Anda di halaman 1dari 4

Hewan sebagai model atau sarana percobaan haruslah memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, antara lain persyaratan genetis/ keturunan

dan lingkungan yang memadai dalam pengelolaannya, di samping faktor ekonomis, mudah tidaknya diperoleh, serta mampu memberikan reaksi biologis yang mirip kejadiannya pada manusia (Sulaksono, M.E., 1987). Farmakologi merupakan sifat dari mekanisme kerja obat pada sistem tubuh termasuk menentukan toksisitasnya. Bentuk sediaan dan cara pemberian merupakan penentu dalam memaksimalkan proses absorbsi obat oleh tubuh karena keduanya sangat menentukan efek biologis suatu obat seperti absorpsi, kecepatan absorpsi dan bioavailabilitas (total obat yang dapat diserap), cepat atau lambatnya obat mulai bekerja (onset of action), lamanya obat bekerja (duration of action), intensitas kerja obat, respons farmakologik yang dicapai serta dosis yang tepat untuk memberikan respons tertentu (Anonim I., 2008). Obat sebaiknya dapat mencapai reseptor kerja yang diinginkan setelah diberikan melalui rute tertentu yang nyaman dan aman seperti suatu obat yang memungkinan diberikan secara intravena dan diedarkan di dalam darah langsung dengan harapan dapat menimbulkan efek yang relatif lebih cepat dan bermanfaat. Jalur pemakaian obat yang meliputi secara oral, rektal, dan parenteral serta yang lainnya harus ditentukan untuk mencapai efek yang maksimal (Anonim I., 2008). Ditinjau dari segi sistem pengelolaannya atau cara pemeliharaannya, di mana faktor keturunan dan lingkungan berhubungan dengan sifat biologis yang terlihat/karakteristik hewan percobaan, maka ada 4 golongan hewan, yaitu 1). Hewan liar. 2). Hewan yang konvensional, yaitu hewan yang dipelihara secara terbuka. 3). Hewan yang bebas kuman spesifik patogen, yaitu hewan yang dipelihara dengan sistim barrier (tertutup). 4). Hewan yang bebas sama sekali dari benih kuman, yaitu hewan yang dipelihara dengan sistem isolator Sudah barang tentu penggunaan hewan percobaan tersebut di atas disesuaikan dengan macam percobaan biomedis yang akan dilakukan. Semakin meningkat cara pemeliharaan, semakin sempurna pula hasil percobaan yang dilakukan. Dengan demikian, apabila suatu percobaan dilakukan terhadap hewan percobaan yang liar, hasilnya akan berbeda bila menggunakan hewan percobaan konvensional ilmiah maupun hewan yang bebas kuman (Sulaksonono, M.E., 1987). Jenis-jenis Hewan percobaan: No Jenis hewan percobaan 1. Mencit (Laboratory mince) Spesies Mus musculus

2. 3 4 5

Tikus (Laboratory Rat) Marmut Kelinci Katak

Rattus norvegicus Cavia porcellus (Cavia cobaya) Oryctolagus cuniculus Rana sp.

Cara memegang hewan (handling) dan penentuan jenis kelamin Masih dalam rangka pengelolaan hewan percobaan secara keseluruhan, cara memegang hewan serta cara penentuan jenis kelaminnya perlu pula diketahui. Cara memegang hewan dari masing-masing jenis hewan adalah ber,eda-beda dan ditentukan oleh sifat hewan, keadaan fisik (besar atau kecil) serta tujuannya. Kesalahan dalam caranya akan dapat menyebabkan kecelakaan atau hips ataupun rasa sakit bagi hewan (ini akan menyulitkan dalam melakukan penyuntikan atau pengambilan darah, misalnya) dan juga bagi orang yang memegangnya Identiftikasi (Pemberian tanda pada hewan). Tujuan dari pada pemberian tanda pada hewan adalah disamping untuk mencegah kekeliruan hewan dalam sistim pembiakannya juga untuk mempermudah pengamatan dalam percobaan. Bermacam-macam cara yang dipakai dalam identifikasi tergantung kepada selera dan juga lama tidaknya hewan tersebut terpaki atau dipelihara. (marking, ear punching, too clipping, ear tags, tattocing, coat colors) (Sulaksono, M. E., 1992). Obat dalam tubuh akan mengalami beberapa fase yaitu: - Fase farmasetik - Fase farmakokinetik - Fase farmakodinamik Rute Penggunaan Obat Memilih rute penggunaan obat tergantung dari tujuan terapi, sifat obatnya serta kondisi pasien. Oleh sebab itu perlu mempertimbangkan masalah-masalah seperti berikut: a. tujuan terapi mengkehendaki efek lokal atau efek sistemik b. apakah kerja awal obat yang dikehendaki itu cepat atau masa kerjanya lama c. stabilitas obat di dalam lambung dan atau usus d. keamanan relatif dalam penggunaan melalui bermacam-macam rute

e. rute yang tepat dan menyenangkan bagi pasien dan dokter f. kemampuan pasien menelan obat melelui oral (Anief, M., 1994). Bentuk sediaan obat yang diberikan akan mempengaruhi kecepatan dan efek terapi/obat. Bentuk sediaan obat dapat memberi efek obat secara lokal atau sistemik. Efek sistemik diperoleh jika obat beredar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah, sedangkan efek lokal adalah efek obat yang hanya berkerja setempat misalnya salep (Anief, M., 1994). Efek sistemik dapat diperoleh dengan cara: a. oral melalui saluran gastrointestinal atau rektal b. parenteral dengan cara intravena, intramuskular dan subkutan c. inhalasi langsung ke dalam paru-paru Efek lokal dapat diperoleh dengan cara: a. intraokular, intranasal, aural, dengan jalan diteteskan pada mata, hidung, telinga b. intrarespiratoral, berupa gas masuk paru-paru c. rektal, uretral, dan vaginal dengan jalan dimasukkan ke dalam dubur, saluran kencing dan kemaluan wanita, obat melelh atau larut pada keringat badan atau larut dalam cairan badan. Rute penggunaan obat dapat dengan cara: a. melalui rute oral b. melalui rute parenteral c. melalui rute inhalasi d. melalui rute membran mukosa seperti mata, hidung, telinga, vagina dan sebagainya e. melalui rute kulit (Anief, M., 1994). Rute penggunaan obat dapat diperlihatkan sebagai berikut: No. Istilah 1. Per oral (per os) Letak masuk dan jalan absorpsi obat Melalui mulut masuk saluram intestinal (lambung), penyerapan 2. 3 Sublingual Parenteral obat melalui membran mukosa pada lambung dan usus memberi efek sistemik Dimasukkan di bawah lidah, penyerapan obat mellaui membran mukosa, memberi efek sistemik ataumelalui selain jalan lambung dengan merobek beberap

injeksi a. intravena b. intrakardial

jaringan Masuk pembuluh darah balik (vena), memberi efek sistemik Menembus jantung, memberi efek sistemik

c. intrakutan Menembus kulit, memberi efek sistemik d. subkutan Di bawah kulit, memberi efek sistemik e. intramuskular 4 5 No. 6 7 8 9 Intranasal Aural Istilah Intrarespiratoral Rektal Vaginal Uretral Menembus otot daging, memberi efek sistemik Diteteskan pada lubang hidung, memberi efek lokal Diteteskan pada lubang telinga, memberi efek lokal Letak masuk dan jalan absorpsi obat Inhalasi berupa gas masuk paru-paru, memberi efek lokal Dimasukkan ke dalam dubur, memberi efek lokal + sistemik Dimasukkan ke dalam lubang kemaluan wanita, memberi efek lokal Dimasukkan ke dalam saluran kencing, memberi efek lokal
Anief, M., 1994. Farmasetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 42-43. Anonim I, 2008.Farmakologi-1. http://71mm0.files.wordpress.com/2008/05/farmakologi-1.doc Katzung, B.G., 1998. Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi VI. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal. 351. Reksohadiprodjo, M.S., 1994. Pusat Penelitian Obat Masa Kini. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 3. Setiawati, A. dan F.D. Suyatna, 1995. Pengantar Farmakologi Dalam Farmakologi dan Terapi. Edisi IV. Editor: Sulistia G.G. Jakarta: Gaya Baru. Hal. 3-5. Sulaksono, M.E., 1987. Peranan, Pengelolaan dan Pengembangan Hewan Percobaan. Jakarta. http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/16_PerkembangbiakanHewanPercobaan.pdf/16_Perkemb angbiakanHewanPercobaan.html Sulaksono, M.E., 1992. Faktor Keturunan dan Lingkungan Menentukan Karakteristik Hewan Percobaan dan Hasil Suatu Percobaan Biomedis. Jakarta. http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/15_FaktorKeturunandanLingkungan.pdf/15_FaktorKeturu nandanLingkungan.html Tjay, T.H. dan K. Rahardja. 2002.Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan Efek-Efek Sampingnya. Edisi Kelima. Cetakan Pertama. Jakarta: Penerbit PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia. Hal. 357. Utama, H dan Vincent H.S.Gan,1995. Antikonvulsi Dalam Farmakologi dan Terapi. Edisi IV. Editor: Sulistia G.G. Jakarta: Gaya Baru. Hal. 168-169.