Anda di halaman 1dari 4

Pengukuran Beban Kerja Mental Objektif

Pengukuran Denyut Jantung Salah satu proxy-data yang populer untuk mengetahui beban kerja mental adalah denyut jantung. Cara ini operasionalnya sangat mudah, karena denyut jantung relatif mudah diukur. Kompleks QRS dasar (basic QRS complex) merupakan sinyal biologis yang besar, dan terdapat noise listrik kecil yang berdenyut. Waktu antar denyut diperhitungkan sebagai interval antar denyut dan dapat dikonversikan kedalam denyut per menit. Secara umum peningkatan denyut jantung berkaitan dengan meningkatnya level pembebanan kerja. Dengan menggunakan analisis spektral, beberapa peneliti menemukan 3 komponen variabilitas denyut jantung yang berkaitan dengan mekanisme pengendalian biologis. Yang terendah, berkisar antara 0,03-0,06 Hz berhubungan dengan mekanisme pengaturan temperatur. Komponen tengah, mendekati 0,070,14 Hz dipercaya berasosiasi dengan pengaturan tekanan darah. Sementara yang ketiga 0,15-0,5 Hz berkesesuaian dengan efek respirasi. Komponen tengah menunjukan variasi yang berkaitan erat dengan pembebanan kerja mental dari suatu pekerjaan, kekuatan komponen ini berkurang dengan meningkatnya beban kejra yang berarti variabilitas denyut jantung berkurang pada level pembebanan yang tinggi (Karhiwikarta, 1996: 2). Pengukuran Waktu Kedipan Proxy-data lain yang berkorelasi dengan tingkat beban kerja mental adalah frekuensi kedipan mata. Secara embriologi, matamerupakan perpanjangan otak dalam melaksankan banyak pemprosesan informasi visual sebelum mencpai otak (Remson dan Clark, 1959). Sejumlah variabel yang berkaitan dengan mata merupakan kandidat untuk pengukuran beban kerja, termasuk pergerakan mata, ukuran pupil, elektroretinogram dan kedipan mata. Pengukuran kedipan mata menjanjikan hasil yang memuaskan. Dari penelitian di Laboratorium, mendemonstrasikan bahwa pekerjaan yang membutuhkan atensi, terutama atensi visual, berasosiasi dengan kedipan lebih sedikit dan durasi kedipan yang lebih pendek (Karhiwikarta, 1996: 2). Pengukuran dengan Metode Lain
Alat ukur Fliker merupakan salah satu alat ukur objektif yang banyak dimanfaatkan saat ini. Alat ini dapat menunjukan perbedaan performansi mata manusia, melalui perbedaan nilai fliker dari tiap individu. Perbedaan nilai

fliker ini umumnya sangat dipengaruhi oleh berat/ringannya pekerjaan, khususnya yang berhubungan dengan kerja mata. Beberapa alat ukur lain dapat pula dimanfaatkan dalam menilai beban kerja psikologis. Alat-alat ukur ini sebenarnya merupakan ukuran performansi kerja operator. Ukuran-ukuran ini antara lain adalah jumlah kesalahan (error) maupun perubahan laju hasil kerja (work rate) (Karhiwikarta, 1996: 3).

Rating Scale
Pada metoda ini dari berbagai literatur disarankan 10 indikator berbeda yang diusulkan untuk diteliti pengaruhnya terhadap beban kerja mental. Kesepuluh indikator tersebut adalah : Beban Kerja Keseluruhan (OW), Kesulitan Kerja (TD), Tekanan Waktu (TP), Performansi Pribadi (OP), Usaha Fisik (PE), Usaha Mental (ME), Frustasi (FR), Stres (ST), Kelelahan (FA), dan Tipe Aktivitas (AT). Faktor-faktor seperti kesulitan dan kompleksitas pekerjaan, stres, dan usaha mental, akan mempengaruhi beban kerja. Faktor lain seperti tekanan waktu, kelelahan, usaha fisik dan performansi pribadi, akan saling mempengaruhi untuk suatu kondisi penelitian. Karena tiap individu memiliki perbedaan dalam menentukan kombinasi faktor yang paling mewakili konsep beban kerja, maka ditentukan bahwa : Tekanan Waktu (TP) merupakan variabel yang paling penting, diikuti oleh Frustasi (FR), Stres (ST), Usaha Mental (ME), dan Kesulitan Kerja (TD). Usaha Fisik (PE) adalah variabel yang paling tidak penting (Karhiwikarta, 1996: 4). Informasi dapat diperoleh dari pengukuran bebean kerja mental secara subyektif mencakup (Karhiwikarta, 1996: 4): 1. Sensitivitas indikator terhadap tugas yang berbeda 2. Sensitivitas indikator terhadap perhitungan eksperimental 3. Hubungan dengan rating OW secara subjektif 4. Kepentingan subyektif untuk memperkirakan beban kerja Pembuatan Rating Scale Beban Kerja Setelah indikator beban kerja mental ditetapkan, selanjutnya perlu dijelaskan skala penilaian tinggi-rendah setiap indikator. Beberapa hal penting dalam pembuatan skala untuk penelitian dan evaluasi subyektif terhadap beban kerja mental (Karhiwikarta, 1996: 5): 1. Definisi indikator, setiap indikator beban kerja mental dapat berbeda untuk tiap jenis pekerjaan 2. Rating faktor-faktor komponen lebih merupakan hasil diagnostik 3. Definisi beban kerja suatu pekerjaan, bersifat subyektif per individu pekerja

Indikator Beban Kerja Mental yang Berpengaruh terhadap Tugas Dari berbagai penelitian para ahli ditemukan bahwa Kesulitan Kerja (TD), Tekanan Waktu (TP), dan Tipe Aktivitas (AT) berpengaruh signifikan terhadap beban kerja mental. Dan hanya skala Kesulitan Kerja (TD) dan Tekanan Waktu (TP) yang menghasilkan informasi signifikan mengenai beban kerja. Kesulitan Kerja (TD) dibagi menjadi dua sub skala, yaitu mental dan fisikal, untuk mengidentifikasi sumber-sumber spesifik di dalam maupun diantara tugas. Tiga faktor, yaitu PD, MD, dan Kesulitan Kerja (TD) adalah yang paling penting dapat digunakan untuk menghitung perbedaan beban kerja dalam aktivitas yang lebih luas, karena tidak terlalu banyak membutuhkan informasi mengenai operator dan kerja operator (Karhiwikarta, 1996: 6). Kesulitan Tugas (Task Difficulty) Menghasilkan informasi mengenai persepsi subjek terhadap tugas yang dilakukan. Kesulitan Kerja (TD) cukup relevan untuk membandingkan beban kerja individual. Nilai Kesulitan Kerja (TD) akan dipengaruhi nilai Beban Kerja Keseluruhan (OW) dan faktor lainnya, sehingga sulit digunakan untuk menganalisis beban kerja untuk tugas yang berbeda. Sumber Kesulitan Kerja (TD) untuk tugas yang berbeda ini harus dapat dibedakan apakah secara mental maupun fisikal (Karhiwikarta, 1996: 6). Tekanan Waktu (Time Pressure) TP merupakan yang paling penting dalam perhitungan beban kerja. TP dihitung dengan membandingkan waktu yang dibutuhkan untuk suatu tugas dengan waktu yang tersedia, sehingga menjadi faktor yang paling berpengaruh pada beban kerja. Namun nilai TP (Time Pressure) tidak sensitif dalam penelitian, walaupun cukup berhubungan dengan nilai Beban Kerja Keseluruhan (OW). TP (Time Pressure) membedakan antar tipe tugas, sehingga TP (Time Pressure) tidak dapat dihitung secara nyata. Namun TP (Time Pressure) berhubungan erat PE, ME, FR, dan ST (variabel subject-related) daripada dengan variabel task-related lainnya (Karhiwikarta, 1996: 6). Tipe Aktivitas (Activity Type) Walaupun Tipe Aktivitas (AT) membedakan kategori tugas, namun hanya sedikit berpengaruh terhadap tingkat beban kerjanya. Aktivitas berdasarkan keterampilan (Skill-based activities)

beban kerja yang rendah tidak berhubungan secara signifikan dengan aktivitas berdasarkan pengetahuan (knowledge-based activities) beban kerja yang tinggi. Tipe Aktivitas (AT) juga tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan nilai Beban Kerja Keseluruhan (OW). Skala ini tidak menunjukan hubungan antara tipe pekerjaan dengan beban kerja (Karhiwikarta, 1996: 4).