Anda di halaman 1dari 47

ACARA I AGROEKOSISTEM DAN ANALISIS AGROEKOSISTEM BAB I PENDAHULUAN

A. Tujuan 1. Untuk mengetahui jenis dan fungsi agroekosistem 2. Untuk mengenal komponen ekosistem pertanian 3. Untuk menentukan keputusan pengelolaan agroekosistem 4. Untuk memberi kesempatan praktikan menjadi ahli dilahannya sendiri B. Landasan Teori Manusia telah mengubah ekosistem alam secara luas sejak mulai mengenal pemukiman. Mereka membersihkan hutan dan lahan rumput untuk mengusahakan tanaman bahan makanan dan bahan makanan ternak untuk dirinya dan ternaknya melalui berbagai pengalaman. Mereka mengembangkan pertanian dengan membersihkan tanah, membajaknya, menanam tanaman musiman dan memberikan unsur-unsur yang diperlukan, seperti pupuk dan air. Setelah menghasilkan kemudian dipanen. Sejak menebar benih sampai panen tanaman pertanian sangat tergantung alam, gangguan iklim, hama dan penyakit. Agroekosistem (ekosistem pertanian) ditandai oleh komunitas yang monospesifik dengan kumpulan beberapa gulma. Ekosistem pertanian sangat peka akan kekeringan, frost, hama/penyakit sedangkan pada ekosistem alam dengan komunitas yang kompleks dan banyak spesies mempunyai kemampuan untuk bertahan terhadap gangguan iklim dan makhluk perusak. Dalam agroekosistem, tanaman dipanen dan diambil dari lapangan untuk konsumsi manusia/ternak sehingga tanah pertanian selalu kehilangan garam-garam dan kandungan unsurunsur antara lain N, P, K, dan lain-lain. Untuk memelihara agar keadaan produktivitas tetap tinggi kita menambah pupuk pada tanah pertanian itu. Secara

fungsional agroekosistem dicirikan dengan tingginya lapis transfer enersi dan nutrisi terutama di grazing food chain dengan demikian hemeostasis kecil. Kesederhanaan dalam struktur dan fungsi agroekosistem dan

pemeliharaannya untuk mendapatkan hasil yang maksimum, maka menjadikannya mudah goyah dan peka akan tekanan lingkungan seperti kekeringan, frost, meledaknya hama dan penyakit dan sebagainya. Peningkatan produksi pertanian untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang semakin meningkat akhir-akhir ini dihasilkan satu tehnologi antara lain : mekanisasi, varietas baru, cara pengendalian pengganggu, pemupukan, irigasi dan perluasan tanah dengan membuka hutan dan padang rumput. Semua aktivitas pertanian itu menyebabkan implikasi ekologi dalam ekosistem dan mempengaruhi struktur dan fungsi biosfere. Peningkatan hasil tanaman dimungkinkan melalui cara-cara genetika tanaman dan pengelolaan lingkungan dengan menyertakan peningkatan masukan materi dan enersi dalam agroekosistem. Varietas baru suatu tanaman dikembangkan melalui program persilangan dan saat akan datang dapat diharapkan memperoleh varietas baru melalui rekayasa genetika yang makin baik. Varietas baru mempunyai syarat-syarat kebutuhan lingkungan dan ini penting untuk diketahui ekologinya sebelum disebarkan ke masyarakat dengan skala luas. Berdasarkan proses pembentukannya, ekosistem dibagi menjadi dua, yaitu Ekosistem Alami dan Ekosistem pertanian. Ekosistem alami (EA) merupakan ekosistem yang proses pembentukan dan perkembangannya terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia, sehingga pada ekosistem ini terdapat diversitas (keragaman) organisme yang tinggi, dengan populasi rendah. Tingginya diversitas inilah yang menyebabkan susunan trofik menjadi komplek, sehingga tercipta ekosistem yang stabil. Oleh karena itu pada ekosistem alami jararang sekali terjadi permasalahan peledakan hama dan penyakit. Ekosistem pertanian atau agroekosistem (EP) adalah ekosistem yang proses pembentukan dan

perkembangannya ada campur tangan manusia dengan tujuan untuk meningkatkan

produksi pertanian dalam rangka memenuhi tuntutan kebutuhan manusia. Campur tangan manusia dapat berupa pemberian masukan energi tinggi dan biasanya mempunyai kecenderungan mengubah keseimbangan alam dan menyebabkan ekosistem menjadi tidak stabil bila tidak dkelola dengan baik. Contoh masukan energi tinggi, antara lain : pestisida sintetik, pupuk kimia, benih unggul dan lainlain. Ekosistem pertanian dapat diartikan sebagai totalitas atau kesatuan lingkungan pertanian yang tersusun oleh komponen hidup (biotik) dan tak hidup (abiotik) yang saling berinteraksi dan manusia dengan sistem sosialnya merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan dengan komponen tersebut. Pengertian EP yang paling sederhana dan mudah dimengerti oleh petani adalah hubungan timbal balik antara komponen hidup (biotik) dan tak hidup (abiotik) serta manusia pada suatu lingkungan pertanian. C. Alat dan Bahan Alat yang digunakan antara lain alat tulis, kertas plano, gunting tanaman, kantong plastik. Sedangkan bahan yang digunakan pertanaman pangan, perkebunan, hortikultura. D. Prosedur Kerja 1. Mahasiswa dibagi dalam kelompok kecil sesuai dengan pembagian dalam setiap rombongan. 2. Persiapan bahan dan alat. 3. Penugasan mahasiswa ke lapangan untuk mengamati komponen agroekosistem, yang meliputi agroekosistem tanaman pangan,

perkebunan dan hortikultura. 4. Gambarkan keadaan umum agroekosistem yang anda amati. 5. Hasil pengamatan dituliskan pada kertas plano. 6. Koleksikan serangga atau hewan yang bertindak sebagai hama dan musuh alami, juga tanaman atau bagian tanaman yang bergejala sakit. 7. Presentasikan hasil pengamatan.

BAB II HASIL PENGAMATAN 1. Komoditas Kelapa

Hari, tanggal pengamatan : Minggu, 25 September 2011 Lokasi Luas Waktu pengamatan Metode Sampling : Lahan Perumahan Limas Permai, Karangwangkal : 0,25 Ha : 14.00-15.00 WIB : Diagonal Keterangan Kelapa Pisang Oryctes rhinoceros, Tiratabha rufivena Phytophtora palmivora (Busuk tunas), Cacing atau belut tanah ( Lingkar merah) Burung Hantu Semut, Kupu-kupu Cyperus rotundus

Komponen A. Biotik - Tanaman Pokok - Tanaman lainnya - Hama - Patogen penyebab penyakit B. Musuh Alami Serangga Netral Gulma Abiotik Tanah Cuaca Air Kelembaban

Subur Cerah Tadah hujan Kering Campuran Kotor Ada (sedang)

C. Sistem Pertanaman D. Kondisi Lahan (Keadaan naungan)

2. Komoditas Albasia

Hari, tanggal pengamatan : Minggu, 25 September 2011 Lokasi Luas Waktu pengamatan Metode Sampling Komponen A. Biotik Tanaman Pokok Tanaman lainnya Hama Patogen penyebab penyakit Albasia Jati Xytroscera festiva Uromyclaudium tepperianum (Karat puru), Ganoderma pseudoferrum (Akar merah) Musuh Alami Serangga Netral Gulma Burung Hantu Semut, Kupu-kupu Cyperus rotundus : Lahan Perumahan Limas Permai, Karangwangkal : 0,25 Ha : 14.00-15.00 WIB : Diagonal Keterangan

B. Abiotik Tanah Cuaca Air Kelembaban Subur Cerah Tadah hujan Kering

C. Sistem Pertanaman

Campuran

D. Kondisi Lahan (Keadaan naungan)

Kotor Ada (sedang)

BAB III PEMBAHASAN Ekosistem pertanian merupakan suatu sistem yang rumit dan interaktif yang tersusun oleh semua organisme hidup pada suatu daerah dan semua lingkungan fisiknya seperti tanah, air, iklim, tempat berlindung dan habitat. Perubahan struktur dan perilaku ekosistem pertanian dapat diketahui hanya dengan diterapkannya program pemantauan (monitoring) agroekosistem secara teratur (setiap minggu) dalam rangka analisis agroekosistem. Apabila analisis agroekosistem dapat terlaksana dengan baik, maka perubahan ekologi yang terjadi dapat diatasi. Untuk itu melalui praktikum acara ekosistem pertanian ini dapat diketahui gambaran ekosistem pertanian. Gambaran tentang agroekosistem pertanian ini meliputi komponen berupa tanah, gulma, tanaman, serangga hama, musuh alami, serangga netral, dan keadaan lingkungan serta faktor fisik yang mempengaruhi. Tujuannya adalah agar dapat memahami perkembangan agroekosistem yang ada di lingkungan tersebut. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: Apa Apa yang diteukan dalam pengamatan, baik berupa jenis dan jumlah serangga hama, musuh alami, penyakit tanaman yang ada di pertanaman tersebut, serangga netral, gulma, kerusakan dan kelainan pertumbuhan, dan lainnya. Di mana Di mana tempat ditemuknnya baik serangga hama, musuh alami, penyakit yang ada di pertanaman, serangga netral, dan gulma. Mengapa Mengapa ada aktifitas serangga hama, musuh alami, organisme yang ditemukan, mengapa jumlahnya sebanyak itu, mengapa terjadi di bagian tanaman tersebut. Bagaimana Bagaiman hubungan hama, musuh alami pada saat pengamatan, apa peran organisme lain, lalu bagaimana cara pelaksanaan pengambilan keputusan.

Selain itu juga dilakukan suatu analisis agroekosistem (AAES), yaitu pengamatan pada faktor yang berpengaruh sebelum membuat keputusan perlindugan tanaman. Faktor tersebut adalah hama, penyakit, musuh alami, serangga netral, cuaca, air, kondisi kebun dan gulma. Analisis agroekosistem ini dilakukan agar kita dapat lebih mampu, lebih terampil, lebih mandiri, dan berani mengambil keputusan untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman Pengamatan Agroekosistem tanaman perkebunan pada praktikum ini dilakukan di Lahan Perumahan Limas Permai, Karangwangkal. Komoditas tanaman yang diamati adalah kelapa dan albasia. Komponen yang terdapat pada agroekosistem ini antara lain komponen biotik yang berupa tanaman pokok, tanaman lain,hama, patogen penyebab penyakit, musuh alami,serangga netral dan gulma. Komponen abiotiknya adalah tanah, cuaca, air, dan kelembaban. Agroekosistem merupakan salah satu bentuk ekosistem binaan manusia yang ditujukan untuk memperoleh produksi pertanian dengan kualitas dan

kuantitas tertentu. Agroekosistem umumnya memiliki keanekaragaman biotik dan genetik yang rendah dan cenderung semakin seragam, merupakan ekosistem yang tidak stabil dan rawan terhadap peningkatan populasi spesies hama.

Agroekosistem merupakan sistem yang dinamik bervariasi dari satu waktu ke waktu lainnya dan dari satu tempat ke tempat lainnya. Ekosistem pertanian sangat peka terhadap berbagai perubahan baik yang terjadi di dalam maupun dari luar ekosistem (Untung, 2006). Cuaca dapat menjadi faktor abiotik penting pemicu peledakan populasi hama. Komponen iklim yang paling berpengaruh terhadap perkembangan populasi serangga adalah suhu dan kelembaban udara. Suhu dan kelembaban tertentu pada pertanaman (iklim mikro) terjadi karena kondisi pertanaman yang merupakan akibat dari praktek agronomi dalam budidaya tanaman, misalnya jarak tanam, populasi tanaman dan pemupukan. Populasi tanaman yang tinggi dan jarak tanam rapat mengakibatkan tanaman tumbuh sangat rimbun, sehingga terjadi iklim mikro pada pertanaman (suhu dan kelembaban udara tinggi) yang sangat rentan terhadap infestasi herbivora (Nurindah, 2006).

Komponen agroekosistem saling mempengaruhi satu sama lain. Hal ini terbukti pada lahan yang kotor terdapat hama dan patogen yang menyebabkan kerusakan pada tanaman. Gulma yang ada juga dapat menyebabkan persaingan hara pada tanaman pokok dan berpotensi sebagai habitat patogen Analisa agroekosistem bermanfaat dalam Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu, karena dapat mengetahui sifat-sifat populasi hama atau penyakit, sehingga perkembangan populasi tersebut dapat dikendalikan. Peledakan hama juga dapat terjadi karena faktor biotik dan abiotik pada agroekosistem tidak cukup kuat untuk menghalangi perkembangannya (Oka, 2005). Perancangan agroekosistem untuk pengendalian hama dapat dilakukan melalui pengeloaan habitat, yang targetnya adalah: 1. Meningkatkan keragaman vegetasi melalui sistem tanam polikultur. 2. Meningkatkan keragaman genetik melalui penggunaan varietas dengan ketahanan horizontal yang dirakit dari plasma nutfah lokal. 3. Memperbaiki pola tanam dan menerapkan sistem rotasi tanaman kacangkacangan, pupuk hijau, tanaman penutup tanah dan dipadukan dengan ternak. 4. Mempertahankan keragaman lanskap dengan meningkatkan koridor-koridor biologis (Nurindah, 2006).

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan 1. Agroekosistem merupakan salah satu bentuk ekosistem binaan manusia yang ditujukan untuk memperoleh produksi pertanian dengan kualitas dan kuantitas tertentu. 2. Komponen dalam agroekosistem saling mempengaruhi satu sama lain. 3. Analisa agroekosistem bermanfaat dalam Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu. B. Saran Sebaiknya sebelum menganalisis Agroekosistem praktikan melakukan survei lingkungan terlebih dahulu.

DAFTAR PUSTAKA

Nurindah. 2006. Pengelolaan Agroekosistem dalam Pengendalian Hama. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang Oka, Ida Nyoman. 2005. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta Untung, Kasumbogo. 2006. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

ACARA II PENGENALAN DAN PENGAMATAN SERANGAN HAMA TANAMAN PERKEBUNAN BAB I PENDAHULUAN A. Tujuan 1. Untuk mengenal jenis hama utama pada tanaman perkebunan. 2. Untuk mengenal gejala serangan hama utama pada tanaman perkebunan. 3. Untuk membuat analisis agroekosistem berdasarkan hasil pengamatan. B. Landasan teori Tanaman perkebunan merupakan tanaman yang hasilnya sebelum dimanfaatkan oleh konsumen harus terlebih dahulu mengalami pengolahan. Contoh kakao, teh, kelapa, kelapa sawit, kopi, karet dan kapas. Komoditas perkebunana merupakan sumber devisa negara andalan indonesia setelah sektor minyak bumi. Pemerintah melalui Dirjen Bina Produksi Perkebunan telah mengantisipasi atas perkembangan perekonomian dewasa ini serta

mengakomodasi tuntutan masyarakat untuk memperoleh manfaat yang lebih nyata dari kehadiran perkebunan, sehingga menggariskan paradigma baru dengan arah pembagunan kedepan. Permasalahan utama yang dihadapi oleh perusahaan perkebunan swasta dan negara serta perkebunan rakyat saat ini selain masalah pencurian adalah gangguan OPT, terutama masalah hama yang sangat merugikan. Contoh hama penting pada tanaman perkebunan adalah penggerek buah kakao( Conopomorpha cramerella ), Helopeltis sp. Pada tanaman kakao, hama penggerek buah kopi pada tanaman kopi hama helopeltis sp. Dan penggulung daun pada tanaman teh. Cara mengatasi permasalahan hama perkebunan yang paling tepat adalah dengan menerapkan komponen PHT karena penerapan PHT menguntungkan baik

dari aspek teknis, ekonoms-bisnis, ekologis dan sosiologis. Salah satu prinsip dasar PHT adalah monitoring atau pemantauan. Dalam pelaksanaan kegiatan pemantauan, erat kaitanya dengan pengenalan gejala serangan hama tanaman. Penentuan gejala serangan hama secara benar akan membantu dalam proses identifikasi serangga penyebabnya, sehingga teknik pengendalian dapat dilakukan secara tepat. C. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan meliputi : pertanaman perkebunan yang antara lain meliputi: kelapa dan albasia. Alat yang digunakan antara lain: gunting tanaman, kantong plastik, dan alat tulis. D. Prosedur Kerja 1. Praktikan dikelompokan sesuai dengan rombongannya (tiap kelompok 4-5 mahasiswa) 2. Setiap kelompok bertugas untuk melakukan pengamatan gejala serangan hama dilapang sesuai pembagian kelompok kerjanya 3. Catat gejala serangan dan perkirakan nama hama yang menyerang tanaman 4. Prediksikan intensitas serangannya 5. Bawalah bagian tanaman yang diamati tersebut ke laboratorium sebagai koleksi 6. Tuliskan hasil analisis agroekosistem pada kertas plano, yang meliputi: 1) gambaran keadaan umum agroekosistem, 2) data hasil pengamatan, 3) serangga netral, 4) pembahasan, 5) simpulan, 6) rencana tindak lanjut.

BAB II HASIL PENGAMATAN 1. Komoditas Kelapa Hari, tanggal pengamatan : Minggu, 25 September 2011 Lokasi Luas : Lahan Perumahan Limas Permai, Karangwangkal : 0,25 Ha

Waktu pengamatan : 14.00-15.00 WIB Metode Sampling : Diagonal


Komponen E. Biotik Tanaman Pokok Tanaman lainnya Hama Pada serangan baru bekas lubang masih segar dipangkal pelepah daun kearah jaringan batang masih muda. Kelapa Pisang Keterangan

Oryctes rhinoceros

Tiratabha rufivena

Menyerang bunga kelapa pada saat masih larva.

Burung Hantu Musuh Alami Serangga Netral Gulma Semut, Kupu-kupu Cyperus rotundus

F. Abiotik Tanah Cuaca Air Kelembaban

Subur Cerah Tadah hujan Kering

Campuran G. Sistem Pertanaman Kotor

H. Kondisi Lahan Keadaan naungan

Ada (sedang)

Hama yang dijumpai pada tanaman kelapa I. Pembahasan antara lain Oryctes rhinoceros, dan Tirathaba rufivena. O. rhinoceros merupakan hama utama pada tanaman kelapa, terutama pada kelapa yang masih muda. Pada area pertanaman ulang yang sebelumnya terserang berat, tanaman dapat mati, jika dapat bertahan maka daya hasil tanaman menurun bahkan saat awal

produksinya. T. rufivena merupakan spesies yang sering menyerang tanaman kelapa terutama memakan bunga kelapa pada saat masih larva.

J. Simpulan

Hama tanaman kelapa menyerang pada saat masih muda atau berbunga.

K. RTL

Sanitasi kebun, pengendalian secara mekanik, pengendalian secara kimiawi, pemanfaatan musuh kimiawi.

2. Komoditas Albasia Hari, tanggal pengamatan : Minggu, 25 September 2011 Lokasi Luas : Lahan Perumahan Limas Permai, Karangwangkal : 0,25 Ha

Waktu pengamatan : 14.00-15.00 WIB Metode Sampling : Diagonal

Komponen E. Biotik Tanaman Pokok Tanaman lainnya Hama

Keterangan

Albasia Jati

Xytroscera festiva

Gejala serangan dapat dilihat pada kulit pohon yang pecah-pecah lalu mengeluarkan cairan cokelat sampai kehitam-hitaman.

Musuh Alami Serangga Netral Gulma

Beauveria bassiana Semut, Kupu-kupu Cyperus rotundus

F. Abiotik Tanah Cuaca Air Kelembaban Subur Cerah Tadah hujan Kering

G. Sistem Pertanaman

Campuran

H. Kondisi Lahan Keadaan naungan

Kotor Ada (sedang)

I.

Pembahasan

Hama yang dijumpai pada lahan ini adalah hama ulat serendang. Hama ini menyerang

dengan

cara

meletakkan

telurnya

secara

berkelompok pada bekas cabang atau luka pohon albasia. Setelah menjadi ulat kemudian menyerang kulit bagian dalam atau menyerang kayu muda kearah bawah. Setelah menjadi kepompong biasanya justru mengebor kedalam pohon dan membelok kearah atas.

J. Simpulan

Tanaman albasia yang terserang X. fesitva dapat diamati oleh gejala kerusakan pada batangnya yang berlubang.

K. RTL

Sanitasi kebun, pengendalian secara mekanik, pengendalian secara kimiawi, pemanfaatan musuh kimiawi.

BAB III PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengamatan, hama yang menyerang pada tanaman kelapa adalah Oryctes rhinoceros dan Tiratabha rufivena. Oryctes rhinoceros disebut juga kumbang badak karena bagian kepalanya terdapat cula seperti badak. Serangan kumbang badak ditandai dengan bekas potongan simetris pada daun kelapa membentuk huruf V. Tiratabha rufivena menyerang pada buah muda,

sehingga bunga menjadi rontok. Tanaman yang berumur antara 0-l tahun, kumbang dewasa (baik jantan maupun betina) melubangi bagian pangkal batang yang dapat mengakibatkan kematian titik tumbuh atau terpuntirnya pelepah daun yang dirusak. Kumbang dewasa akan menyerang tanaman dewasa dengan melubangi pelepah termuda yang belum terbuka. Stadium hama yang paling berbahaya adalah imago (dewasa) yang berupa kumbang (Suhardiyono, 1994). Hama yang menyerang tanaman albasia adalah Xytrocera festiva, yang biasa disebut hama boktor. Hama ini menyerang kulit bagian dalam atau kayu muda kearah bawah. Albasia yang terserang batangnya menjadi rapuh. Apabila tingkat serangannya sudah cukup akut, tidak jarang batang albasia tersebut akan patah tertiup angin yang tidak begitu kencang. Larva X. festiva membuat lubang gerek bebentuk oval berukuran 0,751,33 cm dan dalamnya mencapai 20 cm. Larva akan berkepompong di ujung lubang, kepalanya menghadap ke arah bawah. Pupa dilindungi oleh lapisan kerak kapur(kalsium karbonat). Kumbang yang baru terbentuk akan keluar dari lubang gerek dengan cara menerobos kerak kapur, menuju ujung bawah lubang gerek, kemudian melubangi kulit batang yang tidak dimakan larvanya (Lakapu, 2008). Pengendalian ulat serendang yang biasa dilakukan adalah secara mekanistradisional, yaitu dengan memasukkan kawat kecil ke dalam lubang yang dibuat ulat serendang kemudian kawat ditusuk-tusukkan hingga ulat mati. Cara lain adalah dengan model pantek, yaitu mencelupkan kapuk ke dalam insektisida biologis seperti Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae, lalu

menyumbatkannya pada lubang bekas gerekan. Biasanya ulat serendang akan mati. Jika tidak berhasil, pohon yang terserang sebaiknya ditebang lalu dibakar agar ulat serendang tidak menyebar. Beberapa mikroorganisme entomopatogen baik bakteri, jamur maupun virus, dapat digunakan untuk mengendalikan populasi hama serta terbukti aman bagi parasitoid dan predator. Saat ini telah diteliti lebih dari 750 spesies jamur penyebab penyakit pada serangga. Beberapa spesies jamur yang dapat dipertimbangkan menjadi insektisida biologis sebagai produk komersial adalah B. bassiana, M. anisopliae, Verticillium lecanii, dan Hirsutella thompsonii. B. Bassiana adalah cendawan yang umum dijumpai di tanah dan dapat ditemukan di seluruh dunia. B. bassiana menghasilkan spora yang tahan terhadap pengaruh lingkungan ekstrim, dan spora merupakan fase yang infektif pada siklus hidupnya. Jamur M. anisopliae memiliki spektrum pengendalian yang luas karena dapat menginfeksi lebih dari 100 spesies serangga seperti Scapteriscus sp., semut api, Selenopsis invicta, larva kumbang seperti Cetina nitida, Phyllopaga sp., dan Rhiotrogus majalis. M. anisopliae sebagai insektisida biologis telah berhasil mengendalikan kumbang kelapa. (http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0404/15/cakrawala/penelitian.htm). Pengendalian hama pada tanaman perkebunan antara lain dengan sanitasi kebun, pengendalian mekanik, musuh alami, dan pengendalian secara kimiawi dengan pestisida. Pengendalian Tirathaba rufivena dapat menggunakan musuh alami yaitu parasit telur Trichogramma (Suhardiyono, 1994), sedangkan Oryctes rhinoceros menggunakan jamur Metarrhizium anisopliae (Pracaya, 2007) .Pengendalian hayati pada hama boktor dapat menggunakan jamur patogen yaitu Beauveria bassiana (Lakapu, 2008).

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan

1. Hama yang menyerang tanaman kelapa adalah Oryctes rhinoceros dan Tiratabha rufivena. 2. Hama yang menyerang tanaman albasia adalah Xytrocera festiva. 3. Pengendalian hama pada tanaman perkebunan antara lain dengan sanitasi kebun, pengendalian mekanik, musuh alami, dan pengendalian secara kimiawi. B. Saran Sebaiknya pengamatan dilakukan pada pagi hari karena keadaan lingkungan masih homogen, selain itu pengamatan dilakukan harus teliti.

DAFTAR PUSTAKA

Lakapu, Haveriana. 2008. Biologi Larva Boktor (Xytrocera festiva Pascoe) dalam Makanan Buatan (Artificial Diet) dengan Bahan Dasar Serbuk Kayu Sengon. Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan, IPB Bogor Pracaya.2007. Hama Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya, Jakarta. Suhardiyono, L. 1994. Tanaman Kelapa, Budidaya dan Pemanfaatannya. Kanisius, Yogyakarta. (http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0404/15/cakrawala/penelitian.htm). Diakses tanggal 12 oktober 2011

ACARA III PENGENALAN DAN PENGAMATAN SERANGAN PATOGEN PADA TANAMAN PERKEBUNAN BAB I PENDAHULUAN A. Tujuan 1. Untuk mengenal patogen pada tanaman perkebunan 2. Untuk mengenal gejala serangan patogen utama pada tanaman pangan di lapangan 3. Untuk membuat analisis agroekosistem berdasarkan hasil pengamatan B. Landasan Teori Hasil tanaman perkebunan sangat diperlukan manusia. Hasil tanaman perkebunan yang umum dimanfaatkan adalah tembakau, teh, karet, kakao, tebu, dan sebagainya. Produk tanaman ini dimanfaatkan sebagai bahan tambahan makanan, maupun industri. Dalam budidaya tanaman perkebunan tidak dapat terlepas dari permasalahan gangguan serangan patogen penyebab penyakit, sehingga usaha pengendalian senantiasa harus selalu diusahakan. Contoh penyakit penting pada tanaman perkebunan, yaitu: penyakit busuk buah kakao (Phyotopthora palmivora) dan penyakit VSD pada tanaman kakao; penyakit karat daun pada tanaman kopi; penyakit cacar daun teh pada tanaman teh. Kerusakan dan kematian tanaman merupakan masalah penting pada tanaman perkebunan.kerusakan dan kematian tanaman perkebunan dapat disebabkan oleh gangguan hama,penyakit,serta gulma atau pun ganguan fisik dan kimia. Usaha menangulangi masalah ini adalah hendaknya dilaksanakan secara PHT . karena penerapan konsep PHT menguntungkan baik dari aspek teknis, ekonomis-bisnis, ekologis dan sosiologis. Salah satu prinsip dasar PHT adalah monitoring atau pemantauan. Dalam pelaksanaan kegiatan pemantauan erat kaitanya dengan pengenalan gejala serangan patogen tanaman. Pengetahuan gejala

serangan penyebab penyakit akan sangat membantu dalam menentukan metode pengendaliannya. C. Alat dan Bahan Bahan yang diperlukan meliputi: pertanaman perkebunan yang terdiri: kakao, kopi, kelapa, lada, nilam, karet, albasia, dan lain-lain. Sedangkan alatnya terdiri atas: kantong plastik, gunting tanaman, pisau dan alat tulis. D. Prosedur Kerja 1. Praktikan dikelompokan sesuai dengan rombongannya (tiap kelompok 4-5 mahasiswa) 2. Setiap kelompok bertugas untuk melakukan pengamatan gejala serangan hama dilapang sesuai pembagian kelompok kerjanya 3. Catat gejala serangan dan perkirakan nama hama yang menyerang tanaman 4. Prediksikan intensitas serangannya 5. Bawalah bagian tanaman yang diamati tersebut ke laboratorium sebagai koleksi 6. Tuliskan hasil analisis agroekosistem pada kertas plano, yang meliputi: 1) gambaran keadaan umum agroekosistem, 2) data hasil pengamatan, 3) serangga netral, 4) pembahasan, 5) simpulan, 6) rencana tindak lanjut.

BAB II HASIL PENGAMATAN Hari, tanggal pengamatan : Minggu, 25 September 2011 Lokasi Luas Waktu pengamatan Metode Sampling : Lahan Perumahan Limas Permai, Karangwangkal : 0,25 Ha : 14.00-15.00 WIB : Diagonal

Komponen L. Biotik Tanaman Pokok Tanaman lainnya Patogen penyebab penyakit a. Karat puru Disebabkan oleh jamur Uromyclaudium tepperianum. b. Akar merah Disebabkan oleh cendawan Ganoderma c. Busuk tunas Albasia Jati

Keterangan

Kelapa Pisang

Disebabkan oleh jamur phythoptora palmivora.

d. Lingkar merah

Disebabkan oleh cacing atau belut tanah.

Gulma

Cyperus rotundus

Cyperus rotundus

M. Abiotik Tanah Cuaca Air Subur Cerah Tadah hujan Subur Cerah Tadah hujan

Kelembaban

Kering

Kering

N. Sistem Pertanaman

Campuran

Campuran

O. Kondisi Lahan (Keadaan naungan) P. Pembahasan

Kotor Ada (sedang)

Kotor Ada (sedang)

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakaukan penyakit yang didapat antara lain: Karat puru Disebabkan oleh jamur Uromyclaudium tepperianum menyerang tanaman

albasia mulai dari persemaian sampai tingkat lapang. Akar merah Disebabkan Ganoderma oleh jamur patogen yang

pseudoferrum

menyebabkan daun menjadi layu, lalu rontok dan mati, menyerang daerah perakaran. Busuk tunas Disebabkan oleh jamur phytophtora palmivora. Lingkar merah Disebabkan oleh cacing atau belut tanah. Q. Kesimpulan Penyakit yang ditemukan dilahan albasia ada yaitu karat puru dan akar merah. Namun tanaman yang terserang masih strain ringansedang. Pada tanaman kelapa juga ada yaitu busuk tunas dan lingkar merah. R. RTL Lanjut) (Rencana Tindak Upaya pencegahan dan pengendalian mencakup tiga tahap: Pra epidemi

Penyuluhan menghindari

cara dari

pencegahan, pertanaman

monokultur. Kegiatannya: pengaturan jarak tanam, pemupukan yang tepat, pemangkasan, pengendalian gulma

secara selektif, multikultur. Epidemi Dengan cara eradikasi tanaman. Pasca epidemi Dengan rehabilitasi tanaman.

BAB III PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakaukan pada hari minggu tanggal 25 september 2011, yang bertempat disamping perumahan limas karang wangkal, metode sampling yang digunakan adalah diagonal dengan luasan arel sekitar + ha. Dari pengamatan yang dilakukan penyakit yang didapat antara lain: Penyakit karat puru pada sengon menunjukkan gejala yang khas, yaitu hiperplasia (pertumbuhan lebih) pada bagian tumbuhan yang terserang. Gejala penyakit diawali dengan adanya pembengkakan lokal (tumefaksi) di bagian tanaman yang terserang (daun, cabang, dan batang). Lama kelamaan pembengkakan berubah menjadi benjolan-benjolan yang kemudian menjadi bintil - bintil kecil atau disebut puru (gall). Puru yang timbul mempunyai bentuk bervariasi mulai bulat sampai tidak beraturan dengan diameter mulai dari beberapa milimeter sampai lebih besar dari 10 cm. Puru tersebut dapat berkelompok atau menyebar pada bagian yang terserang. Apabila yang terserang penyakit bagian tangkai daun majemuk atau tajuk maka bagian tersebut agak membengkok karena adanya penebalan dan pembengkakan kemudian tajuk daun menggulungberubah bentuk (malformasi) tanpa daun lagi(Anggraeni dan Santoso, 2003 ). Puru yang masih muda berwarna hijau kecoklat-coklatan yang diselimuti oleh lapisan seperti tepung berwarna agak kemerah-merahan yang merupakan kumpulan dari spora patogen, sedangkan puru yang tua berwarna coklat kemerahmerahan sampai hitam dan biasanya puru sudah keropos berlubang serta digunakan sebagai sarang semut atau serangga lainnya. Jika tanaman mengalami serangan yang parah, maka seluruh bagian tanaman dipenuhi oleh puru, kemudian daun mengering mengalami kerontokan, diikuti oleh batang dan cabang pohon dan akhirnya tanaman mati.

Ganoderma sp. merupakan jamur patogen (penyebab penyakit) akar merah yang menyebabkan kerusakan tanaman perkebunan dan kehutanan. Karena sifatnya yang memiliki kisaran inang yang luas, tidak mengherankan kalau Ganoderma sp. menyerang berbagai jenis tanaman kehutanan dan perkebunan, misalnya beberapa spesies akasia (Acacia mangium, A. auriculiformis, A. oraria), sengon (Paraserianthes falcataria), flamboyan (Delonix regia), cemara (Casuarina equisetifolia), angsana (Pterocarpus indicus), dan kelapa sawit. Sebagai respon dari meningkatnya serangan jamur akar di perkebunan, peneliti telah melakukan berbagai penelitian tentang jamur Ganoderma sp. yang difokuskan pada pengendalian hayati menggunakan jamur lain yang bersifat parasit terhadap Ganoderma sp., yaitu Trichoderma sp. Trichoderma spp. dikenal sebagai salah satu jamur yang mempunyai sifat antagonis terhadap jamur tanah lain. penelitian yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa Trichoderma spp. mempunyai kemampuan antagonistic dalam menghambat pertumbuhan jamur-jamur pathogen terbawa tanah, termasuk Ganodema sp. Penyakit busuk tunas disebabkan oleh cendawan Phytophthora palmivora buttler. Gejala yang di timbulkan oleh cendawan ini antara lain: 1) mengeringnya daun muda di tengah-tengah tajuk; 2) daun berwarna cokelat dan patahnya pada pangkalnya; 3) pangkal membusuk, yang kemudian dapat mencapai titik tumbuh sehingga pertumbuhan tanaman terhenti dan mati. Penyakita lingkar merah yang disebabkan oleh namatoda

Rhadinaphelenchus cocophilus atau belut tanah yang menyerang tanaman kelapa. Gejala yang terserang yang ditimbukan oleh nematoda ini antara lain:1) Daun baru yang akan membuka menjadi tergulung dan tumbuh tegak.2) Daun berubah menjadi kuning kemudian mengering.3) Tandan bunga membusuk dan tidak membuka sehingga tidak menghasilkan buah. Pengendaliannya : meracuni pohon yang terserang dengan natrium arsenit dan setelah mati / kering segera dibongkar untuk menghilangkan sumber infeksi.

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan 1. Pengamatan dilakukan di samping perumahan limas karang wangkal dengan luasan area sekitar + 0,25 ha 2. Patogen utama yang menyerang tanaman perkebunan khususnya tanaman albasia adalah karat puru yang disebabkan oleh jamur Uromyclaudium tepperianum. Sedangkan pada tanaman kelapa adalah busuk tunas yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora palmivora buttler. 3. Gejala yang ditimbulkan oleh karat puru adalah diawali dengan adanya pembengkakan lokal (tumefaksi) di bagian tanaman yang terserang (daun, cabang, dan batang). Lama kelamaan pembengkakan berubah menjadi benjolan-benjolan yang kemudian menjadi bintil - bintil kecil atau disebut puru (gall). Sedangkan oleh cendawan Phytophthora palmivora buttler adalah ) mengeringnya daun muda di tengah-tengah tajuk hingga tanaman mati. B. Saran Sebaiknya pengamatan dilakukan pada pagi hari karena keadaan lingkungan masih homogen, selain itu pengamatan dilakukan harus teliti.

DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, I. dan E. Santoso. 2003. Penyakit Karat Puru pada Sengon Paraserianthes falcataria) di Pulau Seram. Buletin Penelitian Hutan. No. 636/2003. Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam Bogor. http://www.kaltimprov.go.id diakses tanggal 13 oktober 2011. http://lc.bppt.go.id/iptek/index.php diakses tanggal 13 oktober 2011. http://www.tasikmalaya. go.id/ sengon.php. (5 Juni 2006).

ACARA IV PEMBUATAN TRICHOKOMPOS BAB I PENDAHULUAN A. Tujuan 1. Untuk mempraktikan cara membuat trichokompos secara sederhana 2. Untuk mengetahui manfaat trichokompos B. Landasan Teori Kesuburan tanah tidak terlepas dari keseimbangan biologi, fisika dan kimia; ketiga unsur tersebut saling berkaitan dan sangat menentukan tingkat kesuburan lahan pertanian. Tanpa disadari selama ini sebagian besar pelaku tani di Indonesia hanya mementingkan kesuburan yang bersifat kimia saja, yaitu dengan memberikan pupuk anorganik seperti : urea, TSP/SP36, KCL dan NPK secara terus menerus dengan dosis yang berlebihan. Pemupukan akan efektif jika pupuk yang ditebarkan dapat menambah atau melengkapi unsur hara yang telah tersedia di dalam tanah. Karena hanya bersifat menambah atau melengkapi unsur hara, maka sebelum digunakan harus diketahui gambaran keadaan tanahnya, khususnya kemampuan awal untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Dalam mendukung kehidupan tanaman, tanah memiliki empat fungsi utama yaitu : 1. Memberi unsur hara dan sebagai media perakaran 2. Menyediakan air dan sebagai tempat penampung (reservoir) air 3. Menyediakan udara untuk respirasi (pernafasan) akar 4. Sebagai media tumbuhan tanaman

Tanah tersusun dari empat komponen dasar, yakni bahan mineral yang berasal dari pelapukan batu-batuan, bahan organik yang berasal dari pembusukan sisa makhluk hidup, air dan udara. Bahan orgnik berpengaruh terhadap pasokan hara tanah juga tidak kalah pentingnya terhadap sifat fisik, biologi dan kimia tanah lainnya. Syarat tanah sebagai media tumbuh dibutuhkan kondisi fisik dan kimia yang baik. Keadaan fisik tanah yang baik apabila dapat menjamin pertumbuhan akar tanaman dan mampu sebagai tempat aerasi dan lengas tanah, yang semuanya berkaitan dengan peran bahan organik. Salah satu prinsip dasar PHT adalah budidaya tanaman sehat, dalam prinsip ini tanaman diupayakan dipupuk secara berimbang, sehingga tanaman menjadi tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Selain itu salah satu taktik agar tanaman lebih toleran terhadap serangan hama dan penyakit adalah menggunakan penambahan bahan organik (kompos) didalam tanah. Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik. Sedangkan pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, mengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan. Salah satu aktivator dalam pembuatan kompos adalah Pupuk Organik Cair (POC). Agar supaya kompos dapat mempunyai fungsi ganda selain pupuk organik perlu diperkaya dengan jamur antagonis Tricoderma harzianum atau Glyocladium sp. Sehingga mempunyai fungsi sebagai pelindung tanaman, sehingga mampu mencegah serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur tulr akar.

C. Bahan dan Alat Bahan yang diguanakan meliputi: kotoran hewan sapi atau kambing, aktivator (SO-kontan Lq), jamur antagonis Trichoderma harzianum, atau Glyocladium sp, dan air. Sedangkan alat yang digunakan antara lain: kotak cetakan kompos, cangkul, skop, termometer, batang bambu dan ATK. D. Prosedur Kerja 1. Praktikan dikelompokan sesuai dengan rombongannya (tiap kelompok 4-5 mahasiswa) 2. Setiap kelompok bertugas untuk membuat Trichokompos(Glyokompos) 3. Amati setiap 4 hari sekali suhu dan setiap 10 hari dibalik 4. Amati berapa lama kompos jadi, kemudian dianalisis C/N ratio-nya.

BAB II HASIL PENGAMATAN

Aktivator (SO Kontan Lq)

Potongan batang pisang

Campuran Kompos

BAB III PEMBAHASAN

Kompos merupakan hasil fermentasi atau dekomposisi dari bahan-bahan organik seperti tanaman, hewan, atau limbah organik. Pengomposan atau dekomposisi merupakan peruraian dan pemantapan bahan-bahan organik secara biologi dalam temperatur termofilik (temperatur yang tinggi) dengan hasil akhir bahan yang cukup bagus untuk digunakan ke tanah tanpa merugikan lingkungan. Prinsip pengomposan adalah menurunkan C/N rasio bahan organik hingga sama dengan C/N tanah (Indriani, 2001). Pembuatan kompos pada praktikum ini menggunakan bahan organik yaitu kotoran kambing dan batang pisang. Batang pisang merupakan bahan organik yang mudah busuk, sehingga pengomposan lebih cepat. Peran batang pisang lainnya yaitu sebagai bahan nutrisi bagi mikroba pengurai. Kandungan hara beberapa tanaman pertanian ternyata cukup tinggi dan bermanfaat sebagai sumber energi utama mikroorganisme didalam tanah (Setyorini, dkk, 2010) Penambahan aktivator (SO-kontan Lq) bertujuan untuk mempercepat proses pengomposan. Bahan bahan kompos juga diberi perlakuan penambahan inokulan jamur Trichoderma harzianum sp. Menurut Suradikarta dan Simanungkalit (2006), cendawan ini selain dapat meningkatkan serapan hara, juga dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit terbawa tanah, meningkatkan toleransi tanaman terhadap kekeringan, menstabilkan agregat tanah, dan sebagainya, tetapi berdasarkan hasil-hasil penelitian yang ada, peranan sebagai penyedia hara lebih menonjol daripada peranan-peranan lain. Langkah-langkah dalam pembuatan kompos yang pertama adalah membuat kotak kayu sebagai tempat bercampurnya bahan-bahan. Bahan organik berupa kotoran hewan ditumpuk berlapis-lapis setinggi kurang lebih 1 m. Setiap lapis diberi irisan batang pisang secukupnya, kemudian disiram air secukupnya dan diinjak-injak hingga padat. Larutan aktivator (SO-kontan Lq) ditambahkan dengan cara disemprot. Langkah berikutnya adalah menyiram bahan-bahan

tersebut dengan inokulasi Trichoderma harzianum yang telah diencerkan dengan air. Campuran bahan-bahan kemudian ditutup dengan menggunakan plastik, dan setiap 1 atau 2 minggu sekali dibalik hingga matang. Menurut Isroi (2010), kompos perlu ditutup/sungkup untuk mempertahankan suhu dan kelembaban agar proses pengomposan berjalan optimal dan cepat. Manfaat kompos apabila ditinjau dari beberapa aspek antara lain: Aspek Ekonomi : 1. Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah. 2. Mengurangi volume atau ukuran limbah. 3. Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya.

Aspek Lingkungan : 1. Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah dan pelepasan gas metana dari sampah organik yang membusuk akibat bakteri metanogen di tempat pembuangan sampah. 2. Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan. Aspek bagi tanah atau tanaman: 1. Meningkatkan kesuburan tanah. 2. Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah. 3. Meningkatkan kapasitas penyerapan air oleh tanah. 4. Meningkatkan aktivitas mikroba tanah. 5. Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen). 6. Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman. 7. Menekan pertumbuhan atau serangan penyakit tanaman. 8. Meningkatkan retensi atau ketersediaan hara di dalam tanah. (Isroi ,2010)

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan

1. Kompos adalah hasil fermentasi atau dekomposisi dari bahan-bahan organik seperti tanaman, hewan, atau limbah organik. 2. Bahan-bahan organik berperan sebagai mempercepat pengomposan dan sebagai sumber nutrisi bagi mikroba. 3. Jamur Trichoderma harzianum sp berperan ganda yaitu sebagai pengurai dan meningkatkan ketahanan terhadap penyakit. 4. Kompos memiliki banyak manfaat salah satunya adalah tidak mencemari lingkungan. B. Saran Dalam pembuatan Trichokompos sebaiknya dilakukan dengan teliti dan memperhatikan komposisinya dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Indriani, Yovita Hety. 2001. Membuat Kompos secara Kilat. Penebar Swadaya, Jakarta Isroi. 2010. Pengomposan Limbah Padat Organik. http://www.ipard.com, diakses tanggal 12 Oktober 2011 Setyorini, Diah, dkk. 2010. Kompos. http:// www.balittanah.litbang.deptan.go.id, diakses tanggal 12 Oktober 2011 Suradikarta, Didi A. dan Simanungkalit, R. D. M. 2006. Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya lahan Pertanian, Bogor

ACARA V PENGENDALIAN HAMA LALAT BUAH (Bactrocera sp.) DENGAN MENGGUNAKAN FEROMON SEKS BAB I PENDAHULUAN

C. Tujuan 1. Mengetahui teknik aplikasi feromon seks. 2. Mengetahui keberhasilan pengendalian hama lalat buah dengan menggunakan feromon seks (metyl eugenol). 3. Mengetahui keuntungan pengendalian dengan menggunakan feromon seks.

D. Landasan Teori Pengendalian hama tanaman merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam usaha tani. Pada belakangan tahun ini ada anggapan bahwa pengendalian hama yang paling efektif adalah dengan penyemprotan dengan menggunakan pestisida maupun insektisida. Namun, setelah terasa dampak negatif dari penggunaan pestisida maupun insektisida ini maka para ahli hama tidak lagi menganjurkan secara besar-besaran dalam penggunaan racun pestisida maupun insektisida. Sesuai dengan tuntutan zaman, strategi dan teknik pengendalian hama harus memenuhi persyaratan yang ada hubungannnya dengan keamanan lingkungan dan keefektifannya yang lestari tanpa efek samping yang membuat masalah perlindungan tanaman itu lebih kompleks. Pengaruh samping pada lingkungan akibat kegiatan usaha tani kini mendapat perhatian yang lebih besar dari pengambil kebijakan (pemerintah) umum dan petani sendiri (Soekirman, 1990).

Pengendalian hama tanpa pestisida/insektisida lebih diarahkan pada teknik-teknik budidaya, cara mekanik/fisik, dan cara biologi yang dapat menekan populasi hama. Dengan demikian, pengendalian hama bebas racun

pestisida/insektisida merupakan suatu alternatif yang perlu disebarluaskan dan dikembangkan. Serangga merupakan hama yang banyak jenisnya dan paling banyak menyerang tanaman pertanian. Serangga banyak menyerang tanaman padi, palawija, dan buah-buahan dari benih, bibit, pucuk, akar, bunga, dan buah. Oleh karena itu, pengendalian hama utama umumnya merupakan pengendalian serangga sehingga obat-obatan kimia yang paling banyak diproduksi adalah insektisida (Kusnaedi, 1999). Metode pengendalian hama serangga yang akan dijelaskan adalah dengan cara mekanik/fisik yang dapat dikembangkan sebagai pengaruh insektisida. Metode ini akan memanfaatkan sifat-sifat serangga yang tertarik pada cahaya, warna, aroma makanan atau bau tertentu. Caranya adalah dengan merangsang serangga untuk berkumpul dan hinggap pada perekat. Pada akhirnya serangga yang terperangkap tidak dapat terbang dan akan mati. Pengendalian hama dengan metode ini cukup efektif bila digunakan secara meluas dan tepat waktu sebelum terjadi ledakan hama. Feromon adalah sejenis zat kimia yang berfungsi untuk merangsang dan memiliki daya pikat seks pada hewan jantan maupun betina. Zat ini berasal dari kelenjar endokrin dan digunakan oleh makhluk hidup untuk mengenali sesama jenis, individu lain, kelompok, dan untuk membantu proses reproduksi. Berbeda denganhormon, feromon menyebar ke luar tubuh dan hanya dapat memengaruhi dan dikenali oleh individu lain yang sejenis (satu spesies). Seiring dengan berkembangnya sains tentang feromon, dapatlah

dimengerti ternyata serangga menghasilkan bermacam-macam zat kimia yang memengaruhi perilaku serangga sejenis lainnya. Semut misalnya, menghasilkan feromon untuk menarik teman-

temannya bergotong-royong mengangkut makanan dari tempat yang jauh ke sarang mereka. Itu sebabnya kita sering melihat semut berjalan beriring-iring.

Beberapa spesies lalat, ngengat dan kumbang juga menghasilkan zat kimia tertentu yang dioleskan ke sarang tempat meletakkan telur-telurnya. Zat-zat kimia ini akan mencegah serangga lain untuk menaruh telur di tempat yang sama, jadi mengurangi kompetisi serangga-serangga baru yang nantinya menetas dari telur tadi. Sampai sekarang, para ilmuwan sudah mengenali lebih dari 1600 feromon yang dipakai oleh berbagai serangga, termasuk serangga-serangga hama. Karena telah teridentifikasi, feromon ini bisa dibuat dalam jumlah besar

secara sintetis.Feromon sintetis ini banyak dipakai untuk dijadikan perangkap serangga.

E. Alat dan Bahan Bahan yang digunakan metiputi: metil eugenol, air, dan sabun sunlight. Alat yang digunakan antara lain: botol aqua bekas, kapas, benang, tali rafia, kantong plastik, label dan ATK.

F. Prosedur Kerja 1. Praktikan dikelompokan sesuai dengan rombongannya (tiap kelompok 4-5 mahasiswa) 2. Setiap kelompok bertugas memasang kapas yang sudah diolesi larutan metil eugenol 3. Setiap kelompok memasang alat tersebut pada pertanaman cabai, belimbing, nangka, dan mangga. 4. Amati setiap hari sekali selama 2 hari 5. Hitung jumlah serangga dewasa lalat buah yang tertangkap.

BAB II

HASIL PENGAMATAN

Tanaman Pokok Tempat Waktu

: Jambu Air : Pekarangan Perumahan Griya Limas Permai : 29-30 September 2011, pukul 07.00

Nama pemilik lahan : Bapak Supri Kondisi Lahan : Bersih

Hasil Pengamatan Banyaknya 7 -

Hari keI II

Pembahasan a) Morfologi Lalat buah dewasa ukurannya sedang dan berwarna kuning dan sayapnya datar. Pada tepi ujung sayap ada bercak-bercak coklat kekuningan. Abdomennya ada pita-pita hitam, sedangkan thoraxnya ada bercak-bercak kekuningan. Ovipositornya terdiri dari tiga ruas dengan bahan

seperti tanduk yang keras. b) Gejala Serangan

Kerusakan yang timbul dimulai dari lalat buah betina yang siap bertelur menyuntikkan telurnya ke dalam buah muda. Perkembangan selanjutnya adalah menetasnya larva berupa ulat yang memakan daging buah dan bahkan terdapat lubang kecil sebagai tempat keluar dari ulat tersebut. Dengan demikian buah akan membusuk dari dalam dan rontok. Lalat betina dengan ovipositornya menusuk buah dan meletakkan telurnya dalam lapisan epidermis. Pada waktu menetas, larvanya akan memakan daging buah hingga warna buah menjadi jelek dan tidak dapat dimakan. Biasanya serangan lalat ini diikuti hama lain. Telur kadang diletakkan tidak hanya di dalam buah, tetapi juga pada bunga dan batang. Batang yang terserang akan menjadi bisul. Sementara itu buahnya akan menjadi kecil dan berwarna kuning c) Rencana Tindak Lanjut Langkah pengendalian yang paling mudah adalah dengan menjaga kebersihan sekitar tanaman buah ataupun kebun dengan membuang dan membakar sampah daun dan buah yang busuk, membungkus buah sejak dini yaitu saat telah menjadi buah kecil (fruit set) dengan menggunakan kertas koran, plastik, dan lain-lain. Namun langkah tersebut tidak mengurangi populasi lalat buah yang berkembang. Salah satu jalan adalah dengan menggunakan perangkap lalat buah yaitu Metil Eugenol. Metil eugenol merupakan feromon sintetis (buatan) atau hormon penarik (attractan) lalat buah jantan yang dipunyai lalat betina untuk mengadakan perkawinan. Kesimpulan Feromon dapat menarik serangga lalat buah. Hal ini dibuktikan dengan lalat yang terperangkap pada botol jumlahnya semakin banyak dari hari ke hari. Penggunaan feromon dianjurkan sebagai salah satu metode pengendalian hama terpadu, karena ramah lingkungan, selain itu cara ini murah dan mudah diaplikasikan.

BAB III PEMBAHASAN

Kegiatan yang dilakukan dalam praktikum ini adalah membuat perangkap lalat buah dengan menggunakan feromon seks. Prinsip kerja perangkap ini adalah memikat lalat buah jantan agar masuk ke dalam botol yang sudah diberi feromon seks. Konstruksi perangkap dibuat sedemikian rupa sehingga lalat buah dapat masuk kedalam perangkap, tetapi tidak dapat keluar. Lalat buah jantan yang terperangkap tidak mampu membuahi lalat buah betina, sehingga populasi lalat buah dapat dikendalikan. Perangkap ini dipasang pada pohon jambu air, sebab lalat buah sering menyerang buah jambu air. Senyawa yang digunakan sebagai atraktan adalah metil eugenol. Metil eugenol adalah senyawa turunan dari eugenol. Eugenol sendiri merupakan komponen terbesar dari minyak daun cengkeh 80-90% (Guenther, 1950 dalam Budimarwanti, 1997).Metil eugenol bertindak sebagai feromon sintetis (buatan) atau hormon penarik (attractan) lalat buah jantan yang dipunyai lalat betina untuk mengadakan perkawinan. Feromon dalam jumlah yang sangat kecil dapat

menimbulkan rangsangan yang diinginkan. Seekor serangga betina yang mengeluarkan 8-10 gram feromon dapat menarik lebih dari satu milyar serangga jantan yang bermil-mil jauhnya (Budimarwanti, 1997) Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penggunaan feromon seks mampu mengendalikan hama lalat buah. Hal ini terbukti pada hari pertama terdapat lalat yang berhasil terperangkap didalam botol, yaitu sebanyak 7 ekor. Hari yang kedua tidak terdapat data jumlah lalat karena botol perangkap hilang, sehingga praktikan tidak dapat melakukan pengamatan. Oleh karena itu, sebaiknya perangkap diawasi secara teratur. Seharusnya semakin hari, jumlah lalat yang terperangkap semakin banyak. Menurut Martono (2010), apabila suatu

feromon menguap keluar dari sumbernya, maka konsentrasinya akan semakin meningkat dengan semakin bertambahnya waktu. Jenis lalat buah yang berhasil ditangkap adalah Bactrocera dorsalis. Lalat ini memiliki ciri-ciri antara lain lalat buah dewasa ukurannya sedang dan

berwarna kuning dan sayapnya datar. Tepi ujung sayap ada bercak-bercak coklat kekuningan. Abdomennya ada pita-pita hitam, sedangkan thoraxnya ada bercakbercak kekuningan. Ovipositornya terdiri dari tiga ruas dengan bahan seperti tanduk yang keras. Serangan lalat buah Bactrocera dorsalis adalah lalat betina dengan ovipositornya menusuk buah dan meletakkan telurnya dalam lapisan epidermis. Larvanya yang menetas akan memakan daging buah hingga warna buah menjadi jelek dan tidak dapat dimakan. Biasanya serangan lalat ini diikuti hama lainTelur kadang diletakkan tidak hanya di dalam buah, tetapi juga pada bunga dan batang. Batang yang terserang akan menjadi bisul. Sementara itu buahnya akan menjadi kecil dan berwarna kuning (Pracaya, 1999) Keuntungan pengendalian lalat buah dengan menggunakan feromon seks yaitu mengurangi penggunaan pestisida, sehingga residu pada buah semakin diminimalisir. Keuntungan lainnya adalah aman terhadap lingkungan, bersifat selektif, murah, serta mudah dibuat. Perangkap ini dapat digunakan pula pada tanaman lain, diantaranya mangga, nangka, cabai, dan sebagainya.

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan 1. Perangkap lalat buah dengan menggunakan feromon seks terbukti berhasil dalam menggendalikan hama lalat buah. 2. Prinsip kerja perangkap feromon seks adalah untuk memikat lalat buah jantan agar tidak membuahi lalat betina, sehingga dapat mengurangi populasi lalat buah. 3. Keuntungan penggunaan perangkap feromon seks salah satunya adalah mengurangi penggunaan pestisida kimia. B. Saran Sebaiknya lubang aqua tidak terlalu besar agar lalat yang masuk tidak keluarlagi.

DAFTAR PUSTAKA

Budimarwanti, Cornelia. 1997. Feromon dan Metileugenol, Pengendali Hama tanpa Merusak Lingkungan. Cakrawala Pendidikan No. 1, Tahun XVI Kusnaedi. 1999. Pengendalian Hama Tanpa Pestisida. PT. Penebar Swadaya. Jakarta. Matono, Edhie. 2011. Feromon, Allomon, Kairomon: Sistem Komunikasi Serangga, Konsep Dasar, Elektroantenogram (Eag), Olfaktometer dan Uji Biologis Lainnya. http://www.edmart.staff.ugm.ac.id, diakses tanggal 29 September 2011 Pracaya.1999. Hama Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya, Jakarta Sudarmo, Subiyakto. 1987. Mengenal Serangga Hama dan Pengendaliannya. Liberty. Yogyakarta.