Anda di halaman 1dari 4

PRAKTIKUM FISIKA LANJUT BIDANG INSTRUMENTASI DAN ELEKTRONIKA Surabaya, 19 September 2011

PENGUKURAN KETERARAHAN SPEAKER


Akbar Sujiwa1, Susilo Indrawati2, Melania S Muntini3
1) Praktikan NRP : 1109 100 034, Jurusan Fisika, FMIPA, ITS

2) Asisten Lab Akustik Jurusan Fisika, FMIPA, ITS 3) Dosen Jurusan Fisika, FMIPA, ITS email: akbarsujiwa@gmail.com Abstrak Praktikum keterarahan speaker ini bertujuan untuk mengetahui besarnya faktor keterarahan speaker dan pengaruh peletakan speaker terhadap ruang. Dari hasil praktikum didapat tabel pengukuran tekanan bunyi dari SLM dan software YMEC untuk masing-masing sudut pengukuran, dan besar tekanan bunyi yang terukur di SLM selalu lebih besar dari YMEC hal ini dikarenakan adanya faktor angin yang memberikan noise pada pengukuran. Besar faktor keterarahan dari speaker dari SLM 2,75 pada 1000 Hz dan 1,03 pada 2000 Hz. Untuk software YMEC keterarahan pada frekuensi 1000 Hz dan 2000 Hz sebesar 1,05 dan 0,9. Kata Kunci: Keterarahan, SLM, Speaker, YMEC Abstract The destination from this practicum is to know speakers directional factors and effect of speakers lie.The experiments result is calculation table of SLM (Sound Level Metter) and YMEC measurement for each degree, then sound pressure measured in the SLM is always greater than YMEC this is due to the wind factor which gives the noise in the measurement. Large factor of the direction of the speakers from SLM 2,75 and 1,03 at 1000 Hz and 2000 Hz. For software YMEC at a frequency of 1000 Hz and 2000 Hz of 1,05 and 0,9. 1. Pendahuluan Speaker merupakan alat elektronika yang penting dalam bidang musik, khususnya pada sebuah konser. Bagaimana jadinya jika speaker yang digunakan dalam sebuah acara musik besar fungsi speaker kurang maksimal, dikarenakan tata letak yang salah. Untuk mendapatkan posisi yang tepat dari letak keterarahan speaker yang benar, dibutuhkan pengujian atau penelitian dari speaker itu sendiri. Praktikum ini menguji bagaimana persebaran intensitas bunyi speaker pada beberapa sudut pendengaran yang diukur di tempat bebas pantulan menggunakan sebuah speaker uji dengan frekuensi tertentu dan alat ukur Sound level meter(SLM). 2. Bunyi
PENGUKURAN KETERARAHAN SPEAKER Akbar Sujiwa (1109100034)

Bunyi atau suara adalah kompresi mekanikal atau gelombang longitudinal yang merambat melalui medium. Medium atau zat perantara ini dapat berupa zat cair, padat, gas. Jadi, gelombang bunyi dapat merambat misalnya di dalam air, batu bara, atau udara. Kebanyakan suara adalah merupakan gabungan berbagai sinyal, tetapi suara murni secara teoritis dapat dijelaskan dengan kecepatan osilasi atau frekuensi yang diukur dalam Hertz (Hz) dan amplitudo atau kenyaringan bunyi dengan pengukuran dalam desibel. Manusia mendengar bunyi saat gelombang bunyi, yaitu getaran di udara atau medium lain, sampai ke gendang telinga manusia. Batas frekuensi bunyi yang dapat didengar oleh telinga manusia kira-kira dari 20 Hz sampai 20 kHz pada amplitudo umum dengan

PRAKTIKUM FISIKA LANJUT BIDANG INSTRUMENTASI DAN ELEKTRONIKA Surabaya, 19 September 2011

berbagai variasi dalam kurva responsnya. Suara di atas 20 kHz disebut ultrasonik dan di bawah 20 Hz disebut infrasonik.[3] 3. Faktor Keterarahan Sumber bunyi pada umumnya tidak memancarkan energi bunyinya secara merata ke segala arah (seperti halnya sumber titik). Sumber bunyi biasanya mempunyai kecenderungan memancarkan energi lebih banyak ke suatu arah, misalnya ke depan dan lebih sedikit ke arah belakang. Karena itu pada tiap sumber bunyi dapat dikaitkan besaran faktor keterarahan Q. Faktor keterarahan Q sebuah sumber bunyi merupakan perbandingan antara intensitas bunyi pada suatu titik yang berjarak r dari sumber dengan intensitas bunyi pada titik tersebut yang dipancarkan oleh sumber titik dengan daya yang sama. Faktor keterarahan ini merupakan fungsi frekuensi dan dapat dinyatakan dengan persamaan matematis:
Q( f ) = Ir I st

4. Sound Level Meter Sound Level Meter measurement merupakan Suatu perangkat alat uji untuk mengukur tingkat kebisingan suara, hal tersebut sangat di perlukan terutama untuk lingkungan industri, contoh pada industri penerbangan dimana lingkungan sekitar harus diuji tingkat kebisingan suara atau tekanan suara yang ditimbulkannya untuk mengetahui pengaruhnya terhadap lingkungan sekitar. Sound level meter saat ini memiliki standarisasi international dengan standar EC 61672:2003. Ada beberapa faktor yang menjadi pengaruh dalam pengukuran menggunakan sound level meter ini hal tersebut membuat gelombang suara yang terukur bisa jadi tidak sama dengan nilai intensitas gelombang suara sebenarnya. faktor tesebut sebagai berikut : Adanya angin yang bertiup dari berbagai arah menyebabkan tidak akuratnya nilai yang terukur oleh Sound level meter Pengaruh kecepatan angin membuat nilai intensitas suara yang terukur tidak sesuai dengan intensitas suara dari Sound level meter Posisi tempat pengukuran yang terbuka seperti disekitar yang banyak tumbuhan dimana suara yang di uji banyak diserap oleh tumbuhan sehinnga pengukuran tidak maksimal dari beberapa faktor tesebut diketahui bahwa perjalanan suara berpengaruh dengan benda sekitar yang menyerap suara.[2] 5. Prosedur kerja Prosedur praktikum keterarahan speaker adalah mengukur level bunyi (dalam satuan desibel) pada posisi dengan sudut tertentu dari sumber bunyi (speaker). Gambar 1 menunjukkan skema alat dari percobaan ini, dimana speaker di letakkan di pusat busur dan arah depan merupakan titik 0o pengukuran. Data pengukuran diambil setiap titik kelipatan 10o mengelilingi speaker menggunakan alat ukur SLM (Sound level meter). Variasi diberikan pada sumber bunyi agar menghasilkan bunyi 1000 kHz dan 2000 kHz yang diukur dengan SLM pada jarak 1 m.

(1) dengan, I adalah intensitas bunyi pada jarak r dari sumber bunyi yang diamati, (watt/m2). Ist adalah.intensitas bunyi yang dipancarkan oleh sumber titik dengan daya sama pada .jarak r yang sama, (watt/m2).[1] Untuk sumber bunyi yang mempunyai sifat tidak simetris terhadap bidang horizontal, besarnya factor keterarahannya :[1]
2 (8pac )(57 ,3) 2

Q( f ) =

360 / n =1

(n ) sin n n

4(57 ,3)
360 /

n= 1

p (n ) sin n n (2) pac

PENGUKURAN KETERARAHAN SPEAKER Akbar Sujiwa (1109100034)

PRAKTIKUM FISIKA LANJUT BIDANG INSTRUMENTASI DAN ELEKTRONIKA Surabaya, 19 September 2011

Tempat percobaan juga dilaksanakan pada ruang medan bebas (tanpa pantulan) guna menghidari gangguan yang disebabkan oleh pantulan sumber bunyi.

Kiri Kanan 360 0 350 10 340 20 330 30 320 40 310 50 300 60 290 70 280 80 270 90 260 100 250 110 240 120 230 130 220 140 210 150 200 160 190 170 180 180

1000 Hz 2000 Hz Kiri Kanan Kiri Kanan 95,5 95,5 93,4 93,4 95,0 94,7 89,1 91,6 94,6 94,4 88,5 93,1 94,4 93,6 94,5 98,3 94,5 91,7 93,7 97,2 91,4 96,0 93,2 98,0 94,7 93,0 92,0 97,7 90,6 92,2 90,0 95,5 86,9 90,7 91,6 95,8 85,1 90,3 90,0 92,6 83,6 88,8 88,0 92,0 80,0 87,9 88,8 90,6 85,3 87,7 86,8 89,5 84,2 85,4 85,6 86,2 83,6 84,5 77,8 82,6 81,9 83,0 83,7 81,6 79,1 80,8 83,0 75,0 80,1 79,5 83,5 82,3 78,8 78,8 87,7 87,7

6. Hasil Percobaan dan Pembahasan Data percobaan dapat dilihat pada tabel 1, tabel ini memberikan informasi dari tingkat tekanan bunyi yang didapat dari beberapa sudut pada tiap 10o sudut pengukuran menggunakan SLM secara langsung. Sementara pada tabel kedua merupakan pembacaan skala pada program YMEC. Terdapat beberapa perbedaan diantara kedua data. Dimana nilai tertinggi pembacaan SLM secara langsung sebesar 95,5 sedangkan pada YMEC nilai tertingginya hanya sampai 91,29 hal ini dapat dijelaskan karena tempat yang dipakai melaksanakan praktikum tidak benar-benar bebas dari gangguan suara, karena ternyata hembusan angin juga mempengaruhi sensor SLM yang sangat sensitif akan perubahan bunyi disekitarnya, meskipun telah dipasang windscreen untuk mengurangi noise akibat tiupan angin. Tabel 1. Hasil pengukuran dengan SLM
Sudut Tingkat Tekanan Bunyi SPL (dBA)

Tabel 2. Hasil pengukuran dengan YMEC


Sudut Kiri Kanan 360 350 340 330 320 310 300 290 280 270 260 250 240 230 220 210 200 190 180 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 Tingkat Tekanan Bunyi SPL (dBA) 1000 Hz 2000 Hz Kiri 85,99 81,89 87,69 88,86 86,96 86,26 88,29 85,04 83,38 84,59 80,12 77,50 83,12 82,95 81,76 81,98 73,87 77,69 75,60 Kanan 85,99 87,64 88,27 86,75 87,64 89,11 87,40 87,41 85,98 85,36 83,75 82,87 82,66 82,49 83,97 82,36 78,69 79,10 75,60 Kiri 87,05 84,20 79,81 86,52 87,08 87,26 87,09 83,33 87,53 85,62 82,83 83,86 83,50 83,13 74,56 75,79 76,82 79,95 84,16 Kanan 87,05 86,71 86,40 91,29 92,53 90,65 90,88 89,88 90,05 87,43 86,97 85,59 85,49 82,54 79,73 78,01 71,71 79,83 84,16

PENGUKURAN KETERARAHAN SPEAKER Akbar Sujiwa (1109100034)

PRAKTIKUM FISIKA LANJUT BIDANG INSTRUMENTASI DAN ELEKTRONIKA Surabaya, 19 September 2011

Oleh karena itu dari data juga bisa dihitung faktor keterarahannya seperti pada tabel di bawah menggunakan persamaan 2

Tabel 3. Faktor keterarahan speaker


Frekuensi (Hz) 1000 2000 Faktor Keterarahan (Q) SLM YMEC 2,75 1,05 1,03 0,9

mengganggu pembacaan nilai sesungguhnya dari SLM. 8. Daftar Pustaka [1] Laboratorium Fisika InstrumentasiAkustik, 2011, Modul Praktikum Pengukuran Keterarahan Speaker, Jurusan Fisika FMIPA ITS. [2] http://www.alatuji.com/kategori/262/s ound-level-meter#SOUND%20LEVEL %20METER (diakses pada tanggal 2 Oktober 2011) [3] http://id.wikipedia.org/wiki/Bunyi (diakses pada tanggal 2 Oktober 2011)

7. Kesimpulan Besar faktor keterarahan dari speaker yang telah dihitung menggunakan SLM secara langsung sebesar 2,75 untuk 1000 Hz dan 1,03 untuk 2000 Hz. Sedang pada software YMEC keterarahan untuk frekuensi 1000 Hz dan 2000 Hz sebesar 1,05 dan 0,9. Dengan faktor noise berupa angin yang dapat

PENGUKURAN KETERARAHAN SPEAKER Akbar Sujiwa (1109100034)