Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

SEJARAH PERKEMBANGA N PELAYANAN dan PENDIDIKAN KEBIDANAN


Disusun Oleh: Agnes Tianah Ayu Nurul Amalia Banat Aslimatu Rizka Desi Putri Permatasari Desi Armadani Kelas:Reguler B/semester 1

AKADEMIK KEBIDANAN YPBHK BREBES T.A 2011/2012

PERKEMBANGAN PELAYANAN KEBIDANAN DI DALAM NEGERI


Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda,angka kematian ibu dan anak sangat tinggi.tenaga penolong persalinan adalah dukun.Pada tahun 1807,dimasa permerintahan gubernur Jenderal Hendrik William Deandels,para dukun dilatih untuk melakukan pertolongan persalinan,tetapi keadaan ini tidak berlangsung lama karena tidak tersedianya pelatih kebidanan. Pelayanan kesehatan termasuk pelayan kebidanan pada saat itu hanya diperuntukan bagi orang-orang Belanda yang ada di Indonesia.kemudian tahun 1849,dibuka pendidikan Dokter Java di Batavia,tepatnya diRumah Sakit Militer Belanda yang sekarang dikenal dengan RSPAD Gatot Subroto.seiring dengan dibukanya pendidikan dokter tersebut,pada tahun 1851,dibuka pendidikan bidan bagi wanita pribumi di Batavia oleh seorang dokter militer Belanda bernama Dr.W.Bosch.Lulusan sekolah ini kemudian bekerja di rumah sakit dan juga masyarakat.mulai saat itu pelayanan kesehatan ibu dan anak dilakukan oleh dukun dan bidan. Pada tahun 1952,mulai diadakan pelatihan bidan secara formal agar dapat meningkatkan kualitas pertolongan persalinan.Pelatihan untuk para dukun masih berlangsung sampai sekarang.Pelatihan ini diberikan oleh bidan.Perubahan pengetahuan dan keterampilan tentang pelayanan kesehatan ibu dan anak secara menyeluruh dimasyarakat dilakukan melalui kursus tambahan yang dikenal dengan istilah Kursus Tambahan Bidan (KTB) pada tahun 1953 di Yogyakarta,yang akhirnya dilakukan pula dikota-kota besar lainnya di nusantara ini.Seiring dengan pelatihan tersebut,didirikan pula Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) dengan bidan sebagai penanggung jawab pelayanan kepada masyarakat.Pelayanan yang diberikan mencakup pelayanan antenatal,postnatal,pemeriksaan bayi dan anak,termasuk imunisasi serta penyuluhan gizi.sedangkan diluar BKIA,bidan memberi pertolongan persalinan dirumah keluarga dan melakukan kunjungan rumah sebagai upaya tindak lanjut persalinan. Bermula dari BKIA,kemudian terbentuklah suatu pelayanan terintegrasi bagi masyarakat yang dinamakan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) pada tahun 1957.Puskesmas memberi pelayanan didalam gedung dan diluar gedung dan berorientasi pada wilayah kerja.bidan yang bertugas di Puskesmas berfungsi memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak,termasuk pelayanan keluarga berencana baik diluar gedung maupun didalam gedung.Pelayanan kebidanan yang diberikan diluar gedung adalah pelayanan kesehatan keluarga dan pelayanan di pos

pelayanan terpadu (Posyandu).Pelayanan di Posyandu mencakup lima kegiatan yaitu pemeriksaan kehamilan,pelayanan keluarga berencana,imunisasi,gizi,dan kesehatan lingkungan. Mulai tahun 1990,pelayanan kebidanan diberikan secara merata dan dekat dengan masyarakat,sesuai dengan kebutuhan masyarakat.Kebijakan ini merupakan Instruksi Presiden (Inpres) yang disampaikan secara lisan pada Sidang Kabinet Tahun 1992.Kebijakan ini mengenai perlunya mendidik bidan untuk ditempatkan didesa.Tugas pokok bidan di desa adalah sebagai pelaksana kesehatan KIA,khususnya dalam pelayanan kesehatan ibu hamil,bersalin,dan nifas serta pelayanan kesehatan bayi baru lahir,termasuk pembinaan dukun bayi (paraji).Sehubungan dengan itu ,bidan desa juga menjadi pelaksana pelayanan kesehatan bayi dan keluarga berencana yang dilakukan sejalan dengan tugas utamanya sebagai pemberi pelayanan kesehatan ibu.Dalam melaksanakan tugas pokoknya,bidan desa melaksanakan kunjungan rumah pada ibu dan anak yang memerlukannya,mengadakan pembinaan Posyandu di wilayah kerjanya,serta mengembangkan Pondok Bersalin sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Hal tersebut diatas adalah bentuk pelayanan yang diberikan oleh bidan di desa.Pelayanan bidan di desa berorientasi pada kesehatan masyarakat,sedangkan bidan yang bekerja dirumah sakit berorientasi pada individu.Tugas bidan di rumah sakit mencakup pelayanan di poliklinik,antenatal,poliklinik keluarga berencana,ruang perinatal,kamar bersalin,kamar operasi kebidanan,dan ruang nifas.Bidan di rumah sakit juga memberi pelayanan bagi klien yang mengalami gangguan kesehatan reproduksi,mengajarkan senam hamil,serta memberi pendidikan perinatal. Titik tolak konferensi Kependudukan Dunia di Kairo pada tahun 1994 yang menekankan pada kesehatan reproduksi (reproductive health),memperluas area garapan pelayanan bidan.Area tersebut meliputi: 1.Safe motherhood;termasuk bayi baru lahir dan perawat abortus. 2.Keluarga berencana 3.Penyakit menular seksual termasuk infeksi saluran alat reproduksi. 4.Kesehatan reproduksi remaja.

5.Kesehatan reproduksi orang tua. Bidan dalam melaksanakan peran,fungsi,dan tugasnya didasarkan pada kemampuan serta kewenangan yang diberikan.Kewenangan tersebut diatur melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes).Permenkes yang menyangkut wewenang bidan selalu mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat serta kebijakan pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.Permenkes tersebut terdiri atas:
1. Permenkes No.5380/IX/1963 yang menyatakan bahwa wewenang bidan terbatas

pada pertolongan persalinan normal secara mandiri,didampingi tugas lain.


2. Permenkes

No.363/IX/1980 yang kemudian diubah menjadi Permenkes

623/1989,menyatakan bahwa wewenang bidan dibagi menjadi dua,yaitu wewenang umum dan khusus.Dalam wewenang khusus ditetapkan bahwa bidan melaksanakan tindakan khusus dibawah pengawasan dokter.Hal ini berarti bahwa bidan dalam melaksanakan tugasnya tidak bertanggungjawab dan bertanggung gugat atas tindakan yang dilakukan.Berdasarkan Permenkes ini,bidan melaksanakan praktik perorangannya dibawah pengawasan dokter.
3. Permenkes No.572/VI/1996 yang mengatur tentang registrasi dan praktik

bidan.Bidan

dalam

melaksanakan tersebut

praktiknya

diberi

kewenangan

yang

mandiri.Kewenangan

disertai

kemampuan

dalam

melaksanakan

tindakan.Dalam wewenang tersebut mencakup: a.Pelayanan kebidanan yang meliputi pelayanan ibu dan anak b.Pelayanan keluarga berencana c.Pelayanan kesehatan masyarakat.
4. Permenkes No.900/Menkes/SK/VII/2002 yang mengatur tentang registrasi dan

praktik bidan. Bidan dalam melaksanakan tugas praktiknya diberi kewenangan untuk memberikan pelayanan yang meliputi: a.Pelayanan kebidanan yang meliputi pelayanan pra

nikah,antenatal,intranatal,postnatal,bayi baru lahir,dan balita.

b.Pelayanan keluarga berencana yang meliputi pemberian obat dan alat kontrasepsi melalui oral,suntikan,pemasangan,dan pencabutan AKDR dan AKBK tanpa penyulit. Dalam melaksanakan tugasnya,bidan melakukan kolaborasi,konsultasi,dan rujukan sesuai dengan kondisi pasien,kewenangan,serta kemampuannya.Wewenang bidan dalam pelayanan kebidanan di bidang keluarga berencana mencakup penyediaan alat kontrasepsi: oral (pil KB),suntik,kondom,tisu vaginal,alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR),alat kontrasepsi bawah kulit (AKBK),baik pemasangan maupun pencabutan.Pada keadaan darurat,bidan juga diberi wewenang untuk memberikan pelayanan kebidanan yang ditujukan untuk menyelamatkan jiwa (misal, kuretasi digital untuk mengangkat sisa jaringan pada bayi baru lahir yang mengalami asfiksia dan hipotermia). Permenkes tersebut juga menegaskan bahwa bidan dalam menjalankan praktiknya harus sesuai dengan kewenangan,kemampuan,pendidikan,pengalaman,serta berdasarakan standar profesi.Di samping itu,bidan diwajibkan merujuk kasus-kasus untuk yang tidak yang dapat akan ditangani,menyimpan rahasia,meminta persetujuan tindakan

dilaksanakan,memberi informasi,serta membuat rekam medis dengan baik.Petunjuk pelaksanaan yang lebih rinci mengenai kewenangan bidan terdapat pada petunjuk pelaksanaan (juklak) yang dituangkan dalam Lampiran Keputusan Dirjen Binkesmas No.1506/Tahun 1997. Pencapaian kemampuan bidan sesuai dengan Permenkes 572/1996 tidak mudah,karena kewenangan yang diberikan oleh Departemen Kesehatan mengandung tuntutan bahwa bidan sebagai tenaga profesional harus memiliki kemampuan profesi yang mandiri.Pencapaian kemampuan tersebut diperoleh melalui institusi pendidikan yang mengajarkan kompetensi inti bidan serta institusi pelayanan yang meningkatkan kemampuan bidan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Perkembangan pelayanan kebidanan menuntut kualitas bidan yang handal dan profesional serta upaya pemantauan (monitoring) pelayanan.Oleh karena itu,adanya Konsil Kebidanan adalah suatu keharusan.Pendidikan bidan yang berorientasi pada profesional dan akademik serta memiliki kemampuan melakukan penelitian adalah suatu terobosan dan syarat utama untuk percepatan peningkatan kualitas pelayanan kebidanan.

PERKEMBANGAN PELAYANAN KEBIDANAN DI LUAR NEGERI


Pada pertengahan abad ke-17,bidan adalah profesi penting dan dihormati di komunitas kolonial Belanda.Kebidanan hanya salah satu bentuk pelayanan yang diberikan para bidan kepada komunitas kolonial.Pada saat itu,kadangkala bidan juga berperan sebagai perawat yang merawat orang sakit dan sekarat,mengurus jenazah,sebagai herbalis,serta dokter hewan.Selain gaji sebagai imbalan,bidan juga memperoleh rumah,tanah,dan makanan sebagai bentuk penghormatan atas jasa mereka. Akan tetapi,terdapat berbagai tersebut faktor yang menurunkan perilaku derajat bidan di

masyarakat.Faktor-faktor

mencakup

religius,kebutuhan

ekonomi,pengambilalihan tugas dan tanggung jawab oleh dokter,pendidikan yang tidak mendukung dan tidak adanya organisasi kebidanan,peningkatan jumlah imigran,serta status wanita yang direndahkan. Perilaku Religius Pada awal abad ke-17,banyak bidan berasal dari inggris yang keberadaannya merupakan bantuan dari pihak gereja sehingga penilaian moral lebih ditekankan.Seorang bidan dituntut untuk memiliki karakter/perilaku yang baik.Bidan tersebut disumpah dan memiliki kewenangan untuk mendengarkan pengkuan dosa dan melakukan pembaptisan.Akan tetapi,kewenangan tersebut menimbulkan kontroversi karena dalam sumpahnya,seorang bidan juga harus bertanya dan memaksa ibu untuk mengatakan ayah sang bayi yang sebenarnya.Hal ini tentunya dianggap sebagian besar orang tidak etis.Selain itu,para bidan di daerah pedesaan seringkali dianggap sebagai penyihir,khususnya bila bayi yang lahir cacat. Kebutuhan Ekonomi Pada awal abad ke-18,imbalan yang diberikan kepada bidan tidak lagi mencukupi.Bidan hidup dalam ekonomi yang morat-marit,meskipun mereka yang tinggal di kota besar.Pada saat itu,tidak ada lembaga atau organisasi yang mengatur standar upah yang layak bagi bidan.

Pengambilalihan Tugas dan Tanggung Jawab oleh Dokter Pada awal abad ke-18 itu pula masyarakat kelas atas cenderung lebih percaya pada dokter yang didominasi pria sehingga mereka meremehkan keberadaan bidan yang sebagian besar adalah wanita .Bahkan dokter Walter Channning,lulusan Harvard dengan tegas berpendapat dalam bukunya bahwa ia tidak setuju dengan keberadaan bidan wanita. Pendidikan yang Tidak Mendukung dan Tidak Adanya Organisasi Kebidanan Abad ke-18 dan 19 merupakan titik pesatnya perkembangan dunia

medis,keperawatan,serta praktik obstetri.Tetapi sayangnya,perkembangan ini tidak dialami profesi kebidanan.Tidak ada sistem yang terorganisasi untuk pendidikan bagi bidan.Kurangnya sekolah formal kebidanan,tidak adanya organisasi kebidanan dan jurnal ilmiah dalam skala nasional,serta pengakuan legal terhadap profesi kebidanan membatasi komunikasi di antara sesama bidan sehingga membuat mereka terisolasi satu sama lain.Keterbatasan ini menyebabkan pelayanan kebidanan yang diberikan lebih banyak berdasarkan praktik kebidanan yang turunmenurun,belajar dari pengalaman,melalui penggunaan obat-obatan tradisional,dan lewat doa,karena hanya itulah yang bisa dilakukan. Peningkatan Jumlah Imigran Pada masa revolusi industri,sejumlah negara mengalami peningkatan imigrasi,namun kondisi kebidanan masih tetap sama.Hal ini terjadi karena banyak bidan imigran yang tidak bisa berbahasa inggris dan tidak memiliki akses ke sistem pelayanan kesehatan yang ada,khususnya bidan kulit hitam,karena masalah rasisme. Status Wanita yang Direndahkan Turunnya pamor bidan di mata masyarakat diperburuk dengan status wanita yang direndahkan saat itu.Wanita dipandang sebagai objek eksploitasi secara ekonomi,dan dianggap tidak kompeten dalam bidang politik dan sosial.Peran pria yang sangat mendominasi di masyarakat menjadikan posisi bidan terpojok dan acap kali di salahkan bila terjadi kematian pada ibu dan bayi.Pada tahun 1906,diadakan penelitian mengenai kematian ibu dan anak di New York. Penelitian ini menujukan 40 persen persalinan dilakukan oleh bidan yang tidak

kompeten,walau pun kelalaian dokter turut menjadi faktor penyebab.Tingginya angka kematian ibu juga disebabkan oleh faktor-faktor berikut:
1. Rumah sakit tidak dianggap sebagai tempat perawatan obstetri sehingga tidak

tersedia sumber daya yang cukup untuk mengatasi keadaan darurat atau komplikasi.
2. Materi pengajaran mengenai obstetri tidak dianggap penting sehingga sering

diabaikan.
3. Praktik obstetri hanya terbatas pada periode intrapartum dan postpartum saja. 4. Sedikitnya peraturan yang mengatur kewenangan dan tanggung jawab.

Pada abad ke-19 (1846-1847),terjadi migrasi penduduk dari Illinois ke Utah menggunakan kereta kuda.Selama perjalanan tersebut terjadi banyak proses persalinan yang dibantu bidan.Peristiwa ini tercatat dalam sejarah. Pada tahun 1990-an,muncul sebuah artikel mengenai kebidanan yang berjudul Changing Childbirth yang menekankan bahwa layanan maternitas seharusnya berpusat pada wanita dan berfokus pemenuhan kebutuhan wanita yang menggunakan layanan tersebut.Dengan dipublikasikannya laporan tersebut,maka posisi bidan semakin penting dan nyata.Peran bidan pun mendapat tantangan,khususnya dalam pelayanan maternitas. Dua dekade pertama pada abad ke-20 tercatat sebagai masa pelayanan maternitas yang sangat buruk,dan untuk mengatasinya dibentuk dua organisasi,yaitu Childrens Bureau di Washington dan Maternity Center Association di New York yang berfokus pada perbaikan pelayanan maternitas.

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN KEBIDANAN DI DALAM NEGERI


Perkembangan pendidikan bidan berhubungan dengan perkembangan pelayanan kebidanan.Keduanya berjalan beriringan untuk memenuhi kebutuhan/tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kebidanan.Pendidikan kebidanan mencakup pendidikan nonformal. formal dan

Pendidikan bidan dimulai pada masa penjajahan Hindia Belanda.Pada tahun 1851,seorang dokter militer Belanda (Dr. W. Bosch) membuka pendidikan bidan bagi wanita pribumi di Batavia.Pendidikan ini tidak berlangsung lama karena kurangnya peserta didik akibat adanya larangan ataupun pembatasan bagi wanita untuk keluar rumah. Pendidikan bidan bagi wanita pribumi dibuka kembali di Rumah Sakit Militer di Batavia pada tahun 1902.Pada tahun 1904,pendidikan bidan bagi wanita Indonesia juga di buka di Makasar.Lulusan dari pendidikan ini harus bersedia ditempatkan dimana pun tenaga dibutuhkan dan mau menolong masyarakat yang tidak/kurang mampu secara menjadi 40 Gulden per bulan (tahunn 1922). Tahun 1911-1912 dimulai program pendidikan tenaga keperawatan secara terencana di Rumah Sakit Umum Pusat Semarang dan Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo di Batavia dengan lama pendidikan selama empat tahun.Calon murid berasal dari lulusan Holandia Indische School (SD 7 tahun) dan pada awalnya hanya menerima peserta didik pria.Pada tahun 1914,peserta didik wanita mulai diterima untuk mengikuti program pendidikan tersebut.Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut,perawat wanita dapat meneruskan ke pendidikan kebidanan selama dua tahun,sedangkan perawat pria dapat meneruskan ke pendidikan keperawatan lanjutan juga selama dua tahun. Pada tahun 1935-1938,pemerintah kolonial Belanda mulai membuka pendidikan bidan lulusan Mulo (Setingkat SMP) dan pada waktu yang hampir bersamaan dibuka sekolah bidan di beberapa kota besar antara lain di Jakarta (RSB Budi Kemuliaan) serta di Semarang (RSB Palang Dunia dan RSB Mardi Waluyo).Di tahun yang sama di keluarkan sebuah peraturan yang mengklasifikasikan lulusan bidan berdasarkan latar belakang pendidikan.Bidan dengan dasar pendidikan Mulo dan pendidikan kebidanan selama tiga tahun disebut Bidan Kelas Satu (Vroedvrouw eerste Klas) serta bidan dari lulusan perawat (mantrio) disebut Bidan Kelas Dua (Vroedvrouw tweede Klas).Perbedaan ini menyangkut ketentuan gaji pokok dan tunjangan bagi bidan.Pada zaman penjajahan Jepang,pemerintah mendirikan sekolah perawat atau sekolah bidan dengan nama dan dasar yang berbeda,namun memiliki persyaratan yang sama dengan zaman penjajahan Belanda.Peserta didik kurang berminat memasuki sekolah tersebut dan mereka mendaftar karena terpaksa,karena tidak ada pendidikan lain. cuma-cuma.Lulusan ini mendapat tunjangan dari pemerintah kurang lebih 15-25 Gulden per bulan.Kemudian dinaikkan

Pada tahun 1950-1953,dibuka sekolah bidan untuk lulusan SMP dengan batasan usia minimal 17 tahun dan lama pendidikan tiga tahun.Mengingat kebutuhan tenaga untuk menolong persalinan cukup banyak maka dibuka pendidikan pembantu bidan yang disebut Penjenang Kesehatan E (PK/E) atau Pembantu Bidan.Pendidikan ini dilanjutkan sampai tahun 1976 dan setelah itu ditutup.Peserta didik PK/E adalah lulusan SMP ditambah 2 tahun kebidanan dasar.Lulusan dari PK/E sebagian besar melanjutkan pendidikan bidan selama dua tahun. Tahun 1953 dibuka Kursus Tambahan Bidan (KTB) di Yogyakarta,lamanya kursus antara 7 sampai 12 minggu.Pada tahun 1960,KTB dipindahkan ke Jakarta.Tujuan dari KTB ini adalah untuk memperkenalkan kepada lulusan bidan mengenai perkembangan program KIA dalam pelayanan kesehatan masyarakat sebelum lulusan memulai tugasnya sebagai bidan,terutama menjadi bidan di BKIA.Pada tahun 1967,KTB ditutup. Tahun 1954 dibuka pendidikan guru bidan secara bersama-sama dengan guru perawat kesehatan masyarakat di Bandung.Pada awalnya,pendidikan ini berlangsung satu tahun kemudian menjadi dua tahun dan terakhir berkembang menjadi tiga tahun.Pada awal tahun 1972,institusi pendidikan ini dilebur menjadi Sekolah Guru Perawat (SGP).Pendidikan ini menerima calon dari lulusan sekolah perawat dan sekolah bidan. Pada tahun 1970,dibuka program pendidikan bidan yang menerima lulusan dari Sekolah Pengatur Rawat (SPR) ditambah dua tahun pendidikan bidan yang disebut Sekolah Pendidikan Lanjutan Jurusan Kebidanan (SPLJK).Pendidikan ini tidak dilaksanakan secara merata diseluruh provinsi. Pada tahun 1974,mengingat jenis tenaga kesehatan menengah dan bawah sangat banyak (24 kategori),Departemen Kesehatan melakukan penyederhanaan pendidikan tenaga kesehatan nonsarjana.Sekolah bidan ditutup dan dibuka Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) dengan tujuan menciptakan tenaga multitujuan dilapang yang salah satu tugasnya adalah menolong persalinan normal.Akan tetapi,karena adanya perbedaan falsafah dan kurikulum terutama yang berkaitan dengan kemampuan seorang bidan,maka tujuan pemerintah agar SPK dapat menolong persalinan tidak tercapai atau terbukti tidak berhasil.

Pada tahun 1975 sampai 1984,institusi pendidikan bidan ditutup sehingga selama 10 tahun tidak menghasilkan bidan.Namun organisasi profesi bidan (IBI) tetap ada dan hidup dengan wajar. Tahun1981 dibuka pendidikan diploma 1 kesehatan ibu dan anak untuk meningkatkan kemampuan perawat kesehatan (SPK) dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk kebidanan.Pendidikan ini hanya berlangsung satu tahun dan tidak dilakukan oleh semua institusi. Pada tahun 1985,dibuka lagi program pendidikan bidan (PPB) yang menerima lulusan SPR dan SPK.Pada saat itu,dibutuhkan bidan yang memiliki kewenangan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana dimasyarakat.Lama pendidikan satu tahun dan lulusannya dikembalikan kepada institusi yang mengirim. Tahun 1989 dibuka program pendidikan bidan secara nasional yang membolehkan lulusan SPK untuk langsung masuk program pendidikan bidan.Program ini dikenal sebagi Program Pendidikan Bidan A (PPB/A) dengan lama pendidikan satu tahun.Lulusannya ditempatkan didesa-desa dengan tujuan memberi pelayanan kesehatan terutama pelayanan kesehatan terhadap ibu dan anak didaerah pedesaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan keluarga dan menurunkan angka kematian ibu dan anak.Untuk itu,pemerintah menempatkan seorang bidan ditiap desa sebagai pegawai negeri sipil (PNS) Golongan II.Mulai tahun 1996 status bidan di desa adalah sebagai pegawai tidak tetap (Bidan PTT) kontrak dengan pemerintah selama tiga tahun yang kemudian dapat diperpanjang sampai 2-3 tahun lagi. Penempatan bidan di desa (BDD) ini menyebabkan orientasi sebagai tenaga kesehatan berubah.BDD harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya tidak hanya kemampuan klinis sebagai bidan tetapi juga kemampuan untuk berkomunikasi,konseling,dan kemampuan untuk menggerakan masyarakat desa dalam meningkatkan taraf kesehatan ibu dan anak.Program Pendidikan Bidan A diselenggarakan dengan peserta didik yang cukup banyak.Diharapkan tahun 1996,sebagian besar desa sudah memiliki minimal seorang bidan.Lulusan pendidikan ini kenyataannya juga tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan seperti yang diharapkan sebagai seorang bidan profesional,Karena lama pendidikan yang terlalu singkat (hanya satu tahun) dan jumlah peserta didik yang terlalu besar.Kesempatan peserta didik untuk praktik di

klinik kebidanan sangat kurang sehingga tingkat kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh seorang bidan profesional tidak dapat tercapai. Pada tahun 1993,dibuka Pendidikan Bidan Program B yang peserta didiknya dari lulusan akademi perawat (Akper) dengan lama pendidikan satu tahun.Tujuan program pendidikan ini adalah menyiapkan tenaga pengajar Pendidikan Bidan Program A.Hasil penelitian terhadap kemampuan klinis kebidanan lulusan ini menunjukan bahwa kompetensi bidan yang diharapkan tidak tercapai karena lama pendidikan yang terlalu singkat yaitu hanya setahun.Pendidikan ini hanya berlangsung selama dua angkatan (1995 dan 1996) kemudian ditutup. Pada tahun 1993,juga dibuka Pendidikan Bidan Program C yang menerima murid dari lulusan SMP.Pendidikan ini dilakukan di 11 provinsi yaitu Aceh,Bengkulu,Lampung dan Riau (wilayah sumatera);Kalimantan Barat,Kalimantan Timur,dan Kalimantan Selatan (wilayah kalimantan);Sulawesi Selatan,NTT,Maluku,Irian Jaya.Pendidikan ini memiliki kurikulum 3700 jam dan dapat diselesaikan dalam waktu enam semester. Selain program pendidikan bidan di atas,sejak tahun 1994-1995 pemerintah juga menyelenggarakan uji coba Pendidikan bidan Jarak Jauh (distance learning) di tiga provinsi yaitu Jawa Barat,Jawa Tengah,dan Jawa Timur.Kebijakan ini dilaksanakan untuk memperluas cakupan upaya peningkatan mutu tenaga kesehatan yang sangat diperlukan dalam pelaksanaan peningkatan mutu pelayanan kesehatan.Pengaturan penyelnggaraan ini telah diatur dalam SK Menkes No.1247/Menkes/SK/XII/1994. Diklat Jarak Jauh (DJJ) bidan ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan ,sikap,dan keterampilan bidan agar mampu melaksanakan tugasnya serta diharapkan dapat memberi dampak pada penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi.DJJ Bidan dilaksanakan dengan menggunakan modul sebanyak 22 buah. Pendidikan ini dikoordinasikan oleh Pusdiklat Depkes dan dilaksanakan oleh Bapelkes di Provinsi.DJJ Tahap I (1995-1996) dilaksanakan di 15 provinsi.Pada tahap II (1996-1997),DJJ dilaksanakan di 16 provinsi dan pada tahap III (1997-1998),DJJ dilaksanakan di 26 provinsi.Secara kumulatif pada I-III,DJJ telah diikuti oleh 6.306 orang bidan dan sejumlah 3.439 (55%) dinyatakan lulus.Pada tahap IV (1998-1999),DJJ dilaksanakan di 26 provinsi dengan

jumlah tiap provinsinya adalah 60 orang,kecuali Provinsi Maluku,Irian Jaya,dan Sulawesi Tengah masing-masing hanya 40 orang,dan Provinsi Jambi 50 orang. Selain pelatihan DJJ,pada tahun 1994 juga dilaksanakan pelatihan pelayanan kegawatdaruratan maternal dan neonatal (Life Saving Skill,LSS) dengan materi pembelajaran berbentuk 10 modul.Pelatihan ini dikoordinasi oleh Direktorat Kesehatan Dirjen Binkesmas,sedangkan pelaksananya dilakukan dirumah sakit provinsi/kabupaten.Ditinjau dari prosesnya,penyelenggaraan ini dinilai tidak efektif. Pada tahun 1996,Ikatan Bidan Indonesia (IBI) bekerja sama dengan Departemen Kesehatan dan American College of Nurse Midwife (ACNM) serta rumah sakit swasta mengadakan Training of Trainer (TOT) LSS yang pesertanya adalah anggota IBI berjumlah 8 orang,yang kemudian menjadi tim pelatih LSS ini mengadakan TOT dan pelatihan untuk para bidan desa (yang dilaksanakan di 14 provinsi) dan bidan praktik swasta 9yang dilaksanakan secara swadaya) serta kepada guru /dosen dari diploma kebidanan. Pada tahun 1995-1998,IBI bekerja sama dengan Mother Care melakukan pelatihan dan peer review bagi bidan rumah sakit,bidan puskesmas,serta bidan desa di Provinsi Kalimantan Selatan. Pada tahun 2000,telah ada tim pelatih Asuhan Persalinan Normal (APN) yang dikoordinasikan oleh Maternal Neonatal Health (MNH) yang sampai saat ini telah memberi pelatihan APN di beberapa provinsi/kabupaten.Pelatihan LSS dan APN tidak hanya ditujukan untuk bidan di pelayanan tetapi juga bidan yang menjadi guru atau dosen di sekolah/akademi kebidanan. Selain melalui pendidikan formal dan pelatihan,untuk meningkatkan kualitas pelayanan juga diadakan seminar dan lokakarya organisasi.Lokakarya organisasi dengan materi pengembangan organisasi (Organization Development,OD) dilaksanakan setiap tahun sebanyak dua kali mulai tahun 1996 sampai 2000 dengan biaya dari UNICEF.