Anda di halaman 1dari 10

A.

Latar belakang Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya lahir dengan sempurna, memperoleh pendidikan dan pekerjaan yang layak. Ketika hal tersebut tidak terpenuhi, tak jarang di antara mereka yang kecewa bahkan tidak ingin menyekolahkan anaknya yang berkebutuhan khusus. Sebenarnya tidak ada anak cacat melainkan anak berkebutuhan khusus, karena anak-anak yang dianggap cacat itu sebenarnya sama saja dengan anak-anak pada umumnya, punya kelebihan dan kekurangan. Tetapi karena pemahaman sebagian masyarakat yang kurang, maka masyarakatlah yang memberi label cacat itu. Untuk itu perlu dipahami sebuah pendekatan kepada masyarakat bahwa mereka yang mempunyai keterbatasan ada dalam lingkungan mereka, sama-sama mempunyai hak yang sama dengan anak yang normal pada umumnya. Jika kita melihat anak-anak yang mengalami kecacatan mental, mungkin kita beranggapan bahwa mereka mengalami jenis kecacatan mental yang sama. Namun kita harus mengetahui kecacatan mental yang dialami anak-anak tersebut berbeda penyebabnya yang dalam hal ini adalah cerebral palsy. Walaupun perkembangan dan kemajuan dalam bidang obstetrik dan perinatologi akan mengakibatkan penurunan angka kematian bayi yang pesat, namun tidak dapat mencegah peningkatan jumlah anak cacat. Ini disebabkan, meskipun bayiberhasil diselamatkan dari keadaan gawat, akan tetapi biasanya meninggalkan gejala sisa akibat kerusakan jaringan otak yang gejala-gejalanya dapat terlihat segera ataupun di kemudian hari.

B. Pengertian Cerebral palsy adalah ensefalopatistatis yang mungkin di definisikan sebagai kelainan postur dan gerakan non-progresif,sering disertai dengan epilepsy dan ketidak normalan bicara,penglihatan, dan kecerdasan akibat dari cacat atau lesi otak yang sedang berkembang. (Behrman,1999)

Cerebral palsy ialah suatu gangguan nonspesifik yang disebabkan oleh abnormalitas system motor piramida (motor kortek,basal ganglia dan otak kecil)yang ditandai dengan kerusakan pergerakan dan postur pada serangan awal. (Suriadi,2006) Cerebral palsy adalah kerusakan jaringan otak yang kekal dan tidak progresif,terjadi pada waktu masih muda (sejak dilahirkan) sertamerintangi

perkembangan otak normal denga gambaran klinik dapat berubah selama hidup dan menunjukkan kelainan dalam sikap dan pergerakan,disertai kelainan neurologis berupa kelumpuhan spastis ,gangguan ganglia basal dan sebelum juga kelainan mental. (Ngastiyah,2000) Cerebral palsy ialah suatu gangguan atau kelainan yang terjadi pada suatu kurun waktu dalam perkembangan anak,mengenai sel-sel motorik didalam susunan saraf pusat,bersifat kronik dan tidak progresif akibat kelainan atau cacat pada jaringan otak yang belum selesai pertumbuhannya. (Yulianto,2000) Cerebral palsy adalah suatu keadaan yang ditandai dengan buruknya pengendalian otot,kekakuan,kelumpuhan dan gangguan fungsi saraf lainnya. (Santi wijaya,1999) C. Angka Kejadian Cerebral palsy merupakan kelainan motorik yang banyak diketemukan pada anakanak. Di Klinik Tumbuh Kembang RSUD Dr.Soetomo pada periode 1988-1991,sekitar 16,8% adalah dengan cerebral palsy. William Little yang pertama kali mempublikasikan kelainan ini pada tahun 1843, menyebutnya dengan istilah cerebral diplegia, sebagai akibat dari prematuritas atau asfiksia neonatorium. Pada waktu itu kelainan ini dikenal sebagai penyakit dari Little. Sigmund Freud menyebut kelainan ini dengan istilah Infantil Cerebral Paralysis. Sedangkan Sir William Osler adalah yang pertama kali memperkenalkan istilah cerebral palsy. Nama lainnya adalah Static encephalopathies of childhood. Angka kejadiannya sekitar 1-5 per 1000 anak laki-laki lebih banyak daripada wanita. Sering terdapat pada anak pertama, mungkin karena anak pertama lebih sering mengalami kesulitan pada waktu dilahirkan. Angka kejadiannya lebih tinggi pada bayi

BBLR dan anak-anak kembar. Umur ibu sering lebih dari 40 tahun, lebih-lebih pada multipara. Franky (1994) pada penelitiannya di RSUP sanglah Denpasar, mendapat bahwa umur 58,3% penderita cerebral palsy yang diteliti adalah laki-laki,62,5% anak pertama, ibu semua dibawah 30 tahun, 87,5% berasal dari persalinan spontan letak kepala dan 75% dari kehamilan cukup bulan.

D. Etiologi Penyebab Cerebral palsy dapat dibagi menjadi dalam 3 bagian : 1. Pranatal a. Infeksi intrauterin : TORCH, sifilis, rubella, toksoplasmosis, sitomegalovirus b. Radiasi c. Asfiksia intrauterin (abrupsio plasenta previa, anoksia maternal, kelainan umbilicus, perdarahan plasenta, ibu hipertensi, dan lain-lain) d. Toksemia grafidarum 2. Perinatal a. Anoksia/hipoksia b. Perdarahan otak c. Prematuritas d. Ikterus e. Meningitis purulenta 3. Postnatal a. Trauma kepala b. Meningitis/ensefalitis yang terjadi 6 bulan pertama kehidupan c. Racun : logam berat d. Luka Parut pada otak pasca bedah Beberapa penelitian menyebutkan factor pranatal dan perinatal lebih berperan dari pada factor pascanatal. Studi oleh nelson dkk (1986) menyebutkan bayi dengan berat lahir rendah, asfiksia saat lahir, iskemia pranatal, faktor penyebab Cerebral palsy. Faktor prenatal dimulai saat masa gestasi sampai saat akhir, sedangkan factor perinatal yaitu segala faktor yang menyebabkan Cerebral palsy mulai dari lahir sampai

satu bulan kehidupan. Sedangkan faktor pascanatal mulai dari bulan pertama kehidupan sampai 2 tahun. (Hagbreg dkk,1975), atau sampai 5 tahun kehidupan (Blair dan Stanley,1982), atau sampai 16 tahun (Perlstein,Hod,1964) Factor resiko yang menyebabkan kemungkinan terjadinya Cerebral Palsy semakin besar antara lain : 1. Letak Sungsang. 2. Proses persalinan sulit Masalah vaskuler atau respirasi bayi selama persalinan merupakan tanda awal yang menunjukkan adanya masalah kerusakan otak atau otak bayi tidak berkembang secara normal. Komplikasi tersebut dapat menyebabkan keruakan otak permanen. 3. Apgar Score rendah Apgar Score yang rendah hingga 10-20 menit setelah kelahiran. 4. BBLR dan prematuritas Resiko Cerebral Palsy lebih tinggi diantara bayi dengan berat lahir 5. Kehamilan ganda. 6. Malformasi SSP Sebagian besar bayi yang lahir dengan Cerebral Palsy melihatkan malformasi SSP yang nyata, misalnya lingkar kepala abnormal (mikrosefali). Hal tersebut menunjukkan bahwa masalah telah terjadi pada saat perkembangan SSP dalam kandungan. 7. Perdarahan maternal proteinuria berat pada saat masa akhir kehamilan. Perdarahan vaginal selama bulan ke-9 hingga ke-10 masa kehamilan dan peningkatan jumlah protein dalam urine berhubungan dengan peningkatan resiko terjadinya Cerebral Palsy pada bayi. 8. Hipertiroidism maternal, mental retardasi dan kejang 9. Kejang pada bayi baru lahir. (peristein, 1964)

E. Patofisiologi Adanya malformasi pada otak, penyumbatan pada vaskuler, atropi, hilangnya neuron dan degenerasi laminar akan menimbulkan narrower gry, saluran sulci dan berat otak rendah. Anoxia merupakan penyebab yang berarti dengan kerusakan otak, atau sekunder dari penyebab mekanisme yang lain. CP (Cerebral Palsy) dapat dikaitkan dengan premature yaitu spastic displegia yang disebabkan oleh hypoxic infarction atau hemorrhage dalam ventrikel. Type athetoid / dyskenetik disebabkan oleh kernicterus dan penyakit hemolitik pada bayi baru lahir, adanya pigmen berdeposit dalam basal ganglia dan beberapa saraf nuclei cranial. Selain itu juga dapat terjadi bila gangsal banglia mengalami injury yang ditandai dengan idak terkontrol; pergerakan yang tidak dosadari dan lambat. Type CP himepharetic, karena trauma pada kortek atau CVA pada arteri cerebral tengah. Cerebral hypoplasia; hipoglicemia neonatal dihubungkan dengan ataxia CP. Spastic CP yang paling sering dan melibatkan kerusakan pada motor korteks yang paling ditandai dengan ketegangan otot dan hiperresponsif. Refleks tendon yang dalam akan meningkatkan dan menstimulasi yang dapat menyebabkan pergerakan sentakan yang tiba-tiba pada sedikit atau semua ektermitas. Ataxic CP adanya injury dari serebelum yang mana mengatur koordinasi, keseimbangan dan kinestik. Akan tampak pergerakan yang tidak terkoordinasi pada ekstremitas aras bila anak memegang / menggapai benda. Ada pergerakan berulang dan cepat namun minimal. Rigid / tremor / atonic CP ditandai dengan kekakuan pada kedua otot fleksor dan ekstensor. Type ini mempunyai prognosis yang buruk karena ada deformitas multiple yang terkait dengan kurangnya pergerakan aktif. Secara umum cortical dan antropy cerebral menyebabkan beratnya kuadriparesis dengan retardasi mental dan microcephaly.

F. Gejala Gejala biasanya timbul sebelum anak berumur 2 tahun dan pada kasus yang berat,bisa muncul pada saat anak berumur 3 bulan. Gejalanya bervariasi,mulai dari

kejanggalan yang tidak tampak nyata sampai kekakuan yang berat pada bentuk lengan dan tungkai, sehingga anak harus memakai kursi roda. Cerebral palsy Dibagi menjadi 4 kelompok : 1. Tipe spastic atau pyramidal (50% dari semua kasus CP),otot-otot menjadi kaku dan lemah. Pada tipe ini gejala yang hampir selalu ada adalah : a. Hipertoni (fenomena pisau lipat) b. Hiperrefleksi yag disertai klonus c. Kecenderungan timbul kontraktur d. Reflex patologis Secara topografi distribusi tipe ini adalah sebagai berikut : a. Hemiplegia apabila mengenai anggota gerak sisi yang sama b. Spastik diplegia,mengenai keempat anggota gerak,anggota gerak atas sedikit lebih berat. c. Kuadriplegi,mengenai keempat anggota gerak,anggota gerak atas sedikit lebih berat. d. Monopologi,bila hanya satu anggota gerak.

e. Triplegi apabila mengenai satu anggota gerak atas dan dua anggota gerak bawah,biasanya merupakn varian dan kuadriplegi. 2. Tipe disginetik (koreatetoid,20% dari semua kassus CP) Otot lengan,tungkai dan badan secara spontan bergerak perlahan,menggeliat dan tak terkendali;tetapi bisa juga timbul gerakan yang kasar dan mengejang. Luapan emosi menyebabkan keadaan semakin memburuk,gerakan akan menghilang jika anak tidur. 3. Tipe ataksik, (10% dari demua kasus CP) Terdiri dari tremor,langkah yang goyah dengan kedua tungkai terpisah jauh, gangguan kooordinasi dan gerakan abnormal. 4. Tipe Campuran (20% dari semua kasus CP) Merupakan gabungan dari 2 jenis diatas ,yang sering ditemukan adalah gabungan dari tipe spastik dan koreoatetoid.

Berdasarkan derajat kemampuan fungsional : 1. Ringan : Penderita masih bisa melakukan pekerjaan/aktifitas sehari-hari sehingga sama sekali tidak atau hanya sedikit sekali membutuhkan bantuan khusus. 2. Sedang Aktifitas sangat terbatas.penderita membutuhkan bermacam-macam bantuan khusus atau pendidikan khusus agar dapat mengurus dirinya sendiri,dapat bergerak dan berbicara. Dengan pertolongan secara khusus,diharapkan penderita dapat mengurus diri sendiri,berjalan atau berbicara sehingga dapat bergerak,bergaul ,hidup di tengah masyarsakat dengan baik. 3. Berat Penderita sama sekali tidak bisa melakukan aktifitas fisik dan tidak mungkin dapat hidup tanpa pertolongan orang lain. Pertolongan atau pendidikan khusus yang diberikan sangat sedikit hasilnya.sebaiknya penderita seperti ini ditampung dengan retardasi mental berat,atau yang akan menimbulkan gangguan sosial-emosional baik bagi keluarganya maupun lingkungannya. Gejala lain yang juga bisa ditemukan pada CP : 1. Kecerdasan dibawah normal 2. Keterbelakangan mental 3. Kejang/epilepsy (trauma pada tipe spastik) 4. Gangguan menghisap atau makan 5. Pernafasan yang tidak teratur 6. Gangguan perkembangan kemampauan motorik (misalnya menggapai sesuatu, duduk, berguling, merangkak, berjalan) 7. Gangguan berbicara (disatria) 8. Gangguan penglihatan 9. Gangguan pendengaran 10. Kontraktur persendian 11. Gerakan menjadi terbatas

G. Manifestasi Klinis Manifestasi klinis cerebral palsy tergantung dari bagian dan luas jaringan otak yang mengalami kerusakan : 1. Spastisitas Terdapat peninggian tonus otot dan reflek yang disertai dengan klonus dan reflek Babinski kerusakan yaitu : a. Monoplegia / monoparesis Kelumpuhan keempat anggota gerak,tapi salah satu anggota gerak lebih hebat dari yang lainnya. b. Hemiplegia / hemiparisis Kelumpuhan lengan dan tungkai dipihak yang sama. c. Diplegia / diparesis Kelumpuhan keempat anggota gerak,tapi tungkai lebih hebat dari pada lengan. d. Tetraplegia / tetraparesis Kelumpuhan keempat anggota gerak,tapi lengan lebih atau sama hebatnya dibandingkan dengan tungkai yang lain. 2. Tonus otot yang berubah Bayi pada usia bulan pertama tampak flasid dan berbaring seperti kodok terlentang, sehingga tampakseperti keainan pada lower motor neuron menjelang umur 1 tahun berubah menjadi tonus otot dari rendah hingga tinngi. Golongan ini meliputi 10-20% dari kasus cerebral palsy 3. Ataksia Ialah gangguan koordinasi kerusakan terletak di serebulum, terdapat kira-kira 5% dari kasus cerebral palsy 4. Gangguan pendengaran Terdapat pada 5-10% anak dengan cerebral palsy. Gangguan berupa kelainan neurogen terutama persepsi nada tinggi, sehingga sulit menangkap kata-kata. 5. Gangguan bicara Disebabkan oleh gangguan pendengaran atau retardasi mental. Gerakan yang terjadi dengan sendirinya dibibir dan dilidah menyebabkan sukar mengontrol otot-otot sehingga sulit membentuk kata-kata dan sering tampak anak berliur.

6. Gangguan mata Biasanya berupa strabismus convergen dan kelainan refraksi, asfiksia berat, dapat terjadi katarak, hampir 25% penderita cerebral palsy menderita kelainan mata.

H. Komplikasi Kelainan 1. Retardasi mental 2. Epilepsi 3. Kelainan Virus : a. Strabismus 75% Hemiplegra, spastik kuadriparesis Spastik diplegra dan kuadriparesis Spastes atheroid Hemiplegra Post kern ikterus Athetoid, spastik kuadriparesis Hemiplegra Hemiplegra Spastik yang berat, spastik athetoid Spastik Spastik Spastik Frekuensi 75% 25-50% Tipe Cerebral Palsy Atonik, rigid, spastik kuadriparesis Atonik, rigid, spastik kuadriparesis

b. Kelalinan refraksi c. Hemianopsia 4. Kelainan pendengaran 5. Disartria 6. Kelainan kortikal sensori 7. Pertumbuhan ekstremitas tidak simetris 8. Skoliosis 9. Dismofogenesis 10. Kontraktur sendi 11. Defisit persepsi

25-50% 25% 25% 25% 25-50% 25-50% 25% 25% 7% 25-50%

I. Pemeriksaan Diagnostik Diagnosis dini dan tepat adanya lesi di otak sangat penting sebagai dasar dalam seleksi prosedur-prosedur terapeutik yang akan diambil.

Pada anamnesis perlu diketahui mengenai riwayat prenatal, persalinan dan post natal yang dapat dikaitkan dengan adanya lesi otak. Tahap-tahap perkembangan fisik anak harus ditanyakan, umpamanya kapan mulai mengangkat kepala, membalik badan, duduk, merangkak, berdiri dan berjalan. Pada pemeriksaan fisik diperhatikan adanya spastisitas lengan/tungkai, gerakan involunter, ataksia dan lain-lain. Adanya refleks fisiologik seperti refleks moro dan tonic neck reflex pada anak usia 4 bulan harus dicurigai adanya CP, demikian pula gangguan penglihatan, pendengaran, bicara dan menelan, asimetri dari kelompok otototot, kontraktur dan tungkai yang menyilang menyerupai gunting.