Anda di halaman 1dari 25

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Mata merupakan salah satu organ tubuh yang amat vital bagi manusia. Walaupun mata mempunyai sistem perlindungan yang cukup baik, seperti rongga orbita, kelopak, dan jaringan lemak retrobulbar selain terdapatnya refleks memejam dan mengedip mata masih sering mendapat trauma dari dunia luar. Di nilai dari kepentingannya yang besar bagi manusia maka harus selalu dijaga dan dicegah dari hal-hal yang dapat merusaknya. Trauma dapat mengakibatkan kerusakan pada bola mata dan kelopak, saraf mata dan rongga orbita. Kerusakan mata akan dapat mengakibatkan penglihatan.6,2 Trauma bahan kimia dapat terjadi pada kecelakaan yang terjadi di dalam laboratorium, industri, pekerjaan yang memakai bahan kimia, pekerjaan pertanian, dan peperangan memakai bahan bahan kimia di abad modern. Trauma kimiawi pada mata sangat mengkhawatirkan karena berkemampuan untuk menyerang berbagai struktur ocular dan berpotensi menyebabkan kebutaan. Bahan kimia yang dapat mengakibatkan kelainan pada mata dapat dibedakan dalam bentuk: trauma asam, dan trauma basa ( lampiran 1). Dibandingkan bahan kimia asam, bahan kimia basa adalah yang paling merusak karena bahan kimia ini memiliki sifar baik hydrophilic dan lipophilic dan mampu menembus membran sel dengan cepat. Bahkan mungkin mampu untuk menembus bilik mata depan. Pengaruh bahan kimia sangat tergantung pada pH, kecepatan dan jumlah bahan kimia tersebut mengenai mata. Kerusakan atau memberikan penyulit sehingga mengganggu fungsi

okular terjadi akibat saponifikasi membran sel dan kematian sel bersamaan dengan hancurnya matriks ekstraselular. 6,2 Trauma pada mata memerlukan perawatan yang tepat untuk mencegah terjadinya penyulit yang lebih berat yang akan mengakibatkan kebutaan. Semua luka bakar akibat bahan kimia harus diterapi sebagai kedaruratan mata. Harus segera dilakukan lavase di lokasi cedera dengan air keran sebelum pasien dikirim. Semua benda asing yang jelas tampak harus diirigasi apabila mungkin. Di ruang darurat, dilakukan anamnesis dan pemeriksaan singkat serta irigasi permukan kornea, termasuk forniks konjungtiva, dengan cairan dalam jumlah besar. Salin isotonik steril (beberapa liter untuk satu mata yang cedera) diteteskan dengan selang intravena standar. Mungkin diperlukan spekulum kelopak mata dan infiltrasi anestetik lokal untuk mengatasi blefarospasme. 6 Karena bahan basa cepat menembus jaringan mata dan akan terus menimbulkan kerusakan jauh setelah cedera terhenti, maka diperlukan lavase jangka panjang dan pemantauan pH. Asam membentuk suatu sawar presipitat jaringan nekrotik yang cenderung membatasi penetrasi dan kerusakan lebih lanjut. 6 Luka bakar akibat bahan alkalis menyebabkan peningkatan segera tekanan intraokular akibat kontraksi sklera dan kerusakan jaringan trabekular. Peningkatan tekanan sekunder 2-4 jam kemudian terjadi akibat pelepasan prostaglandin,yang mendorong memberatnya uveitis. Hal ini sulit dipantau melalui kornea yang opak. Pengobatan adalah dengan steroid topikal, obat-obat antiglaukoma, dan sikloplegik selama 2 minggu pertama. Setelah 2 minggu, pemakaian steroid harus berhati-hati krena obat ini menghambat reepitelisasi. Kemudian dapat terjadi perlunakan kornea dan kemungkinan perforasi akibat berlanjutnya aktivitas kolagenase. 16

Tetes askorbat (vitamin C) dan sitrat hanya memiliki efek pencegahan minimal terhadap perlunakan kornea pada pasien dengan luka bakar berat artau defek epitel kornea persisten. Suatu percobaan dengan inhibitor kolagenase (asetilsistein) mungkin bermanfaat. Penyulit jangka panjang dari luka bakar kimia adalah glaukoma sudut tertutup, pembentukan jaringan parut kornea, simblefaron (adhesi antara konjungtiva bulbi dengan konjungtiva palpebra, entropion, dan keratitis sika. Kompetensi pembuluh darah sklera dan konjungtiva dibuktikan memiliki nilai prognostik. Semakin banyak jaringan epitel perilimbus dan pembuluh darah sklera dan konjungtiva yang rusak semakin buruk prognosisnya.16 Tindakan yang dilakukan tergantung dari empat fase peristiwa, yaitu : fase kejadian (immediate), fase akut (sampai hari ke-7), fase pemulihan dini (early repair: hari ke-7 s.d. hari ke-21) dan fase pemulihan akhir (late repair : setelah hari ke-21).15 Tujuan penulisan refrat ini diharapkan dapat berguna bagi dokter muda untuk mengetahui anatomi fisiologi, definisi, epidemiologi, patofisiologi, klasifikasi, gejala klinis, penegakan diagmosis, penatalaksanaan serta komplikasi trauma kimia.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Anatomi dan Fisiologi Mata Bola mata berbentuk hampir bulat dengan diameter anteroposterior sekiar 24 mm. Terdapat 6 otot penggerak bola mat dan terdapat kelenjar lakrimal yang terletak didaerah temporal atas didalam rongga orbita.2 Bola mata dibagian depan (kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam sehingga terdapat bentuk dengan 2 kelengkungan yang berbeda mata mempunyai reseptor khusus untuk mengenali perubahan sinar dan warna. Secara keseluruhan struktur mata terdiri dari bola mata, termasuk otot-otot penggerak bola mata, rongga tempat mata berada, kelopak dan bulu mata.2

Gambar 1 : Anatomi Bola Mata12

Bola mata di bungkus oleh tiga lapis jaringan, yaitu: 2 1. Sklera merupakan jaringan ikat kenyal memberikan bentuk pada

mata,dan bagian luar yang melindungi bola mata. Bagian depan disebut kornea yang memudahkan sinar masuk ke dalam bola mata.
2.

Jaringan uvea merupakan jaringan vaskuler. Jaringan sklera dan uvea

dibatasi oleh ruang yang mudah dimasuki darah bila terjadi perdarahan pada ruda paksa di sebut juga perdarahan suprakoroid. Jaringan uvea terdiri atas iris, badan sillier dan koroid.
3.

Lapis ketiga bola mata adalah retina yang mempunyai susunan 10

lapis. Retina dapat terlepas dari koroid yang disebut Ablasio retina.

Kornea Kornea (latin cornum = seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, menempati pertengahan dari rongga bola mata anterior yang terletak diantara sclera. Kornea ini merupakan lapisan avaskuler dan menjadi salah satu media refraksi ( bersama dengan humor aquos membentuk lensa positif sebesar 43 dioptri ). Kornea memiliki permukaan posterior lebih cembung daripada anterior sehingga rata-rata mempunyai ketebalan sekitar 11,5 mm ( untuk orang dewasa). lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan terdiri atas lapis :2 1. Epitel

Tebalnya 50m, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih, yaitu sel basal, sel poligonal, sel gepeng.

Sel basal sering terlihat mitosis sel.

Sel basal berikatan erat dengan sel basal disampingnya dan sel poligonal didepannya melalui dermosom dan makula okluden, ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa yang merupakan barrier.

Sel basal menghasilkan membrane basal yang melekat erat. Bila terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren.

Epitel berasal dari ektoderm permukaan.

2. Membran Bowman

Terletak dibawah membrane basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma.

Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi

3. Stroma Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen. Pada permukaan terlihat seperti anyaman yang teratur. Keratosit merupakan sel stroma kornae yang merupakan fibroblast 4. Membrane Descemet Merupakan membrane aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea yang dihasilkan sel endotel dan merupakan membrane basalnya. Bersifat sangat elastic dan berkembang terus seumur hidup.

5. Endotel Berasal dari mesotelium, melekat pada membrane descement melalui hemidesmosom dan zonula okluden.

Sumber-sumber nutrisi untuk kornea adalah pembuluh-pembuluh darah limbus, humour aquaeus dan air mata. Kornea superfisial juga mendapatkan oksigen sebagian besar dari atmosfer. Saraf-saraf sensorik kornea didapat dari percabangan

pertama (oftalmika) dari nervus kranialis V (trigeminus). Transparansi kornea disebabkan oleh strukturnya yang seragam, avaskularitasnya dan deturgensinya.

Gambar 2. Lapisan Kornea 12

Uvea Uvea terdiri dari iris, korpus siliar dan koroid. Bagian ini adalah lapisan vascular . tengah mata dan dilindungi oleh kornea dan sclera : 2 a. Iris Merupakan lanjutan dari badan siliar kedepan dan merupakan diafagma yang membagi bola mata menjadi dua segmen anterior dan segmen posterior. Berbentuk sirkular yang ditengah- tengahnya berlubang yang disebut pupil. Secara histologi iris terdiri dari stroma yang jarang dan diantaranya terdapat lekukan-lekukan yang berjalan radier yang disebut kripta. Di dalam stroma terdapat sel pigmen yang bercabang, banyak pembulluh darah dan serat saraf . dipermukaan anterior ditutup oleh endotel terkecuali kripta, dimana pembuluh darah dalam stroma

dapat berhubungan langsung dengan cairan COA, yang memungkinkan cepatnya terjadi pengaliran makanan ke COA dan sebaliknya. Di bagian posterior dilapisi oleh dua epitel yang merupakan lanjutan dari epitel pigmen retina. Permukaan depan iris warnanya sangat bervariasi tergantung pada sel pigmen yang bercabang yang terdapat didalam stroma. Jaringan otot iris tersusun longgar dengan otot polos yang melingkar pupil (m. Sfingter pupil) terletak di dalam stroma dekat pupil dan di atur oleh saraf parasimpatis (N. III) dan yang berjalan radial dari akar iris ke pupil (m. dilatator pupil) terletak di bagian posterior stroma dan diatur oleh saraf simpatis. Iris menipis didekat perlekatannya di badan siliar dan menebal didekat pupil. Pembuluh darah disekitar pupil disebut sirkulus minor dan yang berada dekat badan siliar disebut sirkulus mayor. Iris dipersarafi oleh nervus nasosiliar cabang dari saraf cranial III yang bersifat simpatis untuk midriasis dan parasimpatis untuk miosis. Pupil bekerja sebagai apertura di dalam kamera. Dalam keadaan radang, didapatkan iris menebal dan pupil mengecil. Dalam keadaan normal pupil sentral bulat, isokor (sama kanan dan kiri), reaksi cahaya langsung dan tidak langsung positif. Reaksi pupil ada tiga, yaitu reaksi cahaya langsung dan tidak langsung, reaksi terhadap titik dekat, dan terhadap obat-obatan. 2 b. Badan Siliar Berbentuk segitiga terdiri dari dua bagian, yaitu : 2

Pars korona, pada bagian anterior bergerigi panjangnya kira-kira 2mm Pars plana, yang posterior tidak bergerigi, panjangnya 4mm

Badan siliar dimulai dari pangkal iris ke belakang sampai koroid terdiri atas otot siliar dan prosesus siliar. Otot siliar berfungsi untuk akomodasi. Jika otot ini

berkontraksi menarik prosesus siliar dan koroid kedapan dan ke dalam, mengendorkan zonula zinnii sehingga lensa menjadi lebih cembung. Radang pada badan siliar akan mengakibatkan melebarnya pembuluh darah di daerah limbus yang akan mengakibatkan mata merah yang merupakan gambaran khas peradangan intraokular. Prosesus siliar menghasilkan cairan mata yaitu, aqueos humor yang mengisi bilik mata depan. Yang berfungsi memberi makanan untuk kornea dan lensa. Pada peradangan akibat hiperemi yang aktif, maka pembentukan cairan mata bertambah sehingga dapat menyebabkan tekanan intraokuler meninggi dan timbullah glukoma sekunder. Bila peradangan hebat dan merusak sebagian badan siliar maka produksi aqueos humor berkurang, tekanan berkurang dan berakhir sebagai atrofi bulbi okuli. 6 c. Koroid Koroid merupakan suatu membran yang berwarna coklat tua, yang terletak diantara sklera dengan retina terbentang dari ora serata sampai ke papil saraf optik. Koroid terdiri dari beberapa lapisan, yaitu;2

Lapisan epitel pigmen Membran Bruch (lamina vitrea) Koriokapiler Pembuluh darah sedang dan pembuluh darah besar Suprakoroid Lapisan suprakoroid terdiri dari lapisan protropoblas yang mengandung

nukleus. Membran bruch merupakan membran yang tidak berstruktur. Pembuluh darah besar kebanyakan terdiri dari pembuluh balik yhang kemudian bergabung menjadi empat vena vortikosa, yang keluar dari tiap kuadran posterior bola mata yang menembus sclera.

Pembuluh darah arteri berasal dari arteri siliais brevis yang mengandung serat elastis dan khromatofor. Koroid melekat erat pada pinggir N.II dan berakhir di oraserata. 6

Lensa Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular tak berwarna dan hampir transparan sempurna. Tebalnya kira-kira 4mm dan diameternya 9 mm. Lensa digantung oleh zonula zinnii, yang menghubungkannya dengan korpus silier. Di bagian anterior lensa terdapat humor aqueous, disebelah posteriornya vitreus. Kapsul lensa adalah suatu membran yang semi permeabel (sedikit lebih permeabel dari pada dinding kapiler) yang akan memperoleh air dan elektrolit masuk. 6 Lensa ditahan ditempatnya oleh ligamentum yang dikenal sebagai zonula zinnii, yang tersusun dari banyak fibril dari permukaan korpus siliare dan menyisip ke dalam ekuator lensa. Lensa mata mempunyai peranan pada akomodasi atau melihat dekat sehingga sinar dapat di fokuskan disaerah macula lutea. Secara fisiologik lensa mempunyai sifat tertentu : 6

Kenyal atau lentur karena memegang peranan terpenting dalam akomodasi untuk menjadi cembung.

Jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan Terletak ditempatnya.

Keadaan patologik lensa ini dapat berupa : Tidak kenyal pada orang dewasa yang akan mengakibatkan presbiopia Keruh atau apa yang disebut katarak Tidak berada ditempat atau subluksasi dan dislokasi.

10

Gambar 3. Lensa Mata dalam Posisi Horizontal12

Retina Retina adalah selapis lembar tipis jaringan saraf yang semi transparan. Retina merupakan reseptor yang menerima rangsangan cahaya. Retina berbatas dengan koroid dan sel pigmen epitel retina, dan terdiri atas lapisan ; 6

Membrana limitans interna Lapisan serat saraf yang mengandung akson-akson sel ganglion yang berjalan menuju ke nervus optikus.

Lapisan sel ganglion Lapisan plexiformis dalam, yang mengandung sambungan-sambungan sel ganglion dengan sel amakrin dan sel bipolar

Lapisan inti dalam badan sel bipolar, amakrin dan sel horizontal Lapisan pleskiformis luar, yang mengandung sambungan-sambungan sel bipolar dan sel horizontal dengan fotoreseptor

11

Lapisan inti luar sel fotoreseptor Membran limitans eksterna Lapisan fotoreseptor segmen dalam dan luar batang dan kerucut Epitelium pigmen retina Warna retina biasanya jingga dan kadang-kadang pucat pada anemia dan

iskemia dan merah pada hiperemia. Pembuluh darah di dalam retina merupakan percabangan arteri oftalmika, arteri retina sentral masuk retina melalui papil saraf optik yang akan memberikan nutrisi pada retina dalam. Lapisan luar retina atau sel kerucut dan batang mendapat nutrisi dari koroid.

Saraf optik Saraf optik yang keluar dari polus posterior bola mata membawa dua jenis serabut saraf yaitu : saraf penglihatan dan serabut pupilomotor. Kelainan saraf optik menggambarkan gangguan yang diakibatkan tekanan langsung atau tidak langsung terhadap saraf optik ataupun perubahan toksik dan anoksik yang mempengaruhi penyaluran aliran listrik.

Sklera Bagian putih bola mata yang bersama-sama dengan kornea merupakan pembungkus dan pelindung 4/5 permukaan mata. Sklera berjalan dari papil saraf optik sampai kornea. 6 Sklera anterior ditutupi oleh tiga lapis jaringan ikat vaskular, sklera mempunyai kekakuan tertentu sehingga mempengaruhi pengukuran tekanan bola mata. Walaupun sklera kaku dan tipisnya 1 mm ia masih tahan terhadap kontusio

12

trauma tumpul. Kekakuan sklera dapat meninggi pada pasien diabetes melitus, atau merendah pada eksoftalmos goiter, miotika dan meminum air banyak.

Konjungtiva Merupakan membran mukosa yang transparan dan tipis. Dapat dibagi menjadi tiga zona : palpebra, forniks dan bulbar. Bagian bulbar mulai dari mukokutaneus junction dari kelopak mata dan melindunginya dari permukaan dalam. Bagian ini melekat erat pada tarsus. Konjungtiva bulbaris melekat longgar ke septum orbikulare di fornik dan melipat berkali-kali, sehingga memungkinkan bola mata bergerak dan memperbesar permukaan konjungtiva sekretorik. Kecuali di limbus, konjungtiva bulbaris melekat longgar ke kapsul tenon dan sklera dibawahnya.2

Rongga orbita Rongga orbita adalah rongga yang berisi bola mata dan terdapat 7 tulang yang membentuk dinding orbita yaitu : lakrimal, etmoid, sphenoid, frontal, dan dasar orbita yang yang terutama terdiri atas tulang maksila, bersama-sama tulang palatinum dan zigomatikus. Rongga orbita yang berbentuk piramid ini terletak pada kedua sisi rongga hidung. Dinding lateral orbita membentuk sudut 45dengan dinding medialnya. Dinding orbita terdiri atas tulang-tulang : 6 Superior Lateral Inferior Nasal : os. Frontal : os. Frontal, os. Zigomatik, ala magna os. Sfenoid : os. Zigomatik, os. Maksila, os.palatina : os. Maksila, os. Lakrimal, os.etmoid

13

Foramen optik terletak pada apeks rongga orbita, dilalui oleh saraf optik, arteri, vena, dan saraf simpatik yang berasal dari pleksus karotid. Fisura orbita superior di sudut orbita atas temporal dilalui oleh saraf lakimal (V), saraf frontal (V), saraf troklear (IV), saraf okulomotor (III), saraf nasosiliar (V), abdusen (VI), dan arteri vena ophtalmik. Fisura orbita inferior terlatak didasar tengah temporal orbita dilalui oleh saraf infra-orbita dan zigomatik dan arteri infra orbita. Fosa lakrimal terletak disebelah temporal atas tempat duduknya kelenjar lakrimal.

Gambar 4. Bola Mata dan Rongga Orbital12

2.2. Trauma Kimia (Asam-Basa) Pada Mata

Definisi

14

Trauma kimia pada mata merupakan trauma yang mengenai bola mata akibat terpaparnya bahan kimia baik yang bersifat asam atau basa yang dapat merusak struktur bola mata tersebut.Trauma kimia pada mata merupakan kedaruratan oftalmologi, karena dapat menyebabkan kehilangan penglihatan.12 Bahan kimia asam pada umumnya menyebabkan kerusakan lebih ringan daripada basa karena kebanyakan protein di kornea akan mengikat asam dan dapat berfngsi sebagai chemical buffer. Jaringan yang terkoagulasi karenanya, akan berperan sebagai penghambat terhadap penetrasi lebih lanjut dari asam. Kerusakan okular karena asam disebabkan oleh karena pengerutan serabut kolagen. 6 Akibat yang ditimbulkan juga tergantung dari jenis dan konsentrasi zat kimia,waktu dan lamanya kontak sampai tindakan pembilasan, lamanya irigasi (pembilasan) yang telah dilakukan dan pengobatan yang diberikan. Pemeriksaan Oftalmologi meliputi : tonometri, slitlamp, pemeriksaan visus, pemeriksaan fluoresensi.2

Epidemiologi Trauma pada mata merupakan 3-4% dari seluruh kecelakaan kerja. Sebagian besar (84%) merupakan trauma kimia. Rasio frekuensi asam versus basa sebagai bahan penyebabnya pada trauma kimiawi bervariasi dari 1:1 sampai 1:4, berdasarkan beberapa penelitan. Suatu penelitian oleh Kuckelkorn dkk melaporkan bahwa sepertiga dari 131 pasien dengan luka bakar pada mata pada akhirnya menjadi cacat; sekitar 15% dianggap buta total. Pada tahun 1995, hampir sepertiga dari transplantasi kornea dilakukan pada mata yang mengalami cedera akibat bahan kimia. Sayangnya, tingkat keberhasilan dari transplantasi pada kondisi ini adalah kurang dari 50%. Beberapa pasien memerlukan 4-5 transplntasi sebelum akhirnya berhasil.

15

Trauma okuli, terutama yang berat dan mengakibatkan penurunan penglihatan bahkan kehilangan penglihatan. Trauma okuli adalah penyebab kebutaan yang cukup signifikan, terutama pada golongan sosio ekonomi rendah dan di negaranegara berkembang. Kejadian trauma okular dialami oleh pria 3 sampai 5 kali lebih banyak daripada wanita. Dari data WHO tahun 1998 trauma okular berakibat kebutaan unilateral sebanyak 19 juta orang, 2,3 juta mengalami penurunan visus bilateral, dan 1,6 juta mengalami kebutaan bilateral akibat cedera mata. Sebagian besar (84%) merupakan trauma kimia.Rasio frekuensi bervariasi trauma asam:basa antara 1:1 sampai 1:4. Secara international, 80% dari trauma kimiawi dikarenakan oleh pajanan karena pekerjaan.Menurut United States Eye Injury Registry (USEIR), frekuensi di Amerika Serikat mencapai 16 % dan meningkat di lokasi kerja dibandingkan dengan di rumah. Lebih banyak pada laki-laki (93 %) dengan umur rata-rata 31 tahun.2

Klasifikasi Menurut bahan kimia yang menyebabkan Trauma mata, trauma kimia dapat dibagi menjadi 2 sebagai berikut : A. Trauma Kimia Asam

Gambar 5 Trauma pada Mata Akibat Bahan Kimia Asam 6

Bila bahan asam mengenai mata maka akan segera terjadi pengendapan ataupun penggumpalan protein permukaan sel. Asam membentuk suatu swar

16

presipitat pada jaringan yang terkena, sehingga membantasi kerusakan lebih lanjut. Biasanya akan terjadi kerusakan hanya pada bagian superficial saja. Bahan asam dengan konsentrasi tinggi bereaksi seperti terhadap basa sehingga kerusakan yang diakibatkannya akan lebih dalam.6,11 Bahan kimia yang sering menyebabkan trauma kimia antara lain asam sulfat, sulfurous acid, asam hidroflorida, asam nitrat, asam asetat, asam kromat, dan asam hidroklorida.5 Salah satu kejadian yang mengakibatkan luka bakar asam sulfat antara lain Ledakan accu mobil, yang mungkin merupakan penyebab tersering dari luka bakar kimiawi pada mata. Asam hidroflorida dapat ditemukan dirumah pada cairan penghilang karat, pengkilap aluminum, dan cairan pembersih yang kuat. Industri tertentu menggunakan asam hidroflorida dalam pembersih dinding, glass etching (pengukiran pada kaca dengan cairan kimia), electropolishing, dan penyamakan kulit. Asam hidroflorida juga digunakan untuk pengendalian fermentasi pada breweries (pengolahan bir). Toksisitas hidroflorida pada okuler dapat terjadi akibat pajanan cairan maupun gas.5

Penggolongan tingkatan dan prognosisnya dari luka bakar kimia tersebut ditentjan berdasarkan jumlah kerusakan kornea dan iskemia limbus, dimana setiap hilangnya arsitektur pembuluh darah normal konjungtiva disekitar kornea. Iskemia limbbus adalah salah satu faktor klinis yang amat penting karena menunjukkan tingkat kerusakan pada pembuluh darah limbus dan mengindikasikan kemampuan sel indu kornea (yang terletak di limbus) untuk me-regenerasi kornea yang rusak. Oleh karenanya, tidak seperti kondisi trauma pada mata yang lain, mata yang pucat lebih berbahaya daripada mata yang merah.1

17

Penatalaksanaan pada trauma asam adalah: 13,14


-

dimulai dengan irigasi dan mempertahankannya (30 menit) dengan

tujuan mengurangi peradangan, nyeri dan resiko infeksi. Beberapa kerusakan akibat bahan kimia harus dilakukan irigasi

beberapa menit sekali dalam beberapa jam Untuk segera mengurangi rasa sakit dapat dilakukan dengan instilasi

dengan pontocaine hydrochloride (1/4%) tetapi untuk menyembuhkan pada tahap selanjutnya lebih sulit dilakukan.
-

Penggunaan anastesi dapat dilakukan bila perlu untuk menfasilitasi

irigasi yang baik, tetapi penggunaan anastesi yang terus menerus akan menunda proses penyembuhan
-

Pemeriksaan pH dari air mata dapat dilakukan dengan kertas litmus

jika tersedia setiap 5 menit dan lanjutkan sampai pH menjadi netral(warna kertas akan berubah menjadi biru bila terkena basa dan menjadi merah bila terkena asam)

B. Trauma Kimia Basa

6.

7.

18

8.

Keterangan. (Gambar 6) Kekeruhan Kornea Akibat Trauma Basa.11 (Gambar 7) Gambaran Cooked fish eye Akibat Trauma Alkali. 12(Gambar 8) Kornea Menjadi Keruh Akibat Trauma Alkali. 13

Basa merupakan substansi yang memiliki pH dasar dan memiliki kemampuan untuk mensaponifikasi lemak. Kerusakan sel akibat kontak dengan basa biasanya bergantung pada konsentrasi basa dan lama paparan. Saat pH meningkat, emulsifikasi lemak pada membran sel terjadi dan merusak sawar yang semula bertujuan menahan penetrasi. Menurut grant, efek trauma kimia dari pH tinggi terhadap stroma kornea melibatkan ikatan sementara kation basa terhadap mukoprotein kornea dan kolagen, dan hal tersebut menjadi lebih parah apabila Phnaik hingga 1,5. ikatan kation tersebut pada pH tinggi penting makannya terhadap luka bakar yang di timbulkan, dan menyebabkan kerusakan mukoprotein mata yang cepat.3 Bahan kimia yang sering menyebabkan trauma kimia antara lain seperti sabun cuci, sampo, bahan pembersih lantai, kapur, lem(perekat) trauma akibat bahan kimia basa akan menyebabkan akibat yang sangat gawat pada mata. Basa akan menembus kornea dengan cepat, bilik matabilik mata depan sampai jaringan retina. Pada trauma basa akan terjadi penghancuran jaringan kolagen kornea. Bahan kimia basa bersifat koagulasi sel dan terjadi proses persabunan, beserta dengan dehidrasi, bahan caustic soda dapat menembus bilik mata depan dalam waktu 7 detik.6,2

19

Pada trauma basa akan terbentuk kolagenase yang akan merubah kerusakan kolagen kornea. Basa yang menembus ke dalam bola mata akan merusak retina, sehingga akan berakhir dengan kebutaan si penderita.15 Tindakan bila terjadi trauma basa adalah: 15 dengan secepat mungkin melakukan irigasi dengan garam fisiologik.

Sebaiknya irigasi dilakukan selama mungkin. Bila mungkin irigasi dilakukan paling sedikit 60 menit segera setelah trauma penedrita diberi sikloplegia, antibiotika, EDTA (ethylene Diamine

Tetracetic Acid) untuk mengikat basa. EDTA di berikan setelah satu minggu trauma basa diperlukan untuk menetralisir kolagenase yang terbentuk pada hari ke tujuh.

Diagnosa banding Beberapa penyakit yang menjadi diagnosis banding trauma kimia pada mata, terutama yang disebabkan oleh basa atau alkali antara lain konjugtivitis, konjugtivitis hemoragik akut, keratokunjugtivitis sicca, ulkus kornea, dan lain-lain.8 Penatalaksanaan Tindakan yang dilakukan trauma kimia mata tergantung dari 4 fase peristiwa, yaitu :
1.

Fase kejadian (immediate). Tujuan dari tindakan adalah untuk menghilangkan materi penyebab sebersih mungkin. Setelah terkena trauma kimia maupun itu bersifat asam ataupun basa, tindakan yang terbaik sebelum irigasi dengan NaCl adalah dicuci dengan Aquadest terlebih dahulu. Tujuannya adalah selain untuk

20

membersihkan jaringan yang terkena trauma kimia, hal ini juga dilakukan agar Tidak terjadi reaksi yang lebih lanjut bila diirigasi langsung dengan NaCl tanpa dibersihkan dengan Aquadestilata terlebih dahulu. Irigasi bahan kimia, meliputi : pembilasan yang dilakukan segera, dengan anestesi topikal terlebih dahulu. Pembilasan dengan larutan non-toxic (NaCl 0,9 %, Ringer laktat dsb) sampai pH air mata kembali normal (dinilai dengan kertas lakmus) atau minimal 500 cc sampai 1000 cc. Benda asing yang melekat dan jaringan bola mata yang nekrosis harus dibuang (pada anak-anak, jika perlu dalam pembiusan umum). Bila diduga telah terjadi penetrasi bahan kimia ke dalam bilik mata depan (BMD), dilakukan irigasi BMD dengan larutan RL.15
2.

Fase akut (sampai hari ke-7). Tujuan tindakan adalah mencegah terjadinya penyulit dengan prinsip mempercepat proses reepitelisasi kornea, mengontrol tingkat peradangan untuk mencegah infiltrasi sel-sel radang dan pembentukan enzim kolagenase, mencegah infeksi sekunder, mencegah peningkatan tekanan bola mata.15

3.

Fase pemulihan dini (early repair : hari ke-7 s.d. hari ke-21). Tujuannya adalah membatasi penyulit lanjut setelah fase 2. Yang menjadi masalah adalah : hambatan reepitelisasi kornea, gangguan fungsi kelopak mata, hilangnya sel Goblet, ulserasi stroma yang dapat menjadi perforasi kornea. 3

4.

Fase pemulihan akhir (late repair : setelah hari ke-21). Tujuannya adalah rehabilitasi fungsi penglihatan dengan prinsip optimalisasi fungsi jaringan mata (kornea, lensa dan seterusnya) untuk penglihatan.6

Komplikasi

21

Komplikasi dari trauma mata juga bergantung pada berat ringannya trauma, dan jenis trauma yang terjadi. Komplikasi yang dapat terjadi pada kasus trauma basa pada mata antara lain 6
1.

Simblefaron, adalah perlengketan antara konjungtiva palpebra, konjungtiva bulbi, dan konjungtiva forniks. Dapat disebabkan akibat trauma kecelakaan, operasi, luka bakar oleh zat kimia, dan peradangan. Dengan gejala gerak mata terganggu, diplopia, lagoftalmus, sehingga kornea dan penglihatan terganggu.

2. Kornea keruh, edema, neovaskuler 3. Sindroma mata kering


4.

Katarak traumatik, merupakan katarak yang muncul sebagai akibat cedera pada mata yang dapat merupakan trauma perforasi ataupun tumpul yang terlihat sesudah beberapa hari ataupun beberapa tahun. Katarak traumatik ini dapat muncul akut, subakut, atau pun gejala sisa dari trauma mata. Trauma basa pada permukaan mata sering menyebabkan katarak, selain menyebabkan kerusakan kornea, konjungtiva, dan iris. Komponen basa yang masuk mengenai mata menyebabkan peningkatan PH cairan akuos dan menurunkan kadar glukosa dan askorbat. Hal ini dapat terjadi secara akut ataupun perlahan-lahan. Trauma kimia dapat juga disebabkan oleh zat asam, namun karena trauma asam sukar masuk ke bagian dalam mata dibandingkan basa maka jarang terjadi katarak traumataik akibat trauma asam.

5.

Glaukoma sudut tertutup: penutupan sudut bilik mata Entropion : membaliknya margo palpebra kedalam disertai trikeasis dengan segala akibatny di kornea

6.

22

7. Phtisis bulbi

Prognosis Trauma kimia pada mata dapat menyebabkan gangguan penglihatan berat jangka panjang dan rasa tidak enak pada mata. Prognosis basa di tentukan berdasarkan klasifikasi Hughes atau klasifikasi Thoft serta tergantung derajat kerusakannya. Prognosis asam baik bila konsentrasi asam tidak terlalu tinggi sehingga hanya terjadi kerusakan superficial. Derajat iskemia konjungtiva dan pembuluh darah daerah limbus adalah tingkat keparahan cedera dan prognosis penyembuhannya. Makin besar iskemia dari konjungtiva dan pembuluh darah limbus, luka yang terjadi akan makin parah. 6,2

BAB III KESIMPULAN


Trauma kimia sangat berbahaya, karena dapat menyerang berbagai struktur ocular dan berpotensi menyebebkan kebutaan. Bahan kimia yang dapat mengakibatkan kelainan pada mata dapat di bedakan dalam bentuk : trauma asam dan trauma basa. Dibandingkan bahan asam, maka trauma oleh bahan basa yang memiliki dua sifat yaitu hidrofilik dan lipolifik dapat cepat merusak dan menembus kornea. Pengaruh bahan kimia sangat bergantung pada pH, kecepatan dan jumlah bahan kimia tersebut mengenai mata.6,2 Trauma pada mata merupakan 3-4% dari seluruh kecelakaan kerja. Sebagian besar (84%) merupakan trauma kimia. 9

23

Gambaran klinis kelainan akibat trauma kimia di dasarkan pada klasifikasi, pada trauma kimia asam klasifikasi Thoft sedangkan pada trauma kimia basa klasifikasi Hughes. Setiap trauma kimia pada mata memerlukan tindakan segera. Irigasi daerah yang terkena trauma kimia memerlukan tindakan yang segera harus dilakukan untuk mencegah penyulit yang lebih berat. Pembilasa dilakukan dengan memakai garam fisiologik atau air bersih lainnya selama mungkindan palimg sedikut 15-30 menit. Trauma akibat bahan kimia harus diterapi sebagai kedaruratan mata.6,2

DAFTAR PUSTAKA
1.

Anderson RE, Biochemistry of the eye. San Fransisco: American Academy Ophthalmology, 1983 Asbury Taylor, Sanitato James J. Trauma, dalam Vaughan Daniel G, Abury Taylor, Eva Paul Riordan. Oftalmologi Umum. Edisi 17. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007. Hal: 372-78

2.

3. Duanes Clinical Ophthalmology Volume 4, Chapter 28. Editor William Tasman, MD, Associate Editor Edward A. Jaeger, MD. Revised Edition 2004, hal: 2-3
4.

Eye

injury, Available from URL :

http://www.myeyecarecenter.com/content/eyeinjuries.htm
5.

Hydrochloric Acid Facts, Available from URL : http://www.epi.state.nc.us/epi/oii/hcl/hcl.pdf Ilyas Sidharta, Prof, dr, DSM. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Cetakan I. Jakarta:Balai Penerbit FKUI; 2005. hal: 271-273 Kanski, JJ. Chemical Injuries. Clinical Opthalmology. Edisi keenam. 2008. Philadelphia: Elseiver Limited. Hal: 864-68 Ocular Trauma, in Lang GK, Ophtalmology, A Short Textbook, Stuttgart, New York, 2000

6.

7.

8. Lang GK, Tieme

24

9. Management of Ocular, Orbita, and Adnexal Trauma, editor Thomas C. Spoor, M. D, Frank A. Nesi, M. D, hal: 33-37
10.

Melsaether CN, Rosen CL, Burns, Ocular http://www.emedicine.com/emerg/topic736.htm Ocular Trauma, Available from URL : http://www.revoptom.com/handbook/sect3h.htm Randleman JB, Loft E, Broocker G, Burns, Chemical, Available from URL : http://www.emedicine.com/oph/ophthalmology_for_the_general_practitioner/top ic82.htm

11.

12.

13. Ryan, S.J (1989) Retina, vol. 1 C.V. Mosby Company, St Louis, hal.12
14.

Sachdeva D, Chemical Eye Burns, Available from URL http://www.emedicine.com/aaem/eye/topic102.htm

15.

Surgery ot the eye injuries, By Alston Callahan, Copyright, 1950, By Charles C Thomas, First Edition, Hal 10

16. Treatment of Anterior Segment Ocular Trauma, Rdited by, David Millier, M.D., Robert Stegmann, M.D., Copyright 1986, Hal 102-103
17.

Wijana Nana S.D. Ilmu Penyakit Mata. Cetakan VI. 1993

25

Anda mungkin juga menyukai