Anda di halaman 1dari 30

1 ABDULLAH IBNU ABBAS DAN PENGARUH PEMIKIRANNYA DALAM PERKEMBANGAN PENAFSIRAN AL QURAN Oleh : Khairunnas Jamal A.

Pendahuluan Kitab al Quran yang merupakan pusat ajaran Islam telah menjadi bahan pengkajian yang tidak pernah kering. Ia selalu digali agar ditemukan berbagai mutiara dari dalam kandungannya. Sepanjang perjalanan sejarah al Quran, berbagai kalangan telah menumpahkan segenap waktu, tenaga dan fikirannya untuk selalu dapat berinteraksi dengan kalam yang mulia tersebut. Semakin intens perhatian yang diarahkan kepadanya, semakin besar daya tarik yang ia pancarkan dan daya tarik tersebut tidak pernah habis dan selalu tampak menarik bagaikan kilauan sudut permata yang begitu indah. Salah satu jenis kajian yang terus berkembang seiring perjalanan waktu adalah kajian tafsir yang boleh dikatakan sama tuanya dengan usia al Quran sejak ia diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW 14 Abad yang lalu. Dalam setiap kurun waktu tertentu, cabang ini telah menghasilkan pemikir-pemikir yang brilian yang telah mampu menjelaskan berbagai macam makna yang dikandung oleh Al Quran dan menghasilkan karya-karya besar. Karya-karya tersebut kelak akan menjadi salah satu alat mediasi yang paling jitu untuk mudah memahami al Quran dan menjadikannya pelita dalam kehidupan ini. Tak pelak lagi, nama Abdullah bin Abbas atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Abbas menjadi salah satu nama yang paling popular dalam menafsirkan wahyu Allah tersebut. Kemampuan yang ia miliki telah diakui oleh berbagai kalangan, terutama kalangan sahabat-sahabat Nabi yang cukup senior seperti Umar bin Khattab dan Ali bin 2 Abi Thalib. Langkah-langkah Ibnu Abbas dalam penafsiran al Quran, pun menjadi salah satu model yang mengilhami ulama-ulama besar dalam bidang tafsir beberapa abad kemudian. Kota suci Mekkah menjadi awal perkembangan pemikiran Ibnu Abbas yang juga menghasilkan ulama-ulama besar seperti Said bin Jubair dan Mujahid bin Jabr.1 B. Profil Ibnu Abbas. Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf al Qursyi al Hasyimi.2 Beliau adalah anak paman Rasul Abbas bin Abdul Muthallaib. Ibundanya adalah Lubabah al Kubra binti al Harits bin Hazan al Hilaliyah. Ibnu Abbas lahir di kota Mekkah 3 tahun sebelum Rasul Hijrah ke kota Madinah. Kelahiran beliau bertepatan dengan tahun pemboikotan Bani Hasyim oleh orang-orang Quraisy.3 Ibnu Abbas selalu bersama Nabi di masa kecilnya karena beliau termasuk salah satu kerabat dekat nabi dan karena bibinya, Maimunah, adalah salah seorang istri Nabi. Menurut Riwayat Bukhari, Ibnu Abbas dididik langsung oleh Rasul dan Rasul meramalkan bahwa ia akan menjadi ahli Tafsir al Quran.4 Pada tahun 36 H. beliau ditunjuk oleh Khalifah Utsman bin Affan untuk menjadi Amirul Haj. Ia tidak berada di kota Madinah ketika Utsman terbunuh. Dalam pertikaian antara Ali dan Muawiyah, Ibnu Abbas memihak kepada Ali.5 Di akhir usianya, Ibnu Abbas mengalami kebutaan,.namun hal itu tidak membuat kendurnya semangat beliau untuk menggali nilai-nila yang terkandung di dalam al Quran serta terus bersikap kritis terhadap setiap perkembangan
1 Quraisy

shihab,Membumikan al Quran, Mizan, Bandung, 2004, hal. 71. Husain az Zahabi, al Tafsir wal mufassirun, Maktabah Wahbah, Kairo, 2003, Jld. 1, hlm. 50 3 Mochtar Efendi, Ensiklopedi Agama dan Filsafat, Universitas Sriwijaya, Palembang, Jld. I, 2000, hlm. 14 4 Ibid. 5 Ibid.
2 Muhammad

3 yang terjadi di tengah ummat pada masanya.. Ibnu Abbas wafat pada tahun 68 Hijrah

dalam usia 70 tahun. Beliau wafat di kota Thaif dan dimakamkan di kota yang sama. Ibnu Abbas diberi gelar al Bahr6 yang berarti Samudra. Hal itu disebabkan karena betapa dalam dan luas ilmu yang ia miliki. Kepakaran tersebut disebabkan kehidupan ilmiah yang selalu menghiasi hari-hari beliau, di mana belajar dan mengajar adalah kesibukan-kesibukan yang tidak pernah beliau tinggalkan. Beliau mengajarkan berbagai macam ilmu kepada muruid-muridnya. Kadang-kadang beliau mengajarkan Fiqh, atau Tawil atau sejarah. Ubaidillah bin Abdullah pernah mengatakan: Tidaklah aku menyaksikan orang alim yang duduk bersama Ibnu Abbas kecuali ia merendahkan diri terhadap Ibnu Abbas. Dan tidaklah aku melihat orang yang bertanya kepada Ibnu Abbas kecuali ia akan mendapatkan ilmu dari jawaban Ibnu Abbas.7 Hal itupun semakin ditopang oleh ketidakterlibatan beliau dalam percaturan politik dan pemerintahan,8 kecuali hanya dalam waktu yang sangat sedikit, yaitu ketika beliau ditugaskan oleh Ali bin Abi Thalib sebagai Amir di kota Basrah.9 Dengan kedalaman ilmu tersebut berbagai macam pujianpun diarahkan kepada beliau, seperti yang disampaikan oleh Ibnu Umar, yang mengatakan bahwa Ibnu Abbas adalah ummat Muhammad yang paling tahu tentang apa yang diturunkan kepada Muhammad. Thawus, salah seorang Tabiin pernah ditanya oleh al Laits bin Sulaiman : Mengapa engkau tinggalkan sahabat-sahabat senior dan berguru kepada anak kecil ini (Ibnu Abbas). Thawus menjawab, Aku melihat 70 orang sahabat Rasul berselisih
6 Muhammad

al Jazari,Asdul Ghabah fi marifat al Sahabah, Jld. III, Darul Kutub al Ilmiyyah, Khairo, t. thn, hlm. 292 7 Ibid. 8 Muhammad Abdul Azim al Zarqani, Manahilul Irfan Fi ulumil Quran, Daru Ihyai al Turats al Araby, Bairut, T. Thn., hlm. 344. 9 Muhammad Husain azzahabi, Op. Cit, hlm. 52

4 tentang suatu urusan, akan tetapi semuanya kembali kepada pendapat Ibnu Abbas.10 Luasnya ilmu yang dimiliki oleh Ibnu Abbas, tidaklah terjadi begitu saja. Akan tetapi kepakaran tersebut disebabkan oleh beberapa hal yang amat penting yang menghiasi perjalanan hidup beliau : 1. Doa Rasulullah untuk Ibnu Abbas. Doa Rasulullah ini menjadi bukti yang paling kuat tentang kemampuan Ibnu Abbas dalam menafsirkan dan memahami kitab suci al Quran. Menurut pengakuan Ibnu Abbas Sendiri, Rasul pernah dua kali mendoakan beliau. Doa tersebut adalah Allahum allimhu al hikmah ( ) dan allahumma faqqihhu fiddin wa allimhu al Tawil. ( 11 ( Menurut ajaran Islam, doa yang dipanjatkan oleh Rasul adalah doa yang mustajab dan seluruh kehendak Rasul di dalam doa tersebut dikabulkan oleh Allah. 2. Ibnu Abbas besar dalam lingkungan rumah tangga kenabian, di mana beliau selalu hadir bersama Rasulullah sejak kecil. Beliau selalu mendengar banyak hal dari Rasul, dan menyaksikan kejadian serta berbagai peristiwa yang menyebabkan turunnya ayat-ayat al Quran. Bahkan beliau pernah dua kali menyaksikan Malaikat Jibril bersama dengan Nabi.12 3. Interaksi beliau dengan para sahabat senior sesudah wafatnya Rasulullah. Dari sahabat-sahabat senior tersebut, Ibnu Abbas belajar berbagai hal yang berkaitan dengan al Quran seperti tempat-tempat turunnya al Quran, sebab-sebab turunnya ayat dan lain sebagainya. Upaya untuk belajar dan bertanya tersebut diungkapkan oleh Ibnu Abbas sendiri : Aku banyak mendapatkan hadits Rasul
10 Muhammad 11 Muhammad 12 Ibid.

all Jazari, Op. Cit. al Jazari, Op. Cit.

5 dari kalangan Anshar. Bila aku ingin mendatangi salah satu di antara mereka, maka aku akan mendatanginya. Boleh jadi aku akan menunggunya hingga ia bangun tidur kemudian aiu bertanya tentang hadist tersebut kemudian pergi. 4. Pengetahuan beliau yang sangat luas tentang bahasa Arab terutama kaitannya dengan uslub-uslubnya dan puisi-puisi Arab kuno yang amat berguna untuk mendukung pemahaman beliau terhadap al Quran. 5. Kecerdasan otak yang merupakan anugerah Allah yang membuat Ibnu Abbas mampu untuk berijtihad dan berani menerangkan berbagai hal yang beliau anggap benar dalam penafsiran al Quran. Dengan pengetahuan yang amat luas tersebut, maka Ibnu Abbas selalu menjadi rujukan para sahabat baik senior maupun yunior untuk meminta keterangan dan penjelasan tentang maksud suatu ayat. Seperti kasus ketika Umar bin al Khattab bertanya maksud ayat : ( ) surat al Baqarah ayat 266. Maka tidak seorangpun dari sahabat yang mampu memberikan penjelasan yang memadai tentang ayat yang dimaksud. Pada akhirnya Ibnu Abbas berkata : Wahai Amirul Muminin. Aku mendapatkan suatu pemahaman pada diriku tentang ayat yang dimaksud. Ayat tersebut berisi perumpamaan yang dikemukakan Allah sehingga seolah-oleh Allah berkata : Apakah salah seorang di antara kalian menyukai pekerjaan orang-orang yang baik sepanjang hidupnya namun ketika akan wafat ia tutup agenda hidupnya yang baik tersebut dengan mengerjakan pekerjaan orang-orang yang sengsara. Sehingga pekerjaan tersebut merusak seluruh amal kebajikannya.13Kedalaman ilmu tersebut pulalah pada
13 Ibid,

hlm. 54.

6 akhirnya kaum muslimin memberinya gelar sebagai Turjumanul Quran, penafsir al Quran 14 C. Pemikiran Tafsir Ibnu Abbas. Ibnu abbas merupakan peletak dasar dari teori penafsiran yang banyak mengilhami model-model penafsiran era berikutnya. Pemikirannya diyakini sebagai salah satu model penafsiran yang paling akurat baik bagi kalangan mufassir bil matsur maupun kalangan mufassir bi al rayi. Bahkan secara tradisional beliau dipercaya sebagai salah seorang tokoh yang telah berhasil menanamkan embrio Hermeneutika al Quran.15 Bagi kelompok bi al matsur (penafsiran memalui tradisi) Ibnu Abbas telah memberikan panduan penafsiran al Quran terbaik, dengan membiarkan al Quran saling menjelaskan keterkaitan yang saling berhubungan antara satu ayat dengan ayat lainnya. Sebab penafsiran al Quran dengan al Quran sendirilah yang memiliki validitas kebenarannya yang paling kuat. Bila tidak ditemukan penjelasan tersebut dari al Quran, maka beliau merujuk kepada hadits Nabi yang sahih. Kedudukan hadits yang merupakan penjelas bagi al Quran juga diyakini sebagai salah satu alternatif untuk menyingkap makna-makna yang cukup sulit untuk dipahami. Kedua cara yang ditempuh oleh Ibnu Abbas tersebut pada akhirnya menjadi standar baku bagi kelompok penafsir al Quran bi al matsur untuk masa selanjutnya. Kelompok mufassir bi al Rayi (Penafsiran melalui nalar) juga memperoleh inspirasi penafsiran dari metode yang telah digagas oleh Ibnu Abbas. Bagi Ibnu Abbas,
14 Al 15 Munzin

Zarqani, Op. Cit., hlm. 243 Hitami, Menangkap Pesan-Pesan Allah, Suska Press, Pekanbaru, 2006, hlm. 34

7 bila keterangan sebuah makna ayat tidak ia temukan di dalam al Quran atau dari hadits nabi, maka beliau berupaya untuk merujuknya kepada sair-sair Arab kuno ataupun

percakapan-percakapan Arab Badui yang memiliki tingkat kemurnian bahasa yang tinggi. Keluarnya Ibnu dari lingkaran al Quran dan Hadits Nabi tersebut adalah sebuah keberanian dan merupakan ijtihad dalam bentuk lain. Dan tentunya keberanian untuk melakukan ijtihad bukanlah keberanian yang bersifat apriori, namun dilandasai oleh niat dan keinginan yang kuat untuk menyingkap makna-makna terdalam dari al Quran. Seperti yang diceritakan sendiri oleh Ibnu Abbas, bahwa beliau tidak pernah tahu arti dari kata fathiru al samawaat ( ,) sampai suatu ketika beliau mendengar dua orang Arab Badui tengah bertikai masalah sebuah sumur. Salah seorang dari Arab Badui mengatakan : ana Fathortuha ( ( ) aku yang membuatnya). Dengan adanya percakapan tersebut, barulah beliau mengetahui maksud dari kata : Bahkan beliau tidak segan-segan untuk mencari sumber penafsiran dari kalangan ahli kitab yang telah memeluk agama Islam, baik dari kalangan Yahudi seperti Abdullah bin Salam maupun dari kalangan Nasrani seperti Ibnu Juraij. Namun sebagaimana yang dikatakan oleh Husain az Zahabi, bahwa eksplanasi tersebut hanya berkaitan dengan pambahasan yang sangat terbatas dan adanya kecocokan sejarah antara al Quran dan kitab-kitab samawi lainnya. Akan tetapi jika berseberangan dengan keterangan al Quran atau bahkan bertentangan dengan syariat Islam, menurut Az Zahabi, Ibnu Abbas tidak mempergunakan penafsiran ahli kitab. Keberanian Ibnu Abbas untuk mencari sumbersumber penafsiran dari selain al Quran dan hadits nabi menjadi inspirasi penting bagi kalangan ahlu al rayi untuk juga memaksimalkan penggunaan akal fikiran sebagai salah satu alternatif penafsiran al Quran. 8 Secara eksplisit terungkap, Ibnu Abbas memiliki kecenderungan untuk menggunakan akal fikiran yang jernih dalam menafsirkan ayat al Quran. Tidak melulu beliau menggunakan standar baku penafsiran ayat dengan ayat lainnya, atau ayat dengan hadits Nabi. Beliau berani berijtihad, dan diakui oleh kalangan sahabat. Contoh keberanian lain tersebut adalah ketika Ibnu Umar meminta Ibnu Abbas untuk menafsirkan ayat ( .) Dalam penafsirannya Ibnu Abbas tidak merujuk kepada al Quran maupun hadits Nabi, akan tetapi merujuk kepada pemikirannya sendiri. Beliau mengatakan bahwa langit dulu bersatu dengan bumi. Yang dimaksud bersatu di sini langit tidak menurunkan hujan dan bumi tidak menumbuhkan tanaman. Maka Allah memisahkan keduanya dengan menurunkan hujan dari langit dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan di Bumi. Ibnu Umar menanggapi penafsiran tersebut dengan mengatakan : Aku begitu kagum dengan penafsiran Ibnu Abbas. Dan sekarang aku tahu bahwa ia telah mendapatkan anugerah ilmu.16 Dengan demikian bibit-bibit penafsiran dengan menggunakan nalar telah dibangun oleh Ibnu Abbas semenjak generasi kedua Ummat Islam. Meskipun Ibnu Abbas telah memulai upaya penafsiran menggunakan rasio, namun pemikirannya-pemikiran tafsirnya belaum dibukukan dalam bentuk kitab tafsir yang sistematis. Untuk mengetahui bentuk pemikiran belaiu, masih harus menggunakan sistem periwayatan. Hal itu disebabkan oleh belum berkembangnya sistem tulis menulis dengan baik pada saat itu. Untuk mengetahui pemikiran tafsir ibnu Abbas, para ulama telah menetapkan jalur periwayatan yang akurat dan memiliki tingkat kebenaran maksimal. Imam As Suyuthi mengatakan Pemikiran-pemikiran Ibnu Abbas dalam bidang tafsir memiliki jalur periwayatan yang sangat banyak. Dan riwayat yang paling
16 Muhammad

az Zarqani, Op. Cit., hlm. 343

9 baik adalah melalui jalur Ali bin Abi Thalhah al Hasyimi dari Ibnu Abbas. Bahkan jalur

periwayatan ini telah diakui oleh Imam Bukhari di dalam kitab Sahihnya apabila meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas.17 Namun meskipun begitu, masih ada sebagian kelompok yang meragukan periwayatan langsung Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas. Kelompok ini beranggapan bahwa Ali Bin Abi Thalhah tidaklah mendengar langsung dari Ibnu Abbas, akan tetapi meriwayatkan pemikiran Ibnu Abbas melalui perantaraan Mujahid atau Said bin Jabir. Selain jalur Ali bin Abi Thalhah, juga terdapat jalur lain yang juga dianggap sebagai jalur yang baik untuk mengetahui pemikiran Ibnu Abbas. Jalur tersebut adalah jalur periwayatan Qais bin Atha bin Saib dari Said bin Jabir dari Ibnu Abbas. Jalur periwayatan ini menurut Bukhori dan Muslim adalah jalur yang sahih. Juga terdapat jalur periwayatan dari Ibnu Ishaq dari Muhammad bin Abi Muhammad dari Ikrimah atau dari said bin Jabir dari Ibnu Abbas18. Namun jalur ini menurut Ibnu Jarir al Thabari dan Abi Hatim adalah jalur periwayatan yang hasan, dan mereka juga menggunakan jalur ini dalam meriwayatkan penafssiran-penafsiran dari Ibnu Abbas. Keberadaan Ibnu Abbas di Kota Mekkah telah menciptakan sebuah konstelasi pemikiran Tafsir yang brilian. Murid-murid beliau dianggap sebagai pemuka-pemuka Tafsir yang mencerahkan. Ibnu Taimiyah, seperti yang diungkapkan As Suyuthi, mengatakan bahwa orang yang paling tahu tentang tafsir adalah kelompok Mekkah, karena di kota ini bermukim Ibnu Abbas.19 Murid-murid iIbnu Abbas yang terkemuka dalam bidang Tafsir adalah Mujahid, Atha bin Abi Rabah, Ikrimah, Said bin Jabir dan Thawus.
17 Ibid., 18 Ibid. 19 Ibid,hlm.

hlm. 344 345

10 Meskipun pemikiran Ibnu Abbas yang berkaitan dengan Tafsir lebih banyak di pahami melalui jalur periwayatan, akan tetapi para ulama mencoba untuk memadukan berbagai pemikiran Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat-ayat al Quran. Sebuah karya yang berada di tangan penulis saat ini menunjukkan hal tersebut. Berbagai riwayat telah dikumpulkan sehingga menjadi sebuah kitab yang menghimpun pemikiran Ibnu Abbas dalam memahami al Quran, mulai dari surat al Fatihah sampai dengan surat al Naas. Kumpulan penafsiran tersebut diberi judul ( ) Tanwirul Miqbas min Tafsiri Ibni Abbas. Riwayat-riwayat yang berkaitan dengan penafsiran al Quran ini dikumpulkan oleh Abi Thahir Muhammad bin Yaqub al Fairuzzabady al Syafii.20 Menurut az Zahabi, segala sesuatu yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dalam tafsir ini hanya melalui jalur periwayatan Muhammad bin Marwan as Suday al Shaghir dari Muhammad bin Saib al Kalbi dari Abu Shaleh dari Ibnu Abbas. Secara pribadi, az Zahaby meragukan seluruh riwayat tersebut yang ada dalam tafsir tersebut dinisbahkan kepada Ibnu Abbas, sebagaimana keraguan yang juga dialami oleh Imam Syafii. menurut as SyafiI, riwayat-riwayat yang berkaitan dengan Ibnu Abbas dalam masalah tafsir hanya berjumlah ratusan. Artinya bila riwayat tersebut meliputi seluruh ayat al Quran yang berjumlah ribuan, maka ada sebagian yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.21 D. Tafsir Ibnu Abbas. Az Zahabi mengungkapkan sebuah kitab Tafsir yang dinisbahkan kepaba Ibnu Abbas yang diberi nama Tanwirul Miqbas min Tafsiri Ibni Abbas. Tafsir ini diterbitkan
20 Muhammad 21 Ibid.

Husain az Zahabi,Loc. Cit, hlm. 62

11

di Mesir dan cetakan lainnya berasal dari Beirut. Dari cetakan aslinya, kitab ini tidak memiliki kata pengantar, sehingga tidak dapat diselami lebih jauh lagi tentang keberadaan penulis kitab tersebut. Namun al Fairuzzabady sendiri bukanlah orang yang tidak dikenal. Belaiu adalah pengarang kamus al Muhith22 yang terkenal dan ahli dalam bidang bahasa. Pola penafsiran yang ditampilkan dalam tafsir ini memiliki kesamaan dengan penafsiran yang dilakukan oleh Imam Jalaluddin Assuyuthi dalam Tafsir al Jalalain. Dalam kitab tersebut, Mufassir berupaya untuk menafsirkan dan menjelaskan kalimat per kalimat, sehingga makna setiap kalimat dapat dengan mudah dimengerti oleh pembaca. Hal ini dilakukan penulis mulai dari surat al Fatihah hingga surat al Baqarah. Dilihat dari judul kitab tersebut, maka pembaca digiring kepada sebuah kesimpulan, bahwa penafsiran yang dilakukan di dalam kitab ini semuanya mengacu kepada penafsiran Ibnu Abbas. Akan tetapi penulis hanya menemukan dua jalur periwayatan yang diungkapkan pengarang yang dinisbahkan kepada Ibnu Abbas. Sedangkan untuk surat-surat yang lain, pengarang hanya menyebutkan kalimat ( ) Wabi isnadihi an ibni Abbas. Artinya sanad yang diambil sama dengan sanad yang ada dalam surat al Fatihan atau surat al Baqarah. Surat yang disebutkan sanadnya secara lengkap adalah : Pertama, ketika pengarang kitab menafsirkan surat al Fatihah. Dalam menafsirkan surat tersebut, al Fairuzzabadi menyebutkan riwayat dengan lengkap, yaitu dari jalur Abdullah as tsiqah bin al Mamun al Harwi dari ayahnya, dari Abu Abdullah dari Abu Ubaidillah Mahmud bin Muhammad al Razi dari Ammar bin Abdul Majid al Harwi dari Ishaq as Samarqandi, bin Marwan dari al Kalbi
22 Ibid.

12 dari Abu Shaleh dari Ibnu Abbas.23 Sedangkan dalam menafsirkan surat al Baqarah, penulis menyebutkan jalur periwayatan dari Abdullah bin al Mubarak dari Ali bin Ishaq as Samarqandi dari Muhammad bin Marwan dari al Kalbi dari Abu Sholeh dari Ibnu Abbas. Selanjutnya penulis tidak lagi menemukan jalur periwayatan lainnya dalam menafsirkan surat-surat berikutnya. Oleh sebab itu, apabila berpatokan kepada pendapat az Zahabi dan Imam SyafiiI di atas, maka semua penafsiran tersebut bukanlah murni pemikiran Ibnu Abbas secara utuh. Apalagi pengarang tidak mencantumkan berbagai jalur periwayatan yang merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari upaya untuk menggali dan mengumpulkan berbagai periwayatan tafsir dari Ibnu Abbas. Dengan demikian meskipun pengarang tafsir ini menggiring pembaca ke arah penafsiran Ibnu Abbas, akan tetapi dengan tidak menampilkan berbagai bentuk periwayatan dengan jelas, maka akan menimbulkan pertanyaan, apakah semuanya adalah penafsiran Ibnu Abbas, atau penafsiran pengarang sendiri dengan mengusung nama Ibnu Abbas dalam karangannya. E. Penutup Abdullah bin Abbas adalah sosok sahabat Rasul yang berani melakukan ijtihad dalam bidang tafsir. Selain menerangkan makna ayat-ayat al Quran melalui al Quran sendiri atau melalui hadits Nabi, Ibnu Abbas juga berupaya untuk menggali makna al Quran dari syair-syair Arab kuno dan ahli kitab. Ijtihad model ini sedikit banyak akan memberikan inspirasi kepada kelompok mufassir bi al Rayi untuk mengembangkan penafsiran al Quran di kemudian hari. Dengan demikian, pemikirannya membuka dan
23 Abu

Thahir Bin Yaqub al Fairuzzabadi, Tanwirul Miqbas min Tafsir Ibni Abbas, Darul Fikr, Beirut, 2001, hlm. 1

13 mengilhami berkembangnya dua macam kelompok penafsiran, yaitu penafsiran dengan tradisi (bil matsur) dan penafsiran menggunakan nalar (bil rayi). Berbagai buku yang berkaitan dengan Tafsir Ibnu Abbas tidaklah mewakili pemikiran tafsir Ibnu Abbas. Hal tersebut disebabkan oleh minimnya riwayat Ibnu Abbas

yang sampai kepada kita, dan jumlah riwayat tersebut hanya berada pada kisaran ratusan saja.
1. Quraisy shihab,Membumikan al Quran, Mizan, Bandung, 2004, hal. 71. 2. Muhammad Husain az Zahabi, al Tafsir wal mufassirun, Maktabah Wahbah, Kairo, 2003, Jld. 1, hlm. 50 3. Mochtar Efendi, Ensiklopedi Agama dan Filsafat, Universitas Sriwijaya, Palembang, Jld. I, 2000, hlm. 14 4. Ibid. 5. Ibid. 6. Muhammad al Jazari,Asdul Ghabah fi marifat al Sahabah, Jld. III, Darul Kutub al Ilmiyyah, Khairo, t. thn, hlm. 292 7. Ibid. 8. Muhammad Abdul Azim al Zarqani, Manahilul Irfan Fi ulumil Quran, Daru Ihyai al Turats al Araby, Bairut, T. Thn., hlm. 344. 9. Muhammad Husain azzahabi, Op. Cit, hlm. 52 10. Muhammad all Jazari, Op. Cit. 11. Muhammad al Jazari, Op. Cit. 12. Ibid. 13. Ibid, hlm. 54. 14. Al Zarqani, Op. Cit., hlm. 243 15. Munzin Hitami, Menangkap Pesan-Pesan Allah, Suska Press, Pekanbaru, 2006, hlm. 34 16. Muhammad az Zarqani, Op. Cit., hlm. 343 17. Ibid., hlm. 344 18. Ibid. 19. Ibid,hlm. 345 20. Muhammad Husain az Zahabi,Loc. Cit, hlm. 62 21. Ibid. 22. Ibid. 23. Abu Thahir Bin Yaqub al Fairuzzabadi, Tanwirul Miqbas min Tafsir Ibni Abbas, Darul Fikr, Beirut, 2001, hlm. 1

Abdullah bin `Abbas bin `Abdul Muththalib bin Hasyim lahir di Makkah tiga tahun sebelum hijrah. Ayahnya adalah `Abbas, paman Rasulullah, sedangkan ibunya bernama Lubabah binti Harits yang dijuluki Ummu Fadhl yaitu saudara dari Maimunah, istri Rasulullah. Beliau dikenal dengan nama Ibnu `Abbas. Selain itu, beliau juga disebut dengan panggilan Abul `Abbas. Dari beliau inilah berasal silsilah khalifah Dinasti `Abbasiyah. Ibnu `Abbas adalah salah satu dari empat orang pemuda bernama `Abdullah yang mereka semua diberi titel Al-`Abadillah. Tiga rekan yang lain ialah Abdullah bin `Umar (Ibnu `Umar), `Abdullah bin Zubair (Ibnu Zubair), dan `Abdullah bin Amr. Mereka termasuk diantara tiga puluh orang yang menghafal dan menguasai Al-Quran pada saat penaklukkan Kota Makkah. Al-`Abadillah juga merupakan bagian dari lingkar `ulama yang dipercaya oleh kaum muslimin untuk memberi fatwa pada waktu itu. Beliau senantiasa mengiringi Nabi. Beliau menyiapkan air untuk wudhu` Nabi. Ketika shalat, beliau berjama`ah bersama Nabi. Apabila Nabi melakukan perjalanan, beliau turut pergi bersama Nabi. Beliau juga kerap menhadiri majelis-majelis Nabi. Akibat interaksi yang sedemikian itulah, beliau banyak mengingat dan mengambil pelajaran dari setiap perkataan dan perbuatan Nabi. Dalam pada itu, Nabi pun mengajari dan mendo`akan beliau. Pernah satu hari Rasul memanggil `Abdullah bin `Abbas yang sedang merangkak-rangkak di atas tanah, menepuk-nepuk bahunya dan mendoakannya, Ya Allah, jadikanlah Ia seorang yang mendapat pemahaman mendalam mengenai agama Islam dan berilah kefahaman kepadanya di dalam ilmu tafsir.

Ibnu `Abbas juga bercerita, Suatu ketika Nabi hendak ber-wudhu, maka aku bersegera menyediakan air untuknya. Beliau gembira dengan apa yang telah aku lakukan itu. Sewaktu hendak memulai shalat, beliau memberi isyarat supaya aku bendiri di sebelahnya. Namun, aku berdiri di belakang beliau. Setelah selesai shalat, beliau menoleh ke arahku lalu berkata, Hai `Abdullah, apa yang menghalangi engkau dari berada di sebelahku? Aku berkata, Ya Rasulullah, engkau terlalu mulia dan terlalu agung pada pandangan mataku ini untuk aku berdiri bersebelahan denganmu. Kemudian Nabi mengangkat tangannya ke langit lalu berdoa, Ya Allah, karuniakanlah ia hikmah dan kebijaksanaan dan berikanlah perkembangan ilmu daripadanya. Usia Ibnu `Abbas baru menginjak 15 atau 16 tahun ketika Nabi wafat. Setelah itu, pengejarannya terhadap ilmu tidaklah usai. Beliau berusaha menemui sahabat-sahabat yang telah lama mengenal Nabi demi mempelajari apa-apa yang telah Nabi ajarkan kepada mereka semua. Tentang hal ini, Ibnu `Abbas bercerita bagaimana beliau gigih mencari hadits yang belum diketahuinya kepada seorang sahabat penghafal hadits: Aku pergi menemuinya sewaktu dia tidur siang dan membentangkan jubahku di pintu rumahnya. Angin meniupkan debu ke atas mukaku sewaktu aku menunggunya bangun dan tidurnya. Sekiranya aku ingin, aku bisa saja mendapatkan izinnya untuk masuk dan tentu dia akan mengizinkannya. Tetapi aku lebih suka menunggunya supaya dia bangun dalam keadaan segar kembali. Setelah ia keluar dan mendapati diriku dalam keadaan itu, dia pun berkata. Hai sepupu Rasulullah! Ada apa dengan engkau ini? Kalau engkau mengirimkan seseorang kemari, tentulah aku akan datang menemuimu. Aku berkata, Akulah yang sepatutnya datang menemui engkau, karena ilmu itu dicari, bukan datang sendiri. Aku pun bertanya kepadanya mengenai hadits yang diketahuinya itu dan mendapatkan riwayat darinya. Dengan kesungguhannya mencari ilmu, baik di masa hidup Nabi maupun setelah Nabi wafat, Ibnu `Abbas memperolah kebijaksanaan yang melebihi usianya. Karena kedalaman pengetahuan dan kedewasaannya, `Umar bin Khaththab menyebutnya pemuda yang tua (matang). Khalifah `Umar sering melibatkannya ke dalam pemecahan permasalahanpermasalahan penting negara, malah kerap mengedepankan pendapat Ibnu `Abbas ketimbang pendapat sahabat-sahabat senior lain. Argumennya yang cerdik dan cerdas, bijak, logis, lembut, serta mengarah pada perdamaian membuatnya andal dalam menyelesaikan perselisihan dan perdebatan. Beliau menggunakan debat hanya untuk mendapatkan dan mengetahui kebenaran, bukan untuk pamer kepintaran atau menjatuhkan lawan debat. Hatinya bersih dan jiwanya suci, bebas dari dendam, serta selalu mengharapkan kebaikan bagi setiap orang, baik yang dikenal maupun tidak. `Umar juga pernah berkata, Sebaik-baik tafsir Al-Quran ialah dari Ibnu `Abbas. Apabila umurku masih lanjut, aku akan selalu bergaul dengan `Abdullah bin `Abbas. Sa`ad bin Abi Waqqas menerangkan, Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih cepat dalam memahami sesuatu, yang lebih berilmu dan lebih bijaksana daripada Ibnu `Abbas. Ibnu `Abbas tidak hanya dikenal karena pemikiran yang tajam dan ingatan yang kuat, tapi juga dikenal murah hati. Teman-temannya berujar, Kami tidak pernah melihat sebuah rumah penuh dengan makanannya, minumannya, dan ilmunya yang melebihi rumah Ibnu `Abbas. `Ubaidullah bin `Abdullah bin Utbah berkata, Tak pernah aku melihat seseorang yang lebih mengerti tentang hadits Nabi serta keputusan-keputusan yang dibuat Abu Bakar, `Umar, dan `Utsman, daripada Ibnu `Abbas.

Perawakan Ibnu `Abbas tinggi tapi tidak kurus, sikapnya tenang dan wajahnya berseri, kulitnya putih kekuningan dengan janggut diwarnai. Sifatnya terpuji, memiliki budi pekerti yang mulia, rendah hati, simpatik-empatik penuh kecintaan, ramah dan akrab, namun tegas dan tidak suka melakukan perbuatan sia-sia. Masruq berkata mengenainya, Apabila engkau melihat `Abdullah bin `Abbas maka engkau akan mengatakan bahwa ia seorang manusia yang tampan. Apabila engkau berkata dengannya, niscaya engkau akan mengatakan bahwa ia adalah seorang yang paling fasih lidahnya. Jikalau engkau membicarakan ilmu dengannya, maka engkau akan mengatakan bahwa ia adalah lautan ilmu. Saat ditanya, Bagaimana Anda mendapatkan ilmu ini? Ibnu `Abbas menjawab, Dengan lisan yang gemar bertanya dan akal yang suka berpikir. Terkenal sebagai `ulama umat ini, Ibnu `Abbas membuka rumahnya sebagai majelis ilmu yang setiap hari penuh oleh orangorang yang ingin menimba ilmu padanya. Hari-hari dijatah untuk membahas Al-Quran, fiqh, halal-haram, hukum waris, ilmu bahasa, syair, sejarah, dan lain-lain. Di sisi lain, Ibnu `Abbas adalah orang yang istiqomah dan rajin bertaubat. Beliau sering berpuasa dan menghidupkan malam dengan ibadah, serta mudah menangis ketika menghayati ayat-ayat Al-Quran. Sebagaimana lazimnya kala itu, pejabat pemerintahan adalah orang-orang `alim. Ibnu `Abbas pun pernah menduduki posisi gubernur di Bashrah pada masa kekhalifahan `Ali. Penduduknya bertutur tentang sepak terjang beliau, Ia mengambil tiga perkara dan meninggalkan tiga perkara. Apabila ia berbicara, ia mengambil hati pendengarnya; Apabila ia mendengarkan orang, ia mengambil telinganya (memperhatikan orang tersebut); Apabila ia memutuskan, ia mengambil yang termudah. Sebaliknya, ia menjauhi sifat mencari muka, menjauhi orang berbudi buruk, dan menjauhi setiap perbuatan dosa. `Abdullah bin Abbas meriwayatkan sekitar 1.660 hadits. Dia sahabat kelima yang paling banyak meriwayatkan hadist sesudah `Aisyah. Beliau juga aktif menyambut jihad di Perang Hunain, Tha`if, Fathu Makkah dan Haji Wada`. Selepas masa Rasul, Ia juga menyaksikan penaklukkan afrika bersama Ibnu Abu As-Sarah, Perang Jamal dan Perang Shiffin bersama `Ali bin Abi Thalib. Pada akhir masa hidupnya, Ibnu `Abbas mengalami kebutaan. Beliau menetap di Tha`if hingga wafat pada tahun 68H di usia 71 tahun. Demikianlah, Ibnu `Abbas memiliki kekayaan besar berupa ilmu pengetahuan serta akhlaq `ulama Home||Back BANTAHAN TERHADAP SITUS DAN BLOG PENENTANG MANHAJ SALAFY AHLUSSUNNAH (Bag III) : AQIDAH ASMA' WASSHIFAT ALLAH YANG DIANUT IBNU KATSIR DALAM TAFSIRNYA Penulis: Abu Utsman Kharisman Terdapat dalam salah satu blog penentang dakwah Ahlussunnah suatu tulisan sebagai berikut : Aqidah Ibnu Katsir tidak sama dengan Ibnu Taimiyyah Dan Ibnu Qayyim lihat Dalam Tafsir Ibnu Katsir dan kitab Lainnya : AQIDAH ASMA' WASSHIFAT ALLAH YANG DIANUT IBNU KATSIR DALAM TAFSIRNYA ( BANTAHAN TERHADAP SITUS DAN BLOG PENENTANG MANHAJ SALAFY AHLUSSUNNAH (bagian ke-3)) Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepada hamba-Nya. Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah pada teladan yang mulya, manusia terbaik,

Rasulullah Muhammad shollallaahu 'alaihi wasallam.... Pada bagian ke-3 ini, akan dijelaskan tentang 'aqidah Asma' Was Shifat Ibnu Katsir ( Abul Fida' Isma'il bin 'Umar bin Katsir alQurasyi adDimasyqi) - salah seorang murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah- dalam kitab tafsirnya : Tafsir al-Qur'aanil 'Adzhiim yang dikenal luas dengan sebutan Tafsir Ibnu Katsir. Sesungguhnya Ibnu Katsir memiliki pemahaman yang sama dengan gurunya, Ibnu Taimiyyah tentang Asma' Was Sifat Allah. Pemahaman tersebut bukanlah pemahaman baru. Namun, pemahaman yang sama dengan aqidah Ahlussunnah dari sejak para Sahabat Nabi, tabi'in, dan seterusnya diwariskan oleh para Imam Ahlussunnah. Syubhat Terdapat dalam salah satu blog penentang dakwah Ahlussunnah suatu tulisan sebagai berikut : [[ Aqidah Ibnu Katsir tidak sama dengan Ibnu Taimiyyah Dan Ibnu Qayyim lihat Dalam Tafsir Ibnu Katsir dan kitab Lainnya : Sekarang akan disebutkan sebahagian penafsiran lafaz istawa dalam surah ar Ra'd: 1- Tafsir Ibnu Katsir: ( ) telah dijelaskan maknanya sepertimana pada tafsirnya surah al Araf, sesungguhnya ia ditafsirkan tanpa kaifiat (bentuk) dan penyamaan Disini Ibnu Katsir mengunakan ta'wil ijtimalliy yaitu ta'wilan yang dilakukan secara umum dengan menafikan makna zahir nas al- Mutasyabihat tanpa diperincikan maknanya. sebenarnya memahami makna istiwa ini sebenarnya ]] Bantahan Tafsir Ibnu Katsir terhadap Surat Al-A'raaf ayat 54 Benarkah aqidah Ibnu Katsir tidak sama dengan Ibnu Taimiyyah? Mari kita kaji tulisan Ibnu Katsir dalam tafsirnya tersebut. Ketika menafsirkan AlQur'an surat al-A'raaf ayat 54, akan terlihat jelas bagaimana pemahaman beliau tersebut. Beliau menyatakan : : } { : . } { ] :11 [ - -: " ". " Adapun makna firman Allah Ta'ala : (yang artinya) : 'Kemudian Dia (Allah) beristiwaa' di atas 'Arsy'. Maka manusia dalam hal ini terbagi dalam (perbedaan) pendapat yang sangat banyak. Bukanlah di sini tempat menjabarkannya. Sesungguhnya (jalan yang seharusnya ditempuh) adalah madzhab as-Salafus Sholih : Maalik, al-'Auzaa-i, ats-Tsauri, al- Laits bin Sa'ad, asy-Syaafi'i, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Raahuyah, dan yang selain mereka dari para Imam kaum muslimin baik yang terdahulu maupun yang sekarang, yaitu : menetapkannya sebagaimana adanya , tanpa takyiif (menetukan/menanyakan kaifiyyatnya), tidak menyerupakan, dan tidak pula menolak (ta'thiil). Pemikiran yang tergambar dalam benak orang- orang yang menyerupakan Allah (dengan makhluk) ditiadakan dari Allah. Karena sesungguhnya tidak ada suatu makhlukpun yang serupa dengan Allah, dan : { Tidak ada sesuatupun yang sama dengan Allah, dan Dialah (Allah) Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Q.S Asy-Syuura:11) }. Bahkan, seperti yang diucapkan oleh para Imam, diantaranya Nu'aim bin Hammad -salah seorang guru Imam al-Bukhari- berkata : "Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluq-Nya maka dia telah kafir, barangsiapa yang mengingkari segala yang telah Allah Sifatkan untuk diri-Nya maka dia kafir ", dan segala yang telah Allah Sifatkan diriNya maupun yang disifatkan oleh Rasulullah (untuk Allah) bukanlah penyerupaan (tasybih), barangsiapa yang menetapkan untuk Allah Ta'ala

berdasarkan ayat - ayat yang jelas dan khabar-khabar (hadits) yang shohih, sesuai dengan Keagungan Allah Ta'ala, dan meniadakan kekurangan dari-Nya, maka dia telah menempuh jalan petunjuk" (Lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 3 hal 426). Dari penjelasan Ibnu Katsir tersebut jelaslah bahwa : 1. 'Aqidah Ibnu Katsir sama dengan aqidah Ibnu Taimiyyah. Dalam menafsirkan ayat tersebut Ibnu Katsir menyatakan bahwa Aqidah Salafus Sholeh (yang seharusnya diikuti) dalam Asma' WasSifat Allah adalah : menetapkannya sebagaimana adanya, tanpa takyiif (menanyakan/menentukan kaifiyyatnya), tidak menyerupakan, dan tidak pula menolak (ta'thiil) sedangkan Ibnu Taimiyyah menyatakan dalam kitab arRisaalah atTadmuriyah halaman 4: " Landasan utama dalam pembahasan ini adalah mensifatkan Allah sesuai dengan yang Allah sifatkan Dirinya dengan Sifat tersebut, dan dengan yang disifatkan oleh Rasul-Nya, baik dalam bentuk peniadaan ataupun penetapan. Maka ditetapkan untuk Allah sesuatu yang Allah tetapkan untuk DiriNya, dan meniadakan dari Allah sesuatu yang Allah tiadakan dari DiriNya. Telah diketahui bahwa metode Salaful Ummah dan para Imamnya adalah menetapkan apa yang Allah tetapkan, tanpa takyiif, tidak pula tamtsiil, tanpa tahriif (menyimpangkan lafadz/maknanya), dan tidak pula menolak (ta'thiil) . Demikian juga (para Imam tersebut) meniadakan apa yang Allah tiadakan terhadap DiriNya". Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juga menyatakan dalam kitab al- Fatwa al-Hamawiyyah alKubro halaman 16 : : " dan madzhab Salaf bahwasanya mereka mensifatkan Allah dengan apa yang Allah Sifatkan Dirinya, dan dengan apa yang RasulNya sifatkan tanpa tahrif (menyimpangkan lafadz/makna), tidak pula menolak, tanpa takyiif, dan tidak pula menyerupakan (dengan makhluk). Pernyataan Ibnu Taimiyyah semacam ini bisa dilihat dalam kitab-kitab beliau yang lain semisal al-Aqiidah al-Wasithiyyah, Minhaajus Sunnah anNabawiyyah juz 3 halaman 129 , Bayaanu Talbiis al-Jahmiyyah juz 2 halaman 40. 2. Aqidah Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Katsir tersebut adalah aqidah para Ulama' Salaf. Dalam penjelasan surat Al A'raaf ayat 54 tersebut, Ibnu Katsir menyatakan beberapa contoh Ulama' terdahulu yang dijadikan sebagai rujukan, di antaranya :Imam Malik dan Ishaq bin Raahuyah. Kita akan lihat bagaimana penjelasan Imam Maalik dan Ishaq bin Raahuyah tersebut. Imam Maalik menyatakan : "al-Istiwaa' sudah diketahui (dipahami maknanya secara bahasa Arab), kaifiyatnya tidak diketahui, beriman terhadapnya adalah wajib, dan menanyakan tentang kaifiyatnya adalah bid'ah (Lihat Tadzkirotul Huffadz juz 1 halaman 209). Ishaaq bin Raahuyah (dikenal juga sebagai Ishaaq bin Ibrahim) -salah seorang guru Imam alBukhari- menyatakan : { } "Hanyalah dikatakan sebagai sikap penyerupaan (Allah dengan makhluk,pent) adalah jika

seseorang menyatakan tangan (Allah) bagaikan tangan (makhluk), atau seperti tangan (makhluk), pendengaran (Allah) seperti (pendengaran) makhluk. Jika menyatakan bahwa pendengaran (Allah) seperti pendengaran (makhluk), maka itu adalah sikap penyerupaan. Adapun jika seseorang berkata sebagaimana perkataan Allah : Tangan, Pendengaran, Penglihatan, dan tidak menyatakan 'bagaimana' (kaifiyatnya), dan tidak mengatakan seperti pendengaran (makhluk), maka yang demikian ini bukanlah penyerupaan. Yang demikian ini adalah sebagaimana yang Allah nyatakan dalam KitabNya : "Tidak ada yang semisal denganNya suatu apapun, dan Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (Lihat Sunan AtTirmidzi bab Maa Jaa-a fi fadhli as-Shodaqoh juz 3 halaman 71). Tafsir Ibnu Katsir terhadap Surat AlBaqoroh ayat 210 "Tiada yang mereka nanti- nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan"(Q.S al-Baqoroh:210). Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya : : } { : " dan berkata Abu Ja'far arRaazi dari arRabii' bin Anas dari Abul 'Aliyah : ( Q.S al- Baqoroh : 210 tsb) " dan para Malaikat datang dalam naungan awan, dan Allah Ta'ala datang sesuai dengan kehendakNya " Di dalam tafsir ayat tersebut Ibnu Katsir menukil pendapat Abul 'Aliyah. Abul 'Aliyah (nama aslinya adalah Rufai' bin Mihran) adalah seorang Tabi'in murid dari beberapa Sahabat Nabi di antaranya : Umar bin alKhottob, Ali bin Abi Tholib, Ubay bin Ka'ab, Abu Dzar al-Ghiffary, Ibnu Mas'ud, 'Aisyah, Abu Musa, Abu Ayyub, Ibnu Abbas, dan Zaid bin Tsabit (Lihat Siyaar A'laamin Nubalaa' juz 4 halaman 207). Perhatikanlah bahwa Abul 'Aliyah menetapkan sifat 'datang' bagi Allah pada hari kiamat nanti sebagaimana yang Allah tetapkan dalam ayatNya tersebut tanpa melakukan tahrif (memalingkan) makna atau lafadznya seperti yang dilakukan golongan al-Asya-iroh (Asy- 'ariyyah). Pendapat Abul 'Aliyah inilah yang dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya sekaligus sebagai pemahaman beliau terhadap Asma' WasSifat Allah. Tafsir Ibnu Katsir Surat ArRahmaan ayat 26-27 ( )62( 27 ) Ibnu Katsir menyatakan : " dan sungguh Allah Ta'ala telah mensifatkan WajahNya Yang Mulya di dalam ayat yang mulya ini sebagai 'yang memiliki keagungan dan kemulyaan' Di dalam tafsirnya tentang ayat ini Ibnu Katsir telah menetapkan Wajah bagi Allah, karena memang Allah sendiri yang menetapkannya dalam AlQur'an. Beliau tidak menolak, memalingkan maknanya, melakukan takyiif (menentukan/menayakan kaifiyatnya), ataupun menyamakannya dengan makhluk. Tafsir Ibnu Katsir Surat al- Fajr ayat 22 : ) 22 ) " dan datanglah TuhanMu sedang malaikat berbaris-baris" Ibnu Katsir menyatakan : :

" dan datanglah Tuhanmu, yaitu : untuk mengadili para makhlukNya" Dalam tafsir ayat ini Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah datang secara hakikat. Beliau tidak melakukan tahrif, tidak pula takyiif, ta'thiil, dan tasybiih. Tafsir Ibnu Katsir Surat AdzDzaariyaat ayat 47 Sebagian orang menganggap Ibnu Katsir berpemahaman Asy'ariyyah karena menafsirkan ayat ini berdasarkan penjelasan Sahabat Nabi Ibnu Abbas. Dalam ayat ini Allah berfirman : "Dan langit itu Kami bangun dengan kekuatan dan sesungguhnya Kami benar-benar memperluasnya" Ibnu Katsir menyatakan di dalam tafsirnya bahwa makna artinya adalah 'dengan kekuatan' sebagaimana perkataan Ibnu Abbas, Mujahid, Qotadah, atsTsaury dan selainnya. Penafsiran ini dianggap sebagai pembenaran terhadap metode al-Asyaa-iroh (Asy'ariyyah) yang mentakwil ayat-ayat tentang Sifat Allah. Mereka menganggap kata adalah bentuk jamak dari kata yang berarti 'tangan'. Padahal persangkaan itu adalah keliru. Syaikh AsySyinqithy menjelaskan di dalam kitab tafsirnya Adl- waaul Bayaan: } { } { : } { . : } { . } { ] : 78 352 [ " Firman Allah di dalam ayat yang mulya ini : { } bukanlah termasuk ayat-ayat tentang Sifat yang dikenal dengan isim (kata benda) ini. Karena kata bukanlah bentuk jamak dari ( tangan). Sesungguhnya ia adalah (dari kata) yang berarti kekuatan. Maka wazan di sini adalah dan wazan adalah . Sehingga huruf hamzah dalam kata menempati posisi fa', ya' pada posisi 'ain, dan dal pada posisi lam. Kalau seandainya jama' dari maka wazannya adalah sehingga hamzah tambahan dan ya' pada posisi fa', dal pada posisi 'ain, dan ya' dibuang karena keberadaannya manqush pada posisi lam. Dalam bahasa Arab dan bermakna kekuatan. (Seperti ucapan seseorang) , di antara (penggunaan kata ini) adalah dalam firman Allah :

" dan Kami kuatkan ia dengan Ruhul Qudus" (Q.S AlBaqoroh ayat 87 dan 253). Maknanya adalah 'Kami kuatkan ia dengannya'. Barangsiapa yang menyangka bahwa kata tersebut adalah bentuk jamak dari 'tangan' pada ayat ini, maka ia telah salah dengan kesalahan yang melampaui batas ( Lihat Tafsir Adlwaa-ul Bayaan juz 8 halaman 11). Dari sini nampak jelaslah kesalahan dari tulisan yang ada di salah satu blog penentang Ahlussunnah pada tulisannya : [[ Kemudian mengenai lafadz mutasyabihat biaidin (dengan tangan) Artinya : " Dan langit, kami membinanya dengan Tangan (bi aidin = Kekuasaan) Kami...." (Qs adzariyat ayat 47) ]] sehingga penulis dalam blog penentang Ahlussunnah tersebut mengira Ibnu Katsir telah melakukan takwil terhadap ayat Sifat. Demikianlah saudaraku kaum muslimin, dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa alHafidz Ibnu Katsir dalam tafsirnya berpedoman dengan manhaj Salafus Sholeh dalam memahami ayat-ayat tentang Nama dan Sifat-Sifat Allah. Pemahaman beliau ini sama dengan pemahaman gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, yang sebenarnya pemahaman tersebut bukanlah manhaj baru. Bukanlah pemahaman yang diada-adakan oleh Ibnu Taimiyyah, namun pemahaman para Imam Ahlussunnah. Telah dikemukakan di atas ucapan- ucapan dari para Imam tersebut di antaranya Abul 'Aliyah (seorang tabi'i murid para Sahabat Nabi), Imam Maalik (guru Imam AsySyaafi'i), Ishaq bin Raahuyah dan Nu'aim bin Hammad (dua-duanya adalah guru Imam al-Bukhari). Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan hiday

Sejarah Tafsir dan Perkembangannya


-
] Indonesia Indonesian [

Muhammad Abu Salma

Editor

: Eko Haryanto Abu Ziyad

0341 - 9002

0341 - 9002

SEJARAH TAFSIR DAN PERKEMBANGANNYA


Secara etimologi tafsir bisa berarti:

( penjelasan),

( pengungkapan) dan (menjabarkan kata yang samar ). 1 Adapun secara terminologi


tafsir adalah penjelasan terhadap Kalamullah atau menjelaskan lafadzlafadz al-Quran dan pemahamannya.
2

Ilmu tafsir merupakan ilmu yang paling mulia dan paling tinggi kedudukannya, karena pembahasannya berkaitan dengan Kalamullah yang merupakan petunjuk dan pembeda dari yang haq dan bathil. Ilmu tafsir telah dikenal sejak zaman Rasulullah dan berkembang hingga di zaman modern sekarang ini. Adapun perkembangan ilmu tafsir dibagi menjadi empat periode yaitu :
Pertama, Tafsir Pada Zaman Nabi.

Al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab sehingga mayoritas orang Arab mengerti makna dari ayat-ayat al-Quran. Sehingga banyak diantara mereka yang masuk Islam setelah mendengar bacaan al-Quran dan mengetahui kebenarannya. Akan tetapi tidak semua sahabat mengetahui makna yang terkandung dalam al-Quran, antara satu dengan yang lainnya sangat variatif dalam memahami isi dan kandungan al-Quran. Sebagai orang yang paling mengetahui makna al-Quran, Rasulullah selalu memberikan penjelasan kepada sahabatnya, sebagaimana firman Allah , keterangan-keterangan (mujizat) dan kitab-kitab.Dan Kami turunkan kepadamu al-Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan, (QS.

16:44). Contohnya hadits yang diriwayatkan Muslim dari Uqbah bin Amir berkata : Saya mendengar Rasulullah berkhutbah diatas mimbar membaca firman Allah :


kemudian Rasulullah bersabda :


Ketahuilah bahwa kekuatan itu pada memanah. Juga hadits Anas yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim Rasulullah bersabda tentang Al-Kautsar adalah sungai yang Allah janjikan kepadaku (nanti) di surga.
Tafsir Pada Zaman Shahabat Adapun metode sahabat dalam menafsirkan al-Quran adalah; Menafsirkan AlQuran dengan Al-Quran, menafsirkan Al-Quran dengan sunnah Rasulullah, atau dengan kemampuan bahasa, adat apa yang mereka dengar dari Ahli kitab (Yahudi dan Nasroni) yang masuk Islam dan telah bagus keislamannya. Diantara tokoh mufassir pada masa ini adalah: Khulafaurrasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali), Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Masud, Ubay bin Kaab, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair dan Aisyah. Namun yang paling banyak menafsirkan dari mereka adalah Ali bin Abi Tholib, Abdullah bin Masud dan Abdullah bin Abbas yang mendapatkan doa dari Rasulullah.

Penafsiran shahabat yang didapatkan dari Rasulullah kedudukannya sama dengan hadist marfu. Atau paling kurang adalah Mauquf.
3 4

Tafsir Pada Zaman Tabiin Metode penafsiran yang digunakan pada masa ini tidak jauh berbeda dengan masa sahabat, karena para tabiin mengambil tafsir dari mereka. Dalam periode ini muncul beberapa madrasah untuk kajian ilmu tafsir diantaranya:

1)- Madrasah Makkah atau Madrasah Ibnu Abbas yang melahirkan mufassir terkenal seperti Mujahid bin Jubair, Said bin Jubair, Ikrimah Maula ibnu Abbas, Towus Al-Yamany dan Atho bin Abi Robah. 2)- Madrasah Madinah atau Madrasah Ubay bin Kaab, yang menghasilkan pakar tafsir seperti Zaid bin Aslam, Abul Aliyah dan Muhammad bin Kaab Al-Qurodli. Dan 3)- Madrasah Iraq atau Madrasah Ibnu Masud, diantara murid-muridnya yang terkenal adalah Al-Qomah bin Qois, Hasan Al-Basry dan Qotadah bin Diamah As-Sadusy. Tafsir yang disepakati oleh para tabiin bisa menjadi hujjah, sebaliknya bila terjadi perbedaan diantara mereka maka satu pendapat tidak bisa dijadikan dalil atas pendapat yang lainnya.
5

Tafsir Pada Masa Pembukuan

Pembukuan tafsir dilakukan dalam lima periode yaitu; Periode Pertama, pada zaman Bani Muawiyyah dan permulaan zaman Abbasiyah yang masih memasukkan ke dalam sub bagian dari hadits yang telah dibukukan sebelumnya. Periode Kedua, Pemisahan tafsir dari hadits dan dibukukan secara terpisah menjadi satu buku tersendiri. Dengan meletakkan setiap penafsiran ayat dibawah ayat tersebut, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Jarir At-Thobary, Abu Bakar An-Naisabury, Ibnu Abi Hatim dan Hakim dalam tafsirannya, dengan mencantumkan sanad masing-masing penafsiran sampai ke Rasulullah, sahabat dan para tabiin. Periode Ketiga, Membukukan tafsir dengan meringkas sanadnya dan menukil pendapat para ulama tanpa menyebutkan orangnya. Hal ini menyulitkan dalam membedakan antara sanad yang shahih dan yang dhaif yang menyebabkan para mufassir berikutnya mengambil tafsir ini tanpa melihat kebenaran atau kesalahan dari tafsir tersebut. Sampai terjadi ketika mentafsirkan ayat


ada sepuluh pendapat, padahal para ulama tafsir sepakat bahwa maksud dari ayat tersebut adalah orang-orang Yahudi dan Nasroni. Periode Keempat, pembukuan tafsir banyak diwarnai dengan buku buku tarjamahan dari luar Islam. Sehingga metode penafsiran bil aqly (dengan akal) lebih dominan dibandingkan dengan metode bin naqly ( dengan periwayatan). Pada periode ini juga terjadi spesialisasi tafsir menurut bidang keilmuan para mufassir. Pakar fiqih menafsirkan ayat Al-Quran dari segi hukum seperti Alqurtuby. Pakar sejarah melihatnya dari sudut sejarah seperti ats-Tsalaby dan Al-Khozin dan seterusnya. Periode Kelima, tafsir maudhui yaitu membukukan tafsir menurut suatu pembahasan tertentu sesuai disiplin bidang keilmuan seperti yang ditulis oleh Ibnu Qoyyim dalam bukunya At-Tibyan fi Aqsamil Al-Quran, Abu Jafar An-Nukhas dengan Nasih wal Mansukh, Al-Wahidi Dengan Asbabun Nuzul dan Al-Jassos dengan Ahkamul Qurannya.
Metode Penafsiran

Metode penafsiran yang banyak dilakukan oleh para mufassir adalah: Pertama, Tafsir Bil Matsur atau Bir-Riwayah Metode penafsirannya terfokus pada shohihul manqul (riwayat yang shohih) dengan menggunakan penafsiran al-Quran dengan al-Quran, penafsiran al-Quran dengan sunnah, penafsiran al-Quran dengan perkataan para sahabat dan penafsiran al-Quran dengan perkataan para tabiin. Yang mana sangat teliti dalam menafsirkan ayat sesuai dengan riwayat yang ada. Dan penafsiran seperi inilah yang sangat ideal yang patut dikembangkan. Beberapa contoh kitab tafsir yang menggunakan metode ini adalah : 1. Tafsir At-Tobary ( ( terbit 12 jilid 2. Tafsir Ibnu Katsir ( ) dengan 4 jilid 3. Tafsir Al-Baghowy ()

4. Tafsir Imam As-Suyuty

( ) terbit 6 jilid.

Kedua, Tafsir Bir-Rayi (Diroyah). Metode ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu: Ar-Royu al Mahmudah (penafsiran dengan akal yang diperbolehkan) dengan beberapa syarat diantaranya: 1)- Ijtihad yang dilakukan tidak keluar dari nilai-nilai al-Quran dan assunnah
2)- Tidak berseberangan penafsirannya dengan penafsiran bil matsur, Seorang mufassir harus menguasai ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tafsir beserta perangkatperangkatnya.

Beberapa contoh kitab tafsir yang menggunakan metodologi ini diantaranya : 1. 2. 3.

Tafsir Al-Qurtuby - Tafsir Al-Jalalain - Tafsir Al-Baidhowy - .

Ar-Royu Al- mazmumah (penafsiran dengan akal yang dicela / dilarang), karena bertumpu pada penafsiran makna dengan pemahamannya sendiri. Dan istinbath (pegambilan hukum) hanya menggunakan akal/logika semata yang tidak sesuai dengan nilai-nilali syariat Islam. Kebanyakan metode ini digunakan oleh para ahli bidah yang sengaja menafsirkan ayat al-Quran sesuai dengan keyakinannya untuk mengajak orang lain mengikuti langkahnya. Juga banyak dilakukan oleh ahli tafsir priode sekarang ini. Diantara contoh kitab tafsir yang menggunakan metode ini adalah: 1. Tafsir Zamakhsyary () 2. Tafsir syiah Dua belas seperti ( ) juga

3. Tafsir As-Sufiyah dan Al-Bathiniyyah seperti tafsir


SYARAT DAN ADAB PENAFSIR AL-QURAN Untuk bisa menafsirkan al-Quran, seseorang harus memenuhi beberapa kreteria diantaranya:

1)- Beraqidah shahihah, karena aqidah sangat pengaruh dalam menafsirkan al-Quran.
2)- Tidak dengan hawa nafsu semata, Karena dengan hawa nafsu seseorang akan memenangkan pendapatnya sendiri tanpa melilhat dalil yang ada. Bahkan terkadang mengalihkan suatu ayat hanya untuk memenangkan pendapat atau madzhabnya. 3)- Mengikuti urut-urutan dalam menafsirkan al-Quran seperti penafsiran dengan alQuran, kemudian as-sunnah, perkataan para sahabat dan perkataan para tabiin.

4)- Faham bahasa arab dan perangkat-perangkatnya, karena al-Quran turun dengan bahasa arab. Mujahid berkata; Tidak boleh seorangpun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, berbicara tentang Kitabullah (al-Quran) jikalau tidak menguasai bahasa arab. 5)- memiliki pemahaman yang mendalam agar bisa mentaujih (mengarahkan) suatu makna atau mengistimbat suatu hukum sesuai dengan nusus syariah, 6)- Faham dengan pokok-pokok ilmu yang ada hubungannya dengan alQuran seperti ilmu nahwu (grammer), al-Isytiqoq (pecahan atau perubahan dari suatu kata ke kata yang lainnya), al-maani, al-bayan, albadi, ilmu qiroat (macam-macam bacaan dalam al-Quran), aqidah shaihah, ushul fiqh, asbabunnuzul, kisah-kisah dalam islam, mengetahui nasikh wal mansukh, fiqh, hadits, dan lainnya yang dibutuhkan dalam menafsirkan. Adapun adab yang harus dimiliki seorang mufassir adalah sebagai berikut :

1. Niatnya harus bagus, hanya untuk mencari keridloan Allah semata. Karena seluruh amalan tergantung dari niatannya (lihat hadist Umar bin Khottob tentang niat yang diriwayatkan oleh bukhori dan muslim diawal kitabnya dan dinukil oleh Imam Nawawy dalam buku Arbain nya). 2. Berakhlak mulia, agar ilmunya bermanfaat dan dapat dicontoh oleh orang lain 3. Mengamalkan ilmunya, karena dengan merealisasikan apa yang dimilikinya akan mendapatkan penerimaan yang lebih baik. 4. Hati-hati dalam menukil sesuatu, tidak menulis atau berbicara kecuali setelah menelitinya terlebih dahulu kebenarannya. 5. Berani dalam menyuarakan kebenaran dimana dan kapanpun dia berada. 6. Tenang dan tidak tergesa-gesa terhadap sesuatu. Baik dalam penulisan maupun dalam penyampaian. Dengan menggunakan metode yang sistematis dalam menafsirkan suatu ayat. Memulai dari asbabunnuzul, makna kalimat, menerangkan susunan kata dengan melihat dari sudut balagho, kemudian menerangkan maksud ayat secara global dan diakhiri dengan mengistimbat hukum atau faedah yang ada pada ayat tersebut.

CONTOH KITAB TAFSIR DAN METODOLOGI PENULISANNYA Nama Kitab : atau yang lebih dikenal dengan tafsir al-Tabary. Pengarangnya : Abu Jafar Muhammad bin Jarir At-Thobary (224 310 H) Jumlah jilid : 12 jilid besar. Keistimewaannya : Tafsir ini merupakan referensi bagi para mufassirin terutama penafsiran binnaqli/biiriwayah. Tafsir bil aqli karena istinbath

hukum, penjabaran berbagai pendapat dengan dan mengupasnya secara detail disertai analisa yang tajam. Ia merupakan tafsir tertua dan terbagus. Metodologi Penulisannya: Penulis menafsirkan ayat al-Quran dengan jelas dan ringkas dengan menukil pendapat para sahabat dan tabiin disertai sanadnya. Jikalau dalam ayat tersebut ada dua pendapat atau lebih, di sebutkan satu persatu dengan dalil dan riwayat dari sahabat maupun tabiin yang mendukung dari tiap-tiap pendapat kemudian mentarjih (memilih) diantara pendapat tersebut yang lebih kuat dari segi dalilnya. Beliau juga mengiirob (menyebut harakat akhir), mengistimbat hukum jikalau ayat tersebut berkaitan dengan masalah hukum. Ad-Dawudy dalam bukunya Thobaqah al-Mufassirin mengomentari metode ini dengan ungkapannya: Ibnu jarir telah menyempurnakan tafsirnya dengan menjabarkan tentang hukum-hukum, nasih wal mansuh, menerangkan mufrodat (kata-kata) sekaligus maknanya, menyebutkan perbedaaan ulama tafsir dalam masalah hukum dan tafsir kemudian memilih diantara pendapat yang terkuat, mengirob kata-kata, mengkonter pendapat orang-orang sesat, menulis kisah ,berita dan kejadian hari kiamat dan lain-lainnya yang terkandung didalamnya penuh dengan hikmah dan keajaiban tak terkira kata demi kata, ayat demi ayat dari istiadzah sampai abi jad (akhir ayat). Bahkan jikalau seorang ulama mengaku mengarang sepuluh kitab yang diambil dari tafsir ini, dan setiap kitab mengandung satu disiplin keilmuan dengan keajaiban yang mengagungkan akan diakuinya (karangan tersebut).

2. Tafsir Ibnu Katsir

Nama kitab : lebih dikenal dengan Tafsir Ibnu Katsir. Jumlah jilid : 4 Jilid

Nama penulis : Imaduddin Abul Fida Ismail bin Amr bin Katsir (w 774 H) Keutamaanya : Merupakan tafsir terpopuler setelah tafsir At-Thobary dengan metode bil matsur.

Metodologi penulisannya: Penulis sangat teliti dalam mentafsirkan ayat-ayat al-Quran dengan menukil perkataan para salafus sholeh. Ia menafsirkan ayat dengan ibarat yang jelas dan mudah dipahami. Menerangkan ayat dengan ayat yang lainnya dan membandingkannya agar lebih jelas maknanya. Beliau juga menyebutkan hadits-hadits yang berhubungan dengan ayat tersebut dilanjutkan dengan penafsiran para sahabat dan para tabiin. Beliau juga sering mentarjih diantara beberapa pendapat yang berbeda, juga mengomentari riwayat yang shoheh atau yang dhoif(lemah). mengomentari periwayatan isroiliyyat. Dalam menafsirkan ayat-ayat hukum, ia menyebutkan pendapat para Fuqaha (ulama fiqih) dengan mendiskusikan dalil-dalilnya, walaupun tidak secara panjang lebar. Imam Suyuthy dan Zarqoni menyanjung tafsir ini dengan berkomentar ; Sesungguhnya belum ada ulama yang mengarang dalam metode seperti ini .

3. Tafsir Al-Qurtuby Nama kitab : Jumlah jilid : 11 jilid dengan daftar isinya. Nama penulisnya : Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Qurtuby (w 671 H).

Keutamaanya : Ibnu Farhun berkata, tafsir yang paling bagus dan paling banyak manfaatnya, membuang kisah dan sejarah, diganti dengan hukum dan istimbat dalil, serta menerangkan Irob, qiroat, nasikh dan mansukh. Metode penulisannya : Penulis terkenal dengan gaya penulisan ulama fiqih., dengan menukil tafsir dan hukum dari para ulama salaf dengan menyebutkan pendapatnya masing-masing. Dan membahas suatu permasalahan fiqhiyah dengan mendetil. Membuang kisah dan sejarah, diganti dengan hukum dan istimbat dalil, juga Irob, qiroat, nasikh dan mansukh. Beliau tidak taassub (panatik) dengan mazhabnya yaitu mazhab Maliki.

4. Tafsir Syinqithy Nama kitab : Jumlah jilid : 9 jilid. Nama penulisnya : Muhammad Amin al-Mukhtar As-Syinqithy
Metodologi penulisannya:

Menekankan penafsiran bil-matsur dengan dilengkafi qiraah as-sabah dan qiroah syadz (lemah) untuk istisyhad (pelengkap). Menerangkan masalah fiqih dengan terperinci, dengan menyebut pendapat disertai dalil-dalilnya dan mentarjih berdasarkan dalil yang kuat. Pembahasan masalah bahasa dan usul fiqih. Beliau wafat dan belum sempat menyelesaikan tafsirnya yang kemudian dilengkapi oleh murid sekaligus menantunya yaitu Syekh Athiyah Muhammad Salim. Refrensi:

1 Adz-Dzahabi, at-Tafsir wa al-Mufassirun 1/13, Manna al-Qattan, Mabaahits fi Ulumi al-Quran hal : 323. 2 Abdul Hamid al-Bilaly, al-Mukhtashar al-Mashun min Kitab al-Tafsir wa al-Mufashirun, (Kuwait: Daar al-Dakwah, 1405) hal. 8 3 Marfu adalah perkataaan atau perbuatan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad 4 Mauquf adalah perkataan atau perbuatan yang disandarkan kepada para shohabat 5 majmu fatawa syaikhul Islam ibnu taimiyah 13/370 dan buku mabahits fi ulumul al-quran ole mann al-qotton hal ; 340-342

Ibn Abbas Post by admin on Mar 18, 2005, 6:34am Riwayat Hidupnya Ia adalah Abdullah bin Abbas bin Abdul Muttalib bin Hasyim bin Abdi Manaf al-Quraisyi alHasyimi, putra paman Rasulullah. Ibunya bernama Ummul Fadl Lubanah binti al-Haris alHilaliyah. Ia dilahirkan ketika Bani Hasyim berada di Syi'b, tiga atau lima tahun sebelum hijrah; namun pendapat pertama lebih kuat. Abdullah bin Abbas menunaikan ibadah haji pada tahun Usman terbunuh, atas perintah Usman. ketika terjadi perang Siffin ia berada di al-Maisarah, kemudian diangkat menjadi gubernur Basrah dan selanjutnya menetap di sana sampai Ali terbunuh. Kemudian ia mengangkat Abdullah bin al-Haris, sebagai penggantinya, menjadi gubernur Basrah, sedang ia sendiri pulang ke Hijaz. Ia wafat di Taif pada 65 H. Pendapat lain mengatakan, pada 67. Namun pendapat terakhir inilah yang sahih oleh jumur ulama. Al-Waqidi menerangkan, tidak ada selisih pendapat di antara para imam bahwa Ibn Abbas dilahirkan di Syi'b ketika kaum Quraisy memboikot Bani Hasyim, dan ketika Nabi wafat ia baru berusia tiga belas tahun. Kedudukannya dan Keilmuannya Ibn Abbas dikenal dengan julukan Turjumanul Qur'an (juru tafsir Qur'an), Habrul Ummah (tokoh ulama umat) dan Ra'isul Mufassirin (pemimpin para mufasir). Baihaqi dalam adDala'il meriwayatkan dari Ibn Mas'ud yang mengatakan: "Juru tafsir Qur'an paling baik adalah Ibn Abbas". Abu Nu'aim meriwayatkan keterangan dari Mujahid, "Adalah Ibn Abbas dijuluki orang dengan al-Bahr (lautan) karena banyak dan luas ilmunya". Ibn Sa'ad meriwayatkan pula dengan sanad sahih dari Yahya bin Sa'id al-Ansari: Ketika Zaid bin Sabit

wafat Abu Hurairah berkata: "Orang paling pandai umat ini telah wafat, dan semoga Allah menjadikan Ibn Abbas sebagai penggantinya." Dalam usia muda, Ibn Abbas telah memperoleh kedudukan istimewa di kalangan para pembesar sahabat mengingat ilmu dan ketajaman pemahamannya, sebagai realisasi doa Rasulullah kepadanya. Dalam sebuah hadis berasal dari Ibn Abbas menjelaskan: "Nabi pernah merangkulnya dan mendoakan, 'Ya Allah, ajarkanlah kepadanya hikmah." Dalam Mu'jam al-Bagawi dan lainnnya, dari Umar, "Bahwa Umar mendekati Ibn Abbas dan berkata, sungguh saya pernah melihat Rasulullah mendoakanmu, lalu membelai kepalamu, meludahi mulutmu dan berdoa, "Ya Allah, berilah ia pemahaman dalam urusan agama dan ajarkanlah kepadanya ta'wil." Bukhari, melalui sanad Sa'id bin Jubair, meriwayatkan dari Ibn Abbas, ia menceritakan: Umar mengikutsertakan saya ke dalam kelompok tokoh-tokoh tua perang Badar. Nampaknya sebagian mereka merasa tidak senang lalu berkata, "Kenapa anak ini diikutsertakan ke dalam kelompok kami pada hal kami pun mempunyai anak-anak yang sepadan dengannya?" Umar menjawab, "Ia memang seperti yang kamu ketahui." Pada suatu hari Umar memanggil mereka dan memasukkan saya bergabung dengan mereka. Saya yakin, Umar memanggilku agar bergabung itu semata-mata hanya untuk "memperlihatkan" saya kepada mereka. Ia berkata, "Bagaimana pendapat tuan-tuan mengenai firman Allah, Apabila telah datang kemenangan (an-Nasr 110:1) ? Sebagian mereka menjawab, "Kita diperintah untuk memuji Allah dan memohon ampunan kepada Nya ketika Ia memberikan pertolongan dan kemenangan kepada kita." Sedang yang lain bungkam, tidak berkata apa-apa. Lalu ia bertanya kepadaku, "Begitukah pendapatmu, hai Ibn Abbas?" "Tidak" jawabku. "Lalu bagaimana menurutmu?" tanyanya lebih lanjut, "Ayat itu" jawabku "adalah pertanda ajal Rasulullah yang diberitaukan Allah kepadanya. Ia berfirman "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan ia adalah pertanda ajalmu (Muhammad), maka bertasbihlah memuji Tuhanmu dan mohon ampunlah kepadaNya. Sesungguhnya Ia Maha Penerima taubat." Umar berkata, "Aku tidak mengetahui maksud ayat iut kecuali apa yang kamu katakan." Tafsirnya Riwayat dari Ibn Abbas mengenai tafsir tidak terhitung banyaknya, dan apa yang dinukil darinya itu telah dihimpun dalam sebuah kitab tafsir ringkas yang campur aduk yang diberi nama Tafsir Ibn Abbas. Di dalamnya terdapat bermacam-macam riwayat dan sanad yang berbeda-beda, tetapi sanad paling baik adalah yang melalui Ali bin Abi Talhah al-Hasyimi, dari Aibn Abbas; sanad ini dipedomni oleh Bukhari dalam kitab Sahihnya. Sedangkan sanad yang cukup baik, jayyid, ialah yang melalui Qais bin Muslim al-Kufi, dari 'Ata' bin as-Sa'ib. Di dalam kitab-kitab tafsir besar yang mereka sandarkan kepada Ibn Abbas terdapat kerancuan sanad. Sanad paling rancu melalui al-Kalbi dari Abu Salih. Al-Kalbi adalah Abun Nasr Muhammad bin as-Sa'ib (w. 146 H). Dan jika dengan sanad ini digabungkan riwayat Muhammad bin Marwan as-Sadi as-Sagir, maka hal ini akan merupakan Silsilatul kazib, mata rantai kedustaan. Demikian juga sanad Muqatil bin Sulaiman bin Bisyr al-Azdi. Hanya saja al-Kalbi lebih baik daripadanya karena pada diri Muqatil terdapat berbagai mazhab atau paham yang rendah.

Sementara itu sanad ad-Dahhak bin Muzahim al-Kufi, dari Ibn Abbas adalah Munqati', terputus, karena ad-Dahhak tidak bertemu langsung dengan Ibn Abbas. Apabila digabungkan kepadanya riwayat Bisyr bin 'Imarah maka riwayat ini tetap lemah karena Bisyr adalah lemah. Dan jika sanad itu melalui riwayat Juwaibir, dari ad-Dahhak, maka riwayat tersebut sangat lemah karena Juwaibir sangat lemah dan ditinggalkan riwayatnya. Sanad melalui al-'Aufi, dan seterusnya dari Ibn Abbas, banyak dipergunakan oleh Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim, pada hal al-'Aufi itu seorang yang lemah meskipun lemahnya tidak keterlaluan dan bahkan terkadang dinilai hasan oleh Tirmizi. Dari penjelasan tersbut boleh diselidiki jalan periwayatan tafsir Ibn Abbas dan mengetahui mana jalan yang cukup baik dan diterima, serta mana pula jalan yang lemah atau ditinggalkan, sebab tidak setiap apa yang diriwayatkan dari Ibn Abbas itu sahid dan pasti.

rujukan dari Manna' Khalil al-Qattan Ahli Tafsir Golongan Sahabat - Document Transcript 1. Ahli Tafsir Golongan Sahabat Beberapa ahli tafsir yang memiliki kemampuan baik dan cukup berpengaruh dalam perkembangan ilmu tafsir. Imam Suyuthy dalam kitabnya Al-Itqan mengatakan: Kalangan sahabat yang popular dengan tafsir ada sepuluh; khalifah yang empat (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali), Ibnu Masud, Ibnu Abbas, Ubay Ibnu Kaab, Zaid Ibnu Tsabit, Abu Musa Al-Asyari dan Abdullah bin Zubair. Dan dari kalangan khalifah empat yang paling banyak dikenal riwayatnya tentang tafsir adalah Ali bin Abi Thalib r.a. sedang dari tiga khalifah yang lain hanya sedikit sekali, karena mereka lebih terdahulu wafatnya. Sebab sedikitnya riwayat dari ketiga orang sahabat yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman, dapat ditinjau kembali dari pendapat As- Suyuthy, yaitu karena pendeknya masa pemerintahan mereka disamping mereka meninggal lebih dahulu. Dari segi yang lain karena mereka bertiga hidup pada suatu masa dimana kebanyakan penduduk mengetahui dan pandai tentang Kitabullah, sebab mereka selalu mendampingi Rasulullah SAW. Karenanya, mereka mengerti dasar rahasia-rahasia penurunan, lagi pula mengetahui makna dan hukum- hukum yang terkandung dalam ayatnya. Sedang Ali r.a. hidup berkuasa setelah khalifah yang ketiga, yaitu pada masa dimana daerah Islam telah meluas. Banyak orang-orang luar Arab yang memeluk Islam sebagai agama baru. Generasi keturunan shahabat banyak yang merasa perlu untuk mempelajari Al-Quran serta memahami rahasia-rahasia dan hikmah-hikmahnya. Karena itu wajarlah riwayat daripadanya begitu banyak melebihi riwayat yang dinukil dari tiga khalifah lainnya. Berikut ini kami akan membicarakan sedikit terperinci tentang kalangan sahabat yang terkenal dengan tafsir Al-Qurannya. Abdullah Ibnu Abbas Abdullah Ibnu Abbas adalah orang yang ternama dikalangan ummat Islam. Ia adalah anak saudara Rasulullah SAW, yang pernah didoakan oleh Nabi Muhammad SAW, dengan kata-kata: Ya Allah berilah pemahaman tentang urusan agama dan berilah ilmu kepadanya lentang tawil. Ia dikenal sebagai ahli bahasa/penterjemah Al-Quran. Ibnu Masud berkata: Penterjemah Al-Quran yang paling baik adalah Abdullah bin Abbas. Dia adalah sahabat yang paling pandai/tahu tentang tafsir Al-Quran. Pada waktu beliau masih berusia muda, para pemuka sahabat mereka telah menyaksikan kebolehannya bahkan ia dapat menandingi mereka

pula dapat menggugah keajaiban mereka dengan usianya yang sangal muda. Umar r.a. pernah mengikutsertakan Abdullah dalam Majlis Permusyawaratan bersama-sama dengan tokoh- tokoh Sahabat untuk bermusyawarah. Ia seringkali disodori permasalahan. Karena Umar menampilkan Ibnu Abbas maka agak sedikit mengundang perdebatan dikalangan sahabat. Diantara mereka ada yang mengatakan Kenapa anak kecil ini dimasukkan bersama-sama kita. Kami punya anak yang lebih besar/tua umurnya dibanding dengan dia. Dia mempunyai biografi yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya yang menunjukkan kebolehan ilmunya dan kedudukannya yang tinggi dalam hal penggalian secara mendalam tentang rahasiarahasia Al-Quran sebagai berikut: Riwayat Al-Bukhari Al-Bukhari meriwayatkan dari Said ibnu Jabir, dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata: Umar membawaku bersama tokoh-tokoh perang Badar. Dikalangan mereka ada yang bertanya dalam dirinya, lalu mengemukakan pendapat; Kenapa anak ini diikutsertakan bersama kami padahal kami sungguh mempunyai anak yang seusia dengannya? Umar menjawab: Dia adalah seorang yang sudah kalian ketahui, ia adalah orang yang terkenal kecerdasannya dan pengetahuannya. Pada suatu ketika, Umar memanggil mereka dan membawaku bersama mereka hanya sekedar diperkenalkan kepada mereka. Tibatiba Umar (memberi kesempatan pada mereka untuk bertanya) berkata: Apakah pendapat sekalian tentang firman Allah: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.(QS. An-Nashr: 1). Sebagian mereka ada yang berpendapat: Kami diperintah menuju Allah dan meminta ampun pada-Nya, tatkala kami dibantu olehNya dan diberi kemenangan. Sebagain mereka yang lain diam seribu bahasa. Umar bertanya kepadaku: Bagaimana dengan pendapatmu (hai Ibnu Abbas). Aku jawab: Tidak benar! Lalu menurut anda bagaimana? Aku menjawab: Persoalannya adalah tentang ajal Rasulullah SAW dimana Allah memberitahukan kepadanya. Ia (Ibnu Abbas) menafsirkan/penaklukan Makkah. Itu adalah suatu tanda tentang ajalmu (hai Muhammad) karena itu bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan istighfarlah (mohon ampun) kepada-Nya. Sungguh ia adalah Penerima Taubat. Seraya Umar berkata: Demi Allah, saya tidak mengetahui kandungannya sebelum engkau jelaskan. Kisah tersebut menyatakan begitu hebatnya daya kemampuan pemahaman serta pendapat Ibnu Abbas dalam menyimpulkan petunjuk Al-Quran yang tidak dapat diketahui kecuali oleh orang-orang yang mendalam ilmu pengetahuannya. Tidaklah aneh kalau Ibnu Abbas menempati kedudukan yang tinggi dalam memahami rahasia kandungan Al-Quran karena Rasul telah mendoakannya agar dia diberi pemahaman dan pendalaman dalam urusan Agama sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas sendiri dimana ia berkata: Rasul menyekapku seraya beliau bersabda: "Ya Allah berilah ia pemahaman dalam urusan Agama dan berilah ia pengetahuan tentang tawil". Dalam riwayat lain: Ya Allah berilah ia pengetahuan tentang hikmah pengetahuan yang sungguh mendalam. 2. Ibnu Abbas dikenal dengan sebutan lautan karena begitu luas ilmunya. Diriwayatkan bahwa salah seorang datang kepada Abdullah bin Umar, ia menanyakan tentang langit dan bumi semula bersatu kemudian keduanya kami belah. Ibnu Umar menjawab: Datanglah kepada Ibnu Abbas dan tanyakanlah kepadanya. Setelah anda tanyakan, kembali lagi dan jelaskan kepadaku". Orang tersebut pergi bertanya kepada Ibnu Abbas dan ia memberikan jawaban: Langit bersatu (ratqan) maksudnya tidak turun hujan, dan yang dimaksud dengan bumi ratqan tidak tumbuh tanaman/gersang, kemudian Ia (Allah) menurunkan hujan dan menumbuhkan tanaman-tanaman. Setelah itu orang tersebut kembali kepada Ibnu Umar untuk memberitahukan hasilnya, seraya berkata: Aku dulu telah mengatakan dengan geleng kepala karena keberanian Ibnu Abbas dalam hal menafsirkan Al-Quran, sekarang aku telah

mengetahui benar bahwa ia telah dikaruniai ilmu. Diriwayatkan pula bahwa Umar ibnu Khattab pada suatu ketika bertanya kepada Sahabat-sahabat Nabi: Siapa yang menjadi sebab turunnya ayat di bawah ini, menurut pendapat kalian? Seraya Umar membacakan ayat: Apakah ada salah seorang diantaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur...... (QS. Al-Baqarah: 66) Mereka menjawab: "Allah Yang Maha Tahu". Umar marah seraya berkata: "Jawab! Tahu atau tidak!" Ibnu Abbas menjawab: "Ada sedikit yang tergores dalam hatiku". Umar berkata: Hai anak saudaraku, katakanlah dan janganlah anda merasa minder/rendah diri. Ibnu Abbas berkata: ayat itu dijadikan suatu contoh perbuatan. Umar berkata: Perbuatan apa?. Ibnu Abbas menjawab: Seorang yang kaya lagi taat kepada Allah, ia didatangi oleh syaitan, dan terperdaya untuk melakukan maksiat sehingga amal perbuatannya tenggelam (HR. Al-Bukhari). Semuanya itu berikut dengan contoh-contohnya adalah menyatakan tentang keistimewaan ilmu pengetahuan Ibnu Abbas dan pemahamannya yang begitu luas sejak beliau berusia muda. Oleh karena itu ia tergolong dalam barisan tokoh pembesar Sahabat, ia sebagai pemuka umat yang sangat pandai dengan disaksikan oleh kalangan Sahabat itu sendiri. Guru-guru Ibnu Abbas Diantara Guruguru besar yang mengajar ilmu kepada Ibnu Abbas selain Rasulullah SAW, yang mempunyai pengaruh yang menonjol terhadap daya pikiran dan kebudayaannya, antara lain 1. Umar Ibnu Khattab 2. Ubay ibnu Kaab 3. Ali Ibnu Abi Thalib 4. Zaid Ibnu Tsabit. Kelima orang tersebut adalah guru-gurunya yang tetap. Dari merekalah hampir semua ilmu dan budayanya didapat. Mereka sangat berpengaruh dalam mengarahkan Ibnu Abbas kepada masalah ilmu pengetahuan yang sangat mendalam. Murid-murid Ibnu Abbas Banyak dari kalangan Tabiin yang mempelajari ilmu pengetahuan dari Ibnu Abbas. Diantara mereka yang paling terkenal adalah muridmuridnya yang menukil tafsir dan ilmunya yang melimpah ruah iaitu: 1. Said Ibnu Jubair 2. Mujahid ibnu Jabar Al-Khazramy 3. Thawus ibnu Kysan Al-Yamany 4. Ikrimah Maula (hamba) yang dimerdekakan oleh Ibnu Abbas 5. Atha ibnu Abi Rabbah. Mereka itu adalah murid-murid yang paling terkenal dimana mereka memindahkan lembaga ilmiah, buah pena Ibnu Abbas ke dalam tafsir yang sampai pada kita sekarang. Abdullah Ibnu Mas'ud Sahabat lain yang terkenal sebagai ahli tafsir dan menukilkan atsar (hadits) Rasul kepada kita ialah Abdullah ibnu Masud r.a. Ia adalah salah seorang yang pertama untuk Islam. Usia beliau pada waktu itu enam tahun, dimana belum ada di muka bumi ini seorang anak yang masuk Islam selain dia. Ia adalah seorang pembantu Rasulullah SAW, sering memakaikan sandalnya dan sarung, pergi bersama- sama beliau sebagai penunjuk jalan. Dari segi hubungan kenabian ia adalah seorang yang sangat baik lagi pula terdidik. Karena pertimbangan itulah sahabat lain memandangnya sebagai seorang sahabat yang lebih banyak mengetahui bidang Kitabullah Al-Quran, mengetahui tentang muhkam dan mutasyabih, halal dan haram. As-Suyuthy mengatakan: Yang diriwayatkan dari Ibnu Masud tentang tafsir adalah lebih banyak daripada yang diriwayatan dari Ali........ Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Masud: "Demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya. tidak ada satu suratpun yang diturunkan oleh Allah yang tidak saya ketahui di mana turunnya. Tidak ada satu ayat Al-Quran pun yang tidak saya ketahui dalam hal kenapa diturunkannya. Kalau aku tahu ada seorang yang lebih tahu dariku tentang Kitab Allah dan bisa ditempuh dengan kendaraan unta, niscaya akan kudatangi rumahnya.....". Diriwayatkan oleh para Tabiin daripadanya