Anda di halaman 1dari 3

1

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Kenaikan harga minyak mentah dunia akhir-akhir ini memberi dampak yang besar pada perekonomian nasional, terlebih dengan problematika Indonesia yang menjadi negara net importir sejak tahun 2004. Dengan semakin menipisnya cadangan minyak bumi yang diperkirakan akan habis pada tahun 2020, maka Indonesia pun akan menjadi negara pengimport besar minyak bumi sekitar tahun 2025. Keadaan ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 1.1 Cadangan dan umur sumber energi non renewable (Billaut, dkk) Jenis Energi Minyak Bumi Gas Bumi Batu Bara Cadangan Terbukti 4,7 milyar Barel 90,3 TSCF 4,968 milyar ton Produksi 1,126 juta barrel/hari 2,6 TSCF/tahun 81,4 juta ton/tahun Sisa Umur(th) 15 35 61

Oleh karena itu diperlukan kebijakan pemerintah untuk melaksanakan penganekaragaman energi dengan memanfaatkan energi terbaharukan. Bahan bakar alternative yang bersifat terbaharukan dapat diperoleh dari minyak nabati. Beberapa sumber energi alternatif dari minyak nabati adalah minyak kelapa sawit, minyak jarak dan ada pula minyak goreng bekas(Waste Cooking Oil). Minyak goreng bekas adalah sisa dari hasil industri penggorengan dan memiliki sifat non-edibel, sehingga penggunaan minyak goreng bekas tidak mengganggu kebutuhan pangan seperti CPO serta dapat mengurangi dampak limbah dari industri penggorengan karena dalam minyak goreng bekas terdapat sekitar 400 senyawa kimia yang umumnya bersifat karsinogenik. Selain itu, karakteristik minyak goreng bekas tidak jauh berbeda dengan minyak bumi, karena terdiri dari trigliserida dan mempunyai senyawa hidokarbon rantai panjang seperti pada minyak bumi. (Boyd & Margaret, 1996).

Angga Resala Perdana

Teknik Kimia-UNTIRTA

Di UNTIRTA, penelitian terkait minyak nabati telah dilakukan, salah satunya oleh Moh. Agus Sudrajat dan Ornella (2010) mengenai catalytic cracking hidrokarbon pada minyak goreng bekas, didapatkan hipotesa bahwa rantai hidrokarbon panjang yang mengandung ikatan rangkap tersebut dapat ter-cracking dan menghasilkan produk catalytic cracking hingga berfase gas. Pada penelitian sebelumnya, produk yang dianalisa berfase gas, sedangkan produk cair yang dihasilkan dicurigai memiliki karakteristik setara solar (petroleum diesel). Oleh karena itu, penelitian ini merupakan follow up dari penelitian sebelumnya dengan memfokuskan pada analisa produk cair lebih lanjut. Minyak goreng bekas yang dipakai dalam penelitian ini merupakan minyak goreng bekas hasil dari proses penggorengan industri kerupuk. Katalis yang digunakan pada penelitian ini adalah zeolit alam Bayah yang telah diaktivasi, sehingga pada akhirnya akan diperoleh produk cair yang mempunyai karakteristik setara dengan solar (Petroleum diesel / automotive diesel oil). Biosolar telah banyak digunakan sebagai bahan bakar dibidang automotive. Biosolar dari minyak goreng bekas ini dapat dipakai secara langsung ataupun sebagai campuran solar dan peluang pasar bagi biosolar cukup terbuka dengan kesiapan Pertamina untuk memasarkan produk biosolar ke masyarakat. Disamping itu, penggunaan minyak goreng bekas dapat mengurangi potensi pencemaran lingkungan akibat limbah rumah tangga.

1.2. Rumusan Masalah Rumusan masalah penelitian ini adalah untuk mengetahui yield produk catalytic hydrocracking dari minyak goreng bekas yang karakteristiknya setara solar (automotive diesel oil). Karakteristik yang dimaksudkan adalah viskositas dan densitasnya.

Angga Resala Perdana

Teknik Kimia-UNTIRTA

1.3. Tujuan Penelitian 1. Mensintesa biosolar dari minyak goreng bekas 2. Mengetahui pengaruh kondisi operasi pada reaksi catalytic hydrocracking 3. Mengetahui konversi produk liquid catalytic hydrocracking 4. Mengetahui yield biosolar yang dihasilkan dari catalytic hydrocracking minyak goreng bekas

1.4. Ruang Lingkup 1. Bahan baku yang dipakai dalam penelitian ini adalah Minyak goreng bekas (Waste Cooking Oil) hasil industri kerupuk 2. Karakteristik produk catalytic hydrocracking minyak goreng bekas dengan solar dilihat dari viskositas, densitas, dan komposisi produk catalytic hydrocracking. 3. Reaksi dilakukan dalam reaktor berpengaduk dengan sistem batch pada fasa liquid 4. Katalis yang digunakan adalah zeolit alam Bayah

Angga Resala Perdana

Teknik Kimia-UNTIRTA