Anda di halaman 1dari 36

Visum et Repertum No.

KS 04/VR/1999 Halaman 1 dari 9 halaman

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN, UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR Jl. Kandea No. 2A Makassar Ujung Pandang, 15 Mei 1999 PRO JUSTISIA Visum et Repertum KS 04/VR/1999 Hasil Pemeriksaan Bedah Jenazah Atas Nama Sahir Dg. Tutu Ai Cai (Tembusan Kepada Yth. Jaksa Agung) Saya yang bertanda tangan di bawah ini, dokter Lucia Suriyanti, DSPAWirasugena dari bagian Ilmu Kedokteran Kehakiman Fakultas Ilmu-Ilmu Kedokteran Universitas Hasanuddin Ujung Pandang, menerangakan bahwa: berhubung dengan surat permintaan Visum et Repertum dari Polri Kota Besar Ujung Pandang sector kota Tamalate yang ditandatangani oleh Drs. S. M. Mahendra Jaya Kapten Polisi Nrp: 66070505 tertanggal dua Mei seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan, Nomor Polisi B/79/V/1999. ----------------------------Saya pada tanggal empat Mei seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan, yang dibantu asisten dokter Nur Nisa dengan dokter muda M. Nur Misbah,S.Ked., Sri Lestari,S.Ked., Iman Subekti,S.Ked., Sri Malta,S.Ked., MusliminS.Ked., Ismail,S.Ked., Putu Melaya,S.Ked., Nurbaety,S.Ked., Musrah Muzakkar,S.Ked., M. Irwan Gunawan,S.Ked., mulai jam sembilan sampai jam dua belas siang di Rumah Sakit Bhanyangkara Ujung Pandang, telah melakukan bedah mayat atas satu mayat laki-laki yang ditunjuk oleh Polisi dimana mayat tanpa segel tersebut adalah satu-satunya yang terdapat di dalam kamar mayat.

Visum et Repertum No. KS 04/VR/1999 Halaman 2 dari 9 halaman

Penunjukkan ini sesuai dengan surat permintaan Visum et Repertum dari Polisi tersebut di atas, yang menerangkan bahwa mayat laki-laki ini:------------------------Nama Umur : Sahir Dg. Tutu Ai Cai. ---------------------------------------------------------: Dua puluh sembilan tahun. ---------------------------------------------------

Suku/Bangsa : Makassar/Indonesia. ----------------------------------------------------------Jenis Kelamin : Laki-laki. -----------------------------------------------------------------Agama Pekerjaan Alamat : Islam. ---------------------------------------------------------------------: Tidak dicantumkan. ------------------------------------------------------------: Jl. Dg. Tata Lama No.48 RT B RW I, Kel. Mangasa. ---------

Ditemukan meninggal di jalan Dg. Tata Lama, pada hari Minggu, tanggal dua Mei seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan, jam sembilan WITA. ---------------HASIL PEMERIKSAAN: --------------------------------------------------------------------------

I. PEMERIKSAAN LUAR: ----------------------------------------------------------------------1. Mayat laki-laki telah ada di atas meja bedah mayat Rumah Sakit Bhayangkara ditutupi kain sarung batik warna merah muda kembang-kembang putih hijau, tangan diikat dengan kain bergaris putih dan hitam, bagian kaki ditutupi kain batik dasar oranye kembang-kembang coklat, kepala dialasi dengan kain dasar hitam kembang-kembang ungu, memakai celana pendek krem polos, tidak memakai celana dalam. ------------------------

2. Rambut kepala warna hitam, lurus, panjang delapan sentimeter, tidak mudah
dilepas, alis mata hitam, bulu mata hitam, rambut kemaluan hitam. ----------------3. Warna kulit sawo matang, terdapat tattoo pada lengan atas bergambar seorang Indian, sebagian kulitnya menonjol, dan pada bagian paha kiri bagian depan bergambar naga dan seorang wanita bertuliskan GAGAL 92, umur kira-kira dua

Visum et Repertum No. KS 04/VR/1999 Halaman 3 dari 9 halaman

puluh sembilan tahun, panjang badan seratus lima puluh empat sentimeter, berat badan tidak diukur, gizi baik, kira-kira termasuk bangsa Indonesia. ---------------------------------------------------------------------------

4. Kaku mayat seluruh badan, sukar dilawan, lebam mayat pada muka, leher,
punggung, tidak hilang pada penekanan, sudah mulai ada tanda-tanda pembusukan di daerah perut bagian bawah. -----------------------------------------

5. Mata kiri dan kanan: kelopak mata menutup, bola mata tidak menonjol, selaput
bening (kornea) keruh, selaput putih (sklera) kemerahan, selaput lendir mata (konjungtiva) tidak ada perdarahan. -------------------------------------

6. Hidung: bentuk luar tidak ada kelainan, keluar cairan darah warna coklat dari
lubang hidung kanan. -----------------------------------------------------------------

7. Mulut: bibir kebiruan, keluar cairan warna coklat dari mulut, gigi geligi utuh, tidak
ada kelainan. ---------------------------------------------------------------------------

8. Telinga: tidak ada kelainan. --------------------------------------------------------------9. Kemaluan: laki-laki, disunat, panjang tujuh sentimeter, lingkaran penis delapan
sentimeter, terdapat asesoris di bagian bawah penis. ------------------

10. Lubang pelepasan (anus): terdapat kotoran (feses), tidak ada kelainan. ----11. Ekstremitas: kuku-kuku pada kaki dan tangan biru (sianosis). ------------------12. Luka-luka pada kulit:---------------------------------------------------------------------------a. Kulit kepala b. Kulit muka c. Kulit leher d. Kulit dada
e. Kulit pinggang : tidak ada perlukaan. -----------------------------------------: tidak ada perlukaan. -----------------------------------------: luka memar, sebesar kepala jarum pentul pada bahu kiri : tidak ada perlukaan. -----------------------------------------: luka memar ukuran dua kali dua sentimeter, pada

dua sentimeter dari bahu kanan. ------------------------------------------------

pinggang sebelah kiri warna ungu kehitaman, lokasi tujuh belas sentimeter di sebelah kiri bawah pusat. -------------------------------------------f. Kulit perut : tidak ada perlukaan. ------------------------------------------

Visum et Repertum No. KS 04/VR/1999 Halaman 4 dari 9 halaman g. Kulit ekstremitas : luka listrik pada jari ketiga, keempat dan kelima tangan

kiri, ketiganya pada ruas jari tengah (kulit terkelupas warna putih, terdapat bintik hitam di tengah luka dan sekitar luka membengkak). Ukuran luka: pada jari ketiga nol koma lima kali nol koma lima sentimeter, jari keempat satu kali nol koma lima sentimeter, dan jari kelima nol koma lima kali nol koma lima sentimeter. ----------------------------

II. PEMERIKSAAN DALAM: -------------------------------------------------------------------13. Lemak di bawah kulit banyak, tebal lemak pada kulit perut empat sentimeter, pada
bagian dada dua setengah sentimeter, tulang dada tidak ada patah tulang. ----------------------------------------------------------------------------

14. Kantong jantung (pericardium): bagian yang tidak ditutupi oleh paru-paru sembilan
sentimeter, perlengketan tidak ada. ----------------------------------------

15. - Jantung: ukuran lima belas kali sebelas kali lima sentimeter, warna merah
kecoklatan, bentuk bilik tidak ada kelainan, tebal otot bilik kiri tiga koma lima sentimeter, bilik kanan dua sentimeter. -----------------------------------------Mikroskopis: pada bilik kiri dan kanan tampak gambaran sel-sel otot jantung yang patah-patah (reksis). ----------------------------------------------------------------- Nadi aorta: diameter enam koma empat sentimeter, tidak ada kelainan. --- Nadi pembuluh koronaria: tidak ada penyumbatan. ------------------------------ Katup jantung kanan dan kiri: tidak didapatkan kelainan. -----------------------

16. Lidah: tidak ada kelainan. -------------------------------------------------------------- Tonsil: tidak ada kelainan. ------------------------------------------------------------- Kelenjar gondok: tidak ada kelainan. ------------------------------------------------ Selaput lender kerongkongan: tidak ada kelainan. ------------------------------ Tulang lidah: tidak ada patah tulang. -------------------------------------------------

17. Dalam rongga paru-paru tidak ada cairan. Selaput paru-paru: paru-paru kanan dan
paru-paru kiri tidak ada perlengketan. -----------------------------------

18. Paru-paru kiri: ukuran dua puluh satu kali tiga kali enam setengah sentimeter,
warna merah, permukaan licin, perabaan seperti spons, tepi berwarna kehitaman (bintik-bintik antrakosis). --------------------------------------Visum et Repertum No. KS 04/VR/1999 Halaman 5 dari 9 halaman

Mikroskopis: diantara alveoli-alveoli tampak pembuluh darah melebar dan berisi eritrosit, alveoli juga tampak melebar dan terdapat bintik-bintik antrakosis. ------------------------------------------------------------------------------------- Paru-paru kanan: ukuran dua puluh dua kali lima belas kali enam setengah sentimeter, warna merah, permukaan licin, permukaan licin, perabaan seperti spons, tepi berwarna kehitaman (bintik-bintik antrakosis). ---------------------------------------------------------------------------------------------------Mikroskopis: diantara alveoli-alveoli tampak pembuluh darah melebar dan berisi eritrosit, alveoli juga tampak melebar dan terdapat bintik-bintik antrakosis. ------------------------------------------------------------------------------------19. Hati: ukuran tiga puluh satu kali tujuh belas kali sembilan sentimeter, warna merah kecoklatan, permukaan licin. ------------------------------------------Mikroskopis: tampak vena sentralis melebar berisi eritrosit, sinusoid juga berisi eritrosit dan terdapat degenrasi lemak. ---------------------------------------- Kantong empedu: tidak berisi penuh, tidak ada batu, tidak ada kelainan. --

20. Limpa: ukuran dua belas kali enam koma lima kali dua setengah sentimeter,
warna merah kehitaman, perabaan kenyal, tepi tajam. -----------Mikroskopis: diantara stroma terisi eritrosit. ------------------------------------------

21. Kelenjar ludah perut: tidak ada kelainan. ---------------------------------------------22. Lambung: ukuran tiga puluh dua kali enam belas kali tiga belas sentimeter, berisi
sisa makanan, tidak ada kelainan. ----------------------------------------------

23. Usus: usus dua belas jari, usus halus dan usus besar berisi gas pembusukan.
----------------------------------------------------------------------------------

24. Ginjal:----------------------------------------------------------------------------------------------a. Ginjal kanan: ukuran dua belas kali enam kali tiga sentimeter, warna merah
kehitaman, permukaan rata, perubaan lunak, tidak ada kelainan. -

Mikroskopis: tampak pembuluh darah-pembuluh darah melebar berisi eritrosit. ------------------------------------------------------------------------------------Visum et Repertum No. KS 04/VR/1999 Halaman 6 dari 9 halaman

b. Ginjal kiri: ukuran sebelas kali enam kali tiga koma lima sentimeter, warna
merah kehitaman, terdapat warna kehitaman pada bagian depan, ukuran lima kali tiga setengah sentimeter, permukaan rata, perabaan lunak. ----------------------------------------------------------------------------------------

25. Kelenjar air mani: tidak ada kelainan. -------------------------------------------------26. Kandung kencing: tidak ada kelainan. -------------------------------------------------27. Saluran ureter dan uretra: tidak ada kelainan. --------------------------------------28. - Tulang-tulang panggul: ilium, pubis, sacrum, tidak ada patah tulang. -------- Tulang-tulang belakang: tulang leher, tulang punggung, tulang pinggang, tulang kelangkang, tulang ekor, tidak ada patah tulang. --------------------------- Tulang tengkorak: tidak ada kelainan. -----------------------------------------------

29. Kulit kepala dalam: terdapat hematoma pada bagian depan kanan ukuran tiga kali
dua setengah sentimeter, bagian belakang kiri tiga koma lima kali empat sentimeter, dan bagian belakang kanan empat kali empat sentimeter dan terdapat bintik-bintik perdarahan di seluruh kulit kepala dalam. ----------Selaput otak keras: ada bercak-bercak perdarahan, bekuan darah di bawah selaput otak keras seluas tiga belas kali enam sentimeter dan perlengketan sepanjang enam sentimeter pada otak bagian kiri dan delapan sentimeter pada tepi atas otak kanan. ----------------------------------------------------------------

30. Otak:-----------------------------------------------------------------------------------------------------Pada mikroskopis: di antara sel-sel otak besar tampak perdarahan-perdarahan, terdapat bagian yang nekrose, dan tampak sebagian pembuluh darah melebar berisi eritrosit. ----------------------------------------------Otak kecil: ukuran sepuluh kali tujuh kali empat sentimeter, tidak ada kelainan. ----------------------------------------------------------------------------------------

Visum et Repertum No. KS 04/VR/1999 Halaman 7 dari 9 halaman

III. RINGKASAN: Telah dilakukan bedah mayat laki-laki pada tanggal empat Mei seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan di kamar bedah mayat di Rumah Sakit Bhayangkara Ujung Pandang atas surat permintaan Visum et Repertum dari Polri Kota Besar Ujung Pandang sector kota Tamalate yang ditandatangani oleh Drs. S. M. Mahendra Jaya Kapten Polisi Nrp: 66070505 tertanggal dua Mei seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan, Nomor Polisi B/79/V/1999, yang menerangkan bahwa mayat laki-laki tersebut bernama Sahir Dg, Tutu Ai Cai, agama Islam, umur dua puluh sembilan tahun, suku/bangsa: Makassar/Indonesia, alamat jalan Dg, Tata Lama No. 48 RT B RW I, Kel. Mangasa yang ditemukan meninggal di jakan Dg. Tata Lama pada hari Minggu, tanggal dua Mei seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan, jam sembilan WITA. ---------------------------------------------------------------------------Pada pemeriksaan didapatkan: Mayat laki-laki telah berada di atas meja bedah mayat Rumah Sakit Bhayangkara, ditutupi kain sarung batik warna merah muda kembang-kembang putih hijau, tangan diikat dengan kain bergaris putih dan hitam, bagian kaki ditutupi kain batik dasar oranye kembang-kembang coklat, kepala dialasi dengan kain dasar hitam kembang-kembang ungu, memakai celana pendek krem polos, tidak memakai celana dalam. Rambut kepala warna hitam, lurus, panjang delapan sentimeter, tidak mudah dilepas, alis mata hitam, bulu mata hitam, rambut kemaluan hitam. Warna kulit sawo matang, terdapat tattoo pada lengan atas bergambar seorang Indian, sebagian kulitnya menonjol, dan pada bagian paha kiri bagian depan bergambar naga dan seorang wanita bertuliskan GAGAL 92, umur kira-kira dua puluh sembilan tahun, panjang badan seratus lima puluh empat sentimeter, berat badan tidak diukur, gizi baik, kira-kira termasuk bangsa Indonesia. Kaku mayat seluruh badan, sukar dilawan, lebam mayat pada muka, leher, punggung, tidak hilang pada penekanan, sudah mulai ada tanda-tanda pembusukan

di daerah perut bagian bawah. Selaput putih pada mata (sklera) kemerahan. Keluar cairan darah warna coklat dari lubang hidung kanan. Bibir kebiruan, keluar cairan warna coklat dari mulut. Pada leher terdapat luka memar, sebesar kepala jarum pentul pada bahu kiri dua sentimeter dari bahu kanan. Pada pinggang terdapat luka Visum et Repertum No. KS 04/VR/1999 Halaman 8 dari 9 halaman

memar ukuran dua kali dua sentimeter, pada pinggang sebelah kiri warna ungu kehitaman, lokasi tujuh belas sentimeter di sebelah kiri bawah pusat.-----------------Pada ekstremitas terdapat luka listrik pada jari ketiga, keempat dan kelima tangan kiri, ketiganya pada ruas jari tengah (kulit terkelupas warna putih, terdapat bintik hitam di tengah luka dan sekitar luka membengkak). Ukuran luka: pada jari ketiga nol koma lima kali nol koma lima sentimeter, jari keempat satu kali nol koma lima sentimeter, dan jari kelima nol koma lima kali nol koma lima sentimeter. -------Pada pemeriksaan mikroskopis jantung pada bilik kiri dan kanan tampak gambaran sel-sel otot jantung yang patah-patah (reksis). Pada pemeriksaan mikroskopis paru-paru kiri dan kanan, diantara alveoli-alveoli tampak pembuluh darah melebar dan berisi eritrosit, alveoli juga tampak melebar dan terdapat bintik-bintik antrakosis. Pada pemeriksaan mikroskopis pada hati, tampak vena sentralis melebar berisi eritrosit, sinusoid juga berisi eritrosit dan terdapat degenerasi lemak. Pemeriksaan mikroskopis pada limpa tampak diantara stroma terisi eritrosit. Pemeriksaan mikroskopis ginjal kanan tampak pembuluh darah-pembuluh darah melebar berisi eritrosit. Terdapat warna kehitaman pada bagian depan ginjal kiri, ukuran lima kali tiga setengah sentimeter. Pada kulit kepala dalam terdapat hematoma pada bagian depan kanan ukuran tiga kali dua setengah sentimeter, bagian belakang kiri tiga koma lima kali empat sentimeter, dan bagian belakang kanan empat kali empat sentimeter dan terdapat bintik-bintik perdarahan di seluruh kulit kepala dalam. Pada selaput otak keras ada bercak-bercak perdarahan, bekuan darah di bawah selaput otak keras seluas tiga belas kali enam sentimeter dan perlengketan sepanjang enam sentimeter pada otak bagian kiri dan delapan sentimeter pada tepi atas otak kanan. Pada pemeriksaan mikroskopis di antara selsel otak besar tampak perdarahan-perdarahan, terdapat bagian yang nekrose, dan tampak sebagian pembuluh darah melebar berisi eritrosit.

Visum et Repertum No. KS 04/VR/1999 Halaman 9 dari 9 halaman

IV. KESIMPULAN Menurut surat permintaan Visum et Repertum dari Polri Kota Besar Ujung Pandang sector kota Tamalate yang ditandatangani oleh Drs. S. M. Mahendra Jaya Kapten Polisi Nrp: 66070505 tertanggal dua Mei seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan, Nomor Polisi B/79/V/1999, telah dilakukan bedah mayat atas nama Sahir Dg. Tutu Ai Cai, umur dua puluh sembilan tahun, agama Islam, suku/bangsa Makassar/Indonesia, alamat Jl. Dg. Tata Lama No.48 RT B RW I, Kel. Mangasa. ----------------------------------------------------------Berdasarkan pemeriksaan, kami berkesimpulan bahwa korban meninggal oleh karena kegagalan fungsi jantung akibat aliran listrik, diperberat oleh adanya gangguan fungsi otak akibat trauma tumpul. --------------------------------------------V. PENUTUP Demikianlah Visum et Repertum ini dibuat dengan penguraian sejujur-jujurnya dan dengan menggunakan pengetahuan saya sebaik-baiknya, serta mengingat sumpah pada menerima jabatan. -------------------------------------------

Dokter yang Memeriksa,

Dr. Lucia Suryanti, DSPA NIP. 130 359 355

B. RESUME KASUS

PRO JUSTISIA Visum et Repertum KS 04/VR/1999 (Tembusan Kepada Yth. Jaksa Agung) Surat Permintaan Visum Visum et Repertum dari Polri Kota Besar Ujung Pandang sector kota Tamalate yang ditandatangani oleh Drs. S. M. Mahendra Jaya Kapten Polisi Nrp: 66070505 tertanggal dua Mei seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan, Nomor Polisi B/79/V/1999 Tim Kedokteran Forensik Dipimpin oleh dokter Dr. Lucia Suryanti, DSPA dan dibantu asisten dokter Nur Nisa dengan dokter muda M. Nur Misbah,S.Ked., Sri Lestari,S.Ked., Iman Subekti,S.Ked., Melaya,S.Ked., Gunawan,S.Ked. Waktu dan Tempat Pemeriksaan Bedah Mayat (Otopsi) Pada tanggal empat Mei seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan mulai jam sembilan sampai jam dua belas siang Waktu Indonesia Bagian Tengah, di kamar bedah mayat Rumah Sakit Bhanyangkara Ujung Pandang. Identitas Korban Mayat laki-laki tersebut bernama Sahir Dg, Tutu Ai Cai, agama Islam, umur dua puluh sembilan tahun, suku/bangsa: Makassar/Indonesia, alamat jalan Dg, Tata Sri Malta,S.Ked., MusliminS.Ked., Musrah Ismail,S.Ked., M. Putu Irwan Nurbaety,S.Ked., Muzakkar,S.Ked.,

Lama No. 48 RT B RW I, Kel. Mangasa yang ditemukan meninggal di jalan Dg. Tata Lama pada hari Minggu, tanggal dua Mei seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan, jam sembilan WITA. Keterangan Temuan Korban Pemeriksaan luar Pada pemeriksaan luar didapatkan Mayat laki-laki telah berada di atas meja bedah mayat Rumah Sakit Bhayangkara, ditutupi kain sarung batik warna merah muda kembang-kembang putih hijau, tangan diikat dengan kain bergaris putih dan hitam, bagian kaki ditutupi kain batik dasar oranye kembang-kembang coklat, kepala dialasi dengan kain dasar hitam kembang-kembang ungu, memakai celana pendek krem polos, tidak memakai celana dalam. Rambut kepala warna hitam, lurus, panjang delapan sentimeter, tidak mudah dilepas, alis mata hitam, bulu mata hitam, rambut kemaluan hitam. Warna kulit sawo matang, terdapat tattoo pada lengan atas bergambar seorang Indian, sebagian kulitnya menonjol, dan pada bagian paha kiri bagian depan bergambar naga dan seorang wanita bertuliskan GAGAL 92, umur kira-kira dua puluh sembilan tahun, panjang badan seratus lima puluh empat sentimeter, berat badan tidak diukur, gizi baik, kira-kira termasuk bangsa Indonesia. Kaku mayat seluruh badan, sukar dilawan, lebam mayat pada muka, leher, punggung, tidak hilang pada penekanan, sudah mulai ada tanda-tanda pembusukan di daerah perut bagian bawah. Selaput putih pada mata (sklera) kemerahan. Keluar cairan darah warna coklat dari lubang hidung kanan. Bibir kebiruan, keluar cairan warna coklat dari mulut. Pada leher terdapat luka memar, sebesar kepala jarum pentul pada bahu kiri dua sentimeter dari bahu kanan. Pada pinggang terdapat luka memar ukuran dua kali dua sentimeter, pada pinggang sebelah kiri warna ungu kehitaman, lokasi tujuh belas sentimeter di sebelah kiri bawah pusat. Pada ekstremitas terdapat luka listrik pada jari ketiga, keempat dan kelima tangan kiri, ketiganya pada ruas jari tengah (kulit terkelupas warna putih, terdapat bintik hitam di tengah luka dan sekitar luka membengkak). Ukuran luka: pada jari ketiga nol koma lima kali nol koma lima sentimeter, jari keempat satu kali nol koma lima sentimeter, dan jari kelima nol koma lima kali nol koma lima sentimeter Pemeriksaan dalam

Pada pemeriksaan dalam ditemukan Pada pemeriksaan mikroskopis jantung pada bilik kiri dan kanan tampak gambaran sel-sel otot jantung yang patah-patah (reksis). Pada pemeriksaan mikroskopis paru-paru kiri dan kanan, diantara alveolialveoli tampak pembuluh darah melebar dan berisi eritrosit, alveoli juga tampak melebar dan terdapat bintik-bintik antrakosis. Pada pemeriksaan mikroskopis pada hati, tampak vena sentralis melebar berisi eritrosit, sinusoid juga berisi eritrosit dan terdapat degenerasi lemak. Pemeriksaan mikroskopis pada limpa tampak diantara stroma terisi eritrosit. Pemeriksaan mikroskopis ginjal kanan tampak pembuluh darahpembuluh darah melebar berisi eritrosit. Terdapat warna kehitaman pada bagian depan ginjal kiri, ukuran lima kali tiga setengah sentimeter. Pada kulit kepala dalam terdapat hematoma pada bagian depan kanan ukuran tiga kali dua setengah sentimeter, bagian belakang kiri tiga koma lima kali empat sentimeter, dan bagian belakang kanan empat kali empat sentimeter dan terdapat bintik-bintik perdarahan di seluruh kulit kepala dalam. Pada selaput otak keras ada bercak-bercak perdarahan, bekuan darah di bawah selaput otak keras seluas tiga belas kali enam sentimeter dan perlengketan sepanjang enam sentimeter pada otak bagian kiri dan delapan sentimeter pada tepi atas otak kanan. Pada pemeriksaan mikroskopis di antara selsel otak besar tampak perdarahan-perdarahan, terdapat bagian yang nekrose, dan tampak sebagian pembuluh darah melebar berisi eritrosit.

C. TINJAUAN PUSTAKA
LUKA LISTRIK 1. Definisi Luka Listrik adalah luka yang disebabkan oleh trauma listrik, yang merupakan jenis trauma yang disebabkan oleh adanya persentuhan dengan benda yang memiliki arus listrik, sehingga dapat menimbulkan luka bakar sebagai akibat berubahnya energi listrik menjadi energi panas. Arus listrik bergerak dari tempat yang berpotensial tinggi ke potensial rendah. Arahnya sama dengan arah gerak muatan-muatan positif (berlawanan arah dengan elektron-elektron). Bagian-bagian listrik, antara lain :

a. Arus listrik (I) a. Arus listrik searah atau direct current (DC) mengalir secara terus menerus ke satu arah, dipakai dalam industri elektrolisis, misalnya pada pemurnian dan pelapisan/penyepuhan logam. Juga digunakan pada telepon (30-50 volt), dan kereta listrik (600-1500 volt). Sumber misalnya baterai dan accu.

b. Arus listrik bolak-balik atau alternating current (AC)


mengalir bolak-balik, digunakan di rumah-rumah dan pabrik-pabrik, biasanya 110 volt atau 220 volt, jauh lebih berbahaya daripada arus DC, tubuh manusia 4-6 kali lebih sensitif terhadap arus AC. b. Frekuensi listrik Satuan : cycle per second atau hertz, yang paling sering digunakan 50 dan 60 hertz, yang paling tinggi 1 jt hertz dengan voltage 20.000-40.000 volt tidak begitu berbahaya dapat digunakan sebagai diatermi. Tubuh sangat tidak peka terhadap frekuensi yang sangat tinggi atau sangat rendah, contohnya kurang dari 40 hertz atau lebih dari 1.000 hertz. c. Tegangan (voltage/V) Satuan : volt. 1 volt = tenaga listrik yang dibutuhkan untuk menghasilkan intensitas listrik sebesar 1 ampere melalui sebuah konduktor (penghantar) yang memiliki tahanan sebesar 1 ohm. tram listrik. Voltase tinggi (= 1.000 V) misalnya transpor arus listrik. Voltase sangat tinggi (20.000-1.000.000 V) misalnya deep X-rays therapy Voltase rendah (110-460 V) misalnya penerangan, pabrik,

dan diatermi. Diatermi : frekuensi 1 juta Hz dan tegangan 20 ribu - 40 ribu volt. Kuat arus yang sering kita gunakan dibawah 6 ampere. LET GO CURRENT = kuat arus dari aliran listrik dimana korban masih bisa melepaskan diri darinya. d. Tahanan/hambatan listrik (resistance/R) Satuan : ohm. Menurut hukum Ohm, besarnya intensitas listrik (I) sama dengan besarnya tegangan/voltage (V) dibagi dengan tahanan (R) dari medium. Panas yang terjadi tergantung dari : 1. banyaknya arus

V I ---

2. lamanya kontak 3. besarnya hambatan Hal ini sesuai dengan rumus : Keterangan : W = panas yang dihasilkan (kalori) I = kuat arus (ampere) R = hambatan (ohm) t = waktu (detik)

W = I2 R t

2. Etiologi Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, trauma listrik terjadi saat seseorang menjadi bagian dari sebuah perputaran aliran listrik atau bisa disebabkan pada saat berada dekat dengan sumber listrik. Secara umum, terdapat 2 jenis tenaga listrik: a. Tenaga listrik alam, seperti petir dan kilat. b. Tenaga listrik buatan meliputi arus listrik searah (DC) seperti baterai dan accu, dan arus listrik bolak-balik (AC) seperti listrik PLN pada rumah maupun pabrik.

3. Patofisiologi Elektron mengalir secara abnormal melalui tubuh menghasilkan cedera dengan atau kematian melalui depolarisasi otot dan saraf, inisiasi abnormal irama elektrik pada jantung dan otak, atau menghasilkan luka bakar elektrik internal maupun eksternal melalui panas dan pembentukan pori di membran sel. Arus yang melalui otak, baik voltase rendah maupun tinggi mengakibatkan penurunan kesadaran segera karena depolarisasi saraf otak. Arus AC dapat menghasilkan fibrilasi ventrikel jika jalurnya melalui dada. Aliran listrik yang lama membuat kerusakan iskemik otak terutama yang diikuti gangguan nafas. Seluruh aliran dapat mengakibatkan mionekrosis, mioglobinemia, dan mioglobinuria dan berbagai komplikasi. Selain itu dapat juga mengakibatkan luka bakar. Faktor-faktor yang mempengaruhi efek listrik terhadap tubuh:

a. Jenis / macam aliran listrik Arus searah (DC) dan arus bolak-balik (AC). Banyak kematian akibat sengatan arus listrik AC dengan tegangan 220 volt. Suatu arus AC dengan intensitas 7080 mA dapat menimbulkan kematian, sedangkan arus DC dengan intensitas 250 mA masih dapat ditolerir tanpa menimbulkan kerusakan. b. Tegangan / voltage Hanya penting untuk sifat-sifat fisik saja, sedangkan pada implikasi biologis kurang berarti. Tegangan yang paling rendah yang sudah dapat menimbulkan kematian manusia adalah 50 volt. Makin tinggi tegangan akan menghasilkan efek yang lebih berat pada manusia baik efek lokal maupun general. +60% kematian akibat listrik arus listrik dengan tegangan 115 volt. Kematian akibat aliran listrik tegangan rendah terutama oleh karena terjadinya fibrilasi ventrikel, sementara itu pada tegangan tinggi disebabkan oleh karena trauma elektrotermis. c. Tahanan / resistance Tahanan tubuh bervariasi pada masing-masing jaringan, ditentukan perbedaan kandungan air pada jaringan tersebut. Tahanan yang terbesar terdapat pada kulit tubuh, akan menurun besarnya pada tulang, lemak, urat saraf, otot, darah dan cairan tubuh. Tahanan kulit rata-rata 500-10.000 ohm. Di dalam lapisan kulit itu sendiri bervariasi derajat resistensinya, hal ini bergantung pada ketebalan kulit dan jumlah relatif dari folikel rambut, kelenjar keringat dan lemak. Kulit yang berkeringat lebih jelek daripada kulit yang kering. Menurut hitungan Cardieu, bahwa berkeringat dapat menurunkan tahanan sebesar 3000-2500 ohm. Pada kulit yang lembab karena air atau saline, maka tahanannya turun lebih rendah lagi antara 1200-1500 ohm. Tahanan tubuh terhadap aliran listrik juga akan menurun pada keadaan demam atau adanya pengaruh obat-obatan yang mengakibatkan produksi keringat meningkat. Pertimbangkan tentang transitional resistance, yaitu suatu tahanan yang menyertai akibat adanya bahan-bahan yang berada di antara konduktor dengan tubuh atau antara tubuh dengan bumi, misalnya baju, sarung tangan karet, sepatu karet, dan lain-lain. d. Kuat arus / intensitas /amperage

Adalah kekuatan arus (intensitas arus) yang dapat mendeposit berat tertentu perak dari larutan perak nitrat perdetik. Satuannya : ampere. Arus yang di atas 60 mA dan berlangsung lebih dari 1 detik dapat menimbulkan fibrilasi ventrikel. Berikut ini disajikan sebuah tabel mengenai efek aliran listrik terhadap tubuh : mA 1,0 1,5 2,0 4,0 15,0 40,0 75-100 Efek Sensasi, ambang arus Rasa yang jelas, persepsi arus Tangan mati rasa Parestesia lengan bawah Kontraksi otot-otot fleksor mencegah terlepas dari aliran listrik Kehilangan kesadaran Fibrilasi ventrikel

Dikatakan bahwa kuat arus sebesar 30 mA adalah batas ketahanan seseorang, pada 40 mA dapat menimbulkan hilangnya kesadaran dan kematian akan terjadi pada kuat arus 100 mA atau lebih. e. Adanya hubungan dengan bumi / earthing Sehubungan dengan faktor tahanan, maka orang yang berdiri pada tanah yang basah tanpa alas kaki, akan lebih berbahaya daripada orang yang berdiri dengan mengggunakan alas sepatu yang kering, karena pada keadaan pertama tahanannya rendah. f. Lamanya waktu kontak dengan konduktor Makin lama korban kontak dengan konduktor maka makin banyak jumlah arus yang melalui tubuh sehingga kerusakan tubuh akan bertambah besar & luas. Dengan tegangan yang rendah akan terjadi spasme otot-otot sehingga korban malah menggenggam konduktor. Akibatnya arus listrik akan mengalir lebih lama sehingga korban jatuh dalam keadaan syok yang mematikan Sedangkan pada tegangan tinggi, korban segera terlempar atau melepaskan konduktor atau sumber listrik yang tersentuh, karena akibat arus listrik dengan tegangan tinggi tersebut dapat menyebabkan timbulnya kontraksi otot, termasuk otot yang tersentuh aliran listrik tersebut. g. Aliran arus listrik (path of current)

Adalah tempat-tempat pada tubuh yang dilalui oleh arus listrik sejak masuk sampai meninggalkan tubuh. Letak titik masuk arus listrik (point of entry) & letak titik keluar bervariasi sehingga efek dari arus listrik tersebut bervariasi dari ringan sampai berat. Arus listrik masuk dari sebelah kiri bagiah tubuh lebih berbahaya daripada jika masuk dari sebelah kanan. Bahaya terbesar bisa timbul jika jantung atau otak berada dalam posisi aliran listrik tersebut. Bumi dianggap sebagai kutub negatif. Orang yang tanpa alas kaki lebih berbahaya kalau terkena aliran listrik, alas kaki dapat berfungsi sebagai isolator, terutama yang terbuat dari karet. 4. Sebab Kematian Kebanyakan oleh energi listrik itu sendiri. Sering trauma listrik disertai trauma mekanis. Ada kasus karena listrik yang menyebabkan korban jatuh dari ketinggian, dalam hal ini sukar untuk mencari sebab kematian yang segera. Sebab kematian karena arus listrik yaitu : a. Fibrilasi ventrikel Bergantung pada ukuran badan dan jantung. Dalziel (1961)

memperkirakan pada manusia arus yang mengalir sedikitnya 70 mA dalam waktu 5 detik dari lengan ke tungkai akan menyebabkan fibrilasi. Yang paling berbahaya adalah jika arus listrik masuk ke tubuh melalui tangan kiri dan keluar melalui kaki yang berlawanan/kanan. Kalau arus listrik masuk ke tubuh melalui tangan yang satu dan keluar melalui tangan yang lain maka 60% yang meninggal dunia. b. Paralisis respiratorik Akibat spasme dari otot-otot pernafasan, sehingga korban meninggal karena asfiksia, sehubungan dengan spasme otot-otot karena jantung masih tetap berdenyut sampai timbul kematian. Terjadi bila arus listrik yang memasuki tubuh korban di atas nilai ambang yang membahayakan, tetapi masih di batas bawah yang dapat menimbulkan fibrilasi ventrikel. Menurut Koeppen, spasme otot-otot pernafasan terjadi pada arus 25-80 mA, sedangkan ventrikel fibrilasi terjadi pada arus 75-100 mA. c. Paralisis pusat nafas jika arus listrik masuk melalui pusat di batang otak, disebabkan juga oleh trauma pada pusat-pusat vital di otak yang terjadi koagulasi dan akibat efek hipertermias. Bila aliran listrik diputus, paralisis pusat pernafasan tetap ada,

jantung pun masih berdenyut, oleh karena itu dengan bantuan pernafasan buatan korban masih dapat ditolong. Hal tersebut bisa terjadi jika kepala merupakan jalur arus listrik. 5. Pemeriksaan Korban a. Pemeriksaan korban di Tempat Kejadian Perkara (TKP)

Korban mungkin ditemukan sedang memegang benda yang membuatnya kena listrik, kadang-kadang ada busa pada mulut. Yang perlu dilakukan pertama kali adalah mematikan arus listrik atau menjauhkan kawat listrik dengan kayu kering. Lalu kemudian korban diperiksa apakah hidup atau sudah meninggal dunia. Bilamana belum ada lebam mayat, maka mungkin korban dalam keadaan mati suri dan perlu diberi pertolongan segera yaitu pernafasan buatan dan pijat jantung dan kalau perlu segera dibawa ke Rumah sakit. Pernafasan buatan ini jika dilakukan dengan baik dan benar masih merupakan pengobatan utama untuk korban b. akibat listrik. Usaha pertolongan ini dilakukan sampai korban menunjukkan tanda-tanda hidup atau tanda-tanda kematian pasti. Pemeriksaan Jenazah

a. Pemeriksaan Luar Sangat penting karena justru kelainan yang menyolok adalah kelainan pada kulit. Dalam pemeriksaan luar yang harus dicari adalah tanda-tanda listrik atau current mark/electric mark/stroomerk van jellinek/joule burn. Tanda-tanda listrik tersebut antara lain : 1. Electric mark adalah kelainan yang dapat dijumpai pada tempat dimana listrik masuk ke dalam tubuh. Electric mark berbentuk bundar atau oval dengan bagian yang datar dan rendah di tengah, dikeliilingi oleh kulit yang menimbul. Bagian tersebut biasanya pucat dan kulit diluar elektrik mark akan menunjukkan hiperemis. Bentuk dan ukurannya tergantung dari benda yang berarus lisrtrik yang mengenai tubuh.

Gambar electric mark 2. Joule burn (endogenous burn) dapat terjadi bilamana kontak antara tubuh dengan benda yang mengandung arus listrik cukup lama, dengan demikian bagian tengah yang dangkal dan pucat pada electric mark dapat menjadi hitam hangus terbakar.

Gambar Joule burn 3. Exogenous burn, dapat terjadi bila tubuh manusia terkena benda yang berarus listrik dengan tegangan tinggi, yang memang sudah mengandung panas; misalnya pada tegangan di atas 330 volt. Tubuh korban hangus terbakar dengan kerusakan yang sangat berat, yang tidak jarang disertai patahnya tulang-tulang.

Gambar exogenous burn b. Pemeriksaan Dalam Pada autopsi biasanya tidak ditemukan kelainan yang khas. Pada otak didapatkan perdarahan kecil-kecil dan terutama paling banyak adalah pada daerah ventrikel III dan IV. Organ jantung akan terjadi fibrilasi bila dilalui aliran listrik . Pada paru didapatkan edema dan kongesti. Pada korban yang terkena listrik tegangan tinggi, Custer menemukan pada puncak lobus salah satu paru terbakar, juga ditemukan pneumothorak, hal ini mungkin sekali disebabkan oleh aliran listrik yang melalui paru kanan. Organ viscera menunjukkan kongesti yang merata. Petekie atau perdarahan mukosa gastro intestinal ditemukan pada 1 dari 100 kasus fatal akibat listrik. Pada hati ditemukan lesi yang tidak khas., sedangkan pada tulang, karena tulang mempunyai tahanan listrik yang besar, maka jika ada aliran listrik akan terjadi panas sehingga tulang meleleh dan terbentuklah butiran-butiran kalsium fosfat yang menyerupai mutiara atau pearl like bodies. Otot korban putus akibat perubahan hialin. Perikard, pleura, dan konjungtiva korban terdapat bintik-bintik pendarahan. Pada ekstremitas, pembuluh darah korban mengalami nekrosis dan ruptur lalu terjadi pendarahan kemudian terbentuklah gangren.

c. Pemeriksaan Tambahan

Yang dilakukan adalah pemeriksaan patologi anatomi pada electric mark. Walaupun pemeriksaan itu tidak spesifik untuk tanda kekerasan oleh listrik tetapi sangat menolong untuk menegakkan bahwa korban telah mengalami trauma listrik. Hasil pemeriksaan akan terlihat adanya bagian sel yang memipih, pada pengecatan dengan metoxyl lineosin akan bewarna lebih gelap dari normal. Sel-sel pada stratum korneum menggelembung dan vakum. Sel dan intinya dari stratum basalis menjadi lonjong dan tersusun secara palisade. Ada sel yang mengalami karbonisasi dan ada pula bagian sel-sel yang rusak dari stratum korneum. Folikel rambut dan kelenjar keringat memanjang dan memutar ke arah bagian yang terkena listrik.

Gambaran histologis luka petir 6. Luka Akibat Petir Petir/lightning, adalah muatan listrik statis dalam awan dengan voltase sampai 10 mega volt dan kekuatan arus listrik sampai seratus ribu ampere yang dalam waktu 1/1000-1 detik dilepaskan ke bumi. Seseorang yang disambar petir pada tubuhnya terdapat kelainan yang disebabkan oleh faktor arus listrik, faktor panas dan faktor ledakan: a. Ada 3 efek listrik akibat sambaran petir : Current mark / electrik mark / electrik burn. Efek ini termasuk salah satu tanda utama luka listrik (electrical burn).

Aborescent markings. Tanda ini berupa gambaran seperti pohon gundul tanpa daun akibat terjadinya vasodilatasi vena pada kulit korban sebagai reaksi dari persentuhan antara kulit dengan petir. Tanda ini akan hilang sendiri setelah beberapa jam.

Gambar aborescent marking Magnetisasi. Logam yang terkena sambaran petir akan berubah menjadi magnet. Efek ini juga termasuk salah satu tanda luka listrik (electrical burn). b. Ada 2 efek panas akibat sambaran petir : Luka bakar sampai hangus. Rambut, pakaian, sepatu bahkan seluruh Metalisasi. Logam yang dikenakan korban akan meleleh seperti tubuh korban dapat terbakar atau hangus. perhiasan dan komponen arloji. Arloji korban akan berhenti dimana tanda ini dapat kita gunakan untuk menentukan saat kematian korban. Efek ini juga termasuk salah satu tanda luka listrik (electrical burn).

Gambar metalisasi

c. Efek ledakan: Efek ledakan akibat sambaran petir (lightning / eliksem) terjadi akibat perpindahan volume udara yang cepat & ekstrim. Setelah kilat menyambar, udara setempat menjadi vakum lalu terisi oleh udara kembali sehingga menimbulkan suara menggelegar/ledakan. Akibat pemindahan udara ini, pakaian korban koyak, korban terlontar sehingga terdapat luka akibat persentuhan dengan benda tumpul, misalnya abrasi, kontusi, patah tulang tengkorak, epidural/subdural bleeding. 7. Aspek Medikolegal Kematian oleh arus listrik biasanya tidak disengaja dari peralatan listrik rusak atau kelalaian dalam penggunaan peralatan. Dalam industri, kematian dapat dihasilkan dari kontak dengan kabel yang berarus, atau dari alat-alat penerangan, alat-alat elektronik, ataupun saklar-saklar. Kematian dapat terjadi selama terapi kejang untuk pasien dengan gangguan jiwa namun kasus tersebut jarang, kecuali sebagai kasus bunuh diri, dan bahkan pembunuhan telah terjadi. Organ dalam harus dianalisis untuk mengetahui apakah korban telah rusak pada saat kecelakaan. Bunuh diri jarang terjadi. Orang biasanya menggulung kawat ke pergelangan tangan atau jari-jarinya, yang kemudian dihubungkan ke arus listrik, dimana saklar terlihat dalam posisi on.

Kurang dari setengah korban sambaran petir meninggal. Mati akibat petir adalah selalu akibat dari kecelakaan. Kadang-kadang, mayat korban luka petir terlihat sebagai korban kekerasan. Korban tersebut dapat ditemukan di lapangan terbuka dengan gambaran memar, luka robek, dan fraktur. Pada kasus ini, diagnosis harus ditegakkan berdasarkan riwayat badai petir di wilayah lokal tersebut, bukti adanya efek dari sambaran petir, dan magnetisasi terhadab bahan logam.

TRAUMA TUMPUL Trauma atau kecelakaan merupakan hal yang sering dijumpai dalam kasus forensik. Hasil dari trauma atau kecelakaan adalah luka, perdarahan, skar atau hambatan dalam fungsi organ. Agen penyebab trauma dapat diklasifikasikan dalam beberapa cara, antara lain akibat kekuatan mekanik, aksi suhu, agen kimia, agen elektromagnet, asfiksia dan trauma emboli. Dalam prakteknya seringkali terdapat kombinasi trauma yang disebabkan oleh satu jenis penyebab, sehingga klasifikasi trauma ditentukan oleh alat penyebab dan usaha yang menyebabkan trauma. Dan dalam pembahasan referat ini akan dipaparkan mengenai trauma yang diakibatkan oleh benda tumpul. Trauma atau luka mekanik terjadi karena alat atau senjata dalam berbagai bentuk, alami atau dibuat manusia. Senjata atau alat yang dibuat manusia seperti kampak, pisau, panah, martil dan lain-lain. Bila ditelusuri, benda-benda ini telah ada sejak zaman pra sejarah dalam usaha manusia mempertahankan hidup sampai dengan pembuatan senjata-senjata masa kini seperti senjata api, bom dan senjata penghancur lainnya. Akibat pada tubuh dapat dibedakan dari penyebabnya. Benda tumpul yang sering mengakibatkan luka antara lain adalah batu, besi, sepatu, tinju, lantai, jalan dan lain-lain. Adapun definisi dari benda tumpul itu sendiri adalah : 1. Tidak bermata tajam 2. Konsistensi keras / kenyal 3. Permukaan halus / kasar.(1) Kekerasan tumpul dapat terjadi karena 2 sebab yaitu alat atau senjata yang mengenai atau melukai orang yang relatif tidak bergerak dan yang lain orang bergerak

ke arah objek atau alat yang tidak bergerak. Dalam bidang medikolegal kadang-kadang hal ini perlu dijelaskan, walaupun terkadang sulit dipastikan.

Luka Akibat Trauma Tumpul Variasi mekanisme terjadinya trauma tumpul adalah: 1. Benda tumpul yang bergerak pada korban yang diam. 2. Korban yang bergerak pada benda tumpul yang diam. Sekilas nampak sama dalam hasil lukanya namun jika diperhatikan lebih lanjut terdapat perbedaan hasil pada kedua mekanisme itu. Organ atau jaringan pada tubuh mempunyai beberapa cara menahan kerusakan yang disebabkan objek atau alat, daya tahan tersebut menimbulkan berbagai tipe luka yakni: 1. Luka lecet (abrasi) 2. Luka memar 3. Luka robek 4. Cedera kepala. 1. Luka lecet (abrasi) Luka lecet adalah luka yang superficial, kerusakan tubuh terbatas hanya pada lapisan kulit yang paling luar/kulit ari. Walaupun kerusakan yang ditimbulkan minimal sekali, luka lecet mempunyai arti penting dalam ilmu kedokteran kehakiman, oleh karena dari luka tersebut dapat memberikan banyak petunjuk dalam banyak hal. Manfaat interpretasi luka lecet ditinjau dari aspek medikolegal seringkali diremehkan. Padahal pemeriksaan luka lecet yang diteliti disertai pemeriksaan di TKP dapat mengungkapkan peristiwa yang sebenarnya terjadi. Sesuai dengan mekanisme terjadinya, luka lecet dapat diklasifikasi sebagai luka lecet gores, luka lecet serut, luka lecet tekan, dan luka lecet geser. 2. Luka Memar (Hematom) Luka memar adalah suatu perdarahan dalam jaringan bawah kulit akibat pecahnya kapiler dan vena yang disebabkan oleh kekerasan benda tumpul. Luka memar kadangkala member petunjuk tentang bentuk benda penyebabnya. Letak, bentuk dan luas luka memar dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kekerasan, jenis benda penyebab, kondisi dan jenis jaringan, usia, jenis kelamin, corak dan warna kulit, kerapuhan pembuluh darah, penyakit.

3. Luka Robek (Laserasi) Luka robek (laserasi) merupakan luka terbuka akibat trauma benda tumpul, yang menyebabkan kulit terengang kesatu arah dan bila batas elastisitas kulit terlampaui, maka akan terjadi robekan pada kulit. Luka ini mempunyai cirri bentuk luka yang umumnya tidak beraturan, tepi atau dinding tidak rata, tampak jembatan jaringan antara kedua tepi luka, bentuk dasar luka tidak beraturan, sering tampak luka lecet atau luka memar di sisi luka. Perkiraan kejadian saat kejadian pada luka laserasi sulit ditentukan tidak seperti luka atau memar. Pembagiannya adalah sangat segera, beberapa hari, dan lebih dari beberapa hari. Laserasi yang terjadi setelah mati dapat dibedakan dengan yang terjadi saat korban hidup yaitu tidak adanya perdarahan. Luka karena kererasan tumpul dapat berebentuk salah satu atau kombinasi dari luka memar, luka lecet, luka robek, patah tulang atau luka tekan. 4. Cedera Kepala Tulang tengkorak yang tidak terlindung oleh kulit hanya mampu menahan benturan sampai 40 pound/inch2, tetapi bila terlindung oleh kulit maka dapat menahan sampai 425.900 pound/inchi. Selain kelainan pada kulit kepala dan patah tulang tengkorak, cidera kepala dapat pula mengakibatkan perdarahan dalam rongga tengkorak berupa perdarahan epidural, subdural da subarachnoid, kerusakan selaput otak dan jaringan otak. a. Perdarahan Epidural Epidural hematom adalah salah satu jenis perdarahan intracranial yang paling sering terjadi karena fraktur tulang tengkorak. Otak di tutupi olek tulang tengkorak yang kaku dan keras. Epidural hematom terjadi 1-2% dari semua kasus trauma kepala dan kira-kira 10 % diantaranya mengalami koma. Dilaporkan angka kematian dari 5 43%. Kasus ini sering terjadi umur 5 tahun dan umur 55 tahun. Pasien yang lebih muda dari 20 tahun terhitung 60 % terjadi epidural hematom. Pada hematom epidural, perdarahan terjadi di antara tulang tengkorak dan dura meter. Perdarahan ini lebih sering terjadi di daerah temporal bila salah satu cabang arteria meningea media robek. Robekan ini sering terjadi bila fraktur tulang tengkorak di daerah bersangkutan. Hematoma yang membesar di daerah temporal menyebabkan tekanan pada lobus temporalis otak kearah bawah dan dalam. Tekanan ini menyebabkan bagian medial lobus mengalami herniasi di bawah

pinggiran tentorium. Dengan makin membesarnya hematoma, maka seluruh isi otak akan terdorong kearah yang berlawanan, menyebabkan tekanan intracranial yang besar. Timbul tanda-tanda lanjut peningkatan tekanan intracranial antara lain kekakuan deserebrasi dan gangguan tanda-tanda vital dan fungsi pernafasan.

b.

Perdarahan Subdural

Perdarahan subdural terjadi antara duramater dan arachnoid, yang secara umum terjadi karena cidera otak secara mekanik dan merupakan angka kematian tertinggi. Sering terjadi pada alkoholik. Perdarahan ini timbul apabila terjadi bridging vein yang pecah dan darah berkumpul di ruang subdural. Perdarahan ini juga dapat menyebabkan kompresi pada otak yang terletak di bawahnya. Karena perdarahan yang timbul berlangsung perlahan, maka lucid interval juga lebih lama dibandingkan perdarahan epidural, berkisar dari beberapa jam sampai beberapa hari. Jumlah perdarahan pada ruang ini berkisar dibawah 120 cc, sehingga tidak menyebabkan perdarahan subdural yang fatal. c. Perdarahan subarachnoid perdarahan karena : di bawah selaput laba laba otak. Dapat Trauma, penyakit/spontan seperti pecahnya aneurysma Merupakan diakibatkan

circulus willisi. Arteri yang lemah dan membengkak seperti pada aneurisma, sangat rapuh dindingnya dibandingkan arteri yang normal. Akibatnya, trauma yang ringan pun dapat menyebabkan ruptur pada aneurisma yang mengakibatkan banjirnya ruang subarakhnoid dengan darah dan akhirnya menimbulkan disfungsi yang serius atau bahkan kematian. Perdarahan subarakhnoid ringan yang terlokalisir dihasilkan dari tekanan terhadap kepala yang disertai goncangan pada otak dan penutupnya yang ada di dalam tengkorak. Tekanan dan goncangan ini menyebabkan robeknya pembuluh-pembuluh darah kecil pada lapisan subarakhnoid, dan umumnya bukan merupakan perdarahan yang berat. Apabila tidak ditemukan faktor pemberat lain seperti kemampuan pembekuan darah yang

buruk, perdarahan ini dapat menceritakan atau mengungkapkan tekanan trauma yang terjadi pada kepala. Coup dan Contre coup Lesi otak tidak selalu terjadi hanya pada daerah benturan (coup) tetapi dapat pula terjadi diseberang titik benturan (contre coup). Contre coup hanya dapat terjadi bila kepala bergerak atau kepala dapat bebas bergerak waktu terjadi persentuhan. Antara otak dan tengkorak terdapat cairan cerbrospinal. Berat jenis otak lebih besar daripada berat jenis cairan cerebrospinal. Mekanisme terjadinya contre coup dapat dijelaskan sebagai berikut: Bila kepala mengalami gerak percepatan, karena adanya dorongan cairan cerebrospinal otak akan bergerak dan menempel pada sisi tengkorak yang berlawanan dengan arah gerakan kepala dan waktu kepala menyentuh rintangan terjadi oskilasi pada otak. Kerusakan terberat karena oskilasi itu terjadi di tempat otak menempel pada tengkorak. Pola trauma banyak macamnya dan dapat bercerita pada pemeriksa medikolegal. Kadangkala sukar dikenali, bukan karena korban tidak diperiksa, namun karena pemeriksa cenderung memeriksa area per area, dan gagal mengenali polanya. Foto korban dari depan maupun belakang cukup berguna untuk menetukan pola trauma. Persiapan diagram tubuh yang memperlihatkan grafik lokasi dan penyebab trauma adalah latihan yang yang baik untuk mengungkapkan pola trauma.

D. PEMBAHASAN
Pada pemeriksaan luar mayat, hal pertama yang dapat dinilai adalah saat kematian. Hasil pemeriksaan didapatkan Kaku mayat seluruh badan, sukar dilawan, lebam mayat pada muka, leher, punggung, tidak hilang pada penekanan, sudah mulai ada tanda-tanda pembusukan. Baik lebam mayat maupun kaku mayat merupakan tanda pasti kematian. Lebam mayat sendiri adalah hal yang terjadi setelah kematian dimana eritrosit akan menempati tempat terbawah akibat gaya tarik bumi (gravitasi), mengisi vena dan venula, membentuk bercak warna merah ungu (livide) pada bagian terbawah tubuh, kecuali bagian tubuh yang tertekan alas keras. Darah tetap cair karena adanya aktivitas

fibrinolisin yang berasal dari endotel pembuluh darah. Lebam mayat biasanya mulai tampak 20-30 menit pasca mati, makin lama intensitasnya bertambah dan menjadi lengkap dan menetap selama 8-12 jam. Menetapnya lebam mayat disebabkan oleh tertimbunnya sel-sel darah dalam jumlah cukup banyak sehingga sulit berpindah lagi. Penekanan pada daerah lebam mayat yang dilakukan setelah 8-12 jam tersebut tidak akan menghilang. Tidak hilangnya lebam mayat tersebut dikarenakan telah terjadi perembesan darah akibat rusaknya pembuluh darah ke dalam jaringan di sekitar pembuluh darah tersebut. Kaku mayat sendiri terjadi akibat kelenturan otot yang menghilang setelah kematian karena metabolisme tingkat selular sudah tidak ada lagi khususnya dalam pemecahan cadangan glikogen otot yang menghasilkan energi untuk mengubah ADP menjadi ATP yang dipakai oleh serabut aktin dan miosin agar tetap lentur. Pada orang yang telah mati, cadangan glikogen dalam otot lama kelamaan akan habis dan energi tidak terbentuk lagi, sehingga aktin dan miosin menggumpal dan otot menjadi kaku. Kaku mayat ini mulai tampak kira-kira 2 jam setelah mati klinis, dimulai dari bagian luar tubuh (otot-otot kecil) ke arah dalam (sentripetal). Kaku mayat mulai terdapat sekitar 2 jam post mortal dan mencapai puncaknya setelah 10-12 jam post mortal, keadaan ini akan menetap selama 24 jam dan setelah 24 jam kaku mayat mulai menghilang sesuai dengan urutan terjadinya yaitu dimulai dari otot wajah, leher, lengan, dada, perut dan tungkai. Pembusukan adalah suatu proses dari perkembangan post mortem. Pembusukan merupakan hasil dari autolisis dan aktivitas mikroorganisme. Autolisis adalah perlunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam keadaan steril melalui proses kimia yang disebabkan oleh enzim-enzim intraseluler, sehingga organ-organ yang kaya dengan enzim-enzim akan mengalami proses autolisis lebih cepat daripada organ-organ yang tidak memiliki enzim, dengan demikian pancreas akan mengalami autolisis lebih cepat dari pada jantung. Tanda pertama pembusukan baru dapat dilihat kira-kira 24-48 jam pasca mati berupa warna kehijauan pada dinding abdomen bagian bawah, lebih sering pada fosa iliaka kanan dimana isinya lebih cair, mengandung lebih banyak bakteri dan letaknya yang lebih superficial. Berdasarkan ilmu thanatologi, dapat disimpulkan bahwa kematian telah terjadi lebih dari 24 jam karena didapatkannya lebam mayat yang tidak hilang dengan penekanan, kaku mayat pada seluruh tubuh dan ditemukannya tanda-tanda pembusukan awal.

Pada kedua mata didapatkan kedua kelopak mata menutup, bola mata tidak menonjol, selaput bening (kornea) keruh, selaput putih (sklera) kemerahan, selaput lendir mata (konjungtiva) tidak ada perdarahan. Pengeringan dari kornea yang akan menyebabkan kekeruhan akan tampak beberapa menit setelah kematian. Jika mata dalam keadaan terbuka, kekeruhan pada kornea secara keseluruhan dan tampak jelas dalam waktu 10-20 menit setelah kematian. Kekeruhan yang menyeluruh pada kornea yang terjadi 10-12 jam setelah kematian tersebut tidak dapat dihilangkan dengan air, lain halnya dengan kekeruhan yang segera terjadi setelah kematian. Pada pemeriksaan luar pada mulut dan lubang pelepasan di temukan keluar cairan warna coklat dari mulut dan kotoran (feses) dari lubang pelepasan (anus). Hal ini menunjukkan terjadi relaksasi pada otot spingter pada anus dan lambung yang di sebabkan karena gangguan kontraksi- relaksasi akibat masuknya aliran listrik dari luar. Pada leher terdapat luka memar, sebesar kepala jarum pentul pada bahu kiri dua sentimeter dari bahu kanan. Pada pinggang terdapat luka memar ukuran dua kali dua sentimeter, pada pinggang sebelah kiri warna ungu kehitaman, lokasi tujuh belas sentimeter di sebelah kiri bawah pusat. Perlukaan tersebut sesuai dengan perlukaan yang diakibatkan oleh benda tumpul. Pada ektremitas terdapat luka listrik pada jari ketiga, keempat dan kelima tangan kiri, ketiganya pada ruas jari tengah (kulit terkelupas warna putih, terdapat bintik hitam di tengah luka dan sekitar luka membengkak). Ukuran luka: pada jari ketiga nol koma lima kali nol koma lima sentimeter, jari keempat satu kali nol koma lima sentimeter, dan jari kelima nol koma lima kali nol koma lima sentimeter. Hal ini merupakan Joule burn (endogenous burn) yang di temukan pada pemeriksaan luar trauma listrik. Hal ini dapat terjadi bilamana kontak antara tubuh dengan benda yang mengandung arus listrik cukup lama, dengan demikian bagian tengah yang dangkal dan pucat pada electric mark dapat menjadi hitam hangus terbakar. Electric mark adalah kelainan yang dapat dijumpai pada tempat dimana listrik masuk ke dalam tubuh. Bentuk dan ukurannya tergantung dari benda yang berarus lisrtrik yang mengenai tubuh. Pada pemeriksaan mikroskopis paru-paru kiri dan kanan, diantara alveoli-alveoli tampak pembuluh darah melebar dan berisi eritrosit, alveoli juga tampak melebar dan terdapat bintik-bintik antrakosis. Pada pemeriksaan mikroskopis pada hati, tampak vena sentralis melebar berisi eritrosit, sinusoid juga berisi eritrosit dan terdapat degenerasi lemak. Pemeriksaan mikroskopis pada limpa tampak diantara stroma terisi eritrosit. Pemeriksaan mikroskopis ginjal kanan tampak pembuluh darah-pembuluh darah

melebar berisi eritrosit. Terdapat warna kehitaman pada bagian depan ginjal kiri, ukuran lima kali tiga setengah sentimeter. Hal tersebut menunjukkan adanya kongesti yang merata pada organ visceral akibat masuknya aliran listrik. Pada pemeriksaan mikroskopis jantung pada bilik kiri dan kanan tampak gambaran sel-sel otot jantung yang patah-patah (reksis). Hal ini dapat menerangkan penyebab kematian diakibatkan karena kegagalan fungsi jantung akibat aliran listrik, ditunjukkan oleh gambaran otot jantung yang rusak. Yang paling sering menjadi penyebab kematian adalah fibrilasi ventrikel, apalagi pada pasien ini di temukan aliran masuk listrik berasal dari tangan kiri yang posisinya dekat dengan jantung dan mudah mengganggu sistem konduksi kelistrikan jantung. Pada kulit kepala dalam terdapat hematoma pada bagian depan kanan ukuran tiga kali dua setengah sentimeter, bagian belakang kiri tiga koma lima kali empat sentimeter, dan bagian belakang kanan empat kali empat sentimeter dan terdapat bintik-bintik perdarahan di seluruh kulit kepala dalam. Pada selaput otak keras ada bercak-bercak perdarahan, bekuan darah di bawah selaput otak keras seluas tiga belas kali enam sentimeter dan perlengketan sepanjang enam sentimeter pada otak bagian kiri dan delapan sentimeter pada tepi atas otak kanan. Pada pemeriksaan mikroskopis di antara sel-sel otak besar tampak perdarahan-perdarahan, terdapat bagian yang nekrose, dan tampak sebagian pembuluh darah melebar berisi eritrosit. Perdarahan tersebut merupakan perdarahan subdural(perdarahan di bawah selaput keras otak) yang di akibatkan oleh trauma. Perdarahan ini dapat mengungkapkan tekanan trauma yang terjadi pada kepala yang mengakibatkan disfungsi serius dan berakibat pada kematian.

DAFTAR PUSTAKA 1. Price D. Epidural Hematoma. [online]. 2009. [7 Februari 2010]. Available from:URL . http://cintalestari.wordpress.com/2009/11/22/trauma-tumpul/

2.

Dimaio VJ, Dimaio D. Blunt Trauma Wounds. In: Forensic Pathology. 2nd Edition. USA: CRC Press. 2001. P. 110.

3.

Idris AM. Kecelakaan transportasi. Dalam: Pedoman Ilmu Forensik. Jakarta: Binarupa Aksara: 1997. Hal. 91-92.

4.

Para penyusun. Traumatologi Forensik. dalam: Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: FK-UI. 1997. Hlm.37-40.

5.

Hariadi A. Luka Akibat Benda Tumpul. [online]. 2009. [7 Februari 2010]. Available from:URL http://idmgarut.wordpress.com/2009/02/02/referat-epidural-hematoma/

6.

Price DD,

Wilson SR. Epidural Hematoma. [online]. 2009. [7 Februari 2010].

Available from:URL . http://emedicine.medscape.com/article/824029-overview

7.

Oehmichen M, Auer RN, Konig H.G. Injuries of the brain`s Coverings. In: Forensic Neuropathology end Neurology. Germany: Springer Verlag. 2005. P.126.

8.

Idries, Abdul Munim. Aksara. 1997

Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bina Rupa

9.

Budiyanto, A., Widiatamaka, W., Sudiono, S. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1997

10. Tsokos, Michael. Forensic Pathology Reviews. Volume 5. Humana Press.

11. Rao, Dinesh. Electrical Injury. Dikutip dari:

http://forensicpathologyonline.com/index.php? option=com_content&view=article&id=61&Itemid=87 [diakses tanggal 10 juni 2011]

Library Manager Date Signature

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN JULI 2011 PRO JUSTITIA VISUM ET REPERTUM KS 04/VR/1999

Oleh: Aksimitayani C 111 06 151

Penguji: Prof. Dr. Randanan Bandaso, Sp. PA (K), MSc, SPAnd, DFM DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK DI BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2011