Anda di halaman 1dari 18

PSAK 101 Akuntansi Syariah (Laporan Keuangan) PSAK 101

Penyajian Laporan Keuangan Syariah


1.Periode Pelaporan Laporan Keuangan setidaknya disajikan secara tahunan. 2.Komponen Laporan Keuangan a.Neraca b.Laporan Laba Rugi c.Laporan Arus Kas d.Laporan Perubahan Ekuitas e.Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat f.Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan g.Catatan atas Laporan Keuangan 3.Informasi yang disajikan dalam Neraca Neraca minimal mencakup pos-pos berikut: a.Kas dan Setara Kas b.Aset Keuangan c.Piutang Usaha dan Piutang Lainnya d.Persediaan e.Investasi yang diperlakukan menggunakan metode ekuitas f.Aset Tetap

g.Aset Tidak Berwujud h.Utang Usaha dan Utang Lainnya i.Utang Pajak j.Dana Syirkah Temporer k.Hak Minoritas l.Modal Saham dan Pos Ekuitas Lainnya 4.Informasi yang disajikan dalam Laporan Laba Rugi Laba Rugi minimal mencakup pos-pos berikut: a.Pendapatan Usaha b.Bagi Hasil untuk Pemilik Dana c.Beban Usaha d.Laba utau Rugi Usaha e.Pendapatan dan Beban NonUsaha f.Laba atau Rugi dari Aktivitas Normal g.Beban Pajak h.Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan 5.Informasi yang disajikan dalam Laporan Perubahan Ekuitas Laporan Perubahan Ekuitas sebagai Komponen Utama Laporan Keuangan yang menunjukan: a.Laba atau rugi bersih periode yang bersangkutan b.Setiap pos pendapatan dan beban, keuntungan atau kerugian beserta jumlahnya yang berdasarkan PSAK terkait diakui secara langsung dalam ekuitas c.Pengaruh kumulatif dari perubahan kebijakan akuntansi dan perbaikan terhadap kesalahan mendasar sebagaimana diatur dalam PSAK terkait d.Transaksi modal dengan pemilik dan distribusi kepada pemilik

e.Saldo akumulasi laba atau rugi pada awal dan akhir periode serta perubahannya f.Rekonsiliasi antara nilai tercatat dari masing-masing jenis modal saham, agio, dan cadangan pada awal dan akhir periode yang mengungkapkan secara terpisah setiap perubahan 6.Informasi yang disajikan dalam Laporan Arus Kas Laporan Arus Kas disusun berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan dalam PSAK terkait 7.Informasi yang disajikan dalam Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat sebagai Komponen Utama Laporan Keuangan yang menunjukan: a.Dana zakat berasal dari wajib zakat (Muzakki) i. Zakat dari dalam entitas syariah ii.Zakat dari pihak luar entitas syariah b.Penggunaan dana zakat melalui lembaga amil zakat untuk i. Fakir ii. Miskin iii.Riqab iv.Gharim v. Muallaf vi.Fiisabilillah vii.Amin c.Kenaikan atau penurunan zakat d.Saldo awal dana zakat e.Saldo akhir dana zakat 8.Informasi yang disajikan dalam Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan sebagai Komponen Utama Laporan Keuangan yang menunjukan:

a.Sumber dana kebajikan berasal dari penerimaan i. Infak ii. Sedekah iii.Hasil pengelolaan wakaf sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku iv.Pengembalian dana kebajikan produktif v. Denda vi. Pendapatan Non Halal b.Penggunaan dana kebajikan untuk i. Dana kebajikan produktif ii. Sumbangan iii.Penggunaan lainnya untuk kepentingan umum c.Kenaikan dan penurunan sumber dana kebajikan d.Saldo awal dana penggunaan dana kebajikan e.Saldo akhir dana penggunaan dana kebajikan 9.Informasi yang disajikan dalam Catatan Laporan Keuangan Catatan atas laporan keuangan mengungkapkan: a.Informasi tentang dasar penyusunan keuangan dan kebijakan akuntansi yang dipilih dan diterapkan terhadap peristiwa atau transaksi yang penting b.Informasi yang diwajibkan dalam PSAK tetapi tidak disajikan di neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas, laporan sumber dan penggunaan zakat dan laporan penggunaan dana kebajikan c.Informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keuangan tetapi diperlukan dalam rangka penyajian secara wajar Catatan atas laporan keuangan umumnya disajikan dengan urutan sebagai berikut: a.Pengungkapan mengenai dasar pengukuran dan kebijakan akuntansi yang diterapkan

b.Informasi pendukung pos-pos laporan keuangan sesuai urutan sebagaimana pos-pos tersebut disajikan dalam laporan keuangan dan urutan penyajian komponen laporan keuangan c.Pengungkapan lain termasuk kontijensi, komitmen dan pengungkapan keuangan lainnya serta pengungkapan yang bersifat nonkeuangan 10.Penarikan Pernyataan ini menggantikan PSAK No. 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah yang berhubungan dengan pengaturan penyajian laporan keuangan bank syariah dan berlaku mulai 1 Januari 2008.

PSAK102 Akuntansi Murabahah (Jual Beli) PSAK 102


Akuntansi Murabahah
1.Karakteristik a.Murabahah dapat dilakukan berdasarkan pesanan atau tanpa pesanan. Dalam murabahah berdasarkan pesanan, penjual melakukan pembelian barang setelah ada pemesanan dari pembeli. b.Jika aset yang telah dibeli penjual mengalami penurunan nilai sebelum diserahkan ke pembeli, maka penurunan nilai tersebut menjadi tanggungan penjual dan akan mengurangi nilai akad. c.Akad murabahah memperkenankan penawaran harga yang berbeda untuk cara pembayaran yang berbeda sebelum akad murabahah dilakukan. Namun jika akad tersebut telah disepakati, maka hanya ada satu harga ( harga dalam akad ) yang digunakan. d.Harga yang disepakati dalam murabahah adalah harga jual, sedangkan biaya perolehan harus diberitahukan. Jika penjual mendapat diskon sebelum akad murabahah, maka diskon itu merupakan hak pembeli. e.Penjual dapat meminta pembeli menyediakan agunan atas piutang murabahah, antara lain dalam bentuk barang yang telah dibeli dari penjual dan atau aset lainnya. f.Penjual dapat meminta uang muka kepada pembeli sebagai bukti komitmen pembelian sebelum akad disepakati. Uang muka penjadi bagian pelunasan piutang murabahah, jika akad murabahah disepakti. Jika akad murabahah batal, maka uang muka dikembalikan kepada pembeli setelah dikurangi kerugian rill yang ditanggung oleh penjual. Jika uang muka itu lebih kecil dari kerugian, maka penjual dapat meminta tambahan dari pembeli.

g.Jika pembeli tidak dapat menyelesaikan piutang murabahah sesuai dengan yang diperjanjikan, maka penjual dapat mengenakan denda kecuali dapat dibuktikan bahwa pembeli tidak atau belum mampu melunasi disebabkan oleh force majeur. Denda tersebut didasarkan pada pendekatan tazir yaitu membuat pembeli lebih disiplin terhadap kewajibannya. Besarnya denda sesuai dengan yang diperjanjikan dalam akad dan dana yang berasal dari denda diperuntukkan sebagai dana kebajikan. h.Penjual boleh memberikan potongan pada saat pelunasan piutang murabahah. i.Penjual boleh memberikan potongan dari total piutang murabahah yang belum dilunasi. 2.Penarikan Pernyataan ini menggantikan PSAK No. 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah yang berhubungan dengan pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan murabahah.

PSAK 103 Akuntansi Salam (Barang Pesanan)


PSAK 103 Akuntansi Salam
1.Karaktersitik
a.Entitas dapat bertindak sebagai pembeli dan atau penjual dalam suatu transaksi salam. Jika entitas bertindak sebagai penjual kemudian memesan kepada pihak lain untuk menyediakan barang pesanan dengan cara salam, maka hal ini disebut salam paralel. b.Salam parelel dapat dilakukan dengan syarat: 1.Akad antara entitas ( sebagai pembeli ) dan produsen ( penjual ) terpisah dari akad antara entitas ( sebagai penjual ) dan pembeli akhir. 2.Kedua akad tidak saling bergantung ( taaalluq ). c.Spesifikasi dan harga barang pesanan disepakati oleh pembeli dan penjual di awal akad. Ketentuan harga barang pesanan tidak dapat berubah selama jangka waktu akad. Dalam hal bertindak sebagai pembeli, entitas dapat meminta jaminan kepada penjual untuk menghindari risiko yang merugikan. d.Barang pesanan harus diketahui karakteristiknya secara umum yang meliputi jenis, spesifikasi teknis, kualitas, dan kuantitasnya. Barang pesanan harus sesuai dengan karakteristik yang telah

disepakati antara pembeli dan penjual. Jika barang pesanan yang dikirimkan salah atau cacat, maka penjual harus bertanggungjawab atas kelalaiannya. e.Alat pembayaran harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa kas, barang, atau manfaat. Pelunasan harus dilakukan pada saat akad disepakati dan tidak boleh dalam bentuk pembebasan utang penjual atau penyerahan piutang pembeli dari pihak lain. f.Transaksi salam dilakukan karena pembeli berniat memberikan modal kerja terlebih dahulu untuk memungkinkan penjual ( produsen ) memproduksi barangnya, barang yang dipesan memiliki spesifikasi khusus, atau pembeli ingin mendapatkan kepastian dari penjual. Transaksi salam diselesaikan pada saat penjual menyerahkan barang kepada pembeli.

2.Penarikan
Pernyataan ini menggantikan PSAK No. 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah, yang berhubungan dengan pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan transaksi salam.

PSAK 104 Akuntansi Istishna (Barang Proses)


PSAK 104 Akuntansi Istishna
1.Karakteristik a.Berdasarkan akad istishna, pembeli menugaskan penjual untuk menyediakan barang pesanan ( mashnu ) sesuai spesifikasi yang disyaratkan untuk diserahkan kepada pembeli, dengan cara pembayaran di muka atau tangguh. b.Spesifikasi dan harga barang pesanan disepakati oleh pembeli dan penjual di awal akad. Ketentuan harga barang pesanan tidak dapat berubah selama jangka waktu akad. c.Barang pesanan harus memenuhi kriteria: 1.memerlukan proses pembuatan setelah akad disepakati; 2.sesuai dengan spesifikasi pemesan ( customized ), bukan produk massal; dan 3.harus diketahui karakteristiknya secara umum yang meliputi jenis, spesifikasi teknis, kualitas, dan kuantitasnya.

d.Barang pesanan harus sesuai dengan karakteristik yang telah disepakati antara pembeli dan penjual. Jika barang yang diserahkan salah atau cacat maka penjual harus bertanggung jawab atas kelalaiannya. e.Entitas dapat bertindak sebagai pembeli atau penjual dalam suatu transaksi istishna. Jika entitas bertindak sebagai penjual kemudian memesan kepada pihak lain ( produsen atau kontraktor ) untuk membuat barang pesanan juga dengan cara istishna maka hal ini disebut istishna paralel. f.Istishna paralel dapat dilakukan dengan syarat akad, antara entitas dan pembeli akhir, tidak bergantung ( muallaq ) dari akad kedua, antara entitas dan pihak lain. g.Pada dasarnya istishna tidak dapat dibatalkan, kecuali memenuhi kondisi: 1.kedua belah pihak setuju untuk menghentikannya; atau 2.akad batal demi hukum karena timbul kondisi hukum yang dapat menghalangi pelaksanaan atau penyelesaian akad. h.Pembeli mempunyai hak untuk memperoleh jaminan dari penjual atas: 1.jumlah yang telah dibayarkan; dan 2.penyerahan barang pesanan sesuai dengan spesifikasi dan tepat waktu. 2.Penarikan Pernyataan ini menggantikan PSAK No. 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah yang berhubungan dengan pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan transaksi istishna.

PSAK 105 Akuntansi Mudharabah (Permodalan)


PSAK 105 Akuntansi Mudharabah
1.Definisi a.Mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak di mana pihak pertama ( pemilik dana = shahibul maal ) menyediakan seluruh dana, sedangkan pihak kedua ( pengelola dana = mudharib ) bertindak selaku pengelola dan ketuntungan di bagi di antara mereka sesuai kesepakatan sedangkan kerugiaan finansial hanya ditanggung oleh pemilik dana.

b.Mudharabah Muthlaqah adalah mudharabah di mana pemilik dana memberikan kebebasan kepada pengelola dana dalam pengelolaan investasinya. c.Mudharabah Muqayyadah adalah mudharabah di mana pemilik dana memberikan batasan kepada pengelola dana, antara lain mengenai tempat, cara dan atau objek investasi. d.Mudharabah Musytarakah adalah bentuk mudharabah di mana pengelola dana menyertakan modal atau dananya dalam kerja sama investasi. 2.Karakteristik a.Entitas dapat bertindak baik sebagai pemilik dana atau pengelola dana. b.Mudharabah terdiri atas mudharabah muthlaqah, mudharabah muqayyadah, dan mudharabah musytarakah. Jika entitas bertindak sebagai pengelola dana, maka dana yang diterima disajikan sebagai dana syirkah temporer. c.Dalam mudharabah muqayyadah, contoh batasan antara lain: 1.tidak mencampurkan dana pemilik dana dengan dana lainnya; 2.tidak menginvestasikan dananya pada transaksi penjualan cicilan, tanpa penjamin atau tanpa jaminan; atau 3.mengharuskan pengelola dana untuk melakukan investasi sendiri tanpa melalui pihak ke tiga. d.Pada prinsipnya dalam penyaluran mudharabah tidak ada jaminan, namun agar pengelola dana tidak melakukan penyimpangan maka pemilik dana dapat meminta jaminan dari pengelola dana atau pihak ketiga. Jaminan ini hanya dapat dicairkan apabila pegelola dana terbukti melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang telah disepakati bersama dalam akad. e.Pengembalian dana mudharabah dapat dilakukan secara bertahap bersamaan dengan distribusi bagi hasil atau secara total pada saat akad mudharabah diakhiri. f.Jika dari pengelolaan dana mudharabah menghasilkan keuntungan, maka porsi jumlah bagi hasil untuk pemilik dana dan pengelola dana ditentukan berdasarkan nisbah yang disepakati dari hasil usaha yang diperoleh selama periode akad. Jika dari pengelolaan dana mudharabah menimbulkan kerugian, maka kerugian finansial menjadi tanggungan pemilik dana. 3.Prinsip Pembagian Hasil Usaha a.Pembagian hasil usaha mudharabah dapat dilakukan berdasarkan prinsip bagi hasil atau bagi laba ( profit sharing ). Jika berdasarkan prinsip bagi hasil, maka dasar pembagian hasil usaha adalah laba bruto ( gross profit ) bukan total pendapatan usaha ( omzet ). Sedangkan jika berdasarkan prinsip bagi laba, dasar pembagian adalah laba neto ( net profit ) yaitu laba bruto dikurangi beban yang berkaitan dengan pengelolaan dana mudharabah.

b.Contoh: Penjualan HPP Laba Bruto Biaya Laba Neto 4.Penarikan Pernyataan ini menggantikan PSAK No. 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah yang berhubungan dengan pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan mudharabah. 100 65 35 25 10 profit sharing gross profit margin

PSAK 106 Akuntansi Musyarakah (Perserikatan)


PSAK 106 Akuntansi Musyarakah
1.Definisi a.Musyarakah adalah akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan ketentuan bahwa keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan sedangkan kerugian berdasarkan porsi kontribusi dana. Dana tersebut meliputi kas atau aset nonkas yang diperkenankan oleh syariah. b.Musyarakah permanen adalah musyarakah dengan ketentuan bagian dana setiap mitra ditentukan sesuai akad dan jumlahnya tetap hingga akhir masa akad. c.Musyarakah menurun ( musyarakah mutanaqisha ) adalah musyarakah dengan ketentuan nagian dana salah satu mitra akan dialihkan secara bertahap kepada mitra lainnya sehingga bagian dananya akan menurun pada akhir masa akad mitra lain tersebut akan menjadi pemilik penuh usaha tersebut. d.Mitra aktif adalah mitra yang mengelola usaha musyarakah, baik mengelola sendiri atau menunjuk pihak lain atas nama mitra tersebut. e.Mitra pasif adalah mitra yang tidak ikut mengelola usaha musyarakah.

2.Karakteristik a.Para mitra ( syarik ) bersama-sama menyediakan dana untuk mendanai suatu usaha tertentu dalam musyarakah, baik usaha yang sudah berjalan maupun yang baru. Selanjutnya salah satu mitra dapat mengembalikan dana tersebut dan bagi hasil yang telah disepakati nisbahnya secara bertahap atau sekaligus kepada mitra lain. b.Investasi musyarakah dapat diberikan dalam bentuk kas, setara kas, atau aset nonkas. c.Karena setiap mitra tidak menjamin dana mitra lainnya, maka setiap mitra dapat meminta mitra lainnya untuk menyediakan jaminan atas kelalaian atau kesalahan yang disengaja. Beberapa hal yang menunjukkan adanya kesalahan yang disenagaja adalah: 1.pelanggaran terhadap akad, antara lain, penyalahgunaan dana investasi, manipulasi biaya dan pendapatan operasional; atau 2.pelaksanaan yang tidak sesuai dengan prinsip syariah. d.Jika tidak terdapat kesepakatan antara pihak yang bersengketa maka kesalahan yang disengaja harus dibuktikan berdasarkan keputusan institusi yang berwenang. e.Keuntungan usaha musyarakah dibagi di antara para mitra secara proposional sesuai dengan dana yang disetorkan ( baik berupa kas maupun aset non kas ) atau sesuai nisbah yang disepakati oleh para mitra. Sedangkan kerugian dibebankan secara proposional sesuai dengan data yang disetorkan ( baik berupa kas maupun aset non kas ). f.Jika salah satu mitra memberikan kontribusi atau nilai lebih dari mitra lainnya dalam akad musyarakah maka mitra tersebut dapat memperoleh keuntungan lebih besar untuk dirinya. Bentuk keuntungan lebih tersebut dapat berupa pemberian porsi keuntungan yang lebih besar dari porsi dananya atau bentuk tambahan keuntungan lainnya. g.Porsi jumlah bagi hasil untuk mitra ditentukan berdasarkan nisbah yang disepakati dari hasil usaha yang diperoleh selama periode akad, bukan dari jumlah investasi yang disalurkan. h.Pengelola musyarakah mengadministrasikan transaksi usaha yang terkait dengan investasi musyarakah yang dikelola dalam catatan akuntansi tersendiri. 3.Penarikan Pernyataan ini menggantikan PSAK No. 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah yang berhubungan dengan pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan musyarakah.

PSAK 107 Akuntansi Ijarah (Sewa/Menyewa Upah/Mengupah)

PSAK 107 Akuntansi Ijarah


1.Definisi a.Ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu aset dalam waktu tertentu dengan pembayaran sewa (ujrah) tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan aset itu sendiri. b.Ijarah muntahiyah bittamlik adalah ijarah dengan waad perpindahan kepemilikan obyek ijarah pada saat tertentu. c.Nilai wajar adalah jumlah yang dipakai untuk mempertukarkan suatu aset antara pihak-pihak yang berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai dalam suatu transaksi dengan wajar (arms length transaction). d.Obyek ijarah adalah manfaat dari penggunaan aset berwujud atau tidak berwujud. e.Umur manfaat adalah suatu periode dimana aset diharapkan akan digunakan atau jumlah produksi/unit serupa yang diharapkan akan diperoleh dari aset. f.Waad adalah janji dari satu pihak kepada pihak lain untuk melaksanakan sesuatu. 2.Karakteristik g. Ijarah merupakan sewa-menyewa obyek ijarah tanpa perpindahan risiko dan manfaat yang terkait kepemilikan aset terkait, dengan atau tanpa waad untuk memindahkan kepemilikan dari pemilik (mujir) kepada penyewa (mustajir) pada saat tertentu. h.Perpindahan kepemilikan suatu aset yang diijarahkan dari pemilik kepada penyewa, dalam ijarah muntahiyah bittamlik, dilakukan jika seluruh pembayaran sewa atas objek ijarah yang dialihkan telah diselesaikan dan obyek ijarah telah diserahkan kepada penyewa dengan membuat akad terpisah secara: (1) hibah; (2) penjualan sebelum akad berakhir sebesar sebanding dengan sisa cicilan sewa atau harga yang disepakati; (3) penjualan pada akhir masa ijarah dengan pembayaran tertentu sebagai referensi yang disepakati dalam akad; atau (4) penjualan secara bertahap sebesar harga tertentu yang disepakati dalam akad. i.Pemilik dapat meminta penyewa untuk menyerahkan jaminan atas ijarah untuk menghindari risiko kerugian. j.Jumlah, ukuran, dan jenis obyek ijarah harus jelas diketahui dan tercantum dalam akad.

PSAK 109 Akuntansi Zakat dan Infak/Sedekah


PSAK 109 Akuntansi Zakat dan Infak/Sedekah
PENDAHULUAN Tujuan 01. Pernyataan ini bertujuan untuk mengatur pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan transaksi zakat dan infak/sedekah. Ruang Lingkup 02. Pernyataan ini berlaku untuk amil yang menerima dan menyalurkan zakat dan infak/sedekah. 03. Amil yang menerima dan menyalurkan zakat dan infak/sedekah, yang selanjutnya disebut amil, merupakan organisasi pengelola zakat yang pembentukannya dimaksudkan untuk mengumpulkan dan menyalurkan zakat dan infak/ sedekah. 04. Pernyataan ini tidak berlaku untuk entitas syariah yang menerima dan menyalurkan zakat dan infak/ sedekah, tetapi bukan kegiatan utamanya. Entitas tersebut mengacu ke PSAK 101: Penyajian Laporan Keuangan Syariah. Definisi 05. Definisi-definisi berikut digunakan dalam Pernyataan ini: Amil adalah entitas pengelola zakat yang pembentukannya dan atau pengukuhannya diatur berdasarkan peraturan perundang-undangan yang dimaksudkan untuk mengumpulkan dan menyalurkan zakat, infak/sedekah. Dana amil adalah bagian amil atas dana zakat dan infak/ sedekah serta dana lain yang oleh pemberi diperuntukkan bagi amil. Dana amil digunakan untuk pengelolaan amil. Dana infak/sedekah adalah bagian nonamil atas penerimaan infak/sedekah. Dana zakat adalah bagian nonamil atas penerimaan zakat. Infak/sedekah adalah harta yang diberikan secara sukarela oleh pemiliknya, baik yang peruntukannya dibatasi (ditentukan) maupun tidak dibatasi. Mustahiq adalah orang atau entitas yang berhak menerima zakat.M u s t a h i q terdiri dari: 1. fakir;

2. miskin; 3. riqab; 4. orang yang terlilit utang(ghorim); 5. muallaf; 6. fisabilillah; 7. orang dalam perjalanan (ibnu sabil); dan 8. amil. Muzakki adalah individu muslim yang secara syariah wajib membayar (menunaikan) zakat. Nisab adalah batas minimum harta yang wajib dikeluarkan zakatnya. Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan olehmuzakki sesuai dengan ketentuan syariah untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya( m u s t a h i q ). Karakteristik 06. Zakat merupakan kewajiban syariah yang harus diserahkan olehmuzakki kepadamustahiq baik melalui amil maupun secara langsung. Ketentuan zakat mengatur mengenai persyaratannisab,haul (baik yang periodik maupun yang tidak periodik), tarif zakat (qadar), dan peruntukannya. 07. Infak/sedekah merupakan donasi sukarela, baik ditentukan maupun tidak ditentukan peruntukannya oleh pemberi infak/sedekah. 08. Zakat dan infak/sedekah yang diterima oleh amil harus dikelola sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dan tata kelola yang baik. PENGAKUAN DAN PENGUKURAN Zakat Pengakuan awal 09. Penerimaan zakat diakui pada saat kas atau aset lainnya diterima. 10. Zakat yang diterima darimuzakki diakui sebagai penambah dana zakat: (a) jika dalam bentuk kas maka sebesar jumlah yang diterima; (b) jika dalam bentuk nonkas maka sebesar nilai wajar aset nonkas tersebut. 11. Penentuan nilai wajar aset nonkas yang diterima menggunakan harga pasar. Jika harga pasar tidak tersedia, maka dapat menggunakan metode penentuan nilai wajar lainnya sesuai yang diatur dalam PSAK yang relevan. 12. Zakat yang diterima diakui sebagai dana amil untuk bagian amil dan dana zakat untuk bagian nonamil. 13. Penentuan jumlah atau persentase bagian untuk masing-masingmustahiq ditentukan oleh amil sesuai dengan prinsip syariah dan kebijakan amil.

14. Jikamuzakki menentukanmustahiq yang harus menerima penyaluran zakat melalui amil maka aset zakat yang diterima seluruhnya diakui sebagai dana zakat. Jika atas jasa tersebut amil mendapatkanujrah/fee maka diakui sebagai penambah dana amil. Pengukuran setelah pengakuan awal 15. Jika terjadi penurunan nilai aset zakat nonkas, jumlah kerugian yang ditanggung harus diperlakukan sebagai pengurang dana zakat atau pengurang dana amil tergantung dari sebab terjadinya kerugian tersebut. 16. Penurunan nilai aset zakat diakui sebagai: (a) pengurang dana zakat, jika terjadi tidak disebabkan oleh kelalaian amil; (b) kerugian dan pengurang dana amil, jika disebabkan oleh kelalaian amil. Penyaluran zakat 17. Zakat yang disalurkan kepada mustahiq diakui sebagai pengurang dana zakat sebesar (a) jumlah yang diserahkan, jika dalam bentuk kas; (b) jumlah tercatat, jika dalam bentuk aset nonkas. Infak/Sedekah Pengakuan awal 18. Infak/sedekah yang diterima diakui sebagai dana infak/sedekah terikat atau tidak terikat sesuai dengan tujuan pemberi infak/sedekah sebesar: (a) jumlah yang diterima, jika dalam bentuk kas; (b) nilai wajar, jika dalam bentuk nonkas. 19. Penentuan nilai wajar aset nonkas yang diterima menggunakan harga pasar untuk aset nonkas tersebut. Jika harga pasar tidak tersedia, maka dapat menggunakan metode penentuan nilai wajar lainnya sesuai yang diatur dalam PSAK yang relevan. 20. Infak/sedekah yang diterima diakui sebagai dana amil untuk bagian amil dan dana infak/sedekah untuk bagian penerima infak/sedekah. 21. Penentuan jumlah atau persentase bagian untuk para penerima infak/sedekah ditentukan oleh amil sesuai dengan prinsip syariah dan kebijakan amil. Pengukuran setelah pengakuan awal 22. Infak/sedekah yang diterima dapat berupa kas atau aset nonkas. Aset nonkas dapat berupa aset lancar atau tidak lancar. 23. Aset tidak lancar yang diterima oleh amil dan diamanahkan untuk dikelola dinilai sebesar nilai wajar saat penerimaannya dan diakui sebagai aset tidak lancar infak/sedekah. Penyusutan dari aset tersebut diperlakukan sebagai pengurang dana infak/sedekah terikat apabila penggunaan atau pengelolaan aset tersebut sudah ditentukan oleh pemberi.

24. Amil dapat pula menerima aset nonkas yang dimaksudkan oleh pemberi untuk segera disalurkan. Aset seperti ini diakui sebagai aset lancar. Aset ini dapat berupa bahan habis pakai, seperti bahan makanan; atau aset yang memiliki umur ekonomi panjang, seperti mobil ambulance. 25. Aset nonkas lancar dinilai sebesar nilai perolehan sedangkan aset nonkas tidak lancar dinilai sebesar nilai wajar sesuai dengan PSAK yang relevan. 26. Penurunan nilai aset infak/sedekah tidak lancar diakui sebagai: (a) pengurang dana infak/sedekah, jika terjadi bukan disebabkan oleh kelalaian amil; (b) kerugian dan pengurang dana amil, jika disebabkan oleh kelalaian amil. 27. Dalam hal amil menerima infak/sedekah dalam bentuk aset (nonkas) tidak lancar yang dikelola oleh amil, maka aset tersebut harus dinilai sesuai dengan PSAK yang relevan. 28. Dana infak/sedekah sebelum disalurkan dapat dikelola dalam jangka waktu sementara untuk mendapatkan hasil yang optimal. Hasil dana pengelolaan diakui sebagai penambah dana infak/sedekah. Penyaluran infak/sedekah 29. Penyaluran dana infak/sedekah diakui sebagai pengurang dana infak/sedekah sebesar: (a) jumlah yang diserahkan, jika dalam bentuk kas; (b) nilai tercatat aset yang diserahkan, jika dalam bentuk aset nonkas. 30. Penyaluran infak/sedekah kepada amil lain merupakan penyaluran yang mengurangi dana infak/ sedekah sepanjang amil tidak akan menerima kembali aset infak/sedekah yang disalurkan tersebut. 31. Penyaluran infak/sedekah kepada penerima akhir dalam skema dana bergulir dicatat sebagai piutang infak/sedekah bergulir dan tidak mengurangi dana infak/ sedekah. Dana Nonhalal 32. Penerimaan nonhalal adalah semua penerimaan dari kegiatan yang tidak sesuai dengan prinsip syariah, antara lain penerimaan jasa giro atau bunga yang berasal dari bank konvensional. Penerimaan nonhalal pada umumnya terjadi dalam kondisi darurat atau kondisi yang tidak diinginkan oleh entitas syariah karena secara prinsip dilarang. 33. Penerimaan nonhalal diakui sebagai dana nonhalal, yang terpisah dari dana zakat, dana infak/ sedekah dan dana amil. Aset nonhalal disalurkan sesuai dengan syariah. PENYAJIAN 34. Amil menyajikan dana zakat, dana infak/ sedekah, dana amil, dan dana nonhalal secara terpisah dalam neraca (laporan posisi keuangan).

PENGUNGKAPAN Zakat 35. Amil harus mengungkapkan hal-hal berikut terkait dengan transaksi zakat, tetapi tidak terbatas pada: (a) kebijakan penyaluran zakat, seperti penentuan skala prioritas penyaluran, dan penerima; (b) kebijakan pembagian antara dana amil dan dana nonamil atas penerimaan zakat, seperti persentase pembagian, alasan, dan konsistensi kebijakan; (c) metode penentuan nilai wajar yang digunakan untuk penerimaan zakat berupa aset nonkas; (d) rincian jumlah penyaluran dana zakat yang mencakup jumlah beban pengelolaan dan jumlah dana yang diterima langsung mustahiq; dan (e) hubungan istimewa antara amil danm u s t a h i q yang meliputi: (i). sifat hubungan istimewa; (ii). jumlah dan jenis aset yang disalurkan; dan (iii). presentase dari aset yang disalurkan tersebut dari total penyaluran selama periode. Infak/Sedekah 36. Amil harus mengungkapkan hal-hal berikut terkait dengan transaksi infak/sedekah, tetapi tidak terbatas pada: (a) metode penentuan nilai wajar yang digunakan untuk penerimaan infak/sedekah berupa aset nonkas; (b) kebijakan pembagian antara dana amil dan dana nonamil atas penerimaan infak/sedekah, seperti persentase pembagian, alasan, dan konsistensi kebijakan; (c) kebijakan penyaluran infak/sedekah, seperti penentuan skala prioritas penyaluran, dan penerima; (d) keberadaan dana infak/sedekah yang tidak langsung disalurkan tetapi dikelola terlebih dahulu, jika ada, maka harus diungkapkan jumlah dan persentase dari seluruh penerimaan infak/sedekah selama periode pelaporan serta alasannya; (e) hasil yang diperoleh dari pengelolaan yang dimaksud di huruf (d) diungkapkan secara terpisah; (f) penggunaan dana infak/sedekah menjadi aset kelolaan yang diperuntukkan bagi yang berhak, jika ada, jumlah dan persentase terhadap seluruh penggunaan dana infak/sedekah serta alasannya; (g) rincian jumlah penyaluran dana infak/sedekah yang mencakup jumlah beban pengelolaan dan jumlah dana yang diterima langsung oleh penerima infak/sedekah;

(h) rincian dana infak/sedekah berdasarkan peruntukannya, terikat dan tidak terikat; dan (i) hubungan istimewa antara amil dengan penerima infak/sedekah yang meliputi: (i). sifat hubungan istimewa; (ii). jumlah dan jenis aset yang disalurkan; dan (iii). presentase dari aset yang disalurkan tersebut dari total penyaluran selama periode. 37. Selain membuat pengungkapan di paragraf 35 dan 36, amil mengungkapkan hal-hal berikut: (a) keberadaan dana nonhalal, jika ada, diungkapkan mengenai kebijakan atas penerimaan dan penyaluran dana, alasan, dan jumlahnya; dan (b) kinerja amil atas penerimaan dan penyaluran dana zakat dan dana infak/sedekah KETENTUAN TRANSISI 38. Pernyataan ini berlaku untuk transaksi zakat dan infak/sedekah yang terjadi pada atau setelah tanggal efektif. TANGGAL EFEKTIF 39. Pernyataan ini berlaku untuk penyusunan dan penyajian laporan keuangan entitas yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2009.