Anda di halaman 1dari 26

JURNAL PRAKTIKUM ANALISIS FARMASI II Penetapan Kadar Zat Aktif dalam Sediaan Farmasi Tanpa Proses Pemisahan Penetapan

Kadar Tramadol dan Parasetamol secara Uv-vis Simultan

Golongan II Kelompok II Ni Made Lisna Meilinayanti I Nyoman Adi Budiman I Ketut Punia Junior A.A.Ayu Wulan Purnama Dewi (0908505042) (0908505043) (0908505044) (0908505045)

JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA 2011

PENETAPAN KADAR TRAMADOL DAN PARASETAMOL SECARA UV-VIS SIMULTAN

I. Tujuan Praktikum 1. Membuat kurva absorpsi campuran dua zat. 2. Mentukan panjang gelombang pengukuran. 3. Menentukan absortivitas molar kedua zat pada setiap panjang gelombang pengukuran. 4. Menentukan kadar zat campuran secara simultan. II. Dasar Teori 2.1 Parasetamol Paracetamol merupakan derivat dari asetanilida yang merupakan metabolit dari fenasetin yang dahulu banyak digunakan sebagai analgetikum, tapi pada tahun 1978 ditarik dari peredaran karena efek sampingnya berupa nefrotoksisitas dan karsinogen. Khasiat dari paracetamol ini adalah sebagai analgesik dan antipiretik, tetapi tidak untuk antiradang. Dewasa ini paracetamol dianggap sebagai zat antinyeri yang paling aman juga untuk swamedikasi (pengobatan sendiri) (Tjay dan Rahardja, 2008).

Gambar 1. Struktur Kimia Paracetamol

Parasetamol bila diukur absorbansinya pada spektrofotometri UV akan memperlihatkan absorbansi maksimum pada panjang gelombang 245 nm (A11 = 668a) untuk larutan asam dan 257 nm untuk larutan basa (A11 = 715a) (Moffat, et al., 2005).

Gambar 2. Spektra Serapan UV Paracetamol Keterangan : ( : Spektrum serapan parasetamol pada larutan asam ) (---) : Spektrum serapan parasetamol pada larutan basa (Moffat, et al., 2005) 2.1.1 Sifat Fisiko Kimia Paracetamol mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 101,0% C8H9NO2, dihitung terhadap zat anhidrat (Anonim, 1995). Parasetamol berupa hablur atau serbuk hablur putih, tidak berbau, dan berasa pahit yang larut dalam 70 bagian air, 7 bagian etanol 95% P, 13 bagian aseton P, 40 bagian gliserol P, 9 bagian propilenglikol P, dan larut dalam alkali hidroksida (Anonim, 1979). Larut dalam air mendidih dan dalam natrium hidoksida 1 N; mudah larut dalam etanol (Anonim, 1995). Parasetamol memiliki pKa 9,5 (25o) dan koefisien partisi 0,5 (Moffat, et al., 2005). BM Paracetamol 151,16 gram/mol dan memiliki suhu lebur antara 168o dan 172o (Anonim, 1995). Larutan jenuh parasetamol memiliki pH antara 5,3-6,5 (Moffat, et al., 2005). Paracetamol memenuhi uji Identifikasi secara Kromatografi Lapis Tipis dengan menggunakan 1 mg per ml dalam methanol P dan fase gerak diklorometana P- methanol (4:1) (Anonim, 1995). 2.1.2Farmakokinetika Parasetamol diberikan secara oral. Penyerapan dihubungkan dengan tingkat pengosongan perut, dan konsentrasi darah puncak biasanya tercapai dalam 30-60 menit. Parasetamol sedikit terikat pada protein plasma dan sebagian dimetabolisme oleh enzim

mikrosomal hati dan diubah menjadi sulfat dan glukoronida acetaminophen, yang secara farmakologis tidak aktif. Kurang dari 5% diekskresikan dalam keadaan tidak berubah. Metabolit minor, tetapi sangat aktif (N-acetyl-p-benzoquinone) adalah penting dalam dosis besar karena efek toksiknya terhadap hati dan ginjal. Waktu paruh parasetamol adalah 2-3 jam dan relatif tidak berpengaruh oleh fungsi ginjal. Dengan kuantitas toksik atau penyakit hati, waktu paruhnya dapat meningkat dua kali lipat atau lebih (Katzung, 2002). 2.1.3 Efek-efek yang Tidak Diinginkan Dalam dosis terapetik sedikit peningkatan enzim-enzim hati kadang-kadang bisa terjadi tanpa adanya ikterus: keadaan ini reversibel bila obat dihentikan. Dengan dosis yang lebih besar, pusing-pusing, ketegangan dan disorientasi bisa terlihat. Menelan 15 g acetaminophen bisa fatal, kematian disebabkan oleh hepatotoksik yang hebat dengan nekrosis lobules sentral, kadangkadang dikaitkan dengan nekrosis tubular ginjal akut. Gejala-gejal awal dari kerusakan hati meliputi mual, muntah-muntah, diare dan nyeri perut. Data baru juga menunjukkan acetaminophen dalam kasus kerusakan ginjal yang langka dalam kerusakan hati. Kerusakan ini telah terjadi bahkan sesudah pemberian acetaminophen dosis biasa. Terapi sangat tidak memuaskan daripada terapi untuk overdosis aspirin. Di samping terapi suportif, tindakantindakan yang terbukti sangat berguna adalah pemberian grup-grup sulfhydryl untuk menetralisir metabolit-metabolit yang toksik. Acetylcysteine dipakai untuk tujuan ini. Anemia hemolitik dan metemoglobinemia, pernah dilaporkan dengan pemakaian phenacetin, jarang terlihat dengan pemakaian acetaminophen. Nefritis interstisial dan nekrosis papilla yang merupakan komplikasi serius dari phenacetin, namun dengan pemakaian acetaminophen kronis yang luas tidak terjadi, padahal kenyataannya kurang lebih 80% dari phenacetyn dengan cepat dimetabolisme menjadi acetaminophen. Pendarahan gastrointestinal tidak terjadi. Harus berhati-hati pada penderita sakit hati (Katzung, 2002) 2.2 Spektrofotometri UV-Vis Analisis dengan spektrofotometri UV-Vis selalu melibatkan pembacaan absorban REM oleh molekul atau REM yang diteruskan. Keduanya dikenal dengan absorban (A) tanpa satuan dan transmitan dengan satuan (% T). Apabila suatu REM dikenakan kepada suatu larutan dengan intensitas radiasi semula (I0), maka sebagian radiasi tersebut akan diteruskan (It), dipantulkan (Ir) dan diabsorbsi (Ia), sehingga :

I0 = It + Ir + Ia
Harga Ir ( 4%) dapat diabaikan karena pengerjaan dengan metode Spektrofotometri UVVis menggunakan larutan pembanding sehingga :

I0 = It + Ia
Bouguer, Lambert, dan Beer secara matematis menghubungkan antara transmitan dan absorban dengan intensitas radiasi sehingga didapatkan :
T = It = 10 .b.c I0 1 = . b . c T

A = log

Keterangan : T = Persen transmitan Io = Intensitas radiasi yang datang It = Intensitas radiasi = Absorbansi molar (L.mol-1.cm-1) c = Konsentrasi (mol. L-1) b = Tebal larutan (cm) A = Absorban (Tim Penyusun, 2008). Data spektra UV-Vis secara tersendiri tidak dapat digunakan untuk identifikasi kualitatif obat atau metabolitnya. Sedangkan pada aspek kuantitatif, suatu berkas radiasi dikenakan pada cuplikan (larutan sampel) dan intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur besarnya. Radiasi yang diserap oleh cuplikan ditentukan dengan membandingkan intensitas sinar yang diteruskan dengan intensitas sinar yang diserap jika tidak ada spesies penyerap lainnya. Intensitas atau kekuatan radiasi cahaya sebanding dengan jumlah foton yang melalui satu-satuan luas penampang per detik. Besarnya intensitas energi REM yang diabsorpsi proporsional dengan jumlah kromofornya (konsentrasinya), dan hubungan proporsional ini dirumuskan dalam bentuk persamaan Hukum Lambert Beer :

A=bc Di mana: A = Absorbansi = Absorptivitas molar (cm mg/mL) b = Tebal kuvet (cm) c = Konsentrasi (mg/mL) (Gandjar dan Rohman, 2007).

Dalam Hukum Lambert-Beer terdapat beberapa pembatasan, yaitu : - Sinar yang digunakan dianggap monokromatis. - Penyerapan terjadi dalam suatu volume yang mempunyai luas penampang yang sama. - Senyawa yang menyerap dalam larutan tersebut tidak tergantung terhadap yang lain dalam larutan tersebut. - Tidak terjadi peristiwa fluororesensi atau fosforesensi. - Indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan. Dengan mengetahui nilai absorbansi dari larutan sampel, melalui kurva kalibrasi dapat ditentukan konsentrasinya. Penetapan kadar parasetamol juga dapat ditentukan melalui persamaan regresi linier: y = bx + a Di mana: y = Absorbansi x = Konsentrasi Instrumentasi Spektrofotometri Uv-Vis a. Sumber radiasi Sumber radiasi yang umum digunakan adalah lampu deuterium, lampu tungstein dan lampu merkuri. Lampu deuterium digunakan pada daerah panjang gelombang 190-380 nm (UV dekat) karena pada daerah tersebut lampu deuterium memberikan spectrum energy radiasi yang lurus. Lampu tungstein digunakan sebagai sumber radiasi pada daerah pengukuran sinar tampak dengan panjang gelombang 389-900 nm. Sumber radiasi merkuri merupakan sumber radiasi

yang mengadung uap merkuri bertekanan rendah yang biasa digunakan untuk kalibrasi panjang gelombang spektrofotometer UV-Vis pada daerah 365 nm dan sekaligus mengecek resolusi dari monokromator (Tim Penyusun, 2008). b. Monokromator Monokromator berfungsi untuk menghasilkan radiasi monokromatis dari sumber radiasi yang memencarkan radiasi polikromatis. Monokromator spektrofotometer UV-Vis umumnya terdiri dari : celah (slit) masuk, filter optik, prisma dan kisi (grating) serta celah keluar (Tim Penyusun, 2008). c. Sel atau Kuvet Sel atau kuvet merupakan wadah sampel yang akan dianalisis. Ditinjau dari cara pemakaiannya dan dari bahan yang dipakai, kevet dibedakan menjadi kuvet permanen yang terbuat dari leburan silica (dipakai pada panjang gelombang 190-1100 nm) atau gelas (dipakai pada panjang gelombang 380-1100 nm), dan kuvet disposable satu kali pemakaian yang terbuat dari Teflon atau plastik. Disamping itu ada kuvet yang bermulut lebar untuk mengukur kadar zat dalam pelarut yang tidak mudah menguap dan kuvet bermulut sempit untuk mengukur kadar zat aktif dalam pelarut yang mudak menguap (Tim Penyusun, 2008). d. Detektor Detektor merupakan bagian spektrovotometer yang penting karena berfungsi untuk merubah sinyal radiasi yang diterima menjadi sinyal elektonik. Syarat detektor yang baik diantaranya: Kepekaan yang tinggi terhadap radiasi yang diterima, dengan derau yang Mampu memberikan respon terhadap radiasi pada rentang panjang Respon terhadap radiasi harus serempak. Respon harus kuantitatif dan sinyal elektronik yang keluar berbanding Sinyal elektronik yang dihasilkan harus dapat diamplifikasikan oleh (Tim Penyusun, 2008) minimal. gelombang yang lebar (UV-Vis).

lurus dengan radiasi elektromagnetik yang diterima. penguat (amplifier) ke rekorder (pencatat)

Macam detektor yang umumnya difunakan antara lain : Detektor fotosel Detektor Tabung Foton Hampa Detektor Tabung Penggandaan Foton (Vaccum Phototubes) Detektor Photo Diode-Array (PDA)

2.3 UV-Vis Simultan Pada metode simultan, absorbansi diukur pada panjang gelombang maksimum dari masing-masing komponen. Prinsip dari praktikum ini yaitu pengukuran kadar senyawa multikomponen dengan menggunakan metode simultan, dimana kadar larutan campuran dua zat dapat ditentukan dengan metode spektrofotometri tanpa harus dipisahkan terlebih dahulu. Kedua zat harus memiliki panjang gelombang maksimum yang tidak berhimpit. Absorpsi larutan sampel atau campurannya pada panjang gelombang pengukuran merupakan jumlah absorpsi dari masing-masing zat tunggalnya. Kadar masing-masing zat ditentukan menggunakan metode simultan (Tim Penyusun, 2008). Jika diinginkan pengukuran 2 senyawa berbeda secara bersama-sama dengan spektrofotometri, maka dapat dilakukan pada 2 panjang gelombang dimana masing-masing komponen tidak saling mengganggu atau gangguan dari komponen yang lain yang paling kecil. Dua buah kromofor yang berbeda akan memberikan kekuatan absorpsi cahaya yang berbeda pula pada satu daerah panjang gelombang. Pengukuran dilakukan pada beberapa panjang gelombang sehingga nantinya didapatkan dua panjang gelombang maksimum. Pada dua panjang gelombang maksimum ini akan didapatkan dua persamaan hubungan antara absorbansi dengan konsentrasi masing-masing panjang gelombang. Akibatnya konsentrasi masing-masing komponen dapat dihitung. Mula-mula dipilih panjang gelombang yang mana perbandingan absortivitas maksimum, yaitu: gambar berikut:
a2 maksimum pada a2

dan

a1 pada a1

hal ini dapat dilihat pada

Gambar 1. spektra dua buah senyawa, senyawa I dan senyawa II Dari Hukum Lambert Beer, dapat diketahui bahwa absorbansi berbanding lurus dengan absortivitas (a), tebal kuvet (b), dan konsentrasi (c). Supaya nilai b tetap maka selama pegukuran digunakan kuvet yang sama. Absorbansi senyawa 1,A1 = a1 b1 c 1 dan.............................................(1.1) Absorbansi senyawa 2,A2 = a2 b2 c 2 dan.............................................(1.2) Selama kuvet yang digunakan sama maka nilai b tetap sehingga kedua persamaan diatas dapat disederhanakan menjadi persamaan (1.3) dan (1.4) A1 = a1 c 1 .............................................(1.3) A2 = a2 c 2 .............................................(1.4) Pengukuran campuran dua macam senyawa baik pada panjang gelombang 1( 1) mapun panjang gelombang 2 ( 2), oleh absorbansi pada kedua panjang gelombang tersebut merupakan jumlah dari absorbansi senyawa1 dan absorbansi senyawa 2 (perhatikan gambar 1 yang menggambarkan spektra dua buah senyawa,senyawa I dan II), yang secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut: A 1 = (a1c 1) 1 + (a2c 2) A 2 = (a1c 1) 2 + (a2c 2) Yang mana: c 1 : konsentrasi senyawa 1 c1 =
( a 2 )1 A1 ( a 2 )1 A2 ( a1 )2 ( a 2 )2 a 2 )1 ( a1 )2 (
1 2

.............................................(1.5) .............................................(1.6)

Keterangan : nilai a (absorptivitas) dapat juga diganti dengan absorptivitas molar.

c 2 : konsentrasi senyawa 2 c2 =
( a1 )1 A1 (a1 )2 A2 ( a1 )1(a 2 )2 a 2 )1 (a1 )2 (

(a1) 1 : absorptivitas senyawa 1 pada panjang gelombang pertama (a1) 2 : absorptivitas senyawa 1 pada panjang gelombang kedua (a2) 1: absorptivitas senyawa 2 pada panjang gelombang pertama (a2) 2 : absorptivitas senyawa 2 pada panjang gelombang pertama A 1 A 2 : absorbansi senyawa campuran pada panjang gelombang pertama : absorbansi senyawa campuran pada panjang gelombang kedua (Gandjar dan Rohman, 2009) 2.4. Tramadol Tramadol merupakan derivat-sikloheksanol sintetis yaitu campuran rasemis dari dua isomer. Khasiat analgetiknya sedang dan berdaya menghambat reuptake noradrenalin dan bekerja antitusif (anti-batuk). Obat ini di sebagian negara dianggap sebagai analgetikum opiat karena bekerja pusat, yakni melalui pendudukan reseptor -opioid oleh cis-isomernya. Meskipun demikian zat ini tidak menekan pernapasan, praktis tidak mempengaruhi sistem kardiovaskuler atau motilitas lambung-usus (Tjay dan Rahardja, 2008). Struktur Kimia :

Gambar 2. Struktur Molekul Tramadol

Rumus Kimia Sinonim Berat molekul Kelarutan Suhu lebur pKa Khasiat

: C16H25NO2 : trans-2-dimethylaminomethyl-1(3-methoxyphenyl) cyclo- hexanol : 263,4 gram/mol : Larut dalam air dan etanol (Moffat, et al., 2005) : antara 180o - 181oC (Moffat, et al., 2005) : 8.3;,9.41 (Moffat, et al., 2005) : Sebagai analgesik, namun tidak dianjurkan dikonsumsi selama kehamilan dan laktasi (Tjay dan Rahardja, 2008).

Koefisien partisi : 3,01 (Moffat et al., 2005)

Spektrum Serapan UV : larutan asam 272 nm (A11=70a) lebih baik 279 nm. Tidak pada larutan basa. (Moffat, et al., 2005)

Gambar 3. Spektrum KLT Tramadol

III.

Alat dan Bahan

3.1. Alat Spektrofotometri UV Vis GENESYS TM 10 3.2 Bahan : Serbuk parasetamol Serbuk tramadol Kuvet Labu takar 10 ml Labu takar 25 ml Labu takar 100 ml Pipet volume 1 ml Pipet volume 2 ml Pipet volume 5 ml Pipet volume 10 ml Gelas beaker Botol vial Pipet tetes Corong gelas Sendok tanduk Batang pengaduk Sudip Timbangan analitik Mortar dan Stamper Tissue Lap Kertas perkamen Kertas saring

IV. 4.1

Larutan blanko NaOH 0,1 N Metanol Air bebas CO2 NaOH padat Tablet Paracetamol dan Tramadol

PROSEDUR KERJA Pembuatan larutan NaOH 0,1 N Sebanyak 0,4 gram NaOH padat ditimbang, kemudian dilarutkan dengan sedikit air

bebas CO2 di dalam gelas beaker kecil. Setelah larut sempurna, kemudian dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL dan ditambahkan air bebas CO2 hingga tanda batas (Anonim, 1995). 1. Perhitungan Diketahui : Normalitas NaOH Volume NaOH BM NaOH Ditanya Jawab : Massa NaOH : Molaritas NaOH = Normalitas ekivalen = 0,1 grek/L 1 grek/mol = 0,1 M Mol NaOH = Molaritas NaOH x Volume NaOH = 0,1 M x 0,1 L = 0,01 mol Massa NaOH = Mol NaOH x BM NaOH = 0,01 mol x 40 gram = 0,4 gram = 0,1 N = 100 mL = 0,1 L = 40 gram = .....?

mol

mol

4.2

Pembuatan larutan baku primer Paracetamol

Serbuk paracetamol BPFI ditimbang sebanyak 10 mg, kemudian serbuk tersebut dimasukkan ke dalam labu takar 10 mL. Selanjutnya serbuk tersebut dilarutkan dengan 5 mL metanol dan digojog sampai serbuk paracetamol terlarut sempurna. Metanol ditambahkan kembali sampai tanda batas 10 mL lalu digojog kembali sampai larutan menjadi homogen, konsentrasi larutan baku primer Paracetamol yang diperoleh sebesar 1 mg/mL. 2. Perhitungan Diketahui : massa serbuk parasetamol V metanol = 10 mg = 10 mL

mg
Ditanya Jawab : c = .. : c=

mL
l

gram paracetamo Vm ethanol 1 m 0 g

c= 1 m 0 L = 1 mg

mL

4.3 Pembuatan larutan baku kerja Paracetamol Larutan baku primer paracetamol dipipet sebanyak 0,0607 mL, lalu dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL. Selanjutnya ditambahkan NaOH 0,1 N hingga tanda batas. Labu ukur digojog hingga larutan homogen dan konsentrasi yang diperoleh 6,07 x 10-3 mg/mL.
3. Perhitungan Konsentrasi Larutan Baku Kerja Parasetamol dengan menggunakan

persamaan Lambert Beer : A Diketahui = A1%1cm x b x c : A = 0,434

A1%1cm b \Ditanya Jawab A : c :

= 715 = 1 cm = ... ?

= A1%1cm x b x c

0,434 = 715 100 mL g.cm x 1 cm x c c = 6,07 x 10-4 g

100 mL

= 6,07 x 10-3 mg

mL
= 1 mg

4. Perhitungan Pembuatan Larutan Baku Kerja Paracetamol dari Baku Primer Paracetamol Diketahui : Cbaku primer PCT Cbaku kerja PCT Vbaku kerja PCT Ditanya Jawab 1 mg : Vpengenceran PCT = ? : Cbaku primer PCT x Vbaku primer PCT = Cbaku kerja PCT x Vbaku kerja PCT = 6,07 x 10-3 mg = 0,0607 mL

mL

= 6,07 x 10-3 mg = 10 mL

mL

mL

x Vbaku primer PCT Vbaku primer PCT

mL

x 10 mL

4. 4 Pembuatan larutan baku primer Tramadol Serbuk tramadol baku ditimbang sebanyak 10 mg. Kemudian serbuk tersebut dimasukkan ke dalam labu takar 10 mL dan dilarutkan dengan 5 mL metanol, digojog sampai serbuk tramadol terlarut sempurna. Selanjutnya ditambahkan metanol sampai tanda batas, labu ukur digojog sampai larutan homogen sehingga konsentrasi larutan baku primer Tramadol yang diperoleh sebesar 1 mg/mL. 5. Perhitungan Diketahui : massa serbuk tramadol = 10 mg

V metanol

= 10 mL

mg
Ditanya Jawab : c = .. : c=

mL
l

gram tramadolHC V methanol 1 m 0 g

c= 1 m 0 L = 1 mg

mL

4.5 Pembuatan larutan baku kerja Tramadol Larutan baku primer tramadol dipipet sebanyak 0,62 mL. Kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL. Selanjutnya ditambahkan NaOH 0,1 N hingga 10 mL. Labu ukur digojog hingga larutan homogen dan konsentrasi yang diperoleh 6,2 x 10-2 mg/mL.
6. Perhitungan Konsentrasi Larutan Baku Kerja Tramadol dengan menggunakan persamaan

Lambert Beer : A Diketahui = A1%1cm x b x c : A A1%1cm b Ditanya Jawab A : c : = A1%1cm x b x c 0,434 = 70 100 mL g.cm x 1 cm x c c = 6,2 x 10-3 g = ... ? = 0,434 = 70 = 1 cm

100 mL

= 6,2 x 10-2 mg

mL
= 1 mg

7. Pembuatan Larutan Baku Kerja Tramadol

Diketahui

: Cbaku primer Tramadol

mL

Cbaku kerja Tramadol= 6,2 x 10-2 mg Vbaku primer Tramadol Ditanya Jawab 1 mg : Vbaku primer Tramadol : = 10 mL = ?

mL

Cbaku primer Tramadol x Vbaku primer Tramadol

= Cbaku kerja tramadol x Vbaku kerja Tramadol

mL

x Vbaku primer Tramadol = 6,2 x 10-2 mg Vbaku primer Tramadol = 0,62 mL

mL

x 10 mL

4.6 Penyiapan larutan campuran (Paracetamol dan Tramadol) Larutan baku primer paracetamol dipipet sebanyak 0,0607 mL dan larutan baku primer tramadol sebanyak 0,62 mL. Kedua larutan tersebut dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL, dicampur hingga homogen dan ditambahkan NaOH 0,1 N hingga tanda batas (kadar masing-masing paracetamol dan tramadol HCl dalam campuran berturutturut adalah 6,07 x 10-3 mg/mL dan 6,2 x 10-2 mg/mL). 4.7 Penyiapan Larutan sampel Ekstraksi dengan NaOH 0,1 N. Berat tiap tablet dimisalkan = 500 mg Kandungan Paracetamol = 325 mg Kandungan Tramadol = 37,5 mg Digunakan 3 tablet, sehingga bobotnya: 3 x 500mg = 1500mg Maka, Paracetamol = 975 mg Tramadol = 112,5 mg

Berdasarkan yang tertera dan dijelaskan pada FI III, diambil 150 mg zat aktif dilarutkan dalam 50 ml NaOH 0,1 N. Tetapi untuk memudahkan semua komponen dibagi 5 sehingga diambil 30 mg zat aktif dalam 10 ml NaOH 0,1 N. Yang diperhatikan pada pembuatan larutan sampel ini hanya kadar paracetamol, karena tramadol nantinya akan menyesuaikan dengan kadar paracetamolnya.

Sebanyak 46,154 mg serbuk tersebut dilarutkan dengan 10 ml NaOH 0,1 N Kadar Parasetamol menjadi : 30 mg

10mL =

3 mg

mL

Ditambahkan 20ml air (kocok selama 15 menit), dan disaring. Kadar Parasetamol = 30

mg

30mL =

1mg

mL

Sehingga dalam 30 ml larutan mengandung 30 mg Parasetamol dan 3,47 mg Tramadol. Kadar Parasetamol Kadar Tramadol = 1 mg/ml = 0,116 mg/ml

Dibuat konsentrasi sampel dengan kadar Parasetamol 30g/ml dan

Tramadol 3,48 g/ml dalam 10 ml. Parasetamol : C1 1 mg V1 V1 V1 Pembuatan : Dipipet sebanyak 0,3 mL dan larutan awal yang dengan kadar PCT = 1mg/ml. Larutan tersebut dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL, dicampur hingga homogen dan ditambahkan NaOH 0,1 N hingga tanda batas. = = =

mL

30 mL 0,3 mL

C2

V2 10 mL

Sehingga kadar masing-masing paracetamol dan tramadol dalam sampel berturut-turut adalah 3 x 10-2 mg/mL dan 3,48 x 10-3 mg/mL.

4.8 Pengukuran Absorbansi dengan Spektrofotometer UV-Vis a. Menghidupkan Spektrofotometer GENESYS TM 10 Pertama, alat dihidupkan dengan menekan tombol ON/OFF (1 = ON, 0 = OFF). Kemudian sumber radiasi distabilkan ( lampu sinar tampak = 30 menit, lampu UV xenon = langsung ).

b.

Pengukuran larutan blanko dan larutan sampel Absorbansi baku tunggal dan campuran parasetamol serta tramadol diukur pada panjang gelombang 200-300 nm. Kemudian dari data tersebut ditentukan panjang gelombang maksimum parasetamol dan tramadol. Setelah menentukan panjang gelombang maksimum, absorbansi larutan sampel diukur pada kedua panjang gelombang maksimum tersebut (parasetamol dan tramadol).

c.

Pemilihan maksimum 1. Parasetamol Dicari panjang gelombang maksimum dari sampel parasetamol menggunakan larutan baku kerja parasetamol 6,07 x 10-3 mg/mL pada rentang (200-300) nm. 2. Tramadol Dicari panjang gelombang maksimum dari sampel tramadol menggunakan larutan baku kerja tramadol 6,2 x 10-2 mg/mL pada rentang (200-300) nm. 3. Larutan Campuran Parasetamol dan Tramadol . Ukur absorbansi larutan campuran parasetamol dan tramadol pada rentang (200300) nm. V. SKEMA KERJA 5.1 Pembuatan NaOH 0,1 N Ditimbang sebanyak 0,4 gram NaOH padat menggunakan gelas beaker

VI.

VII. Dilarutkan dengan sedikit air bebas CO2

Dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL

Ditambahkan air bebas CO2 sampai tanda batas

Digojog hingga homogen

5.2 Pembuatan Larutan Baku Primer Paracetamol

Ditimbang sebanyak 10 mg serbuk paracetamol BPFI

Dilarutkan dengan 5 ml metanol di dalam labu ukur 10 ml VIII.

Digojog hingga serbuk paracetamol larut sempurna

Ditambahkan kembali metanol hingga tanda batas labu ukur 10 ml IX.

Digojog kembali hingga larutan homogen

5.3 Pembuatan Larutan Baku Kerja Paracetamol Dipipet sebanyak 0,0607 mL larutan baku primer Paracetamol

Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL X.

Ditambahkan larutan NaOH 0,1 N hingga tanda batas

Digojog hingga larutan menjadi homogen XI.

Diperoleh larutan baku kerja Paracetamol dengan konsentrasi 6,07 x 10-3 mg/ml

5.4 Pembuatan Larutan Baku Primer Tramadol Ditimbang sebanyak 10 mg serbuk Tramadol

Dilarutkan dengan 5 ml metanol di dalam labu ukur 10 ml XII.

Digojog hingga serbuk Tramadol larut sempurna

Ditambahkan kembali metanol hingga tanda batas labu ukur 10 ml

Digojog kembali hingga larutan homogen

5.5 Pembuatan Larutan Baku Kerja Tramadol Dipipet sebanyak 0,62 mL larutan baku primer Tramadol

Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL XIII.

Ditambahkan larutan NaOH 0,1 N hingga tanda batas

Digojog hingga larutan menjadi homogen

Diperoleh larutan baku kerja Tramadol HCl dengan konsentrasi 6,2 x 10-2 mg/ml

5.6 Pembuatan Larutan Campuran Paracetamol dan Tramadol

Dipipet sebanyak 0,0607 mL larutan baku primer Paracetamol dan larutan baku primer Tramadol sebanyak 0,62 mL

Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL

Ditambahkan larutan NaOH 0,1 N hingga tanda batas

Digojog hingga larutan menjadi homogen

5.7 Penyiapan larutan sampel

Diambil 150 mg zat aktif dilarutkan dalam 50 ml NaOH 0,1 N. Tetapi untuk memudahkan semua komponen dibagi 5 sehingga diambil 30 mg zat aktif dalam 10 ml NaOH 0,1 N. Yang dihitung dalam pembuatan larutan sampel ini hanya kadar paracetamol saja, karena nantinya kadar tramadol akan mengikuti nilai dari kadar paracetamol.

Dilarutkan serbuk sebesar 46,154 tersebut dengan 10 ml NaOH 0,1 N, Ditambahkan 20ml air (kocok selama 15 menit), dan disaring. Dibuat konsentrasi sampel dengan kadar PCT 30g/ml dan TRA 3,48 g/ml dalam 10 ml.

Dipipet sebanyak 0,3 mL dan larutan awal yang dengan kadar PCT = 1mg/ml. Larutan tersebut dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL, dicampur hingga homogen dan ditambahkan NaOH 0,1 N hingga tanda batas. Sehingga kadar masing-masing paracetamol dan tramadol dalam sampel berturut-turut adalah 3 x 10-2 mg/mL dan 3,48 x 10-3 mg/mL. .

5.8 Menghidupkan Spektrofotometer GENESYS TM 10 Alat dihidupkan dengan menekan tombol ON/OFF (1 = ON, 0 = OFF)

Sumber radiasi distabilkan ( lampu sinar tampak = 30 menit, lampu UV xenon = langsung ) 5.9 Pengukuran Panjang Gelombang Maksimum Paracetamol Diukur absorbansi baku tunggal Paracetamol pada rentang panjang gelombang 200-300 nm

Ditentukan panjang gelombang maksimum Parasetamol berdasarkan panjang gelombang yang memberikan absorbansi tertinggi

5.10 Pengukuran Panjang Gelombang Maksimum Tramadol Diukur absorbansi baku tunggal Tramadol pada rentang panjang gelombang 200-300 nm

Ditentukan panjang gelombang maksimum Tramadol HCl berdasarkan panjang gelombang yang memberikan absorbansi tertinggi

5.11 Pengukuran Panjang Gelombang Maksimum Campuran Parasetamol dan Tramadol Diukur absorbansi baku campuran Paracetamol dan Tramadol pada rentang panjang gelombang 200-300 nm

Ditentukan panjang gelombang maksimum campuran Parasetamol dan Tramadol berdasarkan panjang gelombang yang memberikan absorbansi tertinggi

DAFTAR PUSTAKA Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Departemen Kesehatan RI: Jakarta Gandjar, Ibnu dan Abdul Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar : Yogyakarta Hoan Tjay, Tan dan K. Rahardja. 2008. Obat-Obat Penting. Elex Media Komputindo: Jakarta Katzung, B. G. 2002. Farmakologi Dasar dan Klinik. Salemba Medika: Jakarta Moffat, C. A., M. D. Osselton, and B. Widdop. 2005. Clarkes Analysis of Drugs and Poisons. Great Britain: Pharmaceutical Press. Widjaja, I.N.K., K.W. Astuti., N.M.P. Susanti., & I.M.A.G. Wirasuta. 2008. Buku Ajar Analisis Farmasi Fisiko Kimia. Jimbaran : Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana.