Anda di halaman 1dari 37

BAB IV

ANALISA PERHITUNGAN KENAIKAN TEMPERATUR PADA KABEL


DAN
KAPASITAS HANTAR ARUS (AMPACITY)
.
IV. 1. Penentuan Parameter Kabel NA2XSEFGBY 240.
Untuk menentukan kenaikan temperatur kabel dan Kapasitas Hantar
Arus (Ampacity) diperlukan data-data parameter. Parameter tersebut
didapatkan melalui perhitungan dengan input kondisi fisik kabel baik berupa
jenis materi maupun besar dimensinya. Karena ketidaklengkapan data dan
untuk memudahkan perhitungan parameter Kabel NA2XSEFGBY 240
digunakan data kabel N2XSEFGBY 240. Karena kesamaan dimensi dan
materi kecuali material inti (konduktor) maka bisa dilakukan pendekatan
matematis untuk nilai parameter kabel tsb. Penjabaran persamaan untuk
perhitungan parameter kabel selain memberikan pengertian dalam perhitungan
juga untuk membuktikan bahwa yang digunakan input persamaan tersebut
merupakan data fisik kabel. Jadi bisa disimpulkan nilai parameter kabel
N2XSEFGBY 240 bisa digunakan untuk perhitungan parameter kabel
NA2XSEFGBY 240, atau bisa langsung digunakan sebagai data parameter
kabel tsb.
IV. 1.1. Penentuan Resistansi AC dari konduktor saat pengoperasian
pada temperatur maksimal (R).
Penentuan Resistansi AC dari konduktor saat pengoperasian pada
temperatur maksimal dilakukan karena nilai resistansi berubah saat temperatur
31
berubah. Perubahan temeperature ini di akibatkan oleh arus AC yang mengalir.
Kenaikan temperatur pada konduktor mempengaruhi insulasi yang
mengililinginya. Insulasi pada kabel NA2XSEFGY 240 memiliki insulasi XLPE.
XLPE memiliki batas operasi pada saat kondisi steady-state adalah 90
0
C
[9]
. Maka
perlu diketahui berapa nilai Resistansi AC pada temperatur 90
0
C.
) 1 ( '
p s
y y R R + +
[1]
...................................................................... (4.1)
Dimana:
R = Resistansi AC dari konduktor saat pengoperasian pada
temperatur maksimal ( /m).
R = Resistansi DC dari konduktor saat pengoperasian pada
temperatur maksimal ( /m).
y
s
= faktor efek kulit (skin effect factor).
y
p
= faktor efek sekitar (proximity effect factor).
[ ] ) 20 ( ( 1 '
20 20
+ R R
[1]
/m 10 25 . 1
m 10 / 125 . 0 /km 125 . 0
4
3
20


R
3
20
10 03 . 4


/m 10 6026 . 1
)] 20 90 .( 10 03 . 4 ( 1 [ 10 25 . 1 '
4
3 4



+ R
Dimana:

20
= koefisien temperatur dari material
= temperatur maksimum operasi insulasi (90
0
C)
32
Faktor Efek Kulit (Skin Effect Factor).
Efek kulit terjadi karena semua flux magnetik melalui penghantar dari
arus dekat permukaan homogen konduktor memotong seluruh konduktor,
induktansi per unit area akan menurun terhadap permukaan Sedangkan arus
perunit area akan meningkat terhadap permukaan. Jadi bisa di simpulkan bahwa
ketika arus DC mengalir, rapat arus uniform (merata dalam penghantar). Tetapi
ketika arus AC mengalir, rapat arus pada permukaan dari pada di dalam
penghantar.
[5]
4
4
8 . 0 192
s
s
s
x
x
y
+

[1]
......................................................................... (4.2)
s s s
k
R
f
k x x
7 2 2
10 .
'
8



1
s
k
[1]
7837 . 0
1 . 10 .
10 6026 . 1
50 . 14 . 3 . 8
10 .
'
8
7
4
7 2

s s
k
R
f
x

8853 . 0
7837 . 0

s
x
0<x
s
<2.8
( )
( )
3
2
2
2
2
2
2
4
4
10 1907 . 3
) ) 7837 . 0 .( 8 . 0 ( 192
) 7837 . 0 (
8 . 0 192
8 . 0 192

s
s
s
s
s
x
x
x
x
y
Dimana:
R = Resistansi DC dari konduktor saat pengoperasian pada temperatur
maksimal ( /m).
33
y
s
= faktor efek kulit (skin effect factor).
f = frekwensi sistem (Hz).
k
s
= factor untuk menghitung x
s
.
Faktor Efek Sekitar (Proximity Effect Factor).
Efek Sekitar (Proximity Effect) adalah sesuatu yang terjadi dimana ketika
dua buah konduktor dengan posisi pararel dan berdekatan mengalirkan arus AC,
kerapatan arus di sisi konduktor yang saling berdekatan/ berhadapan berkurang,
sedangkan pada sisi lain meningkat, diakibatkan oleh perbedaan kerapatan flux
magnetis.
[1]

,
_

+
+
27 . 0
18 . 1
312 . 0
2 2
a
y ay y
p

[1]
.................................................. (4.3)
4
4
8 . 0 192
p
p
x
x
a
+


s
d
y
c

p p p
k
R
f
k x x
7 2 2
10 .
'
8



1
p
k
[1]
34
7837 . 0
1 . 10 .
10 6026 . 1
50 . 14 . 3 . 8
10 .
'
8
7
4
7 2

p p
k
R
f
x

( )
( )
3
2
2
2
2
2
2
4
4
10 1907 . 3
) ) 7837 . 0 .( 8 . 0 ( 192
) 7837 . 0 (
8 . 0 192
8 . 0 192

p
p
p
p
x
x
x
x
a
Gambar 4.1 Penampang Melintang Kabel NA2XSEFGBY 240.
6296 . 0
mm 5 . 5
2
mm 7 . 18
. 2
mm 7 . 18

,
_

+

s
d
y
c
3
3
2 2 3
2 2
10 6194 . 5
27 . 0 10 1907 . 3
18 . 1
) 6296 . 0 ( 312 . 0 ) 6296 . 0 ( 10 1907 . 3
27 . 0
18 . 1
312 . 0

,
_

+
+

,
_

+
+
a
y ay y
p
Dimana:
R = Resistansi DC dari konduktor saat pengoperasian pada temperatur
maksimal ( /m).
35
f = frekwensi sistem.
k
p
= factor untuk menghitung x
p.
y
p
= faktor efek sekitar (proximity effect factor).
s = jarak antara pusat konduktor (mm).
Jadi nilai resistansi AC saat temperatur maksimum:
/m 10 6167 . 1
) 10 6194 . 5 10 1907 . 3 1 ( 10 6026 . 1 ) 1 ( '
4
3 3 4



+ + + +
p s
y y R R
IV. 1.2. Penentuan Perbandingan (Rasio) total rugi-rugi daya pada
sheath (
1
).
2
1
1
1
1
.

,
_

X
R
R
R
s
s

[1]
...................................................................... (4.4)
1
]
1

,
_


d
s
X
3 7
1
2 . 2 ln . 10 2
2
3 7
1
2 . 2 ln . 10 2
1
1
.

,
_

1
]
1

,
_

d
s
R
R
R
s
s


Dimana:

1
= (Rasio) total rugi-rugi daya pada sheath.
R
s
= Resistansi sheath ( /m).
R = Resistansi AC dari konduktor saat pengoperasian pada temperatur
maksimal ( /m).
X
1
= Reactansi sheath (W/m).
36
s = jarak antara pusat konduktor (mm).
d = diameter rata-rata dari sheath (mm).
- Pada kabel N2XSEFGBY 240.
[8]
0.2417
1

-5
10 9.1626 R
2
3 7
2
3 7
1
2 . 2 ln . 10 2
1
1
.
2 . 2 ln . 10 2
1
1
.

,
_

1
]
1

,
_

,
_

1
]
1

,
_


d
s
R
R
R
d
s
R
R
R
s
s
s
s

5 -
5 -
2
3 7
2
3 7
5 -
10 2.2146
0.2417 . 10 9.1626
2 . 2 ln . 10 2
1
2 . 2 ln . 10 2
1
0.2417
1
. 10 9.1626

,
_

1
]
1

,
_

,
_

1
]
1

,
_

d
s
R
R
d
s
R
R
s
s
s
s

- Pada kabel NA2XSEFGBY 240.


2
3 7
1
2 . 2 ln . 10 2
1
1
.

,
_

1
]
1

,
_

d
s
R
R
R
s
s

37
5
2
3 7
10 2146 . 2
2 . 2 ln . 10 2
1

,
_

1
]
1

,
_

+
d
s
R
R
s
s

/m 10 6167 . 1
4
R
1370 . 0
10 2146 . 2
10 6167 . 1
1
2 . 2 ln . 10 2
1
1
.
5
4 2
3 7
1

,
_

1
]
1

,
_

d
s
R
R
R
s
s

IV. 1.3. Penentuan Perbandingan (Rasio) total rugi-rugi daya pada


armour (
2
).
Pada kabel NA2XSEFGBY rasio total rugi-rugi daya pada armour terdiri
dari dua bagian yaitu rugi-rugi akibat histerisis ( ) dan rugi rugi akibat arus
eddy ( ). Rugi histerisis disebabkan arus flux bolak-balik pada material armour
yakni besi. Rugi-rugi Eddy di sebabkan arus pusar pada armour.
[2]
' '
2
'
2 2
+
[1]
.................................................................................. (4.5)
0
7 2 2
'
2
10

a
Rd
k s

................................................................................ (4.6)
a
Rd
k s
8
0
2 2
' '
2
10 25 . 2

.................................................................... (4.7)
50
1
1
0
f
d
k
a

+


............................................................................. (4.8)
38
a
a
a
a
a a
Rd
f
d
s
Rd
f
d
s
Rd
k s
Rd
k s
8
0
2
0
2
0
7
2
0
2
8
0
2 2
0
7 2 2
2
10
50
1
1
25 . 2 10
50
1
1
10 25 . 2 10

,
_

+
+

,
_

,
_

,
_

+
+

,
_


a
a
a
a
d
f
d
s
d
f
d
s
R
8
0
2
0
2
0
7
2
0
2
10
50
1
1
25 . 2 10
50
1
1
1

Dimana:

2
= (Rasio) total rugi-rugi daya pada armour.

2
= rugi-rugi histerisis.

2
= rugi rugi arus eddy.
s = jarak antara pusat konduktor.
= permiabelitas relatif besi=300.

0
= ketebalan ekuvalen armour=A
a
/ d
a.
d
a
= diameter armor (mm).
A
a
= luas armour (mm
2
).
- Kabel N2XSEFGBY 240.
[8]

,
_

,
_

+
+

,
_


a
a
a
a
d
f
d
s
d
f
d
s
R
8
0
2
0
2
0
7
2
0
2
2
10
50
1
1
25 . 2 10
50
1
1
1

39

,
_

,
_

+
+

,
_


a
a
a
a
d
f
d
s
d
f
d
s
8
0
2
0
2
0
7
2
0
2
5 -
10
50
1
1
25 . 2 10
50
1
1
10 9.1626
1
0.5971

5
5 -
8
0
2
0
2
0
7
2
0
2
10 4710 . 5
10 626 0.5971.9.1
10
50
1
1
25 . 2 10
50
1
1

,
_

,
_

+
+

,
_

+
a
a
a
a
d
f
d
s
d
f
d
s

- Kabel NA2XSEFGBY 240.

,
_

,
_

+
+

,
_

+

a
a
a
a
d
f
d
s
d
f
d
s
R
8
0
2
0
2
0
7
2
0
2
' '
2
'
2 2
10
50
1
1
25 . 2 10
50
1
1
1


/m 10 6167 . 1
4
R
5
8
0
2
0
2
0
7
2
0
2
10 4710 . 5
10
50
1
1
25 . 2 10
50
1
1

,
_

,
_

+
+

,
_

+
a
a
a
a
d
f
d
s
d
f
d
s

3384 . 0
10 4710 . 5 .
10 6167 . 1
1
5
4
2

IV. 1.4. Perhitungan Rugi-Rugi Dielektrik (Dialectric Losses) (W


d
).
40
Rugi dielektrik timbul akibat kemampuan material untuk menyimpan. Dan
merupakan rugi-rugi karena tegangan (voltage dependent losses). Maka untuk
menghitung rugi-rugi dielektrik.
tan 2 tan
2
0
2
0
2
0
fCU CU
R
U
W
i
d

[1]
......................... (4.9)
9
10
ln 18

,
_

c
i
d
D
C

......................................................... (4.10)
5 . 2
[1]
mm 3 . 31
i
D
[10]
mm 7 . 18
c
d
[10]
9
10
7 . 18
3 . 31
ln 18
5 . 2

,
_

C
10
10 6964 . 2


W/m 0452 . 0
004 . 0
3
000 . 20
) 10 6964 . 2 ( 50 14 . 3 2
2
10

,
_



d
W
Di mana:
W
d
= rugi-rugi dielektrik (W/m)
U
0
= tegangan antara konduktor dan screen/sheath (V)
f = frekwensi sistem (Hz)
C = kapasitansi kabel (F)
tan = factor
rugi-rugi insulasi.
= permiabelitas insulasi
D
i
= Diameter insulasi (mm).
d
c
= diameter konduktor (mm).
41
IV. 1.5. Nilai Resistansi Thermal Antara Konduktor Dan Sheath(T
1
).
Untuk menentukan nilai resistansi thermal antara konduktir dan sheath
digunakan persamaan:
G K T

2
1

[1]
................................................................................. (4.12)
Dimana:
= resistivitas thermal dari materi insulasi (K.m/W)
K adalah screening factor yang nilainya melalui grafik. Dimana nilai K
ditentuka setelah nilai-nilai seperti
m c
T
d

1
dan
c
d
t
1
didapatkan, stelah itu nilai K
didapat melalui grafik.
K
42
Gambar 4.2 Grafik untuk menentukan nilai K (screening factor) pada
perhitungan Resistansi Thermal Antara Konduktor Dan
Sheath(T
1
), (IEC 287,1994).
Dimana:

1
= ketebalan screen metalik dari kabel.

T
=resistivitas thermal dr isolasi (Km/W)
d
c
=diameter conductor (mm)

m
=resistivits thermal dari material screening (Km/W)
t
1
= ketebalan insulasi antara konduktor dan screen(mm)
43
G adalah geometric factor yang mana digunakan khusus untuk kabel
berinti tiga. Nilai G didapatkan setelah
t
t
1
dan
c
d
t
1
. Nilai G didapatkan melaui
grafik:
G
Gambar 4.3 Grafik untuk menentukan nilai G (geometric factor) pada
perhitungan Resistansi Thermal Antara Konduktor Dan
Sheath(T
1
), (IEC 60287,1994).
Dimana:
44
t
1
= ketebalan insulasi antara konduktor dan screen (mm)
t = ketebalan insulasi antara konduktor (mm)
d
c
= diameter konduktor (mm).
Jadi nilai Resistansi Thermal Antara Konduktor dan Sheath(T
1
)
W 0.4549K.m/
1
T
[8]
IV. 1.6. Nilai Resistansi Thermal Antara Sheath dan Armor /bedding
(T
2
).
Pada kabel N2XSEFGBY 240 nilai T
2
= 0 sehingga dapat disimpulkan
NA2XSEFGBY 240 nilainya juga sama.

,
_

+
s
D
t
T
2
2
2
1
2

............................................................................ (4.13)
Dimana:
= resistivitas thermal dari armor bedding, (Km/W).
D
s
= diameter external dari sheath, (mm).
t
2
= ketebalan bedding, (mm).
W m K T / . . 0
2
[8]
IV. 1.7. Nilai Resistansi Thermal Lapisan Terluar / Serving Kabel XLPE
(T
3
).
Untuk menentukan nilai resistansi thermal lapisan terluar / serving kabel
XLPE digunakan persamaan:

,
_

+
a
D
t
T
'
1 ln
2
3
3

[1]
.................................................................... (4.14)
Dimana:
45
= resistivitas thermal dari serving K.m/W
D
a
= diameter external dari armor
t
3
= ketebalan dari serving
Jadi nilai resistansi thermal lapisan terluar / serving kabel XLPE (T
3
)
W 0.0198K.m/
3
T
[8]
IV. 1.8. Nilai Resistansi Panas Sekeliling Kabel (T
4
).
Persamaan ini menggunakan komponen kedalaman penanaman kabel dan
resistansi thermal tanah. Karena tidak lengkapan data dari PLN seperti kedalaman
penanaman kabel oleh PLN tiap-tiap saluran dan resistitivitas thermal tanah.
Maka penulis, untuk kedalaman menggunakan standard PUIL 2000. Sedangkan
untuk resistivitas thermal tanah ideal. Sedangkan untuk diameter terluar kabel
didapatkan dari datasheet kabel.
( ) ) 1 ( ln
2
2
4
+ u u T
s

[1]
.......................................................... (415)
e
D
L
u
2

............................................................................................ (4.16)
mm 800 L
[3]
mm D
e
85

[8]
18.8235
mm 85
mm 800 . 2
u K.m/W 1
s

[8]
( )
0.5776
) 1 (18.8235 18.8235 ln
14 . 3 . 2
1
2
4

+ T
Dimana:
L = kedalaman kabel (mm).
D
e
= Diameter terluar kabel (mm).

s
= Resistivitas thermal tanah (K.m/W) = 1 K.m/W.
[8]
46
IV.2. Penentuan Temperatur Kabel.
IV.2.1. Penentuan Rugi-rugi Konduktor (W
c
).
Untuk perhitungan kenaikan temperatur kabel NA2XSEFGBY 240, maka
diperlukan data arus untuk tiap saluran yang menggunakan kabel tsb. Data sebagai
berikut:
Tabel 4.1 Daftar Nilai Arus pada tiap saluran NA2XSEFGBY 240 Rayon Belanti.
No BUS BUS FEEDER
JENIS Arus (I)
(Ampere)
PENGHANTAR
1 146 140 WAHIDIN NA2XSEFGBY 240 14.1844
2 1 313 SUDIRMAN NA2XSEFGBY 240 313.5344
3 313 314 SUDIRMAN NA2XSEFGBY 240 304.5310
4 1 2 EXPRESS NA2XSEFGBY 240 247.3717
5 1 2 EXPRESS NA2XSEFGBY 240 247.3717
R I W
c
2

........................................................................................ (4.17)
Tabel 4.2 Daftar Rugi-rugi Konduktor (W
c
) tiap saluran NA2XSEFGBY 240
Rayon Belanti.
No BUS BUS FEEDER
JENIS Arus (I)
(Ampere)
R
( /m)
Wc
(W/m)
PENGHANTAR
1 146 140 WAHIDIN NA2XSEFGBY 240 14.184359 0.00016167 0.0325
2 1 313 SUDIRMAN NA2XSEFGBY 240 313.534388 0.00016167 15.8928
3 313 314 SUDIRMAN NA2XSEFGBY 240 304.531049 0.00016167 14.9931
4 1 2 EXPRESS NA2XSEFGBY 240 247.371710 0.00016167 9.8930
5 1 2 EXPRESS NA2XSEFGBY 240 247.371710 0.00016167 9.8930
IV.2.2. Penentuan Rugi-Rugi Total (W
T
).
d c d l t
W W W W W + + + + ) 1 (
2 1

[1]
......................................... (4.18)
Tabel 4.3 Daftar Rugi-rugi Total (W
T
) tiap saluran NA2XSEFGBY 240 Rayon
Belanti.
No BUS BUS FEEDER
JENIS
1 2
Wd
(W/m)
WT
(W/m)
PENGHANTAR
1 146 140 WAHIDIN NA2XSEFGBY 240 0.1370 0.3384
0.045
2
0.0932
2 1 313 SUDIRMAN NA2XSEFGBY 240 0.1370 0.3384 0.045 23.4934
47
2
3 313 314 SUDIRMAN NA2XSEFGBY 240 0.1370 0.3384
0.045
2
22.1661
4 1 2 EXPRESS NA2XSEFGBY 240 0.1370 0.3384
0.045
2
14.6414
5 1 2 EXPRESS NA2XSEFGBY 240 0.1370 0.3384
0.045
2
14.6414
IV.2.3. Penentuan kenaikan temperatur kabel ( ).
Kenaikan temperatur pada kabel saluran bawah tanah jenis NA2XEFGBY
240 didapatkan melalui persamaan:
) (
4 d d t c
T W T W T W n + +
...................................................... (4.19)
3 2
1
T T
n
T
T
d
+ +
[1]
......................................................................... (4.20)
3 n
0.0956
0.0198 0
3
0.4549

+ +
3 2 1 2 1
1
) 1 ( ) 1 ( T T
n
T
T + + + + + ............................................. (4.21)
0.1808
0.0198 ) 0.3384 1370 1 ( 0 ) 0.1370 1 (
3
0.4549

+ + + + +
Tabel 4.4 Daftar Kenaikan temperatur ( ) tiap saluran NA2XSEFGBY 240
Rayon Belanti.
No BUS BUS FEEDER
JENIS Td
K.m/W
T n

(
0
C)
PENGHANTAR
1 146 140 WAHIDIN NA2XSEFGBY 240 0.0956
0.180
8
3 0.1921
2 1 313 SUDIRMAN NA2XSEFGBY 240 0.0956
0.180
8
3 49.3473
3 313 314 SUDIRMAN NA2XSEFGBY 240 0.0956 0.180 3 46.5590
48
8
4 1 2 EXPRESS NA2XSEFGBY 240 0.0956
0.180
8
3 30.7524
5 1 2 EXPRESS NA2XSEFGBY 240 0.0956
0.180
8
3 30.7524
IV.2.4. Temperatur total (
tot
).
+
amb tot
............................................................................... 4.22
Tabel 4.5 Daftar Temperatur total (
tot
) tiap saluran NA2XSEFGBY 240 Rayon
Belanti.
No BUS BUS FEEDER
JENIS
amb
(
0
C)

(
0
C)
tot
(
0
C)
PENGHANTAR
1 146 140 WAHIDIN NA2XSEFGBY 240 25 0.1802 25.1802
2 1 313 SUDIRMAN NA2XSEFGBY 240 25 49.3353 74.3353
3 313 314 SUDIRMAN NA2XSEFGBY 240 25 46.5471 71.5471
4 1 2 EXPRESS NA2XSEFGBY 240 25 30.7405 55.7405
5 1 2 EXPRESS NA2XSEFGBY 240 25 30.7405 55.7405
Dimana:
I = Arus yang mengalir dalam konduktor karena pada kondisi
steady-state.
W
l
= rugi-rugi total panas dalam kabel
W
c
= rugi-rugi panas dalam konduktor
W
s
= rugi-rugi panas dalam sheath
W
a
= rugi-rugi panas dalam armor
W
d
= rugi-rugi panas dielektrik (W/m)

1
,
2
=
Perbandingan total rugi-rugi daya pada sheath dan armor
49
R = Resistansi AC dari konduktor saat pengoperasian pada
temperatur maksimal ( /m)
n = jumlah inti konduktor

amb
= temperatur lingkungan (dalam tanah) (
0
C)
= kenaikan temperatur (
0
C).

tot
= temperatur total (
0
C).
IV. 3. Perhitungan Kapasitas Hantar Arus (Ampacity) Kabel
NA2XSEFGBY 240 Rayon Belanti.
Perhitungan Kapasitas Hantar Arus (Ampacity) berguna untuk menentukan
besar arus maksimal yang bisa dilalui/boleh dihantarkan kabel. Dalam hal ini
90
0
C, yang merupakan batas kerja insulasi XLPE
[9]
. Seperti perhitungan di atas.
Persamaan Kapasitas Hantar Arus (Ampacity) adalah:
[ ]
5 . 0
4 3 2 1 2 1 1
*
4 3 2 1 max
) )( 1 ( ) 1 (
) ( 5 . 0 ) (
1
]
1

+ + + + + +
+ + +

T T nR T nR RT
T T T n T W
I
d amb


............................ (4.21)
[ ]
5 . 0
) 0.5776 0.0198 )( 0.3384 0.1370 1 ( 0.00016167 3 0 ) 0.1370 1 ( 0.00016167 3 0.4549 0.00016167
) 0.5776 0.0198 0 ( 3 0.6981 . 5 . 0 0.0.452 ) 25 90 (
1
]
1

+ + + + + +
+ + +

359.9541
Dimana:
T
1
= Nilai resistansi thermal antara konduktor dan sheath (K.m/W)
T
2
= Nilai resistansi thermal antara sheath dan armor /bedding (K.m/W)
T
3
= Nilai resistansi thermal lapisan terluar / serving kabel XLPE
(K.m/W)
T
4
= Tahanan panas sekeliling kabel (K.m/W)
50
R = Tahanan AC dari konduktor saat pengoperasian pada
temperature maksimal ( /m)

amb
= Temperatur lingkungan (dalam tanah) (
0
C

max
= Temperatur konduktor maximum untuk batas kerja insulasi untuk
operasi kontinu (steady-state) (
0
C)
CATATAN: Seharusnya Kapasitas Hantar Arus (Ampacity) berbeda tiap saluran
karena resistivitas tanah, temperatur lingkungan tanah (ambient) kedalaman
penanaman kabel saluran bawah tanah di lapangan pasti beda. Ketiadaan data
tersebut dari PLN, maka Kapasitas Hantar Arus (Ampacity) diperhitungkan satu
saja, karena komponen seperti resistivitas tanah, temperatur lingkungan tanah
(ambient), dan kedalaman penanaman kabel untuk tiap saluran dianggap sama.
IV. 4. Perbandingan Kenaikan Temperatur Tiap Saluran,
Tempertur Total, Temperatur Konduktor Maximum Untuk Batas
Kerja Insulasi Untuk Operasi Kontinu, Nilai Arus Yang Mengalir,
Kapasitas Hantar Arus (Ampacity) Kabel NA2XSEFGBY 240.
Tabel 4.6 Perbandingan Tempertur Total Tiap Saluran dan Temperatur
Konduktor Maximum Untuk Batas Kerja Insulasi Untuk Operasi
Kontinu.
No BUS BUS FEEDER
JENIS
max
(
0
C)
tot
(
0
C) PENGHANTAR
1 146 140 WAHIDIN NA2XSEFGBY 240 90 25.1921
2 1 313 SUDIRMAN NA2XSEFGBY 240 90 74.3473
3 313 314 SUDIRMAN NA2XSEFGBY 240 90 71.5590
4 1 2 EXPRESS NA2XSEFGBY 240 90 55.7524
5 1 2 EXPRESS NA2XSEFGBY 240 90 55.7524
Tabel 4.7 Perbandingan Nilai Arus Yang Mengalir dan Kapasitas Hantar Arus
(Ampacity) tiap saluran NA2XSEFGBY 240 Rayon Belanti.
No BUS BUS FEEDER JENIS I I
max
PENGHANTAR
51
(Ampere) (Ampere)
1 146 140 WAHIDIN NA2XSEFGBY 240 14.184359 359.9541
2 1 313 SUDIRMAN NA2XSEFGBY 240 313.534388 359.9541
3 313 314 SUDIRMAN NA2XSEFGBY 240 304.531049 359.9541
4 1 2 EXPRESS NA2XSEFGBY 240 247.371710 359.9541
5 1 2 EXPRESS NA2XSEFGBY 240 247.371710 359.9541
Dimana:
= kenaikan temperature kabel (
0
C).

tot
= temperature total kabel (
0
C).

max
= temperatur konduktor maximum untuk batas kerja insulasi untuk
operasi kontinu (steady-state) (
0
C).
I = arus yang mengalir pada saat kondisi steady state (A).
I
max
= arus maximum konduktor untuk batas kerja insulasi untuk
operasi kontinu (steady-state) (A).
= Kapasitas Hantar Arus (Ampacity).
IV. 5. Grafik Pengaruh Arus Yang Mengalir Terhadap
Temperatur Kabel.
IV.5.a. Pengaruh arus yang mengalir terhadap kenaikan temperatur
kabel dan temperatur total Kabel NA2XSEFGBY 240.
Pada kondisi steady-state semakin tinggi nilai arus yang mengalir pada kabel
saluran bawah tanah, nilai temperature yang dihasilkan juga semakin tinggi.
52
Semakin kecil semakin rendah nilai arus yang mengalir, nilai temperature yang
dihasilkan juga semakin rendah. Hubungannya bisa kita lihat pada grafik di
53
bawah.
54
Gambar 4.4 Grafik pengaruh arus yang mengalir terhadap kenaikan temperatur
kabel dan temperatur total Kabel NA2XSEFGBY 240.
IV.5.b. Grafik batas unjuk kerja kabel NA2XSEFGBY 240.
Batas unjuk kerja kabel saluran bawah tanah, bahwa nilai temperature
maksimum insulasi XLPE kabel NA2XSEFGBY 240 pada kondisi steady-state
adalah 90
0
C. Jadi temperatur total kabel akibat kenaikan temperatur pada kondisi
steady-state tidak boleh melewati 90
0
C. Sedangkan arus yang mengalir pada kabel
tersebut tidak boleh melewati nilai Kapasitas Hantar Arus (Ampacity). Bisa kita
lihat pada grafik dibawah bahwa pada nilai Kapasitas Hantar Arus (Ampacity),
55
temperatur totalnya bernilai 90
0
C yang merupakan nilai temperatur maksimum
kerja insulasi XLPE.
Gambar 4.5 Grafik batas unjuk kerja kabel NA2XSEFGBY 240.
IV. 6. Grafik Pengaruh Kedalaman Terhadap Nilai Kapasitas
Hantar Arus (Ampacity).
Pengaruh kedalaman terhadap nilai kapasitas hantar arus, bahwa semakin
dalam penanaman kabel pada suatu saluran bawah tanah, maka nilai Kapasitas
Hantar Arus (Ampacity) semakin kecil. Semakin dangkal penanaman kabel
saluran bawah tanah tersebut, maka nilai Kapasitas Hantar Arus (Ampacity) besar.
Hubungannya bisa kita lihat pada grafik dibawah.
56
Gambar 4.6 Grafik Pengaruh Kedalaman Terhadap Nilai Kapasitas Hantar Arus
(Ampacity).
IV. 7. Grafik Pengaruh Temperatur Tanah (Ambient)
Terhadap Nilai Kapasitas Hantar Arus (Ampacity).
Pengaruh temperatur lingkungan tanah (ambient), bahwa semakin tinggi
temperatur lingkungan tanah (ambient) tempat saluran bawah tanah tersebut
ditanam, maka Kapasitas Hantar Arus (Ampacity) semakin kecil. Semakin rendah
temperatur lingkungan tanah (ambient) maka nilai Kapasitas Hantar Arus
(Ampacity) semakin besar. Dari grafik ini juga bisa diasumsikan bahwa pada
57
perubahan temperatur temperatur lingkungan tanah (ambient) yang ekstrim
(contoh: di gurun, temperatur tinggi pada siang hari, temperatur yang sangat
rendah pada malam hari
[12]
) di suatu tempat, maka akan terjadi perubahan nilai
Kapasitas Hantar Arus (Ampacity). Hubungan tersebut bisa kita lihat pada grafik
58
dibawah.
Gambar 4.7 Grafik Pengaruh Temperatur Tanah (Ambient) Terhadap Nilai
Kapasitas Hantar Arus (Ampacity).
59
IV. 8. Grafik Pengaruh Resistivitas Thermal Tanah Terhadap
Nilai Kapasitas Hantar Arus (Ampacity).
Pengaruh resistivitas thermal tanah terhadap nilai Kapasitas Hantar Arus
(Ampacity). Bahwa semakin tinggi nilai resistivitas thermal suatu tanah tempat
saluran bawah tanah tersebut ditanam, nilai Kapasitas Hantar Arus (Ampacity)
juga semakin kecil. Semakin rendah nilai resistivitas thermal tanah, nilai
Kapasitas Hantar Arus (Ampacity) juga semakin besar.
Gambar 4.8 Grafik Pengaruh Resistivitas Thermal Tanah Terhadap Nilai
Kapasitas Hantar Arus (Ampacity).
60
IV.9. Perbandingan Unjuk Kerja Antara Kabel
NA2XSEFGBY 240 dan Kabel Model No.2.
Perhitungan ini mencoba membandingan unjuk kerja Kabel
NA2XSEFGBY yang digunakan di lapangan dengan Kabel Model No.2.
Tabel 4.8 Data dimensional Kabel Model No. 2.
Konduktor
Jenis Tembaga (stranded)
Luas(S) 300 mm
2
Diameter Eksternal Konduktor (d
c
) 20.5 mm
Diameter Eksternal Konduktor-Shield (d
cs
) 21.7 mm
Jarak antara pusat konduktor dan pusat kabel ( c) 17.6 mm
Pemisahan axial dari konduktor (s) 30.5 mm
Insulasi
Jenis XLPE
Diameter insulasi (D
i
) 28.5 mm
Diameter diatas screen (D
is
) 30.1 mm
Ketebalan inti insulasi (t
i
) 5.53 mm
Ketebalan antara konduktor (t) 9.6 mm
Ketebalan antara konduktor dan sheath (t
l
) 4.8 mm
Screen/Sheath
Jenis Pita Tembaga
Diameter rata-rata penguatan (reinforcement) 30.5 mm
ketebalan screen metalik (d
1
) 0.2 mm
Jacket/Bedding (External Covering)
Jenis PVC
Ketebalan Jacket (t
j
) 3.5 mm
Diameter Jacket (D
e
) 72.9 mm
Tabel 4.9 Parameter Kabel Model no. 2.
[1]
R
0.000079
8
W/m
Resistansi AC dari konduktor saat pengoperasian pada
temperatur maksimal

1
0.214 Perbandingan (Rasio) total rugi-rugi daya pada sheath.
61

2
0 Perbandingan (Rasio) total rugi-rugi daya pada armour.
T
1
0.307 Km/W Nilai Resistansi Thermal Antara Konduktor Dan Sheath.
T
2
0 Km/W Resistansi Thermal Antara Sheath dan Armor /bedding.
T
3
0.104 Km/W
Nilai Resistansi Thermal Lapisan Terluar / Serving Kabel
XLPE.
IV.9.a. Perhitungan Nilai Resistansi Panas Sekeliling Kabel (T
4
) Kabel
Model No.2.
( ) ) 1 ( ln
2
2
4
+ u u T
s

............................................................. (4.21)
mm 800 L
[3]
mm D
e
9 . 72

[1]
9479 . 1 2
mm 9 . 72
mm 800 . 2
u K.m/W 1
s

[8]
( )
6021 . 0
) 1 (21.9479 21.9479 ln
14 . 3 . 2
1
2
4

+ T
IV.9.b. Penentuan Rugi-Rugi Dielektrik (Dialectric Losses) (W
d
) Kabel
Model No.2.
tan 2 tan
2
0
2
0
2
0
fCU CU
R
U
W
i
d

[1]
......................... (4.22)
9
10
ln 18

,
_

c
i
d
D
C

......................................................... (4.23)
5 . 2
[1]
62
mm 1 . 30
i
D
[1]
mm 5 . 20
c
d
[1]
9
10
5 . 20
1 . 30
ln 18
5 . 2

,
_

C
10
10 6160 . 3


0.0606W/m
004 . 0
3
000 . 20
) 10 6160 . 3 ( 50 14 . 3 2
2
10

,
_



d
W
IV.9.c. Kapasitas Hantar Arus (Ampacity) Kabel Model No.2.
[ ]
5 . 0
4 3 2 1 2 1 1
*
4 3 2 1 max
) )( 1 ( ) 1 (
) ( 5 . 0 ) (
1
]
1

+ + + + + +
+ + +

T T nR T nR RT
T T T n T W
I
d amb


............................ (4.24)
[ ]
5 . 0
6021 . 0 0.078 )( 0.3384 0.1370 1 ( 0.0000798 3 0 ) 0.1370 1 ( 0.0000798 3 0.307 0.0000798
) 0.5776 0.0198 0 ( 3 0.307 . 5 . 0 0.0606 ) 25 90 (
1
]
1

+ + + + + +
+ + +

540.35221
IV.9.d. Perbandingan Kapasitas Hantar Arus (Ampacity) Antara Kabel
Kabel NA2XSEFGBY 240 dan Kabel Model No.2.
Bisa dilihat dibawah Kapasitas Hantar Arus (Ampacity) bahwa kabel
Model No. 2 lebih besar dari kabel NA2XSEFGBY 240.
Tabel 4.10 Perbandingan Kapasitas Hantar Arus (Ampacity) Antara Kabel Kabel
NA2XSEFGBY 240 dan Kabel Model No.2.
Jenis Kabel Kapasitas Hantar Arus (Ampacity)
Kabel NA2XSEFGBY 240 359.9210
Kabel Model No.2 540.3522
63
IV.9.e. Perbandingan Arus Yang Mengalir Terhadap Kapasitas Hantar
Arus (Ampacity) Antara Kabel Kabel NA2XSEFGBY 240 dan Kabel
Model No.2.
Grafik ini memperlihatkan pengaruh nilai arus yang mengalir terhadap
temperatur kabel pada kondisi steady-state. Semakin tinggi nilai arus yang
mengali, semakin tinggi temperatur kabel. Tetapi nilai arus yang mengalir tidak
boleh melewati nilai Kapasitas Hantar Arus (Ampacity), karena temperatur total
kabel akan melewati batas maksimum operasi insulasi.
Gambar 4.9 Grafik Perbandingan Arus Yang Mengalir Terhadap Kapasitas
Hantar Arus (Ampacity) Antara Kabel Kabel NA2XSEFGBY 240
dan Kabel Model No.2.
IV.9.f. Perbandingan Pengaruh Kedalaman Terhadap Kapasitas Hantar
Arus (Ampacity) Antara Kabel Kabel NA2XSEFGBY 240 dan Kabel
Model No.2.
64
Grafik dibawah memperlihatkan pengaruh kedalaman pada kabel Model
No. 2 dan kabel NA2XSEFGBY 240. Dimana semakin dalam penanaman kedua
kabel tsb, Kapasitas Hantar Arus (Ampacity)nya semakin kecil..
Gambar 4.10 Grafik Perbandingan Pengaruh Kedalaman Terhadap Kapasitas
Hantar Arus (Ampacity) Antara Kabel Kabel NA2XSEFGBY 240
dan Kabel Model No.2.
IV.9.g. Perbandingan Pengaruh Temperatur Lingkungan Tanah (Ambient)
Terhadap Kapasitas Hantar Arus (Ampacity) Antara Kabel Kabel
NA2XSEFGBY 240 dan Kabel Model No.2.
65
Grafik dibawah memperlihatkan pengaruh temperatur lingkungan tanah
(ambient) terhadap Kapasitas Hantar Arus (Ampacity) pada kabel Model No. 2
dan kabel NA2XSEFGBY 240. Dimana semakin besar temperatur lingkungan
tanah (ambient) kedua kabel tsb, Kapasitas Hantar Arus (Ampacity)nya semakin
kecil.
Gambar 4.11 Perbandingan Pengaruh Temperatur Lingkungan Tanah (Ambient)
Terhadap Kapasitas Hantar Arus (Ampacity) Antara Kabel Kabel
NA2XSEFGBY 240 dan Kabel Model No.2.
IV.9.h. Perbandingan Pengaruh Resistivitas Thermal Terhadap Kapasitas
Hantar Arus (Ampacity) Antara Kabel Kabel NA2XSEFGBY 240
dan Kabel Model No.2.
66
Grafik dibawah memperlihatkan pengaruh resistivitas thermal
tanahterhadap Kapasitas Hantar Arus (Ampacity) pada kabel Model No. 2 dan
kabel NA2XSEFGBY 240. Dimana semakin besar ressistivitas thermal tanah,
Kapasitas Hantar Arus (Ampacity) kedua kabel tsb semakin kecil.
Gambar 4.12 Perbandingan Pengaruh Resistivitas Thermal Terhadap Kapasitas
Hantar Arus (Ampacity) Antara Kabel Kabel NA2XSEFGBY 240
dan Kabel Model No.2.
67