Anda di halaman 1dari 22

Pendalaman ANALISA TEKNIKAL

Analisa teknikal adalah analisa pergerakan yang didasarkan pada hitungan matematis (rumus, grafik, chart, dsb). Dengan memadukan pergerakan suatu instrumen dengan rumus-rumus matematis tertentu. Dapat memberikan gambaran atau prediksi di masa depan. Nah yang anda harus hati hati dan perhatikan adalah kata kata gambaran/prediksi, jadi keakuratan tidaklah 100%. Besarnya keakuratan inilah yang menjadi seni dan level tersendiri dari masing masing trader. Semakin anda rajin mengasah rumus, mengevaluasi, memadukan, dsb maka akan menjadi lebih presisi. Ada baiknya sebelum Anda terjun ke dalam belantara Analisa Teknikal, Kita mengenal dahulu beberapa dasar Analisa Teknikal, filosofi dasar, kelemahan dan kekurangannya : Dalam Analisa Teknikal ada 3 prinsip dasar pemikiran : 1. Market Price Discount Everything Yaitu harga yang tercermin dari chart atau grafik telah menggambarkan semua faktor yang mempengaruhi pasar. Price Moves in Trend Yaitu pergerakan harga tidak bergerak secara acak melainkan berlangsung dalam satu pola (trend) tertentu dan akan terus berlangsung sampai ada tanda-tanda bahwa pola pergerakan ini berhenti dan berbalik arah. History Repeats it Selfs Yaitu ada kecenderungan kuat bahwa perilaku para investor dan pelaku pasar di masa lalu adalah sama dengan masa kini dalam menyikapi berbagai informasi yang mempengaruhi pasar.

2.

3.

Tujuan dari para trader menggunakan analisa teknikal antara lain untuk : 1. 2. 3. 4. Volume transaksi Trend Level level psikologis (support dan resistance) Periode waktu yang terjadi.

GRAFIK (CHART) Pemakaian grafik atau chart adalah hal yang paling penting dalam analisis teknikal karena satu satunya objek analisa teknikal adalah pergerakan harga yang dapat dilihat dari chart. Dibawah ini akan saya sebutkan beberapa jenis chart yang sering dipakai dalam Analisis Teknikal adalah sebagai berikut : 1. Line Chart

2.

Bar Chart

High Close

Ope n

Low

3. Candlestik Chart

High Ope n

High Clos e Ope n Low Low

Clos e

Bentuk bentuk yang dibentuk oleh Candlestick Berikut ini adalah bentuk bentuk dasar dari candlestick :

10

11 12

13 14

1. White candle adalah sinyal bullish, ini terjadi ketika harga pembukaan berada di dekat harga terendah dan harga penutup berada di dekat harga tertinggi, sedangkan panjang bodi mencerminkan jarak pergerakan harga. 2. Black candle adalah sinyal bearish dimana harga penutupan lebih rendah dari harga pembukaan. 3. Black candle adalah sinyal bearish dimana harga penutupan lebih rendah dari harga pembukaan. 4. Long upper shadow adalah sinyal bearish, yaitu harga setelah pembukaan lebih tinggi tetapi akhir perdagangan harga bergerak mencapai ke titik terendah dan penutupan harganya lebih rendah dibandingkan harga pembukaan, semakin jauh shadow maka sinyalnya semakin kuat. 5. Hammer adalah sinyal bullish, jika terjadi setelah downtrend maka pola reversal akan terjadi. Palu di gambarkan oleh badan yang kecil, yaitu jangkauan pendek antara harga pembuka dan harga penutup, dan garis yang panjang (gagang palu) adalah harga terendah selama sesi 3

perdagangan, semakin panjang gagang palu tersebut maka sinyalnya semakin kuat. 6. Inverted hammer adalah sinyal pembalikan dari suatu trend tetapi mesti di konfirmasi dahulu oleh candlestick selanjutnya. 7. Spining top white adalah candlestick dengan ekor atas dan ekor bawa yang panjang serta body yang kecil, real body yang kecil menunjukkan suatu pergerakan kecil dari awal pembukaan sampai penutupan sesi, ekornya mengindentifikasikan bahwa bulls dan bears sedang aktif bertarung selama sesi trading, saran terbaik yaitu menjauhkan diri sementara dari market dan menunggu konfirmasi candlestick selanjutnya. 8. Spining top black adalah candlestick dengan ekor atas dan ekor bawa yang panjang serta body yang kecil, real body yang kecil menunjukkan suatu pergerakan kecil dari awal pembukaan sampai penutupan sesi, ekornya mengindentifikasikan bahwa bulls dan bears sedang aktif bertarung selama sesi trading, saran terbaik yaitu menjauhkan diri sementara dari market dan menunggu konfirmasi candlestick selanjutnya. 9. Doji adalah candlestick tanpa real body, doji mengindikasikan kekuatan beli dan kekuatan jual sama kuatnya dan dapat menjadi tanda bahwa awal perubahan pada trend sudah akan terjadi. Doji yang terbentuk secara sendiri tidaklah cukup untuk memberikan tanda tanda adanya reversal sehingga dibutuhkan konfirmasi selanjutnya. 10. Long legged doji adalah candlestick yang mirip dengan doji tetapi ekor atas dan ekor bawah lebih panjang dari doji untuk ukurun persentase perbedaan panjangnya tidak ditentukan tergantung pandangan masingmasing investor, long legged doji yang terbentuk mengindikasikan bahwa nilai harga diperdagangkan setara ke atas dan ke bawah dengan sesi level pembukaan, namun akhirnya nilai harga tersebut ditutup hamper sama dengan nilai harga pembukaannya. 11. Dragonfly doji adalah candlestick yang berbentuk huruf T dengan ekor bawah yang panjang tanpa ekor atas. Dragonfly doji terbentuk jika harga pembukaan, harga tertinggi, dan harga penutupan adalah sama, sementara harga terendahnya membentuk ekor yang panjang dibawahnya. Jika pada downtrend setelah penurunan yang berlangsung lama dan membentuk candlestick hitam dan panjang, lalu diikuti terbentuknya dragonfly doji dapat memberikan sinyal awal akan terjadinya bullish reversal (pembalikan ke atas), namun sebaliknya jika setelah up trend yang berlangsung cukup lama membentuk candlestick putih dan panjang lalu diikuti dragonfly doji maka memberikan sinyal awal akan adanya bearish reversal (pembalikan ke bawah). Untuk menentukan situasi bearish atau bullish memerlukan konfirmasi lebih lanjut sesudah pola dragonfly doji terbentuk. 12. Gravestone doji adalah candlestick yang berbentuk huruf T terbalik, untuk konfirmasi sinyal yang dihasilkan sama dengan candlestick dragonfly doji. 4

13. Marubozu white adalah candlestick yang terbentuk secara penuh serta panjang (tidak mempunyai ekor atas dan ekor bawah), marubozu white menunjukkan harga pembukaannya adalah sama dengan harga terendahnya dan harga penutupannya adalah sama dengan nilai harga tertingginya. Marubozu white mengindikasikan dominant bullish trade sehingga trend cenderung bullish. 14. Marubozu black adalah candlestick yang terbentuk secara penuh serta panjang (tidak mempunyai ekor atas dan ekor bawah), marubozu black menunjukkan harga pembukaannya adalah sama dengan harga tertingginya dan harga penutupannya adalah sama dengan nilai harga terendahinya. Marubozu black mengindikasikan dominan bearish trade sehingga trend cenderung bearish. Pola pola reversal pattern dalam candlestick Pola pola reversal pattern, merupakan pola bentuk candlestick berkelompok dengan minimum terdiri dari 3 batang candle. Pola ini terbentuk dengan sebuah atau sekelompok candle hitam atau putih yang terbentuk pada hari pertama atau beberapa hari berurutan, pola pola ini terbagi menjadi 2 yaitu bullish pattern dan bearish pattern. Terbentuknya pola candle yang mengindikasikan pola pembalikan trend atau reversal dengan berbagai bentuk (bisa berupa hammer, doji, marubozu dan lain-lain) pada dasar dari penurunan/kenaikan harga pada hari hari sebelumnya. Setiap pola yang terbentuk mempunyai tingkat kehandalan sinyal yang berbeda beda, mulai dari tingkat kehandalan tinggi, menengah, dan rendah. Berikut ini ilustrasi gambar pola pola candlestick dalam bullish pattern dan bearish pattern :

GARIS TREND (TREND LINE) Trend atau kecenderungan pergerakan dalam satu arah harga adalah salah satu istilah penting dalam melakukan analisis teknikal karena pada dasarnya analisis teknikal sendiri dikembangkan atas sebuah asumsi dasar yaitu harga bergerak dalam sebuah kecenderungan (trend) itu sendiri. Secara sederhana, garis trend (trend line) adalah sebuah garis yang menghubungkan sedikitnya 2 titik harga atau lebih dan kemudian diperpanjang hingga beberapa periode ke depan. Secara garis besar Trend dapat dibagi menjadi 3 yaitu : 1. Trend Meningkat / Up Trend (Bullish Market).

2.

Trend Menurun / Down Trend (Bearish Market).

3. Trend Mendatar / Horizontal Trend (Sideways/Konsolidation)

SIDEWAYS TRADING RANGE

Support & Resistance Support dan Resistance merupakan istilah penting dalam analisa teknikal yang berfungsi untuk mengindikasikan batas atas maupun batas bawah dari pergerakan harga. Support adalah merupakan batas bawah/range di mana pada titik/range harga tersebut akan timbul minat beli yang lebih kuat dari pada minat jual. Kondisi ini secara otomatis mengakibatkan terjadinya kelebihan permintaan yang akan meningkatkan harga di pasar sehingga menghentikan trend penurunan harga. Resistance adalah merupakan batas atas/range di mana pada titik/range Resistance Zona at harga tersebut akan timbulLevel Early High and at jual yang lebih besar dari pada penguatan minat Psycological minat beli yang secara otomatis akan timbul kelebihan penawaran yang akan mengakibatkan turunnya harga di pasar sehingga menghentikan kenaikan harga.

Trend Line Support

8
Support From Early Low

Overbought & Oversold Overbought merupakan situasi di mana pasar telah menjadi jenuh akan banyaknya permintaan sehingga permintaan semakin berkurang sementara penawaran semakin bertambah yang menyebabkan harga cenderung bergerak turun atau melemah. Oversold merupakan situasi di mana pasar telah menjadi jenuh akan banyaknya penawaran sehingga penawaran semakin berkurang sementara permintaan semakin bertambah yang menyebabkan harga cenderung bergerak naik atau menguat. Chart Pattern Grafik nilai tukar mata uang mempunyai beberapa pola pergerakan yang dapat digunakan sebagai tanda perubahan suatu trend tertentu. Pada dasarnya ada 2 golongan besar jenis pola yang mungkin terjadi yaitu : 1. Reversal Pattern Pola ini menunjukkan adanya perubahan trend, misalnya harga yang bergerak dalam uptrend berubah menjadi downtrend atau sebaliknya harga yang bergerak dalam downtrend berubah menjadi uptrend. pattern mempunyai beberapa pola pergerakan sebagai

Reversal berikut :

a. Double Tops

Double Top

b. Double Bottoms

Doble Bottom Reversal

c. Head and Shoulders Top Reversal


Shoulder Shoulder

Head

Neckline

10

d. Head and Shoulders Bottom Reversal

Neckline

Left Shoulder Head Right Shoulder

e. Falling Wedge

Falling Wedge

11

f. Rising Wedge

Rising Wedge

2.

Continuation Pattern Pola ini menunjukkan adanya perubahan trend sementara yang dilanjutkan dengan perubahan ke trend awal yang dominan. Misalnya harga bergerak dalam uptrend kemudian berubah menjadi downtrend (retrace) dan meneruskan lagi uptrend sebelumnya atau sebaliknya.

Continuation pattern mempunyai beberapa pola pergerakan sebagai berikut : a. Bullish Flags
Flagpole Extended Above Breakout Point

Flagpole

12

b. Bearish Flags c. Symmetrical Triangles or Pennants

Bearish Flags

Pennant

d. Descending Triangle e. Ascending Triangle

Ascendin g Triangle

Descending Triangle

13

f. Cup and Saucer

Cup Saucer Rounding Bottom

Selain pola pergerakan chart seperti di atas, ada pula suatu pola unik yang disebut sebagai gap. Suatu chart membentuk gap apabila terdapat jarak atau celah antara 2 chart yang saling berdekatan yaitu jika nilai low dari chart sebelumnya lebih tinggi dari nilai high pada chart berikutnya atau sebaliknya atau jika nilai high dari chart sebelumnya lebih rendah dari low pada chart berikutnya. Ada 3 bentuk utama dari gap yaitu : a. Breakaway gap b. Measuring gap c. Exhausting gap

Measuring Gap

Exhausting Gap

14
Breakway Gap

INDIKATOR TEKNIKAL
Bagian ini dirancang untuk memperkenalkan konsep dari indikator-indikator teknikal dan menjelaskan penggunaan mereka dalam analisis teknikal. Penekanan akan diberikan pada pembedaan antara indikator leading dan lagging, serta uraian mengenai kelebihan dan keku-rangan masing-masing. Sebagian besar indikator yang populer ditunjukkan sebagai suatu oscillator. Dengan pertimbangan ini pula, maka bagian ini akan menunjukkan cara pembacaan oscillator dan menjelaskan bagaimana sinyal sinyal dapat ditarik darinya. Setelah itu, fokus pembahasan akan beranjak pada indikator indikator teknikal spesifik dan contoh penarikan sinyal dalam prakteknya. Indikator teknikal adalah satu rangkaian titik data yang dihasilkan dari penggunaan satu formula atas data-data harga sekuritas tertentu. Data data harga meliputi berbagai kombinasi dari harga pembukaan, tertinggi, terendah, dan penutupan selama periode waktu ter-tentu. Beberapa indikator hanya menggunakan harga penutupan, sedangkan yang lainnya melibatkan data volume dan open interest dalam formulanya. Sebagai contoh, rata-rata dari 3 buah data harga penutupan masing-masing 41, 43, dan 43 adalah satu titik data sebesar = (41 + 43 + 43) / 3 = 42,33. Namun demikian, satu titik data tidak menawarkan banyak infor-masi dan tidak dapat menjadikannya sebagai indikator. Satu rangkaian titik data pada rentang waktu tertentu lebih diperlukan untuk menciptakan titik titik referensi yang valid sehingga memungkinkan analisis. Dengan menciptakan titik titik data runtut waktu, suatu perbandingan dapat dibuat antara saat ini dan masa lalu. Untuk tujuan analisis, indikator teknikal biasa ditunjukkan dalam bentuk grafis di atas atau di bawah grafik harga sekuritasnya. Dengan bentuk grafis ini, satu indikator lalu dapat dibandingkan dengan grafik harga sekuritas yang bersangkutan. Kadangkala, satu indikator diplot bertindihan di atas grafik harga untuk perbandingan langsung. APA YANG DITAWARKAN INDIKATOR TEKNIKAL? Indikator teknikal menawarkan satu perspektif yang berbeda untuk menganalisis per-gerakan harga. Beberapa di antaranya, seperti moving averages, dihasilkan dari formula sederhana dan mekanismenya relatif mudah dipahami. Sementara yang lainnya, seperti halnya stochastics, memiliki formula yang rumit dan membutuhkan studi mendalam untuk mema-haminya secara penuh dan mengapresiasinya. Terlepas dari kompleksitas formulanya, indi-kator teknikal dapat memberi perspektif unik atas kekuatan dan arah pergerakan harga yang sedang diprediksi. FUNGSI INDIKATOR TEKNIKAL 15

Indikator teknikal pada dasarnya dapat memberikan tiga fungsi yang luas, yaitu untuk memberi peringatan, konfirmasi, dan digunakan sebagai alat prediksi. Suatu indikator dapat bertindak sebagai pemberi peringatan dalam pengkajian pergerakan harga secara lebih dekat. Misalnya jika suatu momentum memberi warning, hal tersebut dapat menjadi sinyal untuk suatu break atau support. Atau, jika didapati suatu bentuk divergensi positif besar, hal tersebut dapat bertindak sebagai tanda peringatan suatu penembusan resistensi. Indikator dapat digunakan sebagai konfirmator perangkat analisis teknikal yang lain. Jika terdapat suatu penembusan atas grafik harga, persilangan moving average yang berkaitan dapat digunakan untuk mengkonfirmasi penembusan. Demikian juga suatu pergerakan harga menembus support, rendahnya On-Balance-Volume (OBV) yang berkaitan dapat dipakai sebagai konfirmator saat pelemahan harga. Beberapa investor dan trader juga menggunakan indikator untuk memprediksi arah dari pergerakan harga di masa datang. TIPS PENGGUNAAN INDIKATOR TEKNIKAL Beberapa trader tanpa basa basi menganggap bahwa indikator dapat memberi indikasi. Namun dalam konteks tersebut, terkadang mereka mengabaikan pergerakan harga sekuritas itu sendiri, dan hanya memfokuskan pada indikator. Indikator menyaring pergerakan harga dengan formula. Dalam kerangka itu, mereka adalah derivatif (turunan) dan tidak merefleksikan secara langsung pergerakan harga. Hal ini harus benar benar dipertimbangkan saat mengaplikasikan analisis teknikal. Setiap analisis atas suatu indikator harus diambil sejalan dengan pertimbangan pergerakan harga, seperti misalnya: - Apa yang dikatakan oleh indikator tentang pergerakan harga suatu sekuritas? - Apakah pergerakan harga semakin kuat? - Apakah pergerakan harga semakin lemah? Meskipun dapat saja jelas bahwa suatu indikator memunculkan sinyal beli atau jual, sinyal tersebut harus diputuskan dengan penggunaan alat-alat analisis teknikal lainnya. Suatu indikator bisa saja menayangkan sinyal beli, tetapi jika pola grafik menunjukkan descending triangle dengan satu rangkaian puncak penurunan, sinyal tersebut kemungkinan besar adalah palsu. Pada grafik saham Rambus (RMBS) yang ditunjukkan oleh Gambar 6.1. di bawah, MACD menaik dari November 2000 ke Maret 2001, sehingga membentuk divergensi positif. Seluruh tanda dari MACD untuk kesempatan beli ditunjukkan pada grafik ter-sebut, tetapi saham gagal untuk menembus ke atas garis resistance dan meneruskan reaksi sebelumnya. Non-konfirmasi dari saham tersebut seharusnya bertindak sebagai sinyal peringatan melawan posisi long. Sebagai catatan, sinyal jual terjadi saat saham menembus garis support dari descending triangle pada bulan Maret 2001. Sebagaimana halnya dalam analisis teknikal klasik, mempelajari bagaimana membaca indikator adalah lebih merupakan suatu seni daripada ilmu. Indikator yang sama mungkin menunjukkan pola tingkah laku yang berbeda saat diaplikasikan pada sekuritas yang berbeda. Indikator yang bekerja baik 16

untuk saham Indosat belum tentu berkinerja yang sama untuk saham Bank Mandiri. Melalui studi dan analisis yang cermat, keahlian untuk menggunakan berbagai jenis indikator akan semakin meningkat. Sejalan dengan peningkatan keahlian ini, nuansa tertentu yang sesuai dengan best fit indikator akan menjadi jelas. Terdapat ratusan atau bahkan ribuan indikator yang telah digunakan saat ini, dengan setidaknya setiap minggu diciptakan sebuah indikator baru. Program program perangkat lunak teknikal analisis bermunculan dengan lusinan built-in indikator dan bahkan memungkinkan pengguna untuk menciptakan kreasinya sendiri. Meskipun diintrodusir dengan ratusan indikator baru, pemilihan hanya sebagian kecil benar benar menawarkan perspektif yang berbeda dan pantas diperhatikan. Cukup mengherankan, bahwa indikator yang biasa mendapat perhatian lebih adalah yang telah beredar dalam waktu paling lama dan telah teruji oleh waktu. Pemilihan indikator untuk digunakan dalam analisis harus dilakukan dengan hati hati dan moderat. Usaha untuk meliput penggunaan lebih dari 5 indikator pada umumnya akan sia-sia. Paling baik untuk dilakukan adalah memfokuskan penggunaan pada dua atau tiga indikator dan mempelajari keruwetan mereka. Usahakanlah untuk memilih indikator yang merupakan komplemen satu sama lain, daripada yang bergerak bersesuaian dan menghasilkan sinyal yang sama. Sebagai contoh, penggunaan dua indikator yang baik untuk menunjukkan tingkat overbought dan oversold seperti pada Stochastic dan RSI adalah berlebih lebihan. Kedua indikator tersebut jelas jelas mengukur momentum dan sama sama menunjukkan tingkat overbought/oversold. Secara garis besar ada 3 jenis indikator yaitu : 1. Price Momentum Indicator (Oscillator) Jenis indikator ini digunakan untuk mengidentifikasi situasi oversold atau overbought. Momentum indikator juga digunakan untuk melihat apakah suatu trend masih akan berlanjut atau semakin melemah. Contoh indicator : - Stochastic Oscillator Osilator atau pengalun stokastik adalah indikator daya gerak yang digunakan dalam analisis teknis yang diperkenalkan oleh George Lane pada tahun 1950-an, untuk membandingkan harga penutupan suatu komoditi terhadap rentang harga dalam suatu periode tertentu. Indikator ini biasanya dihitung dengan rumusan sebagai berikut : Harga penutupan harga terendah STS = 100 Harga tertinggi harga terendah Relative Strength Index (RSI) Diperkenalkan pertama kali oleh J. Welles Wilder pada tahun 1978 pada bukunya New Concepts in Technical Trading Systems. Nilai dari RSI berada pada kisaran 0-100 (itulah sebabnya mengapa 17

digolongkan sebaga indikator oscillator (Oscillate = berkisar). RSI sendiri merupakan indikator yang membandingkan momentum harga yakni antara nilai pada saat ini terhadap daya tarik losses yang terjadi. Secara matematis RSI dituliskan sebagai berikut : 100 RSI = 100 1 + Relative Strength dengan RS adalah : AG RS = AL Relative Strength, merupakan ratio antara dua buah XMA yang dihaluskan AG = Average price gain pada periode yang ditentukan. Diperoleh dari total gain dibagi periode yang dipakai. AL = Average price loss pada periode yang ditentukan. Diperoleh dari total loss dibagi periode yang dipakai. - Commodity Channel Index (CCI) Indikator Commodity Channel Index (CCI) dikembangkan oleh Donald Lambert. Indikator ini menghitung seberapa besar penyimpangan harga suatu produk sekuritas dari harga rata rata statistiknya. Nilai yang tinggi menunjukkan bahwa harga tersebut lebih tinggi dari nilai rata ratanya, sedangkan nilai yang rendah menunjukkan bahwa harga tersebut lebih rendah dari nilai rata ratanya. Selain untuk barang barang komoditas, CCI juga dapat digunakan untuk segala macam produk sekuritas. Asumsi yang digunakan dalam CCI adalah harga suatu produk sekuritas bergerak dalam suatu siklus naik dan turun dengan interval yang berkala. Lambert merekomendasikan untuk menggunakan 1/3 siklus komplit dari pergerakan suatu harga (misalnya dari lembah ke lembah atau dari puncak ke puncak) sebagai acuan waktu yang digunakan untuk menghitung CCI. Misalnya, siklus komplit pergerakan suatu harga adalah 60 hari, maka periode CCI yang digunakan adalah periode 20-hari. Dalam menentukan skala, Lambert menggunakan konstanta 0,015 untuk memastikan sekitar 70% - 80% dari nilai CCI terletak di antara 100 dan +100. Jumlah persentase nilai CCI yang terletak di antara 100 dan +100 bergantung pada periode yang digunakan. Semakin kecil periodenya, semakin kecil pula jumlah persentase nilai CCI yang terletak di antara 100 dan +100. Sebaliknya, semakin besar periode nya, semakin besar pula jumlah persentase nilai CCI yang terletak di antara 100 dan +100. 18 RS =

Untuk menghitung Commodity Channel Index, digunakan cara sebagai berikut: 1. Hitung penjumlahan dari harga tertinggi, harga terendah dan harga penutupan dalam setiap periode dan hasil penjumlahan tersebut dibagi 3. 2. Hitungan periode moving average sederhana dari hasil langkah 1. 3. Hitung deviasi nilai tengah dari langkah 1. 4. Hitung CCI = (langkah 1 langkah 2) / (0,015 * langkah 3) 2. Trend Following Indicator Indikator ini digunakan untuk mengidentifikasi awal dan akhir suatu trend atau kapan suatu trend akan berubah sehingga dapat diketahui kapan waktu terbaik untuk membuka dan menutup posisi. Contoh indicator : Moving Average (MA) Seperti namanya, Moving Average merupakan indicator yang akan memberikan nilai rata rata dari pergerakan harga. ada beberapa parameter yang harus diinput saat menjalankan indicator ini - Period = Jumlah bar/candle yang akan diambil nilainya dhitung dari candle terakhir. - Shift = Memajukan nilai moving average beberapa candle sesuai yang di input. - MA Method = Metode yang akan digunakan dalam menghitung nilai rata rata. - Apply to = data candle yang akan dihitung nilai rata ratanya. Moving Average memiliki beberapa method atau jenis perhitungan : 1. Simple Moving Average (SMA) Perhitungannya dengan menjumlahkan harga yang akan dihitung dibagi dengan period. Contoh: kita akan mencari nilai SMA dari 5 close price tiap candle, yang nilai close masing masing candle adalah 5,7,2,9,3 Code : 5+7+2+9+3 SMA = 5 2. Exponential Moving Average (EMA) Nilai EMA bisa dihitung menggunakan rumus berikut :

XMA = { 2 x(Current Price Previous XMA)}+ Previous XMA Periode + 1 sebenarnya EMA previouse itu adalah nilai SMA contoh perhitungan: 19

Data previouse EMA yang ke 6 itu diambil dari perhitungan: (25+24+28+24+26+27)/6 = 25,666667 (sama dengan menghitung nilai SMA) Dari pernyataan diatas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa EMA akan memberikan signal lebih dini dibanding SMA. 3. Smoothed Moving Average (SMMA) SMMA memiliki perhitungan bertahap. - untuk menghitung nilai SMMA awal sama dengan menghitung SMA yaitu (total data dibagi period) - untuk nilai SMMA ke dua dan seterusnya menggunakan rumus Code : SMMA(i) = {SUM1 SMMA1 + Applied price} Periode 4. Linear Weighted Moving Average (LWMA/WMA) Pembobotan nilai pada WMA tergantung dari period yang kita tentukan. Semakin besar period maka semakin pesar pembobotan nilai perhitungannya. WMA bisa dihitung menggunakan rumus berikut :

WMA = ( data x bobot ) bobot contoh perhitungan

20

3.

Volatility Indicator Indikator ini digunakan untuk melihat kekuatan pasar yang dilihat dari fluktuasi harga dalam satu periode waktu tertentu. Pasar dikatakan memiliki volatility yang tinggi jika pergerakan harga berlangsung naik turun secara tajam atau sangat fluktuatif di mana terjadi selisih harga yang besar antara harga tertinggi dan terendah. Contoh indicator : Bollinger Bands Diciptakan oleh John Bollinger pada awal 1980 an untuk membantu membandingkan volatilitas dan harga relatif dalam satu periode analisis. Bollinger bands sendiri sebenarnya terdiri atas tiga buah garis yang membentuk semacam sabuk pembatas terhadap pergerakan harga. Namun dalam penerapannya garis tengah Bollinger Bands seringkali tidak ditampilkan karena memang garis tengah tersebut hanyalah garis Moving Averages biasa. Seperti telah di terangkan diatas, Bollinger Bands sendiri bentuknya menyerupai sabuk yang menjadi pembatas pergerakan harga. Dapatkah Anda menemukan sesuatu pada gambar diatas? Ya benar. Apabila terjadi ketidak seimbangan antara demand dan supply, maka Bollinger Bands akan lebih melebar dibandingkan kondisi seimbang. Sebagai indicator, sebenarnya Bollinger Bands tidak dapat berdiri sendiri. Indikator ini biasanya digunakan hanya sebagai indikator awal untuk mengukur harga relatif dan volatility (volatile = mudah berubah volatility = tingkat kecepatan dalam berubah). Bollinger Bands bukanlah indikator action, jadi disarankan jika menggunakan indikator satu ini, gunakan juga indikator lain sebelum mengambil keputusan untuk buy atau sell. Seperti telah diterangkan diatas, Bollinger Bands pada dasarnya terdiri dari tiga garis. Yang timbul pada pikiran kita tentunya dari mana garis garis ini berasal bukan? Nah, berikut penjelasannya :

21

Uper band = Simple Moving Average + (faktor pengali x standar deviasi) Middle band = Simple Moving Average Lower band = Simple Moving Average (faktor pengali x standar deviasi) Faktor pengali = [0.6174 x ln (periode Bollinger Bands)] + 0.1046 Untuk faktor pengali, biasanya digunakan angka 2 dibandingkan penggunaan rumus diatas. Standar deviasi merupakan perhitungan statistik biasa yang digunakan untuk mengukur besarnya penyimpangan pada tiap-tiap data. Rumusnya adalah sbb :

dengan : Xi = data ke i X = rata-rata Data yang kita gunakan dalam perhitungan ini bukan hanya closed price saja seperti pada SMA biasa. Pada Bollinger Bands, data yang dipakai adalah gabungan antara high,low dan closinng price. Ada dua jenis pengambilan data pada middle band yaitu dengan memakai Typical Price dan Weighted Price. Typical price = Weighted price = Namun biasanya yang paling sering digunakan adalah typical price.

22