Anda di halaman 1dari 6

Aisyah Asy Syatik (1507100020) "HABITAT 1.

1 Pengertian Habitat Habitat adalah tempat dimana organisme berinteraksi satu dengan yang lain dan saling mempengaruhi (Hugget, 2003). Pengertian umum habitat menurut Alikondra (1990) adalah sebuah kawasan yang terdiri dari komponen abiotik maupun biotik yang merupakan satu kesatuan dan dipergunakan sebagai tempat hidup. Berdasarkan ukuran dan bentuknya, menggunakan skala geografi, Menurut Hugget (2003) habitat dibagi menjadi: 1. Makrohabitat: mengacu pada kondisi habitat terkecil dimana masih terjadi interaksi antar organisme dengan lingkungannya. Luas mikrohabitat sekitar beberapa cm persegi hingga beberapa meter suatu area. 2. Mesohabitat : suatu kondisi habitat yang ukurannya lebih besar daripada mikrohabitat dan lebih kecil dari makrohabitat. Ukuran mesohabitat sekitar 10.000 km2, yaitu 100x1000 km2, dimana memiliki bentuk geomorfologi dan tanah yang mirip dan daerah iklim yang mempengaruhi masing-masing mesohabitat 3. Macrohabitat : lebih cenderung mengarah pada kondisi luasan yang sangat besar (seperti habitat perairan, dan lainnya), dimana luas areanya sekitar 1.000.000 km2. 4. Megahabitat : mengacu pada suatu habitat yang luas areanya paling besar, yaitu lebih dari 1.000.000 km2. Megabitat terdiri dari benua. Berikut adalah table skala pembagian habitat:

Selain sebagai tempat atau lokasi hidup bagi mahluk hidup yang bersifat fisik, habitat juga digunakan untuk membangun berbagai jenis hubungan (asosiasi) yang terjadi dalam habitat tersebut. Pada umumnya tumbuhan dan makhluk hidup lainnya mempun yai preferensi ekologi (persyaratan faktor ekologi yang dibutuhkan untuk hidupnya yang sesuai) tertentu.

Aisyah Asy Syatik (1507100020) Berdasarkan preferensi ekologi yang dimiliki oleh masin g-masing spesies, maka dibagi menjadi menjadi: Habitat Spesialis, mengacu pada spesies yang memilki persyaratan hidup yang sangat terbatas. Misalnya, Di Negara Inggris bagian Selatan, semut merah, Myrmica sabuleti, memerlukan tanah kering dan hangat dengan aspek warm south-facing yang terdiri lebih dari 50 spsesies rumput dan telah terganggu dalam 5 tahun sebelumnya. Habitat generalis, mengacu kepada spesies yang memiliki rentang lingkungan yang sangat luas, Misalnya adalah manusia (Homo sapiens) merupakan pioneer dari habitat spesialis. 1.2 Faktor Pembatas: Toleransi Ekologi Penggunaan habitat merupakan cara organisme memanfaatkan komponen abiotik yang ada dalam suatu habitat. penggunaan habitat merupakan sebuah proses yang secara hierarkhi melibatkan suatu rangkaian perilaku alami dan belajar suatu satwa dalam membuat keputusan habitat seperti apa yang akan digunakan dalam skala lingkungan yang berbeda. Toleransi yang dimiliki setiap spesies terhadap faktor lingkungannya mungkin sempit atatu luas dan kondisi optimumnya mungkin pada posisi rendah, sedang atau tinggi pada gradient lingkungan. Faktor pembatas adalah faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan suatu populasi. Setiap spesies memiliki rentang yang berbe da-beda terhadap faktor lingkungannya. Faktor lingkungan apabila keberadaanya terdapat di bawah batas bawah maupun di atas batas atas yang dimiliki suatu spesies tertentu, maka spesies tersebut tidak akan bisa hidup. Batas atas maupun batas bawah merupakan rentang toleransi suatu spesies terh adap faktor lingkungannya. Suatu spesies akan berhasil hidup dengan baik di dalam rentang toleransi optimumnya. Namun, apabila spesies tersebut hidup pada lingkungan yang mendekati batas toleransinya maka akan tertekan dan tidak dapat sintas di luar batas toleransinya. Faktor lingkungan yang dapat menjadi faktor pembatas diantaranya adalah suhu, makanan, air, kelembapan, dan ruang. Berikut adalah gradient yang menunjukkan hubungan antara pertumbuhan populasi suatu spesies terhadap faktor lingkungan pada sua tu habitat:

Aisyah Asy Syatik (1507100020)

1.3 Relung Ekologi (Niche) Habitat organism adalah tempat dimana organism hidup. Relung ekologi (niche) organism sering didefinisikan sebagai alamat atau profesi. Alamat adalah habitat dimana dia tinggal dan terkadang disebut sebagai relung habitat atau habitat niche. Profesinya dalah posisi rantai makanannya dan terkadang disebut relung fungsional. Relung (niche) mengacu pada bagaimana suatu individu, spesies atau populasi berinteraksi dengan dan mengekploitasi lingkungannya (Reggard, 2002). Relung ekologi adalah jumlah total semua penggunaan sumber daya biotik dan abiotik oleh organism di lingkungannya (Campbell, 2003). Relung dibagi menjadi relung pokok (fundamental niche) dan relung sebenarnya (realized niche). Relung pokok (fundamental niche) mengacu pada kumpulan sumberdaya yang secara teoritis mampu digunakan oleh suatu populasi di bawah keadaan ideal. Pada kenyataanya, masing-masing populasi terlibat dalam jaring-jaring interaksi dengan populasi spesies lain, dan pembatas biologis seperti kompetisi, predasi atau tidak adanya beberapa sumber daya yang dapat digunakan, bisa memaksa populasi tersebut untuk hanya menggunakan sebagian relung fundamentalnya. Sedangkan relung sebenarnya (realized niche) adalah sumberdaya yang sesungguhnya digunakan oleh suatu populasi secara kolektif (Campbell, 2003). Spesies dengan lebar relung yang lebih besar cenderung akan tumpang tindih dengan spesies lain dibandingkan spesies yang mempunyai lebar relung yang sempit. Dalam tingkatan intraspesifik, lebar relung ini bisa saja disebabkan oleh perbedaan ukuran tubuh(Kurniati, 2001). Salah satu contoh dari penggunaan suatu relung adalah burung redwing dan tricolored. Perilaku utama kedua sp burung dengan genus yang sama ini (Ageliaius) pada musim kawin, pejantan akan mencarikan tempat bagi sang betina. Bila pejantan redwing menemukan suatu tempat (rawa), dia akan menyiapkan tempat tsb bagi sang betina untuk kawin. Pengaturan sarang dilakukan betina. Kemudian pejantan menentukan batas teritorial diseluruh rawa sehingga dapat dikatakan seluruh rawa mrpkn

Aisyah Asy Syatik (1507100020) niche pokok redwing. Tetapi saat pejantan tricolored datang, dia akan menggeser daerah teritorial redwing ditengah rawa dan memaksanya menempati tepi rawa. Diduga bahwa niche sesungguhnya redwing adalah pada bagian tepi rawa, dan bukan bagian tengah rawa. Dengan kata lain niche sesungguhnya adalah bagian dari niche pokok, dimana satu organisme masih dapat hidup berdampingan dengan organisme lain. Berikut adalah tabel keselingkupan penggunaan relung ekologi oleh burung redwing dan tricolored.

Suatu relung mengacu pada bagaimana individu, spesies atau populasi berinteraksi dan mengeksplotasi lingkungannya secara bersamaan. Hal ini melibatkan adaptasi terhadap kondisi lingkungan. Prinsip kompetisi eksklusi menghalangi dua spesies yang berbeda menduduki relung yang sama. Bagaimanapun, sekelompok spesies atau guild dapat mengekploitasi kelas dari sumber lingkungan dengan cara yang mirip (Dayan, 1991). 1.4 Seleksi Habitat Suatu keadaan di dekat batas toleransi lingkungan dapat menyebabkan stress, hal ini menunjukkan bahwa toleransi ekologi suatu spesies sangat mempengaruhi keadaa sebenarnya dan range potensial geografi. Suatu spesies yang memiliki rentang toleransi ekologi yang luas distribusinya juga sangat luas. Suatu spesies akan menempati suatu habitat yang memenuhi kebutuhan toleransinya sehingga tidak dapat sintas di tempat lain. Akan tetapi, suatu populasi yang besar dan sehat belum tentu menempati seluruh habitat yang menguntungkan dalam jangkauan geogradis, dan mungkin ada area dalam dan area luar rentang geografi dimana ia tinggal. Pada beberapa kasus, individu-individu memilih untuk tinggal di habitat khusus dari tempat yang tersedia dan tidak tinggal di tempat lainnya, proses ini dinamakan seleksi habitat. Seleksi habitat terdapat pada skala yang berbeda, yaitu :

Aisyah Asy Syatik (1507100020) 1. Seleksi pertama menjelaskan tentang rentang geografis spesies tertentu 2. Seleksi kedua menjelaskan tentang rentang habitat dalam home-range suatu individu 3. Seleksi ketiga mendiskripsikan seleksi habitat dalam jangkauan tempat tinggal individu 4. Seleksi ke empat terdapat pada jenis makanan individu Seleksi habitat umumnya terjadi pada burung. Misalnya adalah seleksi habitat pada burung pipit (Anthus sp) yang tinggal di daerah terbuka, heatland, Inggris. Seleksi tempat bersarang menjadi

pengecualiannya dari habiat yang cocok lainnya. Burung pipit pohon (A. trivialis) dan burung pipit semak (A. pratensis) keduanya bersarang di tanah. Dan memakan varietas tumbuhan yang sama. Akan tetapi, burung pipit pohon hanya berkembang biak di satu pohon tinggi atau lebih. Sehingga, di daerah Inggris yang tidak ada pohonnya, burung pipit pohon tidak hidup berdampingan dengan burung pipit semak. Burung pipit pohon tidak banyak ditemukan berkembang biak di daerah yang tidak berpohon dekat tiang telegraph. Burung pipit menggunakan tiang sebagai tempat hinggap yang menjadi area berkicau mereka di udara. Pipit semak juga melakukan kicauan yang sama, tetapi di tanah. Berdasarkan penemuan ini maka dapat disimpulkan bahwa burung pipit pohon tidak berkonolisasi di Heatland karena burung ini suka hinggap dimana dia berkicau. Di daerah heatland dan pine planation burung memilki distribusi yang lebih kecil daripada lainnya dikarenakan mereka memilih habitat dimana mereka tinggal. 1.5 Kerusakan Habitat Kerusakan habitat adalah proses dimana habitat alami berubah secara fungsional sehingga tidak dapat mendukung keberadaan spesies. Pada proses ini, organisme yang sebelumnya menggunakan area ini dipindahkan atau dirusak serta direduksi biodiversitasnya. Kerusakan habitat ini akan menyebabkan kelangkaan dan kepunahan spesies tertentu. Kerusakan habitat akan menyebabkan hilangny suatu habitat yang digunakan spesies tertentu. Hilangnya suatu habitat merupakan faktor terbesar yang menyebabkan kelanggakan spesies. Sekarang bertambahnya hilangnya habitat dikarenakan

pertumbuhan populasi manusia yang menyebabkan ekspansi dari aktivitas manusia untuk merubah habitat alami. Faktor utama yang menyebabkan kelangkaan ini adalah laju reproduksi organisme, laju emigrasi organisme dari habitat, fragmentasi habitat dan kelulus-sintasan organisme pada area non habitat. (Fahrig, 2001). Salah satu faktor utama yang menyebabkan kerusakan habitat dan kepunahan adalah fragmentasi. Fragmentasi adalah peristiwa yang menyebabkan habitat yang lusa dan utuh berkurang dan terbagi-bagi (Forman, 2002). Fragmentasi habitat akan menyebabkan efek tepi. Lingkungan mikro daerah tepi berbeda dengan lingkungan mikro daerah tengah. Hal-hal yang perlu diperhitungkan dari dampak fragmentasi adalah faktor pendukung organisme seperti intensitas cahaya, suhu, kelembapan dan

Aisyah Asy Syatik (1507100020) kecepatan angin. Efek tepi masih dapat diditeksi sejauh minimal 250 m ke dalam hutan. oleh karena spesies seperti hewan dan tumbuhan biasanya teradaptasi oleh suhu, kelembapan dan intensitas cahaya tertentu saja, perubahan tersebut akan banyak memusnahkan spesies mikro hingga makro. Dampak lain dari fragmentasi habitat adalah memperkecil potensi spesies untuk menyebar dan berkolonisasi, mengurangi daerah jelajah hewan asli,mempercepat pengecilan dan pemusnahan, memperbesar kerentanan framen akan invasi spesies eksotik dan pengganggu dan spesies liar menjadi lebih dekat dengan tumbuhan dan hewan piaraan. Upaya untuk mencegah kepunahan tersebut adalah melakukan konservasi dengan preservasi habitat dan restorasi habitat, informasi laju perpindahan organisme langka untuk memprediksikan ambang kepunahan dan strategi konservasi yang harus mempertimbangkan kualitas seluruh landscape termasuk matrix (Fahrig, 2001).

DAFTAR PUSTAKA Alikodra, H. S. 1990. The Implementation of Forest Rsource Conservation in Sustainable Forest Management in Indonesia (in) Indonesias effort to Achieve Sustainable Forestry. Forum of Indonesia Forestry Scientists Campbell. 2003. Biologi Umum Jilid 3. Penerbit Erlangga. Jakarta Fahrig, L. 2001.How Much Habitat is Enough ?. Biology conservation 100 65-74 Forman, R. T. T. 2002. Land Mosaics: the Ecology of Landscapes and Regions. Cambridge University Press: Cambridge Hugget, J. R. 2003. Fundamental of Biogeography.Routledge Taylor and France Group : New York