Anda di halaman 1dari 2

Mediasi Dalam Konflik Korea Selatan Dan Korea Utara Suasana Semenanjung Korea kembali tegang setelah Korea

Utara pada Selasa pekan lalu membombardir pulau Yeonpyeong dengan peluru meriam artilerinya. Serangan itu menewaskan 2 warga sipil dan 2 anggota marinir Korea Selatan. Provokasi seperti itu bukan yang pertama kali dilakukan oleh Korut, setelah perjanjian gencatan senjata ditandangani pada 27 Juli 1953. Secara teknis kedua Korea sampai saat ini masih berada dalam perang, karena perjanjian yang ditandatangani adalah gencatan senjata, bukan berakhirnya perang. Pada bulan Maret lalu, Korea Utara juga menenggelamkan kapal angkatan laut Korea Selatan dengan serangan torpedonya yang menewaskan 46 pelaut Korsel. Serangan itu tentu saja membuat Seoul berang. Menurut mereka serangan yang tak dapat dibenarkan itu telah mengenai perkampungan damai. Di sekitar pulau Yeonpyeong, terdapat kira-kira 400 rumah tangga. Tembakan artileri bertubi-tubi oleh Korea Utara terhadap perkampungan itu menunjukkan secara jelas tindakan provokasi yang direncanakan dengan matang oleh Korea Utara. Penembakan artileri menuju Pulau Yeonpyeong terjadi ditengah kekhawatiran Korea Utara atas situasi diplomatik yang kurang mendukung serta upaya yang tidak jelas atas peralihan kekuasan generasi ketiga. Provokasi militer yang dilancarkan Korut hanya memperlihatkan betapa gugupnya Korea Utara dalam memasuki titik yang sangat genting dalam peralihan kepemimpinan secara turun-temurun di negara itu. Alternatif penyelesaian konflik yang dapat digunakan dala usaha penyelesaian konflik korea utara dan korea selatan ini salah satunya adalah melalui mediasi. Mediasi dikenal sebagai salah satu konsep paling familiar dalam setiap studi ilmu sosial dan politik. Dalam ruang lingkup hubungan internasional, mediasi merupakan salah satu perangkat dalam proses negosiasi penyelesaian konflik menggunakan pihak ketiga netral untuk mendekatkan dua pihak bertikai melalui komunikasi sehingga dicapai suatu kompromi yang win-win solution. Mediasi dalam konteks hubungan internasional diterjemahkan ke dalam tiga fitur utama yakni perekrutan mediator, isu, dan kompromiterciptanya mutual concessions. Mediator dipercayai oleh Young sebagai pencerminan dari bentuk optimisme dengan asumsi dasar yang mana mediasi dilihat sebagai perangkat paling potensial dalam negosiasi untuk menjembatani konflik.

Syarat kehadiran mediator adalah ia bisa diterima oleh kedua pihak. Selain itu, mediator berfungsi untuk hadir menengahi argumen serta menawarkan konsesus mutual yang bisa diterima keduanya. Mediator hadir untuk menyediakan komunikasi utamanya ketika situasi bersifat sangat emosional. Selain itu mediator mesti memiliki kapabilitas untuk menyediakan alternatif-alternatif yang visibel, diharapkan sanggup menjelaskan sudut pandang masing-masing pihak sesuai dengan kemampuan membaca fakta yang ada. Secara singkat peran mediator dapat dirangkum ke dalam lima fungsi objektif meliputi persuasif, inisiatif, penjelasan, fasilitator, dan provisi. Akan tetapi optimisme tersebut semestinya tidak berlangsung secara berlebihan. Setiap negosiasi yang dijembatani oleh pihak ketiga tidak selalu berakhir dengan kesuksesan. Terdapat beberapa situasi yang menyebabkan negosiasi tergantung pada beberapa faktor alami yang berkaitan dengan isu negosiasi, misalnya terletak pada bagaimana isu dalam negosiasi dipersepsikan oleh masing-masing pihak; pola distribusi power di antara kedua pihak; personalitas masing-masing aktor; dan identitas mediator itu sendiri. Dalam usaha penyelesaian konflik Korea Utara dan Korea Selatan ini, Indonesia juga mempunyai peran penting. pada tahun 2006, pemerintah Korea Selatan pernah meminta Indonesia untuk membantu upaya menciptakan perdamaian di Semenanjung Korea, dan presiden SBY pada saat itu menyatakan kesiapannya untuk memenuhi permintaan tersebut. Korsel berharap agar Indonesia dapat memfasilitasi pembukaan dialog antar menteri pertahanan kedua Korea. Pada saat ini pun, DPR mendorong pemerintah agar mengambil langkah diplomasi atas konflik tersebut. dalam permasalahan ini, tentunya jalan damai, melalui dialog konflik kedua korea dapat diselesaikan. apabila dengan perang terbuka, maka akan semakin banyak yang dirugikan dan penyelesaian tidak akan didapatkan. Sumber : http://arsipberita.com/search/asal+muasal+konflik+korea+selatan+korea+utara http://www.dw-world.de/dw/article/0,,6263002,00.html http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/internasional/10/12/10/151463rijepang-sepakat-penyelesaian-konflik-korea-lewat-dialog http://id.voi.co.id/voi-dignitorial/7049-konflik-korea-selatan-korea-utara-sertaperan-indonesia.html