Anda di halaman 1dari 10

Kesesuaian Fisik Perairan Untuk Budidaya Rumput Laut Di Perairan Bali Menggunakan Data Penginderaan Jauh

Sayidah Sulma dan Anneke K.S. Manoppo Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi Penginderaan Jauh LAPAN Email : sulma sayidah@yahoo.co.id
Ringkasan Budidaya laut merupakan bagian dari sektor kelautan dan perikanan yang mempunyai kontribusi penting dalam memenuhi target produksi perikanan. Dalam pengembangan pemanfaatan lahan pesisir sangat dibutuhkan informasi kesesuaian lahan diantaranya untuk budidaya laut. Informasi tersebut dapat diperoleh dengan memanfaatkan data satelit penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geogras. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentikasi daerah kesesuaian sik perairan untuk budidaya rumput laut berdasarkan beberapa parameter sik perairan di perairan Bali. Parameter yang dianalisis adalah batimetri, keterlindungan lokasi, Suhu Permukaan Laut (SPL) dan Muatan Padatan Tersuspensi (MPT). Parameter tersebut diekstraksi dari data Landsat dan ALOS sedangkan data dengan resolusi temporal tinggi seperti NOAA/AVHRR dan Aqua/Terra MODIS digunakan untuk mengamati uktuasi SPL, MPT dan kandungan klorol secara periodik sehingga dapat mengantisipasi ketka terjadi kondisi yang beruktuasi. Algoritma yang digunakan untuk memperoleh informasi sik perairan mengacu pada algoritma yang diperoleh dari beberapa penelitian sebelumnya, dan diverikasi dengan data pengukuran di lapangan. Hasil analisis berdasarkan data penginderaan jauh menunjukkan bahwa daerah yang dapat dikembangkan untuk budidaya rumput laut di perairan Bali adalah seluas 3728,87 hektar. Kata kunci : budidaya laut, rumput laut, kesesuaian lahan, penginderaan jauh, perairan Bali

Pendahuluan

Budidaya laut (marinecultur) merupakan bagian dari sektor kelautan dan perikanan yang mempunyai kontribusi penting dalam memenuhi target produksi perikanan. Walaupun dalam faktanya perikanan tangkap masih memberikan kontribusi yang cukup tinggi pada sektor perikanan, berdasarkan data dari FAO tahun 2002, produksi perikanan tangkap dunia cenderung mengalami penurunan akibat eksploitasi dan berkurangnya sumberdaya ikan di laut. Sedangkan budidaya cenderung mengalami peningkatan yang cukup signikan. Berdasarkan hasil kajian Ditjen Perikanan Budidaya tahun 2004, diperkirakan terdapat 8,36 juta ha perairan laut yang secara indikatif dapat dimanfaatkan untuk pengembangan kawasan budidaya laut di Indonesia (www. indonesia.go.id., 2004). Dalam pengembangan pemanfataan lahan pesisir sangat dibutuhkan informasi mengenai potensi wilayah pesisir dan lautan yang terpadu. Integrasi antara Sistem Informasi Geogras (SIG) dengan Teknologi Penginderaan Jauh (Inderaja) yang memiliki kelebihan dalam memberikan data spasial multi temporal, cakupan luas dan mampu menjangkau daerah terpencil, merupakan informasi awal dalam pengkajian kesesuaian lahan di wilayah pesisir diantaranya untuk budidaya laut. Pada penelitian ini dilakukan identikasi daerah potensi budidaya rumput laut dengan daerah studi perairan Bali. Wilayah pesisir Bali saat ini telah dikembangkan untuk potensi wisata dan mulai dikembangkan potensi budidaya pesisir diantaranya untuk komoditi rumput laut
PIT MAPIN XVII, Bandung 10-12-2008

456

dan ikan kerapu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentikasi daerah kesesuaian sik perairan untuk budidaya rumput laut dan dinamika perairan di Bali, menggunakan data penginderaan jauh dan SIG. Informasi ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan budidaya laut di Provinsi Bali.

2
2.1

Metodologi
Bahan dan Data

Data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah data satelit Landsat 7/ETM path/row 116/66 dan 117/66 tahun 2002-2006, data satelit ALOS tahun 2006 dan data satelit NOAA 12AVHRR dan Aqua/Terra MODIS perairan Bali tahun 2006-2007. Data sekunder yang digunakan berupa Peta Rupa Bumi yang diperoleh dari Bakosurtanal dan Peta Laut yang diperoleh dari Dishidros TNI-AL. Untuk verikasi digunakan data kualitas air hasil pengukuran in-situ.

2.2
2.2.1

Metoda Penelitian
Pengolahan Data Awal

Pengolahan awal dilakukan untuk mengurangi noise pada data meliputi koreksi geometrik dan radiometrik. Koreksi geometrik dilakukan untuk menyamakan posisi pada citra dengan posisi pada bumi menggunakan acuan peta rupa bumi. Koreksi radiometrik dilakukan dengan mengubah nilai digital menjadi nilai reektansi yang bertujuan untuk menghilangkan kesalahan sudut elevasi matahari dan jarak matahari bumi pada data yang berlainan waktu. 2.2.2 Ekstraksi Parameter Biosik Perairan

Parameter biosik yang digunakan dalam analisis kesesuaian perairan adalah suhu permukaan laut (SPL), muatan padatan tersuspensi (MPT), klorol-a, batimetri dan keterlindungan lokasi. a. Suhu Permukaan Laut (SPL) Ekstraksi SPL dari data Landsat7/ETM diawali dengan konversi nilai spektral radian pada band 6 menjadi nilai brightness temperature, kemudian nilai brightness temperature dikonversi menjadi nilai SPL menggunakan algoritma berikut (Trisakti et. al, 2004): SP L( C) = 0.0684 T 63 5.3082 T 62 + 137.59 T 6 1161.2 dimana : T6 = Nilai brightness temperature band 6-2 Landsat-7/ETM Analisis SPL juga dilakukan dengan menggunakan data temporal tinggi NOAA-AVHRR untuk mengetahui kondisi dinamis SPL selama setahun. Ekstraksi SPL dari data NOAA menggunakan algoritma McMilin & Crosby (Pellegrini et al, 1986) yang terkalibrasi yaitu : SP L( C) = 0.522 [T 4 + 2.702 (T 4 T 5) 2730.582] + 13.68 dimana : T4 = Brightness temperature band 4 T5 = Brightness temperature band 5 b. Muatan Padatan Tersuspensi (MPT) Model MPT yang digunakan pada penelitian ini adalah model Trisakti et. al (2004). Persamaan algoritma yang digunakan dibedakan berdasarkan tingkat kandungan MPT. Dengan menggunakan nilai reektansi band 2 dari data Landsat-7/ETM berikut adalah algoritma yang digunakan untuk ekstraksi parameter MPT : 457 (2) (1)

Jika nilai reektansi dari band 2 0,0282 maka : M P T (mg/l) = 1.0585 e1.3593x (3)

Jika nilai reektansi band 2 > 0,0282 maka : M P T (mg/l) = 32.918x 46.616 Dengan nilai x yaitu : x = [(0.53 b2) + 0.001]/[(0.03 b2)0.0059] (5) (4)

Sebaran MPT juga dianalisis dengan menggunakan data satelit temporal tinggi MODIS untuk mengetahui pola perairan setiap bulannya. Algoritma yang digunakan untuk ekstraksi MPT dari data MODIS adalah sebagai berikut (Trisakti and Parwati, 2004): M P T (mg/l) = 0.0478((b3 + b4)/b3)11.425 (6)

c. Klorol Analisis klorol dilakukan dengan menggunakan data satelit temporal tinggi MODIS untuk melihat kondisi dan waktu yang memerlukan perhatian khusus seperti saat terjadinya toplankton bloom. Ekstraksi menggunakan model yang dibangun oleh OReilly (1998) dalam Prasasti,et al (2003) yang dinyatakan dalam persamaan berikut : Log(Chlor) = 0.283 2.753R + 1.457R2 + 0.659R3 1.403R4 dimana :R = log[(band9)/(band12)] (7) (8)

d. Batimetri Kedalaman perairan diturunkan dari peta batimetri dan dari citra satelit Landsat 7/ETM. Untuk menurunkan batimetri dari peta, tahap awal peta dikoreksi geometrik, selanjutnya dilakukan proses digitasi titik batimetri. Untuk mendapatkan informasi batimetri yang lebih detil terutama di perairan dangkal dan jernih, dilakukan ekstraksi batimetri dari citra Landsat7-ETM menggunakan model DOP (Depth of Penetration) (Green et. al,2000). Band visibel (1, 2 dan 3) dan NIR (4) pada Landsat7-ETM mempunyai kemampuan untuk menembus kolom air (penetrasi) dengan kemampuan yang berbeda-beda. Dengan memanfaatkan perbedaan penetrasi keempat band tersebut, maka diketahui zona kedalaman perairan yang terbentuk pada batas perbedaan penetrasi antar 2 band. Data batimetri yang diperoleh dari citra digabungkan dengan data batimetri yang telah didigitasi dari peta laut, kemudian dilakukan proses interpolasi dan pembuatan kontur batimetri sesuai dengan pengkelasan untuk budidaya rumput laut. e. Keterlindungan Lokasi Keterlindungan suatu perairan diidentikasi berdasarkan lokasi perairan dan faktor-faktor yang melindungi suatu perairan dari arus dan gelombang secara langsung. Identikasi lokasi yang terlindung dilakukan dengan melakukan delineasi daerah perairan yang terlindung oleh teluk atau selat yang sempit, daerah laguna (goba) dan daerah rataan karang. 2.2.3 Analisis Kesesuaian Biosik Perairan

Penentuan kesesuaian biosik perairan dilakukan dengan analisis SIG. Model kesesuaian sik perairan untuk budidaya rumput laut yang digunakan merupakan referensi dari beberapa hasil penelitian yang ditampilkan pada Tabel 1. Semua parameter diberi bobot yang sama karena 458

diasumsikan memiliki tingkat pengaruh yang sama dalam penentuan kesesuaian budidaya. Kemudian setiap parameter dibagi berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, terdiri dari kelas sesuai (S1), cukup sesuai (S2), kurang sesuai (S3) dan tidak sesuai (TS). Pada tahap ini kemudian dilakukan proses overlay (tumpang susun) parameter yang telah diekstraksi dari data Landsat 7/ETM. Proses overlay dilakukan dengan metode tree decision, dimana kelas kesesuaian dibentuk dari parameter dengan kelas yang setingkat atau kelas yang lebih tinggi. Tabel 1: Kriteria Kesesuaian Fisik Perairan untuk Budidaya Rumput Laut No 1. 2. 3. 4. Parameter Kedalaman (m) Keterlindungan Lokasi Suhu Permukaan Laut ( C) Muatan Padatan Tersuspensi (mg/l) Sesuai (S1) 2, 5 S1 5 Terlindung 26 S1 28 S1 20 Cukup Sesuai (S2) 5 < S2 < 10 Cukup dung
24S2<26 28<S230

Terlin-

Tidak Sesuai (TS) T S > 10; T S 2, 5 Tidak terlindung T S < 24; T S > 30 T S > 80

20 < S2 80

Sumber : Pratomo (1999) , Nurarini, A. (2003)

2.2.4

Analisis Dinamika Perairan

Tahap selanjutnya adalah analisis parameter perairan yang cenderung berubah karena faktor waktu dan karena kegiatan yang terjadi disekitarnya. Beberapa parameter yang dianalisis adalah SPL dari data multi temporal NOAA 12-AVHRR, MPT dan Klorol dari data Aqua/Terra MODIS. Analisis ini diharapkan dapat memberikan informasi perubahan temporal, sehingga diketahui waktu-waktu tertentu yang memerlukan perhatian khusus dalam pelaksanaan budidaya karena terjadinya uktuasi kondisi sik perairan yang tinggi pada setiap lokasi kesesuaian.

3
3.1

Hasil dan pembahasan


Parameter Biosik Perairan untuk Penentuan Daerah Kesesuaian

Informasi batimetri hasil gabungan peta laut, data Landsat 7/ETM dan data pengukuran in-situ di perairan Bali ditampilkan pada Gambar 1. Pada ekstraksi nilai batimetri dari data satelit Landsat dengan metode Depth of Penetration (DOP), batimetri pada batas dua zona mengacu pada hasil penelitian di perairan Nusa Tenggara Barat yaitu batas zona DOP 1 dan 2 adalah 13,8 m, batas zona 2 dan 3 adalah 5,7 m, dan batas zona 3 dan 4 adalah 2,5 m. Informasi batimetri yang diperoleh dari data Landsat terbatas pada perairan dangkal dan jernih yaitu di pesisir utara P. Bali, pesisir timur P. Bali sekitar P. Nusa Penida dan selatan sekitar Tanjung Benoa hingga ke pesisir bagian selatan. Dari data tersebut terlihat bahwa pesisir utara hingga timur P. Bali merupakan daerah yang terjal dengan kedalaman mencapai 1500 m. Perairan dangkal yang luas dan merupakan daerah rataan terumbu karang berada di pesisir Teluk dan Tanjung Benoa hingga ke pesisir utara dan selatan, sekitar Pulau Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, perairan Lovina dan perairan desa Sumberkima di Kabupaten Buleleng bagian barat

459

Gambar 1: Informasi Batimetri Perairan Bali Berdasarkan kriteria kesesuaian, batimetri yang sesuai (S1) untuk pelaksanaan budidaya rumput laut adalah 2,5 - 5 m, batimetri yang cukup sesuai (S2) adalah antara 510 m. Kedalaman yang lebih rendah dapat menyebabkan tanaman mudah mengalami kekeringan dan perairan mudah keruh, sedangkan kedalaman yang terlalu dalam gelombang cenderung lebih besar dan membutuhkan tali jangkar yang lebih panjang. Suhu perairan juga merupakan faktor penting dalam penentuan lokasi budidaya. Berdasarkan syarat kualitas perairan untuk budidaya, suhu yang baik untuk pertumbuhan rumput laut adalah 24 - 30 C. Gambar 2 memperlihatkan informasi rata-rata suhu permukaan laut yang diperoleh dari data satelit Landsat-7/ETM musim timur. Nilai suhu permukaan laut pada musim timur di selatan Pulau Bali berkisar antara 28.5 - 30 C. Sedangkan di perairan utara sebaran suhu cenderung lebih hangat dengan rata-rata suhu antara 30 - 31 C. Berdasarkan sebaran nilai suhu permukaan laut tersebut, perairan Bali secara umum cukup sesuai (S2) untuk usaha budidaya rumput laut.

Gambar 2: Informasi Suhu Permukaan Laut Perairan Bali Kekeruhan di suatu perairan berasal dari beberapa materi yang terlarut di dalamnya di antaranya muatan padatan tersuspensi (MPT). Bahan-bahan yang tersuspensi dan jika jumlahnya berlebihan dapat menghambat penetrasi cahaya matahari ke kolom air sehingga mempengaruhi pertumbuhan rumput laut. Tingkat kekeruhan atau MPT juga digunakan untuk analisis pencemaran di suatu perairan. Gambar 3. menampilkan informasi sebaran MPT di perairan Provinsi Bali yang dianalisa dari data Landsat-7/ETM musim timur. Kandungan MPT di sepanjang pesisir Bali rata-rata berkisar antara 0 - 10 mg/l. Kandungan MPT tertinggi terlihat di sepanjang pesisir barat 460

daya Pulau Bali dan di sekitar Teluk Benoa dengan kisaran MPT mencapai 150 mg/l. Sumber utama tingginya nilai MPT di pesisir Bali berasal dari kegiatan pertanian, peternakan dan aktivitas domestik yang banyak terdapat di pesisir dan memasuki perairan melalui beberapa sungai. Sedangkan di wilayah pesisir lainnya, di sekitar pulau-pulau kecil dan di perairan lepas pantai Pulau Bali MPT bekisar 0-10 mg/l. Nilai ini masuk ke dalam kategori yang sesuai untuk budidaya rumput laut. Secara umum nilai MPT di perairan sekitar pulau cukup layak untuk kegiatan budidaya karena berdasarkan standar mutu air untuk budidaya perikanan, kandungan MPT perairan yang diinginkan untuk budidaya laut adalah kurang dari 20 mg/l dan yang diperbolehkan adalah kurang dari 80 mg/l.

Gambar 3: Informasi Muatan Padatan Tersuspensi Perairan Bali Keterlindungan lokasi mempertimbangkan beberapa kondisi dari badan air yaitu kecepatan arus, arah arus dan tinggi gelombang serta faktor pelindung suatu perairan. Kecepatan arus yang besar dan gelombang yang tinggi dapat menghanyutkan serta merusak rakit yang digunakan dan rumput laut juga akan mudah patah. Berdasarkan syarat budidaya, kecepatan arus yang ideal untuk budidaya rumput laut adalah 20 40 cm/det, sedangkan tinggi gelombang yang ideal adalah kurang dari 0,5 m. Faktor pelindung suatu perairan yang diperlukan dalam usaha budidaya sesuai dengan karakteristik perairan Provinsi Bali adalah keberadaan teluk, perairan yang berada pada selat yang sempit, goba atau laguna dan daerah yang terlindung terumbu karang atau pada rataan karang yang luas yang dapat melindungi suatu lokasi dari hempasan gelombang secara langsung. Daerah tersebut kemudian dikelaskan menjadi kelas terlindung untuk daerah teluk, selat dan goba, kelas cukup terlindung untuk daerah rataan karang, selebihnya menjadi kelas tidak terlindung. Hasil analisis keterlindungan lokasi ditampilkan pada Gambar 4. Ditinjau dari lokasi perairan dan faktor pelindung yang diidentikasi dari data Landsat, diketahui bahwa daerah yang memililki rataan karang yang luas diantaranya adalah di pesisir Sanur hingga ke bagian selatan, pesisir Pulau Lembongan, pesisir Lovina dan pesisir Sumberkima. Daerah teluk yang juga terlindung diantaranya di sekitar Teluk Benoa dan beberapa teluk di Kabupaten Buleleng bagian barat. Sedangkan selat yang cukup melindungi perairan diantaranya adalah Selat Ceningan yang berada antara P. Lembongan dan P. Ceningan, sehingga daerah tersebut merupakan daerah yang terlindung dari ombak dan gelombang dan sangat baik untuk kegiatan budidaya laut.

461

Gambar 4: Informasi Keterlindungan Lokasi Perairan Bali

3.2

Analisis Kesesuaian Fisik Perairan untuk Budidaya

Kesesuaian perairan untuk budidaya rumput laut merupakan daerah yang memenuhi syarat kesesuaian perairan secara sik yang telah ditetapkan berdasarkan kriteria pada Tabel 1. Daerah kesesuaian sik perairan untuk budidaya rumput laut ditampilkan pada Gambar 5.

Gambar 5: Informasi Kesesuaian Fisik Perairan untuk Budidaya Rumput Laut di Perairan Bali Berdasarkan hasil analisis kesesuaian sik perairan untuk budidaya di perairan Bali, kelas tertinggi yang diperoleh adalah kelas cukup sesuai (S2), hal ini banyak dipengaruhi oleh faktor suhu perairan yang cukup tinggi hampir di semua perairan. Perairan yang memiliki kondisi cukup sesuai untuk pengembangan budidaya di Provinsi Bali meliputi perairan sekitar P. Lembongan, P. Ceningan, P. Nusa Penida, pesisir Sanur hingga ke pesisir bagian selatan, pesisir selatan dan utara Kabupaten Karangasem, pesisir bagian tengah dan barat Kabupaten Buleleng. Hal ini didukung oleh kualitas air, batimetri dan keterlindungan yang cukup baik. Berdasarkan hasil analisa dan perhitungan, diketahui bahwa luas daerah yang cukup sesuai di perairan Bali adalah 3728,87 hektar yang berada di delapan kabupaten di pesisir Bali. Daerah terluas adalah di perairan Kabupaten Badung karena memiliki rataan karang yang lebih luas dibandingkan perairan lainnya. Dari verikasi di lapangan, saat ini daerah budidaya rumput laut yang sudah dikembangkan adalah di sekitar P. Lembongan, pesisir Kota Denpasar, pesisir Kabupaten Karangasem dan pesisir barat Kabupaten Buleleng yaitu daerah Sumberkima.

462

Tabel 2: Luas daerah kesesuaian lokasi untuk budidaya rumput laut Kabupaten Jembrana Karangasem Klungkung Buleleng Badung Denpasar Gianyar Tabanan TOTAL Luas Perairan Sesuai (Ha) 115,47 69,11 363,26 1086,26 1517,92 504,40 62,23 10,23 3728,87

3.3

Analisis Dinamika Perairan

Analisis dinamika perairan dilakukan dengan memonitoring kondisi parameter sik perairan yang meliputi suhu permukaan laut, muatan padatan tersuspensi, kandungan klorol-a dan arus permukaan selama setahun. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui saat terjadinya uktuasi kondisi perairan, sehingga dapat diketahui kapan diperlukannya perhatian yang lebih khusus dalam pemeliharaan rumput laut. Pada penelitian ini, parameter SPL dianalisis dari data multitemporal NOAA-12 AVHRR sedangkan parameter MPT dan klorol-a dianalisis dari data Terra/Aqua MODIS. Gambar 6 memperlihatkan pola sebaran SPL, MPT dan Klorol-a rata-rata bulanan di 8 lokasi yaitu pesisir Kabupaten Badung, Kabupaten Buleleng bagian barat, Kabupaten Buleleng bagian timur, Kabupaten Gianyar dan Denpasar, Kabupaten Jembrana, Kabupaten Klungkung, Kabupaten Karangasem dan pesisir Kabupaten Tabanan. Berdasarkan analisis data SPL dari NOAA-12 AVHRR dalam kurun waktu satu tahun terlihat bahwa suhu permukaan laut di perairan selatan Bali selalu lebih dingin dibandingkan perairan utara Bali. Suhu lebih dingin terlihat pada musim timur (Juni September) terutama pada perairan selatan Bali dikarenakan adanya arus dari timur tenggara yang membawa air dingin ke perairan ini. Dalam setahun terlihat bahwa nilai suhu permukaan laut di perairan Bali secara umum cukup ideal namun terlihat meningkat pada Musim Barat (Desember Februari) dan peralihan 2 (Oktober November). Peningkatan yang cukup tinggi terjadi di perairan Gianyar dan Denpasar dengan SPL mencapi 31,5C pada bulan Desember. Suhu perairan yang beruktuasi dapat berpengaruh terhadap proses metabolisme tanaman laut. Terutama saat suhu perairan menjadi tinggi, karena bertambahnya suhu akan mengurangi kadar oksigen dalam air. Kondisi yang cukup stabil dan ideal terjadi pada Musim Timur dengan kisaran suhu 26,0-28,5 C. Berdasarkan pola sebaran MPT, terlihat bahwa tidak terdapat perubahan kandungan MPT yang signikan pada kurun waktu setahun di perairan Bali. Namun untuk perairan Gianyar dan Denpasar terlihat kandungan MPT beruktuasi dan cukup tinggi pada Musim Peralihan 2 yaitu antara bulan Oktober November hingga mencapai 45 mg/l. Sedangkan di perairan lainnya MPT cukup rendah dan stabil dengan kisaran MPT 10-20 mg/l. Nilai ini masih dalam batas toleransi, namun tetap perlu diperhatikan karena kekeruhan yang tinggi akan mempengaruhi kualitas air sehingga dapat menimbulkan penyakit rumput laut.

463

(a)

(b)

(c) Gambar 6: Fluktuasi SPL (a), MPT (b) dan Klorol-a (c) selama satu tahun di Perairan Bali Berdasarkan sebaran kandungan klorol-a uktuasi konsentrasi klorol-a terjadi pada musim peralihan I yaitu antara April Juni, walaupun kandungan klorol hanya mencapai 1,3 ug/l. Penurunan kandungan klorol-a terjadi pada musim barat yaitu antara November Desember. Kandungan klorol-a ini perlu diketahui karena peningkatan klorol-a yang ekstrim akan mempengaruhi pelaksanaan budidaya. Klorol-a merupakan salah satu indikator produktivitas primer dalam suatu perairan. Namun jika terjadi peningkatan kandungan klorol yang cukup ekstrem, maka perlu diperhatikan kemungkinan terjadinya ledakan populasi alga yang berbahaya. Ledakan populasi alga dapat menyebabkan turunnya kandungan oksigen dalam air. Menurut Weltch dan Lindell (1992), kondisi saat perairan terjadi pengayaan hara berlebihan dan menyebabkan pertumbuhan produktitas yang tidak terkontrol dari tumbuhan air adalah salah satunya jika kandungan klorol lebih dari 8,7 ug/l.

Kesimpulan dan saran

Perairan yang dapat dikembangkan menjadi kawasan budidaya rumput laut berdasarkan kondisi sik perairan Bali terletak perairan sekitar P. Lembongan, P. Ceningan, P. Nusa Penida, pesisir Sanur hingga ke pesisir bagian selatan, pesisir selatan dan utara Kabupaten Karangasem, pesisir bagian tengah dan barat Kabupaten Buleleng. Luas perairan yang cukup sesuai untuk budidaya rumput laut di Bali adalah 3728,87 hektar. Analisis dinamika perairan dapat dija-

464

dikan informasi pendukung dalam pelaksanaan budidaya. Waktu yang memerlukan perhatian khusus dalam pelaksanaan budidaya adalah saat Musim Barat yaitu bulan Desember-Februari dan Musim Peralihan pada bulan April-Juni dan Oktober-November. Daerah kesesuaian yang diperoleh merupakan kesesuaian sik perairan. Informasi ini perlu dianalisis lebih lanjut dengan memasukkan aspek aksesibilitas, infrastuktur dan kebijakan wilayah.

Daftar Pustaka
http://www. indonesia.go.id. 2004. Budidaya,bisa menjadi masa depan ekonomi RI. Green, E.P.; Alasdair J. E. & Peter J. M. 2000. Mapping Bathymetry. P : 219-233 dalam Edwards, A. J. (ed.) Remote Sensing Handbook for Tropical Coastal Management. UNESCO Publishing. Paris. Nurarini, A. 2003. Kajian Pengembangan Budidaya Perikanan Pesisir dan Pengaruhnya terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir di Teluk Saleh Kabupaten Dompu. Tesis. Program Pasca Sarjana IPB. Bogor Pellegrini, J.J. & I.D. Penrose. 1986. Comparison on Ship Based Satellite AVHRR Estimates of Sea Surface Temperature. Proceeding 1st Australian AVHRR Conference. Perth, Australia. Prasasti, I.; Katmoko, A. & Melany S. 2003. Model Ekstraksi Data MODIS untuk Penenetuan SPL, Klorol dan Deteksi Hotspot. Laporan Akhir Kegiatan Penelitian. LAPAN. Jakarta. Pratomo, S. 1999. Aplikasi Sistem Informasi Geogra (SIG) dalam Penentuan Kesesuaian Wilayah Perairan untuk Budidaya Rumput Laut Jenis Eucheuma di Teluk Mamuju, Sulawesi Selatan. Skripsi. Program Studi Ilmu Kelautan IPB. Bogor. Trisakti, B.; Sulma, S. & Budhiman, S. 2004. Study of Sea Surface Temperature (SST) Using Landsat-7/ETM (In Comparison with Sea Surface Temperature of NOAA-12 AVHRR). Proceedings The Thirteenth Workshop of OMISAR (WOM-13) on Validation and Application of Satellite Data for Marine Resources Conservation. Bali. Trisakti, B.; Sucipto, U.H. & Sari, J. 2004. Pemanfaatan Data Penginderaan Jauh Sebagai Tahap Awal Pengembangan Budidaya Laut dan Wisata Bahari di Kabupaten Banyuwangi dan Situbondo. Laporan Akhir Kegiatan Penelitian. LAPAN. Jakarta. Trisakti, B. & Parwati. 2004. Kajian Data Modis untuk Pemetaan Sebaran TSM (Total Suspended Matter) di Perairan Pantai dengan Pendekatan Data Landsat-7 ETM. LAPAN. Jakarta. Welch, E.B. & T. Lindell. 1992. Ecological Eect of Wastewater (Apllied limnology and pollutant eect). E & FN Spon Cambrige University press.

465