Anda di halaman 1dari 10

TUGAS KELOMPOK ETIKA BISNIS BAB 4 - ETIKA DI PASAR

Oleh : MUHAMMAD RIZKY WANAHDI SYAFRIL WIDI UTAMI AGUS JUNAIDI

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER MANAJEMEN


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT TAHUN 2010

ETIKA DI PASAR
4. Pendahuluan 4.1 Etika Pasar Bebas

David Gauthiar pernah mengemukakan pendapat bahwa pasar yang sempurna tidak membutuhkan moralitas. Dengan pasar sempurna dimaksudkan pasar dimana kompetisi berjalan dengan sempurna. Mekanisme pasar berjalan dengan sendirinya. Semua orang mengambil keputusan rasional yang selalu cocok dengan keputusan rasional yang tepat dari orang lain. Moralitas baru di parlukan bila pasar gagal atau mempunyai kekurangan-kekurangan. Salah satu alasan yang penting kompetisi pasar tidak pernah sempurna adalah bahwa bidang ekonomi selalu bisa ditemukan apa yang oleh para ekonom disebut externalities. Alasan lain mengapa kompetisi dalam pasar tidak sempurna adalah bahwa tidak semua orang menduduki tempat yang sama agar dapat memainkan perannya masing-masing. Sistem pasar bebas yang bisa dijalankan sekarang tetap merupakan system ekonomi yang paling unggul, karena menjamin efisiensi ekonomi dengan cara paling memuaskan. Pentingnya etika tampak dalam dua segi . Pertama, dari segi keadilan social, supplay kepada semua peserta dalam kompetisi di pasar diberikan kesempatan yang sama. Kedua, sebagaimana lazimnya dalam etika, tuntutan moral ini bisa dirumuskan dengan cara positif dan negative. Sifat fair merupakan tuntutan etis yang menandai kompetisi dalam konteks olahraga maupun bisnis. Kompetisi dalam olah raga sering disebut zero sum, yang artinya jika yang satu menang, yang lainnya kalah. Dalam bisnis kadang-kadang juga tarjadi begitu, contohnya adalah tender. Pemenang tender hanya bisa satu orang atau perusahaan. Dalam konteks kompetisi tidak bertentangan dengan kerjasama. Kompetisi pasti bertentangan dengan monopoli atau oligopoli, tetapi tidak dengan kerelaan atau bekerjasama denagan pihak lain. Sebaliknya kompetisi dalam bisnis menuntut adanya kerjasama. Karena itu, dalam bisnis, mutual benefit sering menjadi

suatu nilai etis yang khusus: kedua balah pihak memperoleh manfaat dengan kegiatan bisnis. Orang yang terjun ke pasar bebas dengan sendirinya harus menyetujui aturanaturan main yang berlaku disitu. Hal itu mempunyai implikasi yang kadang-kadang sungguh tidak menyenangkan. Jika ia tidak berhasil memprodksi dengan efisien, bisa saja perusahaannya tidak bertahan hidup. Dinamika pasar bebas mengakibatkan bahwa pebisnis tidak pernah akan tenang dan selalu siap menghadapi perubahan. Perusahaan-perusahaan kecil dan menengah mempunyai fleksibilitas lebih besar sehingga dapat lebih mudah menanggapi situasi pasar yang berubah. Tetapi, bagaimanapun juga, restrukturisasi selalu akan mengakibatkan korban jatuh. Karena itu, pemeintah negara bersangkutan menyiapkan jaring pengaman sosialnya dan tindakan-tindakan korektif lain untuk mengimbangi efek-efek negative. 4.2 Persaingan Sempurna

Karakteristik pasar bebas persaingan sempurna: 1. Jumlah pembeli dan penjual relatif banyak. 2. Semua pembeli dan penjual bebas masuk atau meninggalkan pasar.
3. Setiap pembeli dan penjual mengetahui sepenuhnya apa yang dilakukan oleh

pembeli dan penjual lainnya. 4. Barang-barang yang dijual di pasar sangat mirip satu sama lain.
5. Biaya dan keuntungan memproduksi sepenuhnya ditanggung pihak-pihak

yang membeli dan menjual barang-barang tersebut, bukan oleh pihak lain. 6. Semua pembeli dan penjual adalah pemaksimal utilitas. 7. Tidak ada pihak luar yang mengatur harga, kuantitas atau kualitas dari barang-barang yang diperjualbelikan dalam pasar. 4.2.1 Keseimbangan dalam Pasar Kompetitif Sempurna

Kurva permintaan adalah sebuah garis yang menunjukkan jumlah paling besar yang bersedia dibayar konsumen untuk sebuah unit produk saat membeli dalam jumlah berbeda untuk produk-produk tersebut. Kurva persediaan menunjukkan seberapa besar biaya yang dibebankan produsen untuk menutup biaya produksi atas barang dalam jumlah tertentu. 4.2.2 Etika dan Pasar Kompetitif Sempurna Pasar dikatakan mampu mencapai tiga nilai moral utama: (a) mendorong pembeli dan penjual mempertukarkan barang dalam cara yang adil (dalam artian adil tertentu); (b) memaksimalkan utilitas pembeli dan penjual dengan mendorong mereka mengalokasikan, menggunakan, dan mendistribusikan barang-barang dengan efisiensi sempurna, dan (c) mencapai tujuan-tujuan tersebut dengan suatu cara yang menghargai hak pembeli dan penjual untuk melakukan pertukaran secara bebas. Efisiensi di pasar bebas secara kompetitif dalam tiga cara utama: 1. Mereka memotivasi sumber daya perusahaan untuk berinvestasi di industri dengan permintaan konsumen yang tinggi dan menjauh dari industri di mana permintaan rendah.
2. Mereka mendorong perusahaan untuk meminimalkan sumber daya yang

mereka konsumsi untuk menghasilkan suatu komoditi dan menggunakan teknologi yang paling efisien .
3. Mereka

mendistribusikan

komoditi

antara

pembeli

sehingga

mereka

menerima komoditas yang paling memuaskan yang dapat mereka peroleh, dalam kaitannya dengan komoditas yang tersedia bagi mereka serta uang yang mereka miliki untuk membelinya.
4. Pasar kompetitif sempurna mampu menciptakan keadilan kapitalis dan

memaksimalkan utilitas dalam suatu cara yang menghargai hak pembeli dan penjual. Pertama, dalam sebuah pasar sempurna yang kompetitif , pembeli dan penjual bebas (dengan definisi) untuk memasuki atau meninggalkan pasar sesuai yang mereka pilih. Artinya, individu tidak dipaksa atau dilarang untuk berkecimpung dalam

bisnis tertentu, asalkan mereka memiliki keahlian dan sumber daya keuangan yang diperlukan. Kedua, di pasar sempurna yang kompetitif, semua bursa sepenuhnya sukarela. Artinya, peserta tidak dipaksa untuk membeli atau menjual apapun selain dari apa yang mereka secara bebas dan sadar disetujui untuk membeli atau menjual. Ketiga, tidak ada penjual atau pembeli tunggal sehingga akan mendominasi pasar yang ia mampu memaksa orang lain untuk menerima syaratnya. Di pasar ini, kekuatan industri adalah desentralisasi antara perusahaan banyak sehingga harga dan kuantitas tidak tergantung pada kehendak satu atau beberapa usaha. Singkatnya, pasar sempurna kompetitif mewujudkan hak dan kebebasan dari paksaan. Jadi, kebebasan kesempatan, persetujuan, dan kebebasan dari paksaan semua dipertahankan dalam sistem ini. Namun, ketika menafsirkan fitur moral pasar sempurna kompetitif. Pertama, pasar sempurna kompetitif tidak membuat bentuk lain dari keadilan . Karena mereka tidak menanggapi kebutuhan mereka di luar pasar atau mereka yang memiliki sedikit untuk bertukar, misalnya, mereka tidak dapat membangun keadilan berdasarkan kebutuhan. Kedua, pasar yang kompetitif memaksimalkan utilitas mereka yang dapat berpartisipasi di pasar mengingat keterbatasan anggaran masing-masing peserta. Namun, ini tidak berarti utilitas total bahwa masyarakat niscaya dimaksimalkan. Ketiga, meskipun pasar yang kompetitif bebas menetapkan hak-hak negatif tertentu bagi mereka dalam pasar, mereka benar-benar dapat mengurangi hak-hak positif dari orang-orang di luar mereka yang partisipasi minimal. Keempat, pasar kompetitif bebas mengabaikan dan bahkan konflik dengan tuntutan peduli.. Sebuah sistem pasar bebas, namun, beroperasi seolah-olah individu benar-benar independen satu sama lain dan tidak memperhitungkan hubungan manusia yang mungkin ada di antara mereka. Kelima, pasar yang kompetitif sempurna mungkin memiliki efek yang merusak pada karakter moral orang-orang. Tekanan kompetitif yang hadir dalam pasar kompetitif sempurna dapat mendorong orang untuk terus-menerus meningkatkan efisiensi ekonomi. Produsen selalu ditekan untuk mengurangi biaya dan meningkatkan margin keuntungan mereka. Akhirnya, dan yang paling penting, kita harus mencatat bahwa tiga nilai kapitalis keadilan , utilitas, dan hak-hak negatif yang dihasilkan oleh pasar bebas hanya jika mereka mewujudkan tujuh kondisi yang mendefinisikan persaingan sempurna.

4.3

Persaingan Monopoli

4.3.1 Persaingan Monopoli: Keadilan, Utilitas, dan Hak Pasar monopoli adalah pasar yang menyimpang dari tujuan-tujuan keadilan kapitalis, utilitas ekonomi, dan hak-hak negatif. Pasar monopoli tidak membentuk kesetimbangan, tidak memaksimalkan efisiensi, dan tidak menghormati hak-hak kebebasan.
Contoh kasus: PT. Perusahaan Listrik Negara Persero (PT. PLN) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang diberikan mandat untuk menyediakan kebutuhan listrik di Indonesia. Seharusnya sudah menjadi kewajiban bagi PT. PLN untuk memenuhi itu semua, namun pada kenyataannya masih banyak kasus dimana mereka merugikan masyarakat. Kasus ini menjadi menarik karena disatu sisi kegiatan monopoli mereka dimaksudkan untuk kepentingan mayoritas masyarakat dan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sesuai UUD 1945 Pasal 33, namun disisi lain tindakan PT. PLN justru belum atau bahkan tidak menunjukkan kinerja yang baik dalam pemenuhan kebutuhan listrik masyarakat.

4.4

Persaingan Oligopolistik

Pasar oligopoli adalah suatu bentuk persaingan pasar yang lebih didominasi oleh beberapa produsen atau penjual dalam suatu wilayah area. Beberapa cirri dari pasar oligopoli, yaitu : - harga produk yang dijual relative sama - pembedaan produk yang unggul merupakan kunci sukses - sulit untuk memasuki pasar karena membutuhkan sumber daya yang besar - setiap perubahan harga akan selalu diikuti oleh perusahaan lain. Dalam pasar oligopoli tidak banyak penjual, yang ada hanya beberapa penjual besar dan penjual baru sulit memasuki indutri tersebut. Pasar oligopoli didominasi beberapa perusahaan besar sehingga dikatakan pasar yang sangat terkonsentrasi.

Hal ini mengakibatkan sangat mudah bagi para manajer dari perusahaanperusahaan tersebut untuk memadukan kekuatan dan bertindak sebagai satu kesatuan. Dalam pasar oligopoli setiap perusahaan memposisikan dirinya sebagai bagian yang terikat dengan permainan pasar. Dimana keuntungan yang di dapat dari tiap perusahaan tergantung dari tindakan pesaing mereka. Oligopoli pada umumnya dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menahan perusahaan-perusahaan potensial untuk masuk ke dalam pasar, dan juga perusahaan-perusahaan melakukan oligopoli sebagai salah satu untuk menikmati laba normal dibawah tingkat maksimum dengan menetapakan harga jual terbatas, sehingga menyebabkan kompetisi harga diantara pelaku usaha yang melakukan praktek oligopoli menjadi tidak ada. 4.4.1 Perjanjian Eksplisit Tindakan-tindakan tidak etis dalam pasar oligopoli melalui perjanjian eksplisit: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Penetapan harga Manipulasi persediaan Perjanjian eksklusif. Perjanjian mengikat Perjanjian penetapan harga eceran. Diskriminasi harga

4.4.2 Perjanjian Tersembunyi Untuk mengkoordinasi harga, sejumlah industri oligopoli secara tidak resmi mengakui salah satu perusahaan sebagai penentu harga. Selanjutnya, masingmasing perusahaan secara diam-diam menetapkan harganya sesuai dengan harga yang ditetapkan oleh perusahaaan penentu harga tersebut, dengan mengetahui bahwa semua perusahaan lain juga akan melakukan hal yang sama. 4.4.3 Suap

Apabila dilakukan untuk mengamankan penujalan produk, suap politik juga bisa menimbulkan gangguan ekonomi dalam operasi pasar. Apabila suap digunakan untuk mengamankan pembelian suatu komoditas, pengaruh utamanya adalah turunnya persaingan pasar. Jika perusahaan yang melakukan suap berhasil mencegah masuknya pesaing lain dalam pasar pemerintah, maka ada kemungkinan perusahaan terlibat dalam tindakan-tindakan yang menjadi karakteristik monopoli.
Contoh kasus: Lockheed Aircraft Corporation, misalnya, membayar beberapa juta dollar Pada pejabatpejabat Saudi Arabia, Jepang, Italia dan Belanda untuk memperngaruhi penjualan pesawat terbang di Negara-negara tersebut.

4.5

Oligopoli dan Kebijkan Publik

4.5.1 Pandangan Tidak Melakukan Apa-apa Sejumlah ekonom menyatakan bahwa tidak ada yang perlu dilakukan tentang kekuasaan ekonomi yang dimiliki perusahaan-perusahaan oligopoli. Sebagian menyatakan bahwa kekuasaan perusahaan oligopoli sebenarnya tidak sebesar yang terlihat. 4.5.2 Pandangan Antimonopoli Harga dan keuntungan dalam industri-industri yang terkonsentrasi memang cenderung lebih tinggi dibandingkan yang seharusnya. Pemecahnya adalah dengan menetapkan kembali tekanan-tekanan kompetitif dengan mewajibkan perusahaanperusahaan besar untuk melakukan divestasi dan memecahnya ke dalam beberapa perusahaan kecil. 4.5.3 Pandangan Regulasi Perusahaan-perusahaan oligopoli tidak perlu dipecah karena ukuran yang besar memberikan akibat-akibat yang menguntungkan dan keuntungan ini akan hilang apabila mereka dipecah. Konsentrasi memberikan kekuatan ekonomi pada perusahaan-perusahaan besar yang memungkinkan mereka untuk menetapkan

harga dan terlibat dalam perilaku-perilaku yang bukan merupakan kepentingan publik.

CONTOH KASUS ETIKA BISNIS INDOMIE DI TAIWAN


Akhir-akhir ini makin banyak dibicarakan perlunya pengaturan tentang perilaku bisnis terutama menjelang mekanisme pasar bebas. Dalam mekanisme pasar bebas diberi kebebasan luas kepada pelaku bisnis untuk melakukan kegiatan dan mengembangkan diri dalam pembangunan ekonomi. Disini pula pelaku bisnis dibiarkan bersaing untuk berkembang mengikuti mekanisme pasar. Dalam persaingan antar perusahaan terutama perusahaan besar dalam memperoleh keuntungan sering kali terjadi pelanggaran etika berbisnis, bahkan melanggar peraturan yang berlaku. Apalagi persaingan yang akan dibahas adalah persaingan produk impor dari Indonesia yang ada di Taiwan. Karena harga yang lebih murah serta kualitas yang tidak kalah dari produk-produk lainnya. Kasus Indomie yang mendapat larangan untuk beredar di Taiwan karena disebut mengandung bahan pengawet yang berbahaya bagi manusia dan ditarik dari peredaran. Zat yang terkandung dalam Indomie adalah methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam benzoat). Kedua zat tersebut biasanya hanya boleh digunakan untuk membuat kosmetik, dan pada Jumat (08/10/2010) pihak Taiwan telah memutuskan untuk menarik semua jenis produk Indomie dari peredaran. Di Hongkong, dua supermarket terkenal juga untuk sementara waktu tidak memasarkan produk dari Indomie. A Dessy Ratnaningtyas, seorang praktisi kosmetik menjelaskan, dua zat yang terkandung di dalam Indomie yaitu methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam benzoat) adalah bahan pengawet yang membuat produk tidak cepat membusuk dan tahan lama. Zat berbahaya ini umumnya dikenal dengan nama nipagin. Dalam pemakaian untuk produk kosmetik sendiri pemakaian nipagin ini dibatasi maksimal 0,15%. Ketua BPOM Kustantinah juga membenarkan tentang adanya zat berbahaya bagi manusia dalam kasus Indomie ini. Kustantinah menjelaskan bahwa benar Indomie mengandung nipagin, yang juga berada di dalam kecap dalam kemasam mie instan tersebut. tetapi kadar kimia yang ada dalam Indomie masih dalam batas wajar dan aman untuk dikonsumsi, lanjut Kustantinah. Tetapi bila kadar nipagin melebihi batas ketetapan aman untuk di konsumsi yaitu 250 mg per kilogram untuk mie instan dan 1.000 mg nipagin per kilogram dalam makanan lain kecuali daging, ikan dan unggas, akan berbahaya bagi tubuh yang bisa mengakibatkan muntah-muntah dan sangat berisiko terkena penyakit kanker. Menurut Kustantinah, Indonesia yang merupakan anggota Codex Alimentarius Commision, produk Indomie sudah mengacu kepada persyaratan Internasional tentang regulasi mutu, gizi dan kemanan produk pangan. Sedangkan Taiwan bukan merupakan anggota Codec. Produk Indomie yang dipasarkan di Taiwan seharusnya untuk dikonsumsi di Indonesia. Dan karena standar di antara kedua negara berbeda maka timbulah kasus Indomie ini.

Daftar Pustaka Manuel G Velasquez, Etika Bisnis, Konsep dan Kasus, Edisi 5