Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN Manusia sejak lahir telah dihadapkan dengan lingkungan, yang menjadi sumber stres.

Cara-cara yang dilakukan untuk menghadapi lingkungan (stress) beranekaragam, dan keberhasilan dalam penyesuaian diri pun beranekaragam. Bagi mereka yang berhasil menyesuaikan diri, maka akan dapat hidup dengan harmonis, tetapi bagi mereka yang gagal akan mengalami maladjustment yang ditandai dengan perilaku menyimpang dan tidak sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku di lingkungan atau gangguan yang lain (psikotik, neurotik, psikopatik). Stres terjadi apabila seseorang mengalami tekanan (pressure) dari lingkungan atau ia mengalami hambatan dalam memenuhi kebutuhannya yang mengakibatkan frustrasi dan ia tidak mampu mengatasinya. Dalam menghadapi stres ini akan sangat dipengaruhi oleh individu yang bersangkutan, bagaimana kepribadiannya, persepsinya, dan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah.1 Stres adalah istilah dari ilmu kedokteran yang secara harfiah diartikan sebagai tekanan atau ketegangan yang memiliki kecenderungan mengganggu tubuh. Dari sudut pandang psikologi, stres dapat dikatakan sebagai segala sesuatu yang mengganggu kita untuk beradaptasi atau mengatasi suatu masalah.1,2 Stres bisa datang dari lingkungan, tubuh atau pikiran kita sendiri. Stres dari lingkungan mungkin disebabkan karena kebisingan, polusi, keramaian, situasi kacau, dan segala macam ancaman lain. Stres dari tubuh disebabkan oleh kondisi sakit, luka, ketegangan tubuh, atau penyakit-penyakit metabolik tertentu.1,2 Sebagian besar stres yang patologis berasal dari pikiran negatif dan rasionalisasi salah yang tercipta oleh pikiran kita sendiri. Tapi stres dalam status fisiologis dibutuhkan oleh manusia. Setiap individu yang ingin maju, memperoleh hasil baik, mempunyai motivasi dan keinginan pencapaian tinggi, biasanya harus mengalami stress. Jadi stress ini mempunyai dampak baik bagi kehidupan individu. Namun bila stress ini terlalu berat, berjangka lama, diluar kemampuan individu untuk mengatasi, dapat mengarah pada masalah fisik dan psikologis. Bisa berdampak bagi terjadinya gangguan mental dan perilaku sementara ataupun menetap. Jadi kondisi stres ini menjadi patologis.1,2 Penyesuaian diri yang baik (good adjustment) adalah apabila seseorang menampilkan respon yang matang, efisien, memuaskan, dan wholesome. Yang dimaksud dengan respon yang efisien adalah respon yang hasilnya sesuai dengan harapan tanpa membuang banyak energi, waktu atau sejumlah kesalahan.1,2 1

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.1 Definisi Stress adalah reaksi yang spesifik dari seseorang terhadap suatu stressor, atau ancaman dan tuntutan, dari luar maupun dari dalam pikiran individu itu sendiri.1 Penyesuaian diri adalah suatu proses yang melibatkan respon-respon mental dan perbuatan individu dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan, dan mengatasi ketegangan, frustasi dan konflik secara sukses serta menghasilkan hubungan yang harmonis antara kebutuhan dirinya dengan norma atau tuntutan lingkungan dimana dia hidup.2 2.2 Stres, Daya Tahan Tubuh, dan Mekanisme Koping Yang dimaksud dengan daya tahan tubuh adalah semua mekanisme yang digunakan tubuh untuk menjaga kesehatan dan keutuhan tubuh sebagai perlindungan terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan oleh berbagai faktor dalam lingkungan hidup. Dengan istilah lain daya tahan tubuh dapat didefinisikan sebagai suatu sistem kompleks dalam tubuh terhadap bahay dan masuknya infeksi, bakteri, virus, parasit, atau benda yang dianggap asing oleh tubuh, serta berbagai masalah psikososial lain.2 Para ahli mengatakan bahwa stres dalam kehidupan seseorang dapat mempengaruhi daya tahan tubuh terhadap penyakit dan gangguan lain dalam aktivitas kehidupan seseorang. Sebagian besar peneliti setuju terhadap penyakit dan gangguan lain dalam aktivitas kehidupan seseorang. Sebagian besar peneliti setuju bahwa stres yang kronik, parah, dan dirasakan dapat memainkan peranan kausatif dalam perkembangan banyak penyakit somatik/fisik. Seperti gangguan sistem muskuloskeletal atau gangguan gerak dan perilaku, gangguan sensorik-motorik, gangguan kardiovaskular, gangguan kardiovaskular, gangguan pernafasan, dan juga berbagai macam gangguan mental/kejiwaan seperti ansietas/kecemasan, ketegangan, ketakutan, depresi, gangguan tidur, dan lain-lain.2 Salah satu faktor yang berpengaruh penting terhadap kejadian yang menimbulkan stres adalah penggunaan strategi penanggulangan adaptif (coping mechanism). Respon individu terhadap stres, dengan coping mechanism yang positif dan efektif dapat menghilangkan atau meredakan gangguan stres. Sebaliknya coping mechanism yang negatif dan tidak efektif, dapat memperburuk kesehatan dan memperbesar potensi menjadi sakit dan gangguan yang lain.2

2.3 Tahapan Stres Gejala-gejala stress pada diri seseorang seringkali tidak disadari karena perjalanan awal tahapan stress timbul secara lambat. Dan baru dirasakan bilamana tahapan gejala sudah lanjut dan mengganggu fungsi kualitas kehidupannya sehari-hari baik di rumah, di sekolah, di tempat kerja ataupun pergaulan lingkungan sosial masyarakatnya. Van Amberg membagi tahapan-tahapan stress sebagai berikut:2,3,4 Stres tahap I Tahapan ini merupakan tahapn stress paling ringan, dan biasanya disertai dengan perasaanperasaan sebagai berikut: Semangat kerja besar, berlebihan (over acting) Penglihatan lebih tajam tidak seperti biasanya Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya, bekerja secara maksimal (all out) disertai rasa gugup. Merasa senang dengan pekerjaannya dan semakin bertambah semangat, namun tanpa disadari cadangan energi semakin berkurang. Stres tahap II Dalam tahapan ini, cadangan energi tidak lagi cukup memadai untuk aktivitas sepanjang hari dan mulai timbul keluhan-keluhan sebagai berikut: Merasa lesu dan letih sewaktu bangun pagi hari Merasa mudah lelah, kurang semangat Merasa capai sepanjang hari, dan meningkat terutama menjelang sore hari Sering mengeluh lambung/perut terasa tidak nyaman (bowel discomfort) Jantung berdebar-debar Otot-otot terasa tegang, tidak bisa santai

Stres tahap III Jika seseorang tidak menghiraukan terhadap keluhan-keluhan dalam tahap dua, maka yang bersangkutan akan menunujukkan keluhan-keluhan yang semakin nyata dan mengganggu, yaitu: Gangguan fungsi sistem tubuh semakin nyata, misalnya: keluhan lambung dan usus semakin nyata, buang air kecil/air besar tidak teratur. Ketegangan otot dan sistem organ semakin nyata terasa Perasaan ketidaktenangan dan ketegangan semakin nyata Gangguan pola tidur (insomnia) 3

Koordinasi tubuh terganggu dan dapat merasa seperti mau pingsan.

Stres tahap IV Pada tahap ini akan muncul gejala-gejala: Untuk bertahan sepanjang hari saja sudah terasa amat sulit; Aktivitas pekerjaan yang semula menyenangkan dan mudah diselesaikan menjadi membosankan dan terasa lebih sulit; Yang semula tanggap terhadap situasi menjadi kehilangan kemampuan untuk merespons secara memadai (adequate); Ketidakmampuan untuk melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari; Gangguan pola tidur disertai dengan mimpimimpi yang menegangkan; Seringkali menolak ajakan (negativism) karena tiada semangat dan kegairahan; Daya konsentrasi daya ingat menurun; Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak dapat dijelaskan apa penyebabnya. Stres tahap V Bila keadaan berlanjut, maka seseorang itu akan jatuh dalam stres tahap V, yang ditandai dengan kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam (physical dan psychological exhaustion); Ketidakmampuan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang ringan dan sederhana; Gangguan sistem pencernaan semakin berat (gastrointestinal disorder); Timbul perasaan ketakutan, kecemasan yang semakin meningkat, mudah bingung dan panik. Stres tahap VI Tahapan ini merupakan tahapan klimaks, seseorang mengalami serangan panik (panic attack) dan perasaan takut mati. Tidak jarang orang yang mengalami stres tahap VI ini berulang dibawa ke Unit Gawat Darurat bahkan ICCU, meskipun pada akhirnya dipulangkan karena tidak ditemukan kelainan fisik organ tubuh. Gambaran stres tahap VI ini antara lain: Debaran jantung teramat keras; Susah bernapas (sesak dan megap-megap); Sekujur badan terasa gemetar, dingin dan keringat bercucuran; Ketiadaan tenaga untuk hal-hal yang ringan; Pingsan atau kolaps (collapse). Bila dikaji maka keluhan atau gejala sebagaimana digambarkan di atas lebih didominasi oleh keluhan-keluhan fisik yang disebabkan oleh gangguan faal (fungsional) organ tubuh, sebagai akibat stresor psikososial yang melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya. Menurut Hans Selye (1974), ada 3 tahap reaksi adaptasi seseorang terhadap stres, yaitu:3 Tahap 1: Alarm Reaction. Gejala muncul sebagai respons permulaan terhadap adanya stres, misalnya karena harus menyusun Persiapan Mengajar Harian, seorang guru baru mendadak sakit perut/mulas-mulas.

Tahap 2: Resistance. Seseorang yang sudah terbiasa menghadapi stres pada akhirnya akan lebih tahan (resisten) terhadap stres. Pada tahap ini, seseorang menemukan adaptasi yang baik terhadap situasi yang menimbulkan stres, sehingga alarm reaction menurun. Namun adakalanya pada tahap ini timbul diseases of adaptation, yaitu suatu keadaan dimana seolaholah seseorang sudah beradaptasi dengan situasi yang menimbulkan stres, padahal sebenarnya adaptasinya tidak tepat sehingga timbul penyakit-penyakit seperti darah tinggi, maag, eksem, dan sebagainya. Tahap 3: Exhaustion. Tahap ini adalah suatu keadaan dimana seseorang benar-benar sakit, yang terjadi bila stres terus menerus dialami dan orang tersebut tidak dapat mengatasinya. Pada tahap ini gejala sudah lebih berat, misalnya seseorang menjadi benar-benar putus asa, mengalami halusinasi, delusi, dan bahkan kematian. 2.4 Klasifikasi Stress Quick dan Quick (1984) mengkategorikan jenis stres menjadi dua, yaitu:3,4 * Eustress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat sehat, positif, dan konstruktif (bersifat membangun). Hal tersebut termasuk kesejahteraan individu dan juga organisasi yang diasosiasikan dengan pertumbuhan, fleksibilitas, kemampuan adaptasi, dan tingkat performance yang tinggi. * Distress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif, dan destruktif (bersifat merusak). Hal tersebut termasuk konsekuensi individu dan juga organisasi seperti penyakit kardiovaskular dan tingkat ketidakhadiran (absenteeism) yang tinggi, yang diasosiasikan dengan keadaan sakit, penurunan, dan kematian. Ciri-ciri stress yang baik:2

Mengahadapi sesuatu dengan penuh harapan untuk melawan rasa takut dalam diri. Memiliki jadwal yang sangat padat, tetapi didalam sela-sela jadwal yang padat itu ada Memiliki komitmen yang lebih terhadap apa yang Anda sayangi. Misalnya: Bekerja dengan tujuan tertentu dan Anda tahu kecepatan Anda saat bergerak akan Merasa tertantang, siap dan bersemangat untuk menerima dan menyelesaikan tugas

aktivitas yang sangat diharapkan dan sangat dinikmati.

pernikahan, menjadi seorang ayah/ibu, menjadi pekerja, atau menjadi pegawai negeri.

berkurang saat tujuan itu tercapai atau bahkan saat baru akan tercapai.

yang akan Anda hadapi.

Merasakan kondisi badan yang cukup lelah namun akhirnya akan menikmati tidur

yang lelap dan nyaman. Ciri-ciri stress yang jahat:2,3


Menghadapi segala sesuatu dengan perasan takut, resah, gelisah dan khawatir. Memiliki jadwal yang sangat padat, tetapi tak ada satupun yang dapat Anda nikmati dan mau tidak mau, harus Anda penuhi kewajiban itu. Merasa bahwa semua yang Anda lakukan tidaklah penting, tidak memenuhi seluruh kebutuhan Anda, dan tak sebanding dengan tenaga, pikiran dan waktu yang Anda curahkan.

Merasa tidak memegang kendali dan selalu merasa panik seakan-akan tidak ada jalan keluar untuk menyelesaikan tugas, merasa tidak ada selesainya, dan merasa tidak ada yang membantu menyelesaikannya.

Merasa lebih baik bekerja daripada berhenti/istirahat sejenak saat jam kerja. Memiliki tidur yang tidak lelap, tidur yang resah, sering sakit maag, sakit punggung dan mempunyai sakit yang sifatnya menahun.

2.5 Sumber-Sumber Stress Seperti yang telah diungkapkan di atas, lingkungan pekerjaan berpotensi sebagai stressor kerja. Banyak ahli mengemukakan mengenai penyebab stres kerja itu sendiri. Soewondo (1992) mengadakan penelitian dengan sampel 300 karyawan swasta di Jakarta, menemukan bahwa penyebab stres kerja terdiri atas 4 (empat) hal utama, yakni:3,5 1. Kondisi dan situasi pekerjaan 2. Pekerjaannya 3. Job requirement seperti status pekerjaan dan karir yang tidak jelas 4. Hubungan interpersonal Luthans (1992) menyebutkan bahwa penyebab stres (stressor) terdiri atas empat hal utama, yakni:3,4 1. Extra organizational stressors, yang terdiri dari perubahan sosial/teknologi, keluarga, relokasi, keadaan ekonomi dan keuangan, ras dan kelas, dan keadaan komunitas/tempat tinggal.

2. Organizational stressors, yang terdiri dari kebijakan organisasi, struktur organisasi, keadaan fisik dalam organisasi, dan proses yang terjadi dalam organisasi. 3. Group stressors, yang terdiri dari kurangnya kebersamaan dalam grup, kurangnya dukungan sosial, serta adanya konflik intraindividu, interpersonal, dan intergrup. 4. Individual stressors, yang terdiri dari terjadinya konflik dan ketidakjelasan peran, serta disposisi individu seperti pola kepribadian Tipe A, kontrol personal, learned helplessness, self-efficacy, dan daya tahan psikologis. Faktor lingkungan Selain memengaruhi desain struktur sebuah organisasi, ketidakpastian lingkungan juga memengaruhi tingkat stres para karyawan dan organisasi. Perubahan dalam siklus bisnis menciptakan ketidakpastian ekonomi, misalnya, ketika ekonomi memburuk orang merasa cemas terhadap kelangsungan pekerjaannya.2,3 Faktor organisasi Banyak faktor di dalam organisasi yang dapat menyebabkan stres. Tekanan untuk menghindari kesalahaan atau menyelesaikan tugas dalam waktu yang mepet, beban kerja yang berlebihan, atasan yang selalu menuntut dan tidak peka, dan rekan kerja yang tidak menyenangkan adalah beberapa di antaranya. Hal ini dapat mengelompokkan faktor-faktor ini menjadi tuntutan tugas, peran, dan antarpribadi.3 Tuntutan tugas adalah faktor yang terkait dengan pekerjaan seseorang. Tuntutan tersebut meliputi desain pekerjaan individual, kondisi kerja, dan tata letak fisik pekerjaan. Sebagai contoh, bekerja di ruangan yang terlalu sesak atau di lokasi yang selalu terganggu oleh suara bising dapat meningkatkan kecemasan dan stres. Dengan semakin pentingnya layanan pelanggan, pekerjaan yang menuntut faktoremosional bisa menjadi sumber stres.3 Tuntutan peran berkaitan dengan tekanan yang diberikan kepada seseorang sebagai fungsi dari peran tertentu yang dimainkannya dalamorganisasi. Konflik peran menciptakan ekspektasi yang mungkin sulit untuk diselesaikan atau dipenuhi. Tuntutan antarpribadi adalah tekanan yang diciptakan oleh karyawan. Tidak adanya dukungan dari kolega dan hubungan antarpribadi yang buruk dapat meyebabkan stres, terutama di antara para karyawan yang memiliki kebutuhan sosial yang tinggi.3,4 Faktor pribadi Faktor-faktor pribadi terdiri dari masalah keluarga, masalah ekonomi pribadi, serta kepribadian dan karakter yang melekat dalam diri seseorang. Survei nasional secara konsisten menunjukkan bahwa orang sangat mementingkan hubungan keluarga dan pribadi.

berbagai kesulitan dalam hidup perkawinan, retaknya hubungan, dan kesulitan masalah disiplin dengan anak-anak adalah beberapa contoh masalah hubungan yang menciptakan stres.3 Masalah ekonomi karena pola hidup yang lebih besar pasak daripada tiang adalah kendala pribadi lain yang menciptakan stres bagi karyawan dan mengganggu konsentrasi kerja karyawan. Studi terhadap tiga organisasi yang berbeda menunjukkan bahwa gejala-gejala stres yang dilaporkan sebelum memulai pekerjaan sebagian besar merupakan varians dari berbagai gejala stres yang dilaporkan sembilan bulan kemudian. Hal ini membawa para peneliti pada kesimpulan bahwa sebagian orang memiliki kecenderungan kecenderungan inheren untuk mengaksentuasi aspek-aspek negatif dunia secara umum. Jika kesimpulan ini benar, faktor individual yang secara signifikan memengaruhi stres adalah sifat dasar seseorang. Artinya, gejala stres yang diekspresikan pada pekerjaan bisa jadi sebenarnya berasal dari kepribadian orang itu.4 2.6 Dampak Stres Stres dapat mempengaruhi segala aspek kehidupan seseorang, terutama kesehatan. Dampak buruk akibat stres yang menimbulkan gejala somatik ini disebut gangguan psikosomatik. Hal ini dikarenakan komponen emosional memainkan penanan penting pada gangguan psikosomatis. Gangguan psikosomatis merupakan gangguan yang melibatkan antara pikiran dan tubuh. Hal ini berarti bahwa adanya faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis. Gangguan psikosomatis dapat melibatkan berbagai sistem organ di dalam tubuh sehingga perlu penanganan secara terintegrasi dari ahli medis dan ahli psikiatri.3,5 Otak dan Saraf - Sakit kepala, rasa putus asa, kurang energi, sedih, khawatir, marah, mudah tersinggung, naiknya ato turunnya nafus makan, susah berkonsentrasi, masalah ingatan, susah tidur, masalah kesehatan mental (seperti serangan panic yang tiba-tiba, gelisah, dan depresi). Kulit - Jerawat dan masalah kulit lainnya. Otot dan Persendian - Sakit otot/urat dan tegang (terutama di daerah leher, bahu, dan punggung), naiknya resiko keropos tulang. Jantung - Detak jantung semakin cepat, naiknya tekanan darah, naiknya resiko kolesterol tinggi dan serangan jantung. Perut

- Mual, sakit perut, nyeri pada jantung, dan naiknya berat badan. Pankreas - Naiknya resiko diabetes. Usus - Diare, susah buang air besar, dan masalah pencernaan lainnya. Sistem Reproduksi - Untuk wanita datang bulan yang tidak teratur dan sakit, menurunkan gairah seksual. - Untuk pria impotensi, berkurangnya produksi sperma, menurunnya gairah seksual. Sistem Kekebalan - Menurunnya kemampuan untuk melawan atau sembuh dari penyakit. 2.7 Respon terhadap Stres Manusia adalah makhluk kompleks yang berada dalam kehidupan yang kompleks pula. Kompleksitas kehidupan berpotensi menimbulkan stres, dan menuntut seseorang untuk mengatasinya. Cara seseorang mengatasi stres dapat dikelompokkan menjadi dua kategori.2,3 Pertama, cara ini merupakan cara yang spontan dan tidak disadari, dimana pengelolaan stres berpusat pada emosi yang dirasakan. Dalam istilah psikologi diklasifikasikan sebagai defense mechanism. Beberapa perilaku yang tergolong kedalam kelompok ini adalah:4 1. Acting out, yaitu menampilkan tindakan yang justru tidak mengatasi masalah. Perilaku ini lebih sering terjadi pada orang yang kurang mampu mengendalikan/menguasai sekitarnya. 2. Denial, yaitu menolak mengakui keadaan yang sebenarnya. Hal ini bisa bermakna positif, bisa pula bermakna negatif. Sebagai contoh, seseorang guru menyadari bahwa dirinya memiliki kelemahan dalam berbahasa Inggris, namun ia terus berupaya untuk mempelajarinya; bisa bermakna positif bila dengan usahanya tersebut terjadi peningkatan kemampuan; bermakna negatif bila kemampuannya tidak meningkat karena memang potensinya sangat terbatas, namun ia tetap berusaha sampai mengabaikan pengembangan potensi lain yang ada dalam dirinya. 3. Displacement, yaitu memindahkan/melampiaskan perasaan/emosi tertentu pada pihak/objek lain yang benar-benar tidak ada hubungannya namun diri, misalnya merusak barang-barang di

dianggap lebih aman. Contohnya: Seorang guru merasa malu karena ditegur oleh Kepala Sekolah di depan guru-guru lain, maka ia melampiaskan perasaan kesalnya dengan cara memarahi murid-murid di kelas. 4. Rasionalisasi, yaitu membuat alasan-alasan logis atas perilaku buruk. Contohnya: Seorang Kepala Sekolah yang tidak menegur guru yang membolos selama 3 hari mengatakan bahwa ia tidak menegur guru tersebut karena pada saat itu ia sedang mengikuti pelatihan untuk kepala sekolah di ibukota provinsi. Kedua, cara yang disadari, yang disebut sebagai direct coping, yaitu seseorang secara sadar melakukan upaya untuk mengatasi stres. Jadi pengelolaan stres dipusatkan pada masalah yang menimbulkan stres. Ada dua strategi yang bisa dilakukan untuk mengatasi stres, yaitu:4 1. Meningkatkan toleransi terhadap stres, dengan cara meningkatkan keterampilan/kemampuan diri sendiri, baik secara fisik maupun psikis, misalnya, Secara psikis: menyadarkan diri sendiri bahwa stres memang selalu ada dalam setiap aspek kehidupan dan dialami oleh setiap orang, walaupun dalam bentuk dan intensitas yang berbeda. Secara fisik: mengkonsumsi makanan dan minuman yang cukup gizi, menonton acara-acara hiburan di televisi, berolahraga secara teratur, melakukan tai chi, yoga, relaksasi otot, dan sebagainya. 2. Mengenal dan mengubah sumber stres, yang dapat dilakukan dengan tiga macam pendekatan, yaitu: (a) bersikap asertif, yaitu berusaha mengetahui, menganalisis, dan mengubah sumber stres. Misalnya: bila ditegur pimpinan, maka respon yang ditampilkan bukan marah, melainkan menganalisis mengapa sampai ditegur; (b) menarik diri/menghindar dari sumber stres. Tindakan ini biasanya dilakukan bila sumber stres tidak dapat diatasi dengan baik. Namun cara ini sebaiknya tidak dipilih karena akan menghambat pengembangan diri. Kalaupun dipilih, lebih bersifat sementara, sebagai masa penangguhan sebelum mengambil keputusan pemecahan masalah; dan (c) kompromi, yang bisa dilakukan dengan konformitas (mengikuti tuntutan sumber stres, pasrah) atau negosiasi (sampai batas tertentu menurunkan intensitas sumber stres dan meningkatkan toleransi terhadap stres). Respon Fisiologis Terhadap Stres

10

Situasi stres mengaktivasi hipotalamus yang selanjutnya mengendalikan dua sistem neuroendokrin, yaitu sistem simpatis dan system korteks adrenal. Sistem saraf simpatik berespons terhadap impuls saraf dari hipotalamus yaitu:4,5 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Mengaktivasi berbagai organ dan otot polos yang berada di bawah pengendaliannya. Sebagai contohnya, ia meningkatkan kecepatan denyut jantung dan mendilatasi pupil. Sistem saraf simpatis juga memberi sinyal ke medulla adrenal. Untuk melepaskan epinefrin dan norepinefrin ke aliran dara.; Sistem korteks adrenal diaktivasi jika hipotalamus mensekresikan CRF, suatu zat kimia yang bekerja pada kelenjar hipofisis yang terletak tepat di bawah hipotalamus. Kelenjar hipofisis selanjutnya mensekresikan hormon ACTH, yang dibawa melalui aliran darah ke korteks adrenal. Dimana, ia menstimulasi pelepasan sekelompok hormon, termasuk kortisol, yang meregulasi kadar gula darah. ACTH juga memberi sinyal ke kelenjar endokrin lain untuk melepaskan sekitar 30 hormon. Efek kombinasi berbagai hormon stres yang dibawa melalui aliran darah ditambah aktivitas neural cabang simpatik dari sistem saraf otonomik berperan dalam respons fight or flight. 2.8 Penyesuaian Diri Penyesuaian diri dalam bahasa aslinya dikenal dengan istilah adjustment atau personal adjustment. Schneiders berpendapat bahwa penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu: penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation), penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity), dan penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery).3,5 Pada mulanya penyesuaian diri diartikan sama dengan adaptasi (adaptation), padahal adaptasi ini pada umumnya lebih mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis, atau biologis. Misalnya, seseorang yang pindah tempat dari daerah panas ke daerah dingin harus beradaptasi dengan iklim yang berlaku di daerah dingin tersebut.2 Ada juga penyesuaian diri diartikan sama dengan penyesuaian yang mencakup konformitas terhadap suatu norma. Pemaknaan penyesuaian diri seperti ini pun terlalu banyak membawa akibat lain.3 Dengan memaknai penyesuaian diri sebagai usaha konformitas, menyiratkan bahwa di sana individu seakan-akan mendapattekanan kuat untuk harus selalu mampu

11

menghindarkan diri dari penyimpangan perilaku, baiksecara moral, sosial, maupun emosional.4 Sudut pandang berikutnya adalah bahwa penyesuaian diri dimaknai sebagai usaha penguasaan (mastery), yaitu kemampuan untuk merencanakan dan mengorganisasikan respons dalam cara-cara tertentu sehingga konflik-konflik, kesulitan, dan frustrasi tidak terjadi.4

2.8.1 Aspek-aspek Penyesuaian Diri Penyesuaian diri adalah kemampuan mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan atau dapat pula mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan atau keinginan diri sendiri.Menurut Fatimah (2006) penyesuaian diri memiliki dua aspek, yaitu sebagai berikut:2,3 Penyesuaian pribadi Penyesuaian pribadi adalah kemampuan seseorang untuk menerima diri demi tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Ia menyatakan sepenuhnya siapa dirinya sebenarnya, apa kelebihan dan kekurangannya dalam mampu bertindak objektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut.2 Pada aspek ini, keberhasilan penyesuaian pribadi ditandai oleh: Tidak adanya rasa benci, Tidak ada keinginan untuk lari dari kenyataan atau tidak percaya pada potensi dirinya. Sebaliknya, kegagalan penyesuaian pribadi ditandai oleh: Kegoncangan emosi Kecemasan Ketidakpuasan dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya sebagai akibat adanya jarak pemisah anatara kemampuan individu dan tuntutan yang diharapkan oleh lingkungannya. Penyesuaian sosial Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial di tempat individu itu hidup dan berinterakasi dengan orang lain. Hubungan-hubungan sosial tersebut mencakup hungan

12

dengan anggota keluarga, masyarakat, sekolah, teman sebaya, atau anggota masyarakat luas secara umum.2,3 Proses yang harus dilakukan individu dalam penyesuaian sosial adalah kemauan untuk mematuhi nilai dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Setiap kelompok masyarakat atau suku bangsa memiliki sistem nilai dan norma sosial yang berbeda-beda. Dalam proses penyesuaian sosial individu berkenalan dengan nilai dan norma sosial yang berbeda-beda lalu berusaha untuk mematuhinya, sehingga menjadi bagian dan membentuk kepribadiannya.2,3

2.8.2 Karakteristik Penyesuaian Diri Menurut Hariyadi dkk. (2003) terdapat beberapa karakteristik penyesuaian diri yang positif, diantaranya:2,3 Kemampuan menerima dan memahami diri sebagaimana adanya. Karakteristik ini mengandung pengertian bahwa orang yang mempunyai penyesuaian diri yang positif adalah orang di yang sanggup menerima kelemahan-kelemahan, Individu kekuranganmampu kekurangan samping kelebihan-kelebihannya. tersebut

menghayati kepuasan terhadap keadaan dirinya sendiri, dan membenci apalagi merusak keadaan dirinya betapapun kurang memuaskan menurut penilaiannya. Hal ini bukan berarti bersikap pasif menerima keadaan yang demikian, melainkan ada usaha aktif disertai kesanggupan mengembangkan segenap bakat, potensi, serta kemampuannya secara maksimal. Kemampuan menerima dan menilai kenyataan lingkungan di luar dirinya secara objektif, sesuai dengan perkembangan rasional dan perasaan. Orang yang memiliki penyesuaian diri positif memiliki ketajaman dalam memandang realita, dan mampu memperlakukan realitas atau kenyataan secara wajar untuk memenuhi kebutuhankebutuhannya. Ia dalam berperilaku selalu bersikap mau belajar dari orang lain, sehingga secara terbuka pula ia mau menerima feedback dari orang lain. Kemampuan bertindak sesuai dengan potensi, kemampuan yang ada pada dirinya dan kenyataan objektif di luar dirinya. Karakteristik ini ditandai oleh kecenderungan seseorang untuk tidak menyia-nyiakan kekuatan yang ada pada dirinya dan akan melakukan hal-hal yang jauh di luar jangkauan kemampuannya. Hal ini terjadi perimbangan yang rasional antara energi yang dikeluarkan dengan hasil yang

13

diperolehnya, sehingga timbul kepercayaan terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya. Memiliki perasaan yang aman dan memadai Individu yang tidak lagi dihantui oleh rasa cemas ataupun ketakutan dalam hidupnya serta tidak mudah dikecewakan oleh keadaan sekitarnya. Perasaan aman mengandung arti pula bahwa orang tersebut mempunyai harga diri yang mantap, tidak lagi merasa terancam dirinya oleh lingkungan dimana ia berada, dapat menaruh kepercayaan terhadap lingkungan dan dapat menerima kenyataan terhadap keterbatasan maupun kekurangan-kekurangan dan lingkungan-nya. Rasa hormat pada manusia dan mampu bertindak toleran. Karakteristik ini ditandai oleh adanya pengertian dan penerimaan keadaan di luar dirinya walaupun sebenarnya kurang sesuai dengan harapan atau keinginannya. Terbuka dan sanggup menerima umpan balik Karakteristik ini ditandai oleh kemampuan bersikap dan berbicara atas dasar kenyataan sebenarnya, ada kemauan belajar dari keadaan sekitarnya, khususnya belajar mengenai reaksi orang lain terhadap perilakunya. Memiliki kestabilan psikologis terutama kestabilan emosi Hal ini tercermin dalam memelihara tata hubungan dengan orang lain, yakni tata hubungan yang hangat penuh perasaan, mempunyai pengertian yang dalam, dan sikapnya wajar. Mampu bertindak sesuai dengan norma yang berlaku, serta selaras dengan hak dan kewajibannya. Individu mampu mematuhi dan melaksanakan norma yang berlaku tanpa adanya paksaan dalam setiap perilakunya. Sikap dan perilakunya selalu didasarkan atas kesadaran akan kebutuhan norma, dan atas keinsyafan sendiri. 2.8.3 Bentuk-bentuk Penyesuaian Diri Menurut Sunarto dan Hartono (1995) terdapat bentuk-bentuk dari penyesuaian diri, yaitu:3,4,5 Penyesuaian diri positif ditandai dengan hal-hal sebagai berikut: Tidak adanya ketegangan emosional. Tidak menunjukkan adanya mekanisme-mekanisme psikologis. Tidak menunjukkan adanya frustasi pribadi. Memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri.

14

Mampu dalam belajar. Menghargai pengalaman. Bersikap realistik dan objektif.

Dalam melakukan penyesuaian diri secara positif, individu akan melakukannya dalam berbagai bentuk, antara lain: Penyesuaian dengan menghadapi masalah secara langsung. Individu secara langsung menghadapi masalah dengan segala akibatnya. Misalnya seorang siswa yang terlambat dalam menyerahkan tugas karena sakit, maka ia menghadapinya secara langsung, ia mengemukakan segala masalahnya kepada guru. Penyesuaian dengan melakukan eksplorasi (penjelajahan). Individu mencari bahan pengalaman untuk dapat menghadapi dan memecahkan masalahnya. Misal seorang siswa yang merasa kurang mampu dalam mengerjakan tugas, ia akan mencari bahan dalam upaya menyelesaikan tugas tersebut, dengan membaca buku, konsultasi, diskusi, dan sebagainya. Penyesuaian dengan trial and error atau coba-coba. Individu melakukan suatu tindakan coba-coba, jika menguntungkan diteruskan dan jika gagal tidak diteruskan. Penyesuaian dengan substitusi atau mencari pengganti. Jika individu merasa gagal dalam menghadapi masalah, maka ia dapat memperoleh penyesuaian dengan jalan mencari pengganti. Misalnya gagal nonton film di gedung bioskop, dia pindah nonton TV. Penyesuaian dengan menggali kemampuan pribadi. Individu mencoba menggali kemampuan-kemampuan khusus dalam dirinya, dan kemudian dikembangkan sehingga dapat membantu penyesuaian diri. Misal seorang siswa yang mempunyai kesulitan dalam keuangan, berusaha mengembangkan kemampuannya dalam menulis (me-ngarang), dari usaha mengarang ia dapat membantu mengatasi kesulitan dalam keuangan. Penyesuaian dengan belajar. Individu melalui belajar akan banyak memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dapat membantu menyesuaikan diri. Misal seorang guru akan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak belajar tentang berbagai pengetahuan keguruan. Penyesuaian dengan inhibisi dan pengendalian diri. Individu berusaha memilih tindakan mana yang harus dilakukan, dan tindakan mana yang tidak perlu dilakukan.

15

Cara inilah yang disebut inhibisi. Selain itu, individu harus mampu mengendalikan dirinya dalam melakukan tindakannya. Penyesuaian dengan perencanaan yang cermat. Individu mengambil keputusan dengan pertimbangan yang cermat dari berbagai segi, antara lain segi untung dan ruginya.

Penyesuaian diri yang salah ditandai dengan berbagai bentuk tingkah laku yang serba salah, tidak terarah, emosional, sikap yang tidak realistik, agresif, dan sebagainya. Ada tiga bentuk reaksi dalam penyesuaian yang salah yaitu: Reaksi bertahan (defence reaction) Individu berusaha untuk mempertahankan diri, seolah-olah tidak menghadapi kegagalan. Bentuk khusus reaksi ini antara lain:2,3 Rasionalisasi, yaitu bertahan dengan mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakannya. Represi, yaitu berusaha melupakan pengalamannya yang kurang menyenangkan. Misalnya seorang pemuda berusaha melupakan kegagalan cintanya dengan seorang gadis. Proyeksi, yaitu melempar sebab kegagalan dirinya kepada pihak lain untuk mencari alasan yang dapat diterima. Misalnya seorang siswa yang tidak lulus mengatakan bahwa gurunya membenci dirinya. Sour grapes (anggur kecut), yaitu dengan memutarbalikkan kenyataan. Misalnya seorang siswa yang gagal mengetik, mengatakan bahwa mesin tik-nya rusak, padahal dia sendiri tidak bisa mengetik. Reaksi menyerang (aggressive reaction) Reaksi-reaksi menyerang nampak dalam tingkah laku : selalu membenarkan diri sendiri, mau berkuasa dalam setiap situasi, mau memiliki segalanya, bersikap senang mengganggu orang lain, menggertak baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan, menunjukkkan sikap permusuhan secara terbuka, menunjukkan sikap menyerang dan merusak, keras kepala dalam

16

perbuatannya, bersikap balas dendam, memperkosa hak orang lain, tindakan yang serampangan, marah secara sadis.3 Reaksi melarikan diri (escape reaction) Reaksi melarikan diri, nampak dalam tingkah laku seperti berfantasi, yaitu memuaskan keinginan yang tidak tercapai dalam bentuk angan-angan, banyak tidur, minum-minuman keras, bunuh diri, menjadi pecandu ganja, narkotika, dan regresi yaitu kembali kepada tingkah laku yang tipis pada tingkat perkembangan yang lebih awal, misalnya orang dewasa yang bersikap dan berwatak seperti anak kecil, dan lain-lain.3

2.9 Manajemen Stres Bila stres dirasakan sebagai permasalahan yang mengganggu aktivitas dan kualitas kehidupan, maka penting dilakukan penanganan dengan segera terhadap stres tersebut dengan manajemen pengelolaan yang baik dan pendekatan yang menyeluruh (holistic), yakni mencakup pengelolaan secara fisik (organobiologik), psikologi-psikiatri, psikososial, dan psikoreligious. Secara garis besar terdapat dua tahap, yaitu tahap pencegahan dan terapi.3 Tahap pencegahan agar seseorang tidak jatuh ke dalam stres, maka diperlukan gaya hidup yang sehat, hidup teratur, serasi, selaras, dan seimbang secara horizontal antara dirinya dan sesama orang lain dan lingkungan sekitarnya, serta secara vertikal antara diriny dan penciptanya Allah SWT, yang menciptakan alam semesta.3,4 Tahap terapi, meliputi terapi somatik dan intervensi psikososial. Terapi somatik adalah penanganan gangguan stres dengan menggunakan obat-obatan (psikofarmaka) yang berguna untuk memulihkan gangguan fungsi pada neurotransmitter (sinyal penghantar) di susunan saraf pusat otak. Cara kerja psikofarmaka adalah jalan memutuskan jaringan atau sirkuit psikoneuroimunologi, sehingga stresor psikososial yang mengenai seseorang tidak lagi mempengaruhi fungsi kognitif, afektif, psikomotor dan organ-organ tubuh lainnya. Obatobatan yang sering digunakan dalam penanganan stres dan gangguan lain yang terkait dengan stres adalah golongan psikotropika, seperti obat anti psikotik, obat anti anxieta, obat anti depresan, dan lain-lain. Selain itu dapat juga dengan pendekatan somatik yang bisa dilakukan dengan terapi elektrokonvulsi dan psikosurgeri.4,5 Pada seseorang yang mengalami stres, selain diberikan pengelolaan dengan terapi somatik, seperti terapi psikofarmaka, terapi elektro konvulsi dan terapi psikosurgeri, juga penting diberikan pendekatan dengan terapi psikososial termasuk psikoterapi keluarga.3,4

17

Kehidupan yang seimbang adalah pertukaran antara melakukan segala sesuatu yang ingin kita lakukan dan melakukan segala hal yang harus kita lakukan. Sering kali kita menginginkan yang terbaik untuk kedua-duanya, tetapi kita tidak memahami bahwa kita harus berusaha menyeimbangkan prioritas yang kadang saling bertentangan.2,3,4 Pendekatan Agama (Religi) Dewasa ini perkembangan terapi di dunia kedokteran sudah berkembang ke arah pendekatan keagamaan (psikoreligius). Dari berbagai penelitian ternyata tingkat religiusitas seseorang erat hubungannya dengan daya tahan dalam menghadapi problematika kehidupan yang merupakan stresor psikososial. Dalam perkembangan manusia seutuhnya ternyata perkembangan biologis, psikologis, dan sosial (biopsychosocial devlopment) berkembang sejajar (paralel) dengan perkembangan spiritual seseorang. Pentingnya agama dalam kesehatan juga dapat dilihat dari batasan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 1984) yang menyatakan bahwa aspek agama (spiritual) merupakan salah satu unsur penting dari pengertian sehat seutuhnya. Para peneliti seperti Harrington A (1996) dan Monakow V. Goldstein (1997) mencoba mencari hubungan antara ilmu pengetahuan (neuroscientific concepts) dengan dimensi spiritual yang masih dianggap belum jelas, namun diyakini adanya hubungan tersebut dalam presentasinya yang berjudul Brain and Religion diyakini adanya titik ketuhanan (God Spot) dalam susunan saraf pusat. Sebagai contohnya adalah ketika orang yang stres dengan gangguan kecemasan yang kemudian diberi obat anti cemas, maka yang bersangkutan akan menjadi tenang. Namun, pada orang yang sama dengan berdoa dan dzikir kepada Allah SWT juga akan memperoleh ketenangan dan kesembuhan. Hal ini memperkuat prinsip bahwa terapi medis dan terapi agama adalah saling menguatkan.2,3 Pendekatan dimensi religi ini dimaksudkan membangkitkan kekuatan keimanan dan motivasi untuk sembuh dari penyakitnya sesuai dengan agama yang diyakini seeorang. Dalam Islam banyak digunakan pendekatan doa dan dzikir dalam menghadapi gangguan, stres, dan penyakit, krisis ataupun musibah yang menimpanya serta kita selalu diingatkan bahwa apapun yang menimpa kita pada hakekatnya semua itu adlah milik Allah SWT dan kita semua kelak akan dikembalikan kepada-Nya.3,4

18

BAB III KESIMPULAN Stres adalah istilah dari ilmu kedokteran yang secara harfiah diartikan sebagai tekanan atau ketegangan yang memiliki kecenderungan mengganggu tubuh. Manusia sejak lahir telah dihadapkan dengan lingkungan, yang menjadi sumber stres. Cara-cara yang dilakukan untuk menghadapi lingkungan (stress) beranekaragam, dan keberhasilan dalam penyesuaian diri pun beranekaragam. Bagi mereka yang berhasil menyesuaikan diri, maka akan dapat hidup dengan harmonis, tetapi bagi mereka yang gagal akan mengalami maladjustment yang ditandai dengan perilaku menyimpang dan tidak sesuai dengan nilainilai yang berlaku di lingkungan atau gangguan yang lain (psikotik, neurotik, psikopatik). Salah satu faktor yang berpengaruh penting terhadap kejadian yang menimbulkan stres adalah penggunaan strategi penanggulangan adaptif (coping mechanism). Respon individu terhadap stres, dengan coping mechanism yang positif dan efektif dapat menghilangkan atau meredakan gangguan stres. Sebaliknya coping mechanism yang negatif dan tidak efektif, dapat memperburuk kesehatan dan memperbesar potensi menjadi sakit dan gangguan yang lain. Bila stres dirasakan sebagai permasalahan yang mengganggu aktivitas dan kualitas kehidupan, maka penting dilakukan penanganan dengan segera terhadap stres tersebut dengan manajemen pengelolaan yang baik dan pendekatan yang menyeluruh (holistic), yakni mencakup pengelolaan secara fisik (organobiologik), psikologi-psikiatri, psikososial, dan psikoreligious. Secara garis besar terdapat dua tahap, yaitu tahap pencegahan dan terapi. Dewasa ini perkembangan terapi di dunia kedokteran sudah berkembang ke arah pendekatan keagamaan (psikoreligius). Dari berbagai penelitian ternyata tingkat religiusitas 19

seseorang erat hubungannya dengan daya tahan dalam menghadapi problematika kehidupan yang merupakan stresor psikososial. Dalam Islam banyak digunakan pendekatan doa dan dzikir dalam menghadapi gangguan, stres, dan penyakit, krisis ataupun musibah yang menimpanya serta kita selalu diingatkan bahwa apapun yang menimpa kita pada hakekatnya semua itu adlah milik Allah SWT dan kita semua kelak akan dikembalikan kepada-Nya.

DAFTAR PUSTAKA 1. Materi Pembinaan Profesi Pengawas Sekolah. Direktorat Tenaga Kependidikan. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Departemen Pendidikan Nasional. 2008 2. Santrock, John W. Adolescence : Perkembangan Remaja Ed. 6. Jakarta : Erlangga, 2003. 3. Girdano, L A. 2005. Controlling Stress and Tension 7th edition. San Fransisco: Benjamin Cumming. 4. The American Institute of Stress. 2010. Stress, Definition of Stress, Stressor, What is Stress?, Eustress? Available at http://www.stress.org Accessed at September 26th 2011. 5. Brain Leaders and Learners. 2011. A Brain on Depression Tribute to Trey Pennington. Available at http://www.brainleadersandlearners.com Accessed at September 26th 2011.

20