Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA (SB 091334)

NAMA PRAKTIKAN NRP KELOMPOK JUDUL PRAKTIKUM DOSEN PENGAMPU ASISTEN PRAKTIKUM

: RIZKY YANUARISTA : 1509100027 : 01 : PINDAH SILANG : N.D. Kuswytasari, S.Si., M.Si. : YUNI

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Genetika disebut juga ilmu keturunan. Berasal dari kata genos, artinya suku-bangsa atau asal-usul. Dalam ilmu ini dipelajari bagaimana sifat keturunan (hereditas) itu diwariskan kepada anak-cucu, serta variasi yang mungkin timbul di dalamnya (Yatim, 1996). Pindah silang merupakan salah satu kejadian dalam ilmu genetika di mana kromosom tidak berpasanngan dengan kromosom homolognya (Yatim, 1996).

1.2 Permasalahan Permasalahan yang akan dihadapi dalam praktikum genetika pindah silang adalah bagaimana memperagakan secara imitasi tentang terjadinya pindah silang dan bagaimana mengetahui persen rekombinan yang terbentuk akibat peristiwa pindah silang.

1.3 Tujuan Tujuan dalam praktikum genetika pindah silang adalah praktikan dapat menirukan secara imitasi tentang terjadinya pindah silang dan mengetahui persen rekombinan yang terbentuk akibat peristiwa pindah silang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2. 2.1

Berangkai dan Pindah Silang Berangkai pada Autosom Teori kromosom dari T.Boveri dan W.S.Sutton (1903) menyatakan bahwa kromosom adalah bagian dari sel yang membawa gen-gen. Gengen tersebut selama meiosis mempunyai kelakuan berdasarkan prinsipprinsip Mendel, yaitu memisahkan secara bebas. Akan tetapi prinsip Mendel ini hanya berlaku apabila gen-gen letaknya lepas satu sama lain dalam kromosom (Suryo, 2010). Pada lalat buah Drosophila sampai sekarang telah diketahui kirakira 5000 gen, sedangkan lalat ini hanya memiliki 4 pasang kromosom saja, yang sepasang bahkan kecil sekali menyerupai dua buah titik (Suryo, 2010). Sehubungan dengan itu, maka pasa sebuah kromosom tidak terdapat sebuah gen saja, melainkan puluhan atau bahkan ratusan gengen (Suryo, 2010). Peristiwa bahwa beberapa gen bukan alel terdapat pada satu kromosom yang sama dinamakan berangkai (linkage). Gen-gennya dinamakan gen-gen terangkai (Suryo, 2010). Orang kedua yang sangat berjasa dalam ilmu genetika adalah Thomas Hunt Morgan (1866-1945). Morgan dan kawan-kawan lama sekali mengadakan penelitian pada lalat Drosophila dan akhirnya dinyatakan bahwa gen-gen bersama alel-alelnya yang terletak pada sepasang kromosom homolog berkelompok, yang dinamakan kelompok berangkai (linkage group). Dari hasil penyelidikan pada berbagai macam makhluk hidup lainnya dapat diambil kesimpulan bahwa banyaknya kelompok berangkai pada suatu individu itu ekuivalen dengan jumlah kromosom haploid dari individu yang bersangkutan. Misalnya pada jagung (Zea mays,n=10) terdapat 10 kelompok berangkai, pada ercis

(Pisum sativum,n=7) terdapat 7 kelompok berangkai, pada lalat buah (Drosophila melanogaster,n=4) terdapat 4 kelompok berangkai, pada manusia n=23, terdapat 23 kelompok berangkai (Suryo, 2010). Peristiwa berangkai pada tumbuh-tumbuhan untuk pertama kali diketahui oleh G.N.Collins dan J.H. Kempton tahun 1911 pada tanaman jagung. Dikatakan bahwa gen (xw) untuk endosperm berlilin itu terangkai dengan gen (c) untuk warna aleuron (lapisan sel terluar dari endosperm). Kemudian diketahui bahwa pada mkhluk hidup lain (termasuk manusia) dapat dijumpai adanya peristiwa berangkai (Suryo, 2010). Untuk membedakan apakah gen-gen letaknya terpisah ataukah terangkai pada kromosom yang sama, maka diadakan perbedaan dalam cara penulisan genotip suatu individu. Sebagai contoh suatu dihibrid dengan menggunakan pasangan gen A dengan a dan B dengan b (Suryo, 2010). Apabila gen-gen tersebut letaknya terpisah (artinya tidak terangkai), sehingga memisah secara bebas diwaktu meiosis, maka genotip dihibrid itu tertulis seperti yang lazim kita kenal, yaitu AaBb. Akan tetapi andaikata gen-gen itu terangkai, maka ada 2 kemungkinan: 1. Gen-gen dominan terangkai pada suatu kromosom, sedangkan alelalelnya resesif terangkai pada kromosom homolognya. Ada beberapa cara untuk menulis genotipnya, ialah: (AB)(ab), AB/ab, AB:ab. Gengen yang terangkai secara demikian, dikatakan bahwa gen-gen terangkai dalam keadaan coupling phase atau gen-gen mempunyai susunan cis. 2. Gen dominan terangkai dengan gen resesif yang bukan alelnya pada satu kromosom, sedang alel resesif dari gen pertama dan alel dominan dari gen kedua terangkai pada kromosom homolognya. Ada beberapa cara untuk menulis genotipnya, ialah (Ab)(aB), Ab/aB, Ab:aB. (Suryo, 2010).

2.2

Rangkai Sempurna Apabila gen-gen yang terangkai letaknya amat berdekatan satu sama lain, maka selama meiosis gen-gen itu tidak mengalami perubahas letak, sehingga gen-gen itu bersama-sama menuju ke gamet. Contoh pada lalat Drosophila dikenal gen-gen yang terangkai, yaitu: Cu = gen untuk sayap normal cu = gen untuk sayap keriput (lalat tidak dapat terbang) Sr = gen untuk dada polos (normal) sr = gen untuk dada bergaris-garis (Suryo, 2010). Lalat dihibrid dengan fenotif sayap normal dada normal ada kemungkinan mempunyai dua macam genotip, ialah:
Cu Sr (gen-gen terangkai dalam susunan cis) cu sr Cu sr (gen-gen terangkai dalam susunan trans) cu Sr

Marilah kita tinjau dua kemungkinan itu: 1. Gen-gen terangkai sempurna dalam susunan cis Misalnya lalat jantan sayap keriput dada bergaris-garis (cusr) dikawinkan dengan lalat betina sayap normal (baik sayap maupun dadanya) tetapi heterozigotik (CuSr). Oleh karena gen-gennya terangkai sempurna, maka lalat dihibrid F1 ini akan membentuk dua macam gamet saja, ialah gamet (CuSr) dan gamet (cusr). Berhubung dengan itu, maka apabila lalat-lalat F1 dibiarkan kawin dengan sesamanya akan didapatkan lalat-lalat F2 dengan perbandingan = 3 lalat normal : 1 lalat sayap keriput dada bergaris-garis. Perbandingan ini jelas menyimpang dari prinsip Mendel, sebab andaikata gen-gen itu tidak terangkai, maka perkawinan dihibrid menghasilkan keturunan dengan perbandingan 9:3:3:1. 2. Gen-gen terangkai sempurna dalam susunan trans Misalnya lalat jantan sayap keriput dada normal homozigotik (cuSr) dikawinkan dengan lalat betina sayap normal homozigotik dada bergaris-

garis (Cusr). Lalat-lalat F1 tentunya normal (baik sayap maupun dadanya) tetapi heterozigotik (Cusr). Oleh karena gen-gennya terangkai sempurna, maka lalat dihibrid F1 ini akan membentuk dua macam gamet saja, ialah gamet (Cusr) dan gamet (cusr). Bila lalat-lalat F1 ini dibiarkan kawin sesamanya akan didapatkan lalat-lalat F2 dengan perbandingan = 2 lalat normal : 1 lalat sayap normal dada begaris-garis : 1 lalat keriput dada normal. Jadi di sini terdapat tiga kelas fonotif, lalat yang dobel resesif tidak dijumpai sama sekali. Perbandingan lalat-lalat F2 sebagai hasil perkawinan dihibrid inipun jelas menyimpang dari prinsip Mendel. (Suryo, 2010).

2.3

Rangkai Tidak Sempurna Gen-gen yang terangkai pada satu kromosom biasanya letaknya tidak berdekatan satu dengan lainnya, sehingga gen-gen itu dapat mengalami perubahan letak yang disebabkan karena ada penukaran segmen dari kromatid-kromatid pada sepasang kromosom homolog, peritiwa ini disebut pindah silang (crossing over). Contoh pada tanaman ercis (Pisum sativum) dikenal gen-gen terangkai, ialah: + (pengganti huruf besar M)= gen untuk warna ungu pada bunga m= gen untuk warna merah pada bunga + (pengganti huruf besar B)= gen untuk serbuk sari panjang b= gen untuk serbuk sari bulat. Tanaman ercis dihibrid tentunya mempunyai dua kemungkinan genotip:
++ (gen-gen terangkai cis)= bunga ungu serbuk sari panjang mb +b (gen-gen terangkai trans)= bunga ungu serbuksari panjang m+

(Suryo, 2010). A. Gen-gen terangkai tak sempurna dalam susunan cis Misalnya tanaman ercis berbunga merah, serbuk sari bulat (mmbb) dikawinkan dengan tanaman berbunga ungu, serbuk sari panjang

heterozigotik (MmBb). Tanaman F1 berbunga ungu, serbuk sari panjang heterozigotik (MmBb). Jika tanaman F1 ini di uji silang (testcross), didapatkan sekumpulan tanaman F2 yang terdiri dari 192 tanaman berbunga ungu, serbuk sari panjang 23 tanaman berbunga ungu, serbuk sari bulat 30 tanaman berbunga merah, serbuk sari pangjang 182 tanaman berbunga merah, serbuk sari bulat (Suryo, 2010). Hasil uji silang ini cukup menherankan, karena tidak memperlihatkan perbandingan 1:1:1:1 seperti yang lazim kita peroleh pada waktu melakukan uji silang pada dihibrid. Ini disebabkan karena terjadinya pindah silang gengen pada tanaman dihibrid. Gamet-gamet yang tidak mengalami pindah silang gen-gennya dibentuk sangat banyak, sebaliknya gamet-gamet yang mengalami pindah silang dibentuk sedikit, sehingga menghasilkan keturunana sedikit pula (Suryo, 2010). Besarnya persentase rekombinan pada contoh di atas = (23+30):427 x 100% = 12,41%. Jadi parentalnya = 100%-12,41%=87,59%. Jika hasil uji silang yang jumlahnya banyak dinyatakan dengan n, sedang yang jumlahnya sedikit dinyatakan dengan 1, maka hasil uji silang pada dihibrid di mana gengennya terngkai tidak sempurna dan berada dalam keadaan cis akan memperlihatkan perbandingan n:1:1:n (Suryo, 2010).

B. Gen-gen terangkai tak sempurna dalam susunan trans Misalnya tanaman ercis berbunga merah, serbuk sari panjang homozigotik (mmBb) dikawinkan dengan tanaman berbunga ungu homozigotik, serbuk sari bulat (MMbb). Tanaman F1 berbunga ungu, serbuk sari panjang heterozigotik (MmBb). Jika tanaman F1 ini di uji silang, didapatkan sekumpulan tanaman F2 yang terdiri dari: 14 tanaman berbunga ungu, serbuk sari panjang 178 tanaman berbunga ungu, serbuk sari bulat

160 tanaman berbunga merah, serbuk sari panjang 18 tanaman berbunga merah, serbuk sari bulat (Suryo, 2010). Hasil uji silang ini tidak memperlihatkan perbandingan 1:1:1:1 seperti yang lazim kita peroleh pada waktu melakukan uji silang pada dihibrid, melainkan menunjukkan perbandingan n:1:1:n (Suryo, 2010). Presentase rekombinasi pada contoh ini ialah (14+18) :370 x 100% = 8,65% (Suryo, 2010).

BAB III METODOLOGI

3.1

Alat dan Bahan

3.1.1 Alat Alat yang diperlukan dalam praktikum genetika pindah silang adalah buku petunjuk praktikum dan keterampilan tangan praktikan dalam membuat imitasi strand kromosom.

3.1.2 Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum genetika pindah silang adalah lilin lembek (malam) dengan 2 warna yang berbeda.

3.2

Cara Kerja
Lilin lembek (malam) Dibuat 4 strand kromosom. Masing-masing dibuat dua strand dari 1 warna malam Diberikan tanda dengan malam yang dibentuk bulatan lokasi sentromer dan gengen Dibuat konfigurasi terjadinya pindah silang a. Pindah silang tunggal (2-3) b. Pindah silang tunggal (1-4) c. Pindah silang ganda (2-3;2-3) d. Pindah silang ganda (2-3;2-4) e. Pindah silang ganda (2-3;1-4) f. Pindah silang ganda (1-3;2-4;2-3) Dihitung persen tipe rekombinasi yang terjadi akibat pindah silang yang telah dilakukan secara imitasi Hasil

BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN

4.1

Data Pengamatan Data pengamatan konfigurasi pindah silang dan persen rekombinan yang terjadi Akibat Pindah Silang yang Telah Dilakukan Secara Imitasi :

A. Pindah silang tunggal (2-3)


A B C D

Hasil : ABCD

a a

b b

C c

D d

ABcd abCD abcd

B. Pindah silang tunggal (1-4)


A A A a B B B b c C C C d D D D

Hasil : ABcd ABCD ABCD abCD

C. Pindah silang ganda (2-3, 2-3)


A A a a B b B b C c C c D D d d

Hasil : ABCD AbcD aBCd abcd

D. Pindah silang ganda (2-3, 2-4)


A A a a B b B b C c C c D d D d

Hasil : ABCD Abcd aBCD abcd

A A A a

B b b b

C c c C

D d d D

Hasil : ABCD Abcd Abcd abCD

E. Pindah silang ganda ( 2-3, 1-4)


A A a a B b B b C c C c d d D D

Hasil : ABCd Abcd aBCD abcD

F. Pindah silang ganda (1-3, 2-4, 2-3)


a a A A B b b B C C c c D d D d

Hasil : aBCD abCd AbcD ABcd

4.2 4.2.1

Pembahasan Pindah Silang Peristiwa pindah silang dalam bahasa Inggris disebut crossing over, yaitu proses penukaaran segmen dari kromatid-kromatid nonsister chromatids dari sepasang kromosom homolog. Peristiwa ini umum terjadi pada setiap gametogenesis pada kebanyakan makhluk hidup, baik tumbuhan, hewan, maupun manusia (Suryo, 2010). Pindah silang terjadi karena ketika meiosis 1 (akhir profase dan waktu metafase). Yakni saat kromosom itu mengganda jadi 2 kromatid dan yang homolog bergandeng pada bidang ekuator (Yatim, 1996). Kalau terjadi persilangan antara kromatid kromosom sehomolog itu, ketika saling memisah waktu anafase 1 bagian kromosom yang bersilang tidak kembali ke induk, tapi melekat ke kromosom sebelahnya secara timbal balik. Karena itu gen-gen yang terletak pada bagian yang pindah itu kan berpindah tempat pula ke kromosom sebelah (Yatim, 1996). Pindah silang dibedakan atas: 1. Pindah silang tunggal, ialah pindah silang yang terjadi pada satu tempat. Dengan terjadinya pindah silang itu akan terbentuk 4 macam gamet. Dua macam gamet memiliki gen-gen yang sama dengan gengen yang dimiliki induk (parental), maka dinamakan gamet-gamet tipe parental. Dua gamet lainnya merupakan gamet-gamet baru, yang terjadi akibat adanya pindah silang. Gamet-gamet ini dinamakan gamet-gamet rekombinasi. Gamet-gamet tipe parental dibentuk jauh lebih banyak dibandingkan dengan gamet-gamet tipe rekombinasi. 2. Pindah silang ganda, ialah pindah silang yang terjadi pada dua tempat. Jika pindah silang ganda (dalam bahasa Inggris :double crossing over) berlangsung di antara dua buah gen yang terangkai, maka terjadinya pindah silang ganda itu tidak akan tampak dalam fenotip, sebab gamet-gamet yang dibentuk hanya dari tipe parental saja atau dari tipe rekombinansi saja atau tipe parental dan tipe rekombinasi akibat pindah silang tunggal. Akan tetapi, misalkan di antara gen A

dan B masih ada gen ke tiga, misalnya gen C, maka terjadinya pindah silang ganda anatara gen A dan B akan nampak (Suryo, 2010). Terjadinya pindah silang antara segmen-segmen dari kromosom tertentu kebanyakan merupakan fenomena secara kebetulan saja, tetapi distribusinya tidak acak-acakan. Berdasarkan hukum kemungkinan, maka terjadinya dua pindah silang secara simultan sama dengan hasil perkalian dari besarnya kemungkinan untuk tiap pindah silang yang berlangsung secara terpisah di dua temapat itu. Interferensi adalah suatu pindah silang yang terjadi pada suatu tempat tertentu menghambat terjadinya pindah silang lain yang berdekatan. Untuk mencari besarnya interferensi, terlebih dahulu dicari koefisien koinsidens (KK), yaitu perbandingan antara banyaknya pindah silang ganda yang sesungguhnya dengan banyaknya pindah silang ganda yang diharapkan (Suryo, 2010). Pada tanaman jagung (Zea mays) dikenal gen-gen yang terangkai, misalnya: + (atau Bm) = gen yang menyebabkan tulang daun berwarna hijau (normal) bm = gen yang menyebabkan tulang daun berwarna coklat (mengadung zat antosian) + (atau Pr) = gen yang menyebabkan biji berwarna kuning (normal) pr = gen yang menyebabkan biji berwarna merah + (atau V) = gen yang menyebabkan daun berwarna hijau (normal) v = gen yang menyebabkan daun berwarna hijau pucat uji silang dari tanaman trihibrid (betina +++ / bm pr v X jantan bm pr v/bm pr v) menghasilkan keturunan: + pr v bm pr v bm + + +++ 57 tanaman 434 tanaman 60 tanaman 441 tanaman bm + v ++v +pr+ bm pr + 2tanaman 1tanaman 3tanaman 2tanaman

Catatan: cara penulisan genotip di sini telah disederhanakan, yaitu dengan menghilangkan gen-gen yang terdapat di bawah garis. Jadi apa yang tercantum sebagai + pr v itu seharusnya ditulis + pr v/bm pr v. Pertanyaan: 1. Gambarkan peta kromosom relatif di mana gen-gen itu terangkai ! 2. Tulislah genotip dari tanaman parental ! 3. Berapa interferensinya ? Jawabnya: 1. Oleh karena parentalnya tidak diketahui, maka dua individu yang jumlahnya paling banyak, merupakan tipe parental, yaitu (bm pr v) dan (+++). Tipe-tipe rekombinasi hasil adanya pindah silang ganda adalah individu yang jumlahnya paling sedikit, yaitu (++v) dan (bm pr +). Salah jika yang diambil (bm + v), sebab gen v menempati tempat yang sama dengan gen v dari (++v). Apabila tipe-tipe rekombinasi dibandingkan dengan tipe-tipe parental, maka nampak bahwa ada perbedaan mengenai letak gen v. Berhubung dengan itu gen v seharusnya terletak di tengah, sehingga ututan letak gen yang benar ialah bm v pr atau pr v bm. Jadi tipe parental dengan memperlihatkan urutan letak gen yang benar ialah: bm v pr / +++ atau pr v bm / +++. Andaikata kita menggunakan sususnan tipe parental yang pertama, maka: o PS antara bm-v = ((bm++) + (+ v pr) + (bm + pr) + (+v+)) jumlah keturunan uji silang = (60 + 57 + 2 + 1) 1000 = 0,12 = 12% o PS antara v-pr = ((bm v +) + (++pr) + (bm + pr) + (+v+) jumlah keturunan pindah silang = (2+3+2+1) 1000 = 0,008 = 0,8% Jadi: --jarak gen bm v = 12 unit --jarak gen v-pr = 0,8 unit

Gambar peta kromosom relatif: bm v pr

12

0,8

2. Genotip tanaman trihibridnya ialah +++/bm v pr. Karena itu genotip dari tanaman parental ialah +++/+++ dan bm v pr/bm v pr. 3. pindah silang ganda yang sesungguhnya = (2+1) 1000 = 0,003 pindah silang ganda yang diharapkan = 0,12 X 0,008 = 0,00096 KK = 0,0030,00096 = 3,125 KI = 1-3,125 = -2,125 (Suryo, 2010).

Pada praktikum genetika tentang pindah silang, yang pertama dilakukan adalah membuat empat strand kromosom secara imitasi dengan menggunakan lilin lembek / malam yang terdiri dari dua warna yang berbeda agar mudah membedakan kromosom yang sehomolog dengan yang bukan homolog. Kemudian diberi tanda dengan lilin lembek yang dibentuk bulatan lokasi sentromer dan gen-gennya agar lebih mudah dalam memperagakan terjadinya pindah silang. Setelah diberi tanda, dibuat konfigurasi terjadinya pindah silang dengan ketentuan pindah silang tunggal (2-3), (1-4), dan pindah silang ganda (2-3;2-3), (2-3;2-4), (2-3;14), (1-3;2-4;2-3). Pada pindah silang tunggal (2-3) dihasilkan nilai pindah silang (NPS) =50% karena hanya kromosom kedua dan ketiga saja yang mengalami pindah silang. Pada pindah silang tunggal (1-4) sama seperti silang tunggal (2-3) dihasilkan nilai pindah silang (NPS) =50% karena hanya kromosom pertama dan keempat saja yang mengalami pindah silang. Pada pindah silang ganda (2-3;2-3) pada umumnya menghasilkan NPS =50% karena hanya terjadi peristiwa pindah silang pada kromosom kedua dan ketiga. Pada pindah silang ganda (2-3;2-4) menghasilkan dua NPS = 50% dan 75%. Pada NPS =50% terjadi pindah silang di kromosom

kedua dan ketiga saja, sedangkan pada NPS =75% terjadi pindah silang di kromosom kedua, ketiga dan keempat. Pada pindah silang ganda (2-3;1-4) terjadi peristiwa pindah silang di keemapat kromosomnya, sehingga NPS nya =100%. Sama halnya dengan pindah silang ganda (1-3;2-4;2-3) yang terjadi pindah silang pada keempat kromosomnya (NPS =100%). Setelah dibuat konfigurasinya, dihitung persen tipe kombinasi yang terjadi akibat pindah silang yang telah dilakukan secara imitasi dengan cara Nps = jumlah tipe rekombinasi X 100% Jumlah seluruh individu Maka didapatkan hasil pindah silang tunggal (2-3) 50%, pidang indah silang tunggal (1-4) 50%, pindah silang ganda (2-3;2-3) 50%, pindah silang ganda (2-3;2-4) dihasilkan dua NPS yaitu 50% dan 75%. Pada pindah silang ganda (2-3;1-4) dan pindah silang ganda (1-3;2-4;2-3) menghasilkan NPS 100% yang artinya semua kromosomnya mengalami pindah silang.

4.2.2

Prinsip Pindah Silang Prinsip terjadinya pindah silang adalah kalu terjadi persilangan antara kromatid kromosom sehomolog itu, rupanya ketika saling memisah waktu anafase 1 bagian kromosom yang bersilang tak kembali ke induk, tapi melekat ke kromosom sebelahnya, secara timbal balik. Karena itu gengen yang terletak pada bagian yang pindah itu akan berpindah temapat pula ke kromosom sebelah (Yatim, 1996).

4.2.3

Nilai Pindah Silang Dengan percobaan Morgan dapat diketahui jarak dan lokus berbagai gen pada kromosom. Dengan 3 macam perkawinan dengan 2

karakter berbeda akan terlihat di mana letak salah satu gen dalam deretannya, dan diketahui pula berapa jaraknya (Yatim, 1996). Hukum Morgan adalah jarak gen yang berangkai sebanding dengan nilai pindah silang. Jika nilai pindah silang 1% maka jarak antara kedua gen 1 unit (Yatim, 1996). Nilai pindah silang adalah angka persentase kombinasi baru hasil persilangan, disingkat Nps (Yatim, 1996). Telah diketahui bahwa dengan adanya peritiwa pindah silang, dalam keturunan dibedakan tipe parental (tipe orang tua) dan tipe rekombinasi (tipe kombinasi baru). Adapun yang dimaksud dengan nilai pindah silang (nps) ialah angka yang menunujukkan besarnya persentase kombinasi baru yang dihasilkan akibat terjadinya pindah silang (Suryo, 2010).
Nps = jumlah tipe rekombinasi X 100% Jumlah seluruh individu

Tentunya nilai pindah silang tidak akan melebihi 50%, biasanya bahkan kurang dari 50%, karena: a. Hanya dua dari empat kromatid saja ikut mengambil bagian pada peristiwa pindah silang. b. Pindah silang ganda akan mengurangi banyaknya tipe rekombinasi yang dihasilkan. (Suryo, 2010).

4.2.4

Faktor-Faktor Mempengaruhi Pindah Silang Kemungkinan terjadinya pindah silang ternyata dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti : 1. Temperatur. Temperatur yang melebihi atau kurang dari temperatur biasa dapat memperbesar kemungkinan terjadinya pindah silang. 2. Umur. Makin tua suatu individu, makin kurang mengalami pindah silang.

3.

Zat kimia. Zat kimia tertentu dapat memperbesar kemungkinan pindah silang.

4.

Penyinaran dengan sinar X. Dapat memperbesar kemungkinan pindah silang.

5.

Jarak antara gen-gen teranngkai. Makin jauh letak suatu gen dengan gen lain, makin besar kemungkinan terjadinya pindah silang.

6.

Jenis kelamin. Pda umumnya pindah silang dijumpai pada makhluk hidup betina maupun jantan. Namun demikian ada perkecualian, yaitu pada ulat sutera (Bombix mori) yang betina tidak pernah terjadi pindah silang, demikian pula dengan lalat Drosophila yang jantan. Yang terakhir ini dibuktikan oleh T.H.Morgan dan C.B.Bridges sebagai berikut: + = gen domina untuk mata merah (normal) p = gen resesif untuk mata ungu (jenis mutan) + = gen dominan untuk sayap panjang (normal) v = gen resesif untuk sayap kisut (jenis mutan) (Suryo, 2010). Gen-gen tersebut terangkai pada autosom. Simbol + merupakan

pengganti dari huruf besar (Suryo, 2010). Waktu lalat jantan mata merah sayap normal homozigotik dikawinkan dengan lalat betina mata ungu sayap kisut, didapatkan lalat-lalat F1 yang semuanya normal (mata merah sayap normal). Kemudian dilakukan dua macam uji silang (testcross) pada lalat F1 dihibrid, yaitu: 1. Lalat F1 betina dikawinkan dengan lalat jantan yang dobel resesif (mata ungu sayap kisut). Uji silang ini menghasilkan lalat-lalat F2 sebagai berikut: 382 lalat bermata merah sayap normal 16 lalat bermata merah sayap kisut 22 lalat bermata ungu sayap normal 353 lalat bermata ungu sayap kisut

2. Lalat F1 jantan dikawinkan dengan lalat betina yang dobel resesif (mata ungu sayap kisut). Uji silang ini silang ternyata hanya menghasilkan dua macam lalat-lalat F2, yaitu : 74 lalat bermata merah sayap normal 72 lalat bermata ungu sayap kisut (Suryo, 2010). Perbedaan pada keturunan F2 dari kedua macam uji silang tadi menunjukkan bahwa pada lalat betina terjadi pindah silang, sehingga didapatkan perbandingan n:1:1:n (sebab gen-gen pada dihibrid terangkai dala susunan cis, yaitu ++ / pv ), sedangkan pada lalat jantan tidak terjadi pindah silang (Suryo, 2010).

4.2.5

Peta Kromosom Ukuran yang dipakai untuk menentukan jarak antara gen pada kromosom disebut saja unit, yang kalau diukur secara ukuran metrik biasa tentu susah. Ukuran itupun tidak bisa dilihat dalam praktek pada kromosom, mengingat batas antara 1 gen dengan gen lain belum pasti sampai sekarang. Ukuran itu dipergunakan dalam perhitungan genetis saja (Yatim, 1996). Yang dimaksud dengan peta kromosom ialah gambar skema sebuah kromosom yang dinyatakan sebagai sebuah garis lurus di mana diperlihatkan lokus setiap gen yang terletak pada kromosom itu. Sentromer dari kromosom biasanya dianggap sebagai pangkal, maka diberi tanda 0 (nol). Pada lokus setiap gen dibubuhkan angka yang menunjukkan jarak antara gen itu dengan sentromer atau jarak antara satu gen dengan yang lain. Jarak itu diberi ukuran unit dan 1 unit = 1% pindah silang (Suryo, 2010). Misalnya pada lokus gen p tertulis angka 6,2. Ini berarti bahwa jarak antara sentromer ke gen p ialah 6,2 unit. Pada lokus gen q tertulis angka 10, berarti bahwa jarak antara sentromer dengan gen q ialah 106,2=3,8 unit (Suryo, 2010).

p(6,2)

q(10)

Jarak anatar gen p dan q disebut jarak peta. Peta kromosom tanpa menunjukkan letak sentromer dinamakan peta relatif (Suryo, 2010). r(13) s(17,7) t(26,2)

Gambar di atas memperlihatkan peta relatif. Jarak anatara gen r-s= 4,7 unit, s-t=8,5 unit, r-t=13,2 unit (Suryo, 2010). Saat dimulainya pembuatan peta kromosom dilakukan pada tahun 1920 oleh para ahli genetika Drosophila seperti T.H.Morgan, C.B.Bridges dan A.H. Sturtevant (Suryo, 2010).

BAB V KESIMPULAN

Dari praktikum genetika tentang pindah silang dapat disimpulkan bahwa pada peristiwa pindah silang tunggal dihasilkan tipe rekombinasi yang terjadi akibat pindah silang sebesar 50% karena hanya melibatkan dua kromosom yang mengalami pindah silang. Pada peristiwa pindah silang ganda dihasilkan tipe rekombinasi yang terjadi akibat pindah silang sebesar 50%, 75% hingga 100% karena tidak hanya dua kromosom yang mengalami pindah silang, tetapi sampai tiga atau emapat kromosom mengalami pindah silang. Semakin banyak kromosom yang terlibat pindah silang, semakin besar tipe rekombinasi yang terbentuk akibat pindah silang.

DAFTAR PUSTAKA

Suryo. 2010. Genetika untuk strata 1. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Yatim, Wildan. 1996. Genetika. Tarsito. Bandung.