Anda di halaman 1dari 6

AKREDITASI SEKOLAH DAN KUALITAS GURU

1. Pengertian Akreditasi SekoIah


Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003 Akreditasi
adalah kegiatan penilaian kelayakan program dalam satuan pendidikan berdasarkan
kriteria yang telah ditetapkan.
Menurut Kamus Besar Bahasa ndonesia sekolah adalah bangunan atau lembaga
untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran.
Kesimpulannya Akreditasi sekolah adalah kegiatan penilaian yang dilakukan oleh
pemerintah dan/atau lembaga mandiri yang berwenang untuk menentukan kelayakan
program dan/atau satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan non-formal pada
setiap jenjang dan jenis pendidikan, berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, sebagai
bentuk akuntabilitas publik yang dilakukan secara obyektif, adil, transparan, dan
komprehensif dengan menggunakan instrumen dan kriteria yang mengacu kepada
Standar Nasional Pendidikan.

2. Persepsi Guru Tentang Akreditasi SekoIah
Guru sebagai pendidik adalah tenaga profesional sebagaimana dalam Undang-
Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003, bab X, pasal 39, ayat 2
bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil
pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan,serta melakukan penelitian dan
pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik perguruan tinggi.
Guru dibutuhkan skill, keterampilan, dan kreativitas di luar pekerjaan wajibnya
mengajar di sekolah untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, dengan membuat
usaha sampingan di luar jam dinas, usaha tersebut tidak mengurangi tanggung jawab
sebagai guru, akan tetapi menjadi guru yang professional. Kita banyak menemui guru
yang belum mampu memanfaatkan waktu senggang di luar jam dinas, barangkali ini
terjadi lantaran guru tidak memiliki keterampilan khusus, atau merasa sungkan untuk
berbuat di luar pekerjaan pokok, kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan terhormat,
seperti melakukan les, keterampilan lain yang tidak mengurangi wibawa guru.
Yang menjadi rasional atau alasan kebijakan akreditasi sekolah di ndonesia adalah
bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan yang bermutu. Untuk dapat
menyelenggarakan pendidikan yang bermutu, maka setiap satuan/program pendidikan
harus memenuhi atau melampaui standar yang dilakukan melalui kegiatan akreditasi
terhadap kelayakan setiap satuan/program pendidikan. Dengan adanya akreditasi sekolah
diharapkan juga kualitas guru dapat meningkat karena lulusan yang berkualitas mustahil
akan dapat dicapai tanpa kualitas guru yang baik, lingkungan yang mempengaruhi proses
pendidikan adalah; guru di sekolah, orang tua di rumah, dan masyarakat tempat anak
tumbuh kembang. Guru di sekolah merupakan lingkungan yang terstruktur, siswa dididik,
dibimbing, dan dilatih oleh tenaga pendidik yang ahli dalam bidang studinya, seperti;
bidang studi umum, bidang studi akademik, dan bidang studi keterampilan/kejuruan
(Martinis Yamin,2006:95).
Jadi, persepsi guru tentang akreditasi sekolah itu sendiri adalah sangat penting
mengingat dalam komponen yang dinilai dalam kegiatan akreditasi sekolah terdapat
komponen standar pendidik dan tenaga kependidikan, [Permendiknas No. 13/2007
tentang Kepala Sekolah, Permendiknas No. 16/2007 tentang Guru, Permendiknas No.
24/2008 tentang Tenaga Administrasi] yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas guru.

3. Hakekat Akreditasi SekoIah
Akreditasi sekolah adalah proses penilaian secara komprehensif terhadap kelayakan
dan kinerja satuan dan/atau program pendidikan yang dilakukan sebagai bentuk
akuntabilitas publik. Di dalam proses akreditasi sekolah dievaluasi dalam kaitannya
dengan arah dan tujuannya, serta didasarkan kepada keseluruhan kondisi sekolah
sebagai sebuah institusi belajar. Walaupun beragam perbedaan dimungkinkan terjadi
antar sekolah tetapi sekolah dievaluasi berdasarkan standar tertentu. Standar diharapkan
dapat mendorong dan menciptakan suasana kondusif bagi pertumbuhan pendidikan dan
memberikan perangsang untuk terus berusaha mencapai mutu yang diharapkan.
Landasan hukum akreditasi sekolah adalah: (1) Undang-undang nomor 25 tahun
2000, tentang program pembangunan Nasional (Propenas), menyatakan bahwa perlu
dilaksanakan pengembangan sistem akreditasi sekolah secara adil dan merata baik
sekolah negeri maupun sekolah swasta, (2) Keputusan Menteri Pendidikan Nasional
Nomor 087/U/2002, tentang akreditasi sekolah, (3) Undang-undang Nomor 20 tahun 2003,
tentang sistem pendidikan nasional Bab XV Pasal 60 tentang akreditasi yang berbunyi:
(a) akreditasi dilakukan untuk menentukan kelayakan program dan satuan pendidikan
pada jalur pendidikan formal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan, (b) akreditasi
terhadap program dan satuan pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri yang
berwenang sebagai bentuk akuntabilitas publik, (c) akreditasi dilakukan atas dasar kriteria
yang bersifat terbuka, (d) ketentuan mengenai akreditasi sebagaimana dimaksud dalam
ayat 1, ayat 2 dan ayat 3, (4) Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 039/O/2003,
tentang Badan Akreditasi Nasional (BASNAS), (5) Peraturan Pemerintah R Nomor 19
tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan (Dinas pendidikan dan Kebudayaan,
2006:2).
Dalam upaya peningkatan mutu pendidikan nasional secara bertahap ke arah yang
diharapkan sesuai Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, perlu dilakukan pengembangan dan sekaligus membangun sistem pengendalian
mutu pendidikan melalui empat program yang terintegrasi, yaitu: standarisasi, evaluasi,
akreditasi, dan sertifikasi. Standarisasi pendidikan haruslah dimaknai sebagai uapaya
penyamaan arah pendidikan secara nasional yang memiliki keluasaan dan sekaligus
keluwesan dalam implementasinya. Standar pendidikan harus dijadikan acuan oleh
pengelola pendidikan yang menjadi pendorong tumbuhnya inisiatif dan kreativitas dalam
mencapai standar nasional yang ditetapkan (Departemen Pendidikan Nasional, 2005:4).
Badan akreditasi sekolah merupakan badan pelaksana akreditasi menjadi
tanggungjawab yang merupakan badan struktural yang secara teknis terdiri dari unsur-
unsur masyarakat, organisasi penyelenggaraan pendidikan, perguruan tinggi dan
organisasi yang relevan. Dalam melaksanakan akreditasi sekolah baik formal maupun non
formal, pemerintah juga telah membentuk suatu badan yang dinamakan Badan Akreditasi
Nasional Sekolah. Sebagaiman dikemukakan dalam Peraturan Pemerintah Republik
ndonesia Nomor 19 Tahun 2005 ketentuan umum pasal 1 Nomor 25-26 sebagai berikut:
Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah yang selanjutnya disebut BAN-S/M adalah
badan evaluasi mandiri yang menerapkan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan
jenjang pendidikan dasar dan menengah jalur formal dengan mengacu pada Standar
Nasional Pendidikan. Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal yang selanjutnya
disebut BAN-PNF adalah badan evaluasi mandiri yang menetapkan kelayakan program
dan/atau satuan pendidikan jalur pendidikan nonformal dengan mengacu pada Standar
Nasional Pendidikan. Akreditasi sekolah baik terhadap kelayakan maupun kinerja
dilakukan sebagai bentuk akuntabilitas publik yang dilakukan oleh suatu lembaga yang
mandiri dan profesional. Sebagai implikasinya hanya sekolah yang telah terakreditas yang
berhak mengeluarkan ijasah atau sertifikat kelulusan.
Akreditasi dilaksanakan dalam rangka: (1) memberi informasi bahwa sebuah sekolah
atau sebuah program dalam suatu sekolah telah atau belum memenuhi standar dan
kinerja yang telah ditentukan, (2) membantu sekolah melakukan evaluasi diri dan
menentukan kebijakan sendiri dalam upaya peningkatan mutu, (3) membimbing calon
peserta didik, orang tua dan masyarakat untuk mengidentifikasi sekolah bermutu yang
dapat memenuhi kebutuha individual terhadap pendidikan termasuk mengidentifikasi
sekolah yang memiliki prestasi dalam suatu bidang tertentu yang mendapat pengakuan
masyarakat, (4) membantu sekolah dalam menentukan dan mempermudah kepindahan
peserta didik dari satu sekolah ke sekolah lain, pertukaran guru, dan kerjasama yang
saling menguntungkan, (5) membantu mengidentifikasi sekolah dan program dalam
rangka pemberian bantuan pemerintah, investasi dana swasta dan donatur atau bentuk
bantuan lainnya (Departemen Pendidikan Nasional, 2005:6).

. Manfaat Akreditasi SekoIah
Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2005:7) hasil akreditasi dapat berguna
bagi beberapa komponen, yaitu:
(1) Bagi kepala sekolah hasil akreditasi diharapkan dapat menjadi bahan informasi untuk
pemetaan indikator kinerja warga sekolah termasuk kinerja kepala sekolah selama
periode kepemimpinannya. Di samping itu hasil akreditasi juga diperlukan kepala
sekolah sebagai bahan masukan untuk penyusunan program serta anggaran
pendapatan dan belanja sekolah.
(2) Bagi guru bahwa hasil akreditasi itu merupakan dorongan bagi guru untuk selalu
meningkatkan diri dan bekerja keras untuk memberi layanan yang terbaik bagi
peserta didiknya. Secara moral guru senang bekerja di sekolah yang diakui sebagai
sekolah baik. Oleh karena itu guru selalu berusaha untuk meningkatkan diri dan
bekerja keras untuk mempertahankan dan meningkatkan mutu sekolahnya.
(3) Bagi masyarakat dan khususnya bagi orang tua, hasil akreditasi diharapkan menjadi
informasi yang akurat tentang layanan pendidikan yang ditawarkan oleh setiap
sekolah, sehingga secara sadar dan bertanggungjawab dan khususnya orang tua
dapat membuat keputusan dan pilihan yang tepat dalam kaitannya dengan
pendidikan bagi anaknya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.
(4) Bagi peserta didik hasil akreditasi juga menumbuhkan rasa percaya diri bahwa
mereka memperoleh pendidikan yang baik dan harapannya sertifikat dari sekolah
yang terakreditasi merupakan bukti bahwa mereka menerima pendidikan yang
bermutu.

Untuk sekolah sebagai institusi, hasil akreditasi memiliki makna yang penting, karena
ia dapat digunakan sebagai:
(1) Acuan dalam upaya peningkatan mutu sekolah dan rencana pengembangan
sekolah.
(2) Umpan balik untuk usaha pemberdayaan dan pengembangan kinerja warga sekolah
dalam rangka menerapkan visi, misi, sasaran, strategi dan program sekolah.
(3) Pendorong motivasi untuk sekolah agar terus meningkatkan mutu sekolahnya secara
bertahap, terencana dan kompetitif di tingkat kabupaten/kota, provinsi, nasional
bahkan regional dan internasional.
(4) Bahan informasi bagi sekolah sebagai masyarakat belajar untuk meningkatkan
dukungan dari pemerintah, masyarakat maupun sektor swasta dalam hal
profesionalisme, moral, tenaga kerja, dan data.

5. Prinsip-prinsip daIam kegiatan Akreditasi SekoIah
Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2005:8-10) Prinsip-prinsip yang dijadikan
pijakan dalam melaksanakan akreditasi sekolah mencakup:

1) Objektif; akreditasi Sekolah/Madrasah pada hakikatnya merupakan kegiatan
penilaian tentang kelayakan penyelenggaraan pendidikan yang ditunjukkan oleh
suatu Sekolah/Madrasah. Dalam pelaksanaan penilaian ini berbagai aspek yang
terkait dengan kelayakan itu diperiksa dengan jelas dan benar untuk memperoleh
informasi tentang kebera-daannya. Agar hasil penilaian itu dapat menggambarkan
kondisi yang sebenarnya untuk dibandingkan dengan kondisi yang diharapkan maka
dalam prosesnya digunakan indikator-indikator terkait dengan kriteria-kriteria yang
ditetapkan.
2) Komprehensif; dalam pelaksanaan akreditasi Sekolah/Madrasah, fokus penilaian
tidak hanya terbatas pada aspek-aspek tertentu saja tetapi juga meliputi berbagai
komponen pendidikan yang bersifat menyeluruh. Dengan demikian hasil yang
diperoleh dapat menggambarkan secara utuh kondisi kelayakan Sekolah/Madrasah
tersebut.
3) AdiI; dalam melaksanakan akreditasi, semua Sekolah/Madrasah harus diperlakukan
sama dengan tidak membedakan S/M atas dasar kultur, keyakinan, sosial budaya,
dan tidak memandang status Sekolah/Madrasah baik negeri ataupun swasta.
Sekolah/Madrasah harus dilayani sesuai dengan kriteria dan mekanisme kerja
secara adil dan/atau tidak diskriminatif.
4) Transparan; data dan informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan akreditasi S/M
seperti kriteria, mekanisme kerja, jadwal serta sistem penilaian akreditasi dan lainnya
harus disampaikan secara terbuka dan dapat diakses oleh siapa saja yang
memerlukannya.
5) AkuntabeI; pelaksanaan akreditasi S/M harus dapat dipertanggungjawabkan baik
dari sisi penilaian maupun keputusannya sesuai aturan dan prosedur yang telah
ditetapkan.

6. Komponen yang diniIai daIam Akreditasi SekoIah
Komponen yang dinilai dalam Akreditasi Sekolah TK/RA adalah :

1) Standar si, Proses dan Penilaian
Standar Isi meliputi struktur program kegiatan TK/RA, TK/RA menjabarkan
struktur program kegiatan dalam 5 lingkup pengembangan, menyusun struktur
program kegiatan secara terpadu dengan pendekatan tematik, alokasi waktu belajar
kelompok usia 4 6 tahun di TK/RA diselenggarakan sesuai dengan ketentuan
BSNP, memiliki rombongan belajar dengan jumlah peserta didik sesuai ketentuan,
memiliki kalender pendidikan.
Standar Proses meliputi mengembangkan rencana pembelajaran, menerapkan
5 prinsip pembelajaran, mengorganisasikan perencanaan pembelajaran, penataan
lingkungan bermain mampu menciptakan suasana aman, nyaman, bersih, sehat, dan
menarik.
Standar PeniIaian meliputi teknik penilaian mencakup : pengamatan,
penugasan, unjuk kerja, pencatatan anekdot, percakapan/dialog,laporan orang tua,
dokumen hasil karya anak (portofolio), dan deskripsi profil anak.

2) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Guru TK/RA memiliki kualifikasi sesuai dengan ketentuan akademik minimum
sarjana (S1) /diploma empat (D-V), menguasai aspek-aspek karakteristik peserta
didik, menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik,
mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan.
Guru pendamping TK/RA memiliki kualifikasi sesuai dengan ketentuan,
bersikap dan berperilaku sesuai dengan kebutuhan psikologi anak, bersikap dan
berperilaku sesuai dengan norma agama, budaya dan keyakinan anak.
KepaIa TK/RA memiliki kualifikasi akademik minimum sarjana (S1) atau
diploma empat (D-V) dan memenuhi 5 kualifikasi lainnya, memiliki kompetensi
kepribadian, memiliki kompetensi manajerial.
Tenaga administrasi minimum memiliki kualifikasi akademik SMA atau yang
sederajat dan memiliki keterampilan lain yang sesuai, melaksanakan tugas pokok
sesuai dengan kualifikasinya.

3) Standar Tingkat Pencapaian dan Perkembangan
Usia - 5 tahun peserta didik TK/RA mampu merespon hal-hal yang terkait
dengan moral dan agama, mampu menirukan gerakan motorik kasar, mampu
menirukan gerakan motorik halus, memiliki kesehatan fisik sesuai dengan
pertumbuhan.
Usia 5 - 6 tahun peserta didik TK/RA mampu merespon hal-hal yang terkait
dengan moral dan agama, mampu melakukan gerakan motorik kasar, mampu
melakukan gerakan motorik halus, memiliki kesehatan fisik sesuai dengan
pertumbuhan.

4) Standar Sarana dan Prasarana
Alat permaianan Edukatif (APE) memenuhi prinsip : aman, nyaman, terang
(cerah), sehat, sesuai dengan tingkat perkembangan anak, memanfaatkan potensi
dan sumber daya yang ada dilingkungan sekitar termasuk barang limbah/bekas
layak pakai.
TK/RA memiliki luas lahan sesuai dengan standar (minimal 300 m). 30 % dari
luas lahan yang tersedia diperuntukkan untuk tempat bermain anak di alam terbuka.
TK/RA memiliki ruang anak (rasio 3m per anak); ruang guru, ruang kepala TK/RA,
tempat UKS, jamban dengan air bersih dan ruang lainnya yang relevan dengan
kebutuhan kegiatan anak.

7. Persepsi Guru Tentang Akreditasi SekoIah Pengaruhnya Terhadap
Peningkatan KuaIitas Guru
Kritikan terhadap penyelenggaraan pendidikan di ndonesia semakin santer dan
tajam terus berkembang berkaitan dengan kegagalan sistem pendidikan yang selama ini
diterapkan belum dapat menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang mampu
bersaing di pasar global. Di sisi lain, pihak pemerintah senantiasa berusaha mencari
terobosan-terobosan baru dan terbaik untuk menjawab tantangan tersebut.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan kualitas
pendidikan di ndonesia, baik melalui peningkatan anggaran pendidikan, perubahan
kurikulum, pelatihan, seminar, dan sejenisnya; namun nyatanya semua itu belum mampu
menjawab tantangan yang ada dalam dunia pendidikan.
Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan
adalah dengan akreditasi sekolah/madrasah, baik sekolah/madrasah negeri maupun
sekolah/madrasah swasta. ni sebagaimana diatur dan ditetapkan dalam pasal 60
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang
menyatakan bahwa akreditasi sekolah/madrasah diberlakukan untuk menentukan
kelayakan program dan satuan pendidikan pada jalur formal dan non formal pada setiap
jenjang dan jenis pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau lembaga mandiri
yang berwenang sebagai bentuk akuntabilitas publik.
Dalam menentukan kelayakan program dan satuan pendidikan tersebut, standar
pendidikan harus dijadikan acuan oleh pengelola pendidikan, yang disatu sisi menjadi
persyaratan minimal yang harus dipenuhi oleh suatu lembaga pendidikan, dan pada sisi
lain menjadi pendorong tumbuhnya inisiatif dan kreatifitas masyarakat luas dalam
memajukan pendidikan. Dalam kaitannya dengan pemenuhan standar yang dituntut
tersebut, akreditasi sekolah/madrasah menjadi salah satu bagian yang penting dalam
upaya kita memperoleh informasi tentang kondisi nyata suatu sekolah/madrasah
berdasarkan standar minimal yang ditetapkan.
asil akreditasi merupakan dorongan bagi guru untuk selalu meningkatkan diri dari
bekerja keras untuk memberi layanan yang terbaik bagi siswanya. Karena secara moral,
guru senang bekerja di sekolah yang diakui sebagai sekolah baik, maka guru selalu
berusaha untuk peningkatan diri (profesionalismenya) dan bekerja keras untuk
memperoleh, mempertahankan dan meningkatkan hasil akreditasi.
Bertitik tolak dari problema internal guru sebagai tenaga kependidikan, yang harus
dilansir oleh sebuah surat kabar terkemuka di ndonesia Kompas pada tanggal 20
Nopember 2004 yang lalu, menuliskan antara lain "menurunnya kualitas guru, rendahnya
kesejahteraan yang diterima guru, dan diskriminasi status guru membuat kita gerah dan
bertanya-tanya, apakah pekerjaan yang sandang guru suatu profesi?, para ahli dan pakar
pendidikan sudah lama menggolongkan pekerjaan guru itu suatu profesi, demikian juga
banyak definisi tentang pekerjaan guru sebagai profesi. Jika kita pandang keberadaan
guru dan problema internal, maka pekerjaan guru bukan suatu profesi.
Guru mengemban tugas sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Sistem
Pendidikan Nasional (UUSPN) tahun 2003, dalam pasal 39 ayat 1. Tenaga kependidikan
bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan
pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Ayat 2.
Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan
proses pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan
penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan
tinggi.
Demikian juga Peraturan Pemerintah Republik ndonesia No.38 tahun 1992 Bab
pasal 3 ayat 1 mengemukakan bahwa tenaga kependidikan terdiri atas tenaga pendidik,
pengelola satuan pendidikan, penilik, pengawas, peneliti dan pengembangan dibidang
pendidikan, pustakawan, laboran, teknisi sumber belajar dan penguji. Pada ayat 2
dipertegas bahwa tenaga pendidik terdiri atas pembimbing, pengajar, dan pelatih.
Berikutnya ayat 3 mengemukakan bahwa pengelola satuan pendidikan terdiri dari kepala
sekolah, direktur, ketua, rektor, dan pimpinan satuan pendidikan di luar sekolah.
Guru sebagai subjek pendidikan sangat menentukan keberhasilan pendidikan .itu
sendiri, karena guru merupakan ujung tombak dan pelaksana terdepan pendidikan anak-
anak di sekolah. Dengan kata lain, guru merupakan komponen yang paling berpengaruh
terhadap terciptanya proses dan hasil pendidikan yang berkualitas.
Dari uraian diatas jelaslah bahwa persepsi guru tentang akreditasi sekolah
pengaruhnya terhadap peningkatan kualitas guru sangat penting karena melalui akreditasi
akan memotivasi guru untuk selalu meningkatkan kualitasnya dan hasil akreditasi itu
merupakan dorongan bagi guru untuk selalu meningkatkan diri dan bekerja keras untuk
memberi layanan yang terbaik bagi peserta didiknya.

Anda mungkin juga menyukai