Anda di halaman 1dari 32

HUKUM PERIKATAN

Dosen :

1. Etty H. Djukardi, S.H., CN.

2. Kilkoda Agus Saleh, S.H., MH.

3. Etty Mulyati, S.H.

PENDAHULUAN

Hukum Perdata menurut doktrin terdiri dari :

1. Hukum Perorangan (Personenrecht),

2. Hukum Keluarga (Familierecht),

3. Hukum Harta kekayaan (Vermogenrecht),

a. hak kekayaan absolut :

- Hak kebendaan,

- Hak atas benda-benda immateriil.

b. hak kekayaan relatif

4. Hukum Waris (Erfrecht).

Pembagian Hukum Perdata menurut KUHPdt :

- : tentang orang (van personen).

Buku I

- : tentang benda zaken), kekayaan absolut.

- Buku III : tentang perikatan verbintenissen), kekayaan relatif dipelajari dalam

Buku II

Hukum Perikatan).

- Buku IV

: tentang pembuktian daluarsa (van bewijs en verjaring).

Buku III : Hal-hal yang mengatur hukam antara subjek Hukum Perikatan; mengatur hak

terhadap orang lain.

Buku II : Mengatur hak terhadap benda; hak-hak yang timbul dalam hak benda bersifat

kebendaan, sedang Hukum Perikatan bersifat perseorangan.

Perikatan dalam buku III bcrsifat terbuka artinya orang bisa membuat perjanjian apa

saja asalkan tidak bertentangan dengan kesusilaan dan kepatutan.

Sifat kebendaan dalam Hukum Benda menimbulkan gejala-gejala hukum, seperti :

1.

Hubungan langsung antara pemilik benda dan benda,

2.

Adanya suatu hak yang tetap melekat pada benda itu, dimana saja benda itu berada,

3.

Sifat mutlak dalam arti bahwa pemilik dapat melaksanakan haknya terhadap benda-

benda siapapun saja.

Sifat perorangan menimbulkan gejala-gejala hukum akibat hubungan hukum

perseorangan dengan person lain.

Hak perorangan adalah hak relatif, artinya suatu hak yang hanya berlaku terhadap

orang tertentu. Misal; kebebasan, kehormatan, nama baik, dsb.

Hak kebendaan adalah hak absolut, artinya suatu hak yang memberikan kewenangan

atas sebagian atau keseluruhan daripada sesuatu benda.

ISTILAH

KUHPdt menggunakan istilah perikatan untuk verbintenis dan persetujuan untuk

overenkomst.

Secara umum maka untuk verbintenis dikenal 3 istilah, yaitu :

1. Perikatan,

2. Perutangan,

3. Perjanjian.

Sedangkan untuk overeenkomst dikenal 2 istilah, yaitu :

1.

Perjanjian,

2.

Persetujuan.

Verbintenis berasal dari kata verbiden (artinya mengikat); menunjukkan adanya ikatan

atau hubungan karena itu maka perikatan merupakan istilah yang lebih tepat untuk

verbintenis.

kata overeenkomen (artinya setuju atau sepakat);

menunjukkan adanya kata sepakat atau setuju sehingga persetujuan lebih tepat untuk

overeenkomst.

Overeenkomst

berasal

dari

DEFINISI

Menurut Hofmann :

Perikatan adalah suatu hubungan hukum antara sejumlah terbatas subjek-subjek hukum

sehubungan dengan itu seorang atau beberapa orang daripadanya (debitur atau para

debitur) mengikatkan dirinya untuk bersikap menurut cara-cara tertentu terhadap pihak

yang lain, yang berhak atas sikap yang demikian itu.

Menurut Pitlo :

Perikatan adalah suatu hubungan hukum yang bersifat harta kekayaan antara dua orang

atau lebih, atas dasar mana pihak yang satu berhak (kreditur) dan pihak yang lain

berkewajiban (debitur) atas suatu prestasi. Ikat di sini adalah akibat hukumnya daripada

ada yang berhak dan ada yang berkewajiban.

Menurut Subekti :

Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada orang lain atau

dimana dua orang itu saling berjanjian untuk melaksanakan suatu hal. Peristiwa adalah

fakta hukum yang bisa terjadi karena perbuatan. Perjanjian menimbulkan perikatan,

dan perjanjian adalah sumber perikatan.

Kesimpulan:

Dalam satu perikatan paling sedikit ada satu hak dan satu kewajiban. Hubungan hukum

adalah hubungan yang diatur dan diakui oleh hukum; hubungan yang mempunyai

akibat hukum.

SUBJEK PERIKATAN

Subjek perikatan adalah para pihak pada suatu perikatan, yaitu kreditur yang berhak

(atas suatu prestasi) dan debitur yang berkewajiban (untuk memenuhi suatu prestasi).

Pada debitur terdapat dua unsur :

1. Schuld,

2. Haftung.

Kewajiban debitur untuk memenuhi prestasi disebut schuld, dan selain daripada schuld

maka debitur juga berkewajiban untuk menjamin pemenuhan prestasi tersebut dengan

seluruh kekayaannya (pasal 1131 KUHPdt), disebut haftung. Tetapi UU memberikan

pengecualian :

1. Schuld tanpa haftung (misal; hutang yang terjadi pada perjudian/perikatan alam),

2. Schuld dengan haftung terbatas (misal; pada ahli pewarisan terbatas (dengan hak

pendaftaran)),

3. Haftung dengan schuld pada orang lain (misal; mengalihkan tanggung jawab; orang

boros).

Kreditur adalah pihak yang aktif, dalam hal pergantian para pihak :

pergantian kreditur - tidak masalah,

pergantian debitur - harus ada perjanjian tiga pihak.

OBJEK PERIKATAN

Objek perikatan atau prestasi diatur dalam pasal 234 KUHPdt.

Objek perikatan atau prestasi terdiri dari :

1. Memberikan sesuatu,

Yaitu berupa menyerahkan sesuatu barang atau memberikan kenikmatan atas

sesuatu barang, misal : antara penjual dan pembeli mengenai suatu barang.

Dapat dilakukan eksekusi riil.

2. Berbuat sesuatu,

Yaitu setiap prestasi untuk melakukan sesuatu yang bukan berupa memberikan

sesuatu, misal : melukis.

Berhubungan dengan pribadi seseorang (tidak dapat dilakukan eksekusi riil).

3. Tak berbuat sesuatu.

Yaitu jika debitur berjanji untuk tidak melakukan perbuatan tertentu, misal,

tidak akan membangun rumah.

Mungkin dilakukan eksekusi riil atas izin pengadilan (misal; membongkar

gedung).

Syarat Objek Perikatan

Antara lain :

1. Tertentu (pasal 1320 sub 3, 1465 KUHPdt),

2.

Objeknya diperkenankan (pasal 1335, 1337 KUHPdt),

3. Prestasinya dimungkinkan.

Berkaitan dengan syarat ke-3, ada 2 teori, yaitu :

Ketidakmungkinan objektif,

- tidak akan menimbulkan perikatan, karena prestasi tidak dapat dilakukan oleh

siapapun. Misal; prestasi untuk menempuh jarak Bandung - New York dalam

waktu 1 jam.

Ketidakmungkinan relatif,

- tidak mcnghalangi terjadinya perikatan, karena hanya debitur yang

bersangkutan saja yang tidak dapat melakukan. Misal; prestasi untuk menyanyi

untuk seorang yang gagu.

Kreditur dapat menuntut pelaksanaan dari prestasi, bila dapat dilaksanakan secara

nyata, dieksekusi riil, jika debitur tidak dapat dipaksa untuk melaksanakan prestasi

masih ada upaya lain, yaitu :

1. Ganti rugi,

2. Pembatalan persetujuan timbal balik.

Pasal 1236 KUHPdt : Kewajiban untuk mengganti biaya rugi dan bunga baru ada kalau

debitur mempunyai kesalahan. Kesalahan di sini adalah kesalahan yang menimbulkan

kerugian. Ketentuan ini merupakan konsekuensi dari pasal 1235 KUHPdt; kewajiban

debitur dalam perikatan memberi sesuatu adalah menyerahkan hak milik/ kenikmatan

atas suatu benda.

PERIKATAN PADA UMUMNYA

Kenyataan Hukum

Kenyataan hukum adalah kenyataan yang menimbulkan hukum, yaitu tentang

timbulnya hukum, berubahnya hukum, dan hapusnya hukum.

Kenyataan-kenyataan hukum dibedakan ke dalam :

1. Perbuatan hukum,

2. Perbuatan yang bukan perbuatan hukum,

3. Peristiwa hukum.

(Lihat : Catatan Kuliah PIH - Pengertian Hukum)

Sumber-sumber Perikatan

Perikatan diatur dalam pasal 1233 KUHPdt :

o

Perjanjian (pasal 1313 KUHPdt),

o

Undang-undang (pasal 1352 KUHPdt).

Undang-undang saja :

a. Pekarangan yang berdampingan (pasal 625 KUHPdt),

b. Alimentasi (pasal 104, 321 KUHPdt).

Undang-undang karena perbuatan manusia :

Perbuatan menurut hukum :

a. Perwakilan sukarela (pasal 1354 KUHPdt),

b. Pembayaran tak terutang (pasal 1359 KUHPdt).

Perbuatan yang melawan hukum (pasal 1365 KUHPdt).

Perikatan yang bersumber dari undang-undang :

Diciptakan secara langsung karena suatu keadaan tertentu, perbuatan atau kejadian dan

memikulkan suatu kewajiban dengan tidak menghiraukan kehendak orang yang harus

menghendakinya.

Perikatan yang bersumber dari perjanjian :

Keharusan memenuhi kewajiban, baru tercipta setelah yang bersangkutan yang harus

memenuhinya memberikan persetujuan atau menghendaki.

Kesalahan

Kesalahan dalam arti luas ; kesengajaan (opzet) dan kelalaian (onachtzaambeid).

Kesalahan dalam arti sempit: kelalaian saja.

Kesalahan adalah berbuat membiarkan sesuatu yang merugikan orang lain.

Kesalahan harus memenuhi syarat-syarat, antara lain :

1. Perbuatan yang dilakukan dapat dihindarkan,

2. Perbuatan tersebut dapat dipertanggungjawabkan kepada si pembuat untuk dapat

menduga akibatnya.

Kesengajaan

Sengaja : perbuatan itu diketahui dan disengaja. Contoh : seorang penyewa merusak

tangga kayu rumah yang disewanya.

Kesengajaan; penyewa mengetahui akibatnya untuk merusak barang orang lain.

Kelalaian

Mengetahui akan kemungkinan terjadinya akibat yang merugikan orang lain. Contoh;

dititipi perhiasan, tidak disimpan dalam brangkas tapi disimpan di lemari biasa.

Pasal 1243 KUHPdt : Debitur baru diwajibkan membayar ganti rugi, biaya bunga bila

ia tidak berprestasi (wanprestasi) setelah dinyatakan lalai oleh kreditur tetapi tidak

melaksanakan perikatan atau bila debitur tidak melaksanakan prestasi dalam tenggang

waktu yang ditetapkan.

Beban pembuktian pada kreditur :

1. Ada perikatan,

2. Debitur wanprestasi,

3. Debitur telah dinyatakan lalai,

4. Kreditur menderita kerugian karena wanprestasi debitur.

Ingkar Janji Wanprestasi

Yaitu apabila debitur tidak melaksanakan kewajibannya dan bukan karena keadaan

memaksa.

Ada 3 bentuk wanprestasi :

1. Debitur sama sekali tidak memenuhi prestasi,

2. Terlambat memenuhi berprestasi,

3. Salah memenuhi prestasi/ memenuhi prestasi secara tidak baik.

Atas wanprestasi yang dilakukan debitur maka kreditur dapat menuntut :

1. Pemenuhan perikatan,

2. Pemenuhan perikatan + ganti rugi,

3. Ganti rugi,

4. Pembatalan persetujuan timbal balik,

5.

Pembatalan + ganti rugi.

Debitur dapat dinyatakan lalai apabila memenuhi syarat yaitu dengan terlebih dahulu

melalui lembaga penetapan lalai.

Penetapan lalai/ pernyataan lalai/ somasi (ingebregtelling somatie) adalah pesan dari

kreditur kepada debitur, dengan mana kreditur memberitahukan pada saat kapankah

selambat-lambatnya ia mengharapkan pemenuhan prestasinya.

Somasi harus memenuhi unsur (berisi), antara lain :

1. Teguran keras,

2. Tanggal terakhir untuk melakukan prestasi,

3. Sanksi, dapat berupa pembatalan perjanjian dan atau ganti rugi.

Jika pada suatu perjanjian sudah ditetapkan tanggal akhir pelaksanaan prestasi, maka

tidak perlu somasi.

Fungsi somasi adalah untuk menetapkan saat debitur lalai.

Somasi dalam praktek bisa dilakukan beberapa kali.

Pasal 1238 KUHPdt : Si berutang adalah lalai apabila ia dengan surat perintah atau

dengan sebuah akta sejenis itu telah dinyatakan lalai atau demi perikatannya sendiri,

ialah jika ini menetapkan bahwa si berutang akan dianggap lalai dengan lewatnya

waktu yang telah ditentukan.

Ada 2 keadaan yang mengakibatkan debitur tidak dapat melaksanakan kewajibannya,

yaitu :

1. Wanprestasi,

2. Overmacht.

Keadaan Memaksa (Overmacht)

Keadaan memaksa adalah suatu keadaan dimana debitur tidak dapat melaksanakan

prestasi karena tidak mampu.

Keadaan memaksa ialah keadaan tidak dipenuhinya prestasi oleh debitur karena terjadi

suatu peristiwa dan bukan karena kesalahannya, peristiwa mana tidak dapat diketahui

atau diduga akan terjadi pada waktu akan membuat perikatan.

Keadaan memaksa dibagi menjadi 2, yaitu :

1. Overmacht absolut,

Secara mutlak debitur tidak dapat menghindar (risiko ditanggung kreditur).

2. Overmacht relatif,

Harus dibuktikan melalui pengadilan, apabila ada kelalaian yang dapat

mengakibatkan wanprestasi maka risiko pun harus ditanggung debitur.

Dalam keadaan memaksa, debitur tidak dapat dipersalahkan karena keadaan tersebut

timbul di luar kemampuan debitur, wanprestai karena keadaan memaksa, karena

perbuatan debitur untuk berprestasi terhambat, misal; untuk prestasi berbuat sesuatu;

seorang pelukis diberi waktu dengan jatuh tempo 3 hari untuk menyelesaikan

lukisannya, tetapi si pelukis sakit, sehingga tidak dapat melukis, maka berhalangan

sakit ini termasuk relatif karena setelah sembuh ia dapat melukis kembali, walaupun

tidak memenuhi jatuh tempo.

Sehubungan dengan keadaan memaksa maka persoalan yang timbul ialah siapa yang

harus memikul risiko sedang debitur tidak bersalah (dapat dipahami).

Unsur-unsur yang terdapat dalam keadaan memaksa adalah :

1. Tidak dipenuhi prestasi karena suatu peristiwa yang membinasakan/ memusnahkan

yang menjadi objek perikatan, hal ini selalu bersifat tetap,

2. Tidak dapat dipenuhi prestasi karena suatu peristiwa yang menghalangi perbuatan

debitur untuk berprestasi, dapat bersifat tetap atau sementara,

3. Peristiwa ini tidak dapat diketahui atau diduga akan diketahui pada waktu dibuat

perikatan baik oleh debitur ataupun oleh kreditur, jadi bukan karena kesalahan

pihak-pihak, khususnya debitur.

Sehubungan dengan keadaan memaksa, dalam Ilmu Hukum dikenal 2 ajaran, yaitu :

1. Ajaran yang bersifat objektif,

Artinya benda yang menjadi objek perikatan tidak mungkin dipenuhi oleh siapapun.

Dasar ajaran ini adalah ketidakmungkinan. Vollman menyebut keadaan ini dengan

absolute overmacht, yakni apabila benda objek perikatan itu musnah di luar

kesalahan debitur, misal : sebuah hotel terbakar di luar kesalahan si pemilik hotel.

Menurut ajaran ini, keadaan memaksa tersebut jika setiap orang sama sekali tidak

mungkin memenuhi prestasi yang berupa benda objek perikatan itu, dalam keadaan

demikian secara otomatis keadaan memaksa tersebut mengakhiri perikatan karena

tidak mungkin dapat dipenuhi, dengan kata lain perikatan itu dapat menjadi batal,

dengan demikian keadaan memaksa ini bersifat tetap.

2. Ajaran yang bersifat subjektif,

Karena menyangkut perbuatan debitur itu sendiri, jadi terbatas pada perbuatan atau

kemampuan debitur.

Dasar ajaran ini, debitur itu masih mungkin untuk memenuhi prestasi, walaupun

mengalami kesulitan atau bahaya. Vollman menyebutnya dengan relative

overmacht, yakni apabila pemenuhan prestasi itu masih mungkin dilakukan,

tetapi memerlukan pengorbanan besar/ menimbulkan bahaya yang besar bagi

debitur.

Tangkisan-tangkisan debitur agar ia dapat melepaskan diri dari kewajiban memberikan

ganti kerugian, antara lain :

1.

Exceptio on adimpleti contractus,

Tangkisan bahwa kreditur sendiri tidak melaksanakan kewajiban, tidak ada/tidak

disebutkan dalam undang-undang/ hukum yurisprudensi, Contoh; tanpa uang

muka maka barang tidak dikirim.

2.

Pelepasan hak (rechtsverwerking),

Sikap dari kreditur dimana debitur dapat menyimpulkan bahwa kreditur sudah tidak

akan menuntut ganti rugi, contoh : pesan barang golongan 1 tetapi dikirim golongan

2, sedang kreditur tetap diam maka dianggap kreditur tersebut menerimanya.

Risiko

Risiko adalah kemungkinan untuk menderita kerugian.

Risiko adalah kewajiban memikul kerugian yang disebabkan karena suatu kejadian di

luar kesalahan salah satu pihak.

Risiko pada perjanjian sepihak ditanggung oleh kreditur (pasal 1245 KUHPdt).

Risiko pada perjanjian timbal balik, dalam hal ini undang-undang tidak memberikan

pemecahan; menurut Pitlo (dengan berdasar pada pasal 1444 KUHPdt), menurut

kepantasan, jika debitur tidak lagi berkewajiban maka pihak lainpun bebas dari

kewajibannya.

Pasal 1545 KUHPdt : Pada perjanjian tukar menukar, apabila barangnya musnah diluar

kesalahan pemilik maka perjanjian dianggap gugur, dalam hal ini risiko ada pada

pemilik barang.

Macam-macam Perikatan

Menurut doktrin, maka perikatan dapat dibedakan atas :

1. Menurut isi daripada prestasinya :

a. Perikatan positif dan negatif.

b. Perikatan sepintas lalu dan berkelanjutan,

c. Perikatan alternatif,

d. Perikatan fakultatif,

e. Perikatan generik dan spesifik,

f. Perikatan yang dapat dibagi dan yang tidak dapat dibagi.

2. Menurut subjeknya :

a. Perikatan tanggung-menanggung,

b. Perikatan pokok dan tambahan.

3. Menurut mulai berlakunya dan berakhirnya :

a. Perikatan bersyarat,

b. Perikatan dengan ketetapan waktu.

Ad l): Menurut isi daripada prestasinya

Perikatan positif adalah perikatan yang prestasinya berupa perbuatan positif, yaitu

memberi sesuatu dan berbuat sesuatu.

Perikatan negatif adalah perikatan yang prestasinya berupa suatu perbuatan yang

negatif, yaitu tidak berbuat sesuatu.

Perikatan sepintas lalu adalah perikatan yang pemenuhan prestasinya cukup hanya

dilakukan dengan satu perbuatan saja dan dalam waktu yang singkat tujuan perikatan

telah tercapai.

Perikatan berkelanjutan adalah perikatan yang prestasinya berkelanjutan.

Perikatan alternatif adalah perikatan dimana debitur dibebaskan untuk memenuhi satu

dari dua atau lebih prestasi yang disebutkan dalam perjanjian.

Perikatan fakultatif adalah perikatan yang hanya mempunyai satu objek prestasi,

dimana debitur mempunyai hak untuk mengganti dengan prestasi yang lain, bilamana

debitur tidak mungkin memenuhi prestasi yang telah ditentukan semula.

Perikatan generik adalah perikatan dimana objeknya hanya ditentukan jenis dan

jumlahnya barang yang harus diserahkan debitur kepada kreditur.

Perikatan spesifik adalah perikatan dimana objeknya ditentukan secara terperinci

sehingga tampak ciri-ciri khususnya.

Perikatan yang dapat dibagi adalah perikatan yang prestasinya dapat dibagi, pembagian

mana tidak boleh mengurangi hakikat prestasi itu.

Perikatan yang tidak dapat dibagi adalah perikatan yang prestasinya tidak dapat dibagi.

Ad 2): Menurut subjeknya

Perikatan tanggung-menanggung/ perikatan solider/ perikatan renteng adalah perikatan

dimana debitur dan/atau krediturnya terdiri dari beberapa orang.

Perikatan pokok/ perikatan principle adalah perikatan antara debitur dan kreditur, yang

berdiri sendiri tanpa tergantung pada adanya perikatan yang lain.

Perikatan tambahan/ perikatan accesoire adalah perikatan antara debitur dan kreditur

yang diadakan sebagai perikatan tambahan daripada perikatan pokok.

Ad 3): Menurut mulai berlakunya dan berakhirnya

Perikatan bersyarat adalah perikatan yang lahirnya maupun berakhirnya (batalnya)

bergantung pada suatu peristiwa yang belum dan tidak tentu akan terjadi.

Perikatan dengan ketetapan waktu adalah perikatan yang pelaksanaannya ditangguhkan

sampai pada suatu waktu yang ditentukan yang pasti akan tiba, meskipun mungkin

belum dapat dipastikan kapan waktu yang dimaksudkan akan tiba.

Menurut undang-undang, maka perikatan dapat dibedakan atas :

1.

Perikatan bersyarat,

2. Perikatan dengan ketetapan waktu,

3. Perikatan manasuka (alternatif),

4. Perikatan tanggung-menanggung,

5. Perikatan yang dapat dibagi dan yang tidak dapat dibagi,

6. Perikatan dengan ancaman hukuman.

Ad 6): Perikatan dengan ancaman hukuman

Perikatan dengan ancaman hukuman adalah perikatan dimana ditentukan bahwa debitur

akan dikenakan suatu hukuman apabila ia tidak melaksanakan perikatan.

PERIKATAN YANG LAHIR KARENA PERJANJIAN

Pasal 1313 KUHPdt memberikan definisi mengenai persetujuan sbb :

Persetujuan adalah suatu perbuatan, dimana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya

terhadap satu orang lain atau lebih.

Kekurangan dari definsi tersebut diantaranya:

1. Perbuatan harus diartikan sebagai perbuatan hukum,

2. Menambahkan perkataan "

atau saling mengikatkan dirinya

".

Hukum perjanjian dikuasai oleh 3 asas, yaitu:

1. Asas konsensual (pasal 1320 KUHPdt),

Perjanjian ada setelah tercapai kata sepakat, tidak diperlukan formalitas.

2. Asas kekuatan mengikat perjanjian (pasal 1338 KUHPdt),

Atau asas pacta sunt servanda, perjanjian berlaku sebagai undang-undang bagi

mereka yang membuatnya.

3. Asas kebebasan berkontrak (pasal 1338 KUHPdt),

Orang bebas untuk mengadakan perjanjian menurut pilihannya. Bebas mengadakan

perjanjian dengan siapa saja, bebas dalam menetapkan isi, syarat dan sebagainya.

Prof. Subekti : asas konsensual dari pasal 1320 KUHPdt dapat dilihat pada kata-kata

sepakat mereka yang mengikatkan diri.

Bagian-bagian perjanjian, antara lain :

1.

Esentialia,

Memuat unsur-unsur perjanjian, misal : dalam jual-beli, ada barang ada harga.

Merupakan unsur yang harus ada yang merupakan hal pokok sebagai syarat.

Tidak terpenuhinya bagian ini maka perikatan menjadi tidak sah dan tidak mengikat

para pihak.

2. Naturalia,

Ketentuan yang sifatnya mengatur. Naturalia merupakan ketentuan hukum umum

suatu syarat yang biasanya dicantumkan dalam perjanjian. Apabila tidak termuat

dalam perjanjian maka UU akan mengisi kekosongannya.

3. Accidentalia,

Hal-hal yang khusus di perjanjian, misal; menyewakan rumah kecuali paviliun

harus disebutkan.

Aksidentalia merupakan suatu syarat yang tidak harus ada, tetapi dicantumkan juga

oleh para pihak untuk keperluan tertentu dengan maksud khusus sebagai suatu

kepastian.

Macam-macam perjanjian obligator, antara lain :

1. Perjanjian sepihak dan timbal balik,

Perjanjian sepihak adalah perjanjian, dimana hanya terdapat kewajiban pada salah

satu pihak saja (misal; hibah). Perjanjian timbal balik adalah perjanjian yang

menimbulkan kewajiban pokok pada kedua belah pihak (misal; jual-beli, sewa-

menyewa).

2. Perjanjian dengan cuma-cuma atau atas beban,

Perjanjian dengan cuma-cuma adalah perjanjian dimana salah satu pihak

mendapatkan keuntungan dari pihak yang lain secara cuma-cuma.

Perjanjian atas beban adalah perjanjian dimana terhadap prestasi pihak yang satu

terdapat prestasi pihak yang lain (misal; jual-beli, sewa-menyewa).

3. Perjanjian konsensuil, riil, dan formil,

Perjanjian konsensuil adalah perjanjian yang terjadi dengan kata sepakat.

Perjanjian riil adalah perjanjian dimana selain kata sepakat juga diperlukan

penyerahan barang.

Perjanjian formil adalah perjanjian yang dibuat atau dituangkan dalam bentuk

formil

4. Perjanjian bernama, tidak bernama, dan campuran,

Perjanjian bernama adalah perjanjian dimana telah diatur secara khusus dalam

undang-undang.

Perjanjian tidak bernama adalah perjanjian yang tidak diatur secara khusus dalam

undang-undang.

Perjanjian campuran adalah perjanjian yang mengandung berbagai unsur dari

berbagai perjanjian yang sulit dikualifikasikan sebagai perjanjian bernama atau

tidak bernama.

Terhadap perjanjian campuran maka Undang-undang memberikan pemecahannya

pada pasal 1601c KUHPdt, dalam hal ini terdapat 3 teori, yaitu :

a. Teori absorptie,

diterapkan ketentuan perundang-undangan yang paling menonjol.

b. Teori combinatie,

diterapkan ketentuan perundang-undangan untuk masing-masing bagian

perjanjian

c. Sui generis,

ketentuan-ketentuan daripada perjanjian campuran diterapkan secara analogi.

Macam-macam perjanjian lainnya :

1. Perjanjian liberatoire,

Perjanjian liberatoire adalah perbuatan hukum yang atas dasar sepakat para pihak

menghapuskan perikatan yang telah ada.

2. Perjanjian dalam Hukum Keluarga

Misal : perjanjian perkawinan - mempunyai sifat-sifat khusus.

3. Perjanjian kebendaan,

Perjanjian kebendaan adalah perjanjian untuk menyerahkan benda atau

menimbulkan, mengubah atau menghapuskan hak-hak kebendaan.

4. Perjanjian mengenai pembuktian,

Perjanjian mengenai alat-alat bukti yang akan digunakan dalam suatu proses

pembuktian.

Syarat Sahnya Perjanjian

Pasal 1320 KUHPdt, antara lain :

1.

Sepakat antara pihak-pihak,

2.

Kecakapan,

3.

Suatu hal tertentu (objek),

4.

Suatu sebab yang halal.

Ad 1): Sepakat antara pihak-pihak

Kecocokan antara kehendak kedua belah pihak - ada pertemuan kehendak - persesuaian

dan pernyataan kehendak.

Penawaran (kehendak + pernyataan) - penerimaan (kehendak + pernyataan).

Unsur kesepakatan - penawaran dan penerimaan

Kapan ada sepakat dijawab dengan 3 teori, antara lain :

1. Teori kehendak,

Jika kita mengemukakan suatu pernyataan yang berbeda dengan apa yang

dikehendaki maka kita tidak terikat kepada pernyataan tersebut.

2. Teori pernyataan,

Kebutuhan masyarakat menghendaki bahwa kita dapat berpegang kepada apa yang

dinyatakan tanpa menghiraukan apa yang dinyatakan tersebut sesuai dengan

kehendaknya masing-masing pihak atau tidak.

3. Teori kepercayaan,

Kata sepakat terjadi jika ada pernyataan yang secara objektif dapat dipercaya.

Cacat kehendak (kekurangan yuridis) antara lain : (pasal l321 KUHPdt)

1. Kekhilafan (pasal 1322 KUHPdt),

Bisa mengenai hakikat barang, bisa juga mengenai orang.

Jika kehendak seseorang pada waktu membuat perjanjian dipengaruhi oleh kesan

atau pandangan palsu.

2. Paksaan (Pasal 1324 KUHPdt),

Keadaan dimana seseorang melakukan perbuatan karena, takut ancaman.

Hipnotis bukan merupakan paksaan.

3. Penipuan (Pasal 1328 KUHPdt),

Yaitu sengaja melakukan tipu muslihat dengan memberikan keterangan palsu dan

tidak benar.

Seorang pedagang yang berbohong bukan merupakan penipuan tetapi melakukan

kebohongan.

Ad 2): Kecakapan

Pasal 1330 KUHPdt : Orang-orang yang tidak cakap untuk membuat perjanjian, yaitu :

1. Orang yang belum dewasa,

2. Mereka yang di bawah pengampuan,

3. Orang-orang perempuan dalam hal-hal yang ditetapkan undang-undang.

Ad 3): Suatu hal tertentu (objek)

Diatur pada pasal 1332 dan 1334 KUHPdt, yaitu :

1. Halal,

2. Barang di luar perdagangan - dilarang prestasinya harus tertentu atau sekurang-

kurangnya dapat ditentukan jenisnya, ditentukan cukup jelas, jumlahnya boleh tidak

disebutkan asal dapat dihitung atau ditetapkan.

Ad 4): Suatu sebab yang halal

Diatur dalam pasal 1335 - 1337 KUHPdt.

Sebab adalah tujuan dari perjanjian - isi perjanjian itu sendiri yang menggambarkan

tujuan yang akan dicapai oleh pihak-pihak.

Sebab bukan motif, motif adalah dorongan batin untuk melakukan suatu hal.

Pasal 1337 KUHPdt : Halal tidak bertentangan dengan undang-undang, ketertiban

umum, dan kesusilaan.

Sebab atau causa yang dilarang undang-undang :

1. Menutup perjanjian yang merupakan tindakan yang dilarang undang-undang,

contoh : perjanjian jual beli narkoba.

2. Prestasi tidak dilarang tetapi melakukan prestasinya dilarang, contoh : perjanjian

jual beli senjata.

3. Motif yang dilarang dimasukkan dalam isi perjanjian, contoh ; perjanjian untuk

meledakkan bom.

Causa yang bertentangan dengan ketertiban umum :

1. Perjanjian tanpa causa; tanpa tujuan bersama yang hendak dicapai, misal : mengatur

angsuran pembayaran utang yang ternyata tidak ada utangnya,

2. Causa yang palsu, misal : jual beli yang sebetulnya utang piutang.

Causa yang bertentang dengan kesusilaan :

1. Perjanjian mengenai hal yang seharusnya bebas mengenai hal itu, misal : memberi

uang untuk pindah agama.

2. Penyalahgunaan keadaan, misal : jual beli bayi.

Syarat 1 dan 2 merupakan syarat subjektif ; apabila syarat subjektif tidak dipenuhi

maka perjanjian dapat dibatalkan (vernietigbaar).

Syarat 3 dan 4 merupakan syarat objektif, apabila syarat objektif tidak dipenuhi maka

perjanjian batal demi hukum (nietig).

Perjanjian Baku

Perjanjian baku atau perjanjian standar (adhesie contract) merupakan suatu

perkembangan dalam lingkungan perjanjian.

Perjanjian baku dibuat oleh satu pihak, di sini maka unsur sepakat tidak sempuma

karena pihak lain hanya menerima.

Contoh perjanjian ini misal; di toko yaitu pada bukti pembelian dimana dinyatakan

bahwa barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar atau dikembalikan, pernyataan ini

hanya dibuat oleh pemilik toko.

Syarat perjanjian baku, antara lain :

1. Dibuat secara tertulis,

2. Berlaku secara serentak,

3. Naturalia.

Adhesi contract sangat efisien (dalam hal waktu), misal : dalam perjanjian perbankan

mengenai penetapan bunga bank.

Akibat – akibat Perjanjian

Prinsip perjanjian (1315 KUHPdt) : pihak-pihak yang terikat dalam perjanjian adalah

mereka (pihak-pihak) yang melakukan perjanjian.

Pengecualian pasal 1317 KUHPdt : janji untuk pihak ke-3 (orang yang berada di luar

perjanjian, - stipulator, - promissor).

Perjanjian yang isinya jaminan dimana orang ke-3 melakukan sesuatu, misal; mengenai

wesel.

Pasal 1316 KUHPdt : Borgtocht (berkaitan dengan Hukum Jaminan) jaminan

perseorangan (accesoir), berdiri sendiri.

Pasal 1318 KUHPdt : Perjanjian juga mengikat ahli waris.

Pasal 1319 KUHPdt : Perjanjian yang bernama dan perjanjian yang tidak bernama

(menandakan bahwa buku ke-3 menganut sistem terbuka).

Pasal 1340 KUHPdt : Perjanjian tidak dapat merugikan pihak ke-3 dan tidak dapat

memberikan keuntungan/ manfaat bagi pihak ke-3 (kecuali pasal 1317 KUHPdt), jika

merugikan pihak ke-3 maka upaya hukum oleh pihak ke-3 adalah sebagaimana diatur

pada pasal 1341 KUHPdt, dengan permohonan pembatalan.

Pasal 1341 KUHPdt : Aksio pauliana ; upaya kreditur untuk membatalkan perjanjian

yang merugikannya.

Pasal 1338 jo. 1320 KUHPdt : Perjanjian mengikat sebagai undang-undang bagi

mereka yang menyepakatinya dan tidak dapat dicabut secara sepihak.

Pasal 1338 KUHPdt : Asas kebebasan berkontrak - persetujuan harus dilakukan dengan

itikad baik yaitu mengandung : kejujuran, keadilan, kepatutan, tidak melanggar hukum

atau undang-undang.

asas kebebasan berkontrak, yaitu

bebas mengadakan perjanjian sesuai dengan pilihannya namun dibatasi pasal 1320

KUHPdt.

Pasal 1338 ayat (1) KUHPdt ; Setiap/ semua

,

Pasal 14 ayat (I) AB : Perjanjian tidak boleh bertentangan dengan ketertiban umum dan

baik. Pelaksanaan perjanjian harus mengindahkan

kesusilaan. Ayat (3) ;

itikad

norma-norma kepatutan dan kesusilaan.

Pasal 1339 KUHPdt : Kebiasaan, misal : beras + karung tanpa mengurangi harga.

Pasal 1347 KUHPdt : Dianggap termuat dalam suatu perjanjian.

Yang mengikat dalam suatu perjanjian : (pasal 1339 KUHPdt)

1. Apa yang telah diperjanjikan oleh para pihak,

2. Ketentuan-ketentuan hukum yang bersifat mengatur,

3. Kebiasaan, Misal : penjualan dalam partai besar biasanya dapat komisi.

4. Kepatutan.

Pembatalan Perjanjian Timbal Balik

Pasal l266 KUHPdt : Syarat batal dianggap selalu ada, Kreditur yang berhak menuntut

pembatalan.

Syarat-syarat berlakunya pembatalan perjanjian, antara lain :

1. Harus ada perjanjian timbal balik,

2. Harus ada ingkar janji,

3. Putusan hakim.

Pembatalan tidak secara otomatis tapi harus dengan putusan hakim (bersifat konstitutif)

Penafsiran Perjanjian

Kata-kata jelas - tidak diperkenankan penafsiran lain.

Kata-kata tidak jelas - dipilih maksud para pihak (harus diperhatikan itikad baik),

misal: pesan 1 ton beras tidak boleh dikirim 2 ton gabah meskipun 2 ton gabah dapat

menghasilkan 1 ton beras.

Pedoman dalam melakukan penafsiran, antara lain :

1. Maksud para pihak (pasal 1343 KUHPdt),

Misal; angsuran ditetapkan setiap tanggal 1, menurut kreditur tanggal l Mei sudah

mulai sedang menurut debitur tanggal 1 April.

2.

Kemungkinan janji itu dilaksanakan (pasal l344 KUHPdt),

Misal; pesan mentega, tidak dijelaskan mentega yang bagaimana, karena di daerah

tersebut hanya memungkinkan mentega sayur maka dipenuhi dengan mentega

sayur.

3. Kebiasaan setempat,

Misal; utang luar negeri Indonesia dibayar dengan makanan pokok, maka yang

dimaksud makanan pokok di sini adalah beras.

4. Dalam hubungan perjanjian keseluruhan (pasal 1348 KUHPdt),

Misal : makanan pokok pada awal-awal disebutkan namun selanjutnya dinyatakan

beras maka dapat ditafsirkan makanan pokok itu adalah beras.

5. Penjelasan dengan menyebutkan contoh (pasal l351 KUHPdt),

Misal; hasil bumi contohnya kopi, ini berarti bukan hanya kopi.

6. Tafsiran berdasarkan akal sehat.

PERIKATAN YANG LAHIR KARENA UNDANG-UNDANG

Perwakilan Sukarela (Zaakwaarneming)

Pasal 1353 KUHPdt : Membedakan perikatan-pcrikatan yang timbul dari undang-

undang karena perbuatan manusia, yaitu meliputi :

Yang sesuai dcngan hukum (pasal 1354, 1359 KUHPdt),

Yang tidak sesuai dengan hukum (pasal 1365 KUHPdt).

Zaakwaarneming adalah suatu perbuatan dimana seseorang dengan sukarela dan tanpa

mendapatkan perintah mengurus kepentingan (urusan) orang lain dengan tanpa upah

(schuld ohne haftung).

Zaakwaarneming adalah suatu perbuatan, dimana seseorang secara sukarela

menyediakan dirinya dengan maksud mengurus kepentingan orang lain, dengan

perhitungan dan risiko orang tersebut.

Yang mewakili secara sukarela disebut zackwaamemer atau gestor, sedangkan yang

diurus kepentingannya disebut dominos.

Syarat adanya perwakilan sukarela :

1. Adanya kepentingan orang lain,

2.

Secara sukarela,

3. Harus mengetahui dan menghendaki,

4. Ada keadaan yang membenarkan adanya perwakilan sukarela.

Pasal 1354 KUHPdt : Bahwa perwakilan sukarela dapat terjadi tanpa sepengetahuan

orang yang diwakilinya.

Pasal 1356 dan 1357 KUHPdt : Bahwa seorang gestor harus bertindak sebagai bapak

rumah tangga yang baik dan mengurus dengan patut/ layak kepentingan dominos.

Pasal 1355 KUHPdt : Bahwa jika dominos meninggal, maka gestor masih terus

berkewajiban untuk mengurus kepentingan dominos sampai selesai.

Seorang gestor tidak berhak menerima upah tetapi berhak menerima penggantian atas

biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan pekerjaannya selaku wakil sukarela.

Dikenal dua macam perwakilan, yaitu :

- Perwakilan (dengan upah) (lastgeving),

- Perwakilan sukarela (tanpa upah).

Lastgeving bersumber pada perjanjian, jika yang diurus kepentingannya meninggal

maka perwakilan hapus.

Pembayaran Yang Tidak Terutang

Pasal 1361 KUHPdt : Bahwa seorang yang membayar tanpa adanya utang, berhak

menuntut kembali apa yang telah dibayarkan, dan yang menerima tanpa hak

berkewajiban untuk mengembalikan.

Perikatan Alam

Pcrikatan alam diatur dalam pasal 1359 ayat (2) KUHPdt : Perikatan dimana kreditur

tidak mempunyai hak untuk menuntut pelaksanaan prestasi walaupun dengan bantuan

Hakim, sebaliknya debitur tidak mempunyai kewajiban hukum unluk memenuhi

prestasi.

Perikatan alam berada di tengah-tengah antara perikatan moral atau kepatutan dan

perikatan hukum.

Perikatan alam dalam KUHPdt diatur dalam :

- Pasal 1766 KUHPdt : Membayar bunga tidak diperjanjikan dalam utang piutang,

- Pasal 1788 KUHPdt : Hutang yang terjadi dalam atau karena perjudian, tidak dapat

dituntut pemenuhannya.

Perikatan alam timbul dari moral.

PERBUATAN MELAWAN HUKUM (ONRECHTMATIGE DAAD)

Pasal 1365 KUHPdt mengenai perbuatan melawan hukum (onrechtsmatige daad),

perkembangannya : 31 Januari 1919 (Arrest Linden Bau - Cohen aliran legisme/tak

ada hukum tanpa undang-undang).

Berbuat atau tidak berbuat merupakan suatu perbuatan melawan hukum jika :

1. melanggar hak orang lain,

2. bertentangan dengan kewajiban hukum dari si pembuat, atau

3. bertentangan dengan kesusilaan,

4. bertentangan dengan kepatutan yang berlaku di masyarakat terhadap diri atau

barang orang lain.

Perbuatan melawan hukum adalah berbuat atau tidak berbuat yang bertentangan dengan

hak orang lain atau bertentangan dengan kewajiban hukum sendiri atau bertentangan

dengan kesusilaan yang baik atau bertentangan dengan sikap berhati-hati yang

seharusnya dilakukan dalam pergaulan bermasyarakat terhadap diri atau benda orang

lain.

Syarat-syarat atau unsur-unsur perbuatan melawan hukum, antara lain :

1. Adanya perbuatan yang melawan hukum,

2. Adanya kesalahan,

3. Adanya kerugian,

4. Adanya hubungan kausal antara perbuatan dan kerugian.

Arrest-arrest yang berkenaan dengan perbuatan melawan hukum, diantaranya :

- Arrest H.R. tanggal 6 Januari 1905 (perkara Singer machine Mij),

- Arrest H.R. tanggal 10 Juni 1910/ Arrest pipa air Ledeng dari Zutphen (perkara

Zutphense Juffrouw),

- Standar Arrest H.R. tanggal 31 Januari 1919 (perkara Cohen contra Lindenbaum),

- Dll.

Kesalahan : harus dapat dipertanggungjawabkan, keadaan tertentu dapat meniadakan

unsur kesalahan.

Melawan hukum tidak selamanya harus dengan ganti rugi tapi sesuai dengan kondisi,

dalam hal ini ada;

- alasan pembenar, dan

- alasan pemaaf.

Yang meniadakan kesalahan, misal; sebuah rumah terbakar, karena ada orang di

dalamnya maka kemudian seseorang berusaha untuk menyelamatkan orang tersebut

dengan memecah kaca.

Kerugian terdiri dari :

a. Materiil, Bisa dihitung/ dinilai dengan uang.

b. Idiil, Tidak bisa dinilai dengan uang (pasal 1372 KUHPdt tentang nama baik).

Perbedaan ganti rugi pada prestasi dengan ganti rugi pada melawan hukum :

- Pada prestasi : adalah akibat melanggar suatu perjanjian,

- Pada melawan hukum : adalah akibat melanggar undang-undang, kesusilaan, dan

kepatutan.

Kerugian selain materiil juga idiil.

Orang yang dirugikan sendiri mempunyai kesalahan, ia harus dibebani sebagai dari

kerugian.

Kerugian telah disebabkan karena perbuatan-perbuatan dari lebih dari seorang pembuat

pertanggungjawaban solider/ renteng.

Wujud penggantian kerugian, antara lain :

1. Uang,

2. Pemulihan dalam keadaan semula (rehabilitasi).

Berkenaan

dengan

hubungan

kausal

kerugian, terdapat 2 teori, yaitu:

antara

perbuatan

melawan

hukum

dengan

1. Conditio sine qua non (Von Buri); semua faktor adalah sebab,

2. Adequate verorzaking (Von Kries); faktor-faktor yang berhubungan dekat saja/

layak.

Perbuatan Melawan Hukum Oleh Badan Hukum

Perbuatan melawan hukum dapat pula dilakukan oleh badan hukum (badan Hukum

Privat, misal; PT, badan Hukum Publik (negara)).

Yang bertanggung jawab atas perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh badan

hukum adalah komisaris, direktur, atau juga korps yaitu jika si yang bertanggung jawab

dalam lingkungan formal badan hukum tersebut.

Jika pegawai tata usaha yang melakukan kesalahan di bawah penguasaan badan hukum

dan orang tersebut bertindak dalam lingkungan formal daripada wewenang, maka

berlaku pasal 1367 KUHPdt.

Perbuatan Melawan Hukum Oleh Penguasa

Perbuatan melawan hukum oleh penguasa dapat :

1. Di bidang Hukum Perdata,

2. Di bidang Hukum Publik.

Sampai tahun 1900, jika penguasa melakukan tugas untuk kepentingan umum di bidang

Hukum Publik maka pemerintah tidak dapat dituntut berdasarkan (Onrechtmatigheid

Daad/ OD).

Arrest Vroow Elske tahun 1846 : Hoog Raad menolak ganti rugi karena Kotapraja

sebagai penguasa bertindak untuk kepentingan umum.

Arrets Osterman tahun 1924 : Negara bisa dituntut berdasarkan OD dengan tidak

melihat apakah perbuatan penguasa ada di bidang Hukum Perdata ataupun Hukum

Publik.

Jika perbuatan penguasa keluar dari lingkungan freies ermessen : jika kebijakan

menjadi kesewenang-wenangan, Hakim dapat mengujinya.

Pasal 1367 KUHPdt: Bertanggung gugat atas perbuatan orang lain dan benda.

Penyalahgunaan hak; melaksanakan hak kita dengan merugikan orang lain.

Arrest-arrest yang berkaitan dengan perbuatan melawan hukum oleh penguasa,

diantaranya :

- Arrest H.R. tanggal 9 November 1917 (Militair Hospital),

Seorang tentara menjadi invalid akibat perawatan yang salah dari sebuah rumah

sakit tentara.

- Arrest H.R. tanggal 5 Mei 1933 (Meerboeien),

Kapal Zaandam terlepas dan mengalami kerusakan akibat tekanan angin ketika

berlabuh pada suatu boei tertentu di pelabuhan Amsterdam yang menjadi

penguasaan dari Kotapraja.

- Arrest H.R. tanggal 29 Mei 1846 (Vrouw Elske),

Kapal Vrouw Elske yang berada di perairan umum Kotapraja Leeuwaarden

menabrak sebuah liang yang berdiri di bawah permukaan air, yang menyebabkan

kapal bocor dan rusak.

- Arrest H.R. tanggal 20 November 1924 (Osterman Arrest),

Pegawai douane di Amsterdam menolak memeriksa barang-barang yang akan

diekspor oleh Osterman dan menolak untuk memenuhi syarat-syarat formil yang

diperlukan untuk mengekspor barang tersebut. Dll.

HAPUSNYA PERIKATAN

Diatur dalam bab IV Buku III KUHPdt.

Berdasarkan pasal 1381 KUHPdt, maka hapusnya perikatan adalah :

1. Pembayaran.

2. Penawaran pembayaran, diikuti dengan penitipan,

3. Pembaharuan utang (novasi).

4. Perjumpaan utang (kompensasi).

5. Pencampuran utang,

6. Pembebasan utang,

7. Musnahnya barang yang terutang,

8. kebatalan dan pembatalan perikatan-perikatan.

Adapun cara lain yang diatur di luar bab IV Buku III KUHPdt, yaitu :

9. Syarat yang membatalkan (bab I),

10.

Daluarsa (Buku IV bab VII).

Pembayaran

Dalam arti luas maka yang dimaksud dengan pembayaran adalah meliputi tidak saja

berupa uang melainkan juga pembayaran suatu barang yang dijual

pembayaran

penjualnya, dengan kata lain pelaksanaan perjanjian.

Yang membayar adalah :

1. Yang berkepentingan (Pasal 1382 (l) KUHPdt); debitur, borg,

2. Yang tidak berkepentingan (pasal 1383 KUHPdt); sebagai ketentuan pengecualian

bagi pasal l382 KUHPdt :

a.n. debitur - (lastgeving - pasal 1792 KUHPdt).

a.n. kreditur- (zaakwarneming).

Pembayaran harus dilakukan pada (pasal 1385 KUHPdt):

1. Kreditur,

2. Wakil/ yang dikuasakan kreditur,

3. Orang yang dikuasakan oleh Hakim atau undang-undang.

Tempat pembayaran (pasal 1393 KUHPdt) : Yang ditentukan dalam perjanjian.

Waktu pembayaran :

- tergantung perjanjian,

- segera.

Subrogasi : Adalah penggantian kreditur sebagai akibat pembayaran; pembayaran oleh

pihak ketiga atas nama sendiri yang tidak mengakibatkan musnahnya utang.

Subrogasi diatur dalam pasal 1400 KUHPdt, dapat terjadi karena :

- Perjanjian,

- Kreditur dengan pihak ke-3,

- Debitur dengan pihak ke-3,

- Undang-undang (pasal 1490 KUHPdt).

Contoh subrogasi :

A (debitur) berhutang kepada B (kreditur), kemudian muncul C yang menggantikan B

sebagai kreditur baru (C membayar utang A kepada B), sehingga A berkewajiban

memenuhi kewajiban kepada C. Ada perjanjian bahwa C menggantikan posisi B;

merupakan penggantian kreditur lama kepada kreditur baru.

Syarat subrogasi :

- perjanjian utang, dan

- akta pelunasan harus otentik.

Subrogasi harus dinyatakan dengan tegas dan bersamaan dengan pembayaran.

Pasal 1401 ayat (1) dan (2) KUHPdt : subrogasi sah oleh debitur apabila dengan :

a. akte pinjam uang,

b. akte pelunasan

a dan b harus otentik.

Selain pasal 1402 KUHPdt, maka subrogasi dapat juga terjadi sebagaimana diatur pada

pasal 1106, 1202 dan 1840 KUHPdt.

Cessie adalah suatu perbuatan pemindahan suatu piutang kepada orang yang telah

membeli piutang.

Subrogasi berbeda dengan pemindahan suatu piutang (cessie), adapun perbedaannya,

antara lain :

- Subrogasi; uang telah dibayar lunas oleh pihak ketiga tetapi perikatan utang-

piutang masih tetap ada antara pihak ketiga dengan debitur. Cessie; perikatan

antara pihak ketiga dengan debitur tidak ada.

- Subrogasi; tidak perlu pakai akta. Cessie; harus ada akta otentik atau akta di

bawah tangan.

- Subrogasi; baru berlaku tidak perlu pemberitahuan atau persetujuan. Cessie; baru

berlaku bagi debitur apabila sudah diberitahukan kepadanya atau sudah diakuinya.

Penawaran Pembayaran Tunai Diikuti Dengan Penitipan

Dasar hukumnya adalah pasal 1404 KUHPdt.

Merupakan suatu cara pembayaran yang harus dilakukan apabila kreditur menolak

pembayaran, yaitu hanya untuk membayar sejumlah uang atau menyerahkan barang-

barang bergerak.

Dengan diterimanya penawaran pembayaran maka telah terjadi pembayaran.

Pembaharuan Utang (Novasi)

Dasar hukumnya adalah pasal 1413 KUHPdt.

Merupakan suatu perjanjian yang menghapuskan perikatan lama dan pada saat yang

sama menimbulkan perikatan baru yang menggantikan perikatan lama.

Dari pasal 1413 KUHPdt, maka novasi terdiri dari :

1. Novasi objektif,

2. Novasi subjektif,

a. Novasi subjektif aktif – penggantian kreditur,

b. Novasi subjektif pasif - penggantian debitur;

- Delegasi, ada persetujuan antara debitur, kreditur semula dan debitur baru.

- Ekspromisi, debitur semula diganti oleh debitur baru, tanpa bantuan debitur

semula.

Perbedaan novasi dengan subrogasi :

1. Novasi; terjadi dengan pihak-pihak yang bersangkutan.

Subrogasi : karena ditetapkan oleh undang-undang/ perjanjian.

2. Novasi; dapat disimpulkan dari perbuatan para pihak.

Subrogasi; dinyatakan secara tegas dalam perjanjian.

3. Novasi; hak assesoir pada umumnya tidak berpindah.

Subrogasi; semua hak dan hipotik perjanjian lama, ikut berpindah kepada kreditur

baru.

Perjumpaan Utang (Kompensasi)

Dasar hukumnya adalah pasal 1425 KUHPdt.

Perjumpaan hutang sering disebut dengan perhitungan hutang/ kompensasi.

Masing-masing mempunyai tagihan satu sama lain.

Syarat kompensasi, antara lain :

1. Dua (2) orang sccara timbal balik harus menjadi debitur dan kreditur,

2. Utang harus sama-sama mengenai uang atau barang yang dapat dihabiskan dengan

kualitas yang sama,

3.

Dua (2) utang tersebut dapat segera ditetapkan besarnya atau jumlahnya,

4. Seketika dapat diganti.

Dikatakan ada perjumpaan utang apabila terhadap utang piutang antara debitur dan

kreditur dilakukan perhitungan baru dengan perhitungan lama hilang, contoh :

A berhutang kepada B Rp. 150.000,-, B hutang kepada A Rp. 175.000,-, maka B

berhutang kepada A Rp. 25.000,-.

Percampuran Utang

Dasar hukumnya adalah pasal 1436 KUHPdt.

Terjadi karena kedudukan kreditur dan debitur bersatu pada satu orang, misal : kreditur

meninggal dan debitur adalah satu-satunya ahli waris.

Pencampuran utang terjadi secara otomatis.

Pembebasan Utang

Dasar hukumnya adalah pasal 1438 KUHPdt.

Adalah perbuatan hukum dimana kreditur melepaskan haknya untuk menagih

piutangnya dari debitur.

Musnahnya Barang Yang Terutang

Dasar hukumnya adalah pasal 1444 KUHPdt.

Dibebaskan dari kewajiban memenuhi prestasi terhadap kreditur tetapi apabila debitur

mempunyai hak-hak atau tuntutan ganti rugi mengenai musnahnya barang tersebut

(misal : uang asuransi), maka debitur wajib memberikan hak-hak dan tuntutan-tuntutan

tersebut pada kreditur.

Kebatalan Perikatan

Dasar hukumnya adalah pasal 1446 KUHPdt.

Kata yang tepat bukan kebatalan melainkan pembatalan.

Berdasarkan pasal 1446 KUHPdt :

1.

Vernietigbaar (dapat dibatalkan),

Berakibat bukum bahwa sampai ada putusan hakim yang menyatakan perikatan

batal maka perbuatan tersebut adalah sah.

Misal : setelah ada penetapan hakim mengenai kecakapan.

2. Nietig (batal demi hukum),

Berakibat hukum bahwa sejak semula maka perbuatan tersebut dianggap tidak

pernah ada.

Misal : tidak sesuai dengan undang-undang.

Daluarsa/ Lewat Waktu

Dasar hukumnya adalah pasal 1946 KUHPdt.

Daluarsa adalah suatu upaya untuk memperoleh sesuatu atau untuk dibebaskan dari

suatu perikatan dengan lewatnya suatu waktu tertentu dan atas syarat-syarat yang

ditentukan oleh undang-undang.

Terdiri dari :

1. Acquisitif, yaitu daluarsa untuk memperoleh hak milik atas suatu barang,

2. Extinctif, yaitu daluarsa untuk dibebaskan dari suatu perikatan (atas suatu tuntutan).

Berdasarkan pasal 1967 KUHPdt, daluarsa adalah 30 tahun, maka perikatan hapus/

perikatan bebas.

REFERENSI

Hukum Perikatan, oleh Prof. Subekti, S.H.

Hukum Perikatan, oleh Suryadiningrat, SH.

Hukum Perikatan Pada Umumnya, Hukum Perikatan - Perikatan yang Lahir Dari

Perjanjian, Buku I, Hukum Perikatan - Perikatan yang Lahir Dari Undang-undang,

Buku II, Hukum Perikatan - Tentang Hapusnya Perikatan, Bagian 2, oleh J. Satrio,

S.H.,

Pokok-pokok Hukum Perikatan, oleh R. Setiawan, S.H.,

Segi-segi Hukum Perjanjian, oleh Yahya Harahap, S.H.,

Dll.