Anda di halaman 1dari 52

ACARA I AGROEKOSISTEM DAN ANALISIS AGROEKOSISTEM I. PENDAHULUAN A. TUJUAN 1. Untuk mengetahui jenis dan fungsi agroekosistem. 2.

Untuk mengenal komponen ekosistem pertanian. 3. Untuk menentukan keputusan pengelolaan agroekosistem. 4. Untuk memberi kesempatan praktikan menjadi ahli di lahannya sendiri. B. LANDASAN TEORI Proses pembentukannya, ekosistem dibagi menjadi dua, yaitu Ekosistem alami dan Ekosistem pertanian. Ekosistem alami (EA) merupakan ekosistem yang proses pembentukan dan perkembangannya terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia, sehingga pada ekosistem ini terdapat diversitas (keragaman) organisme yang tinggi, dengan populasi rendah. Tingginya diversitas inilah yang menyebabkan susunan trofik menjadi komplek, sehingga tercipta ekosistem yang stabil. Oleh karena itu pada ekosistem alami jarang terjadi permasalahan peledakan hama dan penyakit tanaman. Sedangkan ekosistem

pertanian/agroekosistem (EP) adalah ekosistem yang proses pembentukan dan perkembangannya ada campur tangan manusia dengan tujuan untuk meningkatkan produksi pertanian dalam rangka memenuhi tuntutan kebutuhan manusia. Campur tangan manusia dapat berupa pemberian masukan energi tinggi dan biasanya mempunyai kecenderungan mengubah keseimbangan alam dan menyebabkan ekosistem menjadi tidak stabil bila tidak dikelola dengan baik. Contoh masukan energi tinggi, antara lain : pestisida kimia sintetik, pupuk kimia, benih unggul, dll. Pengertian EP yang paling sederhana dan mudah dimengerti oleh petani adalah hubungan timbal balik antara komponen hidup (biotik) dan tak hidup (abiotik) serta manusia pada suatu lingkungan pertanian. Ekosistem pertanian dapat diartikan sebagai totalitas/kesatuan lingkungan

pertanian yang tersusun oleh komponen hidup (biotik) dan tak hidup (abiotik) yang saling berinteraksi dan manusia dengan sistem sosialnya merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan dengan komponen tersebut. Unsur penyusun ekosistem pertanian dan interaksinya selalu berubah sesuai dengan besarnya faktor yang mempengaruhinya menurut waktu dan tempat. Faktor tersebut, antara lain : tindakan manusia, iklim, air, serangga penyerbuk, inang alternatif, gulma dan musuh alami. Tindakan manusia biasanya cenderung menyederhanakan ekosistem, sehingga mengakibatkan tidak stabil. Sebagai contoh adalah penggunaan pestisida yang berlebihan akan mengurangi kestabilan EP, sehingga mengakibatkan peledakan hama. Setiap unsur dalam EP memiliki peran dan sifat khusus yang dapat memperbanyak tingkat pertumbuhan dan penyebaran populasi setiap organisme yang ada dalam ekosistem tersebut. Perubahan tersebut dapat diketahui melalui pemantauan agroekosistem secara teratur, sehingga dapat dilakukan analisis agroekosistem, yang bertujuan untuk mengatasi persoalan yang terjadi karena perubahan ekologi. Analisis Agroekosistem (AAES) merupakan salah satu kegiatan terpenting (inti) dalam Pengelolaan Hama Terpadu (PHT). Kegiatan AAES dapat dianggap sebagai teknik pengamatan terhadap hal yang mendasari petani dalam membuat keputusan tentang pengelolaan lahan/kebunnya. Keputusan pengeloaan tersebut misalnya kegiatan sanitasi, pemangkasan, pemupukan, teknik pengendalian (mekanis-fisis), budidaya, penyemprotan pestisida, dll). Kegiatan AAES dapat

mengantarkan petani/praktikan menjadi ahli lahan/kebunnya sendiri karena setiap minggu harus melakukan observasi langsung secara teratur dan disiplin.

C. BAHAN DAN ALAT Bahan dan alat meliputi : Pertanaman pangan, perkebunan, hortikultura, jaring serangga, kantung plastik, gunting, kertas plano dan alat tulis. D. PROSEDUR KERJA 1. Mahasiswa dibagi dalam kelompok kecil sesuai dengan pembagian dalam setiap rombongan. 2. Persiapan bahan dan alat. 3. Penugasan mahasiswa ke lapangan untuk mengamati komponen agroekosistem, yang meliputi agroekosistem tanaman pangan, perkebunan, dan hortikultura. 4. Gambarkan keadaan umum agroekosistem yang anda amati. 5. Hasil pengamatan dituliskan pada kertas plano. 6. Koleksikan serangga/hewan yang berindak sebagai hama dan musuh alami, juga tanaman/bagian tanaman yang bergejala sakit. 7. Presentasikan hasil pengamatan.

II.

HASIL A. Agroekosistem Tanaman Kacang Panjang Hari, Tanggal Lokasi Luas : Sabtu, 24 September 2011 : Desa Karang Wangkal, Kec. Purwokerto Utara : 125m x 14m atau 1.750m2

Waktu pengamatan : Sore hari, 16.00 WIB Komponen Biotik Tanaman Pokok Tanaman lainnya terong, dan tomat Hama a. Kutu banci : gejala serangan menunjukkan ciri-ciri pada polong tumbuh tidak normal dan keriting, warnanya tidak hijau segar. Dengan intensitas serangan tergolong sedang. b. Ulat grayak : gejala serangan yaitu pada daun. Daun yang terserang berlubang dengan ukuran tidak pasti. Ulat grayak juga menyerang polong dengan ciri-ciri polong kacang panjang berlubang dan intensitas serangan tergolong ringan. Serangga netral Gulma Komponen Abiotik Tanah Cuaca Air Kelembapan Sistem pertanaman Kondisi lahan : Sedang : Cerah : Teknis : Lembab : Campuran : Cukup bersih, tidak terdapat naungan : lembing, laba-laba, dan kupu-kupu : Rumput teki (cyperus rotundus) Wedusan (ageratum conyzoides) : Kacang Panjang : Pare, kecipir, timun, buncis, gandum,

Agroekosistem Tanaman Kacang Panjang

Agroekosistem Tanaman Kacang Panjang

B. Agroekosistem Tanaman Terong Hari, tanggal Lokasi Luas : Jumat, 23 September 2011 : Desa Kedung Malang, Kec. Purwokerto Utara : 520 m2

Waktu pengamatan : Sore hari, pukul 16.00 WIB Komponen Abiotik Tanaman pokok Tanaman lainnya : Terong : Cabai, tomat dan rumput gajah

Hama : Ulat grayak. Gejala serangannya yaitu hama ulat grayak merusak (memakan) daun hingga berlubang-lubang. Dengan intensita serangannya tergolong ringan.

Musuh alami Serangga netral Gulma

: Belalang sembah : Lembing dan laba-laba :

Rumput teki (cyperus rotundus) Wedusan (ageratum conyzoides)

Komponen Abiotik Tanah Cuaca Air : Sedang : Cerah : Setengah teknis

Kelembapan : Lembab : Campuran : Cukup bersih

Sistem pertanaman Kondisi lahan

Agroekosistem Tanaman Terong

Agroekosistem Tanaman Terong

III. PEMBAHASAN A. Agroekosistem Tanaman Kacang Panjang Berdasarkan proses pembentukannya, ekosistem dibagi menjadi dua, yaitu Ekosistem alami dan Ekosistem pertanian. Ekosistem alami (EA) merupakan ekosistem yang proses pembentukan dan perkembangannya terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia, sehingga pada ekosistem ini terdapat diversitas (keragaman) organisme yang tinggi, dengan populasi rendah. Tingginya diversitas inilah yang menyebabkan susunan trofik menjadi komplek, sehingga tercipta ekosistem yang stabil. Oleh karena itu pada ekosistem alami jarang terjadi permasalahan peledakan hama dan penyakit tanaman. Ekosistem Pertanian/Agroekosistem (EP) adalah ekosistem yang proses pembentukan dan perkembangannya ada campur tangan manusia dengan tujuan untuk meningkatkan produksi pertanian dalam rangka memenuhi tuntutan kebutuhan manusia. Praktikum pengamatan agroekosistem tanaman kacang panjang dilakukan pada hari Sabtu, 24 September 2011. Lokasi pengamatan di Desa Karang Wangkal Kec. Purwokerto Utara dengan luas lahan 1.750m2. waktu pengamatan dilakukan pada sore hari pukul 16.00 WIB.. Pada komponen biotik, tanaman pokoknya adalah tanaman kacang panjang, sedangkan tanaman lainnya adalah tanaman pare, kecipir, timun, buncis, gandum, terong dan tomat. Hama utama yang menyerang tanaman kacang panjang yaitu kutu banci dengan intensitas serangannya tergolong sedang, gejala serangannya pada polong dan daun muda tanaman kacang panjang, pada polong menunjukkan ciri-ciri tumbuh tidak normal dan kerting, warnanya tidak hijau segar. Hama sekunder pada tanaman kacang panjang yaitu ulat grayak dengan gejala serangan pada daun, daun yang terserang berlubang dengan ukuran yang tidak pasti. Ulat grayak juga menyerang polong dengan ciri-ciri polong kacang panjang berlubang dan intensitas serangannya tergolong ringan. Serangga netral yang terdapat pada lahan tersebut yaitu lembing, laba-laba dan kupu-kupu. Sedangkan gulmanya adalah rumput teki (cyperus rotundus), wedusan (ageratum conyzoides). Selanjutnya untuk komponen abiotik tanahnya tergolong

sedang, cuacanya cerah, pengairan berupa teknis irigasi yang berasal dari sungai. Keadaan lingkungan lahannya lembab. Sistem pertanamannya berupa campuran dengan kondisi lahan cukup bersih dan tidak terdapat naungan. B. Agroekosistem Tanaman Terong Praktikum pengamatan agroekosistem tanaman terong dilakukan pada hari Jumat, 23 September 2011. Lokasi pengamtana di Desa Kedung Malang, Kec. Purwokerto Utara dengan luas lahan 520m2. Waktu pengamatan dilakukan pada sore hari pukul 16.00 WIB. Metode sampling dengan leter U. Komponen biotik tanaman pokoknya adalah tanaman terong sedangkan tanaman lainnya adalah cabai dan tomat. Hama pada tanaman terong yaitu hama ulat grayak dengan gejala serangan merusak (memakan) daun hingga berlubang-lubang dan intensitas serangannya ringan. Musuh alami untuk hama utama dan hama potensial pada tanaman terong yaitu belalang sembah. Serangga netral yang terdapat pada lahan tersebut adalah lembing dan laba-laba, sedangkan gulmanya adalah rumput teki (cyperus rotundus) dan wedusan (ageratum conyzoides). Selanjutnya untuk komponen abiotik tanahnya tergolong sedang, cuacanya cerah, pengairan setengah teknis, keadaan lingkungan lahannya lembab, dan sistem pertanamannya campuran dengan kondisi lahan cukup bersih dan tidak terdapat naungan. Analisis Agroekosistem (AAES) merupakan salah satu kegiatan terpenting (inti) dalam Pengelolaan Hama Terpadu (PHT). Kegiatan AAES dapat dianggap sebagai teknik pengamatan terhadap hal yang mendasari petani dalam membuat keputusan tentang pengelolaan lahan/kebunnya. Keputusan pengeloaan tersebut misalnya kegiatan sanitasi, pemangkasan, pemupukan, teknik pengendalian. Kegiatan AAES dapat mengantarkan petani/praktikan menjadi ahli lahan/kebunnya sendiri karena setiap minggu harus melakukan observasi langsung secara teratur dan disiplin.

IV. KESIMPULAN A. SIMPULAN 1. Ekosistem dibagi menjadi dua, yaitu ekosistem alami dan ekosistem pertanian. 2. Ekosistem alami merupakan ekosistem yang proses pembentukan dan perkembangannya terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia. 3. Ekosistem pertanian adalah ekosistem yang proses pembentukan dan perkembangannya ada campur tangan manusia. 4. Pada agroekosistem tanaman kacang panjang, tanaman pokoknya adalah tanaman kacang panjang, sedangkan tanaman lainnya adalah tanaman pare, kecipir, timun, buncis, gandum, terong dan tomat. Hama utama yang menyerang tanaman kacang panjang yaitu hama kutu banci dan ulat grayak. 5. Pada agroekosistem tanaman terong, tanaman pokoknya adalah tanaman terong sedangkan tanaman lainnya adalah cabai dan tomat. Hama pada tanaman terong yaitu hama ulat grayak. 6. Analisis Agroekosistem (AAES) merupakan salah satu kegiatan terpenting (inti) dalam Pengelolaan Hama Terpadu (PHT). B. SARAN Sebalum menganalisis agroekosistem sebaiknya survei lingkungan terlebih dahulu.

10

DAFTAR PUSTAKA Luckman, W.H, and R.L. Metcalf. 1982. The pest management concept. Metcalf, G.L and W.H. Luckman (Eds.) 1982. Introduction to Insect Pest Management. Pp. 30-35. John Wiley & Sons, New York. Mangan, J. 2002. Pedoman SL-PHT Untuk Pemandu, Proyek PHT-PR/IPMSECP. Jakarta. 21 hal. Mujiono dan Sugono. 2002. Petunjuk Studi Lapang PHT kakao. BAGRO PHTPR/IPM-SECP Kalimantan Timur. Samarinda. 54 hal. Tim Pengampu Mata Kuliah PHPT. 2011. Petunjuk Praktikum Pengelolaan Hama Penyakit Terpadu. Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.

11

ACARA VI PENGENALAN DAN PENGAMATAN SERANGAN HAMA TANAMAN HORTIKULTURA I. PENDAHULUAN A. TUJUAN 1. Untuk mengenal jenis hama utama pada tanaman hortikultura. 2. Untuk mengetahui gejala serangan hama utama pada tanaman hortikultura. 3. Untuk membuat analisis agroekosistem berdasarkan hasil pengamatan. B. LANDASAN TEORI Tanaman hortikultura meliputi 4 golongan, yaitu tanaman sesayuram, bebuahan, hias, dan tanaman obat. Sebagian besar potensi tanaman hortikultura sebagai sumber vitamin dan mineral diperoleh dari sayuran dan buah, sedangkan tanaman hias dapat sebagai sumber devisa negara karena dapat diekspor seperti bunga potong, anggrek, krisan dan mawar. Tanaman hortikultura golongan bebuahan komersial yang umum diusahakan petani, anatara lain adalah apel, jeruk, durian, nanas, mangga, pisang, pepaya, jambu, duku, klengkeng, manggis, dll. Umumnya lahan milik petani tidak terlalu luas. Penanaman bebuahan komersial secara monokultur dalam skala luas seringkali mengalami gangguan serangan hama yang cukup berat disebabkan ekosistemnya kurang stabil. Salah satu ciri khas budidaya tanaman hortikultura, khususnya sesayuran dan bebuahan serta bebungaan komersial adalah penanganan permasalahan perlindungan tanaman secara intensif. Hal ini disebabkan banyaknya permasalahan hama dan penyakit yang serius. Oleh karena itu, pada umumnya petani dalam mengatasi permasalahan tersebut selalu mengandalkan cara kimiawi menggunakan pestisida sintetik secara berlebihan. Agar diperoleh keuntungan yang maksimum dan dampak negatifnya dapat diperkecil, maka penggunaan pestisida harus dilakukan secara bijaksana dan rasional serta harus dilandasi dengan pengetahuan dasar tentang gejala serangan.

12

C. BAHAN DAN ALAT Bahan yang digunakan meliputi : Pertanaman hortikultura yang meliputi tanaman sayuran yaitu tanaman kacang panjang dan tanaman terong. Alat yang digunakan gunting tanaman, kantung plastik, gunting, kertas plano dan alat tulis. D. PROSEDUR KERJA 1. Praktikan dikelompokan sesuai dengan rombongannya. 2. Setiap kelompok bertugas untuk melakukan pengamatan gejala serangan patogen di lapang sesuai pembagian kelompok kerjanya. 3. Catat gejala serangan. 4. Prediksikan intensitas serangannya. 5. Bawalah bagian tanaman yang diamati tersebut ke laboratorium sebagai koleksi. 6. Tuliskan hasil analisis agroekosistem pada kertas plano, yang meliputi : 1) gambar keadaan umum agroekosistem, 2) data hasil pengamatan, 3) serangga netral, 4) pembahasan, 5) simpulan, 6) rencana tindak lanjut.

13

II.

HASIL A. Pengenalan dan Pengamatan Hama Tanaman Kacang Panjang Hari, Tanggal Lokasi Luas : Sabtu, 24 September 2011 : Desa Karang Wangkal, Kec. Purwokerto Utara : 125m x 14m atau 1.750m2

Waktu pengamatan : Sore hari, 16.00 WIB Metode sampling : Diagonal Komponen Biotik Tanaman Pokok Tanaman lainnya terong, dan tomat Hama c. Kutu banci : gejala serangan menunjukkan ciri-ciri pada polong tumbuh tidak normal dan keriting, warnanya tidak hijau segar. Dengan intensitas serangan tergolong sedang. d. Ulat grayak : gejala serangan yaitu pada daun. Daun yang terserang berlubang dengan ukuran tidak pasti. Ulat grayak juga menyerang polong dengan ciri-ciri polong kacang panjang berlubang dan intensitas serangan tergolong ringan. Serangga netral Gulma Komponen Abiotik Tanah Cuaca Air Kelembapan Sistem pertanaman Kondisi lahan : Sedang : Cerah : Teknis : Lembab : Campuran : Cukup bersih, tidak terdapat naungan : Lembing, laba-laba, dan kupu-kupu : Rumput teki (cyperus rotundus) Wedusan (ageratum conyzoides) : Kacang Panjang : Pare, kecipir, timun, buncis, gandum,

14

Pembahasan

Praktikum pengamatan dilakukan pada hari Sabtu, 24 September 2011. Lokasi pengamatan di Desa Karang Wangkal Kec. Purwokerto Utara dengan luas lahan 1.750m2. waktu pengamatan dilakukan pada sore hari pukul 16.00 WIB. Metode sampling dengan diagonal. Komponen biotik tanaman pokoknya adalah tanaman kacang panjang, sedangkan tanaman lainnya adalah tanaman pare, kecipir, timun, buncis, gandum, terong dan tomat. Hama utama yang menyerang tanaman kacang panjang yaitu kutu banci dengan intensitas serangannya tergolong sedang, gejala serangannya pada polong dan daun muda tanaman kacang panjang, pada polong menunjukkan ciri-ciri tumbuh tidak normal dan kerting, warnanya tidak hijau segar. Hama sekunder pada tanaman kacang panjang yaitu ulat grayak dengan gejala serangan pada daun, daun yang terserang berlubang dengan ukuran yang tidak pasti. Ulat grayak juga menyerang polong dengan ciri-ciri polong kacang panjang berlubang dan intensitas serangannya tergolong ringan. Simpulan Tanaman pokok yang kami amati adalah tanaman kacang panjang dengan hama utama kutu banci dan hama sekunder adalah ulat grayak. Untuk hama kutu banci intensitas serangannya sedang dan untuk hama ulat grayak intensitas serangannya ringan. RTL (Rencana Tindak Lanjut) Berdasarkan pengamatan dan wawancara kepada petani yang kami lakukan, rencana tindak lanjut jangka pendek untuk pengendalian hama kutu banci dan ulat grayak dengan menggunakan pestisida jenis monokrotophos, aplikasi dilakukan pada pagi atau sore hari dalam 8 hari sekali dengan takaran 500ml untuk 1x aplikasi, sedangkan rencana tindak lanjut jangka panjang yaitu penggunaan mulsa dan musuh alami (pemanfaatan musuh alami).

15

Pestisida Monocrotophos

Hama Kutu banci

16

Hama Kutu banci

Hama Kutu banci

17

B. Pengenalan dan Pengamatan Hama Tanaman Terong Hari, tanggal Lokasi Luas : Jumat, 23 September 2011 : Desa Kedung Malang, Kec. Purwokerto Utara : 520 m2

Waktu pengamatan : Sore hari, pukul 16.00 WIB Metode sampling : Leter U Komponen Abiotik Tanaman pokok Tanaman lainnya : Terong : Cabai, tomat dan rumput gajah

Hama : Ulat grayak. Gejala serangannya yaitu hama ulat grayak merusak (memakan) daun hingga berlubang-lubang. Dengan intensitas serangannya tergolong ringan.

Musuh alami Serangga netral Gulma

: Belalang sembah : Lembing dan laba-laba :

Rumput teki (cyperus rotundus) Wedusan (ageratum conyzoides)

Komponen Abiotik Tanah Cuaca Air : Sedang : Cerah : Setengah teknis

Kelembapan : Lembab : Campuran : Cukup bersih :

Sistem pertanaman Kondisi lahan Pembahasan

Praktikum pengamatan dilakukan pada hari Jumat, 23 September 2011. Lokasi pengamatan di Desa Kedung Malang, Kec. Purwokerto Utara dengan luas lahan 520m2. Waktu pengamatan dilakukan pada sore hari pukul 16.00 WIB. Metode sampling dengan leter U. Komponen biotik tanaman pokoknya adalah tanaman terong sedangkan tanaman lainnya adalah cabai dan tomat. Hama yang

18

menyerang tanaman terong hama ulat grayak dengan gejala serangan merusak (memakan) daun hingga berlubang-lubang dan intensitas serangannya ringan. Musuh alami untuk hama utama dan hama potensial pada tanaman terong yaitu belalang sembah. Serangga netral yang terdapat pada lahan tersebut adalah lembing dan laba-laba, sedangkan gulmanya adalah rumput teki (cyperus rotundus) dan wedusan (ageratum conyzoides). Selanjutnya untuk komponen abiotik tanahnya tergolong sedang, cuacanya cerah, pengairan setengah teknis, keadaan lingkungan lahannya lembab, dan sistem pertanamannya campuran dengan kondisi lahan cukup bersih dan tidak terdapat naungan. Kesimpulan Tanaman pokok yang kami amati adalah tanaman terong dengan hama ulat grayak intensitas serangannya ringan. RTL (Rencana Tindak Lanjut) Berdasarkan pengamatan dan wawancara kepada petani yang kami lakukan, rencana tindak lanjut jangka pendek untuk pengendalian hama ulat grayak adalah dengan penggunaan pestisida jenis pestona, aplikasi dilakukan pada sore hari dalam 2 hari sekali, dengan takaran 5cc untuk satu kali aplikasi. Disamping dengan penggunaan pestisida dilakukan pemotongan ujung tanaman yang terserang hama ulat grayak, sedangkan untuk rencana tindak lanjut jangka panjang adalah dengan musuh alami.

Hama Tanaman Terong 19

Gejala serangan pada daun terong

Hama Tanaman Terong

20

III. PEMBAHASAN Salah satu ciri khas budidaya tanaman hortikultura, khususnya sesayuran komersial adalah penanganan permasalahan perlindungan tanaman secara intensif. Hal ini disebabkan banyaknya permasalahan hama yang serius. Oleh karena itu, pada umumnya petani dalam mengatasi permasalahan tersebut selalu mengandalkan cara kimiawi menggunakan pestisida sintetik secara berlebihan. Agar diperoleh keuntungan yang maksimum dan dampak negatifnya dapat diperkecil, maka penggunaan pestisida harus dilakukan secara bijaksana dan rasional serta harus dilandasi dengan pengetahuan dasar tentang gejala serangan. A. Pengenalan dan Pengamatan Hama Tanaman Kacang Panjang Praktikum pengenalan dan pengamatan hama tanaman kacang panjang dilakukan pada hari Sabtu, 24 September 2011. Lokasi pengamatan di Desa Karang Wangkal Kec. Purwokerto Utara dengan luas lahan 1.750m2. Waktu pengamatan dilakukan pada sore hari pukul 16.00 WIB. Metode sampling dengan diagonal. Pada komponen biotik, tanaman pokoknya adalah tanaman kacang panjang, sedangkan tanaman lainnya adalah tanaman pare, kecipir, timun, buncis, gandum, terong dan tomat. Hama utama yang menyerang tanaman kacang panjang yaitu kutu banci dengan intensitas serangannya tergolong sedang, gejala serangannya pada polong dan daun muda tanaman kacang panjang, pada polong menunjukkan ciri-ciri tumbuh tidak normal dan keriting, warnanya tidak hijau segar. Hama sekunder pada tanaman kacang panjang yaitu ulat grayak dengan gejala serangan pada daun, daun yang terserang berlubang dengan ukuran yang tidak pasti. Ulat grayak juga menyerang polong dengan ciri-ciri polong kacang panjang berlubang dan intensitas serangannya tergolong ringan. Seranggan netral yang terdapat pada lahan tersebut yaitu lembing, laba-laba dan kupu-kupu. Sedangkan gulmanya adalah rumput teki (cyperus rotundus), wedusan (ageratum conyzoides). Selanjutnya untuk komponen abiotik tanahnya tergolong sedang, cuacanya cerah, pengairan berupa teknis irigasi yang berasal dari sungai. Keadaan lingkungan lahannya lembab. Sistem pertanamannya

21

berupa campuran dengan kondisi lahan cukup bersih dan tidak terdapat naungan. Berdasarkan pengamatan dan wawancara kepada petani yang kami lakukan, rencana tindak lanjut jangka pendek untuk pengendalian hama kutu banci dan ulat grayak dengan menggunakan pestisida jenis monokrotophos, aplikasi dilakukan pada pagi atau sore hari dalam 8 hari sekali dengan takaran 500ml untuk 1x aplikasi, sedangkan rencana tindak lanjut jangka panjang yaitu penggunaan mulsa dan musuh alami (pemanfaatan musuh alami). B. Pengenalan dan Pengamatan Hama Tanaman Terong Praktikum pengenalan dan pengamatan hama tanaman terong dilakukan pada hari Jumat, 23 September 2011. Lokasi pengamtana di Desa Kedung Malang, Kec. Purwokerto Utara dengan luas lahan 520m2. Waktu pengamatan dilakukan pada sore hari pukul 16.00 WIB. Metode sampling dengan leter U. Komponen biotik tanaman pokoknya adalah tanaman terong sedangkan tanaman lainnya adalah cabai dan tomat. Hama pada tanaman terong yaitu hama ulat grayak dengan gejala serangan merusak (memakan) daun hingga berlubang-lubang dan intensitas serangannya ringan. Musuh alami untuk hama utama pada tanaman terong yaitu belalang sembah. Serangga netral yang terdapat pada lahan tersebut adalah lembing dan laba-laba, sedangkan gulmanya adalah rumput teki (cyperus rotundus) dan wedusan (ageratum conyzoides). Selanjutnya untuk komponen abiotik tanahnya tergolong sedang, cuacanya cerah, pengairan setengah teknis, keadaan lingkungan lahannya lembab, dan sistem pertanamannya campuran dengan kondisi lahan cukup bersih dan tidak terdapat naungan. Berdasarkan pengamatan dan wawancara kepada petani yang kami lakukan, rencana tindak lanjut jangka pendek untuk pengendalian hama ulat grayak adalah dengan penggunaan pestisida jenis pestona, aplikasi dilakukan pada sore hari dalam 2 hari sekali, dengan takaran 5cc untuk satu kali aplikasi. Disamping dengan penggunaan pestisida dilakukan

pemotongan ujung tanaman yang terserang hama ulat grayak, sedangkan untuk rencana tindak lanjut jangka panjang adalah dengan musuh alami.

22

IV. KESIMPULAN A. SIMPULAN 1. Tanaman hortikultura meliputi 4 golongan, yaitu tanaman sesayuram, bebuahan, hias, dan tanaman obat. Sebagian besar potensi tanaman hortikultura sebagai sumber vitamin dan mineral diperoleh dari sayuran dan buah. 2. Hama utama yang menyerang tanaman kacang panjang yaitu kutu banci dengan intensitas serangannya tergolong sedang, gejala serangannya pada polong dan daun muda tanaman kacang panjang, pada polong menunjukkan ciri-ciri tumbuh tidak normal dan keriting, warnanya tidak hijau segar. 3. Hama sekunder pada tanaman kacang panjang yaitu ulat grayak dengan gejala serangan pada daun, daun yang terserang berlubang dengan ukuran yang tidak pasti. Ulat grayak juga menyerang polong dengan ciri-ciri polong kacang panjang berlubang dan intensitas serangannya tergolong ringan. 4. Hama pada tanaman terong yaitu hama ulat grayak dengan gejala serangan merusak (memakan) daun hingga berlubang-lubang dan intensitas serangannya ringan. B. SARAN Sebaiknya teliti dalan pengenalan dan pengamatan hama.

23

DAFTAR PUSTAKA Direktorat Bina Perlindungam Tanaman. 1993. Pedoman Pengenalan dan Pengendalian Hama Penting Tanaman Hortikultura. Dirjen Pertanian Tanaman Pangan. Jakarta. 43 hal. Tim Pengampu Mata Kuliah PHPT. 2011. Petunjuk Praktikum Pengelolaan Hama Penyakit Terpadu. Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.

24

ACARA VII PENGENALAN DAN PENGAMATAN GEJALA SERANGAN PATOGEN PADA TANAMAN HOLTIKULTURA I. PENDAHULUAN A. TUJUAN 1. Untuk mengenal patogen utama pada tanaman hortikultura. 2. Untuk mengenal gejala serangan patogen utama pada tanaman hortikultura dilapangan. 3. Untuk membuat analisis agroekosistem berdasarkan hasil pengamatan. B. LANDASAN TEORI Dalam budidaya tanaman hortikultura tidak dapat terlepas dari gangguan serangan patogen penyebab penyakit tanaman. Contoh penyakit penting pada tanaman sesayuran antara lain; penyakit fusarium pada tanaman kentang dan tomat; penyakit layu karena jamur dan bakteri pada tanaman tomat dan kentang; penyakit Colletotrichum (patek) pada tanaman cabai. Oleh karena petani kuatir dengan resiko kegagalan panen akibat penyakit tanaman, maka petani dalam mengatasi permasalahan penyakit tanaman hortikultura cenderung menggunakan cara kimiawi menggunakan pestisida secara berlebihan, seperti penyemprotan fungisida untuk mengatasi penyakit layu pada tanaman kentang dengan frekuensi tiga kali sehari. Pengendalian terhadap penyakit tanaman yang paling tepat harus dilandasi dengan pengetahuan yang benar tentang jenis dan gejala yang diakibatkan oleh patogennya. Hasil tanaman hortikultura sangat diperlukan manusia. Hasil tanaman hortikultura yang umum dimanfaatkan adalah sesayuran dan bebuahan. Produk tanaman hortikultura ini dimanfaatkan sebagai bahan tambahan makanan, maupun industri. C. BAHAN DAN ALAT Bahan yang digunakan meliputi: Pertanaman hortikultura yang terdiri atas: kacang panjang dan terong. Alat yang digunakan antara lain; kantong plastik, gunting tanaman, counter dan ATK.

25

D. PROSEDUR KERJA 1. Praktikan dikelompokkan sesuai dengan rombongannya (tiap

kelompok 4-5 mahasiswa). 2. Setiap kelompok bertugas untuk melakukan pengamatan segala serangan patogen di lapangan sesuai pembagian kelompok kerjanya. 3. Catat gejala serangan dan perkiraan nama penyakit dan patogen penyebabnya. 4. Prediksi intensitas serangannya. 5. Bawalah bagian tanaman yang diamati tersebut ke laboratorium sebagai koleksi. 6. Tulikan hasil analisis agroekosistem pada kertas plano yang meliputi: 1) gambar keadaan umum agroekosistem, 2) data hasil pengamatan, 3) serangga netral, 4) pembahasan, 5) simpulan 6) rencana tindak lanjut.

II.

HASIL A. Pengenalan dan Pengamatan Patogen Tanaman Kacang Panjang Hari, Tanggal Lokasi Luas : Sabtu, 24 September 2011 : Desa Karang Wangkal, Kec. Purwokerto Utara : 125m x 14m atau 1.750m2

Waktu pengamatan : Sore hari, 16.00 WIB Metode sampling : Zig-zag Komponen Biotik Tanaman Pokok Tanaman lainnya terong, dan tomat Penyakit penyebab pathogen : CABMV (Cowpea Aphid Borne Mozaik Virus) Gulma Komponen Abiotik Tanah Cuaca : Sedang : Cerah : Rumput teki (cyperus rotundus) dan : Kacang Panjang : Pare, kecipir, timun, buncis, gandum,

Wedusan (ageratum conyzoides)

26

Air Kelembapan Sistem pertanaman Kondisi lahan Pembahasan

: Teknis : Lembab : Campuran : Cukup bersih, tidak terdapat naungan :

Praktikum pengenalan dan pengamatan patogen tanaman kacang panjang dilakukan pada hari Sabtu, 24 September 2011. Lokasi pengamatan di Desa Karang Wangkal Kec. Purwokerto Utara dengan luas lahan 1.750m2. waktu pengamatan dilakukan pada sore hari pukul 16.00 WIB. Metode sampling dengan diagonal. Komponen biotik, tanaman pokoknya adalah tanaman kacang panjang, sedangkan tanaman lainnya adalah tanaman pare, kecipir, timun, buncis, gandum, terong dan tomat. Patogen utama pada tanaman kacang panjang yaitu CABMV (Cowpea Aphid Borne Mozaik Virus) dengan gejala pada daun muda yang terdapat gambaran mozaik yang warnanya tidak beraturan. Penyakit patogen ini ditularkan oleh vector kutu daun. Penyakit ini memiliki nama virus mozaik daun yang menyebabkan daunnya klorosis atau menguning karena klorofil yang terbentuk rusak sehingga proses fotosintesis terganggu. Intensitas serangan pada patogen mosaic virus tergolong sedang. Gulma pada lahan tanaman kacang panjang yaitu rumput teki (cyperus rotundus) dan wedusan (ageratum conyzoides). Selanjutnya untuk komponen abiotik tanahnya sedang, cuacanya cerah, pengairan berupa teknis irigasi dan keadaan lingkungan lahannya lembab, sistem pertanamannya campuran dan kondisi lahan cukup bersih (tanpa naungan). Simpulan Tanaman pokok yang kami amati adalah tanaman kacang panjang dengan patogen CABMV (Cowpea Aphid Borne Mozaik Virus). Dengan intensitas serangan untuk penyakit CABMV tergolong sedang.

27

RTL (Rencana Tindak Lanjut) Rencana tindak lanjut untuk CABMV (Cowpea Aphid Borne Mozaik Virus) yaitu dengan cara penyemprotan insektisida untuk vector kutu daun dan tanaman yang terserang dicabut dan dibakar.

Gejala daun yang terserang CABMV (Cowpea Aphid Borne Mozaik Virus)

Gejala daun yang terserang CABMV (Cowpea Aphid Borne Mozaik Virus)

28

Gejala daun yang terserang CABMV (Cowpea Aphid Borne Mozaik Virus)

Gejala daun yang terserang CABMV (Cowpea Aphid Borne Mozaik Virus)

29

B. Pengenalan dan Pengamatan Patogen Tanaman Terong Hari, tanggal Lokasi Luas : Jumat, 23 September 2011 : Desa Kedung Malang, Kec. Purwokerto Utara : 520 m2

Waktu pengamatan : Sore hari, pukul 16.00 WIB Metode sampling : Leter U Komponen Abiotik Tanaman pokok Tanaman lainnya : Terong : Cabai, tomat dan rumput gajah : Alternaria sp. (Penyakit

Patogen penyebab penyakit bercak daun)

Gulma : Rumput teki (cyperus rotundus) dan Wedusan

(ageratum conyzoides) Komponen Abiotik Tanah Cuaca Air : Sedang : Cerah : Setengah teknis

Kelembapan : Lembab : Campuran : Cukup bersih :

Sistem pertanaman Kondisi lahan Pembahasan

Praktikum pengenalan dan pengamatan patogen tanaman terong dilakukan pada hari Jumat, 23 September 2011. Lokasi pengamatan di Desa Kedung Malang, Kec. Purwokerto Utara dengan luas lahan 520m2. Waktu pengamatan dilakukan pada sore hari pukul 16.00 WIB. Metode sampling dengan leter U. Komponen biotik, tanaman pokoknya adalah tanaman terong sedangkan tanaman lainnya adalah cabai dan tomat. Patogen penyebab penyakit bercak daun tanaman terong yaitu jamur Alternaria sp. Jamur ini menimbulkan gejala pada daun yang terserang terdapat bercak-bercak kelabu kecoklatan atau hitam. Jamur ini juga menyerang bagian buah dengan menimbulkan gejala

30

bercak oval atau bulat berwarna hitam, yang kemudian akan tertutup oleh masa konidium jamur yang berwarna hitam, bercak umumnya hanya terbatas di permukaan duan dan tidak

menyebabkan pembusukkan yang parah di jaringan parenkim buah. Intensitas serangan jamur Alternaria sp. Pada tanaman tergolong ringan. Komponen abiotik meliputi tanah, cuaca, air, dan kelembapan. Untuk tanahnya tergolong lahan sedang, cuacanya cerah, pengairan dengan pengairan setengah teknis dan

kelembapan lingkungannya tergolong lembab. Sistem pertanaman untuk lahan terong yaitu campuran sedangkan kondisi lahan cukup bersih dan tidak terdapat naungan. Kesimpulan Tanaman pokok yang kami amati adalah tanaman terong dengan penyakit yang menyerang adalah penyakit becak daun yang disebabkan oleh jamur Alternaria sp. Daun yang terserang terdapat bercak-bercak kelabu kecoklatan atau hitam. Jamur ini juga menyerang bagian buah dengan menimbulkan gejala bercak oval atau bulat berwarna hitam. Intensitas serangannya tergolong ringan. RTL (Rencana Tindak Lanjut) Rencana tindak lanjut untuk pengendalian jamur Alternaria sp. Dengan penggunaan agensia pengendali hayati yaitu Bacillus suptilis.

31

Gejala daun yang terserang patogen Alternaria sp

Gejala daun yang terserang patogen Alternaria sp

32

III. PEMBAHASAN A. Pengenalan dan Pengamatan Patogen Tanaman Kacang Panjang Dalam budidaya tanaman hortikultura tidak dapat terlepas dari gangguan serangan patogen penyebab penyakit tanaman. Oleh karena petani kuatir degan resiko kegagalan panen akibat penyakit tanaman, maka petani dalam mengatasi permasalahan penyakit tanaman hortikultura cenderung menggunakan cara kimiawi menggunakan pestisida secara berlebihan, seperti penyemprotan fungisida untuk mengatasi penyakit layu pada tanaman kentang dengan frekuensi tiga kali sehari. Pengendalian terhadap penyakit tanaman yang paling tepat harus dilandasi dengan pengetahuan yang benar tentang jenis dan gejalan yang diakibatkan oleh patogennya. Praktikum pengenalan dan pengamatan patogen tanaman kacang panjang dilakukan pada hari Sabtu, 24 September 2011. Lokasi pengamatan di Desa Karang Wangkal Kec. Purwokerto Utara dengan luas lahan 1.750m2. waktu pengamatan dilakukan pada sore hari pukul 16.00 WIB. Metode sampling dengan diagonal. Komponen biotik, tanaman pokoknya adalah tanaman kacang panjang, sedangkan tanaman lainnya adalah tanaman pare, kecipir, timun, buncis, gandum, terong dan tomat. Patogen utama pada tanaman kacang panjang yaitu CABMV (Cowpea Aphid Borne Mozaik Virus) dengan gejala pada daun muda yang terdapat gambaran mozaik yang warnanya tidak beraturan. Penyakit patogen ini ditularkan oleh vector kutu daun. Penyakit ini memiliki nama virus mozaik daun yang menyebabkan daunnya klorosis atau menguning karena klorofil yang terbentuk rusak sehingga proses fotosintesis terganggu. Intensitas serangan pada patogen mosaic virus tergolong sedang. Gulma pada lahan tanaman kacang panjang yaitu rumput teki (cyperus rotundus) dan wedusan (ageratum conyzoides). Selanjutnya untuk komponen abiotik tanahnya sedang, cuacanya cerah, pengairan berupa teknis irigasi dan keadaan lingkungan lahannya lembab, sistem pertanamannya campuran dan kondisi lahan cukup bersih (tanpa naungan).

33

Rencana tindak lanjut untuk CABMV (Cowpea Aphid Borne Mozaik Virus) yaitu dengan cara penyemprotan insektisida untuk vector kutu daun dan tanaman yang terserang dicabut dan dibakar. B. Pengenalan dan Pengamatan PatogenTanaman Terong Praktikum pengenalan dan pengamatan patogen tanaman terong dilakukan pada hari Jumat, 23 September 2011. Lokasi pengamtana di Desa Kedung Malang, Kec. Purwokerto Utara dengan luas lahan 520m2. Waktu pengamatan dilakukan pada sore hari pukul 16.00 WIB. Metode sampling dengan leter U. Komponen biotik tanaman pokoknya adalah tanaman terong sedangkan tanaman lainnya adalah cabai dan tomat. Patogen penyebab penyakit bercak daun tanaman terong yaitu jamur Alternaria sp. Jamur ini menimbulkan gejala pada daun yang terserang terdapat bercak-bercak kelabu kecoklatan atau hitam. Jamur ini juga menyerang bagian buah dengan menimbulkan gejala bercak oval atau bulat berwarna hitam, yang kemudian akan tertutup oleh masa konidium jamur yang berwarna hitam, bercak umumnya hanya terbatas di permukaan duan dan tidak menyebabkan pembusukkan yang parah di jaringan parenkim buah. Intensitas serangan jamur Alternaria sp. Pada tanaman tergolong ringan. Komponen abiotik meliputi tanah, cuaca, air, dan kelembapan. Untuk tanahnya tergolong lahan sedang, cuacanya cerah, pengairan dengan pengairan setengah teknis dan kelambapan lingkungannya tergolong lembap. Sistem pertanaman untuk lahan terong yaitu campuran sedangkan kondisi lahan cukup bersih dan tidak terdapat naungan. Rencana tindak lanjut untuk pengendalian jamur Alternaria sp. Dengan penggunaan agensia pengendali hayati yaitu Bacillus suptilis. Hasil tanaman hortikultura sangat diperlukan manusia. Hasil tanaman hortikultura yang umum dimanfaatkan adalah sesayuran dan bebuahan. Produk tanaman hortikultura ini dimanfaatkan sebagai bahan tambahan makanan, maupun industri. Pengendalian terhadap penyakit tanaman yang paling tepat harus dilandasi dengan pengetahuan yang benar tentang jenis dan gejala yang diakibatkan oleh patogennya.

34

IV. KESIMPULAN A. SIMPULAN 1. Dalam budidaya tanaman hortikultura tidak dapat terlepas dari gangguan serangan patogen penyebab penyakit tanaman. 2. Patogen utama pada tanaman kacang panjang yaitu CABMV (Cowpea Aphid Borne Mozaik Virus) dengan gejala pada daun muda yang terdapat gambaran mozaik yang warnanya tidak beraturan. 3. Patogen penyebab penyakit bercak daun tanaman terong yaitu atau Alternaria sp. Jamur ini menimbulkan gejala pada daun yang terserang terdapat bercak-bercak kelabu kecoklatan atau hitam. 4. Pengendalian terhadap penyakit tanaman yang paling tepat harus dilandasi dengan pengetahuan yang benar tentang jenis dan gejala yang diakibatkan oleh patogennya. B. SARAN Sebaiknya teliti dalan pengenalan dan pengamatan patogen.

35

DAFTAR PUSTAKA Soesanto, Loekas. 2008. Pengantar Pengendalian Hayati Penyakit Pengakit Tanaman. RajaGrafindo Persada. Jakarta. Tim Pengampu Mata Kuliah PHPT. 2011. Petunjuk Praktikum Pengelolaan Hama Penyakit Terpadu. Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.

36

ACARA VIII PEMBUATAN TRICHOKOMPOS I. PENDAHULUAN A. TUJUAN 1. Untuk mempraktikan cara membuat Trichokompos secara sederhana. 2. Untuk mengetahui manfaat Trichokompos. B. LANDASAN TEORI Menurut Adiningsih (2005) kunci utama untuk memperbaiki kesehatan tanah adalah kadar bahan organik tanah harus ditingkatkan, karena tanah yang miskin bahan organik akan berkurang daya menyangga hara dan berkurang koefisiensian pupuk karena sebagian besar hilang dari lingkungan perakaran. Bahan organik bersifat multi purpose (peran ganda) karena bahan organik dapat berperan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia maupun biologi tanah. Hasil penelitian Adiningsih (2005) menunjukkan bahwa sebagian besar lahan pertanian di Indonesia berkadar bahan organik rendah, dari 30 lokasi sawah yang contoh tanahnya diambil secara acak, sekitar 68%, mempunyai C organik kurang 1,5% dan hanya 9% dengan kadar organik lebih dari 2%. Paradigma baru kesuburan tanah adalah bersifat berkelanjutan (sustainable) karena tanah merupakan medium kehidupan (seperti organisme makro dan mikro termasuk akar tanaman) yang bersifat dinamis. Dengan demikian seharusnya yang menjadi fokus perhatian tidak hanya pengolahan tanah (sifat fisik) dan pemupukan (sifat khemis) saja, tetapi juga kehidupan organisme tanah (sifat biologi), sehingga bahan organik merupakan hal yang sangat urgen (Syekfani, 2005). Sejalan dengan menurunnya kesuburan tanah, kebutuhan akan pupuk anorganik meningkat dengan harganya semakin mahal, sehingga mengakibatkan biaya usaha tani meningkat. Sebaliknya produktifitas semakin menurun. Dengan demikian pendapatan petani semakin menurun, bahkan seringkali merugi karena harga menurun dratis disaat panen raya. Selain masalah tersebut, konsumen pasar global saat ini sebagian besar

37

adalah konsumen sadar lingkungan (konsumen hijau) sehingga persyaratan ramah lingkungan sudah merupakan persyaratan minimum yang harus dipenuhi oleh pihak eksportir (Mujiono dan Sabirin, 2002). Kompos adalah bahan organis yang cepat lapuk, seperti daun-daunan, jerami, alang-alang, rumput-rumputan, dedak padi, batang jagung, sulur, serta kotoran hewan. Dilingkungan alam terbuka, kompos bisa terjadi dengan sendirinya, lewat proses alami, rumput, daun-daunan dan kotoran hewan serta sampah lainnya lama kelamaan membusuk karena kerjasama antara mikroorganis dengan cuaca. Namun demikian kompos hasil proses alami akan membutuhkan jangka waktu yang agak lama, dan tidak dapat segera tersedia jika sewaktu-waktu kompos tersebut dibutuhkan. Oleh karena itu, proses pengomposan tesebut dapat dipercepat oleh perlakuan activator tertentu, sehingga menghasil kompos yang berkualitas baik, dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Salah satu activator dalam pembuatan kompos adalah Pupuk Organik Cair (POC) merk SO-Kontan Lq. Salah satu prinsip dasar PHT adalah budidaya tanaman sehat, dalam prinsip ini tanaman diupayakan dipupuk secara berimbang, sehingga tanaman menjadi tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Selain itu salah satu taktik agar tanaman lebih toleran terhadap serangan hama dan penyakit adalah menggunakan penambahan bahan organik (kompos) di dalam tanah. Agar supaya kompos dapat mempunyai fungsi ganda selain sebagai pupuk organic perlu diperkaya dengan jamur antagonis Trichoderma harzianum atau Glyocladium sp., sehingga dapat juga berfungsi sarana perlindungan tanaman, khususnya untuk mencagah terjadinya serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur tular akar. Syarat pembuatan kompos antara lain: 1) bahan mentah/limbah pertanian harus homogeny, 2) temperature awal harus tinggi, dengan cara menutup rapat dan kedap udara, 3) kelembaban optimal, dengan cara menyimpan air secukupnuya.

38

C. BAHAN DAN ALAT Bahan yang digunakan meliputi: kotorang hewan sapi/kambing, activator (SO-kontan Lq), jamur antagonis Trichoderma harzianum atau

Glyocladium sp., dan air. Alat yang digunakan antara lain: kotak cetakan kompos, cangkul, skop, thermometer, batang bambu, dan ATK.

D. PROSEDUR KERJA 1. Praktikan dikelompokkan sesuai dengan rombongannya (tiap

kelompok 4-5mahasiswa). 2. Setiap kelompok bertugas untuk membuat Trichokompos

(Glyokompos). 3. Amati setiap 4 hari sekali suhunya dan setiap 10 hari dibalik. 4. Amati berapa lama kompos jadi, kemudian dianalisis C/N ratio-nya.

II.

HASIL Cara Pembuatan Trichokompos 1. Bahan mentah yang berupa kotoran ternak (kambing, sapi, kerbau, atau ayam). 2. Ditumpuk berlapis-lapis hingga setinggi 1m (10 12 lapis). 3. Setiap lapis diberi irisan batang pisang secukupnya, kemudian disiram air secukupnya dan di injak-injak hingga padat. 4. Siramkan larutan activator (SO-kontan Lq) dengan konsentrasi 4ml/l air secukupnya. 5. Tutup rapat dengan plastic dan setiap 1 atau 2 minggu sekali diadakan pembalikan bokasi dinyatakan matang.

39

Trichokompos

aktivator

Trichoderma harzianum 40

III. PEMBAHASAN Cara Pembuatan Trichokompos, bahan mentah yang berupa kotoran ternak (kambing, sapi, kerbau, atau ayam), ditumpuk berlapis-lapis hingga setinggi 1m (10 12 lapis), setiap lapis diberi irisan batang pisang secukupnya, kemudian disiram air secukupnya dan di injak-injak hingga padat, siramkan larutan activator (SO-kontan Lq) dengan konsentrasi 4ml/l air secukupnya, tutup rapat dengan plastic dan setiap 1 atau 2 minggu sekali diadakan pembalikan bokasi dinyatakan matang. Sejalan dengan menurunnya kesuburan tanah, kebutuhan akan pupuk anorganik meningkat dengan harganya semakin mahal, sehingga mengakibatkan biaya usaha tani meningkat. Sebaliknya produktifitas semakin menurun. Dengan demikian pendapatan petani semakin menurun, bahkan seringkali merugi karena harga menurun dratis disaat panen raya. Selain masalah tersebut, konsumen pasar global saat ini sebagian besar adalah konsumen sadar lingkungan (konsumen hijau) sehingga persyaratan ramah lingkungan sudah merupakan persyaratan minimum yang harus dipenuhi oleh pihak eksportir (Mujiono dan Sabirin, 2002). Paradigma baru kesuburan tanah adalah bersifat berkelanjutan (sustainable) karena tanah merupakan medium kehidupan (seperti organisme makro dan mikro termasuk akar tanaman) yang bersifat dinamis. Dengan demikian seharusnya yang menjadi fokus perhatian tidak hanya pengolahan tanah (sifat fisik) dan pemupukan (sifat khemis) saja, tetapi juga kehidupan organisme tanah (sifat biologi), sehingga bahan organik merupakan hal yang sangat urgen (Syekfani, 2005). Salah satu prinsip dasar PHT adalah budidaya tanaman sehat, dalam prinsip ini tanaman diupayakan dipupuk secara berimbang, sehingga tanaman menjadi tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Selain itu salah satu taktik agar tanaman lebih toleran terhadap serangan hama dan penyakit adalah menggunakan penambahan bahan organik (kompos) di dalam tanah. Menurut Adiningsih (2005) kunci utama untuk memperbaiki kesehatan tanah adalah kadar bahan organik tanah harus ditingkatkan,

41

karena tanah yang miskin bahan organik akan berkurang daya menyangga hara dan berkurang koefisiensian pupuk karena sebagian besar hilang dari lingkungan perakaran. Bahan organik bersifat multi purpose (peran ganda) karena bahan organik dapat berperan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia maupun biologi tanah. Hasil penelitian Adiningsih (2005) menunjukkan bahwa sebagian besar lahan pertanian di Indonesia berkadar bahan organik rendah, dari 30 lokasi sawah yang contoh tanahnya diambil secara acak, sekitar 68%, mempunyai C organik kurang 1,5% dan hanya 9% dengan kadar organik lebih dari 2%. Kompos adalah bahan organis yang cepat lapuk, seperti daun-daunan, jerami, alang-alang, rumput-rumputan, dedak padi, batang jagung, sulur, serta kotoran hewan. Dilingkungan alam terbuka, kompos bisa terjadi dengan sendirinya, lewat proses alami, rumput, daun-daunan dan kotoran hewan serta sampah lainnya lama kelamaan membusuk karena kerjasama antara mikroorganis dengan cuaca. Namun demikian kompos hasil proses alami akan membutuhkan jangka waktu yang agak lama, dan tidak dapat segera tersedia jika sewaktu-waktu kompos tersebut dibutuhkan. Oleh karena itu, proses pengomposan tesebut dapat dipercepat oleh perlakuan activator tertentu, sehingga menghasil kompos yang berkualitas baik, dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Salah satu activator dalam pembuatan kompos adalah Pupuk Organik Cair (POC) merk SO-Kontan Lq. Agar supaya kompos dapat mempunyai fungsi ganda selain sebagai pupuk organic perlu diperkaya dengan jamur antagonis Trichoderma harzianum atau Glyocladium sp., sehingga dapat juga berfungsi sarana perlindungan tanaman, khususnya untuk mencagah terjadinya serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur tular akar. Syarat pembuatan kompos antara lain: 1) bahan mentah/limbah pertanian harus homogeny, 2) temperature awal harus tinggi, dengan cara menutup rapat dan kedap udara, 3) kelembaban optimal, dengan cara menyimpan air secukupnuya.

42

Ciri pupuk organik padat yang matang adalah : 1) berwarna cokelat kehitam (cokelat pekat), 2) bertekstur remah dan gembur, 3) berbau bahan organik busuk.

IV. KESIMPULAN A. SIMPULAN 1. Kunci utama untuk memperbaiki kesehatan tanah adalah kadar bahan organik tanah harus ditingkatkan. 2. Menurunnya kesuburan tanah, kebutuhan akan pupuk anorganik meningkat dengan harganya semakin mahal, sehingga

mengakibatkan biaya usaha tani meningkat. 3. Bahan organik bersifat multi purpose (peran ganda) karena bahan organik dapat berperan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia maupun biologi tanah. 4. Paradigma baru kesuburan tanah adalah bersifat berkelanjutan (sustainable) karena tanah merupakan medium kehidupan (seperti organisme makro dan mikro termasuk akar tanaman) yang bersifat dinamis. 5. Kompos adalah bahan organis yang cepat lapuk, seperti daundaunan, jerami, alang-alang, rumput-rumputan, dedak padi, batang jagung, sulur, serta kotoran hewan. 6. Salah satu prinsip dasar PHT adalah budidaya tanaman sehat, dalam prinsip ini tanaman diupayakan dipupuk secara berimbang, sehingga tanaman menjadi tahan terhadap serangan hama dan penyakit. 7. Ciri pupuk organik padat yang matang adalah : 1) berwarna cokelat kehitam (cokelat pekat), 2) bertekstur remah dan gembur, 3) berbau bahan organic busuk. B. SARAN Trichokompos merupakan paradigma baru kesuburan tanah yang bersifat sustainable sebaiknya diupayakan untuk ditingkatkan.

43

DAFTAR PUSTAKA Adiningsih. 2005. J. S. 2005. Peranan bahan organik tanah dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas lahan pertanian. Workshop dan Kongres Nasional II MAPORNA, Jakarta 21-22 Desember 2005. 12 hal. Mujiono dan Sabirin. 2002. Workshop implementasi dan program pelatihan pengendalian hama terpadu, Jakarta, 20-22 Agustus 2002. 15 hal. Syekfani. 2005. Riset strategi untuk pengembangan pertanian organik di indonesia. Workshop dan kongres Nasional II MAPORINA, Jakarta 21-22 Desember 2005. 8 hal. Tim Pengampu Mata Kuliah PHPT. 2011. Petunjuk Praktikum Pengelolaan Hama Penyakit Terpadu. Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.

44

ACARA XI PENGENDALIAN HAMA LALAT BUAH (Bactrocera sp.) DENGAN MENGGUNAKAN FEROMON SEKS I. PENDAHULUAN A. TUJUAN 1. Untuk mengetahui teknik aplikasi feromon seks. 2. Untuk keberhasilan pengendalian hama lalat buah dengan

menggunakan feromon seks (metyleugenol). 3. Untuk mengetahui keuntungan pengendalian dengan menggunakan feromon seks. B. LANDASAN TEORI Pengendalian secara kimiawi, yaitu dapat berupa: zat pemikat (attractants), zat penolak (repellent), insektisida, zat pemandul (streilant), dan zat pengahambat tumbuh. Untuk meminimalkan dampak negative penggunaan insektisida, saat ini banyak dikembangkan pengendalian hama secara kimiawi dengan menggunakan zat pemikat (attractants) yang berupa feromon seks (sex feromon). Feromon seks tersebut yang sudah banyak beredar di pasaran adalah metileugenol yang digunakan untuk mengendalikan hama lalat buah (Bactrocera sp.) yang merupakan hama penting pada tanaman cabai, belimbing, nangka, mangga dan jambu. Metode pengendalian serangga hama menurut Metcalf dan Luckman (1982) dibagi menjadi tujuh, yaitu : 1. Pengendalian Secara Budidaya (bercocok tanam) 2. Pengendalian Secara Mekanik 3. Pengendalian Secara Fisik 4. Pengendalian Hayati 5. Pengendalian Secara Kimiawi 6. Pengendalian Secara Genetik 7. Pengendalian Secara Perundang-undangan

45

C. BAHAN DAN ALAT Bahan yang digunakan meliput: metileugenol, air, dan sabun sunlight. Alat yang digunakan antara lain: botol aqua bekas, kapas, benang, tali rafia, kantong plastik, label, dab ATK.

D. PROSEDUR KERJA 1. Praktikan dikelompokkan sesuai dengan rombongannya (tiap

kelompok 4-5 mahasiswa). 2. Setiap kelompok bertugas untuk memasang kapas yang sudah diolesi larutan metileugenol. 3. Setiap kelompok memasang alat tersebut pada pertanaman cabai, belimbing, nangka, dan mangga dan jambu. 4. Amati setiap hari sekali selama 2 hari. 5. Hitung jumlah serangga dewasa lalat buah yang tertangkap.

II.

HASIL Pengendalian hama lalat buat (bactocera sp.) dengan menggunakan feromon sex. Tanaman pokok Tempat Waktu : Jambu biji : Karang Wangkal, Kec. Purwokerto Utara : Siang hari, Selasa 27 September 2011 Pagi hari, Rabu 28 September 2011 : Sedang

Kondisi lahan

Hasil pengamatan : Selasa, 27 September 2011, tidak ditemukan lalat buah Rabu, 28 September 2011, tidak ditemukan lalat buah :

Pembahasan

Sehubung dengan tidak ditemukannya lalat buah yang terperangkap didalam perangkap yang kami buat, morfologi lalat buah kami dapatkan berdasarkan literatur-literatur yang ada. Penjelasan morfologi lalat buah dapat dijelaskan sebagai berikut :

46

Lalat buah (Bactrocera sp.) adalah hama yang menyerang buah-buahan dan sayuran. Morfologi dari lalat buah (Bactrocera sp.) yaitu : Lalat buah dewasa ukurannya sedang dan berwarna kuning dan sayap datar. Ada ujung sayap ada bercak-bercak coklat kekuningan. Abdomennya ada pita-pita hitam, sedangkan thorax-nya ada bercak-bercak kekuningan. Ovipositornya terdiri dari tiga ruas dengan bahan seperti tanduk yang keras. Gejala serangan hama lalat buah (Bactrocera sp.) yaitu pada lalat buah betina adalah dengan ovipositornya menusuk buah dan meletakkan telurnya dalam lapisan epidermis. Pada waktu menetas, larvanya akan memakan daging buah hingga warna buah menjadi kurang baik dan tidak dapat dikonsumsi, dan biasanya buah yang terserang tampak terlihat sehat dan utuh dari luar, tetapi bila dikupas didalamnya membusuk dan mengandung larva lalat. Dari hasil pengamatan yang kami amati pada pohon jambu di hari pertama dan hari kedua, tidak didapatkan lalat buah yang masuk kedalam perangkap. Hal ini diakibatkan buah yang dipohon jambu tersebut masih muda atau belum masak (matang), karena lalat buah betina senang menyimpan telurnya didalam buah yang setengah matang yang memiliki tekstur lebih lunak sehingga mempermudah lalat menancapkan ovipositornya (organ penyimpan telur dari lalat buah betina). Tujuannya agar jika telur sudah menetas menjadi larva mereka dapat dengan mudah mendapat asupan nutrisi. Kemudian dikarenakan wangi yang dikeluarkan feromon (metyleugenol) yang diberikan didalam perangkap belum dapat menarik perhatian lalat buah jantan untuk mendekat dan masuk kedalam perangkap. Simpulan Berdasarkan hasil pengamatan yang kami amati bahwa tidak adanya lalat buah yang terperangkap didalam perangkap yang kami buat.

47

RTL (Rencana Tindak Lanjut) Berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan pemilik lahan yang kami lakukan, rencana tindak lanjut pada hama lalat buah (Bactrocera sp.) adalah dengan cara pembungkusan buah sedini mungkin.

Perangkap lalat buah (Bactrocera sp)

48

III. PEMBAHASAN Metode pengendalian serangga hama menurut Metcalf dan Luckman (1982) dibagi menjadi tujuh, yaitu : 1. Pengendalian Secara Budidaya (bercocok tanam) 2. Pengendalian Secara Mekanik 3. Pengendalian Secara Fisik 4. Pengendalian Hayati 5. Pengendalian Secara Kimiawi 6. Pengendalian Secara Genetik 7. Pengendalian Secara Perundang-undangan Pengendalian secara kimiawi, yaitu dapat berupa: zat pemikat (attractants), zat penolak (repellent), insektisida, zat pemandul (streilant), dan zat pengahambat tumbuh. Untuk meminimalkan dampak negative penggunaan insektisida, saat ini banyak dikembangkan pengendalian hama secara kimiawi dengan menggunakan zat pemikat (attractants) yang berupa feromon seks (sex feromon). Feromon seks tersebut yang sudah banyak beredar di pasaran adalah metileugenol yang digunakan untuk mengendalikan hama lalat buah (Bactrocera sp.) yang merupakan hama penting pada tanaman cabai, belimbing, nangka, mangga dan jambu. Pada praktikum pengendalian hama lalat buat (Bactocera sp.) dengan menggunakan feromon sex pada tanaman jambu biji, tempat pengamatan dan pemasangan perangkap di Karang Wangkal, Kec. Purwokerto Utara, waktu pengamatan pada siang hari, selasa 27 september 2011 dan pagi hari, rabu 28 september 2011. Kondisi lahan ditempat pengamatan tergolong sedang. Dari hasil pengamatan pada selasa, 27 september 2011, tidak ditemukan lalat buah dan rabu, 28 september 2011, juga tidak ditemukan lalat buah Sehubung dengan tidak ditemukannya lalat buah yang terperangkap didalam perangkap yang kami buat, morfologi lalat buah kami dapatkan berdasarkan literatur-literatur yang ada.

49

Lalat buah (Bactrocera sp.) adalah hama yang menyerang buahbuahan dan sayuran. Morfologi dari lalat buah (Bactrocera sp.) yaitu : Lalat buah dewasa ukurannya sedang dan berwarna kuning dan sayap datar Ada ujung sayap ada bercak-bercak coklat kekuningan. Abdomennya ada pita-pita hitam, sedangkan thorax-nya ada bercak-bercak kekuningan Ovipositornya terdiri dari tiga ruas dengan bahan seperti tanduk yang keras Gejala serangan hama lalat buah (Bactrocera sp.) yaitu pada lalat buah betina adalah dengan ovipositornya menusuk buah dan meletakkan telurnya dalam lapisan epidermis. Pada waktu menetas, larvanya akan memakan daging buah hingga warna buah menjadi kurang baik dan tidak dapat dikonsumsi, dan biasanya buah yang terserang tampak terlihat sehat dan utuh dari luar, tetapi bila dikupas didalamnya membusuk dan mengandung larva lalat. Dari hasil pengamatan yang kami amati pada pohon jambu di hari pertama dan hari kedua, tidak didapatkan lalat buah yang masuk kedalam perangkap. Hal ini diakibatkan buah yang dipohon jambu tersebut masih muda atau belum masak (matang), karena lalat buah betina senang menyimpan telurnya didalam buah yang setengah matang yang memiliki tekstur lebih lunak sehingga mempermudah lalat menancapkan

ovipositornya (organ penyimpan telur dari lalat buah betina). Tujuannya agar jika telur sudah menetas menjadi larva mereka dapat dengan mudah mendapat asupan nutrisi. Kemudian dikarenakan wangi yang dikeluarkan feromon (metyleugenol) yang diberikan didalam perangkap belum dapat menarik perhatian lalat buah jantan untuk mendekat dan masuk kedalam perangkap. Berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan pemilik lahan yang kami lakukan, rencana tindak lanjut pada hama lalat buah (Bactrocera sp.) adalah dengan cara pembungkusan buah sedini mungkin.

50

IV. KESIMPULAN A. SIMPULAN 1. Pengendalian secara kimiawi, yaitu dapat berupa: zat pemikat (attractants), zat penolak (repellent), insektisida, zat pemandul (streilant), dan zat pengahambat tumbuh. 2. Untuk meminimalkan dampak negative penggunaan insektisida, saat ini banyak dikembangkan pengendalian hama secara kimiawi dengan menggunakan zat pemikat (attractants) yang berupa feromon seks (sex feromon). B. SARAN Untuk menghindari adanya lalat buah, lingkungan disekitar tanaman diusahakan bersih.

51

DAFTAR PUSTAKA Luckman, W,H, and R.L. Metcalf. 1982. The pest management concept. Metcalf, G.L and W.H. Luckman (Eds.) 1982. Introduction to Insect Pest Management. Pp. 30-35. John Wiley & Sons, New York. Sosromarsono, S. 1981. Beberapa Prinsip Pengendalian Hama. Prosiding Lokakarya Hama Penggerek Buah Cokelat. Medan 16 Februari 1981. Tim Pengampu Mata Kuliah PHPT. 2011. Petunjuk Praktikum Pengelolaan Hama Penyakit Terpadu. Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.

52