Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH ILMU SOSIAL DASAR

DI SUSUN OLEH:

Nama : DEA DAMARA HIDYA NPM : 11111772 KELAS : 1KA40

PROGRAM SISTEM INFORMASI UNIVERSITAS GUNADARMA KAMPUS J KALIMALANG

MAKALAH ILMU SOSIAL DASAR

URBANISASI PASCA LEBARAN


DISUSUN OLEH:

DEA DAMARA HIDYA NPM : 11111772 Kelas : 1 KA40 Mata Kuliah : ILMU SOSIAL DASAR Dosen : MUHAMMAD BURHAN AMIN Topik Tugas : URBANISASI PASCA LEBARAN Penyerahan Tugas : 13 Oktober 2011

PERNYATAAN Dengan ini Saya menyatakan bahwa seluruh pekerjaan dalam tugas ini Saya buat sendiri tanpa meniru dari pihak lain, hanya saja ada beberapa kutipan yang Saya ambil buat di jadikan bahan Referensi. Apabila terbukti tidak benar, Saya siap menerima segala konsekuensi untuk mendapat nilai 1/100 untuk mata kuliah ini.

Penyusun: Nama Lengkap DEA DAMARA HIDYA NPM 11111772 Tanda tangan

PROGRAM SARJANA S1 Sistem Informasi UNIVERSITAS GUNADARMA

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat ALLAH SWT, TUHAN Yang Maha Esa yang telah memberikan petunjuk dan kekuatanNya sehingga Penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul Urbanisasi Pasca Lebaran. Makalah ini dibuat untuk memberikan pengetahuan kepada pembaca tentang urbanisasi dan cara penyelesaiannya. Agar para pembaca bisa menyadari ada kelebihan dan kekurangan jika berurbanisasi. Dalam makalah ini penulis menyajikan tentang fenomena urbanisasi di kota kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Batam, dan kota kota besar lainnya. Tetapi akan di fokuskan ke jakarta karena di sini tingkat urbanisasinya lebih tinggi dibanding kota kota lain. Dalam makalah ini juga terdapat sisi positif, sisi negatif, peluang dan ancaman dari urbanisasi yang dikemas dengan menggunakan analisis SWOT. Analisa ini terbagi atas empat komponen dasar yaitu:
1. S = Strength (kekuatan), adalah situasi atau kondisi yang merupakan kekuatan dari organisasi atau materi yang sekarang ini yaitu urbansasi pasca lebaran. 2. W = Weakness (kelemahan), adalah situasi atau kondisi yang merupakan kelemahan dari organisasi atau program pada saat ini. 3. O = Opportunity (kesempatan), adalah situasi atau kondisi yang merupakan peluang di luar organisasi dan memberikan peluang berkembangbag organisasi di masadepan. 4. T =Threat (ancaman), adalah situasi yang merupakan ancaman bagi organisasi yang datang dari luar organisasi dan dapat mengancam eksistensi organisasi di masa depan Dalam bab terakhir penulis juga membuat

sebuah solusi agar laju urbanisasi dapat terkontrol serta bagaimana membuat urbanisasi membawa dampak positif bagi kemajuan suatu daerah. Penulis menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun guna meningkatkan dan perbaikan dalam menyusun makalah dimasa mendatang.

Jakarta, Oktober 2011

PENULIS

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DATAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG 1.2. TUJUAN 1.3. SASARAN BAB II PERMASALAHAN 2.1. KEKUATAN URBANISASI 2.2. KELEMAHAN URBANISASI 2.3 PELUANG 2.4. TANTANGAN 2.5. SOLUSI BAB III PENUTUP 3.1. KESIMPULAN 3.2. REKOMENDASI 3.3. REFERENSI

i ii 1 1 2 2 3 3 3 4 5 5 6 6 6 6

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Pembuatan makalah yang berjudul urbanisasi pasca lebaran ini adalah disusun untuk mengungkap banyaknya masalah atau persoalan yang terjadi di dalam masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan laju urbanisasi, yang belakangan ini angkanya cukup tinggi apalagi ketika dikaitkan dengan moment-moment hari besar terutama paska lebaran. Ibukota Jakarta masih menjadi tempat favorit bagi pendatang demi mengadu nasib. Padahal, keruwetan lalulintas, polusi udara yang kian mengerikan, problem sosial, kriminalitas, dan berbagai persoalan lain, menjadi trademark yang melekat pada Jakarta. Namun tetap saja, ibukota negara ini masih memikat banyak orang, bersamaan terjadinya arus balik mudik Lebaran dengan harapan ingin memperbaiki kehidupan. Urbanisasi memang bukanlah termasuk tindakan yang melanggar aturan. Merujuk bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang memang membebaskan persebaran warganya. Karena itu adalah hak setiap warga untuk mencari penghidupan yang layak dimanapun tempatnya (pasal 27 ayat 2). Akan tetapi yang jadi masalah adalah jika urbanisasi ini dihadapkan pada sebuah realitas, yakni menumpuknya konsentrasi migrasi pada beberapa kota tertentu. Akibatnya nampak terlihat sekarang ini (daerah paling parah di DKI Jakarta), kondisi kota sudah tidak mampu lagi menampung jumlah penduduknya (oversize people). Apalagi jika frekuensi urbanisasi kian tahun semakin bertambah. Sebagai contoh Provinsi DKI Jakarta yang kedatangan pendatang baru rata-rata 200.000-250.00 ribu jiwa pertahunnya, padahal kebutuhan 8,7 juta warganya (13,2 juta versi PBB) belum sepenuhnya bisa dipenuhi Pemprov DKI Jakarta, seperti perumahan, air minum, pekerjaan, pendidikan, dan kesehatan. Berdasarkan data dari Dukcapil DKI Jakarta, jumlah pendatang baru pasca Lebaran ke DKI Jakarta dalam kerangka urbanisasi pada dasarnya menunjukkan trend menurun. Pada 2003 (204.830), 2004 (190.356), 2005 (180.767), 2006 (124.427), 2007 (109.617), 2008 (88.473), 2009 (69.554), 2010 (59.215). Prediksi pada 2011 akan berkurang sekitar 15 persen, sehingga pendatang baru diprediksi sekitar 50.000 orang( Sumber : Suku Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Administrasi ). Untuk pengendalian mobilitas penduduk, Pemprov DKI Jakarta tetap akan melakukan OYK (Operasi Yustisi Kependudukan) serentak di DKI Jakarta. Sasarannya OYK terutama rumah kost, kontrakan, pemukiman padat sebagai sarangnya pendatang baru, daerah industri rumah tangga dan apartemen.

1.2. TUJUAN Kota kota besar adalah tujuan mereka. Utamanya yang dekat dengan pusat pusat keramaian seperti terminal, stasiun, pelabuhan, pusat kota dan kawasan industri. Karena di tempat tempat itu banyak peluang yang dapat dijadian sumber mata uang. Kota merupakan pusat pemerintahan, pusat industri dan perdagangan yang menyerap banyak tenaga kerja. Maka di tempat yang berpeluang untuk menghasilkan uang pasti akan banyak dicari orang. Banyak atau mungkin juga sebagian besar orang menganggap bahwa alasan ekonomi lah yang menjadi faktor penyebab mengapa orang berbondong - bondong datang ke DKI Jakarta. Bagi beberapa orang mungkin iya, tetapi ada alasan lain yang lebih patut lagi diselami. Jakarta memang menjadi kota prestisius untuk dijadikan tempat berdomisili. Kita sudah selayaknya bertanya tentang motiv sebenarnya orang ngotot datang ke Jakarta. Ini bukan hanya berkaitan dengan upaya pemenuhan tuntutan ekonomi dan perbaikan taraf hidup, tetapi juga berkaitan dengan pola pikir dan gaya hidup. Berbicara tentang peluang ekonomi di daerah yang selalu dikaitkan dengan isu pemerataan pembangunan, saat ini kebijakan otonomi daerah telah mendukung upaya itu. Setiap daerah telah diberi tanggung jawab dan kewenangan dalam mengembangkan potensi di daerah masing masing secara mandiri. Di setiap daerah juga telah banyak program yang menunjang pertumbuhan perekonomian berbasis kerakyatan. Rasanya sudah tidak relevan lagi jika persoalan ekonomi yang berpangkal dari tidak meratanya pembangunan antara pusat dan daerah sebagai alasan urbanisasi musiman ini terus berlangsung. Ini persoalan pola pikir dan gaya hidup!

1.3. SASARAN Kebanyakan masyarakat desa berasumsi bahwa bekerja di kota akan dapat meningkatkan taraf hidupnya. Disamping penghasilan yang lebih dibanding di desa, dari pengalaman para perantau yang terdahulu mereka bias semakin berantusian untuk bermigrasi ke kota. Mereka akan semakin yakin jika ada salah satu dari mereka telah mencoba mengadukan nasibnya merantau menuju ke tempat yang jauh dari tempat tinggal aslinya untuk mencai kehidupan yang lebih layak. Mereka dengan segudang pengalamannya telah menarik perhatian yang lain untuk menjadi sepertinya. Tinggal dan beralamat di jakarta selalu merepresentasikan status sosial seseoarang di kampung halamannya sebagai orang hebat. Pola pikir seperti ini turut menyumbang opini penguat bagi banyak orang untuk mati - matian datang dan menjalani hidup di Jakarta. Sengsara sekalipun, tak apa!!!

BAB II PERMASALAHAN

2.1. KEKUATAN Sebagai mana kita ketahui bahwa tujuan urbanisasi ialah untuk meningkatkan taraf hidup bagi mereka yang melakukan urbanisasi. Dari hal itu jelas, bahwa urbanisasi dapat mengubah kehidupan seseoang. Meningkatkan peluang mereka untuk mendapat penghidupan yang lebih layak. Urbanisasi pada tingkatan tertentu dari sisi ekonomi justru akan menguntungkan kota tujuan urbanisasi. Bagi kota tujuan urbanisasi, manfaat yang dapat diperoleh antara lain adalah terpenuhinya jumlah sumberdaya manusia sebagai tenaga kerja yang memadai untuk mendukung pembangunan daerah, dan meningkatnya pendapatan daerah dengan tingginya aktivitas ekonomi dari para migrant. Faktor yang menyebabkan mengapa urbanisasi begitu tinggi hingga tak terkontrol. Salah satunya adalah dari peninggalan kebijakan zaman orde baru yang masih menyisakan masalah hingga saat ini. Paradigma sentralisasi pemerintahan dan pembangunan ekonomi terpusat adalah hal yang menjadi faktor pendorong terjadinya urbanisasi dengan konsentrasi migrasi dan jumlah migran yang tidak sehat. Beberapa faktor yang menjadi kekuatan masyarakat pada umumnya saat berurbanisasi, yaitu: Tenaga kerja yang terdidik akan membawa urbanisasi ke arah yang positif Peluang untuk memperoleh penghidupan yang lebih layak Di kota lowongan pekerjaan lebih mudah didapat 2.2. KELEMAHAN 1. Banyak yang melakukan Urbanisasi tanpa persiapan yang matang. Jika kita lihat di beberapa media massa, tiap tahunnya ribuan orang datang ke kota-kota besar seperti jakarta melakukan kegiatan urbanisasi setelah lebaran, tapi, satu yang menjadi permasalahan yang cukup serius ialah, mayoritas dari mereka datang tanpa memiliki modal kerja yang cukup. Mereka datang hanya dengan modal nekat untuk mengadu nasib di kota. Sehingga hal tersebut justru malah mempersulit mereka di kota. 2. Informasi yang mereka dapatkan dari desa tidak lengkap. Selain tanpa pengalaman kerja yang cukup, merekapun mayoritas datang ke kota-kota besar hanya dengan informasi yang sangat minim, mereka hanya mendengar informasi dari beberapa temannya, atau bahkan hanya sekedar cerita dari orang lain tentang kota-kota besar

yang akan menjadi tujuan urbanisasi mereka. Tapa mereka sadar betapa kerasnya untuk bisa bertahan hidup di Jakarta. Mereka terlalu asik mendengarkan cerita dari orang-orang yang beruntung di Jakarta tanpa memperhatikan orang-orang yang hanya menghuni kolong-kolong jembatan. 3. Padatnya Punduduk kota setelah urbanisasi Telah kita ketahui bersama, bahwa pada saat seminggu setelah lebaran, suasana kota-kota besar seperti Jakarta khususnya, mulai penuh sesak oleh para kaum urban yang kembali ke Jakarta setelah mereka mudik lebaran ditambah pendatang baru yang jumlahnya sangat banyak. Tentu hal tersebut menjadi suatu masalah yang cukup rumit dihadapi pihak kependudukan Jakarta yang kita jadikan sebagai contoh tujuan urbanisasi. Hal tersebut dikarenakan mayoritas pendatang baru tersebut tidak memiliki tempat tinggal sewaktu baru sampai di Jakarta. Selain itu, merekapun belum memiliki kartu penduduk atau belum terdata sebagai warga Jakarta, sehingga hal tersebut berpotensi memperburuk Nasib mereka selama di di Jakarta. 2.3 PELUANG Arus mudik setelah lebaran tentu menjadi peluang yang sangat manis bagi mereka yang ingin berurbanisasi. Pasalnya banyak dari mereka yang setelah mudik membawa temannya untuk bersama-sama mengadu nasib di kota, disamping banyak dari mereka yang berurbanisasi sendiri, artinya tanpa ajakan teman. Dibandingkan hari-hari lain, peluang urbanisasi memang dirasakan lebih banyak terjadi pada saat pasca lebaran. Selain itu, telah kita ketahui bahwa masyarakat yang melakukan urbanisasi umumnya mencari daerah perkotaan yang memiliki banyak lapangan pekerjaan, sehingga membuka peluang bagi mereka untuk dapat memperoleh pekerjaan. Tidak dapat dipungkiri bahwa peluang mendapat pekerjaan di kota memang lebih besar karena umumnya daerah perkotaan menjadi pusat perindustrian. Beberapa keuntungan dari Urbanisasi adalah : 1. Memoderenisasikan warga desa 2. Menambah pengetahuan warga desa 3. Menjalin kerja sama yang baik antarwarga suatu daerah 4. Mengimbangi masyarakat kota dengan masyarakat desa

2.4. TANTANGAN Para pendatang baru yang tidak siap bekal baik pendidikan maupun keterampilan akan hidup menggelandang sehingga menambah daftar kemiskinan. Hal-hal inilah yang menyebabkan sehingga kehidupan kota semakin rawan kejahatan (kriminalitas). Maka tak heran jika tingkat kriminalitas di kota berbanding lurus dengan tingkat kepadatan penduduknya. Akan tetapi jika dikelola dengan baik, pemerintah tidak seharusnya fobia dengan urbanisasi, karena gelombang urbanisasi ini juga memiliki dampak positif bagi kehidupan kita. Diantara manfaat dari urbanisasi adalah bisa memodernisasi masyarakat desa. Mereka yang menjadi kaum urban dan pada saatnya kembali ke desa akan membawa budaya baru, yaitu budaya masyarakat kota yang lebih modern. Sehingga terjadi pemerataan yang menyeimbangkan kehidupan kota dan desa. Secara ekonomi, ketika musim mudik tiba kaum urban ini juga mampu menggerakkan ekonomi rakyat. Menurut keterangan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Hatta Rajasa sekitar Rp. 16 triliun rupiah yang berputar dibawah oleh pemudik pada momen lebaran Idul Fitri 1432 Hijriyah ini. Yang tak kalah penting, urbanisasi bisa menumbuhkan semangat kebersamaan. Urbanisasi menghilangkan polarisasi kedaerahan, kesukuan dan keagamaan. Bertemunya kaum urban di satu titik, menyebabkan terjadi asimilasi budaya sehingga melahirkan masyarakat baru yang lebih mengakomodasi heterogenitas, multikulturalisme dan pluralitas.

2.5. SOLUSI Selama ini yang terjadi adalah gelombang urbanisasi berjalan hampir tanpa kontrol pemerintah. Maka yang menjadi tantangan pemerintah saat ini, bagaimana mengelola keinginan masyarakat untuk melakukan urbanisasi yang sudah menjadi buadaya tersebut. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan: Pertama, pemerintah-pemerintah daerah membentuk tim khusus yang terpadu dengan tugas secara selektif menyaring mereka yang berkeinginan melakukan urbanisasi. Pada proses seleksi kaum urban ini, yang harus diprioritaskan adalah keterampilan, pendidikan, kepastian tempat yang dituju kota dan pekerjaan. Kedua, agar tidak membludak maka ada kuota urbanisasi setiap tahun dan yang belum berkesempatan lolos pada tahun ini bisa mengeikuti seleksi pada tahun berikutnya. Rentang waktu menunggu ini dimanfaatkan untuk menambah kapasitas keterampilan dan pendidikan. Ketiga, pemerintah daerah berkoordiansi dengan pemerintah kota tujuan urbanisasi untuk memastikan kaum urban tersebut tidak salah tujuan. Keempat, memberi limitasi waktu kepada kaum urban tersebut, jika mereka tidak bisa survive di kota tujuan dalam jangka enam bulan misalnya, maka akan dipulangkan ke daerah asal. Karena urbanisasi telah menjadi budaya dan secara positif juga memberi manfaat, maka pemerintah jangan lepas tangan. Sebaliknya, budaya ini harus dijaga dan dikelola dengan bijaksana sehingga bisa ditransformasi dari sekedar ritual tahunan, menjadi gelombang budaya yang memiliki energi atau kekuatan bermanfaat bagi rakyat dan negara.

BAB III Kesimpulan dan Rekomendasi 3.1. Kesimpulan


Pada tingkatan tertentu dari sisi ekonomi urbanisasi akan menguntungkan kota tujuan Tenaga-tenaga terdidik yang potensial mempunyai prospek kerja (formal) cukup tinggi Banyaknya proyek dan kesempatan bekerja di kota Sektor pertanian yang tidak menjanjikan lagi

3.2. Rekomendasi

Penataan kota dengan benar Harus diciptakan lapangan pekerjaan yang layak di daerah-daerah Tidak terlaksana secara baik interregional development Terus bergantinya pemerintahan dengan visi dan misi yang berbeda

3.3. Referensi 1. http://anarchicode13.blogspot.com/2009/11/urbanisasi-pasca-lebaran.html 2.http://www.detiknews.com/read/2011/08/26/125442/1711803/10/padatnya-jakarta-karena-pembangunantak-merata 3. http://nindyawulan.blogspot.com/2010/10/makalah-urbanisasi-pasca-lebaran.html 4. http://supratno188.ngeblogs.com/2009/11/11/makalah-urbanisasi-pasca-lebaran/ 5. http://www.scribd.com/mobile/documents/42892719?query=urbanisasi+pasca+lebaran 6. http://id.wikipedia.org/wiki/Urbanisasi 7. http://nasional.kompas.com/read/2008/10/07/19321468/pemerintah.pusat.harus.ikut.atasi.urbanisasi