Anda di halaman 1dari 12

JAHE MERAH SI RIMPANG AJAIB

Disusun oleh : Annisa Lufritayanti 1113015053 / A

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MULAWARMAN SAMARINDA 2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas nikmat dan karunia-Nya saya masih bisa mengerjakan dan menyelesaikan makalah ini. Saya menyadari bahwa dalam penyusunan dan penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar kedepannya bisa lebih baik lagi dalam menyusun dan menulis makalah. Dan juga semoga makalah ini bisa bermanfaat.

Samarinda, September 2011

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . DAFTAR ISI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . I.2 Rumusan Masalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . I.3 Tujuan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Klasifikasi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . II.2 Morfologi Tanaman . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . II.3 Manfaat Tanaman . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . BAB III BAB IV ISI Pembahasan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . PENUTUP

2 3 4 4 4 5 5 5 7

IV.1 Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 11 IV.2 Saran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 11 DAFTAR PUSTAKA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 12

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Di Indonesia terdapat beragam tanaman obat berkhasiat, salah satu contohnya adalah tanaman jahe merah yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan obat tradisional. Jahe merah sudah lama dikenal ampuh menyembuhkan berbagai macam penyakit, dibandingkan dengan jahe gajah atau jahe empirit. Hal ini dikarenakan jahe merah mempunyai banyak kandungan senyawa kimia yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Jahe sudah banyak digunakan sebagai obat tradisional dengan cara pengolahan yang sederhana dan sifatnya turun-temurun. Dalam makalah ini, saya akan berusaha untuk memberikan penjelasan tentang jahe merah, agar kita bisa lebih mengetahui tentang jahe merah.

I.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimanakah sejarah jahe? 2. Apa sajakah kandungan senyawa kimia pada rimpang jahe merah? 3. Apa sajakah efek farmakologis zat aktif yang terkandung pada rimpang jahe merah?

I.3 Tujuan
1. Mengetahui sejarah jahe. 2. Mengetahui kandungan senyawa kimia pada rimpang jahe merah. 3. Mengetahui efek farmakologis zat aktif yang terkandung pada rimpang jahe merah.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Klasifikasi
Tanaman jahe merah memiliki nama latin Zingiber officinale Rosc.Var.Rubrum, yang termasuk dalam divisi spermatophyte atau tumbuhan tingkat tinggi dengan sub divisio berupa tumbuhan angiospermae atau tumbuhan berbiji tertutup dan kelas tumbuhan dengan biji berkeping satu yang biasa disebut monocotyledone. Zingiber officinale Rosc.Var.Rubrum termasuk dalam tumbuhan berbangsa Zingiberales (jahe-jahean) dengan nama suku Zingiberaceae dan nama marga Zingiber, sehingga tumbuhan ini memiliki nama jenis atau species Zingiber officinale Rosc.Var.Rubrum.

II.2 Morfologi Tanaman


Jahe merah merupakan terna berbatang semu tegak yang tidak bercabang dan termasuk famili Zingiberaceae. Batang jahe merah berbentuk bulat kecil berwarna hijau dan agak keras. Daunnya tersusun berselang-selang teratur. Tinggi tanaman ini antara 30-60 cm. Jahe merah tumbuh baik di daerah tropis yang beriklim cukup panas dan curah hujannya sedikit. Jika cahaya matahari mencukupi, tanaman ini dapat menghasilkan rimpang jahe lebih besar daripada biasanya. Habitus tumbuhan jahe merah yaitu herba dan semusim. Tumbuh tegak dengan tinggi 40-50 cm. Batang semu, beralur, membentuk rimpang, dan berwarna hijau. Daun tumbuhan jahe berbentuk tunggal, lancet, dengan tepi rata, ujung runcing, pangkal tumpul, dan berwarna hijau tua. Bunga tumbuhan jahe merah biasanya majemuk, bentuk bulir, sempit, ujung runcing, panjang 3,5-5 cm, lebar 1,5-2 cm, tangkai panjang kurang lebih 2 cm, berwarna hijau kemerahan, kelopak bentuk tabung, bergigi 3 dan mahkota bentuk corong panjang 2-2,5 cm. Buah tumbuhan jahe merah kotak, bulat panjang, coklat. Biji berbentuk bulat dan berwarna hitam. Akar berbentuk serabut berwarna putih kotor.

II.3 Manfaat Tanaman


Jahe segar dan jahe kering banyak digunakan sebagai bumbu masak atau pemberi aroma pada makanan kecil dan sebagainya. Jahe muda bahkan dapat dimakan mentah sebagai lalap atau diolah menjadi jahe awet yang berupa jahe asin, jahe dalam sirup atau jahe kristal. Secara turun-temurun, kulit rimpang jahe merah yang dipanggang hingga menjadi hitam banyak digunakan sebagai obat

mencret dan disentri. Di samping itu, bisa digunakan oleh para wanita yang ingin mengatur masa menstruasinya. Berdasarkan penelitian, aksi farmakologi jahe antara lain mencegah mual dan postoperative nausea dengan mekanisme aksi meningkatkan motilitas pada gastrointestinal. Aksi farmakologi yang lain adalah hiperemesis gravidarum, muntah yang diinduksi oleh kemoterapi dan osteoarthritis. Pada Clinical Studies on Ginger ada dua study yang menerangkan bahwa jahe memiliki efektifitas seperti metoclopramide untuk mengurangi postoperative nausea. Jahe merah yang memiliki rasa yang panas dan pedas, terbukti berkhasiat dalam menyembuhkan berbagai penyakit, yaitu untuk pencahar (laxative), peluluh masuk angin (expectorant), antimabuk (antiemetik), sakit encok (rheumatism), sakit pinggang (lumbago), pencernaan kurang baik (dyspepsia), radang tenggorokan (bronchitis), asma, sakit demam (fevers), pelega tenggorokan, radang setempat yang mengeluarkan nanah dan darah, muntah-muntah (emetic), rasa nyeri, kurang daya penglihatan (alextric), pengobatan balak (leucoderma), kurang darah (anemia), saban-saban (starangury), sakit kusta (leprosy), borok (ulcers), panas dan serasa terbakar di badan, penyakit darah, perangsang syahwat (aphrodisiac), memperbaiki rasa, penyakit jantung, bagian badan yang membengkak, jaringan yang bertambah besar (elephantiasis), meramang (piles), sedu sedan (eructation), gangguan lambung, disengat kalajengking, digigit ular, serta keracunan makanan udang atau kepiting. Jahe merah juga merupakan bahan baku obat yang berfungsi menambah stamina (tonikum), obat untuk menghilangkan rasa nyeri otot, obat penyakit cacing, untuk menanbah terang penglihatan, sakit kepala, obat batuk kering dan sebagai obat untuk melawan gejala penyakit (alophathia).

BAB III ISI

Pembahasan
Kepastian tentang dari mana asal jahe yang sebenarnya tidak ada yang tahu secara pasti. Yang jelas ialah bahwa jahe menyebar luas di daerah tropis di seluruh dunia, bahkan di daerah subtropics USA (Florida). Daerah tropis yang terkenal dengan hasil rimpang jahe adalah Cina, India, Vietnam, Ceylon, Afrika, Thailand, Trinidad, Jamaika, Malaysia dan Indonesia. Tanaman jahe besar kemungkinannya berasal dari India dan Cina. India merupakan negara penghasil jahe terbesar di dunia, tidak kurang dari 50% rempah-rempah produksi dunia dihasilkan oleh India. Di India, jahe sangat memasyarakat, sehingga tanaman ini memiliki banyak sebutan, seperti adu, ale dan ada. Di Cina, jahe sudah ada pada masa kehidupan Confucius (sekitar tahun 551-479 SM), seorang filosof Cina. Hal ini didasarkan pada buku catatan filosof tersebut yang sering menyatakan bahwa jika makan dia selalu menggunakan jahe. Sebagian orang berpendapat bahwa jahe berasal dari Malaysia, yang dikenal sebagai penghasil tanaman rempah. Di Eropa, jahe dikenal sebagai tanaman rempah pertama yang diperoleh dari pedagang-pedagang Arab. Para pedagang Arab tersebut membawanya dari India. Tanaman jahe di Eropa telah dikenal sejak zaman Dioscorides dan Pliny pada abad ke-1 SM. Dunia barat mulai mengenal jahe pada awal tahun masehi, bukan sebagai rempah-rempah, melainkan sebagai manisan jahe di dalam pot. Orang-orang Spanyol, banyak jasanya dalam penyebarluasan jahe di Amerika Tengah, Amerika Selatan maupun Asia Tenggara. Jamaika merupakan penghasil jahe yang kualitasnya paling tinggi di dunia. Di Indonesia, jahe memang belum ditanam secara meluas. Meskipun demikian, tanaman ini banyak ditemukan di daerah Rejang Lebong (Bengkulu), Kuningan, Bogor (Jawa Barat), Magelang (Jawa Tengah), Yogyakarta dan beberapa daerah di Jawa Timur. Jahe bisa hidup di tanah dengan ketinggian 200600 meter di atas permukaan laut dan curah hujan rata-rata 2.500-4.000 mm/tahun. Pada umumnya, di kawasan itu jahe hanya ditanam di pekarangan, di sekitar rumah, atau di tanah tegalan. Pemanfaatannya pun masih terbatas untuk konsumsi rumah tangga. Sesuai dengan keragaman bahasa di Indonesia, jahe mempunyai beraneka macam nama daerah. Beberapa nama daerah jahe sebagai berikut. .

1. Jawa Sunda: jahe; Jawa: jae; Madura: jhai; Kangean: jae 2. Sumatera Aceh: halia; Gayo: beuing; Batak/Karo: bahing; Toba: pege; Lampung: jahi; Lubu: pege; Mandailing: sipode; Nias: lahia; Minangkabau: sipadeh. 3. Bali dan Nusa Tenggara Bali: jae, jahya, lahya, cipakan; Flores: lea; Sumba: alia; Bima: reja. 4. Sulawesi Makassar: laia; Manado: goraka; Mongondow: luya; Poros: moyuman; Gorontalo: melito; Buol: yuyo; Baree: kuya; Bugis: pase. 5. Maluku Ambon: pusu, seeia, sehi; Hila: sehi; Amahai: hairalo; Nusalaut: sehil; Ternate: garaka; Tidore: gora; Buru: siwei; Aru: laian. 6. Papua Kapaur: marman; Kalanapat: lalui. Di setiap negara, jahe mempunyai nama yang berbeda-beda. Di antaranya di Malaysia disebut halia; Filipina disebut luya, allam; India: adu, ale, ada; Arab: sanyabil; Cina: chiang pi, khan ciang, kiang, sheng chiang; Belanda: gember; Inggris: ginger; dan Prancis: gingembre, herbe au giingembre. Keanekaragaman nama tanaman ini menunjukkan bahwa penyebaran jahe telah meluas di berbagai belahan dunia. Hal ini berarti telah banyak orang yang mengetahui dan menggunakan jahe sejak zaman dahulu. Rimpang jahe merah mengandung komponen senyawa kimia yang terdiri dari minyak menguap (volatile oil), minyak tidak menguap (nonvolatile oil) dan pati. Minyak atsiri (minyak menguap) merupakan suatu komponen yang memberi bau khas. Kandungan minyak tidak menguap disebut oleoresin, yakni suatu komponen yang memberi rasa pahit dan pedas. Rasa pedas pada jahe merah sangat tinggi disebabkan oleh kandungan oleoresin yang tinggi. Zat oleoresin inilah yang bermanfaat sebagai antiemetik. Selain mengandung senyawa-senyawa kimia tersebut, rimpang jahe merah juga mengandung gingerol, 1,8-cineole, 10dehydrogingerdione, 6-gingerdione, arginine, a linolenic acid, aspartic, sitosterol, caprylic acid, capsaicin, chlorogenis acid, farnesal, farnesene, farnesol. Sedangkan kandungan patinya seperti tepung kanji, serta serat-serat resin dalam jumlah sedikit. Berdasarkan beberapa penelitian, dalam minyak atsiri jahe terdapat unsurunsur n-nonylaldehyde, d-camphene, d- phellandrene, methyl heptenone, cineol, d-borneol, geraniol, linalool, acetates dan caprylate, citral, chavicol, dan zingiberene. Bahan-bahan tersebut merupakan sumber bahan baku terpenting dalam industri farmasi atau obat-obatan. Kandungan minyak atsiri jahe merah sekitar 2,58-2,72% dihitung berdasarkan berat kering. Kandungan minyak atsiri

jenis jahe yang lain jauh berada di bawahnya. Pada jahe besar atau jahe badak berkisar 0,82-1,68% dan pada jahe kecil atau jahe empirit berkisar 1,5-3,3%. Minyak atsiri umumnya berwarna kuning, sedikit kental, dan merupakan senyawa yang memberikan aroma yang khas pada jahe. Besarnya kandungan minyak atsiri dipengaruhi oleh umur tanaman. Artinya, semakin tua umur jahe tersebut, semakin tinggi kandungan minyak atsirinya. Namun, selama dan sesudah pembuangan, persentase kandungan minyak atsiri berkurang., sehingga dianjurkan tidak memanen pada saat itu. Dengan demikian, selain umur tanaman, kandungan minyak atsiri jahe juga dipengaruhi umur panen. Kandungan oleoresin setiap jenis jahe berbeda-beda. Oleoresin jahe bisa mencapai sekitar 3%, tergantung jenis jahe. Jahe merah rasa pedasnya tinggi disebabkan kandungan oleoresinnya tinggi, sedangkan jahe gajah atau jahe badak rasa pedasnya kurang karena kandungan oleoresinnya sedikit. Efek farmakologis jahe merah yaitu dapat memperkuat khasiat bahan lain yang dicampurkan pada proses pembuatan obat. Berdasarkan penelitian, efek farmakologis yang dikandung jahe merah dan jahe gajah ternyata sama. Perbedaannya hanyalah efek yang ditimbulkan, yang tergantung dari kandungan minyak atsiri dan oleoresinnya. Secara umum, efek zat aktif yang terkandung dalam rimpang jahe merah adalah berikut ini.

No. 1.
2.

Nama Zat Aktif Limonene


1,8-cineole

3. 4. 5. 6. 7.

10-dehydroginger-dione, 10-ginger-dione, 6-gingerdion, 6-gingerol -linolenic acid Arginine Aspartic acid -sitoserol

Efek Farmakologis Menhambat jamur Candida alhicans, antikholinesterase, obat flu. Mengatasi ejakulasi premature, anestetik antikholinesterase, perangsang aktivitas syaraf pusat, merangsang ereksi, merangsang keluarnya keringat, penguat hepar. Merangsang keluarnya ASI, menghambat kerja enzim siklooksigenase, penekan prostaglandin. Anti-pendarahan di luar haid, merangsang kekebalan tubuh, merangsang produksi getah bening. Mencegah kemandulan, memperkuat daya tahan sperma. Perangsang syaraf, penyegar. Perangsang hormon androgen, menghambat hormon estrogen, mencegah hiperlipoprotein, melemahkan potensi sperma, bahan baku feroid.

8. 10. 11.

Caprylic-acid Chlorogenic acid (seluruh bagian tanaman) Farnesol

Antijamur Candida albicans. Mencegah proses penuaan, merangsang regenerasi sel kulit. Bahan pewangi makanan, parfum, merangsang regenerasi sel normal.

10

BAB IV PENUTUP

IV.1 Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa jahe mempunyai sejarah yang panjang, tetapi tidak diketahui secara pasti asal-usulnya. Namanya pun beragam di seluruh dunia, bahkan di Indonesia pun sangatlah beragam. Kandungan senyawa kimia jaeh merah banyak dan sangat bermanfaat bagi tubuh kita dan juga untuk produk. Kandungan zat aktifnya pun mempunyai efek farmakologis yang baik.

IV.2 Saran
Mengingat banyaknya manfaat yang dihasilkan oleh jahe merah, maka hendaknya kita bisa lebih mengenal sejarahnya, kandungan senyawa-senyawa kimianya, kandungan zat aktifnya dan efek farmakologisnya.

11

DAFTAR PUSTAKA

Hariana, Arief, H., Drs. 2004. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya Seri 1. Penebar Swadaya : Jakarta Harmono, STP dan Drs. Agus Handoko. 2005. Budidaya dan Peluang Bisnis Jahe. AgroMedia Pustaka : Depok K., Suryadiningrat. 2007. Mari Mengenal Tanaman Berkhasiat Obat. Panca Anugerah Sakti : Jakarta Muchlisah, Fauziah, Ir. 1995. Tanaman Obat Keluarga. Penebar Swadaya : Jakarta Muhlisah, Fauziah dan Sapta Hening S. 1996. Sayur dan Bumbu Dapur Berkhasiat Obat. Penebar Swadaya : Depok Mulyani, Sri, Drs., Apt., SU dan Drs. Didik Gunawan Apt. SU. 2002. Ramuan Tradisional untuk Penderita Asma. Penebar Swadaya : Jakarta Rismunandar. 1988. Rempah-Rempah Komoditi Ekspor Indonesia. Sinar Baru : Bandung Tim Lentera. 2002. Khasiat dan Manfaat Jahe Merah si Rimpang Ajaib. AgroMedia Pustaka : Depok http://id.wikipedia.com/

12