Anda di halaman 1dari 22

DAMPAK PENERAPAN IAS 41 PADA SEKTOR USAHA BIDANG KEHUTANAN

Sebagaimana diketahui bersama bahwa Standar Laporan Keuangan International (IFRS) akan diadopsi/diperlakukan sepenuhnya oleh IAI pada tahun 2012,untuk itu kita perlu melakukan invetarisasi ataupun mempersiapkan diri dengan adanya adopsi atas standar yang berlaku secara International tersebut

Inventarisasi tersebut antara lain adalah apa apa yang akan berubah dari praktek praktek (standar) yang selama ini sudah biasa kita p pahami dan lakukan dan harus berubah ke hal hal yang baru yang Mungkin belum pernah kita lakukan ataupun jumpai dan mungkin malah berdampak dalam tampilan performance financial yang berdampak lebih lanjut pada kewajiban financial perusahaan
3

Berkenaan hal tersebut berikut akan kami coba paparkan dampak adopsi IFRS khususnya yang berkaitan dengan sektor usaha bidang kehutanan yaitu I.A.S 41 y

Kegiatan Usaha disektor Kehutanan


Gambaran umum Kegiatan usaha disektor kehutanan adalah meliputi usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan alam dan usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan tanaman. Kegiatan pemanfaatan hasil hutan kayu adalah kegiatan untuk memanfaatkan dan mengusahakan hasil hutan kayu dengan tidak merusak lingkungan dan tidak mengurangi fungsi pokok dari hutan itu sendiri

Kegiatan pemanfaatan hasil hutan kayu memiliki karakteristik khusus yang membedakan dengan sektor industri lain yaitu adanya aktivitas pengelolaan transformasi biologis atas tanaman untuk menghasilkan produk yang akan dikonsumsi atau akan diproses lebih lanjut.

Pelaku Usaha disektor kehutanan


3 (tiga) kelompok pelaku usaha
1.

2.

3.

Pelaku usaha pemegang Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Alam atau IUPHHKHA yang dulu lebih dikenal HPH HPH. Pelaku usaha pemegang Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman atau IUPHHK-HT yang dulu lebih dikenal HPHTI. Pengelolaan Hutan oleh BUMN (Perum Perhutani)

Landasan Hukum Pengusahaan


Undang-Undang Republik Indonesia No.41 Tahun 1999 Tgl.30-September-1999 Tentang kehutanan beserta beberapa perubahannya p p y 2. Peraturan Pemerintah No.6 tahun 2007 Tentang Tata Hutan dan Penyusunan rencana Pengelolaan Hutan serta Pemanfaatan Hutan beserta perubahannya. 3. Aturan-aturan teknis lainnya
1.

Bentuk Kegiatan
1.

Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dari hutan alam Perolehan areal melalui lelang Bayar iuran ijin usaha dengan tarif tertentu dan berlaku selama jangka waktu tertentu (55 thn) Status areal dan tegakan adalah milik Negara Pengambilan kayu terbatas baik dalam jumlah,diameter maupun luas tebangan Biaya yang timbul - Biaya perencanaan a.l IHMB - Biaya Pembinaan Hutan - Biaya sosial & lingkungan - Biaya produksi - Kewajiban pada negara (DR,PSDH,PBB,dll) - Masyarakat adat

2. Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman


Mekanismenya agak berbeda yaitu dengan mengajukan I.P.P baru nanti dinilai Biaya dan ijin beda dengan IUPHHK HA ( 90 thn) IUPHHK-HA Tanam dulu baru panen Tanaman asset perusahaan Biaya pemanennan unsur-unsurnya sama kecuali DR tidak dipungut

10

3. Pengelolaan hutan oleh BUMN (Perum Perhutani)


Ditunjuk sebagai pengelola dengan P.P wilayah kerja P.Jawa,P.Muna,Tim Tim Tanaman ada yang asset perusahaan,ada yang belum asset Biaya pemanennan unsur-unsurnya sama kecuali DR tidak dipungut

11

Pedoman Laporan Keuangan Kegiatan Pengusahaan Hutan


Pedoman laporan keuangan dan bentuk laporannya ditetapkan oleh Kementerian Kehutanan yang penyusunannya mengacu pada SAK 32 Dengan keluarnya P.P 6 tahun 2007 dan dicabutnya SAK 32 pedoman laporan diganti menjadi DOLAPKEU-PHP2H
12

PSAK 32
PSAK 32 adalah satu satunya standard akuntansi yang mengatur/menjadi acuan bagaimana laporan keuangan suatu badan usaha yang bergerak di bidang pengusahaan sumber daya alam atau pembangunan hutan disusun (bandingkan dengan kebun,gula,dll,belum/tidak ada standardnya) Standard ini disusun atas dasar tata aturan yang berlaku dalam pengusahaan hutan baik hutan alam ataupun hutan tanaman serta standard-standard lainnya yang berlaku umum. Prinsip dasar Historical Cost PSAK 32 ini bersama dengan PSAK 35 (jasa telekomunikasi) dan PSAK 37(penyelenggran jalan tol) telah ditarik oleh Dewan Standard Akuntansi Keuangan sesuai suratnya No.2139/DSAK/IAI/VII/2009 tanggal 28 Juli 2009.Penarikan ini lebih didorong sebagai upaya untuk meniadakan adanya standard standard akuntansi khusus untuk tiap jenis kegiatan usaha dalam rangka menuju pada standard yang berlaku secara International (IFRS)
13

DOLAP KEU.PHP2H
Dolap keu: pedoman laporan keuangan pengusahaan hutan alam dan hutan tanaman ini diterbitkan oleh Kementerian sebagai tindak lanjut dari terbitnya PP No.6 tahun 2007 sekaligus No 6 sebagai pengganti dengan ditariknya PSAK 32 oleh Dewan Standard Akuntansi Keuangan Dibandingkan dengan PSAK 32,pedoman ini sebenarnya tidak banyak yang berubah khusunya di bidang pengusahaan hutan alam,perubahan lebih banyak pada kegiatan hutan tanaman
14

HTI dalam PP 7: Pada akhir masa konsesi pemegang izin HPHTI wajib menyerahkan kembali areal dan tanamannya.Atas dasar ini, maka Akumulasi Investasi dalam HTI dalam pengembangan sampai dengan siap tebang diaktivir dan diamotisir selama masa konsesi. Penanaman kembali pada daur kedua dibuku sebagai biaya. HTI dalam PP 6 tahun 2007:Pada saat akhir masa konsesi tanaman yang ada tetap menjadi milik pengusaha dan diberikan waktu bagi pengusaha untuk menjual kayunya tersebut. Dengan adanya perubahan kebijakan ini maka tanaman pada daur kedua dibuku sebagai investasi .

15

Dalam pedoman laporan (dolap Keu) atas akun Hutan tanaman dalam pengembangan dalam catatan laporan keuangan disarankan adanya informasi yang meliputi Luas pembangunan per tahun tanam Nilai akumulatif investasi per tahun tanam Kondisi tegakan yang mencakup riap pertumbuhan tanaman, taksasi volume dan nilai pasar/harga kayu
16

ASET BIOLOGIS DI SEKTOR KEHUTANAN DAN PERLAKUAN AKUNTANSINYA


Asset berupa tanaman pada: 1. Pemegang ijin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan tanaman Dicatatat sebagai asset perusahaan dalam 2 kelompok yaitu HTI siap panen HTI dalam pengembangan 2. Pengelolaan hutan okeh BUMN (Perum Perhutani) Ada yang sudah dicatat sebagai asset Ada yang belum dicatat sebagai asset`
17

IAS 41
IAS 41 MENSYARATKAN ASSET BIOLOGIS DALAM LAPORAN KEUANGAN HARUS: 1. DINILAI DENGAN NILAI WAJAR (FAIR VALUE) PADA SETIAP AKHIR PERIODE PELAPORAN 2. LABA/RUGI ATAS KENAIKAN/PENURUNAN NILAI DARI ASSET BIOLOGIS HARUS DIHITUNG DAN DILAPORKAN DALAM LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN

18

DAMPAK IAS 41 DISEKTOR KEHUTANAN


Dengan dilakukannya penilaian setiap akhir periode laporan atas asset biologis yang merupakan salah satu asset perusahaan, maka hal ini akan berdampak ataupun konsekwensi atas: 1. Timbulnya biaya yang dikeluarkan guna melakukan penilaian atas asset biologis 2. Kinerja Perusahaan dalam hal ini laba perusahaan akan terangkat sepanjang kenaikan nilai asset biologis sebagai akibat penilaian berdasar fair value>dari biaya penilaian namun hal ini akan berdampak pada PPH Badan

19

3. Nilai investasi dalam asset biologis akan menjadi lebih riil dan lebih informatif namun kalau PBB masih ditentukan a.l nilai asset/investasi di atasnya maka dipastikan bahwa kewajiban PBB akan naik p p j pula.

20

SIAPKAH KITAA???
Untuk sektor kehutanan dibidang hutan tanaman rasanya belum siap, hal ini dikarenakan: Standard akuntansi di bidang hutan tanaman baru saja berubah dari SAK 32 ke DOLAP KEU Masih perlu adanya kesepakatan mulai umur berapa tanaman itu akan dinilai sesuai fair value-nya Pendanaan perusahaan sendiri kalau dibanding manfaatnya.
21

KESIMPULAN
1. Adopsi IAS 41 dalam laporan keuangan dibidang bisnis kehutanan dapat menghasilkan laporan keuangan yang lebih informatif atas asset utama perusahaan yang berupa tanaman kayu. 2. Untuk dapat menyusun laporan tersebut atas asset berupa tanaman setiap akhir periode laporan harus dinilai sesuai fair valuenya. 3. Dampak penilaian bisa terjadi adanya kenaikkan kewajiban perpajakkan baik PBB, PPH; sementara penerimaan dalam kas tidak. 4. Dengan tetap menganut pada azas konservatif pedoman yang ada (DOLAPKEU ) sudah memberikan penjelasan yang cukup informatif atas asset biologis persh. 5. Kalau mau tetap dilaksanakan perlu dipertimbangkan beberapa aspek yang menjadi kendala baik yang menyangkut aspek perpajakan ataupun penilaiannya. 22