Anda di halaman 1dari 14

BAB X PERCOBAAN 9 GENERATOR SINKRON

10.1 Tujuan Percobaan 1. Mengetahui prinsip kerja generator sinkron dan parameter generator sinkron

melalui percobaan Percobaan hubung buka Percobaan hubung singkat 2. Mengetahui karakteristik generator sinkron dalam keadaan berbeban melalui

percobaan regulator tegangan. 10.2 Dasar Teori Kumparan sangkar pada motor arus searah () dialiri arus pada kumparan medan diberi penguatan sehingga timbul garis gaya magnet berdasarkan hukum lorenzt.

F = B. I. l
Dengan , F = Gaya Lorenzt B = Fluks yaitu sebanding fluks kutub I = Arus yang membaur pada kumparan jangkar l = Panjang sisi Kumparan Gaya lorenzt ini akan menimbulkan suatu momen putar sehingga medan berputar, besarnya momen putar ini adalah energi mekanik yaitu

Dengan

= Tegangan Jangkar = Arus pada Jangkar

= Torsi atau momen putar = Kecepatan Putar


Momen putar atau kopel yang dihasilkan motor DC digunakan untuk memutar generator sinkron yang ada dalam percobaan ini adalah kutub-kutubnya. Prinsip kerja generator sinkron hampir sama dengan generator DC yang berdasarkan huku faraday.

Dimana e = ggl induksi N = Jumlah Lilitan

= Perubahan fluksi magnetik terhadap waktu


Apabila suatu konduktor memotong garis-garis fluksi kuat medan magnet, maka ggl akan dibangkitkan dari kumparan tersebut. Pada generator sinkron tidak terdapat sikat dan komutator yang pada generator Dc berfungsi sebagai penyearah. Tetapi dengan menempatkan sepasang cincin geser pada proses dan menghubungkan ke titik ysng tetap pada tegangan bolak-balik, akan timbul tegangan saat generator dibri beban Ac, pada kondisi tersebut stator akan berfungsi sebagai jangkar dan rotor berfungsi sebagai kutup-kutub.

Name Plate Generator Sinkron P = 2,5 Kw V = 400 V I = 13,5 A F = 50 Hz N = 1500 r/min Cos = 0,8

V eksitasi = 100 V I eksitasi = 4 A

10.3

Alat dan Bahan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Mesin sinkron 3 fasa Motor DC Voltmeter Beban hubung bintang 3 fasa Lampu pijar Amperemeter Tachometer

10.4

Gambar Rangkaian

10.5

Langkah Percobaan

10.5.1 Percobaan Beban Nol 1. Buat Rangkaian seperti pada gambar 2. Masukkan (ON) saklar utama 3. Masukkan (ON) Saklar power supply Dc 220 V dan saklar bantunya 4. Tekan tombol start motor Dc 5. Dalam keadaan saklar terbuka, ukur tegangan terminal generator (T1-T2) pada putaran kerja 6. Masukkan saklar S1 dan naikkan arus eksitasi secara bertahap 7. Baca petunjuk ampermeter eksitasi dan 8. Lakukan langkah 6 dan 7 hingga tegangan nominal tercapai 9. Turunkan arus eksitasi secara bertahap dan catat harga tegangan nominal generator 10. Untuk setiap perubahan arus eksitasi catat, tegangan terminal, arus jangkar, arus eksitasi

10.5.2 Percobaan Hubung Singkat 1. Buat Rangkaian seperti pada gambar 2. Masukkan (ON) saklar utama 3. Masukkan (ON) Saklar power supply Dc 220 V dan saklar bantunya 4. Tekan tombol start motor Dc 5. Dalam keadaan saklar terbuka, ukur tegangan terminal generator (T1-T2) pada putaran kerja

6. Masukkan saklar S1 dan naikkan arus eksitasi secara bertahap 7. Catat arus pada generator, arus jangkar motor dc dan tegangan terminal motor dc 8. Hubung singkat 9. Naikkan arus eksitasi secara bertahap dan catat harga tegangan nominal generator 10. Untuk setiap perubahan arus eksitasi catat, tegangan terminal, arus jangkar, arus eksitasi 10.5.3 Percobaan Berbeban 1. 2. 3. 4. 5. Buat Rangkaian seperti pada gambar Masukkan (ON) saklar utama Masukkan (ON) Saklar power supply Dc 220 V dan saklar bantunya Tekan tombol start motor Dc Dalam keadaan saklar terbuka, ukur tegangan terminal generator (T1-T2) pada putaran kerja 6. 7. 8. 9. Masukkan saklar S1 dan naikkan arus eksitasi secara bertahap Catat arus pada generator, arus jangkar motor dc dan tegangan terminal motor dc Turunkan arus eksitasi secara bertahap dan catat harga tegangan nominal generator Untuk setiap perubahan arus eksitasi catat, tegangan terminal, arus jangkar, arus eksitasi

10.6 Data Percobaan 10.6.1 Data Percobaan Beban Nol Tabel 10.1 Percobaan beban nol Eksitasi Naik Vout (V) 346,411 351,6 356,8 358,53 Ieks (A) 0,78 0,8 1,5 1,7 Vout (V) 405,3 353,34 341,21 323,89 Eksitasi Turun Ieks (A) 1,86 1,59 1,4 1,19

10.6.2 Data Percobaan Hubung Singkat Tabel 10.2 Percobaan hubung singkat Vsebelum (V) 162 Vsesaat (V) 85 Vsesudah (V) 172 Isebelum (A) 0,003 I sesudah (A) 0,05

10.6.3 Data Percobaan Berbeban Tabel 10.3 Percobaan berbeban Beban Y 0 40 60 100 J 82,1 84.4 83.6 82,2 Vdc M 99 98,8 98,7 98,2 J 0,01 0,46 0,45 0,46 Idc M 0,52 0,46 0,45 0,48 271,93 266,73 266,73 271,93 0,03 0,04 0,05 0,04 1.12 1,13 1,14 1,25 1530 1554 1370 1423 47 47 47 47 Vout Iout If N F

10.7 Analisa dan Pembahasan 10.7.1 Percobaan beban nol generator sinkron Tabel 10.4 Percobaan beban nol Eksitasi Naik Eksitasi Turun

Vout (V) Ieks (A) Vout (V) Ieks (A) 346,411 0,78 405,3 1,86 351,6 0,8 353,34 1,59 356,8 1,5 341,21 1,4 358,53 1,7 323,89 1,19 Berdasarkan tabel diatas, dapat dibuat grafik berdasarkan tabel diatas, grafik perbandingan antara tegangan dan arus seperti dibawah ini :

Sedangkan kurva ideal dan karakteristik beban nol generator sinkron adalah

Gambar 10.6 kurva ideal dan karakteristik beban nol

Apabila kita lihat pada kurva ideal, saat arus diperbesar maka tegangan naik secara linear dapat dilihat pada gambar diatas, sedangkan saat arus eksitasi maksimum diturunkan, tegangan turun secara linear. Besar tegangan saat arus eksitasi diturunkan lebih besar dan pada saat arus eksitasi dinaikkan. Hal ini disebabka adanya arus remanasi yaitu arus sisa saat arus eksitasi diturunkan.

Pada kurva percobaan terlihat belum selesai dengan kurva idealnya, pada percobaan saat arus eksitasi dinaikan atau diturankan tetapi besar kenaikan atau penurunan tidak teratur, hal ini disebabkan karena dumper windings pada generator tidak bekerja dengan baik sehingga puaran rotor tidak konstan. Idealnya saat beban nol arus rotor tidak diikuti kenaikan tegangan. Tegangan tidak kembali ke nilai semula karena masih ada fluks sisa pada kondisi sebelumnya. Lilitan peredam, kerap kali disebut lilitan armortiseus atau dumper windings. Dipasang pada permukaan beberapa rotor generator untuk mengurangi kecenderungan berayun. Rotor yang dilengkapi dengan lilitan peredam yang terdiri dari konduktor yang dihubung singkat melalui muka kutub, sehingga menginduksikan arus dalam lilitan peredam. Karena setiap arus induksi melawan aksi yang menimbulkanya. Aksi ayunan dilawan oleh aliran arus induksi. Generator yang digerakkan oleh turbin umumnya tidak memiliki kecenderungan berayun karena I yang dikenakan tidak berdenyut.

10.7.3 Percobaan berbeban Pada percobaan berbeban dihitung besarnya faktor regulasi persamaan yang dipakai adalah % reg = Contoh perhitungan : % reg = = X 100% X 100% = 0% X 100%

Dengan menggunakan cara yang sama didapat hasil seperti yang tertera pada tabel dibawah : Tabel 10.6 Hasil perhitungan % regulasi Beban V out Regulasi % VNL 40 266,73 1,95 271,93 60 266,73 1,95 271,93 0 271,93 0 271,93 Pada generator sinkron terdapat efisiensi, terdapat pula rugi tetap dan tidak tetap. Rugi tetap terjadi karena adanya rugi gesekan, angin, rugi besi (koefisien) dan arus putar pada bagian stator dan juga karena beban luar. Sedangkan rugi tidak tetap adalah rugi yang timbul saat di aliri arus atau adanya beban. P jangkar (Pa) = Va . Ia = 87,1 . 6,01 = 523,471 Watt P medan = Vm . Im = 99 . 0,52 = 51,48 Watt P dc = Pa + Pm = 523,471 + 51,48 = 24,47 Watt P out 3 = 3 . Vout . Iout . cos = 3 . 271,93 . 0,03 . cos 0,8

= 24,47

Efisiensi = = =

X 100% X 100% = 4,25%

Dengan cara yang sama maka didasarkan efisiensi sebagai berikut : Tabel 10.7 Hasil perhitungan efisiensi Beban (%) 0 4,25 40 5,07 60 5,98 100 4,24 Pada kondisi berbeban, arus yang mengalir pada rotor sehingga timbul medan arus putarannya terlambat. Pada saat kehilangan beban secara tiba-tiba gaya tersebut juga hilang sehingga putaran rotor akan dipercepat melebihi putaran stator ditambah momen inersia dari rotor sehingga tegangan meningkat setelah itu tegangan akan berayun dari atas ke bawah nilai tegangan normal atau osilasi. Jika dilihat efisiensi yang dihasilkan kecil hal ini dikarenakan daya yang diberikan kecil (tidak sesuai generator) saat generator diberi beban tegangan yang keluar semakin kecil hal ini disebabkan putaran rotor melambat sehingga fluks yang timbul kecil. Untuk mencari besarnya frekuensi yang dihasilkan saat diberi beban dapat menggunakan rumus : n= Dimana, n = Kecepatan putaran generator (mks) f = Frekuensi (Hz) p = Jumlah kutub Misalnya : Untuk beban nol diketahui n = 1526, p = 4 maka n= 1370 =

1370 =

= 51 Hz

Jika beban 60 W diketahui n = 1370, p=4 maka n = 1370 = =45,6 Hz

Jika beban 40 W diketahui n = 1554, p=4 maka n= 1554 = = 51,8 Hz

Jika beban 100 W diketahui n = 1423, p=4 maka n= 1423 = = 47,43 Hz

Dari persamaan diatas dapat kita buat tabel perbandingan frekuensi hitung dan percobaan Tabel 10.8 Perbandingan F hitung dan F percobaan Beban Frekuensi hitung Frekuensi percobaan 0 51 47 40 51,8 47 60 45,6 47 100 47,43 47 Dari tabel tampak sedikit perbedaan antara hasil perhitungan dengan percobaan, hal ini disebabkan karena kesalahan pada saat pengamatan. Prinsip kerja generator sinkron adalah menggunakan prinsip elektromagnetik dimana rotor berlaku sebagai kumparan jangkar dan akan menginduksi stator. Pada belitan rotor diberi arus DC yang akan menciptakan medan magnet. Rotor ini dikopel dengan turbin putar dan ikut berputar sehingga akan menghasilkan medan magnet putar. Medan magnet putar ini akan memotong kumparan jangkar yang berada di stator. Oleh karena adanya perubahan fluks magnet pada tiap waktunya maka pada kumparan jangkar akan mengalir gaya gerak listrik yang diinduksikan oleh rotor.

Inrush adalah bagian yang digunakan untuk melewatkan arus dan sumber. Arus yang tidak dilewatkan Inrush tergolong berbahaya karena nilai arus yang tinggi sehingga dapat merusak komponen. Dumper winding / lilitan digunakan untuk menggerakkan bisa dibuat dengan membuat kumparan rotor motor sinkron / disama. Gambar 10. 7 (a) Dumper winding pada rotor (b) Dumper winding pada stator Dumper winding dipasang pada pemutaran rotor generator untuk mengurangi tegangan berayun. Konstruksinya yaitu sebuah konduktor yang dihubung singkat dan dihubung dengan muka kutub. Jika ayunan terjadi adanya pergeseran jangkar yang melalui muka kutub sehingga menginduksi arus dalam sistem peredam dan menimbulkan aksi yang berlawanan ayunan. Gambar 10.8 prinsip kerja dumper winding

10.8 Kesimpulan
1. Pada saat generator sinkron penguat sendiri dalam kondisi berbeban nol maka

tidak ada reaksi jangkar. 2. Pada saat generator berbeban maka kumparan stator akan dialiri arus sehingga timbul arus jangkar. 3. Reaksi jangkar bersifat reaktif karena dinyatakan sebagai reaktansi pemagnet (Xm). Xm bersama dengan fluks motor dikenal sebagai reaktansi sinkron. 4. Harga Xs diperoleh dari percobaan hubung singkat generator sinkron. 5. Regulasi tegangan generator sinkron adalah perubahan tegangan terhadap keadaan beban nol dan beban penuh pada terminal.