Anda di halaman 1dari 10

PELVIC INFLAMMATORY DISEASE (PID) Jessica Wangke DEFINISI PID atau Penyakit Radang Panggul (PRP) adalah infeksi

polimikrobial pada wanita yang mengenai traktus genitalia bagian atas, yang disebabkan oleh penyebaran organisme ke atas (asenden) dari vagina/serviks ke endometrium (endometritis), tuba falopii (salpingitis), dan struktur di sekitarnya (abses tubo-ovarium/TOA, pelviperitonitis)1. ETIOLOGI PID biasanya disebabkan oleh mikroorganisme penyebab penyakit menular seksual seperti Neisseria gonorrhea dan Chlamydia trachomatis. Mikroorganisme endogen yang ditemukan di vagina juga sering ditemukan pada traktus genitalia wanita dengan PID. Bakteri fakultatif anaerob dan flora endogen vagina dan perineum juga diduga menjadi agen etiologi potensial untuk PID. Yang termasuk diantaranya adalah Gardnerella vaginalis, Streptokokus agalactiae, Peptostreptokokus, Bakteroides, dan Mycoplasma genital, serta Ureaplasma genital. Patogen nongenital lain yang dapat menyebabkan PID yaitu Haemophilus influenza dan Haemophilus parainfluenza. Actinomices diduga menyebabkan PID yang dipicu oleh penggunaan AKDR. Pada negara yang kurang berkembang, PID mungkin disebabkan juga oleh salpingitis granulomatosa yang disebabkan Mycobakterium tuberculosis dan Schistosoma.3 FAKTOR RESIKO1,4
-

hubungan seksual (pada waktu koitus, bila wanita orgasme, maka akan terjadi kontraksi utrerus yang dapat menarik spermatozoa dan kuman-kuman memasuki kanalis servikalis) prosedur kebidanan/kandungan (misalnya pemasangan IUD, persalinan, keguguran, aborsi dan biopsi endometrium) Aktivitas seksual pada masa remaja Berganti-ganti pasangan seksual Pernah menderita PID Pernah menderita STD

Proses menstruasi (proses menstruasi dapat memudahkan terjadinya infeksi karena hilangnya lapisan endometrium yang menyebabkan berkurangnya pertahanan dari rahim, serta menyediakan medium yang baik untuk pertumbuhan bakteri)

Wanita yang aktif secara seksual di bawah usia 25 tahun (wanita muda berkecenderungan untuk berganti-ganti pasangan seksual dan melakukan hubungan seksual tidak aman dibandingkan wanita berumur. Selain itu wanita muda dan remaja cenderung memiliki lendir yang tipis sehingga tidak dapat memproteksi masuknya bakteri)

Douching (wanita yang terlalu sering menggunakan pembersih kewanitaan dapat melemahkan flora normal pada genitalia sehingga kuman mudah masuk ke bagian yang lebih dalam)

Tinggal di daerah yang tinggi prevalensi STD-nya

EPIDEMIOLOGI
-

Peningkatan resiko PID ditemukan pada etnik berkulit putih dan pada golongan sosioekonomik rendah. PID sering muncul pada usia 15-19 tahun dan pada wanita yang pertama kali berhubungan seksual4

Merupakan komplikasi umum dari Penyakit Menular Seksual (PMS)1

PATOFISIOLOGI3,4,5 PID disebabkan oleh penyebaran mikroorganisme secara asenden ke traktus genital atas dari vagina dan serviks. Mekanisme pasti yang bertanggung jawab atas penyebaran tersebut tidak diketahui, namun aktivitas seksual mekanis dan pembukaan serviks selama menstruasi mungkin berpengaruh. Infeksi dapat terjadi pada bagian manapun atau semua bagian saluran genital atas: endometrium (emdometritis), dinding uterus (miositis), tuba uterine (salpingitis), ovarium (ooforitis), ligamentum latum, dan serosa uterine (parametritis) serta peritoneum (pelvis peritonitis). Jalur penyebaran bakteri yang umum adalah: Interlumen Penyakit radang panggul akut non purpuralis hampir selalu (kira-kira 99%) terjadi akibat masuknya kuman patogen melalui serviks ke dalam kavum uteri. Infeksi kemudian menyebar ke tuba uterina, akhirnya pus dari ostium masuk ke ruang peritoneum.

Organisme yang diketahui menyebar dengan mekanisme ini adalah N.gonorrhoeae, C. Tracomatis, Streptococcus agalatiae, sitomegalovirus dan virus Herpes simpleks. Limfatik Infeksi puerpuralis (termasuk setelah abortus) dan infeksi yang berhubungan dengan IUD menyebar melalui sistem limfatik seperti infeksi Myoplasma non purpuralis. Hematogen Penyebaran hematogen penyakit panggul terbatas pada penyakit tertentu (misalnya TBC) Intraperitoneum Infeksi intraabdomen (misalnya apendisitis, divertikulitis) dan kecelakaan intra abdomen (misalnya ulkus dengan perforasi) dapat menyebabkan infeksi yang mengenai sistem genetalia interna. Kontak langsung Infeksi pasca pembedahan ginekologi terjadi akibat penyebaran infeksi setempat dari daerah infeksi dan nekrosis jaringan.

Gambar 1. Micro-organisms originating in the endocervix ascend into endometrium, fallopian tubes, and peritoneum, causing PID (endometritis,salpingitis,peritonitis).

Pada umumnya, banyak kasus PID timbul dengan 2 tahap. Tahap pertama melibatkan akuisisi dari vagina atau infeksi servikal. Tahap kedua timbul oleh penyebaran asenden langsung mikroorganisme dari vagina dan serviks. Mukosa serviks menyediakan barier fungsional melawan penyebaran ke atas, namun efek dari barier ini mungkin berkurang akibat pengaruh perubahan hormonal yang timbul selama ovulasi dan mestruasi. Gangguan suasana

servikovaginal dapat timbul akibat terapi antibiotik dan penyakit menular seksual yang dapat mengganggu keseimbangan flora endogen, menyebabkan organisme nonpatogen bertumbuh secara berlebihan dan bergerak ke atas. Pembukaan serviks selama menstruasi dangan aliran menstrual yang retrograd dapat memfasilitasi pergerakan asenden dari mikrooragnisme. Hubungan seksual juga dapat menyebabkan infeksi asenden akibat dari kontraksi uterus mekanis yang ritmik. Bakteri dapat terbawa bersama sperma menuju uterus dan tuba. Beberapa jenis inflamasi yang termasuk PID dan sering ditemukan adalah: a. Salpingitis Mikroorganisme yang tersering menyebabkan salpingitis adalag N. Gonorhea dan C. trachomatis. Salpingitis timbul pada remaja yang memiliki pasangan seksual multiple dan tidak menggunakan kontrasepsi. Gejala meliputi nyeri perut bawah dan nyeri pelvis yang akut. Nyeri dapat menjalar ke kaki. Dapat timbul sekresi vagina. Gejala tambahan berupa mual, muntah, dan nyeri kepala. Temuan laboratorium yaitu normal leukosit atau leukositosis. Penatalaksanaan adalah dengan antimicrobial terapi. Pasien harus dihospitalisasi, tirah baring, dan diberi pengobatan empiric. Prognosis bergantung pada terapi antimicrobial spectrum luas dan istirahat yang total. Komplikasi berupa hidrosalping, pyosalping, abses tubaovarian, dan infertilitas.
b. Abses Tuba Ovarian (TOA)

Abses ini dapat muncul setelah onset salpingitis, namun lebih sering akibat infeksi adnexa yang berulang. Pasien dapat asimptomatik atau dalam keadaan septic shock. Onset ditemukan 2 minggu setelah menstruasi dengan nyeri pelvis dan abdomen, mual, muntah, demam, dan takikardi. Seluruh abdomen tegang dan nyeri. Leukosit dapat rendah, normal, atau sangat meningkat. Diagnosa diferensial yaitu kista ovarium, neoplasma ovarium, kehamilan ektopik, dan periapendiceal abses. Penatalaksanaan awal dengan antibiotik. Jika massa tidak mengecil setelah 2-3 minggu terapi antibiotic, merupakan indikasi pembedahan. MANIFESTASI KLINIS Gejala biasanya muncul segera setelah siklus menstruasi. Penderita merasakan nyeri pada perut bagian bawah yang semakin memburuk dan disertai oleh mual atau muntah. Biasanya infeksi akan menyumbat tuba falopii. Tuba yang tersumbat bisa membengkak dan terisi cairan. Sebagai akibatnya bisa terjadi nyeri menahun, perdarahan menstruasi yang tidak teratur dan kemandulan.

Infeksi bisa menyebar ke struktur di sekitarnya, menyebabkan terbentuknya jaringan parut dan perlengketan fibrosa yang abnormal diantara organ-organ perut serta menyebabkan nyeri menahun. Di dalam tuba, ovarium, maupun panggul bisa terbentuk abses (penimbunan nanah). Jika abses pecah dan nanah masuk ke rongga panggul, gejalanya segera memburuk dan penderita bisa mengalami syok. Lebih jauh lagi bisa terjadi penyebaran infeksi ke dalam darah sehingga terjadi sepsis. Gejala lainnya yang mungkin ditemukan pada PID: Keluar cairan dari vagina dengan warna, konsistensi dan bau yang abnormal. Metrorargia Demam Perdarahan menstruasi yang tidak teratur atau spotting (bercak-bercak kemerahan di celana dalam Kram karena menstruasi Nyeri ketika melakukan hubungan seksual Perdarahan setelah melakukan hubungan seksual Nyeri punggung bagian bawah Kelelahan Nafsu makan berkurang Sering berkemih Nyeri ketika berkemih. DIAGNOSIS a. Anamnesis (sesuai dengan faktor resiko dan gejala klinis)
b. PF (palpasi panggul dan perut nyeri tekan perut bagian bawah4; TTV suhu

meningkat (>38oC), nadi cepat1 c. PP: ~ Pemeriksaan darah lengkap (leukosit, CRP, dan LED meningkat)4 ~ Pemeriksan cairan dari serviks (Mengevaluasi cairan di dalam abdomen dilakukan untuk menginterpretasi kerusakan. Pus menunjukkan adanya TOA, rupture apendiks, atau abses uterin. Darah ditemukan pada ruptur kehamilan ektopik, kista korpus luteum, dan mestruasi retrograde5)

~ Laparoskopi (Laparoskopi adalah standar baku untuk diagnosis defenitif PID. Kriteria minimum pada laparoskopi untuk mendiagnosa PID adalah edema dinding tuba, hyperemia permukaan tuba, dan adanya eksudat pada permukaan tuba dan fimbriae. Massa pelvis akibat abses tubaovarian atau kehamilan ektopik dapat terlihat4) ~ USG panggul / US transvaginal (tuba falopii normal tidak terlihat pada US)7 ~ Hasil biakan (positif)3,4 ~ Endometrial biopsi dapat dilakukan untuk mendiagnosa endometritis secara histopatologis4 ~ Urinalisis dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan ISK4 DIAGNOSIS BANDING4 a. kehamilan ektopik b. torsi ovarium c. apendisitis d. endometriosis e. kolesistitis f. enteritis g. abses divertikular
h. Kodisi tambahan seperti infertilitas faktor tuba, kehamilan ektopik dan nyeri kronik

abdominal (bdk. komplikasi PID) i. LBP j. Tumor adneksa k. ISK TATALAKSANA2,4 (a) Terapi Parenteral Terapi parenteral diberikan pada kasus ringan sampai sedang. Outcome terapi oral dan parenteral sama namun, yang diperhatikan adalah kriteria pasien yang perlu atau tidak dirawat inap yaitu:

Perlu tindakan bedah emergensi (misal appendisitis) yang belum bisa disingkirkan penyebabnya. Pasien hamil. Tidak berespon secara klinis terhadap terapi antimikroba oral. Pasien tidak dapat menoleransi regimen oral rawat jalan. Penyakit pasien berat, pasien mual dan muntah atau demam tinggi. Pasien dengan abses tubo-ovarian. Diagnosis yang tidak jelas Abses pelvis pada ultrasonografi Gagal merespon dengan perawatan jalan (gagal untuk membaik secara klinis setelah 72 jam terapi rawat jalan) Imunodefisiensi

Terapi yang direkomendasikan menurut Guideline STD 2010 adalah:


-

Regimen Parenteral A : Cefotetan 2 g i.v tiap 12 jam atau cefoxitin 2 g i.v tiap 6 jam plus doxycycline 100 mg oral atau i.v tiap 12 jam. Regimen Parenteral B : Clindamycin 900 mg i.v tiap 8 jam plus gentamicin dosis muat 2 mg/kg diikuti dosis pemeliharaan 1,5 mg/kg tiap 8 jam. Regimen Parenteral Alternatif : Ampicillin/sulbactam 3 g i.v tiap 6 jam plus doxycycline 100 mg oral atau i.v tiap 12 jam.

(b) Terapi Oral Terapi oral, rawat jalan diberikan pada pasien dengan PID ringan sampai sedang karena outcome yang dihasilkan dari terapi oral dan parenteral ternyata sama. Pasien yang tidak berespon terhadap terapi oral dalam waktu 72 jam harus direevaluasi dan diberikan terapi parenteral sebagai pasien rawat jalan atau rawat inap. Terapi yang direkomendasikan menurut Guideline STD 2010: Ceftriaxone 250 mg i.m dosis tunggal plus doxycycline 100 mg oral, 2 kali sehari selama 14 hari dengan atau tanpa metronidazole 500 mg oral, 2 kali sehari selama 14 hari. Atau Cefoxitin 2 g i.m dosis tunggal dan probenecid oral 1 g dosis tunggal plus doxycycline 100 mg oral, 2 kali sehari selama 14 hari dengan atau tanpa metronidazole 500 mg oral, 2

kali sehari selama 14 hari. Atau Cephalosporin parenteral generasi ketiga lain (seperti ceftizoxime atau cefotaxime) plus doxycycline 100 mg oral, 2 kali sehari selama 14 hari dengan atau tanpa metronidazole 500 mg oral, 2 kali sehari selama 14 hari. Jika tidak ada respon terhadap pemberian antibiotik, mungkin perlu dilakukan pembedahan. Pasangan seksual penderita sebaiknya juga menjalani pengobatan secara bersamaan dan selama menjalani pengobatan. Jika melakukan hubungan seksual, pasangan penderita sebaiknya menggunakan kondom. *) Sedangkan tatalaksana menurut panduan CDC (Berek & Novaks Gynekology 14th Edition)6:

(c) Terapi pembedahan Pasien yang tidak mengalami perbaikan klinis setelah 72 jam terapi harus dievaluasi ulang bila mungkin dengan laparoskopi dan intervensi pembedahan. Laparotomi digunakan untuk kegawatdaruratan sepeti rupture abses, abses yang tidak respon terhadap pengobatan, drainase laparoskopi. Penanganan dapat pula berupa salpingoooforektomi, histerektomi, dan bilateral salpingooforektomi. KOMPLIKASI1
-

Infertilitas (bakteri-bakteri yang menyerang menembus tuba fallopii dapat menimbulkan luka di sepanjang lapisan dalam yang lunak, menyebabkan sukarnya (atau tidak memungkinkannya) sebuah telur masuk ke dalam rahim)

Syok septik (syok yang terjadi akibat sepsis) Kehamilan ektopik (tuba falopii sering mendapatkan parut (bekas luka) yang timbul karena infeksi ini, telur yang turun mungkin akan macet dan hanya tertanam di dinding tuba)

Nyeri kronis abdomen bagian bawah/nyeri pelvik kronis

PROGNOSIS
-

Kegagalan untuk berespons terhadap suatu agen antibakteri tertentu dapat berarti bahwa organisme tersebut resisten terhadap obat atau dosis yang diberikan. Penyebab kematian yang utama adalah rupturnya TOA3 Umunya baik jika didiagnosa dan diterapi segera. Terapi dengan antibiotik memiliki angka kesuksesan sebesar 33-75%3 Nyeri pelvis kronik timbul pada 25% pasien dengan riwayat PID, berhubungan dengan perubahan siklus menstrual, tapi dapat juga sebagai akibat perlengketan atau hidrosalping4

Rata-rata infertilitas meningkat seiring dengan peningkatan frekuensi infeksi. Resiko kehamilan ektopik meningkat pada wanita dengan riwayat PID sebagai akibat kerusakan langsung tuba fallopi4

PENCEGAHAN3,4

Meningkatkan hubungan dalam lingkungan keluarga. Meningkatakan aktifitas remaja yang produktif. Memberikan pendidikan seksual tentang anatomi-fisiologi genitalia, sikap Mengikuti hubungan seksual yang sehat (kontrasepsi sederhana

menghadapi hubungan seks (abstinesia, dan mengikuti siklus menstruasi). {kondomisasi}, masalah penularan PMS/PRP, masalah aborsi).

Menghindari ketagihan obat terlarang dan alkoholisme Menghindari hubungan seks dengan wanita tunasusila. Kontrasepsi oral (jika dibandingkan dengan IUD)

Referensi: 1. Lareau, Susan, etc. Pelvic Inflammatory Disease and Tubo-Ovarian Abscess. Infection Disease Clinics of North America Journal. USA: Elsevier Saunders. 2008. 2. Terapi Penyakit Inflamasi Pelvis menurut Guideline STD 2010. Available at:
http://www.kalbe.co.id/articles/21028/terapi-penyakit-inflamasi-pelvis-menurut-guideline-std2010.html

3. Reyes, Iris. Pelvic Inflammatory Disease. 2010. Available at: http://emedicine.medscape.com/article/796092-print 4. Shepherd, Suzanne M. Pelvic Inflammatory Disease. 2010. Available at: http://emedicine.medscape.com/article/256448-print 5. Pernoll, Martin L. Pelvic Inflammatory Disease. Benson & Pernolls Handbook of Obstetric and Gynecology 10th edition. USA : McGrawhill Companies. 2001. 6. Berek, Jonathan S. Pelvic Inflammatory Disease. Berek & Novaks Gynekology 14th Edition. California : Lippincott William & Wilkins. 2007. 7. Edmonds, Keith D. The Role of Ultrasound in Gynecology. Dewhursts Textbook of Obstetric and Gynecology 7th edition. London : Blackwell Publishing. 2007.

Anda mungkin juga menyukai