Anda di halaman 1dari 144

Pusat Litbang Prasarana Transportasi

Timbunan Jalan pada Tanah Lunak

Panduan Geoteknik 3

Penyelidikan Tanah Lunak


Pengujian Laboratorium
Latar Belakang
Dari pertengahan tahun 1980-an hingga 1997 perekonomian Indonesia mengalami
tingkat pertumbuhan lebih dari 6% per tahun. Dengan tingkat pertumbuhan seperti ini,
dibutuhkan akan adanya pengembangan sistem transportasi yang andal yang berbasis
pada transportasi darat, utamanya jalan raya. Banyak daerah yang lebih mudah
dijangkau yang umumnya merupakan kawasan perkebunan dan industri, terletak pada
dataran rendah dimana dijumpai tanah lunak, sehingga kebutuhan akan
pengembangan suatu metode kons truksi yang andal membutuhkan pengembangan
suatu teknik desain dan konstruksi yang baru. Tanah lunak ini diperkirakan meliputi
sekitar 20 juta hektar atau sekitar 10 persen dari luas total daratan Indonesia dan
ditemukan terutama di daerah sekitar pantai.
Pelapukan tanah yang terjadi pada kondisi tropis berbeda dengan yang terjadi pada
daerah dengan iklim sedang, sehingga masing-masing tipe tanah dengan karakteristik
yang berbeda tersebut membutuhkan penanganan yang berbeda pula dalam
mengatasi permasalahan konstruksi. Penerapan berbagai metode penanggulangan
yang telah dikembangkan untuk daerah dengan iklim sedang tidak akan selalu cocok
untuk diterapkan pada tanah beriklim tropis. Oleh karenanya perlu dilakukan suatu
evaluasi terhadap teknologi yang telah dikembangkan untuk daerah dengan iklim
sedang tersebut sebelum diterapkan di Indonesia dan untuk itu dikembangkan suatu
teknologi yang lebih cocok melalui upaya-upaya penelitian setempat.
Panduan Geoteknik yang dibuat pada proyek Indonesian Geotechnical Materials and
Construction (IGMC) ini dirancang sebagai sebuah studi terhadap tanah lunak dan
tanah lapukan tropis Indonesia yang diharapkan dapat menghasilkan panduan
geoteknik dan kontruksi yang cocok untuk kondisi di Indonesia. Diharapkan pula,
dengan pengembangan sumber daya manusia dan peralatan yang tepat, dapat
meningkatkan kemampuan penelitian dalam bidang geoteknik di Pusat Litbang
Prasarana Transportasi. Proyek ini merupakan bagian dari kerangka penelitian
pembangunan jalan di atas tanah lunak yang dimulai sejak permulaan tahun 1990.

Tujuan
Penerapan langsung mekanika tanah dan batuan “klasik” yang dikembangkan di
daerah beriklim sedang akan tidak serta merta cocok untuk menyelesaikan
permasalahan yang ada di daerah tropis. Sifat-sifat alami dari m aterial bumi daerah
tropis memerlukan pengujian dan analisis yang berbeda dengan material di daerah
beriklim sedang. Prinsip yang sama berlaku untuk teknik desain dan konstruksi. Oleh
karenanya dibutuhkan fasilitas penelitian yang khusus untuk melakukan penyelidikan,
bila praktek-praktek desain dan konstruksi yang ada ingin ditingkatkan agar jalan yang
dibangun di atas tanah lunak dapat memberikan tingkat paelayanan yang disyaratkan.
Melanjutkan Tahap 1 dari proyek yang dilaksanakan pada tahun 1997-8, Tahap 2
mendapat tugas untuk mempersiapkan edisi pertama dari seri Panduan Geoteknik ini,
yang berhubungan dengan tanah lunak.
Disadari bahwa masih banyak hal yang harus dipelajari dan dicapai mengenai tanah
lunak Indonesia untuk dapat menghasilkan suatu des ain pembangunan jalan yang
lebih ekonomis. Oleh karenanya diharapkan berdasarkan pengalaman selama
penggunaan edisi pertama Panduan Geoteknik ini, akan diperoleh suatu umpan balik
yang berharga untuk meningkatkan dan memperluas panduan ini di masa mendatang.
Program kegiatan ini dilaksanakan oleh Pusat Litbang Prasarana Transportasi
bersama Tim Konsultan. Proyek ini seluruhnya didanai oleh pinjaman Pemerintah
Indonesia dari International Bank for Reconstruction and Development, Highway
Sector Investment Programme 2 , Loan Number 3712-IND.

Sampul depan menunjukkan Peta Geologi Indonesia. Areal tanah lunak


ditunjukkan dengan warna hitam.
Pusat Litbang Prasarana Transportasi

Panduan Geoteknik Indonesia


Timbunan Jalan pada Tanah Lunak

Panduan Geoteknik 3
Penyelidikan Tanah Lunak
Pengujian Laboratorium
Edisi Pertama Bahasa Indonesia © Nopember 2001

WSP International
Kerja sama dengan PT Virama Karya
PT Trikarla Cipta
Pengantar
Tanah lunak yang dimaksudkan dalam Panduan Geoteknik ini meliputi lempung
inorganik (lempung bukan organik), lempung organik dan gambut.

Tanah ini terdapat pada area lebih dari 20 juta hektar, lebih dari 10 % dari tanah
daratan Indonesia.

Pada masa lalu, banyak proyek mengalami penundaan atau keterlambatan,


memerlukan tambahan biaya yang beasar, membutuhkan biaya perawatan dan
pemeliharaan yang lebih tinggi atau malahan mengalami kegagalan total, yang
diakibatkan oleh adanya tanah lunak ini.

Untuk Siapa ‘Panduan’ ini dibuat ?

Panduan Geoteknik ini dan seri lainnya diperuntukkan para praktisi di lapangan
dengan maksud memberikan pedoman dan petunjuk dalam disain dan pelaksaan
konstruksi jalan di atas tanah lunak. Berbagai panduan yang dibuat, sangat cocok
untuk diterapkan dalam disain berbagai tipe jalan, mulai dari Jalan Nasional hingga
Jalan Kabupaten. Panduan-panduan disajikan untuk kelompok-kelompok praktisi,
sbb:

Para Manajer Proyek

Termasuk pihak-pihak yang terlibat dalam proses perencanaan, pembiayaan dan


manajemen proyek.

‘Panduan’ ini akan menjelaskan kepada anda mengapa pada lokasi tanah lunak diperlukan
investigasi khusus, waktu untuk melaksanakn investigasi, dan pertimbangan terhadap
pembiayaan secara khusus untuk melaksanakan investigasi yang memadai serta interpretasi
yang tepat.

Para Desainer (Desaign Engineers)

‘Panduan’ ini akan memberikan gambaran kepada anda, bagaimana lokasi tanah lunak harus
diidentifikasi, prosedur-prosedur yang harus anda terapkan dalam investigasi tersebut, dan
prosedur-prosedur desain dan pelaksanaan yang harus diikuti. ‘Panduan’ ini juga mengarahkan,
kapan informasi yang didapatkan tersebut memerlukan masukan dari spesialis/ahli yang telah
berpengalaman.

Ahli-ahli Geoteknik

Para ahli geoteknik yang berpengalaman dalam konstruksi jalan di atas tanah lunakpun, dapat
memanfaatkan ‘Panduan’ ini untuk mendapatkan rangkuman prosedur-prosedur yang
bermanfaat yang dapat digunakan dan diterapkan pada proyek-proyek yang lebih kompleks
dimana mereka terlibat secara langsung.

Walaupun panduan-panduan ini ini hanya berkaitan dengan jalan di atas tanah
lunak, namun para perekayasa yang menangani jalan pada tipe tanah lainpun, dan
bangunan sipil tipe lainpun akan mendapatkan informasi yang sangat bermanfaat
dalam menghadapi permasalahan yang serupa.

Maksud dan Tujuan dari Panduan

Panduan Geoteknik 1: Tanah Lunak Indonesia: Pembentukan dan Sifat-


sifat Dasar

Panduan ini memberikan informasi yang cukup kepada para pembaca untuk:
• Memahami perbedaan tipe-tipe dari tanah yang akan ditemukan di Indonesia
dan bagaimana hubungannya dengan konteks regional dan dunia.
• Menentukan penilaian awal dari segala kemungkinan dimana tanah-tanah
tersebut akan ditemukan pada lokasi-loksasi tertentu.
• Mengidentifikasi keberadaan tanah lunak, sehingga prosedur-prosedur yang
disebutkan dalam Panduan Geoteknik 2 hingga 4 perlu diterapkan dalam
proyek tersebut.

Panduan Geoteknik 2: Tanah Lunak Indonesia: Penyelidikan Lapangan


dan Pengujian Setempat pada Tanah Lunak

Panduan ini menjelaskan prosedur-prosedur yang harus diterapkan dalam :


• Studi awal yang perlu dilakukan dalam pengumpulan segala informasi yang
ada
• Informasi-informasi yang dibutuhkan dalam kegiatan proyek jalan sebelum
merencanakan penyelidikan lapangan
• Menentukan tipe-tipe penyelidikan lapangan serta pengujian laboratorium
yang akan dilakukan.
• Prosedur mendisain penyelidikan lapangan.
• Persyaratan-persyaratan khusus untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan
tertentu pada tanah lunak, sebagaimana juga telah dikemukakan pada manual-
manual lainnya untuk keperluan pekerjaan penyelidikan lapangan rutin.
• Persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi untuk pelaporan dari hasil-hasil
pekerjaan yang telah dilakukan.
• Daftar simak untuk meyakinkan bahwa prosedur-prosedur yang tercantum
dalam panduan ini telah diikuti
• Prosedur-prosedur yang harus dilaksanakan jika penyelidikan lapangan yang
dilakukan tidak mengikuti rekomendasi yang diberikan oleh panduan ini.

Panduan Geoteknik 3: Tanah Lunak Indonesia: Pengujian Laboratorium


untuk Keperluan Rekayasa Sipil

Panduan ini menjelaskan:


• Daftar simak untuk mengevaluasi kemanapun laboratorium geoteknik dan
kriteria pemilihan laboratorium.
• Faktor-faktor yang berpengaruh pada perencanaan dan pengembangan
program pengujian laboratorium.
• Rangkuman prosedur pengujian baku (standard) terutama acuan pengujian
lempung organik lunak dan gambut serta interpretasi hasil pengujiannya.
• Prosedur mengurangi sementara mungkin gangguan terhadap contoh selama
penanganan contoh dan penyiapan benda uji; interpretasi data pengujian
untuk mengevaluasi kualitas contoh.
• Prosedur untuk mengidentifikasi dan menjelaskan kemas & struktur tanah
(“soil fabric and structure”).
• Persaratan-persaratan pelaporan.

Panduan Geoteknik 4: Tanah Lunak Indonesia: Disain dan Metode


Konstruksi untuk Timbunan Jalan

Panduan ini menjelaskan:


• Metoda-metoda yang harus diterapkan untuk menguji keabsahan data
penyelidikan.
• Prosedur-prosedur untuk mendapatkan parameter-parameter.
• Proses pengambilan keputusan dalam memilih teknik dan metoda yang
menghasilkan yang memuaskan.
• Metoda-metoda yang akan digunakan dalam menganalisis stabilitas yang
diharapkan dan perilaku penurunan jalan
• Persyaratan-persyaratan dalam penyusunan laporan disain, penyiapan
kesimpulan-kesimpulan dan bagaimana hal-hal tersebut dapat dicapai
• Daftar simak untuk meyakinkan bahwa semua prosedur dalam panduan ini
telah dilaksanakan
• Prosedur-prosedur yang harus dilaksanakan jika rekomendasi-relomendasi
tidak dilaksanakan sesuai dengan apa yang telah diberikan dalam panduan ini

Panduan Geoteknik CD

Sebuah CD akan dilampirkan dalam Panduan Geoteknik 1 ini (Lampiran A) yang


memberikan penjelasan tentang isi dari CD tersebut serta cara penggunaannya
Skala Mutu
Panduan ini mengasumsikan bahwa pada setiap pelaksanaan proyek jalan, seorang
(Engineer) Perekayasa yang selanjutnya disebut Perekayasa Geoteknik yang
Ditunjuk (PGD) akan ditunjuk untuk bertanggung jawab terhadap seluruh
pekerjaan geoteknik mulai dari tahapan penyelidikan, desain dan pelaksanaan
konstruksi. Petunjuk ini dilakukan Ketua Tim (Team Leader), Ketua Tim Desain
atau seseorang yang secara keseluruhan bertanggungjawab atas perkembangan
teknik dari proyek. Pemimpin proyek mempunyai tanggung jawab menyakinkan
PGD ada di pos selama proyek berlangsung.

Panduan ini menggambarkan bagaimana seorang PGD yang telah ditunjuk tersebut
harus mencatat dan menandatangani setiap tahapan pekerjaan. Jika PGD tersebut
suatu saat diganti, maka prosedur-prosedur yang telah ditetapkan tersebut harus
diadopsi di dalam klausal serahterima, yang mana PGD-Baru tersebut akan
melanjutkannya dengan tanggung jawab sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam
Panduan Geoteknik 4.

Latar belakang dan pengalaman dari PGD tersebut akan bervariasi berdasarkan
kuantitas dan kompleksitas dari proyek yang bersangkutan. Untuk Jalan
Kabupaten, Perekayasa yang ditunjuk harus memiliki kemampuan/latarbelakang
keteknikan dasar yang cukup serta pengetahuan lokal yang memadai. Sedangkan
untuk skala proyek yang lebih besar, Perekayasa dengan latar belakang khusus
kegeoteknikan, umumnya menjadi persyaratan yang harus dipenuhi.

Untuk skala proyek Jalan Nasional, dimana permasalahan-permasalahan tanah


lunak cukup banyak ditemui, PGD harus memiliki pengetahuan dan pengalaman
kegeoteknikan yang luas. Bila dipandang perlu ia dapat di dukung oleh ahli
geoteknik; walaupun demikian, PGD tersebut tetap bertanggungjawab secara
keseluruhan dari skala Mutu, sebagaimana telah dijelaskan dalam Panduan ini.
Daftar Isi

1 Pendahuluan Panduan Geoteknik 3 .........................................................1


1.1 Batasan Dari Panduan.....................................................................1

2 Kriteria untuk Pemilihan Laboratorium ...................................................3


2.1 Pendahuluan...................................................................................3
2.2 Akreditasi Laboratorium di Indonesia ..............................................4
2.3 Pesyaratan Umum untuk Laboratorium Pengujian Tanah...................6
2.4 Evaluasi Kemampuan Laboratorium Menurut ASTM D3740-92........8
2.4.1 Organisasi dari Laboratorium ..............................................8
2.4.2 Sumber Daya Manusia dari Laboratorium ............................8
2.4.3 Kualifikasi Personil ............................................................9
2.4.4 Verifikasi terhadap Kemampuan..........................................9
2.4.5 Persyaratan pengujian .........................................................9
2.4.6 Persyaratan Tambahan untuk Peralatan Pengujian.................9
2.4.7 Persyaratan Sistem Mutu................................................... 10
2.4.8 Persyaratan Pencatatan dan Pelaporan................................ 11
2.5 Kriteria untuk Mengevaluasi Laboratorium .................................... 11
2.5.1 Informasi Umum yang Dibutuhkan pada Tahap Awal
dari Evaluasi Laboratorium ............................................... 12
2.5.2 Pemeriksaan Fasilitas Laboratorium oleh Insinyur
Geoteknik yand Ditunjuk .................................................. 12
2.6 Pemeringkatan Kemampuan Pengujian Laboratorium ..................... 16
2.7 Kontrol Mutu ............................................................................... 20
2.7.1 Urutan Penanganan Sampel............................................... 22

3 Perencanaan Program Pengujian Laboratorium ......................................27


3.1 Pendahuluan................................................................................. 27
3.2 Pengembangan Program Pengujian Awal Laboratorium .................. 27

4 Pengujian-pengujian Laboratorium .......................................................30


4.1 Klasifikasi Tanah.......................................................................... 30
4.1.1 Klasifikasi Lempung dan Lanau Organik dan Inorganik ...... 30
4.1.2 Klasifikasi gambut ............................................................ 34
4.2 Tes-tes Indeks yang Dilakukan untuk Tujuan Klasifikasi dan
Tujuan Lain .................................................................................. 36
4.2.1 Kadar Air Alami............................................................... 36
4.2.2 Distribusi Ukuran Partikel................................................. 37
4.2.3 Berat Jenis ....................................................................... 38
4.2.4 Kerapatan Total................................................................ 39
4.2.5 Bata-batas Konsistensi (Atterberg)..................................... 40

(i)
4.2.5.1 Indeks Likuiditas (LI) ....................................................... 44

4.2.5.2 Aktifitas ........................................................................... 44


4.2.6 Tes Geser Baling Laboratorium ......................................... 45
4.2.7 Kadar Bahan Organik Gambut dan Tanah Organik
Lainnya............................................................................ 46

4.2.7.1 Metode Kehilangan akibat Pembakaran.............................. 47

4.2.7.2 Metode Oksidasi Dichromate............................................. 48

4.2.7.3 Komentar Mengenai Metode-metode yang Digunakan


untuk Menentukan Kadar Bahan Organik ........................... 49
4.2.8 Berat Isi Gambut .............................................................. 50
4.2.9 Kadar Serat Gambut ......................................................... 51
4.2.10 Ekstraksi Air Pori dan Pengukuran Salinitas....................... 51
4.2.11 Konduktifitas ................................................................... 52
4.2.12 pH Bahan-bahan Gambut .................................................. 54
4.2.13 pH Tanah......................................................................... 54
4.2.14 Kadar Karbonat................................................................ 54
4.2.15 Kadar Klorida................................................................... 55
4.2.16 Kadar Sulfat..................................................................... 55
4.3 Tes-tes Kekuatan.......................................................................... 56
4.3.1 Tes Geser Langsung ......................................................... 56
4.3.2 Tes-tes Kompresi Triaksial................................................ 58

4.3.2.1 Tes Tak Terkonsolidasi-Tak Terdrainase (UU) ................... 60

4.3.2.2 Tes Terkonsolidasi-Tak Terdrainase (CU).......................... 61

4.3.2.3 Tes Terkonsolidasi-Terdrainase (CD)................................. 62


4.3.3 Komentar-komentar mengenai Tes-tes Laboratorium
untuk Menentukan Kuat Geser Tanah-tanah Organik dan
Gambut ............................................................................ 65
4.4 Tes Konsolidasi............................................................................ 67
4.4.1 Tes Konsolidasi Satu Dimensi........................................... 67

4.4.1.1 Penentuan Karateristik Pengembangan dan Keruntuhan....... 69


4.4.2 Penentuan Sifat-sifat Konsolidasi Menggunakan Sel
Hidraulik .......................................................................... 69
4.4.3 Komentar-komentar Mengenai Tes-tes Laboratorium
untuk Menentukan Karakteristik Konsolidasi Tanah-
tanah Organik dan Gambut ................................................ 70
4.5 Tes-tes Permeabilitas .................................................................... 70
4.6 Spesifikasi Program Pengujian Laboratorium dan Parameter-
parameter Tes Laboratorium.......................................................... 72

(ii)
4.6.1 Program Pengujian Laboratorium ...................................... 72
4.6.2 Parameter-parameter Tes Laboratorium.............................. 73
4.6.3 Konsistensi Data............................................................... 80

5 Kualitas dan Kerusakan Sampel............................................................82


5.1 Pendahuluan................................................................................. 82
5.2 Prosedur Laboratorium untuk Meminimalisasi Gangguan yang
Terjadi Pada Tanah....................................................................... 82
5.2.1 Penyimpanan Sampel........................................................ 82
5.2.2 Penanganan Sampel dan Persiapan Spesimen untuk
Pengujian......................................................................... 86
5.3 Evaluasi Terhadap Tingkat Gangguan Pada Sampel........................ 90
5.3.1 Tegangan-Regangan Tak Terdrainase dan Prilaku Kuat
Geser............................................................................... 90
5.3.2 Kurva Konsolidasi Satu Dimensi....................................... 93
5.3.3 Tegangan Efektif Residual ................................................ 95
5.3.4 Penilaian Kualitas Sampel................................................. 96

6 Struktur dan Kemas Tanah ...................................................................97


6.1 Definisi 97
6.2 Deskripsi dan Identifikasi Tanah.................................................... 98
6.3 Prosedur Pencatatan dan Analisis Kemas...................................... 101
6.3.1 Identifikasi dan Klasifikasi dari Fitur Kemas.................... 102
6.3.2 Prosedur Laboratorium ................................................... 106

6.3.2.1 Pengeluaran Sampel dan Pembongkaran dari Permukaan


yang Diperiksa................................................................ 106

6.3.2.2 Pemeriksaan dan Pemotretan Susunan Makro................... 106

6.3.2.3 Penyimpanan Data dan Pelaporan .................................... 106

7 Pelaporan.......................................................................................... 108
7.1 Persyaratan Khusus..................................................................... 108
7.2 Persyaratan Umum ..................................................................... 109
7.3 Laporan Laboratorium ................................................................ 110

8 Referensi........................................................................................... 113

(iii)
LAMPIRAN

Lampiran A Metode-metode Pengujian Standar yang Diterbitkan oleh


SNI, ASTM dan BSI.

Lampiran B Pengujian Triaksial Kompresi yang Terkonsolidasi-


Terdrainase dengan Pengukuran Perubahan Volume;
Clauses 5, 6 and 8 of BS 1377 : Part 8 : 1990.

Lampiran C Persiapan Pengujian Sampel-sampel Tak Terganggu;


Clause 8, BS 1377 : Part 1 : 1990.

(iv)
1 Pendahuluan Panduan Geoteknik 3

1.1 BATASAN DARI PANDUAN

Panduan Geoteknik 3 ini utamanya membicarakan tentang pengujian-pengujian


yang dilaksanakan di laboratorium untuk keperluan evaluasi terhadap stabilitas,
daya dukung dan penurunan dari konstruksi jalan yang dibangun di atas tanah
lunak. Dalam Panduan Geoteknik ini juga dibicarakan mengenai lempung
inorganik dan lempung organik, gambut, dan penekanan khusus diberikan untuk
tindakan pencegahan yang harus diambil ketika melakukan pengujian terhadap
lempung organik dan gambut serta interpretasi terhadap data yang dihasilkan.
Sedangkan uji untuk material timbunan yang dipadatkan (misalnya untuk
mendapatkan nilai maksimum dari kepadatan kering (dry density), nilai CBR,
California Bearing Ratio) tidak akan dibahas.

Supaya hasil pengujian dari laboratorium dapat digunakan, maka penting untuk
diperhatikan bahwa laboratorium yang dipilih untuk melakukan pengujian
tersebut harus memiliki kemampuan dan kapasitas yang diiginkan, khususnya
dengan memperhatikan sistem kontrol mutunya. Bab 2 dari Panduan Geoteknik
ini menjelaskan secara detil prosedur yang harus ditempuh untuk menilai dan
menentukan kelas atau tingkatan dari sebuah laboratorium dipandang dari
tingkat kemampuannya melakukan suatu pengujian.

Perencanaan sebuah penyelidikan lapangan membutuhkan koordinasi dan


kesatuan antara lapangan dan kegiatan laboratorium itu sendiri dengan tujuan
untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dengan biaya seminimal-
minimalnya. Bab 3 dari Panduan Geoteknik ini membicarakan tentang
perencanaan program uji laboratorium dan memeriksa faktor-faktor yang
mempengaruhi batasan dari program tersebut.

Pada Bab 4 dari Panduan Geoteknik ini, sistem yang digunakan untuk
mengklasifikasi tanah organik dan inorganik berbutir halus serta gambut akan
dijelaskan; jenis-jenis pengujian yang harus dilakukan untuk
mengklasifikasikan tanah, dan untuk mendapatkan karakteristik kuat geser,
kompresibilitas dan permeabilitasnya juga dijelaskan. Jenis-jenis tanah tersebut
umumnya diuji dengan metode-metode pengujian standar sebagaimana
tercantum dalam Lampiran A. Merupakan hal yang penting bagi seorang
Insinyur Geoteknik yand Ditunjuk untuk merumuskan secara jelas program
pengujian yang akan dilakukan pada sebuah sampel serta parameter pengujian
apa yang akan digunakan; sebuah contoh mengenai hal ini diberikan dalam
bentuk sebuah prosedur yang diusulkan.

1
Bab 5 dari Panduan Geoteknik ini membicarakan mengenai gangguan atau
kerusakan yang terjadi pada tanah, dan konsekuensi kemungkinan terjadinya
penurunan kualitas yang terjadi di laboratorium selama proses penanganan
sampel dan persiapan pengujian spesimen; tindakan pencegahan yang harus
dilakukan untuk meminimalisasi gangguan yang timbul tersebut juga
didiskusikan. Prosedur yang diterbitkan oleh Masyarakat Internasional untuk
Mekanikan Tanah dan Teknik Fondasi (International Society for Soil
Mechanics and Foundation Engineering, ISSMFE, 1981) untuk mengevaluasi
kualitas relatif dari sampel berdasarkan pada interpretasi dari data pengujian
memberikan detil tahapan kegiatan yang harus dilakukan.

Bab 6 dari Panduan Geoteknik ini membicarakan susunan dan struktur tanah.
Prosedur ASTM menjelaskan secara detil bagaimana caranya mengidentifikasi
tanah yang dapat digunakan baik untuk di lapangan maupun di laboratorium.
Analisis terhadap makrofabrik (macrofabric) tanah, dengan menggunakan
metode yang diusulkan oleh Mc Gown dan Jarrett (1997a) juga didiskusikan,
bersama dengan prosedur laboratorium untuk pemotretan dan pelaksanaan dari
makfrofabrik tersebut.

Bagian akhir dari Panduan Geoteknik ini membicarakan persyaratan-


persyaratan yang harus dipenuhi dalam pelaporan hasil dari penyelidikan
laboratorium tersebut.

2
2 Kriteria untuk Pemilihan Laboratorium

2.1 PENDAHULUAN

Akses ke laboratorium yang (i) memiliki kapasitas dan kemampuan untuk


melaksanakan seluruh kegiatan penyelidikan lapangan sesuai dengan yang
direncanakan dan (ii) terletak pada lokasi yang mudah dijangkau dari lokasi
proyek merupakan hal penting yang utama. Laboratorium Geoteknik di
Indonesia meliputi:
• Laboratorium-laboratorium di lingkungan Pusat Penelitian dan
Pengembangan dari Badan Penelitian dan Pengembangan pada Departemen
Permukiman dan Prasarana Wilayah.
• Laboratorium-laboratorium di Departemeen Teknik Sipil di universitas-
universitas.
• Laboratorium-laboratorium di lingkungan Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI).
• Laboratorium-laboratorium material dan tanah di propinsi-propinsi yang
dulunya merupakan bagian dari DinasPekerjaan Umum Daerah.
• Laboratorium-laboratorium Komersial.

Akreditasi laboratorium yang dilakukan oleh sebuah badan yang diakui


merupakan suatu prosedur yang biasa digunakan untuk menjamin keberadaan
dan konsistensi dari laboratorium tersebut, standar yang ketat pada kemampuan
untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu dan kewajiban yang harus
dilakukan dalam proses pemilihan laboratorium biasanya dibuat sedikit lebih
mudah jika proses akreditasi resmi yang berlaku hanya diakui dalam lingkup
nasional saja. Meskipun demikian, dalam hal akreditasi laboratorium ini,
seorang Insinyur Geoteknik yand Ditunjuk harus mengetahui hal-hal yang
berkaitan dengan masa berlaku akreditasi tersebut, misalnya bahwa tidak
ditemukan adanya penyimpangan yang terjadi terhadap standar yang berlaku
sejak masa akreditasi tersebut diperoleh. Dalam hal ketiadaan dari akreditasi,
sebuah evaluasi yang lebih seksama harus dilakukan untuk menilai kenyataan
yang ada, yang biasanya dievaluasi dalam sebuah prosedur baku akreditasi.

Pada banyak kasus umumnya agak sulit untuk menemukan laboratorium yang
sesuai dengan jarak yang memadai dari lokasi proyek. Hal ini akan berpengaruh
terhadap biaya yang harus dikeluarkan untuk transportasi yang le bih jauh serta
perlakuan sedemikian rupa terhadap sampel sehingga dapat terlindungi dari

3
kerusakan dan gangguan. Juga dibutuhkan kontrol yang lebih ketat terhadap
jadwal pengambilan sampel dan pengujian laboratorium.

Pemilihan laboratorium merupakan sebuah bagian yang tak terpisahkan dengan


proses perencanaan penyelidikan lapangan. Sebelum rencana detil diselesaikan,
perlu kiranya untuk menominasikan laboratorium yang akan melaksanakan
pengujian, dengan melibatkan manajemen laboratorium dalam diskusi tentang
program pengujian dan membuat perencanaan untuk pembelian berbagai
macam peralatan khusus yang dibutuhkan.

2.2 AKREDITASI LABORATORIUM DI INDONESIA

Badan Standardisasi Nasional (BSN) pada tahun 1991 mengeluarkan Pedoman


01 – 1991 mengenai Persyaratan Umum Kemampuan Pengujian. Pedoman
tersebut disusun berdasarkan pada Standar Internasional ISO/IEC (International
Standard ISO/IEC Guide 25:1982), yang dikeluarkan oleh Organisasi Standar
Internasional, ISO (the International Organization for Standardization) dan
Komisi Elektronik Internasional, IEC (the International Electrotechnical
Commission).

Pada tahun 1993, Komisi Akreditasi Laboratorium pada Departemen Pekerjaan


Umum mengeluarkan sebuah pedoman untuk akreditasi laboratorium pengujian
yang dikenal sebagai Petunjuk Penilaian Laboratorium Pengujian. Pedoman
tersebut dikeluarkan oleh Ketua Komisi yaitu Sekretaris Menteri Riset dan
Teknologi; daftar isi dari pedoman tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.1.
Pedoman tersebut dikembangkan untuk kepentingan akreditasi laboratorium-
laboratorium milik PU propinsi dan swasta yang melakukan pekerjaan dalam
lingkup departemen pekerjaan umum; laboratorium yang melakukan akreditasi
tersebut adalah laboratorium-laboratorium pada Puslitbang Jalan, Puslitbang Air
dan Puslitbang Pemukiman.

4
Gambar 2-1 Daftar Isi dari Panduan (Guide) untuk Akreditasi Laboratorium Pengujian, Komisi
Akreditasi Laboratorium (PU), 1993.

Standar yang dikeluarkan oleh ISO dan IEC pada tahun 1999 merupakan edisi
pertama dari Standar Internasional tentang Persyaratan Umum untuk
Kemampuan Laboratorium Pengujian dan Kalibrasi (International Standard
ISO/IEC 17025:1999 – General Requirements for the Competence of Testing
and Calibration Laboratories. Dokumen ini telah dicabut dan digantikan degan
edisi tahun 1990 dari ISO/IEC Guide 25.

Pedoman dari ISO/IEC 17025:1999 telah diterjemahkan kedalam Bahasa


Indonesia dan dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional – BSN sebagai
Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) untuk didiskusikan. Rancangan
tersebut diberi judul “ Persyaratan Umum Kompetensi Laboratorium Penguji
dan Laboratorium Kalibrasi “ seperti ditunjukkan dalam SNI 19-17025-2000.

Daftar isi dari ISO/IEC 17025-1999 dapat dilihat pada Gambar 2-2.

5
Gambar 2-2 Daftar Isi-ISO/IEC 17025 : 1999

2.3 PESYARATAN UMUM UNTUK LABORATORIUM


PENGUJIAN TANAH

Persyaratan yang harus dipenuhi oleh sebuah laboratorium mekanika tanah


disebutkan dalam AASHTO (1988) yang meliputi 3 hal pokok sebagai berikut:

Peralatan
• laboratorium harus terletak pada lantai dasar atau ruangan bawah tanah
yang memilikik lantai keras/kaku yang bebas dari getaran akibat mesin atau
lalu lintas.

6
• laboratorium harus dilengkapi dengan perlalatan uji tanah yang terbaru yang
sesuai untuk melakukan pengujian-pengujian untuk pengklasifikasian dan
mengetahui sifat-sifat material yang dibutuhkan.
• idealnya, lokasi yang terpisah harus dibuat sedemikian rupa untuk kegiatan-
kegiatan yang menghasilkan debu, seperti uji analisa saringan dan persiapan
sampel.
• peralatan harus diatur berdasarkan kelas dan tipe pengujian untuk
menghasilkan suatu sistem pemanfaatan dan perletakan yang paling efisien.
• jika memungkinkan, temperatur untuk seluruh laboratorium harus dapat
dikontrol; jika ruangan yang suhunya dapat dikontrol terbatas, maka
ruangan ini hanya dipakai untuk uji konsolidasi, triaksial dan permeabilitas.
• sebuah ruangan yang lembab yang cukup luas untuk menyimpan sampel-
sampel tak terganggu dan untuk mempersiapkan spesimen untuk pengujian
harus tersedia.
• pengawasan reguler dan kalibrasi peralatan pengujian harus selalu
dilakukan untuk menjamin keakuratan dari hasil yang didapat.

Personil
• seluruh pengujian laboratorium harus dikerjakan dan diawasi oleh personil-
personil yang memiliki kemampuan yang didapat melalui pelatihan dan
pengalaman untuk melaksanakan tugas-tugas yang diberikan kepada
mereka.
• personil yang ditugasi harus terbiasa dengan peralatan, prosedur pengujian
dan teknik-teknik laboratorium yang baik secara keseluruhan, dan juga
harus memahami tujuan dari setiap pengujian yang ditugaskan kepada
mereka.
• program-program pelatihan untuk personil-personil di laboratorium harus
selalu dijalankan.

Jaminan Mutu
• kontrol terhadap jaminan mutu harus tersedia untuk memeriksa dan menilai
kegiatan-kegiatan berikut secara minimal:
• pengangkutan dan penyimpanan contoh tanah
• persiapan spesimen uji
• kepatuhan pada prosedur pengujian yang tepat
• keakuratan pembacaan
• pemeliharaan peralatan
• pemeriksaan dan penilaian terhadap data pengujian
• penyajian data hasil pengujian

7
BS 1377 : Part 1 : 1990 menyebutkan informasi umum yang berhubungan
dengan pengujian-pengujian tersebut, kalibrasi umum dan persyaratan khusus,
serta persyaratan umum untuk pekerjaan laboratorium pengujian tanah dan
kegiatan lapangan.

2.4 EVALUASI KEMAMPUAN LABORATORIUM


MENURUT ASTM D3740-92

Aspek Standar yang dijelaskan dalam ASTM D3740-92 memberikan sebuah


dasar standarisasi untuk menilai sebuah laboratorium pengujian mengenai
kemampuannya secara obyektif dalam memberikan pelayanan tertentu yang
dibutuhkan oleh pengguna jasa.

Aspek yang dapat digunakan sebagai dasar akreditasi, meliputi baik untuk
lapangan dan laboratorium; namun pada Panduan ini hanya kegiatan di
laboratorium saja yang dibicarakan.

Prosedur-prosedur untuk membuat sebuah evaluasi terhadap laboratorium


dijelaskan dalam aspek-aspek yang meliputi 8 hal pokok. Kesimpulan yang
diberikan berikut memberikan petunjuk umum dari persyaratan yang harus
dipenuhi.

2.4.1 Organisasi dari Laboratorium


Informasi-informasi berikut harus tersedia:
• nama dan alamat resmi dari kantor utama
• nama dan jabatan petugas-petugasnya
• kepemilikan dari laboratorium
• wilayah bidang pelayanan secara geografis
• pelayanan teknis terkait yang ada
• tipe-tipe para pengguna jasa
• organisasi atau laboratorium lain yang bekerja sama yang memberikan
dukungan dalam pelayanan
• akreditas atau sertifikat pengakuan lainnya yang menunjukkan tingkat
kemampuan laboratorium.

2.4.2 Sumber Daya Manusia dari Laboratorium


Informasi-informasi berikut harus tersedia:
• grafik organisasi laboratorium yang menunjukkan jabatan dari personil dan
garis otoritas dan tanggungjawabnya masing-masing

8
• deskripsi tugas untuk masing-masing kategori personil, termasuk
pendidikan, pelatihan dan pengalamannya
• sistem yang digunakan dalam mengevaluasi tingkat kemampuan personil
yang ditunjukkan untuk melaksanakan pengujian-pengujian tertentu.

2.4.3 Kualifikasi Personil


• seorang insinyur yang profesional yang bertanggungjawab memberikan
perintah-perintah teknik dan manajemen terhadap jasa yang diberikan.
Personil pada posisi ini harus merupakan karyawan tetap dari laboratorium
dengan pengalaman minimal 5 tahun dalam bidang pengujian tanah
• teknisi pengawas yang paling tidak memiliki pengalaman selama 5 tahun
dalam melakukan pengujian tanah dan dapat mendemonstrasikan
kemampuannya, baik secara tertulis maupun penjelasan lisan, atau
keduanya; memiliki kemampuan untuk melakukan pengujian-pengujian
dengan prosedur-prosedur yang telah ditentukan; ia juga harus mampu
untuk mengevaluasi hasil pengujian untuk memenuhi persyaratan yang
diminta
• teknisi pelaksana pengujian merupakan personil yang telah mendapatkan
pelatihan yang memadai untuk melaksanakan pengujian-pengujian yang
ditugaskan kepadanya secara tepat dan dapat mendemonstrasikan
kemampuannya; ia harus bekerja dibawah pengawasan dari teknisi
pengawas dan tidak boleh diijinkan untuk mengevaluasi hasil pengujian
secara mandiri.

2.4.4 Verifikasi terhadap Kemampuan


• fasilitas laboratorium harus diperiksa kembali untuk minimal setiap dua
tahun sekali oleh pihak-pihak yang berwenang
• laboratorium juga harus terlibat dalam kelancaran dari program pengujian.

2.4.5 Persyaratan pengujian


• laboratorium harus memenuhi persyaratan mengenai peralatan dan
prosedur-prosedur pengujian sebagaimana yang dispesifikasikan dalam
metode-metode pengujia n standar yang digunakan
• laboraotium harus memiliki peralatan uji yang memadai dan memiliki
fasilitas penyimpanan sampel, persiapan sampel serta pengujian dan analisis
sampel.

2.4.6 Persyaratan Tambahan untuk Peralatan Pengujian


Bab ini dalam membicarakan persyaratan peralatan untuk pengujian dan analisis
yang merupakan tambahan dari yang telah disebutkan dalam metode pengujian
ASTM terutama tentang frekuensi kalibrasi yang harus dilakukan.

9
Frekuensi kalibrasi yang harus dilakukan untuk berbagai variasi peralatan
dijelaskan sebagai berikut:

Jenis Peralatan Frekuensi Kalibrasi

* Alat penekan atau pembebanan Minimal setiap 12 bulan sekali


(kecuali disebutkan dalam metode
standar yag digunakan)

* Timbangan, neraca dan beban Minimal setiap 12 bulan sekali

* Alat Penumbuk Mekanik dan Manual Minimal setiap 12 bulan sekali

* Oven Temperaturnya harus diverifikasi


minimal setiap 4 bulan sekali

* Cetakan-cetakan Spesimen Diameter dalam dan tingginya


harus diperiksa minimal setiap 12
bulan sekali

* Saringan Kondisi fisik dari ayakan harus


diperiksa secara visual sebelum
setiap percobaan dilakukan;
dimensi fisik dari ayakan kawat
harus diperiksa setiap 6 bulan
sekali.

* Alat Pengayak Mekanik Kecukupan dari jumlah


pengayakan dari alat ini minimal
harus diperiksa setiap 12 bulan
sekali

2.4.7 Persyaratan Sistem Mutu


Laboratorium harus:
• memiliki manual mutu yang tertulis
• menunjuk seorang dalam organisasi laboratorium yang bertanggung jawab
memelihara sistem mutu laboratorium tersebut
• menyimpan daftar inventaris yang sesuai dengan keberadaan peralatan
secara fisik
• menyimpan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan sertifikat
kalibrasi, verifikasi dan toleransi yang diijinkan
• menyimpan dokumen-dokumen yang menjelaskan.
prosedur penanganan keluhan teknik dari klien.
prosedur penjaminan kualitas unit-unit pelayanan teknik eksternal.
prosedur pencatatan, pemeriksaan dan pemrosesan data, pelaporan hasil-hasil
pengujian.

10
prosedur untuk identifikasi, penyimpanan sementara, penyimpanan tetap dan
pembuangan spesimen.

2.4.8 Persyaratan Pencatatan dan Pelaporan


• sebuah laboratorium harus menyimpan catatan verifikasi dari setiap laporan
yang dikeluarkan.
• sebuah catatan untuk setiap laporan, dan catatan-catatan lainnya yang
berkaitan, harus disimpan untuk paling tidak selama tiga tahun dan harus
meliputi nama-nama personil yang melakukan pekerjaan pengujian masing-
masing.

Catatan-catatan yang harus disimpan oleh laboratorium tersebut antara lain


meliputi hal-hal berikut; termasuk hasil-hasil dari audit internal maupun
eksternal, hasil-hasil program pelatihan yang diberikan pada personil di
laboratorium, verifikasi dari kemampuan organisasi/laboratorium eksternal dan
hasil-hasil detil persyaratan untuk kalibrasi dan verifikasi.

Informasi lain yang akan dimasukkan ke dalam laporan juga diberikan lebih
detil, misalnya sebuah identifikasi tentang laporan, proyek, sampel atau jenis
pengujian yang dilakukan, nama dan kedudukan dari personil yang
bertanggungjawab secara teknik terhadap laporan dan metode-metode standar
yang digunakan.

2.5 KRITERIA UNTUK MENGEVALUASI


LABORATORIUM

Panduan Geoteknik ini terutama membicarakan masalah pengujian laboratorium


untuk tanah, dan kriteria untuk mengevaluasi kemampuan dari laboratorium
yang ada dalam memberikan pelayanan tertentu diberikan di bawah ini.

Bagaimanapun juga, dalam melaksanakan pengujian terhadap sampel yang


diambil selama pelaksanaan penyelidikan lapangan serta kemampuannya untuk
memberikan pelayanan pada tingkat yang memuaskan merupakan hal kritis dari
sebuah laboratorium yang sangat bergantung pada bagaimana penyelidikan
lapangan tersebut dilakukan. Untuk alasan tersebut, akan lebih baik jika tak ada
pemisahan tanggungjawab untuk kedua penyelidikan baik laboratorium maupun
lapangan tersebut, oleh karenanya sebaiknya tanggungjawab atas kedua
pekerjaan tersebut diberikan pada satu institusi yang sama.

Karena bukan merupakan bagian dari Panduan Geoteknik ini untuk membahas
kriteria dalam mengevaluasi kemampuan dari suatu organisasi dalam
melakukan penyelidikan lapangan, perlu digaris bawahi bahwa besar
tanggungjawab yang diberikan untuk kedua penyelidikan tersebut merupakan
bagian tak terpisahkan satu dengan lainnya, dan untuk mendapatkan pelayanan
sesuai dengan mutu yang diharapkan, maka kemampuan dari

11
organisasi/laboratorium yang melakukan pekerjaan penyelidikan lapangan
tersebut harus dievaluasi dengan cara yang sama dengan pengujian
laboratorium, sebagaimana akan dijelaskan pada bab-bab berikut.

2.5.1 Informasi Umum yang Dibutuhkan pada Tahap Awal dari


Evaluasi Laboratorium
Tahap pertama dalam proses evaluasi terhadap laboratorium adalah
mengundang berbagai organisasi/laboratorium yang memberikan pelayanan
pengujian laboratorium untuk mendapatkan informasi sebagaimana yang
terdaftar pada Gambar 2-3.

Pada tahapan ini, wilayah daerah pencarian terhadap laboratorium yang ada
secara geografis harus ditetapkan pula. Pada beberapa lokasi proyek mungkin
terdapat sejumlah laboratorium dengan jarak dari lokasi proyek yang cukup
memadai yang dapat memberikan alternatif pilihan. Pada lokasi yang lain,
alternatif pilihan dapat saja terbatas, dimana pada kasus ini perlu diputuskan
untuk memperluas wilayah pencarian secara geografis. Tipe-tipe pengujian
yang akan dilaksanakan juga akan sangat mempengaruhi wilayah pencarian;
jika proyek yang ada secara relatif tidak terlalu penting dan data untuk
keperluan disain yang didapat dari pengujian pengklasifikasian dianggap sudah
memadai, maka perluasan wilayah pencarian tak perlu dilakukan lagi seperti
harus dilakukan pada kasus dimana proyeknya dipandang sangat penting dan
membutuhkan data dari pengujian laboratorium yang lebih canggih.

Jika telah didapatkan sejumlah laboratorium, evaluasi berdasarkan syarat-syarat


yang diberikan pada Gambar 2-3 merupakan dasar bagi seorang Insinyur
Geoteknik yang Ditunjuk untuk melakukan pengamatan singkat terhadap
laboratorium-laboratorium tersebut.

2.5.2 Pemeriksaan Fasilitas Laboratorium oleh Insinyur


Geoteknik yand Ditunjuk

Sebagai bahan pertimbangan lebih jauh dalam membuat penilaian terhadap


keakuratan informasi yang disajikan pada Gambar 2-3 dan untuk
mengembangkannya lebih jauh sebagai dasar dalam pemeringkatan
laboratorium, sejumlah laboratorium perlu diperiksa atau diamati seorang
Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk.

Jawaban-jawaban atas pertanyaan yang terdapat pada Gambar 2-4 merupakan


penilaian awal yang harus dilakukan terhadap fasilitas umum yang tersedia pada
laboratorium dan seberapa besar tingkat efisiensi operasionalnya. Semua
pertanyaan dianggap sesuai untuk diterapkan tetapi penekanan khusus harus
perhatikan terhadap adanya (i) sebuah fasilitas penyimpanan sampel dan (ii)
area untuk persiapan dan pengujian sampel yang kelembaban/temperaturnya
dapat dikontrol dan jika juga memungkinkan adanya sistem penyimpanan data
dan sistem penelusuran kembali dari data yang ada.

12
Gambar 2-5 menyajikan daftar informasi yang dibutuhkan untuk mengevaluasi
kapasitas pengujian dari laboratorium yang ditunjukkan oleh ketersedian
peralatan yang ada. Pada banyak kasus, laboratorium pengujian tanah tidak
memiliki peralatan, bahan dan keahlian yang dibutuhkan untuk melaksanakan
berbagai pengujian kimia. Jika hal ini dijumpai, perhatian khusus harus
diberikan terhadap informasi yang diberikan dari Item 4 pada Gambar 2-3 yaitu
“organisasi/laboratorium luar yang digunakan untuk mendukung pelayanan
teknik yang signifikan”. Organisasi/laboratorium luar yang terlibat dalam
program pengujian disyaratkan untuk dievaluasi secara penuh berdasarkan pada
kemampuan mereka dalam memberikan pelayanan yang diinginkan secara
memuaskan. Seorang Insinyur Geoteknik yand Ditunjuk harus memeriksa: (i)
format mengenai permintaan mana saja yang dilakukan di luar, misalnya apakah
berdasarkan metode pengujian tertentu, data pengujian spesifik apa yang
dibutuhkan, dan (ii) data pendukung lain yang dihasilkan bersama data hasil
pengujian. Insinyur Geoteknik yand Ditunjuk tersebut juga harus mengetahui
bagaimana laboratorium utama tersebut dapat mengontrol mutu dari hasil test
yang dilakukan oleh organisasi/laboratorium luar tesebut.

Gambar 2-6 dimaksudkan untuk memberi informasi mengenai metode


pengujian yang digunakan di laboratorium, ketersedian dari salinan dari
metode-metode tersebut dan nama-nama dari personil yang melaksanakan
pengujian, yang mengawasi dan yang menyetujui hasil serta yang melakukan
analisis dari hasil pengujian. Merupakan suatu hal yang sangat penting bahwa
seluruh lembar pencatatan data pengujian dan lembar analisis data disetujui oleh
seseorang yang berwenang; lembar yang tidak ditandatangani merupakan
dokumen yang tidak sah. Informasi terhadap personil yang terlibat dalam
kegiatan pengujian harus dicek dengan informasi yang ada berdasarkan data
yang ada pada Items 10 dan 11 dari Gambar 2-3 untuk memastikan jika personil
yang ditugasi melakukan pengujian tersebut telah memiliki latar belakang dan
pengalaman yang memadai.

13
Informasi umum yang dibutuhkan dari Informasi yang didapat
laboratorium Lengkap Tak Lengkap Catatan
1. Nama dan alamat resmi dari kantor utama
2. Nama dan posisi dari direktur dan petugas -petugas
utama
3. Kepemilikan utama laboratorium, struktur manajerial
dan prinsip-prinsip keanggotaan dan afiliasinya
4. Organisasi/laboratorium lain yang bekerja sama
yang memberikan dukungan signifikan dalam hal
pelayanan teknis
5. Sejarah lengkap dari laboratorium
6. Wilayah bidang pelayanan secara geografi
7. Daftar pelayanan-pelayanan teknis terkait yang ada
8. Tipe para pengguna jasa
9. Akreditas atau sertifikat pengakuan lainnya yang
menunjukkan tingkat kemampuan laboratorium
10. Grafik organisasi laboratorium yang menunjukkan
posisi dari personil dan garis otoritas dan
tanggungjawab masing-masing
11. Deskripsi tugas untuk masing-masing personil
12. Sistem yang digunakan secara kontinyu dalam
mengevaluasi tingkat kemampuan personil yang
ditunjukkan dari kemampuannya menjalankan tugas
yang diberikan
13. Inventarisasi dari peralatan-peralatan utama
14. Detil dari sistem jaminan mutu
15. Nama dan posisi dari personil yang
bertanggungjawab terhadap kontrol atau jaminan
mutu (jika belum diberikan baik di item 10 ataupun
14 di atas)

Nama laboratorium
Diselesaikan oleh Tanggal
Nama
Posisi

Gambar 2-3 Informasi Umum yang Dibutuhkan pada Tahap Awal Pemilihan Laboratorium

14
Jawaban
Pertanyaan Keterangan
Ya Tidak
1. Apakah terdapat lantai/ruangan yang cukup untuk
menempatkan peralatan di laboratorium?
2. Apakah lantai laboratorium tahan terhadap getaran?
3. Apakah terdapat ruangan yang berbeda untuk
berbagai tipe pengujian yang berbeda?
4. Apakah laboratorium tersebut temperaturnya dapat
dikontrol seluruhnya?
5. Apakah terdapat ruangan khusus yang temperaturnya
dapat dikontrol di laboratorium tersebut?
6. Apakah ruangan yang temperaturnya dapat dikontrol
tersebut digunakan untuk jenis pengujian tertentu?
7. Apakah ruangan yang temperaturnya dapat dikontrol
tersebut digunakan untuk ruangan komputer,
penyimpanan data/ peralatan pemrosesan?
8. Apakah terdapat ruangan untuk penyimpanan
sampel?
9. Apakah ruangan penyimpanan sampelnya dapat
dikontrol kelembabannya?
10. Apakah ruangan penyimpanan sampelnya dapat
dikontrol temperaturnya?
11. Apakah terdapat ruangan yang kelembabannya dapat
dikontrol untuk mempersiapkan spesimen uji?
12. Apakah kegiatan yang menghasilkan debu dilakukan
pada tempat yang terpisah dari laboratorium utama?
13. Apakah permukaan lantai kerja untuk kegiatan
penumbukan terletak pada ruangan yang lantainya
tahan terhadap getaran?
14. Apakah terdapat sejumlah titik-titik sumber listrik yang
kedap air yang terletak berdekatan dengan lantai
kerja?
15. Apakah terdapat fasilitas untuk penyimpanan
peralatan secara baik jika tidak sedang digunakan?
16. Apakah setiap peralatan selalu dipelihara kerapian
dan kebersihannya sehingga selalu digunakan dalam
kondisi yang baik?
17. Apakah ada ruangan khusus yang ditujukan untuk
penyimpanan data pengujian?
18. Apakah ada ruangan khusus yang ditujukan untuk
penyimpanan analisis data pengujian?
19. Apakah ada ruangan khusus yang ditujukan untuk
penyimpanan:
Sertifikat Kalibrasi?
Jadwal Kalibrasi Kembali?
Jadwal Pemeliharaan?
Prosedur Pengujian Standar?
20. Apakah pernah memiliki pengalaman melakukan
pengujian pada tanah lunak organik?
21. Apakah pernah memiliki pengalaman melakukan
pengujian pada gam but?
22. Apakah ada peralatan khusus yang dibeli untuk
pengujian tanah lunak organik?
23. Apakah ada peralatan khusus yang dibeli untuk
pengujian gambut?
Nama Laboratorium:
Tanggal Kunjungan:
Oleh:

Gambar 2-4 Penilaian Fasilitas Umum dari Laboratorium Selama Peninjauan Laboratorium

15
Peralatan yang Ada
Jenis Pengujian Keterangan
Ya Tidak
1. Pengujian untuk pengklasifikasian:
• Kadar Air
• Distribusi Ukuran Partikel
• Specific Gravity
• Batas-batas Atterberg
• Baling-baling Laboratorium
• Kadar Organik (Loss on Ignition)
• Bulk Density dari Gambut
• Kadar Serat dari Gambut
2. Pengujian Kimia:
• Kadar Organik (dichromate oxidation)
• Pore Water Extraction dan Pengukuran
Salinitas
• Konduktifitas
• pH dari material gambut
• pH dari tanah
• Kadar Karbonat
• Kadar Klorida
• Kadar Sulfat
3. Pengujian Kuat Geser:
Uji geser langsung
Triaksial UU
Triaksial CU
Triaksial CD
4. Pengujian Konsolidasi:
Uji konsolidasi satu dimensi
Sel Hidrolik (Rowe Cell)
5. Pengujian Permeabilitas
Nama Laboratorium:
Tanggal Kunjungan:
Oleh:

Gambar 2-5 Penilaian Fasilitas dari Laboratorium Selama Peninjauan Laboratorium

2.6 PEMERINGKATAN KEMAMPUAN PENGUJIAN


LABORATORIUM

Informasi yang diberikan dalam Gambar 2-3 hingga 2-6 seharusnya


memungkinkan bagi Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk untuk membuat sebuah
analisis yang sistematis mengenai kemampuan uji laboratorium yang sedang
dievaluasi dan merekomendasikan laboratorium yang dipilih secara murni

16
berdasarkan fakta yang ada. Tetapi perlu disadari bahwa ceklis yang diberikan
disini hanyalah memberikan panduan saja; Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk
tersebut dapat saja meminta informasi tambahan lain berdasarkan pengalaman
dan pengetahuannya terhadap kondisi lokal.

Kriteria yang tercantum pada Gambar 2-7 dapat membantu Insinyur Geoteknik
yang Ditunjuk tersebut dalam melakukan pemeringkatan laboratorium yang
diamati berdasarkan tingkat kemampuannya dalam melakukan pengujian. Pada
gambar ini laboratorium diperingkatkan secara sederhana sebagai A,B dan C
dengan mengacu pada kriteria -kriteria yang ada. Semua kriteria dapat
diterapkan secara sama dan berlaku umum, karena kriteria tersebut tidak dibuat
untuk tujuan-tujuan tertentu secara khusus. Kriteria peringkat yang ada tersebut
dijelaskan sebagai berikut:

A : adalah laboratorium yang secara umum memenuhi kriteria dan


dipertimbangkan dapat memberikan pelayanan yang diminta secara
memuaskan sesuai dengan apa yang diharapkan.

B : adalah laboratorium yang secara jelas tidak dapat memenuhi seluruh


kriteria, dan hasil pengujian yang didapat harus diperiksa secara teliti
kembali untuk dapat digunakan; pada peringkat ini masih memungkinkan
untuk dapat memperbaiki hasil pengujian yang diperoleh jika usulan yang
dibuat oleh engineer geoteknik untuk mendapatkan hasil yang lebih baik
diterima oleh manajemen la boratorium dan dilaksanakan.

C : adalah laboratorium yang tidak mampu untuk memenuhi kriteria dan hasil
pengujian yang dihasilkan tidak dapat digunakan kecuali untuk pengujian
yang relatif sederhana tetapi itupun harus dengan pengawasan langsung.

Ketika melakukan penilaian terhadap masing-masing kriteria, akan lebih tepat


jika dalam memberi nilai tersebut menggunakan skala 1 hingga 10, untuk
Peringkat A dengan batasan 8 hingga 10, Peringkat B dengan batasan 4 hingga
7 dan Peringkat C dengan batasan 1 hingga 3. Tetapi sistem pemeringkatan
dengan menggunakan angka ini tidak boleh diterapkan secara kolektif untuk
kriteria secara keseluruhan karena hal tersebut akan menimbulkan persoalan
akan adanya tingkat kepentingan relatif dari kriteria -kriteria yang berbeda.

Jika peringkat yang diberikan kepada laboratorium yang berbeda seperti


terdapat pada Gambar 2-7 disimpulkan dalam format sebagaimana ditunjukkan
pada Gambar 2-8, sebuah pola yang jelas akan dapat dilihat yang menunjukkan
tingkat kemampuan yang dibutuhkan dari laboratorium dalam melaksanakan
penyelidikan. Pada kasus yang sangat jarang, dimana terdapat lebih dari satu
laboratorium yang memenuhi persyaratan secara memuaskan, maka biaya dan
jaraknya dari lokasi proyek merupakan faktor-faktor utama lain yang harus
dipertimbangkan dalam mengambil keputusan akhir dalam memilih sebuah
laboratorium.

Proses pemilihan laboratorium sebagaimana dijelaskan di atas merupakan suatu


proses yang cukup panjang, karena membutuhkan pengumpulan dan evaluasi
terhadap sejumlah data. Jika tingkat kepentingan dari proyek mangharuskan

17
adanya evaluasi terhadap sejumlah laboratorium yang tersebar pada areal
geografis yang luas, paling tidak dibutuhkan waktu 10 minggu untuk
menyelesaikan proses tersebut, seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2-9;
untuk proyek-proyek yang tingkat kepentingannya relatif lebih kecil, perkiraan
jadwal seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2-9 dapat dibuat lebih singkat.

Adanya
Dokumentasi Teknisi Disetujui Oleh:
Peralatan untuk Metode
Jenis Pengujian Pengawa Teknisi
yang Ada Pengujian s
Data Analisis
Ya Tidak
Pengujian Data
1. Pengujian untuk
pengklasifikasian:
Kadar Air
Distribusi Ukuran Partikel
Specific Gravity
Batas-batas Atterberg
Baling-baling
Laboratorium
Kadar Organik (Loss on
Ignition)
Bulk Density dari Gambut
Kadar Serat dari Gambut
2. Pengujian Kimia:
Kadar Organik
(dichromate oxidation)
Pore Water Extraction
dan Pengukuran Salinitas
Konduktifitas
pH dari material gambut
pH dari tanah
Kadar Karbonat
Kadar Klorida
Kadar Sulfat
3. Pengujian Kuat Geser:
Uji geser langsung
Triaksial UU
Triaksial CU
Triaksial CD
4. Pengujian Konsolidasi:
Uji konsolidasi satu
dimensi
Sel Hidrolik (Rowe Cell)
5. Pengujian Permeabilitas

Gambar 2-6 Evaluasi terhadap Kapasitas Kontrol Pengujian dan Pengawasan Selama Peninjauan
Laboratorium

18
Pemeringkatan Laboratorium berdasarkan Peringkat
Keterangan
Pada: A B C
1. Akreditasi atau pengakuan lainnya tentang
kemampuan pengujian
2. Manajemen laboratorium dan organisasi
3. Tipe para pengguna jasa
4. Penempatan secara umum dan kelengkapan
fasilitas laboratorium seperti lantai yang luas,
ruangan-ruangan khusus, lantai kerja, dan lain-lain
5. Ketersediaan dan ketepatan dari fasilitas
penyimpanan sampel
6. Ketersediaan dari ruangan dengan temperatur dan
kelembaban yang terkontrol
7. Kemampuan untuk melakukan seluruh pengujian
untuk pengklasifikasian (peralatan dan personil)
8. Kemampuan untuk melakukan seluruh pengujian
kimia (peralatan dan personil)
9. Kemampuan untuk melakukan seluruh pengujian
kuat geser (peralatan dan personil)
10. Kemampuan untuk melakukan seluruh pengujian
konsolidasi (peralatan dan personil)
11. Kecukupan atas pengaturan untuk penyimpanan dan
penelusuran kembali atas catatan data pengujian
12. Kecukupan atas pengaturan untuk penyimpanan dan
penelusuran kembali atas catatan analisis data
13. Kecukupan atas pengaturan untuk cek silang atas
keakuratan data dan analisis data
14. Kecukupan atas pengaturan untuk melakukan
kalibrasi dan pemeliharaan peralatan
15. Kecukupan atas pengaturan untuk penyimpanan
kalibrasi peralatan dan jadwal pemeliharaan
16. Pengalaman sebelumnya dalam melakukan
pengujian pada tanah lunak organik
17. Pengalaman sebelumnya dalam melakukan
pengujian pada gambut
18. Peralatan khusus yang ada untuk pengujian tanah
lunak organik untuk pengujian:
klasifikasi
analisis kimia
kuat geser
kompresibilitas
19. Peralatan khusus yang ada untuk pengujian gambut
untuk pengujian:
klasifikasi
analisis kimia
kuat geser
kompresibilitas

Gambar 2-7 Kriteria untuk Pemeringkatan Kemampuan Pengujian dari Laboratorium

Identifikasi Laboratorium
Kriteria No. L1 L2 L3 Dst Keterangan
(Dari Gambar 2.7)
Peringkat

1 dst
2 dst
3 dst
Dst dst
Gambar 2-8 Kesimpulan dari Peringkat yang Diberikan untuk Kriteria sebagaimana Tercantum
pada

Pertimbangan juga harus diberikan terhadap interval waktu antara identifikasi


atas kecocokan kemampuan laboratorium dengan penandatanganan kontrak.

19
Akan sulit untuk memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan
seluruh kegiatan ini, tapi pemberian waktu antara 10-12 minggu akan cukup
memadai. Oleh karena itu dalam sebuah proyek yang dipandang penting, waktu
yang telah dilalui mulai dari permulaan proses pemilihan laboratorium hingga
ke penandatanganan kontrak umumnya berkisar antara 5-6 bulan.

Sebagaiman telah diketahui bahwa ketika seluruh proses pemilihan


laboratorium telah selesai untuk bidang tertentu, hasil dari evaluasi dapat
dikembangkan untuk digunakan kembali untuk proyek-proyek akan datang
yang memiliki tipe yang sama dan terletak pada daerah yang sama. Meskipun
demikian, sebuah evaluasi tetap masih harus dilakukan untuk setiap proyek,
misalnya dengan luas batasan yang lebih kecil dibanding dengan evaluasi yang
sama yang pertama kali dilakukan; karena sehubungan dengan waktu yang telah
dilewati, dapat saja kemampuan pengujian dari laboratorium yang bersangkutan
telah mengalami peningkatan atau malah mengalami kemunduran (memburuk).

Jadwal dari penyelidikan lapangan harus mencakup waktu yang dibutuhkan


untuk memilih dan menunjuk laboratorium yang akan melakukan pengujian.
Jadwal tersebut juga harus dibuat sedemikian rupa sehingga manajemen
laboratorium memiliki waktu yang cukup untuk memberikan masukan-masukan
yang berarti dalam penyusunan rencana penyelidikan lapangan yang lebih detil.

Minggu ke:
Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

1. Informasi yang diminta dan didapat seperti


---- - - - - - - - - - - - - - ------------------- ---------------
yang terdapat pada Gambar 2.3
2. Analisis terhadap balasan dari sejumlah
- - - - - - - - - - - - - - - - -------------------
laboratorium untuk diperiksa
3. Pemeriksaan Laboratorium - - - - - - - - - - - - - - - ------------------- ---------------
4. Evaluasi terhadap data yang didapat
- - - - - - - - - - - - - - - - ------------------- ---------------
selama pemeriksaan laboratorium
5. Identifikasi terhadap sebuah laboratorium
yang sesuai atau laboratorium-laboratorium ----------------
lainnya

Gambar 2-9 Estimasi Waktu yang Dibutuhkan untuk Melakukan Proses Seleksi Laboratorium
yang Komprehensif

2.7 KONTROL MUTU

Persyaratan sistem mutu sebagaimana tertuang dalam ASTM D3740-92


disimpulkan dalam Bab 2.3.7. Untuk kepentingan akreditasi, sebuah
laboratorium biasanya disyaratkan untuk memiliki manual mutu yang tertulis
yang menggambarkan secara detil sistem jaminan mutunya. Karena Panduan
Geoteknik ini tidak membicarakan masalah evaluasi laboratorium untuk tujuan
akreditasi tetapi lebih menekankan pada pemberian pedoman untuk melakukan
evaluasi atas kemampuan suatu laboratorium dalam memberikan pelayanan
sebagaimana yang dibutuhkan secara memuaskan, sebuah manual mutu, yang
tentunya akan bermanfaat, tak perlu dipertimbangkan sebagai salah satu
persyaratan yang esensial. Walaupun demikian, perlu kiranya menunjuk
seorang staf laboratorium yang senior yang memiliki akses langsung ke

20
pimpinan dari laboratorium, sebagai orang yang bertanggunjawab dalam hal
kontrol mutu.

Prinsip-prinsipdari sebuah Sistem Jaminan Mutu (Quality Assurance System,


QAS) yand dikembangkan pada Tahap 1 dari Proyek INDON-GMC di
Puslitbang Sarana Transportasi Bandung adalah sebagai berikut:
• Mutu yang baik, pemeliharaan peralatan yang baik mulai dari yang paling
kompleks hingga ke peralatan yang paling sederhana.
• Kalibrasi dan pemeriksaaan setiap bagian dari peralatan yang teratur.
• Prosedur pengujian yang dibuat secara detil untuk setia p kegiatan mulai dari
yang paling kompleks hingga yang paling sederhana.
• Teknisi yang dilatih secara baik yang secara ketat selalu mengikuti seluruh
prosedur pengujian.
• Pencatatan yang detil dan akurat dari setiap data pengujian.
• Pengisian dan penyimpanan seluruh data pengujian pada satu lokasi secara
hati-hati.
• Analisis seluruh data pengujian pada satu lokasi secara tepat dan akurat.
• Untuk meminimalisasi dan mengontrol kesalahan-kesalahan yang terjadi,
cek silang harus dilakukan secara cepat sebanyak-banyaknya.

Setelah Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk menyelesaikan pemeriksaannya


terhadap laboratorium-laboratorium dalam jumlah yang terbatas dan
mengevaluasi catatan-catatan mengenai laboratorium tersebut seperti tercantum
pada Gambar 2-3 hingga 2-7, ia harus memiliki informasi yang cukup untuk
memutuskan tambahan persyarataan dari Sistem Jaminan Mutu yang mana yang
dimasukkan ke dalam persyaratan untuk mengevaluasi laboratorium yang
sedang dievaluasi tersebut.
Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk tersebut juga harus mengunjungi
laboratorium pengujian tersebut sesering mungkin untuk memastikan bahwa
program pengujian yang dibuat dilaksanakan secara memuaskan. Ia harus pula
memelihara hubungan yang baik dengan manajer laboratorium setiap saat
sehingga jika ada permasalahan yang timbul dapat dipecahkan dengan segera.
Untuk kepentingan pencatatan dan untuk menjaga kontrol terhadap kualitas,
formulir yang terdapat pada Gambar 2-10 harus dilengkapi untuk setiap tipe
pengujian yang dilakukan.

21
Laboratorium
Proyek
Jenis Pengujian :
Metode :
Pengujian :
Tanggal
Mengetahui dan Menyetujui
Hal/pokok Teknisi Manajer
Teknisi
Pengawas Laboratorium
1. Seluruh bagian peralatan lengkap dan
dirawat dengan baik
2. Susunan peralatan yang terpasang
dicatat
3. Sertifikat kalibrasi ada dan salinannya
terlampir
4. Formulir prosedur pengujian ada dan
telah dibaca dan dimengerti oleh
seluruh personil
5. Formulir pencatatan data pengujian
ada dan telah dibaca dan dimengerti
oleh seluruh personil
6. Formulir analisis data pengujian ada
dan telah dibaca dan dimengerti oleh
seluruh personil

Gambar 2-10 Pemeriksaan Jaminan Mutu atas Prosedur dan Peralatan Pengujian Laboratorium

2.7.1 Urutan Penanganan Sampel


Salah satu komponen dari kontrol mutu yang penting adalah menjaga kesatuan
dari urutan penanganan sampel mulai dari pengambilan sampel hingga
pengiriman, penerimaan, pengujian dan analisis. Laboratorium mungkin telah
menjalankan sebuah sistem yang dianggap cukup memuaskan oleh Insinyur
Geoteknik yang Ditunjuk. Meskipun demikian, jika sistem tersebut dipandang
tidak tepat maka Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk tersebut harus menerapkan
sebuah sistem yang dapat mencatat kemajuan sampel dari berbagai tahapan dari
berbagai proses penyelidikan lapangan. Sebuah sistem yang diusulkan untuk
tujuan ini dijelaskan pada bagaian berikut.

Metode penomoran lubang bor dan sampel serta pelabelan tabung sampel harus
distandarkan dan disebutkan dalan instruksi tertulis yang diberikan pada tim
yang melaksanakan penyelidikan lapangan maupun laboratorium.

Sampel-sampel yang tiba di laboratorium dari lapangan harus dilengkapi


dengan sebuah Formulir Pemindahan Sampel, FPS (Sample Transfer Sheet,
STS) dan Formulir Pencatatan Pengeboran Harian, FPPH (Daily Boring Log,
DBL) yang sesuai. Contoh format yang diusulkan untuk FPS dan FPPH
ditunjukkan masing-masing pada Gambar 2-11 dan 2-12. Jika tak ada formulir
FPS yang telah baku, maka manajer laboratorium harus membuat sebuah

22
formulir yang berfungsi sama dengan formulir FPS tersebut dan dipahami oleh
manajer lapangan.

Segera setelah sampel diterima di laboratorium Formulir Pemeriksaan Sampel,


FPmS (Sample Assignment Sheet, SAS) harus dilengkapi dan dicatatkan ke
dalam Catatan Pemeriksaan Sampel (Sample Assignment File). Contoh
formulir/lembar untuk ini diberikan pada Gambar 2-13. Formulir tersebut
dicetak dan digunakan untuk tabung sampel tapi formulir yang sama juga dapat
digunakan untuk blok sampel maupun sampel tak terganggu. Formulir
Pemeriksaan Sampel tersebut harus dibuat untuk setiap sampel yang masuk ke
laboratorium. Nomor formulir FPmS dicatat pada Formulir FPS di kolom “No
Lembar Pemeriksaan Sampel”. Manajer laboratorium harus mengirim salinan
dari formulir FPS yang dilengkapi dengan catatan pemboran masing-masing
kepada manajer lapangan untuk dimasukkan dalam laporan penyelidikan
lapangan.

Ketika mengisi formulir FPmS ini, manajer laboratorium atau teknisi pengawas
harus memperhatikan secara seksama bagian penyegelan dengan lilin yang
digunakan pada tabung sampel. Setiap kerusakan yang terjadi pada bagian
tersebut harus dicatat pada formulir FPmS dan kerusakan harus tersebut segera
diperbaiki. Formulir FPmS ini juga harus mencatat setiap gangguan yang
muncul atau sifat-sifat yang tak lazim pada sampel.

Nomor formulir FPmS harus dicatat pula pada formulir catatan data pengujian
dan formulir analisis data pengujian.

23
FORMULIR PEMINDAHAN SAMPEL (FPS)
Proyek : Lokasi : No. Lubang : No. Formulir :

No. Tipe Pengecekan Pengecekan No. Formulir


Sampel Pengambilan Lapangan Laboratorium Pemeriksaan Keterangan
Sampel Sampel

Manajer Lapangan Tanggal : Tanda Tangan :

Manajer Laboratorium Tanggal : Tanda Tangan :

Gambar 2-11 Formulir Pemindahan Sampel, FPS

24
Formulir Pencatatan Pengeboran Harian (FPPH)
Daerah : Lokasi : Lubang Bor

Mesin Bor Tanggal

Metode Pengeboran No. Formulir

Diameter

Pencatatan Lapisan
Dari Sampai Dengan Casing Deskripsi

Pengambilan Sampel
Dari Sampai Dengan Jumlah Tipe Dari Sampai Dengan Jumlah Tipe

Air Standpipe
Waktu Kedalaman
Kedalaman Pengambilan Sampel Tipe
Kedalaman Lubang
Kedalaman terhadap muka air

Keterangan :

Nama Kru Cuaca

Gambar 2-12 Formulir Pencatatan Pengeboran Harian, FPPH

25
Gambar 2-13 Formulir Pemeriksaan Sampel, FPS

26
3 Perencanaan Program Pengujian
Laboratorium

3.1 PENDAHULUAN

Tujuan-tujuan dari penyelidikan lapangan telah dijabarkan oleh Insinyur


Geoteknik yang Ditunjuk mengikuti persyaratan-persyaratan yang diterangkan
pada Panduan Geoteknik 2.

3.2 PENGEMBANGAN PROGRAM PENGUJIAN AWAL


LABORATORIUM

Uji-uji laboratorium yang diterapkan pada tanah yang dibicarakan pada Bab 4
dapat dikelompokkan sebagai berikut:
• Uji klasifikasi
• Uji kimia
• Uji kuat geser
• Uji kompresibilitas
• Uji permeabilitas

AASHTO (1988) telah menyusun daftar pengujian yang penting bagi seorang
engineer geoteknik dengan urutan perkiraan biaya yang semakin meningkat
sebagai berikut:
• pemeriksaan visual
• kadar air alami
• batas plastis dan cair
• analisis butiran (mekanik)
• uji baling-baling laboratorium
• kompresi takterikat(unconfined compression)
• kepadatan relatif (moisture-density or relative density)
• California Bearing Ratio

27
• permeabilitas
• geser langsung
• kompresi triaksial
• konsolidasi

Sebuah catatan diberikan oleh penulis dari Manual AASHTO tersebut bahwa
“pengujian yang kompleks dan mahal hanya dibenarkan jika data yang didapat
dapat mengurangi biaya atau resiko keruntuhan yang jika terjadi akan
menyebabkan pengeluaran biaya yang lebih besar lagi; secara umum, secara
relatif pengujian yang dilakukan dengan lebih hati-hati pada spesimen yang
ditentukan yang meliputi uji sifat-sifat tanah dengan hasil yang dikorelasikan
dengan klasifikasi atau tes indeks akan memberikan data cukup yang baik untuk
dapat digunakan”.

Jumlah dari pengujian laboratorium akan bervariasi pada setiap proyek


bergantung pada faktor-faktor yang telah didiskusikan sebelumnya. Meskipun
demikian, pengujian klasifikasi secara lengkap seharusnya dilaksanakan pada
setiap proyek.

Jika sebuah proyek diputuskan merupakan proyek yang tidak terlalu penting,
seperti misalnya proyek jalan kecil yang memikul lalu lintas yang relatif kecil,
Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk dapat saja memutuskan bahwa akan cukup
akurat untuk mendapatkan parameter tanah yang lain hanya berdasarkan pada
korelasi yang telah ada dengan data klasifikasi (lihat Bab 7) dan sudah memadai
hanya dengan melakukan sedikit pengujian untuk memeriksa validitas dari
korelasi yang digunakan tersebut.

Pada proyek yang dianggap lebih penting, perlu kiranya untuk memperluas
batasan dari penyelidikan dengan memasukkan uji kuat geser, permeabilitas dan
kompresibilitas. Jenis pengujian yang dilakukan akan bergantung pada masukan
data yang dibutuhkan untuk analisis kestabilan fondasi, daya dukung dan
penurunan. Seorang engineer geoteknik harus memutuskan pada kedalaman
berapa sampel harus diambil dan menentukan parameter laboratorium apa yang
dibutuhkan yang harus konsisten dengan kedalaman tersebut misalnya/seperti
parameter uji yang ditunjukkan oleh tegangan di lapangan (in situ stress) dan
kondisi kadar airnya (lihat Bab 4.6).

Pengujian kimia dilaksanakan utamanya untuk memperkirakan agresifitas dari


tanah dan kondisi air tanah yang menimbun beton dan baja yang secara umum
tidak perlu dilakukan, kecuali pada kondisi dimana adanya kegiatan bawah
permukaan (subsurface installations), seperti tiang pancang, gorong-gorong dan
sebagainya. Meskipun demikian, diusulkan agar kadar karbonat yang ada untuk
diukur, karena keberadaan dari karbonat ini akan dapat mempengaruhi hasil dari
penentuan kadar organik ketika metode loss on ignition digunakan (lihat Bab
4.2.6.3).

Suatu penjadwalan pengujian laboratorium yang dipersiapkan oleh Insinyur


Geoteknik yang Ditunjuk berdasarkan sampel diperlihatkan pada Gambar 3-1.

28
Nama Laboratorium ___________________________

BH No Keda- Unit m LL/PL Berat Isi SG Organik PSD Hidrom Baling Triaksial Geser Konsol Perm. pH SO4 CO3
Sampel laman Tanah Asli eter Lab Lang- Oed.
(m) Awal [1] sung [1]
[1]
[1]
UU CU CD

[1] paremeter-parameter tes harus disebutkan

Proyek ____________________________________ Jadwal Tes Laboratorium No Lembar _______

Gambar 3-1 Jadwal Pengujian Laboratorium

29
4 Pengujian-pengujian Laboratorium

Pengujian-pengujian laboratorium dilaksanakan dengan tujuan untuk


memperoleh informasi geoteknik yang dibutuhkan untuk disain struktur yang
aman dan ekonomis. Hasil-hasil pengujian akan memberikan suatu dasar untuk
mengidentifikasi dan menklasifikasi tanah dan untuk mengevaluasi karakteristik
kekuatan dan kompresibilitas.

4.1 KLASIFIKASI TANAH

Klasifikasi tanah melibatkan penggolongan sistematik berbagai jenis tanah atas


dasar karakteristik pembeda tertentu. Unified soil classification system (USCS)
membagi tanah-tanah menjadi tiga bagian besar:
• Berbutir kasar (lebih besar dari 50% tertahan pada saringan No. 200).
• Berbutir halus (kurang dari 50% tertahan pada saringan No. 200);
pembagian kembali dalam bagian ini terdiri dari lempung inorganik dan
lanau dan le mpung organik dan lanau.
• Tanah yang sangat organik (kegambut-gambutan).

Tanah-tanah dalam bagian berbutir kasar dan berbutir halus diklasifikasikan


berdasarkan ukuran partikel dan gradasi, batas cair, indeks plastisitas dan
keberadaan zat organik; tanah-tanah dalam bagian 'Sangat Organik' dengan
sederhana diklasifikasikan sebagai 'gambut'.

ASTM D2487-93 menerangkan prosedur untuk mengklasifikasikan tanah sesuai


dengan USCS. Khusus berkenaan dengan Panduan Geoteknik ini adalah
prosedur-prosedur untuk mengkla sifikasikan lempung dan lanau inorganik dan
lempung dan lanau organik dan hal ini diuraikan pada Bagian 4.1.1 di bawah.
ASTM D4427-92 menjelaskan suatu klasifikasi standar untuk sampel gambut
dengan pengujian laboratorium dan suatu ringkasan prosedur tersebut diberikan
pada Bagian 4.1.2. Pengujian yang dilaksanakan pada material-material ini
untuk klasifikasi dan tujuan lain akan didiskusikan nanti.

4.1.1 Klasifikasi Lempung dan Lanau Organik dan Inorganik


Jika klasifikasi tanah berbutir halus mengikuti USCS (ASTM D2487-93), nilai-
nilai batas cair (LL) dan indeks plastisitas (PI) diplotkan pada suatu 'grafik
plastisitas' seperti terlihat pada Gambar 4-1. Ciri utama dari grafik ini adalah
garis "A" yang horizontal pada PI = 4 sampai LL = 25.5 dan kemudian
didefinisikan dengan suatu hubungan: PI = 0.73(LL-20).

30
Lempung dan lanau didefinisikan pada ASTM D2487-93 sebagai tanah-tanah
yang melewati saringan No. 200. Lempung bisa dibuat untuk menampakkan
plastisitas dalam suatu rentang kadar air dan menampakkan kekuatan yang
tinggi jika dikeringkan dengan udara; lanau merupakan nonplastik atau sangat
sedikit plastis dan memiliki sedikit atau tanpa kekuatan jika dikeringkan dengan
udara. Untuk tujuan klasifikasi, lempung dan lanau dan lempung organik dan
lanau organik didefinisikan sebagai berikut:

Gambar 4-1 Grafik Plastisitas

Lempung: tanah berbutir halus, atau porsi berbutir halus dari suatu tanah,
dengan suatu PI sama dengan atau lebih besar dari 4 dan plot PI terhadap LL
jatuh pada atau di atas garis 'A'.

Lanau: tanah berbutir halus, atau porsi berbutir halus dari suatu tanah, dengan
suatu PI kurang dari 4 atau jika plot PI terhadap LL jatuh di bawah garis 'A'.

Lempung Organik : suatu tanah yang akan diklasifikasikan sebagai lempung


namun nilai LL-nya setelah dikeringkan dengan oven kurang dari 75% dari nilai
LL-nya sebelum dikeringkan dengan oven.

Lanau organik : suatu tanah yang akan diklasifikasikan sebagai lanau namun
nilai LL-nya setelah dikeringkan dengan oven kurang dari 75% dari nilai LL-
nya sebelum dikeringkan dengan oven.

Jika suatu tanah memiliki warna gelap dan bau organik pada saat lembab dan
hangat, tes LL kedua dibutuhkan untuk dilaksanakan pada spesimen tes yang
telah dikeringkan dengan oven pada suhu 110 ± 5° C sampai dengan suatu
massa yang konstan, biasanya semalam.

31
Diagram alir diberikan dalam ASTM D2487-93 untuk mengklasifikasikan tanah
berbutir halus yang didefinisikan sebagai organik atau inorganik berdasarkan
kriteria LL seperti dijelaskan di atas. Diagram alir prosedur yang
disederhanakan untuk mengklasifikasikan lempung dan lanau inorganik dan
lempung dan lanau organik diperlihatkan, masing-masing, pada Gambar 4-2 dan
4-3.

Gambar 4-2 Diagram alir yang disederhanakan untuk mengklasifikasikan lempung dan lanau inorganik

Gambar 4-3 Diagram alir yang disederhanakan untuk mengklasifikasikan lempung dan lanau organik

32
Lempung Inorganik
• Tanah tersebut adalah lempung inorganik jika posisi plot PI terhadap LL
jatuh pada atau di atas garis 'A', PI-nya lebih besar dari 4 dan kehadiran
bahan organik tidak mempengaruhi LL sebagaimana didiskusikan
sebelumnya.
• Jika LL kurang dari 50, tanah tersebut diklasifikasikan sebagai lempung
lean dan diberikan Simbol Grup CL.
• Jika LL sama dengan atau lebih dari 50, tanah tersebut diklasifikasikan
sebagai lempung fat dan diberikan Simbol Grup CH.
• Jika posisi plot PI terhadap LL jatuh pada atau di atas garis 'A' dan PI
berkisar antara 4 sampai 7, tanah tersebut diklasifikasikan sebagai lempung
kelanauan dan diberikan Simbol Grup CL-ML.

Lanau Inorganik
• Tanah diklasifikasikan sebagai lanau inorganik jika posisi plot PI terhadap
LL jatuh di bawah garis 'A' atau PI kurang dari 4 dan kehadiran bahan
organik tidak mempengaruhi LL sebagaimana didiskusikan sebelumnya.
• Tanah diklasifikasikan sebagai lanau dan diberikan Simbol Grup ML jika
LL kurang dari 50.
• Tanah diklasifikasikan sebagai lanau elastik dan diberikan Simbol Grup
MH jika LL sama dengan 50 atau lebih besar.

Lempung dan Lanau Organik (seperti didefinisikan sebelumnya)

Simbol Grup OL
• Tanah diklasifikasikan sebagai lempung organik atau lanau organik, dan
diberikan Simbol Grup OL, jika LL (tidak dikeringkan dengan oven) kurang
dari 50.
• Tanah diklasifikasikan sebagai lempung organik (OL) jika PI sama dengan
4 atau lebih dan posisi plot PI terhadap LL jatuh pada atau di atas garis 'A'.
• Tanah diklasifikasikan sebagai lanau organik (OL) jika PI kurang dari 4
atau posisi plot PI terhadap LL jatuh di bawah garis 'A'.

Organic Symbol OH
• Tanah diklasifikasikan sebagai lempung organik atau lanau organik, dan
diberikan Simbol Grup OH, jika LL (tidak dikeringkan dengan oven) sama
dengan 50 atau lebih besar.
• Tanah diklasifikasikan sebagai lempung organik (OH) jika posisi plot PI
terhadap LL jatuh pada atau di bawah garis 'A'.
• Tanah diklasifikasikan sebagai lanau organik (OH), jika posisi plot PI
terhadap LL jatuh di bawah garis 'A'.

33
4.1.2 Klasifikasi gambut
Pada USCS, tanah-tanah di bagian 'Sangat Organik' (terutama bahan organik,
berwarna gelap, dan bau organik) diberi Simbol Grup PT dan Nama Grup
'Gambut'; tidak ada pembagian lebih lanjut terhadap tanah-tanah ini.

Sistem-sistem klasifikasi untuk gambut dan tanah organik telah dikembangkan


untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda-beda berbagai kalangan yang terlibat,
contohnya, pertanian, sumber-sumber bahan bakar, rekayasa geoteknik.
Sementara terdapat pendapat yang berlainan mengenai definisi gambut dan
tanah organik, semua sistem berdasarkan kandungan bahan organik, seperti
ditunjukkan oleh kandungan abu. Perbedaan pendapat dalam rekayasa
geoteknik mengenai definisi gambut dan tanah organik diilustrasikan pada
Gambar 4-4 di mana klasifikasi yang digunakan atau disarankan untuk
digunakan pada rekayasa geoteknik di berbagai negara dibandingkan
berdasarkan kandungan abu (lihat Bagian 4.2.7). Negara-negara di mana
sistemnya dibandingkan adalah:
1) Rusia
2) Swedia
3) Kanada
4) AS
5) Polandia

Gambar 4-4 Perbandingan beberapa sistem-sistem klasifikasi untuk tanah organik berdasarkan
kandungan abu (Wolski seperti dilaporkan oleh Larsson, 1996)

Klasifikasi standar sampel gambut melalui pengujian la boratorium diberikan


pada ASTM D4427-92. Parameter-parameter yang dipilih untuk digunakan

34
pada klasifikasi dinyatakan sebagai "yang telah ditentukan untuk
menghubungkan agrikultural/hortikultural, geoteknik, dan pemanfaatan gambut
untuk energi".

Pada metode ini, gambut didefinisikan sebagai zat sangat organik yang terjadi
secara alami yang dibedakan dari bahan tanah organik lainnya berdasarkan
kandungan abunya yang rendah (kurang dari 25 persen kandungan kering)
seperti didefinisikan oleh Method C (Ash Content), ASTM D2974-87.
Kandungan abu ditentukan melalui pembakaran sampel dari penentuan
kandungan air yang telah dikeringkan oleh oven di tungku bakar pada suhu
440°C.

Gambut diklasifikasikan berdasarkan:


• Kandungan serat (ASTM D1997-91)
• Kandungan abu (ASTM D2974-87)
• Keasaman (ASTM D2976-71, reapproved 1990)
• Daya serap (ASTM D2980-71, reapproved 1990)
• Komposisi tumbuh-tumbuhan (jika diperlukan).

Kandungan serat dan deskripsi gambut yang sesuai adalah sebagai berikut:

Fibric : gambut dengan serat yang lebih besar dari 67

Hemic: gambut dengan serat antara 33 dan 67 persen

Sapric: gambut dengan serat kurang dari 33 persen

Kategori kandungan serat bisa dihubungkan dengan pengamatan lapangan von


Post terhadap derajat pembusukan (H): fibric berkenaan dengan kurang lebih
rentang H1 -H3 , hemic terhadap rentang H4 -H6 dan sapric terhadap rentang H7 -
H10 . Untuk keperluan klasifikasi, serat didefinisikan sebagai fragmen atau
potongan jaringan tanaman yang tetap memperlihatkan struktur sel yang bisa
dikenal dan cukup besar untuk tertahan pada saringan 100 (bukaan 0,15 mm);
bahan tumbuhan yang lebih besar dari 20 mm pada dimensi yang paling kecil
tidak dianggap sebagai serat.

Berkenaan dengan kandungan abu, gambut diklasifikasikan sebagai:

Abu rendah - gambut dengan abu kurang dari 5%

Abu medium - gambut dengan abu antara 5 dan 15%

Abu tinggi - gambut dengan abu lebih dari 15%

Ingat bahwa kandungan bahan organik (%) sama dengan 100 - kandungan abu
(%).

35
4.2 TES-TES INDEKS YANG DILAKUKAN UNTUK
TUJUAN KLASIFIKASI DAN TUJUAN LAIN

Semua tes harus dilakukan dengan mengikuti sepenuhnya metode tes yang
standar yang dispesifikasikan oleh Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk.
Penyimpangan dari suatu standar harus disetujui secara tertulis oleh Insinyur
Geoteknik yang Ditunjuk dan alasan-alasan penyimpangan dinyatakan dengan
jelas.

4.2.1 Kadar Air Alami


Kadar air adalah sifat tanah yang penting. Dia digunakan untuk menciptakan
suatu korelaasi antara perilaku tanah dan sifat-sifatnya, untuk menyatakan
hubungan fase antara udara, air dan solid pada suatu volume bahan dan untuk
menyatakan konsistensi relatif tanah kohesif dalam bentuk Indeks Likuiditas
(lihat Bagian 4.2.5.1).

ASTM D2216-92 menjelaskan suatu metode untuk penentuan laboratorium


kadar air tanah dan batuan. Pada metode ini, kadar air adala h rasio antara massa
air 'pori' atau 'bebas' pada suatu massa material terhadap massa material solid,
dinyatakan dalam persentase.

The standard drying temperature for the method is 110°C and it is noted in the
method that :
• Beberapa material organik mungkin mengalami pembusukan akibat
pengeringan dengan oven pada temperatur pengeringan standar.
• Bahan-bahan yang mengandung gipsum mungkin mengalami dehidrasi.

Dengan alasan-alasan di atas, pengeringan dengan oven bahan-bahan tersebut


pada suhu 60°C atau mengeringkannya dalam suatu desikator pada temperatur
ruangan lebih disarankan. Namun, seperti ditunjukan oleh metode tersebut, jika
temperatur pengeringan yang digunakan berbeda dari temperatur pengeringan
standar (110°C) kadar air yang dihasilkannya bisa berbeda terhadap kadar air
standar yang ditentukan pada temperatur pengeringan standar.

Kategori air yang mengelilingi suatu partikel diperlihatkan pada Gambar 4-5.

36
Gambar 4-5 Gambaran kategori air yang mengelilingi partikel-partikel lempung (Head, 1984)

Air pada kategori (1) di atas tidak ikut diperhitungkan pada penentuan kadar air;
kemungkinan hadirnya air kategori (5) adalah salah satu alasan untuk
menghindari pengeringan dengan oven tanah-tanah tropik. Berkenaan dengan
temperatur oven yang digunakan pada penentuan kadar air, Head (1984)
menyebutkan bahwa untuk gambut dan tanah yang mengandung bahan organik
suhu pengeringan 60°C lebih disukai.

Pada umumnya perlu disadari bahwa pengeringan dengan oven adalah suatu
perlakuan yang keras sehingga mengakibatkan reaksi yang tidak dapat dibalik
pada kebanyakan tanah; jika suatu tanah yang lembab dikeringkan dengan oven
penambahan air tidak akan menghilangkan efek perlakuan panas yang keras
pada sifat-sifat material.

Metode alternatif untuk menentukan kadar air gambut dan tanah organik
lainnya diberikan pada ASTM D2974-87 (lihat Bagian 4.2.7).

4.2.2 Distribusi Ukuran Partikel


ASTM D422-63 menjelaskan prosedur-prosedur untuk:
• Analisis saringan pada tanah yang tertahan pada saringan No. 10 (2.00
mm).
• Analisis sedimentasi pada tanah yang melalui saringan No. 10.
• Analisis saringan pada residu yang diperoleh dengan pencucian sedimen
melalui suatu saringan No. 200 dan pengeringan material yang tertahan.

Pada analisis sedimentasi, hukum Stoke digunakan untuk menghitung diameter


partikel maksimum yang tersisa di atas kedalaman tertentu setelah periode

37
waktu tertentu dari permulaan tes; massa partikel solid yang ada ditentukan
melalui pengukuran kerapatan suspensi dengan suatu hidrometer.

Suatu zat penyebar digunakan untuk meyakinkan bahwa partikel-partikel yang


berbeda tetap terpisah pada suspensi dan tidak saling menggumpal. Zat
penyebar yang dispesifikasikan adalah suatu larutan sodium hexametaphosphate
dengan air suling, pada konsentrasi 40 gram sodium haxametaphosphate per
liter larutan. Suatu larutan yang baru harus dipersiapkan sesering mungkin,
setidaknya satu kali tiap bulan.

Suspensi tanah harus dipertahankan pada suhu yang konstan selama analisis
sedimentasi. Jika suatu ruangan yang memiliki kontrol temperatur tidak
dipunyai maka kamar mandi terisolasi yang memiliki kontrol temperatur yang
jenisnya dijelaskan pada metode tersebut harus digunakan. Temperatur dasar
untuk analisis sedimentasi adalah 20°C. Variasi temperatur yang kecil tidak
akan mengakibatkan perbedaan-perbedaan yang penting dipandang dari sudut
praktis; suatu prosedur untuk memperbaiki variasi temperatur yang diberikan
pada metode ini.

4.2.3 Berat Jenis


ASTM D854-92 mencakup penentuan berat jenis tanah yang melalui saringan
No. 4 (4.75 mm), dengan suatu pycnometer; suatu metode tes untuk penentuan
berat jenis dan penyerapan agregat kasar (material yang tertahan pada saringan
4.75 mm) dijelaskan pada ASTM C127.

Pada ASTM D854-92, dua prosedur dispesifikasikan untuk melakukan tes berat
jenis. Pada Metode A, tes dilakukan pada spesimen yang dikeringkan dengan
oven (spesimen dikeringkan sampai mencapai massa yang konstan pada suatu
oven dengan suhu 110 ± 5°C yang dipertahankan dan didinginkan pada suatu
desikator). Pada Metode B, tes dilakukan pada spesimen yang lembab.

Pada Metode B, spesimen-spesimen diuraikan dengan air suling sebelum


mereka dimasukkan pada pycnometer menggunakan peralatan pengurai yang
dispesifikasikan pada ASTM D422-63 untuk penguraian spesimen tanah pada
larutan sodium hexametaphosphate sebelum analisis sedimentasi.

Untuk spesimen tanah organik dan tanah berbutir halus yang sangat plastis,
dinyatakan bahwa Metode B 'adalah metode yang lebih disukai'. Jika berat jenis
akan digunakan pada perhitungan berkenaan dengan analisis sedimentasi
ASTM D422-63, tes berat jenis dilakukan pada porsi sampel yang melalui
saringan No. 10 (2.00 mm).

Prosedur eksperimental untuk menentukan berat jenis bagian solid gambut


diterangkan oleh Akroyd (1957). Prosedurnya melibatkan meletakkan sampel
gambut yang telah dihancurkan pada suatu labu atau botol, mencampurkannya
dengan kerosin yang telah difilter sehingga tidak mengandung udara, dan
memberi suatu vakum yang besar sampai gelombang-gelombang udara
menghilang dari sampel. Wadah kemudian diisi dengan kerosin dan dibiarkan

38
sampai mencapai suatu suhu yang konstan. Berat jenis (Gs) bisa dihitung dari
persamaan:

berat tana h kering


GS = × berat jenis kerosin
berat kerosin yang terganti

Detail dari metode ini diberikan pada Appendiks A.

Berat jenis tanah gambut juga bisa diestimasi dari hubungan empiris antara
berat jenis dan kadar organik seperti terlihat pada Gambar 4-6 (Lechowicz et al,
1996). Berat jenis gambut murni berkisar antara 1.4-1.5 dan mineral-mineral
yang paling sering ditemui memiliki berat jenis sekitar 2.7. Menurut Hobbs
seperti dilaporkan oleh Lechowicz et al., untuk keperluan praktis berat jenis
gambut Gs bisa diestimasi dari hubungan:

3.8
GS =
(0.013) × kadar organik (%) + 1.4

Gambar 4-6 Berat jenis versus kadar organik (Lechowicz et al, 1996)

4.2.4 Kerapatan Total


Klausa 7 BS 1377:Part 2:1990 menerangkan tiga metode penentuan kerapatan
tanah.

39
Metode pertama berlaku untuk tanah-tanah yang bisa dibentuk menjadi bentuk
geometrik yang reguler, yang volumenya bisa dihitung dari pengukuran linear.
Metode kedua, volume spesimen ditentukan dengan menimbangnya dalam
keadaan terendam air. Metode ketiga, volume spesimen ditentukan dengan
pemindahan air.

Pada standar, kerapatan dinyatakan dalam bentuk kerapatan massa. Kerapatan


total suatu tanah, ñ, adalah massa per satuan volume deposit tanah, termasuk
kandungan air yang dimilikinya; kerapatan kering, ñd , adalah massa kering
tanah yang terdapat pada satuan volume. Keduanya dinyatakan dalam Mg/m3
yang secara numerik sama dengan g/cm3 dan dihubungkan oleh persamaan:

100ñ
ñd =
100 + w

di mana: w = kadar air tanah, persen.

Berat isi (berat unit), dinyatakan dengan γ, digunakan waktu menghitung gaya
dikerjakan oleh suatu massa tanah dan diperoleh dari kerapatan massa melalui
persamaan:

γ = ñg

di mana: g = akselerasi akibat gravitasi (m/s2 )

Nilai γ (dalam kN/m3 ) secara numerik berhubungan dengan ñ (dalam Mg/m3 )


melalui persamaan:

γ = 9.807ñ

Prosedur-prosedur yang diterangkan di ASTM D4531-86 untuk penetuan


kerapatan gambut dijelaskan di Bagian 4.2.8.

4.2.5 Bata-batas Konsistensi (Atterberg)


Berdasarkan kadar airnya, keadaan konsistensi atau fase campuran tanah-air
dijelaskan sebagai cair, plastik , semi-solid atau solid, seperti diilustrasikan pada
Gambar 4-7. Transisi dari satu keadaan ke lainnya adalah bertahap dan batasan
antara keadaan-keadaan telah ditentukan secara berubah-ubah: batas cair (LL)
adalah kadar air berkenaan dengan batasan antara keadaan cair dan plastik dan
batas plastis (PL) adalah kadar air yang berkenaan dengan batasan antara
keadaan plastik dan semi-solid; batas susut (SL) adalah kadar air di bawah PL
di mana kesusutan tanah setara dengan pengeringan lebih lanjut terhenti. Indeks
plastisitas (PI) adalah perbedaan angka antara LL dan PL.

40
Gambar 4-7 Fase-fase tanah dan Batas-batas Atterberg (Head 1984)

Di laboratorium, tes-tes LL dan PL dilaksanakan pada porsi tanah yang melalui


saringan No. 40. LL dan PL beberapa tanah berbutir halus sensitif terhadap
cairan pori dan perlakuan sebelumnya (dikeringkan dengan udara, dikeringkan
dengan oven atau kadar air alami) sebelum melakukan tes. Tanah-tanah yang
sensitif terhadap pengeringan dengan oven biasanya mengandung salah satu
berikut ini:
• Bahan-bahan organik
• Kandungan montmorillonite tinggi
• Halloysite terhidrasi
• Oksida hidrat

Tanah-tanah organik dan tanah-tanah tropis harus selalu diuji pada kondisi
asli untuk penentuan LL dan PL; mereka tidak boleh dikeringkan dengan oven
kecuali sebagai contoh jika pengaruh pengeringan dengan oven pada LL perlu
diketahui untuk membedakan antara lanau/lempung organik dan lanau/lempung
inorganik untuk tujuan klasifikasi (ASTM D2487-93).

Pengujian Batas Cair

Metode ASTM untuk pengujian LL dan PL tanah, yang dijelaskan pada ASTM
D4318-93, menggunakan alat Casagrande untuk menentukan LL. Tes kerucut
jatuh adalah metode yang disarankan pada kebanyakan negara tetapi tidak
digunakan, setidaknya untuk tujuan tes rutin, di Indonesia.

41
ASTM D4318-93 memberikan dua prosedur untuk mempersiapkan spesimen
tes, prosedur persiapan basah dan prosedur persiapan kering. Pada prosedur
persiapan basah, contoh yang melalui saringan No. 40 dan contoh yang
mengandung material yang tertahan pada saringan No. 40 dipertimbangkan
secara terpisah. Pada prosedur persiapan kering, contoh dikeringkan pada suhu
ruangan atau pada oven yang suhunya tidak melewati 60°C sampai gumpalan-
gumpalan tanah siap untuk dihancurkan.

LL ditentukan kalau tidak menggunakan metode beberapa titik (Metode A) atau


metode satu titik (Metode B).

Untuk menentukan LL beberapa titik, tiga atau lebih percobaan terhadap


serangkaian kadar air dilakukan dan hubungan antara kadar air dan jumlah
kejatuhan mangkuk dibentuk dengan menggunakan metode grafis atau
perhitungan. Jika metode yang disebutkan belakangan digunakan, adalah
penting untuk mengabaikan titik-titik data yang abnormal dalam analisis.LL
satu titik menggunakan data dari dua percobaan pada satu kadar air dikalikan
dengan faktor koreksi untuk menentukan LL.

ASTM D4318-93 menganjurkan penggunaan metode beberapa titik jika


operator tidak mempunyai pengalaman dan/atau presisi yang lebih tinggi
dibutuhkan; sangat disarankan menggunakan metode beberapa titik untuk
tanah-tanah organik dan untuk tanah-tanah dari lingkungan marina.

Alat LL harus diinspeksi secara rutin untuk menguji apakah dia memenuhi
batasan-batasan yang berlaku terhadap kerusakan dan untuk menyesuaikan
ketinggian kejatuhan mangkuk; suatu daftar cek diberikan pada Bagian 9.0 dari
standar tersebut. Air suling atau air de-ionized harus digunakan pada waktu
menyiapkan spesimen percobaan untuk mengurangi kemungkinan pertukaran
ion yang mungkin mempengaruhi hasil-hasil tes.

Perintah-perintah yang diberik an oleh manajer laboratorium, Insinyur


Geoteknik yang Ditunjuk harus secara jelas menyatakan prosedur persiapan
spesimen yang harus diikuti dan metode tes yang akan digunakan.

Tes Batas Plastis

Tes PL dilakukan pada 20 gram contoh tanah yang dipilih dari material yang
dipersiapkan untuk tes LL. Kadar air sampel dikurangi sampai mencapai suatu
konsistensi di mana dia bisa digulung-gulung tanpa menempel pada tangan.
Spesimen contoh, yang memiliki massa 1,5 sampai 2,0 gram, dipilih dari 20
gram massa dan dibentuk menjadi suatu massa ellips. Massa ini digulung
menjadi suatu benang yang memiliki diameter yang sama pada keseluruhan
panjangnya dan penggulungan diteruskan sampai diameter benang mencapai 3.2
mm, yang memakan waktu kurang dari 2 menit. PL dicapai selama percobaan
ulang sampai sampel lama kelamaan mengering; PL adalah kadar air di mana
tanah mulai hancur jika digulung menjadi suatu benang 3,2 mm. Bagian-bagian
dari benang yang hancur disimpan pada suatu tempat yang telah ditimbang,
yang kemudian segera ditutup. Spesimen tes berikutnya diambil dari 20 gram
massa dan proses tersebut diulangi sampai sedikitnya 6 gram tanah didapati

42
pada wadah. Serangkaian tes kedua dilakukan seperti dijelaskan di atas pada 20
gram sampel yang lain untuk menyediakan wadah kedua yang setidaknya 6
gram tanah. Kadar air tanah yang didapati pada wadah ditentukan dan jika
perbedaan di antara kedua kadar air berada dalam rentang yang dapat diterima
untuk kedua hasil tersebut, PL diambil sebagai rata-rata kedua kadar air
tersebut.

PL kurang sensitif dibandingkan LL terhadap perlakuan fisika dan kimiawi


pada tanah. Beberapa perlakuan yang mengurangi LL secara tajam (contohnya
pengeringan lempung organik atau perbaikan dengan kapur) mungkin
menyebabkan sedikit pertambahan PL pada beberapa tanah. Kepentingan
praktis PL bersama dengan LL adalah, dia mendefinisikan rentang kadar air di
mana tanah berperilaku sebagai material plastis.

Seperti diperlihatkan pada Tabel 4-1, kehadiran bahan organik, dinyatakan pada
tabel dalam kadar karbon, memiliki pengaruh yang besar pada LL dan PL; juga
diperlihatkan pada tabel adalah pengaruh kenaikan kadar berukuran lempung
dan kadar montmorillonite pada parameter-parameter ini.

Kadar Kadar
Kadar
Karbon Berukuran lempung Montmorillonite,
%
% < 0,002 mm, %

Rentang yang diuji 0 to 5,5 8 to 68 0 to 90


Batas cair (WL) 36 to 63 28 to 69 39 to 50

Batas plastis (WP ) 19 to 40 23 to 29 24 to 27


Kenaikan WL per 1% tambahan 4,9 0,7 0,12
Kenaikan WP per 1% tambahan 3,8 0,1 0,03

(Mitchell seperti dilaporkan oleh Landva et al, 1983)

Tabel 4-1 Pengaruh-pengaruh karbon organik, kadar berukuran lempung dan montmorillonite pada
batas-batas Atterberg

Tes Batas Susut

Metode-metode ASTM untuk menentukan batas susut (SL) tanah dijelaskan


pada ASTM D4943-89 (Standard Test Method for Shrinkage Factors of Soil by
the Wax Method) dan ASTM D427-93 (Test Method for Shrinkage Factors of
Soil by the Mercury Method). ‘Metode lilin’ (Wax Method) dihadirkan sebagai
alternatif 'metode merkuri' (mercury method) dengan alasan kekhawatiran
bahwa merkuri adalah suatu zat yang berbahaya.

Kedua metode pengujian dilakukan hanya pada porsi tanah yang melalui
saringan No. 40. Hasil-hasil tes dari ASTM D427-93 digunakan untuk
menghitung batas susut dan rasio susut. Dalam ASTM D4943-89, sifat-sifat
yang dihitung dari hasil-hasil adalah batas susut, rasio susut, susut volumetrik
dan susut linear.

43
Keberhati-hatian yang harus diambil pada waktu penyimpanan, penanganan dan
pembuangan merkuri diberi penekanan khusus pada ASTM D427-93.

4.2.5.1 Indeks Likuiditas (LI)


Indeks likuiditas (LI) didefinisikan sebagai:

w - PL
LI =
LL - PL

Di mana: w = kadar air alami tanah

LI, yang mengindikasikan kedekatan suatu tanah alami terhadap LL (LI


mendekati 1 seraya dengan w mendekati LL), adalah suatu karakteristik tanah
yang terutama berguna. Head (1984) berkomentar bahwa sementara LL dan PL
mengindikasikan jenis lempung suatu tanah kohesif, kondisi lempung yang
tergantung pada kadar air sehubungan dengan batas-batas tersebut, dinyatakan
dengan LI; sifat-sifat rekayasa yang mengatur kuat geser dan kompresibilitas
sangat bergantung pada hubungan ini.

4.2.5.2 Aktifitas
Aktifitas (A) tanah didefinisikan oleh hubungan:

PI
A=
C

di mana: C = kadar lempung (persen lebih halus dari 0.002 mm)

Konsep aktifitas dikembangkan oleh Skempton (1953) yang memperlihatkan


bahwa untuk suatu jenis lempung tertentu, PI tergantung pada persentase
partikel yang lebih halus dari 0.002 mm (C) dan bahwa rasio PI/C adalah
konstan; rasio-rasio yang berbeda diperoleh untuk jenis lempung yang berbeda
tetapi rasionya bisa dianggap konstan untuk setiap jenis lempung. Aktifitas
relatif tanah bisa diklasifikasikan sebagai berikut:

AKTIFITAS KLASIFIKASI

< 0.75 lempung tidak aktif

0.75 – 1.25 lempung normal

1.25 – 2.00 lempung aktif

> 2.00 lempung sangat aktif

44
Nilai-nilai aktifitas untuk lempung berkisar dari sekitar 0,4 untuk kaolinite
sampai 5 untuk montmorillonite.

Aktifitas suatu lempung bisa digunakan untuk mengevaluasi potensi


pengembangan; suatu grafik yang dikembangkan oleh Seed et al. (seperti
dilaporkan oleh Krebs dan Walker, 1971) diperlihatkan pada Gambar 4-8. Pada
grafik tersebut, potensi pengembangan didefinisikan sebagai persen kembang
untuk suatu spesimen yang tertahan secara lateral akibat perendaman di bawah
suatu beban 1 psi (6,9 kPa) setelah dipadatkan oleh pemadatan AASHTO
standar pada kadar air yang berkenaan dengan kerapatan kering maksimum.
Jika menggunakan grafik, penyebut 'C', seperti telah dijelaskan pada definisi A
yang diberikan sebelumnya, diganti dengan 'C-5'.

Gambar 4-8 Grafik klasifikasi untuk potensi pengembangan (Krebs dan Walker, 1971)

4.2.6 Tes Geser Baling Laboratorium


Tes geser baling laboratorium adalah suatu prosedur yang relatif sederhana
untuk menentukan kuat geser tak terdrainase tanah berbutir halus, terutama
lempung yang memiliki kuat geser tak terdrainase di bawah 100 kPa. Hasil-
hasil tes yang dilaksanakan pada gambut, terutama gambut berserat, memiliki
nilai yang meragukan.

Dikarenakan baling memberikan suatu sistem tegangan selama geser yang


berbeda dengan mode keruntuhan yang ditemukan pada praktek maka tes ini
harus dianggap sebagai suatu tes indeks kekuatan.

45
Baling-baling yang biasanya digunakan di laboratorium memiliki rasio tinggi
terhadap diameter sebesar 2 dan tes biasanya dilakukan pada suatu sampel tak
terganggu pada saat masih di dalam tabung pengambilan contoh. Baling
dimasukan ke dalam sampel dan diputar pada suatu laju yang konstan untuk
menentukan torsi yang dibutuhkan untuk meruntuhkan sampel. Perhitungan
kuat geser tak terdrainase mengasumsikan permukaan runtuh berupa silinder
yaitu dia diasumsikan bahwa distribusi tegangan geser pada saat keruntuhan
adalah seragam pada kelilingnya dan sepanjang ujung-ujung silinder tanah yang
membatasi baling. Mode keruntuhan ini adalah dasar untuk hubungan yang
diasumsikan antara kuat geser baling (τ) dan torsi yang bekerja (T):

T
ô=
K

di mana: K = suatu konstanta yang bergantung pada dimensi baling

ðD 2H  D 
= 1 +
2  3H 

dan D = diameter baling

H = tinggi baling

Adalah penting pada saat menggunakan hubungan di atas untuk memastikan


konsistensi unit contohnya jika T diukur dalam N.m dan τ yang dibutuhkan
dalam Pa (N/m²) maka K harus dinyatakan dalam m³.

ASTM D4648-87 menjelaskan suatu metode pengujian standar untuk


melakukan suatu tes geser baling miniatur laboratorium. Metode tersebut
menggunakan alat baling motor bersama dengan pegas torsi konvensional atau
transducer torsi elektrik. Prosedur-prosedur dijelaskan untuk menentukan kuat
geser tak terganggu dan terganggu.

Pada Bagian 12 metode tersebut, dengan kepala ‘Calculation’, konstanta bilah


baling K dinyatakan dalam m³ dan nilai-nilai K diberikan untuk H/D = 1 dan
H/D = 2. Nilai-nilai tersebut tepat untuk baling-baling ini tetapi jika nilai K
membutuhkan untuk dihitung untuk jenis baling lainnya harus diingat bahwa
faktor 10 harus dihapus dari penyebut Persamaan 3 jika, seperti diperlihatkan,
dimensi baling dimasukkan dalam milimeter pada persamaan untuk K.

4.2.7 Kadar Bahan Organik Gambut dan Tanah Organik


Lainnya
Metode-metode tes yang digunakan untuk menentukan kadar bahan organik
suatu tanah termasuk metode kehilangan akibat pembakaran (ASTM D2974-87;
Klausa 4, BS 1377: Part 3 : 1990) dan metode oksidasi dichromate (Klausa 3,
BS 1377: Part 3 : 1990). Metode kehilangan akibat pembakaran, yang
dispesifikasikan oleh ASTM dijelaskan pada Bagian 4.2.7.1, metode oksidasi
dichromate pada Bagian 4.2.7.2.

46
4.2.7.1 Metode Kehilangan akibat Pembakaran
ASTM D2974-87 menjelaskan “standard test methods for moisture, ash and
organic matter of peat and other organic soils”.

Dua metode diberikan untuk penentuan kadar air, Metode A dan Metode B.
Pada Metode A, sampel gambut dan tanah organik dikeringkan dengan oven
pada suhu 105°C; kadar air dinyatakan sebagai persentase massa yang
dikeringkan dengan oven atau massa yang diterima. Metode B digunakan jika
tes lebih lanjut, (contoh untuk pH, pertukaran kation), akan dilakukan pada
sampel. Pada metode ini air dihilangkan dengan dua langkah: (i) penguapan air
di udara pada suhu ruangan (pengeringan dengan udara) dan (ii) pengeringan
dengan oven pada suhu 105°C sampel yang dikeringkan dengan udara.
Pengeringan dengan udara menyediakan sampel yang lebih stabil untuk tes-tes
tambahan; bahan untuk tes-tes ini diperoleh dengan menggiling suatu porsi
yang representatif sampel yang dikeringkan dengan selama 1 sampai 2 dengan
penggiling berkecepatan tinggi. Seperti halnya dengan Metode A, kadar air
yang ditentukan dengan menggunakan Metode B bisa dihitung sebagai
persentase massa yang dikeringkan dengan oven atau persentase massa seperti
yang diterima. Pada saat pelaporan hasil-hasil dasar perhitungan harus
diterangkan dengan jelas.

Berkenaan dengan kadar abu, Metode C harus dipakai untuk keperluan


klasifikasi geoteknik dan umum. Pada metode tersebut, sebagian atau semua
spesimen contoh dari suatu penentuan kadar air dimasukkan pada tungku
pembakaran. Suhu di tungku dinaikkan secara bertahap sampai 440°C dan
dipertahankan pada suhu tersebut sampai spesimen seluruhnya menjadi abu
yaitu tidak ada perubahan massa yang terjadi setelah suatu periode pengeringan
lebih lanjut. Pada saat dikeluarkan dari tungku, sampel ditutup dengan suatu
penutup dari kertas aluminium, didinginkan dengan suatu desikator dan
massanya ditentukan. Kadar abu dan kadar bahan organik dihitung sebagai
berikut:

(massa abu, gram) × 100


Kadar abu (%) =
massa spesimen yang dikeringka n dengan oven, gram

Kadar bahan organik (%) = 100.0 – Kadar abu (%)

Diasumsikan, tetapi tidak disebutkan pada metode ini, bahwa tidak ada
kehilangan bahan organik selama pengeringan dengan oven spesimen tes pada
suhu 105°C, bahwa suhu pembakaran pada tungku pembakaran dan lamanya
pembakaran adalah cukup untuk membakar semua jenis bahan organik dan
bahwa mineral-mineral pada spesimen tes tidak bisa terbakar.

Pada metode British Standard, spesimen percobaan untuk tes kehilangan akibat
pembakaran diperoleh dari suatu sampel yang dikeringkan dengan oven pada
suhu 50 ± 2.5°C; temperatur tungku pembakaran, 440 ± 25°C, adalah sama
dengan yang dispesifikasikan pada metode ASTM.

47
Kecuali jika kadar mineral tinggi atau tanah mengandung karbonat (lihat Bagian
4.2.7.3), kesalahan-kesalahan pada kadar abu/kadar bahan organik yang
dijelaskan pada ASTM D2974-87 biasanya bisa diabaikan. Jika ada keragu-
raguan, metode ini bisa ditambahkan dengan metode-metode lainnya yang lebih
rumit seperti metode oksidasi dichromate yang dijelaskan di bawah.

4.2.7.2 Metode Oksidasi Dichromate


Suatu prosedur untuk menentukan persentase massa kering bahan organik yang
ada pada suatu tanah menggunakan oksidasi dichromate dijelaskan pada Klausa
3, BS 1377 : Part 3 : 1990. Tanah-tanah yang mengandung sulfida atau klorida
didapati memberikan hasil-hasil yang tinggi dengan prosedur ini. Pengujian
keberadaan sulfida secara kualitatif, dan prosedur-prosedur untuk
menghilangkannya, jika ada, sebelum pengetesan dijelaskan pada prosedur
tersebut. Pengujian keberadaan sulfida secara kualitatif dijelaskan pada Klausa
7 BS (Determination of the Chloride Content); prosedur-prosedur untuk
menghilangkannya, jika ada, dijelaskan pada Klausa 3.

Persen kadar bahan organik (OMC, %) dihitung dari persamaan:

0.67V
OMC, % =
m
di mana: V = volume total (ml) larutan dichromate potassium yang
digunakan untuk mengoksidasi bahan organik pada
contoh tanah.

m = massa (gram) tanah yang digunakan pada tes.

Metode ini berdasarkan oksidasi basah kadar organik tanah dan mengasumsikan
bahwa bahan organik tanah mengandung rata-rata 58% (m/m) karbon. Metode
yang diterapkan mengoksidasi sekitar 77% karbon pada bahan organik dan
faktor-faktor ini dimasukkan pada persamaan yang diberikan di atas.

Suatu metode oksidasi dichromate yang memanfaatkan suatu colorimeter secara


singkat dijelaskan oleh Lechowicz et al. (1996); rincian lengkap metode
tersebut diberikan pada Swedish Geotechnical Institute Report No. 27E (Larson
et al. 1987). Pada metode ini, suatu spesimen tanah kering yang dihancurkan
dicampurkan dengan larutan dichromate potassium pada sebuah tabung kimia.
Bahan organik kemudian dibakar secara basah dengan penambahan suatu
konsentrasi asam sufur. Pada oksidasi karbon organik dengan dichromate,
warna cairan oksidasi berubah dari oranye menjadi hijau. Pengukuran kadar
karbon yang sederhana tetapi dapat diandalkan diperoleh dengan mengukur
kerapatan warna hijau dengan suatu colorimeter yang disuplai dengan suatu
filter untuk panjang gelombang yang dekat dengan 620 nm. Colorimeter
dikalibrasi untuk prosedur tes yang ditentukan dengan jumlah karbon organik
yang diketahui. Sumber-sumber utama kesalahan pada metode ini dijelaskan
oleh Lechowicz et al. yaitu jumlah sampel yang sedikit pada masing-masing tes
dan kenyataan bahwa faktor konversi yang digunakan untuk menghitung kadar

48
organik dari karbon organik bisa agak bervariasi; bahan organik biasanya
dianggap mengandung 58% bahan organik (lihat metode British Standard).

4.2.7.3 Komentar Mengenai Metode-metode yang Digunakan


untuk Menentukan Kadar Bahan Organik
Larsson et al. (1989) telah membandingkan sejumlah metode untuk untuk
menentukan kadar organik tanah. Para peneliti ini mencatat bahwa mineral-
mineral yang berbeda memiliki sifat-sifat yang berbeda berkaitan dengan
perubahan berat pada temperatur yang berbeda, karena itu rekomendasi yang
berbeda mengenai suhu pembakaran pada metode kehilangan akibat
pembakaran pada berbagai daerah di dunia. Pada daerah-daerah di mana tanah
memiliki komposisi tertentu, kehilangan berat komponen mineral suatu tanah
bisa, sampai beberapa tahap, dihindari dengan menjaga suhu pembakaran relatif
rendah contohnya 440°C. Pada daerah lain, di mana banyak mineral yang
berbeda didapati pada komposisi tanah, kehilangan berat berlangsung terus
menerus dan tidak stabil sampai suhu 800-900°C tercapai. Di Swedia di mana
suhu pembakaran tersebut berkisar digunakan, koreksi empiris dibuat untuk
memperhitungkan kehilangan berat pada komponen mineral.

Jika karbonat hadir di dalam tanah, koreksi lebih lanjut dibutuhkan untuk
mengikutsertakan kehilangan berat yang besar yang terjadi pada saat pemanasan
menyebabkan karbonat terdekomposisi menjadi oksida dan karbon monoksida.
Di Swedia karbonat yang dominan adalah kalsium karbonat atau kalsit.
Diasumsikan bahwa kadar karbonat, sebenarnya, sama dengan kadar kalsit dan
kehilangan berat karena dekomposisi keseluruhan kalsit diambil sama dengan
44% kadar karbonat.

Untuk mengilustrasikan pentingnya penyesuaian nilai kehilangan akibat


pembakaran untuk komposisi mineral dan kadar karbonat, Larsson et al.
memperlihatkan suatu profil kadar bahan organik terhadap kedalaman yang
ditentukan oleh penganalisis karbon, kehilangan akibat pembakaran tak
terkoreksi, kehilangan akibat pembakaran yang dikoreksi terhadap penguapan
air kristal (suatu fungsi kadar lempung), dan kehilangan akibat pembakaran
yang lebih lanjut disesuaikan terhadap kadar karbonat. Kadar organik berkisar
antara 9 sampai 10% didapati pada metode kehilangan akibat pembakaran tak
terkoreksi. Ini berkurang menjadi 5,5% dan 1,5% jika data tidak dikoreksi
terhadap, masing-masing, penguapan air kristal dan kadar karbonat (yang
berkisar antara 9 sampai 10%). Nilai akhir sebesar 1,5% adalah konsisten
dengan nilai-nilai yang diperoleh dari penganalisis karbon. (Pada profil yang
sama, nilai-nilai yang diperoleh dari colorimeter, lihat Bagian 4.2.7.2,
berkesesuaian dengan baik terhadap yang diperoleh dari penganalisis karbon).

Di Swedia, batas bawah tanah yang disebut sebagai ‘organik’ adalah 2% kadar
bahan organik. Penggunaan nilai kehilangan akibat pembakaran tak terkoreksi
bisa menghasilkan penyebutan tanah yang salah pada profil yang didiskusikan
di atas.

49
Larsson et al. meletakkan sejumlah batasan-batasan pada penggunaan metode
kehilangan akibat pembakaran untuk penentuan kadar bahan organik tanah-
tanah mineral dan organik mineral Swedia: kadar karbonat harus kurang dari
20% dan kadar sulfida harus rendah; koreksi harus dilakukan pada penguapan
air kristal dan kadar karbonat; contoh harus dibakar pada suhu 900°C selama
kurang lebih satu jam.

Mereka mencatat bahwa tanah yang sangat organik, dan terutama gambut,
metode kehilangan akibat pembakaran bisa digunakan untuk penentuan kadar
organik; asalkan kadar organiknya harus tidak terlalu tinggi. Untuk tanah-
tanah ini, metode kehilangan akibat pembakaran memiliki kelebihan bahwa
sampel yang lebih besar dan representatif bisa digunakan dibandingkan dengan
metode lain. Juga, berkaitan dengan metode lainnya, ada beberapa
ketidakpastian pada saat merubah dari karbon organik ke kadar karbon.

4.2.8 Berat Isi Gambut


ASTM D4531-86 (reapproved 1992) memberikan dua metode untuk penentuan
berat isi gambut dalam keadaan asli: Core Method (Method A) dan Paraffin
Wax Method (Method B). Pada kedua metode, volume gambut didefinisikan dan
massa volume spesifik ditentukan; metode-metode tersebut berbeda pada
prosedur yang digunakan untuk menentukan volume.

Pada core method, spesimen pengujian diambil dari suatu inti yang
representatif, tak terganggu yang diambil dengan suatu pengambil contoh piston
atau alat penginti lainnya. Spesimen uji yang panja ngnya tidak kurang dari 50
mm dipotong (menggunakan pisau listrik atau pisau tukang cukur) dari berbagai
panjang yang ditemui pada inti. Panjang spesimen, diukur sampai dengan
milimeter terdekat, dikalikan dengan luas potongan melintang alat pengambil
contoh inti untuk menghitung volume spesimen.

Pada paraffin wax method, suatu sampel yang representatif, tak terganggu
dipotong menjadi bentuk yang sehalus mungkin dan dilapisi dengan lilin
paraffin dengan suatu cara yang ditentukan. Sampel yang telah dilapisi
direndam dalam air di dalam sebuah silinder yang memiliki tanda ukuran dan
volumenya ditentukan dengan mengamati volume air yang terbuang. Volume
pelapis lilin paraffin dikurangi dari volume sehingga didapat volume sampel
gambut.

Data yang diperoleh dari kedua metode tes memungkinkan perhitungan:


• berat isi basah
• kadar air (massa kering spesimen atau dalam massa total)
• berat isi kering.

Dasar perhitungan kadar air harus diterangkan dengan jelas pada saat pelaporan
hasil.

50
4.2.9 Kadar Serat Gambut
Metode pengujian yang diberikan pada ASTM D1997-91 meliputi penetuan
laboratorium kadar serat sampel gambut (seperti didefinisikan pada ASTM
D4427-92) dengan massa kering.

Untuk melaksanakan tes, suatu sampel gambut tak terdrainase yang


representatif dipilih dan kadar airnya ditentukan sesuai dengan ASTM D2974-
87. Suatu spesimen gambut tak terdrainase, tak terganggu yang memiliki massa
sekitar 100 gram dipisahkan dari sampel dan direndam dalam suatu zat pengurai
(5 persen sodium hexametaphosphate) selama kurang lebih 15 ja m. Bahan
tersebut kemudian disiram melalui saringan No. 100 (0,15 mm) dengan
pemberian aliran air keran secara perlahan. Saringan dengan serat gambut
diletakkan pada suatu tangki yang dangkal berisi 2% larutan asam hidroklorida
(HCl) selama sedikitnya 10 menit untuk menguraikan karbonat-karbonat yang
mungkin ada. Bahan tersebut kemudian disiram dengan air selama sekitat 5
menit untuk menghilangkan sisa-sisa HCl. Bahan berserat yang tertinggal pada
saringan dikeringkan dengan oven pada suhu 105°C sampai suatu massa
konstan diperoleh. Massa serat dinyatakan sebagai persentase massa contoh asli
yang dikeringkan dengan oven.

4.2.10 Ekstraksi Air Pori dan Pengukuran Salinitas


ASTM D4542-85 (re-approved 1990) menjelaskan suatu prosedur cepat
meremas air pori dari tanah berbutir halus untuk keperluan penentuan jumlah
garam terlarutkan yang hadir pada air pori yang terekstraksi. Prosedur tersebut
dikembangkan untuk tanah-tanah yang memiliki kadar air sama dengan atau
lebih besar dari sekitar 14%, sebagai contoh tanah-tanah marina. Peralatan yang
diperlukan untuk melakukan tes termasuk suatu penekan tanah dan
refraktometer penyeimbang-suhu, berskala terhadap indeks refraksi atau bagian
per seribu (parts per thousand, ppt).

Air pori diekstraksi sebagai berikut. Suatu sampel tanah representatif yang
memiliki massa sekitar 50 gram diletakkan pada penekan tanah. Tekanan
diberikan perlahan-lahan sampai beberapa tetes air pertama keluar; suatu alat
semprotan plastik 25 ml yang dapat dibuang kemudian dimasukkan pada suatu
saluran pembuangan yang terletak pada dasar penekan tanah. Tekanan diberikan
secara bertahap sampai maksimum sebesar 80 MPa dan ditahan pada tingkatan
tersebut sampai tidak ada lagi air yang keluar atau alat semprotan penuh. Cairan
dari alat semprotan dikeluarkan melalui suatu penahan alat semprotan mikro
yang terbuat dari stainless steel ke dalam suatu botol 100 ml yang bersih yang
kemudian segera ditutup. Botol tersebut disimpan pada suhu antara 1 dan 5°C.

Jika suatu refraktometer dengan skala indeks refraksi digunakan, salinitas dalam
bagian per seribu dibaca dari suatu grafik indeks refraksi terhadap salinitas;
salinitas dibaca langsung dari refraktometer dengan skala ppt. Untuk kedua tipe
refraktometer, hanya beberapa tetes air pori yang dibutuhkan, sekitar 5 ml.

51
Penekan tanah dan refraktometer harus dibersihkan secara menyeluruh sebelum
digunakan; prosedur pembersihan dijelaskan dalam metode tersebut.

4.2.11 Konduktifitas
Konduktifitas menandakan konsentrasi total berbagai ion-ion terlarut, kecuali
ion-ion hidrogen.

Riley (1989) menjelaskan suatu prosedur untuk menentukan konduktifitas


gambut; sampel yang sama juga digunakan untuk penentuan pH. Prosedurnya
dijelaskan dalam "Laboratory Methods for Testing Peat – Ontario Peatland
Inventory Project". Karena laporan ini mungkin tidak beredar luas, prosedur
tersebut secara rinci dijelaskan di sini.

Prosedur:
• Timbang 20 gram gambut asli yang telah sepenuhnya dicampur ke dalam
suatu cangkir kertas.
• Tambahkan 20 ml air bebas ion (pH 6.6 sampai 7.5) yang telah dididihkan
selama sedikitnya satu jam untuk meyakinkan dia bebas terhadap karbon
dioksida (CO2 ).
• Untuk contoh-contoh berserat yang tidak cukup basah untuk pengukuran
konduktifitas dan pH, tambahkan 80 ml air suling, bebas ion. Air suling
yang telah mendidih ditambahkan menggunakan pembuang yang sesuai
yang mengambil dari suatu penampung yang dilengkapi dengan jebakan
KOH (potassium hidroksida) pada sumber udara pengganti.
• Tutupi dan kocok pada sebuah pengocok selama 10 menit.
• Biarkan selama 30 menit setelah pengocokan.
• Ukur konduktifitas supernatant menggunakan suatu konduktifitas meter
dan sel dengan suatu konstanta 1.0 cm-1 .
• Menstandarisasikan sel secara rutin terhadap 0.01-N KCl pada suhu 25°C
(konduktifitas 1300 mmhos/cm, lihat catatan di bawah) atau catat suhu dan
perbaiki bacaan berdasarkan formula berikut:

Lt
L 25 =
1 + 0.02∆ t

di mana: L25 = konduktifitas pada suhu 25°C

Lt = konduktifitas pada suhu yang diukur

Ät = perbedaan antara suhu yang diukur dengan dan 25°C

Catatan: Nilai 1300 mmhos/cm yang dikutip sebagai konduktifitas 0.01 – N


KCl pada suhu 25°C tidak konsisten dengan nilai yang diberikan oleh Al-
khafazi dan Andersland (1992).

52
Para penulis mentabulasikan nilai-nilai yang ditentukan pada interval 5°C
pada rentang suhu 10-30°C. Nilai pada 25°C adalah 1413 mmhos/cm dan
nilai-nilai yang ditabulasikan untuk suhu-suhu yang lain bisa diubah
menjadi sekitar 1413 mmhos/cm menggunakan formula yang diberikan di
atas.
• Segera setelah pengukuran konduktifitas, pH bisa diukur pada larutan
supernatant yang sama. Pengukuran konduktifitas harus dilakukan sebelum
pengukuran pH.
• Ukur pH pada sebuah pH meter yang akurat sampai 0.1 satuan dan
dilengkapi dengan kompensasi temperatur. Standarisasikan pH meter secara
rutin menggunakan larutan penyangga yang pH-nya diketahui (Asam
Potassium Phthalate, pH 4.01 ± 0.01; Larutan penyangga Fosfat, pH 7.00 ±
0.01).
• Jika pH supernatant 5.1 atau lebih rendah, konduktifitas dikoreksi dengan
mengurangi konduktifitas dikarenakan ion-ion hidrogen seperti terlihat di
bawah dan data dilaporkan sebagai L25 , H+ dikoreksi.
pH H+ (ìmhos/cm pada 25°C)
3.0 350.0
3.1 278.0
3.2 220.3
3.3 175.5
3.4 139.3
3.5 110.7
3.6 87.9
3.7 69.8
3.8 55.5
3.9 44.0
4.0 35.0
4.1 27.8
4.2 22.1
4.3 17.5
4.4 13.9
4.5 11.1
4.6 8.8
4.7 7.0
4.8 5.6
4.9 4.4
5.0 3.6
5.1 2.8
• Untuk sampel-sampel yang akan ditambahkan dengan 80 ml air bebas ion
yang disuling konduktifitas dikoreksi terhadap 20 ml air dengan mengalikan
konduktifitas pada 80 ml dengan faktor 2.4.

53
4.2.12 pH Bahan-bahan Gambut
ASTM D2976-71 (reapproved 1990) menjelaskan prosedur-prosedur untuk
mengukur pH (derajat keasaman dan kebasaan) suatu sampel gambut yang
dikeringkan dengan udara yang mengapung pada air suling bebas karbon
dioksida dan larutan kalsium klorida. Nilai-nilai yang diperoleh pada larutan
kalsium klorida biasanya sekitar 0,5 sampai 0,8 satuan pH unit lebih rendah dari
pengukuran yang dilakukan di air.

pH meter dikalilbrasi menggunakan asam potassium phthalate dan larutan


penyangga fosfat yang disiapkan seperti yang dijelaskan pada metode tersebut.
Prosedur untuk menyiapkan suatu larutan biasa kalsium klorida dan larutan
kalsium klorida yang digunakan pada tes juga dijela skan.

Seperti didiskusikan pada Bagian 4.2.11, pH pada air gambut bisa juga
ditentukan pada supernatant setelah tes konduktifitas.

4.2.13 pH Tanah
Metode tes yang dijelaskan pada ASTM D4972-89 mencakup pengukuran pH
tanah untuk keperluan selain untuk pengujian korosi.

Pengukuran dilakukan pada tanah yang mengapung pada air suling dan pada
larutan kalsium klorida. Pengukuran pada kedua cairan tersebut diperlukan
untuk mendefinisikan pH tanah secara lengkap; pengukuran yang dilakukan
pada larutan kalsium klorida bia sanya lebih rendah dibandingkan yang pada air.

Pengukuran yang dilakukan pada tanah yang dikeringkan dengan udara yang
lolos saringan No. 10 (2.0 mm). Pengukuran pH dilakukan dengan pH meter
atau kertas yang sensitif terhadap pH; kertas yang sensitif terhadap pH
menghasilkan pengukuran yang kurang akurat dan hanya digunakan untuk suatu
perkiraan kasar pH tanah.

Rincian diberikan pada persiapan larutan-larutan asam potassium phthalate dan


penyangga fosfat di mana pH meter dikalibrasi. Persiapan larutan biasa kalsium
klorida dan larutan kalsium klorida yang digunakan pada tes juga dijelaskan.

4.2.14 Kadar Karbonat


Dua metode untuk penentuan kadar karbonat tanah diberikan pada Klausa 6, BS
1377: Part 3 : 1990. Kedua metode tersebut bergantung pada reaksi asam
karbonat dan hidroklorik, yang membebaskan karbon dioksida.

Metode pertama melibatkan tes titration yang cepat yang cocok untuk tanah-
tanah yang karbonatnya melebihi 10% (m/m) dan di mana akurasi sekitar 1%
dianggap cukup. Pada metode ini spesimen tanah diperlakukan dengan asam
hidroklorik yang jumlahnya diketahui sampai akhir. Jumlah kelebihan asam
ditentukan dengan titration terhadap sodium hidroksida. Hasilnya dihitung
dalam bentuk proporsi ekuivalen karbon dioksida.

54
Metode kedua menggunakan metode gravimetrik yang diterangkan untuk beton
yang mengeras pada BS 1881 : Part 124. Pada metode ini, karbon dioksida
berubah pada saat tanah yang diperlakukan dengan asam hidroklorik dilewati
melalui suatu penghisap butiran yang memungkinkan massa karbon dioksida
ditentukan secara gravimetrik.

Persiapan awal spesimen contoh sama untuk kedua metode tersebut.

Metode-metode lainnya yang digunakan untuk menentukan kadar karbonat


disarikan oleh Lechowicz et al. (1996) dan dijelaskan secara detail pada
Swedish Geotechnical Institute Report No. 27E (Larsson et al, 1987).

Seperti yang didiskusikan pada Bagian 4.2.7.3 kadar karbonat mempengaruhi


hasil-hasil metode kehilangan akibat pembakaran untuk menentukan kadar
bahan organik.

4.2.15 Kadar Klorida


Tes-tes untuk menentukan kandungan garam klorida pada tanah yang dapat
larut dalam air atau asam dijelaskan pada Klausa 7, BS 1377 ; Part 3 : 1990.

Untuk penentuan klorida yang dapat larut dalam air, klorida disarikan dari
sampel tanah yang kering dengan melarutkannya pada suatu massa air yang
banyaknya dua kali massa sampel; hasilnya dinyatakan sebagai kadar ion
klorida (persentase terhadap massa kering tanah).

Metode ekstraksi air hanya berlaku untuk tanah-tanah yang kadar kloridanya
berasal dari kontak yang baru terjadi dengan, atau perendaman dalam, air
garam; metode ekstraksi asam bisa digunakan untuk penentuan kadar klorida air
dari daerah-daerah padang pasir atau di mana asal klorida tidak dapat
ditentukan.

Suatu prosedur dijelaskan untuk membuat suatu pengujian secara kualitatif


mengenai kehadiran klorida. Jika hasilnya negatif, analisis kuantitatif tidak
perlu dilaksanakan.

Serangan klorida pada baja, termasuk tulangan baja pada beton, jika mereka ada
di dalam tanah, dan konsentrasinya diketahui, tindakan-tindakan preventif yang
sesuai bisa diambil.

4.2.16 Kadar Sulfat


Dengan beberapa perkecualian yang jarang, semua sulfat yang alami terjadi bisa
terlarutkan dalam asam. Sodium sulfat dan magnesium sulfat juga dapat
terlarutkan dalam air kecuali kalsium sulfat, garam sulfat yang paling sering
dijumpai, memiliki kemampuan larut dalam air yang rendah. Beton dan bahan-
bahan yang diperlakukan dengan semen bisa terkena serangan oleh sulfat,
terutama sodium dan magnesium sulfat. Oleh karenanya penting untuk
menentukan jenis dan konsentrasi sulfat dalam tanah dan air tanah.

55
Klausa 5, BS 1377 : Part 3 : 1990 menjelaskan prosedur-prosedur untuk
menentukan kadar sulfat tanah dan air tanah. Prosedur-prosedur tes dijelaskan
untuk:
• Kadar sulfat tanah yang larut dalam asam (juga disebut sebagai kadar sulfat
total) di mana ekstrak asam dipersiapkan terlebih dahulu.
• Kadar sulfat tanah yang larut dalam air di mana ekstrak air dipersiapkan
terlebih dahulu.
• Sulfat yang larut dalam air tanah.
• Dua metode analisis dijelaskan:
• Metode gravimetrik untuk ekstrak asam, ekstrak air dan sampel air tanah.
• Prosedur pergantian ion untuk ekstrak air dan sampel air tanah.

Dinyatakan pada prosedur bahwa jika sulfat yang hadir dalam tanah terutama
garam kalsium, kadar sulfat total tanah yang didapati pada ekstrak asamnya
kemungkinan memberikan kesan yang salah dan pesimistis akan bahayanya
terhadap beton atau bahan-bahan yang distabilisasi dengan semen akibat
kehadiran sulfat. Pada kasus-kasus di mana keseluruhan sulfat melebihi 0,5%
disarankan bahwa kadar sulfat yang dapat larut dalam air dari suatu ekstrak air-
tanah 2 terhadap 1 harus ditentukan. Jika kalsium sulfat adalah satu-satunya
garam sulfat yang hadir kelarutannya yang rendah akan menjamin kadar sulfat
ekstrak air tidak melebihi 1,2 g/L. Kadar sulfat yang melebihi nilai ini pada
ekstrak air-tanah atau di dalam air tanah seperti yang didapati pada tes ini oleh
karenanya menandakan kehadiran garam sulfat yang lain dan lebih berbahaya.

4.3 TES-TES KEKUATAN

Tes-tes yang dilakukan di laboratorium untuk mengukur kuat geser termasuk tes
baling laboratorium, tes geser langsung dan tes tekan triaksial. Tes baling bisa
dianggap sebagai tes indeks kekuatan dan dijelaskan pada Bagian 4.2.5; tes-tes
geser langsung dan triaksial dijelaskan pada bagian-bagian berikut ini.

4.3.1 Tes Geser Langsung


Metode tes standar untuk tes geser langsung tanah dalam kondisi terkonsolidasi,
terdrainase dijelaskan pada ASTM D3080-90.

Metode tes tersebut diringkaskan pada standar sebagai berikut:


• spesimen diletakkan pada alat geser langsung
• tegangan normal yang telah ditentukan diberikan
• ketetapan dibuat terhadap pembasahan atau drainase spesimen tes, atau
keduanya
• spesimen dikonsolidasikan dengan suatu tegangan normal

56
• rangka-rangka yang menahan spesimen tes kemudian dibuka dan satu
rangka digerakkan secara horizontal terhadap lainnya pada suatu laju
deformasi geser yang konstan
• gaya geser dan perpindahan horizontal selagi spesimen digeser diukur.

Hal-hal berikut diambil dari penjelasan metode pengujian:


• tiga atau lebih spesimen diuji, masing-masing pada beban normal yang
berbeda, untuk menentukan pengaruhnya terhadap tahanan geser dan
perpindahan, dan terhadap sifat-sifat kekuatan seperti selubung kekuatan
Mohr
• kondisi-kondisi pengujian, termasuk termasuk normal, laju penggeseran dan
lingkungan kelembaban, dipilih yang mewakili kondisi lapangan yang
sedang diselidiki
• diameter spesimen minimum untuk spesimen bundar, atau lebar untuk
spesimen bujur sangkar, dan ketebalan spesimen awal minimum ditentukan;
rasio minimum diameter spesimen terhadap tebal atau lebar terhadap
ketebalan ditentukan sebagai 2:1
• keruntuhan sering diambil berkaitan dengan tegangan geser maksimum
yang dicapai atau tegangan geser pada 15 sampai 20 persen perpindahan
lateral relatif
• Spesimen dikonsolidasikan pada beban normal yang diinginkan yang bisa
diberikan pada satu atau lebih kenaikan. Pemberian beban pada satu
kenaikan cocok untuk tanah-tanah yang relatif keras; untuk tanah yang
relatif lunak pemberian beban normal pada beberapa kenaikan mungkin
diperlukan untuk mencegah kerusakan pada spesimen
• Untuk semua kenaikan beban, akhir dari konsolidasi primer harus diperiksa
sebelum melanjutkan tes (lihat ASTM D2435-90); perpindahan normal
diplot terhadap terhadap kalau tidak log waktu atau akar kuadrat waktu
dalam menit
• Setelah konsolidasi primer dicapai, spesimen digeser pada laju perpindahan
yang bergantung pada karakteristik konsolidasi tanah. Laju perpindahan
harus sedemikian rupa sehingga tak ada tekanan air pori ekses pada saat
keruntuhan
• Perkiraan laju perpindahan yang cocok diperoleh sebagai berikut:
Perkirakan waktu minimum yang diperlukan dari awal tes sampai
keruntuhan, (dalam menit), berdasarkan hubungan:

tf = 50t50

di mana: t50 = waktu yang diperlukan spesimen untuk mencapai


50 persen konsolidasi akibat tegangan normal yang
ditentukan (atau kenaikan daripadanya) dalam
menit.

57
tentukan laju perpindahan dari hubungan:

d r = d f/tf

di mana d r = laju perpindahan, mm/menit.

d f = perkiraan perpindahan horizontal pada saat


keruntuhan, mm.
Sebagai petunjuk, nilai d f = 12 mm disarankan untuk digunakan jika bahan
tersebut tanah berbutir halus yang terkonsolidasi normal atau ringan; kalau tidak
gunakan d f = 5 mm
• Beberapa tanah seperti pasir padat dan lempung terkonsolidasi lebih
kemungkinan tidak menampakan kurva perpindahan normal terhadap waktu
yang jelas. Saran-saran diberikan berkenaan dengan pemilihan nilai tf yang
sesuai untuk tanah-tanah ini. Suatu metode untuk menentukan nilai tf untuk
tanah yang mengembang juga diberikan
• Bidang keruntuhan spesimen tanah kohesif harus dipotret, disketsa atau
dijelaskan secara tertulis.

Penerapan

Hasil-hasil tes bisa diterapkan untuk menilai kekuatan pada situasi lapangan di
mana konsolidasi telah selesai akibat tegangan normal yang ada. Hasil-hasil dari
beberapa tes bisa digunakan untuk menyatakan hubungan antara tegangan
konsolidasi dan kuat geser terdrainase.

Kuat geser yang didapat dari tes geser langsung bisa langsung digunakan untuk
perhitungan stabilitas dan berlaku terutama untuk bagian tengah bidang
keruntuhan yang kurang lebih horizontal.

Meskipun begitu, pada tes, keruntuhan mungkin tidak terjadi pada bidang yang
paling lemah karena keruntuhan dipaksa untuk terjadi pada atau mendekati
bidang horizontal pada tengah spesimen. Juga, sementara laju perpindahan yang
lambat menghasilkan disipasi tekanan air pori ekses, dia juga menyebabkan
aliran plastik tanah kohesif lunak.

4.3.2 Tes-tes Kompresi Triaksial


Pada tes kompresi triaksial konvensional, suatu spesimen silinder yang
dibungkus dengan membran karet dan diletakkan pada suatu sel triaksial di
mana dia dikenakan tekanan fluida. Suatu beban kemudian diberikan mengikuti
sumbu spesimen, menaikan tegangan sumbu sampai keruntuhan terjadi. Pada
kondisi-kondisi tersebut, tegangan-tegangan minor dan pertengahan, masing-
masing s3 dan s 2 , sama dengan tekanan fluida; tegangan utama mayor, s1 ,
disediakan oleh baik tekanan fluida dan tegangan aksial yang diberikan oleh
piston beban. Tegangan deviator atau perbedaan tegangan utama adalah (s1 -s 3 )
yaitu perbedaan antara tegangan-tegangan utama mayor dan minor.

58
Segi-segi utama suatu sel triaksial pada umumnya diperlihatkan pada
Gambar 4-9.

Gambar 4-9 Ciri-ciri Penting Suatu Sel Triaksial pada Umumnya

Kondisi-kondisi drainase selama pemberian tekanan sel dan beban aksial,


masing-masing, menjadi dasar klasifiksasi umum tes kompresi triaksial sebagai
berikut:
• Tak terkonsolidasi dan tak terdrainase (UU). Pada tes ini, suatu tekanan sel
diberikan pada spesimen tes dan tegangan deviator atau penggeseran
diberikan segera setelah tekanan sel stabil. Drainase tidak diizinkan selama
pemberian tekanan sel (tegangan keliling) dan drainase tidak diizinkan
selama pemberian tegangan deviator
• Terkonsolidasi-tak terdrainase (CU). Pada tes ini, drainase diizinkan
selama pemberian tegangan keliling dan spesimen sepenuhnyan
terkonsolidasi di bawah tegangan ini. Drainase tidak diizinkan selama
pemberian tegangan deviator
• Terkonsolidasi-terdrainase (CD). Pada tes ini, drainase diizinkan baik
selama pemberian tegangan keliling dan tegangan deviator sehingga
spesimen sepenuhnya terkonsolidasi di bawah tegangan keliling dan
tekanan pori ekses tidak terbentuk selama penggeseran.

59
4.3.2.1 Tes Tak Terkonsolidasi-Tak Terdrainase (UU)
ASTM D2850-87 menjelaskan suatu metode standar untuk menentukan kuat
tekan tak terkonsolidasi, tak terdrainase tanah kohesif pada kompresi triaksial.

Hal-hal berikut berkenaan dengan metode tes dibuat:


• suatu prosedur untuk mendapatkan pengukuran tekanan pori tidak
dimasukkan
• keruntuhan didefinisikan sebagai tegangan pada spesimen berkaitan dengan
tegangan deviator maksimum yang dicapai atau tegangan deviator pada
regangan aksial 15%, tergantung yang mana tercapai terlebih dahulu selama
pengetesan
• Jika spesimen tes sepenuhnya jenuh, selubung keruntuhan Mohr biasanya
akan berupa garis lurus horizontal sepanjang keseluruhan tegangan keliling
yang bekerja pada spesimen; pada kasus tanah-tanah yang jenuh sebagian,
selubung keruntuhan Mohr failure biasanya melengkung
• Beban diberikan sedemikian rupa sehingga menghasilkan regangan aksial
pada suatu laju sekitar 1% per menit untuk bahan-bahan plastik, dan 0,3%
per menit untuk bahan-bahan getas yang mencapai tegangan deviator
maksimum pada sekitar 3 sampai 6 % regangan. Pembebanan dilanjutkan
sampai mencapai 15% regangan aksial tetapi bisa dihentikan jika tegangan
deviator telah mencapai puncak dan kemudian turun 20%, atau regangan
aksial telah mencapai 5% di luar regangan di mana tegangan deviator
puncak terjadi
• Beban yang cukup dan pembacaan deformasi harus diambil untuk
mendefinisikan kurva tegangan-regangan
• Suatu sketsa atau foto harus dibuat berisi spesimen tes pada saat
keruntuhan, memperlihatkan sudut kemiringan bidang keruntuhan jika
sudut terlihat dan dapat diukur.

Suatu selubung keruntuhan Mohr yang tidak horizontal pada suatu lempung
lunak kemungkinan pertanda bahwa sampel tidak sepenuhnya jenuh. Hal ini
harus disebutkan pada lembar pengujian dan jika suatu nilai f didapati hasil
tersebut harus disertai dengan suatu catatan berisi peringatan.

Penerapan

Kekuatan triaksial yang didapat pada kondisi-kondisi tak terkonsolidasi tak


terdrainase berlaku untuk situasi-situasi desain di mana pembebanan sangat
cepat sehingga tidak cukup waktu untuk tekanan air pori yang terbentuk untuk
berdisipasi dan untuk konsolidasi terjadi (artinya drainase tidak terjadi).
Kekuatan triaksial yang diukur pada kondisi-kondisi UU digunakan untuk
menentukan kekuatan pada akhir konstruksi. Konstruksi timbunan pada deposit
lempung merupakan suatu contoh situasi di mana kuat geser tak terdrainase in
situ akan menentukan stabilitas.

60
Perlu dicatat bahwa kuat geser tak terdrainase ôf, tegangan geser pada bidang
keruntuhan pada saat keruntuhan diambil sebagai setengah kuat tekan tak
terdrainase (s1 -s3 ) yaitu

ó 1 − ó3
ôf =
2

4.3.2.2 Tes Terkonsolidasi-Tak Terdrainase (CU)


Suatu metode standar untuk melaksanakan tes kompresi triaksial terkonsolidasi-
tak terdrainase pada tanah-tanah kohesif dijelaskan pada ASTM D4767-88. Hal-
hal berikut dibuat berkenaan dengan penjelasan metode tes:
• spesimen yang dikonsolidasikan secara isotropis digeser tak terdrainase
pada kompresi dengan laju deformasi aksial yang konstan (kontrol
regangan)
• metode tersebut menyediakan perhitungan tegangan total dan efektif pada,
dan kompresi aksial spesimen tes melalui pengukuran beban aksial,
deformasi aksial dan tekanan air pori
• kekuatan dan sifat-sifat deformasi tanah-tanah kohesif, seperti selubung
kekuatan Mohr dan modulus Young, bisa ditentukan dari data tes
• tiga spesimen biasanya diuji pada tegangan konsolidasi efektif yang
berbeda untuk membuat suatu selubung kekuatan
• keruntuhan sering diambil berkaitan dengan tegangan deviator maksimum
yang dicapai atau tegangan deviator yang dicapai pada 15% regangan
aksial, tergantung yang mana dulu tercapai pada tes. Bergantung pada
perilaku tanah dan aplikasi lapangan, kriteria keruntuhan lainnya bisa
didefinisikan seperti rasio tegangan utama efektif s'1 /s'3 , atau tegangan
deviator pada regangan aksial yang dipilih selain 15%
• tekanan air pori bisa diukur menggunakan kalau tidak transducer tekanan
elektronik yang sangat kaku atau suatu alat yang menandakan nol
• komponen-komponen konsolidasi dan penggeseran dari tes harus dilakukan
pada suatu lingkungan di mana fluktuasi suhu kurang dari ±4°C dan tidak
ada kontak langsung dengan cahaya matahari
• penjenuhan dicapai dengan memberikan tekanan balik pada air pori
spesimen untuk membuat udara pada rongga pori menjadi larutan pada air
pori. Derajat penjenuhan diukur menggunakan parameter tekanan pori B
yang didefinisikan sebagai:

B = Äu/Äs3

di mana: Äu = perubahan tekanan pori spesimen yang terjadi sebagai


akibat perubahan tekanan sel pada saat katup drainase
spesimen tertutup dan

61
Äs3 = perubahan tekanan sel
• selama konsolidasi, data-data didapat untuk penggunaan pada penentuan
kapan konsolidasi selesai dan untuk menghitung laju regangan yang akan
digunakan untuk komponen penggeseran tes
• Konsolidasi dibiarkan berlanjut selama sekurang-kurangnya satu seri log
waktu atau satu periode semalam setelah 100% konsolidasi primer dicapai,
seperti yang ditentukan oleh salah satu prosedur yang dijelaskan di ASTM
D2435-90; waktu untuk 50% konsolidasi primer, t50 , ditentukan oleh salah
satu prosedur yang dijelaskan di ASTM D2435-90
• Jika keruntuhan diasumsikan terjadi setelah 4% regangan aksial, laju
regangan yang sesuai bisa diperoleh dengan membagi 4% terhadap 10 kali
nilai t50 ; jika diperkirakan keruntuhan akan terjadi pada nilai regangan yang
lebih rendah dari 4%, laju regangan yang sesuai didapat dengan membagi
regangan pada saat keruntuhan dengan 10 kali nilai t50
• Suatu sketsa atau foto harus dibuat mengenai spesimen yang runtuh yang
memperlihatkan cara keruntuhan (bidang geser, penonjolan, dan
sebagainya).

Penerapan

Kuat geser pada tes ini diukur pada kondisi-kondisi tak terdrainase dan bisa
diterapkan untuk kondisi lapangan di mana (i) tanah-tanah yang telah
sepenuhnya dikonsolidasikan pada satu rangkaian tegangan diberi suatu
perubahan tegangan tanpa kesempatan konsolidasi lebih lanjut terjadi dan (ii)
kondisi-kondisi tegangan lapangan mirip dengan yang di tes.

Karena pengukuran tekanan air pori dilakukan, kuat geser bisa dinyatakan
dalam bentuk tegangan efektif dan bisa diterapkan untuk kondisi-kondisi
lapangan di mana (i) drainase sempurna bisa terjadi atau (ii) di mana tekanan
pori yang timbul akibat pembebanan bisa diperkirakan dan (iii) di mana
kondisi-kondisi tegangan lapangan mirip dengan yang di lapangan.

Kuat geser yang didapat dari tes, dinyatakan dalam bentuk tegangan-tegangan
total atau efektif, biasanya digunakan pada analisis stabilitas timbunan.

4.3.2.3 Tes Terkonsolidasi-Terdrainase (CD)


Tahap-tahap penjenuhan, konsolidasi dan kompresi dari sebuah tes kompresi
triaksial terkonsolidasi terdrainase dengan pengukuran perubahan volume
dijelaskan pada Klausa 5,6 dan 8, masing-masing pada BS 1377: Part 8 : 1990.
Untuk kemudahan perujukan, klausa-klausa tersebut dicantumkan di sini pada
Appendiks B. Persiapan contoh tak terganggu untuk pengujian dijelaskan pada
Appendiks C.

Tahap Penjenuhan

Dua prosedur penjenuhan dijelaskan:

62
• Penjenuhan dengan memberikan kenaikan tekanan sel dan tekanan balik
secara bergantian. Tahap-tahap kenaikan tekanan sel dilaksanakan tanpa
membiarkan drainase masuk atau keluar spesimen, yang memungkinkan
nilai-nilai koefisien tekanan pori B untuk ditentukan pada masing-masing
tingkatan tekanan total
• Penjenuhan dengan hanya menaikkan tekanan sel; air tidak diizinkan untuk
masuk atau keluar spesimen selama prosedur ini sehingga diberi nama
"penjenuhan pada kadar air yang konstan".

Pada prosedur pertama spesimen dianggap jenuh jika tekanan pori tetap stabil
setelah 12 jam, atau semalam, dan nilai B sama dengan atau lebih besar dari
0,95. Pada prosedur kedua, spesimen dianggap jenuh jika salah satu kriteria ini
dipenuhi.

Tahap Konsolidasi

Tahap konsolidasi berlangsung segera setelah tahap penjenuhan dan memakai


alat yang sama. Tujuan dari tahap ini adalah untuk membuat spesimen berada
dalam keadaan tegangan efektif yang dibutuhkan untuk melaksanakan tes
kompresi.

Data dari tahap konsolidasi digunakan untuk:


• Memperkirakan laju regangan yang cocok untuk diterapkan selama tes
kompresi
• Menentukan kapan konsolidasi selesai
• Menghitung dimensi spesimen pada permulaan tahap kompresi.

Konsolidasi spesimen dilanjutkan sampai tidak ada lagi perubahan volume yang
signifikan dan sampai derajat konsolidasi U, seperti didefinisikan dalam
prosedur, sama dengan atau lebih besar dari 95%.

Suatu grafik perubahan volume yang terukur terhadap akar kuadrat waktu diplot
dan suatu metode penentuan t100 dari grafik dijelaskan; t100 digunakan untuk
memperkirakan waktu pengujian yang siginifikan (dalam menit) pada tes
kompresi dan sebab itu laju perpindahan aksial.

Formula-formula disajikan untuk menghitung koefisien konsolidasi cv


(m²/tahun), dan koefisien kompresibilitas volume mv (m²/MN) untuk
konsolidasi isotropik. Faktor-faktor yang akan digunakan waktu menghitung cv ,
dan waktu pengujian yang signifikan pada tes kompresi, diberikan pada sebuah
tabel sebagai fungsi kondisi drainase selama konsolidasi.

Tahap Kompresi

Selama kompresi, drainase bebas air pori dari spesimen diizinkan. Volume
cairan pori yang keluar atau masuk spesimen diukur melalui indikator
perubahan volume pada garis tekanan balik dan sama dengan perubahan volume

63
spesimen selama geser; tekanan pori bisa dimonitor pada dasar alat sebagai
suatu pengetesan efisiensi drainase.

Tes dilaksanakan dengan cukup lamban untuk menjaga perubahan-perubahan


tekanan pori akibat penggeseran dapat diabaikan. Kompresi diberi pada suatu
laju perpindahan aksial (dr, dalam mm/min) sedekat mungkin terhadap, tetapi
tidak melebihi yang diberikan oleh formula:

dr = (åf ×Lc)/tf

di mana: Lc = panjang spesimen yang terkonsolidasi, mm

åf = interval regangan yang signifikan untuk spesimen tes

tf = waktu pengujian yang siginifikan, menit

Nilai tf diberikan sebagai:

tf = Ft100

di mana F diambil dari tabel yang disebutkan sebelumnya. Sebagai


contoh, jika rasio tinggi terhadap diameter spesimen adalah 2 dan
drainase selama konsolidasi adalah dari batas radial dan kedua ujung,
nilai F untuk suatu tes terdrainase adalah 16.

Nilai åf diperkirakan dengan mempertimbangkan hal-hal berikut:


1) jika hanya kondisi tegangan pada saat keruntuhan (seperti didefinisikan di
bawah) yang signifikan, åf adalah regangan perkiraan pada saat keruntuhan
akan terjadi
2) jika pembacaan-pembacaan antara yang memiliki rentang kurang lebih
sama, masing-masing membutuhkan penyamaan tekanan pori, adalah
signifikan, åf adalah kenaikan regangan antara masing-masing pembacaan.

Kriteria untuk kondisi tegangan pada saat keruntuhan diberikan pada Klausa 1
BS 1377 : Part 8 : 1990 dan adalah sebagai berikut:
• tegangan maksimum deviator, yaitu perbedaan tegangan utama maksimum,
(s 1 - s3 )f.
• rasio tegangan utama efektif maksimum, s '1 /s '3 .
• jika penggeseran berlanjut pada tekanan pori yang konstan (kondisi tak
terdrainase) atau tanpa perubahan volume (kondisi terdrainase), di kedua
kasus pada tegangan geser yang konstan.

Tekanan pori harus diamati secara periodik dan jika dia bervariasi terhadap
nilai-nilai tekanan balik dengan lebih dari 4% tekanan keliling efektif, laju
regangan harus dikurangi 50% atau lebih.

64
Sekurangnya 20 rangkaian pembacaan pengukur deformasi, alat gaya dan
pengukur perubahan volume harus dilakukan agar kurva tegangan-regangan
dapat didefinisikan secara jelas di sekitar keruntuhan.

Tes dilanjutkan sampai kondisi-kondisi berikut telah secara jelas diidentifikasi:


• tegangan deviator maksimum, atau
• deformasi geser tetap berlangsung pada volume konstan dan tegangan geser
konstan.

Jika tidak satupun kondisi-kondisi keruntuhan yang diperlukan nampak, tes


dihentikan pada regangan aksial 20%; pada kasus ini kuat geser tidak
dilaporkan.

Penerapan

Hasil-hasil tes CD yang dilakukan pada tanah kohesif bisa diterapkan pada
situasi-situasi di mana konstruksi akan berlangsung pada laju yang cukup
lambat sehingga tidak ada tekanan pori ekses yang terjadi atau waktu yang
cukup telah lewat sehingga semua tekanan pori ekses telah terdisipasi
(AASHTO 1988).

4.3.3 Komentar-komentar mengenai Tes-tes Laboratorium


untuk Menentukan Kuat Geser Tanah-tanah Organik dan
Gambut
Pada kasus tanah-tanah organik dengan permeabilitas yang rendah, penggeseran
sampai runtuh pada tes triaksial bisa kadang-kadang berlangsung berminggu-
minggu (Lechowicz et al., 1996).

Hasil-hasil tes triaksial pada gambut berserat sangat sulit untuk diinterpretasi.
Serat-serat bertindak sebagai perkuatan horizontal dengan hasil bahwa
keruntuhan jarang terjadi pada tes terdrainase; hanya kompresi yang besar
terjadi. Pada tes-tes tak terdrainase, keruntuhan biasanya terjadi saat timbulnya
tekanan pori sangat besar sehingga tegangan tarik terjadi dan sampel retak.
Perilaku ini sangat berbeda dengan bahan-bahan berbutir dan lempung dan
memerlukan interpretasi yang berbeda (Lechowicz et al., 1996).

Sehubungan dengan penentuan kuat geser di laboratorium, McGown dan Jarrett


(1997b) mempertimbangkan dua kategori luas tanah-tanah organik dan gambut:

Bahan-bahan kategori A memiliki kadar organik yang rendah atau dengan kadar
organik yang terurai dengan baik (amorphous); Bahan-bahan kategori B
memiliki kadar organik yang tinggi dan pembusukan yang rendah. Pada kasus
bahan-bahan kategori B, kehadiran serat akan mengontrol atau sangat
mempengaruhi perilaku.

Sumber yang disarikan langsung dari McGown dan Jarret (1997b) diberikan di
bawah.

65
Pada kategori pertama (A), bahan-bahan akan memiliki permeabilitas yang
relatif rendah, tetap akan agak sangat mudah terkompresi berdasarkan standar-
standar pada umumnya dan memiliki kuat geser yang relatif rendah jika
terkonsolidasi normal. Desain dan analisis mungkin bisa dicoba menggunakan
metode-metode untuk "tanah inorganik normal". Stabilitas awal bisa dihitung
sebagai tak terdrainase, umumnya menggunakan parameter-parameter dari tes-
tes baling, penetrometer atau triaksial. Perilaku jangka panjang akan
menggunakan parameter-parameter tegangan efektif yang bisa diperoleh dari tes
triaksial.

Untuk kategori kedua (B), bahan berserat, gambaran yang lebih kompleks
terlihat. Bahan-bahan ini cenderung memiliki permeabilitas yang tinggi sampai
kompresi yang signifikan terjadi. Karena permeabilitas yang tinggi, kondisi tak
terdrainase tidak bia sanya terjadi di lapangan, baik di bawah timbunan atau
selama percobaan-percobaan pengujian kuat geser in situ. Oleh karena itu
metode-metode stabilitas awal yang terdrainase tak berlaku.

Skenario kekuatan lebih lanjut diperumit dengan efek perkuatan dari serat-serat.
Tes-tes kompresi triaksial terkonsolidasi-terdrainase dari bahan-bahan ini
biasanya menghasilkan kompresi yang sangat besar namun tanpa keruntuhan
geser bahkan pada regangan 40 sampai 50 persen. Dengan drainase yang
diizinkan, sampel-sampel menyerupai papan serat yang terkompresi setelah
pengujian. Landva dan La Rochelle memberikan suatu diskusi yang rinci
berkenaan dengan efek serat pada kebanyakan tes-tes kekuatan tanah "standar".
Mereka menyimpulkan bahwa untuk bahan-bahan berserat nampaknya semua
tes-tes tersebut tidak dapat diterapkan untuk mencari parameter-parameter kuat
geser untuk desain geoteknik. Mereka berpendapat bahwa tes geser cincin akan
memberikan estimasi parameter-parameter kuat geser yang paling baik. Namun
sejauh penilaian tertentu, hal ini tidak penting karena timbunan-timbunan pada
bahan-bahan ini cenderung tidak runtuh karena kurangnya stabilitas geser tetapi
lebih karena kompresi yang berlebihan dan penurunan. Pengujian triaksial
meskipun begitu tetap penting karena hasil-hasil tegangan-regangan
dibutuhkan untuk meneliti deformasi dan kompresi geser tetapi tidak selubung
keruntuhan. Karena regangan yang besar tanpa keruntuhan pada gambut-
gambut berserat, beberapa peneliti mendapatkan selubung kekuatan berdasarkan
pada tegangan-tegangan pada nilai regangan yang sembarang, contohnya 20%
atau 25%. Pendekatan ini tidak tepat dan rancu.

Baru-baru ini penggunaan tes Geser Murni untuk mendapatkan baik selubung
keruntuhan dan parameter-parameter deformasi tegangan baik bahan-bahan
berserat dan bahan-bahan amorphous teruraikan. Rowe dan Myleville
menampilkan analisis suatu catatan kasus di mana selubung keruntuhan dan
perilaku tegangan regangan untuk baik lanau organik, (Kategeori A) dan untuk
gambut berserat, (Kategori B) diperoleh menggunakan alat geser murni.
Informasi tes yang dihasilkan digunakan untuk menyediakan input terhadap
suatu analisis elemen hingga.

Penelitian yang disebutkan pada sari di atas sepenuhnya dirujuk pada McGown
dan Jarrett (1997b).

66
4.4 TES KONSOLIDASI

Jika suatu beban diberikan pada suatu deposit lempung jenuh ada tiga jenis
penurunan:
• penurunan awal.
• penurunan konsolidasi.
• kompresi sekunder (konsolidasi).

Penurunan konsolidasi terjadi sebagai akibat perubahan volume yang berkaitan


dengan disipasi tekanan pori ekses; kompresi sekunder melibatkan perubahan
volume pada tegangan efektif konstan yaitu setelah disipasi tekanan pori ekses
selesai. Tes laboratorium yang biasanya digunakan untuk mengevaluasi
penurunan konsolidasi dan kompresi sekunder adalah tes konsolidasi satu
dimensi atau tes oedometer. Tes ini dijelaskan pada Bagian 4.4.1 di bawah.
Suatu prosedur untuk menentukan sifat-sifat konsolidasi menggunakan sel
hidrolik dijelaskan pada Bagian 4.4.2.

4.4.1 Tes Konsolidasi Satu Dimensi


ASTM D2435-90 menjelaskan suatu metode tes standar untuk menentukan
besar dan laju konsolidasi tanah saat dia ditahan secara lateral dan didrainase
secara aksial sementara diberi beban tegangan terkontrol secara bertahap.
ASTM D4186-89 menjelaskan beberapa prosedur untuk menentukan sifat-sifat
tanah tersebut saat pembebanan regangan terkontrol digunakan.

ASTM D2435-90 menyediakan dua metode tes sebagai berikut:

Metode Tes A: tes dilaksanakan dengan suatu tambahan beban konstan selama
24 jam atau kelipatannya. Bacaan waktu-deformasi diperlukan sekurang-
kurangnya dua tambahan beban, termasuk sedikitnya satu tambahan setelah
tekanan prakonsolidasi telah dilewati.

Metode Tes B: bacaan-bacaan waktu-deformasi diperlukan untuk semua


tambahan beban. Tambahan beban secara bergantian diberikan setela h 100%
konsolidasi primer dicapai atau pada tambahan waktu konstan seperti dijelaskan
pada Metode Tes A.

Urutan pembebanan standar menerapkan suatu rasio tambahan beban (LIR) satu
(artinya tekanan yang diberikan pada tahap manapun dua kali tahap sebelumnya
pada urutan) untuk mendapatkan nilai-nilai sekitar 12, 25, 50, 100 kPa dan
seterusnya. (Saat konsolidometer diletakkan pada alat pembebanan suatu
tekanan dudukan sebesar 5 kPa diberikan). Rangkaian pantulan pelepasan beban
standar dilakukan dengan membagi dua besarnya tekanan pada tanah yaitu
tambahan yang sama seperti diterangkan di atas tetapi dengan urutan yang
terbalik. Jika diinginkan, masing-masing beban bergantian pada urutan
pelepasan beban bisa seperempat besarnya beban sebelumnya.

67
Sifat-sifat waktu-deformasi: untuk tambahan-tambahan beban di mana bacaan
waktu-deformasi diperoleh, dua prosedur alternatif disediakan untuk
menyajikan data, menentukan akhir konsolidasi primer dan menghitung laju
konsolidasi. Pada satu prosedur, deformasi diplot terhadap log waktu, pada
lainnya terhadap akar kuadrat waktu. Nilai-nilai yang sesuai dengan prosedur
yang digunakan dimasukkan ke dalam suatu persamaan untuk menghitung
koefisien konsolidasi cv untuk masing-masing tambahan beban.

Koefisien kompresi sekunder die valuasi untuk masing-masing tambahan beban


dan didapatkan dari deformasi versus plot log waktu.

Sifat-sifat beban-deformasi: karakteristik kompresibitas diperoleh dengan


memplot kompresi spesimen (dalam bentuk angka pori atau regangan) sebagai
ordinat terhadap tekanan yang diberikan sebagai absis, pada suatu skala
logaritmik. Tekanan prakonsolidasi (tekanan maksimum yang dialami tanah)
ditentukan dari plot tersebut menggunakan Metode Casagrande.

Metode tes menggunakan teori konsolidasi konvensional berdasarkan


persamaan konsolidasi Terzaghi untuk menghitung koefisien konsolidasi cv .
Analisis berdasarkan pada asumsi-asumsi berikut ini:
• tanah jenuh dan memiliki sifat-sifat homogen.
• aliran tekanan pori arahnya vertikal.
• kompresibilitas partikel-partikel tanah dan air pori bisa diabaikan bila
dibandingkan terhadap kompresibilitas kerangka tanah.
• hubungan tegangan-regangan linear sepanjang tambahan beban.
• rasio permeabilitas tanah terhadap kompresibilitas tanah konstan sepanjang
tambahan beban.
• hukum Darcy untuk aliran melalui media berpori berlaku.

Rasio diameter spesimen minimum terhadap rasio tinggi adalah 2,5 tetapi untuk
meminimalkan pengaruh friksi antara sisi-sisi spesimen dan cincin
konsolidometer, rasio diameter terhadap tinggi yang lebih besar dari 4 lebih
disukai.

Gangguan contoh sangat mengurangi kualitas dari hasil-hasil tes konsolidasi;


pemeriksaan yang teliti terhadap sampel penting pada saat pemilihan sampel
untuk pengujian. Tes harus dilaksanakan pada suatu lingkungan di mana
fluktuasi suhu kurang dari ±4°C dan tidak ada pencahayaan langsung dari sinar
matahari.

Penerapan

Data yang diperoleh dari tes, jika dilaksanakan pada spesimen tak terganggu
representatif yang berkualitas baik, memungkinkan besarnya penurunan di
bawah suatu struktur untuk diestimasi. Nilai-nilai koefisien konsolidasi
memungkinkan suatu indikasi laju penurunan teoritis untuk diperoleh.

68
Meskipun begitu, waktu penurunan yang diprediksi bisa lebih besar dari yang
diperoleh di praktek dan harus dipandang secara berhati-hati.

4.4.1.1 Penentuan Karateristik Pengembangan dan Keruntuhan


ASTM D4546-90 menjelaskan tiga metode laboratorium alternatif untuk
menentukan besarnya kembang atau penurunan dari tanah kohesif yang relatif
tak terganggu atau dipadatkan.

Metode-metode tes bisa digunakan untuk:


(i) menentukan besarnya kembang atau penurunan akibat tekanan (aksial)
vertikal yang diketahui atau
(ii) menentukan besarnya tekanan vertikal yang diperlukan untuk
mempertahankan volume yang tidak berubah dari spesimen yang dibatasi
secara lateral dan dibebani secara aksial

Alat yang digunakan adalah yang dipakai untuk tes konsolidasi satu dimensi
(ASTM D2435-90) yang dijelaskan pada Bagian 4.4.1 di atas.

Prosedur-prosedur dijelaskan pada Klausa 4, BS 1377 : Part 5 : 1990 untuk


penentuan karakteristik pengembangan dan keruntuhan tanah menggunakan alat
yang sama seperti konsolidasi satu dimensi yang dijelaskan pada Klause 3 dari
Standar.

4.4.2 Penentuan Sifat-sifat Konsolidasi Menggunakan Sel


Hidraulik
Klausa 3 BS 1377 : Part 6 : 1990 menjelaskan prosedur-prosedur untuk
menentukan besar dan laju konsolidasi spesimen tanah yang memiliki
permeabilitas yang relatif rendah menggunakan alat yang membebani secara
hidraulik (Alat yang dikenal sebagai Rowe Cell termasuk jenis ini).

Spesimen berbentuk silinder, dibatasi secara lateral dan diberi tekanan aksial
vertikal secara hidraulik. Diameter spesimen biasanya berkisar antara 75 mm
sampai 254 mm, dan spesimen bisa dianggap lebih representatif dibandingkan
dengan yang digunakan pada konsolidometer standar. Berbagai pilihan drainase
tersedia:
• drainase vertikal hanya ke permukaan atas, dengan pengukuran tekanan pori
pada tengah-tengah dasar
• drainase vertikal ke kedua permukaan atas dan dasar
• drainase radial hanya ke arah luar keliling, dengan pengukuran tekanan pori
pada tengah-tengah dasar
• drainase radial ke arah dalam menuju suatu drainase tengah dengan
pengukuran tekanan pori pada satu atau lebih titik di luar tengah.

69
Permeabilitas pada arah horizontal dan vertikal bisa ditentukan menggunakan
alat yang sama, dan beberapa peralatan tambahan, seperti dijelaskan pada
Klausa 4, BS 1377 : Part 6 : 1990.

4.4.3 Komentar-komentar Mengenai Tes-tes Laboratorium


untuk Menentukan Karakteristik Konsolidasi Tanah-
tanah Organik dan Gambut
Mc Gown dan Jarret (1997b) mengamati bahwa terdapat variasi pada perilaku
tanah organik yang membutuhkan ketelitian saat menganalisis konsolidasi;
kelonggaran harus diberikan untuk perubahan yang besar pada sifat-sifat bahan
seperti permeabilitas sepanjang rentang tegangan yang relatif kecil, non-
linearitas kurva kompresi virjin dan pengaruh ketergantungan pada waktu yang
besar. Meskipun begitu, seperti yang dinyatakan oleh penulis-penulis tersebut,
parameter-parameter yang layak untuk konsolidasi primer bisa diperoleh dari
pengujian yang cermat spesimen-spesimen yang besar; spesimen dengan
diameter minimum 100 mm dan lebih baik yang 150 mm atau lebih besar
dibutuhkan untuk meliputi variabilitas skala kecil.

Tantangan utama menurut McGown dan Jarret adalah membedakan kompresi


primer dan sekunder saat perilaku penurunan versus waktu pada tes tidak
mengikuti pola yang normal untuk tanah-tanah lunak inorganik. Pada saat ini
tidak ada kesepakatan mengenai metodologi umum untuk mengatasi masalah ini
dan pendekatan yang disarankan oleh para penulis tersebut untuk analisis satu
dimensi adalah dengan mengikuti prosedur-prosedur normal untuk
mendapatkan hubungan dasar tegangan yang diberikan versus angka pori. Studi
yang cermat terhadap hasil-hasil tersebut akan diperlukan untuk meneliti
koefisien kompresi sekunder. Ini bisa dibantu dengan melakukan tes konsolidasi
dengan satu tambahan yang besar sepanjang rentang tegangan problem.
Problem yang tersisa kemudian adalah bagaimana mengkombinasikan
konsolidasi primer dan sekunder.

4.5 TES-TES PERMEABILITAS

Sifat-sifat tanah fundamental yang berkaitan dengan aliran cairan adalah


permeabilitas. Karakteristik cairan (atau permeant) dan tanah yang
mempengaruhi permeabilitas didiskusikan oleh Lambe dan Whitman (1979).

Pada kasus tanah-tanah yang bisa tembus air, viskositas dan berat isi adalah
satu-satunya variabel-variabel cairan yang mempengaruhi permeabilitas.
Variabel lebih lanjut yang bisa memiliki pengaruh yang besar terhadap
permeabilitas tanah berbutir halus yang relatif kedap air adalah polaritas cairan.

Karakteristik-karakteristik tanah yang mempengaruhi permeabilitas adalah:


1) Ukuran partikel
2) Angka pori

70
3) Komposisi
4) Fabric
5) Derajat penjenuhan.

Karena karakteristik-karakteristik ini saling berhubungan, sulit untuk


mengisolasikan pengaruh mereka secara terpisah.

Tes-tes yang digunakan di laboratorium untuk mengukur permeabilitas


termasuk:
• permeameter
• permeameter tinggi tenaga jatuh
• pengukuran langsung atau tidak langsung selama tes oedometer
• sel konsolidasi hidraulik.

Dinyatakan dalam Lambe danWhitman (1979) bahwa penentuan permeabilitas


laboratorium lebih mudah dibandingkan penentuan lapangan. Meskipun begitu,
permeabilitas sangat bergantung pada fabric tanah (baik microstructure dan
macrostructure) dan karena sulitnya mengambil sampel tanah yang
representatif, penentuan permeabilitas lapangan sering diperlukan untuk
mendapatkan petunjuk permeabilitas rata-rata yang baik.

Klausa 5 BS 1377: Part: 1990 menjelaskan suatu prosedur untuk penentuan


permeabilitas menggunakan permeameter tinggi tenaga konstan di mana aliran
air melalui sampel adalah laminer. Volume air yang melewati tanah pada suatu
waktu yang diketahui diukur, dan gradien hidraulik diukur menggunakan
tabung-tabung manometer. Prosedur ini cocok untuk tanah-tanah yang memiliki
koefisien permeabilitas antara 10 –2 sampai 10 –5 m/detik.

Klausa 6 BS 1377: Part 6: 1990 menjelaskan suatu metode untuk mengukur


koefisien permeabilitas spesimen silinder tanah pada alat triaksial yang kondisi
tegangan efektif diketahui, dan diberi tekanan balik. Volume air yang melalui
tanah pada waktu yang diketahui, dan gradien hidraulik yang konstan, diukur.

Metode ini cocok untuk tanah-tanah yang memiliki permeabilitas rendah dan
menengah.

Spesimen tes biasanya memiliki diameter sekitar 100 mm dan tinggi 100 mm
tetapi spesimen dengan dimensi yang berbeda dari diameter 38 mm ke atas bisa
digunakan. Sebelum memulai tes, kondisi-kondisi tes berikut harus dinyatakan:
• ukuran spesimen tes
• arah aliran air
• metode penjenuhan
• tegangan efektif pada masing-masing pengukuran permeabilitas yang akan
dilaksanakan

71
• apakah angka pori akan dihitung.

Pengaturan sel dan peralatan untuk tes permeabilitas triaksial diperlihatkan pada
Figure 10 BS 1377: Part 6: 1990.

Suatu metode penentuan permeabilitas pada sel konsolidasi hidraulik dijelaskan


pada Klausa 4, BS 1377: Part 6: 1990. Metode tersebut mencakup pengukuran
koefisien permeabilitas dari spesimen tanah yang dibatasi secara lateral dengan
tegangan efektif vertikal yang diketahui, dan diberi tekanan balik. Volume air
yang melewati tanah pada suatu waktu yang diketahui, dan dengan suatu
gradien hidraulik konstan, diukur. Arah aliran bisa kalau tidak vertikal (paralel
terhadap sumbu spesimen) atau horizontal (ke arah luar atau dalam secara
radial).

Metode ini cocok untuk tanah-tanah dengan permeabilitas rendah dan


menengah.

4.6 SPESIFIKASI PROGRAM PENGUJIAN


LABORATORIUM DAN PARAMETER-PARAMETER
TES LABORATORIUM

Insinyur geoteknik harus menetapkan tes yang akan dilaksanakan pada sampel
yang diambil dari masing-masing lubang bor dan, bila perlu, kondisi-kondisi
tegangan dan kelembaban yang akan digunakan pada saat pelaksanaan tes. Dia
harus memberikan kepada manajer laboratorium program tes tertulis yang detail
yang akan dilaksanakan dan suatu komentar mengenai parameter-parameter tes
yang akan digunakan. Contoh-contoh format yang disarankan untuk merinci
program tes dan komentarnya diberikan di bawah. Jadwal pengujian umum
disertakan pada Bagian 3.

4.6.1 Program Pengujian Laboratorium


Proyek Petunjuk Indon-GMC di Institute of Road Engineering (IRE) Bandung
yang terutama merupakan proyek penelitian dan penyelidikan lapangan dan
laboratorium didesain dengan tujuan karakterisasi tanah lunak dan gambut pada
tempat-tempat yang representatif di Indonesia. Tempat-tempat yang diteliti
termasuk tempat 'tanah lunak' di Bandung yang berdekatan dengan jalan tol
Padalarang-Cileunyi (Panci) dan tempat 'gambut' di Pulang Pisau Kalimantan
Tengah. Program pengujian laboratorium yang dikembangkan, instruksi yang
diberikan kepada tim lapangan dan parameter-parameter tes laboratorium yang
dispesifikasikan menggambarkan pendekatan yang penyelidikan lapangan yang
terintegrasi.

Instruksi rinci yang diberikan kepada pekerja -pekerja pengeboran pada tempat
Panci diperlihatkan pada Gambar 4-10. Program pengujian laboratorium yang
dikembangkan untuk Lubang Bor 103 dan 105 Panci diperlihatkan pada

72
Gambar 4-11 dan 4-12, masing-masing; program-program tes yang
dikembangkan untuk sampel yang diambil dari Lubang Bor 201 dan 203 di
tempat 'gambut' Pulang Pisau diperlihatkan, secara bergantian, pada
Gambar 4-13 dan 4-14.

4.6.2 Parameter-parameter Tes Laboratorium


Gambar 4-15 dan 4-16, secara bergantian, memperlihatkan parameter-parameter
tes yang digunakan saat menerapkan program tes yang ditetapkan untuk Lubang
Bor 103 dan 105 Panci (Gambar 4-11 dan 4-12); parameter-parameter tes
diberikan pada Gambar 4-17 dan 4-18 secara bergantian untuk program-
program tes yang dikembangkan untuk Lubang Bor 201 dan 203 Pulang Pisau
(Gambar 4-13 dan 4-14).

Instruksi-instruksi yang diberikan kepada tim-tim lapangan dan laboratorium


untuk penyelidikan Panci dan Pulang Pisau komprehensif dan jelas. Tes-tes
yang akan dilaksanakan pada masing-masing sampel dari masing-masing
lubang bor ditentukan, seperti halnya parameter-parameter tes. Rujukan dibuat
terhadap standar-standar yang sesuai karena penting untuk melakukan tes-tes.
Tidak semua dari tes yang diperlihatkan pada program tes mungkin diperlukan
untuk suatu penyelidikan tertentu. Meskipun begitu, apapun ruang lingkup
pekerjaan, tingkat detail yang sama diperlukan saat menetapkan parameter-
parameter tes dan prosedur-prosedur.

73
PROYEK PANDUAN INDON-GMC

No. LOKASI 1001 LOKASI Bandung


Kedalaman
(m) 102 103 104
DETIL INSTRUKSI PEMBORAN
0.0
= Sampel yang diambil dengan
0.5 Piston

1.0 PENGAMBILAN SAMPEL TAK TERGANGGU


DENGAN PISTON HINGGA KEDALAMAN 15 m
1.5 di 102, 103, 104

2.0 102 DIBOR HINGGA DASAR SEDIMEN LUNAK


DARI 15m DENGAN PENGAMBILAN SAMPEL
2.5 TERGANGGU

3.0 Lubang Bor yang lain:


a. Kuat Geser Baling-baling NGI max hingga 15m
3.5 di BH 105
b. Kuat Geser Baling-baling FARNELL max hingga
4.0 15 m di BH 106
c. Sondir max hingga 15m di BH 107
4.5

5.0

5.5

6.0

6.5

7.0

7.5

8.0

8.5

DST

Gambar 4-10 Lembar Instruksi Sampel Lubang Bor Tipikal

74
NO. KEDA- PANJANG PENGUJIAN TRIAKSIAL GESER UJI KONSOLIDASI KLASIFIKASI
SAMPEL LAMAN SAMPEL LANGSUNG BALING-
m cm UU CU CD BALING VERTIKAL HORISONTAL
PS 1 0.4 Xd X Xd Xd Xd
PS 2 0.4 X X Xd Xd Xd
PS 3 0.44 Xd X Xd Xd Xd
PS 4 0.33 X X Xd Xd Xd
PS 5 0.4 Xd X Xd X Xd
PS 6 0.4 Xd X X X Xd
PS 7 0.4 Xd Xd X X Xd
PS 8 0.4 X X X X Xd
PS 9 0.4 X X X X X
PS 10 0.4 X X X X X
PS 11 0.42 X X X
PS 12 0.38 X X X X
PS 13 0.4 X X X X X
PS 14 0.41 X X X X X
PS 15 0.41 X X X X X
PS 16 0.4 X X X X X

Klasifikasi terdiri dari keseluruhan pengujian yang sesuai :


* Batas-batas Atterberg
* Distribusi Ukuran Partikel
* Loss on Ignition
* pH
* Pengujian-pengujian Kimia, - Kadar Garam, Kadar Karbonat, Kadar Sulfat, Kadar Organik

Gambar 4-11 Program Pengujian Laboratorium BH 103 Panci

NO. KEDA- PANJANG PENGUJIAN TRIAKSIAL GESER UJI KONSOLIDASI KLASIFIKASI


SAMPEL LAMAN SAMPEL LANGSUNG BALING-
m cm UU CU CD BALING VERTIKAL HORISONTAL
PS 1 0.3 X X X
PS 2 0.4 X X
PS 3 0.4 X X X X
PS 4 0.4 X X
PS 5 0.4 X X X X
PS 6 0.4 X X
PS 7 0.4 X X X X
PS 8 0.4 X X
PS 9 0.4 X X X X
PS 10 0.4 X X
PS 11 0.33 X X X X
PS 12 0.4 X X
PS 13 0.4 X X X X
PS 14 0.4 X X

Klasifikasi terdiri dari keseluruhan pengujian yang sesuai :


* Batas-batas Atterberg
* Distribusi Ukuran Partikel
* Loss on Ignition
* pH
* Pengujian-pengujian Kimia, - Kadar Garam, Kadar Karbonat, Kadar Sulfat, Kadar Organik

Gambar 4-12 Program Pengujian Laboratorium BH 105 Panci

75
NO. JENIS TIPE KEDALAMAN PANJANG PENGUJIAN TRIAKSIAL GESER UJI KONSOLIDASI
SAMPEL TANAH SAMPEL m SAMPEL LANGSUNG BALING-
cm UU CU CD BALING VERTIKAL HORISONTAL
201.001 Gambut PS 0.5-0.93 0.43 X X
201.002 Gambut DS 1.40-1.50
201.003 Gambut DS 1.50-1.90
201.004 Gambut PS 2.50-2.93 0.43 X X
201.005 Gambut PS 3.50-3.93 0.43 X X
201.006 Gambut PS 4.50-4.93 0.43 X X
201.007 Gambut PS 5.50-5.93 0.43 X X
201.008 Lempung Organik PS 6.50-6.93 0.43 X X
201.009 Lempung PS 7.50-7.93 0.43 X X
201.01 Lempung PS 8.50-8.93 0.43 X X
201.011 Lempung PS 9.50-9.93 0.43 X X
201.012 Lempung PS 10.50-10.93 0.43 X X
201.013 Pasir Kelempungan PS 11.50-11.93 0.43 X X
201.014 Pasir Kelempungan DS 11.93-11.93

KLASIFIKASI : untuk Gambur lakukan Pengujian LL dan PL, Kadar Serat, Von Post, Kadar Organik, (Loss on Ignition dan Kimia), pH dan Konduktivitas.
Untuk lebih jelasnya, lihat komentar untuk Kalimantan.
Untuk lempung, sama seperti proses di Panci.

Gambar 4-13 Program Pengujian Laboratorium BH 201 Pulang Pisau

NO. JENIS TIPE KEDALAMAN PANJANG PENGUJIAN TRIAKSIAL GESER UJI KONSOLIDASI
SAMPEL TANAH SAMPEL m SAMPEL LANGSUNG BALING-
cm UU CU CD BALING VERTIKAL HORISONTAL
201.001 Gambut PS 0.5-0.93 0.43 X X
201.002 Gambut DS 1.40-1.50
201.003 Gambut DS 1.50-1.90
201.004 Gambut PS 2.50-2.93 0.43 X X
201.005 Gambut PS 3.50-3.93 0.43 X X
201.006 Gambut PS 4.50-4.93 0.43 X X
201.007 Lempung Organik PS 5.50-5.93 0.43 X X
201.008 Lempung PS 6.50-6.93 0.43 X X
201.009 Lempung PS 7.50-7.93 0.43 X X
201.01 Lempung PS 8.50-8.93 0.43 X X
201.011 Lempung PS 9.50-9.93 0.43 X X
201.012 Lempung PS 10.50-10.93 0.43 X X
201.013 Pasir Kelempungan PS 11.50-11.93 0.43 X X
201.014 Pasir Kelempungan DS 11.93-11.93

CATATAN Pada formulir yang saya terima ada dua Sampel 203.005.1 yang diindikasikan sebagai sebuah sampel DS tetapi memiliki panjang sampel seperti pada PS melebihi kisaran PS yang disyaratkan.
Sampel-sampel ini juga menunjukkan panjang penembusan 0.48m, saya tidak yakin hal ini dapat terjadi tanpa "penembusan berlebihan (oberdriving)" pada sampel.
Hal ini harus diklarifikasi.
Dalam menyusun pengujian-pengujian ini, saya mengasumsikan Kotak Penggeseran telah diubah untuk sampel dengan ketebalan 25mm. Saya masih lebih menyetujui agar kita melakukan
pengujian konsolidasi yang terdrainase sempurna pada kotak geser ini. Hal ini harus dilakukan pada level Tegangan Normal yang berada pada kisaran Tegangan Efektif Setempat

KLASIFIKASI : untuk Gambur lakukan Pengujian LL dan PL, Kadar Serat, Von Post, Kadar Organik, (Loss on Ignition dan Kimia), pH dan Konduktivitas.
Untuk lebih jelasnya, lihat komentar untuk Kalimantan.
Untuk lempung, sama seperti proses di Panci.

Gambar 4-14 Program Pengujian Laboratorium BH 203 Pulang Pisau

76
1) Pengujian untuk tabung-tabung tersebut harus dikoordinasikan dengan Manajer Laboratorium
untuk meyakinkan bahwa kebanyakan pengujian UU, Geser Langsung dan Konsolidasi bisa
dimulai secara bersamaan.

2) Pengujian UU harus menggunakan tekanan sel berikut:


• PS. 1,3,5,7 0.2 dan 0.8 kg/cm2
• PS 9, 12, 14, 16 0.4 dan 1.6 kg/cm2

3) Uji Geser Langsung harus menggunakan tegangan-tegangan normal berikut:


• PS 1 sampai PS 7 0,2, 0,4 dan 0,8 kg/cm2
• PS 8 sampai PS 16 0,4, 0,8 dan 1,6 kg/ cm2
• Usaha-usaha harus dilakukan untuk merubah alat sehingga sampel bisa lebih tebal dan
memungkinkan pengujian bisa lebih lambat untuk meyakinkan sampel sepenuhnya
terdrainase selama geser.

4) Tes Baling harus dilaksanakan pada tabung-tabung PS 2, 4, 6, 8, 10, 13, 15 dengan tes baling
di antara kedalaman berikut dari atas sampel:
• 2,5 sampai 5,0 cm
• 7,5 sampai 10,0 cm
• 23 sampai 25,5 cm
• 36,5 sampai 39 cm
• Prosedur tes baling yaitu memasukkan dengan SANGAT HATI-HATI baling
sehingga ujung atas baling 2,5 cm dari permukaan tanah, lalu lakukan tes.

5) Spesimen Konsolidasi harus diambil dari 12,5 sampai 20,5 cm dari ujung sampel.

6) Spesimen Geser Langsung harus diambil dari 28 sampai 34 cm dari ujung sampel.

Gambar 4-15 Komentar mengenai pengujian BH 103 Panci

77
1) Tes-tes CU akan dilaksanakan pertama kali dengan spesimen-spesimen CD dicadangkan
sampai hasil tes CU telah selesai dianalisis.
2) Tabung-tabung tidak boleh dibuka sampai spesimen CU dari tabung tersebut dibutuhkan.
Baru setelah spesimen-spesimen CU dikeluarkan kemudian pengujian konsolidasi dan
klasifikasi untuk tabung tersebut bisa berlangsung.
3) Pengujian klasifikasi dilaksanakan pada 5 cm bagian atas setiap tabung ditambah kelebihan
bahan yang dipotong dari sekitar spesimen lainnya. Kadar air alami diperoleh dari
pemotongan semua spesimen untuk membentuk suatu profil lengkap kadar air terhadap
kedalaman.
4) Pengujian Terkonsolidasi Tak Terdrainase dengan pengukuran tekanan air pori.
Tekanan Balik minimum harus sebesar 1.0 kg/cm2
Tekanan sel efektif harus seperti yang ditunjukkan berikut untuk 3 spesimen pada masing-
masing set:
PS 2 dan PS 4, 0,2, 0,4, 0,8 kg/ cm2
PS 6 dan PS 8, 0,3, 0,6, 1,2 kg/ cm2
PS 10 dan PS 12, 0,4, 0,8, 1,6 kg/ cm2
PS 14, 0,5, 1,0, 2,0 kg/ cm2
• Catatan: Tekanan Sel Efektif = Tekanan Sel – Tekanan Balik
• Pada awalnya Laju Regangan 2% per jam disarankan untuk digunakan untuk
memungkinkan keruntuhan geser terjadi dalam waktu Tujuh Jam (Jam Kerja). Hal ini
bisa dirubah seraya pengalaman pengujian bertambah.
• Fase konsolidasi akan dilaksanakan dengan drainase dari KEDUA ujung spesimen.
• Drainase Spiral bisa digunakan untuk mempercepat penyamaan baik konsolidasi
maupun air pori.
• Kelola dan percobaan analisis Laju Konsolidasi, dengan melakukan beberapa tes
dengan drainase satu arah dan pengukuran tekanan air pori selama konsolidasi. Tes-
tes ini untuk meyakinkan bahwa konsolidasi primer telah selesai selama periode
konsolidasi semalam yang ditetapkan pada jadwal. Hal ini juga memungkinkan kita
untuk mengevaluasi apakah drainase spriral sesungguhnya dibutuhkan untuk tanah-
tanah ini.
• Pengujian Koefisien Air Pori, B, akan dilaksanakan.
5) Klasifikasi:
• Pengujian akan dilaksanakan mengikuti standar-standar ASTM kecuali jika
dinyatakan dan akan dimulai dari kadar air ASLI tanpa pengeringan kecuali jika
standar menyatakan sebaliknya.
• LL, PL, SL dari kadar air asli
• PSD dimulai dengan Sampel Basah dari kadar air asli
• Kehilangan akibat Pembakaran, standar ASTM, keringkan bahan dengan oven pada
permulaan tes
• pH, bisa dimulai dengan sampel basah atau kering
• Tes-tes kimia, tes oksidasi kimia untuk mendapatkan kadar organik harus mengikuti
British Standard seperti dijelaskan di Head. Tes ini menggunakan Potassium
Dichromate dan bahan-bahan kimia lain dan untuk keselamatan personal penanganan
bahan-bahan kimia tersebut harus dengan hati-hati sekali.

Gambar 4-16 Komentar Mengenai Pengujian BH 201 Pulang Pisau

78
1) Tes-tes CU akan dilaksanakan pertama kali dengan spesimen-spesimen CD dicadangkan
sampai hasil tes CU telah selesai dianalisis.
2) Tabung-tabung tidak boleh dibuka sampai spesimen CU dari tabung tersebut dibutuhkan. Baru
setelah spesimen-spesimen CU dikeluarkan kemudian pengujian konsolidasi dan klasifikasi
untuk tabung tersebut bisa berlangsung.
3) Pengujian klasifikasi dilaksanakan pada 5 cm bagian atas setiap tabung ditambah kelebihan
bahan yang dipotong dari sekitar spesimen lainnya. Kadar air alami diperoleh dari
pemotongan semua spesimen untuk membentuk suatu profil lengkap kadar air terhadap
kedalaman.
4) Pengujian Terkonsolidasi Tak Terdrainase dengan pengukuran tekanan air pori.
Tekanan Balik minimum harus sebesar 1.0 kg/cm2
Tekanan sel efektif harus seperti yang ditunjukkan berikut untuk 3 spesimen pada masing-
masing set:
201.001, 201.004, 201.006 0,1, 0,2, 0,4 kg/ cm2
201.007, 201.008, 201.010 0,2, 0,4, 0,8 kg/ cm2
201.012, 0,4, 0,8, 1,6 kg/ cm2
Catatan: Tekanan Sel Efektif = Tekanan Sel - Tekanan Balik
• Pada awalnya Laju Regangan 2% per jam disarankan untuk digunakan untuk
memungkinkan keruntuhan geser terjadi dalam waktu Tujuh Jam (Jam Kerja). Hal ini
bisa dirubah seraya pengalaman pengujian bertambah.
• Fase konsolidasi akan dilaksanakan dengan drainase dari KEDUA ujung spesimen.
• Drainase Spiral bisa digunakan untuk mempercepat penyamaan baik konsolidasi
maupun air pori. Hal ini mungkin tidak diperlukan untuk bahan-bahan gambut yang
mungkin agak bisa ditembus air.
• Kelola dan percobaan analisis Laju Konsolidasi, dengan melakukan beberapa tes
dengan drainase satu arah dan pengukuran tekanan air pori selama konsolidasi. Tes-tes
ini untuk meyakinkan bahwa konsolidasi primer telah selesai selama periode
konsolidasi semalam yang ditetapkan pada jadwal. Hal ini juga memungkinkan kita
untuk mengevaluasi apakah drainase spriral sesungguhnya dibutuhkan untuk tanah-
tanah ini.
• Pengujian Koefisien Air Pori, B, akan dilaksanakan.
5) Klasifikasi untuk lempung, instruksi-instruksi mengikuti yang untuk Panci.
6) Klasifikasi untuk gambut.
• Pengujian akan dilaksanakan mengikuti standar-standar ASTM kecuali jika dinyatakan
dan akan dimulai dari kadar air ASLI tanpa pengeringan kecuali jika instruksi dari kami
menyatakan sebaliknya.
• LL dan PL, dari kadar air asli.
• Penentuan Kadar Serat, ASTM D 1997, Sampel basah dari kadar air asli.
• Kehilangan akibat Pembakaran, Standar ASTM D2974, keringkan bahan dengan oven
pada permulaan tes.
• pH. ASTM D2976. Meskipun begitu kita akan menggunakan suatu tes yang dirubah
yang dikeluarkan oleh Ontario Geological Survey karena ini memungkinkan
KONDUKTIFITAS diambil pada spesimen yang sama. Mulai dengan spesimen pada
kadar air yang ASLI.
• Tes-tes kimia, tes oksidasi kimia untuk mendapatkan kadar organik harus mengikuti
British Standard seperti dijelaskan di Head. Tes ini menggunakan Potassium
Dichromate dan bahan-bahan kimia lain dan untuk keselamatan personal penanganan
bahan-bahan kimia tersebut harus dengan hati-hati sekali.

Gambar 4-17 Komentar Mengenai Pengujian BH 201Pulang Pisau

79
1) Pengujian pada tabung-tabung ini harus dikoordinasikan dengan Manajer Laboratorium untuk
meyakinkan bahwa kebanyakan pengujian UU, Geser Langsung dan Konsolidasi bisa dimulai
secara simultan.
2) Pengujian UU harus menggunakan tekanan-tekanan sel berikut:
• 203. 001, 203. 003 0,1 dan 0,4 kg/cm2
• 203. 005, 203.007 0,4 dan 1,6 kg/cm2
3) Pengujian Geser Langsung harus mengikuti tegangan-tegangan normal berikut:
• 203. 002, 203. 004 0,1, 0,2 dan 0,4 kg/cm2
• 203. 006 0,4, 0,8 dan 1,6 kg/cm2
• Usaha-usaha harus dilakukan untuk merubah alat sehingga sampel bisa lebih tebal dan
memungkinkan pengujian bisa lebih lambat untuk meyakinkan sampel sepenuhnya
terdrainase selama geser.
4) Tes-tes baling harus dilaksanakan pada tabung-tabung 203. 002, 203. 004, 203. 006.
Kedalaman untuk tes-tes baling pada tabung harus berubah dari yang untuk lokasi Panci jika
spesimen Geser Langsung sekarang lebih tebal.

5) Hal ini juga mempengaruhi lokasi untuk spesimen Konsolidasi dan Geser Langsung.

Gambar 4-18 Komentar Mengenai Pengujian BH 203 Pulang Pisau

4.6.3 Konsistensi Data


Seperti disebutkan pada Bagian 4.1, tanah-tanah secara sistematis
dikelompokkan berdasarkan karakteristik-karakteristik pembeda tertentu. Tes-
tes indeks digunakan untuk keperluan ini dan dia bisa diharapkan dengan baik
bahwa tanah-tanah yang dikelompokkan dengan cara ini akan memperlihatkan
sifat-sifat rekayasa yang sama. Adalah tidak mengherankan kemudian bahwa
selama bertahun-tahun sejumlah hubungan empiris telah dikembangkan yang
mengkorelasikan sifat-sifat indeks dengan karakteristik-karakteristik kekuatan
dan kompresibilitas.

Korelasi-korelasi ini bisa digunakan dengan berbagai cara. Pada proyek-proyek


yang tingkat kepentingannya relatif kecil dan di mana anggaran yang tersedia
untuk penyelidikan lapangan terbatas, karakteristik-karakteristik kekuatan dan
kompresibilitas bisa diduga dari hasil-hasil tes indeks. Pada proyek-proyek
yang penting di mana kekuatan dan kompresibilitas tanah ditentukan langsung
dari laboratorium, korelasi-korelasi bisa digunakan untuk sebagai suatu
pengujian terhadap konsistensi data dan oleh karenanya merupakan elemen
yang penting dalam suatu proses pengontrolan kualitas.

Perincian mengenai korelasi-korelasi yang lebih sering digunakan diberikan


dalam Panduan Geoteknik 4 di mana penerapan desain didiskusikan. Untuk
keperluan pengontrolan kualitas, manajer laboratorium sebaiknya
menggunakan korelasi-korelasi ini sebagai suatu uji silang berkenaan dengan
konsistensi data. Suatu catatan berisi uji-uji silang ini harus disimpan; ini harus
disertakan dalam laporan faktual untuk memberikan suatu dasar untuk menilai
kualitas dari data-data tes laboratorium.

80
Jika selama penyelidikan, perbedaan-perbedaan yang mencolok tampak di
antara sifat-sifat yang diduga dan diukur, ini harus diungkapkan agar menjadi
perhatian segera Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk. Jika perbedaan-perbedaan
tidak dapat diterima data-data tersebut harus ditolak. Namun, data-data yang
ditolak harus dimasukkan dalam laporan faktual dan alasan-alasan berkenaan
dengan penolakannya harus dinyatakan.

Contoh-contoh yang tidak terganggu diperlukan untuk tes-tes kekuatan dan


kompresibilitas. Topik yang penting ini dicakup dalam Bagian 5 dari Panduan
Geoteknik ini di mana prosedur-prosedur yang diberikan dalam ISSMFE (1981)
untuk menilai kualitas sampel rela tif berdasarkan data-data tes laboratorium
dijelaskan.

Agar suatu sistem uji ulang efektif dan berfungsi sesuai dengan yang
diharapkan, data-data mentah harus diplot pada grafik-grafik pada saat telah
tersedia sehingga tindakan-tindakan perbaikan, jika perlu, bisa
diimplementasikan sesegera mungkin.

Deskripsi-deskripsi tanah yang diberikan pada catatan-catatan pemboran


lapangan juga perlu diperiksa terhadap konsistensi dengan data tes
laboratorium. Suatu standar praktek dari ASTM untuk mengenali dan
menjelaskan tanah-tanah dirinci pada Bagian 6.2 dari Panduan Geoteknik ini;
praktek ini bisa diterapkan baik untuk di lapangan maupun di laboratorium.
Praktek tersebut harus digunakan sebagai standar untuk pengenalan lapangan
dan deskripsi tanah-tanah. Meskipun begitu, seperti dinyatakan dalam Bagian
6.2, inspeksi lapangan terhadap inti-inti sampel harus dilaksanakan hanya oleh
personel-personel yang berpengalaman. Ketidakkonsistenan antara deskripsi
lapangan dan laboratorium dan pengenalan tanah harus diselesaikan sebelum
laporan-laporan faktual pada kedua penyelidikan disetujui.

Penekanan yang diberikan pada Panduan Geoteknik ini terhadap tes-tes indeks
dimaksudkan untuk mereflesikan peran yang penting yang tes-tes ini miliki
terhadap proses penyelidikan tanah. Tes-tes harus dilaksanakan tidak hanya
sebagai suatu rutinitas belaka tetapi dengan perhatian yang penuh terhadap
tujuan-tujuan dari hasil-hasil tes tersebut dimaksudkan. Jika hasil-hasil tes
indeks tidak dapat diandalkan, maka mereka sama sekali tidak bernilai untuk
dipakai untuk menguji ulang data atau untuk menduga data-data lainnya. Tes-
tes ini harus ditugaskan kepada personel yang berpengalaman yang mengikuti
prosedur-prosedur tes dengan ketat, yang paham atas tujuan dari data-data tes
dan yang akan menjamin bahwa peralatan dirawat dan dikalibrasi dengan baik.

81
5 Kualitas dan Kerusakan Sampel

5.1 PENDAHULUAN

Kualitas sampel dan penyebab-penyebab gangguan pada sampel dijelaskan pada


Panduan Geoteknik 2.

5.2 PROSEDUR LABORATORIUM UNTUK


MEMINIMALISASI GANGGUAN YANG TERJADI
PADA TANAH

Tipe-tipe dasar dari penyebab gangguan yang terjadi di tanah telah


diklasifikasikan oleh Hvorslev sebagai berikut:
(i) Perubahan kondisi tegangan
(ii) Perubahan kadar air dan rasio pori
(iii) Perubahan pada struktur tanah
(iv) Perubahan kimia
(v) Pencampuran dan segragasi dari unsur-unsur tanah

Perubahan pada kondisi tegangan tidak dapat diabaikan. Meskipun demikian,


sebuah sampel dapat saja digunakan untuk pengujian laboratorium, dan untuk
tujuan praktis dapat dianggap sebagai tak terganggu, jika jenis-jenis gangguan
lain diabaikan atau paling tidak dibuat seminimal mungkin.
Penilaian kualitas relatif dari sebuah sampel dapat dilakukan hanya jika hasil
pengujian telah ada dan telah dievaluasi. ISSMFE (1981) memberikan sebuah
dasar untuk melakukan penilaian tersebut dan hal ini ditampilkan kembali pada
bab 5.4 berikut.

Pengalaman dan penelitian telah menghasilkan suatu prosedur laboratorium


yang jika diterapkan secara tepat, dapat diharapkan untuk meminimalisasi
gangguan pada sampel selama proses penyimpanan, pemindahan dan penangan
sampel serta persiapan spesimen uji. Prosedur-prosedur ini akan didiskusikan
pada bab-bab selanjutnya.

5.2.1 Penyimpanan Sampel

Sebagai aturan umum, sampel harus diuji sesegera mungkin setelah tiba di
laboratorium. Kapasitas dari laboratorium, seperti peralatan dan personil yang
ada, biasanya akan menentukan lamanya suatu sampel disimpan di tempat

82
penyimpanan. Juga merupakan suatu hal yang bijaksana jika menyimpan
sebagian sampel sebagai cadangan untuk pengujian yang akan datang untuk
mendapatkan data tambahan untuk mengevaluasi tujuan dan /atau untuk
memeriksa inkonsistensi yang terlihat pada data. Sampel untuk keperluan ini
akan disimpan untuk waktu yang relatif lama dan perhatian khusus harus
diberikan terhadap kondisi ruang penyimpanan.

Untuk meminimalisasi gangguan yang terjadi pada sampel selama peyimpanan,


tindakan pencegahan standar yang diambil adalah menyimpan tabung sampel di
ruangan dengan:
• kelembaban relatif mendekati 100 persen
• temperatur dengan kisaran yang sama dengan kondisi dari mana sampel
tersebut diambil.
Ruangan tersebut harus memiliki ukuran yang memadai yang dapat menampung
sejumlah sampel yang harus ditangani tanpa harus tumpang tindih.

Brand & Brenner (1981) mengatakan bahwa walaupun dengan kondisi ruangan
penyimpanan yang memiliki perlengkapan terbaik sekalipun, sampel tanah tetap
saja akan mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Distribusi kembali
dari air, bakteri dan aktifitas kimia dan pengembangan (swelling) dan
pengeringan merupakan proses-proses yang akan terjadi yang merupakan fungsi
dari waktu.

Pada AASHTO (1988) disebutkan bahwa bahaya terbesar dari perubahan kimia
akan terjadi pada sampel yang disimpan di dalam tabung baja yang tak dirawat
sedemikian rupa supaya tidak mengalami perubahan untuk waktu yang lama.
Pada ASTM D1587-83 tentang Praktek Standar untuk Pengambilan Sampel
dengan Tabung Tipis (Standard Practice for Thin-Walled Tube Sampling of
Soils) disebutkan bahwa pengaratan, baik yang berasal dari galvanisasi atau
reaksi kimia, dapat merusak atau menghancurkan baik dinding tabung yang tipis
maupun sampel itu sendiri. Tingkat kerusakan yang terjadi merupakan fungsi
dari waktu, demikian pula dengan interaksi yang terjadi antara sampel dan
tabung. Tabung yang menyimpan sampel yang lebih dari 72 jam harus di lapisi
sedemikian rupa dimana jenis lapisannya harus dispesifikasikan oleh seorang
Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk. Sebagai alternatif tabung-tabung stainless
steel harus dispesifikasikan.

Dengan memperhitungkan kemungkinan akan perubahan kimia akibat interaksi


antara sampel dan tabung contoh, sebagaimana didiskusikan di atas, dan/atau
akibat oksidasi dari sampel jika sampel tersebut mempunyai akses ke udara luar
karena penyegelan yang tidak sempurna, diusulkan sesuai dengan tujuan dari
Panduan ini bahwa sampel yang dikirim ke laboratorium untuk pengujian,
"segera" harus diuji tak lebih dari 15 hari setelah pengambilan sampel. Sampel
untuk cadangan pengujian selanjutnya harus dikeluarkan dari tabung, disegel
dan diberi label, kemudian disimpan secara hati-hati.

La Rochelle et al. (1986) melaporkan bahwa ada bukti yang mengindikasikan


bahwa walaupun hanya terdapat sedikit oksigen yang ada, sudah akan cukup

83
untuk memulai suatu proses kimia yang dapat menyebabkan terjadinya penuaan
pada lempung, dan bukti lain yang dapat dipertimbangkan pula, bahwa lilin
parafin, walaupun diberikan dengan cukup tebal, tidak cukup memadai untuk
melindungi sampel; karena retakan kecil yang terjadi pada parafin akibat
penempatan dan perubahan suhu akan mengakibatkan masuknya oksigen pada
permukaan lempung tersebut.

Pada tulisan mereka, La Rochelle et al. menjelaskan prosedur penyegelan


sampel yang digunakan pada Laboratorium Mekanika Tanah di Universitas
Laval, di Quebec, Kanada. Prosedur tersebut telah dikembangkan bertahun-
tahun dengan coba-coba selama pengamatan berikut ini dilakukan:
• Parafin terlalu rapuh untuk melindungi sampel dengan baik
• Penggunaan dari bahan campuran dengan kadar plastik yang lebih banyak
yang terdiri dari 50% lilin parafin dan 50% vaselin akan memperpanjang
waktu secara cukup berarti sebelum adanya tanda -tanda oksidasi telah
terjadi
• Sebuah lapisan yang kedap udara yang lebih efisien dapat dibuat dengan
membungkus sampel dengan lembaran plastik rumah tangga yang biasa.
Untuk mengatasi permasalahan kebocoran udara yang terjebak antara
lembaran dan sampel, lembaran tersebut dimasukkan ke dalam campuran
lilin yang hangat, kemudian permukaan sampel dilapisi dan dihaluskan
permukaannya dengan tangan untuk membuang udara yang terjebak di
dalamnya.

Dari pengamatan mereka tersebut, teknik pelapisan berikut ini dikembangkan.

Siapkan sebuah bahan campuran lilin dari campuran 50% berat lilin parafin dan 50%
berat vaselin dan pertahankan kehangatannya pada suhu yang terkontrol antara 60 dan
65°C; suhu dari lilin harus dipertahankan di bawah 70°C untuk mencegah terjadinya
evaporasi dari volatile hydrocarbons dan meniadakan pelebaran yang besar dari lembaran
plastik yang akan di masukkan ke dalam lilin.

Siapkan papan plywood berukuran 250 mm persegi dengan tebal 20 mm dan cat
permukaan bagian atasnya dengan satu lapisan bahan campuran lilin, kemudian
tambahkan selembar plastik, lalu cat kembali dengan satu lapisan lilin lagi pada
permukaan atas dari lembaran plastik tersebut. Plastik dimasukkan dengan celupan
pertama ke dalam bahan campuran yang hangat, kemudian diletakkan pada papan, sambil
diratakan permukaannya dengan menggunakan tangan kosong untuk mengurangi adanya
gelembung udara yang dapat terjebak di antara lembaran dan lapisan lilin yang
melapisinya.

Sebuah contoh lempung dikeluarkan dari tabung dan sebuah irisan dibuat dengan
memotong dengan pemotong kawat baja dan letakkan irisan tersebut pada papan dengan
meluncurkannya pada permukaan papan tersebut sehingga dapat mencegah adanya udara
yang terjebak pada dasar irisan tersebut.

Bagian sisi yang terbuka dari sampel kemudian dicat dengan bahan vampuran lilin dan
dibungkus dengan dua lapisan lembaran plastik yang mengapit diantara lapisan campuran.
Untuk memasang lembaran plasrtik, plastik tersebut pertama dimasukkan ke dalam
campuran, diletakkan pada permukaan sampel, dan ratakan dengan tangan kosong.
Sebelum memasang setiap lapisan, lakukan pengamatan visual untuk mendeteksi
kemungkinan adanya gelembung udara yang terperangkap di bawah lapisan sebelumnya,

84
jika hal tersebut ditemui, maka tusuk gelembung udara tersebut kemudian ratakan dengan
jari, lalu lubangnya ditutup kembali dengan lilin.

Penyegelan/penutupan contoh tanah dilakukan di lapangan; sampel dengan


diameter 200 mm, dikeluarkan dengan segera dari tabung, dipotong menjadi
irisan dengan tebal 125 mm atau lebih, bergantung pada ukuran sampel yang
dibutuhkan di laboratorium, kemudian disegel. Walaupun tidak disebutkan oleh
para pengamat ini (La Rochelle et al.), sepertinya tidak sulit untuk
melaksanakan teknik ini pada sampel yang dikeluarkan dari laboratorium,
walaupun hal ini dapat menyebabkan terjadinya sedikit oksidasi pada sampel
pada interval waktu antara pengambilan sampel dan pengeluaran sampel.

Nilai Batas Cair dan Indeks Likuiditas akan secara signifikan dipengaruhi oleh
efek penuaan yang terjadi; ada peningkatan yang cukup berarti dari nilai batas
cair ini terhadap proses penuaan, demikian juga halnya dengan terjadinya
penurunan pada indeks likuiditas. Parameter-parameter ini digunakan oleh La
Rochelle et al. untuk mengevaluasi keefektifan dari teknik penyegelan tersebut.
Sampel yang diambil pada kedalaman yang berbeda dari dua lokasi diamati
selama periode 3 tahun dan hasilnya menunjukkan bahwa tak ada
kecenderungan dari nilai batas cair untuk meningkat atau indeks likuiditas
untuk menurun. Oleh karenanya teknik penyegelan tersebut dianggap cukup
memadai untuk digunakan dalam penyimpanan sampel selama periode 3 tahun;
akhir-akhir ini sebuah metode penyegelan yang le bih maju telah diterapkan
pada sampel untuk disimpan pada periode yang lebih lama.

Sebagai kesimpulan, La Rochelle et al. mengatakan bahwa gangguan sampel


(yang diindikasikan oleh efek terhadap batas cair dan indeks likuiditas)
walaupun disimpan pada waktu yang lama, dapat diabaikan jika sampel tersebut
telah disegel dengan sempurna.

Pada penyelidikan lapangan rutin, maksimum masa penyimpanan sepertinya


harus diterapkan untuk periode beberapa bulan saja dan tidak untuk masa
tahunan, dan prosedur penyegelan yang dijelaskan oleh La Rochelle et al.
(1986) bisa dianggap terlalu rumit. Prosedur yang diusulkan oleh ISSMFE
(1981) dilakukan dengan menutupi sampel dengan sebuah kertas perak yang
kedap udara (seperti lapisan yang lengket) sebelum dimasukkan ke dalam lilin
parafin yang panas. Setelah label yang memberikan semua informasi penting
tentang sampel tersebut ditempel, sampel tersebut kemudian dibungkus dengan
sebuah paket polietilin (polyethylene) dan diletakkan pada kotak yang kedap
udara atau ke dalam sebuah tangki air.

Seorang Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk harus memutuskan material yang


tidak diperlukan lagi untuk pengujian “segera” (seperti sisa-sisa material yang
tertinggal di tabung setelah pengeluaran terpisah atau material yang terdapat di
dalam tabung yang belum dibuka ) apakah harus ditinggalkan di dalam tabung
atau harus dikeluarkan dan dipotong dengan panjang yang diinginkan. Jika
diputuskan bahwa material tersebut harus ditinggalkan di dalam tabung, ia harus
menyebutkan bagaimana prosedur untuk menyegel kembali tabung yang telah
dibuka tersebut. Jika semua material akan dikeluarkan dan dipertahankan untuk
digunakan untuk penelitian yang akan datang, ia juga harus menyebutkan

85
prosedur untuk menyegel masing-masing sampel dan bagaimana cara untuk
menyimpannya.

5.2.2 Penanganan Sampel dan Persiapan Spesimen untuk


Pengujian
Pengeluaran sampel

Sampel harus dikeluarkan dengan arah yang sama dengan arah pada saat
diambil di lapangan, dengan menggunakan gerakan standar yang ada pada alat
pengeluar sampel. Pada umumnya akan sangat baik jika menggunakan sampel
yang dikeluarkan dari tabung sesegera mungkin setelah dibuka. Jika diputuskan
untuk meninggalkan sejumlah material pada tabung untuk keperluan
penyelidikan mendatang, atau jika tidak semua material dalam tabung dapat
segera diuji dikarenakan keterbatasan sumber daya yang ada, maka
sebagaimana telah didiskusikan pada bagian terdahulu, keputusan harus segera
diambil untuk menentukan bagaimana caranya untuk menyegel dan menyimpan
kembali sampel tersebut dengan sebaik-baiknya.

Untuk mengeluarkan sampel dari tabungnya, prosedur berikut ini diusulkan


untuk digunakan (dengan asumsi bahwa tabung telah disegel dengan lilin
parafin atau campuran lilin parafin):
• segel lilin pada ujung atas sampel dibuka
• jarak antara ujung tabung dengan sampel tanah diukur dan dicatat pada
Formuilir Pemeriksaan Sampel (lihat Bab 2.6)
• lilin pada ujung bawah tabung (dengan ujung yang terpotong) dilepaskan
dari ujung tabung
• ukur massa dari ‘tabung contoh dan tanah’ dan catatkan ke dalam Formulir
Pemeriksaan Sampel
• sampel diletakkan pada alat pengeluar sampel vertikal (vertical extruder)
dengan ujung atasnya terletak pada bagian paling atas; kemudian proses
pengeluaran dapat dimulai
• sampel tersebut kemudian dipotong sesuai dengan panjang yang dibutuhkan
untuk pengujian atau dikeluarkan secara langsung ke dalam cincin
pemotong (cutting ring) untuk membentuk spesimen uji untuk pengujian
triaksial, konsolidasi atau geser langsung
• contoh dipotong dengan panjang tertentu sehingga dapat dipangkas menjadi
spesimen uji triaksial dengan menggunakan mesin pemotong tanah (soil
lathe); spesimen uji untuk konsolidasi dapat dipangkas lebih lanjut dengan
ditekan ke dalam cincin konsolidasi (consolidation ring)
• jika sampel dikeluarkan langsung ke dalam cincin pemotong, biasanya akan
lebih baik jika memangkas sampel mendekati ukuran diameter spesimen uji
dengan sebuah kawat sebelum dipangkas dengan cincin. Hal ini dapat
mengurangi kerusakan yang dapat terjadi pada sampel

86
• ketika sebuah contoh telah dipotong, berikan sebuah Nomor Spesimen Uji.
Nomor Spesimen Uji, panjangnya dan jenis pengujian dimana contoh
tersebut digunakan dicatat ke dalam Formulir Pemeriksaan Sampel
• jika terjadi penundaan pada saat sedang mengeluarkan sampel, maka bagian
yang terbuka dari sampel, yang masih terdapat di dalam tabung, harus di
tutup untuk mencegah terjadinya pengeringan dan sebuah kain yang
lembabharus diletakkan di atas penutup tersebut.
• setelah sampel telah dikeluarkan seluruhnya, lilin yang menempel pada
ujung bawah dari sampel dikumpulkan. Tebal rata-rata dari lilin diukur dan
ditimbang. Nilai ini dicatat ke dalam Formulir Pemeriksaan Sampel
• tabung contoh kemudian dibersihkan dan ditimbangdan hasilnya dicatat ke
dalam Formulir Pemeriksaan Sampel. Pada tahap ini nilai Bulk Density dari
sampel dapat dihitung
• tabung contoh kemudian diperiksa untuk memastikan adanya kerusakan
khususnya akibat pemotongan pada ujungnya, jika dirasakan perlu dapat
diperbaiki dengan memberi lapisan oli secukupnya dan simpan dengan hati-
hati.

Segera setelah dikeluarkan dari tabung, kondisi dari sampel seperti tipe tanah,
keberadaan dari lapisan tipis pasir dan campuran antar material organik atau
sisa-sisa kerang harus dicatat ke dalam Formulir Pemeriksaan Sampel.

Persiapan spesimen uji

Secara umum, praktek laboratorium yang baik mensyaratkan tindakan


pencegahan berikut untuk dilakukan:
• penanganan dan pembongkaran atau pembukaan ke udara luar dari sebuah
sampel tak terganggu harus dilakukan seminimum mungkin
• jika memungkinkan, contoh tanah tak terganggu harus disiapkan di dalam
ruangan dengan tingkat kelembaban yang tinggi untuk meminimalisasi
perubahan kadar air
• contoh tanah seharusnya tidak ditangani dengan tangan kosong, karena
dapat mengurangi kadar air dari contoh
• selembar kertas lilin dapat digunakan untuk meminimalisasi kehilangan
kadar air selama penanganan dan persiapan contoh
• contoh tersebut harus diletakkan bertumpu pada sepanjang sisinya ketika
sedang dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya

Persiapan spesimen uji untuk pengujian triaksial, geser langsung dan


konsolidasi membutuhkan kesabaran dan keahlian serta menggunakan metode
pengujian yang telah distandarisasi oleh berbagai badan yang telah merumuskan
prosedur yang harus diikuti dalam mempersiapkan contoh untuk pengujian-
pengujian tertentu.

87
Pasal 8 dari BS 1377 : Part 1 : 1990 menjelaskan persiapan spesimen uji dari
sampel tanah tak terganggu yang diterima dari lapangan dimana prosedurnya
umum digunakan untuk lebih dari satu macam jenis pengujian. Prosedur
tersebut menjelaskan tentang:
• spesimen uji berbentuk silinder diameternya harus sama dengan diameter
tabung contoh
• spesimen uji berbentuk silinder atau sekelompok spesimen dengan diameter
yang lebih kecil dari diamer tabung contoh
• spesimen uji berbentuk silinder untuk sampel blok
• spesimen uji berbentuk cakram dari sebuah sampel di dalam tabung contoh
• bagian cakram atau persegi dari sebuah sampel blok.

Untuk pengujian tertentu, metode persiapan spesimen uji yang disebutkan


dalam prosedur tersebut dapat digunakan. Pasal 8 tersebut dila mpirkan dalam
Lampiran C untuk memberikan panduan dalam melakukan persiapan spesimen
uji dan untuk menunjukkan jenis peralatan yang dibutuhkan.

Standar Industri Jepang (Japanese Industrial Standard, JIS ) A1217-1960


menjelaskan Metode Pengujian Konsolidasi Tanah (Method of Test for
Consolidation of Soils). Pasal 3 dari Standar tersebut membahas masalah
persiapan sampel dan hal tersebut ditampilkan kembali sebagai berikut.
3. Persiapan Spesimen Uji
Spesimen uji harus disiapkan di dalam ruangan yang lembab jika memungkinkan,
sehingga tidak akan menyebabkan terjadi perubahan terhadap kadar airnya.
Diusulkan agar sampel tersebut ditangani dengan menggunakan sarung tangan
karet.
3.1 Spesimen Uji Tak Terganggu
3.1.1 Sebuah sampel yang diambil dari sebuah alat pengambil contoh harus dipotong pada
ukuran diameter maupun tinggi sekitar 10 mm lebih besar dari diameter dalam dan
tinggi cincin ujinya. Kemudian sampel tersebut harus ditempatkan pada sebuah
pemotong dan dipangkas menjadi berbentuk cakram/piringan bundar yang memiliki
diameter 2 hingga 3 mm lebih besar dari diameter dalam dari cincin tersebut. Tanah
yang telah dipotong dapat digunakan untuk mendapatkan nilai kadar air, Wc (%) dan
nilai specific gravity dari partikel tanah, Gs.
3.1.2 Berat, Wr (gr), tinggi, ho, dan diamter dalam, D dari cincin harus diukur.
3.1.3 Sampel yang telah dipangkas tersebut kemudian diletakkan pada cincin
konsolidometer dan pada permukaan sisinya harus dipangkas dengan pisau kawat
atau spatula sampai spesimen uji tersebut dapat secara perlahan dimasukkan
kedalam cincin uji pada posisi yang tepat. Dan harus dieperhatikan bahwa tak boleh
terdapat ronga antara cicncin dan spesimen uji tersebut.
3.1.4 Setelah spesimen uji dimasukkan seluruhnya ke dalam cincin, bagian atas dan
bawah dari spesimen uji tersebut harus dipangkas rata dengan cincin tersebut
dengan menggunakan pisau kawat atau batangan besi yang lurus.
3.1.5 Berat dari spesimen uji yang telah disiapkan bersama dengan cincin tersebut, Wt (gr)
harus diukur. Jika digunakan cicin mengambang, sebuah penahan harus digunakan
setelah dilakukan penimbangan berat.

88
Peralatan dan perlengkapan yang digunakan dalam persiapan spesimen uji
untuk pengujian diberikan dan referensi dibuat ke dalam JIS A1216-1977
(Metode Uji Kompresi Tak Terbatas untuk Tanah) (Method of Unconfined
Compression Test of Soil) dimana diagram peralatan yang digunakan untuk
mempersiapkan contoh untuk kedua jenis pengujian juga diberikan.

Standar Jepang tersebut dimaksudkan sebagai contoh prosedur yang


dirumuskan dalam sebuah metode uji standar; prosedur yang sebenarnya
digunakan di dalam sebuah laboratorium pengujian harus mematuhi atau sesuai
dengan detil metode pengujian yang dirumuskan oleh seorang Insinyur
Geoteknik yang Ditunjuk.

Perhatian khusus harus diberikan dalam metode standar pengujian untuk


mempersiapkan spesimen uji untuk pengujian dari gambut dan tanah sangat
lunak. Dengan memperhatikan kompresibilitas yang besar dari gambut,
McGown dan Jarrett (1997b) menyatakan bahwa sudah menjadi umum dalam
pengujian konsolidasi untuk menggunakan contoh gambut yang lebih tebal dari
yang dinyatakan dalam metode standar. Hal ini tentu akan mengurangi rasio
diameter terhadap tinggi dan konsekuensinya akan meningkatkan efek dari
gesekan samping, oleh karenaya dianggap le bih bermanfaat jika sebuah contoh
yang lebih representatif dapat diperoleh dimana kandungan seratnya tidak akan
mempengaruhi secara radikal kompresibilitas sesungguhnya dari sampel. Para
peneliti ini juga mengamati bahwa akan timbul masalah pada saat melakukan
pemangkasan gambut berserat, baik untuk menyesuaikan dengan cincin
konsolidasi maupun untuk pengujian triaksial atau pengujian kuat geser lainnya;
oleh karena itu akan lebih baik jika laboratorium memiliki cincin atau sel
triaksial yang menggunakan contoh yang memiliki diameter yang sama dengan
diameter tabung contoh. Pada standar ASTM untuk Metode Pengujian untuk Uji
Sifat-sifat Konsolidasi Satu Dimensi dari Tanah dinyatakan bahwa ‘tanah
berserat seperti gambut, dan tanah-tanah yang dapat dengan mudah terganggu
akibat pemangkasan/perampingan, dapat dipindahkan langsung dari tabung
contoh ke dalam cincin, dimana cincin yang digunakan harus memiliki ukuran
diameter yang sama dengan diameter tabung contoh’. Contoh yang sulit untuk
dipangkas juga akan cukup sulit untuk diambil secara sempurna di tempat
pertama kali, sebab tabung contoh juga akan menemui kesulitan yang sama
bagaimana memotong sampel tersebut. Oleh karenanya, perhatian khusus harus
diberikan pada rasio pengembalian (recovery ratio) dalam menaksir/menilai
kompresi gambut yang mungkin terjadi selama proses pengambilan sampel
(McGown dan Jarrett, 1997b).

Landva et al. (1993) menyatakan bahwa pada kasus gambut berserat dengan
sedikit atau tidak ada kadar mineral dan dengan derajat pembusukan
(humification) yang rendah, sebagian besar perampingan/pemangkasan dapat di
lakukan dengan sebuah pisau elektrik standar. Meskipun pemangkasan samping
masih merupakan hal yang agak sukar, khususnya untuk contoh triaksial dengan
rasio tinggi terhadap diameter bernilai 2. Untuk alasan ini, tabung contoh
dengan ukuran diameter 100 mm diuji pada peralatan yang didisain khusus
untuk spesimen uji dengan diamter 100 mm sehingga hanya pemangkasan pada
ujungnya saja yang diperlukan. Peralatan yang untuk gambut berserat dengan

89
derajat kebusukan yang rendah sering dipandang tidak terlalu perlu, untuk
gambut yang tingkat pembusukannya tinggi dan untuk tanah organik dipandang
sebagai “sebuah persyaratan mutlak, karena jenis tanah tersebut bisa sangat
lunak sehingga sebuah contoh bahkan tidak cukup kuat untuk mendukung
beratnya sendiri”. Peralatan yang digunakan oleh Landva et al., dikembangkan
sebagai bagian dari proyek penelitian di Universitas New Brunswick, Kanada
dan dirakit sendiri.

Peralatan khusus lain yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan sebuah


penyelidikan lapangan dalam kaitannya dengan jenis tanah yang sepertinya
akan ditemukan, harus diidentifikasi pada tahap awal dari perencanaan
penyelidikan dan pertimbangan mengenai hal ini harus diperhitungkan ketika
melakukan evaluasi terhadap kemampuan dan kapasitas dari organisasi atau
pihak-pihak yang ada dalam melakukan pekerjaan yang dimaksud.

5.3 EVALUASI TERHADAP TINGKAT GANGGUAN PADA


SAMPEL

Metode untuk mengevaluasi kualitas sampel dengan pengamatan visual di


lapangan dan dengan data dari hasil pengujian di laboratorium telah dibahas
oleh ISSMFE (1981). Kutipan dari publikasi ISSMFE tersebut diberikan pada
berikut di bawah ini.

Pengamatan visual terhadap sampel dapat memberikan gambaran terhadap


tingkat kerusakan atau gangguan pada sampel sebagai berikut:
• jika pada ujung sampel yang terdapat dalam tabung lunak terlihat tidak
seperti biasanya, maka seluruh sampel mungkin telah terganggu
• jika ujung tabung bengkok atau rusak, sampel mungkin telah terganggu
• sebuah rasio pengembalian (recovery ratio) lebih dari 95% menunjukkan
adanya prosedur dan pengukuran yang tidak akurat selama pengambilan
sampel atau kehilangan sampel dan dapat dianggap sebagai sebuah tanda-
tranda kemungkinan adanya kerusakan atau gangguan.

Gangguan pada sampel akan mempengaruhi hubungan tegangan-regangan, kuat


geser, konsolidasi dan parameter lainnya dari material yang diukur dengan
pengujian laboratorium; oleh karenanya evaluasi terhadap hasil pengujian
tersebut akan dapat memberikan sebuah penilaian terhadap kualitas dari sampel
tanah.

5.3.1 Tegangan-Regangan Tak Terdrainase dan Prilaku Kuat


Geser
Kurva tegangan-regangan

90
Kurva tegangan-regangan yang diperoleh dari uji triaksial tak terdrainase pada
Gambar 5-1, mengindikasikan kualitas sampel yang digunakan. Untuk sampel
dengan kualitas sangat baik pada kurva (a), kurva tegangan-regangan akan linier
hingga mencapai sekitar puncak tegangan dan regangan yang terjadi pada saat
runtuhcukup kecil. Untuk sampel yang sedikit terganggu pada kurva (b),
kurvanya berbentuk melengkung (roundish) dan regangan pada saat runtuh
lebih besar dibanding dengan sampel dengan kualitas yang sangat baik; dan
sebuah sampel yang dicetak kembali (remolded) seperti pada kurva (c), tidak
memiliki puncak tegangan yang jelas.

Gambar 5-1 Evaluasi Kualitas Sampel dengan Menggunakan Kurva Tegangan-Regangan

Regangan pada saat runtuh

Regangan pada saat runtuh dari sebuah tanah lunak kohesif umumnya akan
bertambah seiring dengan bertambahnya gangguan yang terjadi dan oleh
karenanya merupakan sebuah indikator yang dapat digunakan untuk menilai
kualitas suatu sampel. Tetapi, penilaian kualitas berdasarkan parameter ini harus
memperhitungkan jenis pengujian yang dilakukan, tekanan tak terbatas yang
diberikan (confining pressure) serta jenis tanahnya. Regangan pada saat runtuh
yang terjadi untuk jenis tanah yang berbeda dalam sebuah uji kompresi tak
terdrainase ditunjukkan pada Tabel 5-1.

Jenis Tanah Regangan saat Runtuh (%)


Lempung Kanada 1
Lempung Yugoslavia 1.5
Lempung Marina Jepang 6
Lempung Perancis 3-8

Tabel 5-1 Regangan saat Runtuh dari Sampel Tak Terganggu dalam Uji Kompresi Tak
Terdrainase

91
Pengamatan pada tanah lunak dari lokasi karakterisasi Bandung dan Jakarta
menunjukkan bahwa kisaran regangan runtuh untuk tanah tersebut dalam uji
triaksial CU, UU dan uji geser langsung umumnya sekitar 6%. Untuk material
gambut regangan umumnya lebih tinggi dan tak ada puncak kuat geser yang
pasti yang dapat ditemukan.

Distribusi dan deviasi dari kuat geser tak terdrainase

Pada umumnya, kuat geser tak terdrainase dari lempung yang terkonsolidasi
normal akan meningkat terhadap kedalaman, dan hubungan antara kuat geser
dan kedalaman akan linier untuk lempung yang terkonsolidasi normal pada
lapisan tanah yang seragam. Gambar 5.2 menunjukkan sebuah contoh dari
deviasi terhadap kelinieran tersebut, yang menunjukkan bahwa sampel No. 4
merupakan sampel yang sangat terganggu.

Gambar 5-2 Evaluasi Kualitas Sampel dengan Menggunakan Nilai Kuat Geser Tak Terdrainase

Modulus deformasi tak terdrainase

Nilai dari modulus deformasi tak terdrainase E50 , yang merupakan modulus
sekan (secant modulus) dari kurva tegangan-regangan pada setengah dari nilai
tengangan maksimum dari suatu uji tak terdrainase, akan menurun seiring
dengan meningkatnya gangguan yang terjadi pada sampel. Sebagai tambahan,
kecepatan perubahan dari E50 akibat dari gangguan sampel akan lebih besar
dibanding E50 dari kuat geser dan regangan saat runtuh. Oleh karenanya,
modulus deformasi merupakan indeks yang lebih sensitif dari tingkat gangguan
sampel dibanding dengan indeks yang sama pada kuat geser atau regangan saat
runtuh.

92
5.3.2 Kurva Konsolidasi Satu Dimensi
Kurva rasio pori– tekanan konsolidasi

Gambar 5-3 membandingkan kurva khas dari rasio pori – tekanan konsolidasi,
dalam skala logaritma, untuk sampel tak terganggu dan sampel yang dicetak
kembali. Rasio pori dari sampel tak terganggu tidak banyak berubah selama
tekanan kritis (yaitu tekanan prakonsolidasi atau tekanan akhir maksimum)
kemudian setelah itu menurun relatif tajam. Pada sisi lain, rasio pori dari sampel
terganggu megalami penurunan secara tajam dan rasio porinya akan lebih kecil
pada setiap titik. Selanjutnya, pada sampel terganggu, kemiringan dari bagian
yang terkompresi kembali dari kurva tersebut, Cr, terlalu tinggi (overestimated)
sementara bagian asli yang terkompresi, Cc, terlalu rendah (underestimated).

Gambar 5-3 Evaluasi Kualitas Sampel dengan Menggunakan Kurva Angka Pori-Tekanan
Konsolidasi

Tekanan Kritis

Tekanan kritis, yang didapat dari pengujian konsolidasi satu dimensi, akan
menurun seiring dengan peningkatan pada derajat gangguan/kerusakan yang
terjadi pada sampel. Pada endapan lempung dimana tegangan dan kondisi

93
sekitar dapat diperkirakan berdasarkan informasi geologi dan/ atau berdasarkan
pengujian langsung di lapangan, nilai tekanan kritis merupakan indikator yang
baik untuk menilai kualitas suatu sampel.

Koefisien konsolidasi– tekanan konsolidasi

Contoh dari kurva konsolidasi-tekanan konsolidasi, dalam skala log – log, untuk
sampel tak terganggu dan sampel yang dicetak kembali diberikan pada
Gambar 5-4. Koefsien konsolidasi dari sebuah sampel tak terganggu memiliki
nilai lebih tinggi pada tekanan konsolidasi yang lebih rendah, dan akan
menurun secara cepat di sekitar tekanan kritis. Untuk sampel yang sangat
terganggu, koefisien konsolidasinya relatif rendah di bawah seluruh tekanan dan
akan meningkat secara linier terhadap tekanan konsolidasi.

Gambar 5-4 Evaluasi Kualitas Sampel dengan Menggunakan Kurva Koefisien Konsolidasi
Sekunder – Tekanan Konsolidasi

Kurva kecepatan konsolidasi sekunder– tekanan konsolidasi

Uji konsolidasi satu dimensi yang dilakukan pada sampel dengan kualitas tak
terganggu yang tinggi menunjukkan bahwa kecepatan konsolidasi sekunder, Cα
akan meningkat secara tajam ketika tekanan konsoliodasinya ( s ) mendekati
tekanan kritis dan akan menurun ketika tekanan kritisnya meningkat. Sebuah
contoh dari Cα versus s yang diukur dalam pengujian pada sampel tak
terganggu dan sampel yang dicetak kembali dari le mpung yang sama,
ditunjukkan pada Gambar 5.5. Pada gambar tersebut, Cα untuk sampel tak

94
terganggu tidak banyak megalami perubahan dalam berbagai variasi tekanan
konsolidasi.

Gambar 5-5 Evaluasi Kualitas Sampel dengan Menggunakan Kurva Kecepatan Konsolidasi
Sekunder-Tekanan Konsolidasi

5.3.3 Tegangan Efektif Residual


Ketika tanah dikeluarkan dari dasarnya, tanah tersebut akan terbebaskan dari
tegangan setempat dan tegangan total akan menjadi nol. Sebuah sampel yang
“sempurna” didefinisikan sebagai sebuah sampel yang telah terbebaskan dari
segala tegangan tetapi belum mengalami kerusakan atau gangguan secara
mekanik (yaitu selama pengeboran, pengambilan sampel dan
pemangkasan/pemotongan sampel). Bagaimanapun ketika tegangan total
menjadi nol, tegangan efektif residual (sebuah tegangan internal) tidak perlu
menjadi nol tetapi akan mencapai kesetimbangan dengan tegangan air pori
negatif. Ganguan secara mekanik yang merupakan faktor tambahan yang
disebabkan oleh pembebasan tegangan dapat dievaluasi dari perbedaan yang
ada antara tegangan air pori dalam sebuah sampel yang “sempurna” dengan
yang ada di dalam sampel yang sedang dievaluasi.

Tegangan efektif residual dapat diukur di dalam sel triaksial dimana tekanan tak
terbatas (confining)-nya dinaikkan secara bertahap pada kondisi tak terdrainase
dan tekanan air porinya diukur. Tegangan efektif residual pada sampel yang
“sempurna” akan lebih tinggi dibanding dengan sampel yang telah terganggu
secara mekanik.

95
5.3.4 Penilaian Kualitas Sampel
Laboratorium harus meninjau kualitas sampel mengikuti prosedur-prosedur
yang dijelaskan di atas dan merevisi klasifikasi kualitas sampel, sesuai dengan
yang dijabarkan pada Panduan Geoteknik 2.

96
6 Struktur dan Kemas Tanah

6.1 DEFINISI

Istilah kemas biasanya dipakai dalam susunan fisik dari partikel tanah dan
kelompok partikel, termasuk jarak partikel dan spasi yang ada antara pori atau
distribusi ukuran pori (Brenner et al. 1981). Biasanya istilah kemas ini
dibedakan menjadi dua tingkatan, yaitu:
• kemas makro (macrofabric), yang merupakan tingkatan dari susunan tanah
yang dapat diamati dengan mata telanjang atau dengan lensa sederhana
(hand lens)
• kemas mikro (microfabric), yang merupakan tingkatan dari susunan tanah
yang untuk mengamatinya paling tidak dibutuhkan sebuah mikroskop
polaroid (polarizing microscope).

Brand dan Brenner menyatakan bahwa istilah struktur seharusnya digunakan


lebih luas sehingga mencakup efek gabungan dari kemas serta komposisi dan
gaya antar partikel, tetapi harus diingat bahwa istilah struktur dan kemas sering
digunakan secara bertukar tempat.

Menurut Krebs dan Walker (1971), istilah struktur tanah, dalam pengertian
yang luas, meliputi: “susunan partikel tanah dalam sebuah massa tanah serta
faktor-faktor yang mempengaruhi susunannya, temasuk komposisi tanah,
karakteristik mineralogi dan fisik dari partikel padat, sifat dasar dan komposisi
dari air tanah serta interaksi kompleks antara partikel dan air. Jika mengacu
pada istilah penyatuan/kumpulan (aggregation) dari partikel tanah, maka juga
mencakup arah (orientation) dan ikatan dari partikel dengan agregat, serta
prilakunya sebagai akibat dari massa tanah”.

Lambe dan Whitman (1979) mengamati bahwa perilaku keteknikan dari sebuah
elemen tanah akan sangat bergantung pada struktur yang ada, yang diistilahkan
oleh mereka sebagai “arah (orientation) dan distribusi dari partikel di dalam
sebuah massa tanah yang juga disebut sebagai kemas dan arsitektur (fabric and
architecture) dan gaya-gaya antara partikel tanah terdekat”. Dengan mengacu
pada partikel kecil dan berbentuk datar, mereka menganggap bahwa dua
perbedaan yang sangat besar dari struktur tanah akan diwakili oleh sebuah
struktur terflokulasi ( flocculated structure) dan sebuah struktur terdispersi
(dispersed structure). Pada struktur terflokulasi, partikel tanah akan berada di
sisi hingga depan dan akan saling menarik; sedangkan sebuah struktur
terdispersi memiliki partikel yang paralel, yang cenderung untuk saling

97
menolak. Antara kedua perbedaan besar ini ada sebuah tahapan lanjutan yang
tak terhingga.

Pada umumnya sebuah elemen dari tanah terflokulasi memiliki kuat geser yang
lebih tinggi, kompresibilitas yang lebih rendah dan permeabilitas yang lebih
tinggi dibanding dengan elemen yang sama dari tanah dengan rasio pori yang
sama, tetapi berada dalam keadaan terdispersi. Kuat geser yang lebih tinggi dan
kompresibilitas yang lebih rendah pada keadaan terflokusasi disebabkan oleh
tarik menarik antara partikel dan kesulitan yang lebih besar dari pemindahan
partikel ketika berada dalam keadaan susunan yang tak beraturan; sedangkan
permeabilitas yang lebih tinggi disebabkan oleh terdapatnya saluran yang lebih
besar untuk mengalirkan air.

Brenner dan Brenner (1981) menyatakan bahwa walaupun kemas mikro


(microfabric) lebih sering dibicarakan/diperhatikan, namun kemas makro
(macrofabric) dapat saja menyebabkan sebuah pengaruh yang dominan dalam
banyak masalah keteknikan. Dalam kasus lempung lunak, ciri-ciri dari kemas
makro (macrofabric) adalah:
• perlapisan horisontal
• lapisan lanau atau pasir
• lubang-lubang akar
• retakan syneresis
• bidang runtuh lama
• inklusi organik

6.2 DESKRIPSI DAN IDENTIFIKASI TANAH

ASTM D 2488-93 menjelaskan sebuah praktek standar yang dapat digunakan


untuk menggambarkan dan mengidentifikasi tanah, tidak hanya di lapangan tapi
juga dapat digunakan di kantor, di laboratorium atau dimana saja sampel tanah
diperiksa dan dan digambarkan. Sebuah ceklis dari praktek tersebut yang
digunakan untuk mendeskripsikan tanah diberikan pada Tabel 13 dan memuat
23 hal; dimana sebuah contoh dari hal ini akan dibahas di bawah ini.

Warna. Warna merupakan sifat yang penting dalam mengidentifikasikan tanah


organik, dan dengan lingkungan sekitarnya yang diketahui, akan sangat
memudahkan dalam mengidentifikasikan material geologi yang terbentuk dari
proses yang sama. Jika sampel tersebut mengandung lapisan atau potongan
dengan warna yang bervariasi, hal ini harus dicatat dan semua warna yang ada
digambarkan dan dijelaskan. Warna tersebut harus digambarkan dalam kondisi
sampel yang basah. Jika warna yang dirumuskan merupakan warna dalam
kondisi kering, hal ini harus dicatat dalam laporan.

98
Aroma. Aroma harus dijelaskan jika material yang ada merupakan material
organik dan tidak umum. Tanah yang mengandung unsur organik dalam jumlah
yang signifikan biasanya akan memiliki aroma khusus sebagai akibat
pembusukan dari vegetasi yang ada. Hal ini akan jelas terlihat pada sampel yang
masih baru/segar, tetapi jika sampel tersebut telah mengering, aromanya dapat
muncul kembali dengan memanaskan sebuah sampel yang basah.

Kondisi Kadar Air (Moisture Condition). Hal ini digambarkan dengan istilah
kering, lembab atau basah dengan mengacu pada kriteria -kriteria berikut.
Kering : tak ada kandungan air, berdebu, dan terasa kering jika dipegang
Lembab : lembab tapi tak tampak adanya air
Basah : tampak adanya air bebas, biasanya tanah berada pada muka air.

Konsistensi. Konsistensi dari sampel yang utuh dari tanah berbutir halus
digambarkan dengan istilah sangat lunak, lunak, agak keras, keras atau sangat
keras berdasarkan kriteria -kriteria berikut ini.

Deskripsi Kriteria
Sangat lunak penekanan dengan jari akan menembus
tanah lebih dari 25 mm
Lunak penekanan dengan jari akan menembus
tanah sekitar 25 mm
Agak keras penekanan dengan jari akan masuk ke
tanah sekitar 6 mm
Keras penekanan dengan jari tak akan menekuk
tanah tapi akan dengan mudah menekuk
dengan ibu jari
Sangat keras penekanan dengan ibu jari tak akan
menekuk tanah

Struktur. Struktur tanah yang lengkap digambarkan berdasarkan kriteria -kriteria


di bawah ini:

Deskripsi Kriteria
Bertingkat Lapisan yang berubah-ubah (alternating
layers) dengan warna dan material yang
bervariasi dengan tebal minimal 6 mm:
perhatikan ketebalannya
Berlapis-lapis Lapisan yang berubah-ubah (alternating
layers) dengan warna dan material yang
bervariasi dengan tebal kurang dari 6mm:
perhatikan ketebalannya
Bercelah Patahan sepanjang bidang retak tertentu
dengan sedikit tahanan terhadap keretakan
Berlapis di Sisi (Slickensided) Terdapat bidang retakan yang halus
atau mengkilat, kadang striated

99
Berblok Tanah kohesif yang dapat diuraikan
menjadi gumpalan kecil yang kaku yang
tak dapat diuraikan lagi
Berlensa Inklusi dari kantung-kantung kecil dari
tanah yang berbeda, seperti lensa-lensa
kecil dari pasir yang tersebar sepanjang
massa lempung: perhatikan ketebalannya
Homogen Warna sama dan terdapat di seluruh bagian

Keterangan Tambahan. Keberadaan dari akar-akaran atau lubang akar,


menyebabkan kesulitan dalam pengeboran atau pembuatan lubang, penggalian
parit atau lubang, keberadaan dari mika, gipsum, dan lain-lain harus dicatat.

Dalam hal identifikasi tanah, prosedur untuk mengidentifikasikan tanah berbutir


halus dan tanah berbutir kasar dijelaskan maisng-masing pada Bab 14 dan 15,
pada standar tersebut.

Tanah berbutir halus diidentifikasikan berdasarkan kuat geser kering, dilatansi,


kekerasan dan plastisitas; kriteria untuk mendeskripsikan setiap sifat-sifat ini
diberikan jika sifat-sifat yang telah ditentukan tersebut ditemukan. Dalam
proses identifikasi, sebuah pemisahan harus dilakukan untuk tanah inorganik
berbutir halus dengan tanah berbutir halus.

Tanah diidentifikasikan sebagai tanah organik (OL/OH dalam sistem USCS)


jika mengandung sejumlah partikel organik yang dapat mempengaruhi sifat-
sifat tanah. Untuk membantu identifikasi dari tanah-tanah ini, karakteristik
berikut harus diperhatikan:
• Tanah organik biasanya memiliki warna coklat gelap hingga hitam dan
memiliki aroma organik
• Sering terjadi, tanah organik akan mengalami perubahan warna, misalnya
dari hitam menjadi coklat, ketika bersentuhan dengan udara luar
• Beberapa tanah organik akan berubah warna menjadi lebih muda secara
signifikan jika dikeringkan di udara luar
• Tanah organik umumnya tidak memiliki kekerasan dan plastisitas yang
tinggi; galur dari uji tingkat kekerasan dari tanah ini akan bersifat seperti
sepon (spongy).

Tanah inorganik diidentifikasikan berdasarkan sifat-sifatnya, dan diberikan


Lambang/Simbol Kelompok dengan mengacu kepada sistem yang digunakan
dalam USCS sebagaimana terlihat pada Tabel 6-1 berikut:

100
Simbol Tanah Kuat Geser Kering Dilatansi Kekerasan

Rendah atau galur


Nol sampai dengan Lambat sampai
ML (thread ) tidak dapat
rendah dengan cepat
dibentuk
Sedang sampai Nol sampai dengan
CL Sedang
dengan tinggi lambat
Rendah sampai Nol sampai dengan Rendah sampai
MH
dengan sedang lambat dengan sedang
Tinggi sampai
CH dengan sangat Nol Tinggi
tinggi

Tabel 6-1 Identifikasi Tanah Inorganik Berbutir Halus berdasarkan Manual Pengujian (ASTM D
2488-93)

Deskripsi dan identifikasi dari tanah berbutir halus berdasarkan pada penjelasan
di atas dapat diterapkan pada sampel-sampel tak terganggu (yang didapat
berdasarkan, misalnya, ASTM D 1587-83), yang diambil pada kedalaman di
antara lokasi pengambilan sampel dengan sampel yang diambil ketika
melakukan Uji Penetrasi Standar (ASTM D 1586-84, diterbitkan kembali tahun
1992). Dalam praktek di Indonesia umumnya dilakukan pemeriksaan (coring)
untuk identifikasi di antara lokasi pengambilan sampel tetapi karena sebagian
besar pemeriksaan tersebut jarang dilakukan dengan detil, ahli pengeboran
menjadi tidak tahu seberapa besar kebutuhan akan pemeriksaan secara hati-hati
tersebut harus dilakukan. Karena pemeriksaan ini relatif murah untuk sebuah
informasi yang bernilai, kebutuhan untuk melakukan pemeriksaan (coring) yang
hati-hati seharusnya ditekankan oleh seorang engineer geoteknik. Dan karena
evaluasi ini merupakan sesuatu yang agak subyektif dan membutuhkan latihan
dalam pengambilan keputusan keteknikan, pemeriksaan (coring) ini harus
ditugaskan kepada personil yang berpengalaman; dan seharusnya tidak
ditugaskan kepada engineer atau geolog muda atau kepada seorang teknisi.

Pencatatan kemas (fabric logging) yang detil umumnya dilakukan di


laboratorium pada sampel tak terganggu. Prosedur yang digunakan selama
Tahap 1 dari Indon-GMC Guides Project pada Pusat Litbang Prasarana
Transportasi Bandung (IRE), dalam menganalisis kemas makro (macrofabric)
dijelaskan pada Bab 6.3 berikut:

6.3 PROSEDUR PENCATATAN DAN ANALISIS KEMAS

Studi kemas makro dari tanah telah dilakukan oleh McGown dan Jarrett
(1997a). Mereka menyatakan bahwa sebagian besar endapan aluvial terbentuk
selama periode dimana perubahan musim dan variasi lain dalam kondisi
pengendapat terjadi, dan partikel tanah yang membentuk endapan ini umumnya
ditemukan dalam unit yang jelas dalam susunannya, ketebalan yang bervariasi,
gradasi partikel, densitas dan mungkin saja mineralogi. Dalam hal untuk
mengukur keberadaan unit ini dari susunan tersebut (ciri atau fitur), sebuah

101
penyelidikan permukaan harus dilakukan, baik pada blok yang digali ataupun
pada sampel yang diambil dengan tabung. Sebuah metode untuk melakukan
pemeriksaan permukaan adalah dengan melakukan pemotongan parsial (partial
cutting) secara hati-hati, membelah (splitting) dan pengeringan di udara luar
(air-drying).

6.3.1 Identifikasi dan Klasifikasi dari Fitur Kemas


Metode investigasi yang diusulkan oleh McGown dan Jarrett dan telah
digunakan di Pusat Litbang Prasarana Transportasi (IRE) adalah dengan
menggambarkan fitur tersebut berdasarkan:
sifat-sifat dasarnya
bentuknya, dan
susunan ruang (spatial)-nya.

Sifat Dasar dari Fitur

Sifat-sifat dasar dari fitur dikarakterisasikan dengan istilah secara fisik dengan
sebuah deskripsi fisik dari fitur dan klasifikasi dari partikel tanah yang
membentuk fitur tersebut. Istilah deskripsi yang diusulkan tersebut diberikan
pada Tabel 6-2.

Ketebalan
Sifat Dasar dari Fitur Deskripsi
(mm)

Sebuah unit lapisan tipis dimana


Pemisahan (Parting) Kurang dari 0.1
tanah cenderung membelah

Fitur unit tunggal Pendebuan Sebuah unit material yang


0.1 → 0.5 membentuk sebuah permukaan
(Single unit (Dusting)
features) pemisah yang tipis
Sebuah unit tunggal dari
Lamina 0.5 → 5.0 material dengan ketebalan
terbatas
Material yang membentuk
Fitur unit tunggal Lapisan tipis → 50.0 sebuah unit tunggal atau sebuah
atau multi-unit unit kombinasi dari susunan
(Single or multi-unit
Lapisan normal 50.0 → 500.0
partikel yang secara signifikan
features) Lapisan tebal Lebih dari 500.0 langsung membedakan antara
lapisan di atas dan di bawahnya.
Sebuah kombinasi unit dari
susunan partikel yang
Lapisan -
membedakan secara signifikan
lapisan di atas dan di bawahnya

Fitur multi unit Pelapisan biasa atau perubahan


(Multi-unit features) dari material akibat pengaruh
perubahan musim. Endapan
Varve - setiap tahun diubah menjadi
sebuah varve tunggal dan dapat
mengandung dua atau lebih unit
dari susunan partikel tersebut

Tabel 6-2 Deskripsi yang Diusulkan untuk Pengkarakterisasian Sifat-sifat Dasar dari Fitur pada
Endapan Berlapis

102
Klasifikasi dari partikel tanah yang terdiri dari fitur-fitur tersebut, ditentukan
berdasarkan data distribusi ukuran partikel, kadar air, karakteristik plastisitas
dan sifat-sifat lainnya yang dianggap tepat.

Bentuk dari Fitur

Bentuk dari fitur dikarakterisasikan dengan istilah berdasarkan ketebalannya,


dengan penilaian terhadap kontinuitasnya serta bentuk geometri permukaannya.

Ketebalan dari berbagai ciri tersebut diukur dalam arah normal terhadap bidang
dimana fitur tersebut meluas. Sebagai contoh, jika fitur tersebut horisontal dan
datar (planar), ketebalan diukur dalam arah vertikal.

Sehubungan dengan penilaian terhadap kontinuitasnya, permukaan yang


diperiksa akan sering dibatasi perluasannya, oleh karenanya sebuah penilaian
yang benar terhadap kontinuitasnya tidak akan dapat dilakukan. Kemungkinan
terbaik penilaian secara kuatitatif atau bahkan kualitatif seharusnya dibuat,
dengan menggunakan korelasi apa saja yang memungkinkan antara lokasi yang
berbeda pada suatu tempat.

Dasar untuk pengkarakterisasian geometeri permukaan dari fitur tersebut


diberikan dalam Tabel 6-3 dan pada Gambar 6-1.

Tipe Deskripsi

Planar Datar
Baik cekung maupun cembung ke atas dengan radius lengkungan rata-
Melengkung (Curved)
rata, R.
Menggantung (Hinged) Kombinasi dari datar dan melengkung
Rapi Kombinasi dari kurva cekung dan cembung alternatif dengan panjang
Terlipat (Gentle) gelombang, S, lebih besar dari tinggi gelombang, h.
(Folded) Kasar Kombinasi dari kurva cekung dan cembung alternatif dengan panjang
(Severe) gelombang, S, kurang dari tinggi gelombang, h.

Tabel 6-3 Karakterisasi dari Geometeri Permukaan dari Fitur-fitur pada Endapan Berlapis

103
Gambar 6-1 Geometri Permukaan dari Fitur-fitur pada Endapan Berlapis (McGown dan Jarrett
1997a)

Data Orientasi Dasar dan Susunan Ruang

Untuk fitur yang datar (planar), melengkung dan menggantung, tumbukan dan
turunan rata-rata dari fitur tersebut seharusnya diberikan sebagaimana
ditunjukkan pada Gambar 6-1; untuk fitur-fitur yang terlipat, rata-rata pukulan
dan turunan dari seluruh fitur dan perubahan cabangnya harus diberikan.

Data mengenai spasi didapat dengan mengukur secara sederhana jarak antara
fitur sejenis dalam arah normal terhadap bidang dimana spasi tersebut meluas.
Frekuensi dari keberadaan fitur tersebut dapat diklasifikasikan sebagaimana
diindikasikan pada Tabel 6-4.

Jarak dari fitur sejenis, S1: Klasifikasi Jumlah fitur


mm Frekuensi sejenis per meter, f

Lebih dari 40 Sangat rendah Kurang dari 25


40 – 20 Rendah 25 - 50
20 – 10 Sedang 50 - 100
10 – 5 Tinggi 100 - 200
5 - 2.5 Sangat tinggi 200 - 400
Kurang dari 2.5 Sangat sering Lebih dari 400

Tabel 6-4 Klasifikasi Frekuensi dari Sedimen Berlapis

104
Persentase ketebalan keseluruhan:
Klasifikasi intensitas Ketebalan rata-rata, tav x jumlah
fitur sejenis per meter, f
Sangat rendah Kurang dari 2.5
Rendah 2.5 - 5.0
Sedang 5 - 10
Tinggi 10 - 20
Sangat tinggi 20 - 50
Dominan* Lebih dari 50

*Jika fitur sejenis melebihi 50% dari tebal keseluruhan, maka harus di istilahkan
sebagai matriks tanah (soil matrix).
Tabel 6-5 Klasifikasi Intensitas dari Sedimen Berlapis

Data spasi dasar dapat digabung dengan data ketebalan fitur untuk menghitung
persentase ketebalan dari berbagai fitur pada arah pengukuran. Hal ini penting
dalam hal untuk mendapatkan pengaruh dari fitur terhadap sifat-sifat keteknikan
tertentu seperti permeabilitas dan kompresibilitas. Klasifikasi yang diusulkan
oleh McGown dan Jarrett untuk prosentase ketebalan keseluruhan dari setiap
kelompok fitur dalam arah pengukuran diberikan pada Tabel 6-5.

Sebuah metode yang lebih tepat untuk menampilkan data yang diukur dan
diturunkan dari analis kemas makro ditunjukkan pada Gambar 6-2

1 Lokasi :
2 Tanggal :
3 Blok, detil lubang : Kedalaman (m): Sampel: Tipe dan Ukuran:
4 Arah terhadap aksis dasar :
5 Deskripsi tanah :
6 Fitur yang dimaksud:
7 Pengukuran:
Sifat dasar Bentuk Orientasi Spasi, S
No. fitur Klasifikasi Ketebalan, t Penilaian Geometri
Tipe fitur Pukulan Turunan (mm)
Tanah (mm) kontinuitas permukaan
1
2
3
4
5
6
7
8

8
20
Jenis feature
(a) (b) (c)
Jumlah fitur

Pengukuran pada fitur sejenis 15


Ketebalan rata -rata, tav (mm)
Spasi rata -rata, Sav (mm) 10
Jumlah fitur pada kedalaman yang
diukur, N 5
Frekuensi per meter, f
Ketebalan relatif keseluruhan dari fitur
0
per meter, tavf 16
4 8 12
Spasi, mm

Gambar 6-2 Formulir Pencatatan Kemas Makro untuk Endapan Berlapis

105
6.3.2 Prosedur Laboratorium

6.3.2.1 Pengeluaran Sampel dan Pembongkaran dari


Permukaan yang Diperiksa
• Keluarkan sampel tak terganggu ke dalam sebuah tabung yang telah diolesi
air dan separuh lingkarannya terbuat dari plastik.
• Bungkus sampel yang telah dikeluarkan tersebut dengan separuh tabung
kedua dan putar hingga sambungan antara keduanya telah vertikal.
• Masukkan dua batang penggaris baja ke dalam sambungan tersebut hingga
mencapai 2/3 dari kedalamannya.
• Secara perlahan tarik sampel tersebut keluar, sehingga kedua bagian yang
sama panjang tersebut masuk ke dalam tabung separuh plastik tersebut.
• Pilih sampel yang paling baik untuk pemeriksaan makro dan pemotretan;
sementara separuh sisanya ditujukan untuk pemeriksaan sifat-sifat
indeksnya.

6.3.2.2 Pemeriksaan dan Pemotretan Susunan Makro


• Pada hari pertama letakkan sebagian sampel yang baik pada bingkai
pemotretan dengan diberi label yang jelas. Perhatikan, nomor film,
kecepatan dan waktu pencahayaan.
• Ukur dari titik spesifik pada bagian atas sampel ke masing-masing bagian
fitur kemas makro yang tak terlindung. Catat jarak ke pusat dari setiap fitur
dan gambarkan dengan menggunakan istilah standar yang diberikan dalam
formulir pencatatan kemas makro (Gambar 6.2). Kemudian tandai dengan
jelas pada formulir tersebut dengan Hari Pertama.
• Pada hari ke-3, lakukan pemotretan kembali sampel tersebut pada bingkai
pemotretan seperti pada hari pertama, jangan lupa untuk merubah semua
detil menjadi HARI KE-3.
• Ukur dan catat kembali, dari titik yang sama seperti pada hari pertama, fitur
kemas makro yang tak terlindung pada formulir pencatatan susunan makro
yang baru, tandai dengan jelas sebagai hari ke-3.
• Ulangi proses di atas untuk hari ke-5, dan tandai dengan jelas foto dan
formulir pencatatan kemas makro yang baru sebagai HARI KE-5.

6.3.2.3 Penyimpanan Data dan Pelaporan


• Simpan data yang dapat ditelusuri kembali pada format lembar pengolahan
data dasar.
• Setelah memproses film kemas makro tersebut, tandai dengan jelas pada
bagian belakang dari foto yang dicetak tersebut dengan nomor referensi
film yang sesuai dengan film negatif dan nomor sampel serta hari dan
tanggal dilakukannya pemotretan tersebut.
• Simpan film negatif tersebut dan dicetak.

106
• Tampilkan kembali fitur yang diukur tersebut ke dalam formulir standar
bersama dengan hasil foto baik yang dipilih untuk setiap harinya. Pilih hasil
yang paling baik untuk dimasukkan dalam laporan.

107
7 Pelaporan

7.1 PERSYARATAN KHUSUS

Dalam metode pengujian yang dijelaskan dalam standar-standar SNI, ASTM


dan BSI, detil dari data diberikan untuk dilaporkan dalam setiap pengujian.

Jumlah dari sifat-sifat dasar (nature) dari data pengujian yang dilaporkan
bergantung pada kompleksitas dan jenis pengujian. Sebagai contoh, pada kasus
pengujian Konsolidasi Tak Terdrainase (CD) yang dijelaskan pada bab 4.3.2.3
dari Panduan Geoteknik ini, ada empat tahapan yang dijalani: persiapan
spesimen uji, penjenuhan, konsolidasi dan kompresi. Data yang dilaporkan
untuk setiap spesimen dicantumkan dalam BS dengan 15 bagian, tidak termasuk
persyaratan untuk pengeplotan grafis dari data, yang dicantumkan secara
terpisah. Laporan pengujian juga harus menegaskan bahwa pengujian tersebut
dilaksanakan berdasarkan pasal 4,5,6 dan 8 dari BS 1377:Part 8: 1990, dimana
pada bagian tersebut dinyatakan tentang metode yang digunakan (pada kasus
khusus ini adalah pengujian triaksial yang terkonsolidasi dan terdrainase dengan
pengukuran perubahan volume) dan memberikan informasi lain yang sesuai
seperti tercantum pada Bab 8.2 berikut.

Tak ada format standar untuk formulir penghitungan dan pencatatan data
pengujian. Meskipun demikian, sebuah persyaratan yang pasti adalah apapun
formulir yang digunakan, harus cukup untuk menampung pencatatan lengkap
dari spesimen uji, metode pengujian, data pengujian dan perhitungan yang
dilakukan pada data tersebut. Pada lampiran dari 9 Parts of BS 1377 (1990),
sebuah contoh formulir untuk penghitungan dan pencatatan data untuk
pengujian tipikal (khusus) diberikan.

Ketika melakukan pemeriksaan kemampuan dari sejumlah laboratorium


sebagaimana didiskusikan pada Bab 2, seorang Insinyur Geoteknik yang
Ditunjuk harus memberikan perhatian khusus dalam memeriksa kelengkapan
dari formulir yang digunakan untuk mencatat dan menganalisis data dan sistem
yang digunakan untuk menyimpan data.

Suatu formulir harus berisi informasi-informasi berikut ini:


• Acuan atau nomor identifikasi sampel, dan lokasi
• Jenis sampel
• Metode persiapan spesimen tes
• Lokasi dan orientasi spesimen tes dalam sampel asli

108
• Deskripsi visual tanah, termasuk kemas tanah dan semua ciri-ciri yang tidak
biasa
• Komentar-komentar berkenaan dengan gangguan sampel yang nampak atau
diduga, termasuk kemungkinan kehilangan kelembaban
• Variasi-variasi terhadap prosedur-prosedur yang diterapkan, beserta alasan-
alasannya
• Tanggal pengujian
• Nama organisasi yang melaksanakan pengujian

Setiap formulir di mana setiap data pengujian dicatat harus mempunyai tempat
untuk nama dan tandatangan sebagai berikut:

Operator Diperiksa Disetujui

Nama
Tanda tangan

Grafik harus menunjukkan semua titik yang diplot, tidak hanya berupa kurva
garis saja dan diberikan skala sebesar mungkin, dalam satuan yang
memudahkan seperti 1, 2, atau 5 divisi per satuan (AASHTO 1988).

Ketika hasil dari sejumlah pengujian ditunjukkan dalam sebuah grafik, sebuah
lambang harus digunakan untuk mengidentifikasikan data yag diplot untuk
spesimen uji yang berbeda dan sebuah kotak judul harus ditunjukkan untuk
setiap grafiknya, yang meliputi:
• Nama proyek
• Nomor proyek
• Tanggal ketika pekerjaan tersebut dilakukan
• Jenis tanah
• Nomor lubang bor dan sampel serta kedalaman elevasinya
• Data lain yang berkaitan yang menidentifikasikan spesimen uji.

7.2 PERSYARATAN UMUM

Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk harus memantau secara langsung kemajuan


dari penyelidikan dan harus diberi salinan dari data yang telah diperiksa dan
ditandatangani jika datanya telah ada. Dokumen laboratorium harus ada untuk
diperiksa oleh Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk ini ketika mengunjungi
laboratorium dan harus memuat catatan minimum berikut:
• Penampang Pengeboran.
• Formulir Pemindahan Sampel.

109
• Formulir Pemeriksaan Sampel.
• Data pengujian laboratorium dan perhitungannya.
• Detil dari penyimpangan terhadap prosedur standar atau yang telah
diterima.

Berkaitan dengan penyimpangan dari standar, hal ini hanya diijinkan dengan
persetujuan sebelumnya dari engineer geoteknik yang ditunjuk; dan persetujuan
tersebut harus diberikan secara tertulis dan disimpan oleh insinyur laboratorium
dan Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk.

7.3 LAPORAN LABORATORIUM

Laporan untuk penyelidikan laboratorium harus mengandung informasi yang


dicantumkan di bawah ini jika relevan. Jika bagian-bagian yang relevan tidak
diikutsertakan dalam Laporan maka alasan-alasan penghilangannya harus
diberikan.

Sampul

Suatu format contoh diberikan pada Panduan Geoteknik 4.

Laporan harus secara jelas diberi tanda sebagai

Pendahuluan: jika tidak semua isi yang diinginkan diikutsertakan

Konsep: jika isi dari laporan lengkap, tetapi diedarkan untuk


dikomentari. Konsep bisa juga mengandung isi-isi yang
belum diedit.

Akhir

Tanggal harus selalu nampak pada sampul.

Daftar Isi

Ini harus mencantumkan setiap bagian dari laporan, dengan nomor halaman.
Dia harus berisi semua Tabel, Gambar, Gambar Teknik dan Lampiran.

Suatu format contoh diberikan pada Panduan Geoteknik 4.

Lembar Persetujuan

Suatu format contoh diberikan pada Panduan Geoteknik 4.

Jika Laporan berupa Pendahuluan atau Konsep makan hal ini harus
diungkapkan.

110
Pengantar

Menyediakan acuan-acuan lengkap terhadap Laporan-laporan sebelumnya.

Menyebutkan tanggal-tanggal saat pekerjaan berlangsung.

Menyebutkan Proyek, Pemberi tugas, Insinyur, tujuan dari penyelidikan dan


semua aspek-aspek khusus pekerjaan.

Jika Laporan berupa Pendahuluan cantumkan ruang lingkup pekerjaan yang


dilaksanakan dan sisa-sisa yang akan dilaksankan.

Penjelasan Tempat

Suatu Peta Lokasi dengan rincian yang memadai sehingga seseorang bisa
menemukan lokasinya di darat. Ini harus menandai tempat dalam hubungannya
dengan kota atau desa terdekat dan menyertakan suatu skala dan penunjuk
Utara. Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk harus mempersiapkan suatu Peta
Lokasi pada tahap studi meja dan menyediakan gambar teknik untuk digunakan
pada semua laporan-laporan yang tersisa.

Suatu Peta Umum dengan rincian yang memadai untuk memperlihatkan


perincian dari proyek dan lokasi posisi-posisi penyelidikan yang dihubungkan
dengan sistem koordinat tempat. Semua penyelidikan yang dilaksanakan pada
tahap pendahuluan harus telah ditandai dengan cara mengukur jaraknya
terhadap berbagai ciri-ciri tempat. Lokasi-lokasi ini kemudian harus telah
dikoordinasikan selama survai utama untuk penyelidikan lapangan.

Laboratorium Eksternal

Nama semua laboratorium eksternal yang terlibat dalam program pengujian,


dan dasar pemilihannya harus dinyatakan dalam laporan; tes-tes yang
dilaksanakan oleh laboratorium eksternal harus secara jelas dinyatakan. Laporan
harus memberi komentar mengenai kualitas dari fasilitas-fasilitas yang ada pada
laboratorium eksternal dengan penekanan utama pada semua aspek operasinya
yang dianggap di bawah standar. Laporan harus menjelaskan bagaimana
performa laboratorium eksternal dimonitor dan terutama pemenuhannya
terhadap prosedur-prosedur pengontrolan kualitas.

Tes-tes Laboratorium

Rangkuman hasil-hasil tes menggunakan format yang sama seperti Jadwal


Pengujian Laboratorium. Jika ada bagian pengujian yang diinginkan yang tidak
dilaksanakan dengan alasan apapun maka hal ini harus dinyatakan.

Suatu daftar masing-masing tes dan standar yang digunakan untuk tes. Jika
suatu standar yang diakui tidak dipakai, atau ada deviasi dari standar, maka hal
ini harus dijelaskan. Jika metode tersebut membutuhkan penjelasan yang
panjang dia harus dimasukkan dalam Lampiran. Laboratorium harus
mengembangkan penjelasan-penjelasan yang baku untuk laporan-laporannya.

111
Referensi-referensi

Semua sumber informasi, dan data eksternal lainnya yang digunakan dalam
laporan harus dirujuk dengan lengkap.

Lampiran-lampiran

Lampiran-lampiran harus menyertakan

Catatan-catatan pemboran yang telah direvisi dengan mempertimbangkan hasil-


hasil tes laboratorium.

Lembar-lembar Penyerahan Sampel

Lembar-lembar Penetapan Sampel

Hasil-hasil Tes Laboratorium

Semua lembar-lembar hasil tes harus berisi informasi yang dijabarkan pada
Bagian 7.1.

Gambar-gambar Teknik

Semua gambar-gambar teknik harus berisi informasi berikut:

Untuk semua gambar-gambar teknik: skala batang, nomor gambar teknik,


rujukan terhadap data sumber untuk informasi survei dan sebagainya

Untuk peta-peta, sebagai tambahan: penunjuk utara, jaringan.

Data-data Tambahan

Data-data mentah dari laboratorium tidak umum untuk dimasukkan dalam


laporan-laporan. Namun Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk harus menyimpan
suatu dokumen bersi data-data mentah yang diterima dari laboratorium untuk
keperluan-keperluan perujukkan.

112
8 Referensi

Suatu bibliografi sekitar sebilan ratus referensi dipersiapkan sebagai bagian dari
proyek IGMC2 dan dimasukkan pada yang menyertai CD Panduan Geoteknik
ini.

Semua dokumen pada Bibliografi disimpan di Perpustakaan IRE, kecuali yang


disebutkan pada database sebagai tersedia di tempat lain di Bandung.

AASHTO (1988), Manual on Subsurface Investigations, American Association


of State Highway and Transportation Officials, Washington, DC, USA.
Akroyd T N W (1957), Laboratory Testing in Soil Engineering, Soil Mechanics
Limited, London, UK, reprinted 1969.
Al-Khafazi A W & Andersland O B (1992), Geotechnical Engineering and Soil
Testing, Saunders College Publishing, USA.
ASTM Standards (1994), Section 4, Construction: Volumes 04.08 and 04.09,
Soils and Rock, American Society for Testing and Materials, Philadelphia,
USA.
Brand E W & Brenner R P (1981), Soft Clay Engineering, Elsevier Scientific
Publishing Company, Amsterdam, The Netherlands.
BS 1377 (1990), Methods of Test for Soils for Civil Engineering Purposes,
Parts 1-9, British Standards Institution, London.
Head K H (1984), Manual of Soil Laboratory Testing, Volume 1: Soil
Classification and Compaction Tests, Pentech Press Limited, Plymouth, UK.
Hvorslev M J (1949), Subsurface Exploration and Sampling of Soils for Civil
Engineering Purposes, US Army Waterways Experimental Station, Vicksburg,
Miss, USA.
ISO/IEC (1999), International Standard ISO/IEC 17025: 1999 (E), General
Requirements for the Competence of Testing and Calibration Laboratories, The
International Organization for Standardization and the International
Electrotechnical Commission, Geneva, Switzerland.
ISSMFE (1981), International Manual for the Sampling of Soft Cohesive Soils,
The Sub-Committee on Soil Sampling (ed), International Society for Soil
Mechanics and Foundation Engineering, Tokai University Press, Tokyo, Japan.
Japanese Standards Association (1960), Method of Test for Consolidation of
Soils, Japanese Industrial Standard JIS A 1217-1960.
Japanese Standards Association (1977), Method of Unconfined Compression
Test of Soil, Japanese Industrial Standard JIS A 1216-1958 (revised 1977).

113
Krebs R D & Walker R D (1971), Highway Materials, McGraw-Hill Book
Company, New York.
Lambe T W & Whitman R V (1979), Soil Mechanics, SI Version, John Wiley
and Sons, Inc, New York.
Landva A O, Pheeney P E & Mersereau D E (1983), Undisturbed Sampling of
Peat, Testing of Peats and Organic Soils, ASTM STP 820, P M Jarrett (ed),
American Society for Testing and Materials, Philadelphia, USA.
Landva A O, Korpijaakko E O & Pheeney P E (1983) Geotechnical
Classification of Peats and Organic Soils, Testing of Peats and Organic Soils,
ASTM STP 820, P M Jarrett (ed), American Society for Testing and Materials,
Philadelphia, USA.
La Rochelle P, Leroueil S & Tavenas F (1986), A Technique for Long – Term
Storage of Clay Samples, Canadian Geotechnical Journal, 23, pp602-605.
Larsson R, Nilsson G & Rogbeck J (1987), Determination of Organic Content,
Carbonate Content and Sulphur Content in Soils, Swedish Geotechnical
Institute, Linköping, Report No. 27E.
Larsson R, Nilsson G & Rogbeck J (1989) Determination of Organic Matter,
Carbonates and Sulphides in Soils, 12th International Conference on Soil
Mechanics and Foundation Engineering, Rio De Janeiro, pp2091-2094.
Larsson R (1996), Organic Soils, Chapter 1, Embankments on Organic Soils, J
Hartlen and W Wolski Eds, Elsevier Science B V, The Netherlands.
Lechowicz Z, Szymanski A & Barankski T (1996) Laboratory Investigations,
Chapter 3, Embankments on Organic Soils, J Hartlen and W Wolski (eds),
Elsevier Science B V, The Netherlands.
McGown A & Jarrett P M (1997a), The Origins, Nature and Characterization
of Soft Soils, Organic Soils and Peat, Seminar 1, INDON-GMC Guides Project,
Stage 1, Institute of Road Engineering, Bandung.
McGown A & Jarrett P M (1997b), Tropical Soft Soils and Peat: Site
Investigation and Laboratory Testing, Notes on Short Course Presented at the
Institute of Road Engineering, Bandung (July 1997).
Riley J L (1989), Laboratory Methods for Testing Peat – Ontario Peatland
Inventory Project, Ontario Geological Survey, Miscellaneous Paper 145, Mines
and Minerals Division, Ministry of Northern Development and Mines, Ontario,
Canada.
Skempton A W (1953), The Colloidal ‘Activity‘ of Clays, Proceedings of the
Third International Conference on Soil Mechanics, 1, Zurich.

114
Lampiran A

Metode-metode Tes Standar yang


Diterbitkan oleh SNI, ASTM dan
BSI
Metode Tes Standar
Tes BS 1377
SNI ASTM (1994)
(1990)
• Klasifikasi lempung - D 2487-93 -
dan lanau organik dan
inorganik
• Klasifikasi gambut - D 4427-92 -
• Kadar air asli tanah SK SNI M -05-1989F D 2216-92 -
(SNI 03-1965-1990)
• Distribusi ukuran SK SNI M -23-1993-03 D 422-63 -
partikel (SNI-03-3423-1994)
• Berat jenis - D 854-92 -
• Berat isi total tanah SK SNI M -07-1993-03 - Klausa 7, Part 2
(SNI 03-3637-1994)
• Batas cair (metode - D 4318-93 -
Casagrande)
• Batas plastis - D 4318-93 -
• Batas susut - D 427-93 -
(metode merkuri)
• Batas susut - D 4943-89 -
(metode lilin)
• Tes geser baling - D 4648-87 -
laboratorium
• Kadar bahan organik - D 2974-87 Klausa 4, Part 3
(metode kehilangan
akibat pembakaran)
• Kadar bahan organik - - Klausa 3, Part 3
(metode oksidasi
dichromate)
• Kadar air asli gambut - D 2974-87 -
dan tanah organik
lainnya
• Berat isi total gambut - D 44531-86 -
(reapproved 1992)
• Kadar serat gambut - D 1997-85 -
• Ekstraksi air pori dan - D 4542-85 -
pengukuran salinitas (reapproved 1990)
• Konduktivitas

• pH bahan-bahan - D 2976-71 -
gambut (reapproved 1990)
• pH tanah Pd.M -12-1997-03 D 4972-89 -
• Kandungan karbonat - D 4373-84 Klausa 6, Part 3
(re-approved
1990)

Tabel A1 Metode-metode tes standar yang diterbitkan oleh SNI, ASTM dan BSI.

A1
Standard Method of Test
Test SNI ASTM (1994) BS 1377
(1990)
• Kandungan klorida - - Klausa 7, Part 3
• Kandungan sulfat - - Klausa 5, Part 3
• Tes geser langsung SK SNI M-108-1990-03 D 3080-90 -
(SNI 03-2813-1992)
• Tes kompresi Pd.M22-1996-03 D 2850-87 -
triaksial tak (SNI 03-4813-1998)
terkonsolidasi tak
terdrainase (UU)
• Tes kompresi SK SNI M-05-1990F D 4767-88 -
triaksial (SNI 03-2455-1991)
terkonsolidasi tak
terdrainase (CU)
• Tes kompresi - - Klausa-klausa 4,
triaksial 5, 6 dan 8 dari
terkonsolidasi Part 3
terdrainase (CD)
• Tes konsolidasi SK SNI M-107-1990-03 D 2435-90 -
satu-dimensi (SNI 03-2812-1992)
• Sifat-sifat - - Klausa 3, Part 6
konsolidasi
menggunakan sel
hidraulik (Rowe)
• Tes permeabilitas - - Klausa 5, Part 5
(permeameter
tinggi energi
konstan)
• Tes permeabilitas - - Klausa 6, Part 6
(alat triaksial)
• Tes permeabilitas - - Klausa 4, Part 6
(sel konsolidasi
hidraulik)
• Deskripsi dan - D 2488-93 -
identifikasi tanah

Tabel A1 Metode-metode tes standar yang diterbitkan oleh SNI, ASTM dan BSI (lanjutan).

A2
Lampiran B

Tes Kompresi Triaksial


Terkonsolidasi Terdrainase dengn
Pengukuran Perubahan Volume:
Klausa-klausa 5, 6 dan 8 dari BS
1377: Part 8: 1990
B1
B2
B3
B4
B5
B6
B7
B8
Lampiran C

Persiapan Sampel-sampel Tak


Terganggu untuk Pengujian:
Klausa 8, BS 1377: Part 1: 1990
C1
C2
C3
C4
Peserta dan Ucapan Terima Kasih

Penyiapan Panduan Geoteknik ini dilakukan oleh Pusat Litbang


Prasarana Transportasi, Bandung melalui Kontrak Proyek Tahap 2
Indonesian Geotechnical Materials and Construction Guides.
Pekerjaan tersebut dilaksanakan antara bulan Nopember 1999 dan
Oktober 2001.
Tim Pusat Litbang Prasarana Transportasi:
Dr. Ir. Hedy Rahadian,MSc., Ir. GJW Fernandez, Dayat, B.E.,
Lanalyawati, B.E., Iyus Rusmana, B.E., Drs. Bambang
Purwadi, Ir. Saroso B.S., Ir. Suhaimi Daud, Drs. Suherman,
Ir. Benny Moestofa, Ir. Rudy Febrijanto, M.T., Rakhman
Taufik, S.T., Ir. Djoko Oetomo, Dian Asri, S.T., Slamet
Prabudi, S.T., Endang Suwanda, Ahmad Rusdi, Ir. Haliena
Armela, Irdam Buyung Adik, Wachjoe Poernama, Sumarno,
Silvester Fransisko, Ahmad Jaenudin, Hartiti Rochkyatun,
Yayah Rokayah, Maman Suherman, Purbo Santoso,
Wagiman, Deni Hidayat.

Konsultan Proyek terdiri atas WSP International


bekerja sama dengan PT Virama Karya dan PT Trikarla Cipta
Staf Konsultan:
Michael Ellis, Alan Rachlan, MSc., Jeremy Burto n,
Dr. Jim McElvaney, Tony Barry, Ir. Suprapto,
Ir. A. E. Sulistiadi, Ir. Tata Peryoga, M.T., Ir. Budi Satriyo,
Sugeng Parwoto, Susilowati, Renny Susanty.

Pengkaji eksternal Panduan Geoteknik, oleh:


Abdul Aziz Djajaputra, Prof. Dr. Ir. (ITB – Bandung )
Bigman Hutapea, Dr. Ir. (HATTI-Jakarta)
Damrizal Damoerin, Ir. (UI – Jakarta)
Masyhur Irsyam, Dr. Ir. (ITB – Bandung )
Paulus P Rahardjo, Prof. Dr. Ir. (UNPAR – Bandung)
Richard Langford Johnson (Proyek PMU SURIP)
Sudaryono, M.M. Dr. Ir. (HPJI – Jakarta )
Yun Yunus Kusumahbrata, Dr. (Puslitbang Geologi-Bandung)

Para penyusun Panduan ingin menyampaikan ucapan terima kasih


atas dukungan yang telah diberikan oleh:
Ir. Frankie Tayu, Mantan Kepala Pusat Litbang
Prasarana Transportasi
Ir. Hendro Ryanto, MEngSc. Kepala Pusat Litbang Prasarana
Transportasi
Dr. Ir. Hikmat Iskandar, Kepala Bidang Tata Operasional,
Pusat Litbang Prasarana Transportasi
dan Bambang Dwiyanto, M.Sc. Kepala Puslitbang Geologi atas
dukungan serta ijin penggunaan peta geologi Indonesia.
Pusat Litbang Prasarana Transportasi
Jl Raya Timur 264
Bandung 40294
Indonesia
Telp +62 (0)22 7802251-3
Email pusjal@melsa.net.id