Anda di halaman 1dari 34

DOA dan TAWASSUL

Yaa_Siin_36@yahoo.co.id
PERINTAH UNTUK BERDOA
DOA = MEMINTA KEPADA ALLAH
 [40. Al Mu'min: 60]. Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-
Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-
orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1] akan
masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.“

-------------------
[1]. Yang dimaksud dengan menyembah-Ku di sini ialah berdoa kepada-
Ku.

 [7. Al A'raaf: 55]. Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah


diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang melampaui batas[2].

-------------------
[2]. Maksudnya: melampaui batas tentang yang diminta dan cara
meminta.
[2. Al Baqarah: 186]. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah
dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia
memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala
perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka
selalu berada dalam kebenaran.

Asbabun nuzul
Ayat ini turun berkenaan dengan datangnya seorang Arab Badui kepada Nabi
SAW yang bertanya: "Apakah Tuhan kita itu dekat, sehingga kami dapat
munajat/memohon kepada-Nya, atau jauh, sehingga kami harus menyeru-Nya?"
Nabi SAW terdiam, hingga turunlah ayat ini (S. 2: 186) sebagai jawaban
terhadap pertanyaan itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Marduwaih, Abussyaikh dan
lain-lainnya dari beberapa jalan, dari Jarir bin Abdul Hamid, dari Abdah as-
Sajastani, dari as-Shalt bin Hakim bin Mu'awiyah bin Jaidah, dari bapaknya yang
bersumber dari datuknya.)

Menurut riwayat lain, ayat ini (S. 2: 186) turun sebagai jawaban terhadap
beberapa shahabat yang bertanya kepada Nabi SAW: "Dimanakah Tuhan kita?“
(Diriwayatkan oleh 'Abdurrazzaq dari Hasan, tetapi ada sumber-sumber lain
yang memperkuatnya. Hadits ini mursal.)
Asbabun nuzul QS: Al Baqarah: 186

Menurut riwayat lain, ayat ini (S. 2: 186) turun berkenaan dengan sabda
Rasulullah SAW: "Janganlah kalian berkecil hati dalam berdoa, karena Allah SWT
telah berfirman "Ud'uni astajib lakum" yang artinya berdoalah kamu kepada-Ku,
pasti aku mengijabahnya) (S. 40. 60). Berkatalah salah seorang di antara
mereka: "Wahai Rasulullah! Apakah Tuhan mendengar doa kita atau
bagaimana?" Sebagai jawabannya, turunlah ayat ini (S. 2: 186)
(Diriwayatkan oleh Ibnu 'Asakir yang bersumber dari Ali.)

Menurut riwayat lain, setelah turun ayat "Waqala rabbukum ud'uni astajib
lakum" yang artinya berdoalah kamu kepada-Ku, pasti aku mengijabahnya (S.
40: 60), para shahabat tidak mengetahui bilamana yang tepat untuk berdoa.
Maka turunlah ayat ini (S. 2: 186)
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari 'Atha bin abi Rabah.)
PENDAPAT IMAM AL-QASIM AL-QUSYAIRI
Dalam Kitab Al-Adzkar An-Nawawi, disebutkan dari Imam Al-Qasim Al-
Qusyairi, beliau berkata:
“Orang-orang berselisih pendapat mengenai yang lebih utama:
berdoa, berdiam diri atau ridha?
Doa adalah ibadah sebagaimana berdasarkan hadis Rasulullah yang
sudah tertulis (riwayat Abu Dawud dan Turmuzi), karena doa
menunjukkan adanya keperluan hamba kepada ALLAH Ta’ala.
Diam dan pasrah pada hukum ALLAH yang berlaku adalah lebih
sempurna.
Ridha dengan apa yang telah ditakdirkan ALLAH adalah lebih utama.
Sedangkan sebagian golongan lagi berpendapat: Hendaklah
seseorang itu berdoa dengan lisannya dan meridhakan dengan
hatinya agar melakukan kedua hal tersebut secara bersama-sama.”

Al-Qusyairi berkata: “Saya berpendapat jika lebih baik dikatakan


bahwa berdoa itu tergantung situasi dan kondisi yang bermacam-
macam.”

Al-Qusyairi juga berkata: “Diantara syarat-syarat berdoa adalah


makanannya halal.”
PERKATAAN ULAMA SALAF
Yahya bin Mu’adz Ar-Razi berkata: “Bagaimana mungkin aku dapat
berdoa (meminta sesuatu) kepada-MU [ALLAH] sedangkan aku
seorang pendurhaka? Dan bagaimana aku tidak berdoa kepada-MU
sedangkan ENGKAU Maha Pemurah?”
BERDOA ADALAH BAGIAN DARI IBADAH
 Dari Nu’man bin Basyir, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda: “Doa itu adalah ibadah”. [HR. Abu Dawud dan Turmuzi,
hadis hasan shahih]

 Dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam


menyukai untuk berdoa yang berisi segala tujuan permohonan, dan
meninggalkan doa yang tidak seperti itu”. [HR. Abu Dawud, hadis
jayyid]
TATA CARA BERDOA
TATA CARA BERDOA (AL-GHAZALI)
Dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali berpendapat
bahwa tata cara berdoa adalah:

3. Mengutamakan waktu-waktu yang mulia, misalnya: hari Arafah,


bulan Ramadhan, hari Jumat, sepertiga malam yang akhir (waktu
Tahajjud), dan waktu dinihari (shalat Fajr dan Subuh)

5. Mengutamakan keadaan-keadaan yang mulia, misalnya: ketika


sujud dalam shalat, pertemuan antara 2 pasukan (akan
berperang), ketika turunnya hujan, sesudah Iqamah dan lainnya.

7. Menghadap Kiblat, mengangkat kedua tangan dan mengusap


wajah dengannya pada akhir doa.

9. Menyedangkan suara (tidak keras dan tidak pula hanya isyarat


bibir)

11.Tidak mengandung unsur menyerupai syair (lagu).

13.Khusyu dalam berdoa dan diiringi rasa takut kepada ALLAH.


TATA CARA BERDOA (AL-GHAZALI)
Sambungan………

3. Memastikan apa yang diminta dan meyakini akan dikabulkan oleh


ALLAH.

5. Hendaklah tekun untuk berdoa (istiqamah) dan mengulangi doa


(minimal 3 kali), dan jangan putus harapan untuk mengharapkan
di ijabah.

7. Memulai doa dengan menyebut nama ALLAH dan memuji syukur


kepada ALLAH. Kemudian mengucap shalawat kepada Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan begitu pula ketika
mengakhiri doa.

9. Yang terpenting adalah dengan memperbanyak bertobat


memohon ampunan ALLAH, kemudian berusaha memperbaiki diri.
Dan mengembalikan hak-hak manusia (meminta maaf dan
keridhaannya) apabila kita ada berbuat salah kepada orang lain.
BERDOALAH PADA WAKTU-WAKTU MUSTAJAB
 Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “[Saat] paling dekat antara seorang hamba kepada
Tuhannya adalah ketika ia sujud, maka banyak-banyaklah berdoa di
dalam sujud”. [HR. Muslim]

 Dari Abu Umamah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa


sallam pernah ditanya: “Pada saat-saat apakah doa itu sangat
didengar [oleh ALLAH]?” Beliau menjawab: “Yaitu pada tengah
malam yang akhir (waktu tahajjud), dan sesudah shalat-shalat fardhu
(5 waktu).” [HR. Turmuzi, hadis hasan]
Adapun selanjutnya hukum berdoa menurut ulama lokal adalah:

4. Sunnah mendoakan diri sendiri


5. Sunnah mendoakan orang lain
6. Sunnah ber-tawassul (meminta doa) kepada orang yang lebih alim
7. Haram (Syirik) bertawassul kepada orang yang sudah meninggal
meskipun itu kuburan orang alim.
BOLEHKAH BERDOA DALAM
SUJUD SHALAT???
BOLEHKAH BERDOA KETIKA SUJUD SHALAT???
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “[Saat] paling dekat antara seorang hamba kepada Tuhannya
adalah ketika ia sujud, maka banyak-banyaklah berdoa di dalam sujud”.
[HR. Muslim]

“Berdoa” dalam hadis diatas masih dipermasalahkan oleh para ulama,


apakah doa itu adalah bacaan yang sudah diajarkan Rasulullah atau
kalimat doa yang boleh kita buat sendiri??? Hadis ini menghadirkan
perbedaan pendapat di antara para ulama, sebagian membolehkan,
namun yang terbanyak adalah melarangnya dan menganggapnya
bid’ah.
Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam sujud kita diajarkan banyak
kalimat, salah satunya adalah “SUBHAANA RABBIYAL A’LAA”.
Sedangkan dalam hadis di atas dinyatakan bahwa saat-saat mustajab
adalah ketika sujud.
Sehingga sebagian ulama mengatakan boleh menambah doa lain
sesudah bacaan sujud asalkan jangan bacaan Al-Qur’an karena
diharamkan.

Sedangkan ulama lain mengatakan bahwa perbuatan itu berbahaya


(subhat) yang dapat mengarah kepada bid’ah, makna “berdoa di dalam
1. MENDOAKAN DIRI SENDIRI
SUNNAH MENDOAKAN DIRI SENDIRI
 Dari Jabir, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Janganlah kamu sekalian mendoakan keburukan
terhadap dirimu sendiri, dan janganlah kamu sekalian mendoakan
keburukan terhadap anak-anakmu, dan janganlah kamu sekalian
mendoakan keburukan terhadap harta bendamu. Janganlah kamu
sekalian berdoa seperti itu, terutama pada waktu-waktu [mustajab]
dimana ALLAH menerima doa kemudian doamu [tentang keburukan
itu] dikabulkan”. [HR. Muslim]
JANGAN TERGESA-GESA KETIKA BERDOA
 Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Doa seseorang itu akan senantiasa dikabulkan selama ia
tidak tergesa-gesa, dimana ia berkata: “Saya telah berdoa kepada
Tuhan tetapi Tuhan tidak memperkenankan doa saya”. [HR. Bukhari
dan Muslim]

 Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam


bersabda: “Doa seseorang itu akan senantiasa dikabulkan selama ia
tidak berdoa untuk melakukan perbuatan dosa atau berdoa untuk
memutuskan tali persahabatan, selama ia tidak tergesa-gesa”.
Ditanyakan [oleh sahabat]: “Wahai Rasulullah, apakah yang
dimaksud tergesa-gesa itu?”
Beliau SAW bersabda: “Apabila ia berkata: “Saya telah berdoa dan
terus berdoa tetapi saya tidak menyaksikan bahwa doa saya itu
dikabulkan”. Apabila sudah demikian maka ia akan rugi dan tidak
mau berdoa lagi”. [HR. Bukhari dan Muslim]
ANJURAN UNTUK SENANTIASA BERDOA
 Dari Ubadah bin Ash-Shamit, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda: “Tidak ada seorang muslim pun di permukaan
bumi yang berdoa kepada ALLAH ta’ala dengan sesuatu doa,
melainkan ALLAH akan mengabulkannya, atau ALLAH akan
menghindarkan marabahaya daripadanya, selama ia tidak berdoa
untuk perbuatan dosa atau memutuskan tali persahabatan”.
Kemudian salah seorang sahabat berkata: “Jika demikian adanya,
maka banyak-banyaklah kita berdoa”. Beliau bersabda: “ALLAH lebih
banyak anugerah-NYA”. [HR. Turmuzi, hadis hasan shahih]

 Dari Abu Said Al-Khudry, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa


sallam bersabda: “Tidak ada seorang muslim pun di permukaan bumi
yang berdoa kepada ALLAH ta’ala dengan sesuatu doa, melainkan
ALLAH akan mengabulkannya, atau ALLAH akan menghindarkan
marabahaya daripadanya, atau ALLAH akan menyimpan pahala
untuk orang yang berdoa itu sebesar permohonannya, selama ia
tidak berdoa untuk perbuatan dosa atau memutuskan tali
persahabatan”. Kemudian salah seorang sahabat berkata: “Jika
demikian adanya, maka banyak-banyaklah kita berdoa”. Beliau
bersabda: “ALLAH lebih banyak anugerah-NYA”. [HR. Al-Hakim, hadis
hasan shahih]
JANGAN MEMAKSA ALLAH
 Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kamu
sekalian berdoa dengan mengucapkan “ALLAAHUMMAGHFIRLII IN
SYI’ TA (wahai ALLAH ampunilah saya apabila ENGKAU
menghendakinya), ALLAAHUMMARHAMNII IN SYI’ TA (wahai ALLAH
kasihanilah saya apabila ENGKAU menghendakinya). Tetapi
hendaklah ia benar-benar mantap hati (yakin) dalam doanya, karena
sesungguhnya tidak ada yang dapat memaksa ALLAH.” [HR. Bukhari]

 Dari Anas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam


bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu sekalian berdoa,
maka hendaklah ia benar-benar yakin pada saat memohon, dan
janganlah sekalipun ia mengucapkan “ALLAAHUMMA IN SYI’ TA FA
A’THINII (wahai ALLAH apabila ENGKAU menghendakinya maka
kabulkanlah permohonanku)”. Karena sesungguhnya tidak ada yang
memaksa ALLAH.” [HR. Bukhari dan Muslim]
JANGAN MEMAKSA ALLAH
 Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kamu
sekalian berdoa dengan mengucapkan “ALLAAHUMMAGHFIRLII IN
SYI’ TA (wahai ALLAH ampunilah saya apabila ENGKAU
menghendakinya), ALLAAHUMMARHAMNII IN SYI’ TA (wahai ALLAH
kasihanilah saya apabila ENGKAU menghendakinya). Tetapi
hendaklah ia benar-benar mantap hati (yakin) dan penuh harapan
[kepada ALLAH], karena sesungguhnya bagi ALLAH tidak ada
sesuatupun yang berat untuk dikabulkan-NYA.” [HR. Muslim]

Penjelasan:
Ini adalah matan yang berbeda dari Muslim terhadap hadis Bukhari
sebelumnya.
2. MENDOAKAN ORANG LAIN
2. MENDOAKAN ORANG LAIN
 Dari Abud Darda bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda: “Tidak ada seorang muslim yang mendoakan
saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya itu melainkan
malaikat akan berkata: “Dan bagimu juga seperti [yang engkau
doakan] itu”. [HR. Muslim]

 Dari Abud Darda bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam


bersabda: “Doa seorang muslim kepada saudaranya yang
[diucapkan] tanpa sepengetahuan saudaranya itu adalah mustajab
(terkabul). Pada kepala seorang Muslim itu ada malaikat yang diberi
tugas, apabila ia [muslim itu] mendoakan kebaikan kepada
saudaranya, maka malaikat itu mengucapkan “Semoga ALLAH
mengabulkan [doamu], dan [semoga] untuk engkau pula seperti itu.”
[HR. Muslim]

 Dari Usamah bin Zaid, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa


sallam bersabda: “Barangsiapa yang diperlakukan dengan baik
kemudian ia mengucapkan kepada orang yang berbuat baik itu
dengan kalimat: “JAZAAKALLAAHU KHAIRAN” (semoga ALLAH
membalas kebaikan kepada engkau), maka ia telah mencukupinya.”
MENDOAKAN ORANG LAIN
 [47. Muhammad: 19]. Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak
ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan
bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan
perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan
tempat kamu tinggal.

 [59. Al Hasyr: 10]. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka


(Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri
ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih
dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian
dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami,
Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."

 [71. Nuh: 28]. Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang
masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman
laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi
orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan."
3. TAWASSUL
(MINTA DIDOAKAN OLEH ORANG LAIN)
Umar bin Khattab bertawasul kepada Uwais bin Amir
Dari Usair bin Amr, orang menyebutnya Ibnu Jabir, ia berkata:
Pada saat Umar bin Khattab kedatangan rombongan dari penduduk
Yaman, ia bertanya kepada mereka: “Apakah ada seseorang diantara
kamu sekalian yang bernama Uwais bin Amir?”
Kemudian Uwais menghadap Umar, dan Umar bertanya: “Apakah kamu
Uwais bin Amir?”
Ia (Uwais) menjawab: “Ya [benar].”
Umar bertanya: “Apakah kamu dari Murad dan dari Qaran?”
Ia menjawab: “Ya [benar].”
Umar bertanya: “Apakah kamu kamu dahulunya pernah kena penyakit
belang (kusta) kemudian sembuh kecuali menyisakan bekas yang
tinggal sebesar dirham?”
Ia menjawab: “Ya [benar].”
Umar bertanya: “Apakah kamu masih mempunyai ibu?”
Ia menjawab: “Ya [benar].”
Umar berkata: “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Suatu saat akan datang kepadamu seseorang yang bernama
Uwais bin Amir bersama-sama dengan rombongan penduduk Yaman,
dia berasal dari Murad dan dari Qaran, dia pernah berpenyakit belang
tetapi kemudian sembuh……
Sambungan………………………

dia pernah berpenyakit belang tetapi kemudian sembuh kecuali


menyisakan bekas sebesar dirham, dia masih mempunyai ibu dan
sangat bakti kepada ibunya. Seandainya dia berbuat baik kepada
ALLAH, maka ALLAH pasti akan berbuat baik kepadanya. Apabila kamu
mampu untuk menyuruh dia agar memohonkan ampun untuk dirimu,
maka kerjakanlah”.

[kemudian Umar berkata:] Oleh karena itu, mohonkanlah ampunan


untuk diriku.”
Maka dia (Uwais bin Amir) mendoakan ampunan untuk Umar. Kemudian
Umar bertanya kembali kepadanya: “Hendak kemana lagi kamu pergi?”
Ia (Uwais) menjawab: “Menuju Kuffah.”
Umar bertanya: “Apakah saya boleh menulis surat kepada Amil
(bendaharawan) di Kuffah untuk membantu kamu?”
Ia menjawab: “Saya lebih suka menjadi orang biasa.”

Pada tahun berikutnya ada seseorang yang terkemuka (tokoh) dari


penduduk Yaman yang melaksanakan haji dan bertemu dengan Umar,
maka Umar menanyakan kepadanya tentang keadaan Uwais, kemudian
orang itu menjawab: “Saya meninggalkan dia (Uwais) dalam keadaan
sangat menyedihkan, dengan rumah yang kecil dan sangat miskin”.
Sambungan………………………

Umar berkata: “Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah shallallahu


‘alaihi wa sallam bersabda: “Suatu saat akan datang kepadamu
seseorang yang bernama Uwais bin Amir bersama-sama dengan
rombongan penduduk Yaman, dia berasal dari Murad dan dari Qaran,
dia pernah berpenyakit belang tetapi kemudian sembuh kecuali
menyisakan bekas sebesar dirham, dia masih mempunyai ibu dan
sangat bakti kepada ibunya. Seandainya dia berbuat baik kepada
ALLAH, maka ALLAH pasti akan berbuat baik kepadanya. Apabila kamu
mampu untuk menyuruh dia agar memohonkan ampun untuk dirimu,
maka kerjakanlah”.

Kemudian setelah pulang [dari berhaji] orang menemui Uwais dan


berkata: “Mohonkanlah ampunan [ALLAH] untuk diriku.”
Uwais menjawab: “Kamu lah yang baru saja pulang dari bepergian yang
sangat baik itu (berhaji dan bertemu Khalifah Umar), maka
mohonkanlah ampun untuk diriku.”
Orang itu bertanya: “Apakah kamu pernah bertemu Umar?”
Uwais menjawab: “Ya [pernah].”
Kemudian Uwais memohonkan ampunan untuk orang itu. Setelah itu
orang-orang mengenalnya dan meminta agar dia memohonkan ampun,
maka Uwais pergi untuk menyendiri”.
Rasulullah SAW bertawassul kepada Umar
Dari Umar bin Khattab, ia berkata: “Saya meminta izin kepada Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengerjakan Umrah, maka beliau
pun mengizinkannya serta bersabda: “Wahai saudaraku, janganlah
kamu melupakan kami dari doamu.” (dalam riwayat lain: Wahai
saudaraku, ikutkanlah kami dalam doamu.)
Umar berkata: “Perkataan itu adalah ucapan yang sangat
menggembirakan saya, dan bagi saya ucapan itu lebih berharga
daripada dunia”.
[HR. Abu Dawud, hadis shahih ; dan Turmuzi mengatakannya hadis
hasan shahih]
PENGERTIAN TAWASSUL

Dua hadis diatas berisi sunnah bahwa kita dapat meminta bantuan
orang lain yang lebih alim atau lebih bertaqwa untuk memohonkan
ampunan dan memintakan sesuatu kepada ALLAH.
Namun haruslah kita fahami bahwa tawassul ini adalah meminta
kepada ALLAH melalui perantaraan doa yang diucapkan oleh orang
mukmin yang taqwa. Dan tawassul adalah semata-mata untuk
keimanan dan ketaqwaan kepada ALLAH, atau hal-hal yang
berhubungan dengan agama Islam.
Misalnya: bertawassul kepada ulama meminta ampunan ALLAH, atau
minta agar usaha/pekerjaan dberkahi, atau minta agar cepat dapat
jodoh.
Karena kita menganggap alim ulama itu adalah orang yang banyak
dekat kepada ALLAH, maka kita merasa yakin bahwa doa dari mulut
mereka lebih dikabulkan oleh ALLAH. Seperti halnya doa anak yatim
dan fakir miskin serta orang yang dizalimi, dimana doa mereka juga
langsung didengar oleh ALLAH.

Jadi apabila meminta sesuatu bukan karena urusan yang berhubungan


dengan ALLAH dan Rasul-NYA, maka itu bukan tawassul melainkan
perbuatan syirik. Misalnya minta didoakan agar menang togel.
4. HARAM BERTAWASSUL KEPADA
ORANG YANG SUDAH MATI
HARAM BERTAWASSUL KEPADA ORANG MATI
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Apabila seseorang itu meninggal dunia maka terputuslah
semua amalnya kecuali tiga macam, yaitu [1] sedekah jariyah, [2] ilmu
yang bermanfaat, atau [3] anaknya yang shaleh yang mau
mendoakannya”. [HR. Muslim]

Hadis di atas menjelaskan bahwa orang yang sudah meninggal dan


masuk alam kubur meskipun ia seorang yang alim ulama ataupun wali,
atau bahkan Rasulullah sekalipun, maka ia tidak mempunyai hubungan
apapun lagi dengan urusan dunia. Sehingga tidak akan mungkin orang
alim yang sudah wafat itu dijadikan sarana untuk bertawassul.
Sehingga sesiapapun yang menjadikan kuburan ulama atau Nabi
sebagai sesuatu untuk dijadikan tawassul, maka ia sesungguhnya
berbuat SYIRIK.
Disebut syirik karena tidak mungkin orang mati mampu mendatangkan
berkah, sedangkan yang mampu memberikan berkah itu hanyalah
ALLAH subhanahu wa ta’ala yang tidak akan pernah mati.
Istilah tawassul hanya kepada orang yang masih hidup.
Wallahu a’lam
hanya Allah Yang Maha Tahu
Yaa_Siin_36@yahoo.co.id Cinta-Rasul@yahoogroups.com

Cinta_Rasul@googlegroups.com Cinta_Rasul@yahoogroups.com

Anda mungkin juga menyukai