Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Globalisasi telah membawa perubahan demografi dan pluralitas budaya di berbagai negara.

Aspek berbeda yang berkaitan dengan multi budaya masyarakat menjadi semakin signifikan untuk pendidikan secara umum dan pendidikan matematika pada khususnya. Membahas wajah matematika dari sudut pandang ini memiliki potensi pemahaman matematika sebagai daerah yang wajahnya beragam dan dapat ditafsirkan dalam wujud formal maupun lokal. Orang memahami matematika tidak hanya dari sekolah saja, tetapi juga dari lingkungan yang dipengaruhi budaya. Oleh karena matematika yang diajarkan di sekolah juga merupakan bagian dari matematika, maka berbagai karakteristik dan interpretasi matematika dari berbagai sudut pandang juga memainkan peranan dalam pembelajaran matematika di sekolah. Dengan memahami karakter matematika, guru diharapkan dapat mengambil sikap yang tepat dalam pembelajaran matematika. Lebih jauh lagi, ia seharusnya memahami batasan sifat dari matematika yang dibelajarkan kepada anak didik. Jangan sampai guru memandang matematika hanya sebagai kumpulan rumus belaka, tidak pula hanya sebagai proses berpikir saja. Penafsiran pertama sebagai yang diakui dalam definisi formal, yang dapat dikonsep oleh matematikawan dan cukup mutlak dan harus dipahami oleh setiap peserta didik di seluruh pelosok dunia. Interpretasi kedua berasal dari memperluas dunia matematika dengan konsep aspek-aspek lokal yang dipengaruhi oleh berbagai aspek budaya, zaman dan sejarah manusia. Kesadaran ini mengharuskan kita untuk mengadakan diskusi terarah tentang nilai tambah di bidang pendidikan matematika (Nunes, 1992). Obyek-obyek matematika bersifat sosial-kultural-historis, artinya bahwa matematika dan pembelajarannya merupakan milik bersama seluruh umat. Betapapun primitifnya suatu masyarakat, matematika adalah bagian dari kebudayaannya (meski dalam bentuk yang sederhana). Oleh karena itu

ETNOMATEMATIKA | Dimensi Tradisional Bali Dalam Konsep Asta Kosala Kosali

matematika bersifat universal. Matematika itu sendiri lahir dari perjalanan panjang yang menyejarah dalam kehidupan manusia (Sumardyono, 2004). Implikasi karakteristik kultural dalam pembelajaran matematika, juga dapat dilihat pada topik yang sering disebut dengan ethnomatematika (ethnomathematics). Ethnomatematika mula-mula dipelopori oleh Ubiratan DAmbrosio tahun 1984 yang dikemukakan dalam artikelnya berjudul Ethnomathematics yang disampaikan pada pembukaan konferensi internasional pendidikan matematika di Adelaide Australia, dan dalam jurnal (DAmbrosio, 1985) berjudul Ethnomathematics And Its Place In The History And Pedagogy Of Mathematics. Etnomatematika merupakan suatu bentuk matematika yang berbeda dengan matematika sekolah sebagai akibat pengaruh kegiatan yang ada di lingkungan yang dipengaruhi oleh budaya. Di satu tingkat, ethnomatematika dapat disebut sebagai matematika dalam lingkungan (math in the environment) atau matematika dalam komunitas (math in the community). Pada tingkat lain, etnomatematika merupakan cara khusus yang dipakai oleh suatu kelompok budaya tertentu dalam aktivitas mengelompokkan, mengurutkan, berhitung dan mengukur (aktivitasaktivitas matematis). Tidak seperti baru ethnobiologi, saja lahir ethnokimia atau agak ataupun terlambat ethnoastronomi, ethnomatematika

perkembangannya. Hal ini terutama dikarenakan asumsi formal bahwa matematika itu bebas kultur. Akan tetapi, sekarang ethnomatematka sudah diterima luas, International Conggress on Ethnomathematics telah dua kali diadakan (Granada, Spanyol tahun 1998 dan Ouro Preto, MG, Brazil tahun 2002), serta ratusan buku, artikel, maupun website telah dipublikasikan. Seperti yang kita ketahui, isi dan semangat matematika ada di manamana termasuk dalam suatu kelompok budaya tertentu seperti arsitektur, agrikultur, permainan masyarakat, tatabahasa, olahraga bahkan peribadatan agama. Tentu saja yang dipelajari adalah sifat-sifat atau bentuk-bentuk matematika di dalamnya. Pembelajaran matematika dapat mengambil manfaat dari budaya tersebut, terutama sebagai sumber belajar matematika, selain untuk meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri siswa dalam belajar matematika.

ETNOMATEMATIKA | Dimensi Tradisional Bali Dalam Konsep Asta Kosala Kosali

Banyak judul ethnomatematika yang pernah dipublikasikan, baik dalam bentuk buku maupun artikel, beberapa diantaranya : bentuk pola permainan Sepak Takraw (olahraga rakyat di Sumatera), bilangan dan penggunaannya di Kedang (Indonesia), permainan Mancala (Afrika), berhitung dengan Quipu (Amerika Latin), aritmetika dalam Luo-Shu (Cina). Aktivitas matematis seperti menghitung dan mengukur sesungguhnya sangat dekat dengan kebudayaan masyarakat. Dan tanpa disadari sesungguhnya masyarakat telah menggunakan matematika dalam kesehariannya, meskipun belum mendapatkan pendidikan matematika formal. Seperti halnya masyarakat Bali yang memiliki konsep Asta Kosala Kosali dalam merancang arsitektur bali dengan menggunakan dimensi tradisional Bali. Konsep Asta Kosala Kosali merupakan aturan tentang bentuk-bentuk niyasa (symbol) pelinggih, yaitu ukuran panjang, lebar, tinggi, pepalih (tingkatan) dan hiasan dalam merancang tempat tinggal maupun bangunan suci. Menghitung dan mengukur adalah cara untuk menyajikan aspek terseleksi dari obyek dan situasi. Agar orang dapat mengukur perlu memilih dimensi apa yang akan dijadikan sebagai besaran, misalnya sekelompok obyek yang akan dihitung atau nilai panjang atau berat ketika diukur. Kegiatan menghitung dan mengukur biasanya mengarah pada tujuan yang lebih luas. Misalnya untuk rancangan arsitektur bangunan Bali. Masyarakat Bali juga memiliki dimensi khusus untuk menentukan besaran-besaran dalam perancangan bangunan Bali. Pada makalah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai dimensi tradisional bali dalam perancangan bangunan Bali yang pengukurannya menggunakan anggota tubuh sebagai satuan pengukuran. 1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah pada penulisan makalah ini sebagai berikut : 1. Bagaimana etnomatematika muncul dalam suatu lingkungan? 2. Bagaimana keberadaan etnomatematika dalam konsep dimensi menurut Kebudayaan Bali dalam kaitannya dengan konsep Asta Kosala Kosali? 3. Bagaimana perbandingan antara dimensi tradisional Bali dan dimensi Satuan Internasional?

ETNOMATEMATIKA | Dimensi Tradisional Bali Dalam Konsep Asta Kosala Kosali

1.3 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui : 1. Mengetahui keberadaan etnomatematika dalam suatu lingkungan. 2. Mengetahui keberadaan etnomatematika dalam konsep dimensi menurut Kebudayaan Bali dalam kaitannya dengan konsep Asta Kosala Kosali. 3. Mengetahui perbandingan antara dimensi tradisional Bali dan dimensi Satuan Internasional. 1.4 Manfaat Penulisan Manfaat penulisan pada makalah ini diharapkan bermanfaat bagi pembaca dalam konteks paradigma berpikir tentang matematika yang pada hakekatnya memiliki wajah yang beragam dan bukan hanya sebatas matematika formal di sekolah. Diharapkan juga makalah ini mampu memberikan informasi lebih mengenai ethnomatematika yang merupakan bukti adanya kedekatan antara konsep matematika dengan kehidupan sehari-hari. Sehingga dapat menciptakan suatu ketertarikan untuk lebih mendalami matematika khususnya etnomatematika.

ETNOMATEMATIKA | Dimensi Tradisional Bali Dalam Konsep Asta Kosala Kosali

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Ethnomatematika Dalam Keseharian Matematika seperti juga aspek kehidupan manusia lainnya, memiliki sisi yang tidak terpisahkan yaitu sejarah. Sejarah matematika terbentang dari sekitar 4000 SM hingga kini serta memuat sumbangan dari ribuan tokoh matematika. Sejarah matematika menampilkan bagian matematika yang berkaitan dengan perkembangan matematika hingga menemukan bentuknya dewasa ini, yang terekam dalam kebudayaan besar : Mesopotamia, Mesir Kuno, serta zaman modern yang sebagian besar terpusat di Eropa. Sejarah matematika termasuk bagian dari matematika. Sejarah matematika tidak saja ada karena keberadaannya merupakan suatu keniscayaan, tetapi ia juga penting karena dapat member pengaruh kepada perkembangan matematika dan pembelajaran matematika. Melihat bahwa matematika itu diciptakan oleh manusia terdahulu, maka ini member ilham bagi paradigm pembelajaran yang bersifat konstruktivisme. Ini yang menjadi peran penting sejarah matematika dalam pembelajaran. Siswa dierbolehkan menggunakan usahanya sendiri dalam menyelesaikan suatu masalah matematika (atau bernuansa matematika) bahkan dengan menggunakan bahasa dan lambangnya sendiri. Paradigm semacam ini kini menjadi trend dalam pembelajaran matematika realistik atau konstruktivis. Perkembangan matematika dalam diri individu (ontogeny) mungkin saja mengikuti cara yang sama dengan perkembangan matemtika itu sendiri (phylogeny). Bertahun-tahun para pakar pendidikan dan peneliti pendidikan matematika terfokus pada kegiatan di kelas sebagai seting utama dalam pembelajaran matematika. Berdasarkan hasil Survey (Cockcroft, 1986) dan analisis pengetahuan matematika anak (Carraher, Carraher & Schliemann, 1985, 1987; Ginburg, 1977; Ginburg, Posner & Russel, 1981; Hughes, 1986; Resnick, 1984) menunjukkan bahwa banyak pengetahuan matematika diperoleh di luar sekolah. Kenyataan bahwa pengetahuan matematika dapat diperoleh di luar sekolah memunculkan variabel baru dalam analisis pembelajaran matematika. DAmbrosio (1984, 1985)

ETNOMATEMATIKA | Dimensi Tradisional Bali Dalam Konsep Asta Kosala Kosali

menggunakan istilah ethnomathematics untuk menyebut bentuk matematika yang berbeda dengan matematika di sekolah sebagai akibat kegiatan di lingkungan yang dikelilingi pengaruh budaya. Etnomatematika merupakan kajian yang melibatkan matematika dan budaya etnik. Tujuan dari penggunaan matematika di lingkungan yang dipengaruhi budaya berbeda dengan matematika di kelas yang penekananya pada belajar untuk mengetahui sesuatu (learning to know about), belajar melakukan (learning to do), belajar menjiwai (learning to be), belajar bagaimana seharusnya belajar (learning to learn), dan belajar bersosialisasi sesama teman (learning to live together). Penggunaan matematika di luar sekolah jelas berkaitan dengan lingkungan, misalnya membangun rumah, menukar uang di Bank, menimbang hasil produksi, menentukan pola-pola geometri yang serasi, menjual dan membeli barang, dan sebagainya. Penerapan matematika seperti ini sering sangat berbeda dengan matematika yang dipelajari di sekolah. Dalam kehidupan sehari-hari di rumah, di dapur ibu-ibu sering mengukur isi dengan sendok atau cangkir, sedangkan di sekolah mengukur isi secara khusus dengan liter atau meter kubik. Di samping itu matematika dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai berbeda antara daerah satu dengan lainnya misalnya dalam sistem numerasi atau alat-alat hitung yang digunakan. Perbedaan-perbedaan dalam penggunaan matematika ini dapat dilihat secara mendalam atau yang tampak di struktur permukaan bergantung dari pandangan apa yang digunakan dari pengetahuan matematika. Dua pendekatan berbeda dalam mengkaji pengaruh budaya pada pengetahuan matematika dapat diindentifikasi dari literatur. Pandangan pertama menganut Stigler dan Baranes (1988) yang menyatakan bahwa matematika tidak bersifat universal, domain formal dari pengetahuan tetapi sebagai rakitan perwakilan-perwakilan simbolik terbentuk oleh pengaruh budaya dan prosedurprosedur untuk memanipulasi perwakilan-perwakilan itu. Misalnya dalam perkembangan anak, mereka menggabungkan perwakilan-perwakilan dan prosedur-prosedur ke dalam sistem kognitif mereka, dan proses yang terjadi dalam konteks sosial membentuk kegiatan-kegiatan. Keterampilan matematika yang dipelajari anak di sekolah tidak terbentuk secara logis pada basis struktur kognitif abstrak, tetapi menempa di luar kombinasi pengetahuan dan keterampilan

ETNOMATEMATIKA | Dimensi Tradisional Bali Dalam Konsep Asta Kosala Kosali

yang diperoleh terdahulu, dan masukan budaya baru. Pandangan kedua (Nunes, 1992) menyatakan bahwa pengertian pengaruh budaya pada pembelajaran matematika harus melibatkan keduanya baik analisa perbedaan antar solusi-solusi khusus pada realita matematik maupun pengakuan pada ketetapan-ketetapan logika (logical invariants) yang mendasari perbedaan-perbedaan itu. Perbedaan budaya ada tidak hanya dikarenakan berseberangan dalam kebudayaan. Di dalam suatu kebudayaan, berbeda dalam penggunaan matematika bergantung pada tujuannya. Penelitian dalam pendidikan matematika dapat mengambil makna dari analisa berbagai solusi pada masalah sama yang serempak ada dalam suatu kebudayaan tunggal. Dalam suatu kebudayaan terdapat penyajian tertulis maupun lisan, ini seperti dua praktek dalam aritmetika secara bersamaan (Red & Lave, 1981). Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan matematika dalam suatu budaya tertentu yang berbeda dalam cara tetapi sejenis dan perbedaan lainnya pada kaitan antara penyajian dan penggunaan ketetapan-ketetapan dalam penerapan matematika. DAmbrosio (2002:3) menyatakan terdapat dua alasan utama menggunaan ethnomathematics dalam pendidikan : (1) untuk mereduksi anggapan bahwa matematika itu bersifat final, permanen, absolute (pasti), dan unik (tertentu), (2) mengilustrasikan perkembangan intelektual dari berbagai macam kebudayaan, profesi, gender dan lain-lain. 2.2 Dimensi Tradisional Bali Dalam Konsep Asta Kosala Kosali Ethnomatematika juga telah ada dalam kehiduan masyarakat Bali. Hal ini ditinjau dari sejarah mengenai arsitektur Bali yang ternyata memiliki dimensi khusus yang hanya dimiliki masyarakat Bali untuk melakukan aktivitas matematika yaitu pengukuran dalam perancangan suatu bangunan. Menurut Ida Pandita Dukuh Samyaga, perkembangan arsitektur bangunan Bali, tak lepas dari peran beberapa tokoh sejarah Bali Aga berikut zaman Majapahit. Tokoh Kebo Iwa dan Mpu Kuturan yang hidup pada abad ke 11, atau zaman pemerintahan Raja Anak Wungsu di Bali banyak mewarisi landasan pembangunan arsitektur Bali.

ETNOMATEMATIKA | Dimensi Tradisional Bali Dalam Konsep Asta Kosala Kosali

Danghyang Nirartha yang hidup pada zaman Raja Dalem Waturenggong setelah ekspidisi Gajah Mada ke Bali abad 14, juga ikut mewarnai khasanah arsitektur tersebut ditulis dalam lontar Asta Bhumi dan Asta kosala-kosali yang menganggap Bhagawan Wiswakarma sebagai dewa para arsitektur. Penjelasan dikatakan oleh Ida Pandita Dukuh Samyaga. Lebih jauh dikemukakan, Bhagawan Wiswakarma sebagai Dewa Arsitektur, sebetulnya merupakan tokoh dalam cerita Mahabharata yang dimintai bantuan oleh Krisna untuk membangun kerjaan barunya. Dalam kisah tersebut, hanya Wismakarma yang bersatu sebagai dewa kahyangan yang bisa menyulap laut menjadi sebuah kerajaan untuk Krisna. Kemudian secara turun-temurun oleh umat Hindu diangap sebagai dewa arsitektur. Karenanya, tiap bangunan di bali selalu disertai dengan upacara pemujaan terhadap Bhagawan Wiswakarma. Upacara demikian dilakukan mulai dari pemilihan lokasi, membuat dasar bagunan sampai bangunan selesai. Hal ini bertujuan minta restu kepada Bhagawan Wiswakarma agar bangunan itu hidup dan memancarkan vibrasi positif bagi penghuninya. Menurut kepercayaan masyarakat Hindu Bali, bangunan memiliki jiwa bhuana agung (alam makrokosmos) sedangkan manusia yang menempati bangunan adalah bagian dari buana alit (mikrokosmos). Antara manusia (mikrokosmos) dan bangunan yang ditempati harus harmonis, agar bisa mendapatkan keseimbangan anatara kedua alam tersebut. Karena itu, mebuat bagunan harus sesuai dengan tatacara yang ditulis dalam sastra Asta Bhumi dan Atas Kosala-kosali sebagai fengsui Hindu Bali. Asta Kosali adalah nama lontar tentang ukuran membuat rumah, sedangkan Asta Kosala adalah nama lontar tentang ukuran membuat menara atau bangunan tinggi, wadah, bade, usungan mayat. Kosala berarti balai atau balai kambang di tengah-tengah telaga. Asta atau Hasta berarti ukuran panjang 1(satu) hasta yaitu dari pergelangan tangan sampai siku. Asta Kosala Kosali merupakan Fengshui-nya Bali, adalah sebuah tata cara, tata letak, dan tata bangunan untuk bangunan tempat tinggal serta bangunan tempat suci yang ada di Bali yang sesuai dengan landasan Filosofis, Etis, dan Ritual dengan memperhatikan konsepsi perwujudan, pemilihan lahan, hari baik (dewasa) membangun rumah, serta pelaksanaan yadnya.

ETNOMATEMATIKA | Dimensi Tradisional Bali Dalam Konsep Asta Kosala Kosali

Pada jaman tersebut masyarakat Bali belum mendapatkan pendidikan mengenai matematika formal. Sehingga untuk melakukan pengukurannya pun lebih menggunakan ukuran dari tubuh pemilik rumah dan mereka tidak menggunakan meter tetapi menggunakan seperti : Musti (ukuran atau dimensi untuk ukuran tangan mengepal dengan ibu jari yang menghadap ke atas), Hasta (ukuran sejengkal jarak tangan manusia dewata dari pergelangan tengah tangan sampai ujung jari tengah yang terbuka), Depa (ukuran yang dipakai antara dua bentang tangan yang dilentangkan dari kiri ke kanan). Adapun ilustrasi dari dimensi pengukuran tradisional Bali dapat dilihat pada gambar 2.1 berikut :

alengkat

ETNOMATEMATIKA | Dimensi Tradisional Bali Dalam Konsep Asta Kosala Kosali

asirang Gambar 2.1 Dimensi-dimensi tradisional Bali Dimensi-dimensi inilah yang digunakan oleh masyarakat Bali untuk pengukuran dalam merancang dan membangun suatu bangunan baik itu tempat tinggal maupun tempat ibadah. Untuk pembangunan tempat tinggal, digunakan ukuran tubuh dari pemilik rumah, sedangkan untuk pembangunan tempat ibadah yang dalam hal ini mengkhususkan pada Umat Agama Hindu yang dikenal dengan nama Pura, digunakan ukuran tubuh dari Sulinggih selaku pengemong Pura tersebut.
ETNOMATEMATIKA | Dimensi Tradisional Bali Dalam Konsep Asta Kosala Kosali

10

Beberapa tulisan-tulisan dari lontar uperenggina yang mencakup Asta Kosala Kosali : 1. 21 rai, asari sauseran tujuh, Sang Hyang Mangkurat, ngaran; yan maurip setelek setengah caping, Sang Hyang Kumbara Jajnya ngaran; yania secaping setengah rai Sang Hyang Udaya Geni, ngaran; maurip, senyari kacing betara asih ngaran; maurip seguli madu, buta asih ngaran. 2. Nihan perektekaning sikut sanggar paryangan, pet raining sesaka, wilangania 1 Sanggah, 2 Dewa, 3 Watu, 4 Gunung, 5 Lebah. Yan tiba ring sanggah, dawa ayu, maka adeging sesaka, teka ning rongan bawak, muang dawania, wenang tikalakena, pada maurip anyari kacing dewa sin ngaran. Yan tiba ring wetu, gunung ika wenang pinaka rongan tugu. Yan tiba ring lebah wenang pinaka umah padutan, mangkana pawilangania. Sikut suku tampakin manuk, manemu watu, yan suku bener soring sunduk bawak, anemu dewa nggawa urip, ika wenang angge. 3. Nihan sikut patin tumbak rauhing besinnia, panjangnia depaan sang mengangge; rong depa, maurip 5, lengkat, rong guli duwi detya ngaran, gawaning wong ika. Rong depa 5, lengkat, tigang guli teri sanga, ngaran, gawaning mantri agung, muang kemantraning mapegat kaga jayan palannia. Rong depa maurip 5 lengkat, saguli, Ekaduaja, ngaran, pengawin ratu amawa bumi, kawenang ika. Rong depa 4 lengkat, maurip 7 guli, gajah ngaran, pengawining sang Brahmana. Rong depa maurip alengkat rong guli, wenang agawanan aburu, jaga satru, ngaran, mangkana desang mayun anjaya satru, yan tan mangkana amawa sikute sekadi ring arep, yan katekaning perelaya, sasar palania, tan pemangguh nggon, muah sama muang pasu, wang mangkana sekama-kama.

ETNOMATEMATIKA | Dimensi Tradisional Bali Dalam Konsep Asta Kosala Kosali

11

Beberapa jenis-jenis ukuran dalam Asta Kosali Kosali : Ukuran Galah Ukuran Dwaja Ukuran Wreksa Ukuran Singa : dari utara ke selatan 15 depa dan dari timur ke : dari utara ke selatan 13 depa dan dari timur ke : dari utara ke selatan 12 depa dan dari timur ke : dari utara ke selatan 13 depa dan dari timur ke barat 14 depa (15 x 14 depa), hayu (11 x 10 depa). barat 12 depa (13 x 12 depa), hayu (9 x 8 depa) barat 11 depa (12 x 11 depa), hayu (8 x 7 depa) barat 12 depa (13 x 12 depa), hayu (9 x 8 depa). Penempatan lokasi untuk bangunan suci : untuk Merajan Kemulan yaitu dari pinggir tembok di timur ke barat 7 tamak + 1 tampak ngandang, untuk Tempat Piyasan yaitu dari Kemulan ke barat 11 tampak + 1 tampak ngandang, untuk Taksu yaitu dari tengah-tengah antara Kemulan dan Piyasan ke utara sesuai dengan keadaan didirikan taksu. Dalam kasus ini akan dipaparkan mengenai ukuran-ukuran dalam membangun suatu bangunan untuk tempat peribadatan dengan dimensi tradisional Bali. 1. Luas Halaman Pura Sebagai lokasi menurut Asta Kosala Kosali yaitu memanjang dari Timur ke Barat ukuran yang baik adalah: Panjang dalam ukuran "depa" (bentangan tangan lurus dari kiri ke kanan dari pimpinan/klian/Jro Mangku atau orang suci lainnya): 2,3,4,5,6,7,11,12,14,15,19. Lebar dalam ukuran depa: 1,2,3,4,5,6,7,11,12,14,15. Alternatif total luas dalam depa: 2x1,3x2, 4x3, 5x4, 6x5, 7x6, 11x7, 12x11, 14x12, 15x14, 19x15. Memanjang dari Utara ke Selatan ukuran yang baik adalah: Panjang dalam ukuran depa : 4,5,6,13,18. Lebar dalam ukuran depa: 5,6,13. Alternatif total luas dalam depa: 6x5, 13x6, 18x13. Jika halaman sangat luas, misalnya untuk membangun Padmasana kepentingan orang banyak seperti Pura Jagatnatha, dll. boleh menggunakan kelipatan dari alternatif yang tertinggi. Kelipatan itu: 3 kali, 5 kali, 7 kali, 9 kali dan 11 kali. Misalnya untuk halaman yang memanjang dari Timur ke Barat, alternatif luas maksimum dalam kelipatan adalah: 3x(19x15),

ETNOMATEMATIKA | Dimensi Tradisional Bali Dalam Konsep Asta Kosala Kosali

12

5x(19x15), 7x(19x15), 9x(19x15), 11x(19x15). Untuk yang memanjang dari Utara ke Selatan, alternatif luas maksimum dalam kelipatan adalah: 3x(18x13), 5x(18x13), 7x(18x13), 9x(18x13), 11x(18x13). 2. Hulu-Teben "Hulu" artinya arah yang utama, sedangkan "teben" artinya hilir atau arah berlawanan dengan hulu. Ada dua patokan mengenai hulu yaitu Arah Timur, dan Arah "Kaja", mengenai arah Timur bisa diketahui dengan tepat dengan menggunakan kompas. Arah kaja adalah letak gunung atau bukit. Cara menentukan lokasi Pura adalah menetapkan dengan tegas arah hulu, artinya jika memilih timur sebagai hulu agar benar-benar timur yang tepat, jangan melenceng ke timur laut atau tenggara. Jika memilih kaja sebagai hulu, selain melihat gunung atau bukit juga perhatikan kompas. Misalnya jika gunung berada di utara maka hulu agar benar-benar di arah utara sesuai kompas, jangan sampai melenceng ke arah timur laut atau barat laut, demikian seterusnya. Pemilihan arah hulu yang tepat sesuai dengan mata angin akan memudahkan membangun pelinggih-pelinggih dan memudahkan pelaksanaan upacara dan arah pemujaan. 3. Bentuk Halaman Pura Untuk bentuk halaman pura adalah persegi empat sesuai dengan ukuran Asta Bumi sebagaimana diuraikan terdahulu. Jangan membuat halaman pura tidak persegi empat misalnya ukuran panjang atau lebar di sisi kanan - kiri berbeda, sehingga membentuk halaman seperti trapesium, segi tiga, lingkaran, dll. Hal ini berkaitan dengan tatanan pemujaan dan pelaksanaan upacara, misalnya pengaturan meletakkan umbul-umbul, penjor, dan Asta kosala. Pembangunan halaman pura, untuk Pura yang besar menggunakan pembagian halaman menjadi tiga yaitu: Utama Mandala, Madya Mandala, Nista Mandala. Ketiga Mandala itu merupakan satu kesatuan, artinya tidak terpisah-pisah, dan tetap berbentuk segi empat; tidak boleh hanya utama mandala saja yang persegi empat, tetapi madya mandala dan nista mandala berbentuk lain.

ETNOMATEMATIKA | Dimensi Tradisional Bali Dalam Konsep Asta Kosala Kosali

13

Utama mandala adalah bagian yang paling sakral terletak paling hulu, menggunakan ukuran Asta Bumi; Madya Mandala adalah bagian tengah, menggunakan ukuran Asta Bumi yang sama dengan utama Mandala; Nista Mandala adalah bagian teben, boleh menggunakan ukuran yang tidak sama dengan utama dan nista mandala hanya saja lebar halaman tetap harus sama. Di Utama mandala dibangun pelinggih-pelinggih utama, di madya

mandala dibangun sarana-sarana penunjang misalnya bale gong, perantenan (dapur suci), bale kulkul, bale pesandekan (tempat menata banten), bale pesamuan (untuk rapat-rapat), dll. Di nista mandala ada pelinggih "Lebuh" yaitu stana Bhatara Baruna, dan halaman ini dapat digunakan untuk keperluan lain misalnya parkir, penjual makanan, dll. Batas antara nista mandala dengan madya mandala adalah "Candi Bentar" dan batas antara madya mandala dengan utama mandala adalah "Gelung Kori", sedangkan nista mandala tidak diberi pagar atau batas dan langsung berhadapan dengan jalan. 4. Pemedal Untuk menetapkan Pemedal, Pemedal adalah gerbang, baik berupa candi bentar maupun gelung kori. Cara menetapkan pemedal sebagai berikut: Ukur lebar halaman dengan tali. Panjang tali itu dibagi tiga. Sepertiga ukuran tali dari arah teben adalah "as" pemedal.

Dari as ditetapkan lebarnya gerbang apakah setengah depa atau satu depa, tergantung dari besar dan tingginya bangunan candi bentar dan gelung kori. Yang dimaksud dengan teben dalam ukuran pemedal ini adalah arah yang bertentangan dengan hulu dari garis halaman pemedal. Misalnya hulu halaman Pura ada di Timur, maka teben dalam menetapkan gerbang tadi adalah utara, kecuali di utara ada gunung maka tebennya selatan, demikian seterusnya. Penetapan gerbang candi bentar dan gelung kori ini penting untuk menentukan letak pelinggih sesuai dengan asta kosala.

ETNOMATEMATIKA | Dimensi Tradisional Bali Dalam Konsep Asta Kosala Kosali

14

5.

Jarak Antar Pelinggih Untuk menetapkan jarak antar pelinggih, jarak antar pelinggih yang satu dengan yang lain dapat menggunakan ukuran satu "depa", kelipatan satu depa, "telung tapak nyirang", atau kelipatan telung tapak nyirang. Pengertian "depa" sudah dikemukakan di depan, yaitu jarak bentangan tangan lurus dari ujung jari tangan kiri ke ujung jari tangan kanan. Yang dimaksud dengan "telung tampak nyirang" adalah jarak dari susunan rapat tiga tapak kaki kanan dan kiri (dua kanan dan satu kiri) ditambah satu tapak kaki kiri dalam posisi melintang. Baik depa maupun tapak yang digunakan adalah dari orang yang dituakan dalam kelompok "penyungsung" (pemuja) Pura. Jarak antar pelinggih dapat juga menggunakan kombinasi dari depa dan tapak, tergantung dari harmonisasi letak pelinggih dan luas halaman yang tersedia. Jarak antar pelinggih juga mencakup jarak dari tembok batas ke pelinggih-pelinggih. Ketentuan-ketentuan jarak itu juga tidak selalu konsisten, misalnya jarak antar pelinggih menggunakan tapak, sedangkan jarak ke "Piasan" dan Pemedal (gerbang) menggunakan depa. Ketentuan ini juga berlaku bagi bangunan dan pelinggih di Madya Mandala. Dari uraian di atas mengenai pembangunan suatu Pura dengan

menggunakan dimensi tradisional Bali, tampak jelas bahwa sesungguhnya masyarakat Bali telah menggunakan perhitungan matematika dengan menetapkan suatu ukuran sebagai ketetapan dimensi dengan menggunakan tubuh. Tampak jelas juga masyarakat Balisesungguhnya telah mengimplementasikan salah satu ilmu matematika yaitu Geometri untuk menentukan bentuk dari suatu halaman Pura misalnya yang harus berbentuk persegi empat. Jadi tanpa disadari masyarakat Bali telah bergaul dengan matematika melalui aktivitas matematis pengukuran untuk arsitektur bangunan Bali tanpa melalui pemahaman tentang pendidikan matematika formal.

ETNOMATEMATIKA | Dimensi Tradisional Bali Dalam Konsep Asta Kosala Kosali

15

2.3 Perbandingan Antara Dimensi Tradisional Bali Dan Dimensi Satuan Internasional Dimensi adalah cara penulisan suatu besaran dengan menggunakan simbol (lambang) besaran pokok. Hal ini berarti dimensi suatu besaran menunjukkan cara besaran itu tersusun dari besaran-besaran pokok. Apa pun jenis satuan besaran yang digunakan tidak memengaruhi dimensi besaran tersebut, misalnya satuan panjang dapat dinyatakan dalam m, cm, km, atau ft, keempat satuan itu mempunyai dimensi yang sama, yaitu L. Besaran adalah segala sesuatu yang dapat diukur, dihitung, memiliki nilai dan satuan. Besaran menyatakan sifat dari benda. Sifat ini dinyatakan dalam angka melalui hasil pengukuran. Oleh karena satu besaran berbeda dengan besaran lainnya, maka ditetapkan satuan untuk tiap besaran. Satuan juga menunjukkan bahwa setiap besaran diukur dengan cara berbeda (Wikipedia, 2011). Jika dikaitkan dengan ethnomatematika, masyarakat Inggris juga sesungguhnya memiliki dimensi untuk mengukur suatu obyek dengan menggunakan tubuhnya yaitu kaki yang disebut dengan foot, dalam dimensi tradisional Bali juga menggunakan kaki yang disebut atampak batis (tampak). Namun, ada suatu perbedaan antara foot dan atampak batis, dimana foot menjadi salah satu satuan baku untuk mengukur ketinggian, sedangkan atampak batis tidak digunakan dalam satuan baku. Karena foot telah ditetapkan dalam suatu satuan baku dan juga dikonversi ke dalam satuan metrik sehingga dapat dimasukkan ke dalam Satuan Internasional (SI), sedangkan atampak batis tidak dikonversi ke dalam satuan sistem metrik. Karena masyarakat Bali tidak membuat suatu ketetapan yang pasti untuk mengukur dan pembangunannya pun menyesuaikan dengan ukuran tubuh pemilik rumah atau pengemong pura. Penggunaan satuan yang tidak seragam antara satu daerah dengan daerah lainnya dapat menimbulkan kesulitan. Kesulitankesulitan itu antara lain sebagai berikut. Tidak adanya kesamaan hasil pengukuran. Hal ini diakibatkan karena besarnya anggota tubuh setiap orang berbeda. Menimbulkan masalah ketika ingin beralih dari satu satuan ke satuan lainnya.

ETNOMATEMATIKA | Dimensi Tradisional Bali Dalam Konsep Asta Kosala Kosali

16

Misalnya, ketika ingin beralih dari satuan depa ke satuan jengkal akan timbul kesulitan akibat tidak adanya aturan yang mengatur konversi satuan-satuan tersebut. Untuk mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut, muncul gagasan menggunakan satuan standar pada besaran-besaran yang sering digunakan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Satuan standar harus memenuhi syarat-syarat seperti berikut. Satuan yang ditetapkan tidak akan mengalami perubahan oleh pengaruh apapun. Satuan yang ditetapkan harus berlaku di semua tempat dan setiap saat. Satuan yang ditetapkan harus mudah ditiru. Perhatikan tabel 2.1 untuk mengetahui besaran pokok dalam Satuan Internasional :

Tabel 2.1 Besaran Pokok Satuan Internasional Pemilihan satuan standar dilakukan oleh Lembaga Berat dan Ukuran Internasional yang didirikan tahun 1875 dan berkedudukan di Prancis. Badan ini secara berkala melakukan konferensi internasional mengenai berat dan ukuran. Sampai saat ini, ada dua jenis satuan yang masih digunakan, yaitu sistem Inggris dan sistem Metrik. Dalam sistem Inggris dikenal foot, pound, dan second (biasa disingkat FPS). Sedangkan sistem Metrik ini dibagi dua, yaitu MKS (meter, kilogram, sekon) dan CGS (centimeter, gram, sekon). Agar lebih jelas, mari perhatikan Tabel 2.2 :

ETNOMATEMATIKA | Dimensi Tradisional Bali Dalam Konsep Asta Kosala Kosali

17

Tabel 2.2 Sistem Satuan Dari Besaran Panjang, Massa dan Waktu Untuk mengonversi satuan sistem metrik ke satuan sistem Inggris digunakan seperti berikut : 1 cm 1 meter 1 meter 1 foot 1 yard Contoh Konversikan satuan-satuan berikut! a. 50 cm = ... inc b. 5 m = ... ft Jawab : a. 50 cm = 50 0,3937 inch = 19,685 inch b. 5 m = 5 3,281ft = 16,405 ft Pertanyaan tersebut dapat dengan mudah dijawab, namun jika yang ditanyakan adalah : Konversikan satuan-satuan berikut : 3 depa = tampak maka akan menemui kesulitan untuk menjawabnya karena tidak adanya ketetapan pasti yang disebabkan oleh pengukuran berdasarkan tubuh yang akan membuat bangunan. Sehingga hasil akhir bangunan akan menyesuaikan dengan ukuran tubuh dari pemilik bangunan. = 0,3937 inch = 3,281 foot = 1,094 yard = 12 inch = 3 foot (ft)

ETNOMATEMATIKA | Dimensi Tradisional Bali Dalam Konsep Asta Kosala Kosali

18

Besaran yang diturunkan dari besaran pokok disebut besaran turunan. Besaran turunan dan satuannya dapat dilihat pada Tabel 2.3

Tabel 2.3 Besaran Turunan Satuan Internasional Salah satu besaran turunan adalah luas. Luas merupakan besarnya suatu daerah bidang. Luas dapat diperoleh dengan mengalikan antara dua besaran pokok panjang (panjang dan lebar atau alas dan tinggi). Oleh karena luas merupakan turunan dari besaran panjang, maka satuannya juga diturunkan dari besaran panjang. Satuan luas yang sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari antara lain km2, m2, dan cm2. Perhatikan tabel 2.4 untuk perhitungan besaran turunan

Tabel 2.4 Perhitungan Besaran Turunan

ETNOMATEMATIKA | Dimensi Tradisional Bali Dalam Konsep Asta Kosala Kosali

19

Contoh : Panjang = 2 cm Lebar = 3 cm

3 cm 2 cm

Carilah luas dari persegi panjang tersebut ! Jawab : Luas = panjang (p) x lebar (l) = 3 cm x 2 cm = 6 cm2 Namun berbeda jika mencari luas dengan menggunakan dimensi tradisional Bali. Misalkan saja seperti pada pemaparan luas suatu halaman sebelumnya panjang dalam ukuran "depa" (bentangan tangan lurus dari kiri ke kanan dari pimpinan/klian/Jro Mangku atau orang suci lainnya): 2,3,4,5,6,7,11,12,14,15,19. Lebar dalam ukuran depa: 1,2,3,4,5,6,7,11,12,14,15. Alternatif total luas dalam depa: 2x1,3x2, 4x3, 5x4, 6x5, 7x6, 11x7, 12x11, 14x12, 15x14, 19x15. Contoh : Panjang = 3 depa Lebar = 2 depa Carilah luas dari persegi panjang tersebut ! Jawab : Luas = panjang (p) x lebar (l) = 3 depa x 2 depa Dalam kasus ini kita tidak bisa mencari solusi dengan menggunakan perhitungan luas persegi panjang, karena dalam dimensi tradisional bali hanya mengenal besaran pokok saja dan tidak dicantumkan besaran turunannya. Sehingga berdasarkan ketentuan Satuan Internasional, dimensi tradisional Bali tidak memenuhi standarisasi Satuan Internasional. 3 depa 2 depa

ETNOMATEMATIKA | Dimensi Tradisional Bali Dalam Konsep Asta Kosala Kosali

20

BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Ethnomatematika untuk menyebut bentuk matematika yang berbeda dengan matematika sekolah sebagai akibat pengaruh kegiatan yang ada di lingkungan kelompok yang budaya dipengaruhi tertentu oleh dalam budaya. aktivitas Pada tingkat lain ethnomatematika merupakan cara khusus yang dipakai oleh suatu mengelompokkan, mengurutkan, berhitung dan mengukur (aktivitas-aktivitas matematis). 2. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan matematika dalam suatu budaya tertentu yang berbeda dalam cara tetapi sejenis dan perbedaan lainnya pada kaitan antara penyajian dan penggunaan ketetapan-ketetapan dalam penerapan matematika. 3. Asta Kosala Kosali merupakan Fengshui-nya Bali, adalah sebuah tata cara, tata letak, dan tata bangunan untuk bangunan tempat tinggal serta bangunan tempat suci yang ada di Bali yang sesuai dengan landasan Filosofis, Etis, dan Ritual dengan memperhatikan konsepsi perwujudan, pemilihan lahan, hari baik (dewasa) membangun rumah, serta pelaksanaan yadnya. Pada jaman tersebut masyarakat Bali belum mendapatkan pendidikan mengenai matematika formal. Sehingga untuk melakukan pengukurannya pun lebih menggunakan ukuran dari tubuh pemilik rumah dan mereka tidak menggunakan meter tetapi menggunakan seperti : Musti (ukuran atau dimensi untuk ukuran tangan mengepal dengan ibu jari yang menghadap ke atas), Hasta (ukuran sejengkal jarak tangan manusia dewata dari pergelangan tengah tangan sampai ujung jari tengah yang terbuka), Depa (ukuran yang dipakai antara dua bentang tangan yang dilentangkan dari kiri ke kanan). 4. Masyarakat Bali telah menggunakan perhitungan matematika dengan menetapkan suatu ukuran sebagai ketetapan dimensi dengan

ETNOMATEMATIKA | Dimensi Tradisional Bali Dalam Konsep Asta Kosala Kosali

21

menggunakan tubuh. Tampak jelas juga masyarakat Bali telah mengimplementasikan salah satu ilmu matematika yaitu Geometri untuk menentukan bentuk dari suatu halaman Pura misalnya yang harus berbentuk persegi empat. Jadi tanpa disadari masyarakat Bali telah bergaul dengan matematika melalui aktivitas matematis pengukuran untuk arsitektur bangunan Bali tanpa melalui pemahaman tentang pendidikan matematika formal. 5. Dimensi tradisional Bali tidak dicantumkan dalam Satuan Internasional, karena dimensi tradisional Bali tidak membuat suatu ketetapan yang pasti untuk mengukur dan pembangunannya pun menyesuaikan dengan ukuran tubuh pemilik rumah atau pengemong pura. Dan tidak dapat di konversi dari satuan yang satu ke satuan yang lainnya. 3.2 Saran Dengan memahami dimensi tradisional Bali dalam konsep Asta Kosala Kosali, diharapkan dapat diteliti lebih lanjut lagi kaitan antara satuan Asta Kosala Kosali dengan Satuan Internasional. Dan jika memungkinkan untuk kedepannya dapat diadakan penelitian lebih lanjut untuk menetapkan dimensi satuan Asta Kosala Kosali sebagai salah satu Satuan Internasional. Kiranya makalah ini dapat memotivasi pembaca untuk melaksanakan penelitian-penelitian lebih lanjut terkait ethnomatematika yang ternyata sangat menarik untuk diselami karena bersentuhan dengan kebudayaan atau keseharian kita.

ETNOMATEMATIKA | Dimensi Tradisional Bali Dalam Konsep Asta Kosala Kosali

22

DAFTAR PUSTAKA 1. Anonim, 2011. Tentang Besaran Dan Pengukuran.

http://latihansiswa.blogspot.com/2011/03/bab-tentang-besaran-danpengukuran.html 2. Anonim, Dimensi Besaran. http://www.ittelkom.ac.id/admisi/elearning/prog3.php? proses=1&kd=Fis010102&bab=Besaran%20dan %20Satuan&judul=Fisika&rincian=Dimensi%20Besaran&kd_judul=Fis01&kode_bab=01&kode_sub=02 3. Gerdes, Paulus, Ethnomathematics as a New Research Field, Illustrated by Studies of Mathematical Ideas in African History. http://iascud.univalle.edu.co/libro/libro_pdf/Ethnomathematics%20as%20a %20new%20research.pdf 4. Nunes, Terenzinha, 1992. Ethnomathematics and Everyday Cognition. New York: Macmillan. 5. Pulasari, Jro Mangku, 2007. Cakepan Asta Kosala Kosali Uperenggeniya Lan Dharmaning Bhagawan Siswa Karma. Surabaya : Paramita 6. Sumardyono, 2004. Karakteristik Matematika Dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Pusat Pengembangan Penataran Guru Matematika. 7. Sutagiri, 2011. Asta Kosala Kosali. http://sutagiri.blogspot.com/p/asta-kosalakosali-asta-bumi.html 8. Umahbali, 2011. Fengshui Bali Asta Kosala Kosali Tata letak ruang Rumah Bali. http://cvastro.com/asta-kosala-kosali-fengshui-bali-tata-letak-ruangrumah-bali.htm 9. Wikipedia, 2011. Besaran. http://id.wikipedia.org/wiki/Besaran

ETNOMATEMATIKA | Dimensi Tradisional Bali Berlandaskan Asta Kosala Kosali

23