Anda di halaman 1dari 7

Tugas Komunikasi Pembangunan

KETIMPANGAN INFORMASI DAN PENYEBARANNYA DI NEGARA BERKEMBANG


Tanggapan Terhadap Artikel Arus dan Situasi Komunikasi di Negara Berkembang karya Drs. Djafar H Assegaff

Disusun Sebagai Tugas Mata Kuliah Komunikasi Pembangunan Yang Dibimbing Oleh Dr. H. Atang Syamsudin, Drs. Pada Program Pascasarjana Magister Ilmu Komunikasi

Oleh: Sinta Swastikawara 210120100022

Program Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung 2011

KETIMPANGAN INFORMASI DAN PENYEBARANNYA DI NEGARA BERKEMBANG


Tanggapan Terhadap Artikel Arus dan Situasi Komunikasi di Negara Berkembang karya Drs. Djafar H Assegaff

Pertumbuhan arus informasi yang pesat di negara maju sebagai akibat dari perkembangan teknologi komunikasi massa merupakan hal yang dapat disambut dengan baik oleh masyarakat di negara maju. Tak ubahnya di negara berkembang, perkembangan media massa juga menjadi berita baik bagi masyarakatnya, terutama pemerintah. Bagi pemerintah di negara berkembang, perkembangan media massa ini dapat dijadikan sarana sebagai penyampai informasi keberhasilan dan kemajuan dari negara berkembang baik kepada masyarakatnya sendiri maupun kepada masyarakat di negara maju. Namun, konsep di atas tersebut tidak dapat menjadi kenyataan, karena secara realita pemberitaan yang dilakukan oleh negara berkembang masih didominasi oleh pemberitaan dari negara maju. Pemberitaan yang dilakukan oleh negara berkembang, seperti di Indonesia, hampir bisa dikatakan sebagian besar dikuasai oleh media dari negara maju. Berita dari negara berkembang yang diharapkan dapat masuk dalam pemberitaan di negara maju, nyatanya tidak dapat menembus tembok pertahanan media di negara maju. Ketidakseimbangan arus informasi ini pada akhirnya menimbulkan permasalahan bagi media di negara berkembang, karena selain mempersempit aktivitas media massa di negara berkembang, monopoli yang dilakukan oleh media massa negara maju kepada media di negara berkembang juga merugikan pihak pemerintah negara berkembang. Pemberitaan yang dilakukan oleh media negara maju selalu bersifat memberatkan keberadaan negara berkembang di hadapan negara lain. Salah satu cara yang dilakukan oleh negara berkembang adalah dengan membentuk sistem pooling kantor berita non aligned dengan tujuan utama adalah membentuk tandingan bagi media di negara maju. Tandingan yang dimaksudkan disini adalah sebagai penyeimbang dari pemberitaan yang dilakukan oleh media di negara maju terhadap kejadian yang ada dalam negara berkembang. Sistem news pool system juga diikuti oleh

kantor berita ANTARA sebagai kantor berita resmi di Indonesia. Kantor berita ANTARA sendiri mengikuti 5 (lima) news pool system yaitu1: a. The ASEAN News Agencies. b. The OANA (Organization od Asian News Agencies) with the Jakarta News Centre in the ANTARA headquarters. c. The International Islamic News Agency (IINA) with the headquarters in Jeddah. d. The Pooling System of the Non Aligned News Agencies. e. The OPECNA (The OPEC News Agency) with the headquarters in Vienna (Austria). Namun, pada kenyataannya, keberadaan news pool system tidak dapat membendung kekuatan dari keberadaan media negara maju. Pemberitaan dari negara berkembang tidak dapat menembus kekuatan media negara maju, bahkan pemberitaan di negara berkembang tetap mengacu pada pemberitaan dari kantor berita negara maju diantaranya adalah UPI dari Amerika Serikat, AP dari Amerika Serikat, AFP dari Prancis, Reuter dari Inggris, ANP dari Belanda, CP dari Canada, dan BUP dari Inggris. Monopoli pemberitaan ini masih kental terjadi walaupun telah terbentuk news pool system. Berita dari luar negeri yang ingin ditampilkan dalam media negara berkembang, harus terlebih dahulu masuk dalam pemberitaan yang dilakukan oleh media negara maju. Sehingga, sumber informasi mengenai berita yang ada di negara maju yang diterima oleh media negara berkembang satu-satunya berasal dari pemberitaan media negara maju itu sendiri. Padahal di sisi lain, pemberitaan yang dilakukan oleh negara maju mengenai negara berkembang selalu bersumber dari korespondensi media negara maju itu sendiri. Dengan kata lain, sudut pandang pemberitaan yang dilakukan oleh media negara maju selalu berasal dari sudut pandang mereka sendiri. Padahal pemberitaan dari negara maju seringkali memberitakan tentang keburukan negara berkembang. Arus informasi yang terjadi pun menjadi hanya searah saja, karena ketimpangan yang terjadi antara arus informasi dari negara maju ke negara berkembang dan negara berkembang ke negara maju. Ketimpangan informasi ini semakin diperparah dengan rendahnya kepemilikan media massa oleh masyarakat di negara berkembang. Kesenjangan kepemilikan media massa yang dialami oleh masyarakat negara maju dan negara berkembang merupakan jurang pemisah yang hampir tidak dapat diatasi. Hal ini dipengaruhi oleh adanya perbedaan
1

Santoso Sastropoetro, Komunikasi Internasional: Sarana Interaksi Antar Bangsa, (Bandung: Penerbit Alumni, 1984), hal: 68.

tingkat ekonomi, sosial, politik, dan budaya sehingga keberadaan media massa di negara berkembang dianggap lebih tidak penting daripada kebutuhan ekonomi yang lain. Disini tampak bahwa orientasi dari masing-masing masyarakat di negara berkembang dan negara maju memiliki perbedaan yang mencolok. Bagi masyarakat di negara maju, kebutuhan dalam mengkonsumsi media massa sudah seperti layaknya kebutuhan primer. Berbanding terbalik dengan masyarakat di negara berkembang yang lebih mementingkan kebutuhan biologis dan fisik untuk dipenuhi terlebih dahulu. Seperti layaknya hierarki kebutuhan Maslow, ketika kebutuhan dasar belum terpenuhi, maka jangan diharapkan akan dapat memenuhi kebutuhan dasar yang lain 2. Usaha dari masyarakat negara berkembang yang lebih terfokus untuk memenuhi kebutuhan mereka secara biologis dan fisik, menjadi tidak dapat disalahkan karena pada dasarnya kebutuhan mereka mengenai biologis dan fisik belum dapat dipenuhi seutuhnya. Berbeda dengan keberadaan masyarakat di negara maju, mereka tidak lagi mempertentangkan masalah biologis dan fisik semata, namun mereka juga membutuhkan media massa sebagai kebutuhan primer mereka. Kebutuhan informasi bagi masyarakat di negara maju tidak dapat dihindari lagi, sehingga permintaan terhadap media massa menjadi semakin tinggi. Mengkonsepkan idealisasi keberadaan komunikasi pembangunan sebagai sebuah ideologi yang tepat, maka Schramm dan Pye menjabarkan dalam beberapa poin penting berikut ini3: a. Esensi pembangunan adalah pemaksimalan penyediaan barang dan jasa bagi masyarakat. b. Dunia maju dan dunia berkembang dibedakan oleh barang dan jasa. c. Cara cepat dan efetif yang membawa perubahan kesadaran dilakukan melalui penggunaan teknologi yang berbasis komunikasi, terutama radio dan TV mampu menciptakan citra baru, mobilitas psikis, dan empati. Konsep tersebut hanya berakhir menjadi isapan jempol belaka. Pada kenyataannya, sebagai contoh TVRI, hanya bertindak sebatas penyampai informasi bagi masyarakat negara berkembang utamanya Indonesia. Keberadaan TVRI sebagai media massa di Indonesia, tidak
2

Dilihat dari hierarki kebutuhan yang dirancang oleh Maslow, empat kebutuhan dasar yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman, cinta dan rindu, serta harga diri merupakan 4 (empat) pondasi dasar dari terbentuknya kebutuhan paling tinggi yaitu aktualisasi diri. Dikutip dari Dr. C. George Boeree, Personality Theories: Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia, (Jogjakarta: Prisma Sophie, 2005), hal: 280. 3 Sumadi Dilla, Komunikasi Pembangunan: Pendekatan Terpadu, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2007), hal: 8.

dapat mewakili kebutuhan warga negaranya sebagai pengguna media massa, karena fokus kegiatan TVRI sebelum berakhirnya Orde Baru hanya berkisar pada pembawa berita informasi dari pemerintah kepada masyrakat. Tidak ada hubungan yang sifatnya 2 (dua) arah terjadi pada masyarakat dan pemerintah yang seharusnya diperantarai oleh media massa seperti TVRI. Permasalahan yang saat ini terdeteksi adalah masuknya pemberitaan media luar yang cenderung memonopoli pemberitaan di negara berkembang. Masuk permasalahan kedua adalah rendahnya kepemilikan media massa oleh masyarakat di negara berkembang. Permasalahan ketiga yang muncul adalah adanya kesenjangan digital yang terjadi antara masyarakat negara maju dengan masyarakat negara berkembang. Pada era saat ini, keberadaan internet sudah tidak dapat dihilangkan lagi, sehingga dengan begitu penggunaan internet diharapkan juga telah masuk ke dalam pelosok negara berkembang. Beberapa fakor yang diidentifikasi berpengaruh terhadap kesenjangan digital adalah 4: a. Jalan ke akses telekomunikasi b. Akses ke internet c. Pencapain pendidikan juga menjelaskan perbedaan akses d. Bahasa (hampir 90% ini internet dalam bahasa inggris) e. Akses di kawasan kota lebih dari desa. Dari ketiga permasalahan yang telah disebutkan di atas, maka dapat diketahui bahwa terdapat 3 (tiga) permasalahan utama dari keberadaan media di negara maju di dalam pemberitaan di negara berkembang hingga permasalahan yang muncul dari dalam negara berkembang itu sendiri. Tiga permasalahan dan solusi yang dapat diajukan adalah: a. Monopoli media negara maju yang terjadi di negara berkembang. Salah satu contoh dari keberadaan monopoli pemberitaan media negara maju di negara berkembang adalah hingga saat ini pemberitaan yang dilakukan oleh media massa di negara berkembang masih memiliki ketergantungan terhadap pemberitaan dari media massa di negara maju. Ketergantungan ini, berakibat adanya keengganan pemilik media massa di negara berkembang untuk mengirimkan reporternya sendiri ke daerah-daerah negara maju. Hal ini mengingat bahwa biaya yang dikeluarkan oleh pemilik media massa memang pada akhirnya menjadi lebih membesar dari hari
4

Zulkarimen Nasution, Komunikasi Pembangunan: Pengenalan Teori dan Penerepannya, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002), hal: 235.

biasanya, karena adanya kewajiban untuk membiayai kebutuhan kehidupan dan aktivitas jurnalistik para reporter negara berkembang di negara maju. Salah satu solusi dari keberadaan hal seperti ini adalah dengan mengurangi ketergantungan terhadap pemberitaan dari negara maju, sehingga dengan melakukan pengurangan konsumsi tersebut diharapkan mampu membuat para jurnalis lebih dapat mengasah kemampuannya dalam melakukan liputan di luar negaranya sendiri. Walau pada akhirnya pembengkakan biaya yang terjadi di dalam segi keuangan media massa di negara berkembang tersebut, namun pemberitaan yang didapatkan untuk masyarakat luas di negara berkembang menjadi lebih berkembang. Dengan demikian arus informasi yang dilakukan menjadi lebih bersifat seimbang, karena pemberitaan yang dilakukan selama ini hanya bersifat satu arah saja. b. Rendahnya kuantitas kepemilikan media massa oleh masyarakat negara

berkembang. Hal ini tidak dapat dihindari lagi, karena tingkat kepemilikan media massa bergantung pada tingkat perekonomian yang dimiliki oleh masyarakat dalam suatu negara. Semakin rendah tingkat perekonomian suatu negara, maka semakin rendah pula tingkat pemilikan media massa. Hal ini tidak terlepas dari hierarki kebutuhan Maslow, dimana ketika kebutuhan dasar tidak terpenuhi maka kebutuhan lain tidak akan terpenuhi. Maka dengan meningkatkan tingkat perekonomian pada suatu negara, otomatis akan menjadi naik pula tingkat kepemilikan media massa di negara berkembang. c. Adanya kesenjangan secara digital utamanya pada era internet saat ini. Tidak berbeda jauh dengan permasalahan sebelumnya, ketika permasalahan ini ditinjau dari hierarki kebutuhan Maslow, maka kebutuhan ini tidak akan dapat terpenuhi sebelum kebutuhan dasarnya terpenuhi. Pada dasarnya, permasalahan kedua dan ketiga ini pada akhirnya berujung pada semakin rendahnya kesadaran masyarakat di negara berkembang dalam bermedia. Sehingga ketika media memberikan sajian berupa apapun itu, akan langsung mereka terima begitu saja. Maka, kebutuhan akan adanya melek media menjadi tidak dapat terhindarkan lagi. Dengan keberadaan melek media, maka akan membuat masyarakat di negara berkembang mampu selektif terhadap konten dalam media massa, sehingga diharapkan mampu memberikan masukan terhadap media massa di negara berkembang.

Permasalahan yang muncul dari keberadaan ketimpangan informasi dan berujung pada ketidakmerataan penyebaran informasi, membuat keberadaan media massa di negara berkembang menjadi sulit bersaing dengan keberadaan media massa di negara maju. Dengan meminimalisir monopoli yang dilakukan oleh media massa di negara maju kepada negara berkembang berarti memberikan kesempatan bagi media massa di negara berkembang untuk semakin maju. Monopoli yang dilakukan oleh kantor berita negara maju tidak akan menghasilkan keuntungan apapun bagi negara berkembang, sebaliknya malah semakin memundurkan keberadaan media massa di negara berkembang. Pemerataan informasi sendiri akan terpecahkan permasalahannya jika media massa dari negara maju tidak melakukan monopoli kepada negara berkembang, karena dengan memberikan kesempatan kepada media massa di negara berkembang untuk maju berarti juga ikut membantu perbaikan sisi ekonomi, politik, sosial dan budaya dalam negara berkembang.

DAFTAR PUSTAKA Boeree, Dr. C. George. 2005. Personality Theories: Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. Jogjakarta: Prisma Sophie. Dilla, Sumadi. 2007. Komunikasi Pembangunan: Pendekatan Terpadu. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. Nasution, Zulkarimen. 2002. Komunikasi Pembangunan: Penerepannya. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Pengenalan Teori dan

Sastropoetro, Santoso. 1984. Komunikasi Internasional: Sarana Interaksi Antar Bangsa. Bandung: Penerbit Alumni.