Anda di halaman 1dari 20

TUGAS BIOPROSES

TEORI MERANCANG FERMENTOR


(REACTOR)
DISUSUN OLEH :
RIZKI YARI AMELIA (0607120062 )
YONECO HAREF (0607113779 )
HONEST HOLERITH A SMIT (0607120449 )
ANDIKA SYAHPUTRA (0607135698 )
FAKHRUDDIN (0607113774 )
AULIA RAHMI (0607114242 )
S. MESAH K K (0311907 )
SYAHRIZAL (0607120424 )
M. ASYRAF HAZZAMI (0607113715 )
JHON HENDRY (0110763 )
RANGGA (0507111572 )
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2007
TEORI MERANCANG FERMENTOR (REACTOR)
Dalam merancang fermentor untuk menyelesaikan sebagian
operasi, beberapa factor yang sangat penting dalam menentukan
hasil yang memuaskan, yakni bagian dari peralatan, yang akan
memberikan hasil yang diharapkan.
Tahap pertama dalam merancang bejana fermentor adalah
memperkirakan ukuran dari bejana tersebut. Untuk melakukan hal
ini keputusan harus diambil jika mengoperasikan basis batch
dengan dengan menggunakan banyak fermentor, atau
mengoperasikan secara terus menerus.
Agar mendapat ukuran dari bejana, laju produksi sangat
penting dan imformasi yang diperlukan dalam laju pertumbuhan
m.o, perperan dalam jumlah yang besar dan memprediksi waktu
fermentasi dari siklus batch.
Perkiraan dari waktu siklus dapat digunakan dengan
menggunakan model-model laju pertumbuhan kinetic, ketika
menyesuaikan laju pertumbuhan yang diinginkan. Saat ini siklus
dapat digunakan untuk menentukan ukuran fermentor.
Untuk perhitungan ukuran bejana, ketersediaan bejana dalam
memproses juga harus diketahui, sebagai contoh sebuah fermentor
yang sama digunakan untuk produksi dengan perhitungan
pekerjaan 8 jam per hari, 5 hari dalam seminggu akan mendapatkan
lebih banyak daripada sebuah fermentor yang memberikan
perhitungan produksi yang sama, tetapi bekerja 168 jam, 7 hari
seminggu.
Ukuran fisik dan bejana fermentor tidak dapat dipertimbangkan
dalam isolasi dari factor lain seperti pemindahan panas,
karakteristik dan agitasi. Dan rancangan akhir harus dianalisa
dengan pertimbangan ekonomi (termasuk dengan perhitungan
modal dan biaya operasi). Factor-faktor ini dijelaskan lebih detil
pada bab 4.
Bab ini berkaitan dengan kegunaan data kecepatan
pertumbuhan mikro organisme, dan menentukan model yang mana
bisa digunakan untuk memperkirakan waktu dari urutan phase yang
berbeda yang terjadi selama pertumbuhan, untuk menentukan
keseluruhan dari siklus fermentasi. Imformasi ini bisa digunakan
untuk memberi awal besar dari fermentor yang diperlukan untuk
proses kontinu fermentasi, dan contoh dari kegunaan model ini
untuk fermentasi kontinu juga tercakup dalam bab ini.
Pertumbuhan Sel Dan Kecepatan Produksi
Tujuan umum dalam sebuah reaksi biologi adalah untuk
mendukung pertumbuhan dari organisme specific dan mendorong
hasil produksi yang tinggi. Ini tidak berarti perlu bahwa kita harus
menyediakan semua nutrisi berguna dengan berlebihan, karna
dalam keadaan yang pasti, konsentrasi dari nutrisi yang berlebihan
bisa memperlambat, atau menimbulkan racun pada sel. Oleh karna
itu berdasarkan praktek pada konsentrasi yang terbatas dari yang
paling sedikit satu dari nutrisi yang berguna memberikan control
pada keseluruhan pertumbuhan.
Bila konsentrasi dari satu nutrisi yang berguna dirubah-rubah.
dan semua nutrisi yang lain dijaga tetap dalam keadaan berlebih,
angka pertumbuhan di dapatkan pada eksponensial berubah seperti
di tunjukkan daa gambar 3.1. untuk pertumbuhan uniselular, angka
pertumbuhan bisa di ekspresikan dalam istilah dari konsentrasi sell
adalah X, dan angka pertumbuhan specific

didapatkan:

d
dX
x
1

Dimana adalah waktu.


Gambar 3.1 growth rate vs nutrient
GAMBAR 3. 2 Pertumbuhan dan laju Produksi selama Proses
Batch
Jika harga

adalah konstan, pertumbuhan exponensial ini


dapat dilihat dari organisme (proportional to the cell present).
Laju pertumbuhan dari sel (dan biasanya laju dari sintesis
dengan produc yang diinginkan) dalam fermentasi batch dapat
dilihat pada gambar 3.2.
Seperti pertumbuhan sell kenaikan exponential ditunjukkan
oleh populasi sebagai konsentra yang mana tingkat sel itu dimulai
(start) sampai berakhir (off). Laju sel yang sama, mulai saat ini
sampai berakhir pada fermentor batch dan mempersiapkan untuk
memulai satu yang baru.
Di dalam kasus lain dimana bentuk produck ketinggalan
dibelakang produksi sel, digunakan batch yang kontinu (sel lebih
dulu masuk) sampai konsentrasi optimum dari produk yang
didapatkan.
Dalam laboratorium mass dobling time ( d ), adalah ukuran
frequensi dan laju pertumbuhan specific,

untuk pertumbuhan
unisel dapat dihubungkan dengan persamaan:

) 2 ( ln
d
Sebagai tempat dari nutrient substrat pembatas, persamaan
umum yang dikemukakan oleh monod yang dapat digunakan
adalah:
i i
i m
C K
C
.
.

Dimana
m

adalah laju pertumbuhan specific maksimum, ki


adalah titik jenuh konstan, dn C
i
adalah konsentrasi dari nutrient
pembatas i.
m

adalah ukuran laju pertumbuhan spesifik maksimum


dimana t
i
>K
i ,
dan K
i
adalah harga dari konsentrasi nutrient i
dimana
2
m


Hubungan yang dinyatakan oleh monod telah memperoleh
sebuah basis empiris dan model sederhana dari pola komplikasi
pertumbuhan.
Determinasi dari
m

dan K
i
dalam laboratorium dapat
memberikan ukuran pertumbuhan populasi yang mana dapat
digunakan untuk prediksi karakteristik populasi sel dalam large-
scale fermentor, terutama jika nutrient tidak bisa menerima ukuran.
Ketika situasi sangat komplek, e.g, 2 nutrient pembatas,
formasi toxin, inhibisi oleh konsentrasi produk, bermacam-macam
modifikasi dapat dibuat dengan expresi monod untuk menentukan
laju pertumbuhan specific

pada beberapa konsentrasi dan bentuk


persamaan dapat digunakan bersama untuk prediksi populasi sel
maksimum
Dua nutrient pembatas

,
_

,
_

2 2
2
1 1
1
k c
c
k c
c
m

Produc inhibisi

,
_

,
_

p p
p
i i
i
m
k c
c
k c
c

Dimana Kp adalah titik konstan untuk, ukuran produc
digunakan K
i
dan c
p
adalah konsentrasi dari produc.
Sebagai contoh dari produk inhibisi adalah glukosa,
yeast/fermentasi alcohol:
Fermentasi batch
Tipe dari proses fermentasi batch dapat dilihat dalam skema
pada gambar 3.3, dimana pertumbuhan organisme normal
ditunjukkan dalam 4 fase:
Fase lag
Fase pertumbuhan exponensial
Fase stagnan (populasi maximum)
Fase kematian
FASE LAG
Kultur batch selalu meliputi inokulasi (suntikan) dari medium
steril dengan mempersiapkan kultur dari mikro organisme untuk
pertumbuhan. Setelah inokulasi bagian dari addisi udara untuk
proses aerobic dan produksi gas selama fermentasi, tidak dengan
menjumlahkan atau mengekstrak dari batch.
Panjang dari fase lag tergantung pada pertukaran komposisi
nutrient oleh micro organisme dalam inokulasi, dan pertukaran laju
untuk lingkungan yang baru (fermentor steril) dapat mempengaruhi
beberapa variabel penting:
Inokulasi masuk pada medium dengan konsentrasi tinggi pada
nutrient menyebabkan pertumbuhan sel lambat, sebagai
adaptasi organisme untuk lingkungan yang baru.
Sintesis molekul diperlukan untuk menaikkan pertumbuhan
sel (vitamin, activator) dapat terjadi oleh difusi keluaran sel
untuk effek dilusi dan waktu dapat diterima untuk melengkapi
sel.
Ukuran inokulum dari nomor dari viable sel pada bagian
important dalam fase lag
Gambar 3. 3 batch fermentation phases
Usia dari inokulum juga penting, karena sel-sel baru tidak
akan menghasilkan jumlah metabolis aja semua sebagai sel
uji siap dalam phase pertumbuhan eksponential.
Jika kita asmsikan phase lag berakhir sekali pada sebuah
component penting tertentu di dalamsel mencapai titik kritisnya
1 1
d bNo aV c + +
Dimana V adalah volume Inoclm.
No adalah jumlah sel/volume baru.
a=konsentrasi substance kritis
b=peningkatan dari dalam substansi kritis/waktu per sel
d=produksi internal sel (sel baru)
=waktu dari lag phase
Jadi

,
_

,
_

b
d
N
b
aV
b
c
o
1

Dan dia bias nampak bahwa ,tergantung pada V, sehingga V lebih


besar, akan lebih pendek.
Dia juga bias dilihat bahwa untuk volume uji lebih besar dari
inoculm =proporsiona ke
o
N
1
. Design proses dari bagian dari
fermentasi dari keseluruhan proses, seharusnya menunjukkan
pengurangan dari panjang dari lag phase, agar menghasilkan
utilisasi maksimum dari fermentasi 4 point selanjutnya adalah
penting:
Inoclum seharusnya se actif mungkin (lebih baik di dalam
pertumbuhan phase eksponential.
Media digunakan untuk pertumbuhan inoculum sharusnya
mendekati kebenaran sedekat mungkin pada medium
digunakan di dalam full scale fermentor.
Bagian vol y layak /sesuai dari inoculum seharusnya
digunakan untuk mengurangi kehilangan y disebabkan oleh
difusi dari metabolisme intermediet (paling tidak 5% dari
Volume fermentor)
Example 3.1
Asumsi volume minimum inoculm 5%. Berapa ukuran dari
laboratory fermentor yang akan dibutuhkan untuk pembibitan
10.000 liter ful-scale fermentor.
Jawab:
5% of 10.000 l is 500 L
5% of 500 l is 25 L
5% of 25 l is 1,25 L
Jadi 1,25 L dari culture laboratory dalam dibutuhkan untuk
pembibitan 25L. fermentor ini akan digunakan untuk pembibitan
10.000 full scale fermentor.
Phase Pertumbuhan Exponential
Laju pertumbuhan exponential:

d
dx
x
1

Atau dintegrasikan:

,
_

0
ln
x
x
diman x
0
adalah populasi initial pada
0 t dan x=popuasi pada t=0
Untuk membatasi makanan Monod Exprsion juga diberikan

dan
i i
i m
k c
c
+

jadi kombinasi dari dua ekspresi, populasi sell x pada t=0


diberikan :
ln
i i
i m
k c
c
X
X
+

,
_


0
dan ekspresi ini dapat digunakan untuk memprediksi pertumbuhan
eksponential dari organisme jika Monod ekspression didapat.
Persamaan monod memperlihatkan saat penurunan saat
pertumbuhan berjalan sangat cepat, dan persamaan yang
mengikutinya akan sukses pada kasus yang rumit:
0
C K
C
i
i m
+

dimana C
o
adalah inisial konsentrasi dari nutrien, atau
BN C
C
i
i m
+

dimana B adalah konstanta dan N adalah populasi sel.


FASA STASIONER DAN POPULASI MAKSIMUM
Dengan mengasumsikan nilai konsumsi daari nutrien (dA/d )
sejalan dengan angka viabel sel sampai kita mendaapatkan fasa
stasioner, selanjutnya
X K
d
dA
A

(3.1)
dimana X adalah angka dari sel, dan K
A
adalah konstanta yang
sejalan untuk nutrien A.
Jika sel sedang berada pada pertumbuhan eksponensial,

d
dX
X
1

atau
d
dX
X
1

(3.2)
dengan mengsubstitusi persamaan (3.2) ke (3.1) didapatkan
d
dX
K
d
dA
A
1

dan
dX
K
dA
A


Lalu, jika inisial konsentrasi dari A=A
o
saat X=X
o
(inisial konsentrasi
dari sel), ketika A=0, X=X
s
, (populasi statis) dan akan menjdai

dX
K
dA
A

) ( 0
0 0
X X
K
A
S
A

dan
0 0
A
K
X X
A
S

+
Hubungan di atas memperlihatkan populasi maksimum (X
s
)
untuk konsentrasi inisial dari nutrien (A
o
) dan populasi inisial sel (X
o
)
pada saa dimulainya fasa pertumbuhan eksponensial.
Jika persamaan (3.2) di integralkan antara X=X
o
dan X=X
s
waktu pada fasa stasioner akan dapat dihitung selanjutnya.
FASA KEMATIAN (DEATH PHASE)
Pada pengalaman industri, fermentasi akan berhenti kira-kira
sebelum waktu yang ditentukan atau hanya saat populasi sel mulai
menurun sebagai hasil dari faktor-faktor nutrien yang sangat
kompleks.
Hanya beberapa yang akan menghasilkan produk fermentasi saat
melalui lag yang panjang diantara produksi cel, dan selanjutnya,
jika konsentrasi produk selalu menurun, proses fermentasi boleh
jadi mulai memasuki masa kematiam (death phase)
FERMENTASI MOLD
Semua analisis sebelumnya memperlihatkan bahwa benar bakteri
fermentasi dan pertumbuhan. Pada kaus pertumbuhan mold saat
fermentasi dalam, nilai pertumbuhan sangat lambat pada bakteri,
dan tidak seperti exponensial pertumbuhan biasanya.
Jika kita asumsikan butir pertumbuhan berbentuk bola pada
bagian bawah atau submerged, nilai peningkatan ukuran butir:
K
d
dR

(adalah konstan)
Jari-jari akan meningkat pada saat nilai konsatanta di keadaan
pertahanan; untuk panjang filamen akan meningkat pada saat nilai
konstan.
Mold akan memberikan
M = (volume x kerapatan)
= 3 / 4
3
R (3.3)
Juga,
1
1
1
]
1

1
1
1
]
1

1
1
1
]
1

1
1
1
]
1

t a n k e r
t a n
t a n a p a
p u s a t
p a d a
p e n i n g k a
s u r f a c e
a r e a
m a s a
p e n i n g k a
n i l a i

d
dR
R
d
dM
2
4
(3.4)
Dari (3.3),
3
1
4
3

,
_

M
R
Dan substitusi persamaan (3. 4) untuk R
d
dM
= 4
( )
4
3M
2/3
= gM
2/3
, (g = K (36)
1/3
integrasi antara M
0
pada t = 0 dan M saat t = 0

3 / 2
M
dM
= g

d
sehingga
3M
1/3
- 3M
0
1/3
= g
dan
M = (M
0
1/3
+ z )
3
, (z= g/3)
Jika M
0
<M, masa Mould bebas terhadap waktu (t)
Situasi seperti ini sangat komplek dan variasi model dikembangkan pada
pertumbuhan model, biasanya disebut modifikasi tipe Monod.
Fermentasi Continuous
Perancangan dan analisa operasi fermentasi continuous adalah konsep dasar pada
fermentor atau CSTR. Pada Bioteknolog, refrensi tipe fermentor adalah kemostat.
Asumsi untuk analisa CSTR
Pencampuran murni terjadi ketika komposisi sama pada setiap titik
Pencampuran adalah semua konsentrasi komponen pada vesel sama
Jika proses Aerobik, konsentrasi oksigen dissolve sama pada semua bagian
vessel
Sisitem karakteristik perpindahan panas adalah konstan
Saat keadaan steady state kita dapat menentukan neraca masa sebagai berikut :
[rate of addition to system]- [rate of removal from system] + [rate of production
withinsystem] = 0
Perrtumbuhan Sel
Jika X adalah konsentrasi sel pada bejana, X
0
adalah konsentrasi sel pada feed, F
adalah laju alir volumetric pada feed stream, V adalah volume vessel, r adalah
kecepatan formasi sel (sel / t/ v)( = dX /d, kemudian dalam steady state sel setimbang
dituliskan sebagai berikut :
F (X
0
- X) + rV=0
Atau

,
_

V
F
X
0
=

,
_

V
F
X- r
laju pertumbuhan spesifik adalah
=
X
r
sehingga
DX
0
= x (D-)
D adalah kecepatan dilusi. Kecepatan dilusi adalah nilai volume bejana terhadap
satuan waktu. Konsep kecepatan laju dilusi digunakan secara umum untuk industri
boiteknologi.
Untuk fermentor continuous tunggal, feed stream dalam keadaan, X
0
= 0.
X(D-0=0
Artinya x = 0 atau (D-)=0, jadi ketika D= maka populasi sel tidak sama dengan 0,
artinya D seimbang dengan , dapat dituliskan
DX
0
= X (D-)
Dapat disimpulkan bahwa X lebih besar dari 0, dan dari percobaan ditunjukkan pada
gambar 3. 4. kondisi diatas benar ketika :
Pertumbuhan kecepatan spesifik bebas dari popopulasi sel
Pertumbuhan terjadi pada phase eksponensialdan tidak efektif karena
penurunan konsentrasipada batas nutrient
MODEL MONOD KHEMOSTAT
Jika pada case cilture batch, salah satu nutrient dengan pertumbuhan konsentrasi
terbatas, dapat dituliskan bahwa kesetimbangan sel dalam keadaan steady state
menggunakan ekspresi Monod untuk kecepatan pertumbuhan cpesifik :
DX
0
= X(D-) =X

,
_

i i
i m
K c
c
D

(3.5)
Gambar 3.4 Tipe konsentrasi sel pada culture continuous
Dan didefenisikan faktor Yield adalah
Mass of cells formedi
Y =
Nutrient consumed
Kesetimbangan dalam keadaan steady state dengan nutrient terbatas
D(C
0
-C
i
)-
Y
r
= 0
Dimana C
0
adalah konsentrasi inisial, dan C
i
adalah konsentrasi nutrient equilibrium
pada setiap waktu. Tetapi
R = X dan =
( )
i i
i m
K C
C
+

Sehingga
D(C
0
-C
i
) -
( )Y K C
X C
i i
i m
+

= 0 (3.6)
Persamaan 3.5 dan 3.6 disebut dengan model Monod chemostat.
Untuk case X
0
= 0 (umpan steril), (3. 5) dan (3.6) dapat digunakan untuk (C
i
)
SF
Dan X
SF
:
(C
i
)
SF
=
( ) D
DK
m
i

(3. 7)
X
SF
= Y(C
0
-C
i
) (3. 8)
Jika nilai D kecil atau mendekati 0
(C
i
)
SF
0 ( konsumsi sel nutrient)
dan (C
i
)
SF
C
0
jadi
D
m

X
SF
0
Kemudian kecepatan dilusi maksimum kemungkinan pertumbuhan cepat. Solusi
adalah
X = 0.
Pada kondisi dimana D adalah maksimum dan sel hilang dari sistem disebut washout,
dimana X= 0pada (3.8, C
i
=C
0
) dan
C
0
=
( ) D
DK
m
i

Kemudian
D
max
=
( )
i o
m
K C
Co
+

Fermentasi sangat sensitif terhadap perubahan D, perubahan D kecil mempengaruhi X


dan C
i,
Gambar 3. 5
Ringkasan dari Notasi yang digunakan pada chapter 3
A konsentrasi pembatas Nutrient A Kg/m
3
B nilai constant dalam
( ) BN ci
c
i m
+


kg/m
3
C pembatasan konsentrasi Nutrient kg/m
3
c konsentrasi component esensial sel
D tingkat kelemahan S
-1
F Volume aliran m
3
/s
K tingkat peningkatan dari cetakan jamur m/s
K
A
konstan keseimbangan untuk penggunaan A
1
;
0

,
_

s
n
s
kg
Ki konstan kejenuhan kg/m
3
M massa bentuk bulatan Kg
N Nomor sel no/m
3
R jari-jari m
r tingkatan formasi sel (=dx/d (kg/m3)/s
V volume fermentor m
3
X konsentrasi sel
3 3
,
0
m
kg
m
n
X0 initial konsentrasi sel
Xs Konsentrasi Sel Max
3 3
,
0
m
kg
m
n
Y factor Yield kg/kg nutrient

specific growth rate s


-1
m

specific growth rate max s


-1

densitas kg/m
3
waktu s
d massa waktu penggandaan s;min
i menunjukkan nutrient i
p menunjukkan kondisi produk
sf kondisi steril
Kondisi Optimum
Tingkat produksi sel per unit volume dari fermentor adalah
Dx(Fx/V), dan tingkat produksi sel max didapat degan:
0
) (

d
Dx d
(didiferensialkan ddan disamakan menjadi nol akan didapat nilai
optimumnya)
Jika kita aplikasikan kepada (3,7) dan (3,8)

,
_

) (
0
D
DKi
C DY
dD
d
m

Dan untuk produksi sel optimum


( )
1
]
1

+

Ki C
Ki
D
m opt
0

Dalam istilah control CSTF, berarti itu karena tidak tertuju pada
prodksi sel optimum (max), disisi lain operasi fermentor bisa tidak
stabil. Dalam praktek operasi mengeluarkan kecepatan pencairan
sekitar 80% dari D
max

Catatan dari ringkasan yang digunakan dalam BAB ini ditujukan
dalam table 3.1
References
1. j.Monod, Rechearches sur des Croissances des Cultures
Bacteriennes, 2
nd
edn, Hemann et Cie, paris (1982)
2. J.E.Bailey end D.F.Ollis, Biochemical Engineering
Fundamentals, 2
nd
ddn, McGraw-Hill, New York (1986)
3. S.Aiba, M.Shoda, and M.Nagatani, Kinetic of Product inhibition
in alcohol fermentation, Biotech. Bioeng. 10, 845 (1968)
4. B.Metz and N.W.F. Kossen, The growth of moulds in the form
of pellets-A literature review, Biotech. Bioeng. 19, 781 (1977)
5. J.M.Couson, J.F. Richardson, and D.G. Peacock, Chemical
Engineering, vol.3.2
nd
edn, Pergamon Press, Oxord (1979).
6. E.K. inn and R.E Wilson, Population Dynamics of a continuous
propagator for micro-organism, J.Agric. Fd Chem. 2, 66 (1954)