Anda di halaman 1dari 6

TUGAS HUKUM PERDATA INTERNASIONAL

Disusun Oleh: Andhika Indrapraja Fawzan Irchamsyah Handrey Pramana Rohmadhoni N Vicky Satria B. W Raditya Pratamandika Firman Rahmadi Indana Nurfahmi Fadel Satyanegara 110110090370 110110090379 110110090345 110110090343 110110090358 110110090338 110110090346 110110090 110110090

DAFTAR ISI
Kasus Posisi......................................................................................................3 Tabel................................................................................................................4 Kesimpulan......................................................................................................5 Daftar Pustaka.................................................................................................6

I. KASUS POSISI
IPB melakukan perjanjian untuk mengirim 800 kera ke Amerika, Kera tersebut hanya akan diambil anaknya saja dan babonnya akan dikembalikan ke Indonesia. Harga perekor disepakati sebesar 80 (delapan puluh) juta dan pihak amerika serikat hanya membutuhkan anaknya saja dan harus beranak di Amerika serikat. Ketika posisi pesawat masih di swiss, seekor monyet stress dan lepas,melahirkan anaknya. Karena induknya telah dilumpuhkan dan mati, maka dokter hewan IPB menyuntik mati anak monyet tersebut karena pertimbangan rasa kasihan . Lawyer Amerika serikat menuntut IPB atas dasar perlindungan satwa dan dianggap tak memenuhi prestasi dengan sempurna serta membunuh seekor anak monyet. Disati sisi, Kera di Indonesia tidak lebih sebagai hama, sedangkan bagi Amerika serikat merupakan satwa yang harus mendapat perlindungan.

II. TABEL Fakta


I *IPB melakukan perjanjian jualbeli kera dengan Amerika *Pada saat diperjalanan seekor kera melahirkan dan anaknya disuntik mati oleh pihak IPB *Amerika menuntut pihak IPB atas dasar wanprestasi *Pengadilan Bogor * Pengadilan tempat tergugat Pihak penggugat berkewarga negaraan Amerika X Wanpresta si pihak IPB terhadap Amerika *Lex loci contractus *Lex loci solusionis *The proper law of the contract *The most characteris tic connection Berdasarkan lex loci contractus, maka hokum Indonesia ya ng dipakai

Forum Berwenang

Titik Taut Primer

Orang

Klasifikasi Benda Perikatan

Titik Taut Sekunder

Choice of Law Lex Clause Penyelesaian

Berdasarkan lex loci solusionis. Apabila isi perjanjian dilaksanakan di Indonesia, maka hokum Indonesia yang dipakai, apabila isi perjanjian dilaksanakan di Amerika serikat,maka hokum AS yang dipakai.

III. Kesimpulan
Pengadilan mana yang berwenang mengadili kasus ini? Yaitu pengadilan bogor karena sesuai dengan prinsip actor sequitor forum rei yaitu gugatan diajukan ke pengadilan, tempat dimana tergugat bertempat tinggal. Karena tergugat (IPB) bertenpat tinggal di Bogor, maka forum yang berwenang harus di tempat tinggal tergugat

1.

Titik taut primer adalah factor-faktor/keadaan yang menciptakan hubungan HPI dalam kasus ini yang merupakan titik taut primer harus dilihat/ditinjau dari pengadilan yang berwenang menyelesaikan sengketa ini. Menurut pandangan PN bogor perkara ini adalah perkara HPI karena ada unsure asingnya yaitu pihak penggugat berkewarganegaraan Amerika. Kualifikasi adalah penyalinan fakta sehari-hari kedalam istilah-istilah hokum Kasus ini termasuk kualifikasi hokum perjanjian dan perbuatan melawan hokum. Kualifikasi hokum perjanjian karena mengenai wanprestasi dari pihak IPB (jumlah kera yang dikirim menjadi berkurang satu adalah yang seharusnya 800 ekor kera.) Kualifikasi perbuatan melawan hokum, karena pihak IPB menyuntik anak monyet sampai mati, kera menurut amerika serikat merupakan satwa yang harus/mendpat perlindungan. Sehingga perbuatan IPB menyuntik mati anak kera diklasifikasikan sebagai perbuatan melawan hokum.

2.

1.

Titik taut sekunder yaitu titik taut/factor-faktor/keadaan-keadaan yang menentukan hukummana yang harus diberlakukan Dalam kasus ini, titik taut sekunder untuk klasifikasi perjanjian karena dalam perjanjian yang dibuat oleh IPB dengan amerika serikat tidak ada pilihan hokum maupun pilihan forum, maka yang menjadi titik taut sekundernya bisa ada beberapa antara lain 1. 2. 3. Lex loci contractus Lex loci solusionis
3

The proper law of the contract , Digunakan untuk mengedepankan apa yang dinamakan intention of the parties hokum yang ingin diberlakukan untuk perjanjian tersebut karena dikehendaki oleh para pihak ybs. Hukum yang dikehendaki itu bisa dinyatakan secara tegas yaitu dicantumkan dalam perjanjian, bisa pula tidak dinyatakan secara tegas apabila ditegaskan keinginan para pihak,maka hokum yang diberlakukan adalah yang ditegaskan apabila tidak ditegaskan,maka harus disimpulkan oleh pengadilan dengan melihat pada isi perjanjian, bentuknya unsure-unsur perjanjian maupun kejadiankejadian/peristiwa-peristiwa disekelilingnya yang relevan dengan perjanjian tersebut.

4.

The most characteristic connection adalah untuk menentukan hokum mana yang berlaku adalah hokum dari Negara dengan mana kontrak bersangkutan mempunyai prestasi yang paling kuat.

Bayu Seto Hardjowahono, Dasar-Dasar Hukum Perdata Internasional, hal 23 Bayu Seto Hardjowahono, Dasar-Dasar Hukum Perdata Internasional, hal 24 Sudargo Gautama, Hukum perdata internasional Indonesia, hal 53

1. 1. 2.

LEX CAUSE adalah hokum yang dipakai untuk menyelesaikan perkara Apabila perjanjian dibuat di Indonesia maka berdasarkan lex loci contractus, maka hokum Indonesia yang dipakai. Tetapi kalau perjanjian dibuat di Amerika serikat, maka hokum amerika serikat yang dipakai. Berdasarkan lex loci solusionis. Apabila isi perjanjian dilaksanakan di Indonesia, maka hokum Indonesia yang dipakai, apabila isi perjanjian dilaksanakan di Amerika serikat,maka hokum AS yang dipakai.

Berdasarkan the most characteristic connection, aka hokum yang berlaku adalah Hukum Indonesia karena yang melakukan prestasi paling kuat/paling dominan adalah IPB sebagai penjual kera, karena IPB yang harus menyerahkan kera,merawat dan menjaga kera dengan baik sampai nanti kera diserahkan kepada pihak amerika serikat.