Anda di halaman 1dari 160

PENINGKATAN KUALITAS MINYAK GORENG BEKAS DENGAN

METODE ADSORPSI MENGGUNAKAN BENTONIT KARBON

AKTIF BIJI KELOR (Moringa oleifera. Lamk)

SKRIPSI

Oleh :

Nila Istighfaro

NIM. 03530006

Lamk) SKRIPSI Oleh : Nila Istighfaro NIM. 03530006 JURUSAN KIMIA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

2010

PENINGKATAN KUALITAS MINYAK GORENG BEKAS DENGAN

METODE ADSORPSI MENGGUNAKAN BENTONIT KARBON

AKTIF BIJI KELOR

(Moringa oleifera. Lamk)

SKRIPSI

Diajukan Kepada:

Fakultas Sains dan Teknologi

Universitas Islam Negeri (UIN) Malang

Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam

Memperoleh Gelar Sarjana Sains (S. Si)

Oleh:

Nila Istighfaro

NIM: 03530006

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

2010

SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS PENELITIAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama

:

Nila Istighfaro

NIM

:

03530006

Fakultas / Jurusan

:

Sains da Teknologi / Kimia

Judul Penelitian

:

Peningkatan Kualitas Minyak Goreng Bekas dengan Metode Adsorpsi Menggunakan Bentonit Karbon Aktif Biji Kelor (Moringa oleífera. Lamk)

Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa hasil penelitian saya ini

tidak terdapat unsur-unsur penjiplakan karya penelitian atau karya ilmiah yang

pernah dilakukan atau dibuat oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis dikutip

dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.

Apabila ternyata hasil penelitian ini terbukti terdapat unsur-unsur jiplakan,

maka saya bersedia untuk mempertanggung jawabkan, serta diproses sesuai

peraturan yang berlaku.

Malang, 16 Juni 2010

Yang Membuat Pernyataan,

Nila Istighfaro

NIM.03530006

"PERSEMBAHAN" “Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan” (QS.
"PERSEMBAHAN"
“Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan”
(QS. Al-Hadiid:20)
“Siapa berjalan mencari ilmu pasti Allah akan memudahkan baginya jalan ke Surga “
(HR. Muslim)
“Dunia adalah sekumpulan kesan yang diciptakan
untuk menguji manusia (Harun Yahya)
Dengan Mengucapkan Rasa Syukur Kehadirat Ilahi Robbi
Yang Maha Pemurah lagi Maha Penolong
Semoga Ridho-Nya selalu Mengiringi setiap Langkah Hidupku
Sehingga Kesuksesan dan Kebahagian
Menjadi Akhir dari semua Perjuangan yang mesti Kutempuh
Kupersembahkan Karya Sederhana ini untuk
Kedua Orang tuaku, ayahanda M Andri Zaini dan Ibunda Mudawamah
Yang senantiasa mengeringi langkahku dengan Do’a dan kasih sayangnya
Sungguh Kasih Sayang Kalian sangat Berarti dalam Hidupku
Suamiku tercinta ”Bahtiar Yulianto”
dan Buah Hatiku Tersayang ”Aika Zulfa Syarifah”
yang selalu mendampingiku dalam mengaruhi hidup.
Pengorbanan kalian sangat berarti
Moga Aika jadi anak yang sholehah,cerdas & kuat.
Adikku tersayang Adib Syaifullah
dan Seluruh Keluarga Besarku (Mas Irham, Mba’ Ayu,
Mas Agus, Mba’ Novi, De’Wawan,
De’ Nita, De’ Riha) yang selalu mendukung dalam meraih cita2.
Tiadah Hadiah yang Terindah selain Kasih Sayang Kalian
Bapak dan Ibuguruku, yang selalu menjadi Pahlawan dalam Studyku
Karenamu Aku bisa Mewujudkan Harapan dan Cita-citaku
Seluruh Saudara N sahabat_q yang senantiasa mendoakan
demi kelancaran dan kesuksesan dalam menggapai cita.
Tiada Kata Yang Bisa Terucap Selain Do’a
Semoga Segala Amal Kalian Semua Dibalas oleh Allah SWT
Amien

MOTTO

MOTTO "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami

"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka “ (Ali Imron, ayat 191)

Semangat yang kuat, do’a yang tiada henti , keikhlasan dan keridhoan Adalah pintu menuju kesuksesan

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Maha Besar Allah Swt. yang telah memberikan kemudahan bagi umat

manusia untuk menguak misteri dalam setiap rahasia yang diciptakan-Nya, guna

menunjukkan betapa kuasanya Allah terhadap segala jenis makhluk-Nya. Rahasia

itu menjadi ladang bagi umat manusia untuk menuai hikmah dan makna selama

rentang kehidupan yang singkat. Segala puji syukur kehadirat Allah yang telah

memberikan rahmat, hidayah dan kemudahan yang selalu diberikan kepada

hamba-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul

Peningkatan

Kualitas

Minyak

Goreng

Bekas

dengan

Metode

Adsorpsi

Menggunakan Bentonit Karbon Aktif Biji Kelor (Moringa oleifera. Lamk)

sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Sains.

Sholawat dan salam kepada Nabi besar Muhammad SAW yang menjadi

panutan bagi umat di dunia. Dialah Nabi akhir zaman, revolusioner dunia, yang

telah merubah kejahiliahan menuju shirothol mustaqim, ya’ni agama Islam.

Penulis menyadari bahwa banyak pihak yang telah membantu dalam

menyelesaikan

penulisan

skripsi

ini.

Untuk

itu,

iringan

doa

dan

ucapan

terimakasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada :

1.

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku Rektor UIN MALIKI Malang beserta

stafnya, terima kasih atas fasilitas yang diberikan selama kuliah di UIN

Malang.

i

2.

Prof. Drs. Sutiman Bambang Sumitro, S.U., D.Sc., selaku Dekan Fakultas

Sains dan Teknologi UIN MALIKI Malang.

3. Diana Chandra Dewi, M.Si., selaku Ketua Jurusan Kimia Fakultas Sains dan

Teknologi UIN MALIKI Malang.

4. Eny Yulianti, M.Si, Anton Prasetyo, M.Si, dan Munirul Abidin, M.Ag, selaku

dosen pembimbing yang dengan penuh kesabaran, ketelatenan dan keikhlasan

di

tengah-tengah

kesibukannya

meluangkan

waktu

untuk

memberikan

bimbingan serta pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.

5. Diana Chandra Dewi, M.Si, dan Akyunul Jannah, S.Si, MP, selaku penguji

yang banyak memberikan masukan saran dan kritik konstruktif.

6. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi yang telah

banyak mengamalkan ilmunya.

7. Moh. Taufik, S.Si., Moh. Kholid Al-Ayubi, S.Si., dan Zulkarnain, S.Si., selaku

Laboran Kimia UIN Malang.

8. Koordinator

Laboratorium

Kimia

Fisika,

Teknik

Hasil

Pertanian

(THP)

Universitas Brawijaya atas kesediaannya memberikan tempat penelitian dan

meminjamkan segala peralatannya.

9. Ayah dan ibuku yang dengan penuh kasih sayang dan keikhlasan telah

mengasuh, membesarkan dan membiayai baik materiil maupun spiritual,

mendidikku, memberikan dukungan, nasehat serta dengan penuh kesabaran

mengalirkan doa-doanya untuk kebahagiaan dan kesuksesan putri tercintanya

baik di dunia maupun di akhirat

ii

10. Suamiku tercinta “Bahtiar Yulianto”

yang dengan penuh kesabaran dan

keikhlasan memberikan dukungan baik materiil maupun spirituil, saran,

nasihat, waktu, pengorbanan dan doanya disetiap saat

11. Anakku tersayang “Aika Zulfa Syarifah” yang selalu menghibur dalam suka

dan duka.

12. Teman-teman Chemistry dan semua pihak yang telah banyak membantu

penulis baik secara langsung maupun tidak langsung demi terselesainya

skripsi ini.

Tiada kata dan ungkapan yang lebih berharga yang bisa penulis sampaikan

kecuali do’a dan ucapan banyak terima kasih, kepada semua pihak atas segala

bantuan, kerja sama dan dukungannya. Semoga apa yang kita kerjakan dapat

bermanfaat dan menjadi amal di sisi Allah SWT serta mendapat imbalan yang

semestinya. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam

penyusunan skripsi ini, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik

yang bersifat membangun. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi

penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya. Amien Ya Robbal’alamin !

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

iii

Malang, 16 Juni 2010

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

 

i

DAFTAR

ISI

iv

DAFTAR

TABEL

vii

DAFTAR GAMBAR

viii

DAFTAR

LAMPIRAN

x

ABSTRAK

 

xi

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

1

1.2

Perumusan Masalah

5

1.3

Tujuan Penelitian

6

1.4

Batasan Penelitian

7

1.5

Manfaat Penelitian

7

BAB

II TINJAUAN PUSTAKA

8

2.1

Pemanfaatan tanaman dalam perspektif Islam

8

2.2

Tanaman Kelor

13

2.3

Minyak Goreng

17

2.3.1

Trigliserida Pada Minyak Kelapa Sawit

18

2.3.2

Warna

23

2.3.3

Kerusakan minyak

24

2.4

Mineral Lempung

28

2.4.1

Bentonit

30

2.4.2

Montmorillonit

32

2.4.3

Pertukaran

ion

37

2.4.4

Pertukaran

kation

37

2.4.5

Aktivasi montmorillonit

38

2.5

Pemurnian Minyak Goreng

40

2.5.1

Penghilangan bumbu (despicing)

41

2.5.2

Netralisasi

41

2.5.3

Pemucatan (bleaching)

42

2.6

Adsorpsi

43

2.7

Karbon Aktif

48

2.7.1

Aktivasi Karbon Aktif

50

2.8

Kolom

53

2.9

Analisis FFA dengan Metode Titrasi Asam Basa

54

2.10

Penentuan Angka Peroksida dengan Titrasi Iodin

56

iv

BAB

III METODE PENELITIAN

57

3.1

Waktu dan Tempat Penelitian

57

3.2

Bahan

57

3.2.1

Sampel

57

3.2.2

Bahan Kimia

 

57

3.3

Alat

57

3.4

Tahapan Penelitian

 

58

3.5

Cara Kerja

59

3.5.1

Preparasi Biji Kelor

59

3.5.2

Preparasi

Bentonit

59

3.5.3

Proses penghilangan bumbu (despicing)

60

3.5.4

Proses

netralisasi

60

3.5.5

Analisis warna dengan color reader

61

3.5.6

Penentuan Asam Lemak Bebas (Free Fatty Acid)

61

3.5.7

Penentuan

Angka Peroksida

62

3.5.8

Adsorpsi minyak goreng bekas menggunakan karbon aktif biji kelor dan bentonit

62

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

64

4.1

Pembuatan Karbon Aktif dari Biji Kelor

64

4.1.1

Proses

Karbonisasi

Biji Kelor

65

4.1.2

Proses

Aktivasi Biji Kelor

66

4.2

Preparasi Bentonit

 

67

4.3

Pemurnian Minyak Goreng Bekas

69

4.3.1

Proses

Despicing

70

4.3.2

Proses

Netralisasi

72

4.3.3

Proses

Bleaching

74

4.4

Perubahan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA)

77

4.4.1

Perubahan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA) setelah berinteraksi dengan Adsorben Karbon Aktif Biji Kelor

79

4.4.2

Perubahan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA) setelah berinteraksi dengan Adsorben Bentonit Teraktivasi

82

4.4.3

Perubahan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA) setelah berinteraksi dengan Adsorben Campuran

83

4.4.4

Pengaruh jenis adsorben terhadap perubahan asam lemak bebas

84

4.5

Perubahan

Angka

Peroksida

89

4.5.1

Perubahan Angka Peroksida setelah berinteraksi dengan Adsorben

Karbon Aktif Biji

Kelor

92

4.5.2

Perubahan Angka Peroksida setelah berinteraksi dengan Adsorben Bentonit teraktivasi

95

4.5.3

Perubahan Angka Peroksida setelah berinteraksi dengan Adsorben Campuran

97

4.5.4

Pengaruh jenis adsorben terhadap perubahan Angka Peroksida

98

v

4.6

Analisis Warna Minyak Goreng Sebelum dan Sesudah Reprosessing .103

4.6.1

Warna

Cerah (L)

103

4.6.2

Warna

Merah (a*)

105

4.7

Kajian Hasil Penelitian Dalam Perspektif Islam

106

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

112

5.1 Kesimpulan

 

112

5.2 Saran

113

DAFTAR PUSTAKA

114

LAMPIRAN-LAMPIRAN

119

vi

DAFTAR TABEL

Tabel

2.1

Kandungan nutrisi biji kelor

17

Tabel

2.2

Komposisi Trigliserida Dalam Minyak Kelapa Sawit

20

Tabel

2.3

Komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa Tabel Sawit

20

Tabel

2.4

Syarat Mutu Minyak Goreng Menurut (SNI 01-3741-2002)

27

Tabel

2.5

Standar mutu minyak goreng berdasarkan SNI 3741-1995

28

Tabel

2.6

Sifat-sifat tanah liat

32

Tabel

2.7

Adsorpsi Fisika dan Adsorpsi Kimia

48

Tabel

4.1

Hasil analisa FFA dan peroksida pada minyak goreng baru,

Hasil analisa FFA dan peroksida pada minyak goreng baru,

Data hasil percobaan uji pengaruh jenis adsorben terhadap

Tabel

4.2

minyak goreng bekas dan minyak hasil despicing

71

Tabel

4.3

minyak goreng bekas dan minyak hasil netralisasi

kualitas Minyak goreng

74

76

Tabel

4.4

Warna minyak goreng baru, bekas dan hasil reprosessing

103

Tabel

4.5

Analisis Angka Peroksida dan Asam Lemak Bebas Pada Minyak Goreng Bekas

110

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar

2.1

Tanaman kelor

16

Gambar

2.2

Reaksi Pembentukan Trigliserida

19

Gambar

2.3

Struktur Asam Lemak

19

Gambar

2.4

Reaksi

Hidrolisis Minyak

26

Gambar

2.5

Reaksi

Pembentukan Peroksida

27

Gambar 2.6

Susunan atom-atom Si dan O dalam tetrahedral

33

Gambar 2.7

Lembaran silika yang tersusun oleh enam tetrahedral

33

Gambar 2.8

Susunan atom-atom dalam oktahedral

34

Gambar

2.9

Lembaran oktahedral (OH) 6 -Al 4 -(OH) 2 -O 4

34

Gambar 2.10 Lapisan mineral dengan perbandingan lapisan silika dan

 

alumina

2:1

35

Gambar 2.11 Struktur tiga dimensi dari montmorillonit

36

Gambar 2.12 Reaksi asam lemak bebas dengan NaOH

42

Gambar 2.13 Gaya Tarik antara Molekul-Molekul Polar

45

Gambar 2.14 Terjadinya Gaya Dipol-Dipol Induksian

45

Gambar 2.15 Pembentukan Dipol sesaat pada Molekul Nonpolar

46

Gambar

2.16

Terjadinya gaya London

47

Gambar 4.1

Reaksi Asam Lemak Bebas dengan NaOH

72

Gambar 4.2

Stabilisasi resonansi asam karboksilat

73

Gambar 4.3

Mekanisme reaksi asam lemak bebas dengan NaOH

73

Gambar 4.4

Pengaruh perlakuan terhadap kadar FFA

78

Gambar 4.5

Pembentukan Dipol Sesaat pada Molekul Nonpolar

81

viii

Gambar 4.6

Terjadinya gaya London antara asam lemak bebas dengan Karbon aktif biji kelor

81

Gambar 4.7

Pembentukan Dipol Sesaat pada Molekul Nonpolar

87

Gambar 4.8

Terjadinya gaya London antara asam lemak bebas dengan karbon

aktif biji kelor

87

Gambar 4.9

Reaksi Pembentukan Peroksida Pada Asam Lemak Oleat

90

Gambar 4.10 Mekanisme reaksi pembentukan peroksida pada asam Oleat

91

Gambar

4.11

Pengaruh Adsorben Terhadap Nilai Angka

Peroksida

91

Gambar 4.12 Reaksi Iodometri selama proses analisis Angka Peroksida

92

Gambar 4.13 Pembentukan Dipol Sesaat pada Molekul Nonpolar

94

Gambar 4.14 Terjadinya gaya London antara asam lemak bebas dengan Karbon aktif biji kelor

95

Gambar 4.15 Pembentukan Dipol Sesaat pada Molekul Nonpolar

101

Gambar 4.16 Terjadinya gaya London antara asam lemak bebas dengan Karbon aktif biji kelor

102

ix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1.

Diagram Alir

 

118

Lampiran 2.

Pembuatan Reagen Kimia

 

123

Lampiran

3.

Data Hasil Penelitian

126

Lampiran

4.

Skema alat

 

134

Lampiran 5.

Gambar Proses Pembuatan Karbon Aktif Biji Kelor

135

Lampiran 6.

Gambar

Proses

Despicing (Penghilangan

bumbu)

136

Lampiran 7.

Gambar

Proses Netralisasi dan Bleaching

137

Lampiran 8.

Gambar Minyak Goreng Sebelum dan Sesudah Processing

138

x

ABSTRAK

Istighfaro, Nila. 2010. Peningkatan Kualitas Minyak Goreng Bekas dengan Metode Adsorpsi Menggunakan Bentonit Karbon Aktif Biji Kelor (Moringa oleifera. Lamk).

Pembimbing Utama Pembimbing Agama

: Eny Yulianti, M.Si : Munirul Abidin, M.Ag

Penggunaan minyak goreng yang berulang-ulang dengan pemanasan pada suhu tinggi akan menyebabkan terbentuknya berbagai senyawa hasil oksidasi lemak berupa seyawa alkohol, aldehid, keton, hidrokarbon, ester serta bau tengik yang akan mempengaruhi mutu dan gizi bahan pangan yang digoreng. Minyak goreng bekas merupakan limbah yang dapat diolah kembali dengan proses pemucatan menggunakan adsorben. Sistem adsorpsi dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu :

metode kolom dan metode batch. Metode kolom dipandang lebih efektif karena kolom yang sudah digunakan dapat diregenerasi kembali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan kadar asam lemak bebas (FFA), angka peroksida, dan perubahan warna minyak goreng bekas setelah dilewatkan melalui kolom yang berisi adsorben karbon aktif biji kelor, bentonit teraktivasi dan campuran dari bentonit teraktivasi dengan karbon aktif biji kelor. Penelitian ini meliputi: (1) Pembuatan karbon aktif dari biji kelor dengan dehidrasi, karbonisasi dilakukan satu tahap dengan cara dipanaskan dalam tanur pada temperatur 600 o C selama 3 jam dan aktivasi kimia menggunakan larutan NaCl (2) Pemurnian minyak goreng bekas dengan cara depicing, netralisasi, bleaching dengan ketiga jenis adsorben melalui kolom (3) Penentuan angka peroksida, asam lemak bebas dan warna minyak goreng baru, minyak goreng bekas, hasil despicing, netralisasi, hasil bleaching pada masing-masing adsorben menggunakan kolom

Hasil penelitian menunjukkan asam lemak bebas pada minyak goreng baru,

bekas, despicing, netralisasi berturut-turut 0,037 %,0,448 %, 0,211 %, 0,148 %. Angka peroksida pada minyak goreng baru, bekas, despicing, netralisasi berturut- turut 1,32 meq/kg, 4,58 meq/kg, 4,00 meq/kg, 3,96 meq/kg. Minyak hasil netralisasi yang telah diinteraksikan dengan adsorben melalui kolom menunjukkan asam lemak bebas 0,141 % pada adsorben karbon aktif biji kelor, 0,145 % pada adsorben bentonit teraktivasi dan 0,142 % pada adsorben campuran. Angka peroksida 2,49 meq/kg pada adsorben karbon aktif biji kelor, 2,39 meq/kg pada adsorben bentonit teraktivasi dan 2,37 meq/kg pada adsorben campuran. Hasil penelitian menunjukkan kadar FFA mengalami penurunan sebesar 69 % menggunakan adsorben karbon aktif biji kelor dan angka peroksida sebesar 48 % menggunakan adsorben campuran. Sedangkan warna minyak goreng mengalami peningkatan. Untuk warna cerah (L) mengalami peningkatan sebesar 29.98 %, warna merah (a * ) 48,2 %, dan warna kuning (b * ) 42, 8 %.

Kata Kunci :

Minyak goreng bekas, karbon aktif, biji kelor, bentonit, asam lemak bebas, angka peroksida

xi

ABSTRACT

Istighfaro, Nila. 2010. Improve quality of used fried oil by adsorption method using betonit activeted carbon of moringa seed (Moringa oleifera Lamk)

Pembimbing Utama Pembimbing Agama

: Eny Yulianti, M.Si : Munirul Abidin, MA

Tha use of fried oil repeatedly with steam at high temperature will produce various chemical compounds as a result of oxidized oil such as alcohol, aldehide, keton, hydrocarbon, esther and rancidity. This process will influence the quality and nutritional values of the fried food materials. Used fried oil is waste that could be reusable by bleaching using adsorben. Adsorption could be proceed by column method and batch method. The column method is more effective than those of method due to the ability for regeneration easily. The purpose of this research are to find the change of free fatty acid (FFA), peroxide value, and the color of the used of fried oil after passing through the coloumn process containing adsorben i.e activeted carbon from kelor seed, activated bentonit and mixed adsorben. This scope of this research are (1) Making activated carbon from dehidrated kelor seed. This process is one step process which is carried out by heating at 600 o C for 3 hours in a furnace and chemical activation is use with 30 % NaCl, (2) The purification of the used fried oil was carried out by despicing, netralization and bleaching using three different adsorbens through a coloumn, (3) Measuring a peroxide value, free fatty acid and the colour of fresh fried oil, used fried oil, despicing result, netralization and bleaching for each adsorben through the column The result showed that free fatty acid of the fresh fried oil, the used fried oil, the despicing, and the netralization were 0,037 %,0,448 %, 0,211 %, 0,148 % respectively. Peroxide values of the fresh fried oil, the used fried oil, the despicing

and the netralization were 1,32 meq/kg, 4,58 meq/kg, 4,00 meq/kg, 3,96 meq/kg respectively. The Free fatty acid content of the used fried oil after passing through the column containing activeted carbon of Moringa oleifera Lamk seed was 0.141%, 0.145% for the adsorben activated bentonit and 0.142% for mixed adsorben. The peroxide values of the used fried oil after passing through the column containing activeted carbon of the kelor seed was 2.49 meq/kg, 2.39 meq/kg for the adsorben activated bentonit and 2.37 meq/kg for the mixed adsorben. The experiment result showed that FFA content decreased 69% (using the adsorben activated carbon) and the peroxide value decreased 48% (using the mixed adsorben bentonit and the activated carbon Moringa oleifera Lamk seed. The color of the used oil also improved. For light color (L) increased 29,98%, red color (a * ) 48,2% and yellow color (b * ) 42,8%.

Key word:

fried oil, activated carbon, moringa oleifera seed, bentonit, free fatty acid and peroxide value

xii

1.1 Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Lemak atau minyak merupakan salah satu jenis bahan makanan yang

banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari karena dapat meningkatkan cita

rasa, dan memperbaiki tekstur makanan (Muchtadi, 2000). Sudarmadji (2003)

menyatakan bahwa minyak dan lemak memiliki titik didih yang tinggi (sekitar

200C) sehingga biasa dipergunakan untuk menggoreng makanan karena bahan

yang digoreng akan kehilangan sebagian besar air yang dikandungnya dan

menjadi kering. Minyak dan lemak juga memberikan aroma dan rasa gurih

spesifik yang lain dari gurihnya protein.

Kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang cukup tinggi tentu dapat

menimbulkan dampak yang signifikan pada masyarakat, terutama sektor industri

kecil,

seperti

makanan

yang

berbasis

gorengan.

Secara

kuantitatif

jumlah

pedagang kecil ini cukup banyak dan tersebar hampir di seluruh penjuru kota,

dengan adanya kenaikan harga jual BBM maka biaya produksi juga mengalami

peningkatan, di sisi lain daya beli konsumen melemah akibat terjadinya inflasi.

Oleh karena itu, masyarakat cenderung memakai kembali minyak goreng bekas

untuk menggoreng makanan dan dipakai berulang-ulang demi penghematan tanpa

mempertimbangkan risiko bagi kesehatan seperti kerongkongan gatal atau serak

dan lebih berbahaya lagi bisa memicu kanker.

1

2

Minyak sayur yang digunakan untuk menggoreng mengalami perubahan

secara kimiawi baik selama proses penyimpanan, pemanasan atau adanya kontak

dengan cahaya. Perubahan kimiawi itu dapat menyebabkan penurunan kualitas

minyak, seperti perubahan warna menjadi lebih gelap, lebih kental, muncul bau

yang tidak sedap (tengik), meningkatnya bilangan peroksida, asam lemak bebas

dan menyebabkan rasa yang tidak lezat.

Keberadaan makanan bagi kehidupan manusia sangat penting. Secara

medis

makanan

dan

minuman

yang

kita

konsumsi

dapat

menentukan

pertumbuhan dan perkembangan fisik. Islam mengajarkan makanan atau minuman

yang kita konsumsi sehari-hari keberadaan hukumnya harus halal lagi baik secara

dzatiyah

ataupun

secara

hukmiyah

selain

harus

mengandung

nutrisi

yang

dibutuhkan oleh tubuh (Anwar, 2007:1). Hal ini sesuai dengan firman Allah

dalam Al-qur’an surat Al-Maidah ayat 88 yang berbunyi:

dalam Al- qur’an surat Al -Maidah ayat 88 yang berbunyi: “Dan makanlah makanan yang halal lagi

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada- Nya” (QS. Al-Maaidah :88).

Allah menganjurkan kepada seluruh hambanya untuk selalu memahami

kebesaran dan kekuasaan-Nya dengan melihat seluruh ciptaan-Nya, tiadalah Allah

menciptakan alam beserta isinya dengan sia-sia dan batil, yang menciptakan

dengan benar dan merupakan kebenaran. Begitu pula Tuhan menciptakan tumbuh-

tumbuhan agar manusia dapat menggambil manfaat darinya (Quthb, 2001: 244).

3

Seperti yang dijelaskan di dalam firman-Nya surat Ar-Rad ayat 4:

yang dijelaskan di dalam firman-Nya surat Ar-Rad ayat 4: ”Dan di bumi ini terdapat bagian -bagian

”Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam- tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir”.

Shihab

(2002)

memberikan

tafsir

bahwa

Allah

menumbuhkan

dari

berbagai macam tumbuhan yang baik yaitu subur dan bermanfaat. Tumbuh-

tumbuhan keluar (tumbuh) dari benda mati. Tumbuhan dan bagian tumbuhan yang

telah mati secara tidak langsung dapat dimanfaatkan kembali untuk sesuatu yang

lebih berguna (Jauhari, 1984). Sebagaimana

halnya tanaman kelor yang banyak

tumbuh di Indonesia, pemanfaatan tanaman kelor baru sampai menjadi tanaman

pagar

hidup,

batas

tanah

atau

penjalar

tanaman

lain

dan

sebagai

sayuran.

Penggunaan bahan organik yang berasal dari tumbuhan yang telah mati sebagai

adsorben saat ini banyak dikembangkan. Tehnik ini tidak memerlukan biaya

tinggi dan kemungkinan sangat efektif untuk menghilangkan kontaminan, baik

anionik maupun kationik (Saleh, 2004).

Hal

inilah

yang

dirasa

perlu

untuk

diketengahkan

pada

masyarakat

manfaat

biji

kelor

yang

telah

tua

dan

kering

(mati)

sebagai

bahan

4

pengendap/koagulator untuk menjernihkan air secara cepat, murah,aman, seperti

yang diterapkan di ITB dan mulai dikembangkan melalui Program UNDP.

Widayat,

dkk.,

(2005)

telah

melakukan

penelitian

awal

peningkatan

kualitas minyak goreng dengan zeolit alam dengan studi penurunan bilangan

asam, yang hasilnya diperoleh bilangan asam sebesar 1,71. Bilangan asam ini

belum memenuhi Standar Nasional Indonesia minyak goreng (SNI 3741-1995)

yaitu maksimal sebesar 0,3 %.

Penelitian lain telah dilakukan oleh Suharto (1997) menggunakan zeolit

alam sebagai adsorben. Hermansyah (2003) menggunakan adsorben alternatif

arang tulang yang hasilnya menunjukkan bahwa arang tulang mampu menyerap

betakaroten pada minyak sawit kasar. Bayrak (2005) telah melakukan penelitian

tentang Aplikasi isotermis Langmuir pada adsorpsi Asam lemak jenuh yang

hasilnya menunjukkan bahwa penyerapan asam lemak dengan montmorillonit

merupakan adsorpsi fisika. Penyerapan karoten dan asam lemak bebas pada

minyak kelapa sawit menggunakan adsorben lempung teraktivasi juga telah

dilakukan oleh Joy, dkk (2007). Studi kinetika menunjukkan bahwa waktu yang

diperlukan untuk kesetimbangan adsorpsi menurun saat temperatur dinaikkan.

Lempung yang diaktivasi dengan asam sulfat 1 M lebih efektif daripada lempung

dari industri yang digunakan sebagai acuan. Rossi (2002) juga menyebutkan

dalam penelitiannya tentang peranan lempung pemucat dan silica sintetik dalam

penjernihan minyak kelapa sawit yang hasilnya menunjukkan bahwa karakter

adsorpsi pada tiga macam lempung pemucat memiliki perbedaan derajat aktivasi

dalam proses penjernihan minyak kelapa sawit. Isotermis penghilangan warna dan

5

pigmen karoten menggunakan lempung teraktivasi asam lebih efisien daripada

lempung alam juga pada kapasitas adsorpsi fosfor.

Taufik (2007)

juga melakukan penelitian tentang pemurnian minyak

goreng bekas menggunakan biji kelor dengan metode Batch yang hasilnya dapat

menurunkan kadar asam lemak bebas (FFA) sebesar 74,6 % yaitu dari nilai 0,50

% menjadi 0,127 % dan penurunan angka peroksida sebesar 84% yaitu dari 100

meq/kg menjadi 16 meq/kg dan peningkatan warna cerah sebesar 6,7%. Nilai FFA

tersebut sudah memenuhi standart SNI 1995 yaitu maksimal 0,3 %, sedangkan

angka peroksida belum memenuhi SNI 1995 dengan kandungan angka peroksida

maksimal 2 meq/kg.

Berdasarkan hasil penelitian di atas akan dikaji lebih

lanjut tentang

efektifitas adsorpsi biji kelor dan lempung bentonit dalam penjernihan minyak

goreng bekas dengan metode kolom, diharapkan dapat menurunkan bilangan

peroksida, asam lemak bebas dan warna yang lebih baik dan memenuhi mutu

Standar Nasional Indonesia.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan diatas maka dapat

diambil suatu rumusan masalah sebagai berikut:

a. Berapa perubahan kadar asam lemak bebas (FFA), angka peroksida, dan

perubahan warna minyak goreng bekas setelah dilewatkan melalui kolom

yang berisi adsorben karbon aktif biji kelor ?

6

b.

Berapa perubahan kadar asam lemak bebas (FFA), angka peroksida dan

perubahan warna minyak goreng bekas setelah dilewatkan melalui kolom

yang berisi bentonit?

 

c.

Berapa perubahan kadar asam lemak bebas (FFA), angka peroksida dan

perubahan warna minyak goreng bekas setelah dilewatkan melalui kolom

yang berisi campuran bentonit dan adsorben karbon aktif biji kelor ?

 

1.3

Tujuan Penelitian

 

Tujuan penelitian ini adalah:

 

a.

Untuk

mengetahui

perubahan

kadar

asam

lemak

bebas

(FFA),

angka

peroksida, dan perubahan warna minyak goreng bekas setelah dilewatkan

melalui kolom yang berisi adsorben karbon aktif biji kelor.

 

b.

Untuk

mengetahui

perubahan

kadar

asam

lemak

bebas

(FFA),

angka

peroksida, dan perubahan warna minyak goreng bekas setelah dilewatkan

melalui kolom yang berisi bentonit.

 

c.

Untuk

mengetahui

perubahan

kadar

asam

lemak

bebas

(FFA),

angka

peroksida dan perubahan warna minyak goreng bekas setelah dilewatkan

melalui kolom yang berisi campuran bentonit dan adsorben karbon aktif biji

kelor.

7

1.4 Batasan Penelitian

Mengingat banyaknya cakupan permasalahan, maka dalam penelitian ini

hanya dibatasi pada:

a.

Sampel minyak goreng yang diteliti adalah minyak goreng merek bimoli yang

telah digunakan selama 8 jam.

b.

Kelor yang digunakan adalah biji kelor yang tua di pohon beserta kulit ari

yang diperoleh dari daerah Jombang Jawa Timur.

c.

Parameter yang diuji adalah asam lemak bebas, angka peroksida dan warna.

1.5

Manfaat Penelitian

Dari penelitian ini diharapkan :

a.

Dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang pemanfaatan biji

kelor (Moringa oleifera Lamk) untuk pemurnian kembali minyak goreng

bekas sehingga lebih aman dikonsumsi.

b.

Dapat meningkatkan penggunaan biji kelor (Moringa oleifera Lamk) sebagai

penjernih alami, selain digunakan sebagai pakan ternak, campuran sayuran

dan obat-obatan lainnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pemanfaatan Tanaman dalam Perspektif Islam

Allah SWT sebagai Tuhan mempunyai tanda-tanda kebesaran-Nya berupa

hasil-hasil ciptaan-Nya, berupa langit dan bumi dan apa yang ada di dalam

keduanya, apa yang ada di antara keduanya. Termasuk juga kejadian-kejadian

yang berlangsung dalam makhluk-Nya tersebut. Kemudian Allah menyuruh untuk

memikirkan tanda-tanda kekuasaan-Nya tersebut, termasuk pada tanaman dan

tumbuhan (As-Sa’dy, 2007).

Tumbuhan merupakan salah satu dari ciptaan Allah Swt yang banyak

manfaatnya kepada manusia. Al-Qur`an menyebutkan bahwa sejumlah buah-

buahan dapat memberikan manfaat pada tubuh manusia dalam berbagai cara, juga

enak

rasanya.

Begitu

pula

dengan

tanaman

kelor,

banyak

manfaat

dan

kegunaannya. Daun, buah dan akar banyak mengandung senyawa alkali, protein,

vitamin, asam amino, dan karbohidrat, alkaloid, yang dapat dijadikan sebagai obat

tradisional. Dewasa ini biji kelor diketahui dapat dimanfaatkan sebagai penjernih

air, koagulan pada air limbah, dan penyembuh asam urat, sehingga biji kelor dapat

bernilai

komersial,

namun

masyarakat

belum

sehingga kurang dimanfaatkan.

mengetahui

potensi

tersebut

Pentingnya usaha penelitian lebih lanjut mengenai pemanfaatan kelor ini

sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Ali Imron ayat 191 yang berbunyi :

8

9

9 Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan

Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka (QS. Ali Imron

191).

Allah SWT menciptakan segala sesuatu sesuai kehendak-Nya dengan

maksud dan tujuan tertentu sesuai dengan kadarnya. Allah menciptakan semua

yang ada di dunia ini tidaklah sia-sia dari yang kecil hingga yang besar. Makhluk

hidup

(hewan, tumbuhan dan

lain-lain)

semuanya

manusia jika manusia itu mau untuk berfikir.

dapat

dimanfaatkan oleh

Allah menjaga semua yang telah Ia ciptakan agar tetap hidup dan tersusun

rapi. Manusia wajib menjaga keseimbangan dan kelestarian alam, tanpa berpikir

untuk

membuat

(ekosistem)

serta

kerusakan

alam

guna

mempertahankan

keteraturan

alam

untuk

kesejahteraan

tatanan

lingkungan

seluruh

makhluk

ciptaanNya. Allah membuktikan dengan diturunkannya hujan sebagai sumber

kehidupan, dan agar manusia dapat mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan

kepadanya. Allah telah menjelaskannya dalam surat Al-An’aam ayat 99 yang

berbunyi:

10

10 ”Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala

”Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman” (QS.Al-An’aam: 99).

Ayat yang mulia tersebut mengajak kita untuk berpikir dan berusaha

mempelajari bagaimana proses penciptaan buah, bagaimana dia berkembang dan

tumbuh pada fase yang berbeda-beda sampai pada fase kematangannya secara

sempurna. Berikut segala unsurnya yang beraneka seperti, sukrosa, minyak,

protein, karbohidrat dan zat-zat tepung. Salah satu dalil kemahakuasaan Allah

SWT adalah mengenai penciptaan butir tumbuh-tumbuhan, biji buah-buahan, dan

janin yang hidup dan terletak di tempat yang sangat sempit sedangkan yang tersisa

dari butir atau biji muncul dari suatu benda yang tak hidup. Ketika janin bangun

dan mulai menumbuhkan tanaman maka suatu benda yang mati tersebut berubah

kondisinya

menjadi

benda

hidup

yang

dapat

memberi

makan

janin

dan

menumbuhkembangkan tubuhnya. Beberapa saat kemudian ia menduplikasikan

jumlahnya menjadi banyak dan menebarkan benih dan biji, kemudian benih

11

tumbuhan itu berpindah dari fase pertumbuhan menuju fase pergerakan. Saat itu

tumbuhan mulai mampu mencari makanan untuk dirinya sendiri yang dimasak

oleh akar dari garam-garaman yang berasal dari air tanah, dan dibantu oleh daun

hijau yang mengerjakan proses fotosintesa di bawah terik sinar matahari untuk

menghasilkan bahan karbohidrat (Mahran, 2006).

Menurut tafsir Ibnu Katsir (Ad-Dimasyqi, 2001) disebutkan bahwa Allah

telah menurunkan air hujan dari langit yakni dengan kadar tertentu, dengan

kepastian dalam keadaan diberkati sebagai rezeki untuk hamba-hamba Allah,

untuk menyuburkan dan sebagai pertolongan serta rahmat untuk semua makhluk

ciptaan-Nya. Kemudian Allah menumbuhkan dengan air tersebut segala macam

tumbuh-tumbuhan dan dari tumbuh-tumbuhan itu Allah mengeluarkan tanaman

yang menghijau lalu butir yang banyak. Allah menciptakan di dalam tanaman itu

berupa buah-buahan dan biji-bijian yang bersusun antara yang satu dan yang

lainnya seperti pada bulir dan lain sebagainya. Setiap ciptaan Allah tersebut pasti

memiliki manfaat termasuk biji-bijian yang kecil, salah satunya dalam hal ini

adalah biji kelor.

Menurut tafsir Nurul Quran (Imani, 2005) dijelaskan bahwa Allah telah

menciptakan segala macam tanaman sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah dan

sebagai bahan untuk berfikir agar dapat tercipta kemaslahatan bagi seluruh umat.

Penjelasan di atas didukung dengan firman Allah dalam surat Asy-syu’ara ayat 7

yang berbunyi:

bagi seluruh umat. Penjelasan di atas didukung dengan firman Allah dalam surat Asy- syu’ara ayat 7

12

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?” (QS.Asy-

Syu’ara:7).

Shihab

(2002)

memberikan

tafsir

bahwa

Allah

menumbuhkan

dari

bermacam-macam tumbuhan yang baik yakni subur dan bermanfaat. Sebagaimana

halnya tanaman kelor

yang di

dalamnya banyak

memberikan manfaat jika

dikonsumsi oleh manusia sebagai sayuran, obat-obatan, bahan baku pembuatan

sabun dan kosmetik, serta sebagai bahan penjernih air.

Keterbatasan kemampuan manusia dalam memahami setiap penciptaan

Allah dan kurangnya rasa syukur pada Allah menjadikan manusia sering berpikir

sesuatu hanya menjadi hiasan semata di muka bumi atau bahkan hanya menjadi

pengganggu.

Tidak ada nilai yang lebih berharga

yang bisa diambil dan

dimanfaatkan untuk kemaslahatan kehidupan manusia di dunia ini.

Al Qur’an

memang tidak menjelaskan secara detail manfaat dari setiap penciptaan Allah.

Manusia yang diciptakan sebagai khalifah di bumi ini mempunyai tugas untuk

berpikir, mengkaji, dan mengembangkan penelitian untuk mendapatkan manfaat

dari hasil penciptaan Allah tersebut.

Firman Allah SWT dalam surat An-Nahl ayat 11yang berbunyi :

Firman Allah SWT dalam surat An-Nahl ayat 11yang berbunyi : “Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air

“Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan” (QS. An Nahl: 11).

13

Al-Qur'an telah menyebutkan berbagai macam tanaman yang bermanfaat

dan

memiliki

khasiat

bagi

kesehatan.

Pemanfaatan

tanaman

sebagai

obat

merupakan salah satu sarana untuk mengambil pelajaran dan memikirkan tentang

kekuasaan Allah SWT. Semua yang tercipta mempunyai manfaatnya dan hal itu

merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah. Demikian halnya dengan tanaman kelor,

perkembangan uji penelitiannya membawa dampak agar

diperoleh

manfaat-

manfaat lain dari tanaman kelor khususnya biji kelor yang dimanfaatkan sebagai

adsorben.

2.2 Tanaman kelor

Pohon kelor (drumstick tree: bahasa Inggris) termasuk jenis tumbuhan

perdu yang memiliki ketinggian pohon antara 7 12 m. Batang kayunya lunak

dan getas (mudah patah) serta cabangnya jarang, tetapi mempunyai akar yang

kuat. Pohon kelor berbunga dan berganti daun sepanjang tahun, tumbuh dengan

cepat,

dan

tahan

terhadap

musim

kering

(kemarau).

Pohon

kelor

dapat

menyesuaikan diri terhadap berbagai jenis tanah, namun areal tanah berpasir atau

tanah

lempung

menjadi

tempat

terbaik

bagi

pertumbuhannya.

Kelor

dapat

berkembang biak dengan baik pada daerah yang mempunyai ketinggian antara 1

1000 m di atas permukaan laut (Jonni, dkk, 2008).

Daun

kelor

berbentuk

bulat

telur

(oval)

dengan

ukuran

kecil-kecil,

bersusun

majemuk

dalam

satu

tangkai.

Daun

kelor

berguguran

apabila

kekurangan air (biasanya terjadi pada musim kemarau panjang) dan tumbuh

kembali ketika kebutuhan air mulai tercukupi. Bunga kelor berwarna putih

14

kekuning-kuningan dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau (Jonni, dkk,

2008).

Buah kelor berbentuk polong segitiga memanjang sekitar 30-50 cm, yang

biasa disebut klentang (Jawa). Buah kelor berisi 15 25 biji, berwarna coklat

kehitaman, bulat, bersayap tiga dan hitam. Sedangkan, getahnya yang telah

berubah warna menjadi cokelat disebut blendok (Jawa). Buah kelor ini memiliki

banyak biji di dalamnya, yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai bahan

pengkembangbiakannya selain menggunakan setek batang (Jonni, dkk, 2008).

Kelor atau kelor-keloran (Moringa oleifera), di Indonesia dikenal sebagai

jenis tanaman sayuran yang sudah dibudidayakan. Pohon kelor sering digunakan

sebagai pendukung tanaman lada atau sirih. Daun, bunga, dan buah mudanya,

merupakan bahan sayuran yang digemari masyarakat setempat. Tanaman kelor

merupakan leguminosa, maka bagus ditanam secara tumpang sari dengan tanaman

lain karena dapat menambah unsur nitrogen pada lahan tersebut (Hendartomo,

2007).

Biji Moringa oleifera Lam. mengandung mustard oil (minyak ben, minyak

Moringa), mengandung trigliserida asam lemak behen (C 22 H 44 44O 2 ) yang dapat

dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan sabun, bahan iluminasi, lubrikan jam

tangan,

bahan

campuran

untuk

pembuatan

kosmetik,

parfum

(Duke,

1983;

Folkard dkk., 1995:263). Kotiledon Moringa oleifera Lam. mengandung tiga

komponen penting, yaitu substansi antimikroba 4

isotiosianat,

minyak

ben

dan

flokulan

(Mayer

&

L-rhamnosiloksi-benzil-

Stelz,

1993;

Polprasid,

1993:213). Biji kelor yang sudah diambil minyaknya (presscake) mengandung

15

protein kasar sebesar 58,9 %; CaO 0,4 %;P 2 O 5 1,1 % dan K 2 O sebesar 0,8 %

(Duke,1983).

Berbagai manfaat tumbuhan kelor ini terus dieksplorasi sebagai sumber

vitamin A, B, C, sumber protein, kalsium, zat besi, sebagai bahan obat-obatan,

bahan baku pembuatan sabun dan kosmetik, sampai pada manfaatnya sebagai

bahan penjernih air (Water Purification). Tam Herb dari India sudah memasarkan

buah kelor segar, serbuk buah dan serbuk daun kelor, minyak kelor, bubuk teh

kelor, bubuk sup kelor dan kapsul kelor (Logu, 2005). Daun kelor muda juga

dipercaya meningkatkan produksi air susu ibu dan sebagai obat kurang darah

(anemia). Akar kelor berkhasiat sebagai obat kejang, obat gusi berdarah, obat

untuk haid yang tidak teratur dan obat pusing. Daunnya berkhasiat sebagai obat

sesak

nafas,

encok

dan

beri-beri.

Bijinya

digunakan

sebagai

obat

mual.

Kandungan kimia akar, daun dan kulit batang kelor mengandung saponin dan

polifenol, kulit batangnya juga mengandung alkaloida. Daun kelor mengandung

16

c
c

a

16 c a c b d Gambar 2.1 Dari kiri searah putaran jarum jam ; a)

c

16 c a c b d Gambar 2.1 Dari kiri searah putaran jarum jam ; a)

b

16 c a c b d Gambar 2.1 Dari kiri searah putaran jarum jam ; a)

d

Gambar 2.1 Dari kiri searah putaran jarum jam ; a) buah kelor masih di dahan, b) Biji bersayap, c) Biji yang masih utuh dan yang sudah diblender, d) buah kelor yang baru dipetik (sumber:

Efek

Muyibi,2005).

farmakologis

:

kelor

dalam

farmakologi

cina

dan

pengobatan

tradisional lain disebutkan bahwa tanaman ini memiliki sifat-sifat seperti, rasa

yang agak pahit, netral, sebagai anti inflamasi, antipiretik, antiskorbut dan tidak

Analisis kandungan biji kelor per 100 gram ditunjukkan pada tabel di

bawah ini:

17

Tabel 2.1 Kandungan nutrisi biji kelor

Komposisi

Buah

Air (%) Kalori (%) Protein (g) Lemak (g) Karbohidrat (g) Abu (g) Serat (g) Mineral (g) Ca /Kalsium (mg) Mg/Magnesium (mg) P/Fosfor (mg) K/Kalium (mg) Cu/Tembaga (mg) Fe/Besi (mg) S/Sulfur (mg) Oxalic acid (mg) Vitamin A B Carotene (mg) Vitamin B Choline (mg)

86,9

26,0

2,5

0,1

8,5

2,0

4,8

2,0

30

24

110

259

3,1

5,3

137

10

0,11

423

2.3 Minyak goreng

Sumber: Duke, 1983

Minyak adalah lemak yang berasal dari tumbuhan yang berupa zat cair dan

mengandung asam lemak tak jenuh. Minyak dapat bersumber dari tanaman,

misalnya minyak zaitun, minyak jagung, minyak kelapa, dan minyak bunga

matahari. Minyak dapat juga bersumber dari hewan, misalnya minyak ikan sardin,

minyak ikan paus dan lain-lain. Minyak goreng adalah minyak nabati yang telah

dimurnikan dan dapat digunakan sebagai bahan pangan. Minyak goreng nabati

biasa diproduksi dari kelapa sawit, kelapa atau jagung (Widayat, dkk, 2005).

Minyak kelapa sawit diperoleh dari pengolahan buah kelapa sawit (Elaeis

guineensis jack). Buah kelapa sawit terdiri dari serabut buah (pericarp) dan inti

(kernel). Serabut buah kelapa sawit terdiri dari tiga lapis yaitu lapisan luar atau

18

kulit buah yang disebut pericarp. Lapisan sebelah dalam disebut mesocarp atau

pulp dan lapisan paling dalam disebut endocarp. Inti kelapa sawit terdiri dari

lapisan kulit biji (testa), endosperm dan embrio. Mesocarp mengandung kadar

minyak rata-rata sebanyak 56%, inti (kernel) mengandung minyak sebesar 44%,

dan endocarp tidak mengandung minyak (Pasaribu, 2004).

Minyak sawit memiliki berbagai keunggulan dibandingkan dengan minyak

nabati lainnya. Dari segi ekonomi minyak sawit merupakan minyak nabati yang

paling murah karena produktivitas sawit sanggat tinggi. Minyak sawit

juga

mengandung betakaroten dan tokoferol sehingga dilihat dari segi gizi mempunyai

keunggulan (Elizabeth, 2002).

Minyak kelapa sawit seperti umumnya minyak nabati lainnya merupakan

senyawa yang tidak larut dalam air, sedangkan komponen penyusunnya yang

utama adalah trigliserida dan nontrigliserida (Pasaribu, 2004).

2.3.1. Trigliserida Pada Minyak Kelapa Sawit.

Minyak kelapa sawit terdiri atas trigliserida

sebagaimana lemak dan

minyak lainnya.

minyak kelapa sawit merupakan ester dari gliserol dengan tiga

molekul asam lemak menurut reaksi sebagai berikut :

19

CH 2 OH

CHOH

CH 2 OH

Gliserol

+ 3RCOOH asam lemak
+ 3RCOOH
asam lemak
O H O C 2 C O HC O C O H O C 2
O
H
O
C
2 C
O
HC
O
C
O
H
O
C
2 C

trigliserida

R 1

R 2

R 3

+

3

H 2 O

Gambar 2.2 Reaksi Pembentukan Trigliserida (Pasaribu, 2004)

Bila R1 = R2 = R3 atau ketiga asam lemak penyusunnya sama maka

trigliserida ini disebut trigliserida sederhana, dan apabila salah satu atau lebih

asam lemak penyusunnya tidak sama maka disebut trigliserida campuran.

Asam lemak merupakan rantai hidrokarbon; yang setiap atom karbonnya

mengikat satu atau dua atom hidrogen, kecuali atom karbon terminal mengikat

tiga atom hidrogen, sedangkan atom karbon terminal lainnya mengikat gugus

karboksil. Asam lemak yang pada rantai hidrokarbonnya terdapat ikatan rangkap

disebut asam lemak tidak jenuh, dan apabila tidak terdapat ikatan rangkap pada

rantai hidrokarbonnya karbonnya disebut dengan asam lemak jenuh. Secara umum

struktur asam lemak dapat digambarkan sebagai berikut :

H

H H H H H O C C C C C C H H H
H
H H
H
H O
C
C
C
C
C
C
H H H
H
H OH

Asam Lemak Jenuh

H

H H H H O C C C C C
H
H H
H
O
C C
C
C
C

H

H OH

Asam Lemak Tak Jenuh

Gambar 2.3 Struktur Asam Lemak (Pasaribu, 2004)

20

Semakin jenuh molekul asam lemak dalam molekul trigliserida, semakin

tinggi titik beku atau titik cair minyak tersebut . Pada suhu kamar biasanya berada

pada fase padat, sebaliknya semakin tidak jenuh asam lemak dalam molekul

trigliserida maka makin rendah titik beku atau titik cair minyak tersebut sehingga

pada suhu kamar berada pada fase cair. Minyak kelapa sawit adalah lemak semi

padat yang mempunyai komposisi yang tetap (Pasaribu, 2004).

Berikut ini adalah tabel dari komposisi trigliserida dan tabel komposisi

asam lemak dari minyak kelapa sawit.

Tabel 2.2 Komposisi Trigliserida Dalam Minyak Kelapa Sawit

Trigliserida

Jumlah (%)

Tripalmitin Dipalmito Stearine Oleo Miristopalmitin Oleo Dipalmitin Oleo- Palmitostearine Palmito Diolein Stearo Diolein Linoleo Diolein

3

5

1

3

0

5

21

43

10

11

32

48

0

6

3

12

Sumber : Ketaren, 1986.

Tabel 2.3 Komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa Sawit

Asam Lemak

Jumlah (%)

Asam Kaprilat

-

Asam kaproat

-

Asam Miristat

1,1 2,5

Asam Palmitat

40

46

Asam Stearat

3,6 4,7

Asam Oleat

30

45

Asam Laurat

-

Asam Linoleat

7 11

Sumber : Pasaribu, 2004

21

Minyak juga mengandung sejumlah kecil komponen nontrigliserida, yaitu

lipid kompleks (lesithin, cephalin, fosfatida, dan glikolipid); sterol, berada dalam

keadaan bebas atau terikat dengan asam lemak bebas; asam lemak bebas; lilin;

pigmen yang larut dalam lemak; dan hidrokarbon. Komponen tersebut yang

mempengaruhi warna dan flavor minyak serta berperan dalam proses terjadinya

ketengikan (Ketaren, 2005).

Minyak sawit memiliki karakteristik asam lemak utama penyusunnya

terdiri atas 35 - 40% asam palmitat, 38 - 40% oleat dan 6 - 10% asam linolenat

serta kandungan mikronutriennya seperti karitenoid, tokoferol, tokotrienol dan

fitosterol. Selain itu keunggulan minyak sawit sebagai minyak makan adalah tidak

perlu dilakukan parsial hidrogenasi untuk pembuatan margarin dan minyak goreng

(deep frying fat), trans-fatty acid rendah, dan harganya murah. Klaim produk

minyak sawit sebagai produk sehat telah banyak dilakukan penelitian mendasar,

sehingga klaim unggulannya mempunyai dasar yang kuat. Meskipun minyak

sawit

mengandung

mono-unsaturated

fatty

acid

(Omega

9)

cukup

tinggi,

kandungan asam lemak jenuhnya (palmitat) juga tinggi yaitu 40%. Asam palmitat

yang ada dalam minyak sawit mempunyai nilai positif karena dapat menurunkan

kolesterol LDL (low density lipoprotein) (Muchtadi, 2000).

Beberapa hal yang mempengaruhi sifat-sifat minyak adalah asam lemak

penyusunnya, yaitu asam lemak jenuh (saturated fatty acid/SFA) dan asam lemak

tak jenuh (unsaturated fatty acid/UFA), yang terdiri atas mono-unsaturated fatty

acid (MUFA) dan polyunsaturated fatty acid (PUFA) atau high unsaturated fatty

22

acid. Para ahli biokimia dan ahli gizi lebih mengenalnya dengan sebutan asam

lemak tak jenuh Omega 3, Omega 6 dan Omega 9 (Muchtadi, 2000).

Asam

lemak

bebas

(FFA)

dalam

minyak

nabati

dihasilkan

dari

pemecahan ikatan ester trigliserida. Asam lemak bebas secara umum dihilangkan

selama proses penjernihan. Adsorpsi Asam lemak bebas ditentukan oleh beberapa

faktor seperti kadar air dalam minyak, kadar sabun, temperatur dan lamanya

waktu kontak dengan adsorben (Bayrak, 2005).

Asam lemak bebas terbentuk karena proses oksidasi, dan hidrolisa enzim

selama

pengolahan

dan

penyimpanan.

Ketika

minyak

digunakan

untuk

menggoreng terjadi peristiwa oksidasi dan hidrolisis yang memecah molekul

minyak menjadi asam-asam lemak bebas dan gliserol. Proses ini bertambah besar

dengan pemanasan yang tinggi dan waktu yang lama selama penggorengan

makanan. Dalam bahan pangan, asam lemak dengan kadar 0,2 persen dari berat

lemak akan mengakibatkan flavor yang tidak diinginkan dan kadang-kadang dapat

meracuni tubuh. Minyak dengan kadar asam lemak bebas yang lebih besar dari

1%, jika dicicipi akan terasa membentuk filem pada permukaan lidah dan tidak

berbau tengik, namun intensitasnya tidak bertambah dengan bertambahnya jumlah

asam lemak bebas. Asam lemak bebas walaupun berada dalam jumlah kecil

mengakibatkan

rasa

tidak

lezat,

menyebabkan

karat

dan

warna

gelap

jika

dipanaskan dalam wajan besi (Ketaren, 2005).

Angka

peroksida

adalah

nilai

terpenting

untuk

menentukan

derajat

kerusakan pada minyak atau lemak. Asam lemak tidak jenuh dapat mengikat

oksigen pada ikatan rangkapnya sehingga membentuk peroksida. Peroksida yaitu

23

produk awal dari reaksi oksidasi yang bersifat labil, reaksi ini dapat berlangsung

bila terjadi kontak antara oksigen dengan minyak (Ketaren, 2005).

2.3.2

Warna

Zat warna dalam minyak terdiri dari 2 golongan, yaitu zat warna alamiah,

dan warna hasil degradasi zat warna alamiah.

1). Zat Warna Alamiah

Zat warna ini terdapat secara alamiah di dalam bahan yang mengandung

minyak dan ikut terekstrak bersama minyak pada proses ekstraksi. Zat warna

tersebut antara lain α dan β karoten, xantofil, klorofil, dan antosianin. Zat warna

ini menyebabkan minyak berwarna kuning, kuning kecoklatan, kehijau-hijauan

dan kemerah-merahan. Pigmen berwarna merah jingga atau kuning disebabkan

oleh karotenoid yang bersifat larut dalam minyak. Karotenoid bersifat tidak stabil

pada suhu tinggi, dan jika minyak dialiri uap panas, maka warna kuning akan

hilang. Karotenoid tidak dapat dihilangkan dengan proses oksidasi (Ketaren,

2005).

2). Warna Akibat Oksidasi dan Degradasi Komponen Kimia yang Terdapat dalam Minyak

a) Warna Gelap

Warna gelap disebabkan oleh proses oksidasi terhadap tokoferol (vitamin

E). Warna gelap ini dapat terjadi selama proses pengolahan dan penyimpanan,

yang disebabkan oleh beberapa faktor: suhu pemanasan yang terlalu tinggi,

pengepresan bahan yang mengandung minyak dengan tekanan dan suhu yang

24

tinggi,

ekstraksi

minyak

dengan

menggunakan

pelarut

tertentu

seperti

trikloroetilena, benzol dan heksana, logam seperti Fe, Cu, dan Mn, dan oksidasi

terhadap fraksi tidak tersabunkan dalam minyak (Ketaren, 2005).

b) Warna Coklat

Pigmen coklat biasanya hanya terdapat pada minyak atau lemak yang

berasal dari bahan yang telah rusak atau memar. Hal itu dapat pula terjadi karena

reaksi molekul karbohidrat dengan

gugus pereduksi seperti aldehid serta gugus

amin dari molekul protein dan yang disebabkan karena aktivitas enzim-enzim,

seperti fenol oksidase, polifenol oksidase, dan sebagainya (Ketaren, 2005).

c) Warna Kuning

Timbulnya warna kuning dalam minyak terutama terjadi dalam minyak

atau lemak tidak jenuh. Warna ini timbul selama penyimpanan dan intensitas

warna bervariasi dari kuning sampai ungu kemerah-merahan (Ketaren, 2005).

2.3.3 Kerusakan Minyak

Kerusakan minyak akan mempengaruhi mutu dan nilai gizi bahan pangan

yang digoreng. Minyak yang rusak akibat proses oksidasi dan polimerisasi akan

menghasilkan bahan dengan rupa yang kurang menarik dan cita rasa yang tidak

enak, serta kerusakan sebagian vitamin dan asam lemak esensial yang terdapat

dalam minyak. Oksidasi minyak dapat berlangsung bila terjadi kontak antara

sejumlah

oksigen

dengan

minyak.

Oksidasi

biasanya

dimulai

dengan

pembentukan peroksida dan hidroperoksida. Tingkat selanjutnya adalah terurainya

asam-asam lemak disertai dengan konversi hidroperoksida menjadi aldehid dan

25

keton serta asam-asam lemak bebas. Ketengikan (Rancidity)

terbentuk oleh

aldehida

bukan

oleh

peroksida.

Jadi kenaikan

Peroxide

Value

(PV)

hanya

indikator dan peringatan bahwa minyak sebentar lagi akan berbau tengik Oksida

minyak juga akan menghasilkan senyawa hidrokarbon, alkohol, lakton serta

senyawa aromatis yang mempunyai bau tengik dan rasa getir. Pembentukan

senyawa polimer selama proses menggoreng terjadi karena reaksi polimerisasi

adisi dari asam lemak tidak jenuh. Hal ini terbukti dengan terbentuknya bahan

menyerupai gum yang mengendap di dasar tempat penggorengan (Ketaren, 1986).

Oksidasi adalah alasan utama dari perubahan kimiawi dari minyak tetapi

ada beberapa penyebab degradasi lainnya yang berpotensial menyebabkan atau

menghasilkan racun. Perubahan secara kimiawi pada minyak, tidak semuanya

berpotensi berbahaya. Beberapa produk tidak membahayakan dan masih layak

untuk dikonsumsi. Laju perubahan kimia dan tingkat perubahan tergantung pada

jenis minyak dimana sebagian besar minyak yang mengandung asam lemak yang

tidak tersaturasi (kedelai , bunga matahari, kanola) mempunyai laju yang tinggi.

Beberapa contoh minyak yang mempunyai laju rendah yaitu minyak zaitun dan

kelapa sawit (http://www. foodfacts.org).

Kerusakan minyak atau lemak akibat pemanasan pada suhu tinggi (200 -

250°C)

akan

mengakibatkan

keracunan

dalam

tubuh

dan

berbagai

macam

penyakit, misalnya diarhea, pengendapan lemak dalam pembuluh darah, kanker

dan menurunkan nilai cerna lemak. Kerusakan minyak juga bisa terjadi selama

penyimpanan.

Penyimpanan

yang salah

dalam

jangka

waktu

tertentu

dapat

26

menyebabkan pecahnya ikatan trigliserida pada minyak lalu membentuk gliserol

dan asam lemak bebas (Ketaren, 1986).

O

CH 2 O C R O CH O C R O CH 2 O C
CH 2
O
C
R
O
CH
O
C
R
O
CH 2
O
C
R

trigliserida

CH 2 OH panas, air, enzim CH OH keasaman CH 2 OH gliserol
CH 2
OH
panas, air, enzim
CH
OH
keasaman
CH 2
OH
gliserol

+ 3 R

O C FFA ALB/FFA
O
C
FFA
ALB/FFA

OH

Gambar 2.4 Reaksi Hidrolisis Minyak (sumber Ketaren, 1986)

Pada

umumnya

minyak

apabila

dibiarkan

lama

di

udara

akan

menimbulkan rasa dan bau yang tidak enak. Hal ini disebabkan oleh proses

hidrolisis yang menghasilkan asam lemak bebas. Reaksi hidrolisa ini terjadi

karena terdapatnya sejumlah air dalam minyak tersebut. Dapat pula terjadi proses

oksidasi terhadap asam lemak tidak jenuh yang hasilnya akan menambah bau dan

rasa yang tidak enak. Oksidasi asam lemak tidak jenuh akan menghasilkan

peroksida dan selanjutnya akan terbentuk aldehida. Inilah yang menyebabkan

terjadinya bau dan rasa yang tidak enak atau tengik. Kelembaban udara, cahaya,

suhu tinggi dan adanya bakteri perusak adalah faktor-faktor yang menyebabkan

terjadinya ketengikan minyak (Poedjiadi, 1994).

27

27 Gambar 2.5 Reaksi Pembentukan Peroksida (Sumber: Ketaren, 2008: 100) Minyak goreng yang baik mempunyai sifat

Gambar 2.5 Reaksi Pembentukan Peroksida (Sumber: Ketaren, 2008: 100)

Minyak goreng yang baik mempunyai sifat tahan panas, stabil pada cahaya

matahari, tidak merusak flavor hasil gorengan, sedikit gum, menghasilkan produk

dengan tekstur dan rasa yang bagus. Standar mutu minyak goreng di Indonesia

diatur dalam SNI 01-3741-2002 yang dapat dilihat pada tabel 2.4 berikut :

Tabel 2.4 Syarat Mutu Minyak Goreng Menurut (SNI 01-3741-2002)

     

Persyaratan

No.

Kriteria uji

Satuan

Mutu I

Mutu II

1

Keadaan

     

1.1

 

Bau

 

Normal

Normal

1.2

Rasa

 

Normal

Normal

1.3

Warna

 

Putih, kuning pucat sampai kuning

2

Kadar air

% b/b

maks 0,1

maks 0,3

3

Bilangan asam

mg KOH/g

maks 0,6

maks 2

4

Asam linolenat (C18:3)

%

maks 2

maks 2

5

Cemaran logam

     

5.1

Timbal (Pb)

mg/kg

maks 0,1

maks 0,1

5.2

Timah (Sn)

mg/kg

maks 40,0/250*

maks 40,0/250*

5.3

Raksa (Hg)

mg/kg

maks 0,05

maks 0,05

5.4

Tembaga (Cu)

mg/kg

maks 0,1

maks 0,1

6

Cemaran arsen (As)

mg/kg

maks 0,1

maks 0,1

7

Minyak pelikan **

 

Negative

Negative

CATATAN *

Dalam kemasan kaleng Minyak pelikan adalah minyak mineral dan tidak bisa disabunkan

CATATAN **

Sumber : SNI 2002

28

Tabel 2.5 Standar mutu minyak goreng berdasarkan SNI 3741-1995

No

Kriteria Uji

Persyaratan

1

Bau

Normal Normal Muda jernih Hambar Max 0,3 % 0,900 g/L Max 0,3 % Max 2 meq/Kg

45-46

196-206

2

Rasa

3

Warna

4

Cita rasa

5

Kadar air

6

7

8

Berat jenis

Asam lemak bebas Bilangan peroksida Bilangan iodium

Bilangan penyabunan

9

10

11

12

Titik asap

Min 200 o C

13

Indeks bias

 

1,448-1,450

Cemaran

logam

antara

lain:

Max 0,5 mg/Kg Max 0,1 mg/Kg Max 40 mg/Kg Max 0,05 mg/Kg Max 0,1 mg/Kg Max 0,1 mg/Kg Max 0,1 mg/Kg

Besi

Timbal

Tembaga

 

Seng

Raksa

Timah

Arsen

 

Sumber: Wijana dkk (2005).

2.4 Mineral Lempung

Lempung adalah bahan yang relatif banyak kita jumpai di Indonesia.

Bahan ini tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Secara morfologis tanah

lempung umumnya berwarna agak kecoklat-coklatan dan mudah dibentuk dalam

keadaan basah serta mengeras dengan warna kemerah-merahan jika dibakar, bila

diraba terasa licin dan lunak, dan bila dimasukkan ke dalam air akan menyerap

air.

Tanah

lempung

dalam

kehidupan

sehari-hari

digunakan

sebagai

bahan

pembuatan batu bata, tembikar dan genteng. Selain itu dalam dunia industri, tanah

29

lempung dimanfaatkan sebagai bahan pengisi dalam industri kertas, cat dan karet,

sebagai bahan penukar ion, katalis dan adsorben (Wijaya, 2006).

Lempung

atau

tanah

liat

ialah

kata

umum

untuk

partikel

mineral

berkerangka dasar silikat yang berdiameter kurang dari 4 mikrometer. Lempung

mengandung leburan silika dan atau aluminium yang halus. Unsur-unsur silikon,

oksigen dan aluminium adalah unsur yang paling banyak menyusun kerak bumi.

Lempung terbentuk dari proses pelapukan batuan silika oleh asam karbonat dan

sebagian dihasilkan dari aktivitas panas bumi. Lempung membentuk gumpalan

keras saat kering dan lengket apabila basah terkena air (http://www.wikipedia.org.

id).

Lempung merupakan salah satu fraksi anorganik tanah yang tergolong

sangat halus (< 0,002 mm). Fraksi anorganik tanah lainnya adalah debu yang

berukuran 0,050-0,002 mm dan fraksi kasar yang disebut pasir memiliki ukuran 2-

0,050 mm. Tan menerangkan bahwa mineral lempung merupakan salah satu

komponen tanah yang didefinisikan sebagai zat padat kristalin dari senyawa

alumina silikat dengan ukuran partikel lebih kecil dari 2

m. Susunan atom

dalam lempung kristal dapat terulang dalam pola yang teratur ke arah tiga

dimensi. Susunan atom dalam keadaan amorf umumnya tidak mempunyai bentuk

yang dapat dikenal ataupun susunan internal secara geometris (Tan, 1982).

Lempung alam yang secara alamiah aktif juga dapat digunakan untuk

pemucatan. Lempung ini merupakan adsorben logam sempurna dan mampu

menurunkan kadar

chlorophyl

dan warna bahan, menghilangkan sabun dan

30

fosfolipid serta meminimalkan meningkatnya asam lemak bebas selama proses

bleaching (Rossi, 2002).

2.4.1

Bentonit

Bentonit adalah sejenis lempung (clay) yang komposisinya didominasi

oleh mineral montmorillonit yaitu sekitar 85% dan komponen lain umumnya

merupakan campuran dari mineral beidelit, saponit, kuarsa/kristobalit, feldspar,

kalsit,

gipsum,

kaolinit,

plagioklasillit,

dan

sebagainya,

sehingga

bentonit

seringkali disebut juga sebagai istilah montmorillonit (Mallarangan, 1988 dalam

Apriani, 2000).

Bentonit merupakan istilah yang digunakan di dalam dunia perdagangan

untuk sejenis lempung yang mengandung mineral montmorillonit dan dikenal di

Indonesia sejak dimulainya aktifitas pengeboran minyak bumi kira-kira 100 tahun

yang lampau. Nama bentonit ini pertama kali dipergunakan pada tahun 1896 oleh

Knight yaitu suatu jenis lempung yang sangat plastis (koloid) yang terdapat pada

formasi Benton, Rock Creek, Wyoming Amerika Serikat. Nama ini diusulkan

sebagai pengganti nama sebelumnya yaitu taylorit yang diperkenalkan pada tahun

1888 atau soap clay yang diperkenalkan pada tahun 1873 dan masih banyak lagi

nama lain yang dikenal untuk bentonit ini seperti : bleaching clay, fuller earth,

konfolensit, saponit atau smegtit, dan stolpenit (Riyanto, 1994).

Penggunaan utama dari bentonit adalah pada industri lumpur bor yaitu

sebagai lumpur pembilas dalam pemboran minyak bumi, gas bumi, dan uap panas

bumi, industri minyak sawit, industri kimia, farmasi, industri penyaringan lilin,

31

minyak kelapa, industri besi baja dan lain sebagainya. Penggunaan dalam industri

kimia antara lain sebagai katalisator, zat pemutih, zat penyerap, pengisi lateks, dan

tinta cetak (Riyanto, 1994).

Komposisi montmorillonit suatu bentonit berbeda dengan bentonit yang

lainnya, serta kandungan elemennya bervariasi. Hal ini dipengaruhi oleh proses

terbentuknya di alam. Sifat-sifat bentonit antara lain adalah (Yulianto, 2001):

1. Berwarna

dasar

putih

dengan

sedikit

kecoklatan

atau

kemerahan

atau

kehijauan, tergantung dari jenis dan jumlah fragmen mineral-mineralnya.

2. Bersifat sangat lunak (kekerasan = 1), ringan mudah pecah, terasa seperti

sabun, mudah menyerap air dan mampu melakukakan pertukaran ion.

Secara umum, bentonit dapat dibagi atas dua golongan :

1. Bentonit Natrium (swelling bentonit)

Bentonit jenis ini mengandung relatif banyak ion Na + dibandingkan ion Ca 2+

dan Mg 2+ dan mempunyai sifat mengembang bila terkena air, sehingga dalam

suspensinya

akan

menambah

Bentonit Wyoming.

2. Bentonit Kalsium

kekentalan.

Bentonit

ini

sering dinamakan

Bentonit jenis ini mengandung kalsium dan magnesium yang relatif lebih

banyak dibandingkan dengan kandungan natriumnya. Mempunyai sifat sedikit

menyerap air dan bila didispersikan dalam air akan cepat mengendap (tidak

membentuk suspensi).

32

2.4.2

Montmorillonit

Montmorillonit merupakan anggota kelompok smektit yang paling banyak

ditemukan di alam. Mineral ini mempunyai sistem kristal triklin. Struktur tiga

dimensi dari montmorillonit ditunjukkan oleh gambar 2.7 (Setyowati, 1995).

Kelompok smektite mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan

kelompok mineral tanah liat lainnya. Salah satu anggota kelompok smektite

tersebut terutama adalah montmorillonite. Perbandingan sifat-sifat dari kelompok

mineral tanah liat dapat dilihat pada tabel di bawah ini (Brady dan Buckman, 1982

dalam Mustika, 2007).

Tabel 2.6 Sifat-sifat tanah liat

Sifat-sifat

 

Tipe Tanah Liat

Montmorillonite

Illite

Kaolinite

Ukuran (m)

0,01-1,00

0,1-2,0

0,1-5,0

Bentuk

Lembaran tidak

Lembaran tidak

Hexagonal

teratur

teratur

Crystal

Kohesi, plastisitas

Tinggi

Sedang

Rendah

Kapasitas swelling (mengembang)

Tinggi

Sedang

Rendah

Kapasitas tukar

80-100

15-40

3-15

kation(meq/100g)

Sumber : Brady dan Buckman, 1982

Struktur dasar mineral bentonit merupakan filosilikat atau lapisan silikat

yang tersusun atas lembaran tetrahedral silisium oksigen dan lembaran oktahedral

alumunium-oksigen-hidroksida (Murtado, 1994).

Lapisan

silikat

dibangun

melingkari

suatu

tetrahedral-silika.

Dalam

lembaran tetrahedral Si-O, atom silisium berikatan dengan 4 (empat) atom

oksigen. Atom-atom oksigen tersebut terletak pada empat sudut yang teratur

33

dalam

bentuk

tetrahedral

dengan

atom

ditunjukkan oleh gambar (Tan, 1982).

silisium

sebagai

pusatnya,

seperti

oleh gambar (Tan, 1982). silisium sebagai pusatnya, seperti Gambar 2.6 Susunan atom-atom Si dan O dalam

Gambar 2.6 Susunan atom-atom Si dan O dalam tetrahedral

Enam buah tetrahedral saling berikatan melalui cara penggunaan bersama

tiga dari empat atom oksigen dengan molekul tetrahedral lainnya membentuk

heksagonal yang simetri. Lembaran heksagonal ini disebut lembaran tetrahedral

atau lembaran silika yang ditunjukkan oleh gambar berikut ini :

lembaran silika yang ditunjukkan oleh gambar berikut ini : Gambar 2.7 Lembaran silika yang tersusun oleh

Gambar 2.7 Lembaran silika yang tersusun oleh enam tetrahedral

Lembaran oktahedral Al-O-H dibangun oleh atom Al yang mengikat

empat atom oksigen dan gugus hidroksida yang terletak disekeliling Al, yaitu

pada

enam

sudut

oktahedral

yang

teratur.

Penggunaan

bersama

atom-atom

oksigen dan gugus hidroksida oleh atom Al lainnya akan membentuk lembaran

34

(OH) 6 -Al 4 -(OH) 2 -O 4 , seperti yang tampak pada gambar 2.8. Atom-atom oksigen

dan gugus hidroksida terletak pada dua bidang paralel dan Al terletak diantara

kedua bidang tersebut, lembaran ini disebut lembaran alumina.

bidang tersebut, lembaran ini disebut lembaran alumina. Gambar 2.8 susunan atom-atom dalam oktahedral Penggunaan

Gambar 2.8 susunan atom-atom dalam oktahedral

Penggunaan

bersama

atom

oksigen

oleh

oktahedral

lainnya

akan

menghasilkan lembaran secara perspektif yang ditunjukkan pada gambar berikut

ini :

secara perspektif yang ditunjukkan pada gambar berikut ini : Gambar 2.9 Lembaran oktahedral (OH) 6 -Al

Gambar 2.9 Lembaran oktahedral (OH) 6 -Al 4 -(OH) 2 -O 4

Keempat

atom

oksigen

pada

lembaran

tetrahedral

berikatan

dengan

keempat atom Al pada lembaran oktahedral membentuk dua lapisan mineral

(layer minerals). Jika lapisan tersusun oleh dua lembar tetrahedral dan satu lembar

oktahedral dinamakan tipe lapisan mineral 2:1. Struktur

satuan sel kristal untuk

lapisan mineral 2:1 ditnjukkan pada gambar berikut ini :

35

35 Gambar 2.10 Lapisan mineral dengan perbandingan lapisan silika dan alumina 2:1 Van (1978) mengemukakan nilai

Gambar 2.10 Lapisan mineral dengan perbandingan lapisan silika dan alumina 2:1

Van

(1978)

mengemukakan

nilai

kapasitas

tukar

kation

(KTK)

montmorillonit kira-kira 70 meq/100 gram lempung. Luas permukaan khusus

berkisar antar 700-800 m 2 /g. Montmorillonit mempunyai struktur tiga lapis

dengan lapisan oktahedral alumina sebagai pusat tertumpuk di antara dua lapisan

tetrahedral silika.

36

36 (a) (b) Gambar 2.11 (a) Struktur tiga dimensi dari montmorillonit (Sumber: Ogawa, 1992; Wijaya, 1993)

(a)

36 (a) (b) Gambar 2.11 (a) Struktur tiga dimensi dari montmorillonit (Sumber: Ogawa, 1992; Wijaya, 1993)

(b)

Gambar 2.11 (a) Struktur tiga dimensi dari montmorillonit (Sumber:

Ogawa, 1992; Wijaya, 1993) (b) Mineral montmorillonit (Sumber : www.GeoScience.com)

Satu oksigen dalam tiap tetrahedron tetap tidak terimbangi secara listrik di

dalam jaringan tetrahedral silika seperti itu. Oksigen dari tetrahedron tersebut

dihubungkan

dengan

Al

dalam

koordinasi

oktahedral

untuk

memenuhi

persyaratan

divalennya.

Pengepakan

lembar-lembar

tetrahedron

silika

dan

oktahedron alumunium semacam ini, yang menyebabkan terbentuklah struktur

yang

berlapis.

Beberapa

lapisan

dari

lembar-lembar

tetrahedron

silika

dan

37

oktahedron alumunium dapat

ditumpuk satu di atas yang lain. Tiap lapisan

merupakan suatu unit bebas. Ikatan antar lapis dapat relatif kuat seperti dalam

kaolinit atau dapat relatif lemah seperti dalam montmorillonit (Yulianto, 2001).

2.4.3 Pertukaran Ion

Mineral lempung memiliki sifat anion dan kation serta mempertahankan

keadaan ion-ion yang dapat dipertukarkan. Ion-ion yang dapat dipertukarkan

adalah ion-ion yang berada di sekitar struktur mineral lempung silika-alumina.

Reaksi pertukaran ion bersifat stoikhiometris dan berbeda dengan penyerapan

(sorption). Perbedaan ini adakalanya sulit untuk diaplikasikan karena pertukaran

ion biasanya diikuti dengan penyerapan (sorption) dan desorpsi (Murtado,1994).

2.4.4 Pertukaran Kation

Pertukaran kation adalah pertukaran antara suatu kation dalam larutan

dengan kation lain pada suatu permukaan. Reaksi pertukaran ion di dalam mineral

lempung disebabkan oleh adanya substitusi pada lembaran silika atau alumina dan

kation

yang dipertukarkan

sebagian

besar

terletak

pada

permukaan

bidang.

Adanya ketidakseimbangan muatan mengakibatkan sisi mineral lempung menjadi

bermuatan

negatif,

(Setyowati, 1995).

sehingga

mineral

lempung

dapat

menarik

kation-kation

38

2.4.5 Aktivasi montmorillonit

Karna, W, dkk (2006), menerangkan bahwa montmorillonit merupakan

suatu jenis lempung berupa spesies silikat alumunium terhidrasi dengan sedikit

substitusi

dan

Montmorillonit

merupakan

mempunyai

komponen

bentonit

sifat

mengembang

dengan

persentase

tertinggi.

(swelling),

montmorillonit

memiliki kelemahan apabila dipanaskan pada temperatur lebih dari 200°C maka

akan mengalami kerusakan (collapse) pada struktur oktahedral sehingga berakibat

pada pengurangan kemampuan katalitik. Penggunaan dan pemanfaatan lempung

tidak termodifikasi umumnya relatif kurang luas, maka banyak dilakukan studi

untuk meningkatkan kemampuan kerjanya dengan memodifikasi lempung seperti

aktivasi lempung atau pemilaran lempung dengan berbagai senyawa organik,

senyawa kompleks dan oksida-oksida logam, yang dinamakan pillared clay.

Pemilaran lempung merupakan proses yang memungkinkan merubah struktur

lempung yang tak tahan secara termal menjadi struktur yang stabil dan berpori.

Partikel oksida kuat dalam proses ini terbentuk yang berperan sebagai pilar atau

penyangga yang mencegah terjadinya kerusakan, meskipun digunakan sebagai

katalis cracking.

Lempung terpilar merupakan

material yang memiliki

porositas

yang

permanen, karena adanya senyawa kimia yang berperan sebagai tiang pemilar

pada ruang antarlapis lempung yang disebut sebagai molekul penyangga. Tujuan

dari proses pemilaran ini adalah untuk membentuk mikroporositas di dalam

sistem.

Hal

ini

mudah

diperoleh

melalui

kombinasi

antara