan ventral sagital dengan tidak melukai usus Usus terlihat - dikeluarkan dan dibersihkan dari jaringan mesenterium - diletakkan di atas kertas saring Usus panjang usus yang dilalui tinta diukur dan

dibandingkan dengan panjang usus seluruhnya Rasio panjang usus (tinta:total)

Data Pengamatan

Efek Garam terhadap Retensi Air di Saluran Pencernaan Keadaan Volume Cairan Usus 40 Menit Setelah Pemberian Garam Kelompok 2 7 8 MgSO4 25% +++ +++ +++ MgSO4 0,2% ++ ++ + NaCl 0,9% 0 + ++

Keterangan : Volume usus setelah penyuntikan tidak dapat diambil, maka pengamatan hanya berdasarkan visual (kadar pembengkakan yang terjadi) + = kadar pembengkakan 0 = normal (sama seperti sebelumnya)

Efek Morfin terhadap Saluran Cerna Bobot Tubuh (gram) 33,1 37,6 40,3 30,9 38,9 36,0 Panjang Zat yang usus Panjang A B

Kelompok

Mencit ke-

yang usus total (B) 39 50 56 60 57 56

disuntikkan dilalui tinta (A) Loperamid NaCl 0,9% Loperamid NaCl 0,9% Loperamid NaCl 0,9% 23 9 26,5 30 17,5 16

I II I II I II

0,59 0,18 0,47 0,500 0,31 0,29

Obat : loperamid 0,1 mg/ml intraperitoneal; dosis: 0,0052 mg/ 20 g mencit Kontrol : NaCl 0,9% intraperitonial, volume injeksi sama dengan volume loperamid Tinta : 0,01 ml/g per oral

Pembahasan Efek Garam terhadap Retensi Air di Saluran Pencernaan

Percobaan yang dilakukan kali ini bertujuan untuk mengamati efek garam-garam terhadap retensi air dalam saluran cerna. Sebelumnya mencit yang digunakan dalam percobaan ini dipuasakan makan selama 24 jam, tetapi minum tetap diberikan. Hal ini bertujuan untuk mengosongkan saluran cerna mencit-mencit tersebut dari makanan sehingga efek pemberian garam-garam dapat lebih mudah diamati. Sebelum dibedah, mencit dibius terlebih dahulu dengan pentobarbital natrium 40 mg/kg bobot tubuh yang diinjeksikan secara intraperitoneal dan setelah itu usus dipamerkan melalui torehan ventral sagital. Usus tersebut diikat dengan benang steril sehingga terbagi menjadi tiga

segmen. Masing-masing segmen diinjeksikan dengan larutan garam, yaitu MgSO4 25%, NaCl 0,9% (larutan fisiologis), dan MgSO4 0,2% dengan volume yang sama yaitu sebanyak 1 mL. Lalu segmen-segmen usus ditempatkan kembali ke dalam rongga abdomen agar efek obatnya bekerja dan setelah 2 jam dilihat perbandingan volume cairan pada masing-masing segmen usus. Akan tetapi, karena terdapat kesulitan saat akan mengambil cairan di segmen usus, maka perbandingan volume cairan di tiap segmen usus hanya dilihat bagaimana kadar pembengkakannya secara visual. Dari hasil pengamatan dapat dilihat bahwa volume cairan segmen usus yang diberi MgSO4 25% lebih besar dibandingkan segmen yang diberi NaCl 0,9% maupun MgSO4 0,2%. Larutan MgSO4 25% dapat memberikan volume segmen usus yang paling besar karena larutan tersebut merupakan larutan hipertonik dari jenis garam yang sukar diabsorpsi. Bila berada dalam usus, larutan hipertonik dari garam-garam yang sukar diabsorpsi dapat mengakibatkan retensi cairan/air dalam jumlah besar dalam usus tersebut melalui efek osmotik. Akibatnya volume usus meningkat dan volume ini berlaku sebagai stimulus mekanik yang meningkatkan aktivitas motorik dari usus yang mendorong dengan cepat isinya ke dalam usus besar. Dengan demikian, absorpsi air pun terhambat di usus besar dan dalam waktu singkat terjadi pengeluaran isi usus dalam bentuk feses yang cair. Adanya perbedaan volume cairan segmen usus antara penyuntikan dengan MgSO4 0,2% dan MgSO4 25% diakibatkan pada perbedaan konsentrasi garamnya. Semakin pekat (hipertonis) garam yang disuntikkan, tekanan osmotiknya akan semakin besar pula dan akan meretensi cairan dalam jumlah yang lebih besar pula. Selain itu, berdasarkan nilai kesetaraan kadar MgSO4 dengan NaCl yang diketahui dari pustaka (Farmakope Indonesia edisis IV, halaman 1248), MgSO4 1% setara dengan 0,18% NaCl sehingga MgSO4 20 % setara dengan 3,6% NaCl dan MgSO4 0,2% setara dengan 0,036% NaCl. Pada pemberian garam MgSO4 20% maka berdasarkan tonisitasnya garam pada konsentrasi tersebut merupakan garam yang bersifat hipertonis karena tonisitasnya lebih besar dari tonisitas cairan dalam tubuh normal (NaCl 0,9%/fisiologis), sedangkan konsentrasi MgSO4 0,2 % bersifat hipotonis yaitu tonisitasnya lebih kecil dari tonisitas cairan tubuh, sedangkan NaCl 0,9% bersifat isotonis karena merupakan tonisitas cairan tubuh. Oleh karena itu, seharusnya urutan volume retensi cairan di usus setelah pemberian obat, dari yang terbesar hingga ke yang terkecil adalah : MgSO4 20% > NaCl 0,9% > MgSO4 0,2%. Hanya kelompok 8 yang

hasilnya sesuai dengan teori ini, sedangkan kelompok 2 dan kelompok 7 memberikan efek pembengkakan MgSO4 0,2% yang lebih besar daripada NaCl 0,9%. Hal ini kemungkinan terjadi karena pengikatan benang yang kurang sempurna sehingga masih ada cairan dapat berpindah dari satu segmen ke segmen lain yang menyebabkan kebocoran garam dari yang hipertonis ke yang hipotonis sehingga yang seharusnya bersifat hipotonis menjadi bersifat hipertonis. Senyawa laksatif yang mengandung kation magnesium atau anion fosfat biasanya disebut saline laxatives. Contohnya magnesium sulfat, magnesium hidroksida, magnesium sitrat, natrium fosfat, dan lain-lain. Mekanisme kerjanya adalah terjadinya retensi air yang termediasi secara osmosis. Akibatnya, volume usus meningkat dan volume ini bertindak sebagai stimulus mekanik yang meningkatkan aktivitas motorik usus. Hal ini menyebabkan komponen yang terdapat dalam usus halus akan didorong dengan cepat menuju usus besar. Absorpsi air di usus besar pun akan terhambat dan dalam jangka waktu yang singkat terjadi pengeluaran isi usus dalam bentuk feses cair. Mekanisme lain yang menyebabkan efek di atas yaitu produksi mediator inflamatori. Laksatif yang mengandung magnesium menstimulasi pelepasan chole-cystokinin yang mempengaruhi cairan intraluminal dan akumulasi elektrolit serta meningkatkan pergerakan usus. Laksansia atau pencahar adalah zat-zat yang dapat menstimulasi gerakan peristaltik usus sebagai refleks dari rangsangan langsung terhadap dinding usus dan dengan demikian akan menyebabkan, mengatur, atau mempermudah defekasi dan meredakan sembelit. Dari daya untuk melancarkan defekasi dan melunakkan feses, dikenal beberapa istilah, yaitu laksansia, katartika, purgatif, dan drastika. Istilah-istilah tersebut menunjukkan tingkatan kuatnya efek kerja obat pencahar yang dapat dilihat dari konsistensi feses yang dihasilkan, yaitu mulai dari feses yang lunak hingga feses yang semakin cair. Laksansia akan memberikan efek pembentukan feses yang lunak, sedangkan katartika memberi efek pembentukan feses yang cair. Mekanisme kerja laksan didasarkan pada kemampuannya menaikkan kandungan air dalam feses dan mempercepat transit isi usus. Mekanisme kerja secara umumnya yaitu :

Retensi air dan elektrolit dalam lumen usus melalui sifat hidrofilik dan osmotik obat atau metabolitnya, yang diikuti dengan peningkatan transit intestinal secara tidak langsung akibat kenaikan isi usus.

Bekerja secara langsung pada mukosa usus untuk menekan absorpsi air dan elektrolit sehingga mempercepat transit intestinal secara tidak langsung akibat massa cair dalam usus.

Menaikkan transit intestinal dengan efek utama pada motilitas usus, yang mengakibatkan peningkatan absorpsi elektrolit dan cairan berkurang secara tidak langsung karena pengurangan waktu untuk proses absorpsinya. Gerakan peristaltik secara fisiologik ditimbulkan dengan meningginya tekanan di

dalam usus. Peningkatan isi usus dengan demikian juga akan mengakibatkan naiknya isi peristaltik. Sebagian besar laksansia bekerja dengan memperbesar volume intraluminal, yaitu terjadinya pembesaran dengan menarik air (zat pengembang), retensi air secara osmotik (osmolaksansia), menghambat absorpsi natrium dan juga absorpsi air dari lumen usus, dan meningkatkan sekresi air ke lumen usus (laksansia yang bekerja antiresorptif dan hidrogagum). Penggolongan laksansia berdasarkan atas efek farmakologis dan sifat kimiawi antara lain : 1. Laksansia kontak/stimulan, misalnya derivat-derivat antrakuinon, derivat-derivat difenilmetan, dan oleum ricini. Zat-zat ini merangsang secara langsung otot polos pada dinding usus dengan mengiritasi atau menstimulasi pleksus saraf dengan akibat peningkatan peristaltik dan pengeluaran isi usus dengan cepat. Terdapat perubahan morfologi dari epitel dinding usus dan perubahan transpor dari air dan elektrolit. 2. Laksansia osmotis, misalnya gliserol, manitol, garam, dan laktulosa. Cara kerja obat ini dengan menarik air dari luar usus melalui dinding ke dalam usus melalui proses osmosis. Feses menjadi lunak dan volumenya membesar dan memberi rangsang mekanis pada dinding usus. Peristaltik diperkuat yang mempermudah pengeluaran isi usus. 3. Zat-zat pembesar volume (pembentuk massa), misalnya zat-zat lendir (agar-agar, metil selulosa dan CMC). Zat-zat ini dapat mengembang, sukar dipecah dalam usus, dan tidak dicerna. Karena dapat mengembang, zat-zat ini memiliki

kemampuan untuk menahan air dan elektrolit dalam usus sehingga memperbesar isi usus dan secara tidak langsung meningkatkan peristaltik usus. Khasiatnya berdasarkan rangsangan mekanis dan kimiawi terhadap dinding usus dengan pelunakan feses. 4. Zat-zat pelincir, misalnya natrium dioktilsulfosuksinat (docusat-natrium) dan parafin cair. Zat-zat ini memiliki aktivitas permukaan, bekerja dengan melunakkan feses dengan meningkatkan penetrasi air ke dalam usus dan membuatnya melincir dengan mudah sehingga mempermudah proses defekasi. Parafin melicinkan penerusan feses dan bekerja sebagai bahan pelumas.

Laksansia digunakan dalam keadaan konstipasi atau sembelit. Penggunaan yang terlalu sering akan menyebabkan efek toleransi dan ketergantungan (habituasi) terhadap defekasi normal karena menyebabkan refleks defekasi menurun. Selain itu, penggunaan berlebihan juga justru dapat menyebabkan diare yang menyebabkan tubuh banyak kehilangan cairan tubuh (hipokalemia). Laksansia juga dapat diberikan pada defekasi disertai nyeri (misalnya setelah fisura anal). Pada obstipasi kronis, harus diusahakan perubahan pola makan dan pola hidup, dan jika usaha tersebut gagal, barulah diberikan laksansia dan sedapat mungkin pemberiannya dilakukan dalam waktu singkat. Makanan berserat, buah-buahan, sayuran dan konsumsi air minum yang banyak merupakan laksan alami. Kontra indikasi dari obat-obat pencahar yaitu tidak boleh diberikan kepada orang yang mendadak nyeri perut karena ileus, radang usus, atau radang usus buntu (appendisitis), dan juga untuk orang-orang yang menderita kejang, kolik, misalnya muntah-muntah. Wanita hamil pada dasarnya tidak dianjurkan menggunakan laksansia karena resiko keguguran. Penderita penyakit kantung empedu tidak boleh diberi MgSO4 karena garam ini dapat menyebabkan kontraksi hebat dari organ tersebut.

Efek Morfin terhadap Saluran Cerna

Percobaan ini dilakukan untuk mengamati efek pemberian morfin terhadap saluran cerna dan motilitas usus. Pada percobaan ini, digunakan dua kelompok mencit, yaitu kelompok uji yang diberi loperamid (turunan morfin) dan kelompok kontrol yang hanya diberi NaCl fisiologis. Selain itu, diberikan tinta secara per oral untuk mempermudah

pengamatan di usus mencit karena tinta merupakan zat inert yang tidak akan diabsorpsi di usus sehingga akan tetap berada di daerah usus. Hal yang diamati adalah panjang usus yang dilalui tinta (A) pada mencit yang dibandingkan dengan panjang usus seluruhnya (B). Kemudian perbandingan dilakukan terhadap mencit yang disuntikkan dengan larutan loperamid dan larutan NaCl. Berdasarkan teori pada literatur, pemberian morfin akan memperlambat gerak peristaltik usus sehingga tinta yang diberikan secara oral tersebut akan menempuh jarak yang relatif lebih pendek dibandingkan dengan kontrol (pemberian NaCl fisiologis). Akan tetapi, pada kelompok 1 dan kelompok 6, hasil percobaan menunjukkan bahwa perjalanan tinta pada kelompok kontrol lebih pendek daripada perjalanan tinta pada usus hewan uji yang diberi loperamid. Penyimpangan ini kemungkinan terjadi karena adanya pemberian makanan sebelum perlakuan pada mencit kontrol, karena pada saat pembedahan, lambung mencit terlihat penuh oleh makanan dibandingkan mencit kelompok uji. Adanya makanan di lambung dapat memperlama waktu pengosongan lambung sehingga makin lama pula waktu yang dibutuhkan tinta yang ada di lambung untuk mencapai usus dan jarak tempuh tinta menjadi terlihat lebih pendek dari yang seharusnya. Hal ini juga dapat dilihat dari jumlah tinta yang masih banyak terkumpul di lambung mencit kelompok kontrol. Selain itu, ketika mengurai usus mencit, jika tidak hati-hati juga bisa terjadi perpindahan tinta yang menyebabkan jarak tempuh tinta pada hewan uji lebih panjang. Pendislokasian mencit yang terlalu kuat juga dapat berpengaruh ke pendistribusian tinta yang terlokalisasi di satu bagian dari saluran gastrointestinal menuju bagian lain.

Morfin memiliki pengaruh terhadap saluran pencernaan, terutama pada organ-organ sebagai berikut. 1. Lambung. Morfin dan agonis lainnya mampu menurunkan sekresi HCl meskipun terkadang juga menstimulasinya. Aktivasi reseptor opioid pada sel parieta; merangsang sekresi tetapi efek tidak langsung (termasuk peningkatan sekresi somatostatin dari pancreas dan pengurangan pelepasan asetilkolin) terlihat dominan. Morfin dosis rendah dapat menurunkan motilitas lambung dengan cara memperlama waktu pengosongan lambung. Tonus pada bagian antral lambung dan bagian awal

duodenum meningkat yang terkadang menyebabkan terai pada duodenum menjadi sukar. 2. Usus halus. Morfin menghambat sekresi intestinal, pankreas, dan empedu serta menunda pecernaan makanan di usus halus. Bagian atas usus halus, terutama duodenum, lebih terpengaruh morfin daripada ileum. Akib atnya terjadi hipertonisitas. Air diabsorpsi lebih banyak dari makanan sebab ada penundaan laju makanan dan sekresi usus menurun. Inilah yang meningkatkan viskositas makanan. Morfin menginhibisi trasfer cairan dan elektrolit ke lumen dengan aksi sensiif-nalokson pada mukosa usus dan sistem saraf pusat. 3. Usus besar. Gerakan peristaltik di kolon hilang seleh pemberian morfin dan tonus meningkat pada titik menjelang kejang. Penundaan pergerakan makanan ini mengakibatkan waktu penyerapan air bertambah lama sehingga feses menjadi lebih cepat kompak. Kondisi ini didukung dengan menghilangnya respon normal terhadap refleks defekasi. Oleh karena itu, sangat mungkin konstipasi terjadi.

Morfin maupun turunan opioid memperlambat transit dari kandungan intraluminal dan memperpanjang proses absorpsi. Sifat ini dapat digunakan dalam terapi diare maupun pengembangan obatobat antidiare. Akan tetapi, tidak dianjurkan untuk menggunakan morfin ataupun senyawa opioid lain dalam kondisi-kondisi tertentu. Pertama, dalam keadaan diare yang ringan dimana akan sembuh dengan sendirinya karena diare sendiri sebenarnya merupakan suatu refleks yang ditujukan untuk pertahanan tubuh terhadap senyawa senyawa asing yang dapat merusak tubuh di saluran pencernaan. Adanya opioid akan menghambat mekanisme refleks normal dan mampu mengakumulasi senyawa yang dapat merusak tubuh tersebut. Kedua, adanya efek adiksi yang ditimbulkan oleh morfin sehingga dapat menimbulkan ketergantungan jika digunakan dalam waktu lama. Ketiga, dalam kondisi jika diare yang dialami pasien adalah diare karena infeksi misalnya, amoebiasis kolitis, dimana opioid akan memperparah pendarahan dalam tubuh dan memperlama serta membiarkan parasit (dalam hal ini amoeba) untuk tumbuh dan bereplikasi. Keempat, efek samping dari morfin yang cukup

banyak misalnya, terjadi efek penekanan saluran pernafasan, miosis, euphoria, psikotomimetik akibat stimulasi reseptor tertentu.

Kesimpulan

Daftar Pustaka Goodman, Louis S. and Alfred Gilman. 2006. The Pharmacological Basis of Therapeutics, Eleventh Edition. USA: The McGraw-Hill Companies, Inc. (p. 561562, 989-993) Katzung, Bertram G. 2002. Farmakologi Dasar dan Klinik. Jakarta : Salemba Medika (hlm. 464 465)

Jawaban Pertanyaan/Diskusi 1. Efek Garam terhadap Retensi Air di Saluran Pencernaan Dapatkah larutan NaCl hipertonik digunakan sebagai katartik? Jelaskan jawaban Saudara. Jawab : Larutan NaCl hipertonik tidak dapat digunakan sebagai katartik karena NaCl merupakan garam yang mudah diabsorpsi sehingga tidak terjadi peningkatan volume isi usus. Jika digunakan NaCl hipertonik, larutan tersebut akan mudah diserap oleh usus ke dalam cairan intertisial dan digunakan oleh jaringan sehingga tidak terjadi retensi cairan. Garam yang dapat berfungsi sebagai katartik adalah garam-garam yang sukar diabsorpsi yang akan mengakibatkan retensi cairan/air dalam jumlah besar di dalam usus tersebut melalui efek osmotik sehingga terjadi peningkatan volume usus yang menjadi stimulus mekanik yang meningkatkan aktivitas motorik dari usus yang mendorong dengan cepat isinya ke dalam usus besar. Absorpsi air pun terhambat di

usus besar dan dalam waktu singkat terjadi pengeluaran isi usus dalam bentuk feses yang cair.

2.

Bila dalam percobaan ini digunakan Oleum Ricini apakah akan terjadi hal yang sama seperti larutan MgSO4 hipertonik? Jawab : Oleum ricini dan MgSO4 sama-sama merupakan laksansia, tetapi mekanisme kerjanya berbeda. MgSO4 hipertonik merupakan laksansia osmotik yang bekerja dengan menarik air dari luar usus melalui dinding ke dalam usus melalui proses osmosis. Feses menjadi lunak dan volumenya membesar sehingga memberi rangsang mekanis pada dinding usus dan peristaltiknya diperkuat sehingga mempermudah pengeluaran isi usus. Oleum Ricini merupakan laksansia kontak/stimulan yang bekerja dengan merangsang secara langsung otot polos pada dinding usus dengan mengiritasi atau menstimulasi pleksus saraf dengan akibat peningkatan peristaltik dan pengeluaran isi usus dengan cepat. Metabolit aktif dari Oleum Ricini adalah asam risinolat. Kerjanya sebagai antiresorptif dan hidragogum. Efek antiresorptif bekerja dengan cara menghambat absorpsi ion natrium dan air dengan memblok ATPase yang tergantung pada ion kaliumnatrium. Pada saat yang sama, dengan kekuatan yang berbeda senyawa tipe ini mendorong masuknya elektrolit dan air ke lumen (efek hidragogum), yaitu dengan jalan meningkatkan permeabilitas pada tight junction.

3.

Jika efikasi katartika garam ditentukan oleh tekanan osmotik fraksi katartika garam yang tidak terabsorpsi pada lumen usus, terangkan secara garis besar bagaimana dapat diperkirakan efikasi-relatif antara berbagai katartika garam. Jawab : Jika katartika garam yang digunakan konsentrasinya semakin tinggi (hipertonis) maka fraksi yang tidak diabsorpsi meningkat dan tekanan osmotiknya pun semakin besar. Hal ini menyebabkan peningkatan volume usus lebih besar pada pemberian katartika garam yang lebih hipertonis. Gerakan peristaltik pun meningkat lebih cepat dan kuat sehingga pengeluaran isi di dalam usus meningkat. Absorpsi air di usus besar pun semakin terhambat sehingga feses yang dihasilkan menjadi lebih

cair. Jadi, garam-garam yang sukar terabsorpsi pada lumen usus akan memiliki efikasi yang relatif lebih baik dibandingkan dengan garam-garam yang mudah terabsorpsi pada lumen usus. Meskipun efek yang ditimbulkan lebih cepat, penggunaan katartika dalam jumlah berlebihan justru dapat menyebabkan diare karena tubuh banyak kehilangan cairan tubuh (hipokalemia). Selain itu, untuk menentukan efikasi-relatif antara berbagai katartika garam, dapat dilihat dari perbandingan tonisitasnya dengan isotonisitas tubuh (3,3% untuk MgSO4 dan 4,2% untuk Na2SO4.10H2O) sehingga dapat dikatakan relatif memberikan efek jika fraksi katartika garam yang tidak diabsorpsi lebih tinggi dari isotonis.

Efek Morfin terhadap Saluran Cerna 1. Jika seseorang menderita diare dan kepadanya diberikan morfin apakah dengan demikian penyakitnya telah disembuhkan? Jelaskan jawaban Saudara. Jawab : Tidak semua diare bisa disembuhkan dengan morfin karena apabila diare disebabkan infeksi bakteri maka morfin tidak dapat digunakan. Pemberian morfin pada usus besar menyebabkan berkurangnya gerakan peristaltik dan spasmus meningkat. Penundaan waktu lewatnya kandungan isi feses menyebabkan pengeringan feses yang akan memperlambat kelajuannya melewati kolon. Amplitudo kontraksi diam tipe ritmik dan segmental meningkat sedangkan gerakan mendorong atau peristaltik berkurang. Ritme kerja sfingter anal meningkat dan refleks relaksasi yang berhubungan dengan aktivitas pengeluaran pada rektal berkurang. Hal ini akan mengakibatkan konstipasi. Morfin dapat mengurangi diare tetapi di lain pihak juga dapat menyebabkan konstipasi. Selain itu, karena morfin dapat menyebabkan ketergantungan, maka morfin bukan terapi utama pada penderita diare dan harga morfin juga relatif cukup mahal.

2. Selain efek diatas, efek farmakologi apa lagi yang diperlihatkan morfin ? Jawab :

Selain menjadi obat anti diare, morfin dapat diindikasikan untuk analgesik, edema paru akut, batuk, dan untuk penggunaan dalam enestesi. Morfin dapat efektif meningkatkan ambang nyeri dengan cara menghambat penghantaran informasi dari sumsum tulang belakang dan batang otak sehingga menurunkan aktivitas tanduk dorsal untuk merelay neuron. Neuron relay pada tanduk dorsal bekerja menghantarkan informasi nyeri. Hal inilah yang menghasilkan analgesi pada tubuh. Mekanisme morfin pada pengobatan edema paru akut belum jelas tetapi mungkin melibatkan pengurangan persepsi pendeknya napas dan kecemasan yang berhubungan dengan gejala ini maupun berhubungan dengan pengurangan preload (pengurangan tonus vena) dan afterload (penurunan tahanan perifer). Penurunan batuk dapat diperoleh dengan dosis lebih rendah daripada yang diperlukan untuk analgesi. Pengunaan analgesik opioid sebagai penghilang

batuk dalam beberapa tahun terakhir ini berkurang karena telah dikembangkan beberapa senyawa sintetik baru yang efektif serta tidak mempunyai efek analgesik maupun adiksi. Opioid sering digunakan sebagai obat premedikasi sebelum anestesi dan pembedahan karena sifat-sifat sedasi, ansiolitik dan analgesiknya. Opioid-opioid juga digunakan intraoperatif sebagai pembantu obat anestesi lain dan morfin dalam dosis tinggi yang paling sering digunakn pada pembedahan

kardiovaskular dan operasi lain yang beresiko tinggi dimana tujuan utama adalah untuk memperkecil depresi kardiovaskular.