Anda di halaman 1dari 8

MODUL V STATISTIKA RADIOAKTIVITAS

Kezia Rachel, Moh. Mandela, Abghy Ghifari Faad, Catra Novendia, Eric Adyawibawa 10209026, 10209064, 10208053, 10208074, 10208106 Program Studi Fisika, Institut Tekonologi Bandung, Indonesia E-mail: nakuchan_chronos@yahoo.com Asisten : Malinda Sabrina/10208051 Tanggal Praktikum : 17 Oktober 2011

Abstrak Radioaktivitas atau peluruhan radioaktif adalah peristiwa pemancaran energi dalam bentuk sinar radioaktif seperti , , dan . Dalam Peluruhan radioaktif, partikel radiasi ini dipancarkan secara acak ke sembarang arah oleh karena itu kita harus bisa menentukan pola sebarannya dengan statistika. Metode pertama yang dilakukan pada percobaan ini adalah dengan mencari tegangan plateau dari GM counter ini untuk selanjutnya digunakan pada percobaan kedua dalam menentukan distribusi dan statistik radioaktivitasnya dari tiap variasi M dan T. Hasil percobaan menunjukkan hasil mean yang sama dari tiap perhitungan persebaran data poisson maupun normal, namun didapat nilai variansi yang berbeda. Itu bias dikarenakan nilai Vplateau yang kami peroleh belum tepat. Kata kunci : Detektor Geiger Muller, Ionisasi, Distribusi normal dan poisson, tegangan plateau, radioaktif, partikel alpha, beta, dan gamma. I. Pendahuluan

Radioaktivitas atau peluruhan radioaktif adalah peristiwa pemancaran energi dalam bentuk sinar radioaktif dari inti yang tidak stabil untuk membentuk inti yang stabil. Peristiwa ini berlangsung secara spontan dan biasanya disertai dengan pemancaran partikel , , dan [1].

Gambar 1: atbel karakteristik partikel , , dan

Adapun untuk mendeteksi partikel radiasi yang dipancarkan oleh unsur radioaktif yaitu dengan menggunakan detektor radiasi. Detektor radiasi

ada beberapa macam diantaranya detektor ruang ionisasi, counter proporsional, Geiger Muller counter, dll. Detektor yang paling sering digunakan untuk mendeteksi partikel hasil radiasi adalah detektor Geiger Muller , yang memiliki tegangan keluaran tinggi sehingga mudah dilakukan pencacahan. Pencacah Geiger Muller bekerja berdasarkan ionisasi gas. Alat pencacah Geiger Muller terdiri dari tabung yang diisi gas argon bertekanan rendah. Saat partikel positif atau negatif atau partikel bermuatan lain masuk melalui pintu tipis terbuat dari lempengan mika, maka lempengan tersebut akan mengionisasi gas argon sehingga atom dari gas argon akan melepas elektronnya. Medan listrik antara anoda dan katoda menyebabkan elektron bergerak ke arah anoda. Energi yang dibawa elektron cukup besar sehingga terjadi proses ionisasi ganda. Akibatnya sebagian besar elektron akan tiba di anoda dan menimbulkan satu pulsa listrik. Pulsa listrik akan dicatat oleh alat pencacah yang dihubungkan pada rangkaian luar. Selain itu, pulsa ini juga dihubungkan dengan suatu kumparan penguat yang memberikan bunyi tik setiap kali satu pulsa lewat[2].

Detektor Geiger Muller ini bekerja pada daerah tegangan plateau. Tegangan plateau adalah tegangan yang menyebabkan peluruhan berada pada suatu keadaan stabil. Oleh karena itu sebaiknya pencacahan dilakukan pada daerah tegangan ini. Berikut adalah gambar dari pencacah Geiger Muller :

Gambar 3: Detektor GM II. Metode Percobaan

a. Menentukan Tegangan Kerja GM Counter Pertama-tama kita nyalakan terlebih dahulu GM counter dengan menekan tombol On/Off lalu pilih bagian G-M Voltage hingga lampunya berkelap kelip, selanjutnya kita tekan tombol enter itu tentukan selang waktu yang akan digunakan dan pada percobaan bagian ini waktunya adalah 10s. Kemudian tekan tombol enter sehingga lampu pada bagian continous padam. Tekan tombol start untuk mulai mencacah bahan radioaktif yang terdeteksi oleh G-M Counter yang sebelumnya sudah dikondisikan berada di tengah-tengah alat G-M Counter. Kemudian saat dilakukan pencacahan, dicatat berapa jumlah radioaktif yang terdeteksi pada Excel. Percobaan ini dilakukan sebanyak 3 kali. Setelah percobaan selesai lalu dalam excel dihitung tegangan plateaunya untuk kemudian dipakai pada bagian percobaan selanjutnya.

Gambar 2 : Tegangan Plateau Vp = . (1)

b. Mengetahui distribusi dan statistik radioaktif Karena dalam pencacahan ini kita sebenarnya tidak mengetahui secara pasti kemana distribusi dan statistik radioaktif tersebut oleh karena itu pada bagian ini kita pertama-tama set G-M Counter pada bagian tegangan plateaunya. Selanjutnya melakukan pencacahan untuk m=50 dan m=100 dengan masing-masing menggunakan selang waktu 10 s. Selain itu dilakukan pula pencacahan dengan m=25 untuk waktu 1 s dan 10 s serta dilakukan pula pencacahan tanpa bahan radioaktif untuk m=25. Dimana m disini menyatakan jumlah pencacahan. III. Data dan Pengolahan

600 92 110 115 105.666667 618 91 113 118 107.333333 Table 1: Tabel tegangan dan cacahan

Vp =

= 470 Volt

120 100 80 60 40 20 0 005090140200260320380440500560620 13070120180240300360420480540600 2060110170230290350410470530590650 4080130190250310370430490550610 100160220280340400460520580640 150210270330390450510570630

1. Menetukan Vplateau
V 350 360 370 380 390 400 410 420 430 440 450 460 470 480 490 500 510 520 530 540 550 560 570 580 590 N1 0 62 86 93 87 72 91 99 93 87 105 118 101 84 83 92 92 102 96 102 107 96 123 94 117 N2 3 92 89 96 100 94 100 87 100 108 84 86 108 95 105 104 118 100 93 86 97 101 110 111 87 N3 4 55 93 91 86 85 104 87 84 96 78 88 106 104 86 105 91 88 99 107 78 98 99 95 122 Nrata-rata 2.33333333 69.6666667 89.3333333 93.3333333 91 83.6666667 98.3333333 91 92.3333333 97 89 97.3333333 105 94.3333333 91.3333333 100.333333 100.333333 96.6666667 96 98.3333333 94 98.3333333 110.666667 100 108.666667

Grafik 1: Grafik N versus V

2. Variasi m dengan t=10 s (dengan bahan)

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18

M=25 dan T=10 V N 470 90 93 104 92 92 102 98 87 111 111 102 89 92 87 122 103 106 121

M=50 dan T=10 V N 470 82 87 101 91 107 106 91 98 96 95 104 100 109 96 86 100 100 94

M=100 dan T=10 V N 470 92 110 102 96 94 104 92 97 87 85 85 90 98 92 89 74 81 106

19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66

79 101 98 80 105 104 97

109 94 97 109 99 93 85 121 104 110 99 89 99 103 103 101 94 98 99 100 105 98 107 103 96 109 111 105 98 88 92 89

93 109 119 122 104 100 117 108 99 114 100 102 91 88 95 104 102 106 96 99 105 103 114 101 98 84 92 90 104 97 81 105 98 105 112 90 98 109 100 99 94 97 93 108 113 98 103 84

67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 Tabel 2: Tabel varansi nilai m, dengan bahan (T tetap)

102 103 90 109 89 93 85 91 104 106 91 112 99 84 103 98 99 112 100 84 101 99 107 93 90 99 93 98 94 114 95 87 98 101

Grafik 2: Grafik distribusi normal saat M=25

Variance: 99

Mean Variance

: 98.64 : 120.407

Grafik 6: Grafik distribusi normal saat M=100 Grafik 3 : Grafik distribusi poisson saat M=25

Mean : 98.64 Variance: 98.64

Mean : 98.4 Variance: 83.0909

Grafik 7: Grafik distribusi poisson saat M=100 Grafik 4: Grafik distribusi normal saat M=50

Mean : 99 Variance: 60.5306

Mean : 98.4 Variance : 98.4 3. Variasi t dengan m=25 (dengan bahan)


M=25 dan T=10 V N 470 90 93 104 92 92 102 98 87 111 M=25 dan T= 1 V N 470 8 9 13 11 7 10 6 10 12

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Grafik 5: Grafik distribusi poisson saat M=50

Mean: 99

7 10 111 8 11 102 10 12 89 11 13 92 9 14 87 8 15 122 9 16 103 9 17 106 6 18 121 12 19 79 10 20 101 10 21 98 9 22 80 11 23 105 16 24 104 11 25 97 Tabel 3: table variasi t dengan bahan (m tetap)

Grafik 10: Grafik distribusi normal saat T= 1

Mean : 9.68 Variance: 5.06

Grafik 11 : Grafik distribusi poisson saat T=1 Grafik 8: Grafik distribusi normal saat T= 10

Mean : 98.64 Variance : 120.407

Mean: 9.68 Varience: 9.68 4. Variansi m=25 dan t=10 (tanpa bahan)
M=25 dan T= 10 V N 470 6 8 5 3 8 6 6 7 1 7

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Grafik 9 : Grafik distribusi poisson saat T=10

Mean : 98.64 Variance: 98.64

11 5 12 3 13 7 14 3 15 6 16 6 17 4 18 6 19 8 20 6 21 10 22 5 23 5 24 2 25 6 Tabel 4 : table variansi N tanpa bahan

Poisson dan Distribusi Normal yang kami buat, hasil mean nya selalu sama. Itu menunjukkan bahwa hasil yang kami peroleh cukup stabil. Namun terdapat sedikit masalah, yaitu rentang perbedaan variansi tiap grafik sangat berbeda (berbeda jauh), yang berarti nilai tiap cacahan berbeda cukup besar. Saya berpendapat, bahwa ini disebabkan oleh tebakan Vplateau kami yang belum tepat. Karena mean nya sama (benar) tapi variansinya berbeda jauh (salah) maka Vplateau tebakan kami bukan yang Vplateau yang benar hanyabaru mendekati yang

IV.

Pembahasan

seharusnya. Detektor Geiger Muller bekerja sebagai pendeteksi adanya bahan radioaktif dengan prinsip ionisasi gas. Detektor ini akan bekerja baik pada tegangan plateau nya. Dalam system kerjanya ia terhubung dengan alat pencacah yang akan berbunyi tik bila pulsa hasil perhitungan per waktu telah masuk. Pulsa sendiri dihailkan oleh adanya partikel radiasi yang masuk ke dalam tabung. Dari hasil curve fitting didapatkan bahwa Vplateau adalah 470 Volt. Hal ini didasarkan atas analisis curve fitting pada turunan pertama yang hasilnya nol serta integralnya stabil. Kalau kita berasumsi disanalah letak tegangan plateau maka memang turunan pertamanya nol sehingga grafiknya datar. Karena kami membuat grafik menggunakan Scatter pada Ms. Excel, terasa sulit ketika harus menemukan bagian yang datar. Namun kemudian setelah memperpanjang grafik dan melakukan analisis matematis, kami menebak bahwa Vplateau adalah 470 V. Hal ini masih diperbolehkan, karena masih berada di dalam range 380-560 Volt. Hal itu dibuktikan dengan hasil yang kami dapat, bahwa dalam setiap grafik distribusi Hal yang sama juga kami dapatkan pada saat mencoba dengan T yang berbeda.
TANPA BAHAN N 6 8 5 3 8 6 6 7 1 7 5 3 7 3 6 6 4 6 8 6 10 5

DENGAN BAHAN V 470 N 90 93 104 92 92 102 98 87 111 111 102 89 92 87 122 103 106 121 79 101 98 80

5 105 2 104 6 97 Tabel 5: Tabel perbandingan N (bahan-tanpa bahan)

nilai yang membentuk grafik akan semakin sempit, sehingga kemungkinan salahnya

semakin kecil (nilai belok kurva yang didapat lebih mendekati benar alias turunan

Disini kami peroleh bahwa dengan bahan, nilai N akan lebih besar sementara tanpa bahan, nilai N akan merosot drastic. Hal itu dikarenakan dengan adanya bahan yang terionisasi, detector mendeteksi partikel radioaktif yang memancar dan terlepas ke udara secara kontinyu, sehingga nilai N besar dan banyak. Sementara ketika tanpa bahan, detector hanya mendeteksi partikel2 radioaktif yang ada di udara bebas (entah itu partikel sisa ionisasi radioaktif sebelumnya, maupun terbawa dari luar)

pertamanya mendekati nol).

V.

Simpulan

sehingga jumlahnya sangat kecil dan sedikit.

Jika kita membandingkan nilai t yang diambil yaitu t kecil atau t besar sebenarnya yang paling tepat adalah t yang besar. Dengan t yang besar pencacah geiger dapat mendeteksi

Detektor GM digunakan untuk mengukur keradioaktifan suatu bahan (tingkat radiasi). Untuk mengolah data hasil sebaran pulsa yang masuk dan ditampilkan oleh alat pencacah pada GM, digunakan fungsi distribusi poisson dan distribusi normal pada MatLab. Dalam menentukan Vplateau sebaiknya gunakan curve fitting pada Matlab dan bukan Excel, karena pada Excel tidak ditampilkan detail grafik sehingga pada akhirnya kita harus melakukan analisa matematis (menebak). Hasil mean dari tiap grafik untuk kategori variansi M atau T yang sama, bernilai sama. Masalahnya terletak pada Variansi, karena nilainya berbeda jauh. VI. Pustaka

kemungkinan deteksi radioaktif secara lebih

akurat dibandingkan dengan pengambilan


waktu t yang singkat. Selain itu nilai N yang diperoleh alangkah lebih baik jika N nya kecil karena sebarannya tidak terllau luas sehingga fitting distribusi baik oleh distribusi normal maupun poisons akan lebih baik dibandingkan nilai N yang besar dan sebarannya sangat luas. Dan jika kita membandingkan jumlah m, menurut saya m besar semakin baik. Karena semakin besar m, maka rentang antara setiap

[1] http://www.anma13.co.cc/2010/06/radioakti vitas.html [2] Goris et all. 2007. Fisika untuk SMA/MA kelas XII. Jakarta : Grasindo