Anda di halaman 1dari 10

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perbedaan pendapat antar satu orang dengan orang lain bukan merupakan hal yang asing bagi umat manusia. Karena, perbedaan merupakan bakat alami yang telah diberikan oleh Allah kepada manusia. Sehingga, dengan adanya bakat alami tersebut sangat wajar jika muncul ketidakserasian antara satu orang dengan orang lain. Bahkan, meskipun hidup dalam kondisi sosial yang sama, watak serta pola pikir setiap manusia belum tentu serasi. Kenyataan seperti inilah yang kemudian menjadi sebuah alasan bagi terpecahnya umat beragama kedalam beberapa kelompok. Bibit-bibit perpecahan dalam islam sebenarnya mulai muncul sejak peristiwa politik yang dikenal dengan istilah peristiwa Saqifah Bani Sa'idah. Yakni, peristiwa dikalangan muslimin tentang siapakah yang berhak menggantikan Nabi sebagai kepala pemerintahan. Perbedaan politik yang terjadi pada waktu itu dapat diatasi atas kebijakan Umar Ibn Khottob dengan membai'at Abu Bakar As-Shiddiq sebagai kholifah pertama. Aliran Murji'ah adalah aliran Islam yang muncul dari golongan yang tak sepaham dengan Khowarij. Ini tercermin dari ajarannya yang bertolak belakang dengan Khowarij. Pengertian murji'ah sendiri ialah penangguhan vonis hukuman atas perbuatan seseorang sampai di pengadilan Allah SWT kelak. Jadi, mereka tak mengkafirkan seorang Muslim yang berdosa besar, sebab yang berhak menjatuhkan hukuman terhadap seorang pelaku dosa hanyalah Allah SWT, sehingga seorang Muslim, sekalipun berdosa besar, dalam kelompok ini tetap diakui sebagai Muslim dan punya harapan untuk bertobat.

B. Tujuan Adapun tujuan pembuatan makalah ini yaitu mengetahui sejarah kemunculan aliran Murjiah beserta sebab-sebab yang melatar belakangi kemunculannya.

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark.

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian aliran Murjiah Kata Murjiah berasal dari kata bahasa Arab arjaa, yarjiu, yang berarti menunda atau menangguhkan. Salah satu aliran teologi Islam yang muncul pada abad pertama Hijriyah. Pendirinya tidak diketahui dengan pasti, tetapi Syahristani menyebutkan dalam bukunya AlMilal wa an-Nihal (buku tentang perbandingan agama serta sekte-sekte keagamaan dan filsafat) bahwa orang pertama yang membawa paham Murjiah adalah Gailan ad-Dimasyqi. Aliran ini disebut Murjiah karena dalam prinsipnya mereka menunda penyelesaian persoalan konflik politik antara Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Sufyan dan Khawarij ke hari perhitungan di akhirat nanti. Karena itu mereka tidak ingin mengeluarkan pendapat tentang siapa yang benar dan siapa yang dianggap kafir diantara ketiga golongan yang tengah bertikai tersebut. Menurut pendapat lain, mereka disebut Murjiah karena mereka menyatakan bahwa orang yang berdosa besar tetap mukmin selama masih beriman kepada Allah SWT dan rasul-Nya. Adapun dosa besar orang tersebut ditunda penyelesaiannya di akhirat. Maksudnya, kelak di akhirat baru ditentukan hukuman baginya. Persoalan yang memicu Murjiah untuk menjadi golongan teologi tersendiri berkaitan dengan penilaian mereka terhadap pelaku dosa besar. Menurut penganut paham Murjiah, manusia tidak berhak dan tidak berwenang untuk menghakimi seorang mukmin yang melakukan dosa besar, apakah mereka akan masuk neraka atau masuk surga. Masalah ini mereka serahkan kepada keadilan Tuhan kelak. Dengan kata lain mereka menunda penilaian itu sampai hari pembalasan tiba. Paham kaum Murjiah mengenai dosa besar berimplikasi pada masalah keimanan seseorang. Bagi kalangan Murjiah, orang beriman yang melakukan dosa besar tetap dapat disebut orang mukmin, dan perbuatan dosa besar tidak mempengaruhi kadar keimanan. Alasannya, keimanan merupakan keyakinan hati seseorang dan tidak berkaitan dengan perkataan ataupun perbuatan. Selama seseorang masih memiliki keimanan didalam hatinya, apapun perbuatan atau perkataannya, maka ia tetap dapat disebut seorang mukmin, bukan kafir. Murjiah mengacu kepada segolongan sahabat Nabi SAW, antara lain Abdullah bin Umar, Saad bin Abi Waqqas, dan Imran bin Husin yang tidak mau melibatkan diri dalam pertentangan politik antara Usman bin Affan (khalifah ke-3; w. 656) dan Ali bin Abi Thalib (khalifah ke-4; w. 661).

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark.

B. Latar belakang munculnya aliran Murjiah 1. Permasalahan Politik Munculnya aliran ini di latar belakangi oleh persoalan politik, yaitu persoalan khilafah (kekhalifahan). Ketika terjadi pertikaian antara Ali dan Muawiyah, dilakukanlah tahkim (arbitrase) atas usulan Amr bin Ash, seorang kaki tangan Muawiyah. Kelompok Ali terpecah menjadi 2 kubu, yang pro dan kontra. Kelompok kontra akhirnya keluar dari Ali yakni Khawarij. Mereka memandang bahwa tahkim bertentangan dengan Al-Quran, dengan pengertian, tidak bertahkim dengan hukum Allah. Oleh karena itu mereka berpendapat bahwa melakukan tahkim adalah dosa besar, dan pelakunya dapat dihukumi kafir, sama seperti perbuata dosa besar yang lain. Kaum khawarij, pada mulanya adalah penyokong Ali bin Abi Thalib tetapi kemudian berbalik menjadi musuhnya. Karena ada perlawanan ini, pendukung-pendukung yang tetap setia pada Ali bin Abi Thalib bertambah keras dan kuat membelanya dan akhirnya mereka merupakan golongan lain dalam islam yang dikenal dengan nama Syiah. Dalam suasana pertentangan inilah, timbul suatu golongan baru yang ingin bersikap netral tidak mau turut dalam praktek kafir mengkafirkan yang terjadi antara golongan yang bertentangan ini. Bagi mereka sahabat-sahabat yang bertentangan ini merupakan orangorang yang dapat dipercayai dan tidak keluar dari jalan yang benar. Oleh karena itu mereka tidak mengeluarkan pendapat siapa sebenarnya yang salah, dan lebih baik menunda (arjaa) yang berarti penyelesaian persoalan ini di hari perhitungan di depan Tuhan. Gagasan irja atau arja yang dikembangkan oleh sebagian sahabat dengan tujuan menjamin persatuan dan kesatuan umat islam ketika terjadi pertikaian politik dan juga bertujuan menghindari sekatrianisme. 2. Permasalahan KeTuhanan Dari permasalahan politik, mereka kaum Murjiah pindah kepada permasalahan ketuhanan (teologi) yaitu persoalan dosa besar yang ditimbulkan kaum khawarij, mau tidak mau menjadi perhatian dan pembahasan pula bagi mereka. Kalau kaum Khawarij menjatuhkan hukum kafir bagi orang yang membuat dosa besar, kaum Murjiah menjatuhkan hukum mukmin. Pendapat penjatuhan hukum kafir pada orang yang melakukan dosa besar oleh kaum Khawarij ditentang sekelompok sahabat yang kemudian disebut Murjiah yang mengatakan bahwa pembuat dosa besar tetap mukmin, tidak kafir, sementara dosanya diserahkan kepada Allah, apakah dia akan mengampuninya atau tidak.

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark.

C. Ciri-ciri faham Murji'ah Diantaranya adalah : 1. Rukun iman ada dua yaitu : iman kepada Allah dan Iman kepada utusan Allah. 2. Orang yang berbuat dosa besar tetap mukmin selama ia telah beriman, dan bila meninggal dunia dalam keadaan berdosa tersebut ketentuan tergantung Allah di akhirat kelak. 3. Perbuatan kemaksiatan tidak berdampak apapun terhadap seseorang bila telah beriman. Dalam artian bahwa dosa sebesar apapun tidak dapat mempengaruhi keimanan seseorang dan keimanan tidak dapat pula mempengaruhi dosa. Dosa ya dosa, iman ya iman. 4. Perbuatan kebajikan tidak berarti apapun bila dilakukan disaat kafir. Artinya perbuatan tersebut tidak dapat menghapuskan kekafirannya dan bila telah muslim tidak juga bermanfaat, karena melakukannya sebelum masuk Islam. Golongan murjiah tidak mau mengkafirkan orang yang telah masuk Islam, sekalipun orang tersebut dzalim, berbuat maksiat dll, sebab mereka mempunyai keyakinan bahwa perbuatan dosa sebesar apapun tidak mempengaruhi keimanan seseorang selama orang tersebut masih muslim, kecuali bila orang tesebut telah keluar dari Islam (Murtad) maka telah berhukum kafir. Aliran Murjiah juga menganggap bahwa orang yang lahirnya terlihat atau menampakkan kekufuran, namun bila batinnya tidak, maka orang tersebut tidak dapat dihukum kafir, sebab penilaian kafir atau tidaknya seseorang itu tidak dilihat dari segi lahirnya, namun bergantung pada batinnya. Sebab ketentuan ada pada Itiqad seseorang dan bukan segi lahiriyahnya. Aliran Murjiah ini muncul sebagai reaksi atas sikapnya yang tidak mau terlibat dalam upaya kafir mengkafirkan terhadap orang yang melakukan dosa besar, sebagaimana hal itu dilakukan oleh aliran khawarij . Kaum Murjiah muncul adanya pertentangan politik dalam Islam. Dalam suasana demikian, kaum Murjiah muncul dengan gaya dan corak tersendiri. Mereka bersikap netral, tidak berkomentar dalam praktek kafir atau tidak bagi golongan yang bertentangan. Mereka menangguhkan penilaian terhadap orangorang yang terlibat dalam peristiwa tahkim itu dihadapan Tuhan, karena halnya Tuhan-lah yang mengetahui keadaan iman seseorang. Demikian pula orang mukmin yang melakukan dosa besar itu dianggap mukmin dihadapan mereka. Orang mukmin yang melakukan dosa besar itu dianggap tetap mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad sebagai

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark.

Rasul-nya. Dengan kata lain bahwa orang mukmin sekalipun melakukan dosa besar masih tetap mengucapkan dua kali masyahadat yang menjadi dasar utama dari iman. Oleh karena itu orang tersebut masih tetap mukmin, bukan kafir. Alasan Murjiah menganggapnya tetap mukmin, sebab orang Islam yang berbuat dosa besar tetap mengakui bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan Nabi Muhammad adalah rasulnya. D. Perbedaan pengikut aliran Murjiah Pada umunmnya kaum Murjiah di golongkan menjadi dua golongan besar, yaitu Golongan Moderat dan golongan Ekstrim. 1. Golongan Moderat Golongan moderat berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah kafir dan tidak kekal dalam neraka. Tetapi akan dihukum dalam neraka sesuai dengan besarnya dosa yang dilakukannya, dan ada kemungkinan bahwa Tuhan akan mengampuni dosanya dan oleh karena itu tidak akan masuk neraka sama sekali. Golongan Murjiah yang moderat ini termasuk Al-Hasan Ibn Muhammad Ibn Ali bin Abi Thalib, Abu Hanifah, Abu Yusuf dan beberapa ahli Hadits. Menurut golongan ini, bahwa orang islam yang berdosa besar masih tetap mukmin. Dalam hubungan ini Abu Hanifah memberikan definisi iman sebagai berikut: iman adalah pengetahuan dan pengakuan adanya Tuhan, Rasul-rasul-Nya dan tentang segala yang datang dari Tuhan dalam keseluruhan tidak dalam perincian; iman tidak mempunyai sifat bertambah dan berkurang, tidak ada perbedaan manusia dalam hal iman. Dengan gambaran seperti ini, maka iman semua orang Islam sama, tidak ada perbedaan antara iman orang islam yang berdosa besar dan iman orang islam yang patuh menjalankan perintah-perintah Allah. Jalan pikiran yang dikemukakan oleh Abu Hanifah ini dapat membawa kesimpulan bahwa perbuatan kurang penting diperbandingkan dengan iman. 2. a. Golongan Murjiah Ekstrim Kelompok Al-Jahmiyah Golongan Murjiah ekstrim adalah Jahm bin Safwan dan pengikutnya disebut alJahmiah. Golongan ini berpendapat bahwa orang Islam yang percaya pada Tuhan, kemudian menyatakan kekufurannya secara lisan, tidaklah menjadi kafir, karena kafir dan iman tempatnya bukan dalam bagian tubuh manusia tetapi dalam hati. b. Kelompok Ash-Shalihiyah

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark.

Pengikut Abu Al-Hasan Al-Salihi iman adalah megetahui Tuhan dan kufr adalah tidak tahu pada Tuhan. Dalam pengertian bahwa mereka sembahyang tidaklah ibadah kepada Allah, karena yang disebut ibadat adalah iman kepadanya, dalam arti mengetahui Tuhan. c. Kelompok Al-Yunusiyah dan Kelompok Al-Ubaidiyah Berkesimpulan bahwa melakukan maksiat atau perbuatan jahat tidaklah merusak iman seseorang. Mati dalam iman, dosa-dosa dan perbuatan- perbuatan jahat yang dikerjakan tidaklah merugikan orang yang bersangkutan. d. Kelompok Al-Hasaniyah Kelompok ini mengatakan bahwa, saya tahu tuhan melarang makan babi, tetapi saya tidak tahu apakah babi yang diharamkan itu adalah kambing ini, maka orang tersebut tetap mukmin bukan kafir. Begitu pula orang yang mengatakan saya tahu Tuhan mewajibkan naik haji ke Kabah, tetapi saya tidak tahu apakah Kabah di India atau di tempat lain, orang yang demikian juga tetap mukmin.

E. Ajaran-ajaran Murjiah Ajaran pokok Murjiah pada dasarnya bersumber dari gagasan atau doktrin irja atau arjaa yang diaplikasikan dalam banyak persoalan, baik persoalan politik maupun persoalan teologis. Dibidang politik, doktrin irjadiimplementasikan dengan sikap politik netral atau nonblok, yang hampir selalu diekspresikan dengan sikap diam. Itulah sebabnya, kelompok Murjiah di kenal pula dengan The Queitists (kelompok bungkam). Sikap ini akhirnya berimplikasi jauh sehingga membuat Murjiah selalu diam dalam persoalan politik Ajaran-ajaran pokok Murjiah dapat disimpulkan sebagai berikut: a. Iman hanya membenarkan (pengakuan) di dalam hati. b. Orang islam yang melakukan dosa besar tidak dihukumkan kafir. Muslim tersebut tetap mukmin selama ia mengakui dua kalimah syahadat. c. Hukum terhadap perbuatan manusia ditanggung hingga hari kiamat. Dengan kata lain, kelompok murjiah memandang bahwa perbuatan atau amal tidaklah sepenting iman, yang kemudian menngkat pada pengertian bahwa, hanyalah imanlah yang penting dan yang menentukan mukmin atau tidak mukminnya seseorang; perbuatan-perbuatan tidak memiliki pengaruh dalam hal ini. Iman letaknya dalam hati seseorang dan tidak diketahui manusia lain; selanjutnya perbuatan-perbuatan manusia tidak menggambarkan apa yang ada dalam hatinya. Oleh karena itu ucapan-ucapan dan

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark.

perbuatan-perbuatan seseorang tidak mesti mengandung arti bahwa ia tidak memiliki iman. Yang penting ialah iman yang ada dalam hati. Dengan demikian ucapan dan perbuatanperbuatan tidak merusak iman seseorang . F. Tokoh-tokoh aliran Murjiah Pemimpin utama Murjiah adalah Hasan bin Bilal al Muzi, Abu Sallat al samman, Dirrar bin Umar. Dalam perkembangan selanjutnya, terjadi perbedaan pendapat di kalangan pengikut Murjiah sehingga aliran ini terpecah menjadi beberapa sekte. Tokoh Murjiaah Moderat adalah Hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib berpendapat bahwa bagaimanapun besarnya dosa seseorang, kemungkinan mendapat ampunan dari Tuhan masih ada. Tokoh Murjiah eksterm adalah Jahaf bin Shafwan. Berpendapat, sekalipun seseorang menyatakan dirinya musyrik, orang itu tidak dihukumkan kafir.

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark.

BAB III PENUTUP

A.

Kesimpulan Kemunculan aliran Murjiah dalam sejarah perkembangan ilmu teologi dalam islam,

tidak terlepas dari pengaruh perkembangan politik pada masa itu, yang dimulai dari pertentangan Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah. Aliran Murjiah merupakan aliran yang berusaha bersikap netral atau nonblok dalam proses pertentangan yang terjadi antara kaum Khawarij dengan kaum Syiah yang telah masuk pada permasalahan kafir mengkafirkan. Dan dalam perkembangannya Murjiah ikut memberikan tanggapan dalam permasalahan ketentuan Tuhan dalam menetapkan seseorang telah keluar Islam atau masih mukmin. Tipe pemikiran yang dikembangkan oleh kaum Murjiah adalah bahwa penentuan seseorang telah keluar dari Islam tidak bisa ditentukan oleh manusia tapi di tangguhkan sampai nanti di akhirat. Pembagian golongan Murjiah dapat dibagi ke dalam dua golongan besar yaitu, golongan Murjiah moderat dan golongan Murjiah ekstrem.

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark.

DAFTAR PUSTAKA

Dinul Islami. Murjiah. www. Murjiah. Blogspot.com. diakses pada tanggal 2 Oktober 2011. Joesafira. Aliran Murjiah. http://joesafira. Aliran murjiah.com. diakses pada tanggal 2 Oktober 2011. Wikipedia. Murjiah. http://murjiah.com. Diakses pada tanggal 2 Oktober 2011.

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark.

Makalah

MURJIAH

OLEH :

PUTRI OKTAVIA SARI AG.5