Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA SISTEM REPRODUKSI

Disusun Oleh: Kelompok 2C Yohanna Felicia (10060309080) Harry Azhar Fauzi (10060309081) Evi Setiatin Sari Sutisna (10060309082) Arief Supriono (10060309083) Randi (10060309084)

Asisten: Farah Rabina S

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG 2011

SISTEM REPRODUKSI

I.

Tujuan Percobaan Dapat menjelaskan fungsi-fungsi organ yang terlibat dalam sistem reproduksi manusia serta perannya masing-masing. Dapat menjelaskan fungsi sistem reproduksi. Dapat menjelaskan mengapa harus mempelajari siklus estrus.

II.

Teori Dasar Sistem reproduksi adalah suatu rangkaian dan interaksi organ dan zat dalam organisme yang dipergunakan untuk berkembang biak. Siklus reproduksi pada makhluk hidup ada dua macam, siklus estrus dan siklus

menstruasi. Siklus estrus terjadi pada mamalia non primata sedangkan siklus menstruasi terjadi pada hewan primata dan pada manusia. Siklus estrus adalah waktu antara periode estrus. Betina memiliki waktu sekitar 25-40 hari pada estrus pertama. Mencit merupakan poliestrus dan ovulasi terjadi secara spontan. Durasi siklus estrus 4-5 hari dan fase estrus sendiri membutuhkan waktu. Tahapan pada siklus estrus dapat dilihat pada vulva. Fase-fase pada siklus estrus diantaranya adalah estrus, metestrus, diestrus, dan proestrus. Periodeperiode tersebut terjadi dalam satu siklus dan serangkaian, kecuali pada saat fase anestrus yang terjadi pada saat musim kawin. Siklus reproduksi terjadi karena adanya rangsangan dari hormon-hormon tertentu seperti hormon seksual estrogen dan progesteron dan hormon gonadotropin. Siklus

reproduksi akan menghasilkan perubahan pada organ-organ tertentu. Siklus estrus sendiri mempunyai pertanda yang bisa diamati pada apusan vaginanya. Apusan vagina mencit pada dindingnya terjadi perubahan yang dipengaruhi oleh hormone estrogen. Dengan pengamatan pada apusan vagina tersebut, dapat diamati siklus estrus yang terjadi pada mencit.

Sistem reproduksi pria dan wanita

A.Sistem reproduksi pria meliputi organ-organ reproduksi, spermatogenesis dan hormon pada pria.

Organ Reproduksi

Organ reproduksi pria terdiri atas organ reproduksi dalam dan organ reproduksi luar.

Organ Reproduksi Dalam Organ reproduksi dalam pria terdiri atas testis, saluran pengeluaran dan kelenjar asesoris. Testis Testis (gonad jantan) berbentuk oval dan terletak didalam kantung pelir (skrotum). Testis berjumlah sepasang (testes = jamak). Testis terdapat di bagian tubuh sebelah kiri dan kanan. Testis kiri dan kanan dibatasi oleh suatu sekat yang terdiri dari serat jaringan ikat dan otot polos. Fungsi testis secara umum merupakan alat untuk memproduksi sperma dan hormon kelamin jantan yang disebut testoteron. Saluran Pengeluaran Saluran pengeluaran pada organ reproduksi dalam pria terdiri dari epididimis, vas deferens, saluran ejakulasi dan uretra. Epididimis Epididimis merupakan saluran berkelok-kelok di dalam skrotum yang keluar dari testis. Epididimis berjumlah sepasang di sebelah kanan dan kiri. Epididimis berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara sperma sampai sperma menjadi matang dan bergerak menuju vas deferens. Vas deferens Vas deferens atau saluran sperma (duktus deferens) merupakan saluran lurus yang mengarah ke atas dan merupakan lanjutan dari epididimis. Vas deferens tidak menempel pada testis dan ujung salurannya terdapat di dalam kelenjar prostat. Vas deferens berfungsi sebagai saluran

tempat jalannya sperma dari epididimis menuju kantung semen atau kantung mani (vesikula seminalis).

Saluran ejakulasi Saluran ejakulasi merupakan saluran pendek yang menghubungkan kantung semen dengan uretra. Saluran ini berfungsi untuk mengeluarkan sperma agar masuk ke dalam uretra. Uretra Uretra merupakan saluran akhir reproduksi yang terdapat di dalam penis. Uretra berfungsi sebagai saluran kelamin yang berasal dari kantung semen dan saluran untuk membuang urin dari kantung kemih. Kelenjar Asesoris Selama sperma melalui saluran pengeluaran, terjadi penambahan berbagai getah kelamin yang dihasilkan oleh kelenjar asesoris. Getah-getah ini berfungsi untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan pergerakakan sperma. Kelenjar asesoris merupakan kelenjar kelamin yang terdiri dari vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar Cowper.

Vesikula seminalis Vesikula seminalis atau kantung semen (kantung mani) merupakan kelenjar berlekuk-lekuk yang terletak di belakang kantung kemih. Dinding vesikula seminalis menghasilkan zat makanan yang merupakan sumber makanan bagi sperma.

Kelenjar prostat Kelenjar prostat melingkari bagian atas uretra dan terletak di bagian bawah kantung kemih. Kelenjar prostat menghasilkan getah yang mengandung kolesterol, garam dan fosfolipid yang berperan untuk kelangsungan hidup sperma. Kelenjar Cowper Kelenjar Cowper (kelenjar bulbouretra) merupakan kelenjar yang salurannya langsung menuju uretra. Kelenjar Cowper menghasilkan getah yang bersifat alkali (basa). Organ Reproduksi Luar Organ reproduksi luar pria terdiri dari penis dan skrotum. Penis Penis terdiri dari tiga rongga yang berisi jaringan spons. Dua rongga yang terletak di bagian atas berupa jaringan spons korpus kavernosa. Satu rongga lagi berada di bagian bawah yang berupa jaringan spons korpus spongiosum yang membungkus uretra. Uretra pada penis dikelilingi oleh jaringan erektil yang rongga-rongganya banyak mengandung pembuluh darah

dan ujung-ujung saraf perasa. Bila ada suatu rangsangan, rongga tersebut akan terisi penuh oleh darah sehingga penis menjadi tegang dan mengembang (ereksi). Skrotum Skrotum (kantung pelir) merupakan kantung yang di dalamnya berisi testis. Skrotum berjumlah sepasang, yaitu skrotum kanan dan skrotum kiri. Di antara skrotum kanan dan skrotum kiri dibatasi oleh sekat yang berupa jaringan ikat dan otot polos (otot dartos). Otot dartos berfungsi untuk menggerakan skrotum sehingga dapat mengerut dan mengendur. Di dalam skrotum juga tedapat serat-serat otot yang berasal dari penerusan otot lurik dinding perut yang disebut otot kremaster. Otot ini bertindak sebagai pengatur suhu lingkungan testis agar kondisinya stabil. Proses pembentukan sperma (spermatogenesis) membutuhkan suhu yang stabil, yaitu beberapa derajat lebih rendah daripada suhu tubuh. Spermatogenesis Spermatogenesis terjadi di dalam di dalam testis, tepatnya pada tubulus seminiferus. Spermatogenesis mencakup pematangan sel epitel germinal dengan melalui proses pembelahan dan diferensiasi sel, yang mana bertujuan untuk membentu sperma fungsional. Pematangan sel terjadi di tubulus seminiferus yang kemudian disimpan di epididimis. Dinding tubulus seminiferus tersusun dari jaringan ikat dan jaringan epitelium germinal (jaringan epitelium benih) yang berfungsi pada saat spermatogenesis. Pintalan-pintalan tubulus seminiferus terdapat di dalam ruang-ruang testis (lobulus testis). Satu testis umumnya mengandung sekitar 250 lobulus testis. Tubulus seminiferus terdiri dari sejumlah besar sel epitel germinal (sel epitel benih) yang disebut spermatogonia (spermatogonium = tunggal). Spermatogonia terletak di dua sampai tiga lapisan luar sel-sel epitel tubulus seminiferus. Spermatogonia terus-menerus membelah untuk memperbanyak diri, sebagian dari spermatogonia berdiferensiasi melalui tahap-tahap perkembangan tertentu untuk membentuk sperma. Pada tahap pertama spermatogenesis, spermatogonia yang bersifat diploid (2n atau mengandung 23 kromosom berpasangan), berkumpul di tepi membran epitel germinal yang disebut spermatogonia tipe A. Spermatogenia tipe A membelah secara mitosis menjadi spermatogonia tipe B. Kemudian, setelah beberapa kali membelah, sel-sel ini akhirnya menjadi spermatosit primer yang masih bersifat diploid. Setelah melewati beberapa minggu, setiap spermatosit primer membelah secara meiosis membentuk dua buah spermatosit sekunder yang bersifat haploid. Spermatosit sekunder kemudian membelah lagi secara meiosis membentuk empat buah spermatid. Spermatid merupakan calon sperma yang belum memiliki ekor dan bersifat haploid (n atau mengandung 23 kromosom yang tidak

berpasangan). Setiap spermatid akan berdiferensiasi menjadi spermatozoa (sperma). Proses perubahan spermatid menjadi sperma disebut spermiasi.

Ketika spermatid dibentuk pertama kali, spermatid memiliki bentuk seperti sel-sel epitel. Namun, setelah spermatid mulai memanjang menjadi sperma, akan terlihat bentuk yang terdiri dari kepala dan ekor. Kepala sperma terdiri dari sel berinti tebal dengan hanya sedikit sitoplasma. Pada bagian membran permukaan di ujung kepala sperma terdapat selubung tebal yang disebut akrosom. Akrosom mengandung enzim hialuronidase dan proteinase yang berfungsi untuk menembus lapisan pelindung ovum. Pada ekor sperma terdapat badan sperma yang terletak di bagian tengah sperma. Badan sperma banyak mengandung mitokondria yang berfungsi sebagai penghasil energi untuk pergerakan sperma. Semua tahap spermatogenesis terjadi karena adanya pengaruh sel-sel sertoli yang memiliki fungsi khusus untuk menyediakan makanan dan mengatur proses spermatogenesis.

SISTEM REPRODUKSI WANITA

Sistem reproduksi wanita meliputi organ reproduksi, oogenesis, hormon pada wanita, fertilisasi, kehamilan, persalinan dan laktasi.

1.Organ Reproduksi

Organ reproduksi wanita terdiri dari organ reproduksi dalam dan organ reproduksi luar.

Organ reproduksi luar terdiri dari :

1. Vagina merupakan saluran yang menghubungkan organ uterusdengan tubuh bagian luar. Berfungsi sebagai organ kopulasi dan saluran persalinan?keluarnya bayi. Sehingga sering disebut dengan liang peranakan. Di dalam vagina ditemukan selaput dara. 2. Vulva merupakan suatu celah yang terdapat dibagian luar dan terbagi menjadi 2 bagian yaitu : Labium mayor merupakan sepasang bibir besar yang terletak dibagian luas dan membatasi vulva. Labium minor merupakan sepasang bibir kecil yang terletak d bagian dalam dan

membatasi vulva Organ reproduksi dalam terdiri dari : 1. Ovarium merupakan organ utama pada wanita. Berjumlah sepasang dan terletak di dalam tongga perut pada daerah pinggang sebelah kiri dan kanan. Berfungsi untuk menghasilkan sel ovum dan hormone wanita seperti : Estrogen yang berfungsi untuk mempertahankan sifat sekunder pada wanita, serta juga membantu dalam prosers pematangan sel ovum. Progesterone yang berfungsi dalam memelihata masa kehamilan. 1. Fimbriae merupakan serabut/silia lembut yang terdapat di bagian pangkal ovarium berdekatan dengan ujung saluran oviduct. Berfungsi untuk menangkap sel ovum yang telah matang yang dikelurakan oleh ovarium. 2. Infundibulum merupakan bagian ujung oviduct yang berbentuk corong/membesar dan berdekatan dengan fimbriae. Berfungsi menampung sel ovum yang telah ditangkap oleh fimbriae. 3. Tuba fallopi merupakan saluran memanjang setelah infundibulum yang bertugas sebagai tempat fertilisasi dan jalan bagi sel ovum menuju uterus dengan abantuan silia pada dindingnya. 4. Oviduct merupakan saluran panjang kelanjutandari tuba fallopi. Berfungsi sebagai tempat fertilisasi dan jalan bagi sel ovum menuju uterus denga bantuana silia pada dindingnya. 5. Uterus merupakan organ yang berongga dan berotot. Berbentuk sperti buah pir dengan bagian bawah yang mengecil. Berfungsi sebagai tempat pertumbuhan embrio. Tipe uterus pada manusia adalah simpleks yaitu dengan satu ruangan yang hanya untuk satu janin. Uterus mempunyai 3 macam lapisan dinding yaitu : Perimetrium yaitu lapisan yang terluar yang berfungsi sebagai pelindung uterus.

Miometrium yaitu lapisan yang kaya akan sel otot dan berfungsi untuk kontraksi dan relaksasi uterus dengan melebar dan kembali ke bentuk semula setiap bulannya. Endometrium merupakan lapisan terdalam yang kaya akan sel darah merah. Bila tidak terjadi pembuahanmaka dinding endometrium inilah yang akan meluruh bersamaan dengan sel ovum matang. 1. Cervix merupakan bagian dasar dari uterus yang bentuknya menyempit sehingga disebut juga sebagai leher rahim. Menghubungkan uterus dengan saluran vagina dan sebagai jalan keluarnya janin dari uterus menuju saluran vagina. 2. Saluran vagina merupakan saluran lanjutan dari cervic dan sampai pada vagina. 3. Klitoris merupakan tonjolan kecil yangt erletak di depan vulva. Sering disebut dengan klentit.

Daur Pembiakan Sistem reproduksi betina mengalami suatu daur, yang berulang secara berkala dan teratur. Lama daur pembiakan itu tergantung pada beberapa jenis manusia. Ada yang beberapa hari, ada yang beberapa minggu, ada pula yang setahun. Primata sekitar sebulan. Orang rata-rata 28 hari. Mamalia yang hidup bebas, seperti kucing, anjing, harimau, rusa, sekali tetahun saja melakukan pembiakan, disebut musim pembiakan. Tapi kalau sudah jadi hewan secara turun-temurun, musim pembiakan tidak jelas lagi sekali setahun, bisa 2 - 3 kali setahun. Kecuali primata, pada umumnya jantan mamalia menyesuaikan diri dengan daur pembiakan pada betina. Daur pembiakan asal-usulnya menyesuaikan diri dengan suasana ekologis (iklim, musim, musuh, gejala astronomis). Burung daerah dingin bertelur di awal musim semi atau musim panas. Hewan laut banyak bertelur ketika air pasang atau sedang bulan purnama. Meningkatnya suhu serta pancaran cahaya matahari dikira menimbulkan reaksi fisiologis berantai dalam tubuh hewan sehingga mendorong mereka untuk menghasilkan dan mengeluarkan telur. Lewat retina atau suatu indara penerima stimulus suhu dan cahaya, sehingga merangsang hypothalamus otak dan hypophysis, maka digetahkan hormon gonadotropin. Daftar berikut memperlihatkan lama suatu daur pembiakan pada mamalia : Tabel 2.1 : Lama Satu Pembiakan pada Mamalia Spesies Mencit dan tikus Lama satu daur 5 hari

Marmot Sapi, kucing, dan anjing Orang dan kera Simpanse

15 hari 21 hari 28 hari 35 hari

Pada mamalia, (tak kentara pada primata) ada rasa membiak (birahi) yang datang secara berkala bagi betinanya, disebut estrus (oestrus). Karena itu pada kelompok hewan demikian daur pembiakan sama atau serentak dengan daur estrus. Daur estrus adalah suatu peristiwa antara dua kejadian estrus. Seluruh bagian sistem reproduksi mengalami perubahan berkala dalam daur itu. Prinsipnya menyesuaikan diri dengan daur yang dialami alat kelamin primer, yakni ovarium. Pada suatu ketika dalam daur itu ovarium menghasilkan banyak estrogen, dan ini mempengaruhi saluran atau kelenjar sekunder. Bahkan juga tabiat atau behaviour tubuh betina itu secara keseluruhan mengalami perubahan berkala, sesuai deengan perubahan produksi estrogen dalam ovarium . Daur daerah genitalia yang mengalaminya: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. daur ovarium daur tuba daur uterus daur cervix daur vagina daur kelenjar susu daur tabia .

2.3

Mencit (Mus musculus) Mencit adalah anggota dari ordo Muridae yang mempunyai ukuran kecil. Hewan ini

Mencit adalah binatang asli Asia, India, dan Eropa Barat. Jenis ini sekarang ditemukan di seluruh dunia karena pengenalan oleh manusia. Tikus ini memiliki zona thermoneutral sempit mamalia apapun sejauh diukur. Sebuah mouse menanggapi penurunan suhu oleh nonshivering thermogenesis, dan dengan kenaikan temperatur lingkungan dengan mengurangi laju metabolik dan meningkatkan vascularization dari telinga. Nonshivering thermogenesis dapat menghasilkan peningkatan tiga kali lipat tingkat metabolisme dasar, dan untuk sebagian besar terjadi pada lemak cokelat. Konsentrasi tertinggi lemak cokelat

ditemukan dalam jaringan subkutan antara scapulae. Lemak coklat juga disebut kelenjar berhibernasi, walaupun mencit tidak berhibernasi.

Gambar mencit (Mus musculus) 2.4 Siklus Estrus pada Mencit Pada setiap siklus yang terjadi pada tubuh mencit, terjadi perubahan-perubahan perilaku yang dipengaruhi oleh hormon yang berpengaruh di dalam tubuhnya. Berikut adalah penggambaran diri mencit pada setiap tahap yang terjadi: 1. Fase Estrus Pada fase estrus yang dalam bahasa latin disebut oestrus yang berarti kegilaan atau gairah. Hipotalamus terstimulasi untuk melepaskan gonadotropin-releasing hormone (GRH). Estrogen menyebabkan pola perilaku kawin pada mencit, gonadotropin menstimulasi pertumbuhan folikel yang dipengaruhi follicle stimulating hormone (FSH) sehingga terjadi ovulasi. Kandungan FSH ini lebih rendah jika dibandingkan dengan kandungan luteinizing hormone (LH) maka jika terjadi coitus dapat dipastikan mencit akan mengalami kehamilan Pada saat estrus biasanya mencit terlihat tidak tenang dan lebih aktif, dengan kata lain mencit berada dalam keadaan mencari perhatian kepada mencit jantan. Fase estrus merupakan periode ketika betina reseptif terhadap jantan dan akan melakukan perkawinan, mencit jantan akan mendekati mencit betina dan akan terjadi kopulasi. Mencit jantan melakukan semacam panggilan ultrasonik dengan jarak gelombang suara 30 kHz 110kHz yang dilakukan sesering mungkin selama masa pedekatan dengan mencit betina, sementara itu mencit betina menghasilkan semacam pheromon yang dihasilkan oleh kelenjar preputial yang diekskresikan melalui urin. Pheromon ini berfungsi untuk menarik perhatian mencit jantan. Mencit dapat mendeteksi pheromon ini karena terdapat organ vomeronasal yang terdapat pada bagian dasar hidungnya Pada tahap ini vagina pada mencit betinapun membengkak dan berwarna merah. Tahap estrus pada mencit terjadi dua tahap yaitu tahap estrus awal dimana folikel sudah matang, sel-sel epitel sudah tidak berinti, dan ukuran uterus pada tahap ini adalah ukuran uterus maksimal, tahap ini terjadi selama 12 jam. Lalu tahap estrus akhir dimana terjadi

ovulasi yang hanya berlangsung selama 18 jam. Jika pada tahap estrus tidak terjadi kopulasi maka tahap tersebut akan berpindah pada tahap matesterus. 2. Fase metestrus Pada tahap metestrus birahi pada mencit mulai berhenti, aktivitasnya mulai tenang, dan mencit betina sudah tidak reseptif pada jantan. Ukuran uterus pada tahap ini adalah ukuran yang paling kecil karena uterus menciut. Pada ovarium korpus luteum dibentuk secara aktif, terdapat sel-sel leukosit yang berfungsi untuk menghancurkan dan memakan sel telur tersebut. Fase ini terjadi selama 6 jam. Pada tahap ini hormon yang terkandung paling banyak adalah hormon progesteron yang dihasilkan oleh korpus leteum . 3. Fase Diestrus Tahap selanjutnya adalah tahap diestrus, tahap ini terjadi selama 2-2,5 hari. Pada tahap ini terbentuk folikel-folikel primer yang belum tumbuh dan beberapa yang mengalami pertumbuhan awal. Hormon yang terkandung dalam ovarium adalah estrogen meski kandungannya sangat sedikit. Fase ini disebut pula fase istirahat karena mencit betina sama sekali tidak tertarik pada mencit jantan. Pada apusan vagina akan terlihat banyak sel epitel berinti dan sel leukosit. Pada uterus terdapat banyak mukus, kelenjar menciut dan tidak aktif, ukuran uterus kecil, dan terdapat banyak lendir . 4. Fase Proestrus Pada fase proestrus ovarium terjadi pertumbuhan folikel dengan cepat menjadi folikel pertumbuhan tua atau disebut juga dengan folikel de Graaf. Pada tahap ini hormon estrogen sudah mulai banyak dan hormon FSH dan LH siap terbentuk. Pada apusan vaginanya akan terlihat sel-sel epitel yang sudah tidak berinti (sel cornified) dan tidak ada lagi leukosit. Sel cornified ini terbentuk akibat adanya pembelahan sel epitel berinti secara mitosis dengan sangat cepat sehingga inti pada sel yang baru belum terbentuk sempuna bahkan belum terbentuk inti dan sel-sel baru ini berada di atas sel epitel yang membelah, sel-sel baru ini disebut juga sel cornified (sel yang menanduk). Sel-sel cornified ini berperan penting pada saat kopulasi karena sel-sel ini membuat vagina pada mencit betina tahan terhadap gesekan penis pada saat kopulasi. Perilaku mencit betina pada tahap ini sudah mulai gelisah namun keinginan untuk kopulasi belum terlalu besar. Fase ini terjadi selama 12 jam. Setelah fase ini berakhir fase selanjutnya adalah fase estrus dan begitu selanjutnya fase akan berulang.

2.5

Siklus Estrus dan Menstruasi Perbedaan antara siklus estreus dan siklus menstruasi adalah: a. Perubahan perilaku, pada siklus estrus terlihat adanya perubahan perilaku pada setiap tahapannya namun pada siklus menstruasi perubahan perilaku tidak terlalu terlihat. b. External Bleeding, atau disebut juga dengan pendarahan keluar. Pada siklus menstruasi pendarahan keluar terjadi akibat adanya arteri spiral yang mengalami konstriksi bersamaan dengan luruhnya endometrium bagian (pars) fungsionalis. Pars basalis tidak meluruh dan permukaannya yang berbatasan pars fungsionalis akan diperbaiki pada fase reparasi, sehingga pars fungsionalis beserta arteri spiral akan utuh kembali. Pada fase estrus tidak terjadi pendarahan keluar karena tidak adanya arteri spiral jadi yang terjadi adalah adanya perobakan endometrium dan sel-sel yang sudah tidak dibutuhkan akan dimakan oleh sel-sel darah putih pada tubuhnya sendiri. Peluruhan sel endometrium ini disebabkan karena adanya pengurangan jumlah hormon progesteron yang dihasilkan oleh korpus leteum. c. Waktu kawin, Pada hewan yang mengalami siklus estrue perkawinan hanya terjadi pada fase estrus saja sedangkan pada primata dan manusia yang mengalami siklus menstruasi perkawinan dapat terjadi kapan saja.

2.6

Hubungan Antara Estrus dan Ovulasi Fase estrus, folikel sudah masak dan tinggal menunggu ovulasi. Pada binatang ada

yang terjadi ovulasi secara spontan, sesudah saatnya telur akan keluar dengan sendirinya. Tidak pasti pada tipe tersebut terjadi ovulasi karena folikel itu gugur sebelum masak, keadaan itu disebut siklus estrus tanpa ovulasi. Tabel 2.2 : Beberapa species hewan yang ovulasinya spontan Species Anjing Waktu Estrus Waktu Ovulasi

5-10 hari pertengahan siklus Pada hari ke 1, atau 2-5 setelah estrus. estrus mulai. 1-2 jam pada fase estrus mulai. 1-2 hari sebelum estrus berakhir atau hari ke 3 dalam estrus.

Marmut Kuda

6-11 jam Rata-rata 5-6 hari

Kambing Babi Tikus

36 jam 1-5 hari 9-20 jam

Pada akhir estrus jam ke 20-36 Pada hari ke 1-3 setelah estrus mulai.

Wanita

Hasrat menerima suami tidak 8-11 jam setelah estrus mulai. tergantung siklus estrus, akan Pada hari ke 12-17 setelah hari tetapi tergantung situasi dan pertama menstruasi. kondisi.

2.7

Siklus Menstruasi Menstruasi merupakan pendarahan pada dinding uterus manusia dan mamalia primata

yang disebabkan oleh perubahan yang mendadak. Istilah siklus menstruasi secara spesifik mengacu pada perubahan yang terjadi dalam uterus. Waktu menstruasi dihitung dari saat kemunduran endometrium pertama ke saat kemunduran endometrium berikut. Siklus menstruasi dapat dibedakan menjadi beberapa tingkat, yaitu sebagai berikut : 1. Reperasi (4-6 hari) Pada tingkat ini terjadi penyembuhan luka akibat pecahnya pembuluh darah di bagian lapisan spongiosa. Luka tertutup lagi oleh epithelium. 2. Proliferasi (7-15 hari) Pada tingkat ini terjadi perbanyakan sel-sel dalam lapisan spongiosa sehingga endometrium mulai tebal lagi dan kelenjar-kelenjar mulai terbentuk lagi dan sudah membuat excret. 3. Sekresi (16-28 hari) Kelenjar di dalam dinding uterus sudah mengeluarkan excret untuk persiapan penempelan blastocyst dan endometrium menjadi tebal. 4. Menstruasi (1-4 hari) Terjadi pendarahan endometrium karena pembuluh darah yang pecah akibat tegangan tinggi karena kadar estrogen dalam darah yang tinggi.

Siklus menstruasi dipengaruhi oleh hormon seks perempuan yaitu esterogen dan progesteron. Hormon-hormon ini menyebabkan perubahan fisiologis pada tubuh perempuan yang dapat dilihat melalui beberapa indikator klinis seperti: perubahan suhu basal, perubahan sekresi lender leher lahim (serviks), perubahan pada serviks, panjangnya siklus menstruasi, indikator minor kesuburan seperti nyeri perut dan perubahan payudara. Pada hari 1 sampai hari ke-14 terjadi pertumbuhan dan perkembangan folikel primer yang dirangsang oleh hormon FSH. Pada seat tersebut sel oosit primer akan membelah dan menghasilkan ovum yang haploid. Saat folikel berkembang menjadi folikel Graaf yang

masak, folikel ini juga menghasilkan hormon estrogen yang merangsang keluarnya LH dari hipofisis. Estrogen yang keluar berfungsi merangsang perbaikan dinding uterus yaitu endometrium yang habis terkelupas waktu menstruasi, selain itu estrogen menghambat pembentukan FSH dan memerintahkan hipofisis menghasilkan LH yang berfungsi merangsang folikel Graaf yang masak untuk mengadakan ovulasi yang terjadi pada hari ke14, waktu di sekitar terjadinya ovulasi disebut fase estrus. LH merangsang folikel yang telah kosong untuk berubah menjadi badan kuning (Corpus Luteum). Badan kuning menghasilkan hormon progesteron yang berfungsi mempertebal lapisan endometrium yang kaya dengan pembuluh darah untuk mempersiapkan datangnya embrio. Periode ini disebut fase luteal, selain itu progesteron juga berfungsi menghambat pembentukan FSH dan LH, akibatnya korpus luteum mengecil dan menghilang, pembentukan progesteron berhenti sehingga pemberian nutrisi kepada endometriam terhenti, endometrium menjadi mengering dan selanjutnya akan terkelupas dan terjadilah perdarahan (menstruasi) pada hari ke-28. Fase ini disebut fase perdarahan atau fase menstruasi. Oleh karena tidak ada progesteron, maka FSH mulai terbentuk lagi dan terjadilan proses oogenesis kembali.

Gambar siklus menstruasi III. Alat dan Bahan Alat: Mikroskop Kaca obyek Pipet tetes

Bahan: IV. Larutan NaCl fisiologis 0,95 Metanol Metilen biru dalam etanol (1:1000)

Hewa percobaan: Tikus betina

Prosedur Percobaan Pembuatan apusan: Dengan pipet yang berisi NaCl fisiologis, vagina tikus dibilas beberapa kali. Dua tetes suspensi cairan vagina ditempatkan secara terpisah di atas kaca obyek. Dibiarkan kering di udara. Difiksasi 3 menit dengan metanol, sisa metanol dibuang. Diwarnai dengan larutan metilen biru selama 3 menit. Dibilas dengan air selama 1 menit. Apusan siap diamati.

V.

Data Pengamatan Pada mikroskop dengan pembesaran 400X

VI.

Gambar anatomi

Gambar organ dalam pada mencit

VII.

Pembahasan

Pada pengamatan yang dilakukan, cairan yang didapat dari vagina tikus menunjukkan adanya sel-sel epitel berinti dan sel-sel tanduknya masih terlihat . Hal ini menunjukkan bahwa tikus sedang berada pada fase metestrus. Pada fase ini terjadi selama 21 jam dan tikus tidak bersedia menerima pejantan. Baru setelah tikus akan mengalami fase estrus ditandai dengan

adanya penumpukan sel-sel bertanduk dan tikus betina siap menerima pejantan.

Pada

manusia

terdapat

pula

siklus

menstruasi,

dengan

fase

sebagai

berikut:

Menstruasi adalah meluruhnya endometrium yang menebal, disertai sedikit darah, yang terjadi setiap bulan setelah pubertas sampai menopause. Siklus menstruasi tersebut diawali pada bagian lobus anterior hipofisis menyekresi follicle-stimulating hormone (FSH), yang mengawali perkembangan folikel di ovarium.

Jika ovum matang, folikel menyekresikan estrogen yang penting untuk pertumbuhan endometrium dan mempersiapkannya untuk menerima ovum yang telah difertilisasi. Pada kondisi ini ovum siap dibuahi oleh spermatozoa. Ketika jumlah estrogen di dalam darah mencapai tingkat yang tinggi, sekresi FSH dicegah tetapi lobus anterior hipofisis mulai mengeluarkan luteinizing hormone (LH). Setelah ovulasi (keluarnya ovum dari folikel), LH mengubah folikel yang ruptur menjadi korpus luteum, yang mengeluarkan hormon progesteron. Pada saat ovum tidak difertilisasi, korpus luteum mulai berdegenerasi, progesteron menurun dan endometrium meluruh. Tingkat progesteron yang rendah menstimulasi hipofisis untuk memproduksi FSH kembali dan siklus akan dimulai lagi. Hal yang terpenting adalah hari pertama menstruasi dihitung sebagai hari pertama siklus menstruasi. Ovulasi biasanya terjadi dalam 14 hari.

VIII. Kesimpulan Setelah melakukan percobaan sistem reproduksi, dapat ditarik kesimpulan berupa: 1. Fertilisasi merupakan suatu proses bertemunya spermatozoa dengan ovum yang matang, dari proses keturunan. tersebut akan berkembang menjadi zigot, berperan dalam pelestarian

2. Tikus betina memiliki siklus estrus sebagai aktivitas seksualnya, dengan siklus sebagai berikut: diawali dengan fase estrus dimana tikus betina siap menerima pejantan, dilanjutkan dengan fase metestrus dan diestrus yang pada kondisi tersebut tikus betina tidak siap menerima pejantan, kemudian terjadi fase proestrus dimana pada masa akhir proestrus tikus betina mulai menerima pejantan, lalu dilanjutkan pada siklus estrus kembali.

3. Pada manusia terjadi siklus menstruasi yaitu diwali dengan hari pertama menstruasi yang dijadikan hari pertama siklus menstruasi, setelah hari ke 14 merupakan waktu ovulasi yaitu keluarnya ovum dari folikel, dengan pengaturan FSH dan LH oleh hipofisis akan membuat ovum siap dibuahi oleh spermatozoa. Jika ovum tidak difertilisasi, maka akan terjadi degenerasi korpus luteum dan endometrium meluruh. Dengan kondisi ini akan kembali pada siklus menstruasi.

IX.

Daftar pustaka Guyton dan Hall. 1996. Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran (EGC): hal 1266 dan 1283. Syaifuddin.1992. Anatomi dan Fisiologi Untuk Perawat Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran (EGC): hal 113-119. Watson, R. 1995. Anatomi dan Fisiologi Untuk Perawat Edisi 10. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran (EGC): hal 415-427.