Anda di halaman 1dari 24

2.1.

Persyaratan Kekuatan
Penerapan faktor keamanan dalam struktur bangunan, disatu pihak bertujuan
untuk mengendalikan kemungkinan terjadinya runtuh yang membahayakan bagi
penghuni, di lain pihak harus juga memperhitungkan faktor ekonomi bangunan.
Kriteria dasar kuat rencana dapat diuraikan sebagai berikut :
Kekuatan yang tersedia kekuatan yang dibutuhkan
Kekuatan setiap penampang komponen struktur harus diperhitungkan
dengan menggunakan kriteria dasar tersebut. Kekuatan yang dibutuhkan atau kuat
perlu menurut SK-SNI T-15-1991-03, dapat diungkapkan sebagai beban rencana
atau momen, gaya geser, dan gaya-gaya lain yang berhubungan dengan beban
rencana.
Standar SK-SNI T-15-1991-03 pasal 3.2.3 ayat 2 memberikan faktor reduksi
kekuatan untuk berbagai mekanisme, antara lain sebagai berikut :
Lentur tanpa beban aksial = 0.8
Geser dan puntir = 0.6
Tarik aksial, tanpa dan dengan puntir = 0.8
Tarik aksial, tanpa dan dengan lentur (sengkang) = 0.65
Tarik aksial, tanpa dan dengan lentur (spiral) = 0.7
Tumpuan pada beton = 0.7
Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kuat momen yang digunakan M
R
(kapasitas momen) sama dengan kuat momen ideal M
n
dikalikan dengan faktor
M
R
= . M
n
(2-1)
Untuk memenuhi syarat kekuatan pada struktur maka kuat perlu (U) diperoleh
dari kombinasi pembebanan yang telah ditetapkan sesuai peraturan yang berlaku,
antara lain sebagai berikut :
1. U = 1,2D + 1,6L (2-2)
2. U = 1,05 (D + L
R
+ E) (2-3)
3. U = 0,9 (D tE) (2-4)
4. U = 0,9D + 1,3W (2-5)
Dengan :
D = Beban mati
L = Beban hidup
L
R
= Beban hidup tereduksi
W = Beban angin
E = Beban gempa
2.2. Beban Gravitasi
2.2.1. Beban Mati
Beban mati adalah berat dari semua bagian dari suatu bangunan yang
bersifat tetap, termasuk segala unsur tambahan, penyelesaian-peyelesaian, mesin-
mesin serta peralatan tetap yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
gedung (PPI 1987).
Beban mati dapat dinyatakan sebagai gaya statis yang disebabkan oleh berat
setiap unsur di dalam struktur. Gaya-gaya yang menghasilkan beban mati terdiri
dari berat unsur pendukung beban dari bangunan, lantai, penyelesaian langit-
langit, dinding partisi tetap, penyelesaian fasade, sistem distribusi mekanis dan
seterusnya. Gabungan beban semua unsur ini menjadikan beban mati dari suatu
bangunan.
Semua metode untuk menghitung beban mati suatu elemen didasarkan atas
peninjauan berat satuan material yang terlibat dan berdasarkan volume elemen
tersebut. Tampaknya untuk menghitung berat bahan-bahan, yaitu beban mati
struktur, adalah masalah yang mudah. Akan tetapi, penaksiran beban mati dapat
meleset sekitar 15 sampai 20 persen atau lebih karena adanya berbagai masalah
dalam membuat suatu analisis yang tepat mengenai beban. Pada tahap rancangan
awal tidaklah mungkin bagi seorang analisis struktur untuk memperkirakan berat
beban bangunan yang telah dipilih dengan tepat. Berat unit bahan yang diberikan
oleh produsen atau kode pabrik tidak selalu sesuai dengan berat barang yang
diproduksi. Ukuran nominal unsur bangunan dapat berbeda dari ukuran
sebenarnya.
2.2.2. Beban Hidup
Beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat penghunian atau
penggunaan suatu bangunan dan di dalamnya termasuk beban-beban pada lantai
yang berasal dari barang-barang yang berpindah, mesin-mesin serta peralatan
yang tidak merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung dan dapat diganti
selama masa hidup dari bangunan itu, sehingga mengakibatkan perubahan dalam
pembebanan lantai dan atap tersebut (PPI 1987).
Beban hidup spesifik pada intensitas keseragaman distribusi beban lantai,
menurut penghunian dan penggunaan ruang. Dalam situasi yang pasti seperti pada
area parkir, kantor, dan ruang tanaman, lantai harus dipertimbangkan dari
alternatif kemungkinan terburuk dari spesifik beban konsentrasi.
Dengan adanya hal-hal yang tak terduga dari bangunan tinggi, maka sangat
sulit untuk memperkirakan beban hidup yang mungkin terjadi, yang
mempengaruhi struktur. Akan tetapi, melalui pengalaman, penyelidikan, dan
analisis statistik, nilai beban yang dianjurkan untuk berbagai penggunaan dapat
dihampiri sedekat mungkin dengan kenyataannya.

2.3. Beban Gempa
Mengacu pada SKBI-1.3.53.1987 pengaruh gempa terhadap struktur dapat
dianalisis dengan cara sebagai berikut ini.
1. Analisis Beban Statik Ekuivalen adalah suatu cara analisis statik struktur,
dimana pengaruh gempa pada struktur dianggap sebagai beban-beban
statik horisontal.
2. Analisis Ragam Spektrum Respons adalah suatu cara analisis dinamik
struktur, dimana pada suatu model matematik dari struktur diberlakukan
suatu spektrum respons gempa rencana, dan berdasarkan itu ditentukan
respons struktur terhadap gempa rencana tersebut melalui superposisi dari
respons masing-masing ragamnya.
3. Analisis Respons Riwayat Waktu adalah suatu cara analisis dinamik
struktur, di dalam mana suatu model matematik dari struktur dikenakan
riwayat waktu dari gempa-gempa hasil pencatatan atau dari gempa-gempa
tiruan, terhadap riwayat waktu dari respons struktur ditentukan.
Untuk mencari beban geser gempa untuk analisis beban statik ekivalen
digunakan rumus:
V= C . I . K . Wt (2-6)
Dengan :
V = gaya geser horisontal
C = koefisien gempa
I = faktor keutamaan gedung
K = faktor jenis struktur
Wt = berat total struktur bangunan
Koefisien gempa dasar (C) harus ditentukan berdasarkan wilayah gempa,
dengan memperhitungkan Waktu Getar Alami (T) dan Jenis Tanah (keras atau
lunak) dimana struktur tersebut dibangun. Waktu getar alami (T) sendiri dapat
dicari dengan menggunakan rumus pendekatan sebagai berikut :
4
3
xH T 0,06
(2-7)
Dimana :
T = waktu getar alami
H = tinggi gedung
Waktu ulang dari kerusakan struktur gedung akibat gempa akan
diperpanjang dengan pemakaian suatu Faktor Keutamaan (I) yang lebih besar dari
1,0. Suatu faktor yang lebih besar harus dipakai pada gedung-gedung pusat
pelayanan utama yang penting bagi usaha penyelamatan setelah gempa terjadi,
gedung-gedung monumental dan gedung-gedung yang dapat mendatangkan
bahaya luar biasa kepada umum.
Apabila dipakai lebih dari satu sistem struktur di dalam suatu gedung, maka
yang dipakai adalah Faktor Jenis Struktur (K) untuk sistem yang dominan dalam
menghasilkan ketahanan terhadap gempa, tetapi kombinasi sistem-sistem struktur
tersebut harus tetap ditinjau dalam perhitungan waktu getar alami (T) dari struktur
gedung tersebut. Faktor jenis struktur (K) untuk berbagai jenis struktur gedung
harus diambil menurut tabel 2-2 PPKGURG 1987.
Struktur gedung yang tidak begitu mudah diperkirakan perilakunya terhadap
gaya gempa harus dianalisis dengan analisis dinamik. Perubahan-perubahan
dalam bentuk struktur menyebabkan simpangan dan lantai-lantainya yang tidak
beraturan sehingga gaya-gaya inersianya yang timbul oleh gempa jadi tidak
beraturan. Oleh sebab itu tidaklah mungkin untuk memperkirakan dengan tepat
pembagian-pembagian gaya gempa di dalam struktur yang sedemikian dengan
menggunakan pembagian beban titik secara empiris.
Dalam analisis dinamik, sifat-sifat dinamik dari struktur, seperti massa,
redaman dan kekakuan sangatlah berpengaruh terhadap respon struktur. Hal ini
sangat berbeda dengan analisis statik, dimana hanya kekakuan struktur yang
berpengaruh terhadap respon struktur.
Pada analisis respon spektrum, gaya geser di tingkat dasar tetap dikaitkan
dengan hasil yang diperoleh dari beban geser dasar menurut cara analisis statik
ekivalen. Dalam hal ini suatu reduksi sebesar 10% dari beban geser dasar pada
analisis statik ekivalen telah ditetapkan untuk melakukan analisis respon
spektrum, karena dengan cara ini diperoleh pembagian yang lebih tepat dari gaya
geser tingkat sepanjang tinggi gedung :
V
dinamik
0,9 V
statik
(2-8)
2.4. Beban Angin
Beban angin adalah semua beban yang bekerja pada gedung atau bagian
gedung yang disebabkan oleh selisih dalam tekanan udara (PPI 1987). Beban
lateral karena angin atau gempa merupakan faktor penyebab desain pada
bangunan tinggi berbeda dengan desain pada bangunan yang tidak terlalu tinggi.
Dengan berkembangnya teknik arsitektur, bertambahnya kekuatan material, dan
kemajuan metoda analisis, struktur bangunan tinggi menjadi lebih ringan dan
efisien sehingga akan lebih mudah mengalami defleksi dan ayunan akibat beban
angin. Hal ini memacu perkembangan penelitian tentang teknik angin dan
penyelidikan mengenai besar pengaruh beban angin pada bangunan tinggi.
Untuk memahami angin dan memperkirakan perilakunya secara ilmiah yang
tepat ternyata sangat sulit. Aksi angin pada bangunan bersifat dinamis dan
dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan seperti kekasaran dan bentuk
permukaan, bentuk kerampingan dan tekstur fasade struktur itu sendiri serta
perletakan bangunan yang berdekatan.
2.4.1. Pembebanan Angin
Beban angin ditentukan dengan menganggap adanya tekanan positif dan
tekanan negatif (isapan), yang bekerja tegak lurus pada bidang-bidang yang
ditinjau. Besarnya tekanan positif dan tekanan negatif ini dinyatakan dalam
kg/m
2
, dan ditentukan dengan mengalikan tekanan tiup yang ditentukan dalam
pasal 4.2 PPI 1987 dengan koefisien-koefisien angin yang ditentukan dalam pasal
4.3. Tekanan tiup berdasarkan Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung
1987 pasal 4.2 adalah sebagai berikut :
1. Tekanan tiup harus diambil minimum 25 kg/m
2
, kecuali yang ditentukan dalam
b, c, dan d.
2. Tekanan tiup di laut dan tepi laut sampai sejauh 5 km dari tepi pantai harus
diambil minimum 40 kg/m
2
, kecuali yang ditentukan dalam c dan d.
3. Untuk daerah-daerah di dekat laut dan daerah-daerah lain tertentu, dimana
terdapat kecepatan-kecepatan angin yang mungkin menghasilkan tekanan tiup
yang lebih besar dari pada yang ditentukan dalam a dan b, tekanan tiup harus
dihitung dengan rumus:
) / (
16
2
2
m kg
V
p (2-9)
dengan p menyatakan tekanan tiup pada permukaan bangunan, dan V
menyatakan kecepatan angin dalam m/det., yang harus ditentukan oleh instasi
yang berwenang.
4. Pada cerobong, tekanan tiup dalam kg/m
2
harus ditentukan dengan rumus
(42,5 + 0,6 h), dimana h adalah tinggi cerobong seluruhnya dalam meter,
diukur dari lapangan yang berbatasan.
Besar beban angin pada bangunan (Gambar 2.1) diperoleh dari hasil
perkalian tekanan tiup (p) dengan luas permukaan bangunan yang mendukung
beban angin tersebut dan nilai koefisien angin.
Grafik hubungan beban angin dengan tinggi bangunan diperoleh dari New
York State Code Minimum Wind Loads for Rectan yang dikeluarkan oleh New
York State Building Construction Code (Schueller 1989) sehingga didapat pola
seperti pada gambar 2.2.
Untuk struktur rangka ruang dengan penampang melintang berbentuk
persegi dengan arah angin tegak lurus pada salah satu bidang rangka, koefisien
angin untuk rangka pertama di pihak angin adalah +1,6 dan untuk rangka kedua di
belakang angin adalah +1,2 (ayat 6b pasal 4.3 PPI 1987).
F1
F1
F1
F1
F1
F1
F1
F1
F1
F1
F1
F1
F1
F1
F1
F2 F2 F2
F2
F2
F2
F2
F2
Gambar 2.1. Beban Angin pada Bangunan Tinggi
0
6,65 33,32
50
66,65
25
30
35
40
46,67
53,33
55
56,67
7,5
12
18
30
60
90
120
150
T
i
n
g
g
i

B
a
n
g
u
n
a
n

(
m
)
Beban Angin (kg/m
2
)
Gambar 2.2. Hubungan Beban Angin dengan Tinggi Bangunan
2.5. Perencanaan Elemen Struktur
2.5.1. Perencanaan Balok
Balok adalah batang struktural untuk menahan gaya-gaya yang bekerja
dalam arah transfersal terhadap sumbunya yang mengakibatkan terjadinya
lenturan. Balok merupakan elemen struktur yang menyalurkan beban-beban dari
plat lantai ke kolom penyangga vertikal. Dua hal utama yang dialami oleh balok
adalah tekan dan tarik, antara lain karena adanya pengaruh lentur ataupun gaya
lateral.
b
c (tekan) c 0,85. c
c
a = 1. c Cc = 0,85 . c. ab
d g. netral z = d- a/2

s (tarik) f y f y T =As . f y
Gambar 2.3. Distribusi Tegangan Regangan Balok
(Sumber : Dipohusodo, 1999.)
Sesuai dengan SK SNI-T-15-1991-03 pasal 3.2.5, tebal minimum balok
ditentukan berdasarkan syarat sebagai berikut:
satu ujung menerus : h
min
= L / 18,5 (2-10)
dua ujung menerus : h
min
= L / 21 (2-11)
Syarat tersebut berlaku untuk fy = 400 Mpa, selain nilai tersebut harus dikalikan
dengan faktor ( 0,4 + fy / 0,7 ).
Sedangkan untuk lebar balok diambil dengan ketentuan sebagai berikut :
1. lebar balok tidak kurang dari 250 cm,
2. rasio terhadap tinggi balok tidak kurang dari 0,3.
Langkah-langkah perencanaan elemen balok sebagai berikut ini:
Gaya desak beton Cc = 0,85.

c. b. a (2-12)
Gaya tarik baja T = As.

f y (2-13)
Kesetimbangan gaya Cc = T a =
.b f 0,85
f A
'
c
y s.
.
(2-14)
Momen Nominal Mn = Cc.Z 0,85.

c. b. a.(d a /2) (2-15)
Atau
Mn = T.Z As.

f y (d a/2) (2-16)
Syarat rasio penulangan untuk komponen lentur:
y
1
y
'
c
b
f 600
600
. .
f
0,85.f

(2-17)
y
min
f
1,4

(2-18)
b maks
0,75.
(2-19)
Untuk perencanaan gempa:
y
maks
f
7

(2-20)
2
.b.d
Mu.b
k
(2-21)

,
_


c 0,85.f'
2.k
1 1 .
fy
c 0,85.f'

(2-22)
Keterangan:
Cc = gaya desak beton,
Ts = gaya tarik baja,
Bw = lebar balok, untuk balok persegi = b ,
Mn = momen nominal,
d = tinggi efektif balok,
a = kedalaman blok tegangan beton tekan,
As = luas tulangan,

b

= rasio penulangan dalam keadaan seimbang,


= rasio tulangan tarik,

min
= rasio tulangan minimum,

maks
= rasio tulangan maksimum,
'
c
f
= kuat tekan beton (MPa),
y
f
= tegangan luluh baja (MPa) ,
1

= 0,85 untuk c 30 MPa,


= 0,85 0,008 (c-30) untuk 30 MPa < c < 55 MPa
= 0,65 untuk c 55 MPa.
Koefisien tahanan (K) :
2
b u,
2
n
.b.d
M
b.d
M
K
(2-23)
Tulangan tunggal digunakan bila < maks
Kuat lentur perlu balok portal yang dinyatakan dengan M
u,b
harus ditentukan
berdasarkan kombinasi pembebanan tanpa atau dengan beban, sebagai berikut ini.
M
u,b
= 1,2 M
D,b
+1,6 M
L,b.
(2-24)
M
u,b
= 1,05 ( M
D,b
+M
L,b,R
M
E,b
). (2-25)
Keterangan :
M
D,b
= momen lentur balok portal akibat beban-mati tak terfaktor,
M
L,b
= momen lentur balok portal akibat beban-hidup tak terfaktor,
M
E,b
= momen lentur balok portal akibat gempa tak terfaktor.
Khusus untuk portal dengan daktilitas penuh perlu pula dihitung kapasitas
lentur sendi plastis balok yang besarnya ditentukan sebagai berikut :
M
kap,b
=
o
M
nak,b
(2-26)
Dengan :
M
kap,b
= kapasitas aktual balok pada pusat pertemuan balok kolodengan
memperhitungkan luas tulangan yang sebenarnya terpasang.
M
nsk,b
= kuat lentur nominal balok berdasarkan luas tulangan yang
sebenarnya terpasang.

o
= faktor penambahan kekuatan ( overstrength factor ) yang di
tetapkan sebesar 1,25 untuk f
y
< 400 Mpa, dan 1,40 untuk
untuk f
y
> 400 Mpa.
Gaya geser rencana (V
u,b
) pada balok portal berdaktilitas penuh dalm SK SNI
T-15-1991-03 diatur:


V
u,b
= 0,7.
1
]
1

+
Ln
M M b kap b kap ' , ,
.1,05.Vg
(2-27)
Dan tidak lebih dari :
b u
V
, =1,05 (
b E b L b D
V
K
V V
, , ,
.
4,0
+ +
)
(2-28)
Dengan :
n
l
= bentang bersih balok,
V
g
= gaya geser akibat beban gravitasi,
b D
V
, = gaya geser balok akibat beban mati,
b L
V
, = gaya geser balok akibat beban hidup,
b E
V
, = gaya geser balok akibat beban gempa,
K = faktor jenis struktur.
Penulangan geser balok menurut SK SNI T-15-1991-03 ayat 3.4.1 butir 1
didasarakan pada
Vu . Vn (2-29)
Vn = Vc + Vs (2-30)
Dimana:
Vu = kuat geser terfaktor,
Vn = kuat geser nominal,
Vc = kuat geser nominal beton,
Vs = kuat geser nominal tulangan geser.
Vc =
d bw
fc
. .
6
'

,
_

(2-31)
Vs =
,
_

s
d fy Av . .
(2-32)
Dimana:
Av = luas tulangan geser dalam jarak s,
s = jarak antar sengkang,
bw = lebar balok.
Kuat geser balok pada daerah sendi plastis sama dengan nol dan untuk
daerah diluar sendi plastis, diperhitungkan seperti rumus diatas.
Spasi maksimum dari sengkang di dalam daerah sendi plastis (menurut SK
SNI T-15-199-03 ayat 3.14.3 butir 3) tidak boleh melebihi:
- d / 4,
- 8 x diameter tulangan longitudinal terkecil,
- 24 x diameter batang sengkang,
- 200 mm.
Menurut SK SNI T-15-1991-03 ayat 3.4.5 butir 4, spasi dari tulangan geser di
luar daerah sendi plastis yang dipasang tegak lurus terhadap sumbu aksial
komponen struktur tidak boleh melebihi:
- d / 2,
- 600 mm.
2.5.2. Perencanaan Kolom
Kolom merupakan bagian dari suatu kerangka bangunan yang menempati
posisi terpenting dalam sistem struktur bangunan. Bila terjadi kegagalan pada
kolom maka dapat berakibat keruntuhan komponen struktur lain yang
berhubungan dengannya, atau bahkan terjadi keruntuhan total pada keseluruhan
struktur bangunan (Dipohusodo, 1999).
Berdasarkan SK SNI T-15-1991-03 ayat 2.3.3 butir 5 sub butir 2. Dimensi
kolom dengan penulangan sengkang diperhitungkan dengan rumus sebagai
berikut :
Pu = 0,8..{0,85.fc'.(Ag - Ast)+fy.Ast} (2-33)
Dimana :
Pu = kuat beban aksial ultimit pada eksentrisitas yang diberikan
fc' = kuat tekan beton yang disyaratkan (MPa)
fy = tegangan leleh yang disyaratkan dari tulangan non
prategang (MPa)
Ag = luas bruto penampang
Ast = luas total tulangan longitudinal (mm
2
)
= faktor reduksi kekuatan
Jumlah luas penampang tulangan pokok memanjang kolom g = 1% sampai
dengan 8%, dan pada umumnya digunakan rasio 1,5% sampai dengan 3%.
Untuk struktur berlantai banyak rasio yang digunakan 1% sampai dengan
4%. Untuk struktur beton bertulang pada umumnya menggunakan beton dengan
kuat tekan berkisar antara 17-30 MPa (Istimawan,1999).
Karena : Ast = g.Ag (2-34)
maka : Pu = 0,8..Ag.{0,85.fc'.(1-g)+fy. g} (2-35)
ditentukan g = 3% ; = 0,65 (untuk sengkang ikat) ; fc' = 30 MPa ;
fy = 400 MPa
Ag perlu = b.h , dengan b=h
Ag perlu = b
2
. (2-36)
} . ) 1 '.( . 85 , 0 .{ . 8 , 0 g fy g fc
Pu
Ag
perlu
+


(2-37)
} 03 , 0 . 400 ) 03 , 0 1 .( 30 . 85 , 0 .{ 65 , 0 . 8 , 0 +

Pu
Ag
perlu
1022 , 19
Pu
Ag
perlu

perlu
Ag b
Kuat lentur perlu kolom portal pada bidang muka balok harus dihitung
berdasarkan terjadinya sendi plastis pada ujung-ujung balok yang bertemu dengan
kolom tersebut.
k u,
M
=

,
_

+
ka kap,
ka
ka
ki kap,
ki
ki
D D
M
' L
L
M
' L
L
. .a 0,7.
hk
hk'
(2-38)
Dengan :
hk = tinggi kolom dari titik pertemuan ke titik pertemuan,
hk' = tinggi bersih kolom,
Lk = bentang balok dari pertemuan ke titik pertemuan,
Lk' = bentang bersih balok,
D

= faktor pembesar dinamik = 1,3 kecuali di tingkat bawah =1,0,


D
a
= faktor distribusi dari kolom,
ki kap,
M
= momen kapasitas balok disebelah kiri bidang muka
kolom,
ka kap
M
, = momen kapasitas balok disebelah kanan bidang muka
kolom.
Tetapi tidak perlu lebih dari:

,
_

+ +
K E K L K D k u
M
K
M M M
, , , ,
0 , 4
1,05.
(2-39)
Dengan :
K D
M
, = momen pada kolom akibat beban mati,
K L
M
, = momen pada kolom akibat beban hidup,
K E
M
, = momen pada kolom akibat beban gempa dasar,
K = faktor jenis struktur.
Beban aksial rencana (
uk
N
) pada kolom portal berdaktilitas sesuai SK
SNI T-15-1991-03 adalah:
k u,
N
=
k g,
b
b kap, v
.N 1,05
l
M . .R 0,7
+

(2-40)
Tetapi tidak boleh lebih dari:
k u,
N
=1,05.
,
_

+
k E k g
N
K
N
, ,
4,0
(2-41)
Dengan:
v
R
= faktor reduksi :
1,0 untuk 1 < n < 4
1,1-0,025 n untuk 4 < n < 20
0,6 untuk n >20
b
l
= bentang balok dari pusat ke pusat kolom,
N = jumlah lantai di atas kolom yang ditinjau,
k g
N
, = gaya aksial kolom akibat beban gravitasi,
k E
N
, = gaya aksial kolom akibat beban gempa.
Sedangkan dalam SK SNI T-15-1991-03 bab 3.14.7 diatur bahwa kuat
geser rencana kolom portal dengan daktilitas penuh adalah sebagai berikut:
k u
V
, =
( )
k
bawah k u atas k u
h
M M
, , , ,
+
(2-42)
Tetapi tidak boleh lebih dari:
k u
V
, =1,05(
k E k L k D
V
K
V V
, , ,
+ + +
4,0
) (2-43)
Dengan :
k D,
V
= gaya geser kolom akibat beban mati,
k l,
V
= gaya geser kolom akibat beban hidup,
k E
V
, = gaya geser kolom akibat beban gempa,

atas k, u,
M
= momen rencana kolom pada ujung atas dihitung pada
muka
kolom,

bawah k, u,
M
= momen rencana kolom pada ujung bawah dihitung pada
muka
kolom.
2.5.3. Perencanaan Pelat
Pelat lantai merupakan panel-panel beton bertulang yang mungkin
bertulangan dua atau satu arah saja, tergantung sistem strukturnya. Apabila nilai
perbandingan antara panjang dan lebar pelat tidak lebih dari dua, digunakan
penulangan dua arah. Apabila nilai perbandingan antara panjang dan lebar pelat
lebih dari dua, maka digunakan penulangan satu arah. Beban lantai dipikul pada
kedua arah oleh empat balok pendukung sekeliling panel pelat, dengan demikian
panel menjadi suatu pelat yang melentur pada dua arah. Apabila panjang dan lebar
pelat sama panjang, maka perilaku keempat baloknya dalam menopang balok
akan sama. Apabila panjang dan lebar tidak sama, maka balok yang lebih panjang
akan memikul beban lebih besar dari balok yang lebih pendek.
Pelat-pelat beton berperilaku sebagai bagian-bagian konstruksi lentur dan
perencanaannya adalah serupa dengan balok, meskipun secara umum agak lebih
sederhana. Perhitungan pelat menggunakan satuan lebar b = 1m, selanjutnya
adalah menentukan beban berfaktor dimana:
Wu = 1,2 QD + 1,6 QL. (2-44)
Setelah Wu didapat, diteruskan dengan mendisain tipe pelat apakah termasuk pelat
2 arah atau pelat 1 arah dengan ketentuan.
Pemilihan tipe pelat diperoleh dari perbandingan bentang panjang (ly)
dengan bentang pendek (lx) dengan syarat seperti dibawah ini.
( ly / lx ) < 2 Tipe pelat 2 arah.
( ly / lx ) > 2 Tipe pelat 1 arah.
Hasil nilai koefisien momen (x) dapat diperoleh dengan melihat di buku
(Vis dan Kusuma, 1994). Nilai koefisien momen (x) bila tidak tercantum di tabel,
dapat diperoleh dengan melakukan interpolasi sehingga didapat 4 angka (x) yang
nantinya digunakan dalam perhitungan momen lapangan x (Mlx), momen
lapangan y (Mly), momen tumpuan x (Mtx) dan momen tumpuan y (Mty).
Ly Mlx = 0,001.Wu.(lx)
2
.x (2-45)
lx Mly = 0,001.Wu.(lx)
2
.x (2-46)
Mtx = -0,001.Wu.(lx)
2
.x (2-47)
Mty = -0,001.Wu.(lx)
2
.x (2-48)
Langkah selanjutnya adalah mencari tinggi efektif pelat arah sumbu x (dx)
dan mencari tinggi efektif arah sumbu y (dy) dimana:
dx = h - p - x , (2-49)
dy = h p - x (0,5. y). (2-50)
Dengan :
h = tebal pelat
p = selimut beton
x = diameter tulangan x
y = diameter tulangan y
Langkah selanjutnya mencari rasio penulangan( ) dimana:
Syarat rasio penulangan untuk komponen lentur:
Untuk fy = 400 MPa,

As
min
= 0,002.b.h (2-51)
b maks
0,75.
(2-52)
y
1
y
'
c
b
f 600
600
. .
f
0,85.f

(2-53)
Tumpuan
(Momen tumpuan untuk arah x) Mtx = -0,001.Wu.(lx)
2
.x (2-54)
(Momen tumpuan untuk arah y) Mty = -0,001.Wu.(lx)
2
.x (2-55)
tanda negatif menunjukkan momen yang terjadi adalah momen negatif
(koefisien tahanan untuk arah x) K = Mu / ( .b.dx
2
) (2-56)
(koefisien tahanan untuk arah y) K = Mu / ( .b.dy
2
) (2-57)

,
_


c .f' 0,85
.k 2
1 1
fy
c .f' 0,85

(2-58)
Angka rasio tulangan ( ) yang telah didapat, digunakan untuk menghitung
As perlu. Sebelum mencari As perlu, dibandingkan terlebih dahulu nilai
terhadap
maks
dan
min.
Dimana akan dipilih angka rasio tulangan yang terletak
diantara angka kecil dan angka besar, dimana:
untuk arah x As perlu = . b. dx (2-59)
untuk arah y As perlu = . b. dy (2-60)
Lapangan
(Momen lapangan untuk arah x) Mlx = -0,001.Wu.(lx)
2
.x (2-61)
(Momen lapangan untuk arah y) Mly = -0,001.Wu.(lx)
2
.x (2-62)
tanda negatif menunjukkan momen yang terjadi adalah momen negatif
(koefisien tahanan untuk arah x) K = Mu / ( .b.dx
2
) (2-63)
(koefisien tahanan untuk arah y) K = Mu / ( .b.dy
2
) (2-64)

,
_


c .f' 0,85
.k 2
1 1
fy
c .f' 0,85

(2-65)
Angka rasio tulangan ( ) yang telah didapat, digunakan untuk menghitung
As perlu. Sebelum mencari As perlu, dibandingkan terlebih dahulu nilai maks,
min, , dimana akan dipilih angka rasio tulangan yang terletak diantara angka
kecil dan angka besar, dimana:
untuk arah x As perlu = . b. dx (2-66)
untuk arah y As perlu = . b. dy (2-67)
Dengan:
fy = tegangan leleh baja tulangan (MPa),

1
= faktor blok tegangan beton,
maks = rasio tulangan maksimum,
min = rasio tulangan minimum,
b = rasio tulangan kondisi seimbang,
f
c
= kuat desak beton,
Mu = momen ultimit,
b = satuan lebar (1 m)
d = tinggi efektif
Chek geser plat :

.Vc Vu (2-68)
Vc=
.bw.d c f' .
6
1
(2-69)
Vu=1,15.
,
_

2
.ln Wu
(2-70)
Dengan :
Vc = tegangan geser ijin beton (MPa),
Vu = gaya geser terfaktor pada penampang,
Wu = beban merata rencana terfaktor,
ln = bentang bersih untuk gaya geser yang ditintau.

Menurut SK SNI T-15-1991-03, tebal pelat harus memenuhi syarat tebal
pelat minimum.
1. Tidak boleh kurang dari nilai yang didapat dari
1
]
1

,
_

+ +
+

1
1 . 0,12 m 5.. 36
)
1500
f
ln.(0,8
h
y

(2-71)
atau
9 36
1500
f
0,8 ln.
h
y
+

,
_

(2-72)
2. Tidak lebih besar dari
36
1500
f
0,8 l
h
y
n

,
_

(2-73)
Dengan :
h = tebal pelat
ln = panjang bentang bersih dalam arah memanjang,
= perbandingan antara bentang bersih dalam arah memanjang
terhadap arah memendek dari pelat dua arah,

m
=
4
4 3 2 1
+ + +
(2-74)
ls Ecs
lb Ecb
.
.

(2-75)
Dengan:
Ecb = modulus elastisitas beton pada balok,
Ecs = modulus elastisitas beton pada pelat.
Dalam segala hal tebal pelat minimum tidak boleh kurang dari nilai berikut:
- m < 2 tebal pelat minimum 120 mm,
- m 2 tebal pelat minimum 90 mm.