Anda di halaman 1dari 13

Perkembangan Psikososial Sepanjang Tiga Tahun Pertama

Nilai penting perkembangan emosional dan sosial yang dialami oleh seorang anak terletak pada dua tahun pertamanya. Sepanjang masa tersebutlah orang tua seharusnya memberikan pondasi yang kuat untuk hidupnya kelak. Pada pembahasan ini akan berbicara berkenaan dengan perpindahan dari masa bayi yang tergantung kepada orang lain dengan masa batita yang independen. Pertama-tama akan membahas pondasi perkembangan psikososial: temperamen, emosi dan pengalaman awal bersama orang tua. Mempertimbangkan pandangan Erikson tentang kepercayaan dan otonomi. Memperhatikan hubungan dengan para pengasuh, pada saat pemahaman tentang diri mulai muncul, dan pondasi dari kesadaran. Mengeksplorasi hubungan dengan saudara kandung yang lain dan dengan kakek nenek. Pada akhirnya akan membahas pengaruh orang tua yang sudah bekerja dan pengasuhan anak.

A.Pondasi Perkembangan Psikososial


Saat para bayi berbagi pola perkembangan yang sama, mereka jugadari awal menunjukkan ragam kepribadian yang berbeda, yang merefleksikan pengaruh bawaan atau lingkungan, dari mulai bayi ke atas, perkembangan kepribadian berkaitan dengan hubungan sosial. 1. Emosi Emosi seperti rasa sedih, gembira dan takut merupakan reaksi subjektif pengalaman yang diasosiasikan dengan perubahan psikologis dan perilaku. Rasa takut, misalnya, diiringi dengan detak jantung yang semakin cepat dan sering kali, tindakan melindungi diri. Budaya akan mempengaruhi bagaimana orang merasakan situasi tertentu dan cara menunjukkan emosi mereka. Sebagai contoh, dalam beberapa budaya Asia, yang menekankan keharmonisan sosial, perasaan marah ditekan namun mereka menempatkan nilai yang tinggi terhadap rasa malu. Hal sebaliknya dapat ditemukan dalam budaya Amerika, yang menekankan ekspresi diri, penilaian diri, dan kepercayaan diri. Karakteristik pola perkembangan emosional mulai berkembang pada waktu bayi dan merupakan dasar kepribadian. Dan sebagaimana yang akan kita saksikan, kesadaran awal bayi terhadap diri amat berkaitan dengan perkembangan emosional. Akan tetapi, seiring

dengan tumbuhnya si anak, beberapa respon emosional akan berubah. Seorang bayi yang tersenyum kepada orang asing di usia 3 bulan, mungkin akan menunjukkan sikap berhati-hati atau kekhawatiran terhadap orang asing di usia 8 bulan. Tanda Emosi Pertama. Sinyal atau isyarat awal terhadap perasaan bayi ini merupakan langkah penting dalam perkembangan. Ketika si bayi menginginkan atau membutuhkan sesuatu, dia akan menangis; ketika ia merasa nyaman (sociable) maka ia akan tersenyum atau tertawa. Ketika pesan mereka menghasilkan respon, perasaan terkoneksi dengan orang lain mereka juga tumbuh. Perasaan kontrol terhadap dunia mereka juga tumbuh, terutama ketika mereka melihat tangisan mereka dapat menghasilkan bantuan atau kenyamanan, dan senyuman serta tawa mereka akan menghasilkan senyuman dan tawa balasan. Mereka akan semakin mampu berpartisipasi secara aktif dalam mengatur kondisi keterjagaan mereka. Aktif dalam kondisi terjaga (state of arousal) dan kehidupan emosional mereka. Makna dari sinyal emosional bayi ini dapat berubah-ubah. Menangis. Menangis adalah cara paling ampuhterkadang merupakan satu-satunya carabayi untuk mengomunikasikan kebutuhan mereka. Beberapa riset telah membedakan empat pola tangisan: tangisan lapar (hunger cry) yaitu tangisan ritmis yang tidak selalu diasosiasikan dengan rasa lapar; tangisan marah (angry cry) yaitu variasi dari tangisan ritmis dimana pengeluaran udara dilakukan melalui pita suara; tangisan sakit (pain cry) yaitu tangisan keras yang terjadi tiba-tiba tanpa ada isakan pendahuluan, terkadang diikuti dengan penahanan napas; dan tangisan frustasi (frustation cry) yaitu dua atau tiga tangisan kering, tanpa diikuti dengan segukan. Tersenyum dan Tertawa. Senyuman sadar (walking smile) paling awal dapat diperoleh melalui sensasi lembut, seperti bunyi-bunyian lembut atau tiupan kepada kulit bayi. Pada minggu kedua, si bayi dapat tersenyum mengantuk setelah menyusu. Pada bulan kedua, pengenalan visual semakin berkembang, dan si bayi akan tersenyum lebih banyak kepada rangsangan visual, seperti wajah yang mereka kenali. Pada sekitar empat bulan, bayi mulai mengeluarkan tawa ketika perutnya dicium. Dan seiring dengan pertambahan usia, bayi akan semakin terlibat dalam pertukaran tawa. Tawa juga membantu bayi mengendurkan ketegangan, seperti ketakutan terhadap sesuatu benda. Kapan Emosi Muncul? Mengidentifikasikan emosi bayi merupakan sebuah tantangan, karena mereka tidak dapat mengatakan kepada kita apa yang mereka raskan. Walaupun demikian, para orang tua, pengasuh, periset belajar untuk mengenali isyarat. Ekspresi wajah bukan satu-satunya isyarat emosi bayi, atau tanda yang terbaik; aktivitas motor, bahasa tubuh, dan perubahan psikologis juga merupakan indikator penting . seorang 2

bayi dapat merasakan takut tanpa menunjukkan wajah ketakutan. Mereka dapat menunjukkannya dengan menjauh atau menolak untuk melihat, atau dengan detak jantung yang semakin cepat, dan semua tanda ini tidak harus muncul bersamaaan. Kriteria yang berbeda bisa jadi menunjukkan kesimpulan yang berbeda tentang waktu kemunculan emosi tertentu. Emosi Dasar. Merujuk kepada satu model, segera setelah lahir, bayi menunjukkan sinyal kegembiraan, ketertarikan, dan ketertekanan. Semua ini merupakan respon menyebar, refleksif, dan mayoritas bersifat psikologis terhadap rangsangan sensoris atau proses internal. Pada enam bulan ke depan atau lebih, semua kondisi emosional awal ini terpilah menjadi emosi yang sebenarnya, rasa gembira, sedih, jijik, marah, dan takutyang merupakan reaksi terhadap even yang bermakna bagi bayi. Sebagaiman ayang akan dibahas pada bagisn berikutnya, kemunculan emosi dasar ini berkaitan dengan jam biologis kematangan neurogikal. Emosi yang Melibatkan Diri. Emosi kesadaran diri (self-conscious), seperti rasa malu, dan iri, baru muncul setelah si anak mengembangkan pemahaman diri (selfawareness): pemahaman kohnitif bahwa mereka memiliki identitas yang dapat dikenali, yang terpisah dan berbeda. Kesadaran diri tampaknya muncul antara 15-24 bulan, ketika mengacu kepada Piagetsi bayi dapat membuat representasi mental diri mereka sendiri dan orang atau benda lain. Pada sekitar 3 tahun, dengan memiliki pemahaman diri dan pengetahuan yang luas tentang standar yang diterima masyarakat, pertauran, dan tujuan, si anak menunjukkan emosi evaluasi diri (self evaluation emotions) seperti rasa bangga, malu, dan bersalah. Pada saat itu mereka dapat mengevaluasi pemikiran, rencana, hasrat, dan perilaku mereka sendiri berkenaan dengan apa yang dapat diterima secara sosial. Empati: Merasakan Apa yang Dirasakan Orang Lain. Empatikemampuan untuk memosisikan diri pada posisi orang lain dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, atau yang akan dirasakannya, dalam situasi tertentuadalah pikiran yang muncul pada tahun kedua usianya, dan sebagaiman rasa bersalah , akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya umur. Seiring dengan semakin meningkatnya kemampuan baduta untuk memilah kondisi mentalnya sendiri, mereka dapat merespon penderitaan baduta lain layaknya penderitaan tersebut milik mereka. Empati bergantung kepada kognisi sosial (social cognition); kemampuan kognitif untuk memahami bahwa orang lain juga memiliki kondisi mental dan kemampuan untuk mengukur perasaan dan perhatian mereka.

Pertumbuhan Otak dan Perkembangan Emosional. Pertumbuhan otak setelah lahir berkaitan erat dengan perubahan emosi. Terdapat empat perubahan utama dalam organisasi otak, yang tampaknya berhubungan langsung dengan perubahan dalam pemrosesan emosi. Pada tiga bulan pertama, ketika serebral korteks mulai berfungsi, terjadi pemilihan emosi dasar. Perubahan kedua terjadi pada sekitar 9-10 bulan, ketika lobus frontal mulai berinteraksi dengan sistem limbik, tempat reaksi emosional. Seorang bayi dapat merasakan dan menerjemahkan emosi pada saat yang bersamaan. Perubahan ketiga terjadi pada tahun kedua, ketika si bayi mengembangkan pemahaman diri, emosi kesadaran diri, dan kemampuan yang lebih besar untuk mengatur emosi dan aktivitas mereka sendiri. Perubahan keempat terjadi pada usia 3 tahun, ketika perubahan hormonal dalam sistem saraf otomatis beriringan dengan munculnya emosi evaluasi. 2. Temperamen Temperamenterkadang didefinisikan sebagai karakteristik seseorang, cara mendasar biologis untuk mendekati dan bereaksi terhadap orang dan situasitelah dideskripsikan sebagai bagaimana-nya perilaku; bukan apa yang dilakukan, tapi bagaimana mereka akan melakukan hal tersebut. Temperamen memiliki basis emosional; akan tetapi ketika emosi seperti rasa takut, gembira dan bosan datang dan pergi, temperamen cenderung konsisten dan berkesinambungan. Mempelajari Pola Temperamental. Ada tiga Pola Temperamental yang merujuk pada New York Longitudinal Study, yaitu: 1. Anak dengan Temperamen Sedang (Easy Children) Memiliki perasaan dengan intensitas lembut hingga moderat, biasanya positif. Merespons sesuatu yang baru dan perubahan dengan baik. Mengembangkan jadwal tidur dan makan reguler dengan cepat. Mudah menerima makanan baru. Tersenyum kepada orang asing. Beradaptasi dengan mudah terhadap situasi baru. Menerima perasaab frustasi dengan sedikit pertengkaran. Beradaptasi dengan cepat kepada rutinitas baru dan peraturan permainan baru. Sering dan intens menunjukkan perasaan negatif; sering menangis dengan suara keras; tertawa dengan keras.

2. Anak dengan Temperamen Tinggi (Difficult Children)

Kurang baik dalam merespons sesuatu yang baru dan perubahan. Makan dan tidur tidak teratur. Lambat dalam menerima makanan baru. Curiga terhadap orang asing. Beradaptasi dengan lambat terhadap situasi baru. Bereaksi terhadap frustasi dengan kemarahan. Beradaptasi dengan lambat terhadap situasi baru. Memiliki reaksi dengan intensitas ringan, baik positif maupun negative. Merespons perubahan dan sesuatu yang baru dengan lambat. Tidur dan makan dengan keteraturan di bawah anak bertemperamen sedang, namun di atas anak bertemperamen tinggi. Menunjukkan respons awal negatif terhadap stimuli baru (pertemuan pertama dengan orang, tempat atau situasi baru). Secara gradual mengembangkan rasa suka kepada stimuli beru setelah ditampakkan berulangkali dan tanpa paksaan.

3. Anak dengan Temperamen Rendah (Slow to Warm Up Children)

Temperamen adalah bawaan, mungkin diwariskan dan stabil. Temperamen berkembang seiring dengan munculnya beragam emosi dan kemampuan mengatur diri dan dapat berubah setelah merespon sikap dan penanganan pengasuhan. Para periset menemukan bahwa temperamen pada usia 3 tahun memprediksikan dengan cukup akurat kepribadian pada usia 18 dan 21 tahun. Temperamen and adjustment : Goodness of fit Menurut NYLS, kunci untuk penyesuaian kesehatan adalah Goodenss of fit kecocokan antara temperamen anak dan tuntutan lingkungan dan ketidakleluasaan anak, harus sesuai. Jika anak yang sangat aktif, diharapkan untuk duduk disuatu tempat dalam waktu yang lama, jika anak bertipe slow to warm up, secara tiba-tiba diberikan situasi yang baru, atau jika anak yang berkeinginan kuat (gigih) secara tiba-tiba dijauhkan dari sesuatu yang menarik, masalah akan terjadi. Karena temperamen merupakan suatu hal bawaan, maka jika seoraang anak melakukan kemalasan, kebodohan ataupun membuat hal-hal yang membuat orang tua kesal, namun karena merupakan bawaan, anak tersebut tidak terlalu merasa bersalah atas perbuatannya tersebut. Dan juga sebaliknya. Dengan demikian, harus ada antisipasi sedari

dini untuk mengurangi reaksi anak yang kurang disukai (yang berasal dari bawaan), agar anak lebih mudah beradaptasi dengan reaksi yang diinginkan. Dasar Biologis Temperamen. Seperti emosi, temperamen juga memiliki basis biologis. Ketika diminta untuk memecahkan masalah atau mempelajari informasi baru, anak yang pemalu menunjukkan detak jantung yang lebih tinggi dan kurang bervariasi ketimbang anak yang lebih berani, dan pupil mata mereka juga lebih sering berdilatasi. Anak-anak yang paling berani cenderung energik dan spontan dan memiliki detak jantung yang lebih rendah. Perbedaan Lintas Kultur. Temperamen dapat dipengaruhi oleh budaya yang memengaruhi praktik membesarkan anak. Bayi di Malaysia,cenderung kurang dapat beradaptasi, lebih cemas terhadap pengalaman baru, dan lebih sigap merespon stimuli baru ketimbang bayi di AS. Hal ini mungkin disebabkan orang tua di Malaysia jarang menghadapkan bayinya dalam situasi yang menuntut kemampuan beradapatasi, dan mereka mendorong bayi untuk sangat mewaspadai sensasi, seperti kebutuhan untuk mengganti popok. 3. Pengalaman Sosial Awal: Bayi di Tengah Keluarga. Praktik pengasuhan bayi dan pola interaksi sangat bervariasi, tergantung kepada pandangan budaya terhadap karakteristik dan kebutuhan bayi. Karena itu kitaharus sadar bahwa interaksi orang dewasa-bayi yang kita terima begitu saja, bisa jadi berbasis kultur. Peran Ibu. Pernah dilakukan sebuah penelitian terhadap seekor bayi monyet yang dikurung di kerangkeng dengan ditemani oleh ibu buatan (ibu monyet yang dibuat dari kain). Bayi monyet ini tidak tumbuh dengan normal dan tidak dapat mengasuh anaknya kelak. Ibu buatan ternyata tidak memberikan jenis stimulasi dan kesempatan untuk berkembang yang sama dengan yang diberikan oleh ibu asli. Peran Ayah. Semua kultur mengenal peran ayah; akan tetapi selain tindakan membuahi, peran ayah dapat dipandang sebagai konstruksi sosial. Peran ayah, seperti halnya peran ibu, menimbulkan komitmen emosional, dan seringkali keterlibatan langsung dalam merawat dan membesarkan anak. Akan tetapi karena keterlibatan ayah yang sangat beragam, ibu masih menjadi pengasuh utama dalam mayoritas kultur yang ada di dunia. Bagaimana Orang Tua Membentuk Perbedaan Jender. Pembentukan kepribadian anak laki-laki dan perempuan oleh pola pengasuhan (parental) dimulai pada usaha yang sangat dini. Ayah secara khusus, memperkenalkan pengelompokan gender (gender-typing), sebuah proses dimana si anak akan belajar perilaku yang dianggap sesuai untuk jenis kelamin tertentu oleh kultur mereka. Dibandingkan ibu, ayah akan memperlakukan anak laki-laki dan 6

perempuan dengan cara yang sangat berbeda, bahkan pada tahun pertama. Pada tahun kedua, ayah akan berbicara dan menghabiskan waktu lebih banyak dengan anak laki-laki ketimbang anak perempuan. Ibu lebih banyak berbicara dan mendukunga anak perempuan ketimbang anak laki-laki. Secara keseluruhan, ayah kurang banyak berbicara dan memeberikan dukungandan juga kurang negatifdalam pembicaraan ketimbang sang ibu. Perbedaan ini menjadi lebih nyata pada saat batita, dimana sang ibu menghabiskan lebih banyak waktu bersama mereka ketimbang sang ayah. Ayah seorang batita akan bermain lebih kasar dengan anak laki-lakinya dan akan lebih berhati-hati terhadap anak perempuannya.

B.Isu Perkembangan pada Masa Bayi


1. Membangun Kepercayaan (Developing Trust) Pertama dari 8 tahap Erikson dalam perkembangan psikososial adalah basic trust versus basic mistrust. Tahap ini dimulai dari masa bayi dan berlanjut hingga sekitar 18 bulan. Dalam awal bulan ini, bayi menemukan sensasi kepercayaan terhadap orang dan objek yang ada di dunia mereka. Mereka perlu untuk menemukan keseimbangan antara percaya (membiarkan mereka membentuk hubungan intimasi) dan tidak percaya (tidak mampu untuk melindungi diri mereka sendiri). Jika rasa percaya mendominasi, sebagaimana seharusnya, anak menemukan harapan : kepercayaan bahwa mereka dapat memenuhi keinginan dan hasrat mereka. Jika rasa tidak percaya mendominasi, anak akan melihat dunia sebagai tempat yang tidak ramah dan tidak dapat diprediksi dan akan mengalami masalah dalam menjalin hubungan. 2. Membangun Ikatan (Developing Attachment) Ikatan (attachment) adalah ikatan timbal balik yang kekal antara dua orang, khususnya antara bayi dan pengasuhnya, kepada siapa yang mengkontribusikan hubungan yang berkualitas. Ada 4 pola utama dari attachment: Secure attachment: pola dimana bayi menangis atau memprotes ketika pengasuh utama meninggalkan dan secara aktif mencari ketika dia telah kembali. Avoidant attachment: pola dimana bayi jarang menangis terpisah dari pengasuh utamanya dan menghindari kontak dengan ketika dia kembali. Ambivalent (resistant) attachment: pola dimana bayi menjadi cemas sebelum pengasuh utama pergi, sanagt sedih ketika dia tidak hadir, dan mencari sekaligus menahan kontak ketika dia kembali

Disorganized-disoriented attachment: pola dimana bayi, setelah dari pengasuh utama, menunjukkan perilaku yang bertentangan ketika dia kembali Peran Temperamen terhadap Perkembangan Attachment. Temperamen bayi

mungkin tidak hanya secara langsung memberi dampak terhadap attachment tetapi juga secara tidak langsung berefek kepada orangtua. Stranger Anxiety dan Separation Anxiety. Stranger anxiety adalah kewaspadaan terhadap orang atau tempat yang asing, ditunjukkan beberapa bayi pada dua setengah tahun pertama. Separation anxiety adalah stress yang ditunjukkan seseorang, terutama bayi, ketika pengasuh utamanya meninggalkan dia. Intergenerational Transmission of Attachment Patterns. The Adult Attachment Interview adalah interview semistruktur yang menanyakan kepada org dewasa untuk merecall dan menginterpretasikan perasaan dan pengalaman yang berelasi kepada kasih sayang masa kecil mereka. Studi menggunakan AAI telah menemukan bahwa kejelasan, koherensi, dan konsistensi dari respon yang dipercaya memprediksi keamanan dimana masa kecil responden akan dilampirkan. Representasi mental sang ibu kepada bayinya dimulai selama masa kehamilan, dalam bagian pencerminan memori pengalaman kasih sayang mereka. 3. Komunikasi Emosional dengan Pengasuh: Mutual Regulation Mutual regulation adalah proses dimana bayi dan pengasuh berkomunikasi secara emosional satu sama lain dan meresponnya denngan tepat. Orangtua mungkin berkontribusi terhadap hubungan timbal balik ini, berinteraksi dengan cara menunjukkan bahwa dia mengetahui apa yang ada di pikiran si bayi. Bayi mengambil bagian aktif dalam proses dengan mengirim sinyal perilaku yang mempengaruhi cara pengasuh berprilaku kepada mereka. 4. Referensi Sosial Referensi sosial adalah memahami situasi ambigu dengan cara mencari persepsi orang lain tentang hal tersebut. Dalam referensi sosial, seseorang membentuk pengertian bagaimana berprilaku dalam situasi yang ambigu, membingngkan dan tidak familiar dengan mencari atau menginterpretasikan persepsi orang lain tentang hal itu. Bayi terlihat menggunakan referensi sosial ketika mereka melihat bagaimana pengasuh ketika bertemu dengn orang baru atau mainan.

C.Isu Perkembangan pada Masa Batita.


1. The Emerging Sense of Self (Kemunculan Sensasi Diri) Konsep diri sense of self mendeskripsikan dan mengevaluasi gambaran mental dari kemampuan dan trait seseorang. Antara 4-10 bulan, ketika bayi belajar untuk mencapai, menggenggam, dan membuat sesuatu terjadi, mereka mengalami sensasi agensi personal, menyadari bahwa mereka bisa mengontrol keadaan luar. Sensasi agensi ini dinamakan Bandura dengan self-efficacy, sensasi menjadi mampu untuk menguasai tantangan dan mencapai tujuan. 2. Perkembangan otonomi Erikson (1950) mengidentifikasikan periode dari 18 bulan hingga 3 tahun sebagai tahap kedua dalam perkembangan kepribadian, otonomi versus malu dan ragu (autonomy versus shame and doubt), dimana di tandai dengan pergantian dari kontrol luar ke kontrol diri. Otonomi versus malu dan ragu adalah tahaop kedua dalam perkembangan psikososial Erikson dimana anak menerima keseimbangan antara determinasi diri dan kontrol oleh orang lain. 3. Perkembangan Moral: Sosialisasi dan Internalisasi. Sosialisasi adalah proses dimana anak menemukan kebiasaan , kemampuan, nilai dan motivasi yang membuat mereka bertanggung jawab, menjadi anggota yanng produktif dari masyarakat.. Internalisasi adalah proses selama sosialisasi dimana anak menerima perilaku standar masyarakat sebagai milik mereka. Menemukan self-regulation. Self-regulation adalah kontrol perilaku bebas seseorang untuk menyesuaikan pengertian ekspektasi sosial. Sebelum anak dapat mengendalikan perilaku mereka sendiri, anak mungkin membutuhkan untuk dapat mengatur atau mengendalikan proses perhatian mereka dan untuk memodulasi emosi negatif. Pangaturan perhatian memungkinkan anak untuk menemukan tekadnya dan mengatasi rasa frustasi. Origins of Conscience: Comitted Complience. Conscience merupakan standar internal perilaku, yang mana biasanya mengendalikan tingkah laku seseorang dan menghasilkan ketidaknyamanan emosi ketika dilanggar. Comitted compliance merupakan istilah Kochanska untuk kepatuhan sukarela anak terhadap perintah orangtua tanpa pengingat ataupun pelanggaran. Situational compliance merupakan istilah Kochanska untuk kepatuhan terhadap perintah orangtua hanya dalam sinyal kehadiran dari kontrol orangtua yang berkelanjutan.

Faktor Kesuksesan dalam Sosialisasi. Cara orangtua mnegajarkan sosialisasi pada anak, bersamaan denagn temperamen anak dan kualitas hubungan orangtua, dapat membantu memprediksi seberapa susah atau mudah sosialisasi itu. Faktor kesuksesan daalm sosialisasi mungkin mencakup security of attachment, observasi pembelajaran dari perilaku orangtua dan respon timbal balik antar orangtua dan anak.

D.Kontak dengan Anak Lain


1. Saudara Kandung Hubungan saudara kandung memainkan peran berbeda dalam sosialisasi. Konflik anatr saudara kandung dapat menjadi perantara untuk pemahaman hubungan sosial. Pelajaran dan kemampuan yang dipelajari dari interaksi dengan saudara kandung mambawa hubungan ke luar rumah. Bayi biasanya menjadi tertarik dengan abang atau kakaknya. Walaupun persaingan mungkin muncul, tapi itulah kasih sayang. Semakin aman ikatan saudara kandung dengan orang tua, menjadi lebih baiklah hubungan mereka satu sama lain. 2. Sosialisasi dengan Bukan Saudara Kandung Bayi dan bahkan juga balita menunjukkan ketertarikan terhadap orang luar rumah, khususnya terhadap orang yang seukuran mereka. Selama beberapa tahun pertama mereka melihat dan tertawa terhadap bayi lain. sekitar umur 1 tahun, ketika hal terbesar yang ada di agenda mereka adalah belajar berjalan dan memanipulasi objek, bayi kurang perhatian dengan orang lain. Tahap ini tidak berlangsung lama; dari umur 1,5 hingga 3 tahun anak menunjukkan perkembanagn ketertarikan dalam apa yang anak lain lakukan dan meningkatkan pemahaman bagaimana berunding dengan mereka.

E.Anak dari Orangtua yang Bekerja


1. Efek dari Pekerjaan Orangtua Pengaruh dari ibu yang bekerja pada awal perkembangan bayi terhadap kepatuhan anak, masalah perilaku, kepercayaan diri, perkembangan kognitif atau prestasi akademik. Menunjukkan efek negatif terhadap perkembangan kognitif pada usia 15 bulan 3 tahun, akan tetapi tampaknya memberikan manfaat kepada anak yang berada dalam keluarga berpenghasilan rendah dengan meningkatkan sumber keuangan keluarga. 2. Pengasuhan Anak pada Masa Awal 10

Efek dari penitipan anak di masas awal tergantung kepada tipe, jumlah, kualitas keseluruhan dan stabilitas pengasuhan serta usia saat anak menerima pengasuhan tersebut. Elemen paling krusial dalam pusat penitipa anak adalah kualitas pengasuh. Sebab, meragsang interaksi dengan orang dewasa yang responsif sangat penting bagi perkekmbanngna awla kognitif, bahasa, dan psikososial si anak. Rendahnya tingkat keluar-masuk staf pengasuhan juga merupakan hal yang penting, karena bayi membutuhkan pengasuhan yang konsisten untuk mengembangkan rasa percaya dan ketertarikan yang aman. 3. Faktor Dampak dari Tempat Penitipan Anak Dampak awal penitipan anak mungkin bergantung pada jenis, jumlah, kualitas, dan stabilitas perawatan serta pendapatan keluarga dan umur dimana anak-anak mulai menerima perawatan nonmaternal. Temperamen dan gender dapat membuat perbedaan. Anak laki-laki lebih rentan terhadap stres, di tempat penitipan anak dan di tempat lain, daripada anak perempuan. Kualitas pelayanan menyumbang kompetensi kognitif dan psikososial. Kualitas pelayanan dapat diukur dengan karakteristik struktural, seperti pelatihan staf dan rasio anakanak kepada caregivers. Unsur yang paling penting dalam kualitas perawatan adalah pengasuh; merangsang responsif interaksi dengan orang dewasa sangat penting untuk awal kognitif, linguistik, dan perkembangan psikososial. Pergantian staff rendah adalah penting; bayi membutuhkan pengasuhan konsisten dala rangka mengembangkan kepercayaan dan ikatan yang aman. Stabilitas memfasilitasi koordinasi perawatan antara orang tua dan pengasuh anak, yang dapat membantu melindungi terhadap efek negatif perawatan berjam-jam. 4. The NICHD Study: Isolating Child Care Effects Karena penitipan anak merupakan bagian integral dari sistem ekologi anak, sulit untuk mengukur pengaruh sendirian. Upaya yang paling kompehensif untuk memisahkan efek penitipan anak dari faktor lain seperti karakteristik keluarga, karakteristik anak, dan perawatan yang diterima anak dirumah adalah studi yang berkelanjutan yang disponsori oleh The National Institute of Child Health and Human Development (NICHD). Walaupun kepekaan pengasuh dan responsifnya mempengaruhi sosialisasi batita, kepekaan ibu memiliki pengaruh yang lebih besar, menurut penelitian NICHD. Kepekaan ibu juga adalah prediktor terkuat dari ikatan. Seharusnya tidak mengherankan bahwa apa yang tampak seperti efek dari penitipan anak mungkin sering berkaitan dengan karakteristik keluarga. Untuk kesimpulannya, temuan NICHD sejauh ini memberikan penitipan anak penilaian bagus yang berkualitas tinggi secara keseluruhan, khususnya untuk dampaknya terhadap perkembangan kognitif dan interaksi dengan teman sebaya. 11

5. Impact on Disadvantaged Children and Minorities. Dari data yang sudah dipelajari menunjukkan bahwa luas penitipan anak tidak merugikan perkembangan anak-anak miskin kecuali kualitas rendah. Sayangnya, anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah senderung ditempatkan di tempat yang rendah biaya dan perawatan dengan kualitas lebih rendah daripada anak-anak dari keluarga yang lebih kaya. Studi etnis dan sosioekomonis sampel campuran anak-anak berpenghasilan rendah mungkin gagal untuk mengungkapkan faktor tertentu dalam pengalaman minoritas penitipan anak. Banyak keluarga minoritas tinggal di keluarga rumah tangga dan secara historis mengandalkan keluarga dan teman-teman untuk penitipan anak.

Maltreatment: Abuse and Neglect


Maltreatment adalah yang disengaja dan dihindari daat membahayakan anak, baik dengan cara abuse (penganiayaan) atau neglect (mengabaikan). Maltreatment mengambil beberapa bentuk spesifik. Physical abuse merupakan aksi yang dilakukan dengan sengaja kepada orang lain, termasuk melikai bagian tubuh. Neglect merupakan kegagalan untuk mendapatkan kebtuthan dasar bebas. Sexual abuse merupakan aktivitas seksual yang melukai atau menyakiti seseorang secara fisik atau psikologi atau setiap aktivitas seksual termasuk anak dan orang ynag lebih tua. Emotional maltreatment merupakan aksi atau bukan aksi yang dapat menyebabkan gangguan perilaku, kognitif, emosi atau mental. 1. Maltreatment : Facts and Figures Lebih dari 60% persen, anak yang mengalami penganiyaan juga diabaikan dan hampir 20% mengalami physical abuse. Sekitar 10% mengalami sexual abuse dan 7% mengalami emotional maltered. 2. Contributing Factors: An Ecological View Penganiyaan dan pengabaian melibatkan berbagai lapisan faktor termasuk keluarga, komunitas, dan lingkungan sosial yang lebih besar. Karakteristik Orangtua dan Keluarga yang Abusive dan Neglectful. Penganiyaan dalam keluarga mungkin diawali dengan orangtua yang cemas, depresi atau bermsuhan mencoba mengontrol anak secara fisik tetapi kehilangan kontrol dan berakhir dengan memukul si anak. Orang tua yang menganiaya anak cenderung karena memiliki permasalahan rumah tangga atau berkelahi secara fisik. Rumah tangga cenderung tidak teratur dan mereka mengalami kejadian yang lebih membuat stress daripada keluarga lain.

12

Karakteristik Komunitas dan Nilai Budaya. Dua faktor budaya yang dihubungkan dengan penganiyaan pada anak adalah kekerasan sosial dan hukuman fisik anak. Negara dimana kekerasan jarang terjadi dan anak-anak jarang mengalami pukulan sebagai hukuman misalnya, Jepang dimana penganiyaan terhadap anak-anak jarang terjadi. Di Amerika, pembunuhan, kekerasan domestik, pemerkosaan sering terjadi, dan banyak daerah yang masih mengizinkan hukuman fisik di dalam sekolah. 3. Menolong Keluarga dalam Masalah Karena maltreatment merupakan masalah yang multifaktor, dia membutuhkan banyak solusi. Pencegahan komunitas yang efektif dan strategi intervensi haruslah komprehensif, berdasar pada lingkungan, terpusat pada perlindungan anak, bertujuan menguatkan keluarga jika mungkin dan mengembalikan anak jika memungkinkan. Perawatan anak-anak yang telah mengalami penganiyaan dan orangtuanya termasuk perlindungan, pendidikan keterampilan orangtua, dan terapi. Anak mungkin menerima permainan atau terapi dan perawatan dalam terapi lingkungan. 4. Long- Term Effects of Maltreatment. Anak yang mengalami penganiyaan harus ditangani dengan cara serius, karena anakanak ini sering tumbuh dengan membawa permasalahan yang serius dengan mengambil biaya yang besar terhadap diri mereka sendiri dan terhadap lingkungan. Dan mungkin kejadian ini akan berkanjut ketika mereka mempunyai anak sendiri. Ddiestimasikan sepertiga orang dewasa yang pernah mengalam penganiyaan dan pengabaian pada masa kecilnya mengorbankan anak mereka sendiri. Konsekuensi jangka panjang dari maltreatment mungkin termasuk fisik yang buruk, mental dan kesehatan emosional: melemahkan perkembangan otak: kognitif, bahasa, dan kesulitan akademik: masalah dalam keterikatan dan hubungan sosial: dan, pada masa remaja, tinggi resikonya pencapaian akademik yang buruk, kenakalan, kehamilan remaja, alkohol dan penggunaan obat dan bunuh diri.

13