Anda di halaman 1dari 15

PERAN PEMERINTAH DAN INDUSTRI PANGAN DALAM MENYUKSESKAN PROGRAM FORTIFIKASI Tugas Terstruktur Fortifikasi Pangan

OLEH: KINANTHI GUSTI REINA RATRI GRATIA VIKA MAHARANI SANTRI MARGARET HERA DWI SARI A1M008023 A1M008046 A1M008066 A1M008077

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2011

I. PENDAHULUAN Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Karena itu, usaha pemenuhan kebutuhan pangan merupakan suatu usaha kemanusiaan yang mendasar, dimana untuk mempertahankan eksistensinya manusia akan selalu berusaha mencukupi kebutuhan pangan baik secara langsung maupun tidak langsung. Semakin maju suatu bangsa, semakin besar perhatiannya terhadap mutu bahan pangan yang dikonsumsi. makanan tidak lagi dipandang hanya sebagai sumber kalori, protein, vitamin dan mineral tetapi lebih dari itu. Penjelasan Undang-undang Republik Indonesia No. 7 Tahun 1996 tentang Pangan, secara tegas menyatakan bahwa Pangan sebagai kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya merupakan hak asasi setiap rakyat Indonesia harus senantiasa tersedia cukup setiap waktu, aman, bermutu, bergizi, dan beragam dengan harga yang terjangkau oleh daya beli masyarakat. Mengacu undangundang tersebut, pengertian pangan sebagai hak asasi manusia ini tidak hanya bersifat kuantitatif saja, tetapi juga mencakup aspek kualitatif. Pangan yang tersedia haruslah pangan yang aman untuk dikonsumsi, bermutu dan bergizi. Kekurangan akan tiga jenis zat gizi mikro (iodium, besi, dan vitamin A) secara luas menimpa lebih dari sepertiga penduduk dunia. Masalah kekurangan zat gizi mikro ini merupakan fenomena yang sangat jelas menunjukkan rendahnya asupan zat gizi dari menu sehari-hari. Maka, intervensi gizi yang mampu menjamin konsumsi makanan masyarakat mengandung cukup zat gizi mikro perlu dilakukan. Selain itu, peranan zat gizi mikro secara lengkap perlu dikembangkan untuk daerah miskin dan sulit terjangkau dengan memberdayakan keanekaragaman makanan lokal untuk peningkatan status gizi mikro masyarakat. Atas dasar tersebut, maka perlu dilakukan terobosan teknologi yang murah, memberikan dampak yang nyata, diterima oleh masyarakat dan berkelanjutan. Diantara berbagai solusi perbaikan gizi, fortifikasi merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan.

II.

MASALAH GIZI DI INDONESIA

Menurut Almatsier (2009), ada empat masalah kekurangan gizi di Indonesia, yaitu kekurangan energi protein (KEP), kekurangan vitamin A (KVA), anemi gizi besi (AGB) dan gangguan akibat kekurangan iodium (GAKI). Berikut penjelasan mengenai hal-hal tersebut. a. Kekurangan Energi Protein (KEP) KEP disebabkan oleh kekurangan makan sumber energi secara umum dan kekurangan sumber protein. Pada anak-anak, KEP dapat menghambat pertumbuhan, rentan terhadap penyakit terutama penyakit infeksi, dan menyebabkan rendahnya tingkat kecerdasan. Pada orang dewasa, KEP menurunkan produktivitas kerja dan derajat kesehatan sehingga menyebabkan rentan terhadap penyakit. KEP diklasifikasikan dalam gizi buruk, gizi kurang, dan gizi baik. Pada data status gizi balita Indonesia, prevalensi gizi buruk (<-3,0 SB) cenderung meningkat dari tahun 1989 hingga tahuin 1995 untuk menurun hingga tahun 2001 dan meningkat kembali pada tahun 2002 dan 2003. Prevalensi KEB berat tertinggi (>10 %) pada tahun 1999 terdapat di 5 propinsi yaitu di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, NTB, NTT, dan Kalimantan Barat (Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes, 1999). Pada umumnya KEP lebih banyak terdapat di pedesaan daripada di perkotaan. Di samping kemiskinan, faktor lain yang berpengaruh adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang makanan pendamping ASI dan pemberian makanan sesudah bayi disapih serta pemeliharaan lingkungan yang sehat. Menurunnya prevalensi gizi buruk dan gizi kurang secara rata-rata, walaupun Indonesia mengalami krisis ekonomi sejak 1997, diduga sebagai akibat diselenggarakannya program Jaringan Sosial Bidang Kesehatan (JPSBK) yang dikembangkan sejak tahun 1998, antara lain pemberian makanan tambahan (PMT) kepada balita bermasalah melalui rumah sakit dan puskesmas.

b. Kekurangan Vitamin A (KVA) Kekurangan vitamin A yang menyebabkan kebutaan pada akhir Pembangunan Jangka Panjang (PJP) I sudah hampir tidak ada lagi. Hasil Susenas tahun 1992 menunjukkan bahwa masalah KVA berupa bercak Birot (X1B) masih terdapat di tiga propinsi, yaitu Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Maluku. Khusus Sulawesi Selatan, survei ulang yang dilakukan 4 bulan kemudian menunjukkan penurunan prevalensi bercak Birot (X1B) hingga 0 %. Hal ini terjadi sebagai akibat intervensi yang dilakukan berupa pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi di daerah kantong-kantong rawan xeroftalmia. Atas keberhasilannya penanggulangan masalah KVA ini, pada tahun 1995 Indonesia mendapat penghargaan dari Yayasan Helen Keller Internasional. Namun kemungkinan munculnya kembali masalah KVA sebagai masalah kesehatan masyarakat tetap perlu diwaspadai. Hal ini karena pada tahap subklinik, KVA masih merupakan masalah. Sebanyak 50 % balita masih menunjukkan kadar serum vitamin A yang rendah, yaitu < 20 g/dl (Dit. BGM Depkes, 2000). KVA dapat menyebabkan kebutaan, mengurangi daya tahan tubuh sehingga mudah terserang infeksi, yang sering menyebabkan kematian pada anak-anak. Penyebab masalah KVA adalah kemiskinan dan kurangnya pengetahuan tentang gizi. c.Anemi Gizi Besi (AGB) Pada data prevalensi anemi gizi besi tahun 1989, 1992, 1995, dan 2001 di Indonesia, menunjukkan bahwa pada tahun 1995 angka AGB tinggi untuk semua golongan, yaitu berkisar antara 40,5 %-57,9 %. Prevalensi AGB paling tinggi ternyata terdapat pada usia > 65 tahun, yaitu sebesar 57,9 %. Berikutnya pada usia 10-14 tahun dan usia 55-64 tahun, yaitu masingmasing sebesar 57,7 dan 51,5 %. Prevalensi AGB tinggi terdapat baik pada laki-laki dan perempuan. Prevalensi AGB untuk ibu hamil tahun 1995 turun bila dibandingkan dengan angka tahun 1992, yaitu dari 63,5 % menjadi 50,9 % (Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes, 1999).

Penyebab masalah AGB adalah kurangnya daya beli masyarakat untuk mengkonsumsi makanan sumber zat besi, terutama dengan ketersediaan biologik tinggi (sumber hewani), dan pada perempuan ditambah dengan kehilangan darah melalui haid atau pada persalinan. AGB menyebabkan penurunan infeksi. d. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) Kekurangan iodium terutama terjadi di daerah pegunungan, dimana tanah kurang mengandung iodium. Daerah GAKI merentang sepanjang Bukit Barisan di Sumatera, daerah pegunungan di Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya. Di daerah tersebut GAKI terdapat secara endemik. Pada pemetaan GAKI pada anak sekolah yang dilakukan secara periodik sejak tahun 1989 melalui Survey Nasional GAKI oleh Departemen Kesehatan, tampak kecenderungan penurunan rata-rata prevalensi gondok total/Total Goitre Rate (TGR). Bila pada tahun 1989 angka rata-rata TGR adalah sebesar 32,7 %, pada tahun 1992 turun menjadi 27,7 %, pada tahun 1995 turun menjadi 18,0 %, pada tahun 1998 turun menjadi 9,8 %, dan pada tahun 2001 meningkat menjadi 11,1 %. Angka gondok nyata/Visible Goitre Rate (VGR) pada tahun 1989 tercatat sebesar 9,3 % dan pada tahun 1992 turun menjadi 6,8 %. Penanggulangan masalah GAKI secara khusus dilakukan melalui pemberian kapsul minyak beriodium/iodizied oil csapsule kepada semua wanita usia subur dan anak sekolah dasar di daerah endemik. Secara umum pencegahan GAKI dilakukan melalui iodisasi garam dapur. GAKI menyebabkan pembesaran kelenjar gondok (tiroid). Pada anak-anak menyebabkan hambatan dalam pertumbuhan jasmani maupun mental. Ini menampakkan diri berupa tubuh yang cebol, dungu, terbelakang, atau bodoh. kemampuan fisik atau produktivitas kerja, penurunan kemampuan berppikir dan penurunan antibodi sehingga mudah terkena

III.

PROGRAM FORTIFIKASI PANGAN

Fortifikasi pangan adalah penambahan satu atau lebih zat gizi (nutrien) kepangan. Tujuan utama dari fortifikasi pangan adalah untuk meningkatkan tingkat konsumsi dari zat gizi yang ditambahkan untuk meningkatkan status gizi populasi. Fortifikasi pangan ditujukan untuk mencegah defisiensi zat gizi dan juga untuk menghapus dan mengendalikan defisiensi zat gizi dan gangguan yang diakibatkannya (Siagian, 2003). Pangan pembawa zat gizi yang ditambahkan disebut Vehicle, sementara zat gizi yang ditambahkan disebut Fortificant. Ada 2 jenis fortifikasi berdasarkan banyaknya jenis fortifikan, yaitu single fortification dan double fortification. Istilah single fortification digunakan apabila hanya 1 zat gizi yang ditambahkan, sedangkan double fortification atau multiple fortification digunakan apabila 2 atau lebih zat gizi, masing-masing ditambahkan kepada pangan atan campuran pangan. Siagian (2003) juga menerangkan bahwa secara umum fortifikasi pangan dapat diterapkan untuk tujuan-tujuan berikut:
1. untuk memperbaiki kekurangan zat-zat dari pangan 2. untuk mengembalikan zat-zat yang awalnya terdapat dalam jumlah yang

signifikan dalam pangan akan tetapi mengalami kehilangan selama pengolahan.


3. untuk meningkatkan kualitas gizi dari produk pangan olahan yang digunakan

sebagai sumber pangan bergizi


4. untuk menjamin equivalensi gizi dari produk pangan olahan yang menggantikan

pangan lain Program fortifikasi sebaiknya dilaksanakan dan diikuti program gizi lainnya. Pendekatan program yang dapat disertakan diantaranya pendidikan gizi, suplementasi, aktivitas kesehatan masyarakat, dan perubahan konsumsi pangan. Program fortifikasi memiliki peranan yang sangat penting, tentunya tidak sebatas pemenuhan gizi masyarakat tapi juga mempunyai arti peningkatan kualitas perekonomian suatu negara.

IV.

PERAN PEMERINTAH DALAM PROGRAM FORTIFIKASI

Bagi banyak orang, masalah gizi dianggap masalah kesehatan semata, dan bukan masalah ekonomi ataupun masalah pembangunan. Banyak perencana dan pengambil kebijakan pembangunan, kurang menghargai pentingnya investasi di bidang gizi untuk pembangunan, khususnya pembangunan sumber daya manusia (SDM). Jika keluarga dan masyarakat menyandang masalah gizi maka bangsa ini akan kehilangan potensi sumber daya manusia yang berkualitas. Masalah yang akan dihadapi antara lain banyak anak yang tidak maju dalam pendidikan di sekolah karena kecerdasannya berkurang, banyak anggota masyarakat dewasa yang produktivitasnya rendah karena pendidikan dan kecerdasannya kurang atau kemampuan kerja fisiknya juga kurang, keluarga dan pemerintah mengeluarkan biaya kesehatan yang tinggi karena banyak warganya mudah jatuh sakit akibat kurang gizi, serta meningkatnya angka kematian pada usia produktif sehingga merupakan penggerogotan sumber daya manusia. Membangun masyarakat tidak cukup dengan membangun jalan, jembatan, gedung, pabrik, perkebunan, dan prasarana ekonomi lainnya. Investasi di bidang prasarana ekonomi tidak akan dinikmati rakyat banyak tanpa disertai investasi yang sepadan untuk pembangunan sosial terutama di bidang pangan, gizi, kesehatan, dan pendidikan. Pembangunan nasional Indonesia telah menghasilkan pembangunan bidang pangan dan gizi. Kini, masyarakat Indonesia umumnya mampu mengkonsumsi jumlah bahan pangan yang cukup. Namun dari segi jenis dan kualitas bahan pangan yang dikonsumsi, harus pula diakui bahwa masih cukup banyak masyarakat Indonesia yang belum mampu mencukupi kebutuhan gizi minimumnya. Program perbaikan gizi selama Repelita VI diprioritaskan untuk meningkatkan keadaan gizi masyarakat melalui peningkatan peran serta masyarakat dalam upaya memperluas cakupan dan sasaran penanggulangan gizikurang, terutama di desa-desa miskin dan tertinggal. Dalam pelaksanaannya

program perbaikan gizi meliputi upaya meningkatkan mutu dari produk-produk makanan yang dihasilkan baik oleh sektor industri maupun olahan masyarakat, dan melindungi masyarakat dari bahan makanan yang membahayakan kesehatan. Program perbaikan gizi dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan: a. penyuluhan gizi masyarakat
b. usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK) (Winarno, 1993) c. usaha perbaikan gizi institusi (UPGI)

d. fortifikasi bahan pangan


e. penerapan dan pengembangan sistem kewaspadaan pangan dan gizi

(SKPG). Pada kenyataannya, hasil dari berbagai survei tentang kondisi gizi di masyarakat Indonesia masih menunjukkan adanya suatu segmen populasi tertentu yang mengalami kelaparan gizi tersebut. Mereka itu terutama terdiri dari anak-anak usia sekolah, golongan tua, wanita mengandung dan menyusui. Ada beberapa sebab yang membuat segmen populasi tersebut muncul. Mungkin itu dikarenakan oleh kebiasaan dan kesukaan makan yang berbeda antara segmen populasi yang satu dengan segmen populasi yang lain, atau karena di daerah tertentu tersebut memang tidak atau kurang tersedia produk pangan yang mampu berperan sebagai sumber zat gizi esensial yang diperlukan. Diduga bahwa masalah malnutrisi atau kelaparan gizi ini umumnya dialami oleh masyarakat lapisan bawah. Namun hal ini bukan berarti bahwa lapar gizi tidak terjadi di masyarakat kalangan atas di perkotaan. Adanya kecenderungan konsumen untuk mengkonsumsi makanan rendah kalori, kurang beragamnya produk pangan yang dikonsumsi dapat pula menyebabkan kondisi kelaparan gizi pada kalangan masyarakat yang berpendapatan tinggi. Karena itu masalah kelaparan gizi ini dapat terjadi pada semua kalangan masyarakat. Sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas hanya akan tercapai apabila ada kebijakan yang kondusif, progresif, dan berkesinambungan. Walaupun usahausaha pemerintah untuk memerangi masalah malnutrisi zat gizi mikro ini telah banyak dilakukan, antara lain dengan program fortifikasi pangan dan program penyempurnaan pedoman empat sehat lima sempurna. Namun, masalah-masalah

malnutrisi ini secara nasional masih belum terselesaikan dengan tuntas. Mengingat akibat yang dapat ditimbulkan cukup berdampak serius, maka usaha penanggulangannya perlu diusahakan dengan baik. Saat ini fortifikasi pangan dianggap strategi yang cukup baik untuk perbaikan gizi mikro. Pada umumnya penduduk di negara berkembang memiliki akses terhadap pangan rendah karena berkaitan dengan kemiskinan. Kebanyakan mereka mengkonsumsi pangan dari pangan yang ditanam atau pangan yang tersedia di pasar lokal. Fortifikasi pangan merupakan aktivitas yang cukup luas melibatkan berbagai sektor, tidak hanya sektor kesehatan. Kesuksesan dan keberlanjutan dari program fortifikasi dapat terjadi apabila ada kerjasama yang baik antara pemerintah, sektor publik, sektor swasta dan sektor sosial. Pada program fortifikasi peran swasta dan masyarakat cukup besar dan akan menentukan tingkat keberhasilan. Pada tataran implementasi program fortifikasi perlu direncanakan dengan baik dalam suatu tahapan. Tahapan dalam implementasi sebagai berikut :
1.

Identifikasi target grup dan penetapan kebutuhan untuk fortifikan dan pangan pembawa. Mengkaitkan fortifikasi dengan strategi perbaikan gizi lainnya, terutama pendidikan gizi, suplementasi dan perubahan konsumsi ke arah peningkatan pangan

2.

3.
4.

Menentukan bentuk kerjasama antara pemerintah, swasta dan masyarakat. Menilai visibility fortikasi dan skala produksi industri, Menentukan lokasi untuk mendemonstrasikan fortifikasi pangan, Mendesain materi pemasaran sosial yang baik untuk menyampaikan pesan tentang fortifikasi pangan Advokasi untuk mendapatkan dukungan politik dan finansial. Identifikasi dan pengembangan kebutuhan teknologi fortifikasi untuk menjamin kualitas produk dan biaya murah Jaminan instalasi dari mesin dan kelengkapan sarana untuk fortifikasi dan untuk jaminan kontrol kualitas dan asuransi.

5. 6.
7. 8.

9.

10.

Mendesain sistem monitoring dan evaluasi secara terukur, mekanisme jelas, dengan tujuan untuk bisa melihat perkembangan program fortifikasi. Kondisi-kondisi yang perlu untuk suksesnya program fortifikasi, antara

lain adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. dukungan politik, dukungan industri, perangkat legislasi yang cukup termasuk pengendalian kualitas eksternal, tingkat (taraf) fortifikasi yang tepat, bioavailibilitas yang baik dari campuran, tidak ada efek penghambat dari makanan asal (common diet), pelatihan sumber daya manusia pada tingkat industri dan pemasaran , akseptibilitas (keterimaan) konsumen, tidak ada penolakan secara kultural (dan yang lain) terhadap pangan hasil fortifikasi, penilaian laboratoris yang cukup (memadai) untuk status zat gizimikro, dalam kasus kekurangan gizi besi, ketidakhadiran paratisme dan nondiit lain yang menyebabkan anemi, dan, tidak ada kendala yang menyangkut usaha untuk mendapatkan gizimikro. Salah satu contoh peran pemerintah adalah adanya Peraturan Menteri (Permen) Perindustrian Nomor 49/M-IND/PER/7/2008 Tentang Pemberlakuan SNI Tepung Terigu sebagai Bahan Makanan Secara Wajib setelah sebelumnya mencabut pemberlakuan SNI yang diadopsi sebagai regulasi teknis yang diberlakukan wajib. Penetapan pemberlakuan SNI tepung terigu ini, lanjutnya, juga disambut baik oleh badan-badan dunia yang berkepentingan dengan program fortifikasi dan mereka yang membantu pendanaan program gizi di Indonesia, seperti Unicef, Bank Pembangunan Asia, WFP, Usaid, CIDA serta negara berkembang yang menyiapkan program fortifikasi wajib, seperti Malaysia, Vietnam dan India. Fortifikasi wajib atas komoditas pangan tertentu adalah bagian dari upaya penanggulangan kemiskinan yang cost-effective (Prihananto, 2004). Diharapkan periode pembangunan nasional dan daerah program fortifikasi wajib tidak terbatas

pada fortifikasi wajib garam beryodium, dan tepung terigu seperti yang ada, tetapi juga raskin, minyak goreng curah, dan produk tepung lain yang nonterigu. Di Indonesia, fortifikasi zat besi misalnya telah wajib diberlakukan pada beberapa produk pangan seperti mie instant, susu bubuk dan terigu. Namun demikian, sampai sekarang fortifikasi masih belum banyak berperan dalam penanggulangan anemia gizi besi di masyarakat, terlihat dengan masih tingginya angka prevalensi anemia gizi besi. Salah satu penyebabnya adalah karena bahan pangan yang digunakan sebagai vehicle belum dikonsumsi secara luas dan kontinyu oleh seluruh lapisan masyarakat, khususnya masyarakat ekonomi lemah. Agar strategi fortifikasi ini lebih efektif, perlu dicari pangan vehicle baru yang lebih umum dan banyak dikonsumsi masyarakat. Dilihat dari tingkat ekonomi dan kultur masyarakat Indonesia, yang berpotensial sebagai vehicle besi adalah garam. Sebagaimana diketahui, garam merupakan bahan pangan yang murah, mudah didapat dan dikonsumsi setiap hari oleh seluruh lapisan masyarakat di segala tingkat ekonomi. Disamping itu, kadar dan cara konsumsi garam bisa dikatakan hampir seragam. Penggunaan garam sebagai pangan vehicle pada fortifikasi iodium telah dilakukan secara nasional dan terbukti berhasil menanggulangi defisiensi iodium. Oleh karenanya, penambahan zat besi pada garam beriodium memiliki harapan besar dapat digunakan untuk menanggulangi dua masalah gizi utama di Indonesia sekaligus, yakni gangguan akibat kekurangan iodium (GAKI) dan anemia gizi besi (AGB).

V.

PERAN INDUSTRI DALAM PROGRAM FORTIFIKASI dengan cukup pesat.

Industri pangan di Indonesia telah berkembang

Industri ini telah berhasil membawa perubahan-perubahan terhadap kebiasaan dan pola makan masyarakat konsumennya, menyajikan kepada konsumen beragam pilihan produk pangan olahan, termasuk yang menjanjikan kemudahankemudahan dalam penyiapan, penyajian dan pembuangannya. Namun demikian, belum ada perubahan-perubahan cukup mendasar yang diakibatkan oleh kegiatan pengembangan industri pangan tersebut yang membawa manfaat terhadap status gizi dan kesehatan masyarakat. Industri pangan memegang peranan kunci dalam setiap program fortifikasi di setiap negara. Hal ini disebabkan karena industri pangan memang memegang peranan yang penting dan strategis dalam membentuk pola dan kebiasaan diet masyarakat. Apalagi dengan kegiatan promosi yang didukung oleh dana yang besar, maka industri pangan mempunyai kekuatan yang besar untuk mempengaruhi status gizi dan kesehatan masyarakat konsumennya. Umumnya pemerintah tidak melakukan sendiri fortifikasi pangan sehingga pelaksanaan fortifikasi pangan, harus dijalankan oleh industri pangan. Hal ini merupakan tugas dan tanggungjawab dari perusahaan pengolahan makanan. Pegawai pemerintah bertindak sebagai penasehat, konsultan, koordinator, dan supervisor yang memungkinkan industri pangan melaksanakan fortifikasi pangan secara efektif dan menguntungkan. Akan tetapi, dalam banyak kasus Departemen Kesehatan sering tidak dapat atau tidak mau mengendalikan dan memotivasi industri. lndustri pangan juga dapat memainkan peranan yang nyata dalam strategi fortifikasi jangka panjang melalui penyediaan teknik preservation yang dikembangkan dan melalui peningkatan pangan yang kaya zat gizi mikro yang tersedia secara lokal atau sebagai fortifikan (Siagian, 2003).

Spesifiknya, industri pangan (baik nasional manpun multinasional) perlu untuk:


1. Berpartisipasi

sejak permulaan perencanaan program, yang akan

menetapkan strategi fortifikasi yang layak.


2. Mengidentifikasi mekanisme untuk kolaborasi antara pemerintah, industri

pangan dan sistem pemasarannya, dan organisasi non pemerintah dan perwakilan donor.
3. Membantu dalam mengidentifikasi pangan pembawa dan fortifikan yang

sesuai.
4. Menetapkan dan mengembangkan sistem jaminan mutu (quality assurance

system).
5. Berpatisipasi dalam dukungan-dukungan promosi dan edukasi untuk

mencapai populasi sasaran.

VI.

PENUTUP

Fortifikasi pangan adalah penambahan satu atau lebih nutrisi pada makanan. Tujuan utama adalah untuk meningkatkan tingkat konsumsi dari zat gizi yang ditambahkan untuk meningkatkan status gizi populasi masyarakat di suatu wilayah. Fortifikasi pangan dengan zat gizi mikro merupakan salah satu strategi utama dan murah yang dapat digunakan untuk meningkatkan status mikronutrien pangan pada masyarakat. Di negara berkembang, yang memiliki masalah gizi dan kemampuan ekonomi masyarakat rendah, maka fortifikasi merupakan program wajib. Program pemerintah ini tentunya akan terlaksana dengan baik apabila didukung semua pihak, termasuk di dakamnya industri dan para pelaksana teknis di lapangan. Di Indonesia, peran pemerintah dalam program fortifikasi terlihat antara lain dengan adanya fortifikasi wajib tepung terigu dan garam dengan iodium. Fortifikasi sukarela yang dilakukan oleh industri-industri pangan sebaiknya turut pula didukung oleh pemerintah. Sehingga fortifikasi dapat dilakukan secara efektif dan bersifat menguntungkan.

DAFTAR PUSTAKA Almatsier, S. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Prihananto. 2004. Fortifikasi Pangan Sebagai Upaya Penanggulangan Anemi Gizi Besi (On-line) http://www.scribd.com/doc/45031019/prihananto diakses 13 April 2011. Siagian, A. 2003. Pendekatan Fortifikasi Pangan untuk Mengatasi Masalah Kekurangan Zat Gizi Mikro (On-line) http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3762/1/fkmalbiner5.pdf diakses 13 April 2011. Winarno. 2003. Pangan Gizi, Teknologi dan Konsumen. Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.